
Allah menunjukkan salah satu tanda kekuasaan-Nya yang luar biasa. Matahari berubah bentuk menyerupai bulan sabit. Peristiwa ini terjadi saat gerhana matahari cincin pada pukul 16.41 WIB kemarin.
Bagi mereka yang masih bertahan pada sikap takhayul mungkin masih beranggapan bahwa gerhana adalah pertanda kelahiran atau meninggalnya seseorang yang berpengaruh. Orang-orang jahiliyah Arab dulu juga memiliki anggapan yang sama sehingga kemudian Rasulullah perlu menjelaskan kepada mereka "Sesungguhnya matahari dan bulan tidaklah gerhana karena kematian atau kelahiran seseorang, akan tetapi keduanya adalah sebagian dari tanda-tanda kebesaran Allah. Jika kalian melihatnya, maka kerjakanlah shalat (gerhana)," (HR Bukhari [1042 dan 3201] dan Muslim [914]).
Bagi mereka yang masih bertahan pada sikap takhayul mungkin masih beranggapan bahwa gerhana adalah pertanda kelahiran atau meninggalnya seseorang yang berpengaruh. Orang-orang jahiliyah Arab dulu juga memiliki anggapan yang sama sehingga kemudian Rasulullah perlu menjelaskan kepada mereka "Sesungguhnya matahari dan bulan tidaklah gerhana karena kematian atau kelahiran seseorang, akan tetapi keduanya adalah sebagian dari tanda-tanda kebesaran Allah. Jika kalian melihatnya, maka kerjakanlah shalat (gerhana)," (HR Bukhari [1042 dan 3201] dan Muslim [914]).
Sementara itu bagi mereka yang mengklaim diri sebagai manusia 'modern' dan terjebak pada filsafat materialisme hanya sekedar mengakui gerhana sebagai fenomena alam tanpa campur tangan Tuhan.Maka, bagi mereka yang disebut terakhir ini sama saja apakah ada gerhana atau tidak ada gerhana, mereka tidak akan ingat kepada Allah. Biarpun matahari menyerupai bulan sabit, tidak terbetik satu pikiran pun akan kebesaran Allah SWT.
Lalu bagaimana dengan seorang mukmin? Hatinya akan bergetar melihat suatu fenomena yang tidak seperti biasanya. Ia akan segera ingat Allah SWT. Ia akan mengakui kebesaran-Nya seraya mengakui kelemahan dirinya sebagai manusia. Bukankah mudah saja bagi Allah untuk tetap membiarkan matahari menjadi bulan sabit lalu manusia membeku di bumi ini? Bukankah mudah saja bagi Allah untuk membiarkan matahari tenggelam selama-lamanya dan kehidupan segera berakhir karenanya. “Rabbanaa maa khalaqta haadzaa baathilan. Subhaanaka faqinaa 'adzaaban naar” [Muchlisin]
Lalu bagaimana dengan seorang mukmin? Hatinya akan bergetar melihat suatu fenomena yang tidak seperti biasanya. Ia akan segera ingat Allah SWT. Ia akan mengakui kebesaran-Nya seraya mengakui kelemahan dirinya sebagai manusia. Bukankah mudah saja bagi Allah untuk tetap membiarkan matahari menjadi bulan sabit lalu manusia membeku di bumi ini? Bukankah mudah saja bagi Allah untuk membiarkan matahari tenggelam selama-lamanya dan kehidupan segera berakhir karenanya. “Rabbanaa maa khalaqta haadzaa baathilan. Subhaanaka faqinaa 'adzaaban naar” [Muchlisin]







3 komentar:
matahari menjadi bulan sabit merupakan hal yang mustahil.
Banyak orang yang kaget dg mustahil karena memang berada di luar pemikiran manusia.
Ingatkah, cuplikan ayat
'kun fayakuun'
Kalau Allah mennghendaki jadi, maka jadilah'''.
Sekalipun Tidak ada gading yang tak retak, Allah mengetahui setiap apapun yang ada dipeikiran manusia.
Cobalah menmjadi insan yang yang tidak berat sebelah;
Karena sesungguhya ada sebab pasti ada akibat. Akibat / bencana tidak akan datang kalau tidak ada sebab yang memulai.
af1
Allahhu Akbar, Allah Maha Besar. Dengan senantiasa memahami Kebesaran Allah,sbg seorang muslim hendaknya kita dapat semakin memahami bahwa sebenarnya kita ini bukanlah siapa-siapa.
Allah maha besar yang telah menciptakan segala isinya alam semesta ini, maka kita harus yakin dengan selalu bermuhasabah untuk mengoreksi diri kita yang begitu kecil, dan selalu mendekatkan diri kita kepada Allah. terimakasih sahabat penjelasan tentang bulan sabit, salam ukhuwah sahabat.
Poskan Komentar