Assalaamu'alaikum ,  Ahlan wa Sahlan  |  Facebook  |  Twitter  |  Pasang Iklan

Milisi Abbas Tangkap dan Siksa 22 Aktivis Hamas di Tepi Barat

Written By Admin BeDa on Minggu, 28 Juni 2009 | 17:17


Tepi Barat : Milisi Abbas lanjutkan penculikannya terhadap aktivis Hamas di Tepi Barat. walau sidang dialog telah dimulai kembali di Kairo hari ini (28-6), mereka masih menangkapi dan menyiksa 22 aktivis Hamas di Tepi Barat.

Dari Qalqilya misalnya milisi Abbas menculik Murad Zamathah (26 tahun), Basem Abdel-Kader Sawan (37 tahun). Kedunya dari kota Amatain, setelah mereka diminta menghadap ke kantor aparat Abbas. Selain itu, Rami Yassin (31 tahun), Walid Muhammad Sweilem (33 tahun) setelah pasukan Abbas mengepung rumah keduanya di Qalqilia. Lalu Sidwi Yunus Khafsyah (38 tahun), Faris al-Nashr, Khaled Hassan dan Mohamed Ahmed Bashir (25 tahun) kemudian Majed Mara'abe (32 tahun).

Dari provinsi Salfit telah diculik Omar Abdel Aziz al-Asi (25 tahun) untuk yang kedelapan kalinya, Mohanad Awad Mir'i (29 tahun), Imran Marei Mohamed Aziz (27 tahun), Mohammed Dib Mir'i Aziz (30 tahun) dari Qarawat Bani Hassan, setelah mereka diminta menghadap.

Dari Hebron diculik Sufian Jamjoum (38 tahun) setelah rumahnya disatroni. Ia adalah mantan tawanan Israel yang telah dipenjara selama 17 tahun. Lalu Akram Afeef Halaiqa (34 tahun) dan Khalid Al-Atrash (32 tahun) setelah mereka diminta menghadap.

Dari Jenin milisi Abbas menculik mahasiswa Fakultas Matematika, Sobhi Mohamed Mahmoud Fasyafasyah (20 tahun) dari desa Jaba setelah dipanggil untuk wawancara, dan Rami Jaradat (24 tahun) ketika berangkat shalat Shubuh.

Dari Nablus, mereka menculik Direktur Administrasi Nablus, Kamal Shahin (28 tahun), dan insinyur Fathulla Kharim setelah kedunya diminta menghadap untuk diinterogasi. Kemudian Shawki Abu Amsha (57 tahun), seorang direktur sekolah Zawata.

Dari Tulkarem, mereka menculik siswa SMU Hamzah Abu Ali (18 tahun) setelah rumahnya dikepung yang terletak di wilayah Atail.
Terkait dengan penyiksaan yang mereka lakukan dalam penjara, seorang pengusaha Ahmed Al-Shibar terpaksa dibawa ke Rumah Sakit Nasional di kota tersebut, menyusul kondisi kesehatannya yang semakin memburuk, akibat penyiksaan di dalam penjara.

Di pihak lain, situs Hamas di Tepi Barat, Amamah hari ini (28/6) menyebarkan data anggota Hamas yang telah ditangkap milisi Abbas di Tepi Barat yang mencapai 915 orang. Dan secara rinci sebagai berikut, Qalqiliya: (233), Nablus: (170 orang), Hebron: (170 orang), Jenin: (69 orang), Salfit: (68 orang), Ramallah: (66 orang), Tulkarem: (58 orang), Betlehem: (48 orang) , Tubas: (23 orang), Yerikho: (6 orang), Yerusalem: (4 orang). [asy, infopalestina.com]
17:17 | 9 komentar

Menyambut Ramadhan Sejak Bulan Rajab

Written By Admin BeDa on Sabtu, 27 Juni 2009 | 14:31


Hari demi hari kita lalui. Pekan demi pekan kita lewati. Bulan demi bulan pun berganti. Tidak terasa kita telah memasuki bulan Rajab. Itu artinya, tidak sampai dua bulan lagi kita akan berjumpa dengan tamu istimewa. Kita akan kedatangan bulan yang mulia. Bulan Ramadhan.

Kita mungkin merasa biasa-biasa saja saat berada di bulan Rajab seperti sekarang ini. Kita mungkin merasa sama saja ketika Ramadhan kian dekat. Dan, inilah yang membedakan generasi kita hari ini dengan generasi pertama umat Islam. Sebagaimana bedanya kita dengan mereka saat berada di hari Jum'at. Sebagaimana bedanya kita dengan mereka di waktu sepertiga malam terakhir.

