Assalaamu'alaikum ,  Ahlan wa Sahlan  |  Facebook  |  Twitter  |  Pasang Iklan

Sirah Sahabat : Zubair Bin Awwam

Written By Admin BeDa on Kamis, 28 Mei 2009 | 12:27


Sirah sahabat edisi ke-11 ini akan membicarakan seorang sahabat assabiquunal awwaluun. Dia masuk Islam pada usianya yang masih muda, 15 tahun. Ya, sahabat itu bernama Zubair bin Awwam. Mari kita ikuti sirah sahabat yang satu ini
***

Setiap kali nama Thalhah disebut, nama Zubair juga disebut. Dan setiap kali disebut nama Zubair, nama Thalhah pun pasti disebut.

Sewaktu Rasulullah SAW mempersaudarakan para sahabatnya di Makkah sebelum hijrah, beliau mempersaudarakan Thalhah dengan Zubair. Sudah sejak lama Nabi SAW bersabda tentang keduanya secara bersamaan, seperti sabda beliau, “Thalhah dan Zubair adalah tetanggaku di surga.”

Keduanya masih kerabat Rasulullah. Thalhah masih keturunan kakek buyut Rasulullah yang bernama Murrah bin Ka’ab, sedangkan Zubair masih keturunan kakek buyut Rasulullah yang bernama Qusai bin Kilab. Shafiyah, ibu Zaubair, juga bibi Rasulullah.

Thalhah dan Zubair mempunyai banyak kesamaan dalam menjalani roda kehidupan. Masa remaja, kekayaan, kedermawanan, keteguhan dalam beragama dan keberanian mereka hampir sama. Keduanya termasuk orang-orang yang masuk Islam di masa-masa awal, dan termasuk sepuluh orang yang dikabarkan oleh Rasul masuk surga, termasuk enam orang yang diamanahi Khalifah Umar untuk memilih khalifah pengganti. Bahkan, hingga saat kematian keduanya sama persis.

Seperti yang telah kita sebutkan, Zubair termasuk orang-orang yang masuk Islam di masa-masa awal, karena ia termasuk tujuh orang pertama yang masuk Islam, dan sebagai perintis perjuangan di rumah Arqam. Usianya waktu itu baru 15 tahun. Ia telah diebri petunjuk, cahaya, dan kebaikan saat remaja.

Ia ahli menunggang kuda dan memiliki keberanian, sejak kecil. Bahkan, ahli sejarah menyebutkan bahwa pedang pertama yang dihunuskan untuk membela Islam adalah pedang Zubair bin Awwam.

Di masa-masa awal, saat jumlah kaum muslimin masih sedikit dan masih bermarkas di rumah Arqam, terdengar berita bahwa Rasulullah terbunuh. Zubair langsung menghunus pedang lalu berkeliling kota Makkah laksana tiupan angin kencang, padahal usianya masih muda belia.

Yang pertama kali dilakukannya adalah mengecek kebenaran berita tersebut. Seandainya berita itu benar, ia bertekad menggunakan pedangnya untuk memenggal semua kepala orang-orang kafir Quraisy atau ia sendiri yang gugur.

Di satu tempat, di bagian kota Makkah yang agak tinggi, ia bertemu Rasulullah. Rasulullah menanyakan maksudnya. Ia menceritakan berita yang ia dengar dan menceritakan tekadnya. Maka, beliau berdoa agar Zubair selalu diberi kebaikan dan pedangnya selalu diberi kemenangan.

Sekalipun Zubair seorang bangsawan terpandang, namun ia juga merasakan penyiksaan Quraisy. Orang yang disuruh menyiksanya adalah pamannya sendiri. Ia pernah diikat dan dibungkus tikar lalu diasapi hingga kesulitan bernapas. Di saat itulah sang paman berkata, “Larilah dari Tuhan Muhammad, akan kubebaskan kamu dari siksa ini.”

Meskipun masih muda belia, Zubair menjawab dengan tegas, “Tidak! Demi Allah, aku tidak akan kembali kepada kekafiran untuk selama-lamanya.”

Zubair ikut dalam perjalanan hijrah ke Habasyah dua kali. Kemudian ia kembali, untuk mengikuti semua peperangan bersama Rasulullah, hingga tidak satu pun peperangan yang tidak ia ikuti.

Banyaknya bekas luka pedang dan tombak di tubuhnya adalah bukti keberanian dan kepahlawanannya.

Marilah kita dengarkan cerita seorang rekannya yang melihat bekas luka yang hampir memenuhi sekujur tubuhnya.

“Aku pernah bersama Zubair bin Awwam dalam satu perjalanan dan aku melihat tubuhnya. Ada banyak bekas sabetan pedang. Di dadanya ada beberapa lubang bekas tusukan tombak dan anak panah. Aku berkata kepadanya, ‘Demi Allah, yang kulihat ditubuhmu belum pernah kulihat di tubuh orang lain.’ Ia menjawab, “Demi Allah, semua luka-luka ini kudapat bersama Rasulullah dalam peperangan membela agama Allah.”

Seusai Perang Uhud, dan pasukan Quraisy sedang dalam perjalanan pulang ke Makkah, Zubair dan Abu Bakar diperintahkan Rasulullah memimpin kaum muslimin mengejar mereka agar mereka menganggap kaum muslimin masih mempunyai kekuatan, sehingga mereka tidak berpikir untuk menyerbu Madinah.

Abu Bakar dan Zubair membawa 70 tentara muslim. Sekalipun Abu Bakar dan Zubair sebenarnya sedang mengikuti satu pasukan yang menang perang dan berjumlah jauh lebih besar, namun kecerdikan dan siasat yang dipergunakan keduanya berhasil mengecoh mereka. Mereka menyangka bahwa pasukan yang dipimpin Abu Bakar dan Zubair adalah pasukan perintis dan di belakang pasukan ini masih ada pasukan yang jauh lebih besar. Tentu saja ini membuat mereka takut. Mereka pun mempercepat langkah menuju Makkah.

Di perang Yarmuk, Zubair memerankan satu pasukan tersendiri. Ketika banyak prajuritnya yang lari ketakutan melihat jumlah pasukan Romawi yang begitu banyak, ia berteriak, “Allaahu Akbar”, lalu menyerbu pasukan Romawi sendirian dengan pedangnya.

Ia sangat rindu untuk syahid. Ia berkata, “Thalhah bin Ubaidillah memberi nama anak-anaknya dengan nama nabi-nabi padahal tidak ada nabi setelah Muhammad SAW. Karena itu, aku memberi nama anak-anakku dengan nama para syuhada dengan harapan mereka syahid.”

Ada yang diberi nama Abdullah dari nama Abdullah bin Jahsy. Ada yang diberi nama Mundzir dari nama Mundzir bin Amru. Ada yang diberi nama Urwah dari nama Urwah bin Amru. Ada yang diberi nama Hamzah dari nama Hamzah bin Abdul Muthalib. Ada yang diberi nama Ja’far dari nama Ja’far bin Abi Thalib. Ada yang diberi nama Mushab dari nama Mushab bin Umair. Ada yang diberi nama Khalid dari nama Khalid bin Sa’id. Seperti itulah, semua anaknya diberi nama dengan nama-nama para syuhada dengan harapan bisa syahid seperti mereka.

Disebutkan dalam buku sejarah, “Zubair tidak pernah menjadi bupati atau gubernur. Tidak pernah menjadi petugas penarik pajak atau cukai. Ia tidak pernah menduduki jabatan kecuali sebagai pejuang perang membela agama Allah.”

Ia sangat percaya dengan kemampuannya di medan perang dan itulah kelebihannya. Meskipun pasukannya berjumlah 100 ribu prajurit, namun ia seakan-akan sendirian di arena pertempuran. Seakan-akan dia sendiri yang memikul tanggung jawab perang.

Keteguhan hati di medan perang dan kecerdasannya dalam mengatur siasat perang adalah keistimewaannya.

Ia melihat gugurnya sang paman, yaitu Hamzah, di Perang Uhud, di Perang Uhud. Ia juga melihat bagaimana tubuh pamannya dicabik-cabik oleh pasukan kafir. Ia berdiri dekat jenazah sang paman. Gigi-giginya terdengar gemeretak dan genggaman pedangnya semakin erat. Hanya satu yang dipikirkannya, yaitu balas dendam. Akan tetapi, wahyu segera turun melarang kaum muslimin melakukan balas dendam.
***

Ketika pengepungan terhadap bani Quraidzah sudah berjalan lama tanpa membawa hasil, Rasulullah menugaskan Zubair dan Ali bin Abi Thalib. Keduanya berdiri di depan benteng musuh yang kuat dan berkata, “Demi Allah, mari kita rasakan apa yang dirasakan hamzah. Atau, akan kita buka benteng mereka.” Keduanya melompat ke dalam benteng. Dengan kecerdasannya, ia berhasil membuat takut orang-orang yang berada dalam benteng dan berhasil membuka pintu benteng sehingga pasukan Islam berhamburan menyerbu ke dalam benteng.
***

Di perang hunain, suku Hawazin yang dipimpin Malik bin Auf menderita kekalahan yang memalukan. Tidak bisa menerima kekalahan yang diderita, Malik beserta beberapa prajuritnya bersembunyi di sebuah tempat, mengintai pasukan Islam, dan bermaksud membunuh para panglima Islam. Ketika Zubair mengetahui kelicikan Malik, ia langsung menyerang mereka seorang diri dan berhasil mengobrak-abrik mereka.

Rasulullah sangat sayang kepada Zubair. Beliau bahkan pernah menyatakan kebanggaannya atas perjuangan Zubair. “Setiap nabi mempunyai pembela dan pembelaku adalah Zubair bin Awwam.”

Bukan karena sebagai saudara sepupu dan suami dari Asma binti Abu Bakar yang bergelar “Dzatun Niqatain” (memiliki dua selendang), melainkan karena pengabdiannya yang luar biasa, keberaniannya yang tiada dua, kepemurahannya yang tidak terkira, dan pengorbanan diri serta hartanya untuk Allah, Tuhan alam semesta.

Sungguh tepat apa yang dikatakan Hasan bin Tsabit ketika melukiskan sifat-sifatnya.
Janjinya kepada Nabi selalu ia tepati
Atas petunjuk Nabi ia berbakti
Dialah sang pembela sejati
Kata dan perbuatannya bagai merpati

Di jalan Nabi, ia berjalan
Bela kebenaran sebagai tujuan

Jika api peperangan sudah menyala
Dialah penunggang kuda tiada dua
Dialah pejuang tak kenal menyerah

Dengan Rasul, masih keluarga
Terhadap Islam, selalu membela

Pedangnya selalu siaga
Kala Rasul dihadang bahaya
Dan Allah tidak ingkar pada janji-Nya
Memberi pahala tiada terkira

***

Ia seorang yang bebrudi tinggi dan berakhlak mulia. Keberanian dan kepemurahannya bagai dua kuda yang digadaikan.

Ia seorang pebisnis sukses. Harta kekayaannya melimpah ruah. Semuanya ia dermakan untuk kepentingan Islam hingga saat mati mempunyai utang.

Kedermawanan, keberanian, dan pengorbanannya bersumber dari sikap tawakalnya yang sempurna kepada Allah. Karena dermawannya, sampai-sampai ia rela mendermakan nyawanya u. Islam.

Sebelum meninggal, ia berpesan kepada anaknya untuk melunasi utang-utangnya, “Jika kamu tidak mampu melunasinya, mintalah kepada pelindungku.”
Sang anak bertanya, “Siapa pelindung yang ayah maksud?”
Zubair menajwab, “Allah! Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong.”

Di kemudian hari, sang anak bercerita, “Demi Allah, setiap kali aku kesulitan membayar utangnya, aku berkata, ‘Wahai Pelindung Zubair, lunasilah utangnya.’ Maka Allah melunasi utangnya.”

Di perang Jamal, seperti yang tersebut dalam kisah Thalhah, perjalanan hidup Zubair berakhir.

Setelah ia mengetahui duduk permasalahannya, lalu meninggalkan peperangan, ia dikuntit oleh sejumlah orang yang menginginkan perang tetap berkecamuk. Ketika Zubair sedang melaksanakan shalat, mereka menikam Zubair.

Setelah itu, si pembunuh pergi menghadap Khalifah Ali, mengabarkan bahwa ia telah membunuh Zubair. Ia berharap kabar itu menyenangkan hati Ali karena yang ia tahu, Ali memusuhi Zubair.

Ketika Ali mengetahui ada pembunuh Zubair yang hendak menemuinya, ia langsung berseru, “Katakanlah kepada pembunuh Zubair putra Shafiah bahwa orang yang membunuh Zubair tempatnya di neraka.”

Ketika pedang Zubair ditunjukkan kepada Ali, ia menciumnya. Lalu ia menangis dan berkata, “Demi Allah, sekian lama pedang ini melindungi Nabi dari marabahaya.”
***

Adakah kata yang lebih indah dari kata-kata Khalifah Ali untuk melepas kepergian Zubair?
Salam sejahtera untukmu, wahai Zubair, di alam kematian.
Beribu salam sejahtera untukmu, wahai pembela Rasulullah. [sumber : 60 Sirah Sahabat Rasulullah SAW]
12:27 | 26 komentar

Ujian Keimanan

Written By Admin BeDa on Rabu, 27 Mei 2009 | 19:00


Kemarin kami dikejutkan dengan sebuah berita. Saat itu Maghrib menjelang tiba. Kami mendapat berita bahwa kawan kami masuk rumah sakit. Ia menikah belum genap satu tahun. Ia hamil juga belum genap enam bulan. Saat kami sampai di rumah sakit, kami mendapatkan cerita dari sang ibu. Kawan kami melahirkan pada usia kandungan keenam. Namun, belum setengah jam si kecil itu memasuki dunianya yang baru, ia telah meninggalkan dunia barunya itu untuk selamanya. Sang suami tengah memakamkan buah hatinya di Bojonegoro, saat kami ada di rumah sakit itu.

