Assalaamu'alaikum ,  Ahlan wa Sahlan  |  Facebook  |  Twitter  |  Pasang Iklan

Tahanan Wanita di Penjara Israel Mengalami Tindak Kekerasan Terorganisir

Written By Admin BeDa on Senin, 30 November 2009 | 15:01


Kementerian Tahanan Palestina menyatakan bahwa wanita Palestina, terutama mereka yang ada di dalam penjara Zionis Israel terus mengalami tindak kekerasan terorganisir dari pihak penjajah Zionis Israel.

Apa yang dialami seorang ibu Palestina, Ummu Wisam Dofash, adalah contoh paling anyar. Ini bukan yang pertama, dan juga tidak akan menjadi yang terakhir korban tindak kekerasan yang dilakukan penjajah Israel. Ummu Wisam Dofash mengalami serangan pemukulan, pelecehan, cacian, dihina dan penahanan dari serdadu Israel karena menolak untuk menanggalkan pakaiannya setelah dihentikan oleh serdadu Israel ketika kembali ke rumahnya di pos pemeriksaan di pintu masuk ke jalan Syuhada di pusat kota Hebron.

Hampir setiap hari para perempuan Palestina menjadi sasaran serangan kekerasan oleh serdadu Israel di pos-pos perlintasan militer Zionis Israel yang tersebar banyak seluruh penjuru wilayah Tepi Barat yang diduduki Israel. Masih segar dalam ingatan kita bagaimana nasib perempuan Palestina yang diserang seekor anjing polisi yang dibawa para serdadu Israel, yang menyambar tangannya dengan buas.

Kementerian Tahanan Palestina, dalam laporan yang dikeluarkan hari Sabtu (28/11), menyoroti perlakuan kejam yang dialami oleh tahanan wanita Palestina di penjara-penjara Israel di Hari Dunia Anti Kekerasan Terhadap Perempuan, yang disetujui Perserikatan Bangsa-Bangsa jatuh pada tanggal dua puluh lima bulan November setiap tahunnya. Namun nyatanya lembaga internasional ini tidak mengejar orang-orang yang melanggar perjanjian dan konvensi ini, orang-orang yang mengabaikan norma-norma yang paling dasar dari hak asasi manusia, terutama adalah penjajah Zionis Israel.

Sampai saat ini penjajah Zionis Israel masih menahan 34 tahanan wanita di di penjara-penjara mereka. Ini adalah jumlah yang tersisa dari lebih 800 tahanan wanita yang diculik dan ditahan selama Intifadah al Aqsha. Di antaranya ada yang ditahan selama beberapa jam atau bebera hari untuk menjalani interogasi dan kemudian dilepaskan, sementara yang lain dijebloskan ke penjara khusus wanita setelah selesai menjalani penyelidikan interogasi.

Direktur Departemen Penerangan Kementerian Tahanan Palestina, Riad Ashkar, menyatakan bahwa pada saat masyarakat internasional berbicara mengenai hak-hak perempuan dan perang melawan kekerasan terhadap perempuan, pihak penjajah Zionis Israel jurtru melaksanakan berbagai metode penyiksaan, perampasan, dan pelecehan terhadap para tahanan wanita. Israel tidak mau memberikan hak-hak dasar mereka, melakukan segala bentuk kekerasan dan pelecehan di depan mata dan telinga masyarakat dan lembaga-lembaga internasional, yang menyerukan kebebasan perempuan dan menglaimmelindungi menjaga hak asasi manusia. (seto, infopalestina)
15:01 | 13 komentar

Teknologi Jihad untuk Narasi Peradaban

Written By Admin BeDa on Sabtu, 28 November 2009 | 13:01


Para penakluk imperium dari jazirah itu menyisakan satu realitas yang lucu. Mereka tumbuh di tengah gurun sahara dan tidak bisa berenang. Itulah yang yang jadi kendala pasukan Muslim saat akan menaklukkan Persia di mana mereka harus menyeberangi sungai Eufrat dan Tigris. Dalam waktu singkat kendala itu bisa dilalui. Sebab itu cuma sungai. Begitu juga ketika pasukan Muslim di bawah komando Amr bin Ash itu harus menaklukkan Mesir dari kolonialisme Romawi. Sebab masih ada jalur darat untuk sampai ke sana.

Kendala menjadi lebih besar ketika Syam, Irak dan Mesir sudah ditaklukkan. Sebab semua ekspansi setelah itu harus melewati laut. Itulah yang menggusarkan Umar bin Khattab. Itu terlalu berisiko. Apalagi ketika beliau bertanya kepada Amr bin ‘Ash tentang suasana di atas kapal di tengah laut. Amr yang cerdas dan humoris melukiskan suasana itu dengan cara yang agak dramatis. Bayangkan saja, ada sebatang pohon yang terapung di atas laut yang berombak, sementara ulat-ulat yang ada dalam batang kayu itu berusaha untuk tetap bertahan dan tidak jatuh atau terseret ombak. Begitu juga manusia-manusia yang ada di atas perahu atau kapal.

Umar bin Khattab tentu saja tidak buta dengan dramatisasi dalam deskripsi Amr bin ‘Ash itu. Tapi ia toh akhirnya menghentikan semua ekspansi yang harus melewati laut. Ada alasan lain memang. Teritori mereka sudah terlalu luas, masyarakat Muslim yang baru ini juga terlalu multi kultur. Persoalannya terletak pada pengendalian. Tapi kemudian kebijakan Umar itu mengalihkan arah ekspansi ke kawasan Asia Tengah dari arah Irak, sementara ekspansi ke arah Cyprus menuju Konstantinopel dihentikan.

Inilaha kemudian yang menjadi pembeda dalam riwayat Umar dan Utsman. Sebab Utsman justru melanjutkan ekspansi ke wilayah-wilayah Romawi. Dan itu memicu penemuan teknologi Maritim dalam sejarah peradaban Islam untuk pengembangan armada laut pasukan Muslim. Dari situlah mereka berekspansi ke teritori terakhir Mesir, Alexandria selanjutnya ke Afrika Selatan dan Utara, lalu membebaskan Cyprus dan Rhodes. Itu di luar ekspansi yang berlanjut ke Armenia. Jadi hampir seluruh koloni Romawi sudah jatuh ke tangan Islam sejak saat itu. Yang tersisa adalah pusat kekuasaan mereka di Timur, Konstantinopel, dan di barat Roma. Putera Heraklius, Constantine, bahkan dibunuh pasukannya sendiri di kamar mandinya di Cyprus akibat kekalahan bertubi-tubi itu. Tujuh abad kemudian, dengan armada laut pula Muhammad Al-Fatih membebaskan Konstantinopel yang sudah terlalu lama terkepung dan kesepian.

Peradaban adalah sebuah narasi besar. Tapi para mujahid itu telah mengubah narasi besar itu menjadi kapasitas besar. Maka mereka mengembangkan teknologi jihad untuk mengimbangi narasi besar mereka. Teknologi berkembang mengikuti semangat jihad mereka. Dan bukan hanya ketika ada teknologi baru mereka berjihad. Mereka adalah para mujahid pembelajar. Lalu, takdir sejarah mempertemukan dua kekuatan dahsyat itu; narasi peradaban untuk generasi penakluk. Jadi kalau kamu punya cita-cita besar, kamu harus menjadi pembelajar cepat. Pembelajaran niscaya akan mengubahmu menjadi penakluk. [Anis Matta, sumber : Serial Pembelajaran, Majalah Tarbawi]
13:01 | 3 komentar

Mujahid Badui Penakluk Imperium

Written By Admin BeDa on Kamis, 26 November 2009 | 16:19


Apa penjelasannya, bahwa 3.000 mujahid dari badui-badui gurun jazirah Arab, berani melawan 200.000 pasukan Romawi dalam perang Muktah? Mereka tidak menang, memang, dalam pertempuran yang berlangsung tahun kedelapan hijriah itu. Tiga panglima mereka gugur sebagai syuhada; Zaid Bin Haritsah, Ja’far Bin Abi Thalib, Abdullah Bin Rawahah. Ketika Khalid mengambil alih kepemimpinan, yang ia lakukan adalah mundur teratur untuk menyelamatkan nyawa mujahidin yang tersisa.

Sementara anak-anak melempari mereka dengan batu saat kembali ke Madinah, karena dianggap melarikan diri, Rasulullah justru menggelari Khalid sebagai Syaifullah Al Maslul. Pedang Allah yang terhunus. Menyelamatkan nyawa pasukan adalah keputusan bijak seorang pemberani. Berhasil mundur dari kejaran pasukan sebesar itu adalah keahlian tempur seorang jenius perang. Tapi berani melawan pasukan sebesar itu adalah pesan penting bagi Romawi; pertempuran sudah kita mulai, dan kami akan kembali.

Perang Yarmuk adalah saksi kejeniusan perang Khalid. Pertempuran yang terjadi sekitar enam tahun setelah setelah pertempuran Muktah itu, memang terlalu legendaris. Bayangkan 36.000 mujahid Muslim melawan 240.000 pasukan Romawi. Gelar Rasulullah Saw kepada Khalid jadi kenyataan. Sejak itu Romawi diusir dari wilayah jazirah Arab, Syam kemudian Mesir.

Apa penjelasannya, bahwa mujahid Badui itu bisa menaklukkan imperium besar seperti Romawi dan Persi? Dalam pendekatan aqidah dan iman, kemenangan itu dapat dengan mudah ditafsirkan. Tapi dalam pendekatan strategi perang, kita mungkin perlu mempelajari The Art of War dari Sun Tzu, strategi perang tertua yang ditulis 500 tahun sebelum Masehi dan telah mengilhami China dan Jepang selama 2400 tahun. Atau The Military Institution of The Romans yang ditulis oleh Vegetius kepada Valentinian II sekitar tahun 390 M, dan kelak mengawali pengembangan tentara regular di Eropa. Atau My Reveries Upon Art of War yang ditulis Jenderal Maurice De Saxe tahun 1732 M. Strategi ini merupakan kembangan ide-ide Vegetius dan kelak banyak mengilhami Napoleon seperti diurai Stonewall Jackson dalam The Military Maxims of Napoleon. Atau The Secrets Instruction Frederick The Great to His Generals yang secara kebetulan ditemukan dalam kopor kecil Jenderal Czetteritz tahun 1760. Atau On War dari Carl Von Clausewitz’s tahun 1832. Kedua pemikiran strategi militer inilah yang melatari semua pengembangan strategi perang Jerman.

