Assalaamu'alaikum ,  Ahlan wa Sahlan  |  Write for Us  |  Kontributor  |  Pasang Iklan

Perpindahan Kiblat dan Penyerangan terhadap Al-Aqsa

Diposkan oleh Admin BeDa pada Jumat, 31 Juli 2009 | 10.09 WIB


Lima hari dari sekarang, 1428 tahun yang lalu, tepatnya tanggal 15 Sya'ban 2 H. Allah SWT akhirnya menurunkan firman-Nya yang sudah lama dinanti oleh Sang Nabi. Sebelumnya Rasulullah memang kerap menengadahkan wajahnya ke langit seraya berharap agar Allah menjadikan Masjidil Haram sebagai kiblat. Dulu saat di Makkah, Rasulullah lebih memilih posisi yang persis menghadap ke Ka'bah dan Baitul Maqdis. Saat di Madinah, pilihan itu sudah tidak memungkinkan Menghadap ke Baitul Maqdis berarti membelakangi Masjidil Haram.

Sementara itu, sepanjang 16 atau 17 bulan pertama di Madinah, orang-orang Yahudi yang memang benci dengan Islam dan Rasulullah, meledek umat Islam plagiat dan Yahudi-lah yang lebih terhormat. Buktinya adalah arah kiblat. Maka, betapa hati Rasulullah berduka dengan hinaan-hinaan terhadap Islam ini. Dan kecintaannya kepada Ka'bah semakin membuncah. Rasulullah SAW tahu bahwa ini adalah hak prerogatif Allah yang harus ditaati. Namun, Allah jauh lebih tahu tentang skenario yang telah dirancang-Nya sendiri.

Pada saat seperti inilah berita gembira itu datang. Allah menurunkan firman-Nya:
قَدْ نَرَى تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاءِ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَاهَا فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَحَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ وَإِنَّ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ لَيَعْلَمُونَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّهِمْ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا يَعْمَلُونَ [البقرة/144]
Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya; dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan. (QS. Al-Baqarah : 144)

Sinar cerah segera menghiasi wajah Rasulullah. Pun kaum muslimin. Mereka menyambut perintah ini dengan suka cita. Ruhul istijabah benar-benar membuat mereka bergerak cepat untuk merealisasikan instruksi langit ini tanpa basa-basi. Bahkan seperti biasa, para shahabat segera bergerak cepat untuk mensosialisasikan ayat ini. Pada saat itu, sedang ada shalat jamaah di Masjid Bani Salamah saat salah seorang shahabat datang di sana untuk melakukan sosialisasi. Segera setelah mendengar seruan ayat ini, Imam masjid memutar arah shalat mereka, demikian pula para makmumnya. Sejak saat itu masjid ini terkenal dengan nama Masjid Qiblatain.

Suasana Madinah pun berubah. Orang-orang Yahudi yang congkak kini pun terhinakan dan dada mereka semakin sesak. Islam yang telah berkembang pesat, sekali lagi mengungkap kebusukan mereka. Sikap mereka seperti digambarkan Allah dalam firman-Nya:

سَيَقُولُ السُّفَهَاءُ مِنَ النَّاسِ مَا وَلَّاهُمْ عَنْ قِبْلَتِهِمُ الَّتِي كَانُوا عَلَيْهَا قُلْ لِلَّهِ الْمَشْرِقُ وَالْمَغْرِبُ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ [البقرة/142]
Orang-orang yang kurang akalnya diantara manusia akan berkata: "Apakah yang memalingkan mereka (umat Islam) dari kiblatnya (Baitul Maqdis) yang dahulu mereka telah berkiblat kepadanya?" Katakanlah: "Kepunyaan Allah-lah timur dan barat; Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya ke jalan yang lurus" (QS. Al-Baqarah : 142)

Adakah kedengkian dan permusuhan Yahudi berakhir? Tidak! Bahkan semakin menjadi. Inilah yang kemudian terjadi dalam sejarah berikutnya; pengkhianatan bani Quraidhah, pengkhianatan bani Qainuqa', dan sebagainya.