Dari hadits yang sampai kepada kita, kita bisa mendapatkan kesimpulan bagaimana bedanya persiapan kita dan persiapan mereka. Rasulullah mengajarkan kepada sahabatnya -juga seluruh umatnya- sebuah doa tatkala memasuki bulan Rajab:
"Allaahumma baarik lanaa fii Rajaba wa Sya'ban, wa baarik lanaa fii Ramadhaan"
"Ya Allah berkahilan kami di bulan Rajab dan Sya'ban, serta berkahilah kami di bulan Ramadhan." (HR. Ahmad).

Doa tersebut menggambarkan betapa Rasulullah dan para shahabatnya telah mempersiapkan diri menyongsong bulan Ramadhan itu dua bulan sebelumnya. Seperti saat-saat sekarang ini, Ramadhan telah melekat di hati, dinanti, dirindui, dan jiwa raga dipersiapkan menghadapinya; sebaik-baiknya.

Karenanya kita kemudian mendapatkan jejak sejarah para sahabat Nabi yang selalu merindukan Ramadhan, berharap semua bulan adalah Ramadhan. Diantara mereka ada yang berdoa selama enam bulan sejak kepergian Ramadhan agar ibadahnya selama Ramadhan diterima Allah SWT. Lalu lima bulan berikutnya berdoa supaya dipertemukan dengan Ramadhan yang akan datang. Kita pun mendapatkan bukti dari mereka melalui sejarah yang kita baca, ternyata mereka memiliki tradisi 'me-ramadhan-kan semua bulan'.

Imam Al-Baihaqi meriwayatkan hadits yang senada dengan redaksi yang agak berbeda. Bahwa Rasulullah SAW mengajarkan doa ketika berada di bulan Rajab :
"Allaahumma baarik lanaa fii Rajaba wa Sya'ban, wa baalighnaa Ramadhaan"
"Ya Allah berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya'ban, serta pertemukanlah kami dengan bulan Ramadhan" (HR. Al-Baihaqi).

Mungkin hadits kedua ini lebih familiar bagi kita. Tetapi pada dasarnya kita mendapatkan pelajaran yang sama; bahwa Rasulullah dan para shahabatnya telah mempersiapkan diri menghadapi bulan Ramadhan sejak dua bulan sebelumnya. Bagaimana dengan kita? Saat itu kini telah menyapa kita. [Muchlisin]
14:31 | 2 komentar

Ketika Cinta Bertasbih dan Romantisme Dalam Dakwah

Written By Admin BeDa on Kamis, 25 Juni 2009 | 20:03


Kemarin adalah hari ke-14 diputarnya film Ketika Cinta Bertasbih di bioskop-bioskop Indonesia. Sekitar pukul 13.00 WIB saya meminta izin pada atasan untuk meninggalkan tugas. Saya bilang mau menjemput seseorang. Dan memang benar itulah kenyataannya. Saya menjemput seorang akhwat untuk menonton bareng film yang banyak dinanti aktifis dakwah.

Alhamdulillah kami bisa tepat waktu sampai ke bioskop di sebuah Plaza di Surabaya. Kami menempati tempat duduk K8 dan K9, meskipun tiket kami sebenarnya C8 dan C9. Awalnya kami keliru mengambil tempat duduk karena memang baru kedua kalinya ke bioskop seperti ini. Tapi justru ini rezeki karena baris I sampai baris M kosong. Dan ini menambah romantisme kami; menikmati Ketika Cinta Bertasbih seakan berdua saja tanpa penonton lain.

Dua minggu sebelumnya, kami juga secara kebetulan mendapatkan kesempatan menikmati romantisme dalam dakwah. Meskipun mungkin bagi orang lain yang menyikapi secara berbeda itu cukup menyebalkan. Bagaimana tidak, saat kami hendak beraktifitas ke kota motor dipakai sama orang tua. Padahal kami tidak bisa meninggalkan aktifitas ini; saya hendak ikut pengajian rutin, dan akhwat yang sama hendak mengisi kajian.

Kami pun memutuskan naik angkutan umum. Itu malam hari. Ada suasana beda rasanya. Kami menemukan 'romantisme dalam dakwah'. Menikmati rembulan yang begitu indah dan seakan terus mengikuti kami. Kami bicara dengan santai, tidak seperti waktu naik motor yang harus konsentrasi karena jalan yang kami lalui memang penuh dengan bis antar propinsi dan truk-truk besar.