Kebesaran Mujahid Badui yang telah menaklukkan Imperium Persi dan Romawi itu hanya mungkin kita pahami dalam kerangka pemikiran-pemikiran strategi perang itu. Khalid tumbuh dalam tradisi perang gerilya yang menjadi ciri perang masyarakat jazirah. Tapi ia menguasai cara berpikir tentara regular Romawi yang mengusai pola perang konvensional dengan alutsista besar sejak 200 tahun sebelumnya. Keteraturan adalah ciri pasukan Persi dan Romawi, atau tentara Modern. Ketidakteraturan adalah ciri pasukan gerilya. Diperlukan waktu untuk menemukan pola dalam ketidakteraturan itu. Khalid mempelajari keteraturan itu sebagai sebuah kekuatan, tapi tetap menggunakan pola perang gerilya sebagai kombinasi dari pusat kekuatannya. Tapi mereka gerilyawan yang agresif. Jadi secara strategi ia unggul. Ia tahu cara berpikir musuhnya. Tapi musuh tidak tahu keseluruhan cara berpikirnya. Ketahuilah cara berpikir musuhmu, tapi jangan berpikir dengan cara berpikirnya. [Anis Matta, sumber : Serial Pembelajaran, Majalah Tarbawi]
16:19 | 8 komentar

Strategi Busuk Israel : Memisahkan Penduduk Al-Quds dari Al-Aqsha

Written By Admin BeDa on Rabu, 25 November 2009 | 15:13


Syekh Raed Shalah mengingatkan umat Islam untuk berhati-hati terhadap strategi busuk Israel untuk memisahkan penduduk Al-Quds dari Masjid Al-Aqsha. Pernyataan ini beliau sampaikan pada Muktamar Lembaga Al-Aqsha untuk Waqaf dan Literatur yang berjudul, "Al-Aqsha Mulia Tidak akan Pernah Hina."

Dalam muktamar tersebut Syekh Shalah mengisyaratkan bahwa adanya keputusan militer Israel yang melarang para aktivis, para pemimpin, dan lembaga-lembaga Al-Quds di Palestina untuk masuk ke Al-Aqsha selama berbulan-bulan, merupakan langkah untuk mengosongkan Al-Aqsha dari hamba Allah dan para pejuang.

Syekh Shalah mengatakan, "Dulu ada pelarangan berkunjung ke kota Al-Quds dan Al-Aqsha dengan militer di Tepi Barat dan Al-Quds, hingga tahun 2000. Namun saat ini, penjajah berupaya untuk memperdalam jurang pemisah antara warga Al-Quds dengan tempat suci mereka. Penjajah menginginkan tidak ada seorang pun warga Palestina memiliki hubungan apapun dengan Al-Aqsha."

Beliau menambahkan, "Ini mengingatkan umat Islam akan adanya strategi busuk dan bahaya yang dilakukan Zionis-Isarel, untuk menguasai Al-Aqsha secara bersenjata."

Penciptaan Kondisi Baru untuk Yahudisasi Al-Aqsha dan Al-Quds

Di pihak lain, Ketua Komite Tinggi Lembaga Al-Aqsha Abdullah Zaidan mengungkapkan bahwa memisahkan warga Palestina dari Al-Aqsha merupakan kondisi baru sebagai proses Yahudisasi. Ia mengatakan, "Tingkah Israel selama ini adalah upaya untuk menciptakan kondisi baru, sehingga dengan kondisi itu mereka sukses melakukan Yahudisasi."

Sementara Syekh Raed Shalah mengatakan kepada penjajah Israel, "Pilihlah bahasa dan cara kalian untuk melakukan Yahudisasi, baik dengan teror maupun ancaman. Tetap saja kalian adalah penjajah. Dan keberadaan kalian di Al-Quds tidak konstitusional. Kalian hidup secara ilegal dan tidak lama lagi kalian akan jatuh. Melarang kami masuki kota Al-Quds dan kesucian kami tidak berarti kami memberikannya untuk kalian, dan kami tidak akan memberikan apa-apa untuk kalian."

Foto Ritual Talmud di Dalam Al-Aqsha

Dalam Muktamar Lembaga Al-Aqsha untuk Waqaf dan Literatur ini juga ditampilkan foto pertama kalinya Yahudi mengadakan ritual keagamaan Talmud di dalam Masjid Al-Aqsha. Foto yang tidak pantas bagi turis asing. Selain itu ada juga pernyataan Yahudi bergambar, menyeru untuk membagi Masjid Al-Aqsha untuk membangun Haikal.

Dalam film dokumenter ini juga ditampilkan turis-turis Kristen yang masuk Al-Aqsha dan meyakini adanya Haikal di tempat Al-Aqsha.

Syekh Raed Shalah mengatakan, "Akan diterbitkan silsilah film dokumenter yang mengungkapkan luka Al-Quds dan para penduduknya." Syekh Raed mengatakan ini agar TV Arab dan negara-negara Islam bersedia untuk menyiarkannya dalam salah satu programnya, sehingga diharapkan menjadi salah satu sebab bangkitnya umat Islam. Al-Quds meminta tolong, tapi seolah ia tidak memiliki umat Islam, baik pemerintah maupun rakyat. (Sn/im, eramuslim)
15:13 | 8 komentar

Kepemimpinan Para Pembelajar

Written By Admin BeDa on Selasa, 24 November 2009 | 15:03


Umar Bin Khattab termenung lama. Lama sekali. Apakah ini kebaikan atau musibah? Begitu ia bertanya pada dirinya sendiri tentang fenomena kemenangan–kemenangan besar yang ia peroleh. Tiba-tiba ia tersadar bahwa eranya terlalu jauh berbeda dengan era kedua pendahulunya: Rasulullah SAW dan Abu Bakar As-Siddiq.

Di era Umar teritori Khilafah menjadi lebih dari 18 negara kalau dikonversi dengan era sekarang. Populasi umat Islam juga bertambah begitu pesat. Lahirlah sebuah masyarakat yang mulitikultur yang sangat besar. Lalu ada kemakmuran dan kesejahteraan serta kekayaan yang melimpah ruah. Ini semua belum ada di era Nabi dan Khalifah pertama. Itu meresahkan Umar. Apakah ini kebaikan? Atau malah musibah? Kalau ini kebaikan, mengapa ini tidak terjadi pada masa sebelumnya? Kalau ini musibah, Apakah Allah hendak memisahkan aku dari kedua pendahulu?

Ini resah seorang pemimpin yang tidak pernah selesai belajar. Ia bertanya dan terus bertanya. Ia berpikir dan terus berpikir. Dan hasilnya nyata. Hasil pembelajaranya sekarang menjadi sumber pembelajaran nyata. Hasil pembelajarannya sekarang menjadi sumber pembelajaran kita semua. Beliau telah mendampingi Rasulullah SAW sekitar 18 tahun dan mendampingi Abu Bakar selama 2.5 tahun. Beliau telah belajar banyak. Jadi walaupun zaman yang beliau lalui terlalu jauh berbeda, tetapi beliau memiliki sumber pembelajaran lapangan selama 20-an tahun dan itu memadai untuk membantu beliau meletakkan dasar-dasar negara baru di Madinah.

Beliau meletakkan dasar-dasar dari konstitusi dan sistem pemerintahan, menata sistem keuangan negara, memulai pembentukan dan pengorganisasian tentara profesional setelah sebelumnya setiap warga negara diharuskan menjadi mujahid dan prajurit negara, mengatur strategi ekspansi militer yang kemudian melahirkan futuhat atau pembebasan-pembebasan besar yang berpuncak pada pembebasan Al-Aqsha, mendistribusi para ulama ke berbagai wilayah, membentuk pemerintahan-pemerintahan daerah di wilayah-wilayah yang telah dibebaskan.

Itu sebabnya, Rasulullah SAW dan Abu Bakar bersama Umar Bin Khattab selalu diletakkan sebagai founding fathers dari Negara Madinah. Suatu saat sang pendiri negara itu berpesan kepada siapapun yang akan menjadi pemimpin: “Ta’allamu Qobla An Tasuuduu: Belajarlah sebelum kalian memimpin.” [Anis Matta, sumber : Serial Pembelajaran, Majalah Tarbawi]
15:03 | 14 komentar

Kewajiban Kita Terhadap Al-Qur'an

Written By Admin BeDa on Senin, 23 November 2009 | 16:43


Kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah SWT. Kita ucapkan shalawat dan salam untuk junjungan kita Nabi Muhammad, untuk segenap keluarga dan sahabatnya, serta siapa saja yang menyerukan dakwahnya hingga hari kiamat.

Ikhwan tercinta, saya sampaikan salam penghormatan Islam, salam penghormatan dari Allah, yang baik dan diberkahi: Assalaamu 'alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuh.

Seseorang layak heran terhadap sikap kebanyakan manusia terhadap kitab Allah SWT: Al-Qur'anul Karim. Ikhwan sekalian, sebagaimana saya katakan sebelumnya, sikap kebanyakan manusia di masa-masa sekarang ini terhadap kitab Allah ibarat sekelompok manusia yang diliputi kegelapan dari segala penjuru. Mereka kebingungan, berjalan tanpa petunjuk apa pun. Kadang-kadang mereka jatuh ke jurang, kadang-kadang membentur batu, dan kadang-kadang saling bertabrakan. Keadaan mereka terus demikian, tersesat membabi buta dan berjalan dalam kegelapan yang pekat. Padahal di hadapan mereka ada sebuah tombol elektrik yang andaikata mereka tekan dengan jari, maka gerakan sedikit itu dapat menyalakan sebuah lampu yang terang-benderang. Inilah Saudara-saudaraku, perumpamaan umat manusia sekarang dan sikap mereka terhadap kitab Allah.

Seluruh dunia ini tersesat: dalam kegelapan yang pekat. Seluruh alam berjalan tanpa petunjuk. Berbagai sistem telah bangkrut, masyarakat telah hancur, nasionalisme telah jatuh. Setiap kali manusia membuat sistem baru untuk diri mereka, segera sistem itu hancur berantakan. Hari ini, manusia tidak mendapatkan jalan selain berdoa, bersedih, dan menangis. Sungguh aneh, karena di hadapan mereka sebenarnya terdapat Al-Qur'anul Karim, kitab Allah SWT.

كالعيس في البيداء يقتلها الظماء
والماء فوق ظهورها محمول

Bak unta mati kehausan di padang pasir
Sedangkan air terpikul di atas punggungnya


Mereka tidak mendapatkan jalan petunjuk, padahal di hadapan mereka ada cahaya yang sempurna.