Memang Allah telah mengalihkan posisi kepemimpinan umat manusia kepada umat Islam sejak Daulah Islamiyah berdiri di Madinah. Bahkan, indikasi itu sudah tergambar jelas pada peristiwa Isra' Mi'raj. Namun, permusuhan Yahudi tetap abadi. Dan karenanya Allah memberikan warning kepada umat Islam :
وَلَنْ تَرْضَى عَنْكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدَى وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ بَعْدَ الَّذِي جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ مَا لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا نَصِيرٍ [البقرة/120]
Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: "Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)". Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu. (QS. Al-Baqarah : 120)

Maka, saat 200-an yahudi ekstrim mengepung dan menyerang Masjid Al-Aqsa 2 hari lalu sesungguhnya merupakan secuil debu dari padang pasir luas permusuhan mereka. Umat Islam tidak boleh heran. Tetapi umat Islam tidak boleh diam. Lalu apa yang telah dan akan kita lakukan? [Muchlisin]
10.09 | 13 komentar

Belajar dari Hamas

Diposkan oleh Admin BeDa pada Jumat, 24 Juli 2009 | 07.05 WIB

We are sorry, starting from 13rd March 2010, Belajar dari Hamas cannot displayed. Sorry for this uncomfortable. This page, Belajar dari Hamas, deleted by blog owner because of some reason. Please to be understood.

Once more, we're sorry to visitors of BERSAMA DAKWAH blog. We hope you back to HOME. Thank you.
07.05 | 9 komentar

Sisi Lain Isra’ Mi’raj

Diposkan oleh Admin BeDa pada Senin, 20 Juli 2009 | 14.45 WIB


Sang Nabi pun berduka. Sebab ia tetaplah manusia biasa seperti kita. Dan manusia manakah yang tidak berduka saat istri dan pamannya tiada. Istri yang tidak hanya menjadi teman sejati, tapi juga pembela abadi bagi dakwahnya. Dengan dirinya Nabi beroleh ketenangan saat dilanda kekhawatiran. Dan dengan hartanya Nabi membiayai dakwah Islam. Sedangkan sang Paman? Meski tidak pernah bersyahadat sampai ajal menjemputnya, ia tetap berdiri kokoh laksana batu karang yang menjaga Nabi dari setiap gelombang bahaya yang mengancam. Kedua pembela itu kini meninggalkan Nabi untuk selamanya.

Sesaat kemudian, Nabi dan dakwahnya menghadapi tribulasi yang jauh lebih dahsyat dari orang-orang kafir Quraisy yang memusuhinya. Tribulasi yang berlipat ganda dari sebelumnya. Tidak salah jika kemudian para ahli sejarah menamakan tahun ini dengan ammul hazm, tahun duka cita.

Namun, misi besar yang tengah berjalan tidak boleh terhenti oleh duka sebesar apapun. Yang membedakan kita dengan Nabi adalah bahwa ia mendapatkan wahyu dari Allah dan senantiasa dibimbing-Nya. Kalaupun dua orang pembelanya telah pergi, siapakah yang lebih besar pembelaan-Nya dari Allah Azza wa Jalla? Allah yang telah menetapkan misi ini dan melangsungkan takdir yang ditulis-Nya. Maka Allah sesungguhnya telah menyiapkan skenario-Nya. Sebuah ‘hiburan’ dan ‘penguatan misi’ bagi Sang Nabi sudah menanti. Itulah Isra’ Mi’raj.

Peristiwa luar biasa ini memang akhirnya mengguncang keimanan banyak orang sekaligus menjadi ujian. Manusia terbaik yang lulus ujian ini dengan nilai tertinggi adalah Abu Bakar dan karenanya ia digelari Ash-Shidiq. Memang ini peristiwa luar biasa. Karenanya Ibnu Katsir menjelaskannya panjang lebar dalam tafsirnya sebanyak 105 halaman dalam pengantar surat Al-Isra’. Inilah yang kemudian membuat tafsir juz 15 sebanding ketebalannya dengan tafsir juz 3, 4, 5 atau 6.