Ini bukan kali pertama ujian bagi mereka, pasangan muslim muda yang memiliki komitmen keislaman di tengah materialisnya kehidupan. Beberapa waktu sebelumnya, mereka ditipu ketika tengah merintis usahanya. Uang Rp.30 jutaan raib. Begitu saya dengar dari kawan dekatnya.

***

Orang-orang yang beriman memang tidak bisa melepaskan diri dari hal yang satu ini: ujian keimanan. Melalui proses inilah Allah hendak membuktikan keimanan sesungguhnya dari setiap orang yang mengatakan "aamannaa", kami telah beriman. Dengan metode inilah Allah memisahkan emas dan loyang; keimanan yang sesungguhnya dan keimanan yang sekedar pengakuan verbal. Karenanya Allah SWT berfirman :
أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آَمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ [العنكبوت/2]
Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan mengatakan "kami telah beriman" sementara mereka tidak diuji? (QS. Al-Ankabut : 2)

Dalam hal apa manusia diuji adalah perkara lain. Namun yang pasti, semua manusia beriman akan mendapatkan ujian. Ada yang diuji dengan cinta, popularitas, dan harta sebagaimana dalam tiga manusia dan ujian-Nya. Ada pula yang diuji dengan berbagai kesusahan seperti yang dialami kawan saya dalam cerita di atas.

Kalau kita perhatikan, para Nabi sebagai manusia-manusia terbaik juga tidak lepas dari ujian semacam ini. Bahkan, sebagaimana mereka adalah model keimanan, mereka juga menjadi model bagi obyek ujian keimanan. Maka, sejarah meninggalkan pesan kepada kita bahwa mereka ditimpa oleh ujian-ujian terberat sepanjang sejarah kehidupan manusia. Nabi Ayyub diuji dengan penyakit yang sangat berat. Nabi Ibrahim harus berhadapan dengan ayahnya dan 'lautan api' hukuman Namrudz, raja yang menolak dakwahnya. Nabi Nuh harus melalui 950 tahun dengan penuh kesulitan dan hasilnya, hanya beberapa orang yang beriman, selebihnya menjadi musuh dan para pencela. Apalagi Nabi Muhammad. Ujiannya dalam menyebarkan nilai-nilai Ihaliah teramat banyak untuk disebutkan; ada celaan, intimidasi, lemparan batu, sampai upaya pembunuhan. Semua ini bermuara kepada satu hukum: semakin besar keimanan seseorang, semakin berat pula ujiannya. Inilah makna hadits :

سئل النبي صلى الله عليه و سلم أي الناس أشد بلاء قال الأنبياء ثم الأمثل فالأمثل
Nabi SAW ditanya : "Siapa manusia yang paling berat ujiannya?" beliau menjawab : "Para nabi, kemudian baru orang yang lebih dekat derajatnya kepada mereka berurutan secara bertingkat." (HR. Tirmidzi)

Kawan saya yang telah kehilangan uang dan bayi laki-lakinya terus berupaya bersabar atas ujian-ujian yang menimpanya. Ia ingin melakukan apa yang dicontohkan para Nabi sebagaimana ia ingin mendapatkan seperti apa yang dianugerahkan Allah kepada mereka. Kawan saya kini bersabar, dan sedang menunggu pahala. Dengan izin Allah.

مَا يَزَالُ الْبَلاَءُ بِالْمُؤْمِنِ وَالْمُؤْمِنَةِ فِى نَفْسِهِ وَوَلَدِهِ وَمَالِهِ حَتَّى يَلْقَى اللَّهَ وَمَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ
Ujian yang tiada henti-hentinya menimpa kaum mukmin laki-laki dan perempuan, baik yang mengenai dirinya, hartanya, anaknya, tetapi ia tetap bersabar, ia akan menemui Allah dalam keadaan tidak berdosa (HR. Tirmidzi)

Sabarlah wahai kawanku, kami mendoakanmu… [Muchlisin]
19:00 | 5 komentar

Urgensi Syahadat (3)


Berikut ini adalah lanjutan seri Materi Tarbiyah yang berjudul Urgensi Syahadat. Urgensi Syahadat (3) ini merupakan posting terakhir, kelanjutan dari Urgensi Syahadat (2). Pada seri Materi Tarbiyah berikutnya insya Allah akan dibahas tema yang berbeda.
***

Hakikat Dakwah Rasul (Haqiiqat Da’wah Ar-Rasuul)

Setiap nabi dan rasul senantiasa menyeru kepada pemurnian tauhid. Mereka mengajak manusia hanya menyembah kepada Allah dengan mengingkari taghut. Nabi SAW diutus oleh Allah untuk menjadi dai yang mengajak manusia kepada tauhid.

Allah SWT berfirman,
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ شَاهِدًا وَمُبَشِّرًا وَنَذِيرًا (45) وَدَاعِيًا إِلَى اللَّهِ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيرًا (46) [الأحزاب/45، 46]
Hai Nabi, sesungguhnya Kami mengutusmu untuk menjadi saksi dan pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan, dan untuk menjadi dai (penyeru) kepada (agama) Allah dengan izin-Nya dan untuk menjadi cahaya yang menerangi (QS. Al-Ahzab : 45-46).

Salah satu misi kerasulan sebagaimana informasi ayat di atas adalah sebagai dai yang menyeru ke jalan Allah (da’iyat ilallah). Dakwah hanyalah berorientasi mengajak manusia agar menyembah kepada Allah semata, sebagaimana Allah SWT berfirman,
لِكُلِّ أُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنْسَكًا هُمْ نَاسِكُوهُ فَلَا يُنَازِعُنَّكَ فِي الْأَمْرِ وَادْعُ إِلَى رَبِّكَ إِنَّكَ لَعَلَى هُدًى مُسْتَقِيمٍ [الحج/67]
Bagi tiap-tiap umat Kami telah tetapkan syariat tertentu yang mereka lakukan, maka janganlah sekali-kali mereka membantah kamu dalam urusan (syariat) ini, dan serulah kepada (agama) Tuhanmu. Sesungguhnya, kamu benar-benar berada pada jalan yang lurus. (QS. Al-Hajj : 67)

Ayat di atas menggunakan kata kerja perintah (fi’il amr) “wad’u ilaa rabbika, serulah kepada tuhanmu.” Tujuan utama dakwah telah ditetapkan dengan tegas oleh Allah dengan rumusan Ilallah atau ilaa rabbika.

Dalam ayat yang lain, Allah SWT juga berfirman,
وَادْعُ إِلَى رَبِّكَ وَلَا تَكُونَنَّ مِنَ الْمُشْرِكِينَ [القصص/87]
…dan serulah mereka kepada Tuhanmu, dan janganlah sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang musyrik (QS. Al-Qashash : 87)

Perintah berdakwah mengajak manusia ilaa rabbika, kepada Tuhanmu, dikaitkan langsung dengan larangan syirik. Hal ini semakin memperjelas rumusan tujuan utama dalam dakwah, yakni semata-mata mengajak manusia kepada Allah tanpa mempersekutukan dengan sesuatu apapun.

Allah juga berfirman,
قُلْ إِنَّمَا أُمِرْتُ أَنْ أَعْبُدَ اللَّهَ وَلَا أُشْرِكَ بِهِ إِلَيْهِ أَدْعُو وَإِلَيْهِ مَآَبِ [الرعد/36]
…katakanlah, “Sesungguhnya aku hanya diperintah untuk menyembah Allah dan tidak mempersekutukan sesuatu pun dengan Dia. Hanya kepada-Nya aku seru (manusia) dan hanya kepada-Nya aku kembali” (QS. Ar-Ra’du : 36)

Ilaihi ad’u (kepada-Nya sajalah aku menyeru manusia) dan wailaihi ma’aab (kepada-Nya aku kembali). Proses dakwah harus senantiasa terjaga autentisitasnya, menyeru kepada Allah, dan berpaling dari selain Allah. Pada bagian lain, Allah menggambarkan tujuan utama dakwah sebagai ilaa sabiili rabbika, sebagaimana firman—Nya,
ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ [النحل/125]
Serulah manusia ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik… (QS. An-Nahl : 125)

Menyeru manusia menuju kepada jalan Tuhan, bukan jalan-jalan yang lain, sebab hanya jalan Allah yang lurus. Allah menghendaki umat dibawa menuju jalan yang satu, jalan Allah, jalan ketuhanan, yang akan menyelamatkan manusia.

Tujuan dakwah yang dilakukan oleh setiap utusan Allah dari zaman ke zaman senantiasa sama, yakni mengajak manusia kepada Allah, tak ada tujuan yang lain. Mereka mengajak umatnya, agar menyembah hanya kepada Allah dan menjauhi tuhan sesembahan selain Allah.

Nabi Nuh a.s. mengajak umatnya menyembah Allah,
لَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَى قَوْمِهِ فَقَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ [الأعراف/59]
Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, lalu ia berkata, “Wahai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada ilah bagimu selain-Nya…” (QS. Al-A’raf : 59)

Demikian pula Nabi Hud a.s., beliau menyeru umatnya menuju tauhid, sebagaimana firman Allah SWT,
وَإِلَى عَادٍ أَخَاهُمْ هُودًا قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ [هود/50]
Dan kepada kaum ‘Ad (Kami utus) saudara mereka, Hud. Ia berkata, “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada ilah bagimu selain Dia…” (QS. Hud : 50)

Nabi Shaleh a.s. mengajak kaum Tsamud menyembah kepada Allah semata dengan meninggalkan sesembahan selain-Nya (QS. Al-A’raf : 73). Nabi Syuaib menyerukan hal yang serupa kepada penduduk Madyan (QS. Al-A’raf : 85). Pendek kata, seluruh rasul telah diberikan misi yang sama kepada umatnya masing-masing, sebagaimana telah difirmankan Allah SWT,
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ [النحل/36]
Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan), “Sembahlah Allah (saja) dan jauhilah taghut itu”… (QS. An-Nahl : 36)

Dengan demikian, seluruh aktifitas dakwah dari masa ke masa hingga akhir zaman tiba, telah disatukan oleh kesatuan tujuan utama, yaitu mengajak manusia kepada Allah dengan menyembah-Nya tanpa mempersekutukan dengan ilah-ilah yang lain.

Beberapa Keutamaan Besar yang Lain (Lahaa Fadhaa’il ‘Azhiimah Ukhra)

Terdapat sejumlah keutamaan yang amat mendasar pada kalimat syahadat yang diikrarkan setiap Muslim, selain yang disebutkan sebagiannya di muka. Diantara keutamaan yang fundamental pada kalimat syahadat ini adalah sebagai berikut:

Memberikan Kejelasan Identitas (I’tha’ Wudhuuh Al-Hawiyyah)
Seseorang yang telah mengikrarkan syahadat akan memiliki identitas dan karakter diri yang jelas dan kukuh. Ia menjadi pribadi yang spesifik (mutamayiz) dan segera terbedakan dengan yang lain. Seseorang yang berikrar syahadat akan tercelup dalam warna ketuhanan dan kenabian dalam segala aktifitas hidupnya.

Keimanan yang diikrarkan dengan kalimat syahadat akan membuahkan karakter diri, sebagaimana manusia dengan beraneka ragam ideologinya akan memiliki batas-batas identitas yang jelas dan membedakan mereka dari yang lain. Seseorang yang terwarnai oleh ideologi kapitalisme akan melahirkan pandangan, sikap hidup, dan tingkah laku yang sesuai dengan prinsip kebendaan. Demikian pula jika seseorang terwarnai oleh ideologi sosialisme atau komunisme, akan melahirkan pandangan, sikap hidup, dan tingkah laku yang khas sesuai tuntutan ideologi tersebut.

Kalimat syahadat melahirkan pandangan, sikap hidup dan perilaku yang rabbani. Cara berpikir, sudut pandang, cara merasakan, cara menikmati, sampai pada hal-hal praktis aplikatif dalam kehidupan, seperti: perkataan, perbuatan, penampilan, dan selera, akan terwarnai dalam keimanan kepada Allah. Inilah identitas yang sangat jelas dan kuat pada setiap orang yang mengikrarkan syahadat.

Mendatangkan Kebahagiaan Hakiki (I’tha’ haqiqah As-Surur)
Kalimat syahadat akan memberikan kebahagiaan hakiki kepada setiap orang yang mengikrarkannya. Kebahagiaan adalah masalah hati dan cara merasakan kehidupan. Tanpa dibimbing oleh iman yang terungkap dalam ikrar syahadat, seseorang akan cenderung memiliki hati yang tidak mengenal batas kebutuhan, perasaannya serba tidak puas dengan segala yang dimiliki, serta merasa serba kurang dengan berbagai kelimpahan harta dan sarana yang ada.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Tidak ada kebahagiaan dan kenikmatan sempurna bagi hati, kecuali dalam mencintai Allah (mahabbatullah) dan taqarub kepada Allah dengan hal-hal yang dicintai-Nya. Mahabatullah tidak mungkin terwujud, kecuali dengan berpaling dari yang dicintai selain-Nya. Inilah hakikat laa ilaaha ilallah. Ia adalah agama Ibrahim Al-Khalil, juga agama semua nabi dan rasul.”

