Assalaamu'alaikum ,  Ahlan wa Sahlan  |  Facebook  |  Twitter  |  Pasang Iklan

Simat Kader Dakwah

Written By Admin BeDa on Selasa, 31 Maret 2009 | 07:40

We are sorry, starting from 13rd March 2010, Simat Kader Dakwah cannot displayed. Sorry for this uncomfortable. This page, Simat Kader Dakwah, deleted by blog owner because of some reason. Please to be understood.

Once more, we're sorry to visitors of BERSAMA DAKWAH blog. We hope you back to HOME. Thank you.
07:40 | 0 komentar

Delapan Mata Air Kecemerlangan

Written By Admin BeDa on Sabtu, 28 Maret 2009 | 06:59


Islam datang dengan 2 pesona; pesona kebenaran yang abadi dan pesona manusia muslim yang temporal. Dan pada setiap momentum sejarah di mana kedua pesona itu bertemu, Islam selalu berada di puncak kekuatan dan kejayannya. Akan tetapi, itulah masalah Islam saat ini. Ia memang tidak akan pernah kehilangan pesona kebenarannya, karena kebenarannya bersifat abadi. Namun, ia kini masih kehilangan pesona manusianya.

Buku Delapan Mata Air Kecemerlangan ini merupakan upaya Anis Matta menjawab problematika itu. Untuk menjadikan muslim sebagai pesona Islam, maka kita harus mempertemukan manusia-manusia muslim itu dengan mata air kecemerlangannya.

Mata Air Pertama: Konsep Diri

Konsep diri adalah suatu kesadaran pribadi yang utuh, kuat, jelas, dan mendalam tentang visi dan misi hidup; pilihan jalan hidup beserta prinsip dan nilai yang membentuknya; peta potensi; kapasitas dan kompetensi diri; peran yang menjadi wilayah aktualisasi dan kontribusi; serta rencana amal dan karya unggulan. Konsep Diri menciptakan perasaan terarah dalam struktur kesadaran pribadi kita. Keterarahan adalah salah satu mata air kecemerlangan.

Konsep Diri manusia Muslim adalah kesadaran yang mempertemukan antara kehendak-kehendaknya sebagai manusia; antara model manusia Muslim yang ideal dan universal dengan kapasitas dirinya yang nyata dan unik, antara nilai-nilai Islam yang komprehensif dan integral dengan keunikan-keunikan pribadinya sebagai individu; antara ruang aksi dan kreasi yang disediakan Islam dengan kemampuan pribadinya untuk beraksi dan berkreasi; dan antara idealisme Islam dengan realitas pribadinya.

Mata Air Kedua: Cahaya Pikiran

Perubahan, perbaikan, dan pengembangan kepribadian harus selalu dimulai dari pikiran kita. Sebab, tindakan, perilaku, sikap, dan kebiasaan kita sesungguhnya ditentukan oleh pikiran-pikiran yang memenuhi benak kita. Bukan hanya itu, semua emosi atau perasaan yang kita rasakan dalam jiwa kita seperti kegembiraan dan kesedihan, kemarahan dan ketenangan, juga ditentukan oleh pikiran-pikiran kita. Kita adalah apa yang kita pikirkan.

Maka, kekuatan kepribadian kita akan terbangun saat kita mulai memikirkan pikiran-pikiran kita sendiri, memikirkan cara kita berpikir, memikirkan kemampuan berpikir kita, dan memikirkan bagaimana seharusnya kita berpikir. Benih dari setiap karya-karya besar yang kita saksikan dalam sejarah, selalu terlahir pertama kali di sana: di alam pikiran kita. Itulah ruang pertama dari semua kenyataan hidup yang telah kita saksikan.

Mata Air Ketiga: kekuatan Tekad

Tekad adalah jembatan di mana pikiran-pikiran masuk dalam wilayah fisik dan menjelma menjadi tindakan. Tekad adalah energi jiwa yang memberikan kekuatan kepada pikiran untuk merubahnya menjadi tindakan.

Pikiran tidak akan pernah berujung dengan tindakan, jika ia tidak turun dalam wilayah hati, dan berubah menjadi keyakinan dan kemauan, serta kemudian membulat menjadi tekad. Begitu ia menjelma jadi tekad, maka ia memperoleh energi yang akan merangsang dan menggerakkan tubuh untuk melakukan perintah-perintah pikiran.

Bila tekad itu kuat dan membaja, maka tubuh tidak dapat, atau tidak sanggup menolak perintah-perintah pikiran tersebut. Akan tetapi, bila tekad itu tidak terlalu kuat, maka daya rangsang dan geraknya terhadap tubuh tidak akan terlalu kuat, sehingga perintah-perintah pikiran itu tidak terlalu berwibawa bagi tubuh kita.

Maka, kekuatan dan kelemahan kepribadian seseorang sangat ditentukan oleh sebesar apa tekadnya, yang merupakan energi jiwa dalam dirinya. Tekad yang membaja akan meloloskan setiap pikiran di sleuruh prosedur kejiwaan, dan segera merubahnya menjadi tindakan.

Mata Air Keempat: Keluhuran Sifat

Pada akhirnya semua kekuatan internal –kosep diri, pikiran dan tekad- yang telah kita bangun dalam diri kita, haruslah bermuara pada munculnya sifat-sifat keluhuran. Kecemerlangan seseorang di dalam hidup sesungguhnya berasal –salah satunya- dari mata air keluhuran budi pekertinya. Dari mata air keluhuran itu, semua nilai-nilai kemanusiaan yang mulia terjalin menjadi satu kesatuan, dan menampakkan diri dalam bentuk sifat-sifat terpuji.

Sifat-sifat itulah yang akan tampak di permukaan kepribadian kita, mewakili keseluruhan pesona kekuatan kepribadian yang kita miliki, yang sebagiannya terpendam di kedalaman dasar kepribadian kita. Kekuatan pesona sifat-sifat keluhuran itu seperti sihir, yang akan menaklukkan akal dan hati orang-orang yang ada di sekitarnya, atau yang bersentuhan dengannya secara langsung.

Setiap sifat memiliki akar tersendiri yang terhunjam dalam di kedalaman pikiran dan emosi kita. Seperti juga pohon, sifat-sifat itu tersusun sedemikian rupa di mana sebagian mereka melahirkan sebagian yang lain. Ada sejumlah sifat-sifat tertentu yang berfungsi seperti akar pada pohon, yang kemudian tumbuh berkembang menjadi batang, dahan dan ranting, daun dan buah. Demikianlah kita tahu bahwa semua sifat keluhuran berakar pada lima sifat: cinta kebenaran, kesabaran, kasih sayang, kedermawanan, dan keberanian.

Mata Air Kelima: Manajemen Aset Fundamental

Obsesi-obsesi besar, pikiran-pikiran besar, dan kemauan-kemauan besar selalu membutuhkan daya dukung yang juga sarana besarnya. Salah satunya dalam bentuk pengelolaan dua aset fundamental secara baik, yaitu kesehatan dan waktu.

Fisik adalah kendaraan jiwa dan pikiran. Perintah-perintah pikiran dan kehendak-kehendak jiwa tidak akan terlaksana dengan baik, bila fisik tidak berada dalam kondisi kesehatan yang prima. Kadang-kadang, jumlah “penumpang” yang mengendarai fisik kita melebihi kapasitasnya dan membuatnya jadi oleng. Akan tetapi, perawatan yang baik akan menciptakan keseimbangan yang rasional antara muatan dan kapasitas kendaraan.

Waktu adalah kehidupan. Setiap manusia diberikan kehidupan sebagai batas masa kerja dalam jumlah yang berbeda-beda, yang kemudian kita sebut dengan umur yang terbentang dari kelahiran hingga kematian. Tidak ada manusia yang mengetahui akhir dari batas masa kerja itu, yang kemudian kita sebut ajal. Hal itu menciptakan suasana ketidakpastian, tetapi itulah aset paling berharga yang kita miliki.

Ibarat menempuh sebuah perjalanan yang panjang, fisik kita berfungsi sebagai kereta, dan waktu yang terbentang jauh atau dekat, seperti rel kereta. Seorang masinis boleh menentukan stasiun terakhir yang kita tuju, tetapi dia harus menjamin bahwa kereta yang dikemudikannya dan rel yang akan dilewatinya benar-benar berada dalam keadaan baik.

Kesehatan dan waktu adalah dua perangkat keras kehidupan yang sangat terbatas. Akan tetapi, manusia-manusia cemerlang selalu dapat meraih sesuatu secara maksimal dari semua keterbatasan yang melingkupinya.

Mata Air Keenam: Integrasi Sosial

Kemampuan beradaptasi dengan lingkungan masyarakat di mana kita berada bukan saja merupakan ukuran kematangan pribadi seseorang, tetapi lebih dari itu. Sebab, lingkungan sosial kita harus dipandang sebagai wadah kita untuk menyemai semua kebaikan yang telah kita kembangkan dalam diri.

Dengan cara pandang ini, maka setiap diri kita akan membangun hubungan sosialnya dengan semangat partisipasi: menyebarkan bunga-bunga kebaikan di taman kehidupan masyarakat kita.

Dengan semangat ini, maka semua usaha kita untuk menciptakan keharmonisan sosial menjadi niscaya. Bukan saja karena dengannya kita dapat menyebarkan kebaikan yang tersimpan dalam diri kita, tetapi juga karena kita menciptakan landasan yang kokoh untuk meraih kesuksesan, berkah kehidupan, dan kebahagiaan dalam hidup.

Jika kematangan pribadi merupakan landasan bagi kesuksesan sosial, maka kesuksesan sosial merupakan landasan bagi kesuksesan lain dalam hidup, seperti kesuksesan profesi.

Mata Air Ketujuh: Kontribusi

Kehadiran sosial kita tidak boleh berhenti pada tahap partisipasi. Harus ada langkah yang lebih jauh dari sekadar itu. Harus ada karya besar yang kita kontribusikan kepada masyarakat, yang berguna bagi kehidupan mereka; sesuatu yang akan dicatat sebagai jejak sejarah kita, dan sebagai amal unggulan yang membuat kita cukup layak mendapatkan ridha Allah SAW dan sebuah tempat terhormat dalam surga-Nya.

Kontribusi itu dapat kita berikan pada wilayah pemikiran, atau wilayah profesionalisme, atau wilayah kepemimpinan, atau wilayah finansial, atau wilayah lainnya. Namun, kontribusi apa pun yang hendak kita berikan, sebaiknya memenuhi dua syarat: memenuhi kebutuhan masyarakat kita dan dibangun dari kompetensi inti kita. Masyarakat adalah pengguna karya-karya kita, maka yang terbaik yang kita berikan kepada mereka adalah apa yang paling mereka butuhkan, dan apa yang tidak dapat dipenuhi oleh orang lain. Akan tetapi, kita tidak dapat berkarya secara maksimal di luar dari kompetensi inti kita. Karena itu, kita harus mencari titik temu diantara keudanya.

Caranya adalah sebagai berikut: buatlah peta kebutuhan kondisional masyarakat kita, dan kemudian buatlah peta potensi kita, untuk menemukan kompetensi inti diri kita. Apabila titik temu itu telah kita temukan, maka masih ada satu lagi yang harus kita lakukan; menjemput momentum sejarah untuk meledakkan potensi kita menjadi karya-karya besar yang monumental. Ini semua mengharuskan kita memiliki kesadaran yang mendalam akan tugas sejarah kita sebagai pribadi, sekaligus firasat yang tajam tentang momentum-momentum sejarah kita.

Mata Air Kedelapan: Konsistensi

Sebagai manusia beriman, kita meyakini sebuah prinsip, bahwa bagian yang paling menentukan dari seseorang adalah akhir hidupnya. Maka, persoalan paling berat yang kita hadapi sesungguhnya bukanlah mendaki gunung, tetapi bagaimana bertahan di puncak gunung itu hingga akhir hayat.

Mengukir sebuah prestasi besar dalam hidup dan mempertahankannya hingga akhir hayat, adalah dua misi dan tugas hidup yang berbeda; berbeda pada kapasitas energi jiwa yang diperlukannya, berbeda pada proses-proses psikologisnya, berbeda pula pada ukuran kesuksesannya.

Untuk dapat bertahan di puncak, kita harus menghindari jebakan-jebakan kesuksesan, seperti rasa puas yang berlebihan atau perasaan menjadi besar dengan kesuksesab yang telah kita raih. kita harus mempertahankan obsesi pada kesempurnaan pribadi, melakukan perbaikan berkesinambungan, melakukan perbaikan berkesinambungan, melakukan pertumbuhan tanpa batas akhir, dan mempertahankan semangat kerja dengan menghadirkan kerinduan abadi kepada surga dan kecemasan abadi dari neraka, serta menyempurnakan semua usaha-usaha manusiawi kita dengan berdoa kepada Allah untuk mendapatkan husnul khatimah. Semua itu agar kita menjemput takdir sejarah kita yang terhormat di bawah naungan ridha Allah SWT, dan agar kita kelak menceritakan episode panjang kepahlawanan ini kepada saudara-saudara kita di surga.
06:59 | 3 komentar

Miqdad bin ‘Amr

Written By Admin BeDa on Kamis, 26 Maret 2009 | 07:25


Rekan-rekannya berkata, “Orang yang pertama memacu kudanya dalam perang fi sabilillah adalah Miqdad bin Aswad.”