Tiga puluh tiga tahun yang lalu, Syaikh Shafiyurrahman Al-Mubarakfury menjelaskan dalam Ar-Rahiqul Makhtum mengapa Isra’ Mi’raj ini hanya dibahas dalam satu surat: Al-Isra’. Sementara dalam surat yang sama dibahas pula keburukan-keburukan Yahudi dan kejahatannya. Kemudian Allah mengingatkan mereka bahwa Al-Qur’an lah pemberi petunjuk kepada jalan yang lurus. Sebab orang Yahudi akan dikucilkan dari posisi pengendalian umat manusia, karena kejahatan-kejahatan yang mereka lakukan, sehingga mereka pun tersisih. Kemudian Allah mengalihkan posisi itu kepada Islam.

Saat Isra’ Mi’raj, dakwah Islam memang masih berputar-putar di beberapa gunung di Makkah. Tetapi tidak lama setelah itu terjadilah baiat Aqabah, lalu hijrah. Dan, rahasia surat Al-Isra’ itupun benar-benar terjadi. Islam memegang kendali kepemimpinan umat manusia.

Peristiwa Isra’ Mi’raj telah berlangsung 14-15 abad yang lalu. Sekarang, meskipun umat Islam berjumlah jauh lebih banyak dari Yahudi, tampaknya kenyataannya telah berbalik. Jumlah Yahudi yang kecil mampu menginjak-injak umat Islam bahkan menjajah tempat Isra’: Masjid Al-Aqsa. Mereka yang dulunya terusir dari Khaibar kini justru memiliki lobi di Amerika yang menentukan kebijakan dunia. Bahkan pengaruhnya membuat bertekuk lutut setiap pemimpin muslim di bumi ini, illaa qaliilaa.

Semoga peringatan Isra’ Mi’raj kali ini tidak hanya dipenuhi dengan shalawat dan cara-cara yang masih saja diperdebatkan ulama’ tentang kebolehannya; lebih dari itu ia memantik semangat kita untuk mengembalikan hikmahnya; Islam sebagai pemegang kendali kepemimpinan umat manusia. [Muchlisin]
14.45 | 18 komentar

Anis Matta

Diposkan oleh Admin BeDa pada Minggu, 19 Juli 2009 | 13.04 WIB


Jika nanti cita-citaku tercapai dan orang bertanya padaku siapa penulis yang paling berpengaruh dalam hidupku, aku akan menjawab: Anis Matta. Jawaban ini tentu bukan jawaban sesaat. Rentang waktu yang cukup panjang setelah aku membaca buku-buku berbagai penulis aku kemudian menyadari perbedaannya. Bukan sekedar pada bahasanya yang indah dengan muatan sastra yang menenggelamkan jiwa pembaca untuk tidak berhenti sebelum halaman terakhirnya, lalu memicu keinginan untuk membacanya kembali. Makna yang dalam pada setiap tulisannya telah menghadirkan inspirasi bagiku untuk mencanangkan cita-cita yang tinggi sekaligus menggerakkan jiwaku untuk mencapainya.

