Assalaamu'alaikum ,  Ahlan wa Sahlan  |  Facebook  |  Twitter  |  Pasang Iklan

Download Makalah Strategi Dakwah di Kalangan Pemuda

Written By Admin BeDa on Kamis, 30 April 2009 | 19:43


Ini adalah postingan pertama dengan judul download. Pada kategori download ini rencananya akan disediakan makalah-makalah, presentasi, dan lain-lain mengenai materi keislaman dan dakwah. Khususnya makalah-makalah pada program studi pendidikan agama Islam dan bahan-bahan tarbiyah.

Untuk kesempatan ini, diposting makalah Strategi Dakwah di Kalangan Pemuda. Makalah ini perlu dibaca tidak hanya bagi mereka yang mengambil mata kuliah strategi dakwah pada Fakultas Agama Islam, tetapi juga bagi para aktifis dakwah yang mendedikasikan hidupnya demi dakwah Islam. Kita semua tentu berharap bahwa nilai-nilai Islam akan mewarnai aktifitas kehidupan manusia, kehendak-kehendak Allah tersemaikan di bumi, dan Islam menjadi soko guru peradaban. Bagi yang ingin men-download langsung saja ke link berikut: Makalah Strategi Dakwah di Kalangan Pemuda.
19:43 | 9 komentar

Mushab bin Umair


Berikut ini adalah sirah sahabat nabi edisi ke-9. Postingan kali cukup panjang, namun sangat menarik. Sebab kita akan membicarakan sirah sahabat nabi yang bernama Mushab bin Umair, kadang-kadang ditulis Mush'ab bin Umair. Sahabat nabi yang masih muda, cerdas, tampan, dan luar biasa. Mari kita ikuti kisah sahabat nabi yang satu ini.
***

Mushab bin Umair adalah satu diantara para shahabat Nabi SAW. Sungguh sangat indah jika kita menghayati kisahnya.

Dia seorang remaja Quraisy paling menonjol, paling tampan, dan paling bersemangat. Para penulis sejarah biasa menyebutnya sebagai “pemuda Makkah yang menjadi sanjungan semua orang”.

Dia lahir dan dibesarkan dalam limpahan kenikmatan. Bisa jadi, tak seorangpun diantara anak muda Makkah yang dimanjakan kedua orang tuanya seperti yang didapatkan Mushab bin Umair.

Mungkinkah kiranya anak muda yang serba kecukupan, biasa hidup mewah dan manja, selalu dielu-elukan, dan bintang di setiap rapat dan pertemuan, akan berubah menjadi tokoh dalam sebuah cerita keimanan dan perjuangan demi membela Islam…?

Sungguh satu kisah penuh pesona… Kisah perjalanan Mushab bin Umair atau kaum muslimin biasa menyebutnya “Mushab Al-Khair (yang baik)”…

Dia adalah satu diantara orang-orang yang ditempa oleh Islam dan dididik oleh Muhammad SAW. Seperti apakah dia…?

Sungguh, kisah hidupnya menjadi kebanggan seluruh umat manusia.
Suatu hari, anak muda ini mendengar berita tentang Muhammad yang selama ini dikenal jujur… Berita yang juga mulai didengar oleh warga Makkah… Muhammad yang selama ini dikenal jujur itu (Al-Amin) menyatakan bahwa dirinya telah diutus Allah sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan. Mengajak umat manusia beribadah kepada Allah yang Maha Esa.

Perhatian warga Makkah terpusat pada berita ini. Tiada yang menjadi buah pembicaraan mereka kecuali tentang Rasulullah SAW dan agama yang dibawanya. Tak ketinggalan anak muda yang manja ini. Dia terlihat sangat serius mendengarkan berita ini. Meskipun usianya masih muda, ia menjadi bintang di setiap rapat dan pertemuan. Kehadirannya di setiap rapat dan pertemuan selalu dinanti. Gayanya yang mempesona dan otaknya yang cerdas merupakan keistimewaan Mushab bin Umair yang mampu menyelesaikan banyak persoalan.

Diantara berita yang didengarkannya ialah Rasulullah bersama pengikutnya biasa berkumpul di satu tempat yang jauh dari gangguan orang-orang Quraisy. Yaitu, di bukit Shafa, di rumah Arqam bin Abul Arqam. Dia pun segera mengambil keputusan. Di suatu senja, dia bergegas ke rumah Arqam bin Abul Arqam.

Di rumah itulah Rasulullah bertemu para shahabatnya, mengajarkan ayat-ayat Al-Qur’an dan melaksanakan shalat.

Mushab masuk dan duduk di sudut ruangan. Dan, di sinilah perubahan akan dimulai. Ayat-ayat Al-Qur’an mulai mengalir dari hati Rasulullah. Bergema melalui kedua bibir beliau. Mengalir menembus telinga, merasuk ke dalam hati.

Mushab terlena, terpesona oleh kalimat-kalimat itu. Dia terbuai, melayang entah ke mana.

Rasulullah mendekatinya, mengusap dada Mushab dengan penuh kasih sayang. Dada yang sedang panas bergejolak itu akhirnya menjadi tenang dan damai, setenang samudra yang dalam.

Setelah itu, hanya dalam waktu yang sangat singkat, pemuda yang telah masuk Islam ini berubah menjadi pemuda yang arif bijaksana. Jauh melebihi usianya. Ditambah lagi dengan semangat dan cita-citanya yang kuat. Semua itulah yang nantinya mampu mengubah perjalanan sejarah.

Khunas binti Malik, ibunda Mushab adalah seorang wanita yang berkepribadian kuat. Ia seorang wanita yang disegani bahkan ditakuti.

Ketika Mushab masuk Islam, tiada satu kekuatan pun yang ditakutinya selain ibunya sendiri. Bahkan, seandainya seluruh Makkah termasuk berhala-berhala, para pembesar dan padang pasirnya berubah menjadi satu kekuatan yang menakutkan yang hendak menyerang dan menghancurkannya, Mushab tidak akan bergeming sedikitpun. Akan tetapi, jika ibunya yang menjadi penghalang, maka itulah rintangan yang sesungguhnya.

Mushab segera mengambil keputusan untuk merahasiakan keislamannya sampai Allah memberikan keputusan yang terbaik.

Mushab selalu datang ke rumah Arqam menghadiri majelis Rasulullah. Dia merasa bahagia dengan keislamannya. Bahkan, rela jika harus menerima kemarahan ibunya yang sampai saat ini belum mengetahui keislamannya.

Tetapi di kota Makkah tiada rahasia yang tersembunyi, apalagi dalam suasana seperti itu. mata-mata kaum Quraisy berkeliaran di mana-mana. Mengintai setiap gerak dan langkah.

Seorang laki-laki bernama Usman bin Thalhah, di satu waktu, melihat Mushab memasuki rumah Arqam dengan mengendap-endap. Lalu di waktu yang lain melihat Mushab melakukan shalat seperti dilakukan Muhammad dan para shahabatnya.

Akhirnya, berita keislaman Mushab sampai juga ke telinga ibunya.

Saat ini, Mushab berdiridi hadapan ibu dan sanak kerabatnya, serta para pembesar Makkah. Dengan hati mantap dia membacakan ayat-ayat Al-Qur’an yang telah membersihkan hati para pengikutnya. Mengisinya dengan hikmah dan kemuliaan; juga kejujuran dan ketaqwaan.

Ketika sang ibu hendak membungkam mulut putranya dengan tamparan keras, tiba-tiba tangan yang bergerak cepat itu jatuh terkulai, saat melihat cahaya yang bergerak cepat itu jatuh terkulai, sat melihat cahaya yang membuat wajah yang berseri itu kian berwibawa dan patut dipindahkan. Cahaya yang menimbulkan ketenangan dan rasa pasrah.

Karena rasa keibuannya, ibunda Mushab tidak jadi memukul putranya. Dia memikirkan cara lain untuk memberi pelajaran kepada putranya yang telah ingkar kepada tuhan-tuhan sesembahannya. Akhirnya, Mushab disekap di satu kamar, dikunci rapat dari luar.

Untuk beberapa lama, Mushab terkurung dalam ruangan itu, hingga dia mendengar bahwa beberapa shahabat Nabi SAW hijrah ke Habasyah. Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh Mushab. Dengan sedikit strategi dia berhasil mengecoh ibu dan para penjaganya. Ia berhasil lolos dari kurungan, lalu ikut hijrah ke Habasyah.

Dia tinggal bersama saudara-saudaranya sesama muhajirin. Lalu pulang ke Makkah. Kemudian ia pergi lagi hijrah ke Habasyah untuk kedua kalinya bersama para shahabat atas titah Rasulullah SAW.

Baik di Habasyah maupun di Makkah, keimanan Mushab semakin mantap. Dia menapaki pola hidup baru yang diajarkan oleh teladannya, Muhammad SAW. Mushab sudah mantap kalau sleuruh kehidupannya akan diberikan hanya untuk Sang Pencipta yang Maha Agung.

Pada suatu hari, dia menghampiri kaum muslimin yang sedang duduk di sekeliling Rasulullah SAW. Melihat penampilan Mushab, mereka menundukkan pandangan, bahkan ada yang menangis. Mereka melihat Mushab memakai jubah usang yang bertambal-tambal. Padahal, masih segar dalam ingatan mereka bagaimana penampilannya sebelum masuk Islam. Pakaiannya ibarat bunga di taman, menebarkan aroma wewangian.

Adapun Rasulullah, beliau menatapnya dengan pandangan penuh arti, disertai cinta kasih dan syukur dalam hati. Kedua bibirnya tersenyum bahagia dan bersabda.

“Dahulu tiada yang menandingi Mushab dalam mendapatkan kesenangan dari orang tuanya. Lalu smua itu dia tinggalkan demi cintanya kepada Allah dan Rasul-Nya.”

Semenjak ibunya merasa putus asa untuk mengembalikan Mushab kepada berhala sesembahannya, dia menghentikan segala pemberian yang biasa diberikan kepada Mushab. Bahkan, dia tidak mengizinkan makanannya dimakan orang yang telah mengingkari berhala-berhala itu, meskipun orang itu adalah anak kandungnya sendiri.

Terakhir kali bertemu Mushab adalah saat hendak mencoba mengurungnya lagi, sewaktu Mushab pulang dari Habasyah. Mushab pun bersumpah dan menyatakan tekadnya untuk membunuh orang-orang ibunya bila rencana itu dilakukan. Mengetahui tekad putranya yang begitu kuat, maka sang ibu membatalkan niatnya. Keduanya berpisah dengan cucuran air mata.

Perpisahan itu memperlihatkan kegigihan luar biasa dalam mempertahankan kekafiran, di pihak sang ibi, dan kegiigihan yang juga luar biasa mempertahankan keimanan, di pihak si anak. Ketika sang ibu mengusirnya dari rumah, “Pergilah sesuka hatimu. Aku bukan ibumu lagi.” Mushab menghampiri ibunya dan berkata, “Wahai Ibu, aku sangat sayang kepada Ibu. Karena itu, bersaksilah bahwa tiada tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.”

Sang ibu menjawab dengan marah, “Demi bintang-gemintang, aku tidak akan masuk ke dalam agama itu. Otakku bisa rusak, dan buah pikiranku takkan diindahkan orang lain.”

Mushab meninggalkan kemewahan dan kesenangan yang pernah dialaminya, dan memilih hidup miskin serta kekurangan. Pemuda ganteng dan parlente itu, kini hanya mengenakan pakaian yang sangat kasar, sehari makan dan beberapa hari rela menahan lapar. Akan tetapi, jiwanya yang telah dihiasi aqidah suci dan cahaya ilahi, mengubah dirinya menjadi seorang manusia yang lain. Manusia yang dihormati, penuh wibawa dan disegani.

Sekarang, Mushab dipilih Rasulullah untuk melakukan tugas sangat penting: menjadi utusan Rasulullah ke Madinah. Tugasnya adalah mengajarkan agama Islam kepada orang-orang Anshar yang telah beriman dan berbaiat kepada Rasulullah di bukit Aqabah. Juga untuk mengajak orang lain menganut agama Islam, dan mempersiapkan kota Madinah untuk menyambut hijrah Rasulullah ke kota itu.

Sebenarnya, di kalangan para shahabat saat itu masih banyak yang lebih tua, lebih berpengaruh dan lebih dekat hubungan kekeluargaannya dengan Rasulullah SAW dari pada Mushab. Tetapi, Rasulullah memilih Mushab al-Khair. Rasulullah sadar sepenuhnya bahwa beliau telah memikulkan tugas sangat penting kepada pemuda itu. menyerahkan kepadanya masa depan Islam di kota Madinah. Kota yang tak lama lagi akan menjadi kota hijrah, pusat dakwah, tempat berhimpunnya penyebar dan pembela Islam.

Mushab memikul amanah itu dengan bekal kecerdasan dan akhlak mulia yang dikaruniakan Allah kepadanya. Dengan sifat zuhud, kejujuran dan keikhlasan, dia berhasil memikat hati penduduk Madinah hingga mereka berduyun-duyun masuk Islam.