Demikianlah, kebahagiaan hakiki menjadi milik orang berikrar syahadat, karena mereka telah memilih jalan yang benar.

Rasulullah bersabda,
اسعد الناس بشفاعتي يوم القيامة من قال لا إله إلا الله خالصا من قلبه
Orang yang paling berbahagia dengan syafaatku adalah orang yang mengucapkan laa ilaaha ilallah secara tulus ikhlas dari hatinya (HR. Bukhari)

Mengantarkan Umat Menuju Kemenangan (Qiyaadah Al-Ummah Nahwa An-Nashr)
Jika kita tengok sejarah kenabian, faktor apakah yang menyebabkan kaum Muslimin generasi pertama mencapai kemenangan dakwah? Sejumlah faktor bisa kita kemukakan, diantaranya soliditas umat Islam, kepemimpinan yang tangguh, ketaatan dan loyalitas kepada pimpinan, semangat juang yang tinggi, semangat pengorbanan dan kekuatan tekad. Akan tetapi, landasan apakah yang mengantarkan kaum muslimin generasi awal memiliki sikap-sikap seperti itu?

Tidak ada jawaban lain, kecuali pengaruh kalimat syahadat dalam jiwa mereka. Ikrar setia kepada Allah dan Rasulullah SAW telah membuat mereka merelakan segala yang dimiliki untuk diberikan hanya kepada Allah. Harta, tenaga, waktu, bahkan jiwa telah mereka serahkan sepenuhnya untuk Allah. Lihatlah ketangguhan dan kegigihan para sahabat dalam memperjuangkan kebenaran Islam! Tanpa ragu, mereka melakukan pembelaan terhadap kebenaran hingga kematian menjemput mereka.

Sebaliknya, jika umat Islam tidak lagi memegangi kalimat syahadat yang terjadi adalah kehinaan menimpa mereka. Musuh-musuh akan bergembira melihat kelemahan kaum Muslimin. Terjadilah degradasi moral dan kerusakan akhlak, dalam berbagai segi kehidupan, sehingga tidak ada lagi komitmen terhadap Allah dan rasul-Nya. Dalam kondisi inilah kaum Muslimin senantiasa mencapai titik puncak kehancuran dan kelemahannya.

Mengantarkan Orang ke Surga (Qiyaadah Al-Insaan nahwa Al-Jannah)
Rasulullah SAW dalam banyak keterangan memberikan kabar tentang keutamaan kalimat syahadat. Orang-orang yang berikrar syadahat, akan mencapai surga. Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah SAW
من مات وهو يعلم أنه لا إله إلا الله دخل الجنة
Barangsiapa meninggal sedang ia mengetahui bahwa tidak ada Tuhan kecuali Allah, ia masuk surga. (HR. Muslim)

Abu Hurairah bercerita, bahwa Rasul SAW bersabda,
أشهد أن لا إله إلا الله وأني رسول الله لا يلقي الله بهما عبد غير شاك فيهما إلا دخل الجنة
Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selai Allah dan bahwa aku adalah utusan Allah. Tidak ada seorang hamba yang bertemu Allah dengan kedua kalimat itu dan tidak ragu-ragu dengan keduanya, kecuali masuk surga (HR. Muslim)

Demikian juga Nabi SAW bersabda,
فمن لقيت من وراء هذا الحائط يشهد أن لا إله إلا الله مستيقنا بها قلبه فبشره بالجنة
Maka Siapa saja yang engkau temui di balik tembok ini, akan bersaksi bahwa tiada tuhan yang disembah selain Allah dengan keyakinan hati, sampaikan kabar gembira kepadanya dengan surga (HR. Muslim).

Keterangan-keterangan di atas menunjukkan sedemikian besar keutamaan kalimat syahadat. [sumber: Buku Seri Materi Tarbiyah; Syahadat dan Makrifatullah]
08:20 | 3 komentar

Sopir Bis, Laptop dan Kejujuran

Written By Admin BeDa on Selasa, 26 Mei 2009 | 14:51


Dua hari yang lalu. Bis melaju memasuki kota santri. Kembali akan mempertemukan kami dengan tempat keberangkatan Rihlah A'iliyah ini. Waktu menunjukkan pukul 16.40 saat kami sampai di bundaran GKB. Tiga keluarga turun di sini. Lalu kami meneruskan perjalanan yang tinggal 10 menit lagi.

Rumah peduli. Begitulah markaz dakwah ini dikenal. Di depannya, bis kami berhenti. Semua penumpang turun, demikian pula barang-barangnya. "Tidak ada barang yang tertinggal Pak?" Sopir bis bertanya untuk memastikan.
"Tidak ada. Terima kasih Pak" jawab beberapa orang mewakili peserta rihlah a'iliyah.

Beberapa meter bergerak, bis berhenti. Terlihat Pak Sopir berjalan cepat menuju kami sambil menenteng sebuah tas berat di tangannya. "Ini, ada yang ketinggalan, Pak" ujarnya sambil menyerahkan tas berwarna hitam itu.
"Terima kasih, Pak"
"Sama-sama"

Kami saling bertanya tas siapa itu. Tidak ada yang mengaku. Kuraba isinya. Laptop, ternyata ada laptop di dalamnya. Berarti tas ini milik salah seorang Ustadz yang turun di bundaran GKB tadi. Kupastikan lewat telpon. Dan… ternyata benar.
***

Sopir yang jujur. Benar-benar jujur. Kalau saja ia mau, ia bisa meneruskan laju bisnya dan 'menikmati' laptop itu. Kalaupun besuk ditanya ia bisa mengatakan tidak tahu menahu. Dan mungkin saja pemilik laptop juga tidak bisa memastikan apakah laptopnya hilang di bis atau tertinggal di villa. Namun, itu tidak dilakukannya.

Kita semua tentu menyukai orang-orang yang jujur seperti ini. Jiwa kemanusiaan kita tentu sangat mencintai kejujuran dan orang-orang yang jujur seperti sopir ini. Kehidupan akan merengkuh kedamaian saat berjumpa dengan orang-orang yang jujur seperti ini.

Lihatlah… betapa satu orang sopir yang jujur telah membawa kebahagiaan tidak hanya bagi keluarga Ustadz yang kehilangan laptop, tetapi juga bagi kami yang menjadi saksi peristiwa itu. Bahkan, bagi seluruh rombongan rihlah a'iliyah yang berjumlah 4 bis dan 4 mobil ini. Maka, betapa besarnya kemaslahatan yang tercipta di Indonesia ini jika para pemimpin dan wakil rakyat memiliki kejujuran seperti ini?!

Kejujuran memang selalu mendatangkan kebajikan-kebajikan berikutnya; maka saat sopir mengembalikan tas hitam itu, ia sesungguhnya telah melakukan kebajikan bagi dirinya dan mendatangkan kebaikan bagi orang lain. Ketika pemimpin memelihara kejujuran, ia berarti melakukan megaproyek kebajikan yang kebaikannya dirasakan oleh publik di wilayah kepemimpinannya. Semakin tinggi level kepemimpinan, semakin banyak manusia yang merasakan kemanfaatan. Ujung-ujungnya, baik bagi sopir ataupun pemimpin yang telah menanam saham kebaikan melalui kejujuran, terminal akhirnya sama; surga!

Inilah makna hadits :
إن الصدق يهدي إلى البر وإن البر يهدي إلى الجنة
"Sesungguhnya kejujuran membawa kepada kebaikan, dan sesungguhnya kebaikan itu membawa kepada surga." [HR. Bukhari-Muslim]

Maka, kami berdoa untukmu wahai sopir yang jujur: "Ya Allah, berikanlah balasan kebaikan yang lebih besar karena kejujurannya. Jadikanlah kejujurannya mengantarnya pada kebaikan, dan jadikanlah kebaikannya mengantarnya menuju Surga-Mu. Jadikan pula kami sebagai orang-orang yang jujur" [Muchlisin]
14:51 | 20 komentar

Rihlah A'iliyah

Written By Admin BeDa on Senin, 25 Mei 2009 | 12:29


Selama dua hari kami bersama puluhan keluarga mengikuti rihlah a'iliyah. Gerimis menemani perjalanan ini, beberapa menit sebelum bumi Claket bersentuhan dengan kaki-kaki kami. Seakan mengerti kompromi, butir-butir hujan itu tidak membasahi villa saat kami tiba.

Ada evaluasi amal siyasi dalam rihlah kali ini. Acara bakar jagung hingga dini hari. Dan, qiyamullail di tengah sepi. Setelah Subuh kami mendapat taujih Ustadz pengisi acara Bening Hati di TVRI. Berikutnya adalah saat-saat bersama keluarga; jalan-jalan, bincang-bincang, menikmati alam, sampai menemani anak-anak berenang.

Rihlah merupakan sebuah aktifitas yang kita butuhkan untuk melepas kepenatan. Ia juga kita perlukan untuk memperbaharui kesegaran berpikir dan sebagai sarana merenungi kebesaran-Nya. Karenanya, rihlah menjadi salah satu sarana tarbiyah.

Lebih dari itu, rihlah a'iliyah menjadi sarana peningkatan keharmonisan rumah tangga. Keluarga sakinah, adalah tujuannya. Melalui rihlah a'iliyah kita berbicara kepada istri dari hati ke hati; didukung suasana santai dan romantisme alam yang mungkin jarang kita temukan dalam keseharian. Melalui rihlah a'iliyah kita mencurahkan perhatian pada anak-anak, bercanda dengan mereka, bermain bersama mereka; sesuatu yang mungkin sulit kita alami -dalam kualitas yang sama- di tengah padatnya kesibukan kita; pekerjaan, amal tarbawi, sampai amal siyasi.

Tentu saja ada banyak keistimewaan rihlah. Itulah mengapa kita mendapatkan 9 ayat yang memerintahkan rihlah 'berjalan di muka bumi' dalam Al-Qur'an. Terlebih jika dalam rihlah yang kita lakukan ada waktu khusus untuk melakukan perenungan. Inilah penghentian sejenak. Yang oleh Anis Matta dikatakan :
"Kita memerlukan saat-saat seperti itu; saat di mana kita melepas kepenatan yang mengurangi ketajaman hati, saat di mana kita membebaskan diri dari rutinitas yang mengurangi kepekaan spiritual, saat di mana kita melepaskan sejenak beban dakwah selama ini kita pikul yang mungkin menguras stamina kita atau beban-beban aktivitas keduniaan yang lain yang sering membuat kita lelah. Kita memerlukan saat-saat seperti itu karena kita perlu membuka kembali peta perjalanan dakwah dan hidup kita; melihat-lihat jauhnya jarak yang telah kita tempuh dan sisa perjalanan yang masih harus kita lalui; menengok kembali hasil-hasil yang telah kita raih; meneliti rintangan yang mungkin menghambat laju pertumbuhan dakwah kita; memandang ke alam sekitar karena banyak aspek dari lingkungan strategis kita telah berubah."

Maka dua hari itu menjadi sangat berarti bagi kami. Lalu, gerimis kembali hadir mengantar kepergian kami. Tidak sampai merepotkan atau membuat basah kuyup baju dan tubuh kami. Butir-butir air langit itu justru menjadi simbol; sebagaimana kedatangannya untuk mengusir debu di bumi dan menumbuhkan kehidupan, rihlah ini telah mengusir kepenatan dan menumbuhkan semangat baru bagi kami. [Muchlisin]
12:29 | 8 komentar

Murabbi Saleh, Halaqah Muntijah

Written By Admin BeDa on Sabtu, 23 Mei 2009 | 10:03

We are sorry, starting from 13rd March 2010, Murabbi Saleh, Halaqah Muntijah cannot displayed. Sorry for this uncomfortable. This page, Murabbi Saleh, Halaqah Muntijah, deleted by blog owner because of some reason. Please to be understood.

Once more, we're sorry to visitors of BERSAMA DAKWAH blog. We hope you back to HOME. Thank you.
10:03 | 4 komentar

Mengelola Organisasi Islam


Malam Jum'at kemarin, sebelum tidur saya mendapatkan SMS dari seorang kawan. Ia mengeluhkan tentang kepemimpinan. Bukan kepemimpinan orang lain tetapi kepemimpinannya sendiri. Ia berpendapat kalau ia gagal dalam memimpin organisasinya kini.

Pada hari yang sama sebelum shalat Jum'at, saya terlibat pembicaraan tentang proposal dengan orang kedua di sebuah instansi sebelum memutuskan apakah proposal ini dibantu atau tidak. Yang saya herankan, organisasi Islam yang cukup besar yang mengajukan proposal ini ternyata menunjukkan ketidakprofesionalan dalam pengelolaannya. Setidaknya tercermin dari proposal yang kami bahas. Diantaranya pada estimasi anggaran. Bagaimana mungkin ada dua mata anggaran yang salah hitung, dan kesalahannya fatal. Belum lagi kesalahan lain yang bisa kita dapatkan –hanya- dari proposal itu.