Tulisan-tulisan Anis Matta memang berbeda! Ia telah menjadi stimulan menuju perenungan demi perenungan. Ia telah menjadi trigger dalam jiwa, lalu perlahan-lahan jiwa ini mengejar misinya; langkahnya semakin cepat terdorong potensi-potensi yang mulai disadarinya. Di samping itu keilmuan luas dalam 8 bukunya yang telah kubaca -Mencari Pahlawan Indonesia, Menuju Cahaya, Mengusung Peradaban yang Berkeimanan, Menikmati Demokrasi, Dari Gerakan Ke Negara, Arsitek Peradaban, Serial Cinta, 8 Mata Air Kecemerlangan- tidak hanya membuat kagum dan bangga tapi juga memanggil banyak orang untuk menjadi ‘pahlawan’. Kagum betapa hebat ide-idenya dan bangga bahwa gerakan Islam di Indonesia memiliki tokoh visioner yang mampu menerjemahkan visi, misi, dan strategi dakwah dengan caranya yang unik dan efektif. Maka, banyak kader dakwah yang akhirnya terpanggil untuk menjadi ‘pahlawan’ bukan sekedar bagi dirinya tetapi bagi negara dan Islam-nya.

Karenanya, sungguh seruan segelintir orang yang menujukkan kebenciannya pada Anis Matta atau memprovokasi kader dakwah untuk membencinya adalah seruan yang tidak berdasar pada kemaslahatan melainkan hanya berangkat dari ketidaktahuan atau syahwat kekuasaan. Atau justru, itu adalah bagian dari konspirasi untuk menjauhkan dakwah ini dari pemikirnya yang telah -dan akan- membawa dakwah ini melewati satu per satu orbit dakwahnya; menuju cita-cita puncaknya. [Muchlisin]
13.04 | 16 komentar

Lelaki Penggenggam Kairo; Sosok Di Balik Perjuangan Hasan Al-Banna

Diposkan oleh Admin BeDa pada Sabtu, 18 Juli 2009 | 11.18 WIB


Man Jadda Wajada. Pepatah Arab ini sudah sangat sering terdengar di telinga kita. “Siapa yang bersungguh-sungguh, dia akan berhasil.” Inilah kenyataannya. Dan memang demikianlah sejarah membuktikannya kepada kita. Siapapun orangnya yang bersungguh-sungguh mengejar cita-citanya, ia akan mendapatkannya; cepat atau lambat, sampai ia betul-betul berhasil atau keputusasaan mendahuluinya. Kalaupun ada fakta lain yang sepintas tidak sama, itu hanyalah pengecualian karena adanya faktor x penghambat yang tidak sanggup dilewatinya.

Demikian pula, man jadda wajada ini menemukan kebenarannya saat seorang lelaki berusia 22 tahun menikah dengan gadis cantik berusia 15 tahun. Mereka hidup dalam kesederhanaan dan keterbatasan. Namun, si lelaki ini telah memiliki cita-cita yang sangat tinggi untuk hidup sebagai seorang mualim sekaligus bergerak menjadi ulama’. Jalan dakwah menjadi pilihannya, dan karenanya ia lebih memilih profesi sebagai tukang arloji meskipun berkesempatan kerja di pemerintahan. Sebab ia tahu, cita-citanya membutuhkan waktu yang banyak dan keseriusan yang tinggi.

Ia dan keluarganya bahkan sempat berpindah-pindah rumah kontrakan selama 8 tahun saat tinggal di Kairo. Pada masa itu pernah juga ia berkirim surat kepada Majlis Mahalli, semacam DPRD di Indonesia, menceritakan tentang kesulitan ekonomi yang ia rasakan. Sekali lagi, cita-citanya terlalu besar untuk dapat dikalahkan oleh keterbatasan ekonomi.

Maka, tulisannya yang sudah berjilid-jilid buku pun tetap ia lanjutkan dengan konsistensi yang tidak mengenal ke-putus asa-an. Beruntung, beberapa waktu sebelum ia mulai mencetak karya monumental itu, putranya diangkat menjadi guru oleh pemerintah dengan gaji 15 pound per bulan. Dengan gaji sebesar itu, 3 sampai 5 pound ia berikan kepada ayahnya.