وَلَكِنْ جَعَلْنَاهُ نُورًا نَهْدِي بِهِ مَنْ نَشَاءُ مِنْ عِبَادِنَا وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ [الشورى/52]

Tetapi Kami jadikan Al-Qur'an itu cahaya, yang Kami tunjuki dengannya siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya Kami benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus. (QS. Asy-Syura: 52)

فَالَّذِينَ آَمَنُوا بِهِ وَعَزَّرُوهُ وَنَصَرُوهُ وَاتَّبَعُوا النُّورَ الَّذِي أُنْزِلَ مَعَهُ أُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ [الأعراف/157]

Adapun orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya, dan mengikuti cahaya terang yang diturunkan kepadanya, mereka itulah orang-orang yang beruntung. (QS. Al-A'raf: 157)

يَا أَهْلَ الْكِتَابِ قَدْ جَاءَكُمْ رَسُولُنَا يُبَيِّنُ لَكُمْ كَثِيرًا مِمَّا كُنْتُمْ تُخْفُونَ مِنَ الْكِتَابِ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ قَدْ جَاءَكُمْ مِنَ اللَّهِ نُورٌ وَكِتَابٌ مُبِينٌ (15) يَهْدِي بِهِ اللَّهُ مَنِ اتَّبَعَ رِضْوَانَهُ سُبُلَ السَّلَامِ وَيُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِهِ وَيَهْدِيهِمْ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ (16) [المائدة/15، 16]

Hai Ahli Kitab, sesungguhnya telah datang kepada kalian Rasul Kami, menjelaskan kepada kalian banyak dari isi Al-Kitab yang kalian sembunyikan, dan banyak (pula yang) dibiarkannya. Sesungguhnya telah datang kepada kalian cahaya dari Allah dan kitab yang menerangkan. Dengan Kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan keselamatan dan mengeluarkan mereka dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus. (QS. Al-Maidah: 15-16)

كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ لِتُخْرِجَ النَّاسَ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ [إبراهيم/1]

Inilah Kitab yang Kami turunkan kepadamu agar kamu mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya. (QS. Ibrahim: 1)

فَآَمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَالنُّورِ الَّذِي أَنْزَلْنَا وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ [التغابن/8]

Maka berimanlah kalian kepada Allah, Rasul-Nya, dan cahaya (Al- Qur'an) yang telah Kami turunkan. Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan. (QS. At-Tagbabun: 8)

Ikhwan sekalian, kembali saya ingin katakan bahwa barangkali suatu hal yang wajar jika orang-orang kafir yang mata mereka belum dibuka untuk melihat cahaya ini, berjalan tanpa petunjuk dalam kehidupan mereka. Ini logis dan dapat diterima, karena Allah SWT berfirman,

وَمَنْ لَمْ يَجْعَلِ اللَّهُ لَهُ نُورًا فَمَا لَهُ مِنْ نُورٍ [النور/40]

Dan barangsiapa yang tidak diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah, maka ia tiada memiliki cahaya sedikit pun. (QS. An-Nur: 40)

Bagaimana pula halnya dengan orang-orang mukmin yang mengimani, membenarkan, mencintai, menghormati dan mengagungkannya, yang tidak ada satu pun dari rumah-rumah mereka dan tidak satu pun dari kantong-kantong baju mereka yang tidak terdapat mushaf dari Kitabullah. Ikhwan sekalian, orang-orang kafir telah menipu mereka dengan cahaya itu, menjauhkan mereka dari petunjuk, menyesatkan mereka dari |alan, dan menjauhkan tangan mereka dari sumber mulia dan dari tombol elektrik ini; kadang-kadang dengan jerat politik di saat lain dengan parangkap ilmu duniawi.

يَعْلَمُونَ ظَاهِرًا مِنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ الْآَخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ [الروم/7]

Mereka hanya mengetahui kehidupan dunia yang lahir, sedangkan tentang kehidupan akhirat mereka lalai. (QS. Ar-Rum: 7)

Mereka terus memperdayakan; terkadang dengan harta benda, kadang-kadang melalui hawa nafsu, kadang-kadang dengan tipu muslihat, dan di saat lain dengan kekuatan, paksaan, dan kekejaman.

Wahai Ikhwan sekalian, semua sarana ini terus digunakan para penganut kekafiran. Orang-orang kafir itu menjauhkan manusia dan kaum muslimin dari petunjuk. Sekian lamanya kaum muslimin mengikuti dan berlari di belakang kesesatan mereka. Akibatnya, mereka lupa kepada sumber petunjuk ini dan mengekor saja di belakang orang-orang kafir. Padahal Allah SWT telah memperingatkan mereka dari tindakan itu.

ا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنْ تُطِيعُوا الَّذِينَ كَفَرُوا يَرُدُّوكُمْ عَلَى أَعْقَابِكُمْ فَتَنْقَلِبُوا خَاسِرِينَ (149) بَلِ اللَّهُ مَوْلَاكُمْ وَهُوَ خَيْرُ النَّاصِرِينَ (150) [آل عمران/149، 150]

Wahai orang-orang beriman, jika kalian mengikuti orang-orang kafir, niscaya mereka mengembalikan kalian ke belakang (kepada kekafiran), lantas jadilah kalian orang-orang yang merugi. Tetapi (ikutilah Allah), Allah-lah Pelindung kalian, dan Dia-lah sebaik-baik Penolong. (QS. Ali Imran: 149-150)

Ikhwan sekalian, karena Allah mengetahui bahwa orang-orang kafir terkadang mengintimidasi orang-orang beriman dengan kekuatan yang mereka miliki, maka Allah SWT ingin mencabut pengaruhnya dari hati kaum muslimin.

سَنُلْقِي فِي قُلُوبِ الَّذِينَ كَفَرُوا الرُّعْبَ بِمَا أَشْرَكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَمَأْوَاهُمُ النَّارُ وَبِئْسَ مَثْوَى الظَّالِمِينَ [آل عمران/151]

Akan Kami masukkan ke dalam hati orang-orang kafir rasa takut, disebabkan mereka mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah sendiri tidak menurun-kan keterangan tentang itu. Tempat kembali mereka adalah neraka; dan alangkah buruknya tempat kembali orang-orang yang zhalim. (QS. Ali Imran: 151)

Kemudian Allah swt. menyebutkan peristiwa nyata untuk menjadi pengiring bagi dalil yang tegas itu.

وَلَقَدْ صَدَقَكُمُ اللَّهُ وَعْدَهُ إِذْ تَحُسُّونَهُمْ بِإِذْنِهِ حَتَّى إِذَا فَشِلْتُمْ وَتَنَازَعْتُمْ فِي الْأَمْرِ وَعَصَيْتُمْ مِنْ بَعْدِ مَا أَرَاكُمْ مَا تُحِبُّونَ مِنْكُمْ مَنْ يُرِيدُ الدُّنْيَا وَمِنْكُمْ مَنْ يُرِيدُ الْآَخِرَةَ ثُمَّ صَرَفَكُمْ عَنْهُمْ لِيَبْتَلِيَكُمْ وَلَقَدْ عَفَا عَنْكُمْ وَاللَّهُ ذُو فَضْلٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ [آل عمران/152]

Sesungguhnya Allah telah memenuhi janji-Nya kepada kalian, ketika kalian membunuh mereka dengan izin-Nya sampai pada saat kalian lemah dan berselisih dalam urusan itu dan mendurhakai perintah (Rasul) sesudah Allah memperlihatkan kepada kalian apa yang kalian sukai. Di antara kalian ada yang menghendaki dunia dan di antara kalian ada yang menghendaki akhirat. Kemudian Allah memalingkan kalian dari mereka untuk menguji kalian; dan sesungguhnya Allah telah memaafkan kalian. Dan Allah mempunyai karunia bagi orang-orang yang beriman. (QS. Ali Imran: 152)

Ikhwan sekalian, demikianlah. Allah swt. memperingatkan orang-orang mukmin dengan Al-Qur'an, jangan sampai mereka mengikuti jalan orang-orang kafir atau tertipu oleh tipu muslihat dan trik-trik mereka.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنْ تُطِيعُوا فَرِيقًا مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ يَرُدُّوكُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ كَافِرِينَ [آل عمران/100]

Wahai orang-orang beriman, jika kalian mengikuti sebagian dari orang-orang yang diberi Al-Kitab, niscaya mereka akan mengembalikan kalian menjadi kafir setelah kalian beriman. (QS. Ali Imran: 100)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ (102) وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا [آل عمران/102، 103]

Wahai orang-orang beriman, bertaqwalah kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa dan janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan muslim. Dan berpegangteguhlah kalian semua pada tali (agama) Allah, dan janganlah kalian berpecah-belah. (QS. Ali Imran: 102-103)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنْ تُطِيعُوا الَّذِينَ كَفَرُوا يَرُدُّوكُمْ عَلَى أَعْقَابِكُمْ فَتَنْقَلِبُوا خَاسِرِينَ [آل عمران/149]

Wahai orang-orang yang beriman, jika kalian menaati orang-orang kafir, niscaya mereka mengembalikan kalian ke belakang (kepada kekafiran), lalu jadilah kalian orang-orang yang merugi. (QS. Ali Imran: 149)

Orang-orang kafir itu diciptakan dengan memiliki watak menipu dan memperdaya orang-orang beriman.

وَدَّ كَثِيرٌ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَوْ يَرُدُّونَكُمْ مِنْ بَعْدِ إِيمَانِكُمْ كُفَّارًا حَسَدًا مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِهِمْ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ الْحَقُّ [البقرة/109]

Sebagian besar Ahli Kitab berkeinginan untuk mengembalikan kalian kepada kekafiran setelah kalian beriman karena kedengkian (yang timbul) dari diri mereka, setelah nyata bagi mereka kebenaran. (QS. Al-Baqarah: 109)

وَدُّوا لَوْ تَكْفُرُونَ كَمَا كَفَرُوا فَتَكُونُونَ سَوَاءً [النساء/89]

Mereka ingin supaya kalian menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir, sehingga kalian dan mereka sama. (QS. An-Nisa': 89)

إِنْ يَثْقَفُوكُمْ يَكُونُوا لَكُمْ أَعْدَاءً وَيَبْسُطُوا إِلَيْكُمْ أَيْدِيَهُمْ وَأَلْسِنَتَهُمْ بِالسُّوءِ وَوَدُّوا لَوْ تَكْفُرُونَ [الممتحنة/2]

Jika mereka menangkap kalian, niscaya mereka bertindak sebagai musuh bagi kalian dan melepaskan tangan dan lidah mereka kepada kalian dengan menyakiti, dan mereka ingin supaya kalian menjadi kafir. (QS. Al-Mumtahanah: 2)

Ikhwan sekalian, jelas sekali bahwa dada mereka tidak akan terbebas dari keinginan ini, yaitu keinginan agar orang-orang beriman kembali menjadi kafir.