Mengelola sebuah organisasi Islam adalah amanah yang berat. Konsekuensinya bukan semata-mata pribadi seorang pemimpin yang akan dimintai pertanggungjawaban. Tetapi juga citra Islam.

Alasan pertama itulah yang membuat Rasulullah SAW berpesan kepada Abu Dzar :
يا أبا ذر إنك ضعيف وإنها أمانة وإنها يوم القيامة خزي وندامة إلا من أخذها بحقها وأدى الذي عليه فيها
"Wahai Abu Dzar, sesungguhnya engkau lemah. Sementara (kepemimpinan) itu adalah amanah. Dan pada hari kiamat ia merupakan kehinaan dan penyesalan, kecuali bagi yang melaksanakannya sesuai dengan haknya dan melaksanakan yang semestinya" (HR. Muslim)

Alasan yang kedua tidak lebih ringan dari alasan sebelumnya. Atas kesalahan kita, nama Islam bisa terbawa-bawa. "Ternyata sama saja, organisasi Islam juga tidak amanah", "Tidak punya etika, apa bedanya berazas Islam atau bukan", dan komentar-komentar lain yang menggeneralisasi akibat kesalahan sebagian (pemimpin) organisasi Islam.

Untuk itu kita diingatkan dengan sebuah hadits yang sangat penting untuk kita renungkan.
ومن دعا إلى ضلالة كان عليه من الإثم مثل آثام من تبعه لا ينقص ذلك من آثامهم شيئا
"Barang siapa yang mengajak kepada kesesatan, baginya dosa sebagaimana dosa orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi dosa orang itu sedikitpun" (HR. Muslim)

Memang kasus kedua tidak separah hadits ini. Namun, ketika stigma negatif diberikan kepada Islam dengan sebab tindakan kita, patutlah kita takut bahwa dosa yang timbul akan menambah dosa kita.

Tulisan ini tidak hendak mengajak kita untuk menolak amanah. Terlebih jika amanah itu diberikan oleh umat/jamaah kepada kita, dengan alasan jika diberikan kepada orang lain bisa jadi kemaslahatan yang datang berkurang, atau muncul kemudharatan. Karenanya, untuk kawan saya, sms-nya saya jawab : “Sabarlah akhi, memimpin di masa-masa sulit memang berat namun pahalanya juga besar” Jawaban ini yang saya berikan sebab saya tahu 'kegagalannya' memimpin bukan semata karena faktor dirinya, tetapi juga faktor tim. Apalagi belum ada generasi penerus yang 'lebih baik' untuk menggantikannya.

Tulisan ini justru hendak mengingatkan kepada kita semua akan makna tanggungjawab dan amanah. Hendaknya kita berusaha menjadi lebih baik dalam mengelola organisasi; terlebih organisasi Islam. Hendaknya kita terus berupaya untuk menjadi profesional. Jangan cederai organisasi Islam, apalagi Islam itu sendiri. Anda setuju? [Muchlisin]
07:29 | 4 komentar

Jatuhnya Pesawat Hercules C130

Written By Admin BeDa on Kamis, 21 Mei 2009 | 14:44


Indonesia kembali berduka. Sebanyak 99 orang tewas dan 10 orang lainnya kritis dalam peristiwa jatuhnya pesawat Hercules C130. Pesawat milik TNI AU ini jatuh dan terbakar di Desa Geplak, Magetan, Jawa Timur, pada Rabu (20/5) pagi.

Sejatinya, ada dua hal yang bisa kita ambil ibrah dari peristiwa ini. Pertama, bahwa kematian itu bisa datang kapan saja. Kita tidak pernah tahu kapan malaikat maut menjemput ajal kita. Dan kita juga tidak pernah tahu di mana dan dengan cara apa kita akan menghadap kepada-Nya. Memang hampir semua orang ingin meninggal di usia senja. Jawaban ini juga yang diberikan oleh peserta kajian saat saya memberikan pre test sebelum berdiskusi bersama mereka. Semua peserta menginginkan kehidupannya berakhir pada usia di atas 60 tahun, kecuali satu orang. Sayangnya, kita tidak pernah diberi pilihan untuk itu.

Peristiwa jatuhnya pesawat Hercules C130, semakin meneguhkan kebenaran firman Allah: “Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila telah datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha Mengenal apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Munafiqun : 11). Maka, sudahkah kita menyiapkan diri jika sewaktu-waktu ia menjemput kita?

Kedua, jika saat kematian adalah takdir, maka kita tetap tidak boleh meninggalkan sunnatullah. Artinya apa? Banyak disinyalir bahwa penyebab jatuhnya pesawat Hercules C130 adalah karena tidak laiknya pesawat ini untuk beroperasi. Jika demikian halnya, bukankah kita yang tidak memenuhi sunnatullah yang juga disebutkan dalam firman-Nya: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa apa yang pada diri mereka ” (QS. Ar-Ra’du : 11). Bagaimana mungkin kita mengharapkan keselamatan sementara kita justru menjerumuskan diri dalam ketidakselamatan?

Tidak kali ini saja kecelakaan pesawat terjadi. Sebelumnya, 27 Agustus 2008 Sriwijaya Air Penerbangan 62 tergelincir saat mendarat di Jambi. 13 orang terluka. Yang paling tragis adalah peristiwa jatuhnya Adam Air Penerbangan 574 di Selat Makassar pada Januari 2007. Semua 96 penumpang dan 6 awak pesawat tewas serta jasad seluruh penumpang dan bangkai pesawat terkubur di dasar laut. Dan kini peristiwa serupa justru terjadi pada pesawat TNI yang seharusnya lebih kuat.

Demikian juga kita sering melupakan sunnatullah ini dalam berbagai konteks kehidupan. Termasuk keinginan umat untuk mendapatkan kejayaan Islam, sementara ia lupa bahwa banyak sunnatullah yang belum dipenuhinya. Semoga kita senantiasa diberi kemudahan untuk mengingat kematian dan mempersiapkan diri menghadapinya, serta berjalan di atas sunnatullah dalam kehidupan ini.[Muchlisin]
14:44 | 8 komentar

Spirit Kebangkitan

Written By Admin BeDa on Rabu, 20 Mei 2009 | 19:44


101 tahun yang lalu. Pada tanggal yang sama dengan hari ini, para pemuda mendeklarasikan berdirinya Boedi Utomo. Spirit yang menjadi latar belakang pendirian itu adalah spirit kebangkitan. Mereka merasakan keterpurukan bangsa di bawah kolonialisme yang terus berlangsung saat itu. Dr. Sutomo bersama-sama pemuda lainnya bertekad mendirikan perkumpulan yang tidak hanya diperuntukkan bagi golongan atau daerah tertentu. Spirit yang ada memang spirit kebangkitan. Karenanya, tidak salah jika kemudian tanggal 20 Mei dikenal sebagai Hari Kebangkitan Nasional.

Jika Dr. Sutomo mendirikan Budi Utomo dan diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional, sesungguhnya setiap pribadi juga perlu memiliki spirit yang sama; spirit kebangkitan. Mungkin kita banyak bertemu dengan orang-orang yang hampa dari spirit ini. Atau bahkan -na'udzubillah- kita termasuk salah satunya. Namun, kalau kita mau memperhatikan orang-orang di sekeliling kita, kita akan menemukan spirit kebangkitan ini dimiliki sebagian diantara mereka.

Hari ini saya bertemu dengan kawan, yang barangkali bisa kita ambil semangat kebangkitannya. Kawan saya ini sudah lulus beberapa tahun yang lalu dari SMK. STM dulu namanya. Ia juga sudah bekerja dan menanggung nafkah. Meskipun belum menikah.

Kawan saya ini menyadari sebagai muslim yang baik ia perlu mempelajari Islam lebih dalam. Lebih dari itu ia bahkan memiliki azzam untuk menjadi dai, yang akan membina umat dan menjadi bagian dari pemegang saham kejayaan Islam. Karenanya, meskipun dari pagi sampai sore bekerja, malamnya ia aktif kuliah di fakultas agama Islam. Meskipun tenaganya terkuras delapan jam dalam pekerjaan, ia tetap semangat, dengan wajah cerah dan tidak kehilangan senyuman.

Spirit kebangkitan yang dimilikinya bahkan membuatnya memiliki energi lebih untuk tidak sekedar kuliah. Ia memang datang ke kampus untuk kuliah. Tapi, ia juga datang ke kampus untuk berdakwah.

Memang sulit menjadi dai tanpa menguasai bahasa Arab. Dan, fakultas memang tidak pernah memberikan garansi untuk itu. Namun, spirit kebangkitan yang dimiliki seseorang selalu menemukan cara kreatif menghadapi rintangan. Spirit kebangkitan senantiasa mampu mendapatkan solusi dari segala problematika yang datang. Maka, kawan saya ini juga belajar bahasa Arab di waktu khusus bersama seorang Ustadz yang spesialis di bidang itu. Dan, kini keberhasilannya akan dibuktikan oleh waktu.

Spirit kebangkitan secara bertahap telah mengubahnya. Spirit yang sama juga akan mengubah setiap orang menjadi lebih baik dari sebelumnya. Spirit kebangkitan seakan membawa kawan saya melalui proses metamorfosis kepribadian. Dan nyatanya, ini juga berlaku bagi setiap orang yang memiliki spirit yang sama. Spirit kebangkitan. Sudahkah kita memilikinya?[Muchlisin]
19:44 | 4 komentar

Tiga Manusia dan Ujian-Nya

Written By Admin BeDa on Selasa, 19 Mei 2009 | 20:00


Hujan baru saja lewat. Kedatangannya yang tidak terlalu lama sudah cukup untuk membuat bumi basah. Bahkan ia mampu mengerdilkan jiwa orang-orang yang lemah. Semangat melemah sebagaimana langit yang tidak lagi cerah. Jiwa dilanda gelisah sebagaimana mendung yang masih membuncah. Dada disesaki oleh masalah sebagaimana bumi yang diselimuti dingin.

Sebagaimana bumi baru saja dilalui hujan dan menyisakan rasa yang berbeda pada manusia, aku juga baru saja dipertemukan dengan tiga orang yang berbeda. Tiga orang dengan tiga permasalahannya. Tiga jiwa dengan ujian yang paling khas buat mereka.

Orang pertama, ia diuji dengan cinta. Sejatinya, ia adalah laki-laki kuat. Berbagai keterbatasan telah dilaluinya dan berbagai ujian telah diselesaikannya. Namun barangkali inilah ujian yang paling berat baginya. Ia menyadari jalan yang ia tempuh saat ini terlalu suci untuk disertai dengan 'rengekan cinta' semacam ini. Toh, ia juga manusia biasa. Cinta telah menjadi blunder baginya.

Orang kedua, ia diuji dengan popularitas. Ia cerdas. Masih muda. Lebih muda dari orang pertama. Tapi, popularitas yang ingin dikejarnya terasa terlalu mahal untuk dibayar dengan hilangnya banyak kesempatan untuk beramal. Keinginannya dipuji terlalu mendominasi dan membuatnya begitu sulit mengikhlaskan diri. Ia terjebak. Terjebak pada jalan yang telah dirintisnya sendiri.

Orang ketiga, ia diuji dengan kekayaan. Tapi tahukah engkau saat aku datang ke rumahnya dan memang aku sudah mengenalnya. Ia tidak perlu bicara untuk menjelaskan siapa dirinya. Sebab tutur katanya, gaya hidupnya, dan pola kesehariannya lebih banyak berbicara bahwa ia lulus dengan ujian itu. Ujian yang barangkali akan banyak membuat orang terlena; dalam kesombongan atau dalam 'menelikung' perjuangan. Ia tetap sederhana. Tapi ia menjadi teladan di sekelilingnya; di jalan panjang perjuangan ini. Kekayaan ternyata ada di tangannya untuk dikembalikan kepada-Nya; bukan berada di hatinya yang membuat kekikiran menutup jalan Tuhan.

Benar kata Ustadz Rahmat Abdullah. “Engkau akan diuji di titik terlemah yang engkau miliki.” Ujian itu bisa cinta, bisa popularitas, dan bisa berupa harta. Satu yang pasti; yang paling berat kita hadapi adalah ujian di titik terlemah yang kita miliki. Banyak orang yang akan terjerumus dalam ujian-ujian itu. Tetapi, akan selalu ada orang-orang yang mampu melewati ujian itu dan mendapatkan kelulusan dari-Nya. Bagaimana dengan kita?[Muchlisin]
20:00 | 9 komentar

Rahasia Medis di balik Hadits

Written By Admin BeDa on Senin, 18 Mei 2009 | 12:02


Selain membantu mengurangi risiko penyakit menular seksual, kini diketahui bahwa khitan juga mengurangi risiko terkena kanker penis. Dengan kata lain, para pria yang tidak khitan berisiko terkena kanker penis. Mengapa demikian? Sebab, orang yang tidak khitan lebih mudah terkena infeksi kronis karena tidak higienisnya alat kelamin yang kepalanya tertutup.

Demikianlah, satu per satu hikmah ajaran Islam ditemukan seiring dengan berkembangnya ilmu pengetahuan. Masalahnya adalah, seringkali kita terburu-buru untuk 'meragukan' syariat-Nya saat akal kita belum mampu menjangkaunya. Bagi orang yang beriman, langkah yang diambil adalah menerima segala syariat Allah dengan 'tangan terbuka' meskipun ia belum mengetahui hikmah di balik syariat itu. Sembari menjalankan syariat itu, kita berusaha mencari hikmahnya. Meskipun, tidak semua syariah bisa di-logika-kan.