Jadilah lelaki ini mencetak kitab karyanya yang berjumlah 24 jilid. Kitab itu diberinya judul Al-Fath Ar-Rabbani. Kitab yang berisi hadits Musnad Imam Ahmad yang ia susun sesuai dengan bab berikut ia cantumkan syarahnya. Sebuah karya monumental di tengah keterbatasan yang menghimpit keluarganya. Nama lelaki ini adalah Ahmad Abdurrahman As-Saati, dan putra yang memberinya uang per bulan itu bernama Hasan Al-Banna.

Kita telah banyak mengenal Hasan Al-Banna, tetapi tidak banyak orang yang mengenal siapa sosok di balik perjuangannya. Dialah sang ayah, yang sejarah hidupnya ditulis dalam buku ini oleh Ahmad Jamaluddin, adik Al-Banna. Dialah yang berhasil menyelesaikan misi Kitab Al-Fath Ar-Rabbani; cita-cita yang sama pernah dimiliki oleh Ibnu Katsir tapi ajal lebih dulu mendatanginya. Dialah pendukung dan bagian dari gerakan Ikhwan yang didirikan putranya dan kini menjadi gerakan Islam terbesar di dunia. Dia pula yang sangat kehilangan saat Hasan Al-Banna dibunuh musuh-musuh dakwah, dan dengan perasaan mengharu biru ia memboyong jenazah putranya. Maka, buku terbitan Uswah ini perlu dibaca oleh mereka yang tersentuh dengan dakwah Ikhwan, terpengaruh dengan seruan Hasan Al-Banna, dan ikut bergetar saat membaca kisah kesyahidannya. [Muchlisin]
11.18 | 3 komentar

Materi Tarbiyah: Syarat Diterimanya Syahadat (2)

Diposkan oleh Admin BeDa pada Jumat, 03 Juli 2009 | 10.54 WIB


Pada Materi Tarbiyah: Syarat Diterimanya Syahadat (1) kita telah membahas dua syarat diterimanya syahadat. Berikut ini akan dibahas kelanjutannya yang berisi lima syarat syahadat. Dengan demikian, postingan ini menjadi bagian terakhir dari Materi Tarbiyah: Syarat Diterimanya Syahadat, yang memang terdiri dari 7 syarat yaitu : Mengetahui, Keyakinan, Penerimaan, Ketundukan, Kejujuran, Ikhlas, dan Cinta. Selamat mengkaji.
***

Penerimaan (Al-Qabuul)

Syahadat bukan kata-kata biasa. Ia adalah pernyataan, sumpah, sekaligus janji. Dengan demikian, jika kalimat syahadat itu tidak dibarengi dengan penerimaan secara total atas semua kandungannya, maka ia tidak bisa lagi disebut syahadat yang benar.

Setiap orang yang mengikrarkan syahadat harus menerima konsekuensi kalimat tersebut dengan hati dan lisannya. Seorang yang berikrar syahadat dengan lisannya akan tetapi hatinya menolak kebenaran disebut sbg munafiq I'tiqady. Seperti Abdullah bin Ubai bin Salul, ia berikrar syahadat tetapi hatinya menolak. Ialah contoh munafiq I'tiqady, kendatipun telah berikrar syahadat, namun tak ada indikasi penerimaan konsekuensi syahadat tersebut dalam dirinya.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ [الأنفال/24]
Wahai orang-orang yang beirman, penuhilah seruan Allah dan Rasul-Nya apabila dia menyeru kepada agama yang menghidupkanmu… (QS. An-Anfal : 24)

Ikrar syahadat baru diterima di sisi Allah apabila disertai penerimaan yang total atas konsekuensi yang menyertainya. Penolakan akan makna dan kandungan syahadat akan berdampak merusak persaksian yang telah diikrarkan.

Allah SWT mengecam kaum yang menolak kalimat tauhid.