Miqdad bin Aswad adalah tokoh yang sedang kita bicarakan; Miqdad bin ‘Amr. Di masa jahiliyah, ia diambil anak oleh Aswad bin ‘Abdi Yaghuts. Karena itu, ia dipanggil Miqdad bin Aswad. Tetapi setelah turunnya firman Allah yang melarang penisbatan nama seseorang ke ayah angkatnya, nama Miqdad dinisbatkan ke nama ayah kandungnya; ‘Amr bin Sa’d.

Miqdad termasuk deretan orang yang pertama masuk Islam, dan orang ketujuh yang menyatakan keislamannya secara terang-terangan, hingga menanggung penderitaan dari kekejaman kaum kafir Quraisy. Semua kekejaman itu ia hadapi secara ksatria.

Kiprah Miqdad di Perang Badar akan senantiasa terukir indah dan tidak akan terlupakan. Bahkan, setiap orang yang melihatnya berharap dialah yang melakukan kiprah itu.

Abdullah bin Mas’ud ra. berkata, “Aku telah menyaksikan kiprah Miqdad. Seandainya aku yang melakukan kiprah itu, tentu lebih aku sukai dari pada semua yang ada di muka bimu ini.”

Hari itu, kaum muslimin tegang, karena orang-orang kafir Quraisy datang dengan kekuatannya yang dahsyat; dengan semangat dan tekad yang bergelora; dengan kesombongan dan keangkuhan mereka.

Hari itu, jumlah kaum muslimin masih sedikit, dan belum teruji dalam peperangan untuk membela Islam. Inilah peperangan pertama yang mereka terjuni.

Saat inilah Rasulullah akan mengetahui keimanan para pengikutnya dan kesiapan mereka untuk menghadapi pasukan musuh yang terdiri dari pasukan pejalan kaki dan pasukan berkuda.

Rasulullah memimta pendapat mereka. Para shahabat paham bahwa beliau benar-benar meminta pendapat mereka. Meskipun nantinya ada pendapat yang berlainan dengan pendapat kebanyakan, Rasulullah tidak akan memarahi orang tersebut.

Miqdad khawatir kalau ada diantara kaum muslimin yang masih berpikir seribu kali untuk melakukan peperangan. Karena itu, sebelum ada yang angkat bicara, Miqdad ingin mendahului mereka, agar dengan kata-katanya yang tegas dapat mengobarkan semangat juang dan bisa menjadi pendapat umum.

Tetapi, sebelum ia menggerakkan kedua bibirnya, Abu Bakar Ash Shidiq sudah mulai bicara. Apa yang dikemukakan Abu Bakar sangat baik, Miqdad pun tenang. Kemudian Umar bin Khathab menyusul bicara. Pendapatnya juga baik.

Setelah itu, barulah Miqdad angkat bicara, “Ya Rasulullah, jangan ragu! Laksanakan apa yang dititahkan Allah. Kami akan bersamamu. Demi Allah kami tidak akan berkata seperti yang dikatakan Bani Israel kepada Musa, ‘Pergilah kamu bersama Tuhanmu dan berperanglah! Kami akan duduk menunggu di sini.’ Tetapi kami akan mengatakan kepadamu, ‘Pergilah bersama Tuhanmu dan berperanglah! Kami akan berperang di sampingmu.’ Demi yang telah mengutusmu dengan membawa kebenaran! Seandainya engkau membawa kami menerjuni lautan lumpur, kami akan patuh. Kami akan berjuang bersamamu dengan gagah berani hingga mencapai tujuan, dan kami akan bertempur di sebelah kanan dan di sebelah kirmu, di bagian depan dan di bagian belakangmu, sampai Allah memberimu kemenangan.”

Kata-kata ini mengalir deras dari bibir Miqdad. Mendengar perkataan ini, wajah Rasulullah terlihat berseri-seri, lalu beliau berdoa untuk Miqdad.

Pasukan Islam pun menjadi bersemangat mengikuti semangat Miqdad. Bahkan, cara bicara Miqdad patut dicontoh oleh yang lain.

Kata-kata Miqdad benar-benar berdampak positif kepada segenap pasukan Islam. Sa’d bin Muadz, pemuka kaum Anshar berkata, “Ya Rasulullah, sungguh, kami telah beriman kepadamu, membenarkanmu, dan kami telah saksikan bahwa apa yang engkau bawa adalah benar. Kami juga sudah bersumpah setia kepadamu. Karena itu, majulah wahai utusan Allah, kami akan bersamamu. Demi yang telah mengutusmu membawa kebenaran, seandainya engkau membawa kami ke lautan, lalu engkau mengarungi lautan itu, tentu kami juga akan mengarunginya. Tidak seorang pun akan berpaling. Kami akan bersamamu berperang melawan musuh. Kami adalah orang-orang yang gagah berani dalam peperangan, tidak gentar menghadapi musuh. Allah akan memperlihatkan kepadamu kiprah kami dalam peperangan yang akan berkenan di hatimu. Karena itu, maju terus, kami akan bersamamu. Berkah Allah akan bersama kita.”

Rasulullah sangat senang. Beliau bersabda kepada para pengikutnya, “Berangkatlah dan bergembiralah.”

Dan kedua pasukan pun berhadapan.

Jumlah anggota pasukan Islam yang berkuda ketika itu tidak lebih dari tiga orang, yaitu Miqdad bin ‘Amr, Martsad bin Abi Martsad, dan Zubair bin Awwam; sementara yang lain berjalan kaki atau menunggang unta.

Ucapan Miqdad yang kita kemukakan tadi, tidak saja menggambarkan keberaniannya, tetapi juga melukiskan sikap bijaknya, dan pola pikirnya yang mendalam.

Dan memang demikianlah sifat Miqdad. Ia orang yang bijak, dan cara pandangnya sangat tajam. Itu tidak hanya terlihat pada ucapannya, tetapi terlihat juga pada prinsip hidup dan perilakunya yang lurus. Semua pengalamannya adalah sumber bagi sikap bijak dan pola pikirnya.

Ia pernah diangkat oleh Rasulullah sebagai Gubernur di suatu wilayah. Tatkala ia kembali dari tugasnya, Nabi bertanya, “Bagaimana dengan jabatanmu?” Ia jawab dengan jujur, “Engkau telah menjadikanku menganggap diri ini di atas rakyat sedang mereka di bawahku. Demi yang telah mengutusmu membawa kebenaran, mulai saat ini saya tidak adakan menjadi pemimpin sekalipun untuk dua orang.”

Jika ini bukan sikap bijak, lantas apa?
Jika dia bukan seorang bijak, lantas siapa?
Ia adalah ser\orang laki-laki yang tidak tertipu oleh diirnya dan kelemahannya.
Ia menjadi gubernur, lalu dirinya dikuasai kemegahan dan pujian. Kelemahan ini disadarinya hingga ia bersumpah akan menghindarinya dan menolak untuk menjadi gubernur lagi setelah pengalaman pahit itu.

Dan ia menepati janjinya itu. Sejak saat itu, ia tak pernah menerima jabatan pemimpin.

Ia sering mengucapkan sabda Nabi SAW yang berbunyi, “Orang yang berbahagia ialah orang yang dijauhkan dari kehancuran.”

Jika jabatan kepemimpinan dianggapnya suatu kemegahan yang menimbulkan atau hampir menimbulkan kehancuran bagi dirinya, maka syarat untuk mencapai kebahagiaan baginya ialah menjauhinya.

Diantara sikap bijaknya adalah kehati-hatiannya dalam menilai orang. Sikap ini juga ia pelajari dari Rasulullah SAW yang telah menyampaikan kepada umatnya, “Berubahnya hati manusia lebih cepat dari periuk yang sedang mendidih.”

Miqdad sering menangguhkan penilaian terakhir terhadap seseorang sampai dekat saat kematian mereka. Tujuannya ialah agar orang yang akan dinilainya tidak mengalami hal baru lagi. Adakah perubahan setelah kematian?

Sikap bijaknya terlihat sangat jelas dalam dialog berikut. Seorang temannya menceritakan, “Suatu hari, kami duduk dekat Miqdad. Tiba-tiba seorang laki-laki lewat dan berkata kepada Miqdad, ‘Sungguh berbahagialah kedua mata yang telah melihat rasulullah SAW ini. Demi Allah, kami sangat senang jika dapat melihat apa yang kau lihat, dan menyaksikan apa yang kau saksikan.”

Miqdad menghampirinya dan berkata, “Apa yang mendorong kalian ingin menyaksikan peristiwa yang tidak dipertontonkan oleh Allah, padahal kalian tidak tahu bagaimana kondisi kalian jika menyaksikannya? Demi Allah, ada orang-orang yang hidup di masa Rasulullah SAW tapi mereka dijerumuskan Allah ke neraka Jahannam. Sebaiknya kalian bersyukur kepada Allah yang menghindarkan kalian dari malapetaka seperti yang menimpa mereka itu, dan menjadikan kalian sebagai orang-orang beriman kepada Allah dan Nabi kalian!”

Sungguh satu sikap bijak yang luar biasa.
Tidak seorang pun yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya yang kalian temui, kecuali ia menginginkan hidup di masa Rasulullah dan dapat melihatnya.

Tetapi penglihatan Miqdad yang tajam dapat menembus sesuatu yang tidak terjangkau oleh keinginan itu.

Bukankah tidak mustahil orang yang menginginkan hidup pada masa-masa tersebut akan menjadi salah seorang penghuni neraka?
Bukankah tidak mustahil ia berada di barisan orang-orang kafir?

Tidakkah lebih baik jika ia bersyukur kepada Allah yang telah menghidupkannya di masa di mana Islam telah tersebar luas, sehingga ia bisa melaksanakan ajaran Islam dengan mudah.

Demikianlah pandangan Miqdad, memancarkan sikap bijak dan kecerdasan. Dan setiap tindakan dan ucapannya membuktikan bahwa ia adalah orang yang bijak dan memiliki pola pikir yang mendalam.

Kecintaan Miqdad kepada Islam tidak terkira besarnya. Selain itu, ia orang yang bijak dan memahami permasalahan dengan benar.

Cinta yang mendalam dan tertata menjadikan pemiliknya sebagai orang yang istimewa. Ia tidak berhenti pada rasa cinta tapi tahu akan semua konsekuensinya.

Inilah tipe Miqdad bin ‘Amr. Cintanya kepada Rasulullah menumbuhkan rasa tanggung jawab atas keselamatan Rasulullah. Setiap didengar ada kehebohan di Madinah, maka dengan secepat kilat Miqdad telah berada di ambang pintu rumah Rasulullah menunggang kuda, sambil menghunus pedang atau tombaknya.

Cintanya kepada Islam menyebabkannya bertanggungjawab untuk membela ajaran Islam. Tidak saja dari tipu daya musuh-musuhnya, tetapi juga dari kekeliruan rekan-rekannya sendiri.

Suatu ketika, ia berada dalam pasukan kecil yang berhasil dikepung oleh pasukan musuh. Komandan pasukan memerintahkan agar tidak seorang pun menggembalakan hewan tunggangannya. Tetapi salah seorang anggota pasukan tidak mengetahui larangan itu, dan melanggarnya. Sebagai akibatnya ia menerima hukuman yang rupanya lebih besar dari yang seharusnya, atau bahkan tidak layak menerima hukuman.

Miqdad lewat di depan orang yang kena hukuman itu. orang itu sedang menangis dan berteriak-teriak. Ketika ditanya, ia mengisahkan apa yang telah terjadi. Miqdad menggandeng tangan orang itu, lalu diajak pergi menghadap komandan. Terjadi dialog antara Miqdad dengan komandan. Dan akhirnya, terbukti bahwa komandanlah yang bersalah.

Miqdad berkata kepada komandan, “Sekarang berilah kesempatan kepadanya untuk melakukan qishash.”

Komandan itu patuh pada saran Miqdad. Namun tentara itu memaafkan. Miqdad melihat pemandangan ini dengan takjub. Ia mencium kebesaran Islam yang telah memberikan keluhuran. Ia berkata “Saat aku mati, Islam sudah dihormati.”

Itulah cita-citanya, yaitu kejayaan Islam saat ia meninggal dunia. Ia perjuangkan cita-cita ini dengan penuh kesabaran dan pengorbanan, bersama rekan-rekannya yang lain. Hingga ia layak menyandang sabda Nabi SAW “Sesungguhnya Allah menyuruhku menyayangimu, dan memberitahuku bahwa Dia menyayangimu.” [sumber: 60 Sirah Sahabat Rasulullah SAW]
07:25 | 3 komentar

Misi Dakwah Kita: Perubahan dan Perbaikan (At-Taghyir wal Ishlah)

Written By Admin BeDa on Rabu, 25 Maret 2009 | 13:03

We are sorry, starting from 13rd March 2010, Misi Dakwah Kita: Perubahan dan Perbaikan (At-Taghyir wal Ishlah) cannot displayed. Sorry for this uncomfortable. This page, Misi Dakwah Kita: Perubahan dan Perbaikan (At-Taghyir wal Ishlah), deleted by blog owner because of some reason. Please to be understood.

Once more, we're sorry to visitors of BERSAMA DAKWAH blog. We hope you back to HOME. Thank you.
13:03 | 0 komentar

Saat Dakwah Sampai ke Militer dan Polisi

Written By Admin BeDa on Sabtu, 21 Maret 2009 | 16:08


Hari ini untuk kesekian kalinya, aku ke Masjid Jami' di sebuah kecamatan di Kabupaten Gresik. Ada pemandangan baru yang belum pernah kujumpai sebelumnya. Jamaah shalat Asar ini lebih dai 60%nya adalah bapak-bapak bercelana coklat tua dan baju yang khas atau kaos bertuliskan “POLRES GRESIK”. Ya, mereka adalah para polisi. Seusai shalat aku sempatkan bertanya pada salah seorang diantara mereka: apakah terkait dengan program Kapolda Jatim yang baru.