Inilah mengapa, Abu bakar menjadi contoh terbaik dalam keimanan model ini. Ia digelari Ash-Shidiq juga karena keimanannya yang sempurna ini. Saat banyak kaum muslimin yang masih ragu tentang kebenaran Isra' Mi'raj, keimanan Abu Bakar yang membaja langsung menjamin kebenarannya. "Jika Muhammad yang mengatakannya, pasti benar". Demikianlah logika keimanannya yang sempurna.

Empat belas abad kemudian, Hasan Al-Banna menjelaskan korelasi dua hal ini dalam ushul isyrin-nya yang terkenal:
"Pandangan syar’i dan pandangan logika memiliki wilayahnya masing-masing yang tidak dapat saling memasuki secara sempurna. Namun demikian, keduanya tidak pernah berbeda (selalu beririsan) dalam masalah yang qath’i (absolut). Hakikat ilmiah yang benar tidak mungkin bertentangan dengan kaidah-kaidah syariat yang tsabitah (jelas). Sesuatu yang zhanni (interpretable) harus ditafsirkan agar sesuai dengan yang qath’i. Jika yang berhadapan adalah dua hal yang sama-sama zhanni, maka pandangan yang syar’i lebih utama untuk diikuti sampai logika mendapatkan legalitas kebenarannya, atau gugur sama sekali."

Akhirnya, marilah kita renungkan hadits Nabi kita yang mulia setelah kita mengetahui rahasia medis dari khitan yang ia ajarkan:
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - قَالَ « كُلُّ أُمَّتِى يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ ، إِلاَّ مَنْ أَبَى » . قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَنْ يَأْبَى قَالَ « مَنْ أَطَاعَنِى دَخَلَ الْجَنَّةَ ، وَمَنْ عَصَانِى فَقَدْ أَبَى »

Dari Abu Hurairah, Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda, "Setiap umatku akan masuk surga, kecuali orang yang enggan." Ditanyakan (oleh sahabat) kepada Rasulullah "Siapakah orang yang enggan?" Rasulullah menjawab: "Siapa yang mentaatiku niscaya masuk surga, dan siapa yang mendurhakaiku maka ia termasuk orang yang enggan" (HR. Bukhari)

-Ditulis saat mentari enggan menampakkan sinarnya dan hujan menunggu saat terbaiknya- [Muchlisin]
12:02 | 10 komentar

Perang Muktah dan Momentum Kepahlawanan

Written By Admin BeDa on Minggu, 17 Mei 2009 | 17:45


Alhamdulillah, seri Renungan Harian masih bisa hadir di blog ini pada usianya yang ketiga. Saya tidak tahu apakah nanti bisa istiqomah menulis setiap hari dan mempostingnya. Saya hanya bisa berdoa semoga Renungan Harian ini memang menjadi renungan harian, bukan renungan pekanan, atau renungan bulanan. Karenanya saya juga meminta bantuan doa kepada semua kawan agar diberikan keistiqomahan menulis sebagai bagian dari usaha dakwah.
***

Sekarang kita berada di bulan Jumadil Ula tahun 1430 H. Pada bulan yang sama 1422 tahun yang lalu, terjadilah persitiwa besar dalam sejarah umat Islam. Kaum muslimin terlibat peperangan dengan Romawi; 40.000 tentara Islam melawan 200.000 tentara Romawi. Perang ini kemudian terkenal dengan nama Perang Muktah.

Ketika perang ini berkecamuk, Khalid hanyalah prajurit biasa. Ia ikut berperang di bawah pimpinan tigas panglima Islam, Zaid bin Haritsah, Ja’far bin Abi Thalib, dan Abdullah bin Rawahah. Atas kehendak Allah, satu per satu panglima Islam tersebut syahid di medan Muktah. Ketika panji perang diambil oleh Tsabit bin Arqam untuk diangkat tinggi-tinggi agar kaum muslimin tidak kacau balau. Dengan gesitnya, Tsabit melarikan kudanya menuju Khalid bin Walid, sembari menyerahkan bendera kepadanya.

“Peganglah panji ini, wahai Abu Sulaiman!” kata Tsabit.

“Aku tidak pantas memegangnya, Andalah yang lebih berhak, karena Anda lebih tua dan telah menyertai Perang Badar,” jawab Khalid.

“Ambillah, engkau lebih tahu siasat perang dari pada aku, dan demi Allah, aku tidak akan mengambil panji perang ini kecuali untuk aku serahkan kepadamu.”

Khalid semula ragu, merasa tidak pantas menerimanya. Tetapi setelah tentara Islam secara aklamasi memintanya, ia pun bangkit. Inilah momentum kepahlawanan Khalid bin Walid. Sepanjang sejarah hidup sebelumnya Khalid telah memerangi umat Islam. Baru saja ia masuk Islam beberapa bulan, kini datang momentum untuk berkarya bagi Islam. Dan, momentum ini benar-benar bersambut dengan tepat. Khalid menunjukkan karya terbaiknya sebagai ahli strategi perang. Maka, sejak saat itu ia dikenal menjadi panglima terbaik yang selalu memenangkan peperangan.


Begitulah saat momentum datang dan kita mampu mengambilnya dengan tepat. Manakala tidak, tentu kesempatan besar akan lewat dan belum tentu ia datang kedua kalinya. Saat momentum termanfaatkan dengan benar, ia akan menjadi 'lompatan sejarah' bagi manusia yang mendapatkannya. Dan, inilah yang terjadi pada Khalid.

Ini juga yang terjadi pada tahun 1998 saat gerakan mahasiswa Islam di Indonesia berteriak lantang "turunkan Soeharto"; tuntutan yang revolusioner saat itu. Lalu diikuti oleh gerakan mahasiswa yang lain. Maka, bergemalah seruan reformasi. Singkat kata, Soeharto turun dan Orde baru tumbang. Momentum ini termanfaatkan dengan baik dan belum tentu terulang kembali dalam panggung sejarah.

Saat momentum itu lewat dan baru disadari di kemudian hari, yang terjadi adalah penyesalan. Dan inilah yang dialami oleh tokoh reformasi Amin Rais. Pada tahun 1999, seluruh parpol kecuali PKB dan PDIP mendatangi Amin Rais. Rombongan yang dimotori Partai Keadilan ini meminta Amin Rais menjadi calon presiden, karena inilah momentumnya. Namun, Amin menolak. Ternyata, momentum ini lewat begitu saja dan benar, tidak terulang untuk kedua kalinya. Amin Rais batal mempersembahkan karya terbaiknya, dan keputusan ini menjadi keputusan politik yang disesalinya.

Dalam setiap kehidupan kita, akan datang momentum-momentum kepahlawanan kita. Yang menjadi soal adalah: apakah kita bisa membacanya dengan cermat dan mampu memanfaatkannya dengan tepat. Jika jawabannya ya, lompatan besar akan kita raih. Sebaliknya, jika tidak, penyesalan yang akan datang sebab momentum itu tidak datang sama persis untuk kedua kalinya. [Muchlisin]
17:45 | 5 komentar

Piala Oscar dan 'Piala' Padang Mahsyar

Written By Admin BeDa on Sabtu, 16 Mei 2009 | 11:15


Hari ini 80 tahun yang lalu, Piala Oscar untuk pertama kalinya diberikan. Inilah penghargaan film paling utama di Amerika Serikat. Penghargaan ini diberikan oleh Academy of Motion Picture Arts and Sciences, sebuah organisasi penghormatan profesional yang di tahun 2007 mempunyai keanggotaan sebanyak 5.830 orang pemilih. Aktor-aktor (dengan keanggotaan sebanyak 1.311) merupakan kelompok pemilih terbesar.

Banyak insan perfilman yang menantikan even ini dan berharap menjadi pemenangnya. Betapa tidak, selain disorot oleh kamera dari berbagai Negara, penerima piala oscar juga disaksikan oleh ratusan juta mata di seluruh dunia. Barangkali, motivasi mendapatkannya merupakan bentuk pemenuhan kebutuhan aktualisasi diri, kebutuhan tertinggi dalam diagram Maslow.

Bayangkan Anda yang berada di atas panggung saat itu. Lalu nama Anda disebut. Anda berjalan diiringi gemuruh telapak tangan. Semua orang yang hadir berdecak kagum sambil mengucapkan selamat. Anda juga sadar, ratusan juta pasang mata memperhatikan Anda, entah secara live atau siaran tunda. Membanggakan…

Sekarang marilah kita bayangkan hal lain yang lebih besar…
(Meskipun imajinasi kita tidak mungkin sama persis dengan kejadian sebenarnya)
Sebuah panggung yang disaksikan tidak hanya oleh ratusan juta pasang mata, tetapi oleh seluruh manusia sejak Adam sampai manusia terakhir. Bahkan, bukan hanya manusia yang menyaksikan saat itu, melainkan juga Sang Pencipta Manusia. Kita, pada saat itu, satu per satu akan menerima ‘award’ yang lebih berharga dari piala Oscar, karena ia merupakan akumulasi ‘prestasi’ kita selama hidup di dunia. Bedanya, kalau piala Oscar menggambarkan ‘prestasi positif’ maka yang kita terima kali ini bisa positif dan bisa negatif, tergantung amal-amal kita.

Bedanya juga, kalau orang menerima piala Oscar ia bisa dengan bebas memakai tangan kanannya, maka pada even yang maha dahsyat ini kita tidak bisa memilih cara menerima sesuka hati kita. Kita akan menerima dengan cara yang sesuai dengan hakikat hidup kita, sekaligus menggambarkan bagaimana kehidupan berikutnya –yang abadi- akan kita lalui.

Marilah kita renungi ayat-ayat ini :
Adapun orang yang diberikan kitabnya dari sebelah kanannya,
maka dia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah,
dan dia akan kembali kepada kaumnya (yang sama-sama beriman) dengan gembira.
Adapun orang-orang yang diberikan kitabnya dari belakang,
maka dia akan berteriak: "Celakalah aku".
Dan dia akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka).
Sesungguhnya dia dahulu (di dunia) bergembira di kalangan kaumnya (yang sama-sama kafir).
Sesungguhnya dia menyangka bahwa dia sekali-kali tidak akan kembali (kepada Tuhannya).

(QS. Al-Insyiqaq : 7-14)

Bacalah ayat-ayat itu dan marilah kita renungkan… [Muchlisin]
11:15 | 2 komentar

Urgensi Syahadat (2)


Berikut ini adalah lanjutan seri Materi Tarbiyah yang berjudul Urgensi Syahadat. Karena pembahasannya cukup panjang, maka sengaja dibagi menjadi 3 postingan. Semoga bermanfaat buat kawan-kawan pembaca, dan mohon maaf bila kurang nyaman karena tidak ditulis secara keseluruhan dalam satu posting.
***

Landasan Perubahan (Asas Al-inqilab)

Bagi umat manusia yang semenjak awal hidupnya telah dituntun oleh syahadat dan dibimbing Islam, syahadat merupakan tonggak dan memandu jalan. Namun bagi umat manusia yang telah tersesat jalan, syahadat adalah prinsip yang menjadi titik tolak perubahan, baik secara individual maupun kolektif, menuju kehidupan yang sesungguhnya dikehendaki oleh sang Khaliq. Syahadat mengubah manusia secara total, karena terdapat prinsip dasar yang mengubah cara pandang manusia akan hakikat diri, alam semesta, dan tuhannya. Ibaratnya, syahadat membuat orang kafir kembali dilahirkan untuk kedua kali, karena ia mendapati kehidupannya yang sama sekali baru. Masyarakat jahiliyah yang telah sedemikian pekat kesesatan mereka, berhasil diubah oleh Nabi SAW dengan syahadat ini, baik orang per orang maupun masyarakat secara umum.

Perubahan Individual

Dalam konteks individual, bisa kita saksikan perubahan total yang terjadi pada masing-masing pribadi sahabat Nabi SAW. Umar bin Khattab yang selama masa jahiliyahnya begitu banyak melakukan kejahatan, setelah mengikrarkan kalimat syahadat, akhirnya berubah menjadi seorang Umar yang salih dan pembela kebenaran Islam. Sebelum Islam, Umar hanya dikenal sebagai jawara gulat yang selalu menjadi bintang di pasar Ukazh. Ia juga pembunuh salah satu anak perempuannya, pemabuk, pembenci Rasulullah dan para pengikutnya, hingga dikisahkan bahwa kejahatannya seorang diri lebih menakutkan dibanding kejahatan kaum Quraisy seluruh Makkah. Setelah beliau bersyahadat, lahirlah Umar dengan sosok yang dulu namun dengan kepribadian dan cara pandang yang berubah total.

Setelah bersyahadat, ia merupakan pembela Islam yang amat tangguh, pengasih sesama Muslim, pembeda antara yang hak dan yang batil, hingga mendapatkan julukan Al-Faruq. Ia merupakan manusia yang karena keimanannya yang teguh ditakuti bukan saja oleh orang kafir, bahkan setan pun lebih memilih jalan lain jika berpapasan dengan Umar. Ia juga yang didoakan Rasulullah agar masuk Islam, karena padanya terdapat kekuatan yang berarti bagi dakwah. Akhirnya, manusia yang sejarah masa lalunya penuh dengan cerita kelam itu, dengan syahadat bahkan akhirnya menjadi khalifah, amirul mukminin, di mana posisi itu tidak diberikan kepada semua orang.