إِنَّهُمْ كَانُوا إِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ يَسْتَكْبِرُونَ (35) وَيَقُولُونَ أَئِنَّا لَتَارِكُوا آَلِهَتِنَا لِشَاعِرٍ مَجْنُونٍ (36) [الصافات/35، 36]
Sesungguhnya mereka dahulu apabila dikatakan kepada mereka "Laa ilaaha illallah" mereka menyombongkan diri. Mereka mengatakan, "Apakah kami harus meninggalkan tuhan-tuhan sesembahan kami hanya untuk mengikuti seorang penyair gila?" (QS. Ash-Shafat : 35-36)

Ketundukan (Al-Inqiyad)

Ikrar syahadat harus diikuti dengan sikap tunduk terhadap kandungan maknanya dan tidak mengabaikan maksud kalimat syahadat tersebut. Sikap membangkang dan tidak mau tunduk thd ketentuan Allah dan rasul-Nya menjadikan ikrar tersebut tidak bermakna. Sesungguhnya makna Islam itu sendiri ketundukan, di mana seseorang yang masuk Islam diharapkan memiliki sikap tunduk dan patuh terhadap segala aturan yang ada di dalamnya.

Allah SWT berfirman,
وَمَنْ أَحْسَنُ دِينًا مِمَّنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ [النساء/125]

Siapakah yang lebih baik agamanya dibanding orang yang menyerahkan wajahnya kepada Allah dan dia adalah orang yang mengerjakan kebajikan… (QS. An-Nisa' : 125)

Nabi SAW bersabda,
لا يؤمن أحدكم حتى يكون هواه تبعا لما جئت به
Tidaklah beriman salah seorang diantara kalian, sehingga hawa nafsunya tunduk kepada ajaran yang aku bawa (HR. Imam Nawawi)

Dalam ayat yang lain, Allah menegaskan konsekuensi keimanan, yang berupa ketundukan sikap tanpa keberatan.
فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا [النساء/65]
Maka demi Tuhanmu, pada hakikatnya mereka itu tidak beriman sebelum menjadikan kamu sebagai hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan. Kemudian mereka tidak mendapati sesuatu keberatanpun di dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, lalu mereka menerima sepenuhnya. (QS. An-Nisa' : 65)

Ibnu Katsir memberikan penjelasan mengenai ayat ini, "Allah bersumpah dengan diri-Nya Yang Mulia lagi Suci, bahwa Rasul SAW sebagai hakim dalam segala persoalan. Apa saja yang diputuskan oleh Nabi SAW adalah kebenaran yang wajib dipatuhi secara lahir dan batin. Oleh karena itu, Allah mengatakan,… Kemudian mereka tidak mendapati sesuatu keberatanpun di dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, lalu mereka menerima sepenuhnya.

"Artinya, jika mereka bertahkim kepadamu, mereka menaati dalam jiwa mereka lalu tidak mendapati rasa keberatan sedikitpun dalam hati mereka terhadap keputusan yang engkau berikan. Mereka mematuhi hukum itu secara lahir dan batin, sehingga mereka tunduk dan pasrah sepenuhnya tanpa perlawanan, proteksi, apologi, maupun penentangan," demikian penjelasan Ibnu Katsir.

Kejujuran (Ash-Shidq)

Setiap orang yang berikrar syahadat harus melakukannya secara jujur, tidak berpura-pura, atau berdusta. Seyogyanya ucapan lisan sejalan dengan pikiran, sekaligus dengan hatinya. Itulah kejujuran sikap. Yakni mengucapkan persaksian secara bersungguh-sungguh tanpa kepalsuan dan kepura-puraan. Sesungguhnya, Allah Maha Mengetahui setiap hamba yang benar dan jujur dalam keimanan maupun hamba yang melakukan kedustaan.
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ آَمَنَّا بِاللَّهِ وَبِالْيَوْمِ الْآَخِرِ وَمَا هُمْ بِمُؤْمِنِينَ (8) يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَالَّذِينَ آَمَنُوا وَمَا يَخْدَعُونَ إِلَّا أَنْفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُونَ (9) [البقرة/8، 9]
Dan diantara manusia ada yang mengatakan, "Kami beriman kepada Allah dan hari akhir," padahal mereka itu sebenarnya bukanlah orang-orang yang beriman. Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang beriman, padahal pada hakikatnya mereka hanya menipu diri mereka sendiri, sedangkan mereka tidak sadar. (QS. Al-Baqarah : 8-9)

