
Tatsqif sebenarnya merupakan terminologi Arab yang berasal dari kata tsaqafa. Artinya, pemberian wawasan. Dan memang begitulah ia adanya. Dengan tatsqif, kader dakwah akan mendapatkan wawasan keilmuan khususnya tsaqafah Islamiyah; wawasan keislaman.
Tatsqif yang merupakan salah satu wasaailut tarbiyah (perangkat/sarana tarbiyah) juga sering dipakai sebagai akronim dari kata tarbiyah tsaqafiyah. Artinya, ia adalah kajian keislaman yang dengannya para kader dakwah memperoleh pemahaman Islam yang syamil, serta mendapatkan bekal untuk menjadi seorang kader yang memiliki syakhsiyah Islamiyah (kepribadian Islami) dan syakhsiyah daiyah (kepribadian dai). Dengan demikian, tatsqif diharapkan mampu mendukung terbentuknya kader-kader dakwah yang produktif.
Dalam setiap jenjang tarbiyah pada manhaj 1427 H, tatsqif menjadi salah satu sarana yang harus dilaksanakan oleh struktur dan diikuti oleh semua kader. Ini sekaligus akan menjawab tantangan zaman kita mengenai lemahnya basis pengetahuan keislaman kader tarbiyah, khususnya mereka yang tidak memiliki latar belakang pendidikan syar'i. Sungguh miris ketika mendengar keluhan-keluhan kader dakwah yang tidak mampu menjawab sekian banyak pertanyaan masyarakat serta tidak dapat memberikan solusi atas problematika mereka.
Bukankah Al-Islam huwal hallu (Islam adalah solusi)? Jika ditarik garis lurus yang lebih panjang, itu artinya, dakwah kita harus berbasis pada solusi. Dan setiap solusi itu membutuhkan basis keilmuan yang kuat. Ini mengharuskan setiap kader dakwah meng-up grade kapasitas keilmuannya. Dan melalui tatsqif, jamaah dakwah hendak memfasilitasi itu; tentu saja tanpa mengesampingkan halaqah, daurah, dan juga tarbiyah dzatiyah.
Tatsqif dalam manhaj 1427 H ini juga memiliki titik pertemuan dengan persiapan dakwah menyongsong mihwar daulah. Karenanya, salah satu dari enam persiapan dalam menyongsong mihwar daulah, menurut Ust. Cahyadi Takariawan adalah persiapan fikriyah, persiapan keilmuan. Dan ini mutlak membutuhkan tatsqif. Barang kali, ini juga alasan mengapa Anis Matta menulis serial pembelajaran dalam majalah Tarbawi.
Akhirnya, yang perlu kita evaluasi –secara pribadi- pada hari ini adalah: Sudahkah kita aktif menghadiri tatsqif yang disediakan oleh jamaah atau justru kita malas menghadirinya? [Muchlisin]
Tatsqif yang merupakan salah satu wasaailut tarbiyah (perangkat/sarana tarbiyah) juga sering dipakai sebagai akronim dari kata tarbiyah tsaqafiyah. Artinya, ia adalah kajian keislaman yang dengannya para kader dakwah memperoleh pemahaman Islam yang syamil, serta mendapatkan bekal untuk menjadi seorang kader yang memiliki syakhsiyah Islamiyah (kepribadian Islami) dan syakhsiyah daiyah (kepribadian dai). Dengan demikian, tatsqif diharapkan mampu mendukung terbentuknya kader-kader dakwah yang produktif.
Dalam setiap jenjang tarbiyah pada manhaj 1427 H, tatsqif menjadi salah satu sarana yang harus dilaksanakan oleh struktur dan diikuti oleh semua kader. Ini sekaligus akan menjawab tantangan zaman kita mengenai lemahnya basis pengetahuan keislaman kader tarbiyah, khususnya mereka yang tidak memiliki latar belakang pendidikan syar'i. Sungguh miris ketika mendengar keluhan-keluhan kader dakwah yang tidak mampu menjawab sekian banyak pertanyaan masyarakat serta tidak dapat memberikan solusi atas problematika mereka.
Bukankah Al-Islam huwal hallu (Islam adalah solusi)? Jika ditarik garis lurus yang lebih panjang, itu artinya, dakwah kita harus berbasis pada solusi. Dan setiap solusi itu membutuhkan basis keilmuan yang kuat. Ini mengharuskan setiap kader dakwah meng-up grade kapasitas keilmuannya. Dan melalui tatsqif, jamaah dakwah hendak memfasilitasi itu; tentu saja tanpa mengesampingkan halaqah, daurah, dan juga tarbiyah dzatiyah.
Tatsqif dalam manhaj 1427 H ini juga memiliki titik pertemuan dengan persiapan dakwah menyongsong mihwar daulah. Karenanya, salah satu dari enam persiapan dalam menyongsong mihwar daulah, menurut Ust. Cahyadi Takariawan adalah persiapan fikriyah, persiapan keilmuan. Dan ini mutlak membutuhkan tatsqif. Barang kali, ini juga alasan mengapa Anis Matta menulis serial pembelajaran dalam majalah Tarbawi.
Akhirnya, yang perlu kita evaluasi –secara pribadi- pada hari ini adalah: Sudahkah kita aktif menghadiri tatsqif yang disediakan oleh jamaah atau justru kita malas menghadirinya? [Muchlisin]







9 komentar:
terimakasih infonya sahabat
pas sekali nih, saya dapat amanah untuk mengurusi Tatsqif.... hambatannya memang itu2 saja, kesibukan muwajjih dan peserta, plus pengelola yang mungkin belum profesional ... tetapi insya ALlah, kian hari kian meningkat ... trima kasih motivasinya
blog yang inspiratif sobat...semoga tetap istiqomah menebarkan dakwah kepada ummat :) salam kenal, saya follow yach
Terimakasih sahabatku..atas ilmu yang manfaat ini..Mudah2n semua pengurus tatsqif selalu mendapat Ridho dan kemudahan dari Allah SWT..Amiin
Moga dengan pencerahan ini , saya akan rajin menghadiri tatsqif.
Makasih banyak sobat.
Menggugah sekali tulisannya.Terakhir hadir tatsqif di daerah saya ada 2 hal yang agak lucu.Pertama, ada akhwat datang ktk acara telah berakhir dengan senyum2, seolah kehadiran hanya untuk mengisi absen. Kedua, di akhir sesi tanya jawab ada yang menulis bahwa suara Ustadz tidak terdengar di belakang yang didominasi Ibu2 (beserta anak2nya) Padahal alangkah berartinya kalau komentar itu di awal acara berupa interupsi atau kode pada panitia.
Manajemen tatsqif yang lebih rapi dan disiplin akan mendorong peserta lebih rapi dan disiplin juga. Seperti perhatian terhadap kehadiran peserta dan kurikulum materi tatsqif.
Luar biasa materinya smoga saling mendukung dan smnagt...menebarkan ilmunya....
fastabiquk khairat...
ana mau buat silabus tatsqif utk sma n almninya..klo boleh dibantu referensi n susunannya..syukron
ana mau buat silabus tatsqif utk sma n alumninya..kloboleh ana minta referensi n susunan idealnya sperti apa..syukron
Poskan Komentar