Assalaamu'alaikum ,  Ahlan wa Sahlan  |  Write for Us  |  Kontributor  |  Pasang Iklan

Ketika Cinta Bertasbih dan Romantisme Dalam Dakwah

Written By Admin BeDa on Kamis, 25 Juni 2009 | 20:03


Kemarin adalah hari ke-14 diputarnya film Ketika Cinta Bertasbih di bioskop-bioskop Indonesia. Sekitar pukul 13.00 WIB saya meminta izin pada atasan untuk meninggalkan tugas. Saya bilang mau menjemput seseorang. Dan memang benar itulah kenyataannya. Saya menjemput seorang akhwat untuk menonton bareng film yang banyak dinanti aktifis dakwah.

Alhamdulillah kami bisa tepat waktu sampai ke bioskop di sebuah Plaza di Surabaya. Kami menempati tempat duduk K8 dan K9, meskipun tiket kami sebenarnya C8 dan C9. Awalnya kami keliru mengambil tempat duduk karena memang baru kedua kalinya ke bioskop seperti ini. Tapi justru ini rezeki karena baris I sampai baris M kosong. Dan ini menambah romantisme kami; menikmati Ketika Cinta Bertasbih seakan berdua saja tanpa penonton lain.

Dua minggu sebelumnya, kami juga secara kebetulan mendapatkan kesempatan menikmati romantisme dalam dakwah. Meskipun mungkin bagi orang lain yang menyikapi secara berbeda itu cukup menyebalkan. Bagaimana tidak, saat kami hendak beraktifitas ke kota motor dipakai sama orang tua. Padahal kami tidak bisa meninggalkan aktifitas ini; saya hendak ikut pengajian rutin, dan akhwat yang sama hendak mengisi kajian.

Kami pun memutuskan naik angkutan umum. Itu malam hari. Ada suasana beda rasanya. Kami menemukan 'romantisme dalam dakwah'. Menikmati rembulan yang begitu indah dan seakan terus mengikuti kami. Kami bicara dengan santai, tidak seperti waktu naik motor yang harus konsentrasi karena jalan yang kami lalui memang penuh dengan bis antar propinsi dan truk-truk besar.

Demikianlah kami menyempatkan menikmati romantisme. Dan kami menyebutnya romantisme dalam dakwah. Sebab kami memiliki komitmen untuk bergabung dan berkontribusi dalam gerakan dakwah; sekecil apapun kontribusi ini dalam pandangan orang lain. Banyak terjadi karena alasan kesibukan dakwah lalu keluarga kurang romantis. Komunikasi dengan istri kurang harmonis. Dan, rasa cinta yang tumbuh di bulan-bulan pertama pernikahan kadang mulai terkikis.

Namun, jika kita mau memanfaatkan setiap kesempatan yang ada sesungguhnya romantisme itu bisa diciptakan. Bahkan, kadang kita tidak perlu menciptakan acara khusus seperti nonton film di atas, meskipun itu juga perlu sekali-kali, seperti juga rihlah. Namun, ternyata saat-saat berangkat beraktifitas dakwah bersama juga bisa kita manfaatkan untuk memperkokoh romantisme keluarga, romantisme bersama istri tercinta, romantisme dalam dakwah. [Muchlisin]

8 komentar:

Pawewet mengatakan...

barakallahu akhi..akhwat tsb itu istri kah.. jika ia semoga sakinah mawadah warohmah...

muchlisin mengatakan...

Ya iyalah akh. Jazakallah atas doanya.

nationalinks mengatakan...

wah saya blum nonton nih, kynya harus segera nonton juga

lam kenal yaw

mwiyono mengatakan...

mantab juga nih blog...kunjungan baliknya ku tunggu

Laisya mengatakan...

nice artikel ...
tapi kalo komentar untuk filmnya ... hmmm ... agak berlebihan hehehe ... lebay kalo kata bahasa gaul sekarang mah :D

Suharyanto mengatakan...

kcb memang ok

Abi Sabila mengatakan...

belum sempat nonton kcb, pengennya seh pengen nonton berdua sama istri, tapi istri nda tega ninggalin anak sendirian di rumah, padahal anak udah ndukung kami nonton ber2. salam buat istri dan keluarga, semoga kalian tetap istiqomah di jalan dakwah ini. amin.

Aqiem Cah Pemalang mengatakan...

oya pemutaran sesion ke dua kapan nez///
tak tgu infonya atu kang...

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...