وَلَا يَزَالُونَ يُقَاتِلُونَكُمْ حَتَّى يَرُدُّوكُمْ عَنْ دِينِكُمْ إِنِ اسْتَطَاعُوا [البقرة/217]

Mereka tidak henti-hentinva memerangi kalian sampai mereka dapat mengembalikan kalian dari agama kalian jika mereka mampu. (QS. Al-Baqarah: 217)

Ini merupakan ilustrasi yang tepat mengenai perasaan orang-orang kafir terhadap orang-orang beriman. Sekalipun demikian, orang-orang yang beriman didominasi oleh rasa toleransi, sehingga mereka melupakan peringatan ini.

هَا أَنْتُمْ أُولَاءِ تُحِبُّونَهُمْ وَلَا يُحِبُّونَكُمْ وَتُؤْمِنُونَ بِالْكِتَابِ كُلِّهِ وَإِذَا لَقُوكُمْ قَالُوا آَمَنَّا وَإِذَا خَلَوْا عَضُّوا عَلَيْكُمُ الْأَنَامِلَ مِنَ الْغَيْظِ قُلْ مُوتُوا بِغَيْظِكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ (119) إِنْ تَمْسَسْكُمْ حَسَنَةٌ تَسُؤْهُمْ وَإِنْ تُصِبْكُمْ سَيِّئَةٌ يَفْرَحُوا بِهَا وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا لَا يَضُرُّكُمْ كَيْدُهُمْ شَيْئًا إِنَّ اللَّهَ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطٌ (120) [آل عمران/119، 120]

Beginilah kalian ini. Kalian mencintai mereka padahal mereka tidak mencintai kalian, dan kalian beriman kepada semua kitab. Jika berjumpa dengan kalian, mereka berkata, 'Kami beriman.' Apabila mereka menyendiri, mereka menggigit ujung jari lantaran marah bercampur benci kepada kalian. Katakanlah, 'Binasalahlah kalian karena kemarahan kalian itu.' Sesungguhnya Allah mengetahui segala isi hati. Jika kalian memperoleh kebaikan, mereka bersedih hati, tetapi jika kalian ditimpa bencana, mereka bergembira karenanya. Jika kalian bersabar dan bertaqwa, tipu daya mereka tidak membahayakan kalian sedikit pun. Sesungguhnya Allah mengetahui segala yang mereka kerjakan. (QS. Ali Imran: 119-120)

Meskipun ada peringatan semacam ini dan kitab Allah telah mengungkap keadaan jiwa mereka sedemikian rupa, namun setelah ini semua, kita tetap menjerumuskan diri kita ke jurang dan berjalan mengikuti orang-orang kafir. Bagaimana tidak, kita masih berperilaku sebagaimana perilaku orang-orang kafir, padahal mereka menipu kita dengan segala sarana dan cara. Cahaya ini memang tidak dimiliki oleh orang orang kafir, namun mereka cukup bergem-bira bilamana berhasil menjauhkan kita darinya.

Bagaimanakah kondisi yang terjadi sekarang, wahai Ikhwan sekalian? Kondisi yang terjadi adalah, orang-orang kafir tidak percaya kepada cahaya ini, sedangkan orang-orang beriman tidak mengetahuinya. Kondisi ini sungguh ironis. Kondisi yang membawa manusia kepada segala macam penderitaan. Karena itu, orang-orang yang telah mengambil petunjuk Al-Qur'an wajib menyelamatkan diri sendiri sekaligus orang lain. Lantas apakah kewajiban kita sebagai orang yang telah beriman kepada Al-Qur'an? Ikhwan sekalian, kewajiban kita terhadap Al-Qur'anul Karim ada empat:

1. Hendaklah kita memiliki keyakinan yang sungguh-sungguh dan kuat bahwa tidak ada yang dapat menyelamatkan kita kecuali sistem sosial yang diambil dan bersumber dari kitab Allah SWT ini. Sistem sosial apa pun yang tidak mengacu atau tidak berlandaskan kepada Al-Qur'anul Karim pasti bakal menuai kegagalan.

Misalnya, banyak orang mengatasi problema ekonomi dengan terapi tambal sulam, "tidak menggemukkan dan tidak pula sekedar menghilangkan lapar". Sementara Al-Qur'anul Karim telah menggariskan aturan tentang zakat, mengharamkan riba, mewajibkan kerja, melarang pemborosan, sekaligus menanamkan kasih sayang antarsesama manusia. Dengan arahan semacam ini problema kemiskinan tentu dapat segera dipecahkan. Tanpa solusi ini, tidak mungkin terpecahkan. Selain model ini, solusi hanya ibarat pil penenang sementara. Contoh lain adalah problem kesehatan. Ikhwan sekalian, kalian mendapati mereka ibarat orang yang membuka kran berdiameter tiga milimeter, sedangkan di bawahnya terdapat bak yang berdiameter tiga meter. Mereka membuat rumah-rumah sakit keliling dan klinik-klinik kesehatan, tetapi akar penyakit tidak diberantas. Misalnya, taraf hidup yang masih rendah. Padahal Islam menghendaki peningkatan taraf hidup dan pemberantasan berbagai kemungkaran. Rasulullah SAW bersabda,

لَمْ تَظْهَرِ الْفَاحِشَةُ فِى قَوْمٍ قَطُّ حَتَّى يُعْلِنُوا بِهَا إِلاَّ فَشَا فِيهِمُ الطَّاعُونُ وَالأَوْجَاعُ الَّتِى لَمْ تَكُنْ مَضَتْ فِى أَسْلاَفِهِمُ

Tidaklah perilaku keji terlihat nyata di tengah-tengah suatu kaum, sehingga mereka sendiri memperlihatkannya, kecuali akan banyak penyakit menular menimpa mereka, yang tidak pernah menimpa orang-orang sebelum mereka. (HR. Ibnu Majah, Hakim, Thabrani, Baihaqi)

Ikhwan sekalian, contoh lain misalnya pemberantasan kriminalitas. Apakah kita akan menjebloskan pencuri ke penjara agar ia mengasah keahliannya kepada dedengkot-dedengkot kriminalitas sehingga semakin lama masa tinggalnya di penjara, semakin tinggi pula keahliannya dalam melakukan tindak kriminal? Andaikata nash Al-Qur'an berikut ini diambil, "Atau diasingkan dari negeri (tempat kediamannya)", niscaya hal ini akan memberikan banyak manfaat kepada negara. Bagaimana pendapat Anda jika sistem ini diterapkan secara keseluruhan? Ikhwan sekalian, solusinya hanya Islam. Islam tidak menerima persekutuan. Karena itu, kita wajib percaya bahwa hanya Islam yang layak menyelamatkan umat ini dari setiap bencana yang menimpa dalam seluruh aspek kehidupan.

2. Maka dari itu, kaum muslimin wajib menjadikan kitab Allah sebagai sahabat karib, kawan bicara, dan guru. Kita harus membacanya. Jangan sampai ada hari yang kita lalui sedangkan kita tidak menjalin hubungan dengan Allah swt. melalui Qur'an. Demikianlah keadaan para pendahulu kita, kaum Salaf, semoga Allah meridhai mereka. Mereka tidak pernah kenyang dengan Al-Qur'anul Karim. Mereka tidak pernah meninggalkannya. Bahkan mereka mencurahkan waktunya untuk itu, sehingga Rasulullah SAW harus turun tangan untuk melarang mereka berlebihan di dalamnya. Setidaknya, Saudaraku, hendaklah kita membaca Al-Qur'an secara rutin, meskipun sedikit. Sunah mengajarkan agar kita mengkhatamkannya tidak lebih dari satu bulan dan tidak kurang dari tiga hari. Sayidina Umar bin Abdul Aziz apabila disibukkan oleh urusan kaum muslimin, beliau mengambil mushaf dan membacanya walaupun hanya dua atau tiga ayat. Beliau berkata, "Agar saya tidak termasuk mereka yang menjadikan Al-Qur'an sebagai sesuatu yang ditinggalkan." Rasulullah SAW bersabda,

من قرأ اية من كتاب الله يكل حرف عشر أمثالها ومن يستمع لها كانت له نورا يوم القيامة

Barangsiapa membaca satu ayat dari Kitabullah, maka ia memperoleh sepuluh kebaikan untuk setiap huruf. Barangsiapa mendengarkannya, maka itu akan menjadi cahaya baginya pada hari kiamat.

Orang yang telah menghafalkan Al-Qur'an kemudian melupakannya, ia telah melakukan satu dosa besar. Karena itu, Ikhwan sekalian, Anda harus rajin membaca Al-Qur'anul Karim dan menetapkan bacaan rutin dari kitab Allah SWT untuk diri Anda. Hendaklah kalian tekun melaksanakannya, sebagai peneladanan terhadap para pendahulu umat ini, sebagai pelaksanaan perintah Allah SWT dan agar mendapatkan manfaat dari kandungan kitab-Nya.

3. Setelah itu, ketika membaca Al-Qur'an kita harus memperhatikan adab-adab membacanya dan ketika mendengarkan kita juga harus memperhatikan adab-adab mendengarnya. Hendaklah kita berusaha merenungkan dan meresapinya. Rasulullah SAW bersabda,

إِنَّ هَذَا الْقُرْآنَ نَزَلَ بِحُزْنٍ فَإِذَا قَرَأْتُمُوهُ فَابْكُوا فَإِنْ لَمْ تَبْكُوا فَتَبَاكَوْا

Sesungguhnya Al-Qur'an ini turun dengan kesedihan, maka jika kamu membacanya, hendaklah kamu menangis, jika kamu tidak menangis, maka buatlah seolah-olah dirimu menangis. (HR. Ibnu Majah, Baihaqi)

Akhi, ini artinya adalah, bahwa jika hati Anda belum dapat konsentrasi sampai pada tingkat menghayatinya, hendaklah Anda berusaha untuk menghayatinya. Janganlah setan memalingkan Anda dari keindahan perenungan sehingga Anda tidak mendapatinya. Tekunlah! Andaikan dalam membaca Anda hanya dapat menggerakkan lidah, tetap bacalah! Hendaklah Anda menyediakan waktu untuk menghafal dan mengulang. Usahakan agar Anda benar-benar meresapi kandungan makna Al-Qur'an. Banyak riwayat menceritakan bahwa pada suatu malam Sayidina Umar bin Khathab ra. pergi berkeliling kota. Tiba-tiba beliau mendengar seseorang membaca,

وَالطُّورِ (1) وَكِتَابٍ مَسْطُورٍ (2) فِي رَقٍّ مَنْشُورٍ (3) وَالْبَيْتِ الْمَعْمُورِ (4) وَالسَّقْفِ الْمَرْفُوعِ (5) وَالْبَحْرِ الْمَسْجُورِ (6) إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ لَوَاقِعٌ (7) مَا لَهُ مِنْ دَافِعٍ (8)

Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Demi bukit Thur. Dan demi kitab yang ditulis. Pada lembaran yang terbuka. Dan demi Baitul Makmur. Dan demi atap yang ditinggikan (langit). Dan demi laut yang di dalam tanah- nya ada api. Sesungguhnya siksa Tuhanmu pasti terjadi. Tidak ada yang dapat mencegahnya. (QS. At-Thur: 1-8)

Ketika mendengar bacaan ini, beliau berkata, "Inilah sumpah yang benar, demi Tuhan Pemilik Ka'bah." Beliau lantas tersungkur pingsan. Beliau digendong oleh seorang sahabat yang bernama Aslam dan dibawa ke rumahnya. Beliau sakit selama tiga puluh hari, dijenguk oleh masyarakat.