Demikianlah kami menyempatkan menikmati romantisme. Dan kami menyebutnya romantisme dalam dakwah. Sebab kami memiliki komitmen untuk bergabung dan berkontribusi dalam gerakan dakwah; sekecil apapun kontribusi ini dalam pandangan orang lain. Banyak terjadi karena alasan kesibukan dakwah lalu keluarga kurang romantis. Komunikasi dengan istri kurang harmonis. Dan, rasa cinta yang tumbuh di bulan-bulan pertama pernikahan kadang mulai terkikis.

Namun, jika kita mau memanfaatkan setiap kesempatan yang ada sesungguhnya romantisme itu bisa diciptakan. Bahkan, kadang kita tidak perlu menciptakan acara khusus seperti nonton film di atas, meskipun itu juga perlu sekali-kali, seperti juga rihlah. Namun, ternyata saat-saat berangkat beraktifitas dakwah bersama juga bisa kita manfaatkan untuk memperkokoh romantisme keluarga, romantisme bersama istri tercinta, romantisme dalam dakwah. [Muchlisin]
20:03 | 8 komentar

Download Tafsir Ibnu Katsir Juz 30

Written By Admin BeDa on Rabu, 24 Juni 2009 | 11:53


Alhamdulillah blog ini bisa menghadirkan kategori tafsir. Untuk postingan pertama adalah Download Tafsir Ibnu Katsir Juz 30. Ebook Tafsir Ibnu Katsir ini bermula dari adanya kajian Tafsir Ibnu Katsir di Masjid Baiturrahman Dukun Gresik oleh ustadz Farid Dhofir, Lc. M.Si. Para peserta kajian memerlukan kitab yang dikaji tersebut. Dan karenanya blog ini membantu menyediakannya.

Setelah ebook ini selesai timbullah niat untuk membaginya kepada semua kawan-kawan dan pembaca agar bisa dengan mudah men-download Tafsir Ibnu Katsir juz 30 ini. Demikian, semoga bermanfaat. Untuk men-download silahkan KLIK DI SINI.
11:53 | 20 komentar

Malaikat Tidak Bisa Masuk Rumah?

Written By Admin BeDa on Selasa, 23 Juni 2009 | 19:18


Seorang akhwat bercerita padaku. Ia menceritakan kawannya, seorang akhwat yang lebih senior, saat berniat baik mendakwahi ibunya demi mengamalkan sunnah Nabi. Ia sudah lama memperhatikan kalau di rumahnya ada patung binatang, bahkan sejak ia masih kecil. Padahal hadits Nabi melarang hal itu. Dan si akhwat senior ini sedang semangat-semangatnya berdakwah. Maka, ia pun berkata kepada ibunya : "Bu, sebaiknya patung itu tidak ditaruh di rumah kita. Ya, dibuang atau diapakan gitu. Soalnya kalau rumah ada patungnya, malaikat tidak mau masuk."

Tapi apa jawaban ibunya. Ternyata dengan santai si Ibu seperti sudah siap menjawab pertanyaan ini dengan baik. "Wah... kamu ini keliru nak. Lha wong nenekmu lho matinya di rumah ini. Artinya malaikat tetap bisa masuk." (???!!!)

Cerita di atas benar-benar terjadi. Tetapi kita tidak dalam posisi membicarakan kelanjutannya. Kita hanya memenggal cerita sampai di sini sebagai sebuah ilustrasi. Ilustrasi tentang urgensi fiqih dakwah. Seringkali niat kita baik, begitu ikhlas dan sebenarnya maksud kita benar tetapi kita kurang tepat dalam melakukan pendekatan. Sehingga dakwah kita bisa terpental, atau bahkan tertolak. Dakwah menjadi tidak efektif. (bersambung)
19:18 | 6 komentar

Suro Pertama Harakah Islamiyah

Written By Admin BeDa on Senin, 22 Juni 2009 | 19:16


Malam ini, dalam dua bulan terakhir, sebuah harakah Islamiyah di tingkat cabang akan mengadakan suro untuk pertama kalinya. Dua bulan bukanlah waktu yang singkat untuk sebuah cabang harakah islamiyah yang tengah menapaki jalan menuju mihwar dauli. Tapi, inilah kenyataannya. Jika tulisan ini dibaca oleh ikhwah di ibukota atau tempat lain yang kondisi tanzhimnya sudah establish mungkin mereka akan berpikir heran; bagaimana mungkin itu terjadi? Tapi, inilah kenyataannya.

Seorang ikhwah yang merasa bertanggungjawab sedang merenungi kondisi ini. Dialah yang diamanahi menjadi mas’ul penggerak di cabang ini. Suro akan berjalan jika dia mengontak seluruh personel terkait. Dan cabang ini akan kembali berada dalam kondisi laa yamuutu walaa yahya saat dia tidak memerankan tugasnya. Meskipun, secara tanzhimi bukan dia orangnya. Yang menjadi masalah adalah, bahwa dia juga memiliki amanah di 6 organisasi dalam waktu yang sama: 4 organisasi berada dalam lingkaran harakah Islamiyah; 2 organisasi di bawah naungan pemerintah.

