Assalaamu'alaikum ,  Ahlan wa Sahlan  |  Facebook  |  Twitter  |  Pasang Iklan

Zionis Bangun Tembok Rasis di Perbatasan Mesir

Written By Admin BeDa on Sabtu, 31 Oktober 2009 | 21:00


Salah satu stasiun radio resmi milik Israel memberitakan upaya dari PM. Benyamin Netanyahu yang meminta kementrian Militer, Transportasi dan Keamanan dalam Negeri untuk mewujudkan agenda pembangunan tembok pembatas di perbatasan Mesir. Alasan pembangunan itu adalah untuk menutup masuknya orang asing secara ilegal melalui perbatasan. Dalam siarannya kemudian diberitakan, langkah-langkah awal yang akan ditempuh untuk mewujudkan proyek rasis itu. Langkah pertama adalah dengan ujicoba pembangunan di beberapa lokasi khusus di perbatasan dengan jarak tembok yang pendek, yang pada tahun berikutnya akan disempurnakan hingga membentengi seluruh perbatasan.

Sumber dari radio Zionis ini kemudian memberitakan, langkah yang diambil Netanyahu didapat dari pertemuan khusus terkait pembicaraan solusi strategis untuk menutup total masuknya orang asing secara ilegal. Dalam pertemuan itu juga tengah dibicarakan, kesepakatan memberikan sanksi berat bagi warganya yang mempekerjakan dan menjamin keberadaan orang asing non legal.

Sementara itu di hari yang sama, Rabu (28/10) sebanyak 5 orang warga Palestina terluka ketika berupaya menghalangi Zionis dengan buldosernya menyapu rumah-rumah penduduk di wilayah Hebron, Selatan Tepi Barat.

Sumber dari Palestina kemudian menyebutkan, alat-alat berat militer Israel hari itu memaksa masuk ke wilayah Hebron dan mulai melakukan penghancuran dan merobohkan rumah-rumah warga Palestina. Diwaktu yang sama terjadi bentrokan yang menyebabkan terlukanya 5 orang warga, empat dari mereka adalah perempuan.

Masih dalam pemberitaan pendudukan Yahudi. Dari wilayah Selatan Hebron, dilaporkan dua kepala keluarga dipaksa hengkang dan mengosongkan rumah mereka, sebelum kemudian rumah tersebut dirobohkan dan rata dengan tanah. (sn/ism, eramuslim)
21:00 | 15 komentar

Belajar dari Umar bin Abdul Aziz

Written By Admin BeDa on Jumat, 30 Oktober 2009 | 13:04

We are sorry, starting from 13rd March 2010, Belajar dari Umar bin Abdul Aziz cannot displayed. Sorry for this uncomfortable. This page, Belajar dari Umar bin Abdul Aziz, deleted by blog owner because of some reason. Please to be understood.

Once more, we're sorry to visitors of BERSAMA DAKWAH blog. We hope you back to HOME. Thank you.
13:04 | 16 komentar

Organisasi Ekstrim Israel Mulai Ubah Al-Aqsha Jadi Kuil Yahudi

Written By Admin BeDa on Rabu, 28 Oktober 2009 | 15:46


Pemerintah penjajah Israel di kota Al-Quds (Jerusalem) menegaskan akan melanjutkan politiknya meyahudikan masjid Al-Aqsa dan mengubahnya menjadi kuil Yahudi. Yakni dengan cara mengizinkan warga yahudi menistakan masjid Al-Aqsha dan yahudi menyebutnya itu sebagai "kunjungan biasa".

Itu terjadi setelah bentrokan pada Ahad (25/10) antara warga Palestina yang berjaga di masjid dengan pasukan Israel yang melepaskan tembakan peluru karet, bom suara, dan gas air mata.

Sementara itu, rabi-rabi Yahudi radikal dan politikus Israel melakukan aksi kerusuhan di Al-Quds dengan menyebarkan seruan serangan ke masjid Al-Aqsha.

Demikian juga dengan lembaga-lembaga agama radikal Israel “Organisasi HAM di Jabal Haikal” melakukan pertemuan Senin lalu di kota Al-Quds yang diikuti oleh tokoh agama dan anggota parlemen, Knesset, yang menegaskan pentingnya memasuki dan merangsek masjid Al-Aqsa.

Bahkan tokoh agama yahudi itu memberikan izin untuk menaiki masjid Al-Aqsha. Seorang tokoh Yahudi radikal, Nakhom Rabinovets menegaskan, “Masuknya ribuan warga yahudi ke masjid suci Al-Aqsha yang merupakan bukit haikal membuktikan kepada pemerintah Israel dan polisinya dan kepada seluruh dunia bahwa kami tidak akan mengalah dari tempat suci kami.” (bn-bsyr, infopalestina.com)
15:46 | 16 komentar

Miqdad Ilyasa

Written By Admin BeDa on Selasa, 27 Oktober 2009 | 15:18


Miqdad. Mungkin tidak banyak kaum muslimin yang mengenal nama ini. Ia memang tidak populer seperti sahabat Nabi yang lain. Namun perannya sungguh luar biasa. Sirah nabawiyah mengabadikan salah satu perannya saat perang Badar. Saat itu, kaum muslimin yang berjumlah sekitar 300 orang berniat mencegat kafilah Abu Sufyan. Mereka keluar Madinah bukan untuk berhadapan dengan pasukan perang, pada mulanya. Namun Allah menakdirkan lain. Yang mereka temui adalah 1000-an pasukan Quraisy dengan senjata lengkap! Siap berperang.

Rasulullah menginginkan pendapat kaum muslimin tentang perang yang tidak diduga ini. Beliau juga berharap komitmen Muhajirin dan Anshar untuk membela Islam dan meneguhkan eksistensi Madinah yang baru dibangunnya di mata dunia. Maka, setelah dua komandan perang angkat bicara, yakni Abu Bakar dan Umar. Kini giliran Miqdad dengan jawaban yang mengesankan:

يا رسول الله، امض لما أراك الله،فنحن معك،والله لا نقول لك كما قالت بنو إسرائيل لموسى : { فَاذْهَبْ أَنتَ وَرَبُّكَ فَقَاتِلا إِنَّا هَاهُنَا قَاعِدُونَ } [ المائدة : 24] ، ولكن اذهب أنت وربك فقاتلا إنا معكما مقاتلون، فوالذي بعثك بالحق لو سرت بنا إلى بَرْك الغِمَاد لجالدنا معك من دونه حتى تبلغه .
“Ya Rasulullah, jangan ragu! Laksanakan apa yang dititahkan Allah. Kami akan bersamamu. Demi Allah kami tidak akan berkata seperti yang dikatakan Bani Israel kepada Musa, ‘Pergilah kamu bersama Tuhanmu dan berperanglah! Kami akan duduk menunggu di sini.’ Tetapi kami akan mengatakan kepadamu, ‘Pergilah bersama Tuhanmu dan berperanglah! Kami akan berperang di sampingmu.’ Demi yang telah mengutusmu dengan membawa kebenaran! Seandainya engkau membawa kami menerjuni lautan lumpur, kami akan patuh. Kami akan berjuang bersamamu dengan gagah berani hingga mencapai tujuan, dan kami akan bertempur di sebelah kanan dan di sebelah kirmu, di bagian depan dan di bagian belakangmu, sampai Allah memberimu kemenangan.”

Ya. Miqdad adalah salah satu dari tiga komandan muhajirin pada perang Badar dan kata-katanya menguatkan tekad pasukan Badar yang akhirnya menorehkan kemenangan gemilang dan menjadi pondasi bagi kemenangan Islam berikutnya.

Ilyasa adalah nama Nabi. Namannya disebutkan di dalam Al-Qur'an diantaranya pada QS. Al-An'am ayat 86. Dialah sahabat sekaligus keponakan Nabi Ilyas. Sewaktu masih belia Ilyas datang ke rumahnya karena dikejar kaumnya yang durhaka dan menentang dakwahnya.

Dari dua nama inilah, kami terinspirasi untuk memberikan nama anak kedua kami yang baru lahir 3 hari lalu. Kami memang ingin memberikan nama yang bagus dan jarang dipakai. Dan alhamdulillah sepengetahuan kami belum ada yang memakai nama itu: Miqdad Ilyasa. Untuk meyakinkan kami juga mengecek di Google dan ternyata memang belum ada hasil pencarian untuk "Miqdad Ilyasa". Semoga menjadi anak shalih yang berkontribusi untuk Islam. Mohon doanya. [Muchlisin]
15:18 | 22 komentar

Bukan Untuk Pemburu Dunia

Written By Admin BeDa on Minggu, 25 Oktober 2009 | 09:56


Pada bulan ini, Dzul-Qa’idah, tahun kesepuluh dari nubuwah, Rasulullah SAW kembali ke Makkah. Beliau baru saja mendakwahi penduduk Thaif. Namun, yang beliau dapatkan bukan sambutan untuk bergabung dengan agama tauhid ini, melainkan pengusiran. Pengusiran yang sangat menyakitkan, sebab bukan hanya kata-kata yang mereka gunakan mengusir Nabi, batu juga mereka lemparkan. Rasulullah pun berdarah-darah. Hatinya lebih sedih lagi. Malaikat datang menawarkan bantuan untuk menghukum mereka, tapi Rasulullah memaafkan begitu saja. Bahkan mendoakan mereka.

Kini beliau kembali ke Makkah. Seketika itu pula beliau memulai lagi dakwahnya kepada berbagai kabilah. Salah satu kabilah yang didakwahi untuk masuk Islam adalah Bani Amir bin Sha’sha’ah. Bagaimana sambutan mereka? Baiharah bin Firas, salah seorang pemuka kabilah itu berkata kepada Rasulullah, “Apa pendapatmu jika kami berbaiat kepadamu untuk mendukung agamamu, kemudian Allah memenangkan dirimu dalam menghadapi orang-orang yang menentangmu, apakah kami masih mempunyai kedudukan sepeninggalmu?”

Rasulullah menjawab, “Kedudukan itu hanya pada Allah. Dia meletakkannya menurut kehendak-Nya.”

Baiharah berkata, “Apakah kami harus menyerahkan batang leher kami kepada orang-orang Arab sepeninggalmu? Kalau pun Allah memenangkanmu, toh kedudukan itu juga akan jatuh kepada selain kami. Jadi, kami tidak membutuhkan agamamu.”

Mereka semua menolak seruan Rasulullah. Namun, Rasulullah tidak ingin agama ini dijadikan lahan bisnis duniawi. Maka beliau tidak mau menerima tawaran transaksi itu. Masuk Islam dan berjuang memenangkannya, tapi tujuannya meraih kedudukan duniawi.

Toh, tugas seorang dai hanya menyampaikan. Bukan untuk memastikan manusia mendukung dakwah sebanyak-banyaknya. Apalagi mendukung dakwah dengan motif kekuasaan. Inilah hal yang perlu disadari oleh seluruh dai penerus Rasulullah. Sehingga pada akhirnya, dakwah Islam benar-benar digerakkan hanya oleh orang-orang yang ikhlas mengembannya, bukan karena hasrat harta, jabatan, dan kekuasaan di baliknya. Maka sejarah mencatat, dakwah Islam yang menuai keberhasilan luar biasa itu diawali dari fase Makkiyah yang tidak mengenal istilah munafik di dalamnya. Para dainya adalah orang-orang yang semata-mata berjuang karena Allah. Allah pun memberkahi dakwah yang demikian itu.

Tampaknya, ini pula yang disadari oleh Hasan Al-Banna sehingga ia mengatakan kepada orang-orang oportunis yang tidak mau memberikan dukungan pada dakwah kecuali setelah mengetahui manfaat yang dapat diperoleh dan keuntungan yang dihasilkan: “Kasihanilah dirimu! Kami tidak menjanjikan apa-apa, kecuali pahala dari Allah, jika Anda ikhlas. Juga surga, jika Allah mengetahui kebaikan pada diri Anda. Kami adalah orang-orang yang tidak mempunyai popularitas dan miskin harta. Urusan kami hanyalah mengorbankan apa yang ada pada kami dan mengerahkan segala yang di tangan kami. Setelah itu kami mengharapkan keridhaan Allah Ta’ala, Dia-lah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong.”