Umar adalah contoh paling nyata sabda Rasulullah SAW,
“Sebaik-baik kalian di masa jahiliyah adalah sebaik-baik kalian di masa Islam” (HR. Ahmad)

Khalid bin Walid yang dahulu sedemikian gigih memerangi Islam semenjak di Makkah hingga hijrahnya Nabi ke Madinah, begitu membaca syahadat dan masuk Islam, berubah total menjadi pejuang kebenaran dan Islam hingga mendapatkan julukan Saifullah Al-Maslul (Pedang Allah yang terhunus). Pada perang Badar, Uhud, dan Khandaq, ia masih berperang melawan kaum muslimin. Pada tahun 8 H, Khalid baru masuk Islam, dan ia pantang meletakkan pedangnya yang basah oleh darah kaum muslimin karena harus menebus kesalahannya. Kini pedangnya itu basah oleh darah orang-orang kafir, karena ia bertempur di pihak kaum muslimin. Lihatlah, bagaimana ia menjadi pembela Islam setelah mengucap syahadat.

Ketika berkecamuk Perang Muktah, Khalid hanyalah prajurit biasa. Ia ikut berperang di bawah pimpinan tigas panglima Islam, Zaid bin Haritsah, Ja’far bin Abi Thalib, dan Abdullah bin Rawahah. Atas kehendak Allah, satu per satu panglima Islam tersebut syahid di medan Muktah. Ketika panji perang diambil oleh Tsabit bin Arqam untuk diangkat tinggi-tinggi agar kaum muslimin tidak kacau balau. Dengan gesitnya, Tsabit melarikan kudanya menuju Khalid bin Walid, sembari menyerahkan bendera kepadanya.

“Peganglah panji ini, wahai Abu Sulaiman!” kata Tsabit.

“Aku tidak pantas memegangnya, Andalah yang lebih berhak, karena Anda lebih tua dan telah menyertai Perang Badar,” jawab Khalid.

“Ambillah, engkau lebih tahu siasat perang dari pada aku, dan demi Allah, aku tidak akan mengambil panji perang ini kecuali untuk aku serahkan kepadamu.”

Setelah berkata demikian, Tsabit berseru kepada pasukan Islam, “Bersediakah kalian dipimpin oleh Khalid?” Serempak pasukan Islam menjawab, “Bersedia!” Akhirnya diambillah bendera perang tersebut dan Khalid memimpin pasukan Islam dengan gagah perkasa, dilandasi oleh pengalaman perang yang telah ia miliki sebelumnya. Inilah pembalikan total pada diri Khalid, dan musuh Islam yang banyak membunuh kaum muslimin dalam berbagai peperangan, hingga menjadi seorang panglima perang Islam.

Thufail bin Amr Ad-Dausi, seorang pemuda yang terlahir dari keluarga terhormat. Ia sering peringatan dan keluarganya, agar sekali-kali tidak mendengar perkataan Muhammad. Keluarganya selalu khawatir kalau Thufail menjadi pengikut Muhammad. Setiap Thufail ke Kakbah selalu menutup kedua telinganya dengan kapas, agar tidak mendengar perkataan Muhammad. Akan tetapi, takdir Allah menghendaki, suatu saat ketika di dekat Kakbah ia mendengar sebagian apa yang dibaca oleh Nabi SAW.

Sebagai ahli syair, Thufail bisa membedakan mana kalimat yang indah dan tidak indah. Begitu mendengar sebagian bacaan Rasulullah SAW tatkala shalat, bertambah kuatlah keinginannya untuk mengetahui ajaran Islam. Segera ia datang ke rumah Nabi dan meminta agar mendapatkan menyampaikan beberapa kalimat dan membacakan beberapa ayat Al-Qur’an. Demi mendengar penjelasan Nabi, tidak ragu lagi Thufail segera masuk Islam dengan membaca kalimat syahadat di depan Nabi SAW.

Lihatlah, bagaimana perubahan besar terjadi dalam dirinya! Baru saja ia mengucap dua kalimat syahadat, yang terbayang di benaknya adalah kewajiban untuk mendakwahi keluarga dan lingkungannya agar masuk Islam. Bergegas ia pulang kampung halamannya untuk menunaikan tugas besar tersebut. Orang yang pertama kali dijumpainya adalah bapaknya, untuk disampaikan kebenaran Islam. Luar biasa, tugas dakwah pertama ini berhasil. Bapaknya masuk Islam atas izin Allah, setelah mendengar keterangan Thufail. Orang kedua yang ia temui adalah ibunya dan disampaikan kalimat dakwah. Kembali ia berhasil melaksanakan tugas dakwah, ibunya pun segera masuk Islam.

Dakwah berlanjut kepada istrinya. Subhanallah, keterangan Thufail telah membuat istrinya berketetapan hati untuk masuk Islam. Selesailah tugas dakwah yang besar di lingkungan keluarganya sendiri. Bapak, ibu, dan istrinya telah masuk Islam. Thufail tidak berhenti. Segera ia sebar luaskan dakwah kepada tetangga dan seluruh masyarakat Daus. Betapa sedih hatinya tatkala dakwah kali ini tidak ada yang menyambut. Tidak ada masyarakat Daus yang mau masuk Islam atas dakwahnya, kecuali Abu Hurairah.

Segera Thufail pergi ke Makkah dan menjumpai Nabi SAW. ia berkata, “Wahai Rasulullah, saya tidak kuasa menghadapi banyaknya perjudian dan perzinaan di Desa Daus. Mohonkanlah kepada Allah agar Dia menghancurkan penduduk Daus.” Tetapi apakah yang dilakukan Nabi? Segera beliau menengadahkan tangan sembari memohon kepada Allah, “Ya Allah, berilah petunjuk kepada penduduk Daus dan datangkanlah mereka kepadaku dengan memeluk Islam.” Setelah itu, beliau bersabda, “Kembalilah engkau kepada kaummu, dakwahilah mereka dan bersikap lembutlah kepada mereka.”

Ucapan Nabi pada pertemuan kedua ini amat menakjubkan bagi diri Thufail. Kata-kata yang amat indah, mencerminkan kepribadian yang amat luhur. Segera ia kembali ke kampung halamannya dan kembali melakukan dakwah kepada masyarakat Daus. Hari berganti hari, hingga Nabi SAW melaksanakan hijrah ke Madinah dan terjadilah Perang Badar, Uhud, dan Khandaq. Pada saat Nabi SAW berada di Khaibar –setelah negeri itu sudah dikuasai kaum muslimin- satu rombongan besar penduduk Daus datang menghadap Nabi untuk menyatakan masuk Islam.

Subhanallah, ketekunan dakwah Thufail kembali membuahkan hasil. Delapan puluh kepala keluarga beserta seluruh penghuni rumahnya menghadap Nabi dan mengucapkan syahadat di depan beliau. Inilah contoh perubahan besar pada orang yang telah berikrar syahadat. Baru saja Thufail masuk Islam, ia segera bergerak tanpa menunggu besok, untuk mengajak orang lain menuju keindahan Islam. Syahadat adalah awal mula perubahan yang besar pada diri Thufail bin Amr ad-Dausi.

Kalimat Laa ilaaha ilallah telah membongkar mentalitas dan kejiwaan setiap manusia, dari penghambaan kepada sesama manusia dan penghambaan kepada benda-benda, menuju penghambaan hanya kepada Allah semata. Inilah kunci perubahan total yang terjadi pada individu dan masyarakat. Penghambaan kepada benda-benda telah membuat manusia menjadi hina dan tiada berharga, menyebabkan manusia menjadi kehilangan harkat kemanusiaannya.

Perubahan Sosial

Dalam konteks sosial, bisa kita saksikan perubahan total yang terjadi pada masyarakat paganis penyembah berhala di masa Nabi dibangkitkan. Di masa jahiliyah, mereka saling bermusuhan satu dengan yang lain, saling bermusuhan satu dengan yang lain, saling merampas hak, pencurian dan perampokan merajalela, gemar melakukan pembunuhan terhadap anak-anak perempuan, perzinaan dan mabuk-mabukan menjadi tradisi yang berkembang luas. Setelah mereka dicelup dalam shibghah Islam, terjadilah perubahan total.

Masyarakat Islam yang terbentuk setelah diutusnya Nabi SAW, diliputi oleh cinta dan kasih sayang sesama mereka, saling menjaga hak, menjaga martabat kemanusiaan, mengangkat dan memberikan penghormatan kepada kaum perempuan yang semula direndahkan, dan mereka tunduk kepada aturan Allah SWT dalam segala aspeknya. Tradisi minum khamr yang selama bertahun-tahun menjadi kebiasaan hidup masyarakat jahiliyah, masih terbawa pada sebagian masyarakat Islam. Namun begitu turun ayat-ayat yang melarang minum khamr, serentak masyarakat Islam meninggalkannya, tanpa ada yang membantah dan melanggar.

Anas bin Malik, seorang budak dari Abu thalhah, sat itu sedang melayani tamu-tamu tuannya, diantaranya Ubai bin Ka’ab, Suhail bin Baidha, Abu Ubaidah, dan lain-lain. Tiba-tiba ada yang mengabarkan bahwa telah turun ayat yang mengharamkan minum khamr. Sat itu pula para sahabat yang memegang botol minuman langsung memecahkannya, yang sudah melekatkan gelas di bibirnya langsung membuangnya dan yang telah terlanjur meminumnya memasukkan jari tangannya ke dalam mulut agar dapat memuntahkannya kembali. Simpanan-simpanan khamr yang ada di rumah langsung dibuang di jalan-jalan. Madinah, laksana banjri khamr. Mereka keluar rumah dan berteriak, “kami telah tinggalkan, wahai tuhan kami! Kami telah tinggalkan, wahai tuhan kami!”

Kaisaan, seorang sahabat pedagang khamr datang dari negeri Syam sambil membawa khamr dalam beberapa kantong kulit untuk dagangan. Dia menghadap Rasulullah SAW sambil membawa khamrnya.

“Wahai Rasulullah, aku datang membawa untukmu minuman yang lezat.” Rasulullah SAW menjawab, “Wahai Kaisaan, khamr telah diharamkan sepeninggalmu.” “Lalu apa boleh saya menjualnya, wahai Rasulullah?” tanya Kaisaan. “Ia telah diharamkan diminum dan diharamkan untuk diambil harganya,” jawab Rasulullah SAW.

Segera Kaisaan keluar mengambil kantong-kantong khamr dagangannya dan ditendangnya kuat-kuat hingga hancur berantakan.

Sesungguhnya setan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian diantara kamu lantaran (meminum) khamr dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan shalat, maka berhentilah kamu (dari pekerjaan-pekerjaan itu). (QS. Al-Maidah : 91)

Dengan pengumuman itu, orang-orang yang semula di tangannya masih memgang botol dan gelas berisi minuman keras segera membuangnya; yang di dalam mulutnya ada seteguk arak segera memuntahkannya; yang masih menyimpan persediaan arak di rumah-rumahnya segera mengambil untuk membuangnya. Semua orang berseru, “Wahai tuhan kami, kami telah berhenti!” sebagai jawaban atas perintah Allah, …Maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu). (QS. Al-Maidah : 91)

Demikianlah, perubahan dan pembalikan total terjadi pada masyarakat setelah mengikrarkan kelimat syahadat. Mereka mudah menerima dan melaksanakan aturan yang Allah berikan, tanpa tawar-menawar, tanpa keberatan, dan tanpa penolakan. (bersambung ke Urgensi Syahadat (3)) [sumber: Buku Seri Materi Tarbiyah; Syahadat dan Makrifatullah]
07:20 | 2 komentar

Tawuran Manggarai Vs Hidup Damai

Written By Admin BeDa on Jumat, 15 Mei 2009 | 14:21


Bagaimanakah kita mengawali hari ini? Dengan kebaikan atau keburukan? Dengan damai atau penuh benci? Di Manggarai, Jakarta Selatan tawuran antar warga menjadi aktifitas mengawali hari Jum'at ini. Adalah warga Tenggulung dan Pasar Rumput yang kembali terlibat tawuran. Kedua kelompok massa itu saling serang dengan melemparkan batu dan bom molotov. Bahkan banyak warga yang menggunakan senjata tajam. Sebuah halte TransJakarta rusak parah akibat bentrok ini.

Entahlah, mengapa sebagai sebuah bangsa, bahkan bangsa muslim terbesar di dunia, kita begitu mudah terpancing emosi dan tidak bisa mengendalikan diri. Tawuran di atas cuma dipicu oleh hal yang sepele. Tapi, akibatnya sampai pada penggunaan senjata tajam dan bom molotov.

Kita juga mungkin masih ingat, hari ini 11 tahun yang lalu, wajah Jakarta memburam oleh kerusuhan Mei '98. Masyarakat menjadi hilang kendali, menjarah… anarkis… akhirnya banyak orang tak berdosa menjadi 'korban' perbuatan destruktif mereka.