Dia mungkin belum mampu memenuhi semua tuntutan peran itu. Mengutip manajemen waktu generasi ketiga-nya Stephen R. Covey, ia gagal mendistribusikan waktunya secara tepat ke semua organisasi yang diperankannya. Khususnya di cabang ini. Sebenarnya ia berharap perannya bisa dimainkan orang lain. Tapi sampai saat ini harapan itu belum terwujud. Banyak orang memang. Namun mereka belum siap untuk lebih aktif dengan alasan berbagai kendala dan masalahnya masing-masing.

Semoga masalah seperti ini hanya terjadi di sini. Dan semoga masalah ini cepat teratasi. Bukankah diantara sebab matinya sebuah organisasi adalah macetnya regenerasi?

Mengharapkan dia untuk berperan lebih rasanya juga sudah tidak mungkin, terutama untuk saat ini. Sebab selain rangkap amanah seperti di atas, ia juga tengah berkonsentrasi menyelesaikan studinya. Dan, ia juga tengah serius menjalani proses tafaqquh. Sebab ia sadar dengan sepenuhnya akan urgensi tafaqquh sebagaimana yang dikatakan Umar bin Khattab: "Bertafaqquhlah kalian selagi belum menjadi pemimpin; sebab saat kalian telah menjadi pemimpin, tidak ada lagi waktu -yang cukup- untuk bertafaqquh".[Muchlisin]
19:16 | 6 komentar

Download Makalah Powerpoint At-Tabarruj & Ikhtilath


Beberapa orang pernah mengeluhkan kondisi halaqahnya. Diantaranya mengenai kekurang seriusan murabbi dalam mentransfer materi-materi tarbiyah kepada mutarabbinya. Pernah dalam sebuah Daurah ditanyakan kepada peserta (yang sudah menjadi murabbi) kapan menyiapkan materi untuk mengisi halaqah? Jawabannya beragam. Tapi dari berbagai jawaban itu sebagian besar menggambarkan kekurang seriusan. Umumnya peserta menjawab H-1, malam harinya, 1 jam sebelum berangkat, bahkan ada yang menjawab pada saat tilawah.

Jika demikian halnya wajar kalau mutarabbi mengeluh. Tarbiyah menjadi monoton, miskin ilmu, dan "kurang menggigit". Yang berbahaya adalah jika hal ini menjadi penyebab futur-nya peserta halaqah.

Berikut ini bisa di-download materi tarbiyah "At-Tabarruj & Ikhtilath" dalam format powerpoint. Ini bisa dimanfaatkan oleh Murabbi dengan langsung dicopy ke laptop dan digunakan saat halaqah. Bukankah sudah tidak zamannya lagi mengandalkan papan dan spidol white board? Kalaupun murabbinya belum punya laptop materi ini bisa diprint dan dibagikan ke peserta dalam bentuk hard copy. Semoga bermanfaat. Untuk mendownload silahkan KLIK DI SINI.
15:36 | 3 komentar

Rindu Padamu

Written By Admin BeDa on Minggu, 21 Juni 2009 | 07:00

Jika kita belum pernah bertemu
Lalu benarkah kalau ada rindu
Jika kita belum pernah berjumpa
Lalu benarkah kalau ada cinta

Mungkin ini cinta palsu
atau kerinduan semu
Tapi aku tak bisa berdusta
engkau yang paling kukagumi
sepanjang sejarah manusia

Hati ini memang keras; membatu
toh ia bisa menangis menyusuri jejakmu
Diri ini memang pendosa
toh ia tak bisa berdusta
bahwa engkau tiada duanya

Kutahu diri ini hina
karnanya kuharap syafaatmu saat di sana
07:00 | 3 komentar

Download Makalah Hadits Tata Pergaulan

Written By Admin BeDa on Sabtu, 20 Juni 2009 | 08:05


Berikut ini adalah postingan pertama dengan kategori Hadits. Pada link di bawah bisa di-download makalah hadits Tata Pergaulan yang merupakan materi pada mata kuliah Hadits II di Jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Agama Islam. Isi makalah ini disesuaikan dengan silabus mata kuliah tersebut.
***