Sebagaimana diberitakan oleh banyak Media, kini wajah kepolisian Jawa Timur memang mulai berubah seiring pergantian Kapoldanya. Kapolda yang baru, Brigjen Pol Anton Bahrul Alam, terkenal sebagai seorang yang religius, gemar shalat jama'ah, membiasakan qiyamullail, dan berdakwah. Maka, misi mulia inipun ditransformasikan dalam tubuh institusinya dengan program-program keagamaan yang akan berefek pada perbaikan citra dan kinerja polisi.

***
Adalah sebuah catatan sejarah yang terjadi di hampir semua tempat, bahwa militer dan polisi kerap menjadi tantangan dakwah di berbagai negara, khususnya saat dakwah berusaha masuk dalam orbit kenegaraannya, mihwar dauli. Maka kita melihat begitu beratnya perjuangan Ikhwanul Muslimin di Mesir untuk bisa memenangkan dakwah di level ini dan memasuki mihwar dauli. Meskipun mayoritas ilmuwan dan lembaga profesi telah menjadi bentuk lain dari transformasi Ikhwan, dakwahnya belum juga diterima dan menuai kemenangan secara formal struktural. Walaupun kita bahkan sangat sulit mencari lembaga profesional yang tidak berafiliasi dengan ikhwan, toh masih ada tembok tebal yang menghalangi dakwah ikhwan dari pemerintahan. Dan tembok tebal itu adalah militer.

Di Turki, meskipun AKP (Adalet ve Kalkınma Partisi) di bawah pimpinan Recep Thayyib Erdogan berhasil memenangi pemilu dan menjadi penguasa pemerintah, tidak serta merta dakwah mampu mendeklarasikan diri untuk mengejawentahkan nilai-nilai Islam secara integral di sana. Lagi-lagi ada tantangan besar yang memposisikan dirinya sebagai penjaga sekularisme, dan itu juga militer.

Belum lagi sejarah panjang konflik militer – dakwah di berbagai negara di dunia, termasuk Indonesia.

Maka, yang kemudian harus menjadi kesadaran bersama bagi institusi dakwah adalah bagaimana dakwah ini -di samping menjaga keberhasilannya dalam aspek lain- bisa masuk ke dalam institusi militer dan kepolisian. Mengapa? Tentu yang pertama adalah bahwa mereka juga bagian dari umat manusia yang berhak mendapatkan dakwah seperti entitas lainnya. Bukankah dakwah Islam adalah dakwah yang syamil mutakamil? Bukankah Islam adalah Din yang rahmatan lil a'alamin? Di sini, tantangan internal pertama yang harus kita singkirkan adalah persepsi bahwa militer tidak bisa didakwahi sebab doktrin nasionalismenya telah menghilangkan cita rasa religiusnya. Persepsi ini harus dihilangkan, tapi bukan berarti hilang kewaspadaan. Artinya, mereka para dai yang diterjunkan ke sana haruslah orang-orang yang kuat, yang tidak kemudian justru terwarnai oleh doktrin sekuler, atau bahkan menjadi intel yang kontraproduktif bagi dakwah.

Kedua, militer dan kepolisian yang terdakwahi justru akan menjadi akselerator bagi keberhasilan dakwah. Sebaliknya, meskipun dakwah Islam mampu menyemai nilai-nilainya pada unsur bangsa yang lain, ia bisa diperlemah, dihambat, atau “dikudeta” oleh militer yang merasa “dikhianati”. Terlebih ketika dakwah memperoleh “kemenangan tipis” lalu terjebak pada “isti'jal” untuk sesegera mungkin merealisasikan cita-citanya dalam konteks negara.

Ketiga, mereka, khususnya kepolisian adalah institusi yang jika "digarap" dengan serius akan menjadi lembaga penegak nahi munkar yang paling efektif. Bersama dengan Satpol PP mereka akan menjadi perpanjangan tangan dakwah dalam hal pencegahan sekaligus penanganan kemaksiatan dan tindak pidana. Bukankah inti dakwah adalah amar ma'ruf nahi munkar? Dan bukankah jika kemunkaran seperti judi, prostitusi, miras, narkoba dan sebagainya adalah musuh dakwah. Jika polisi dan Satpol PP yang bergerak memberantas kemungkaran itu dengan payung konstitusi, adakah masyarakat yang "membenci" dakwah sebagaimana "ketidaksukaan" mereka pada lembaga dakwah seperti FPI sekarang?

Keempat, militer dan kepolisian adalah alat pertahanan negara. Militer memiliki kekuatan yang tidak dimiliki oleh institusi lain. Kekuatan ini bisa menjadi penghalang dakwah, manakala ia tidak lebih dahulu diwarnai oleh dakwah ini. Kekuatan ini juga -setelah terwarnai dakwah- yang akan menjadi kekuatan yang menjaga stabilitas internal dan melindungi negara jika dakwah mendeklarasikan dirinya sementara kekuatan asing hendak menjatuhkannya. Lebih dari itu, merekalah yang akan menjadi kekuatan utama bagi amal jihadi.

Akhirnya, dakwah memang harus menyebar ke semua lapisan. Militer dan kepolisian adalah salah satunya. Konsekuensinya, di samping seluruh elemen dakwah saat ini berusaha memenangkan dakwah dalam ranah politik untuk kemudian memasuki mihwar dauli, para qiyadah dituntut untuk menghadiahkan dakwah ini pada jajaran militer dan kepolisian sesuai dengan levelnya masing-masing.

Jika satu orang kapolda bisa berbuat begitu banyak, maka saat dakwah tersebar di seluruh jajaran kepolisian dan militer sungguh nuansa islami yang rahmatan lil 'alamin akan telihat di seluruh pelosok negeri. Jika satu mantan pejabat polri bisa menggerakkan simpati sekian banyak warga ibukota, maka saat dakwah ini mewarnai seluruh lapisan kepolisian dan militer, saat itu kita akan melihat hasil akhir yang pernah disampaikan Hasan Al-Banna “Berikan kepadaku Al-Azhar, pemuda dan militer; maka akan kutaklukkan dunia bersama mereka” [Muchlisin]
16:08 | 2 komentar

Pengakuan Tentara Israel: Selama di Gaza, Kami Tidak Bermoral

Written By Admin BeDa on Jumat, 20 Maret 2009 | 08:28


Ini pengakuan terbaru dan langsung dari prajurit Israel. Dalam sebuah konferensi yang dipublikasikan Selasa lalu, dua orang tentara Israel yang tergabung dalam International Delta Force (IDF atau kesatuan tentara Israel), mengeluarkan pernyataan sehubungan dengan agresi mereka ke Jalur Gaza, Januari silam. "Kami selalu diperintahkan untuk masuk ke kerumunan. Kami diperintahkan untuk menembak kota pertama kali. Kami menembak semua orang dan membunuh banyak orang pula...

"Ketika kami memasuki sebuah rumah, kami tak pernah lagi membuka pintu, dan menembak begitu saja ke dalam rumah itu... Kami menyebutnya sebagai pembunuhan. Kami bertanya pada diri sendiri, apakah ini beralasan?" ujar salah seorang dari mereka.

Yang membuat mereka mengungkapkan hal ini adalah sebuah kejadian yang terus mereka ingat setelah agresi ke Gaza selelsai. "Saya melihat seorang nenek yang renta melintasi kami. Ketika lewat di depan kami, ia dibiarkan saja. Namun setelah membelakangi kami, seorang komandan menyuruh beberapa orang dari kami untuk menembaknya. Itu adalah pembunuhan yang dingin sekali... Dan kami sama sekali tak bermoral."

Pengakuan ini jelas membuat Israel kelabakan. Di tengah investigasi interasional akan kejahatan perangnya selama di Gaza, pernyataan kedua tentara ini jelas semakin menyudutkan mereka. Dani MAzir, Kepala Akademi Tentara Israel langsung mengeluarkan pernyataan, "Kami pikir, mereka berdua terlalu melebih-lebihkan pengalaman pribadi mereka. Semua orang israel mengeluarkan pendapat bahwa nyawa orang Palestina tidak lebih penting daripada hidup tentara Israel." begitu Dani Mazir. "Kami akan segera mengusutnya. Ini tidak etis untuk tentara!" (sa/yn, eramuslim.com)
08:28 | 2 komentar

Peran Politik Muslimah

Written By Admin BeDa on Rabu, 18 Maret 2009 | 13:37


Mukadimah
Sebelum bicara lebih jauh, sebaiknya kita cari tahu dahulu apa itu As-Siyasah Asy-Syar'iyyah dalam Islam. Sebab, pemahaman terhadap suatu objek berdampak langsung terhadap penyikapan apa pun yang terkait dengan objek tersebut. Pemahaman yang lurus dan utuh, akan membawa sikap yang parsial dan bengkok pula. Sebab, bayangan hanya akan mengikuti benda aslinya.

Secara bahasa (lughatan), As-Siyasah berasal dari kata ساس yang artinya mengatur, memimpin, dan memerintah. (Saasa al Qauma) : mengatur, memimpin dan memerintah kaum itu. (Assaa-is) : pengatur, pemimpin, manajer, administrator. Sedangkan (As-Siyaasah) artinya: administrasi, manajemen.

Dikatakan (Saasa Ar Ra'iyah yasuusuha siyasatan): mengatur rakyat dengan siyasah (politik). Dikatakan pula (Saasa wa siisa ‘alaih): mendidik dan dididik.

Jadi, dari sisi bahasa, makna politik adalah berputar pada mengatur, mengurus, memerintah, memimpin, dan mendidik. Seluruhnya adalah makna positif dan mulia.

Makna secara syariat (syar’an), telah didefinisikan secara brilian oleh Imam Ibnu Aqil Al Hanbali Rahimahullah, sebagaimana telah dikutip oleh Imam Ibnul Qayyim Rahimahullah sebagai berikut:
“As-Siyasah (politik) adalah aktifitas yang memang melahirkan maslahat bagi manusia dan menjauhkannya dari kerusakan (Al fasad), walaupun belum diatur oleh Rasulullah SAW dan wahyu Allah pun belum membicarakannya. Jika yang Anda maksud “politik harus sesuai syariat” adalah politik tidak boleh bertentangan dengan nash syariat, maka itu benar. Tetapi jika yang dimaksud adalah politik harus selalu sesuai dengan teks syariat maka itu keliru dan bertentangan dengan yang dilakukan para shahabat.para khulafaur rasyidin telah banyak melakukan kebijaksanaan sendiri yang tidak ditentang oleh para shahabat nabi lainnya, baik kebijakan dalam peperangan atau penentuan jenis hukuman. Pembakaran mushaf (selain utsmani, ed) yang dilakukan oleh Ustman semata-mata pertimbangan akal demi tercapainya maslahat. Demikian pula Ali bin Abi Thalib yang membakar orang zindiq di Akhadid. Umar bin Khattab juga pernah mengasingkan Nashr bin Hajjaj.”

Lalu Imam Ibnu Qayyim Rahimahullah mengomentari:
“Aku (Ibnul Qayyim) berkata: Inilah tema yang membuat tergelincirnya langkah manusia, tersesatnya pemahaman, dan menghasilkan pemikiran sempit dan perdebatan yang sengit…”

Dalam kitabnya yang lain, Al ‘Allamah Ibnul Qayyim Rahimahullah juga berkata:
“Maka, tidaklah dikatakan, sesungguhnya politik yang adil itu betentangan dengan yang dibicarakan syariat, justru politik yang adil itu bersesuaian dengan syariat, bahkan dia adalah bagian dari elemen-elemen syariat itu sendiri. Kami menamakannya dengan politik karena mengikuti istilah yang mereka buat. Padahal itu adalah keadilan Allah dan RasulNya yang ditampakkan tanda-tandanya melalui politik.”

Apa yang diulas Imam Ibnul Qayyim ini adalah benar, sebab Rasulullah SAW telah bersabda:
“Adalah Bani Israil, dahulu mereka disiyasahkan oleh para nabi.”

Maka, politik yang adil merupakan perilaku para nabi terhadap umatnya terdahulu. Dengan kata lain politik adalah salah satu warisan para nabi.

Imam An-Nawawi rahimahullah mengomentari hadits ini, katanya:
“Yaitu: mereka (para nabi) mengurus urusan mereka (bani Israil) sebagaimana yang dilakukan para pemimpin (umara’) dan penguasa terhadap rakyat. As siyasah adalah melaksanakan sesuatu dengan apa-apa yang membawa maslahat.”

Al-hafidz Ibnu Hajar rahimahullah memberikan syarah (penjelasan) sebagai berikut:
“Dalam hadits ini terdapat isyarat, bahwa adanya keharusan bagi rakyat untuk memiliki pemimpin yang akan mengurus urusan mereka dan membawa mereka kepada jalan kebaikan, dan menyelamatkan or yang dizalimi dari pelaku kezaliman.”