Rasulullah berlalu dari Bani Amir bin Sha’sha’ah dan mengabaikan tawaran orang-orang seperti Baiharah. Rasulullah bergegas menemui kabilah-kabilah lain, mendakwahi orang-orang yang ditemuinya. Islam yang suci ini memang hanya pantas diperjuangkan oleh orang-orang yang berhati suci pula, bukan mereka para pemburu dunia. [Muchlisin]
09:56 | 4 komentar

Do’a di Perang Khandaq

Written By Admin BeDa on Sabtu, 24 Oktober 2009 | 16:44


Sekitar satu bulan lamanya perang urat syaraf (psy war) itu terjadi. Perang urat saraf antara umat Islam di Madinah dengan pasukan koalisi (ahzab) terbesar saat itu; Quraisy, Kinanah, Bani Sulaim, kabilah-kabilah Ghathafan, dan lain-lain. Madinah benar-benar terancam. 10.000 pasukan itu telah berkumpul di depan Madinah untuk menyerang. Namun, mereka tidak mampu memasuki gerbang Madinah karena umat Islam telah membuat parit di depan kota.

Meski pertempuran fisik tidak terjadi, kedua belah pihak dilanda ketegangan dan kekhawatiran. Pasukan ahzab tidak siap untuk melakukan pengepungan karena mereka datang hanya dengan satu tekad: menyerang! Sementara penduduk Madinah juga dilanda kekhawatiran kalau-kalau mereka nekat menyerang, menyeberangi parit yang mereka gali.

Khandaq (parit) sebenarnya merupakan strategi yang bagus. Strategi baru ini belum dikenal dan tidak pernah terpikirkan oleh pasukan ahzab. Kesiapsiagaan pasukan Islam juga bentuk ikhtiar yang luar biasa. Mereka bahkan tidak sempat memejamkan mata. Namun, ada lagi satu hal yang tidak dilupakan Rasulullah dan para shahabatnya. Doa. Ya, doa! Mereka menyadari sepenuhnya bahwa khandaq dan ikhtiar lain merupakan wasilah semata, sementara kemenangan ditentukan oleh Allah SWT. Maka sebagaimana di perang Badar Rasulullah berdoa, pada perang Khandaq ini pun Rasulullah berdoa. Doa Rasulullah SAW itu adalah:
Allaahumma munzila al-kitaab, sarii’a al-hisaab, ahzimi al-ahzaab, Allaahumma ahzimhum wa zalzilhum
“Ya Allah yang menurunkan Al-Kitab dan yang cepat hisab-Nya, kalahkanlah pasukan musuh. Ya Allah, kalahkanlah dan guncangkanlah mereka.”

Allah kembali memperkenankan do’a Rasul-Nya. Allah mengirimkan angin taufan kepada pasukan ahzab, sehingga kemah-kemah mereka porak-poranda. Mereka ketakutan dan dilanda kekacauan. Mereka pun pulang dengan kekalahan dan kerugian. Perang urat syaraf itupun berakhir pada bulan yang sama dengan yang kita hadapi saat ini, bulan Dzul-Qa’idah. Tahun 5 H.

Umat Islam kembali bersuka cita. Bersyukur atas kemenangan yang dianugerahkan kepada mereka. Maka, kedudukan Islam pun makin kokoh, dakwah Islam makin berpengaruh. Dan, satu pelajaran yang kita dapatkan: untuk mendapatkan kemenangan dan kesuksesan kita harus melewati pintu ikhtiar yang optimal, dan doa orang yang beriman adalah kuncinya. [Muchlisin]
16:44 | 8 komentar

Serial Haji & Idul Adha 3: Keutamaan Haji

Written By Admin BeDa on Jumat, 23 Oktober 2009 | 16:08


Menyambung tema sebelumnya, yaitu Pengertian dan Perintah Haji serta Urgensi Haji, Serial Haji & Idul Adha ke-3 ini mengambil tema Keutamaan Haji. Tulisan ini diambil dari Fiqih Sunnah karya Sayyid Sabiq.

Ada 5 keutamaan haji yang akan disertai dengan hadits-hadits yang menjelaskannya. Pertama, haji merupakan amal yang paling utama. Kedua, haji merupakan jihad. Ketiga, haji menghapus dosa. Keempat, orang yang melakukan haji merupakan duta Allah. Dan kelima, ganjaran haji adalah surga.
***

1. Haji merupakan amal paling utama


أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - سُئِلَ أَىُّ الْعَمَلِ أَفْضَلُ فَقَالَ « إِيمَانٌ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ » . قِيلَ ثُمَّ مَاذَا قَالَ « الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ » . قِيلَ ثُمَّ مَاذَا قَالَ « حَجٌّ مَبْرُورٌ »
Rasulullah SAW ditanya mengenai amal yang paling utama. Maka jawab beliau: "yaitu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya." Tanya orang itu lagi, "Kemudian apa?" jawab beliau, "Kemudian berjihad di jalan Allah" Ditanya pula "Setelah itu apa?" Beliau menjawab, "Setelah itu haji yang mabrur." (HR. Bukhari)

Haji mabrur ialah haji yang tidak dinodai oleh dosa. Sedangkan menurut hasan, ciri-cirinya adalah bila seseorang kembali dari haji dengan mencintai akhirat dan tidak menghiraukan dunia. Diriwayatkan secara marfu' dengan sanad hasan bahwa haji mabrur/dipenuhi kebajikan itu adalah bila seseorang suka menyumbangkan makanan dan lemah lembut dalam ucapan.

2. Haji merupakan jihad

جاء رجل إلى النبي صلى الله عليه وسلم ، فقال : إني جبان ، وإني ضعيف ، فقال : « هلم إلى جهاد لا شوكة فيه : الحج »
Ada seorang laki-laki datang kepada Nabi SAW dan berkata "Aku ini penakut dan aku ini lemah." Ujar Nabi, "Ayolah berjihad yang tidak ada kesulitannya yaitu naik haji." (HR. Abdurrazaq dan Thabrani, perawi-perawinya dapat dipercaya)

جِهَادُ الْكَبِيرِ وَالصَّغِيرِ وَالضَّعِيفِ وَالْمَرْأَةِ الْحَجُّ وَالْعُمْرَةُ
Jihad dari orang yang telah tua, dari orang yang lemah, dan dari wanita adalah haji dan umrah. (HR. An-Nasai dengan sanad hasan)

عَنْ عَائِشَةَ - رضى الله عنها - أَنَّهَا قَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ تُرَى الْجِهَادَ أَفْضَلَ الْعَمَلِ ، أَفَلاَ نُجَاهِدُ قَالَ « لَكِنَّ أَفْضَلَ الْجِهَادِ حَجٌّ مَبْرُورٌ »
Dari Aisyah, bahwa ia bertanya kepada Rasulullah SAW, "Ya Rasulullah, menurut engkau jihad itu adalah amal yang paling utama. Kalau begitu tidakkah kami akan berjihad?" Jawab Rasulullah SAW, "Bagi kalian adalah jihad yang lebih utama, yaitu haji yang mabrur." (HR. Bukhari)

3. Haji menghapus dosa

مَنْ حَجَّ هَذَا الْبَيْتَ ، فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ ، رَجَعَ كَمَا وَلَدَتْهُ أُمُّهُ
Barangsiapa mengerjakan haji dan ia tidak menjima' istrinya pada waktu terlarang dan tidak pula berbuat maksiat, maka ia akan kembali seperti pada saat dilahirkan ibunya. (HR. Muslim)

فَلَمَّا جَعَلَ اللَّهُ الإِسْلاَمَ فِى قَلْبِى أَتَيْتُ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- فَقُلْتُ ابْسُطْ يَمِينَكَ فَلأُبَايِعْكَ. فَبَسَطَ يَمِينَهُ - قَالَ - فَقَبَضْتُ يَدِى. قَالَ « مَا لَكَ يَا عَمْرُو ». قَالَ قُلْتُ أَرَدْتُ أَنْ أَشْتَرِطَ.
قَالَ « تَشْتَرِطُ بِمَاذَا ». قُلْتُ أَنْ يُغْفَرَ لِى. قَالَ « أَمَا عَلِمْتَ أَنَّ الإِسْلاَمَ يَهْدِمُ مَا كَانَ قَبْلَهُ وَأَنَّ الْهِجْرَةَ تَهْدِمُ مَا كَانَ قَبْلَهَا وَأَنَّ الْحَجَّ يَهْدِمُ مَا كَانَ قَبْلَهُ »
Tatkala Allah telah menanamkan Islam di hatiku, aku datang menemui Rasulullah SAW, lalu berkata, "Ulurkanlah tanganmu agar aku membai'at kepadamu." Nabi pun mengulurkan tangannya, tapi aku masih mengatupkan talapak tanganku." Maka tanya beliau, "Bagaimana engkau ini wahai Amar?" aku menjawab, "Aku akan mengajukan syarat" "Apa syaratnya?" tanya Rasulullah SAW. "Yaitu agar aku diampuni" jawabku. Maka sabda beliau, "Tidakkah engkau tahu bahwa Islam itu menghapuskan keadaan sebelumnya, begitu juga hijrah menghapuskan apa yang sebelumnya, juga haji menghapuskan apa yang sebelumnya?" (HR. Muslim)

تَابِعُوا بَيْنَ الْحَجِّ وَالْعُمْرَةِ فَإِنَّهُمَا يَنْفِيَانِ الْفَقْرَ وَالذُّنُوبَ كَمَا يَنْفِي الْكِيرُ خَبَثَ الْحَدِيدِ وَالذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَلَيْسَ لِلْحَجِّ الْمَبْرُورِ ثَوَابٌ دُونَ الْجَنَّةِ
Hendaknya engkau melakukan haji dan umrah itu secara beriringan karena keduanya akan melenyapkan kemiskinan dan kesalahan tak ubahnya seperti kipas angin menerbangkan kotoran-kotoran besi, emas, dan perak. Dan tiadalah ganjaran bagi haji yang mabrur itu selain surga. (HR. An-Nasa'i dan Tirmidzi)

4. Orang yang melakukan haji merupakan duta Allah

الْحُجَّاجُ وَالْعُمَّارُ وَفْدُ اللَّهِ إِنْ دَعَوْهُ أَجَابَهُمْ وَإِنِ اسْتَغْفَرُوهُ غَفَرَ لَهُمْ
Orang yang mengerjakan haji dan orang-orang yang mengerjakan umrah merupakan duta-duta Allah. Jika mereka memohon kepada-Nya pastilah dikabulkan-Nya dan jika mereka meminta ampun pastilah diampuni-Nya. (Hr. An-Nasa'i dan Ibnu Majah)

5. Ganjaran Haji adalah Surga

الْعُمْرَةُ إِلَى الْعُمْرَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُمَا ، وَالْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلاَّ الْجَنَّةُ
Umrah kepada umrah menghapuskan dosa yang terdapat diantara keduanya, sedang haji yang mabrur tiada ganjarannya kecuali surga. (HR. Bukhari dan Muslim)

هذا البيت دعامة الاسلام، فمن خرج يؤم هذا البيت من حاج أو معتمر، كان مضمونا على الله، إن قبضه أن يدخله الجنة " وإن رده، رده بأجر وغنيمة "
Rumah ini adalah tiang Islam. Maka siapa yang berangkat menuju rumah ini, baik untuk mengerjakan haji maupun umrah, maka telah dijamin oleh Allah jika ia meninggal akan dimasukkan-Nya ke dalam surga dan jika kembali akan diberkahi-Nya dengan oleh-oleh pahala. (HR. ibnu Juraij dengan sanad hasan).

Wallahu a'lam [Sumber: Fiqih Sunnah karya Sayyid Sabiq]
16:08 | 18 komentar

Serial Haji & Idul Adha 2: Urgensi Haji Secara Ruhiyah

Written By Admin BeDa on Kamis, 22 Oktober 2009 | 16:42


Setelah menampilkan tema Pengertian dan Perintah Haji, kini Serial Haji & Idul Adha mengajak mengkaji tema Urgensi Haji Secara Ruhiyah. Tema kedua ini diambilkan langsung dari buku Seri Materi Tarbiyah Keakhwatan 4. Semoga Serial Haji & Idul Adha ke-2 ini memotivasi kita yang belum bisa naik haji tahun 2009 (Dulhijah 1430 H) untuk segera berusaha memenuhi panggilan Ilahi, menjalankan rukun Islam kelima ini. Selamat membaca.
***

Ada 5 hal urgensi ibadah haji dalam kaitannya dengan pembinaan ruhani jamaah yang menunaikannya. Kami nukilkan dengan beberapa perubahan dari buku Al-Islam tulisan Syaikh Sa'id Hawwa.