Mengapa sifat kasih sayang tidak mensenyawa dalam kehidupan kita? Tidakkah kita suka menjadi umat yang berkarakter positif seperti gambaran Nabi yang mulia :
ترى المؤمنين في تراحمهم وتوادهم وتعاطفهم كمثل الجسد إذا اشتكى عضوا تداعى له سائر جسده بالسهر والحمى
"Kau lihat orang-orang mukmin saling menyayangi, saling mencintai, dan saling berbuat baik, bagaikan satu tubuh yang apabila ada bagian yang sakit seluruh tubuh turut tidak bisa tidur dan turut merasa sakit" [HR. Bukhari]

Tapi kalau kita melihat para pemimpin -atau lebih tepatnya tokoh- di negeri ini, rasanya wajar jika masyarakat bertindak seperti itu. Bukankah mereka juga lebih suka berdebat daripada bermufakat? Lebih sering saling menghina daripada belajar memahami? Lebih dominan saling serang daripada saling mengasihi? Termasuk dalam drama Pileg dan Pilpres kali ini.

Satu yang pasti, kita tidak bisa mengharapkan siapapun sebelum menjadikan diri kita sendiri sebagai orang pertama yang perlu memperbaiki diri; menanamkan kasih sayang dan mencintai sesama. Sesudah itu, kita akan menemukan hidup dalam damai. Siapkah kita? [Muchlisin]
14:21 | 7 komentar

Abu Thalhah Al Anshari


Adakah wanita yang tidak tertarik pada harta lalu memilih mahar lain yang lebih mulia? Pada Seri Sirah Sahabat ke-10 ini, kita akan berkenalan dengan sahabat nabi yang memenuhi mahar itu kemudian ia menjadi pahlawan Islam yang sangat tangguh. Dialah Abu Thalhah Al Anshari. Selamat membaca sirah sahabat yang satu ini.
***

Zaid bin Sahal An-Najjary, alias Abu Thalhah tahu, perempuan bernama Rumaisha’ binti Milhan An-Najjariyah, alias Ummu Sulaim, hidup menjanda sejak suaminya meninggal. Abu Thalhah sangat gembira mengetahui Ummu Sulaim merupakan perempuan baik-baik, cerdas, dan memiliki sifat-sifat perempuan yang sempurna.

Abu Thalhah bertekad hendak melamar Ummu Sulaim segera, sebelum laki-laki lain mendahuluinya. Karena Abu Thalhah tahu, banyak laki-laki lain mendahuluinya. Karena Abu Thalhah tahu, banyak laki-laki lain yang menginginkan Ummu Sulaim menjadi istrinya. Namun begitu, Abu Thalhah percaya, tidak seorang pun laki-laki lain yang berkenan di hati Ummu Sulaim selain Abu Thalhah sendiri. Abu Thalhah laki-laki sempurna, menduduki status sosial yang tinggi, dan kaya raya. Di samping itu, dia terkenal sebagai penunggang kuda yang cekatan di kalangan Bani Najjar, dan pemanah jitu dari Yatsrib yang harus diperhitungkan.

Abu Thalhah pergi ke rumah Ummu Sulaim. Dalam perjalanan dia ingat, Ummu Sulaim pernah mendengar dakwah seorang dai yang datang dari Makkah, Mushab bin Umair. Lalu Ummu Sulaim iman dengan Muhammad dan menganut agama Islam.

Tetapi setelah berpikir demikian, dia berkata kepada dirinya, “Hal itu tidak menjadi halangan. Bukankah suaminya yang meninggal menganut agama nenek moyangnya? Bahkan suaminya itu menentang Muhammad dan dakwahnya.”

Abu Thalhah tiba di rumah Ummu Sulaim. Dia minta izin masuk, maka diizinkan oleh Ummu Sulaim. Dia minta izin masuk, maka diizinkan oleh Ummu Sulaim. Putra Ummu Sulaim, Anas, hadir dalam pertemuan mereka itu. Abu Thalhah menyampaikan maksud kedatangannya, yaitu hendak melamar Ummu Sulaim menjadi istrinya. Ternyata Ummu Sulaim menolak lamaran Abu Thalhah.

Kata Ummu Sulaim, “Sesungguhnya laki-laki seperti Anda, hai Abu Thalhah, tidak pantas saya tolak lamarannya. Tetapi aku tidak akan kawin dengan Anda, karena Anda kafir.”

Abu Thalhah mengira, Ummu Sulaim hanya sekedar mencari-cari alasan. Mungkin di hati Ummu Sulaim telah berkenan laki-laki lain yang lebih kaya dan lebih mulia daripadanya.

Kata Abu Thalhah, “Demi Allah! Apakah sesungguhnya yang menghalangi engkau untuk menerima lamaranku, hai Ummu Sulaim?”

Jawab Ummu Sulaim, “Tidak ada selain itu!”

Tanya Abu Thalhah, “Apakah yang kuning atau yang putih…? Emas atau perak?”

Ummu Sulaim balik bertanya, “Emas atau perak..?”

“Ya, emas atau perak?” jawab Abu Thalhah menegaskan.

Kata Ummu Sulaim, “Kusaksikan kepada Anda, hai Abu thalhah, kusaksikan kepada Allah dan Rasul-Nya, sesungguhnya jika engkau Islam, aku rela Anda menjadi suamiku tanpa emas dan perak; cukuplah Islam itu menjadi mahar bagiku.”

Mendengar ucapan Ummu Sulaim tersebut, Abu Thalhah teringat akan patung sesembahannya yang terbuat dari kayu bagus dan mahal. Patung itu khusus dibuatnya untuk pribadinya, seperti kebiasaan bangsawan kaumnya, Bani Najjar.

Ummu Sulaim telah bertekad hendak menempa besi itu selagi masih panas (mengislamkan Abu Thalhah). Sementara Abu Thalhah terbengong-bengong mengingat berhala sembahannya, Ummu Sulaim melanjutkan bicaranya.

“Tidak tahukah Anda, hai Abu Thalhah, patung yang Anda sembah itu terbuat dari kayu yang tumbuh di bumi?” Tanya Ummu Sulaim.

“Ya, betul!” jawab Abu Thalhah.

“Apakah Anda tidak malu menyembah sepotong kayu menjadi Tuhan, sementara potongannya yang lain Anda jadikan kayu api untuk memasak…? Jika Anda masuk Islam, hai Abu Thalhah, aku rela engkau menjadi suamiku. Aku tidak akan meminta mahar darimu selain itu,” kata Ummu Sulaim.

“Siapa yang harus mengislamkanku?” tanya Abu Thalhah.

“Aku bisa,” jawab Ummu Sulaim.

“Bagaimana caranya?” tanya Abu Thalhah.

“Tidak sulit. Ucapkan saja kalimat syahadat. Akui tidak ada Tuhan selain Allah dan sesungguhnya Muhammad Rasulullah. Sesudah itu pulang ke rumahmu, hancurkan berhala sembahanmu, lalu buang!” kata Ummu Sulaim menjelaskan.

Abu Thalhah tampak gembira. Lalu dia mengucapkan dua kalimat syahadat.

Sesudah itu Abu Thalhah nikah dengan Ummu Sulaim. Mendengar kabar Abu Thalhah kawin dengan Ummu Sulaim dengan maharnya Islam, maka kaum muslimin berkata: Belum pernah kami mendengar mahar kawin yang lebih mahal dari pada mahar Ummu Sulaim. Maharnya ialah masuk Islam.

Sejak hari itu Abu Thalhah berada di bawah naungan bendera Islam. Segala daya yang ada padanya dikorbankannya untuk berkhidmat kepada Islam.

Abu Thalhah dan istrinya, Ummu Sulaim termasuk kelompok tujuh puluh yang bersumpah setia (baiat) dengan Rasulullah di Aqabah. Abu Thalhah ditunjuk Rasulullah menjadi kepala salah satu regu dari dua belas regu yang dibentuk malam itu atas perintah Rasulullah untuk mengislamkan Yatsrib.

Dia ikut berperang bersama-sama Rasulullah SAW dalam setiap peperangan yang dipimpin beliau. Dalam perang-perang itu, tidak urung pula Abu Thalhah mendapat cobaan-cobaan yang mulia. Tetapi cobaan yang paling besar diderita Abu Thalhah ialah ketika dia berperang bersama-sama rasulullah dalam perang Uhud. Dengarkanlah kisahnya.

Abu Thalhah mencintai Rasulullah sepenuh hati, sehingga perasaan cinta itu mengalir ke segenap pembuluh darahnya. Dia tidak pernah merasa jemu melihat wajah yang mulia itu, dan tak pernah merasa bosan mendengar hadits-hadits beliau yang selalu terasa manis baginya. Apabila Rasulullah berdua saja dengannya, dia bersimpuh di hadapan beliau sambil berkata, “Inilah diriku, kujadikan tebusan bagi diri Anda dan wajahku pengganti wajah Anda.”

Ketika terjadi perang Uhud, barisan kaum Muslimin terpecah-belah. Mereka lari kucar-kacir dari samping. Rasulullah SAW oleh karenanya kaum musyrikin sempat menerobos pertahanan mereka sampai ke dekat beliau. Musuh berhasil mencederai beliau, sehingga darah mengalir membasahi mukanya. Lalu kaum musyrikin menyiarkan isu Rasulullah telah tewas.

Mendengar teriakan kaum musyrikin itu, kaum muslimin menjadi kecut, lalu lari porak-poranda memberikan punggung mereka kepada musuh-musuh Allah. Hanya beberapa orang saja tentara muslimin yang tinggal mengawal dan melindungi Rasulullah. Diantara mereka ialah Abu Thalhah yang berdiri paling depan.

Abu Thalhah berada di hadapan Rasulullah bagaikan sebuah bukit berdiri dengan kokohnya melindungi beliau. Rasulullah berdiri di belakangnya, terlindung dari panah dan lembing musuh oleh tubuh Abu Thalhah. Abu Thalhah menarik tali panahnya, kemudian melepaskan anak panah tepat mengenai sasaran tanpa pernah gagal. Dia memanah musuh satu demi satu. Tiba-tiba Rasulullah mendongakkan kepala melihat siapa sasaran panah Abu Thalhah.

Abu Thalhah mundur menghampiri beliau, karena kuatir terkena panah musuh. “Demi Allah! Janganlah Rasulullah mendongakkan kepala melihat mereka, nanti terkena panah mereka. Biarkan leher dan dadaku sejajar dengan leher dan dada Rasulullah. Jadikanlah aku menjadi perisai Anda,” ujarnya mantap.

Seorang prajurit muslim tiba-tiba lari ke dekat Rasulullah sambil membawa sekantong anak panah. Rasulullah memanggil prajurit itu. kata beliau, “Berikan anak panahmu kepada Abu Thalhah. Jangan dibawa lari!” Abu Thalhah senantiasamelindungi Rasulullah SAW, sehingga tiga batang busur panah patah olehnya, dan sejumlah prajurit musyrikin tewas dipanahnya.

Allah menyelamatkan dan memelihara Nabi-Nya yang selalu berada di bawah pengawasan-Nya sampai pertempuran usai.

Abu Thalhah sangat pemurah dengan nyawanya berperang fi sabilillah, namun lebih pemurah lagi mengorbankan hartanya untuk agama Allah. Abu Thalhah mempunyai sebidang kebun kurma dan anggur yang amat luas. Tidak ada kebun di Yatsrib seluas dan sebagus kebun Abu Thalhah. Pohon-pohonnya rimbun, buah-buahannya subur, dan airnya manis.

Pada suatu hari ketika Abu Thalhah shalat di bawah naungan sebatang pohon nan rindang, pikirannya terganggu oleh siulan burung berwarna hijau, berparuh merah, dan kedua kakinya indah berwarna. Burung itu melompat dari dahan ke dahan dengan suka citanya, bersiul-siul dan menari-nari. Abu Thalhah kagum melihat burung itu. dia membaca tasbih, tetapi pikirannya tak lepas dari burung itu.

Ketika menyadari bahwa dia sedang shalat, dia lupa sudah berapa rakaat dia shalat. Dua atau tiga rakaatkah, dia tidak ingat. Selesai shalat dia pergi menemui Rasulullah dan menceritakan kepada beliau pristiwa yang baru dialaminya dalam shalat. Diceritakannya juga kepada beliau pohon-pohon nan rindang dan burung yang bersiul sambil menari-nari ketika dia sedang shalat.

Kemudian katanya, “Saksikanlah, wahai rasulullah! Kebun itu aku sedekahkan kepada Allah dan Rasul-Nya. Pergunakanlah sesuai dengan kehendak Allah dan Rasul-Nya.”

Abu Thalhah sering berpuasa dan berperang sepanjang hidupnya. Bahkan dia meningal ketika sedang berpuasa dan berperang fi sabilillah. Lebih kruang tiga puluh tahun sesudah Rasulullah wafat, dia senantiasa puasa setiap hari, selain hari raya. Umurnya mencapai lanjut. Tetapi ketuaan tidak menghalanginnya untuk jihad fi sabilillah dan untuk melakukan perjalanan jauh demi menegakkan kalimat Allah.

Di zaman khalifah Utsman bin Affan, kaum msulimin bertekad hendak berperang di lautan. Abu Thalhah bersiap-siap untuk turut dalam peperangan itu bersama-sama dengan tentara muslimin.

Kata anak-anaknya, “Wahai bapak kami! Bapak sudah tua. Bapak sudah turut berperang bersama-sama dengan Rasulullah, bersama dengan Abu Bakar dan Umar bin Khattab. Kini Bapak harus beristirahat. Biaarlah kami berperang untuk Bapak.”