Akhi, demikian halnya dengan Umar bin Abdul Aziz. Suatu ketika beliau datang ba'da isya'. Beliau lantas berwudhu dan berdiri melaksanakan shalat. Beliau membaca,

احْشُرُوا الَّذِينَ ظَلَمُوا وَأَزْوَاجَهُمْ وَمَا كَانُوا يَعْبُدُونَ (22) مِنْ دُونِ اللَّهِ فَاهْدُوهُمْ إِلَى صِرَاطِ الْجَحِيمِ (23) وَقِفُوهُمْ إِنَّهُمْ مَسْئُولُونَ (24)

(Kepada malaikat diperintahkan) kumpulkanlah orang-orang zhalim dan teman sejawat mereka beserta apa yang selalu mereka sembah, selain Allah. Lantas tunjukkan kepada mereka jalan menuju neraka Jahim. Dan hentikan mereka, sesungguh- nya mereka akan ditanya. (QS. Ash-Shafat: 22-24)

Beliau terus mengulang-ulang ayat, "Dan hentikanlah mereka, sesungguhnya mereka akan ditanya," sampai muadzin datang untuk mengumandangkan adzan subuh.

Demikianlah, Ikhwan sekalian, penghayatan mereka terhadap kitab Al Qur'anul Karim. Pada zaman Imam Syafii, jika mereka ingin meresapi kitab Allah di Makkah, mereka mengirimkan surat kepada beliau, agar beliau membacakan kitab Allah. Beliau tidak pernah terlihat menangis, seperti pada hari tersebut. Hendaklah kita juga membaca AlQur'an dengan bacaan yang membuahkan. Jika Al-Qur'an ini dapat menyentuh hati orang-orang kafir, yang merupakan manusia paling jauh kemung-kinannya untuk menghayati kitab Allah, maka bagaimana pula dengan kita? Lihatlah Utbah bin Rabi'ah (seorang kafir), ketika mendengar bacaan Al-Qur'an dari Rasulullah SAW, ia berkata,

إن له لحلاوة وإن عليه لطلاوة وإن أعلاه لمثمر وإن أسفله لمغدق وما هو من كلام البشر

Sesungguhnya bacaan ini mengandung kelebatan dan keindahan. Atasnya membuahkan, bawahnya menyejukkan. Sungguh, ini bukan perkataan manusia.

Begitu pula yang terjadi pada Najasyi dan kaumnya ketika mendengar Ja'far bin Abi Thalib membaca Al-Qur'an. Sekonyong-konyong mata mereka dialiri oleh air mata.

Lalu bagaimana dengan orang-orang yang beriman? Seharusnya, ketika orang-orang beriman membaca kitab Allah swt. adalah sebagaimana yang difirmankan-Nya,

اللَّهُ نَزَّلَ أَحْسَنَ الْحَدِيثِ كِتَابًا مُتَشَابِهًا مَثَانِيَ تَقْشَعِرُّ مِنْهُ جُلُودُ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ ثُمَّ تَلِينُ جُلُودُهُمْ وَقُلُوبُهُمْ إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ ذَلِكَ هُدَى اللَّهِ يَهْدِي بِهِ مَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُضْلِلِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ هَادٍ [الزمر/23]

Allah telah menurunkan sebaik-baik perkataan, yaitu Al-Qur'an yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi ber- ulang-ulang; gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian kulit dan hati mereka menjadi tenang pada waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, maka tidak ada seorang pun yang mampu memberikan petunjuk kepadanya. (QS. Az-Zumar: 23)

4. Akhi, setelah kita beriman bahwa Al-Qur'an adalah satu-satunya penyelamat, kita wajib mengamalkan hukum-hukumnya. Hukum-hukum Al-Qur'anul Karim menurut yang saya ketahui, terbagi menjadi dua:

a. Hukum-hukum individu yang berkaitan dengan masing-masing orang, seperti shalat, puasa, zakat, haji, taubat, serta akhlak, yang meliputi kejujuran, menepati janji, kesaksian, dan amanat. Ini semua, wahai Saudaraku, merupakan hukum-hukum yang berhubungan dengan manusia secara umum. Setiap orang dapat melaksanakannya sendiri. Ketika Anda membaca Al-Qur'an, Anda harus mematuhi hukum-hukum dan batasan-batasannya. Barangsiapa yang belum pernah shalat, kemudian membaca firman Allah SWT, "Dan dirikanlah shalat," (QS. An-Nur: 56) maka ia harus melaksanakan shalat. Dan ketika membaca, "Dan janganlah kamu mengurangi takaran dan timbangan manusia," (QS. Al-A'raf: 85) maka Anda harus memenuhi hak setiap orang. Seharusnya Anda tidak perlu menunggu orang lain untuk melaksanakan hal ini. Sesuatu yang halal itu sudah jelas dan yang haram juga sudah jelas.

b. Kedua adalah hukum-hukum yang berkaitan dengan masyarakat, atau hukum-hukum yang berkaitan dengan penguasa. Ini semua merupakan kewajiban negara, misalnya menegakkan hudud (sanksi hukum), jihad, dan masalah-masalah yang merupakan tugas negara dalam Islam. Negara wajib melaksanakannya. Jika negara tidak melaksanakannya, ia bertanggung jawab di hadapan Allah swt. Kewajiban rakyat dalam keadaan demikian adalah menuntut pelaksanaannya. Sesungguhnya Islam tidak membebaskan umat dari tanggung jawab. Sekarang, bagaimana umat dapat mewujudkan hal ini? Hendaklah umat bersatu padu. Hendaklah umat menyatukan kata, menuntut, dan terus menuntut. Hendaklah umat menggunakan segala cara untuk menyampaikan tuntutan ini, khususnya jika sistem kenegaraan yang berlaku seperti sistem kenegaraan di Mesir. Jika demikian, tidak ada alasan bagi siapa pun untuk tidak menyatakan hal ini dengan terus terang. Umat tidak dapat dilepaskan dari kewajiban mengawasi negara.

Ikhwan sekalian, hendaklah kita menyatukan barisan dan menyatukan kata, sehingga kita menjadi kuat, diperhitungkan, dan mempunyai suara agar negara dapat memandang kenyataan yang ada. Dengan demikian, cepat atau lambat kita akan sampai kepada tujuan, insya Allah.

Semoga shalawat dan salam dilimpahkan kepada junjungan kita, Muhammad, juga kepada segenap keluarga dan sahabatnya. [Hasan Al-Banna, Sumber: Ceramah-Ceramah Hasan Al-Banna]
16:43 | 6 komentar

Peradaban Para Pembelajar

Written By Admin BeDa on Minggu, 22 November 2009 | 10:48


Akal-akal besar itu selalu mampu mengunyah semua masalah zamannya. Tak jarang bahkan akal mereka menembus dinding waktu zaman mereka, dan merengkuh semua masalah yang terjadi berpuluh bahkan beratus tahun sesudah mereka pergi. Bukan karena ilmu yang datang bagai embun pagi yang diteteskan di atas daun otak mereka maka mereka tahu semuanya. Bukan, mereka mengunyah semua masalah zaman mereka melalui upaya memahami yang tidak pernah berhenti. Maka mereka selalu sanggup merespon semua masalah yang muncul di zaman mereka.

Mereka bukan orang yang tahu segala hal. Tapi mereka adalah pembelajar yang konstan yang selamanya dipicu oleh rasa ingin tahu yang tak habis-habis. Maka realitas menyediakan tantangan. Dan mereka memberikan solusi. Qur’an dan hadits sebagai sumber utama Islam dijaga Allah sepanjang zaman melalui akal-akal besar itu. Al Qur’an dikumpulkan di zaman Abu Bakar lalu ditulis secara formal di zaman Utsman dan dijadikan sebagai standar bacaan serta digandakan dalam lima mushaf. Ini yang kemudian dikenal sebagai mushaf utsmani. Dengan begitu kemurnian Al-Qur’an terjaga dari semua bentuk penyimpangan sepanjang masa. Selamanya.

Penjagaan kemurnian Hadist Rasulullah Saw mungkin jauh lebih kompleks. Di samping perlu waktu untuk memisahkan teks-teks Hadist dari teks-teks Qur’an karena secara lisan keduanya diucapkan oleh lisan yang sama tapi dengan rasa bahasa yang sedikit berbeda, juga rentang waktu pengucapannya serta jalur periwayatannya yang rumit. Tapi ada akal besar di zaman Umar Bin Abdul Aziz, yaitu Imam Al Zuhri, yang kemudian ditugasi sang khalifah untuk memulai kodifikasi hadist-hadist Rasulullah. Ratusan tahun kemudian dunia ilmu pengetahuan mengabarkan bahwa metode ilmu hadits ini adalah salah satu warisan pengetahuan Islam yang tidak pernah tertandingi oleh semua peradaban lain. Seandainya metode itu dipakai untuk meriwayatkan sabda-sabda Nabi Isa a.s., atau meriwayatkan para filosof Yunani, mungkin takkan ada riwayat yang sahih yang sampai kepada kita.

Akal-akal besar itu yang kemudian menjadikan ilmu fiqh sebagai ilmu yang terus menerus mengayomi pertumbuhan peradaban Islam, khususnya di era para imam pendiri mazhab dari Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafii dan Imam Ahmad, dari ujung abad pertama hingga awal abad ketiga hijrah. Ilmu fiqh telah berkembang menjadi ilmu pengetahuan yang menjawab semua masalah dalam semua aspek kehidupan. Imam Syafii bahkan mendirikan ilmu ushul fiqh yang jauh lebih solid dibanding ilmu logika dan filsafat Yunani. Mereka bahkan masih sempat menjawab masalah yang belum terjadi. Lalu ketika Imam Abu Hanifah ditanya mengapa mereka melakukan itu, beliau hanya tersenyum sembari menjawab: ”Orang berakal menyediakan jawaban sebelum pertanyaannya datang.”

