Assalaamu'alaikum ,  Ahlan wa Sahlan  |  Write for Us  |  Kontributor  |  Pasang Iklan

Saat Embun Menembus Batu

Written By Admin BeDa on Senin, 07 Desember 2009 | 16:14


Pengetahuan kita memang sedikit. Teramat sedikit. Hanya seperti setetes embun di lautan pengetahuan Allah. Itupun tidak bisa dengan sendirinya menciptakan peristiwa-peristiwa kehidupan kita. Kesalahan kita, dengan begitu, selalu ada di situ; saat di mana kita menafsirkan seluruh proses kehidupan kita dengan pengetahuan sebagai tafsir tunggal. Tapi setetes embun itu yang sebenarnya memberikan sedikit kuasa bagi manusia atas peserta alam raya lainnya, dan karenanya membedakan dari mereka.

Walaupun bukan dalam kerangka hubungan kausalitas mutlak, Allah tetap saja menyebutnya sultan; kekuasaan, kekuatan. Pengetahuan menjadi kekuasaan dan kekuatan karena Allah dengan kehendak-Nya meniupkan kuasa dan kekuatan itu ke dalamnya kapan saja Ia menghendakinya. Dan karena pengetahuan itu adalah input Allah yang diberikannya kepada akal sebagai infrastruktur komunikasi manusia dengan-Nya, maka ia menjadi penting sebagai penuntun bagi kehidupan manusia. Dalam kerangka itulah Allah mengulangi kata ilmu, dengan seluruh perubahan morfologisnya, lebih dari 700 kali dalam Al-Qur'an. Di jalur makna seperti itu pula Rasulullah SAW mengatakan: "Siapa yang menginginkan dunia hendaklah ia berilmu. Siapa yang menginginkan akhirat hendaklah ia berilmu. Siapa yang menginginkan kedua-duanya hendaklah ia berilmu."

Ada sesuatu yang tampak tidak bertemu di sini; antara ilmu yang sedikit, dan kuasa yang diberikan Allah pada ilmu yang sedikit itu. Yang pertama menyadarkan kita akan ketidakberdayaan kita. Tapi yang kedua menggoda kita dengan kekuasaan besar atas dunia kita. Kisah Fir'aun, Haman dan Qarun, adalah kisah orang-orang yang gagal menemukan titik temu antara keduanya. Sebaliknya ada kisah Yusuf dan Sulaiman yang menemukan simpul perekat antara kedua situasi itu.

Yusuf menguasai perbendaharaan negara karena ia, seperti yang beliau lukiskan sendiri. Hafiz 'aliim; penjaga harta yang tahu bagaimana cara menjaganya. Ilmu tentang bagaimana menjaga harta kekayaan negara telah memberinya posisi tawar politik yang kuat dalam kerajaan. Bergitu juga dengan kerajaan Sulaiman yang disangga oleh para ilmuwan yang bahkan melampaui kedalaman ilmu pasukan jinnya. Sebab pasukan Jin hanya mampu memindahkan singgasana Balqis dari Yaman ke Palestina dalam waktu antara duduk dan berdirinya Sulaiman. Sementara para ilmuwannya mampu memindahkan singgasana itu dalam satu kedipan mata. Itu bukan pengiriman data dan suara seperti dalam sms dan hubungan telepon. Tapi pengiriman barang atau cargo.

Luar biasa. Bukan terutama pengetahuannya yang luar biasa. Tapi tafsir Sulaiman atas itu semua: "Ini adalah keutamaan dari Tuhanku, yang dengan itu Ia hendak mengjui aku, apakah aku akan bersyukur atau mengingkari (kufur) nikmat itu." Sulaiman memahami bahwa Allahlah yang meniupkan sedikit kuasa pada pengetahuan itu. Sedikit kuasa itu membuatnya percaya diri di depan Balqis dengan menggunakan diplomasi teknologi dalam menyampaikan risalah, tapi juga membuatnya rendah hati dan bersyukur di depan Allah.

Itulah kata kuncinya: kerendahan hati dan kepercayaan diri. Persis seperti embun; sejuk karena kerendahan hati, tapi tak pernah berhenti menetes karena percaya bahwa dengan kelembutannya ia bisa menembus batu. [Anis Matta, sumber : Serial Pembelajaran Majalah Tarbawi edisi 217]

16 komentar:

Kabasaran Soultan mengatakan...

Renungan yang mantap...
Thanks 4 sharingnya

viv mengatakan...

makasih atas pencerahannya ..

Ronaldo Rozalino mengatakan...

JAdilah Ilmu Padi!!!!

Make Money Online mengatakan...

mantep banget sob sebagai bahan renungan

willyo Alsyah mengatakan...

jadilah seperti Embun.....betapa indahnya renungan

Lala mengatakan...

Aku suka kata kunci tersebut, terima kasih sudah mengingatkan kita kembali.

Maaf baru sempat berkunjung.

msafru mengatakan...

terima kasih atas infonya semoga bisa menjadi bahan renungan buat kita semua Amiin...

khamamah mengatakan...

assalamu'alaikum tambah sukses aja ini blog ikut ngetrend dar i blog lain

NURA mengatakan...

salam sobat
wah saat embun menembus batu,,,lama ya menunggu tembusnya,,tapi dengan kuasa ILLAHI,,sekejapun bisa kalau ALLAH SWT sudah berkehendak.

TRIMATRA mengatakan...

percaya diri dan rendah hati itulah sebagian dari sifat-sifat para muttaqien,. bagus tulisannya

Mas acrom mengatakan...

Thanx atas pengetahuannya,moga aja makin luas dakwahnya ya...:)

Saungweb mengatakan...

Subhanallah.. memang tak ada yang mustahil yah jika allah sudah menghendakinya..

Anonim mengatakan...

:) subhanallah.. ilmu dan beramal

Rizky2009 mengatakan...

belajar d sini nambah ilmu walaupun bahasannya tingkat tinggi tapi rizky senang

AmruSite mengatakan...

semoga dengan artikel diatas semangat kita untuk berusaha makin tinggi... makasih ilmunya sob..

Anonim mengatakan...

Saya hanya mau mengoreksi tentang hadist " barang siapa yang mengingingkan dunia maka wajib atasnya berilmu ...." Maaf. Ini bukan hadits nabi, tapi perkataan imam syafi'i rahimahullah.

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...