1. Ibadah Haji adalah Simbol Kepasrahan Total Kepada Allah SWT

Sebagaimana telah maklum bahwa ibadah haji berisi ketaatan secara mutlak, tanpa melihat kandungan maknanya, kepada perintah Allah SWT yang disampaikan kepada Rasulullah SAW. Thawaf, wuquf, sa'i, ramyul jumar, tahallul, dan lain-lain amalan haji, hanyalah simbol-simbol ketaatan seorang hamba kepada perintah Allah tanpa tawar menawar.

Ia juga merupakan simbol ketertautan kita dengan Nabiyullah Ibrahim a.s. dengan cara menghidupkan syiarnya dan mengelilingi ka'bah yang dibangunnya. Selain itu, haji juga simbol bagi kesatuan umat seluruh dunia tanpa mempertimbangkan jenis suku bangsa, negara, dan warna kulit. Sedangkan kesatuan kaum Muslimin terbentuk oleh satunya akidah dan syariatnya.

2. Ibadah Haji adalah Penerapan Secara Aplikatif Berbagai Prinsip Islam

Ia adalah aplikasi konkret dari ukhuwah islamiyah, di mana setiap orang ketika haji merasa bahwa dirinya adalah saudara bagi sesama Muslim seluruh dunia.

Ia juga aplikasi konkret dari makna persamaan derajat berbagai bangsa tatkala mereka memeluk Islam. Ia merupakan aplikasi konkret dari firman Allah SWT:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ [الحجرات/13]
Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS. Al-Hujurat : 13)

Ibadah haji itu telah menjadi media paling konkret untuk mempertemukan berbagai bangsa Muslim di dunia.

3. Haji adalah Medan Pembinaan untuk Mengantarkan Muslim ke Derajat Tertinggi

Dengan haji seorang hamba belajar sambil melatih kesabaran. Bukankah salah satu hadits Nabi menyebutkan bahwa "jihad yang paling utama adalah haji mabrur"? (HR. Bukhari dan dari Aisyah). Dengan haji hidup selalu dalam suasana ibadah; bersikap ramah dan kasih sayang kepada sesama mukmin, mengendalikan emosi dan nafsu, juga memahami arti kebisingan dan kekerasan. Selain itu, orang yang beribadah haji juga berarti memahami hakikat ubudiyah kepada Allah dan berinfak fi sabilillah tanpa imbalan, mengagungkan sesuatu yang diagungkan Allah, dan merendahkan sesuatu yang direndahkan Allah.

4. Haji dapat Membangkitkan berbagai Perasaan dan Sikap pada Jiwa Manusia

Dalam amalan ibadah haji seorang jamaah melakukan tapak tilas perjalanan nabiyullah Ibrahim a.s. Maka ibadah haji juga berarti mengenang kembali perjalanan hidup generasi masa lalu yang pernah hidup di tempat ini, sekaligus menyambungkan ruhani kita dengan mereka dalam ikatan akidah dan penghambaan kepada Allah SWT.

5. Pada Ibadah Haji terdapat Nilai dan pelajaran yang tak Terhitung

Di dalam setiap amalan haji terkandung berbagai pelajaran dan makna. Kalau manusia menyadari, haji akan melahirkan pemahaman-pemahaman yang Rabbani lebih banyak, peningkatan akhlak islami, semangat meneladani Rasulullah SAW secara lebih dalam. Beberapa praktek ibadah haji sarat dengan kandungan hikmah simbolis hakikat hidup.

Arafah adalah tempat berkumpulnya manusia sebelum melaksanakan thawaf rukun. Semua orang yang berniat haji berkumpul di padang Arafah. Secara serentak dan bersamaan mereka memulai keberangkatan untuk mengagungkan Ka'bah. Kemudian menuju Muzdalifah dalam keadaan telah bertaubat dan berserah diri. Mereka menuju Ka'bah dengan jiwa bersih.

Dari Muzdalifah mereka berangkat menuju Mina untuk melontar jumrah sebelum thawaf, sebagai pernyataan bahwa musuh Allah adalah musuh mereka. Kemudian memotong hewan qurban sebagai tanda syukur kepada Allah atas karunia-Nya dalam menghalalkan binatang ternak kepada mereka. Lalu mencukur rambut sebagai persiapan thawaf dengan jiwa bersih, pakaian suci dan penampilan bagus.

Setelah itu mereka menuju Makkah dan berthawaf di sekeliling Ka'bah sambil mengagungkannya karena Allah telah mengagungkannya.

Allah SWT berfirman:
وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ [الحج/32]

... dan barangsiapa mengagungkan syi'ar-syi'ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketaqwaan hati. (QS. Al-Haj : 32)

Kemudian sa'i antara Shafa dan Marwa sebagaimana pernah dilakukan ibu mereka, Hajar yang shalihah, pada hari permulaan Baitullah dibangun. Seterusnya mereka kembali lagi ke Mina untuk melontarkan jumrah sebagai pernyataan permusuhan total terhadap syetan untuk selama-lamanya.

Haji juga membawa kembali umat Islam kepada markas Islam pertama, agama Ibrahim dan Muhammad alaihimassalam. Perjalanan kembali ini akan memperkuat ikatan seorang Muslim kepada pusat Islam. Ia adalah negeri spiritualnya, kiblatnya, orientasi jasadnya, titik tolak semangat dan cita-citanya.

Sekembalinya dari tempat ini sebagaian besar bentuk kehidupan muslim telah berubah dan berganti. Dulu keterikatannya dengan markas Islam hanya bersifat teoritis, namun kini telah menjadi kenyataan yang dapat dirasakan dan diamalkan.

Nabi SAW bersabda,
مَنْ حَجَّ لِلَّهِ فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ رَجَعَ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ
Barangsiapa berhaji karena Allah, lalu tidak berlaku keji dan tidak berbuat fasik, ia kembali seperti hari dilahirkan ibunya. (HR. Imam yang enam kecuali Abu Daud).

Haji menghidupkan kenangan Rabbani yang abadi yang pernah dikenal manusia. Kenangan sebuah keluarga yang tidak pernah memperdulikan apa pun dalam menjalankan perintah Allah. Kenangan seorang anak yang menyerahkan dirinya menjadi kurban untuk Allah. Kenangan seorang ibu yang yakin sepenuhnya akan perlindungan Allah; seorang ibu yang taat kepada Allah dan suaminya. Kenangan orang-orang yang sepenuhnya tawakal kepada Allah dan kenangan terhadap terbebasnya orang-orang yang tertindas. Bila mereka telah kembali ke rumah dengan rasa kemenangan maka semuanya akan terkenang.

Ia adalah neraca yang dengannya dapat diketahui orang-orang yang memperhatikan persoalan umat Islam dan kondisinya, yang memperhatikan kekuatan, kebaikan, kelemahan, kebodohan, kehinaan, kemiskinan, kemuliaan atau kejayannya. Orang-orang yang memperhatikan semua itu akan tampak jelas hanya dalam ibadah haji.

Selain itu, haji merupakan media utama untuk menghancurkan virus-virus yang disebar di tengah-tengah umat. Virus kolonialisme, nasionalisme, harta, jabatan, kekuasaan, setan Timur dan Barat. Dengan haji akbar, semua virus tersebut dapat dimusnahkan.

Haji adalah salah satu jalan pembebasan dari segala kenistaan syaitani menuju kehormatan ketuhanan, Zat Yang Mahakasih. Tidak ragu lagi, jika para ulama Islam dapat memfungsikan haji dan mendudukkannya secara proporsional, maka ia akan dapat menyelesaikan berbagai persoalan umat. [Sumber: Seri Materi Tarbiyah Keakhwatan 4]
16:42 | 10 komentar

Serial Haji & Idul Adha 1: Pengertian dan Perintah Haji

Written By Admin BeDa on Rabu, 21 Oktober 2009 | 15:46


Hari ini kita telah berada di awal bulan Dzulqoidah 1430 H. Satu bulan lagi umat Islam akan merayakan hari raya Idul Adha dengan beberapa ibadah khas-nya; haji, shalat idul adha, dan menyembelih hewan qurban. Khusus untuk haji, beberapa hari lagi para jamaah dari Indonesia terutama kloter-kloter pertama akan berangkat ke tanah suci. Menyongsong Idul Adha ini, blog BERSAMA DAKWAH berniat menampilkan Serial Haji & Idul Adha. Semoga posting ini bermanfaat bagi para calon jamaah haji, dan juga kita semua, umat Islam yang akan menyambut idul adha dan memiliki cita-cita naik haji. Serial Haji & Idul Adha ini diawali dengan tema Pengertian dan Perintah Haji. Selamat membaca.
***

Haji merupakan salah satu rukun Islam. Haji, sebagaimana ibadah yang lain, memiliki kekhasan, bahkan kekhasannya sangat mencolok. Jika ibadah lain ada yang merupakan ibadah badaniyah dan ada juga yang ibadah maliyah, haji adalah kombinasi dari keduanya. Artinya, haji membutuhkan amalan fisik dalam menjalankannya dan juga membutuhkan harta. Semakin jauh domisili seorang muslim dari Makkah, semakin besar pula harta yang dibutuhkannya untuk menunaikan haji.

Pengertian Haji
Sayyid Sabiq mendefinisikan haji dalam Fiqih Sunnah sebagai berikut:

هو قصد مكة، لان عبادة الطواف، والسعي والوقوف بعرفة، وسائر المناسك، استجابة لامر الله، وابتغاء مرضاته.
Haji adalah mengunjungi Makkah untuk mengerjakan ibadah thawaf, sa’i, wuquf di arafah, dan ibadah-ibadah lain untuk memenuhi perintah Allah dan mengharap keridhaan-Nya.

Haji merupakan salah satu rukun Islam yang lima dan suatu kewajiban agama. Seandainya ada yang menyangkal hukum wajibnya, berarti ia telah kafir dan murtad dari agama Islam.

Perintah Haji

Kebanyakan ulama lebih condong bahwa diwajibkannya haji adalah pada tahun keenam Hijriah karena pada tahun itulah turun wahyu dari Allah SWT.

أَتِمُّوا الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ لِلَّهِ [البقرة/196]
Hendaklah kamu sempurnakan haji dan umrah karena Allah (QS. Al-Baqarah : 196)

Hal ini didasarkan pendapat bahwa yang dimaksud dengan “menyempurnakan” adalah mulai diwajibkannya. Hal ini dikuatkan qiraat Alqamah, Masruq, dan Ibrahim Nakha’i yang membaca “Hendaklah kamu tegakkan.” (Diriwayatkan Imam Thabrani dengan sanad yang shahih)

Ibnul Qayyim menguatkan pendapat bahwa mulai diwajibkan haji itu adalah pada tahun ke-9 atau ke-10 Hijriah.

Dalil Al-Qur'an yang juga menunjukkan wajibnya ibadah haji adalah QS. Ali Imran ayat 97 dan QS. Al-Hajj ayat 27.

وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا [آل عمران/97]
Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam. (QS. Ali Imran : 97)

Ibnu Katsir dalam tafsirnya menguatkan ayat di atas sebagai dalil wajibnya haji, meskipun beliau juga mencantumkan pendapat kedua yang mengatakan bahwa dalil wajibnya haji adalah QS. Al-Baqarah : 196 di atas.

وَأَذِّنْ فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالًا وَعَلَى كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ [الحج/27]
Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh, (QS. Al-Hajj : 27)

Ayat ini berkisah tentang perintah Allah kepada Ibrahim. Ibrahim semula ragu, apakah bisa aku memanggil manusia? Namun Allah-lah yang menjadikan suaranya tidak dibatasi oleh kegaduhan atau penghalang yang lain, sehingga sampailah suara itu ke berbagai penjuru.

