Assalaamu'alaikum ,  Ahlan wa Sahlan  |  Facebook  |  Twitter  |  Pasang Iklan

Banyak yang Hilang dari Diri Kita

Written By Admin BeDa on Kamis, 27 Agustus 2009 | 09:53


"Kata-kata itu, bisa mati," tulis Sayyid Qutb. "Kata-kata juga akan menjadi beku, meskipun ditulis dengan lirik yang indah atau semangat. Kata-kata akan menjadi seperti itu bila tidak muncul dari hati orang yang kuat meyakini apa yang dikatakannya. Dan seseorang mustahil memiliki keyakinan kuat terhadap apa yang dikatakannya, kecuali jika ia menerjemahkan apa yang ia katakan dalam dirinya sendiri, lalu menjadi visualisasi nyata apa yang ia katakan," lanjut Sayyid Qutb dalam karya monumentalnya Fii Zilaalil Qur'aan.

Saudaraku,
Menjadi penerjemah apa yang dikatakan. Menjadi bukti nyata apa yang diucapkan. Betapa sulitnya. Tapi ini bukan sekedar anjuran. Bukan hanya agar suatu ucapan menjadi berbobot nilai pengaruhnya karena tanpa dipraktikkan, kata-kata menjadi kering, lemah, ringan tak berbobot, seperti yang disinyalir oleh Syayyid Qutb rahimahullah tadi. Lebih dari itu semua, merupakan perintah Allah SWT. Firman Allah SWT yang tegas menyindir soal ini ada pada surat Al-Baqarah ayat 44 yang artinya, "Apakah kalian memerintahkan manusia untuk melakukan kebaktian, sedangkan kalian melupakan diri kalian sendiri dan kalian membaca Al-Kitab. Apakah kalian tidak berakal?"

Membandingkan antara kita hari ini dan masa-masa lalu, akan terasa bahwa ada banyak hal yang hilang dari diri kita. Kita dahulu, yang mungkin baru memiliki ilmu dan pemahaman yang sedikit, tapi banyak beramal dan mempraktikkan ilmu yang sedikit itu. Kita dahulu, yang barangkali belum banyak membaca dan mendapatkan keterangan tentang Allah, tentang Rasulullah SAW, tentang Islam, tapi terasa begitu kuat keyakinan dan banyak amal shalih yang dikerjakan. Kita dahulu, yang belum banyak mendengarkan nasihat, diskusi, arahan para guru dalam menjalankan agama, tapi seperti merasakan kedamaian karena kita melakukan apa yang kita ketahui itu. Meskipun sedikit.

Saudaraku,
Banyak yang hilang dari diri kita…

Saudaraku,
Dahulu, sahabat Ali radhiallahu anhu pernah mengatakan bahwa kelak di akhir zaman akan terjadi sebuah fitnah. Antara lain, ia menyebutkan, "…Ketika seseorang mempelajari ilmu agama bukan untuk diamalkan," itulah ciri fitnah besar yang akan terjadi di akhir zaman. Sahabat lainnya, Ibnu Mas'ud radhiallahu anhu juga pernah menyinggung hal ini dalam perkataannya, "Belajarlah kalian, dan bila kalian sudah mendapatkan ilmu, maka laksanakanlah ilmu itu." Ilmu dan amal, dua sisi mata uang yang tak mungkin dipisahkan. Tapi kita, sepertinya, kini lebih berilmu namun miskin dalam amal…

Saudaraku,
Perhatikanlah, apa saja yang hilang dari diri kita selama ini…?
Barangkali kita termasuk dalam ungkapan Al Hasan Al Bashri rahimahullah ini. Ia mengatakan, "Aku pernah bertemu dengan suatu kaum yang mereka dahulunya adalah orang-orang yang memerintahkan yang makruf dan paling melaksanakan apa yang diserukannya. Mereka juga orang yang paling melarang kemungkaran dan mereka sekaligus orang yang paling menjauhi kemungkaran itu. Tapi kini kita ada di tengah kaum yang memerintahkan pada yang makruf sementara mereka adalah orang yang paling jauh dari yang diserukan. Dan paling banyak melarang kemungkaran, sedangkan mereka adalah orang yang paling dekat melaksanakan kemungkaran itu. Bagaimana kita bisa hidup dengan orang yang seperti mereka?"

Saudaraku,
Berhentilah sejenak di sini. Duduk dan merenungkan untuk memikirkan apa yang kita bicarakan ini. Perhatikanlah apa yang dikatakan lebih lanjut oleh Sayyid Qutb rahimahullah, "Sesungguhnya iman yang benar adalah ketika ia kokoh di dalam hati dan terlihat bekasnya dalam perilaku. Islam adalah akidah yang bergerak dinamis dan tidak membawa yang negatif. Akidah Islam itu ada dalam alam perasaan dan bergerak hidup mewujudkan indikasinya dalam sikap luar, terterjemah dalam gerak di alam realitas."