Jika kita memperhatikan kitab-kitab syarah hadits dan membandingkannya dengan kitab-kitab fiqih, kita akan mendapatkan pendekatan pembahasan dan metode penulisan yang berbeda. Kitab-kitab fiqih biasa dimulai dengan definisi/pengertian dari bab yang dibahas kemudian akan didatangkan dalil-dalil berikut pembahasannya dan baru melangkah pada kesimpulan.
Berbeda dengan kitab fiqih, kitab hadits (bukan matan, tapi syarah/kajian hadits) biasa dimulai dengan mengemukakan satu hadits kemudian dinilai sanadnya baru melangkah pada pembahasan hadits itu lalu diakhiri dengan kesimpulan. Ini juga yang kita dapatkan ketika membaca Fathul Bari tulisan Ibnu Hajar Al-Asqalani, Syarh Shahih Muslim tulisan Imam Nawawi, dan lain sebagainya. Dengan demikian satu disiplin ilmu memiliki karakter tersendiri dibandingkan dengan disiplin ilmu yang lain. Termasuk kajian hadits berbeda dengan kajian fiqih. Tetapi justru inilah yang membuat Islam kaya dengan ilmu dan metodologi.

Karenanya, makalah ini berusaha mengikuti metode penulisan kajian hadits, bukan kajian fiqih. Maka di setiap bab (dari bab II sampai bab VI) diawali dengan hadits yang akan dibahas, kemudian dikemukakan derajatnya, diuraikan pembahasannya, baru pokok kandungan hadits.

Makalah ini membahas tema Tata Pergaulan. Namun, isinya bukan membahas hadits-hadits mengenai etika interaksi laki-laki dan perempuan, etika pergaulan kaum muda dengan orang tua, ataupun etika konsep interaksi dengan non muslim melainkan membahas 5 sub tema. Pertama, orang yang terbaik adalah yang bermanfaat bagi orang lain. Kedua, pengetahuan sebagai kunci kesuksesan. Ketiga, pengembangan keterampilan pada anak. Keempat, kemampuan seseorang dalam memilih sesuai keyakinan. Kelima, pekerjaan terbaik adalah hasil karya sendiri. Demikianlah silabus mata Kuliah Hadits II pada tema Tata Pergaulan. Untuk men-download silahkan KLIK DI SINI.
08:05 | 8 komentar

17 Hari Berlalu


17 hari berlalu. Tidak satupun ada posting baru. 17 hari bukan waktu yang singkat. Apalagi untuk mewujudkan sebuah keinginan yang barangkali sudah menjadi tekad. Dan tekad itu di tulis di sini, di blog ini. Paragraf pertama dalam Perang Muktah dan Momentum Kepahlawanan menjadi saksi tekad itu. Dan... kekhawatiran itu terjadi. 23 hari tanpa posting Renungan Harian.

Hari ini, setelah merenungkan apa yang terjadi selama itu aku menyimpulkan adanya dua hal yang menjadi penyebabnya. Pertama, faktor intern; masih lemahnya kemampuan menulis secara rutin dan menyempatkan waktu untuk mempostingnya. Sering sekali muncul ide-ide baru, pemikiran, atau hasil renungan tetapi ada kesulitan untuk menuangkannya dalam bentuk tulisan. Di samping itu, kekurangmampuan untuk memenej waktu juga menjadi saham terbengkalainya ide yang kemudian tersapu begitu saja dari memori; menguap seiring bergantinya hari.

Kedua, faktor ekstern. Beberapa waktu ini ada tiga hal yang menguatkan faktor pertama: pekerjaan yang lebih padat; tugas kuliah makin banyak; dan tambahan amanah organisasi. Tiga hal itu tentu saja menyita waktu yang lebih banyak dari biasanya. Tetapi, memposisikan keadaan sebagai kesalahan bukanlah sebuah pilihan yang bijak. Seorang Ketua KAMMI Komisariat pernah menulis pada pendahuluan LPJ-nya: "Kita tidak boleh mempolitisir ketidakmampuan atas nama ketidakmauan." Sebuah pepatah yang penuh hikmah juga mengajarkan kita "Biasakan tulunjuk mengarah pada diri sendiri."