Saat Mushab memasuki Madinah, jumlah orang Islam hanya 12 orang. Yaitu, orang-orang yang telah berbaiat di bukit Aqabah. Hanya dalam beberapa bulan, penduduk Madinah sudah berbondong-bondong masuk Islam.

Pada musim haji berikutnya, kaum muslimin Madinah mengirim rombongan yang mewakili mereka untuk menemui nabi. Mereka berjumlah 70 orang yang dipimpin oleh guru mereka, oleh duta yang dikirim Nabi kepada mereka, yaitu Mushab bin Umair.

Dengan tindakannya yang tepat dan bijaksana, Mushab bin Umair telah membuktikan bahwa Rasulullah SAW tidak salah memilih orang. Mushab benar-benar memahami tugasnya. Ia tahu apa yang harus dilakukan. Ia sadar bahwa tugasnya adalah mengajak manusia untuk menyembah Allah, menyampaikan berita gembira lahirnya suatu agama yang mengajak manusia mencapai hidayah Allah, dan membimbing mereka ke jalan yang lurus. Tugasnya seperti tugas Rasulullah: hanya menyampaikan.

Di Madinah, Mushab tinggal sebagai tamu di rumah As’ad bin Zurarah. Dengan didampingi As’ad, ia mengunjungi kabilah-kabilah, rumah-rumah dan tempat-tempat pertemuan untuk membacakan ayat-ayat Al-Qur’an. Menyampaikan “bahwa hanya Allah Tuhan yang berhak disembah” dengan sangat hati-hati.

Ia pernah menghadapi peristiwa yang mengancam keselamatan diri dan rekannya itu. tapi, dengan kecerdasan dan kebesaran jiwanya, ia berhasil mengatasinya dengan sangat baik.

Suatu hari, ketika sedang berdakwah di tengah di tengah orang-orang suku Abdul Asyhal, tiba-tiba Usaid bin Hudhair, sang kepala suku muncul dengan menghunus tombak. Usaid muncul dengan kemarahan yang membuncah. Ada orang yang akan menyelewengkan penduduknya dari keyakinan mereka. Mengajak mereka meninggalkan tuhan-tuhan mereka. Mengajak meninggalkan tuhan-tuhan yang tempatnya jelas, bisa didatangi, dan bentuknya kelihatan. Sedangkan Tuhan yang baru itu tidak bisa dilihat dan tidak bisa dijumpai.

Tak ayal lagi, orang-orang Islam yang ada di tempat itu ketakutan. Akan tetapi, Mushab al-Khair tetap tenang dengan air muka yang tidak berubah.

Seakan hendak menerkam, Usaid mendekati Mushab dan As’ad bin Zurarah. Dengan kasar ia berkata, “Apa maksud kalian datang ke kabilah kami ini? Apakah hendak membodohi rakyat kecil kami? Tinggalkan segera tempat ini jika tidak ingin nyawa kalian melayang.”

Seperti tenang dan mantapnya samudra, laksana damainya cahaya fajar, terpancarlah ketulusan hati Mushab al-kahir, dab bergeraklah bibirnya mengeluarkan kata-kata menyejukkan, “Mengapa Anda tidak duduk dan mendengarkan terlebih dahulu? Jika nanti Anda tertarik, Anda dapat menerimanya. Dan jika nanti Anda tidak suka, kami akan menghentikan apa yang tidak Anda sukai.”

Allahu akbar! Sungguh awal yang baik, yang tentu berakhir dengan baik pula.

Usaid adalah orang yang bijak. Dan saat ini, ia diajak oleh Mushab u. berbicara dan meminta pertimbangan kepada hati nuraninya sendiri. Ia hanya diminta mendengar. Jika ia suka dengan apa yang dikatakan Mushab, maka ia akan membiarkan Mushab berdakwah. Jika ia tidak suka dengan ajaran Mushab, maka Mushab berjanji akan meninggalkan kabilah dan masyarakatnya untuk mencari tempat dan masyarakat lain. Tidak ada yang dirugikan bukan?

“Baiklah,” kata Usaid. Lalu ia duduk dan meletakkan tombaknya.

Mushab mulai membacakan ayat-ayat Al-Qur’an dan menguraikan dakwah yang dibawa oleh Muhammad SAW. Bacaan dan uraian Mushab mengalir ke telinga Usaid, memasuki dada dan menerangi hati yang ada di dalamnya. Belum usai Mushab membaca dan memberikan uraian, tiba-tiba bibir Usaid bergetar dan berkata, “Alangkah indah kata-kata ini. Tidak ada satu kesalahan pun. Apa yang harus dilakukan orang yang mau masuk agama ini?”

Serentak gema tahlil keluar dari bibir kaum muslimin “Laa ilaaha illallah, Muhammadar rasuulullah.” Tahlil bergema seakan ingin mengguncang dunia.

Mushab berkata, “Hendaklah ia membersihkan pakaian dan badannya, lalu mengucapkan Asyhadu an laa ilaaha illallah wa asyhadu anna Muhammadan rasuulullah.”

Usaid meninggalkan mereka beberapa saat, kemudian kembali dan air masih menetes dari rambutnya. Ia berdiri dan mengucapkan “Asyhadu an laa ilaaha illallah wa asyhadu anna Muhammadan rasuulullah.”
Berita ini tersebar dengan sangat cepat, secepat cahaya.

Sa’ad bin Mu’adz juga mendatangi Mushab. Setelah mendengar uraian Mushab, ia pun masuk Islam. Setelah itu Sa’ad bin Ubadah juga masuk Islam.

Masuk Islamnya tiga tokoh ini berarti pintu lebar bagi masuk Islamnya penduduk Madinah. Mereka berkata, “Jika Usaid bin Hudhair, Sa’ad bin Mu’adz dan Sa’ad bin Ubadah sudah masuk Islam, apalagi yang kalian tunggu?! Mari kita menemui Mushab dan menyatakan keislaman kita.” Kata orang, “kebenaran itu terpancar dari setiap kata-katanya.”

Demikianlah duta Rasulullah yang pertama telah mencapai hasil gemilang yang tiada tara. Suatu keberhasilan yang layak diperolehnya…

Beberapa tahun kemudian, Rasulullah bersama para shahabatnya hijrah ke Madinah.

Di pihak lain, orang-orang kafir Quraisy semakin geram. Mereka menyiapkan kekuatan u. melampiaskan dendam mereka terhadap kaum muslimin. Maka, terjadilah perang badar dan kaum kafir Quraisy pun mendapatkan pelajaran pahit yang membuat mereka semakin kalap dan tidak waras. Mereka berusaha menebus kekalahan di Perang Badar itu. Kemudian tibalah perang uhud. Rasulullah berdiri di tengah barisan kaum muslimin, menatap setiap wajah: siapa yang sebaiknya membawa bendera pasukan? Ketika itu, terpilihlah Mushab al-Khair. Ia maju dan membawa bendera pasukan dengan mantap.

Peperangan berkobar dan berkecamuk dengan sengitnya. Pasukan panah kaum muslimin melanggar perintah Rasulullah. Mereka meninggalkan posisi mereka di atas bukit setelah melihat pasukan musuh lari terbirit-birit. Perbuatan mereka itu secepatnya mengubah suasana. Kemenangan berganti kekalahan.

Tanpa diduga pasukan berkuda musuh menyerang pasukan kaum muslimin dari atas bukit. Pasukan Islam pun kalang kabut.

Melihat barisan kaum muslimin porak-poranda, musuh pun mengarahkan serangan ke Rasulullah SAW. Mushab bin Umair menyadari suasana gawat ini. Maka diacungkannya bendera pasukan setinggi-tingginya. Dengan suara kantang ia bertakbir, “Allaahu akbar”. Ia maju, menerjang, berkelebat ke sana kemari mengibaskan pedangnya. Ia ingin mengalihkan serangan musuh yang sedang tertuju kepada Rasulullah SAW. Ia menyerang sendiri, namun terlihat seperti satu pasukan tentara.

Sungguh, walaupun hanya seorang diri, Mushab bertempur laksana sepasukan tentara. Satu tangannya memegang bendera pasukan yang harus terus berkibar, dan tangan satunya lagi menebaskan pedang dengan matanya yang tajam. Jumlah musuh yang dihadapinya Mushab semakin banyak. Mereka semua ingin menginjak-injak mayatnya untuk mencapai Rasulullah.

Marilah kita dengarkan apa yang diceritakan oleh saksi mata. Bagaimana saat-saat terakhir sebelum Mushab bin Umair gugur sebagai syahid.

Ibnu Sa’d menyebutkan bahwa Ibrahim bin Muhammad bin Syurahbil berkata, “Ayahku pernah bercerita begini, ‘Mushab bin Umair adalah pembawa bendera pasukan di Perang Uhud. Tatkala barisan kaum muslimin porak-poranda, Mushab tetap gigih berperang. Seorang tentara berkuda musuh, Ibnu Qamiah menyerangnya dan berhasil menebas tangan kanannya hingga putus. Mushab mengucapkan, “Muhammad itu tiada lain hanyalah seorang Rasul, yang sebelumnya telah didahului oleh para Rasul.”

Lalu, bendera itu ia ambil dengan tangan kirinya dan ia kibarkan. Musuh pun menebas tangan kirinya hingga putus. Mushab membungkuk ke arah bendera pasukan, lalu dengan kedua pangkal tangannya ia mendekap dan mengibarkan bendera itu, sambil mengucapkan, “Muhammad itu tiada lain hanyalah seorang Rasul, yang sebelumnya telah didahului oleh para Rasul.”

Orang berkuda itu menyerangnya lagi dengan tombak, menghunjamkannya ke dada Msuh’ab. Mushab pun gugur, dan bendera pun jatuh’.”

Gugurlah Mushab dan jatuhlah bendera. Ia gugur sebagai bintang dan mahkota para syuhada. Ia gugur setelah berjuang dengan gigih. Mengorbankan semua yang dimilikinya demi keimanan dan keyakinannya.

Ia merasa, jika ia gugur, akan sangat terbuka peluang untuk membunuh Rasulullah. Demi cintanya kepada Rasulullah yang tiada terbatas, dan kekhawatiran akan nasib Rasulullah, ia menghibur dirinya setiap kali pedang menebas tangannya, “Muhammad itu tiada lain hanyalah seorang Rasul, yang sebelumnya telah didahului oleh para Rasul.”

Kata-kata ini terus ia ulangi. Kata-kata yang kemudian hari menjadi bagian dari ayat Al-Qur’an. Al-Qur’an yang akan senantiasa dibaca oleh kaum muslimin.

Setelah pertempuran usai, jasad pahlawan gagah berani ini ditemukan terbaring dengan wajah menelungkup ke tanah digenangi darahnya yang suci. Seolah-olah tubuh yang telah kaku itu takut menyaksikan bila Rasulullah ditimpa musibah. Karena itu, ia menyembunyikan wajahnya agar tidak melihat peristiwa yang ditakutinya itu. Atau, ia merasa malu karena telah gugur sebelum bisa memastikan keselamatan Rasulullah dan sebelum ia selesai menunaikan tugasnya dalam membela dan melindungi Rasulullah.

Wahai Mushab cukuplah bagimu Sang Penyayang. Namamu akan selalu dikenang.

Rasulullah bersama para shahabat mengitari setiap sudut medan pertempuran untuk menyampaikan salam perpisahan kepada para syuhada. Ketika sampai di tempat terbaringnya Mushab, bercucurlah air mata beliau dengan deras.

Khabbab bin Arat menceritakan, “Bersama Rasulullah, kami hijrah di jalan Allah, untuk mengharap ridha-Nya. Pasti kita mendapat ganjaran di sisi Allah. Diantara kami ada yang lebih dulu meninggal dunia, dan belum menikmati pahalanya di dunia ini sedikitpun. Mushab bin Umair adalah satu dari mereka. Ia gugur di perang Uhud. Tidak ada yang bisa dipakai untuk mengkafaninya kecuali sehelai kain. Jika ditutupkan mulai dari kepalanya, kedua kakinya kelihatan. Jika ditutupkan mulai dari kakinya, kepalanya kelihatan. Maka, Rasulullah bersabda, ‘Tutupkanlah ke bagian kepalanya, dan tutupilah kakinya dengan rumput idzkhir.”

Betapa pun luka pedih dan duka mendalam menimpa Rasulullah karena Hamzah (paman beliau) gugur dan tubuhnya dirusak oleh orang musyrik, hingga bercucuran air mata beliau. Betapa pun penuhnya medan perang dengan jenazah kaum muslimin, di mana mereka semua adalah panji-panji ketulusan, kesucian, dan cahaya. Betapapun semua itu menggoreskan luka mendalam di hati Rasulullah, tapi beliau menyempatkan berhenti sejenak dekat jasad dutanya yang pertama, untuk melepas kepergiannya dan mengeluarkan isi hatinya. Rasulullah berdiri memandangi jasad Mushab bin Umair dengan penuh kasih sayang dan cahaya kesetiaan. Beliau membaca firman Allah,

“Diantara orang-orang mukmin terdapat orang-orang yang telah menepati janji mereka kepada Allah.” (QS. Al-Ahzab : 23)

ada kesedihan di mata beliau ketika melihat kain yang dipergunakan mengkafani Mushab. Beliau bersabda, “Ketika di Makkah dulu, tak seorangpun yang lebih halus pakaiannya dan lebih rapi rambutnya dari pada kamu. Tetapi sekarang ini, rambutmu kusut, hanya dibalut sehelai burdah.”