Adapun dalil wajibnya haji dari hadits Nabi SAW antara lain:

بني الإسلام على خمس شهادة أن لا إله إلا الله وأن محمدا رسول الله وإقام الصلاة وإيتاء الزكاة والحج وصوم رمضان
Islam dibangun di atas lima perkara : bersaksi bahwa tiada tuhan kecuali Allah dan Muhammad utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, haji, dan puasa Ramadhan (HR. Bukhari Muslim)

« أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ قَدْ فَرَضَ عَلَيْكُمُ الْحَجَّ فَحُجُّوا ». فَقَالَ رَجُلٌ أَكُلَّ عَامٍ يَا رَسُولَ اللَّهِ فَسَكَتَ حَتَّى قَالَهَا ثَلاَثاً فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « لَوْ قُلْتُ نَعَمْ لَوَجَبَتْ وَلَمَا اسْتَطَعْتُمْ ». ثُمَّ قَالَ « ذَرُونِى مَا تَرَكْتُكُمْ فَإِنَّمَا هَلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ بِكَثْرَةِ سُؤَالِهِمْ وَاخْتِلاَفِهِمْ عَلَى أَنْبِيَائِهِمْ فَإِذَا أَمَرْتُكُمْ بِأَمْرٍ فَأْتُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَإِذَا نَهَيْتُكُمْ عَنْ شَىْءٍ فَدَعُوهُ »
“Hai manusia, telah difardukan atas kalian melakukan ibadah haji. Karena itu, berhajilah kalian.” Ketika ada seorang laki-laki bertanya, “Apakah untuk setiap tahun, wahai Rasulullah?” Nabi SAW diam hingga laki-laki itu mengulangi pertanyaannya tiga kali. Lalu Rasulullah SAW bersabda, “Seandainya aku katakan ‘Ya’ niscaya akan diwajibkan (setiap tahunnya), tetapi niscaya kalian tidak akan mampu.” Kemudian Nabi SAW bersabda, “Terimalah dariku apa yang aku tinggalkan buat kalian, krb sesungguhnya telah binasa orang-orang sebelum kalian karena mereka banyak bertanya dan menentang nabi-nabi mereka. Apabila aku perintahkan kepada kalian sesuatu hal, maka kerjakanlah sebagian darinya semampu kalian; dan apabila aku larang kalian terhadap sesuatu, maka tinggalkanlah oleh kalian.” (HR. Ahmad. Imam Muslim meriwayatkan hadits serupa)

Wallahu a'lam. Bersambung ke Serial Haji & Idul Adha 2. [Muchlisin]
15:46 | 25 komentar

Ukhuwah dalam Berjama'ah

Written By Admin BeDa on Selasa, 20 Oktober 2009 | 10:03

We are sorry, starting from 13rd March 2010, Ukhuwah dalam Berjama'ah cannot displayed. Sorry for this uncomfortable. This page, Ukhuwah dalam Berjama'ah, deleted by blog owner because of some reason. Please to be understood.

Once more, we're sorry to visitors of BERSAMA DAKWAH blog. We hope you back to HOME. Thank you.
10:03 | 23 komentar

Al-Qur'an: Sudahkah Kita Mentadabburinya?

Written By Admin BeDa on Senin, 19 Oktober 2009 | 16:30


Pernahkah kita membaca Al-Qur'an tetapi jiwa kita justru merasa gersang? Atau kita menghabiskan halaman-halamannya sementara ruh kita tetap dilanda kekeringan? Atau bahkan kita merasa begitu berat dan terpaksa membacanya karena mengejar target tilawah?

Jika itu terjadi, mari beristighfar kepada Allah SWT. Al-Qur'an diturunkan bukan untuk menyusahkan kita, termasuk dalam membacanya. "Kami tidak menurunkan Al Quran ini kepadamu agar kamu menjadi susah" (QS. Thaahaa : 2). Lalu mengapa hati kita demikian membatu untuk bisa tersentuh ayat-ayat-Nya? Hati itu seharusnya melembut saat membacanya, lalu ia mengajak mata untuk meneteskan air matanya.

Al-Qur'an itu indah. Keindahannya bisa dirasakan oleh fitrah manusia meskipun tidak tahu artinya. Inilah penjelasan mengapa seseorang bisa menangis tersedu-sedu saat berada di belakang imam yang membaca Al-Qur'an dengan tartil dan penuh kekshuyu'an. Ini pula alasan seseorang yang masuk Islam dan ditanya; mengapa? Ia menjawab: "Kitab sucinya umat Islam, Al-Qur'an; ayat-ayatnya bisa dirasakan oleh hati meskipun belum dimengerti terjemahnya."

Terlebih saat Al-Qur'an dipahami artinya. Ia begitu indah, memukau jiwa. Ia memang kitab yang memiliki daya magnetis, di samping kebenaran mutlak yang dikandungnya. Inilah yang membuat Abu Jahal dan beberapa kawannya diam-diam menguping Rasulullah membaca Al-Qur'an.

Al-Qur'an juga banyak memaparkan ayat-Nya dengan gaya cerita. Keindahan Al-Qur'an dalam bercerita demikian luar biasa inilah yang kemudian menginspirasi Sayyid Qutb untuk menulisnya dalam Taushiir Al-Fanny fi Al-Qur'an.

Kita bisa mentadabburi Al-Qur'an jika kita tahu artinya. Kalaupun belum bisa bahasa Arab, banyak terjemah yang bisa membantu kita. Agar kita memahami isinya, para ulama' telah menyusun banyak tafsir untuk kita baca. Saat kita memahami maksudnya, saat itulah kita bisa menjadikan Al-Qur'an sebagai petunjuk bagi kita. Dan inilah yang dirindukan para sahabat Nabi. Mereka membaca Al-Qur'an untuk mengaplikasikannya.

"Kitab (Al-Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa" (QS. Al-Baqarah : 2)

Saat kita merasakan nikmatnya membaca Al-Qur'an dan merindukannya untuk kita aplikasikan, saat itulah iman kita meninggi.

"...dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya)" (QS. Al-Anfal : 2)

Semoga kita termasuk orang-orang yang terakhir ini. [Muchlisin]
16:30 | 7 komentar

Dunia Kita Hidup Kita

Written By Admin BeDa on Minggu, 18 Oktober 2009 | 12:19


Bisakah kita membayangkan bagaimana dulu, Adam dan Hawa, menjalani hidup ketika hanya mereka berdua yang menghuni bumi ini? Mungkin mudah membayangkan bagaimana mereka mencari makan untuk menyambung hidup, atau membuat rumah tempat mereka berteduh, atau membuat pakaian untuk menutup aurat mereka. Tapi coba bayangkan bagaimana pada mulanya mereka menemukan bahasa sebagai alat komunikasi mereka? Atau bagaimana pada mulanya mereka mengenal satu per satu dari jengkal tanah bumi ini?

Bagaimana mereka mengetahui atau menyepakati bahwa tempat mereka berjalan itu bernama tanah, bahwa benda yang tampak jauh di ketinggian sana, yang berwarna biru adalah langit, bahwa ada makhluk lain di dunia selain mereka yang bernama binatang dan tumbuhan, bahwa ada malampu besar yang membuat hari-hari mereka terbelah dalam terang dan gelap, dan bahwa ketika hari siang itu namanya siang dan ketika hari gelap itu namanya malam? Tapi kenapa kemudian kita, anak cucu Adam dan Hawa, bisa punya ribuan kata yang berbeda untuk satu benda? Mengapa kita punya banyak bahasa?

Lalu bagaimana pula cara kakek nenek kita itu mengenal dunia yang mereka huni ini? Berapa luaskah dari bumi ini, yang sekarang dihuni oleh sekitar 6 milyar anak cucunya, yang bisa mereka jangkau? Bukankah bumi ini terlalu luas untuk mereka berdua, dan karenanya bisa sangat menyeramkan? Lalu seperti apakah bumi dalam persepsi mereka berdua; datar atau bulat? Indah atau jelek? Menyenangkan atau menyengsarakan?

Begitu Adam dan Hawa turun ke bumi ini, tiba-tiba saja mereka menemukan dunia yang begitu berbeda dengan surga yang sebelumnya mereka huni. Ini dunia baru. Sepenuhnya dunia baru. Tak ada satu yang ia tahu di sini. Sama sekali tak ada. Jadi apa yang pertama mereka lakukan? Belajar! Itulah yang mereka lakukan. Bukan makan dan minum. Dan siapa yang mengajar mereka? Hanya Allah! “Dan Allah mengajarkan Adam nama-nama itu, seluruhnya.” Seluruhnya; nama benda, perbuatan, pikiran, perasaan, nilai, dan seterusnya.

Jadi begitulah hidup pada mulanya dijalani; dengan pembelajaran. Dan kemudian, seperti apa cara kita memahami dunia kita, seperti itulah kelak menjalani hidup. Coba bayangkan, berapa ribu tahun yang diperlukan manusia untuk sampai pada pengetahuan bahwa bumi ini bulat dan bukan datar? Dan apa yang kemudian berubah dalam hidup manusia begitu mereka sampai pada pengetahuan itu? Berapa ribu tahun yang diperlukan oleh manusia untuk sampai pada pengetahuan bahwa minyak adalah sumber energi? Dan apa kemudian yang berubah dalam hidup manusia setelah pengetahuan itu?

Dan inilah kaidahnya: wajah dunia kita berubah setiap kita menemukan satu pengetahuan baru, hidup kita berubah setiap kali pengetahuan kita bertambah. [Anis Matta, sumber : Serial Pembelajaran, Majalah Tarbawi edisi 213 hal.80]
12:19 | 25 komentar

Pemuda Islam dan Perjuangan Islam

Written By Admin BeDa on Jumat, 16 Oktober 2009 | 10:49


Berdekatan dengan hari Sumpah Pemuda, Khutbah Jum'at kali ini mengambil tema Pemuda Islam dan Perjuangan Islam. Semoga bermanfaat, mampu memotivasi para pemuda untuk bersama-sama memperjuangkan Islam sehingga rahmat-Nya bisa dirasakan oleh seluruh alam.
***

KHUTBAH PERTAMA

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَنزلَ عَلَى عَبْدِهِ الْكِتَابَ وَلَمْ يَجْعَلْ لَهُ عِوَجَا
وأَشْهَدُ أنْ لا إلَهَ إلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، وأشهدُ أنَّ مُحَمَّدًا عبْدُه ورَسُولُه.
اللهم صلي على محمد، وارزقنا ثمره، وجنبنا ضرره، وأجعلنا لانعمك من الشاكرين، ولآلائك من الذاكرين، وبارك لنا فيه يا رب العالمين
{ يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ } [آل عمران: 102] .
{ يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا } [النساء: 1] .
{ يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلا سَدِيدًا * يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا } [الأحزاب: 70، 71].

Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah,
Menjelang keberangkatan Rasulullah dan para sahabatnya ke medan perang Badar, datanglah seorang remaja menghadap Rasulullah SAW. Usianya masih 13 tahun. Ia datang dengan membawa sebilah pedang yang panjangnya melebihi panjang badannya. Setelah dekat kepada beliau dia berkata, “Saya bersedia mati untuk Anda, wahai Rasulullah! Izinkanlah saya pergi jihad bersama Anda, memerangi musuh-musuh Allah di bawah panji-panji Anda.”

Rasulullah gembira dengan dan takjub dengan remaja itu. Tetapi, beliau tidak mengizinkannya untuk berperang karena usianya yang masih sangat muda. Remaja itu pun kembali, dengan kesedihan yang mendalam, niatnya untuk memperjuangkan Islam belum bisa dilaksanakan. Sementara itu, ibunya yang dari tadi melihat dari kejauhan, tidak kalah sedihnya. Sebab, putranya belum mendapat kesempatan membela Islam.

Tapi mereka tidak menyerah. Cita-cita remaja itu tidak melemah, bahkan semakin kuat. Demikian pula ibunya menginginkan. Karenanya, si ibu menghubungi kerabat-kerabatnya untuk menyampaikan tekad anaknya; berkontribusi untuk Islam dalam bidang lain yang lebih besar peluangnya untuk diterima. Mereka pun menghadap Rasulullah.

"Wahai Rasulullah! Ini anak kami. Dia hafal tujuh belas surat dari kitab Al-Qur’an. Bacaannya betul, sesuai dengan yang diturunkan Allah kepada Anda. Di samping itu dia pandai pula baca tulis Arab. Tulisannya indah dan bacaannya lancar. Dia ingin berbakti kepada Anda dengan keterampilan yang ada padanya, dan ingin pula mendampingi Anda selalu. Jika Anda menghendaki, silakan mendengarkan bacaannya." Pinta salah seorang pamannya.

Selepas Rasulullah mendengar bacaannya, beliaupun menyuruh remaja itu untuk mempelajari bahasa Ibrani. Dalam waktu singkat ia berhasil, dan diangkat sebagai sekretaris Rasulullah ketika berinteraksi dengan orang-orang Yahudi. Remaja itulah yang membacakan surat Yahudi dan menuliskan surat Rasulullah untuk mereka.