Semoga Allah memberikan ke-istiqomah-an padaku untuk menulis. Mungkin tulisan-tulisan ini tidak banyak berarti. Tetapi aku berharap ia menjadi butiran pasir atau setetes air dari pondasi raksasa atau dinding akbar peradaban Islam. Menulis setiap hari memang berat dan tulisan ini telah menjadi saksi. Tetapi, apakah itu tidak mungkin dilakukan? Bagaimana menurut kawan-kawan? [Muchlisin]
07:21 | 4 komentar

Materi Tarbiyah: Syarat Diterimanya Syahadat (1)

Written By Admin BeDa on Rabu, 03 Juni 2009 | 09:26


Berikut ini adalah seri Materi Tarbiyah ke-2. Setelah sebelumnya membahas urgensi syahadat, kali ini kita membahas Syarat Diterimanya Syahadat. Materi tarbiyah ini diambil dari buku Seri Materi Tarbiyah: Syahadat dan Makrifatullah yang ditulis oleh Cahyadi Takariawan, Wahid Ahmadi, dan Abdullah Sunono. Selamat mengkaji.
***

Sulaiman duduk termenung menatap ke kejauhan dengan sorot mata kosong. Ia seperti itu selama beberapa waktu ini. Sahabat dekatnya –Adi- tidak tahan untuk tidak bertanya, mengapa Sulaiman semurung itu. Akhirnya, Adi tahu jawabannya. Sulaiman baru ditolak lamarannya pada sang ukhti pujaan.

Betapa tidak murung, Sulaiman tadinya yakin bakal langsung diterima karena ia merasa tidak memiliki kekurangan yang berarti; sarjana, berkecukupan, tampang boleh. Akan tetapi, itu menururt dirinya. Namun si ukhti yang dilamar ternyata memiliki syarat yang tidak bisa dipenuhi, hingga ditolaklah lamaran itu.

Si Ujang lain lagi. Ia sudah lama menginginkan sebuah barang. Kini barang itu ada dan tempatnya pun diketahui. Ia datang untuk membelinya. Ia menawar dengan segenap kemampuannya. Ternyata sang penjual menolaknya, karena tidak ada kesepakatan harga.

Berdasarkan gambaran dua cerita di atas, dapatlah dipahami bahwa pada proses lamar-melamar dan jual beli itu tidak serta merta melahirkan sebuah penerimaan dan kerelaan. Seorang gadis yang dilamar butuh syarat tertentu, agar lamaran diterima. Sang penjual pun butuh harga tertentu, agar penawaran diterima. Demikian pula dengan ikrar kalimat syahadat. Ia memiliki sejumlah syarat, agar bisa diterima di sisi Allah SWT.

Syahadat tidak berhenti pada pernyataan seorang Muslim dengan mengucapkannya, lalu pasti diterima selamanya. Syahadat pun tidak hanya pengakuan dan pernyataan dari seorang hamba, lalu bereslah semua dan Allah pasti ridha menerimannya.

Apabila kalimat syahadat itu berhenti pada pengakuan, hal itu sama sekali belum membedakan antara orang beriman dengan yang tidak beriman. Iblis mempercayai dan mengetahui adanya Allah, akan tetapi ia tidak beriman.org-orang musyrik di zaman kenabian mempercayai Allah, akan tetapi mereka bukanlah orang beriman. Perhatikan ayat-ayat Allah berikut ini!

قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أَمْ مَنْ يَمْلِكُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَمَنْ يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَمَنْ يُدَبِّرُ الْأَمْرَ فَسَيَقُولُونَ اللَّهُ فَقُلْ أَفَلَا تَتَّقُونَ [يونس/31]
Katakanlah: "Siapakah yang memberi rezki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?" Maka mereka akan menjawab: "Allah". Maka katakanlah "Mangapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya)?" (QS. Yunus : 31)

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ قُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ [لقمان/25]
Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: "Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?" Tentu mereka akan menjawab: "Allah". Katakanlah : "Segala puji bagi Allah"; tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui. (QS. Luqman : 25)

Demikian pula pengakuan tulus mereka mengenai kekuasaan Allah SWT.

قُلْ لِمَنِ الْأَرْضُ وَمَنْ فِيهَا إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ (84) سَيَقُولُونَ لِلَّهِ قُلْ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ (85) قُلْ مَنْ رَبُّ السَّمَاوَاتِ السَّبْعِ وَرَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ (86) سَيَقُولُونَ لِلَّهِ قُلْ أَفَلَا تَتَّقُونَ (87) [المؤمنون/84-87]
Katakanlah: "Kepunyaan siapakah bumi ini, dan semua yang ada padanya, jika kamu mengetahui?" Mereka akan menjawab: "Kepunyaan Allah." Katakanlah: "Maka apakah kamu tidak ingat?" Katakanlah: "Siapakah Yang Empunya langit yang tujuh dan Yang Empunya 'Arsy yang besar?" Mereka akan menjawab: "Kepunyaan Allah." Katakanlah: "Maka apakah kamu tidak bertakwa?" (QS. Al-Mukminun : 84-87)

Keseluruhannya menunjukkan bahwa iman bukan sekadar ucapan atau ikrar di lisan. Jika ikrar saja telah menunjukkan keimanan, maka tentulah mereka tidak dikecam Al-Qur'an. Tidak setiap ikrar persaksian diterima dan menunjukkan keabsahannya. Akan tetapi, sebelum persaksian, diperlukan sejumlah persyaratan agar ikrar syahadat menjadi diterima di sisi Allah SWT.