Dengan kesayuan, Rasulullah melayangkan pandangan ke semua susut medan perang dan ke arah para syuhada: kawan-kawan Mushab yang terbaring di sana. Lalu beliau bersabda, “Sungguh, pada hari Kiamat kelak, di hadapan Allah, Rasulullah akan menjadi saksi bahwa kalian adalah para syuhada.”

Setelah itu, beliau memandang para shahabat yang masih hidup, dan bersabda, “Hai kalian semua, kunjungilah mereka, dan ucapkanlah salam. Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tak seorang muslim pun, sampai hari Kiamat kelak, yang mengucap salam kepada mereka, kecuali mereka akan membalas salam itu.”

Kami ucapkan salam untukmu, wahai Mushab. [sumber: 60 Sirah Sahabat Rasulullah SAW]
07:15 | 11 komentar

Kaidah dan Rambu-rambu Strategi Dakwah

Written By Admin BeDa on Rabu, 29 April 2009 | 15:12


Strategi dakwah merupakan hal yang sangat urgen untuk dikuasai para aktifis dakwah dan gerakan amal islami. Sebelum merumuskan strategi dakwah dalam aspek aplikasi, perlu terlebih dahulu dipahami kaidah dan rambu-rambunya.


1. Strategi Dakwah termasuk Mutaghayyirat, sedangkan Kewajiban Dakwah dan Tujuannya bersifat Tsawabit

Strategi dakwah termasuk mutaghayyirat (hal-hal yang bisa berubah, fleksibel dan tidak paten). Maka dai dan gerakan dakwah mendapatkan kelonggaran untuk melakukan inovasi padanya sesuai dengan perkembangan zaman.

Misalnya pada pemanfaatan media dan teknologi. Dulu di Zaman Rasulullah tidak pernah ada dakwah dengan multimedia atau via internet karena memang belum ada teknologi semacam itu. Karenanya Rasulullah bersabda :
أنتم أعلم بأمر دنياكم
"Kamu lebih tahu tentang urusan duniamu" (HR. Muslim, Juz 4 hlm.1836)

Adapun kewajiban dakwah sifatnya tsawabit, permanen. Maka, sampai kapanpun dan teknologi secanggih apapun, dakwah tetap wajib. Demikian pula tujuannya.

Maka yang menjadi pertimbangan dalam merumuskan strategi dakwah adalah bagaimana keefektifitannya dalam mencapai tujuan dakwah. Dai atau gerakan dakwah bebas berkreasi menentukan strategi asalkan ia efektif. Yang tidak patut dilakukan adalah ketika strategi itu justru kontraproduktif bagi tujuan dakwah.

2. Strategi Dakwah bukan termasuk ibadah (mahdhah), sehingga kaidah ushul yang berlaku adalah الأصل في التخطيط الإباحة حتى يدل الدليل على التحريم

Strategi dakwah apapun pada awalnya diperbolehkan, dan tentunya diprioritaskan berdasarkan efektifitasnya dalam mencapai tujuan dakwah. Yang kemudian menjadi batasan adalah aturan-aturan syar'i. Artinya, strategi apapun boleh diterapkan sepanjang ia tidak melanggar syariat Islam.

Maka, tidak boleh dilakukan sebuah strategi dakwah meskipun tujuannya baik, namun bertentangan dengan syariat Islam. Misalnya, untuk mendakwahi pemuda lingkungan kita perlu mendekatinya lebih dahulu. Karena kesukaan pemuda lingkungan tersebut adalah mabuk-mabukan, maka kita ikut mabuk-mabukan bersama mereka. Strategi seperti ini tidak diperbolehkan. Sebaliknya, sepanjang tidak ada dalil syar'i yang melarang, strategi apapun boleh diterapkan.

3. Dakwah perlu terstruktur dengan rapi

Setidaknya ada beberapa dalil yang menjadi argumentasi bagi kaidah ini:
a. QS. Ali Imran : 103
وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
Pada ayat ini Allah menggunakan kata "minkum" yang berarti sebagian. Namun, tidak cukup berhenti di sana. Sebagaian itu perlu berkoordinasi karena tugasnya demikian berat (dakwah ilal khair, amar ma'ruf, nahi munkar).

b. QS. Ash-Shaff : 2
إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِهِ صَفًّا كَأَنَّهُمْ بُنْيَانٌ مَرْصُوصٌ [الصف/4]
Pada ayat ini Allah lebih tegas mengatakan kecintaanya kepada barisan yang rapi, terstruktur, terorganisir. Meskipun teks ayat berbicara tentang jihad, tetapi ibrahnya bisa diterapkan pada dakwah juga.

c. Sirah Nabawiyah
Pada sirah nabawiyah kita juga mendapatkan strategi gerakan dakwah Rasulullah yang terstruktur dengan rapi. Pada masa awal beliau mengajak istri, shahabat dekat, dan orang-orang yang paling dekat dengan beliau. Lalu dakwah mulai berkembang seingga menghasilkan "assabiquunal awwaluun" yang dibina secara terorganisir di rumah Arqam bin Abi Arqam. Merekalah struktur inti dakwah Islam fase Makkiyah. Merekalah lingkaran I, meminjam istilah pergerakan sekarang. Lebih ke lingkaran luar ada orang-orang yang menjadi lingkaran II.

Rasulullah juga melakukan pembagian tugas sesuai kompetensi mereka. Meskipun tidak ada istilah khusus untuk struktur ini selain Islam itu sendiri, kesimpulan yang kita dapatkan adalah bahwa dakwah Rasulullah dikelalola dengan struktur yang rapi. Ini baru fase Makkiyah, saat umat Islam belum memiliki negara (baca: daulah). Pada fase Madaniyah, struktur lebih rapi dan kokoh.

d. Fakta Sejarah
Ternyata, struktur yang rapi juga menjadi kunci kemenangan dakwah. Bangkitnya Daulah Abbasiyah dan keberhasilan mereka melanjutkan kekuasaan Islam juga berawal dari struktur yang rapi. Seruan dakwah mereka yang intinya "Ridha kepada ahlul bait Nabi" disebarkan oleh jaringan dakwah yang tersetruktur rapi. Saat momen sejarah tiba, mereka memproklamirkan berdirinya Daulah Abbasiyah di atas puing-puing Daulah Umayyah. Dan sejarah kemudian mencatat masa kejayaan Islam ada pada rentang sejarah Daulah Abbasiyah ini.

4. Dakwah memerlukan pentahapan/marhalah dan orbit /mihwar dakwah.
Kalau kita mengkaji sirah nabawiyah dengan cermat, kita akan menemukan tahapan/marhalah dakwah yang dilalui oleh Rasulullah dalam mengemban risalah. Secara garis besar perjalanan dakwah itu dibagi ke dalam dua fase: Makkiyah dan Madaniyah. Dengan hijrah sebagai masa transisinya.

Lalu jika dirinci lagi, akan ada tiga marhalah dakwah yang dilalui dilihat dari metode dakwah dan strukturnya. Pertama, sirriyatud dakwah wa sirriyatud tandzim. Kedua, jahriyatud dakwah wa sirriyatut tandzim. Ketiga, jahriyatud dakwah wa jahriyatut tandzim.

Karenanya, dakwah sekarang pun perlu disusun sebuah strategi dengan marhalah/pentahapan dan mihwar/orbit yang jelas. Tidak berangkat dari satu titik lalu melompat ke puncak pendirian daulah, tanpa mempedulikan titik pertama itu di mana. Kalaupun kemudian daulah berdiri, maka ia akan menjadi rapuh, mudah digoyang, dikudeta, atau dirobohkan. Lalu dakwah kembali mulai dari titik nol.[muchlisin]
15:12 | 5 komentar

Strategi Dakwah: Sebuah Definisi


Seri strategi dakwah ini akan dimulai dengan pembahasan definisi. Pertama, kita akan mengetengahkan definisi strategi. Kedua, definisi dakwah. Dan ditutup dengan kesimpulan definisi strategi dakwah.

DEFINISI STRATEGI

Istilah strategi berasal dari kata Yunani "strategos", yaitu jendral dalam militer. Satu definisi umum dalam kamus adalah suatu “prosedur untuk mencapai tujuan” [Ostad, S.A. (1997a). Strategies competence: Issues of task-specific strategies in arithmetic. Nordic Studies in Mathematics Educations, 3, 7-32.]

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, strategi didefinisikan sebagai :
1. Ilmu dan seni menggunakan semua sumber daya bangsa(-bangsa) untuk melaksanakan kebijaksanaan tertentu dalam perang dan damai;
2. Ilmu dan seni memimpin bala tentara untuk menghadapi musuh dalam perang, dalam kondisi yg menguntungkan: sebagai komandan ia memang menguasai betul -- seorang perwira di medan perang;
3. Rencana yg cermat mengenai kegiatan untuk mencapai sasaran khusus;
4. Tempat yang baik menurut siasat perang;

Dalam Oxford Pocket Dictionary, strategi didefinisikan sebagai :
1. Seni perang, khususnya perencanaan gerakan pasukan, kapal, dan sebagainya menuju posisi yang layak;
2. Rencana tindakan atau kebijakan dalam bisnis atau politik dan sebagainya.

Menurut Djoko Luknanto (UGM, 2003, http://luk.staff.ugm.ac.id) strategi adalah:
“The science and art” untuk memanfaatkan faktor-faktor lingkungan eksternal secara terpadu dengan faktor-faktor lingkungan internal untuk mencapai tujuan lembaga.

Dari berbagai definisi diatas dapat diambil kesimpulan bahwa strategi adalah:
Cara atau metode terbaik untuk mencapai tujuan atau beberapa sasaran dengan memanfaatkan faktor-faktor lingkungan eksternal secara terpadu dengan faktor-faktor internal.

DEFINISI DAKWAH

Ad-da’watu (الدعوة) berasal dari kata da’aa – yad’uu (يدعو - دعا). Kata ini punya arti: طلب thalaba (meminta), حث على hatstsa ‘alaa… (menganjurkan kepada…) dan ساق إلى saaqa ilaa… (menuntun kepada…) [kamus Al-mu’jamul Wasith, hal.698)

Dalam dunia pergerakan dakwah, makna dakwah yang cukup populer adalah :
دعوة الناس إلى الله بالحكمة والموعظة الحسنة حتى يكفروابالطاغوت ويؤمنوا بالله ليخرجوا من ظلمات الجاهلية إلى نور الإسلام
Mengajak manusia kepada Allah dengan hikmah dan nasihat yang baik, sehingga mereka meninggalkan thaghut dan beriman kepada Allah agar mereka keluar dari kegelapan jahiliyah menuju cahaya Islam.

Dengan demikian titik akhir atau ghayatul ghayah dari dakwah adalah menyemai (baca : merealisasikan) kehendak-kehendak Allah SWT di bumi.

DEFINISI STRATEGI DAKWAH


Jadi, Strategi Dakwah adalah :
Cara atau metode yang efektif mengajak manusia kepada (ajaran) Allah sehingga terealisasilah kehendak-kehendak Allah SWT di muka bumi.
08:11 | 4 komentar

Filosofi Angsa: Sebuah Renungan

Written By Admin BeDa on Selasa, 28 April 2009 | 07:31


Berikut ini adalah Taujih Pekanan yang ke-10. Sumber taujih ini masih sama dengan sebelumnya yaitu Buku Seri Taujihat Pekanan. Semoga tema Filosofi Angsa ini bisa menjadi renungan dan inspirasi bagi kita dan jamaah dakwah. Selamat membaca.
***

Ikhwah fillah…

Mari kita renungkan ayat berikut ini:
أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يُسَبِّحُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالطَّيْرُ صَافَّاتٍ كُلٌّ قَدْ عَلِمَ صَلَاتَهُ وَتَسْبِيحَهُ وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِمَا يَفْعَلُونَ
“Tidakkah kamu tahu bahwasanya Allah, kepada-Nya bertasbih apa yang di langit dan di bumi dan (juga) burung dengan mengembangkan sayapnya. Masing-masing telah mengetahui (cara) sembahyang dan tasbihnya dan Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.” (QS. An-Nur : 41)

Ikhwah fillah…
Sesuai tema pokok kita pada taujih kali ini, mari kita tadabburi ayat di atas, lantas mari kita tafakkuri kehidupan angsa, sebagaimana dalam pembahasan berikut.

Kalau kita tinggal di negara empat musim, maka pada musim gugur akan terlihat rombonganangsa terbang ke arah selatan untuk menghindari musim dingin. Angsa-angsa tersebut terbang dengan formasi berbentuk huruf “V”. kita akan melihat beberapa fakta ilmiah tentang mengapa rombongan angsa tersebut terbang dengan formasi “V”.