Demikianlah hakikat As-Siyasah Asy-Syar'iyyah yang dipaparkan oleh para ulama kredibel berdasarkan pemahamannya terhadap kesucian syariat Islam. Politik –pada dasarnya- adalah mulia, penuh keadilan, memiliki maslahat, mengurangi mafsadat, jauh dari kekotoran hawa nafsu dunia; intrik, menghalalkan segala cara, tipu menipu, dan saling sikut. Dengan kata lain, politik merupakan salah satu bentuk amal shalih bagi manusia, baik laki-laki atau perempuan. Namun, penyikapan dan penilaian manusia terhadap politik telah berubah seiring perubahan realita politik itu sendiri, setelah diracuni oleh pemikiran Nicolo Machiaveli, yakni tubarrirul wasilah (menghalalkan segala cara). Politik hari ini telah jauh dari dasar-dasar syariat, melainkan berkiblat kepada politik kezaliman yang dikembangkan oleh para tiran. Hingga akhirnya seorang reformis seperti Syaikh Muhammad Abduh berkata: aku berlindung kepada Allah dari politik, politikus, kajian politik dan membicarakan politik.

Demikianlah kabut yang telah menutupi wajah politik sejak berabad-abad lamanya hingga hari ini. Tetapi, realita lebih tept disebut sebuah kejahatan yang berdiri sendiri atau ‘penumpang gelap’ dalam dunia politik.

Ruang Lingkup Politik

Politik hari ini telah mengalami penyempitan medan amalnya, yakni seputar pada kepemimpinan, kekuasaan, pemerintahan, kebijakan negara, dan perundang-undangan. Inilah gambaran politik yang langsung ada di kepala kita, baik kaum terpelajar atau orang awam. Bicara politik tidak akan jauh dari itu semua. Hal itu benar jika dikatakan sebagai bagian dari politik saja. Sebab As-Siyasah Asy-Syar'iyyah –yang di dalamnya terdapat keadilan Allah dan rasul-Nya- tidak mungkin hanya dirasakan dan berada di ruang lingkup yang terbatas dan dilakoni oleh segelintir manusia. Tentu, hal itu jauh dari ruh ajaran Islam sebagai agama rahmatan lil ‘alamin.

Politik –dengan segala makna dasarnya; mengatur, mendidik, menguasai, mengurus, dan memimpin- sangat jelas dia juga ada pada zona kehidupan manusia yang lain, bahkan da dalam rumah tangga, politik ada dalam dunia pendidikan, politik ada dalam dunia ekonomi, politik ada dalam kehidupan bertetangga, dan tentunya ada pula dalam dunia dakwah. Bahkan esensi dakwah adalah juga politik, sebab keduanya sama-sama upaya untuk mengatur, mendidik, mengurus, dan menguasai manusia dengan aturan-aturan Allah ta’ala.

Muslimah Berpolitik


Setelah kita mengetahui kedudukan politik dalam Islam, bahwa dia juga merupakan ladang untuk beramal shalih. Maka, ladang ini merupakan ladang semua hamba Allah Ta’ala. Kewajiban beramal shalih tidaklah dibebankan untuk orang per orang saja tetapi semuanya. Tugas membenahi masyarakat, memperbaiki kehidupan, bukan hanya tugas laki-laki.
Allah ta’ala berfirman:
وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَيُطِيعُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ أُولَئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ [التوبة/71]
“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma'ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. At-taubah : 71)

Pembebanan syariat atas laki-laki dan perempuan adalah sama, kecuali memang hal-hal tertentu yang dikhusukan bagi kaum perempuan (seperti haid, sitihadhah, nifas, persalinan, penyusuan, dan warisan). Keudanya adalah sama-sama hamba Allah Ta’ala yang dituntut untuk mengabdi kepada Allah Ta’ala, amar ma’ruf nahi munkar, dan memakmurkan dunia. Keduanya pun dituntut untuk kerjasama sesuai firman-Nya: “sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain.”

Kita melihat sendiri, tidaklah laki-laki munafiq menyerang Islam melainkan pasti di samping mereka ada perempuan munafiq yang mendukung mereka. Tidaklah laki-laki kafir menyerang Islam melainkan pasti di sampingnya perempuan kafir juga menyokong mereka. Tidaklah laki-laki sekuler menyerang agama, melainkan berdiri di sampingnya pula perempuan sekuler. Hal ini dengan jelas disebutkan oleh Allah Tabaraka wa Ta’ala:
الْمُنَافِقُونَ وَالْمُنَافِقَاتُ بَعْضُهُمْ مِنْ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمُنْكَرِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمَعْرُوفِ وَيَقْبِضُونَ أَيْدِيَهُمْ نَسُوا اللَّهَ فَنَسِيَهُمْ إِنَّ الْمُنَافِقِينَ هُمُ الْفَاسِقُونَ [التوبة/67]
“Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan. sebagian dengan sebagian yang lain adalah sama, mereka menyuruh membuat yang munkar dan melarang berbuat yang ma'ruf dan mereka menggenggamkan tangannya. Mereka telah lupa kepada Allah, maka Allah melupakan mereka. Sesungguhnya orang-orang munafik itu adalah orang-orang yang fasik.” (QS. At-taubah : 67)

Dalam ayat lainnya:
وَالَّذِينَ كَفَرُوا بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ إِلَّا تَفْعَلُوهُ تَكُنْ فِتْنَةٌ فِي الْأَرْضِ وَفَسَادٌ كَبِيرٌ [الأنفال/73]
“Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. Jika kamu (hai para muslimin) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu, niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar.” (QS. Al-Anfal : 73)

Maka, tuntutan saling menolong dalam kebaikan antara laki-laki dan perempuan, termasuk yang ada pada dunia politik, merupkan tuntutan syariat yang sangat jelas dan realistis.

Peran Muslimah Pada Masa Awal Islam

Pada masa-masa terbaik Islam, justru menempatkan peran serta muslimah yang sangat penting.

Suara pertama yang mendukung dan membenarkan kenabiannya adalah suara wanita yakni Khadijah binti Khuwailid.

Syuhada pertama dalam Islam adalah seorang wanita, yakni Sumayyah, ibu Ammar bin Yasir, yang dibunuh oleh Abu Jahal karena mempertahankan keislamannya.

Ketika Rasulullah SAW dan Abu Bakar Ash-Shidiq RA bersembunyi di gua (Jabal Tsur), Asma binti Abu Bakar-lah yang bolak-balik membawakan makanan untuk mereka berdua, padahal kondisinya sedang hamil.

Ketika perang Uhud, Ummu Salith adalah wanita yang paling sibuk membawakan tempat air untuk pasukan Islam, sebagaimana yang diceritakan Umar bin Khattab. Ummu Salith juga pernah berbai’at kepada Rasulullah SAW.

Imam Al-Bukhari dalam kitab Shahihnya membuat enam bab tentang peran muslimah dalam peperangan yang dilakukan kaum laki-laki.
1. Bab Ghazwil Mar’ah fi Bahr (Peperangan kaum wanita di lautan)
2. Bab Hamli Ar-rajuli Imra’atahu fi Ghazwi duna ba’dhi Nisa'ihi (Laki-laki membawa istri dalam peperangan tanpa membawa istri lainnya)
3. Bab Ghazwin Nisa’ wa Qitalihinna ma’a Ar-Rijal (Peperangan wanita dan peperangan mereka bersama laki-laki)
4. Bab Hamli Nisa’ Al-Qiraba ilan Nas fil Ghazwi (Wanita membawa tempat minum kepada manusia dalam peperangan)
5. Bab Mudawatin Nisa’ Al-Jarha fil Ghazwi (Pengobatan wanita untuk yang terluka dalam peperangan)
6. Bab Raddin Nisa’ Al-Jarha wa Qatla ilal Madinah (Wanita memulangkan pasukan terluka dan terbunuh ke Madinah)

Selain Ummu Salith, kaum muslimah juga ikut berbai’at kepada Rasulullah SAW, seperti Ummu ‘Athiyah, Umaimah binti Ruqaiqah, dan kaum wanita Anshar. Sebagaimana yang diceritakan secara shahih oleh Imam An-Nasai.

Masih banyak lagi peran muslimah pada masa awal seperti peran ketika hijrah ke Habasyah, peran dalam pendidikan, dan lainnya. Semuanya menunjukkan bahwa Islam menempatkan keduanya seimbang saling mengisi dan bekerjasama secara normal.

Syubhat dan Jawabannya


Ada beberapa syubhat (keraguan) yang dilontarkan oleh sebagian orang untuk mencegah wanita keluar rumah dan mengambil hak-haknya secara syar'i. apalagi berpolitik dan berperan di parlemen, itu lebih haram lagi menurut mereka.

Syubhat pertama: Wanita diperintah untuk tinggal di rumah

Mereka berdalil dengan ayat:
وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ [الأحزاب/33]
“dan hendaklah kamu tetap di rumahmu” (QS. Al-Ahzab : 33)

Ayat ini dijadikan alasan agar para muslimah tidak ke mana-mana, hanya di rumah saja. Pemahaman tersebut tertolak, karena lima hal:
Pertama, ayat tersebut khusus bagi para istri Rasulullah SAW sebagaimana tertera dalam ayat sebelumnya:
يَا نِسَاءَ النَّبِيِّ لَسْتُنَّ كَأَحَدٍ مِنَ النِّسَاءِ [الأحزاب/32]
“Hai isteri-isteri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain,..” (QS. Al-Ahzab : 32). Meneladani istri nabi adalah keharusan, tetapi tidak berarti mencegah para wanita selain mereka untuk keluar rumah dalam rangka mengambil hak-haknya yang syar'i seperti menuntut ilmu, mengajar kaum wanita lain, berobat, berdakwah, ke pasar, mengunjungi famili dan orang tua, menjenguk orang sakit, dan lainnya. Taruhlah, ayat ini juga berlaku bagi semua wanita beriman, tapi itu –sekali lagi- bukan alasan untuk mencegah mereka untuk melakukan aktifitas syar'i yang perlu mereka lakukan.

Kedua, para shahabiyah adalah kaum wanita yang paling bertaqwa kepada Allah Ta’ala, paling tahu adab, paling paham agama, dan paling meneladani istri nabi, dibanding wanita zaman ini. Namun demikian, mereka tetap ikut berjuang bersama laki-laki sebagaimana yang telah kami sebutkan di atas, mereka mendatangi majlis ilmu bahkan nabi punya pertemuan di hari tertentu untuk mengajarkan mereka, mereka ikut berbai’at kepada Rasullullah SAW, dan aktifitas lainnya yang membutuhkan mereka harus keluar rumah bahkan berinteraksi dengan laki-laki. Para shahabiyah yang memiliki keahlian mengobati ketika berperang, tentu keahlian tersebut tidak datang dengan sendirinya melainkan mereka harus mencari ilmunya. Untuk zaman ini, para wanita harus belajar di fakultas kedokteran, apalagi keberadaan dokter muslimah sangat dibutuhkan untuk mengobati atau mengurus wanita muslimah yang ingin melahirkan.

Ketiga, Aisyah RA, wanita yang paling faqih pada zamannya juga keluar rumah bahkan memimpin pasukan ketika konflik dengan Ali bin Abi Thalib dalam perang Jamal (unta). Beliau memimpin pasukan dari Madinah ke Bashrah, dan para shahabat nabi pun ada yang ikut rombongannya, dua orang diantaranya adalah shahabat yang tergolong dijamin masuk surga dan seorang lagi termasuk enam ahli syura yaitu Thalhah dan Az Zubair. Walau, akhirnya Aisyah menyesali ijtihadnya untuk menuntut kematian Utsman bin Affan kepada Ali bin Abi Thalib hingga pertumpahan darah sesama muslim. Aisyah (bersama ayahnya) pun pernah menjenguk Bilal bin Rabah ketika sakit (HR. Bukhari), oleh karena itu Al Hafizh Ibnu Hajar mengatakan bolehnya wanita menjenguk laki-laki selama aman dari fitnah, dan beliau membuat bab tersendiri untuk masalah ini. Aisyah juga pernah nonton pertunjukan orang Habasyah ketika Idul Fitri bersama Rasulullah SAW. Kisah ini masyhur.

Empat, keluarnya para wanita kafir, munafiq, dan sekuler, menuntut keluar pula para muslimah untuk melawan mereka, menahan pemikiran jahat mereka, dan membendung akhlak kotor mereka. Tidak cukup melawan mereka di dalam rumah sambil mematikan acara televisi yang buruk, atau menidurkan anak bercerita shahabat nabi, itu semua baik dan penting, namun tidak cukup. Fenomena penolakan RUU APP yang dilakukan oleh kaum wanita kafir (yakni kristen), munafiq, dan sekuler, semakin membuktikan betapa pentingnya kaum wanita muslimah mendampingi kaum laki-laki untuk melawan mereka secara umum.

Kelima, melarang wanita keluar rumah adalah benar hanya pada kondisi tertentu, yakni ketika mereka dihukum karena kekejian (zina) yang mereka lakukan. Allah ta’ala berfirman:
وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيَتَعَدَّ حُدُودَهُ يُدْخِلْهُ نَارًا خَالِدًا فِيهَا وَلَهُ عَذَابٌ مُهِينٌ [النساء/14]
“Dan (terhadap) para wanita yang mengerjakan perbuatan keji [275], hendaklah ada empat orang saksi diantara kamu (yang menyaksikannya). Kemudian apabila mereka telah memberi persaksian, maka kurunglah mereka (wanita-wanita itu) dalam rumah sampai mereka menemui ajalnya, atau sampai Allah memberi jalan lain kepadanya” (QS. An-Nisa’ : 14)

Syubhat kedua: Wanita bukan Pemimpin laki-laki


Mereka menganggap wanita yang emnjadi anggota parlemen telah menjadi pemimpin bagi laki-laki. Pernyataan ini tertolak karena dua hal:
Pertama, anggota dewan bukanlah pemimpin, bukan presiden, bukan perdana menteri, bukan pula kepala daerah, atau definisi apa pun yang bermakna pemimpin. Anggota dewan, sesuai dengan namanya, adalah wakil rakyat dari masing-masing daerah. Oleh karena itu parlemen dikenal dengan istilah Majlis An-Niyabah (Majelis perwakilan), bukan Majlis Imamah (majlis kepemimpinan). Mereka adalah pengawas pemerintah dan legislator (perumus undang-undang).