Ketika ada orang bertanya kpd Wahhab bin Munabbih, "Bukankah laa ilaaha illallah adalah kunci surga?" Ia menjawab, "Benar, namun tidak ada satu kunci pun kecuali mempunyai gigi-gigi. Jika engkau menggunakan kunci yang bergigi, pintu akan terbuka. Jika tidak, pintu tidak akan terbuka." Gigi-gigi itulah yang menjadi syarat diterimanya syahadat dlm pembahasan kali ini.

Asy-Syaikh Muhammad Said Al-Qathani menyebutkan tujuh syarat diterimanya persaksian syahadat.

Mengetahui (Al-'Ilm)

Syarat pertama diterimanya ikrar syahadat adalah mengetahui makna yang dimaksud dan yang terkandung di dlm kalimat syahadat tersebut. Pengetahuan ini menyangkut beberapa hal, misalnya makna kata "asyhadu", pengertian "ilah", juga pemahaman tentang nafy wa itsbat (penolakan dan pengukuhan) yang tertuang dalam huruf la dan ila. Berikut urgensi dan kandungan umum maknanya. Berbagai pengetahuan tentang ini sangat penting untuk memahami kedalaman makna syahadat itu.

Manusia memiliki akal pikiran, sehingga mampu mempertimbangkan semua yang dilakukan dan diamalkan. Manusia yang berakal pikiran sehat tidak pernah berbuat sesuatu, kecuali telah diketahui apa yang hendak dilakukannya itu. Oleh karena itu, seseorang harus mengetahui sesuatu sebelum mengikuti atau melaksanakannya.

Allah SWT berfirman,
وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا [الإسراء/36]
Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya. (QS. Al-Isra' : 36)

Demikian juga kandungan syahadat, yang memuat prinsip sangat fundamental, yakni persaksian bahwa tiada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah. Ia harus diikrarkan dengan pemahaman.

Allah SWT berfriman,
فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ [محمد/19]
Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan, tuhan) selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. (QS. Muhammad : 19)

Pada ayat di atas, Allah telah mendahulukan perintah untuk memiliki pengetahuan akan sesuatu (maka ketahuilah) sebelum memerintahkan untuk beramal (mohonlah ampunan bg dosamu). Setiap orang yang bersyahadat harus mengetahui dengan benar tentang apa yang diucapkannya. Ketidaktahuan atau kebodohan dalam memahami kandungan kalimat syahdat menyebabkan ucapan seseorang tak ubahnya seperti mesin atau burung beo yang pandai mengucapkan kata-kata tanpa mengetahui maknanya.

Secara umum, dan dalam hal apa saja, pengetahuan memang harus didahulukan atas amalan. Mengapa?
1. Ilmu adalah pembangkit iman dan ketundukan. Allah SWT berfirman,
وَلِيَعْلَمَ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ فَيُؤْمِنُوا بِهِ فَتُخْبِتَ لَهُ قُلُوبُهُمْ [الحج/54]
dan agar orang-orang yang telah diberi ilmu, meyakini bahwasanya Al Quran itulah yang hak dari Tuhan-mu lalu mereka beriman dan tunduk hati mereka kepadanya… (QS. Al-Hajj : 54)

2. Ilmu menghindatkan kerancuan
Karena tidak berilmu, banyak orang merasa telah berbuat kebajikan, namun sebenarnya perbuatannya termasuk kesesatan.
قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِالْأَخْسَرِينَ أَعْمَالًا (103) الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا (104) [الكهف/103، 104]
Katakanlah: "Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?" Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya. (QS. Al-Kahfi : 103-104)

Khalifah Umar bin Abdul Aziz pernah berkata, "Pekerja yang tanpa ilmu lbh banyak merusak daripada memperbaiki."

3. Ilmu adalah pemimpin amal
Ilmu berada di barisan depan. Ia mengarahkan, membimbing, dan memberikan koreksi bagi pelakunya.

Muadz bin Jabal pernah berkata, "Ilmu adalah imamnya amal dan amal menjadi pengikutnya."