Fakta pertama

Saat setiap burung mengepakkan sayapnya, hal itu memberikan daya dukung bagi burung yang terbang tepat di belakangnya. Ini terjadi karena burung yang terbang di belakangnya tidak perlu bersusah payah untuk menembus ‘dinding udara’ di depannya. Dengan terbang dalam formasi “V”, seluruh kawanan dapat menempuh jarak terbang 71% lebih jauh dari pada kalau setiap burung terbang sendirian.

Dari fakta ini, pelajaran yang dapat kita petik untuk kehidupan berjamaah adalah: ketika kita bergerak dalam arah dan tujuan yang sama serta saling membagi dalam komunitas diantara kita, insya Allah dapat mencapai tujuan kita dengan lebih cepat dan lebih mudah. Ini terjadi karena kita menjalaninya dengan saling mendorong dan mendukung satu dengan yang lain.

Fakta kedua

Kalau seekor angsa keluar dari formasi rombongan, ia akan merasa berat dan sulit terbang sendirian. Dengan cepat ia akan kembali ke dalam formasi untuk mengambil keuntungan dari daya dukung yang diberikan burung di depannya.

Dari fakta ini, pelajaran yang dapat kita petik untuk kehidupan berjamaah adalah: kalau kita memiliki cukup logika umum seperti seekor angsa, kita akan tinggal dalam formasi dengan saudara-saudara kita yang berjalan di depan. Kita akan mau menerima bantuan dan memberikan bantuan kepada yang lainnya. Lebih sulit untuk melakukan sesuatu seorang diri dari pada melakukannya bersama-sama.

Fakta ketiga

Ketika angsa pemimpin yang terbang di depan menjadi lelah, ia terbang memutar ke belakang formasi, dan angsa lain akan terbang menggantikan posisinya.

Dari fakta ini, pelajaran yang dapat kita petik untuk kehidupan berjamaah adalah: sungguh masuk akal untuk melakukan tugas-tugas yang sulit dan penuh tuntutan secara bergantian dan memimpin secara bersama. Seperti halnya angsa, manusia saling bergantung satu dengan lainnya dalam hal kemampuan, kapasitas, dan memiliki keunikan dalam karunia, talenta, atau sumber daya lainnya.

Fakta keempat
Angsa-angsa yang terbang dalam formasi ini mengeluarkan suara riuh rendah dari belakang untuk memberikan semangat kepada angsa yang terbang di depan sehingga kecepatan terbang dapat dijaga.

Dari fakta ini, pelajaran yang dapat kita petik untuk kehidupan berjamaah adalah: kita harus memastikan bahwa suara kita akan memberikan kekuatan. Dalam kelompok yang saling menguatkan, hasil yang dicapai menjadi lebih besar. Kekuatan yang mendukung (berdiri dalam satu hati atau nilai-nilai utama dan saling menguatkan) adalah kualitas susara yang kita cari. Kita harus memastikan bahwa suara kita akan menguatkan dan bukan melemahkan.

Fakta kelima

Ketika seekor angsa menjadi sakit, terluka, atau ditembak jatuh, du angsa lain akan ikut keluar dari formasi bersama angsa tersebut dan mengikutinya terbang turun untuk membantu dan melindungi. Mereka tinggal dengan angsa yang jatuh itu sampai ia mati atau dapat terbang lagi. Setelah itu mereka akan terbang dengan kekuatan mereka sendiri atau dengan membentuk formasi lain untuk mengejar rombongan mereka.

Dari fakta ini, pelajaran yang dapat kita petik untuk kehidupan berjamaah adalah: kalau kita punya perasaan, setidaknya seperti seekor angsa, kita akan tinggal bersama sahabat dan sesama kita dalam saat-saat sulit mereka, sama seperti ketika segalanya baik.

Sungguh dalam setiap ciptaan Allah, terdapat pelajaran bagi kaum yang berfikir. Burung, sebagaimana yang Allah firmankan, juga umat seperti kita. Dan dari kehidupan mereka, kita banya mendapat pelajaran.
وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا طَائِرٍ يَطِيرُ بِجَنَاحَيْهِ إِلَّا أُمَمٌ أَمْثَالُكُمْ مَا فَرَّطْنَا فِي الْكِتَابِ مِنْ شَيْءٍ ثُمَّ إِلَى رَبِّهِمْ يُحْشَرُونَ
“Dan tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat (juga) seperti kamu. Tiadalah kami alpakan sesuatu dalam Al-Kitab, kemudian kepada Tuhanlah mereka dihimpunkan.” (QS. Al-An’am : 38)
Wallaahu a’lam. [sumber: Buku Seri Taujihat Pekanan Jilid 2]
07:31 | 5 komentar

Sirah Shahabat: Saad bin Abi Waqas

Written By Admin BeDa on Senin, 27 April 2009 | 07:53


Alhamdulillah, blog ini dapat menghadirkan kembali seri Sirah Sahabat untuk kesekian kalinya. Kali ini kita akan mengetengahkan kisah Saad bin Abi Waqas. Semoga kita dimudahkan Allah SWT untuk mengambil hikmah dari setiap Sirah Sahabat dan meneladani mereka. Amiin.

Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.
Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. (QS. Luqman : 14-15)

Ayat-ayat yang mulia ini mempunyai latar belakang kisah tersendiri dan mengejutkan; menyebabkan satu golongan diantara dua golongan yang bertentangan jatuh terbanting, berhubungan dengan pribadi seorang pemuda lemah lembut. Akhirnya kemenangan berada di pihak yang baik dab beriman.

Tokoh kisah ini adalah seorang pemuda Makkah dari keturunan terhormat, dan dari ibu bapak yang mulia. Nama pemuda itu Saad bin Abi Waqas.

Tatkala cahaya kenabian memancar di kota Makkah, Saad masih muda belia, penuh perasaan belas kasih, banyak bakti kepada ibu bapak, dan sangat mencintai ibunya. Walaupun Saad baru menjelang usia 17 tahun, namun dia telah memiliki kematangan berpikir dan kedewasaan bertindak. Dia tidak tertarik kepada aneka macam permainan yang menjadi kegemaran pemuda-pemuda sebayanya. Bahkan dia mengarahkan perhatiannya untuk bekerja membuat panah, memperbaiki busur, dan berlatih memanah, seolah-olah dia sedang menyiapkan diri untuk suatu pekerjaan besar. Dia juga tidak puas dengan kepercayaan/agama sesat yang dianut bangsanya, serta kerusakan masyarakat, seolah-olah dia sedang menunggu uluran tangan yang kokoh kuat, penuh kasih sayang, untuk mengubah keadaan gelap gulita menjadi terang benderang.

Sementara itu, Allah SWT menghendaki akan menaikkan harkat kemanusiaan yang telah merosot, secara keseluruhan dan merata, melalui pribadi yang belas kasih itu, yaitu melalui penghulu segala makhluk, Muhammad bin Abdullah. Dalam genggamannya memancar sinar petunjuk ketuhanan yang tidak tercela, yaitu Kitabullah.

Saad segera memenuhi panggilan yang berisi petunjuk dan haq ini (agama Islam), sehingga dia tercatat sebagai orang ketiga atau keempat yang masuk Islam. Bahkan dia sering berucap dengan penuh kebanggaan: “Setelah aku renungkan selama seminggu, maka aku masuk Islam sebagai orang ketiga.”

Rasulullah SAW sangat bersuka cita dengan Islamnya Saad. Karena beliau melihat pada pribadi Saad terdapat ciri-ciri kecerdasan dan kepahlawanan yang menggembirakan. Seandainya kini dia ibarat bulan sabit, maka dalam tempo singkat dia akan menjadi bulan purnama yang sempurna.

Keturunan dan status sosialnya yang mulia dan murni, melapangkan jalan baginya untuk mengajak pemuda-pemuda Makkah mengikuti langkahnya masuk Islam seperti dia. Di samping itu, sesungguhnya Saad termasuk paman nabi SAW juga. Karena dia adalah keluarga Aminah binti Wahab, ibunda Rasulullah SAW.

Rasulullah sangat membanggakan pamannya. Pernah diceritakan, pada suatu ketika beliau sedang duduk-duduk bersama beberapa orang shahabat. Tiba-tiba beliau melihat Saad bin Abi Waqas datang. Lalu beliau berkata kepada para shahabat yang hadir, “Inilah pamanku. Coba tunjukkan kepadaku, siapa yang punya teman seperti pamanku!”

Tetapi, Islamnya Saad tidak langsung memberikan kemudahan yang mengenakkan baginya. Sebagai pemuda muslim, dia ditantang dengan berbagai tantangan, ujian, serta cobaan-cobaan berat dan keras. Ketika cobaan-cobaan itu telah sampai di puncaknya, Allah SWT menurunkan wahyu mengenai peristiwa yang dialaminya. Marilah kita dengarkan kisahnya.

Kata Saad bercerita: Tiga malam sebelum aku masuk Islam, aku bermimpi, seolah-olah aku tenggelam dalam kegelapan yang tindih menindih. Ketika aku sedang mengalami puncak kegelapan itu, tiba-tiba kulihat bulan memancarkan cahaya sepenuhnya, lalu kuikuti bulan itu. aku melihat tiga orang telah lebih dahulu berada di hadapanku mengikuti bulan tersebut. Mereka itu ialah Zaid bin Haritsh, Ali bin Abu Thalib, Abu Bakar Ash-Shidiq. Aku bertanya kepada mereka: Sejak kapan Anda bertiga di sini? Belum lama, jawab mereka.

Setelah hari siang, aku mendapat kabar, Rasulullah SAW mengajak orang-orang kepada Islam secara diam-diam. Yakinlah aku, sesungguhnya Allah SWT menghendaki kebaikan bagi diriku, dan dengan Islam Allah akan mengeluarkanku dari kegelapan kepada cahaya terang. Aku segera mencari beliau, sehingga bertemu dengannya pada suatu tempat ketika dia sedang shalat Ashar. Aku menyatakan masuk Islam di hadapan beliau. Belum ada orang mendahuluiku masuk Islam, selain mereka bertiga seperti yang terlihat dalam mimpiku.

Saad melanjutkan kisahnya masuk Islam. Ketika ibuku mengetahui aku masuk Islam, dia marah bukan kepalang. Padahal aku anak yang berbakti dan mencintainya. Ibu memanggilku dan berkata: “Hai Saad! Agama apa yang engkau anut, sehingga engkau meninggalkan agama ibu bapakmu? Demi Allah! Engkau harus meninggalkan agama barumu itu! atau aku mogok makan minum sampai mati…! Biar pecah jantungmu melihatku, dan penuh penyesalan karena tindakanmu sendiri, sehingga semua orang menyalahkan dan mencelamu selama-lamanya.”

Jawabku: “Jangan lakukan itu, Bu! Tetapi aku tidak akan meninggalkan agamaku biar bagaimanapun.”

Ibu tegas dan keras melaksanakan ucapannya. Beliau benar-benar mogok makan minum. Sehingga tubuh dan tulang-belulangnya lemah, menjadi tidak berdaya sama sekali. Terakhir, aku mendatangi ibu untuk membujuknya supaya dia mau makan dan minum walaupun agak sedikit. Tetapi ibu memang keras. Beliau tetap menolak dan bersumpah akan tetap mogok makan sampai mati, atau aku meninggalkan agamaku, Islam.

Aku berkata kepada ibu: “Ibu! Sesungguhnya aku sangat mencintai ibu. Tetapi aku lebih cinta kepada Allah dan Rasul-Nya. Demi Allah! Seandainya ibu memiliki seribu jiwa, lalu jiwa itu keluar dari tubuh ibu satu per satu (untuk memaksaku keluar dari agamaku) sungguh aku tidak meninggalkan agamaku karenanya.”

Tatkala ibu melihatku bersungguh-sungguh dengan ucapanku, dia pun mengalah. Lalu dia menghentikan mogok makan sekalipun dengan perasaan terpaksa.

Maka Allah SWT menurunkan firman-Nya kepada Nabi Muhammad SAW:
“Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik,”

Setelah Saad masuk Islam, dia lantas berjasa terhadap Islam dan kaum muslimin dengan prestasi baik dan tinggi. Dalam perang Badar, Saad ikut berperang bersama-sama adiknya Umair. Ketika itu Umair masih muda remaja, belum lama mencapai usia baligh. Tatkala Rasulullah SAW memerintahkan tentara muslimin berkumpul dan bersiap sebelum berangkat perang, Umair bersembunyi-sembunyi, takut kalau-kalau dia tidak diperbolehkan Rasulullah turut berperang, karena usianya masih kecil. Tetapi Rasulullah tetap melihatnya, lalu tidak memperbolehkannya ikut. Umair menangis, sehingga Rasulullah merasa kasihan, dan akhirnya membolehkan Umair turut berperang. Saad mendatangi adiknya dengan gembira, lalu mengikatkan pedang di bahu Umair, karena tubuhnya yang kecil. Kedua saudara itu pergi berperang berjuang bersama fi sabilillah.