Dalam Islam, fungsi pengawasan bisa diartikan dengan penegak amar ma’ruf nahi munkar dan pemberi nasihat, maka di sinilah letak pentingnya keberadaan para dai dan daiyah di sana. Telah masyhur kisah seorang wanita yang menasihati Khalifah Umar dalam hal pemberian mahar, dan kisah ini sanadnya dikatakan bagus oleh Imam Ibnu Katsir. Nabi SAW pun pernah mendapat masukan dari Ummu Salamah pada saat perjanjian Hudaibiyah dan langsung diterapkan Nabi SAW. Intinya wanita berhak memberikan masukan, nasihat, amar ma’ruf nahi mukar kepada pemimpin, baik dia sebagai rakyat biasa, apalagi sebagai anggota dewan yang memang itulah tugasnya.

Sebagai fungsi legislator, tugas mereka bukan mencipta hukum dan undang-undang, sebab itu hanyalah hak Allah Ta’ala semata. Namun, yang mereka lakukan adalah merumuskan hukum dan undang-undang yang belum ada nashnya, atau masih nash umum yang masih membutuhkan perincian. Tugas ini (ijtihad/legislasi) bukanlah kekhususan buat laki-laki, melainkan untuk setiap muslim yang memiliki kecakapan. Ummul Mukminin Aisyah RA merupakanwanita mujtahid dan mufti di zamannya. Para shahabat nabi sering meminta penjelasan dalam berbagai hal kepadanya. Hal ini telah dihimpun oleh Imam Az-Zakrsayi dalam kitab Al-ijabah li istidrakati Aisyah ‘alash Shahabah, lalu diringkas oleh Imam As-Suyuthi dalam Ainul Ishabah. Memang, dalam sejarah masa lalu amat jarang wanita yang menjadi ahli ijtihad, namun saat ini banyak muslimah yang memiliki kecakapan seperti laki-laki, bahkan melebihinya.

Syubhat ketiga: Sad Adz-Dzara'i (Pencegahan) Agar Wanita Terhindar dari Fitnah


Ini adalah alasan selanjutnya. Mencegah diri dari potensi fitnah adalah baik dan mulia. Namun, berlebihan dalam pencegahan adalah sama halnya dengan sikap tanpa pencegahan, yaitu sama-sama menghilangkan maslahat, lalu lahirlah mudharat. Atau, bebas dari mudharat kecil dan pribadi, namun mengorbankan maslahat besar dan umum. Melarang wanita keluar rumah untuk ikut pemilu, atau kiprah politik lainnya dengan pelarangan itu maka hilanglah setengah (bahkan lebih) kekuatan (suara) umat Islam, atau hilang potensi kebaikan, hingga akhirnya kekalahan dan kelemahan dialami umat Islam. Maka, itulah fitnah yang sesungguhnya! Takut dengan fitnah pribadi yang akan dialami seorang wanita (alasan ‘fitnah’ ini pun masih bisa diperdebatkan), akhirnya mengorbankan kemaslahatan yang lebih besar dan jelas. Ini adalah penempatan sad adz dzarai (pencegahan) yang tidak pas. Tindakan ini memang harus diterapkan jika memang benar-benar terjadi fitnah yang jelas, bisa menghilangkan kemudharatan dan mendapatkan maslahat.

Kita memiliki kaidah akhafu dharurain (memilih kerusakan yang lebih ringan diantara dua kerusakan). Inilah jalan yang kita tempuh jika berhadapan dengan kondisi seperti ini. Terjadinya fitnah karena keluarnya wanita adalah sebuah mudharat, namun kekalahan umat Islam atau kekalahan kekuatan kebaikan, karena suara wanita tidak diizinkan keluar, maka mudharat yang lebih besar lagi dan berkepanjangan. Selanjutnya, ini semua membutuhkan kejelian dan analisa yang mendalam.

Peringatan

Kiprah muslimah dalam dunia sosial dan politik bukanlah kiprah tanpa syarat dan catatan. Ada beberapa patokan syar'i yang tidak boleh ditinggalkannya. Semua ini demi kebaikan muslimah itu sendiri, dan menjadikan apa yang dilakukannya adalah benar-benar amal shalih yang diterima Allah SWT.
1. Aktifitas politik, khususnya parlemen hanya untuk wanita yang benar-benar layak, pantas, punya waktu luang, dan sedang tidak ada tugas domestik (kerumahtanggan) yang sangat sulit jika ditinggalkan, seperti menyusui, dan memiliki anak-anak yang masih butuh perhatian kasih sayang, dan pendidikannya. Memaksakan kehendak dalam hal ini, sama juga mengorbankan masa depan mereka, bahkan masa depan sepenggal generasi manusia, dan khianat terhadap amanah (sebab anak adalah amanah). Maka, tidak semua wanita dibenarkan untuk menjadi anggota parlemen, namun mereka masih bisa berkiprah pada kehidupan sosial politik lainnya yang lebih mungkin.
2. Tidak melupakan tugas asasinya sebagai istri dari suaminya, dan ibu bagi anak-anaknya
3. Tetap teguh memegang prinsip-prinsip akhlak Islam: menutup aurat secara sempurna, tidak bersolek seperti wanita jahiliyah, tidak mendayu-dayu dalam bicara, tidak berduaan dengan laki-laki bukan mahram, dan menjauhi ikhtilat (campur baur) dengan laki-laki yang tidak diperlukan
4. Meluruskan niat, bahwa yang dilakukan adalah untuk mencari ridha Allah ta’ala, dakwah Ilallah dan amar ma’ruf nahi munkar. Bukan karena kekayaan dan popularitas.
Wallaahu a’lam. [Farid Nu'man. SS, Majalah Mimbar Tatsqif edisi 36 Th.V]
13:37 | 0 komentar

Erdogan dan Transformasi Politik Islami di Turki

Written By Admin BeDa on Senin, 16 Maret 2009 | 09:04


“Gerakan Islam sukses membangun garis demarkasi yang tegas antara generasi muda Islami dan orang tua mereka yang secular” (Huttington dalam Islam versus US, the Islamic Resurgence)

Sukses AKP (Adalet ve Kalkınma Partisi) tidak dapat dilepaskan dari sosok Recep Thayyib Erdogan. Sosok politik yang di citra kan integritas moral yang tinggi, efektif dan berwawasan terbuka. Dia dikenal publik sebagai walikota Istanbul yang pro rakyat hingga kemudian dijebloskan ke penjara di 1998 karena dosanya membaca puisi religius.

Selepas dari penjara, Erdogan melakukan serangkaian terobosan politik yang berseberangan dengan mentor spiritual nya, Necmetin Erbakan. 14 Agustus 2001, dia mendirikan partai baru, AKP beserta 20 kolega seniornya dari Partai Kebajikan (Fazilat partisi). Secara mengejutkan, partai ini memenangi pemilu November 2002 dengan memperoleh 34 persen kursi Parlemen setara dengan 363 kursi dari total 550 kursi parlemen yang diperebutkan. Sebaliknya, Partai Saadat, bentukan Erbakan hanya memperoleh 2,5 persen sehingga gagal mencapai syarat 10 persen parliamentary threshold.

Penjara telah merubah cara pandang politiknya dalam menghadapi ekstremitas sekularis di Turki. Langkah politik berseberangan terpaksa diambil karena sang guru bergeming dengan sarannya. Partai baru yang didirikannya melakukan serangkaian terobosan politik yang dulu diharamkan atau setidaknya dihindari oleh Erbakan, yakni penerimaan ideologi sekuler Kemalis dan dukungan pada Barat. Kedua isu ini telah menjadi haluan politik yang tak tergoyahkan di sepanjang terbentuknya Republik Turki di 1928.

Kalangan Islami tidak dapat menantang benteng tangguh secularism yang digawangi militer. Untuk itu, tidak ada pilihan bagi kalangan islami kecuali melakukan moderasi dan penghindaran konflik langsung dengan militer. Politik Turki sendiri menyaksikan jatuh bangun nya partai Islami menghadapi ideologi Kemalis. Dalam refleksi nya, jalan ketiga yang lebih fleksibel -lebih mengedepankan interpretasi longgar sekularisme ketimbang mempertentangkan nya dengan Islam- harus ditempuh untuk memecah kebuntuan gerakan Islam. Oleh karena itu, partai baru, AKP tidak segan menyatakan komitmennya atas ideologi sekuler dan ‘berkiblat’ ke Barat.

Lebih jauh, Erdogan menolak identifikasi AKP sebagai partai islami dan condong mengidentikkan diri sebagai partai kanan tengah konservatif (conservative right-center) seperti halnya partai Kristen Demokrat dalam tradisi politik Eropa. Sebagai bagian interpretasi liberal nya, relijiusitas hanya melekat pada individu dan bukan pada institusi partai. Baginya, partai pada dasarnya adalah institusi sekular yang tidak dapat dieksploitasi bagi kepentingan politik. Seseorang dapat menjadi religius namun sekular dalam pilihan politiknya.

Bernegosiasi Dengan Militer

Erdogan memahami militer sebagai sumber ancaman. Berbeda dengan pendahulunya, dia lebih memilih bernegosiasi dengan kalangan militer namun mampu memitigasi ancaman tadi melalui peran pihak ketiga, Uni Eropa. Keanggotaan Turki dalam Uni Eropa adalah satu-satunya langkah rasional menghindari intervensi militer dalam pemerintahannya. Dengan meratifikasi 14 paket reformasi perundang-undangan yang disyaratkan Uni Eropa (EU), di antaranya kebebasan berpendapat dan mengurangi campur tangan militer adalah bentuk lain pact of restrain (langkah pembatasan) bagi deep state (militer dan peradilan) yang kerap melakukan kudeta dengan dalih menjaga secularism Turki.

Turki memperoleh status kandidat anggota Uni Eropa sehingga diperkenankan hadir sebagai pengamat atau observer dalam setiap sidang Uni Eropa. Turki masuk dalam yurisdiksi pengadilan HAM Uni Eropa dalam penyelesaian persengketaan HAM. Selain itu, AKP sendiri masuk dalam dari jaringan keanggotaan People’s Party, partai konservatif Eropa dengan status pengamat. Status ini akan meningkat seiring dengan diterimanya keanggotaan Turki dalam Uni Eropa. Proses institusionalisasi Turki dalam Uni Eropa –walau setengah hati karena keengganan beberapa negara utama EU - telah menjadi batu sandungan bagi upaya dipolitisasi AKP dan kalangan Islami. Uni Eropa beberapa kali memperingatkan militer tidak melakukan kudeta militer dan melepaskan diri dari campur tangan politik.

Namun pertarungan kedua kubu memasuki babak baru. Polisi Turki, 1 Juli 2008 menangkap dan menggulung rencana subversif kelompok ultra nasionalis di bawah pimpinan dua mantan petinggi militer, Jenderal Sener Eruygur dan Hursit Tolon. Pembongkaran rencana kudeta terjadi sehari sebelum Mahkamah Agung –benteng sekuler kedua setelah militer- memulai sidang gugatan bagi pembubaran AKP dan pelarangan 71 tokoh kunci partai ini dalam berpolitik. Dalam skenarionya, kelompok Ergenekon yang dekat dengan militer ini berencana melakukan serangkaian aksi terror dari pemboman hingga pembunuhan politik untuk memberikan jalan militer untuk mengambil alih kekuasaan demi alasan keamanan.

Kendati kalangan Militer melalui Kastaf AD, Jenderal Hilmi Ozkok memperingatkan Erdogan atas beberapa maneuver politik partai ini, Erdogan dan beberapa elit politik AKP cukup belajar dari pengalaman politik pendahulunya dimana rasionalitas hukum tunduk di bawah interpretasi dan irasionalitas sepihak kalangan sekuler. Mereka kini cenderung bersikap hati-hati dan menghindari konfrontasi –setidaknya perang pernyataan- langsung dengan militer dan kelompok sekuler. Erdogan tidak segan-segan mendatangi kalangan petinggi militer untuk meredam konflik dan bahkan melarang pengikutnya menampakkan ekspresi keislaman berlebihan dalam setiap kampanye karena dikhawatirkan mengundang interpretasi salah kalangan sekuler.

Penerimaan AKP terhadap secularism dan perubahan orientasi politik AKP terbukti kemudian mampu meredam ketegangan dan resistensi domestik, memperlemah posisi militer namun pada saat bersamaan semakin memperkuat eksistensi kalangan Islami. AKP menyabet dua kali kemenangan fantastis dalam pemilu parlemen.

Siapkah Eropa Menerima Turki?