Rasulullah kemudian menyuruhnya untuk belajar bahasa Suryani. Dalam waktu singkat ia berhasil, dan tugasnya bertambah. Ia pula yang menjadi sekretaris saat Rasulullah berinteraksi dengan orang-orang berbahasa Suryani.

Setelah Rasulullah benar-benar yakin dengan kompetensi dan syakhsiyah Islamiyah-nya, remaja itu pun diangkat menjadi sekretaris wahyu. Setiap kali ayat Al-Qur'an turun, ia segera dipanggil Rasulullah SAW untuk menulisnya dan meletakkannya dengan urutan sebagaimana yang diperintahkan Rasulullah. Remaja itu bernama Zaid bin Tsabit.

Jama'ah Jum'at yang dimuliakan Allah, khususnya para pemuda!
Demikianlah profil pemuda yang diinginkan Islam. Ia tidak hanya menikmati keislamannya seorang diri tetapi juga memiliki komitmen untuk memperjuangkan Islam.

1420 tahun yang lalu, seluruh muslim yang ikut dalam kafilah Haji Wada bersama Rasulullah saw pada tahun ke-10 Hijrah, hanya berjumlah 100.000 sampai 125.000 jiwa. Jumlah itu setara 1 per 1000 dari total penduduk bumi ketika itu, yang berjumlah sekitar 100 juta jiwa. Beberapa hari yang lalu, The Pew Forum on Religion and Public Life menyodorkan data bahwa jumlah umat Islam kini sebanyak 1,57 milyar orang. Jika perbandingan antara penduduk Muslim dengan penduduk bumi di zaman Rasulullah saw adalah 1 per 1000, maka perbandingannya hari ini adalah 1 per 5 sampai 1 per 4. Subhaanallah, Allaahu akbar! Jumlah yang sangat banyak dan perkembangan yang sangat pesat, yang patut untuk kita syukuri.

Ayyuhal muslimuun hafidzakumullah, khususnya para pemuda!
Secara kuantitas kaum muslimin memang luar biasa. Tetapi itu belum mampu untuk membuat umat Islam kembali memperoleh kemuliaannya. Izzul Islam wal Muslimin. Sementara tujuan perjuangan Islam itu adalah
حَتَّى لَا تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ كُلُّهُ لِلَّهِ [الأنفال/39]
...supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah (QS. Al-Anfal : 39)

Lalu bagaimana realita hari ini? Islam justru dicurigai, dipenuhi dengan stigma negatif, bahkan dianggap terbelakang dan tidak mampu menjawab tantangan zaman. Umat Islam yang banyak itupun ternyata sebagian besarnya baru sebatas berislam dalam identitas, belum mengaplikasikan Islam dalam kehidupannya. Sedangkan Allah SWT sendiri memerintahkan:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ [البقرة/208]
Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara kaffah (keseluruhan), dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu. (QS. Al-Baqarah : 208)

Melihat ketimpangan antara realita dan cita-cita Islam ini, kita memerlukan para pemuda untuk mengubahnya. Mengapa para pemuda? Sebab pemudalah yang memiliki empat karakter yang diperlukan untuk mewujudkan itu. Empat karakter itu adalah iman, ikhlas, semangat, dan amal. Hasan Al-Banna dalam Majmu'atur Rasail mengatakan:

إنما تنجح الفكرة إذا قوي الإيمان بها ، وتوفر الإخلاص في سبيلها ، وازدادت الحماسة لها ، ووجد الاستعداد الذي يحمل على التضحية والعمل لتحقيقها . وتكاد تكون هذه الأركان الأربعة : الإيمان، والإخلاص ، والحماسة ، والعمل من خصائص الشباب . لان أساس الإيمان القلب الذكي ، وأساس الإخلاص الفؤاد النقي ، وأساس الحماسة الشعور القوي ، وأساس العمل العزم الفتي ، وهذه كلها لا تكون إلا للشباب
Sesungguhnya, sebuah pemikiran itu akan berhasil diwujudkan manakala kuat rasa keyakinan kepadanya, ikhlas dalam berjuang di jalannya, semakin bersemangat dalam merealisasikannya, dan kesiapan untuk beramal dan berkorban dalam mewujudkannya. Sepertinya keempat rukun ini, yakni iman, ikhlas, semangat, dan amal merupakan karekter yang melekat pada diri pemuda, karena sesungguhnya dasar keimanan itu adalah nurani yang menyala, dasar keikhlasan adalah hati yang bertaqwa, dasar semangat adalah perasaan yang menggelora, dan dasar amal adalah kemauan yang kuat. Itu semua tidak terdapat kecuali pada diri para pemuda. (Risalah Ila Syabab)

Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah, khususnya para pemuda yang dicintai Allah,
Itulah mengapa Al-Qur'an mengisahkan para pemuda yang memperjuangkan agama-Nya; diantaranya ada Ibrahim, Musa, Ashabul Kahfi. Itulah mengapa sejarah Islam juga diwarnai oleh para pemuda. Sebagian dari assaabiquunal awwalun yang ditarbiyah Rasulullah di rumah Arqam bin Abi Arqam ternyata adalah pemuda. Dai yang ditugaskan Rasulullah untuk berdakwah di Madinah dan mengislamkan setiap rumah adalah Mush'ab bin Umair, seorang pemuda. Komandan perang sekaligus khalifah yang mampu menaklukkan konstantinopel ternyata juga seorang pemuda; Muhammad Al-fatih namanya.

Maka, para pemuda Islam sekarang sudah saatnya untuk menjadi seperti Zaid bin Tsabit dalam kisah di awal khutbah ini. Miliki komitmen untuk memperjuangkan Islam, dan Anda akan memperoleh pahala besar di sisi Allah SWT.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ [محمد/7]
Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. (QS. Muhammad : 7)

Tidak mungkin Islam ini memperoleh kembali kejayaannya, jika umat Islam hanya diam dan pasrah dengan kondisi yang ada. Sementara para pemudanya hanya berfoya-foya dan terjatuh dalam budaya hedonisme yang telah dkembangkan Barat. Umat Islam, khususnya para pemudanya haruslah menjadi seperti hawariyyin yang difirmankan Allah SWT:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُونُوا أَنْصَارَ اللَّهِ كَمَا قَالَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ لِلْحَوَارِيِّينَ مَنْ أَنْصَارِي إِلَى اللَّهِ قَالَ الْحَوَارِيُّونَ نَحْنُ أَنْصَارُ اللَّهِ فَآَمَنَتْ طَائِفَةٌ مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ وَكَفَرَتْ طَائِفَةٌ فَأَيَّدْنَا الَّذِينَ آَمَنُوا عَلَى عَدُوِّهِمْ فَأَصْبَحُوا ظَاهِرِينَ [الصف/14]
Hai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penolong (agama) Allah sebagaimana Isa ibnu Maryam telah berkata kepada pengikut-pengikutnya yang setia: "Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku (untuk menegakkan agama) Allah?" Pengikut-pengikut yang setia itu berkata: "Kamilah penolong-penolong agama Allah", lalu segolongan dari Bani Israil beriman dan segolongan lain kafir; maka Kami berikan kekuatan kepada orang-orang yang beriman terhadap musuh-musuh mereka, lalu mereka menjadi orang-orang yang menang. (QS. Ash-Shaf : 14)

Jama'ah Jum'at yang dirahmati Allah,
Memperjuangkan Islam pada saat ini harus disesuaikan dengan kompetensi dan bidang masing-masing. Sebagaimana Zaid bin Tsabit yang berjuang dengan ilmunya, Khalid bin Walid dengan kemampuan strategi perangnya, Utsman bin Affan dengan hartanya, dan lain sebagainya. Maka, bagi Anda yang memiliki harta, gunakanlah harta itu untuk memperjuangkan Islam. Bagi Anda yang memiliki kemampuan menulis gunakanlah ia untuk memperjuangkan Islam. Bagi Anda yang memiliki kompetensi di bidang teknik, kedokteran, ekonomi, dan lain-lain, gunakanlah itu semua sebagai sarana memperjuangkan Islam.

KHUTBAH KEDUA

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ
أَشْهَدُ أنْ لا إلَهَ إلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، وأشهدُ أنَّ مُحَمَّدًا عبْدُه ورَسُولُه.
{ يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ } [آل عمران: 102]
{ يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلا سَدِيدًا * يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا } [الأحزاب: 70، 71].
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Sebelum kita memanjatkan doa di akhir khutbah jum’at ini, marilah kita renungkan hadits Rasulullah SAW:
مَنْ مَاتَ وَلَمْ يَغْزُ وَلَمْ يُحَدِّثْ بِهِ نَفْسَهُ مَاتَ عَلَى شُعْبَةٍ مِنْ نِفَاقٍ
Barangsiapa yang mati, sedangkan ia belum pernah berperang (memperjuangkan agama Allah) dan belum pernah berniat untuk berperang ((memperjuangkan agama Allah), ia mati di atas cabang kemunafikan. (HR. Muslim)

Semoga Allah memberikan hidayah kepada kita untuk memperjuangkan Islam, dan istiqamah di atas jalan itu sampai akhir hidup kita dalam husnul khatimah.

إِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
اللَّهُمَّ صَلِّى عَلَى مُحَمَّدٍ النَّبِىِّ الأُمِّىِّ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَآلِ إِبْرَاهِيمَ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ النَّبِىِّ الأُمِّىِّ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالإيمَانِ وَلا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

(Insya Allah disampaikan dalam khutbah hari ini di Masjid Baitul Muttaqin, PT. Karunia Alam Segar)
10:49 | 25 komentar

Download & Review Ma'alim fi Ath-Thariq

Written By Admin BeDa on Kamis, 15 Oktober 2009 | 15:21


Ma'alim fi Ath-Thariq (معالم في الطريق) adalah buku yang fenomenal dan revolusioner. Mengapa fenomenal? Sebab buku ini telah membuat penulisnya, Sayyid Qutb, digantung. Sedangkan para pembacanya di banyak negara, dicurigai; kalau-kalau mereka bisa menjadi teroris. Buku ini sempat dilarang di beberapa negara yang represif seperti Mesir, negara asal Sayyid Qutb dan Ma'alim fi Ath-Thariq. Bahkan, buku ini direkomendasikan dilarang oleh intelijen di negeri ini.

Buku ini dikatakan revolusioner karena ia hadir dengan ide yang berbeda dengan kebanyakan buku-buku lain yang sezaman dengannya. Saat itu memang banyak negara muslim yang sudah memerdekakan diri dari penjajah. Namun problem ternyata tidak serta merta berakhir. Diantara problem baru itu adalah, para penguasa militer atau otoriter yang menguasai sebagian besar negara muslim. Mereka memandang Islam sebagai ancaman, dan tidak ingin Islam menjadi way of life. Di sisi yang lain, umat Islam terpuruk dalam keterbelakangan dan tidak percaya diri dalam menghadapi Barat.

Manhaj Islam untuk Kebangkitan Umat
Ide-ide Sayyid Qutb dalam Ma'alim fi Ath-Thariq yang sebenarnya diambilkan dari manhaj Islam ini dianggap baru karena sekian lama ia terpendam dalam puing-puing sejarah umat. Prinsip dakwah dalam manhaj Al-Qur'an, Jihad fi sabilillah, dan ketauhidan. Ini bukan sesuatu yang baru mestinya, dari dulu sudah ada. Namun, dengan metode yang sistematis dan gaya bahasa yang khas, Sayyid Qutb menjadikan hal-hal itu lebih hidup dan memiliki daya dobrak! Ia menjadi penyemangat serta menumbuhkan ruh juang bagi pembacanya.

Ma'alim fi Ath-Tahriq ini terdiri dari 12 bab dan diawali dengan muqaddimah. 4 bab diantaranya merupakan intisari Tafsir Fi Zhilalil Qur'an, yaitu; طبيعة المنهج القراني (Karakter Manhaj Al-Qur'an), التصور الإسلامي والثقافة (Pandangan Islam dan Kebudayaan), الجهاد في سبيل الله (Jihad fii Sabiilillah), dan نشأة المجتمع المسلم وخصائصه (Tumbuhnya Masyarakat Muslim dan Karakteristiknya). Sementara 8 bab lain merupakan bab yang perlu dituliskan Sayyid Qutb untuk memperjelas dan memperkuat inti sari itu di samping untuk memenuhi tujuan utama buku ini ditulis. Yakni, sebagai petunjuk jalan yang akan dilalui para pioner kebangkitan umat, yang juga akan ditunjukkan kepada umat. Dengan adanya pioner inilah umat akan bangkit. Dengan eksisnya umat Islam inilah tugas manusia sebagai khalifah dan abdullah serta peran umat Islam sebagai ummatan daa'iyan dan ummatan syaahidan bisa diimplementasikan. Dengan demikian, kepemimpinan barat yang rapuh karena tidak memiliki "nilai-nilai" yang membuatnya layak memimpin akan diambil alih oleh umat Islam.