Jawab Abu Thalhah, “Bukankah Allah SWT telah berfirman: “Berangkatlah kamu dalam keadaan senang dan susah, dan berjihadlah kamu dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu menyadari.” (QS. At-Taubah : 41). Firman Allah itu memerintahkan kita semuanya baik tua maupun muda. Allah tidak membatasi usia kita untuk berperang.”

Abu Thalhah menolak permintaan anak-anaknya untuk tinggal di rumah, dan bersikeras untuk ikut berperang.

Ketika Abu Thalhah yang sudah lanjut usia itu berada di atas kapal bersama-sama dengan tentara meninggal di tengah lautan, dia jatuh sakit, lalu meninggal di kapal. Kaum muslimin melihat-lihat daratan, mencari tempat memakamkan jenazah Abu Thalhah. Tetapi enam hari setelah wafatnya, barulah mereka bertemu dengan daratan. Selama itu jenazah Abu Thalhah disemayamkan di tengah-tengah mereka di atas kapal, tanpa berubah sedikit jua pun. Bahkan dia seperti layaknya orang tidur nyenyak saja. Di aman beliau dimakamkan?
Di tengah laut luas
Jauh famili dan kampung halaman
Jauh handai beserta tolan.
Abu Thalhah dimakamkan , biarlah jauh dari mereka, asalkan dekat kepada Allah, ia tak akan celaka. [sumber : Kepahlawanan Generasi Shahabat Rasulullah SAW]
07:41 | 2 komentar

Menumbuhkan Rasa Takut Kepada Neraka

Written By Admin BeDa on Kamis, 14 Mei 2009 | 07:41


Alhamdulillah, Taujih Pekanan kali ini adalah postingan ke-12. Taujih ini diambil dari sumber yang sama dengan Kategori Taujih Pekanan sebelumnya yaitu Buku Seri Taujihat Pekanan. Semoga tema Menumbuhkan Rasa Takut Kepada Neraka ini bisa menjadi memotivasi kita untuk lebih mendekatkan diri kepada-Nya, sehingga kita dijauhkan dari kemurkaan dan neraka-Nya.
***

Ikhwani wa akhwati hafidzhakumullah…
Neraka adalah tempat yang disediakan Allah SWT bagi orang-orang kafir, yakni orang-orang yang membangkang terhadap syariat Allah dan mengingkari Rasulullah SAW. Neraka merupakan wujud siksa Allah kepada musuh-musuh-Nya dan penjara bagi mereka yang berbuat dosa. Tempat ini adalah suatu kehinaan dan kerugian tiada taranya.

رَبَّنَا إِنَّكَ مَنْ تُدْخِلِ النَّارَ فَقَدْ أَخْزَيْتَهُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ [آل عمران/192]
Ya Rabb kami, sesungguhnya barang siapa yang Engkau masukkan ke dalam neraka, maka sungguh Engkau hinakan dia; tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolong pun (QS. Ali Imran : 192)

وَاتَّقُوا النَّارَ الَّتِي أُعِدَّتْ لِلْكَافِرِينَ [آل عمران/131]
Dan peliharalah dirimu dari api neraka yang disediakan untuk orang-orang kafir. (QS. Ali Imran : 131)

Ikhwani wa akhwati hafidzhakumullah…
Sosok yang berdiri tegak menjaga api neraka adalah malaikat. Perawakannya besar. Ekspresi wajah dan suaranya amat garang. Mereka adalah hamba-hamba Allah yang tidak pernah durhaka kepada Rabb yang menciptakan diri mereka. Mereka senantiasa patuh terhadap semua perintah Rabbnya. Perhatikan gambaran mereka dalam ayat Al-Qur’an berikut ini :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ [التحريم/6]
Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu. Penjaganya malaikat-malaikat yang kasar lagi keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (QS. At-Tahrim : 6)

Jumlah malaikat penjaga neraka ada sembilan belas, seperti firman Allah SWT :

سَأُصْلِيهِ سَقَرَ (26) وَمَا أَدْرَاكَ مَا سَقَرُ (27) لَا تُبْقِي وَلَا تَذَرُ (28) لَوَّاحَةٌ لِلْبَشَرِ (29) عَلَيْهَا تِسْعَةَ عَشَرَ (30) [المدثر/26-30]
Aku akan memasukkanya ke dalam (neraka) Saqar. Tahukah kamu apa (neraka) Saqar itu? Saqar itu tidak meninggalkan dan tidak membiarkan, (neraka Saqar) adalah pembakar kulit manusia, di atasnya ada sembilan belas (malaikat penjaga). (QS. Al-Muddatsir : 26-30)

وَمَا جَعَلْنَا أَصْحَابَ النَّارِ إِلَّا مَلَائِكَةً وَمَا جَعَلْنَا عِدَّتَهُمْ إِلَّا فِتْنَةً لِلَّذِينَ كَفَرُوا [المدثر/31]
Dan tiada Kami jadikan penjaga neraka itu melainkan dari malaikat, dan tidaklah Kami menjadikan bilangan mereka itu kecuali sebagai ujian bagi orang-orang kafir. (QS. Al-Muddatsir : 31)

Api Neraka
Rasulullah SAW bersabda, “Apa kamu ini hanyalah satu bagian dari tujuh puluh bagian api neraka Jahanam.” Para shahabat mengatakan, “Yang ini pun sudah cukup berat panasnya.” Berkata Nabi, “Bahkan api neraka itu melebihi sebanyak enam puluh sembilan kali lipat panasnya api dunia.”

Di dalam hadits yang lain, Rasulullah SAW bersabda:

أُوقِدَ عَلَى النَّارِ أَلْفَ سَنَةٍ حَتَّى احْمَرَّتْ ثُمَّ أُوقِدَ عَلَيْهَا أَلْفَ سَنَةٍ حَتَّى ابْيَضَّتْ ثُمَّ أُوقِدَ عَلَيْهَا أَلْفَ سَنَةٍ حَتَّى اسْوَدَّتْ فَهِىَ سَوْدَاءُ مُظْلِمَةٌ
Api neraka Jahannam telah dinyalakan seribu tahun hingga menjadi merah. Kemudian dibakar lagi selama seribu tahun hingga menjadi putih. Kemudian dibakar seribu tahun lagi hingga menjadi legam, seperti malam yang gelap gulita. (HR. Tirmidzi)

Pintu Neraka
Allah SWT berfirman:
وَإِنَّ جَهَنَّمَ لَمَوْعِدُهُمْ أَجْمَعِينَ (43) لَهَا سَبْعَةُ أَبْوَابٍ لِكُلِّ بَابٍ مِنْهُمْ جُزْءٌ مَقْسُومٌ (44) [الحجر/43، 44]
Dan sesungguhnya Jahanam itu benar-benar tempat yang telah diancamkan kepada mereka (pengikut-pengikut setan) semuanya. Jahanam itu mempunyai tujuh pintu, tiap-tiap pintu (telah ditetapkan) untuk gologan yang tertentu dari mereka. (QS. Al-Hijr : 43-44)

وَالَّذِينَ كَفَرُوا بِآَيَاتِنَا هُمْ أَصْحَابُ الْمَشْأَمَةِ (19) عَلَيْهِمْ نَارٌ مُؤْصَدَةٌ (20) [البلد/19، 20]
Dan orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, mereka itu adalah golongan kiri. Mereka berada dalam neraka yang (pintunya) ditutup rapat. (QS. Al-Balad : 19-20)

وَسِيقَ الَّذِينَ كَفَرُوا إِلَى جَهَنَّمَ زُمَرًا حَتَّى إِذَا جَاءُوهَا فُتِحَتْ أَبْوَابُهَا وَقَالَ لَهُمْ خَزَنَتُهَا أَلَمْ يَأْتِكُمْ رُسُلٌ مِنْكُمْ يَتْلُونَ عَلَيْكُمْ آَيَاتِ رَبِّكُمْ وَيُنْذِرُونَكُمْ لِقَاءَ يَوْمِكُمْ هَذَا قَالُوا بَلَى وَلَكِنْ حَقَّتْ كَلِمَةُ الْعَذَابِ عَلَى الْكَافِرِينَ (71) قِيلَ ادْخُلُوا أَبْوَابَ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا فَبِئْسَ مَثْوَى الْمُتَكَبِّرِينَ (72) [الزمر/71، 72]
Orang-orang kafir dihalau ke neraka Jahanam berombong-rombongan. Sehingga apabila mereka sampai ke neraka itu, dibukakanlah pintu-pintunya dan berkatalah para penjaganya kepada mereka “Apakah belum pernah datang kepada kalian rasul-rasul diantaramu yang membacakan kepadamu ayat-ayat Rabbmu dan mengingatkanmu akan pertemuan hari ini?” Mereka menjawab, “Benar telah datang.” Tetapi telah pasti berlaku ketetapan azab terhadap orang-orang kafir. Dikatakan (kepada mereka), “Masukilah pintu-pintu neraka Jahanam itu, sedang kamu kekal di dalamnya.” Maka neraka Jahanam itulah seburuk-buruk tempat bagi orang-orang yang menyomobongkan diri. (QS. Az-Zumar : 71-72)

لَهَا سَبْعَةُ أَبْوَابٍ لِكُلِّ بَابٍ مِنْهُمْ جُزْءٌ مَقْسُومٌ [الحجر/44]
Neraka itu mempunyai tujuh pintu, tiap-tiap pintu darinya adalah bagian yang sudah ditentukan (QS. Al-Hijr : 44)

Ikhwani wa akhwati hafidzhakumullah…
Orang-orang yang langgeng di dalam neraka adalah golongan kafir dan munafik. Hal tersebut ada dalam firman Allah SWT:
وَالَّذِينَ كَفَرُوا وَكَذَّبُوا بِآَيَاتِنَا أُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ [البقرة/39]
Adapun orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itu penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. (QS. Al-Baqarah : 39)

وَالَّذِينَ كَذَّبُوا بِآَيَاتِنَا وَاسْتَكْبَرُوا عَنْهَا أُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ [الأعراف/36]
Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami serta menyombongkan diri terhadapnya, mereka itulah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. (QS. Al-A’raf : 36)

أَلَمْ يَعْلَمُوا أَنَّهُ مَنْ يُحَادِدِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَأَنَّ لَهُ نَارَ جَهَنَّمَ خَالِدًا فِيهَا ذَلِكَ الْخِزْيُ الْعَظِيمُ [التوبة/63]
Tidakkah mereka, orang-orang munafik itu mengetahui bahwasanya barangsiapa menentang Allah dan Rasul-Nya , maka sesungguhnya neraka Jahanam baginya, mereka kekal di dalamnya. Itul adalah kehinaan yang besar. (QS. At-Taubah : 63)

ثُمَّ قِيلَ لِلَّذِينَ ظَلَمُوا ذُوقُوا عَذَابَ الْخُلْدِ هَلْ تُجْزَوْنَ إِلَّا بِمَا كُنْتُمْ تَكْسِبُونَ [يونس/52]
Kemudian dikatakan kepada orang-orang yang zalim (musyrik) itu “Rasakanlah olehmu siksaan yang kekal, kamu tidak diberi balasan melainkan dengan apa yang telah kamu kerjakan.” (Yunus : 52)

إن أهون أهل النار عذابا من له نعلان وشراكان من نار يغلي منهما دماغه كما يغلي المرجل ما يرى أن أحدا أشد منه عذابا وإنه لأهونهم عذابا
Sesungguhnya penghuni neraka yang paling ringan siksaannya ialah orang yang diberi sepasang sandal yang talinya terbuat dari api neraka, lalu mendidihkan otaknya karena panasnya yang laksana air panas mendidih di dalam periuk. Dia mengira tiada seorang pun yang menerima siksaan lebih dahsyat dari itu, padahal dia adalah orang yang mendapatkan siksaan paling ringan. (HR. Muslim)

Ada diantara mereka yang dimakan api sampai ke mata kaki, ada yang dimakan sampai pinggangnya, dan ada pula yang dimakan sampai ke tenggorokannya.

عن أنس بن مالك قال : سمعت رسول الله صلى الله عليه و سلم يقول : يا أيها الناس ابكوا فإن لم تبكوا فتباكوا فإن أهل النار يبكون في النار حتى تسيل دموعهم في وجوههم كأنها جداول حتى تنقطع الدموع فتسيل - يعني الدماء - فتقرح العيون فلو أن سفنا ارخيت فيها لجرت
Dari Anas bin Malik RA, dia berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Wahai manusia sekalian, menangislah! Jika tidak dapat menangis, maka paksakan dirimu untuk menangis! Karena sesungguhnya ahli neraka itu akan terus menangis hingga air matanya mengalir di pipi masing-masing laksana aliran sungai, hingga air mata itu mengering. Setelah itu, mengalirlah darah hingga matanya pun pecah-belah. Seandainya perahu-perahu diletakkan di aliran itu, niscaya berlayarlah ia.” (HR. Abu Ya’la Al-Mushili dan Abdullah bin Mubarak dalam musnad masing-masing)

Mudah-mudahan kita semua dibebaskan oleh Allah SWT dari azab neraka. Amin, yaa mujiibas saa’iliin. [sumber: Buku Seri Taujih Pekanan jilid II]
07:41 | 8 komentar

Masukkan alamat e-mail untuk mendapatkan up date Bersama Dakwah