Kendati Uni Eropa menyambut proses moderasi kalangan Islami dan reformasi politik domestik Turki, namun beberapa negara utama Uni Eropa tidak siap dengan kehadiran negeri dengan mayoritas Muslim tersebut. Ada beberapa alasan yang mendasari sikap setengah hati Eropa:

Pertama, kendati Uni Eropa secara formal lebih merupakan aliansi kepentingan dan geografis namun tak terhindarkan alasan ideologis melandasi keengganan beberapa negara Eropa utama, seperti Jerman, Perancis dan Austria. Negara-negara tersebut tidak dapat melepaskan pesona Turki sebagai bekas imperium besar dunia dengan identitas relijiusitas nya. Masuknya Turki akan menjadi batu ujian Uni Eropa untuk membuktikan apakah asosiasi geografis ini secara tersirat sebagai asosiasi Christian Club.

Kedua, masuknya Turki akan merubah keseimbangan demografis Eropa. Turki dengan populasi lebih dari 70 juta menjadi anggota Uni Eropa dengan populasi terbesar. Kondisi ini dikhawatirkan dapat menciptakan tantangan internal Uni Eropa dalam memperebutkan pasar dan tenaga kerja. Ketiga, karakter etnis tas Turki seperti halnya Chinese Overseas yang memiliki karakter ulet serta ikatan kultural dan ideologis yang kuat dengan leluhurnya telah menyebar ke seluruh benua Eropa, terbesar di antaranya berada di Perancis dan Jerman. Dalam perspektif ini, sebagian negara Eropa khawatir jika eksistensi minoritas Turki akan melahirkan ancaman dan rivalitas domestik.

Belajar dari Turki


Gerakan Islam patut belajar dari jatuh bangunannya gerakan Islam di Turki. Era Erdogan lebih tepat diinterpretasikan sebagai kebutuhan bagi kontinuitas dan existential gerakan Islam. Jika Erbakan telah meletakkan landasan kultural yang kokoh bagi arus revivalism Islam maka transformasi politik Erdogan meletakkan landasan politik yang lebih memadai dan stabil dalam menghadapi tantangan aktualisasi nilai Islam. Erdogan sejatinya telah memetik buah yang ditanam Erbakan dengan menawarkan jalan ketiga yang lebih proporsional dan realistis.

Re definisi sekularisme Turki dalam perspektif nya tidak dapat dilepaskan dari Islam. Secara faktual moralitas Islam telah memberikan landasan kokoh bagi langkah pemulihan ekonomi Turki yang sebelumnya menderita hyper inflasi karena salah urus dan korupsi. Realitas ini tak pelak berimplikasi pada pilihan afiliasi dan asosiasi politik rakyat Turki yang tak tergoyahkan pada gerakan Islam dis epanjang 3 dekade. (lihat tabel). Jika pendulum dukungan politik bergeser dari Erbakan kepada Erdogan, hal itu lebih karena preferensi rasional pendukung publik Turki atas jalan ketiga yang ditempuh Erogan.

Berbeda dengan inisiatif politik pendahulunya, Erbakan yang membentuk D8 (Developing Eight), Erdogan tidak canggung untuk menyatakan keinginannya untuk bergabung dengan Uni Eropa. Reorientasi afiliasi kawasan Erdogan terbukti lebih banyak memberikan keuntungan politik bagi AKP ketimbang bagi calon induk semang nya, Uni Eropa. Uni Eropa telah menjadi entitas ekonomi dan politik terpenting setelah AS dan diprediksi kan Turki akan menjadi pemain penting dalam persekutuan negara-negara Eropa. Dalam skenario ini, Turki akan menjadi kekuatan penting di dunia karena sukses menempatkan dua kakinya, sebagian di kawasan Eropa dan sebagian lainnya di kawasan Asia dan negara-negara Muslim. Sementara afiliasi negara-negara Muslim dalam D8 -selain memberikan legitimasi bagi kudeta militer ternyata tidak memberikan tawaran apapun semata kepuasan teologis bahwa gerakan Islam telah menjadi inisiator ‘kebangkitan kekuatan negara-negara Islam’.

Dalam konteks ini pula, sikap pragmatis AKP ternyata tidak selamanya menjadi pilihan buruk. Kini militer dan kubu sekuler mulai kehilangan landasan etik, moral dan pragmatis untuk menjadi penjaga gawang kepentingan Turki demikian pula back-up politik yang selama ini didapatkan dari menjual ketakutan ancaman Islam kepada Eropa.

Lebih dari itu, bagi gerakan Islam, evolusi kultural dan transformasi politik yang mereka lakukan telah mencegah eskalasi konflik dan pertumpahan darah. “Berdemokrasi seperti laik nya menaiki bis kota, kita tahu kapan berjalan dan harus berhenti.” ujar Erdogan. Barangkali ini pula yang menyelamatkan gerakan Islam [Ahmad Dzakirin, al-ikhwan.net]
09:04 | 2 komentar

Meraih Kekuasaan sebagai Tantangan Politik Gerakan Dakwah


Dalam terori ilmu politik, sesuatu yang menjadi akhir dalam agenda politik adalah mencapai kekuasaan (struggle for power). Yang membedakan antar partai politik yang ada hanyalah sebatas ideologi yang melatarbelakangi parpolnya, apakah itu nasionalisme, sekularisme, sosialisme atau Islam.

Dalam konteks keindonesiaan, gerakan politik dakwah sudah mulai diperhitungkan kekuatan mesin politiknya, walaupun pada hakikatnya masih tetap mencari format baku agar masyarakat memberikan apresiasi yang positif berkelanjutan. Apalagi kultur budaya Indonesia yang sangat heterogen dan pluralistik dan banyaknya parpol yang ditetapkan khususnya pemilu 2009, memberikan kemudahan bagi masyarakat untuk menentukan pilihan politiknya sesuai dengan ideologi, cara pandang dan aspirasi yang mereka anut.

Kondisi seperti ini, tentu mempengaruhi gerakan politik dakwah yang sudah berkomitmen mengambil kebijakan ikut berpartisipasi politik (musyarakah siyasiyah) sejak sepuluh tahun lalu. Kepribadian para aktifis dakwah sedikit atau banyak akan mengalami perubahan karena faktor kompetisi dalam dunia perpolitikan saat ini. Apalagi, dengan belum diterapkannya sistem politik Islam, akan menimbulkan terjadinya perbedaan karakter antara amal Islami dengan amal hizbi.

Meskipun keberhasilan dakwah saat ini, khususnya dalam pesta demokrasi di Indonesia, cukup banyak menarik perhatian masyarakat luas, akan tetapi ada hal yang patut diperhatikan oleh para aktifis politik gerakan dakwah, yakni jebakan politik akan terus dilancarkan oleh lawan politik untuk mencoreng nama baik partai. Imam Syahid Hasan Al-Banna berkomentar: “Ketika kekuatan politik dakwah dibangun di atas kekuatan koalisi dengan partai-partai lain yang kemudian terjadi bargaining position yang sulit untuk disepakati maka para pendukung partai dakwah harus siap untuk menarik diri dari musyarakah siyasiyah jika diputuskan oleh struktur”.

Dilihat dari fenomena perpolitikan yang ada, gerakan dakwah selalu dihadapkan dua tantangan yaitu tantangan eksternal dan tantangan internal. Keduanya harus dihadapi dengan penuh kesabaran dan usaha yang maksimal agar gerakan dakwah dalam perpolitikannya dapat terbebaskan dari tirani jahiliyah. Karena orientasi utama bagi politik dakwah adalah bagaimana melakukan islamisasi pemerintahan dengan menumbuhkembangkan nilai-nilai Islam di tengah masyarakat.

Tantangan Eksternal
Pertarungan politik di Indonesia masih berkisar antara kekuatan Islam dan kekuatan sekuler. Bahkan secara makro gerakan dakwah akan selalu berhadapan dengan kekuatan yang berbau nasionalisme dan sekularisme yang tidak menghendaki nilai-nilai keislaman masuk ke dalam agenda politik. Hal ini berbeda dengan gerakan politik dakwah yang selalu berupaya mengislamkan pemerintahan baik itu secara legal formal ataupun substansial yang lebih mengedepankan nilai-nilai universalitas Islam. Lebih dari itu, pada pemilu 2009 mendatang partai dakwah harus bersaing dengan sekitar 40 parpol yang sudah lolos verifikasi pemilu yang berarti bahwa kepentingan politik akan terbagi lebih banyak lagi.

1. Sekularisme
Sekularisme yang berarti memisahkan antara agama dengan urusan dunia, dalam istilah lain memutus peran agama dalam masalah urusan duniawi. Dalam konteks ini, Turki adalah negara yang pertama kali memperkenalkan sistem sekularisme yang diprakarsai oleh tokoh Turki muda Mustafa Kemal Attaturk setelah runtuhnya khilafah Ilamiyah pada tahun 1924. Wacana ini digulirkan di Indonesia pada awal tahun sembilan puluhan melalui pemikir dan intelektual muslim modern yang menamakan dirinya sebagai gerakan pembaharuan Islam. Sehingga muncul istilah “Islam yes, politik Islam no” sebagai sebuah upaya untuk memutus hubungan agama dengan politik, agama dengan ekonomi, dan agama dengan budaya.

Berdasarkan paradigma di atas sangatlah jelas bahwa konsep politik dakwah sangat berseberangan dengan konsep sekular tersebut, sebab slogan yang diangkat oleh politik dakwah adalah Islam sebagai tatanan hidup yang lengkap (Islam is the complete code of life) dan hanya Islam sebagai solusi (Islam is the only solution). Dalam pandangan politik dakwah bahwa Islam memiliki nilai yang integral dalam menyikapi aspek kehidupan manusia. Islam bisa memberikan solusi dalam masalah apapun yang dihadapi oleh manusia karena Islam telah mengatur pola hubungan manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesama manusia, dan bahkan antara manusia dengan alam semesta.

Maka, tugas gerakan politik dakwah ke depan adalah bagaimana agar bisa membuktikan bahwa Islam merupakan tatanan yang integral, komprehensif dan saling terkait antara nilai-nilai akidah, ibadah dan moralitas. Bahkan ia harus memiliki keyakinan bahwa Islam merupakan solusi bagi problema keumatan.

2. Demokrasi Barat
Bukan sesuatu yang aneh saat ini bahwa istilah demokrasi merupakan slogan yang selalu diteriakkan oleh para politikus kontemporer. Demokrasi yang dalam istilah barat ialah, “sebuah tatanan politik yang dibangun di atas konsep kerakyatan, yakni dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat” merupakan sistem yang leading dalam dunia politik saat ini. Demokrasi barat (demokrasi liberal) telah mengedepankan hukum positif manusia ketimbang hukum Tuhan, bahkan mereka sudah memutus nilai-nilai sakral religius dalam aktifitas politik.

Dalam politik Islam, konsep demokrasi sudah dianggap mengkristal dalam konsep syura (musyawarah) yang mana setiap orang memiliki kebebasan berpendapat dalam menyampaikan ide-idenya tanpa ada tekanan ataupun paksaan. Islam tidak mengakui hukum positif yang dibuat oleh manusia karena segala ketetapan hukum semuanya kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah secara mutlak. Sehubungan dengan hal ini, Abul A’la Al-Maududi, seorang pakar politik Islam yang berbasis demokrasi, akat tetapi demokrasi yang berketuhanan “Divine Demokracy”. Sekalipun ide cemerlang Maududi sudah memberikan jalan tentang konsep demokrasi Islam, akan tetapi tantangan dunia politik dewasa ini belum mampu ke tahap islamisasi lembaga politik baik itu eksekutif, legislatif maupun yudikatif. Semua ini merupakan tantangan berat bagi politik dakwah yang sedang bersaing dengan sistem perpolitikan nasionalis sekuler.

Tantangan Internal
Pada saat sekarang ini, bukan hanya faktor eksternal yang menjadi tantangan gerakan politk dakwah, akan tetapi tantangan internal bisa dikatakan lebih berat karena nuansa politik yang berwatak kompetisi promosi diri membuat aktifis politik dakwah tanpa sadar melakukan hal-hal yang terkadang bertentangan dengan nilai-nilai Islam yang sakral. Ketika lembaga ad hoc sudah memutuskan calon-calon legsilatif yang akan diusung oleh struktur dakwah, para CAD bersaing secara internal untuk mendapatkan dukungan terbanyak, khususnya ketika keputusan Mahkamah Konstitusi sudah memutuskan suara terbanyak untuk menduduki kursi legislatif pada pemilu April mendatang. Secara detailnya tantangan politik bagi partai dakwah bisa dilihat pada aspek berikut ini:

1. Dominasi Pendekatan Politis
Sudah menjadi hal yang sangat wajar jika seseorang menginginkan sebuah jabatan karena dengan jabatan ia bisa dihargai, bahkan lebih dari itu ia bisa mendapatkan fasilitas yang luks sebagai pejabat. Semangat mencari fasilitas duniawi merupakan naluri kemanusiaan yang normal, akan tetapi jangan jadikan jabatan hanya satu-satunya jalan untuk mencari kehidupan sehingga seolah-olah seseorang akan menderita jika tidak memiliki jabatan.

Rasulullah SAW mengingatkan shahabatnya Abu Dzar Al-Ghifari RA, “janganlah engkau meminta kepemimpinan”. Dari konteks hadits ini bahwa seseorang tidak boleh meminta jabatan pemimpin kecuali jika ia diberi amanah oleh masyarakat. Adapun menawarkan diri apalagi mempromosikannya merupakan larangan yang disampaikan oleh Rasulullah SAW.