Jika pioner kebangkitan umat menginginkan keberhasilan sebagaimana keberhasilan generasi pertama, mereka harus meneladani karakter mereka. Oleh Sayyid Qutb mereka disebut جيل قراني فريد (Generasi Qur'ani yang Istimewa), yang juga dijadikan judul bab setelah muqaddimah. Ada 3 faktor utama keberhasilan generasi ini; sumber rujukannya adalah Al-Qur'an dan steril dari pengaruh manhaj lain, mereka mempelajari Al-Qur'an untuk mengamalkan/mengaplikasikan, dan saat mereka masuk Islam dan mendapat Al-Qur'an seketika mereka melepas seluruh kejahiliyahan.

Al-Qur'an telah mengajarkan jalan dakwah bagi generasi pertama umat ini, جيل قراني فريد (Generasi Qur'ani yang Istimewa). Dan manhaj Al-Qur'an dalam dakwah ini seharusnya diikuti oleh para pioner kebangkitan umat. Bagaimana karakteristiknya? Sayyid Qutb menjelaskan bahwa jalan pertama adalah pembinaan aqidah. Inilah yang serius dilakukan selama 13 tahun fase Makkiyah, dan Al-Qur'an tidak melompat pada pembahasan lain, apalagi masalah cabang/furu'iyah. Ini pula yang dijadikan seruan dakwah oleh Rasulullah, meskipun peluang mendapatkan perlawanan lebih besar dari pada dakwah lain. Rasulullah tidak mendakwahkan nasionalisme Arab, tidak pula keadilan sosial dan perbaikan moral. Meskipun ketiga hal terakhir ini peluangnya lebih besar untuk didukung orang-orang Arab, tetapi ia bisa menjadi tuhan baru atau bersifat rapuh. Sedangkan aqidah, tauhid, ia akan terpatri kuat memberi daya dorong yang hebat, di samping itulah kebenaran hakiki yang harus menjadi pondasi setiap perubahan.

Perubahan yang terjadi karena tauhid adalah perubahan revolusioner pada diri seseorang atau bangunan umat. Sebab perubahan Islam berarti peralihan dari mengikuti manhaj makhluk menuju manhaj Pencipta. Perubahan Islam berarti meninggalkan sistem produk manusia untuk memilih sistem ciptaan Allah. Perubahan Islam berarti mencampakkan hukum buatan hamba untuk merengkuh dan mengaplikasikan hukum Allah. Perubahan inilah yang akan memuliakan manusia, serta membawa mereka menuju rahmat, setelah hidup penuh dengan kehinaan dan kelemahan.

Pioner umat yang akan melakukan misi perubahan revolusioner ini harus percaya diri dengan manhajnya; manhaj Islam, manhaj Al-Qur'an. Maka, persoalan jihad juga harus diterima apa adanya sebagaimana konsep Al-Qur'an yang telah dijelaskan Sayyid Qutb dalam Fi Zhilalil Qur'an saat menafsirkan surat Al-Anfal dan At-Taubah. Intinya, jihad bukan defensif, tetapi ofensif. Manhaj yang sama seperti dipahami Ibnul Qayyim dalam Zaadul Maad. Saat dakwah dihalangi oleh kekuatan politik atau kekuasaan, maka jihad harus menetralisir kekuatan itu sehingga dakwah bebas disebarkan. Konsep inilah yang ditakuti oleh musuh-musuh Islam termasuk Inggris pada waktu itu sehingga mereka memesan kematian Sayyid Qutb kepada pemerintahan Gamal Abdul Nasir.

Kekeliruan
Ma'alim fi Ath-Thariq adalah buku yang luar biasa. Namun, bukan berarti ia tidak lepas dari kekeliruan. Tulisan Sayyid Qutb dalam bab لااله الا الله منهج حياة (Laa ilaaha Illallah Manhaj Kehidupan) yang membagi manusia menjadi masyarakat Islam dan masyarakat jahiliyah, lalu menyatakan bahwa masyarakat sekarang (saat Ma'alim fi Ath-Thariq ditulis) semuanya masyarakat jahiliyah merupakan sebuah kekeliruan. Tetapi, jika kita mengetahui latar belakang kondisi dan situasi saat Sayyid Qutb menulis buku ini, kita akan bisa memaklumi kekeliruan ini terjadi. Dan, jika kita membandingkannya dengan Fi Zhilalil Qur'an, tampak bahwa ini sebatas kekeliruan, bukan manhaj takfir sebagaimana yang dituliskan orang-orang yang membencinya.

Ilham?
Tulisan Sayyid Qutb dalam bab terakhir هذا هو الطريق (Inilah Jalan Itu) seakan-akan seperti ilham yang dianugerahkan Allah SWT bahwa ia hidup tidak lama lagi. Tiang gantungan telah menunggunya. Dalam bab ini ia mengakhiri buku terakhirnya ini dengan menjelaskan bahwa para pekerja Allah bukan penentu hasil, mereka hanya perlu beramal. Bisa jadi mereka mendapatkan kemenangan dan berkuasa untuk menegakkan dinullah, bisa jadi ia seperti kisah ashaabul ukhdud; mati namun keimanan telah menyebar, kemenangan hakiki di sisi Allah SWT.

Maka, para pekerja Allah pasti mendapatkan 4 hal. Pertama, hasil di dunia berupa ketentraman hati, perasaan bangga, bebas dari tarikan dan ikatan, takut dan bimbang. Kedua, saat meninggalkan dunia berupa sanjungan dari malaikat dan kehormatan. Ketiga, di akhirat ia mendapatkan hisab yang mudah dan kenikmatan yang besar. Keempat, ridha Allah SWT.

(Tulisan ini disarikan dari Bedah Buku معالم في الطريق oleh penulis pada 20 Ramadhan 1430 H di Masjid KH. Faqih Usman, UMG. Bagi yang ingin mendownload buku معالم في الطريق silahkan KLIK DI SINI) [Muchlisin]
15:21 | 18 komentar

At-Tarbiyah wat Takwin Thariqunaa lit Tamkin

Written By Admin BeDa on Senin, 12 Oktober 2009 | 15:49

We are sorry, starting from 13rd March 2010, At-Tarbiyah wat Takwin Thariqunaa lit Tamkin cannot displayed. Sorry for this uncomfortable. This page, At-Tarbiyah wat Takwin Thariqunaa lit Tamkin, deleted by blog owner because of some reason. Please to be understood.

Once more, we're sorry to visitors of BERSAMA DAKWAH blog. We hope you back to HOME. Thank you.
15:49 | 26 komentar

Israel Kepung Al-Quds dan Larang Jamaah Shalat di Al-Aqsha

Written By Admin BeDa on Sabtu, 10 Oktober 2009 | 09:16


Pasukan Israel sejak pagi dini hari ini Jumat (9/10) memperketat blokadenya terhadap masjid Al-Aqsha dan kota Al-Quds serta melarang warga di bawah 50 tahun masuk ke kota tua di Al-Quds dan masjid Al-Aqsha.

Pasukan Israel memasang perlintasan militer di sebagian besar jalan-jalan Al-Quds dan perkampungannya, melarang kendaraan transportasi dengan berbagai jenisnya mengangkut penumpang ke masjid Al-Aqsha, dan tidak member izin kepada warga yang usianya di bawah 50 tahun untuk masjid suci tersebut itu pun dengan jalan kaki dalam jarak yang jauh.

Sementara itu, pesawat tempur Israel berputar di udara kota, disamping telah dipasang kamera pengintai di atas mesium Palestina “Mesium Recoveri” dan pasukan penjaga perbatasan, pasukan khusus dan polisi Israel menyebar dengan jumlah banyak ke seluruh kota Al-Quds.

Di sisi lain, warga-warga Al-Quds dan Palestina jajahan 48 menegaskan ingin menuju masjid Al-Aqsha untuk shalat di sana. Namun Israel mencegah mereka dengan paksa dan dengan ancaman senjata. Namun mereka ingin tetap menjalankan shalat di titik terdekat dengan masjid Al-Aqsha. (bn-bsyr, infopalestina)
09:16 | 25 komentar

Jumlah Muslim Dunia Melonjak Tajam

Written By Admin BeDa on Jumat, 09 Oktober 2009 | 15:30


Berapa jumlah Muslim di dunia saat ini? The Pew Forum on Religion and Public Life menyodorkan data: jumlah Muslim dunia melonjak hampir 100 persen dalam beberapa tahun ini. "Rata-rata di tiap negara bertambah dari semula 1 juta menjadi 1,8 juta penganut," tulis laporan terbaru tentang riset yang dilakukan selama tiga tahun itu.

Angka pastinya, menurut laporan itu, jumlah penganut Islam di seluruh dunia saat ini mencapai 1,57 miliar jiwa. "Kini, hampir satu dari empat penduduk dunia mempraktikkan ajaran Islam," tulis laporan itu.

Dari jumlah itu, dua pertiga Muslim tinggal di 10 negara. Indonesia -- yang disebut dalam laporan itu sebagai negara yang sangat toleran kendati Muslim dominan -- disebut sebagai negara dengan jumlah penduduk Muslim terbesar di dunia. Jumlah Muslim di Indonesia adalah sebesar 203 juta atau 13 persen dari seluruh penduduk Muslim dunia. Sebanyak 60 persen jumlah Muslim dunia tiggal di kawasan Asia, bukan di Timur Tengah, tempat asal ajaran agama ini.

Eropa disebut sebagai negara yang pertumbuhan jumlah penduduk Muslimnya sangat cepat. Kini benua itu menjadi rumah bagi 38 juta Muslim, atau lima persen dari seluruh populasi. Jumlah penduduk Muslim di Jerman lebih kurang 4 juta orang, hampir sama dengan jumlah gabungan Muslim di Amerika Utara dan Selatan. Prancis dalam laporan itu memiliki jumlah Muslim paling sedikit di Eropa, namun secara prosentase adalah tertinggi.

Di Benua Amerika, sebanyak 4,6 juta Muslim tinggal di sana dan hampir separuh dari jumlah itu ada di Amerika Serikat. Sedang di Kanada jumlah Muslimnya mencapai 700 ribu jiwa, atau 2 persen dari seluruh populasi.

The Pew Forum on Religion and Public Life juga menyodorkan data yang cukup mencengangkan. Misalnya saja, jumlah penduduk Muslim di German ternyata lebih banyak dari Lebanon, Muslim di Cina lebih banyak dari Suriah, dan Muslim di Russia lebih banyak dari gabungan jumlah Muslim di Yordania dan Libya. Sedang jumlah Muslim di Ethiopia, negeri Katholik Ortodoks di Afrika, jumlahnya sebanding dengan Afghanistan.

"Pendapat bahwa Islam identik dengan Arab dan Arab adalah Islam sama sekali keliru," ujar Amaney Jamal, asisten profesor di Princeton University yang mereview penelitian itu. Ia menyebut hasil penelitian The Pew ini sangat konprehensip, khususnya dalam data terkini jumlah Muslim di dunia. Apalagi setelah perang global melawan terorisme yang kerap diterjemahkan sebagai perang melawan Islam oleh penduduk di banyak negara non-Muslim.

Menurut forum ini, penelitian yang dilakukan di 232 negara itu baru penelitian pendahuluan. Tahun depan mereka berencana merilis hasil penelitian dengan menyodorkan data terkini plus prosentase tingkat pertumbuhan jumlah penduduk Muslim di masing-masing negara di dunia. Pada tahun yang sama, mereka juga akan merilis studi tentang perkembangan penyebaran agama Kristen di dunia. (n ap/tri, Republika)
15:30 | 17 komentar

Khutbah Jum’at: Bagaimana Menghadapi Bencana


Meskipun bencana gempa di Sumatra Barat terjadi lebih dari satu pekan lalu, evakuasi korban masih berlangsung hingga hari ini. Rehabilitasi dan rekontruksi daerah gempa juga baru dimulai. Dan, yang mengkhawatirkan, ada kemungkinan gempa juga terjadi di wilayah lain, seperti Jawa Timur.