Rasulullah SAW bersabda,
ما من أحد يشهد أن لا إله إلا الله وأن محمدا رسول الله صدقا من قلبه إلا حرمه الله على النار
Tak seorangpun yang bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah dengan jujur dalam hatinya, kecuali Allah mengharamkannya disentuh api neraka. (HR. Bukhari)

Ibnu Rajab mengatakan, "Adapun orang yang mengucapkan laa ilaaha illallah dengan lidahnya, kemudian ia menaati setan, cenderung bermaksiat, dan menentang Allah sebenarnya perbuatannya itu telah mendustakan perkataannya. Kesempurnaan tauhidnya terkurangi sesuai dengan kadar kemaksiatannya kepada Allah itu dalam menuruti setan dan hawa nafsu."

Kejujuran bukanlah masalah sederhana. Ia perlu diperjuangkan keberadaannya dalam jiwa. Karena nilainya yang demikian tinggi para ulama mengatakan bahwa shidiq adalah salah satu dari induk akhlak.

Rasulullah SAW pun bersabda,
إن الصدق يهدي إلى البر وإن البر يهدي إلى الجنة وإن الرجل ليصدق حتى يكون صديقا وإن الكذب يهدي إلى الفجور وإن الفجور يهدي إلى النار وإن الرجل ليكذب حتى يكتب عند الله كذابا
Sesungguhnya kejujuran mengantarkan kepada kebajikan dan kebajikan mengantarkan kepada surga. Seseorang berbuat jujur hingga menjadi ahli berbuat jujur. Dan sesungguhnya kedustaan mengantarkan kepada kedurhakaan dan kedurhakaan mengantarkan ke neraka. Seseorang berbuat dusta hingga ditetapkan sebagai pendusta. (HR. Bukhari)

Allah SWT berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ [التوبة/119]
Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan hendaklah kamu bersama dengan orang-orang yang jujur. (QS. At-taubah : 119)

Ikhlas (Al-Ikhlash)

Amal yang ikhlas adalah manakala amal yang dikerjakan hanya dalam rangka mendapatkan ridha Allah SWT, tidak untuk mendapatkan ridha siapapun diantara makhluk-Nya. Lawan kata dari ikhlas adalah riya, yaitu beramal dengan tujuan selain Allah. Penyakit riya ibarat virus, jika tidak segera diberantas akan melahirkan penyakit syirik, yaitu menjadikan selain Allah sama kedudukannya dengan Allah SWT.

Amal yang ikhlas dapat menenteramkan hati, sekaligus menjadikan amal ibadah kita diterima Allah SWT. Selain itu, keikhlasan dapat menciptakan semangat untuk berjuang dan menanggung semua resiko dari perjuangan yang dilakukan.

Demikian juga, ikrar syahadat harus dilakukan dengan penuh keikhlasan dan hanya mengharap ridha Allah SWT, bukan karena pengaruh duniawi apa pun dan bukan pula karena pamrih. Dengan itulah, seseorang dapat menjauhkan diri dari segala bentuk kemusyrikan.

Allah SWT berfirman :
وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ [البينة/5]
Mereka itu tidaklah diperintah kecuali agar menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam menjalankan agama secara lurus… (QS. Al-Bayyinah : 5)

Selain itu, keikhlasan harus senantiasa didampingkan dengan kebenaran. Al-Fudhail bin Iyadh berkata, "Sesungguhnya amal perbuatan jika sudah ikhlas namun tidak benar, tidak akan diterima. Jika benar namun tidak ikhlas, juga tidak diterima, sebelum menjadi amal yang ikhlas dan benar. Ikhlas jika hanya karena Allah, sedangkan benar jika mengikuti Sunah Rasulullah SAW."