Dalam mengambil keputusan strategis politik, para aktifis dakwah sering melakukannya dengan pendekatan politis, bukan pendekatan persaudaraan. Padahal dengan pendekatan persaudaraan, nilai-nilai ukhuwah masih tetap bisa terjaga sekalipun godaan interes politik sangat kuat. Oleh karenanya untuk melindungi para kader dakwah dari penyakit hubbud dunya dan hubbul jaah (cinta dunia dan jabatan) masing-masing mereka harus saling mengingatkan penggalan hadits di atas bahwa jabatan merupakan ‘taklif’ (beban), bukan ‘tasyrif’ (kebanggaan). Seorang pejabat dalam politik Islam sebagai pelayan, bukan junjungan yang harus dituankan.

2. Melemahnya Militansi Dakwah
Aktifitas politik memiliki karakter yang sangat dinamis. Padatnya agenda politik bisa membuat seorang aktfis dakwah yang memegang jabatan politis melemah militansi dakwahnya. Melemah dalam aspek keimanannya, melemah dalam aspek ubudiahnya, bahkan melemah dalam menjalani agenda ruhiyah hariannya.

Jika kelemahan aspek tarbawi dan ruhi terjadi pada pribadi seorang kader dakwah, maka amal harokipun melemah yang membuatnya tidak lagi bisa berkontribusi untuk dakwah secara maksimal. Untuk meluruskan penyimpangan kepribadian aktifis dakwah, kuncinya terletak pada militansi dan komitmennya terhadap agenda dakwah. Hal ini bisa menjadi sarana untuk menciptakan gerak yang lebih dinamis dan berkontribusi yang lebih optimal kepada masyarakat dalam melakukan agenda perubahan. Bukan karena jabatan politis tersebut, mereka justru terbuai dengan keduniaan yang akan menjeratnya pada penyakit ‘wahn’ yakni cinta dunia dan benci kematian.

3. Hilangnya Keikhlasan
Ikhlas dalam beramal merupakan prinsip utama dalam Islam. Tanpa adanya keikhlasan semata karena Allah, amal kebaikan itu akan dianggap sia-sia. Partisipasi dalam politik (musyarakah siyasiyah) bagi gerakan dakwah bisa jadi menjerumuskan para kadernya ke jurang riya atau senang popularitas karena bagaimanapun propaganda politik akan dilakukan melalui iklan-iklan politik yang memang menjurus riya.

Solusi dari tantangan tersebut adalah hendaknya para kader dakwah terus-menerus memperbaharui niat (tajdid an-niyah) pada setiap ayunan langkahnya. Tidak terbuai dengan suasana iklan politik, yang seolah-olah kontribusi sekecil apapun yang ia lakukan untuk masyarakat harus diumumkan sebagai ajang menarik simpati. Setiap orang dianggap perlu tahu bahwa kebaikannya harus mendapatkan apresiasi orang lain.

4. Melemahnya Semangat Kebersamaan
Sejak bergulirnya roda reformasi sepuluh tahun lalu, betapa banyak aktifitas politik yang diikuti oleh gerakan politik dakwah. Mesin politik yang terus bergerak tanpa henti yang didukung oleh kekuatan kadernya harus memiliki nafas panjang. Baru saja menyelesaikan pilkada Bupati atau Walikota, mereka harus mensukseskan pilgub, kemudian legislatif, dan bahkan presiden pada tahun ini sehingga agenda-agenda politik tersebut banyak menyedot tenaga dan biaya dari para kader dakwah.

Mahalnya kebutuhan politik secara finansial dan beban tenaga bisa jadi membuat semangat para kader dakwah melemah sehingga langkah mereka terseok-seok untuk mensukseskan musyarakah politik. Tentu hanya para kader dakwah yang memiliki loyalitas yang tinggi dan jiwa militansi yang kuat yang akan bisa bergerak secara konsisten dan ikhlas. Maka, jadikanlah setiap aktifitas dakwah sebagai strategi untuk memperbanyak amal shalih, dan menegakkan amar ma’ruf dan nahyi munkar. Wallaahu a’lam. [DR. Ayub Rohadi, M.Phil, Ketua Ikadi Kab, Bekasi, Sumber: Majalah Mimbar Tatsqif edisi 36 Th.V]
07:26 | 0 komentar

Israel Luncurkan Sebuah 'Perang' Baru

Written By Admin BeDa on Kamis, 12 Maret 2009 | 20:28


Agresi militer Zionis Israel selama tiga minggu di Jalur Gaza Palestina telah menewaskan lebih dari 1400 warga Palestina dan lebih dari 5000 orang yang terluka dan kebanyakan dari yang mejadi korban dari agresi militer itu merupakan warga sipil. Dan untuk meredam protes terhadap aksi sadis mereka tersebut, kementerian Luar Negeri Israel meningkatkan kampanye berupa “Soft War' .

“Soft War' atau kampanye hubungan masyarakat secara intensif dimaksudkan untuk mencoba membentuk opini positif kepada dunia internasional atas reputasi Israel yang buruk, akibat kerusakan yang telah dilakukan sewaktu agresi militer ke Gaza yang banyak menelan korban warga sipil.

Kementerian luar negeri Israel telah mengirim enam orang menteri untuk keliling Eropa dan Amerika, untuk membentuk opini kepada para politisi dan media mengenai peristiwa Gaza versi Israel.

Negara Zionis Israel mempunyai mesin publikasi dan propaganda yang sangat terorganisir di luar negeri yang dikenal dengan nama 'Hasbara' yang berarti 'penjelasan' dalam bahasa Ibrani.

Selama bertahun-tahun – Hasbara beroperasi dari kedutaan besar dan konsulat mereka di luar negeri untuk menyebarkan propaganda yang sangat pro kepada Zionis Israel.

Beberapa humas dari organisasi-organisasi yang pro-Israel juga bekerja untuk Hasbara dan sangat intensif terlibat dalam dunia jurnalistik dan kampanye di radio yang bertujuan menantang setiap pandangan kritis terhadap Zionis Israel. Banyak wartawan yang meliputi Timur Tengah akan mengkonfirmasikan dahulu sewaktu akan meliput kawasan tersebut, mengingat kuatnya lobi-lobi kelompok Yahudi di media. Para editor media sering mendapatkan surat-surat protes atas artikel-artikel yang dianggap mengkritisi Israel.

Mahasiswa di kampus-kampus Amerika yang mendukung Israel di berikan handbook Hasbara – yang menjelaskan secara detail bagaimana mempromosikan Israel dan mengkounter kritikan-kritikan terhadap Israel.

Hasbara sudah aktif menjalankan misinya bertahun-tahun dan gerakan ini makin intens sewaktu agresi militer Israel di Gaza dengan operasi Cast Lead nya.

Konsulat Israel di New York meningkatkan misi kampanye mereka di situs internet beberapa hari yang lalu untuk melawan gambar yang menampilkan perang Gaza lewat hasil pencarian, ketika kata “Israel' di ketik di mesin pencari Google.

Misi ini termasuk sebuah rencana untuk 'membanjiri' situs-situs internet dengan gambaran positif negara Zionis Israel dengan menampilkan foto-foto menarik yang dilakukan oleh fotografer profesional.

Kementerian Luar Negeri Israel yang terhubung dengan konsulat, memutuskan saat ini adalah waktu untuk 'berjuang kembali' lewat cara yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Konsulatlah yang berada di belakang publikasi dan kampanye serta propaganda positif terhadap Israel. Dan sebagai bagian dari misi barunya, konsulat Israel akan menerbangkan tujuh pakar media ke Israel, termasuk di dalamnya kameraman dan fotografer yang akan di 'didik' supaya berusaha untuk lebih menampilkan sisi positif dari negara Zionis Israel ke media.

Kementerian luar negeri juga mencoba mengorganisir sebuah wisata udara yang juga merupakan bagian dari misi untuk memberikan pandangan lebih luas atas negara Zionis Israel. Foto-foto yang diambil pada wisata udara itu akan di upload ke situs-situs internet termasuk Wikipedia, Facebook, Twitter dan Flickr dan juga akan ditampilkan di beberapa blog.

Tindakan terakhir ini dilakukan - menyusul setelah Google menolak permintaan Israel untuk tidak menampilkan gambar-gambar kerusakan dan kebiadaban sewaktu agresi militer Israel ke Gaza.

“Kami sebenarnya telah memprotes Google karena telah memasukkan foto-foto akibat serangan militer Israel di gaza yang disertakan sewaktu orang menggunakan mesin pencari untuk mengetahui tentang Israel, tetapi kami tidak bisa mengontrol hal itu semua, karena semua orang bisa meng upload foto apapun di Google,” kata David Saranga seorang konsultan untuk media dan publik affair pada konsulat Israel di New York.

Tujuan dari semua itu adalah untuk melawan media dan situs-situs yang berperang melawan Israel lewat blog dan menggunakan situs jejaring sosial.

Langkah terbaru di dalam perang propaganda tersebut - menyusul setelah Kementerian Luar Negeri Israel mengkampanyekan “StandWithUs”, sebuah kampanye yang lebih awal untuk melakukan pembelaan terhadap Israel atas kritikan-kritikan yang beredar di internet. StandWithUs saling berhubungan dengan 'Web Situation Room' yang didirikan di New York untuk membuka jalan bagi AS mengintervensi Internet.

Sekitar 3500 relawan termasuk nama-nama media yang terkenal telah direkrut untuk merespon secara real time untuk menjawab secara online setiap kritikan yang ditujukan kepada Israel dan membantu mengkounter informasi yang salah tentang situasi yang sebenarnya menurut versi Israel.”

Direktur StandWithUs Israel – Michael Dickson mengatakan,” Ini adalah advokasi lewat internet atas sebuah landasan perang dan kami sedang membuat sesuatu perbedaan yang signifikan.

“Ini merupakan sebuah kombinasi dari penggunaan teknologi yang sudah ada, inovasi dan memanfaatkan kepedulian masyarakat secara bersama, yang akhirnya menimbulkan dampak baik bagi Israel,” katanya menambahkan.

Organisasi itu juga telah menyerukan aktivis seluruh dunia untuk ikut terlibat dalam pembelaan terhadap Israel lewat sebuah situs baru yang beralamat di www.helpuswin.org.

StandWithUs telah mengorganisir demonstrasi di kota-kota besar di seluruh Amerika, Kanada dan di Israel untuk mengkounter demonstrasi pro-Palestina yang berlangsung di pusat-pusat kota seluruh dunia. (fq/mt)[sumber: eramuslim.com]
20:28 | 0 komentar

Mengetuk Pintu Langit di Sepertiga Malam Terakhir


Akhi dan ukhti fillah…
Tugas dan beban hidup begitu banyak menggelayuti tubuh kita. Bungkuk dan terseok jalan kita kalau tugas-tugas itu berupa materi kasar dan berat. Tugas-tugas pekerjaan, urusan rumah tangga dan anak-anak, tugas-tugas kemasyarakatan, terutama tugas-tugas dakwah. Kita tentu siap menghadapi semua itu sebagai konsekuensi seorang muslim yang punya kepedulian terhadap nasib islam dan umatnya.

Tenaga dan pikiran sangat terbatas, waktu yang tersedia rasanya tidak mencukupi. Target-target yang harus dicapai terasa berat. Tantangan dan hambatan begitu banyak menghadang. Belum lagi kondisi diri yang tidak selalu fit, baik secara fisik maupun mental spiritual. Kalau bukan karena kehidupan berjamaah, di mana tangan kita bergandeng terajut bersama tangan-tangan lain untuk mengangkat beban-beban itu, tentu tak sanggup kita memanggulnya seorang diri.

Akhi dan ukhti fillah…
Agar beban terasa ringan, ada baiknya kita sejenak luangkan waktu untuk tumpahkan duka dan curahkan perasaan, mengadukan kelemahan kita kepada yang Mahakuat, mengakui kekerdilan diri kepada yang Mahabesar, menyambung napas kita yang tersenggal-senggal itu dengan yang Mahakuasa atas segala sesuatu di sepertiga malam terakhir, di keheningan malam, di kala makhluk Allah larut dalam dekapan mimpi. Kala Tuhan semesta alam turun ke langit dunia untuk mendengarkan bisikan hamba-Nya.

Akhi dan ukhti fillah…
Disebutkan dalam sebuah hadits dari Jabir r.a. bahwa ia mendengar Rasulullah SAW bersabda:

إن في الليل لساعة لا يوافقها رجل مسلم يسأل الله خيرا من أمر الدنيا والآخرة إلا أعطاه إياه وذلك كل ليلة

"Sesungguhnya pada malam hari itu benar-benar ada saat di mana tidaklah seorang Muslim menepatinya untuk memohon kepada Allah suatu kebaikan dunia dan akhirat, melainkan pasti Allah akan memberikannya (mengabulkannya), dan itu (terjadi) setiap malam." (HR. Muslim dan Ahmad)

Qiyamullail merupakan sarana berkomunikasi seorang muslim dengan Rabbnya, di mana ia merasakan kelezatan munajat dengan Pencipta, berdoa, beristighfar, bertasbih, dan memuji-Nya. Dengan harapan kiranya yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang mempermudah semua aspek kehidupan hamba-Nya, baik pribadi, keluarga, masyarakat maupun negara. Begitu pula aspek dakwah, pendidikan, ekonomi, sosial, budaya maupun politik. Dia akan dekat dengan Rabbnya, diampuni dosanya, dihormati sesama, dan menjadi penghuni surga yang disediakan untuknya.