Seusai peperangan Saad kembali ke Madinah seorang diri. Sedangkan adiknya, Umair tinggal di bumi Badar sebagai syuhada’. Saad merelakan adiknya ke pangkuan Allah SWT dengan mengharap pahala dari-Nya.

Ketika tentara kaum muslimin lari kucar-kacir dalam perang Uhud, Rasulullah SAW tinggal di medan tempur dengan kelompok kecil tentara kaum muslimin, tidak lebih dari sepuluh orang. satu diantaranya ialah Saad bin Abi Waqas. Sa’ad berdiri melindungi Rasulullah SAW dengan panahnya. Tidak satupun anak panah yang dilepaskan Saad dari busur melainkan mengenai sasaran dengan jitu, dan orang musyrik yang terkena, tewas seketika.

Tatkala dilihat Rasulullah SAW Sa’ad seorang pemanah jitu, beliau berkata memberinya semangat “Panahlah, hai Saad! Panahlah…! Bapak dan ibuku menjadi tebusanmu!”

Saad sangat bangga sepanjang hidupnya dengan ucapan Rasulullah itu. sehingga Saad pernah pula berkata, tidak pernah Rasulullah berucap kepada seorang jua pun, mempertaruhkan kedua ibu bapaknya sekalipun sebagai tebusan, melainkan hanya kepadaku.”

Namun puncak kejayaan Saad, ialah ketika Khalifah Umar Al-Faruq bertekad menyerang kerajaan Persia, untuk menggulingkan pusat pemerintahannya, dan mencabut agama berhala sampai ke akar-akarnya di permukaan bumi. Khalifah Umar memerintahkan kepada setiap Gubernur dalam wilayah kekuasaannya, supaya mengirim kepadanya setiap orang yang mempunyai senjata, atau kuda, atau setiap orang yang mempunyai keberanian, kekuatan atau orang yang berpikiran tajam, yang mempunyai suatu keahlian seperi syair, berpidato dan sebagainya, yang dapat membantu memenangkan perang. Maka tumpah ruahlah ke Madinah para pejuang muslim dari setiap pelosok. Setelah semuanya selesai melapor, Khalifah Umar merundingkan dengan para pemuka yang berwenang, siapa kiranya yang pantas dan dipercaya untuk diangkat menjadi panglima angkatan perang yang besar itu. mereka sepakat dengan aklamasi menunjuk Saad bin Abi Waqas, singa yang menyembunyikan kuku. Lalu khalifah menyerahkan panji-panji perang kaum muslimin kepadanya dengan resmi, dalam pengangkatannya menjadi panglima.

Sewaktu angkatan perang yang besar itu hendak berangkat, Khalifah Umar berpidato memberi amanat dan perintah harian kepada Saad.

Katanya, “Hai Saad! Janganlah engkau terpesona, sekalipun engkau paman Rasulullah dan shahabat beliau. Sesunggunya Allah tidak menghapus suatu kejahatan dengan kejahatan. Tetapi Allah menghapus kejahatan dengan kebaikan. Hai, Saad! Sesungguhnya tidak ada hubungan kekeluargaan antara Allah dengan seseorang melainkan dengan mentaati-Nya. Segenap manusia sama di sisi Allah, baik dia bangsawan atau rakyat jelata. Allah adalah Tuhan mereka dan mereka semuanya adalah hamba-hambaNya. Mereka berlebih berkurang karena taqwa, dan memperoleh karunia dari Allah karena taat. Perhatikanlah cara Rasulullah, yang engkau telah mengetahuinya, maka tetaplah ikuti cara beliau itu.”

Maka berangkatlah pasukan yang diberkati Allah itu menuju sasaran. Di dalamnya terdapat 99 orang alumni pahlawan perang badar, lebih kurang 319 orang para shahabat yang tergolong dalam baiatur ridlwan, 300 orang pahlawan yang ikut dalam penaklukan Makkah bersama-sama Rasulullah SAW, 700 orang putra-putra shahabat, dan pejuang-pejuang muslim lainnya (yang keseluruhan berjumlah 30.000 orang).

Sampai di Qadisiyah, Saad menyiagakan seluruh pasukannya dan bertempur hebat. Pada hari itu sebagai hr yang menentukan. Mereka mengepung musuh dengan ketat, lalu maju ke depan dari segala arah, sambil membaca takbir.

Dalam pertempuran itu, kepala Rustam, panglima tentara Persia, berpisah dengan tubuhnya oleh lembing kaum muslimin. Maka merasuklah rasa takut dan gentar ke dalam hati musuh-musuh Allah. Sehingga dengan mudah kaum muslimin menghadapi para prajurit Persia dan membunuh mereka. Bahkan kadang-kadang mereka membunuh dengan senjata musuh itu sendiri.

Saad bin Abi Waqas dikaruniai Allah usia lanjut. Dia dicukupi kekayaan yang lumayan. Tetapi ketika wafat telah mendekatinya, dia hanya meminta sehelai jubah usang. Katanya, “Kafani aku dengan jubah ini. Dia kudapatkan dari seorang musyrik dalam perang badar. Aku ingin menemui Allah dengan jubah itu.” [sumber: Kepahlawanan Generasi Shahabat Rasulullah SAW]
07:53 | 8 komentar

Warga al Quds dan Palestina ’48 Berhasil Gagalkan Serbuan Yahudi di al Aqsha

Written By Admin BeDa on Sabtu, 18 April 2009 | 15:14


Alquds – Mobilisasi massa warga al Quds bekerjasama dengan warga Palestina di wilayah Palestina 1948 berhasil menggagalkan upaya para pemukim Yahudi menyerbu masjid al Aqsha dalam rangka perayaan hari raya mereka, Kamis (16/04).

Sebelumnya gerakan Hamas telah menyerukan umat Arab dan Islam bergerak cepat untuk mencegah yahudisasi yang dilakukan otoritas penjajah Zionis Israel terhadap kota al Quds dan masjid al Aqsha.

Seruan Penggalangan Solidaritas

Petinggi Hamas Ismail Ridwan dalam pernyataan pers kemarin, Kamis (16/04), mengatakan bahwa gerakan Hamas menyerukan umat Arab dan Islam untuk bergerak segera menghentikan siasat yahudisasi al Quds dan hilangnya identitas Arab dan Islam di kota al Quds. Menurutnya, penjajah Zionis Israel tengah bermain dengan api dan berupaya merubah fitur-fitur kota suci tersebut dan membuat rencana pengusiran warga Palestina di al Quds.

Ikatan Ulama Palestina juga meminta Liga Arab serta negara-negara Arab dan Islam untuk mengambil sikap sungguh-sungguh memaksa penjajah Zionis Israel menghentikan pelanggaran dan penistaannya terhadap kehormatan kaum muslimin dan tempat suci mereka. Ikatan Ulama Palestina menyerukan penggalang aksi massa pari hari Jum’at ini.

Dalam pernyataannya kemarin, Kamis (16/04), Ikatan Ulama Palestina menegaskan pentingnya dunia Islam mengambil sikap yang seharusnya terhadap penistaan tempat-tempat suci Islam di Palestina. Pihaknya menyerukan kepada rakyat Arab dan dunia Islam agar menekan pemerintahnya dengan segala cara yang mungkin demi menghentikan serangan biadab terhadap tempat-tempat suci Islam. Karena kalau tidak masa semua berdosa karena telah melalaikan masalah ini.

KTT Islam dan Sidang Darurat DK PBB

Sebelumnya, Menteri Wakaf dan Urusan Agama Palestina Dr. Thalib Abu Shaer telah meminta Komisi al Quds yang dihasilkan dari KTT Islam untuk mengadakan KTT Islam segera dan secepatnya guna membahas serangan dan pelanggaran Israel yang berulang-ulang terhadap kota al Quds dan masjid al Aqsha.

Dalam konferensi pers, Rabu (15/04), Abu Shaer meminta Dewan Keamanan PBB mengadakan sidang darurat guna meneropong pelanggaran-pelanggaran tidak manusiawi dan membahasnya, juga pelanggaran-pelanggaran biadab yang dilakukan penjajah Zionis Israel terhadap tempat-tempat suci Islam. Dia mengingatkan penjajah Israel atas arogansinya yang melakukan segela kebodohan terhadap kota al Quds dan masjid al Aqsha.

Dia menyerukan umat Islam dan Arab serta partai-paratai dan organisasi-organisasi Islam dan nasional untuk melakukan aksi solidaritas terhadap warga al Quds yang mengalami pengusiran paling biadab dalam sejarah. Dia juga menyerukan kepada warga Palestina di tanah Palestina jajahan 1948 dan al Quds untuk melakukan mobilisasi besar-besaran ke masjid al Aqsha guna melindunginya dari serangan kaum Zionis.

Abu Shaer memaparkan secara global serangan dan pelanggaran yang dilakukan Zionis Israel terhadap masjid al Aqsha. Dia mengatakan, “Penjajah Zionis Israel telah menyiapkan 50 rencana yahudisasi al Quds serta penghapusan indentitas kearaban dan keislamannya, dan mendirikan al Quds raya yang direncanakan untuk menggabungkan 84 permukiman Yahudi.”

Dia menambahkan, “Penjajah Zionis Israel juga telah menyiapkan rencana untuk membangun lebih dari 73 unit rumah di al Quds dan menyerahkan ancaman penghancuran ratusan rumah warga di kampung Abbasiyah dan Silwan.” Penjajah Israel juga telah mencuri batu purbakala berukuran besar dari masjid al Aqsha dan dibawa dipindahkan di depan gedung “Knesset’ Israel.

Abu Shaer mengatakan, “Aksi Zionis Israel meningkat hari-hari belakangan ini terhadap masjid al Aqsha. Mereka telah memberi perintah penghancuran lebih dari 55 gang perumahan di Ra’s Khamis.”

Dia melanjutkan, “Penyerbuan kaum ektrimis Yahudi terhadap masjid al Aqsha terjadi berulang-ulang dengan mendapat pelindungan dari kepolisian Zionis Israel. Dan hari ini mereka akan meningkatkan aksinya. Untuk itu mereka menghimpun pasukan dari kaum ekstrimis.”

Mobilisasi Massa ke al Aqsha


Sejak Kamis (16/4) pagi, warga Palestina di al Quds dan di wilayah Palestina jajahan 1948 telah berbondong-bondong menuju masjid al Aqsha untuk menyambut seruan “Harakah Islamiyah” palestina di wilayah jajahan 1948 dalam rangka menghadapi upaya penyerangan kelompok radikal Zionis ke pelataran al Aqsha.

Dalam sambutanya, Wakil Ketua Harakah Islamiyah Kamal al Khotib menegaskan, rakyat Palestina sedang berkumpul untuk memberi perlindungan kepada al Aqsha. Mereka berjanji akan melindungi al Aqsha dengan jiwa dan raganya. “Kami katakan, ‘wahai al Aqsha engkau saat ini tidak sendirian’. Ini bukan hanya slogan tetapi sebuah janji yang harus ditepati. Inilah keyakinan kami, iman kami dan ibadah kami. Kami berkumpul di sini dengan izin Allah untuk memberikan perlindungan pada al Aqsha. Kami akan membayarnya dengan darah dan nyawa kami.”

Di sisi lain, Mufti Baitul Maqdis, Syaikh Muhammad Husen menambahkan, hingga saat ini, masjid al Aqsha belum termasuk dan tidak akan pernah menjadi bagian dari perundingan. Sebab akidah islam menegaskan tentang status keislaman dan kearaban al Aqsha.

Dia meminta rakyat Palestina tidak perlu mendengarkan selogan-selogan bodoh yang mendorong agar al Aqsha masuk dalam agenda perundingan. Ia menegaskan, rakyat Palestina telah banyak berkorban demi keutuhan al Aqsha dan akan terus begitu hingga akhir zaman.

Husen mengatakan, “Kita adalah pemilik sah al Aqsha. Oleh karena itu, tidak heran dengan banyaknya kaum muslimin yang mengunjungi al Aqsha sejak Kamis pagi. Langkah ini merupakan gambaran bahwa rakyat Palestina, baik laki-laki ataupun perempuanya siap mempertahankan al Aqsha dengan cara apapun.” (seto, infopalestina.com)
15:14 | 0 komentar

Rumah Syaikh Yusuf al-Qardhawi Akan Dihancurkan


Doha - Sebuah sumber yang dipercaya dekat dengan Syaikh Dr. Yusuf al-Qardhawi, menyatakan jika rumah milik ulama terkemuka yang juga ketua ikatan ulama Muslim internasional itu akan digusur dan dihancurkan.

Penggusuran dan penghancuran rumah milik Syaikh al-Qardhawi, dan rumah-rumah lain di sekitarnya di kawasan Wadi as-Sayl, Doha, merupakan kebijakan pemerintahan Qatar yang akan menjadikan kawasan tersebut sebagai kawasan hunian apartemen baru dan taman kota.