Saudaraku,
Jika banyak yang baik-baik, yang hilang dari diri kita, mari memuhasabahi diri sebelum beramal, melihat apa yang menjadi orientasi dan tujuan amal-amal kita selama ini. Jika kita memeriksa niat sebelum beramal, berarti kita sudah membenahi sesuatu yang masih bersifat lintasan hati. Dan itu akan lebih mudah melakukannya. Karena asal muasal suatu pekerjaan itu adalah lintasan. Lintasan hati, dan keinginan hati itu bisa menjadi kiat sampai kemudian menjadi waswas. Dari waswas muncul dorongan untuk dilahirkan dalam bentuk tindakan. Imam Ghazali mengatakan, "Jalan untuk membersihkan jiwa adalah dengan membiasakan pekerjaan yang muncul dari jiwa yang bersih secara sempurna."

Saudaraku,
Jika kita bicara, maka kita sebenarnya diajak bicara oleh diri kita sendiri melalui kata-kata itu. Kata-kata yang kita keluarkan, sebenarnya pertama kali ditujukan pada diri sendiri, sebelum orang lain. Jika kita mendapatkan ilmu, kitalah orang pertama yang harus melakukannya. Dengan perenungan lebih jauh, sahabat Rasulullah SAW yang terkenal dengan sikap zuhudnya, Abu Darda radhiallahu anhu mengatakan, "Aku paling takut kepada Rabbku di hari kiamat bila Dia memanggilku di depan seluruh makhluk dan mengatakan, "Ya Uwaimar." Aku menjawab, "Ya Rabbku…" Lalu Allah mengatakan, "Apakah engkau mengerjakan apa yang sudah engkau ketahui?" Seorang ulama, Syaikh Jibrin yang baru saja wafat meningalkan tulisan begitu menyentuh tentang ini. Ia mengutip sebuah hadits qudsi, bahwa Allah SWT berfirman, "Idzaa ashanii man ya'rifunii, salath tu alaihi man laa ya'rifunii…" Jika orang yang mengenal-Ku melakukan maksiat kepada-Ku, Aku kuasakan dia kepada orang yang tidak mengenal-Ku…"

Saudaraku,
Banyak hal baik yang telah hilang dari diri kita. [M. Lili Nur Aulia, sumber: Tarbawi edisi 209 Th.11]

16 komentar:

Ukhty Tarie mengatakan...

jazakallah pak...
sy copast ya

Ronaldo Rozalino, Teluk Kuantan, Kuantan Singingi mengatakan...

Benar sekali dan sangat mencerahkan nih tulisan ini ....Semoga berkah ya

alifa mengatakan...

ijin unduh akh

NURA mengatakan...

salam sobat
memang tidak terasa ya,,,banyak hal yang baik hilang pada diri kita, ini...
saat ini tepat untuk merenungkan ya?
semoga tidak akan hilang hal yang baik pada diri kita seterusnya, amin.

pendulang-dolar-online mengatakan...

Mudah2 akhi istiqomah menulis di blog ini. Blog ini sangatlah berguna. Salam dari saudaramu.

agoez3 mengatakan...

Oh, begitukah diri kita saat ini?!
Ternyata diri kita ini, yang dikata banyak ilmu, tetapi sangat kurang pengamalannya.
How stupid I'm!!

Thanks dah ngingetin Akh...

Stop Dreaming Start Action mengatakan...

Aduh pak, artikel2 nya selalu ngingetin kita2 neh,, thanks banget yah... keep sharing... btw, dukung blog bayi saya di kontes seo Kenali dan Kunjungi Objek Wisata di Pandeglang donk....hehehe..

oyha mengatakan...

saya dah copas duluan nih sblm ijin
maaf yak...
postinganx keren2,,

Iklan Baris mengatakan...

iya pak, bener...tulisan belum tentu sama dengan perbuatan.perkataan emang lebih mudah dari pada perbuatan. he em banyak yang hilang pada diri kita, diri kita yang sebenarnya itu seperti apa!!

Iklan Gratis

ceritaku tulisanku mengatakan...

saya ijin komentar disini ya? postingan yang penuh inovatif dan selalu mengingatkan kita

mbah jiwo mengatakan...

semangat terus berjuang? salam dari MALANG

genial♂ mengatakan...

semoga kedepannya.. kita bisa semakin memperbaiki diri kita baik secara pribadi maupun secara sosial iia kang :( terimakasii pencerahannya :)

Script Ebook Bisnis mengatakan...

Akhirnya ketemu juga apa yang saya cari,,,
postingannya sangat bermanfaat terutama bagi saya dan yang lainnya, salam sukses mas admin...

Script Website Reseller mengatakan...

salam sukses dari aneuk aceh http://rijalonline.blogspot.com
semoga makin jaya terus :)

NURA mengatakan...

saam sobat
maaf baru balas, tadi internetnya mati.
sukses selalu ya,,,,ditunggu pencerahannya lagi.

NURA mengatakan...

salam sobat
berkunjung lagi nich..

ada AWARD sederhana untuk MUCHLISIN,,mohon diterima ya,,di blog NURANURANIKU,,trims

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...