Begitulah peradaban tumbuh dan berkembang di tangan akal-akal besar, yang sebenarnya juga tidak serba tahu, tapi karena mereka adalah pembelajar sejati. Mereka selalu ingin memahami segalanya secara lebih baik, maka mereka menjawab tantangan zaman mereka secara lebih baik. [Anis Matta, sumber : Serial Pembelajaran, Majalah Tarbawi]
10:48 | 13 komentar

Awalnya Pembelajaran, Ujungnya Kesempurnaan

Written By Admin BeDa on Sabtu, 21 November 2009 | 17:56


Lelaki buta huruf itu tiba-tiba disuruh membaca. Bukan. Bukan disuruh. Tepatnya dipaksa. Sampai tiga kali. Dan pecahlah peristiwa itu dalam sejarah manusia; lelaki buta huruf itu lantas diangkat menjadi nabi, bahkan penutup mata rantai kenabian hingga akhir zaman.

Begitulah perintah membaca mengawali pengangkatan Muhammad menjadi Nabi. Kelak, setelah menunaikan tugas kenabian itu selama 23 tahun, atau tepatnya 22 tahun 2 bulan 22 hari, Allah SWT menutup perjuangan beliau dengan satu ayat tentang kesempurnaan: ”Hari ini telah kusempurnakan bagimu agamamu, dan Ku-sempurnakan pula nikmat-Ku untukmu dan Aku ridho Islam sebagai agamamu.”

Risalah kenabian itu dibuka dengan perintah membaca, dan kelak ditutup dengan pernyataan penyempurnaan dan keridhoan. Awalnya adalah pembacaan. Ujungnya adalah penyempurnaan. Maka berkembanglah agama terakhir ini dari seorang Nabi menjadi seratusan ribu manusia Muslim, dari komunitas kecil para penggembala kambing jazirah Arab yang tandus menjadi sebuah peradaban besar yang memimpin kemanusiaan selama lebih dari seribu tahun.

Kitab kehidupan ini memang begitu seharusnya dipahami: bukalah ia dengan pembacaan yang menyeluruh, niscaya engkau akan mengkhatamkannya dengan kesempurnaan. Jika kita belajar lebih banyak di awal kehidupan, niscaya kita akan mencapai kesempurnaan di penghujung umur, dan menutup mata dengan senyum dalan keridhaan Allah SWT.

Cara kita menjalani hidup selamanya ditentukan oleh cara kita memahami hidup. Seperti apa cara kita memahami hidup, seperti itu pula cara kita menjalaninya. Coba masuk ke dalam hutan belantara tanpa peta. Pasti tersesat. Bahkan mungkin tidak bisa keluar. Begitu juga kehidupan. Membaca adalah peta. Makin menyeluruh dan akurat peta yang kita miliki, makin cepat dan pasti kita sampai ke tujuan.

Diantara pembelajaran dan kesempurnaan, ada satu jembatan emas yang menghubungkannya: pertumbuhan. Pertumbuhan adalah adalah jalan menuju kesempurnaan. Mereka belajar maka mereka tumbuh. Kesempurnaan adalah ujung hidup yang dicapai dari tapak demi tapak kehidupan. Mereka menjadi sempurna karena mereka tidak pernah berhenti menjadi lebih baik. [Anis Matta, sumber : Serial Pembelajaran, Majalah Tarbawi]
17:56 | 4 komentar

Mendaki Sejarah

Written By Admin BeDa on Jumat, 20 November 2009 | 15:58


Di alam batin para pahlawan, pencinta dan pembelajar sejati, hidup selalu dimaknai dengan pendakian sejarah. Kita akan sampai ke puncak kalau kita selamanya mempunyai energi dan rute pendakian yang jelas. Pendakian kita akan terhenti begitu kita kehabisan nafas dan kehilangan arah. Energi dan rute, nafas dan arah, adalah kekuatan fundamental yang selamanya membuat kita terus mendaki, selamanya membuat hidup terus bertumbuh.

Semakin tinggi gunung yang kita daki, semakin panjang nafas yang kita butuhkan. Begitu kita kehabisan oksigen, kita mati. Semakin kita berada di ketinggian semakin kita kekurangan oksigen. Itu sebabnya kita harus merawat dan mempertahankan semangat kepahlawanan kita. Karena dari sanalah kita mendapatkan nafas untuk terus mendaki.

Tapi kita perlu rute yang akurat dan jelas. Sebab kesadaran tentang jarak memberikan kita kita kesadaran lain tentang bagaimana mendistribusikan energi secara seimbang dan proporsional dalam jarak tempuh yang harus dilalui dan pada lama waktu yang tersedia.

Rute yang jelas dan akurat akan membuat kita jadi terarah. Keterarahan, atau perasaan terarah, sense of direction, memberi kita kepastian dan kemantapan hati untuk melangkah. Pandangan mata kita jauh menjangkau masa depan, menembus tabir ketidaktahuan, keraguan dan ketidakpastian. Kita tahu ke mana kita melangkah, berapa jauh jarak yang harus kita tempuh, berapa lama waktu yang kita perlukan. Ketika kita menengok ke belakang, atau melihat ke bawah, ke kaki gunung yang telah kita lalui, ke lembah ngarai yang terhampar di sana, kita juga tahu jarak yang telah kita lalui. Ilham dari masa lalu dan mimpi masa depan terajut indah dan cerah dalam realitas kekinian.

Rute itu membuat kita menjalani kehidupan dengan penuh kesadaran akan jarak dan waktu. Dalam kesadaran ini fokus kita tertuju pada semua upaya untuk menjadi efisien, efektif dan maksimal. Kita menjadi peserta kehidupan yang sadar, kata Muhammad Iqbal.

Kesadaran itu manifestasi pembelajaran. Kesadaran itu melahirkan kekhusyukan. Maka begitulah sejak dini benar, tepatnya pada tahun keempat periode Makkah, Allah menegur keras para sahabat Rasulullah SAW, generasi pertama Islam, untuk tidak banyak bercanda dan segera menjalani kehidupan dengan kekhusyukan:

“Belumkah datang saatnya bagi orang-orang yang beriman untuk mengkhusukkan diri mengingat Allah dan (melaksanakan) apa yang turun dari kebenaran itu (Al- Qur’an)”. [Anis Matta, sumber : Serial Pembelajaran, Majalah Tarbawi]
15:58 | 7 komentar

Karakteristik Kader Pilihan

Written By Admin BeDa on Kamis, 19 November 2009 | 15:56

We are sorry, starting from 13rd March 2010, Karakteristik Kader Pilihan cannot displayed. Sorry for this uncomfortable. This page, Karakteristik Kader Pilihan, deleted by blog owner because of some reason. Please to be understood.

Once more, we're sorry to visitors of BERSAMA DAKWAH blog. We hope you back to HOME. Thank you.
15:56 | 14 komentar

Tatsqif Manhaj 1427 H

Written By Admin BeDa on Rabu, 18 November 2009 | 15:46


Tatsqif sebenarnya merupakan terminologi Arab yang berasal dari kata tsaqafa. Artinya, pemberian wawasan. Dan memang begitulah ia adanya. Dengan tatsqif, kader dakwah akan mendapatkan wawasan keilmuan khususnya tsaqafah Islamiyah; wawasan keislaman.

Tatsqif yang merupakan salah satu wasaailut tarbiyah (perangkat/sarana tarbiyah) juga sering dipakai sebagai akronim dari kata tarbiyah tsaqafiyah. Artinya, ia adalah kajian keislaman yang dengannya para kader dakwah memperoleh pemahaman Islam yang syamil, serta mendapatkan bekal untuk menjadi seorang kader yang memiliki syakhsiyah Islamiyah (kepribadian Islami) dan syakhsiyah daiyah (kepribadian dai). Dengan demikian, tatsqif diharapkan mampu mendukung terbentuknya kader-kader dakwah yang produktif.

Dalam setiap jenjang tarbiyah pada manhaj 1427 H, tatsqif menjadi salah satu sarana yang harus dilaksanakan oleh struktur dan diikuti oleh semua kader. Ini sekaligus akan menjawab tantangan zaman kita mengenai lemahnya basis pengetahuan keislaman kader tarbiyah, khususnya mereka yang tidak memiliki latar belakang pendidikan syar'i. Sungguh miris ketika mendengar keluhan-keluhan kader dakwah yang tidak mampu menjawab sekian banyak pertanyaan masyarakat serta tidak dapat memberikan solusi atas problematika mereka.

Bukankah Al-Islam huwal hallu (Islam adalah solusi)? Jika ditarik garis lurus yang lebih panjang, itu artinya, dakwah kita harus berbasis pada solusi. Dan setiap solusi itu membutuhkan basis keilmuan yang kuat. Ini mengharuskan setiap kader dakwah meng-up grade kapasitas keilmuannya. Dan melalui tatsqif, jamaah dakwah hendak memfasilitasi itu; tentu saja tanpa mengesampingkan halaqah, daurah, dan juga tarbiyah dzatiyah.

Tatsqif dalam manhaj 1427 H ini juga memiliki titik pertemuan dengan persiapan dakwah menyongsong mihwar daulah. Karenanya, salah satu dari enam persiapan dalam menyongsong mihwar daulah, menurut Ust. Cahyadi Takariawan adalah persiapan fikriyah, persiapan keilmuan. Dan ini mutlak membutuhkan tatsqif. Barang kali, ini juga alasan mengapa Anis Matta menulis serial pembelajaran dalam majalah Tarbawi.

Akhirnya, yang perlu kita evaluasi –secara pribadi- pada hari ini adalah: Sudahkah kita aktif menghadiri tatsqif yang disediakan oleh jamaah atau justru kita malas menghadirinya? [Muchlisin]
15:46 | 9 komentar

Pahlawan, Pecinta dan Pembelajar


Semangat kepahlawanan dan kekuatan cinta adalah sumber energi yang menggerakkan segenap raga kita untuk menciptakan taman kehidupan yang indah bagi diri kita dan orang lain. Tapi pembelajaran menuntun kita untuk berjalan dengan cara yang benar pada peta jalan yang tepat menuju ke sana.