Pemerintah Qatar sendiri telah memperingatkan para penghuni Wadi al-Sayl untuk segera meninggalkan daerah tersebut dalam jangka waktu tertentu. Pihak pemerintah juga telah memberikan uang pengganti dan lahan kawasan hunian baru.

Rumah Syaikh Yusuf al-Qardhawi terletak di bilangan yang sangat strategis dan elit. Rumah-rumah di kawasa tersebut tampak mewah, luas, dan memiliki tetaman, layaknya istana. Para tetangga Syaikh al-Qardhawi sendiri kebanyakan para menteri negara, duta besar, dan orang-orang papan atas lain.

Terkait kebijakan pemerintah ini, Syaikh al-Qardhawi menanggapinya dengan legawa, meski sangat berat.

"Ini adalah musibah besar. Pemulihan atasnya butuh bertahun-tahun," kata al-Qardhawi sebagaimana diungkapan sumber tersebut.

Reaksi ulama lulusan Universitas al-Azhar, Mesir, itu tidaklah berlebihan. Pasalnya, yang menjadikan keberatan pindah rumah bagi beliau adalah "membongkar dan menata ulang" perpustakaan pribadinya yang luar biasa besar.

Perpustakaan pribadi Syaikh asal Qardha, Mesir, itu menghimpun lebih dari 30.000 koleksi buku-buku rujukan pokok (ummahat al-kutub), ratusan ribu buku-buku lainnya. Kitab karangan beliau sendiri lebih dari 150 judul.

Hal tersebut belum mencakup kaset-kaset, cd, video, dan dokumen-dokumen pribadi yang penting lainnya.

Kesemua koleksi perpustakaan tersebut tersusun dan tertata (munazhzham dan mufahras) dari a hingga z secara tertata.

Syaikh al-Qardhawi sendiri mengaku, untuk menata perpustakaan pribadinya, beliau membutuhkan waktu selama kurang lebih 1,5 tahun.

"Perpustakaan tersebut adalah salah satu mimpi saya yang menjadi kenyataan," ungkap Syaikh al-Qardhawi. (arb/L2 Cairo, eramuslim.com)
15:05 | 0 komentar

Menumbuhkan Kecintaan Kepada Surga

Written By Admin BeDa on Senin, 13 April 2009 | 09:00


Berikut ini adalah seri Taujih Pekanan yang ke-9. Tema yang dihadirkan kali ini adalah Menumbuhkan Kecintaan Kepada Surga. Taujih Pekanan ini masih tetap diambil dari sumber yang sama yaitu Buku Seri Taujihat Pekanan. Selamat membaca!

Ikhwah dan akhwat fillah ….

Surga adalah suatu pembalasan yang agung, pahala tertinggi bagi hamba Allah yang taat. Surga merupakan suatu kenikmatan sempurna. Tak ada sedikit pun kekurangannya. Tak ada kemuraman di dalamnya.

Ikhwah dan akhawat fillah …
Penggambaran surga yang difirmankan Allah dan disabdakan Nabi SAW, memang hampir tak mampu kita gambarkan dengan otak dan imajinasi kita yang terbatas ini. Betapa sulit membayangkan kenikmatan yang demikian besar. Sungguh kemampuan imajinasi kita akan terbentur pada keterbatasannya.

Kita coba ungkapkan dalam angan hadits Qudsi yang menceritakan tentang gambaran surga berikut ini:
أعددت لعبادي الصالحين ما لا عين رأت ولا أذن سمعت ولا خطر على قلب بشر ذخرا بله ما أطلعتم عليه ) . ثم قرأ { فلا تعلم نفس ما أخفي لهم من قرة أعين جزاء بما كانوا يعملون }
“Kami sediakan bagi hamba-hamba-Ku yang saleh sesuatu yang tak pernah terlihat oleh mata, tak pernah terdengar oleh telinga, dan tak pernah terlintas oleh hati manusia. Kalau kalian mau, bacalah ‘Maka seorang pun tak mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka, yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyedapkan pandangan mata sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan (As-sajdah: 17)’.” (HR. Bukhari)

Ikhwah dan akhwat fillah ….
Allah SWT menentukan hari masuknya ke surga pada waktu tertentu dan memutuskan jatah hidup di dunia pada batas waktu tertentu, serta menyiapkan di dalam surga berbagai kenikmatan yang tidak pernah dilihat oleh mata, didengar oleh telinga, dan terlintas dalam hati.
إذا مات أحدكم عرض عليه مقعده غدوة وعشية إما النار وإما الجنة فيقال هذا مقعدك حتى تبعث إليه
“Sesungguhnya jika salah seorang dari kalian meninggal dunia, maka kursinya diperlihatkan kepadanya setiap pagi dan petang. Jika ia penghuni surga, maka ia adalah penghuni surga. Jika ia penghuni neraka, maka ia adalah penghuni neraka. Kemudian dikatakan, “Inilah kursimu,” hingga Allah Ta’ala membangkitkanmu pada hari Kiamat nanti.” (HR. Bukhari-Muslim)

Sungguh, Nabi Muhammad SAW telah melihat di dekatnya terdapat surga tempat tinggal, sebagaimana disebutkan dalam Shahih Bukhari Shahih Muslim, hadits dari Anas r.a. dalam kisah Isra’ dan Mikraj. Pada akhir hadits tersebut dijelaskan:
“Jibril berjalan terus hingga di Sidratul Muntaha dan ternyata Sidratul Muntaha ditutup dengan warna yang tidak aku ketahui. Kata Rasulullah Saw. lebih lanjut, “Kemudian aku masuk ke dalam surga dan ternyata di dalamnya terdapat kubah dari mutiara dan tanahnya beraroma kesturi.” (HR. Bukhari-Muslim)

Simaklah sebuah puisi tentang surga:

Kalian, wahai penghuni surga, kalian di surga ini
tetap dalam kenikmatan dan tak pernah terputus
dan hidup terus dan tidak akan mati.
Kalian berdomisili di sini terus dan tak akan pindah tempat.
Dan kalian muda terus serta tidak tua.


Allah Swt. berfirman:
وَسِيقَ الَّذِينَ اتَّقَوْا رَبَّهُمْ إِلَى الْجَنَّةِ زُمَرًا حَتَّى إِذَا جَاءُوهَا وَفُتِحَتْ أَبْوَابُهَا وَقَالَ لَهُمْ خَزَنَتُهَا سَلَامٌ عَلَيْكُمْ طِبْتُمْ فَادْخُلُوهَا خَالِدِينَ [الزمر/73]
“Dan orang-orang yang bertakwa kepada Rabbnya dibawa ke dalam surga berombong-rombongan. Sehingga apabila mereka sampai ke surga itu sedang pintu-pintunya talah terbuka dan berkatalah kepada mereka penjaga-penjaganya, “Kesejahteraan (dilimpahkan) atas kalian, berbahagialah kalian! Maka masukilah surga ini, sedang kalian kekal di dalamnya.” (QS. Az-Zumar: 73)

Ikhwah dan akhwat fillah ….
Cobalah renungkan ketika kelompok di atas digiring menuju tempatnya di surga secara berkelompok. Kelompok yang bahagia bersama dengan saudara-saudaranya. Mereka digiring dengan bersatu padu, masing-masing dari mereka terlibat dalam amal perbuatan dan saling kerjasama dengan kelompoknya, serta memberi kabar gembira kepada orang-orang yang hatinya kuat sebagaimana di dunia pada saat mereka bersatu dalam kebaikan. Selain itu, setiap orang dari mereka akrab dengan lainnya dan saling canda antarsesamanya.
جَنَّاتِ عَدْنٍ مُفَتَّحَةً لَهُمُ الْأَبْوَابُ (50) مُتَّكِئِينَ فِيهَا يَدْعُونَ فِيهَا بِفَاكِهَةٍ كَثِيرَةٍ وَشَرَابٍ (51) [ص/50، 51]
“(Yaitu) Surga Adn yang pintu-pintunya terbuka bagi mereka. Di dalamnya mereka bertelekan (di atas dipan-dipan) sambil meminta buah-buahan yang banyak dan minuman di surga tersebut.” (QS. Shad: 50-51)

Anda perhatikan bahwa ada makna indah pada ayat di atas, yaitu ketika mereka telah masuk ke dalam surga, maka pintu itu tidak tertutup bagi mereka dan dibiarkan terbuka lebar. Sedangkan neraka, jika para penghuninya telah masuk ke dalamnya, maka pintu-pintu neraka langsung ditutup rapat bagi mereka. Allah Swt. berfirman:
إِنَّهَا عَلَيْهِمْ مُؤْصَدَةٌ [الهمزة/8]
“Sesungguhnya api itu di tutup rapat bagi mereka.” (QS. Al-Humazah: 8)

Dibiarkannya pintu-pintu surga terbuka untuk para penghuninya adalah isyarat bahwa mereka dapat bergerak secara leluasa. Serta masuknya para malaikat setiap waktu kepada mereka dengan membawa hadiah-hadiah dan rezeki untuk mereka dari Rabb mereka serta apa saja yang manggembirakan mereka dalam setiap waktu. Rasulullah Saw. bersabda:
“Di surga terdapat delapan pintu. Ada pintu yang namanya Ar-Rayyan yang hanya dimasuki oleh orang-orang yang puasa.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Rasulullah SAW juga bersabda:
( من أنفق زوجين في سبيل الله نودي من أبواب الجنة يا عبد الله هذا خير فمن كان من أهل الصلاة دعي من باب الصلاة ومن كان من أهل الجهاد دعي من باب الجهاد ومن كان من أهل الصيام دعي من باب الريان ومن كان من أهل الصدقة دعي من باب الصدقة )
فقال أبو بكر رضي الله عنه بأبي وأمي يا رسول الله ما على من دعي من تلك الأبواب من ضرورة فهل يدعى أحد من تلك الأبواب كلها ؟ . قال ( نعم وأرجو أن تكون منهم )
“Barang siapa yang berinfak dengan sepasang (unta atau kuda atau lainnya) di jalan Allah SWT maka ia dipanggil dari pintu-pintu surga. “Wahai hamba Allah, pintu ini lebih baik”. Barangsiapa yang rajin shalat, maka ia dipanggil di pintu shalat. Barangsiapa berjihad, maka ia dipanggil di pintu jihad. Barangsiapa rajin bersedekah, maka ia masuk dari pintu sedekah. Dan barangsiapa puasa, maka ia dipanggil dari pintu Ar-Rayyan. Abu Bakar berkata, “Wahai Rasulullah, apakah setiap orang dipanggil dari pintu-pintu tersebut? Adakah orang dipanggil dari semua pintu tersebut?” Rasulullah Saw. menjawab, “Ya, dan aku berharap engkau termasuk dari mereka.” (HR. Bukhari)

مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ يَتَوَضَّأُ فَيُبْلِغُ - أَوْ فَيُسْبِغُ - الْوُضُوءَ ثُمَّ يَقُولُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ إِلاَّ فُتِحَتْ لَهُ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ الثَّمَانِيَةُ يَدْخُلُ مِنْ أَيِّهَا شَاءَ
“Siapa di antara kalian yang berwudhu kemudian menyempurnakan wudhunya lalu membaca asyhadu an la ilaha illallah wahdahu la syarikalahu wa asyhadu anna muhammadan ‘abduhu warasuluhu, melainkan dibukakan baginya pintu-pintu surga yang berjumlah delapan dan ia masuk dari mana saja yang ia sukai.” (HR. Muslim)

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَمُوتُ لَهُ ثَلاَثَةٌ مِنَ الْوَلَدِ لَمْ يَبْلُغُوا الْحِنْثَ إِلاَّ تَلَقَّوْهُ مِنْ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ الثَّمَانِيَةِ مِنْ أَيِّهَا شَاءَ دَخَلَ
“Jika seorang Muslim mempunyai tiga orang anak yang belum baligh kemudian meninggal dunia, maka mereka menjumpainya di pintu-pintu surga yang delapan dan ia bebas masuk dari pintu mana saja yang ia sukai.” (Ibnu Majah)

Rasulullah Saw. juga menjelaskan tentang jarak pintu surga seraya bersabda:
“… Demi Muhammad yang jiwanya ada di Tangan-Nya, jarak antara dua daun pintu surga adalah seperti Makkah dan Hajar atau Hajar dan Makkah.” (HR. Bukhari)

Dalam redaksi lain, Rasulullah Saw. bersabda:
“Antara Makkah dan Hajar atau Makkah dengan Bushra.” (Hadits ini kesahihannya disepakati oleh pakar hadits)

Rasulallah Saw. bersabda:
“Kalian adalah penyempurna tujuh puluh umat. Kalian adalah umat yang terbaik dan termulia di sisi Allah. Jarak di antara dua daun pintu surga adalah empat puluh tahun. Pada suatu hari ia akan penuh sesak.” (HR. Ahmad)

“Pintu yang dimasuki penghuni surga jaraknya adalah sejauh perjalanan tiga kali lipat pengembara dunia yang ahli. Kemudian penghuni surga memenuhinya hingga pundak mereka nyaris lengkap.” (HR. Abu Nu’aim)

Mudah-mudahan kita semua diizinkan oleh Allah menjadi orang-orang yang senantiasa istiqamah di dalam meniti hidup dan kehidupan ini, sehingga ketika ruh ini dicabut oleh-Nya, kita menerima anugerah husnul khatimah, sehingga kita termasuk dan dimasukkan oleh Allah SWT ke dalam golongan hamba-Nya yang dipanggil dengan penuh kelembutan:
يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ (27) ارْجِعِي إِلَى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً (28) فَادْخُلِي فِي عِبَادِي (29) وَادْخُلِي جَنَّتِي (30) [الفجر/27-30]
“Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jamaah hamba-hamba-Ku.masuklah ke dalam surga-Ku.” (QS. Al-Fajr: 27-30)

Amin, ya mujibas-sa’ilin. [sumber: Buku Seri Taujihat Pekanan Jilid 2]
09:00 | 6 komentar

Laporan: 423 Bocah Palestina di Penjara Israel, 80 Diantaranya Sakit

Written By Admin BeDa on Senin, 06 April 2009 | 13:01


Gaza : Pusat Advokosi Tahanan Palestina menegaskan bahwa pemerintah penjajah Israel masih menahan di penjara sebanyak 423 bocah di bawah usia 18 tahun dengan kondisi yang sangat sulit. Dinas tahanan Israel melakukan berbagai tekanan dan tindakan represif kepada mereka secara psikologi bahkan pada tingkat pelecehan seksual antar mereka.