Jagalah hati kita untuk senantiasa ikhlas, karena itulah kunci pengabulan amalan dan doa-doa kita. Syirik merupakan penghancur amal, sehingga wajib dijauhi agar tidak merusak persaksian syahadat yang telah diikrarkan.

Cinta (Al-Hub)

Syahadat menuntut konsekuensi dan resiko. Pada umumnya, konsekuensi dan resiko memang berat dan tidak ada yang dapat menanggungnya secara lapang dada selain mereka yang hatinya dipenuhi oleh cinta. Cinta hanya akan lahir dari keridhaan, dan ridha itulah yang menjadikan syahadat diucapkan dengan kesungguhan dan kesadaran hati.

Setiap orang yang bersyahadat harus mencintai kalimatnya, mencintai segala yang menjadi konsekuensinya, sekaligus mencintai orang-orang yang konsekuen dengannya. Orang yang telah mengikrarkan syahadat, ia harus mencintai Allah di atas segala-sagalanya dan mencintai segala sesuatu dalam rangka mencintai Allah SWT.

Allah SWT berfirman,
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ وَالَّذِينَ آَمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ [البقرة/165]
Dan diantara manusia ada orang-orang yang mengambil tandingan-tandingan selain Allah. Mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah… (QS. Al-Baqarah : 165)

Syaikh Al-Hafizh Al-Hakami mengatakan, "Indikasi kecintaan seorang hamba kepada Tuhan adalah mendahulukan cinta kepada-Nya sekalipun hawa nafsunya menentang; membenci apa yang dibenci oleh Tuhannya, sekalipun hawa nafsu cenderung kepada hal tersebut; memberikan loyalitas kepada orang-orang yang berwala' kepada Allah dan rasul-Nya; memusuhi siapa pun yang memusuhi Tuhannya; mengikuti Rasulullah SAW, meniti jalan kenabian, dan menerima petunjuk darinya."

Dalam kaitan ini Ibnu Taimiyah berkata, "Mencintai apa yang dicitai kekasih adalah bagian dari cinta kepada kekasih. Kesiapan menanggung resiko yang berat adalah bagian dari cinta kepada kekasih."

Jika ada orang yang bersyahadat tetapi membenci Allah dan Rasul-Nya, maka bukanlah orang beriman. Lebih dari itu, syahadat itu tidak akan sampai menggerakkan hati untuk tunduk dan pasrah serta siap menanggung resiko perjuangan.

Demikianlah syarat-syarat diterimanya ikrar syhadatain. Jika seorang Muslim mampu memenuhi persyaratan tersebut, maka syahadatnya benar dan akan diterima di sisi Allah SWT.

Syahadat yang benar bukan saja mendapatkan penerimaan dari Allah SWT, namun juga menimbulkan perasaan ridha pada kandungannya. Perasaan ridha menjadi titik awal dari segenap sikap berislam secara total. Dengan ridha itulah kita menerima semua beban syariat dengan tulus, dengan ridha itu kita siap memperjuangkan, dan dengan ridha itu pula kita siap menanggung resikonya. Sedangkan kandungan ridha ini adalah ridha bahwa Allah sebagai Tuhan, Islam sebagai agama, dan Muhammad sebagai Nabi.

Rasulullah SAW bersabda,
من قال حين يمسى رضيت بالله ربًّا وبالإسلام دينًا وبمحمد نبيا كان حقا على الله أن يرضيه
Barangsiapa ketika pagi dan sore mengatakan, "Saya ridha Allah sebagai Tuhan, Islam sebagai agama, dan Muhammad sebagai Rasul dan Nabi," maka adalah wajib bagi Allah untuk meridhainya. (HR. Abu Daud, Tirmidzi, Nasa'i, dan Hakim). ). [sumber: Buku Seri Materi Tarbiyah; Syahadat dan Makrifatullah]
10.54 | 19 komentar