Imam Hasan Al-Basri berkata, "Pelaku amal yang melakukannya tanpa ilmu, ibarat orang berjalan tidak pada jalannya. Pekerja tanpa ilmu lebih banyak merusak daripada memperbaiki. Oleh karenanya, carilah ilmu sebanyak-banyaknya, namun jangan sampai berbahaya bagi ibadah dan carilah ibadah sebanyak-banyaknya, namun jangan sampai berbahaya bagi ilmu. Ada segolongan kaum yang begitu gigih beribadah, namun meninggalkan ilmu hingga keluar dari rumahnya membawa pedang untuk memerangi umat Muhammad SAW. Seandainya saja mereka mencari ilmu, niscaya ilmu itu tidak mengarahkan pada apa yang mereka perbuat." (Ibnu Qayyim dalam Miftah Daar As-Sa'adah)

Keyakinan


Setiap orang yang berikrar harus meyakini kandungan kalimat syahadat dengan keyakinan yang kuat. Dengan keyakinan seseorang akan terhindar dari keraguan dan dengan keyakinan pula ia akan melangkah dengan kepastian.

Dalam kehidupan keseharian, jika seseorang berkata "Saya bersaksi bahwa si A adalah orang yang baik dan tidak berdusta." Kemudian seseorang bertanya, "Apakah Anda yakin tentang kesaksian Anda?" jawaban orang tersebut akan sangat menentukan penerimaan kesaksiannya.

Jika ia mengatakan, "Ya, saya sangat yakin dengan persaksian saya tersebut," maka orang lain punya peluang untuk menerima persaksiannya. Akan tetapi, jika yang terjadi adalah sebaliknya, "Tidak, sesungguhnya saya tidak begitu yakin dengan apa yang saya persaksikan," maka bagaimana orang lain akan bisa menerima persaksiannya?

Demikian pula dalam persaksian kalimat syahadat. Setiap orang yang mengikrarkan kalimat ini harus meyakini dengan sepenuh hati, tanpa ada keraguan di dalamnya. Allah SWT telah berfirman,
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آَمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُولَئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ [الحجرات/15]
Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar. (QS. Al-Hujurat : 15)

Imam Al-Qurthubi dalam kitab Al-Mufhim 'ala Shahih Al-Muslim menjelaskan, "Tidak cukup dengan melafalkan syahadatain, akan tetapi harus dengan keyakinan hati."

Mungkin persoalannya adalah bagaimana menumbuhkan keyakinan itu, atas sesuatu yang gaib. Persaksian atas ketuhanan Allah dan kerasulan Muhammad adalah masalah gaib, namun kita dituntut untuk yakin hingga bahkan harus bersumpah dan bersaksi.

Keyakinan dapat dihasilkan melalui pendekatan logika. Beberapa kaidah logika akan membantu Anda mengimani Allah SWT, Dzat Yang gaib.

Pertama
, ketiadaan tidak bisa menciptakan wujud.
Orang awam tentu heran ketika melihat daging buku tahu-tahu ada belatungnya. Adakah ia muncul secara sekonyong-konyong? Namun dunia ilmu telah menjawabnya, bahwa ia datang sbg larva lalat. Ketika daging itu busuk, maka lalat pun berdatangan dan ia bertelur di daging busuk itu. Lahirlah larva lalat itu. Demikianlah, tidak ada sesuatu pun di dunia ini yang terjadi secara sekonyong-konyong, dari ketiadaan.

Kedua, berpikir tentang ciptaan dapat mengantarkan kita kepada sifat penciptanya.
Ketika mengamati kursi kayu yang bagus dan kuat, tentu kita dapat menyimpulkan bahwa pembuat kursi pasti seseorang yang bisa mengukur dengan cermat, memiliki kayu, memiliki alat pengukur, memiliki alat potong, sekaligus memiliki alat penghalus. Alam yang terbentang luas pasti akan mengantarkan Anda pada pengetahuan tentang karakter Pencipta yang Mahasempurna.

Ketiga, orang yang tidak memiliki sesuatu tidak akan dapat memberi sesuatu.
Bagaimana mungkin alam tercipta dengan fenomena keindahan, keunikan, dan kecermatan yang demikian sempurna, kalau bukan diciptakan oleh Dzat Yang Mahasempurna pula? Itulah Allah SWT.

Pendekatan logika ini hanyalah alat bantu untuk mendekatkan dan mengukuhkan keimanan kita kepada Allah SWT. Selebihnya, ayat-ayat Al-Qur'an tentu sangat banyak menceritakan hakikat ini. Dengan itulah, keyakinan akan semakin tumbuh kukuh dalam benak setiap kita. Bersambung ke Syarat Diterimanya Syahadat (2). [sumber: Buku Seri Materi Tarbiyah; Syahadat dan Makrifatullah]
09:26 | 51 komentar

Masukkan alamat e-mail untuk mendapatkan up date Bersama Dakwah