Seperti yang diterima oleh Infopalestina laporan menegaskan kemarin Ahad (5/4) bahwa dari jumlah itu 231 bocah yang ditahan sudah divonis oleh Israel, 182 anak belum divonis, 10 bocah masih dalam status tahanan administrative.

Laporan juga menegaskan bahwa dinas penjara Israel mengalami sakit dan membutuhkan perawatan medis yang dibiarkan oleh Israel. Negara zionis juga masih menahan tahanan terkecil di dunia yakni Yusuf Ziq anak dari tahanan wanita Palestina Fatimah Ziq yang dilahirkannya di RS Maer di Kafr Saba pada 17 Januari 2008 dan masih mendekam di tahanan hingga kini.

Lebih dari itu, Israel tidak memberikan perlengkapan dan kebutuhan bocah tahanan tersebut seperti pakaian dan lainnya. Mereka juga tidak mendapatkan hak-hak pokok yang dijamin oleh hokum dan undang-undang internasional. Ini mengakibatkan mereka mengalami berbagai penyakit aneh dan menular.

Terutama di penjara Auvar dan pusat investigasi Hawarah, Israel melakukan tindakan sewenang-wenang. Bocah-bocah itu dipaksa Israel melakukan kerja keras, menggeledah mendadak ke ruang tahanan, dipukuli dan lain-lain.

80 bocah tahanan sakit

Pusat Advokasi Palestina menegaskan bahwa politik pembiaran kondisi kesehatan Israel juga diterapkan kepada bocah-bocah itu sehingga mereka menderita sakit mencapai 80 anak. Israel sendiri tidak memberikan pengobatan yang cukup kepada mereka. Beberapa saat lalu ada 10 bocah mengalami keracunan di unit 14 di penjara Talmud akibat mereka menyantap makanan kaleng yang sudah rusak yang diberikan oleh dinas tahanan Israel.

Selain itu, anak-anak Palestina itu sebagian juga disekap Israel dalam sel dan ruang yang tidak layak meski bagi seekor binatang sekalipun. Israel mengurung 8 – 10 bocah dalam 2X1 meter.

Pembiaran yang jelas-jelas


Pusat Advokasi mengisyaratkan bahwa kondisi itu mengharusnya lembaga dan badan HAM resmi atau tidak resmi, di dunia Arab atau internasional agar turun tangan mengatasi masalah ini dan membebaskan mereka. Masalah mereka harus diangkap sebagai isu utama dalam setiap pertemuan dan konferensi. Sayangnya, Negara-negara Arab tidak peduli dengan kondisi mereka dan tidak melakukan tekanan apapun kepada Israel agar menghentikan tindakan jahatnya. (bn-bsyr, infopalestina.com)
13:01 | 0 komentar

Pemukim Yahudi Ambil Alih Toko Milik Warga Palestina

Written By Admin BeDa on Sabtu, 04 April 2009 | 09:08

Setelah kemarin pemukim Yahudi - yang sebenarnya ilegal tinggal di tanah Palestina mengambil alih rumah-rumah warga Palestina di Yerusalem dan mengusir mereka - sekarang mereka mengambil alih toko-toko milik warga Palestina.

Pemukim Yahudi di Hebron mengambil alih empat toko milik warga Palestina di jalan Asy-Syuhada dekat pasar kota tua, kawasan yang berbatasan dengan lokasi pemukiman ilegal yahudi Abraham Avinu.

Beberapa toko di jalan Asy-Syuhada disekitar jalan yang paralel dengan pasar di sebelah utara kota tua .Setelah terjadi pembantaian oleh seorang Yahudi di Masjid Ibrahimi pada tahun 1994, toko-toko yang ada dikawasan tersbut perintahkan untuk ditutup oleh penjajah Israel . Akses ke jalan di kawasan itu secara total dibatasi pada tahun 2000, sehingga hanya penduduk di kawasan tersebut yang bisa masuk.

Setelah ada tekanan dari LSM lokal dan internasional, barulah beberapa toko didaerah itu diijinkan untuk buka kembali, namun keputusan tersebut menimbulkan kemarahan dan protes dari 700 warga pemukim Yahudi Hebron. Beberapa pemukim yang tinggal di dekat daerah itu menduduki rumah-rumah dan trailer milik warga.

Toko yang diduduki oleh pemukim yahudi pada Jumat kemarin milik dari Azzam E'wewi, Baha E'wewi, Hussam Bader dan Muhammad Qawasmi. Toko-toko sebelumnya telah tutup sejak tahun 1984.(fq/mna, eramuslim)
09:08 | 0 komentar

Bersihlah Agar Bisa Peduli

Written By Admin BeDa on Jumat, 03 April 2009 | 07:36

We are sorry, starting from 13rd March 2010, Bersihlah Agar Bisa Peduli cannot displayed. Sorry for this uncomfortable. This page, Bersihlah Agar Bisa Peduli, deleted by blog owner because of some reason. Please to be understood.

Once more, we're sorry to visitors of BERSAMA DAKWAH blog. We hope you back to HOME. Thank you.
07:36 | 2 komentar

Abdurrahman bin Auf

Written By Admin BeDa on Rabu, 01 April 2009 | 15:16


Abdurrahman bin Auf termasuk kelompok delapan orang yang mula-mula masuk Islam; termasuk kelompok sepuluh yang diberi kabar gembira oleh Rasulullah masuk surga; termasuk enam orang shahabat yang bermusyawarah (tim formatur) dalam pemilihan khalifah sesudah Umar bin Khattab Al-Faruq; dan seorang mufti yang dipercayai Rasulullah berfatwa di Madinah selagi beliau masih hidup di tengah-tengah masyarakat kaum muslimin.

Namanya pada masa jahiliyah ialah Abd Amr. Setelah masuk Islam, Rasulullah memanggilnya Abdurrahman. Itulah dia Abdurrahman bin Auf.

Abdurrahman bin Auf masuk Islam sebelum Rasulullah masuk ke rumah Al-Arqam, yaitu dua hari sesudah Abu Bakar masuk Islam. Sama halnya dengan kelompok kaum muslimin yang pertama-tama masuk Islam, Abrurrahman pun tidak luput dari penyiksaan dan tekanan kaum kafir Quraisy. Tapi dia sabar dan tetap sabar. Pendiriannya teguh dan senantiasa teguh. Dia menghindar dari kekejaman kaum Quraisy, tetapi selalu setia dan patuh membenarkan risalah Muhammad. Kemudian dia turut hijrah ke Habasyah bersama kawan-kawan seiman untuk menyelamatkan diri dan agama dari tekanan kaum Quraisy yang senantiasa menteror mereka.

Tatkala Rasulullah SAW dan para shahabat beliau diizinkan Allah hijrah ke Madinah. Abdurrahman menjadi pelopor orang-orang yang hijrah untuk Allah dan Rasul-Nya. Dalam perantauan, Rasulullah memeprsaudarakan orang-orang Muhajirin dan orang-orang Anshar. Maka, Abdurrahman bin Auf dipersaudarakan dengan Sa'ad ibnu Rabi' Al-Anshary.

Pada suatu hari Sa'ad berkata kepada Abdurrahman, "Wahai saudaraku Abdurrahman! Aku termasuk orang kaya diantara penduduk Madinah. Hartaku banyak. Saya mempunyai dua bidang kebun yang luas, dan dua orang pembantu. Pilihlah olehmu salah satu diantara kedua kebunku itu, kuberikan kepadamu mana yang kamu sukai. Begitu pula salah seorang diantara kedua pembantuku, akan kuserahkan mana yang kamu senangi, kemudian aku kawinkan engkau dengan dia."

Jawab Abdurrahman, "Semoga Allah melimpahkan berkat-Nya kepada saudara, kepada keluarga Saudara, dan kepada harta Saudara. Saya hanya akan minta tolong kepada Saudara menunjukkan di mana letaknya pasar di Madinah ini."

Sa'ad menunjukkan pasar tempat berjual beli kepada Abdurrahman. Maka, mulailah Abdurrahman berniaga di sana, berjual beli, berlaba dan merugi. Belum berapa lama dia berdagang terkumpullah uang-uangnya sekedar untuk mahar kawin. Dia datang kepada Rasulullah memakai harum-haruman, beliau menyambut kedatangan Abdurrahman seraya berkata, "Wah, alangkah wanginya kamu, hai Abdurrahman."

Kata Abdurrahmah, "Saya hendak kawin, ya Rasulullah."

Tanya Rasulullah, "Apa mahar yang kamu berikan kepada istrimu?"

Jawab Abdurrahman, "Emas seberat biji korma."

Kata Rasulullah, "Adakan kenduri, walalu hanya dengan menyembelih seekor kambing. Semoga Allah memberkatimu dalam pernikahan dan harta kamu."

Kata Abdurrahman, "Sejak itu dunia datang menghadap kepadaku (hidupku makmur dan bahagia). Hingga seandainya aku angkat sebuah batu, maka di bawahnya kudapati emas dan perak."

Dalam perang Badar Abdurrahman turut berjihad fi sabilillah, dan dia berhasil menewaskan musuh-musuh Allah, antara lain 'Umair bin 'Utsman bin Ka'ab at-Taimy. Dalam perang Uhud dia tetap teguh berahan di samping Rasulullah, ketika tentara kaum muslimin keluar sebagai pemenang, Abdurrahman mendapat hadiah hadiah sembilan luka parah menganga di tubuhnya, dan dua puluh luka-luka kecil. Walaupun luka kecil, namun diantaranya ada yang sedalam anak jari. Sekalipun begitu perjuangan dan pengorbanan Abdurrahman di medan tempur jauh lebih kecil dibandingkan dengan perjuangan dan pengorbanannya dengan harta benda.

Pada suatu hari Rasulullah berpidato membangkitkan semangat jihad dan pengorbanan kaum muslimin. Beliau berdiri di tengah-tengah para shahabat. Kata beliau, antara lain, "Bersedekahlah tuan-tuan. Saya hendak mengirim suatu pasukan ke medan perang".

Mendengar ucapan Rasulullah tersebut Abdurrahman bergegas pulang ke rumahnya dan cepat pula kembali ke hadapan Rasulullah di tengah-tengah kaum muslimin. Katanya, "Ya, Rasulullah! Saya mempunyai uang empat ribu. Dua ribu saya pinjamkan kepada Allah dan uda ribu saya tinggalkan untuk keluarga saya." Lalu uang yang dibawanya dari rumah diserahkannya kepada Rasulullah dua ribu.

Sabda Rasulullah, "Semoga Allah melimpahkan berkat-Nya kepadamu, terhadap harta yang kamu berikan, dan semoga Allah memberkati pula harta yang kamu tinggalkan untuk keluargamu."

Ketika Rasulullah bersiap untuk menghadapi perang Tabuk, beliau membutuhkan jumlah dana dan tentara yang tidak sedikit, karena jumlah tentara musuh yaitu tentara Rum cukup banyak. Di samping itu Madinah tengah mengalami musim panas. Dana yang tersedia hanya sedikit. Begitu pula hewan kendaraan tidak mencukupi. Banyak diantara kaum muslimin yang kecewa sedih karena ditolak Rasulullah menjadi tentara yang akan turut berperang, sebab kendaraan untuk mereka tidak mencukupi. Mereka yang ditolak itu pulang kembali dengan air mata bercucuran kesedihan, karena mereka tidak mempunyai apa-apa untuk disumbangkannya. Mereka yang tidak diterima itu terkenal dengan nama "Al-Bakhaain", (orang-orang yang menangis). Dan pasukan yang berangkat terkenal dengan sebutan "Jaisyul 'Usrah" (pasukan susah).