Karenanya, Khutbah Jum'at ini masih menghadirkan tema seputar Bencana. Jika sebelumnya mengambil tema Bila Bencana Melanda, kini khutbah Jum'at ini mengetengahkan tema Bagaimana Menghadapi Bencana.
***

KHUTBAH PERTAMA

إنَّ الحَمْدَ لله، نَحْمَدُه، ونستعينُه، ونستغفرُهُ، ونعوذُ به مِن شُرُورِ أنفُسِنَا، وَمِنْ سيئاتِ أعْمَالِنا، مَنْ يَهْدِه الله فَلا مُضِلَّ لَهُ، ومن يُضْلِلْ، فَلا هَادِي لَهُ.
وأَشْهَدُ أنْ لا إلَهَ إلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، وأشهدُ أنَّ مُحَمَّدًا عبْدُه ورَسُولُه.
{ يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ } [آل عمران: 102] .
{ يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا } [النساء: 1] .
{ يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلا سَدِيدًا * يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا } [الأحزاب: 70، 71].
Jamaah Jum’at yang dirahmati Allah,
Segala puji bagi Allah yang senantiasa melimpahkan karunianya kepada kita. Segala puji hanya milik-Nya yang telah menganugerahkan kenikmatan yang tak terhitung bagi kita semua. Dan diantara semua kenikmatan itu, nikmat Islam dan Iman adalah yang paling utama. Dengan nikmat itu, nikmat yang lain menjadi bernilai di hadapan Allah. Atas dasar nikmat itu, nikmat yang lain menjadi berharga di sisi Allah. Hanya dengan adanya nikmat itu, nikmat yang lain bermakna bagi kita, dalam pandangan Allah SWT.

Shalawat dan salam atas junjungan dan suri teladan kita, Muhammad Rasulullah SAW. Beliaulah yang dengan gigih dan tanpa takut resiko, mendakwahi umatnya kepada jalan keselamatan. Beliaulah yang dengan penuh kasih sayang, mengajarkan Al-Qur'an dan hikmah kepada umatnya. Beliaulah yang tidak pernah surut langkahnya dalam menghadapi berbagai bahaya, asalkan petunjuk Allah SWT bisa diikuti oleh umat manusia. Maka, inilah akhirnya. Petunjuk Allah dalam Al-Qur'an dan petunjuk Rasulullah SAW dalam hadits bisa sampai kepada manusia zaman kita. Dan kepada keduanya kita mencari solusi atas segala problematika kita. Termasuk dalam menghadapi bencana.

Maka, marilah senantiasa kita meningkatkan taqwa kita kepada Allah SWT. Dengan ketaqwaan itulah kita senantiasa dikasihi Allah SWT. Dengan taqwa itulah kita bisa menjadi manusia yang mulia di hadapan Allah SWT. Dan dengan taqwa itulah kita mendapatkan janji mendapatkan solusi atas problematika yang dihadapi dan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.
وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا (2) وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ [الطلاق/2، 3]
Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. (QS. Ath-Thalaq : 2-3)

Ikhwani wa akhwati fillah Rahimakumullah....
Belum lagi gempa di Padang, Sumatra Barat, selesai diatasi sudah muncul lagi berita kemungkinan Jawa Timur dan Bali akan dilanda gempa juga. Bencana memang datang bertubi-tubi melanda negeri ini. Tentu semua bencana ada hikmahnya. Tetapi, lebih dari itu kita juga memerlukan petunjuk Islam dalam menghadapi bencana. Dalam artian, bagaimana seharusnya kita bersikap sebelum terjadinya bencana saat kita mengetahuinya, dan bagaimana pula sikap kita ketika bencana benar-benar melanda, dan bagaimana pula sesudahnya.

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah,

Diantara hal-hal yang perlu dilakukan itu saat mengetahui akan adanya bencana yang datang adalah sebagai berikut:

1. Antisipasi Bencana dan Upaya Preventif
Kesalahan yang sering terulang di negeri ini adalah, saat diketahui akan datangnya sebuah bencana, kita bersikap biasa-biasa saja, acuh tak acuh, dan terkesan mengabaikan warning tersebut. Akibatnya, saat bencana terjadi, kerusakan parah pun tidak terhindarkan.

Situ Gintung, misalnya. Sebenarnya sudah ada indikasi kerusakan Situ tersebut. Mulai dari keretakan-keretakan yang bisa dideteksi, dan lain sebagainya. Tetapi, itu semua diabaikan sehingga terjadilah bencana jebolnya tanggul itu dan korban tewasnya mencapai 100 orang. Namun, hal yang sama tidak terjadi pada sebuah situ di Tangerang. Begitu ada warning kerusakan Situ tersebut, segera dilakukan rehabilitasi. Dan, alhamdulillah jebolnya tanggul bisa dihindarkan.

Mencegah gempa memang tidak bisa dilakukan seperti mencegah terjadinya tanggul jebol. Tetapi, jika diberitahukan secara masif kepada warga tentang akan terjadinya gempa dan dikampanyekan upaya penyelamatan diri, seperti tidak berada di dalam gedung, dan sebagainya, minimalisir korban bisa dilakukan. Ini menjadi tanggung jawab pemerintah. Dan karenanya jika LIPI memprediksi akan terjadinya gempa di Jawa Timur, masyarakat kita pun perlu siaga dan pemerintah perlu mengoptimalkan early warning system atau sistem peringatan dini.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ [الحشر/18]
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (QS. Al-Hasyr : 18)

Hari esok yang dimaksud ayat ini memang akhirat. Tetapi, kita juga bisa mengambil pelajaran dari ayat ini untuk melakukan management by anticipation sebagai lawan dari kebiasaan buruk kita selama ini, management by accident.

(BERSAMBUNG, maaf belum bisa menyelesaikan tulisan khutbah ini)
11:14 | 5 komentar

Materi Tarbiyah: Syahadat dan Iman (2)

Written By Admin BeDa on Kamis, 08 Oktober 2009 | 16:41


Tashdiq bi Al-Janan
Iman adalah pembenaran. Pembenaran yang dimaksud bukan saja pembenaran logika (tashdiq 'aqliy), akan tetapi pembenaran hati (tashdiq qalbiy). Inilah pembenaran yang lahir dari nurani seseorang karena fitrah dan dampak ketenangan yang dirasakan. Oleh karenannya, Abu Bakar RA ketika berbicara tentang adanya tuhan, beliau tidak berbicara dengan dalil yang muluk-muluk. Beliau hanya mengatakan, "Saya mengenal tuhanku karena tuhanku. Jika bukan karena tuhanku, maka aku tidak mengenal tuhanku." Dengan itulah beliau menjadi pengikut Rasul yang sangat setia, hingga mendapatkan julukan Ash-Shidiq, yangs etia dan membenarkan tanpa pertimbangan.

Logika memang bisa meneguhkan pembenaran, namun hati yang jernih berbicara lebih dari itu. Oleh karenanya, para sahabat yang secara intelektual boleh dikatakan jauh dengan manusia sekarang yang ternyata bisa memiliki iman setegar gunung. Bilal bin Rabah, Khabab bin Ats, Ammar bin Yasir –radhiyallaahu anhum- bukanlah manusia-manusia intelek dan berpengalaman luas. Namun mereka memiliki hati yang bening dan penuh fitrah. Itu sudah cukup untuk mencetak iman yang kuat dan tahan uji. Bahkan betapa banyak orang-orang Quraisy yang membenarkan dalam hatinya karena mendengar lantunan ayat-ayat Al-Qur'an dibacakan, namun keimanan itu dikalahkan oleh kesombongan dan rasa gengsi.

Iqrar bi Al-Lisan
Lebih dari sekadar kewajiban iman, ikrar bahkan telah menjadi tuntutan iman. Pengikraran bisa saja hanya berujud pernyataan yang tulus kepada Allah SWT, itu pun sudah cukup. Namun bagi sementara orang, bahkan ia ingin keimanannya diketahui khalayak. Lebih dari itu, mereka ingin merasakan "buah pahit" keimanan itu dengan pernyataan.

Seandainya Utsman bin Mazh'un tutup mulut, ia tentu tidak harus menanggung kesakitan yang sangat. Namun inilah iman.

Ia menyaksikan para sahabat yang lain begitu menderita dan tidak bebas bergerak, sementara dirinya berada dalam jaminan keamanan Wlid bin Mughirah (seorang musyrik). Ia lalu bergumam, "Demi Allah, ke mana saja aku pergi dalam keadaan aman di bawah perlindungan seorang musyrik. Sementara para sahabatku dan pemeluk agamaku mendapatkan cobaab dan penderitaan yang tidak menyentuh tubuhku. Sungguh, ini cacat besar dalam jiwaku."

Ia pun bergegas menemui Walid dan berkata, "Wahai Abu Abd Syams, tanggunganmu telah selesai dan saya ingin mengembalikan jaminanku kepadamu." "Mengapa?" tanya Walid keheranan. "Karena kau disakiti oleh seseorang dari kaumku?" "Bukan, tetapi karena saya ingin di bawah perlindungan Allah saja, tidak ingin perlindungan yang lain," jawab Utsman bin Mazh'un tegas. Selanjutnya, Utsman berkata kepada Walid, "Pergilah kamu ke masjid (Kakbah) dan sampaikan pengembalian perlindunganku secara terbuka sebagaimana kau dulu menjaminku terbuka."

Di masjid, Walid bin Mughirah berkata lantang, "Utsman ini datang kepadaku untuk mengembalikan perlindungannya." "Benar," jawab Utsman segera. "Ia telah menjadi pelindung yang baik. Akan tetapi, saya lebih suka tidak meminta perlindungan kepada selain Allah. Oleh karena itu, saya kembalikan perlindungan ini kepadanya."

Ketika hendak pergi, Utsman mendengar Labid bin Rabi'ah bin Malik bin Kilab Al-Qisiy di majelis yang dipenuhi orang-orang musyrik Quraisy itu, melantunkan syair berikut ini.
Ingatlah bahwa segala sesuatu selain tuhan adalah sia-sia belaka
"Engkau benar," jawab Utsman
Labid pun meneruskannya.
Dan semua kenikmatan, niscaya binasa akhirnya
"Engkau dusta. Nikmatnya ahli surga tidak binasa," teriak Utsman tidak sabar.

Ketika itu Labid marah dan berkata, "Wahai Quraisy, dia tidak pernah menyakiti majelis kalian. Sejak kapan ia berubah?"

Seseorang menjawab, "Ia adalah manusia dungu diantara para dungu yang memecah agama kita. Kata-kata itu tidak akan kau dapatkan dalam jiwamu."

Utsman pun dengan berani membantah omongannya, hingga bersitegang dengan keras. Akhirnya, orang ini begitu emosi dan menampar pipi Utsman hingga matanya menghitam karena kerasnya. Sementara Walid bin Mughirah masih ada di situ dan melihat apa yang terjadi. Ia pun mendekat dan berkata kepada Utsman, "Wahai kemenakanku, matamu mestinya tidak harus menerima musibah serupa itu jika aku masih menjadi pelindungmu."

Dengan tegar Utsman menyahut, "Oh, bukan begitu. Demi Allah, bahkan mataku yang satu menginginkan musibah yang menimpa saudaranya di jalan Allah. Saya telah nyaman dalam perlindungan Dzat Yang lebih mulia darimu dan lebih melindungi, wahai Abu Abdu Syams."

'Amal bi Al-Arkan
Iman juga menuntut tindakan fisik, karena fisik itulah media untuk mengeksresikan atau mengaktualisasikan kehendak hati. Apa yang akan terjadi, jika kemauan kita berdesakan, sementara fisik tidak mampu mewujudkan?

Sesungguhnya, keimanan yang tidak mencorong fisik untuk berbuat merupakan keimanan yang rapuh, bahkan mungkin dusta.

Apa yang mendorong para sahabat meninggalkan Makkah –kampung halaman dan tanah airnya tercinta- menuju Yatsrib, sebuah tempat yang jauh dan asing dengan nasib yang belum menentu?

Peristiwa hijrah total itu, yang memisahkan mereka dari orang tuanya, suami atau istrinya, harta bendanya, semata menuju Allah SWT. Logika apa yang bisa menjelaskannya selain "iman", sesuatu yang telah menancap kuat dalam dada dan memenuhi kalbu setiap mereka.

Adanya spektrum makna iman yang luas itulah, hingga semua wilayah perasaan, kata-kata, dan tindakan terwarnai olehnya.