Semangat kepahlawanan dan kekuatan cinta adalah sumber energi yang mendorong kita untuk terus-menerus memberi, untuk berkontribusi tanpa henti dalam menciptakan taman kehidupan yang indah itu. Tapi pembelajaran menuntun kita untuk mengembangkan kapasitas diri kita, juga tanpa henti, agar semangat memberi berbanding lurus dengan kemampuan kita untuk memberi. Sebab mereka yang tidak punya apa-apa, kata pepatah Arab, takkan bisa memberi apa-apa.

Semangat kepahlawanan dan kekuatan cinta adalah sumber energi yang lahir dari keikhlasan dan ketulusan niat, tumbuh berkembang dalam lingkungan hati yang mulia dan luhur, mekar dan berbuah dalam rengkuhan jiwa yang baik dan bijak. Maka seluruh niatnya adalah kebajikan. Maka segala cintanya adalah ketinggian. Tapi pembelajaran membingkai niat baik itu denga cara yang benar dan tepat.

Maka berpadulah ketulusan dengan kebenaran. Maka bertautlah kebaikan dengan ketepatan. Maka menyatulah keluhuran dengan keterarahan. Maka bersamalah ketinggian cita dengan peta jalan yang terang benderang.

Begitulah pada mulanya pahlawan sejati menapaki tilas sejarah mereka. Mereka mendengar panggilan sejarah yang diteriakkan oleh pekik nurani mereka. Maka mereka terbangun, tersadar, lalu bergerak. Lalu datanglah cinta memberi tenaga pada gerak mereka. Maka langkah kaki mereka menancap kokoh di tapak sejarah, melaju secepat angin, kuat bertenaga bagai badai. Tapi mereka menyadari makna waktu dalam aksi mereka; bahwa ada keterbatasan waktu yang tidak bisa mereka kendalikan padahal cita mereka teramat tingggi; bahwa memberi adalah proses yang tak boleh berhenti seperti kompetisi maraton yang mensyaratkan nafas panjang. Mereka memiliki sumber energi yang dahsyat, tapi mereka juga tahu bagaimana mengelola energi itu untuk bisa menciptakan karya kehidupan yang maksimal. Mereka menyadari bahwa mereka memiliki keterbatasan yang rapuh, tetapi mereka juga tahu bagaimana mensiasati keterbatasan itu untuk bisa tetap bertumbuh sampai ke puncak. [Anis Matta, sumber : Serial Pembelajaran, Majalah Tarbawi]
06:58 | 15 komentar

Wasiatku Kepada Kalian, Wahai Ikhwan

Written By Admin BeDa on Senin, 16 November 2009 | 16:07


Kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah swt. Kita ucapkan shalawat dan salam untuk junjungan kita Nabi Muhammad, segenap keluarga dan sahabatnya, serta siapa saja yang menyerukan dakwahnya hingga hari kiamat.

Wahai Ikhwan yang terhormat, saya sampaikan salam penghormatan Islam, salam penghormatan dari Allah, yang baik dan diberkahi: assalaamu 'alaikum wa rahmatullah wa barakatuh.

Sebelum kita memasuki kajian tentang kitab Allah swt. saya ingin mengingatkan wahai Ikhwan, bahwa ketika menyampaikan kajian- kajian ini, kita tidak semata-mata bertujuan untuk memperoleh pemahaman dan melakukan analisis ilmiah. Tujuan kita adalah membimbing ruhani dan akal untuk memahami makna-makna umum yang dising- gung dalam Kitabullah. Sehingga dari sini kita dapat memiliki sarana untuk memahami Al-Qur'anul Karim, ketika kita membacanya. Dengan demikian, kita telah melaksanakan sunah tadabur, tadzakur, dan mengambil pelajaran sebagaimana yang disebutkan di dalam kitab Allah swt. "Sesungguhnya Kami telah mudahkan Al-Qur'an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran itu?" (Al-Qamar: 32) "Ini sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah, supaya mereka memperhatikan ayat-ayat-Nya dan orang-orang yang mempunyai pikiran mengambil pelajaran." (Shad: 29)

Ikhwanku yang tercinta, kajian-kajian tentang ayat-ayat Al-Qur'an Al-Karim yang hendak saya sampaikan ini, tidak saya maksudkan meng- himpun secara lengkap dan luas aspek-aspek ilmiah dalam tema yang sedang kita bahas, tetapi saya sekedar ingin mengarahkan ruhani, hati, dan pikiran kepada maksud-maksud luhur yang dikehendaki oleh Kitab Allah swt, Al-Qur'anul Karim, ketika mengemukakan suatu pengertian. Jika ini telah terwujud, wahai Akhi, maka di depan Anda dan di depan para pembahas yang lain terbuka pintu yang lebar untuk mengadakan kajian dan analisa. Silahkan mengkaji sekehendak Anda dan mempelajari sedetail-detailnya. Sungguh saya percaya, Ikhwan tercinta, saat-saat ketika kita berbahagia dengan perjumpaan kita semacam ini, tidak memberikan kesempatan yang leluasa kepada kita untuk mengadakan analisis ilmiah yang menguraikan tema pembahasan dari segala sisi.

Ikhwanku, satu-satunya tujuan kita dari kajian-kajian ini adalah agar lata dapat merenungkan isi kitab Allah swt. Ia ibarat lautan yang kaya dengan mutiara. Dari sisi mana pun Anda mendatanginya, Anda akan memperoleh kebaikan yang melimpah ruah.

Karena itu, pembahasan kita berkisar pada tujuan-tujuan yang ber- sifat global dan umum, yang dikemukakan oleh ayat-ayat Al-Qur'anul Karim. Ikhwan sekalian, marilah kita tolong-menolong untuk menyingkapnya. Alhamdulillah, tujuan-tujuan tersebut cukup jelas dan gamblang. Harapan kita, semoga masing-masing dari kita memperoleh kunci pemahaman kitab Allah, untuk memahami ayat-ayatnya. Dengan demikian, ia dapat meng-gunakan kunci tersebut untuk berinteraksi langsung dengannya setiap kali ia memperoleh waktu luang dan setiap kali ia ingin menambah cahaya, faedah, dan manfaat yang ditimbanya dari Kitab ini.

Saya tidak mengklaim bahwa kajian-kajian ini merupakan puncak segala kajian, karena setiap kali manusia melakukan penjelajahan pikiran dan pandangan mereka terhadap kitab Allah swt. niscaya ia akan mendapati makna-maknanya ibarat gelombang laut yang tak pernah habis dan tidak bertepi. Karena Al-Qur'an adalah firman Allah Yang Maha- tinggi dan Mahabesar.

Pesan saya kepada kalian, wahai Ikhwan, hendaklah kalian men- jalin hubungan dengan Al-Qur'an setiap saat, supaya kalian mampu mendapatkan ilmu baru setiap kali berhubungan dengannya.

Ya Allah, janganlah Engkau biarkan kami mengurus diri kami sendiri walau sekejap pun, atau lebih cepat dari itu, wahai Sebaik-baik Dzat Yang Mengabulkan! [Hasan Al-Banna, Sumber: Ceramah-Ceramah Hasan Al-Banna]
16:07 | 13 komentar

Keangkuhan yang Rapuh

Written By Admin BeDa on Sabtu, 14 November 2009 | 09:27


Karena dunia, dalam benak kita sebagai manusia, adalah lukisan yang tak selesai, maka selamanya cara pandang kita tentang dunia dan hidup kita akan mengandung kenaifan yang permanen. Dan itu selamanya akan menurun pada sikap-sikap kita yang juga naif. Sebab sikap-sikap kita adalah buah dari cara pandang dan pemahaman kita tentang sesuatu.

Sekarang, walaupun kita hidup di tengah sebuah peradaban ilmu dan teknologi yang canggih, akses tak terbatas pada sumber informasi yang juga tak terbatas, di mana setiap hari kita dicekoki dengan doktrin bahwa pengetahuan adalah kekuasaan, di mana apa yang ada di alas bumi, di perut bumi, dan di angkasa sana semuanya masuk dalam wilayah penjelajahan ilmu pengetahuan manusia modern; semua itu tidak bisa menghapus fakta kita bahwa lukisan kita tentang dunia ini tetaplah tak pernah selesai, dan karenanya kenaifan kita sebagai manusia tetap permanen. Begitulah Allah menitahkan: “Dan tiadalah kamu diberi ilmu kecuali hanya sedikit.”

Tapi doktrin bahwa pengetahuan adalah kekuasaan adalah doktrin yang sebenarnya benar. Pengetahuan, dalam sejarah peradaban manusia, selalu berbanding lurus dengan kekuasaan. Peradaban Yunani, Romawi, Islam dan sekarang Barat, semuanya menjadi pemimpin peradaban manusia di eranya karena basis pengetahuan mereka yang sangat kokoh. Bahkan, dalam sejarah nabi-nabi, Sulaiman menjadi begitu berkuasa juga karena pengetahuannya, serta banyaknya ilmuwan yang menjadi pembantunya. Pengetahuan adalah landasan bagi sebuah kekuasaan yang kokoh.

Namun masalah manusia juga muncul dari situ, pertambahan pengetahuan biasanya memang membuat manusia makin berkuasa. Tapi semakin berkuasa, manusia berpeluang menjadi sombong, angkuh dan melampaui batas. Dan itu ironis. Karena pengetahuannya sebenarnya tak pernah lengkap, tak pernah sempurna, jadi alasan untuk sombong dan angkuh juga tak pernah cukup. Keangkuhan manusia itu selamanya rapuh.

Masalahnya adalah bahwa kesombongan dan keangkuhan itu adalah sifat Allah. Berbeda dengan sifat Allah yang lain, Allah sama sekali tidak mengizinkan manusia mengambil sifat itu. Maka dosa manusia yang paling cepat dibalas Allah adalah kesombongan. Dan Allah punya ribuan cara untuk memangkas dan bahkan meluluhlantakkan kesombongan manusia itu. misalnya melalui bencana alam. Sebagian maksud dari begitu banyak bencana alam yang terjadi di dunia kita adalah meluluhlantakkan keangkuhan manusia itu. Seakan-akan Allah hendak berkata: coba kalau kamu bisa!

Bahkan ketika salah seorang nabi dan Rasul-Nya, Nabi Musa a.s., suatu saat merasa terlalu tahu, Allah pun memangkas perasaan itu dalam dirinya. Itulah latar dari cerita pembelajaran Nabi Musa kepada Khidir. Itu cara Allah mengajarkan beliau akan makna keangkuhan manusia yang rapuh, makna kerendahan hati dan kesadaran yang mendalam bahwa “Dan di atas setiap orang yang memiliki ilmu, ada Yang Maha Mengetahui.”