Karena itu Rasulullah memerintahkan kaum muslimin mengorbankan harta benda mereka untuk jihad fi sabilillah. Dengan patuh dan setia kaum muslimin memperkenankan seruan Nabi yang mulia. Abdurrahman turut mempelopori dengan menyerahkan dua ratus uqiyah emas. Maka kata Umar bin Khattab berbisik kepada Rasulullah, "Agaknya Abdurrahman berdosa tidak meninggali uang belanja sedikitpun juga untuk istrinya…"

Rasulullah bertanya kepada Abdurrahman, "Adakah engkau tinggalkan untuk uang belanja istrimu?"

Jawab Abdurrahman, "Ada! Mereka saya tinggali lebih banyak dan lebih baik daripada yang saya sumbangkan."

Tanya Rasulullah, "Berapa?"

Jawab Abdurrahman, "Sebanyak rezeki, kebaikan, dan upah yang dijanjikan Allah."

Pasukan tentara muslimin berangkat ke Tabuk. Allah memuliakan Abdurrahman dengan kemuliaan yang belum pernah diperoleh kaum muslimin seorang jua pun, yaitu ketika waktu shalat sudah masuk, Rasulullah terlambat hadir. Maka Abdurrahman bin Auf menjadi imam shalat berjamaah bagi kaum muslimin ketika itu. Setelah hampir selesai rakaat pertama, Rasulullah tiba, lalu beliau shalat di belakang Abdurrahman dan mengikutinya sebagai makmum. Apakah lagi yang lebih mulia dan utama daripada menjadi imam bagi pemimpin umat dan pemimpin para Nabi, yaitu Muhammad Rasulullah.

Setelah Rasulullah SAW wafat, Abdurrahman bin Auf bertugas menjaga kesejahteraan dan keselamatan ummahatul mu'min (para istri Rasulullah). Dia bertanggungjawab memenuhi segala kebutuhan mereka dan mengadakan pengawalan bagi ibu-ibu yang mulia itu bila bepergian. Apabila para ibu tersebut pergi haji, Abdurrahman bin Auf ikut pula bersama mereka. Dia yang menaikkan dan menurunkan para ibu itu ke atas haudaj (sedekup) khusus mereka. Itulah salah satu bidang khusus yang ditangani Abdurrahman. Dia pantas bangga dan bahagia dengan tugas dan kepercayaan yang dilimpahkan para ibu orang-orang mukmin kepadanya.

Salah satu bakti yang dibaktikan Abdurrahman kepada ibu-ibu yang mulia, ia pernah membeli sebidang tanah seharga empat ribu dinar. Lalu tanah itu dibagi-bagikannya kepada ibu-ibu orang mukmin, istri Rasulullah. Ketika jatah ibu Aisyah r.a. disampaikan orang kepadanya, ibu yang mulia bertanya, "Siapa yang menghadidahkan tanah itu buat saya?"

"Abdurrahman bin Auf" jawab orang itu.

Kata ibu Aisyah r.a. "Rasulullah SAW pernah bersabda: Tidak ada orang-orang yang kasihan kepada kalian sepeninggalku, kecuali orang-orang yang sabar."

Begitulah, doa Rasulullah bagi Abdurrahman bin Auf. Semoga Allah senantiasa melimpahkan berkat-Nya kepadanya dan semoga Allah selalu melindunginya sepanjang hidupnya, sehingga Abdurrahman bin Auf menjadi orang terkaya diantara para shahabat. Perniagaannya selalu meningkat dan berkembang. Kafilah dagangnya terus menerus hilir mudik dari dan ke Madinah mengangkut gandum, tepung, minyak, pakaian, barang-barang pecah belah, wangi-wangian, dan segala kebutuhan penduduk.

Pada suatu hari iring-iringan kafilah dagang Abdurrahman, terdiri dari tujuh ratus unta bermuatan penuh tiba di Madinah. Ya… tujuh ratus ekor unta bermuatan penuh, tidak salah. Semuanya membawa pangan, dandang dan barang-barang lain kebutuhan penduduk. Ketika mereka masuk kota, bumi seolah-olah bergetar. Terdengar suara gemuruh dan hiruk-pikuk. Sehingga ibu Aisyah bertanya, "Suara apa yang hiruk pikuk itu?"

Dijawab orang, "Kafilah Abdurrahman dengan iring-iringan tujuh ratus ekor unta bermuatan penuh membawa pangan dan sandang serta lain-lainnya."

Kata ibu Aisyah r.a.. "Semoga Allah melimpahkan berkat-Nya bagi Abdurrahman dengan baktinya di dunia, serta pahala yang besar di akhirat. Saya mendengar Rasulullah bersabda: Abdurrahman bin Auf masuk surga dengan merangkat (karena sudah dekat sekali kepadanya)."

Sebelum menghentikan iring-iringan unta, seorang pembawa berita mengabarkan kepada Abdurrahman berita gembira yang disampaikan ibu Aisyah, bahwa Abdurrahman masuk surga. Serentak mendengar berita itu, bagaikan terbang dia menemui ibu Aisyah. Katanya, "Wahai Ibu, apakah Ibu mendengar sendiri ucapan itu diucapkan Rasulullah?"

Jawab ibu Aisyah, "Ya, saya mendengar sendiri!"

Abdurrahman melonjak kegirangan. Katanya, "Seandainya saya sanggup, aku akan memasukinya dengan berjalan. Sudilah Ibu menyaksikan, kafilah ini dengan seluruh kendaraan dan muatannya kuserahkan untuk jihad fi sabilillah."

Sejak berita yang membahagiakan itu, Abdurrahman pasti masuk surga, maka semangatnya semakin memuncak mengorbankan kekayaannya di jalan Allah. Hartanya dinafkahkannya dengan kedua belah tangan, baik secara sembunyi-sembunyi atau terang-terangan, sehingga mencapai 40.000 dirham perak. Kemudian menyusul pula 40.000 dinas emas. Sesudah itu dia bersedekah lagi 200 uqiyah emas lalu diserahkannya pula 500 ekor kuda kepada para pejuang. Sesudah itu 1.500 ekor unta untuk pejuang yang lain. Dan tatkala dia hampir meninggal dunia, dimerdekakannya sejumlah besar budak-budak yang dimilikinya. Kemudian diwasiatkannya supaya memberikan 400 dinar emas kepada masing-masing alumni pejuang perang Badar. Mereka berjumlah seratus orang, dan semua mengambil bagiannya masing-masing. Dia berwasiat pula supaya memberikan hartanya yang paling mulia untuk para ibu-ibu orang mukmin sehingga ibu Aisyah sering mendoakannya, "Semoga Allah memberinya minum dengan minuman dari telaga salsabil."

Di samping itu dia meninggalkan warisan untuk ahli warisnya sejumlah harta yang hampir tak terhitung jumlahnya. Dia meninggalkan kira-kira 1.000 ekor unta, 100 ekor kuda, 3.000 ekor kambing. Dia beristri empat orang. Masing-masing mendapat pembagian khusus 80.000. Di samping itu masih ada peninggalannya berupa emas dan perak, yang kalau dibagi-bagikan kepada ahli warisnya dengan mengampak, maka potongan-potongannya cukup menjadikan seorang ahli warisnya menjadi kaya raya.

Begitulah karunia Allah SWT kepada Abdurrahman bin Auf, berkat doa Rasulullah kepadanya. Semoga Allah memberkatinya dan memberkati hartanya.

Walaupun begitu kaya rayanya, namun harta kekayannya itu seluruhnya tidak mempengaruhi jiwanya yang penuh iman dan taqwa. Apabila dia berada di tengah-tengah budak-budaknya, orang tidak dapat membedakan diantara mereka, mana yang majikan dan mana yang budak

Pada suatu hari dihidangkan orang kepadanya makanan, padahal ia berpuasa. Dia menengok makanan itu seraya berkata, "Mush'ab bin Umair tewas di medan juang. Dia lebih baik daripada saya. Waktu dikafani, jika kepalanya ditutup, kakinya terbuka. Dan jika kakinya ditutup, terbuka kepalanya. Kemudian Allah memebentangkan dunia ini bagi kita seluas-luasnya. Sesungguhnya saya sangat takut kalau-kalau pahala untuk kita disegerakan Allah dengan memberikannya kepada kita (di dunia ini)."

Sesudah berkata begitu dia menangis tersedu-sedu, sehingga nafsu makannya jadi hilang.

Berbahagialah Abdurrahman bin Auf dengan ribuan karunia dan kebahagiaan yang diberikan Allah kepadanya. Rasulullah SAW yang ucapanyya terbukti benar, telah memberinya kabar gembira dengan surga jannatun naim.

Telah turut mengantarkan jenazahnya ke tempatnya terakhir di dunia, antara lain shahabat yang mulia Sa'ad bin Abi Waqash. Pada shalat jenazahnya turut pula, antara lain Dzun Nurain utsman bin Affan. Kata sambutan saat pemakaman, Amirul Mu'minin Ali bin Abi Thalib karamallaahu wajhah.

Dalam kata sambutannya antara lain Ali berkata: "Anda telah mendapatkan kasih sayang Allah, dan Anda berhasil menundukkan kepalsuan dunia."

Semoga Allah senantiasa merahmati Anda. Amin! [sumber : Kepahlawanan Generasi Shahabat Rasulullah SAW]
15:16 | 0 komentar

Kondisi Demografi Palestina Tahun 2025 Lebih Baik dari Zionis Israel


Alhayat – Infopalestina: Harian berbahasa Arab yang terbit di Londor, al hayat, edisi Senin (30/3/2009), merilis sebuah laporan pemerintah Mesir mengenai perkembangan demografis selama sepuluh tahun ke depan di wilayah Palestina terjajah dan di dalam Israel. Laporan ini memprediksi situasi demografi akan memihak pada "kepentingan Palestina", katanya. Menurut laporan ini, faktor demografi di dalam konflik ini gendering berpihak pada kemaslahatan orang-orang Palestina. Namun tidak sampai pada jumlah yang diharapkan bisa menyelesaikan konflik demogragi.

Laporan dari Pusat Informasi dan Dukungan Keputusan yang berada di bawah Dewan Menteri, ini diberi judul "Konflik Arab-Israel ... Apakah Terselesaikan Secara Demografis?". Laporan ini memaparkan pertumbuhan gerakan Zionis dan pendirian tanah air untuk orang-orang Yahudi, perang-perang Arab – Israel, pertumbuhan gerakan Fatah, Palestine Liberation Organization (PLO) dan Hamas. Laporan ini menyebut bahwa gerakan Hamas "terdiri dari para pemimpin al Ikhwan al Muslimun yang menolak untuk berpartisipasi dalam gerakan Fatah. Laporan ini mengatakan bahwa Hamas mendapatkan dukungan Syria dan Iran.

Laporan ini menyebutkan bahwa jumlah penduduk di Palestina (Tepi Barat dan Jalur Gaza) pada tahun 2005 berjumlah 4 juta jiwa. Diperkirakan jumlah ini akan melebihi angka 7,4 juta jiwa pada tahun 2025. Sedangkan Israel, jumlah penduduk Yahudi tahun 2005 mencapai 5,3 juta. Namun pada tahun 2025 jumlah mereka tidak akan melebihi 6,5 juta jiwa. Sementara jumlah penduduk Arab di Israel akan naik dari 1,4 juta jiwa pada tahun 2005 menjadi 2,3 juwta jiwa pada tahun 2025.

Laporan ini mencatat bahwa proporsi penduduk kurang dari 15 tahun di Palestina pada tahun 2005 berjumlah sekitar 45,5%. Diperkirakan akan turun sampai batas 36,5% pada tahun 2025. Sementara persentase Arab di Israel pada tahun 2005, berjumlah 41%, akan turun menjadi 35,1% pada tahun 2025. Sedang di tengah-tengah penduduk Yahudi dari sekitar 25,4% diperkirakan akan turun sampai 23%.

Laporan ini mengatakan bahwa proporsi penduduk usia kerja (15 sampai 64 tahun) di wilayah Palestina pada tahun 2005 berjumlah sekitar 51%. Diperkirakan akan meningkat menjadi lebih dari 60% pada tahun 2025. Sementara persentase penduduk usia kerja ini di tengah-tengah penduduk Arab di Israel tahun 2005 sekitar 56% dan akan meningkat menjadi 60% pada tahun 2025. Sedangkan di kalangan penduduk Yahudi, pada tahun 2005 proporsi penduduk usia kerja ini mencapai sekitar 63%, dan diperkirakan akan turun menjadi 62% pada tahun 2025.

Para peneliti di Pusat Informasi dan Dukungan Keputusan ini mengatakan bahwa analisa terhadap data ini memberikan arti bahwa timbangan demografis akan cenderung lebih berat kepada Palestina pada tahun 2025. (seto, infopalestina.com)
12:41 | 2 komentar

Masukkan alamat e-mail untuk mendapatkan up date Bersama Dakwah