Oleh karena itu, tidak mungkin keimanan bisa dinyatakan oleh seorang muslim jika ia belum mau berikrar, bersumpah, dan berjanji setia. Mengingat bahwa substansi syahadat merupakan hakikat yang besar, yang tidak mungkin sekadar dinyatakan oleh lisan tanpa keyakinan kuat dari hatinya.

Rasulullah SAW bersabda,
الإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّونَ شُعْبَةً فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ
Cabang iman itu antara tujuh puluh atau enam puluh cabang. Yang paling utama adalah ucapan laa ilaaha ilallah, sedangkan yang paling rendah adalah menyingkirkan halangan di jalan (HR. Muslim)

Apabila iman hanya menghasilkan keyakinan dan kepercayaan saja, tanpa dipraktikkan dalam kehidupan nyata dan tanpa dinyatakan dengan kata-kata, itu juga bukan iman yang dikehendaki Rasulullah SAW.

Beliau bersabda,
ليس الإيمان بالتحلي ولا بالتمني ، ولكن ما وقر في القلب ، وصدقته الأعمال
Tidaklah disebut iman bila hanya dengan angan-angan dan hiasan. Akan tetapi, iman adalah sesuatu yang tertanam dalam hati dan dibuktikan dengan amal. (HR. Al-Baihaqi dan Ad-Dailami)

Berikut ini Allah SWT telah membuat perumpamaan beberapa kaum yang cacat keimanannya, sehingga tertolak seluruh amalnya.

Abu Thalib
Ia telah mengerahkan seluruh tenaga dan pikirannya untuk membela kemenakannya, Muhammad SAW, hingga berkata kepada beliau, "Kemenakananku, pergilah dan katakan apa saja yang kamu sukai. Demi Allah, kamu tidak akan kuserahkan kepada siapapun juga selamanya."

Tetapi ketika sakaratul maut menghampiri dirinya dan Rasulullah SAW berusaha menuntun lisannya dengan ucapan, "Paman, ucapkan laa ilaaha illallah, satu kalimat yang dapat aku jadikan sebagai hujah untuk membela Anda di sisi Allah." Akan tetapi, Abu Thalib bersikukuh menolak untuk mengucapkannya, hingga maut menghampirinya.

Rasulullah SAW masih melakukan upaya, beliau berkata, "Aku akan memohonkan ampunan untukmu selama tidak dilarang." Allah SWT kemudian menurunkan ayat-Nya,
مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آَمَنُوا أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوا أُولِي قُرْبَى مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ [التوبة/113]
Tidak sepatutnya bagi nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat(-nya) sesudah jelas bagi mereka bahwa orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka Jahanam. (QS. At-taubah : 113)

Dengan turunnya ayat di atas, jelaslah bahwa seseorang yang tidak bersedia mengucapkan kalimat syahadat dengan lisannya akan tertolak amalannya, sebaik apapun kelakuannya.

Iblis

Ia termasuk makhluk ghaib, dari bangsa jin. Karena sifat penciptaannya itu, ia pun bisa berkomunikasi dengan Allah SWT, bertemu dengan para malaikat, dan bahkan mengetahui berbagai rahasia alam yang manusia tidak mengetahui. Dengan begitu, ia menyaksikan makhluk Allah lebih banyak daripada manusia. Akan tetapi, hal itu tidak membuat iblis beriman. Ia jelas meyakini adanya Allah, malaikat, dan tahu persis bahwa Muhammad adalah Rasulullah, karena iblis mengetahui betul bagaimana Jibril menyampaikan wahyu kepada beliau. Akan tetapi, ketika Allah memerintahkan,
وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآَدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ [الكهف/50]
...sujudlah kamu kepada Adam, maka sujudlah merka semua kecuali iblis... (QS. Al-Kahfi : 50)

Akhirnya, iblis pun bersumpah di hadapan Allah SWT untuk menggoda nabi Adam serta anak keturunannya.
قَالَ فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ [الأعراف/16]
Iblis berkata, "Karena Engkau telah menghukum aku tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan-Mu yang lurus." (QS. Al-A'raf : 16)

Keyakinan iblis tentang keberadaan Allah, malaikat, dan Rasul tidak diikuti dengan sikap yang benar dan lurus. Keyakinan semacam itu sama sekali tidak ada gunanya di sisi Allah SWT. Jadilah iblis penghuni neraka yang kekal selama-lamanya. Allah SWT mengusir iblis dari surga dan akan memasukkannya ke Neraka Jahanam.
اخْرُجْ مِنْهَا مَذْءُومًا مَدْحُورًا لَمَنْ تَبِعَكَ مِنْهُمْ لَأَمْلَأَنَّ جَهَنَّمَ مِنْكُمْ أَجْمَعِينَ [الأعراف/18]
Keluarlah kamu dari surga itu dalam keadaan terhina lagi terusir. Sesungguhnya barangsiapa diantara mereka yang mengikuti kamu, benar-benar Aku akan mengisi Neraka Jahanam dengan kamu semua. (QS. Al-A'raf : 18)

Abdullah bin Ubai
Ia adalah seseorang yang sangat dengki dengan Islam, rasulullah SAW, dan kaum Muslimin. Salah satu pemicu kedengkiannya adalah gagalnya dia menjadi pemimpin Madinah karena kedatangan Rasulullah SAW di kota tersebut. Pemicu lainnya adalah penyakit munafik yang melekat dalam hatinya. Ia berpura-pura saleh dalam tindakan dan ucapan, tetapi busuk hatinya.

Abdullah bin Ubai-lah yang pertama kali menawari Rasulullah SAW untuk tinggal di rumahnya selama berada di kota Madinah. Tawaran yang sangat baik dan sopan, tetapi Abdullah bin Ubai mempunyai rencana jahat untuk membunuh Rasulullah SAW jika tinggal di rumahnya itu. Lisan dan amalannya kelihatan baik, ettapi hatinya ingkar. Ketika Abdullah bin Ubai meninggal, maka Allah SWT berfirman,
وَلَا تُصَلِّ عَلَى أَحَدٍ مِنْهُمْ مَاتَ أَبَدًا وَلَا تَقُمْ عَلَى قَبْرِهِ إِنَّهُمْ كَفَرُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَاتُوا وَهُمْ فَاسِقُونَ [التوبة/84]
Dan janganlah kamu sekali-kali menshalati (jenazah) seorang yang mati diantara mereka dan janganlah kamu berdiri (mendoakan) di kuburnya. Sesungguhnya mereka telah kafir kepada Allah dan rasul-Nya dan mereka mati dalam keadaan fasik. (At-Taubah : 84)
Bersambung [sumber: Buku Seri Materi Tarbiyah; Syahadat dan Makrifatullah]
16:41 | 2 komentar

Materi Tarbiyah: Syahadat dan Iman

Written By Admin BeDa on Rabu, 07 Oktober 2009 | 14:20


Materi tarbiyah berikut ini diambil dari buku Seri Materi Tarbiyah: Syahadat dan Makrifatullah. Buku tersebut ditulis oleh Ust. Cahyadi Takariawan, Ust. Wahid Ahmadi, dan Ust. Abdullah Sunono. Buku ini sangat penting sebagai referensi tarbiyah dan karenanya diberi pengantar oleh Ust. Mahfudz Sidiq, Departemen Kaderisasi DPP Partai Keadilan Sejahtera. Selamat mengkaji!
***

Di suatu ruangan kantor, Anda menemukan uang seribu perak. Karena bukan milik Anda, tentu Anda akan memberitahukan kepada para karyawan kantor itu siapa pemiliknya. Ketika ada yang mengaku sebagai pemiliknya, dengan riang hati Anda segera memberikannya, tanpa terlebih dahulu meminta kesaksian yang serius bahwa uang itu benar-benar miliknya.

Ini berbeda dengan jika Anda menemukan cincn emas murni seberat 50 gram. Anda tentu tidak serta merta memberikan kepada orang yang mengaku sebagai pemiliknya. Dengan sungguh-sungguh, Anda akan mencari bukti bahwa barang itu benar-benar miliknya. Mungkin mencari-cari bukti materiil berupa kuitansi pembelian –misalnya, mencari saksi, mengangkat sumpah dengan nama Allah, dan hal-hal lain untuk meyakinkan Anda. Setelah itu, baru Anda mengembalikan barang itu dengan tenang.

Tentu saja mudah dipahami, mengapa untuk uang seribu rupiah tidak perlu adanya pernyataan kepemilikan yang serius, sedangkan untuk emas murni 50 gram memerlukannya? Intinya hanya ada pada satu hal, yakni nilai materinya.

Sadarkah kita akan syahadat yang kita baca? Substansi apakah yang kita syahadatkan? Sesungguhnya, berapakah kadar dan nilai substansi itu? Jawabannya tentu saja mudah, bahwa yang kita syahadatkan adalah ihwal pengakuan sebuah hakikat yang mahaprinsip; tiada tuhan selain Allah, Muhammad adalah utusan Allah.

Sebuah prinsip dasar yang akan mengubah haluan hidup seseorang. Sebuah prinsip yang membedakan secara diametral antara orang yang mengucapkan secara tulus dengan mereka yang mengingkarinya, atau antara yang mengucapkan secara tulus dengan mereka yang mengucapkan secara main-main.

Sesungguhnya, pernyataan syahdat itu erat kaitannya dengan iman, sesuatu yang mendasari semua sikap kita dalam beragama. Hal ini dimaksudkan agar kita tidak keliru dalam menjalankan prinsip akidah ini, sehingga kita perlu memahami arti syahadat itu sesungguhnya dan bagaimana korelasinya dengan iman.

MAKNA SYAHADAT

Syahadat atau syahadah berasal dari kata syahida, yang berarti "memberi tahu dengan berita yang pasti" atau "mengakui apa yang diketahui" (Al-Mu'jam Al-Wasith). Dari makna bahasa ini, kita mendapati beberapa makna yang diisyaratkan Al-Qur'an tentang kata ini.

Pernyataan (Al-Iqrar) atau Pemberitahuan (Al-I'lan)
Allah SWT berfirman,
شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ وَالْمَلَائِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ [آل عمران/18]
Allah menyatakan bahwasanya tidak ada tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang-orang yang beriman (juga menyatakan yang demikian itu)... (QS. Ali Imran : 18)

Sumpah (Al-Qasam atau Al-Half)
Allah SWT berfirman,
فَسَبِّحْ بِاسْمِ رَبِّكَ الْعَظِيمِ (74) فَلَا أُقْسِمُ بِمَوَاقِعِ النُّجُومِ (75) وَإِنَّهُ لَقَسَمٌ لَوْ تَعْلَمُونَ عَظِيمٌ (76) [الواقعة/74-76]
Maka bertasbihlah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang Mahabesar. Maka Aku bersumpah dengan tempat beredarnya bintang-bintang. Sesungguhnya sumpah itu adalah sumpah yang besar kalau kamu mengetahui. (QS. Al-Waqi'ah : 74-76)

Janji (Al-Mitsaq atau Al-Wa'd)
Allah SWT berfirman,
وَأَشْهَدَهُمْ عَلَى أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ قَالُوا بَلَى شَهِدْنَا [الأعراف/172]
…Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa manusia (seraya berfirman), "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab, "betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi..." (QS. Al-A'raf : 172)

Bagaimana hubungan antara syahadat dengan iman? Di samping memiliki makna secara bahasa (etimologi), kata "iman" juga memiliki makna secara syar'i (terminologi).

Secara bahasa, kata "iman" berasal dari kata kerja "amina" yang berarti aman, tenang, dan tidak merasa takut. Dari sini muncul kata "aamana" yang berarti "menjadikan tenang", "percaya", dan "membenarkan". Kata "aamana" inilah yang kemudian melahirkan istilah "iman" (Al-Mu'jam Al-Wasith).

Dari makna tersebut muncullah makna terminologinya –sebagaimana disebutkan oleh para ulama- yakni: tashdiq bi al-janan (pembenaran dalam hati), iqrar bi al-lisan (pernyataan dengan lisan), dan 'amal bi al-arkan (tindakan dengan anggota badan).
Bersambung ke Materi Tarbiyah: Syahadat dan Iman (2)[sumber: Buku Seri Materi Tarbiyah; Syahadat dan Makrifatullah]
14:20 | 9 komentar

Masukkan alamat e-mail untuk mendapatkan up date Bersama Dakwah