Qiyamullail Mendekatkan Diri Kepada Allah

Orang yang kontinyu mengerjakan qiyamullail pasti dicintai dan dekat dengan Allah. Rasulullah SAW bersabda:

عَلَيْكُمْ بِقِيَامِ اللَّيْلِ فَإِنَّهُ دَأْبُ الصَّالِحِينَ قَبْلَكُمْ وَإِنَّ قِيَامَ اللَّيْلِ قُرْبَةٌ إِلَى اللَّهِ وَمَنْهَاةٌ عَنِ الإِثْمِ وَتَكْفِيرٌ لِلسَّيِّئَاتِ وَمَطْرَدَةٌ لِلدَّاءِ عَنِ الْجَسَدِ

"Hendaklah kalian melakukan shalat malam, karena itu merupakan tradisi orang-orang shalih sebelummu. Sesungguhnya shalat malam itu mendekatkan diri kepada Allah, mencegah dari berbuat dosa, menghapus kesalahan, dan mengusir penyakit dari tubuh." (HR. Tirmidzi)

Akhi dan ukhti fillah…
Dapat dipahami bahwa qiyamullail selain mendekatkan diri kepada Allah, juga dapat mencetak kesalehan dan kesehatan fisik dari penyakit dan kesehatan batin dari lumpuran dosa. Berbagai kebaikan dan manfaat Allah sediakan untuk hamba melalui sarana qiyamullail. Tak cukupkah dipahami, bagaimana tingkat kuatnya ruhiyah seseorang yang dapat mengusir kantuk dan penat, lalu berangkat berwudlu untuk menghadap Rabbnya? Jasadnya sesungguhnya punya hak untuk istirahat dari penatnya siang, namun sebagian waktu istirahatnya itu diabaikan demi Tuhannya.

Dari Sahl bin Sa'ad r.a. ia berkata, "Malaikat Jibril datang kepada Nabi SAW, lalu berkata:

يا محمد ، عش ما شئت فإنك ميت ، وأحبب من أحببت فإنك مفارقه ، واعمل ما شئت فإنك مجزي به » ثم قال : « يا محمد شرف المؤمن قيام الليل وعزه استغناؤه عن الناس

"Wahai Muhammad, hiduplah semaumu, kamu pun akhirnya akan mati. Cintailah siapa yang ingin kamu cintai, kamu pasti akan berpisah dengannya. Berbuatlah semaumu, pasti akan dapat balasan. Kemudian ia melanjutkan, "kemuliaan orang mukmin dapat diraih dengan melakukan shalat malam, dan harga dirinya dapat ditemukan dengan tidak minta tolong orang lain" (HR. Hakim)

Seorang dai yang ingin mulia di sisi Allah dan di sisi manusia hendaknya ia membiasakan qiyamullail. Wajahnya akan ceria, karena dia bermunajat dengan Ar-Rahman, sehingga terpancarlah nur dari wajahnya. Maka ia akan dicintai oleh sesama manusia karena Allah mencintainya.

Qiyamullail Penyebab Masuk Surga

Tirmidzi meriwayatkan dari Abdullah bin Salam dari Rasulullah SAW bersabda:

أَيُّهَا النَّاسُ أَفْشُوا السَّلاَمَ وَأَطْعِمُوا الطَّعَامَ وَصَلُّوا وَالنَّاسُ نِيَامٌ تَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ بِسَلاَمٍ

"Wahai manusia, tebarkanlah salam, berikanlah makanan, dan shalat malamlah di saat orang-orang tidur, niscaya kalian akan masuk surga dengan selamat"
[HR. Tirmidzi]

Seorang dai yang ingin berhasil dakwahnya harus menabur kasih sayang kepada seluruh lapisan masyarakat. Hal itu dapat digapai dengan wajah yang berseri-seri, mengucapkan salam, mengulurkan bantuan dan silaturahim, dan pada malam hari memohon kepada Allah diawali dengan qiyamullail, namun mereka yang kontinyu melaksanakan qiyamullail sangat sedikit jumlahnya. Semoga kita termasuk kelompok ini yang dapat masuk surga Allah.

Kiat-kiat Mempermudah Qiyamullail
Akhi dan ukhti fillah…
Qiyamullail memerlukan kesungguhan dan kebulatan tekad. Jika demikian, akan sangat mudah merealisasikannya dengan izin Allah. Berikut ini kiat-kiat pendorong meninggalkan tempat tidur untuk bermunajat kepada Yang Maha Pengasih:
1. Memprogram aktivitas 24 jam
2. Memahami kebutuhan jasmani, aqli, dan ruhani, serta diberikan dengan seimbang
3. Menghindari maksiat. Sufyan Ats-Tsauri berkata, "Aku sulit sekali melakukan qiyamullail selama lima bulan disebabkan satu dosa yang kulakukan"
4. Mengetahui fadhilah (keutamaan) dan keistemewaannya
5. Merasakan bahwa Allah dan Rasul-Nya yang mengajak Anda untuk qiyamullail
6. Tidur sesuai dengan adab Islam
7. Memahami bahwa Allah tertawa karena Anda melakukan shalat
8. Memohon kepada Allah agar dipermudah bangun malam
9. Mempunyai perasaan bermunajat dengan Allah yang Maha Kasih Sayang.

Inilah yang dapat disajikan kepada akhi dan ukhti fillah, tentang urgensi, keutamaan dan kiat-kiat qiyamullail. Semoga memberikan motivasi kepada kita menjadi orang yang dekat dengan Allah, mulia di sisi Allah dan di sisi manusia dan akhirnya menjadi penghuni surga.

Akhi dan ukhti fillah…
Untuk kemenangan dakwah; untuk kejayaan Islam; demi berkibarnya panji-panji Muhammad; demi tegaknya keadilan di muka bumi; dan tersebarnya rahmat Allah, bangunlah akhi dan ukhti di sepertiga malam terakhir. Ketuklah pintu langit. Jika berjuta tangan mengetuk untuk satu tujuan, satu keinginan, akan terasa kuat getaran dan gedorannya. Dan Allah tidak pernah ingkar janji.

Rasulullah SAW bersabda:

ينزل ربنا تبارك وتعالى كل ليلة إلى السماء الدنيا حين يبقى ثلث الليل الآخر يقول من يدعوني فأستجيب له من يسألني فأعطيه من يستغفرني فأغفر له

"Setiap malam, saat tersisa sepertiga malam terakhir, Rabb kita –tabaraka wa ta'ala- turun ke langit dunia, lalu berfirman, "Adakah seseorang yang berdoa kepada-Ku untuk Aku kabulkan? Adakah seseorang yang meminta-Ku untuk Aku beri? Dan adakah seseorang yang memohon ampun kepada-Ku untuk Aku ampuni?"
(HR. Bukhari dan Muslim) [Sumber: Seri Taujih Pekanan jilid II]
08:36 | 2 komentar

Deplu Israel Akhirnya Akui Kekalahannya dalam Perang di Gaza

Written By Admin BeDa on Selasa, 10 Maret 2009 | 11:49


Gaza; Para pejabat Zionis Israel secara resmi mengakui pihaknya kalah dalam opini umum melawan orang Palestina. Dan foto anak-anak yang menjadi sasaran serangan militer Zionis Israel di Gaza membuat perang ini memihak pada kemenangan Hamas.

Departemen Luar Negeri (Deplu) Zionis Israel kemarin, Ahad (8/3) mengatakan operasi yang dinamakan “peluru tembus” yang dilakukan militer negara Yahudi itu ke Gaza, membalikkan rasa kebencian dan permusuhan kepada Zionis Israel, yang belum pernah disaksikan sejak perang tahun 1948.

Dalam laporan yang dilansir oleh harian al quds al arabi hari ini, Senin (9/3) mengutip para pejabat Zionis Israel yang menyatakan kekalahan pada opini umum dalam perang Gaza tersebut. Hingga sampai pada foto-foto yang ditayangkan oleh televisi di dunia membuat opini umum berpihak kepada rakyat Palestina. Juru bicara Deplu Zionis Israel, Yeghal Balmour kepada harian Israel, Yedioth Ahronot kemarin, Ahad (8/3) mengatakan;”Seorang warga Eropa tak peduli dengan apa yang dikatakan orang Israel. Foto-foto yang diambil dari Gaza itulah yang menentukan kemenangan bagi Hamas.” “Satu foto saja dari Gaza sejajar dengan seribu juru bicara Israel,” tambahnya tegas.

Lanjutnya lagi, “Orang-orang Palestina memahami aturan permainan dan langsung menyebarkan foto-foto tadi ke penjuru dunia, yang tidak membenarkan alasan apapun membunuh anak-anak yang tidak berdosa.” [AMRais, infopalestina.com]
11:49 | 0 komentar

Serial Cinta

Written By Admin BeDa on Minggu, 08 Maret 2009 | 15:59


Berhati-hatilah saat mengucapkan kalimat “Aku mencintaimu”. Kepada siapapun! Sebab itu adalah keputusan besar. Mengapa? Karena mencintai pada hakikatnya adalah memberi. Memberi apa saja yang diperlukan oleh orang yang kita cintai untuk tumbuh menjadi lebih baik dan berbahagia karenanya. Di sini, pekerjaan cinta –setidaknya- ada empat hal.

Pertama, perhatian. Jika intinya cinta adalah memberi, maka pemberian pertama seorang pecinta sejati adalah perhatian. Perhatian yang lahir dari lubuk hati yang paling dalam, perhatian yang intens dan menyeluruh untuk memahami karakter orang yang dicintainya, menyelidiki seluk beluk persoalan hatinya, mendefinisikan harapan-harapannya, dan mengetahui kebutuhan-kebutuhannya untuk mencapai harapan-harapan itu. Maka, pecinta sejati lebih suka mendengarkan daripada didengarkan. Dan kesiapan memberi perhatian ini didahului oleh satu hal: bahwa ia telah memupuk dirinya untuk menjadi manusia yang tidak lagi butuh diperhatikan.

Pekerjaan kedua seorang pecinta sejati adalah penumbuhan. Cinta adalah gagasan dan komitmen jiwa untuk membuat kehidupan orang yang kita cintai menjadi lebih baik. Jika perhatian memberikan pemahaman mendalam tentang kekasih, maka penumbuhan adalah tindakan-tindakan nyata untuk membuat orang yang kita cintai bertumbuh dan berkembang menjadi lebih baik. Jika perhatian membuat kita mengatakan “aku mencintaimu sebagaimana adanya” atau “aku menerima dirimu apa adanya” maka penumbuhan adalah langkah berikutnya untuk membuat kekasih mencapai mutu terbaik yang bias ia raih. Melalui proses inilah cinta justru menemukan elannya untuk semakin kuat dari waktu ke waktu, tidak lapuk dimakan zaman dan tidak membosankan. Tentu pekerjaan kedua ini mensyaratkan seseorang untuk tumbuh terlebih dahulu sebelum ia melakukan ‘penumbuhan’ pada orang yang dicintainya.

Ketiga, perawatan. Kalau pertumbuhan dilakukan dengan memfasilitasi proses pembelajaran orang yang kita cintai, maka perawatan dilakukan dnegan memberikan sentuhan lembut kebajikan pada sang kekasih. Cinta kasih itu harus dirawat dengan siraman kebajikan harian. Jika cinta adalah taman yang indah, maka senyum yang lembut, kata-kata yang baik, belaian kasih, hadiah-hadiah kecil adalah air yang akan menjadikannya subur dan berbunga.

Keempat, melindunginya. Melindungi jiwanya, raganya, masa depannya serta proses penumbuhannya. Tapi ingat, perlindungan ini bukanlah penjara bagi sang kekasih. Orang yang kita cintai tidak boleh merasa bahwa perlindungan kita adalah cara kita untuk mempertahankan ‘kekuasaan’ dan ‘kepemilikan’ atas dirinya. Perlindungan adalah langkah proteksi yang bersifat anitisapatif untuk memastikan bahwa orang yang kita cintai menjalani kehidupannya secara aman, proses pertumbuhannya berjalan dengan baik, dan kemudian menggapai satu per satu harapan dan impian-impiannya.

Selain mengungkap empat hal di atas dengan bahasa yang mengalir dan kedalaman makna, buku Serial Cinta ini –yang merupakan kumpulan dari tulisan Anis Matta dalam Serial Cinta di majalah Tarbawi selama tiga tahun- juga mengungkap banyak hal tentang cinta. Tentang tiga jenis cinta: cinta misi, cinta jiwa dan cinta maslahat. Tentang bumbu-bumbu cinta. Fragmen-fragmen cinta dalam kehidupan Sang Nabi dan tokoh-tokoh besar yang sarat hikmah dan ibrah bagi penguatan cinta kita. Dan masih banyak lagi. Semuanya tertuang dalam 73 judul dalam buku terbitan Tarbawi Press ini.

Diantara kelebihan buku ini adalah kita tidak sekedar memahami cinta secara melankolik dan menumbuhkan nuansa romantis dalam jiwa kita, tetapi kita juga dibawa dalam perjalanan menemukan hakikat cinta yang begitu suci, dan inilah yang dimaksudkan Anis Matta sebagai cinta misi. Bahkan, kita akan menangis ketika membaca cinta Rasulullah pada tulisan berjudul Pesona Cinta Nabi. Melalui buku ini, kita juga akan mendapatkan semangat berperang! Perang demi cinta! Dan inilah yang harus hadir ketika hari ini gerakan amal islami menghadapi jihad siyasi. Kita harus memenangkannya untuk bisa mengukir cinta dan menyemai kebaikan-kebaikan di muka bumi. Sebab ini adalah pengejawentahan cinta misi! Selamat membaca dan selamat menjadi pecinta sejati! [Muchlisin]
15:59 | 2 komentar

Masukkan alamat e-mail untuk mendapatkan up date Bersama Dakwah