Makna itulah yang diajarkan juga oleh Imam Ghazali, bahwa “Siapa yang mengatakan dia telah tahu, maka sesungguhnya dia bodoh.” Makna itu pula yang diajarkan Imam Ahmad bin Hanbal ketika beliau mengatakan, bahwa “Siapa yang mengatakan Allaahu a’lam bish Shawab (Allah lebih tahu apa yang benar), maka dia telah mendapat setengah pengetahuan.”

Kita takkan pernah bisa menjadi pembelajar sejati kecuali ketika kita menyadari ketidaktahuan kita, sekaligus merasakan kebutuhan yang kuat untuk mengetahui. [Anis Matta, sumber : Serial Pembelajaran, Majalah Tarbawi edisi 215 hal.80]
09:27 | 13 komentar

Khutbah Jum’at: Amal di Bulan Dzulhijjah

Written By Admin BeDa on Jumat, 13 November 2009 | 07:24


Alhamdulillah, blog BERSAMA DAKWAH bisa menampilkan kembali Khutbah Jum'at setelah 2 pekan absen. Bertepatan dengan pekan terakhir bulan Dzulqa'dah dan kurang sepekan kita memasuki bulan Dzulhijjah, Khutbah Jum'at kali ini mengambil tema Amal di Bulan Dzulhijjah. Semoga bermanfaat.

KHUTBAH PERTAMA

الْحَمْدُ للهِ القَوِيِّ المَتِينِ، سُبْحَانَهُ خَلَقَ الإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ، وَهَدَاهُ لِلْمَنْهَجِ القَوِيمِ، وَسَنَّ شَرَائِعَ فِيهَا القُوَّةُ وَالتَّمكِينُ، بِحِكْمَتِهِ نُؤْمِنُ، وَبِقُدْرَتِهِ نُوقِنُ، عَلَيْهِ نَتَوَكَّلُ، وَإِيَّاهُ نَستَعِينُ، أَحْمَدُهُ تَعَالَى بِمَا هُوَ لَهُ أَهْلٌ مِنَ الْحَمْدِ وَأُثْنِي عَلَيْهِ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيَّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُ اللهِ وَرَسُولُهُ، لَمْ يَزَلْ مُتَوَكِّلاً عَلَى رَبِّهِ، وَاثِقًا بِوَعدِهِ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ، وَعَلَى كُلِّ مَنْ اقْتَفَى أَثَرَهُ وَتَرَسَّمَ خُطَاهُ إِلَى يَومِ الدِّينِ.
{ يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ } [آل عمران: 102] .
{ يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا } [النساء: 1] .
{ يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلا سَدِيدًا * يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا } [الأحزاب: 70، 71].

Jama’ah Jum’at yang dirahmati Allah SWT,
Segala puji hanyalah milik Allah. Maka tiada hal lain yang lebih pantas untuk kita ucapkan setalah menyadari nikmat-nikmatNya, kecuali memuji-Nya dengan segala pujian yang diajarkan-Nya kepada kita. Lalu hati kita juga khusyu’ mensyukuri nikmat-nikmat itu, seraya memimpin anggota bada kita untuk tunduk dan taat dalam menjalankan ibadah semata-mata kepada-Nya. Hanya dengan integrasi ketiga bentuk amal itulah syukur kita menemukan hakikatnya.

Ayyuhal muslimuun hafidzakumullah,
Kita saat ini tengah berada di penghujung bulan Dzulqa’dah. Kurang dari sepekan kita akan memasuki bulan Dzulhijjah 1430 H. Dengan demikian kita telah 2 bulan keluar dari madrasah Ramadhan, dan kini bersiap dengan tarbiyah Allah SWT yang lain, yakni madrasah Dzulhijjah.

Mengapa disebut madrasah Dzulhijjah? Karena pada bulan ini ada tiga ibadah besar yang sarat dengan nilai-nilai tarbiyah; haji, shalat idul adha dan qurban. Di samping ada pula ibadah sunnah muakkad bagi yang tidak menunaikan haji yakni puasa arafah.

Ayyuhal muslimuun rahimakumullah,
Karenanya, melalui mimbar Jum’at ini khatib mengajak diri sendiri dan kita semua untuk mempersiapkan diri menyongsong bulan Dzulhijjah ini. Sehingga saat ia datang menjumpai kita, kita telah siap dengan amal-amal di bulan ini sekaligus mengambil nilai-nilai tarbiyah yang ada di dalamnya.

Haji
Saat ini sebagian saudara-saudara kita yang menunaikan ibadah haji telah berada di tanah suci. Inilah rangkaian ibadah yang mengandung muatan tarbiyah historis yang luar biasa. Agar manusia mengambil pelajaran yang tak ternilai dari sana. Bukan hanya bagi mereka yang sudah dipanggil Allah dalam menunaikannya, tetapi juga bagi kita yang belum berkesempatan menjalankan rukun Islam yang kelima.

Diantara pelajaran yang begitu tampak dari ibadah haji adalah deklarasi persamaan derajat manusia di dalam Islam. Islam bukanlah agama yang mempertahankan atau mendukung diskriminasi atas dasar warna kulit dan suku bangsa. Allah tidak membedakan manusia dari segi hartanya, popularitas, maupun jabatan dan kekuasaannya. Karenanya berkumpullah jutaan orang di Masjidil Haram, 260 ribu diantaranya dari Indonesia; mereka setara! Semuanya berbaur menjadi satu sebagai hamba Allah; tak ada bedanya antara presiden dan rakyat biasa, tak ada bedanya antara direktur dan petani-petani desa. Bahkan saat ihram, sekaya dan setinggi apapun jabatan seseorang, mereka semua sama hanya berbalut kain ihram yang tidak berjahit.

Kita pun, yang tidak berada di Masjidil Haram, seharusnya sadar akan hakikat nilai manusia di hadapan Allah SWT. Mereka semua sama. Yang membedakan dan membuat seseorang lebih mulia daripada lainnya adalah ketaqwaannya.
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ [الحجرات/13]
Sesungguhnya manusia yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah adalah yang paling bertaqwa. (QS. Al-Hujurat : 13)

Hakikat ini seharusnya tertanam kuat dalam jiwa kita dan menjadi pemicu bagi kita untuk terus meningkatkan ketaqwaannya. Sementara banyak orang yang mengumpulkan bekal untuk kehidupan dunianya, Allah menunjukkan pula kepada kita untuk mempersiapkan sebaik-baik bekal, yakni taqwa.
وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى [البقرة/197]
Dan berbekallah kalian. Sesungguhnya bekal yang terbaik adalah taqwa. (QS. Al-Baqarah : 197)

Jama’ah Jum’at yang dirahmati Allah SWT,
Selain nilai tarbiyah di atas, haji juga sarat dengan napak tilas sejarah Nabi Ibrahim dan keluarganya. Ka’bah merupakan tempat ibadah yang dibangun pertama kali oleh Nabi Ibrahim. Ia simbol ketauhidan, dan ke arahnya umat Islam berkiblat dalam shalat. Sai mengingatkan ikhtiar serius istri Nabi Ibrahim, Hajar, dalam upaya regenerasi ahli tauhid. Melontar jumrah juga merupakan simbol perlawanan kepada syaitan, yang telah dicontohkan Nabi Ibrahim, dan hingga kiamat nanti statusnya memang tidak pernah berubah; syaitan adalah musuh yang nyata bagi orang yang beriman.

Lebih dari itu, semua ibadah haji merupakan kepatuhan dan ketundukan total kepada Allah sebagai pembuat syariat. Bagaimana petunjuk Allah dalam beribadah, begitulah kita harus mengerjakannya. Bagaimana perintah Allah kepada orang beriman, begitulah ia harus sami’na wa atha’na. Dengan demikian ibadah haji menjadi ibadah yang sangat berat. Selain menyediakan biaya yang sangat besar dan membutuhkan fisik yang prima, kondisi ruhiyah juga harus terjaga selama ibadah ini ditunaikan. Maka, sebanding dengan beratnya kombinasi dari ibadah qalbiyah, ibadah badaniyah, dan ibadah maliyah ini, Allah telah menyediakan balasan yang luar biasa pula:
الْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلاَّ الْجَنَّةُ
Haji yang mabrur, tidak ada balasannya kecuali surga. (HR. Bukhari dan Muslim)

Lalu bagaimana dengan kita yang di bulan Dzulhijjah 1430 H ini belum mampu menunaikan haji? Masih ada banyak kesempatan amal untuk kita kerjakan.

Memperbanyak ibadah dan amal shalih di sepuluh hari pertama Dzulhijjah
Bagi kita yang tidak berhaji pun, kesempatan emas terbuka untuk meraih banyak keutamaan di bulan Dzulhijjah. Memperbanyak ibadah pada tanggal 1 Dzulhijjah sampai dengan 10 Dzulhijjah merupakan pilihan yang cerdas, sebab banyak hadits yang menjelaskan keutamaannya. Ibadah itu bisa berupa memperbanyak shadaqah, berdzikir, tilawah, dan amal shalih lainnya.

Rasulullah SAW bersabda:

مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ فِيهِ أَفْضَلُ مِنْ عَشَرِ ذِي الْحِجَّةِ، قِيلَ: وَلا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ؟ قَالَ: وَلا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ قَالَ :« وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْجِعْ بِشَىْءٍ
“Tidak ada hari-hari di mana amal shalih lebih disukai oleh Allah Azza wa Jalla dari pada hari-hari ini, yakni hari pertama hingga kesepuluh Dzulhijjah.” Para shahabat pun bertanya, “Ya Rasulullah, meskipun dibandingkan dengan berjihad fi sabilillah?” Beliau menjawab, “Memang, meskipun dibandingkan dengan berjihad fi sabilillah, kecuali seorang yang pergi membawa nyawa dan hartanya, kemudian tidak satu pun diantara keduanya itu yang kembali (mati syahid).” (HR. Jamaah kecuali Muslim dan Nasai)

Dalam hadits yang lain Rasulullah SAW bersabda:

مَا مِنْ أَيَّامٍ أَعْظَمَ عِنْدَ اللَّهِ وَلاَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنَ الْعَمَلِ فِيهِنَّ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ الْعَشْرِ فَأَكْثِرُوا فِيهِنَّ مِنَ التَّهْلِيلِ وَالتَّكْبِيرِ وَالتَّحْمِيدِ
Tidak ada hari-ahri yang dianggap lebih agung oleh Allah SWT dan lebih disukai untuk digunakan sebagai tempat beramal sebagaimana hari pertama hingga kesepuluh Dzulhijjah ini. Karenanya, perbanyaklah pada hari-hari itu bacaan tahlil, takbir, dan tahmid. (HR. Ahmad)

مَا مِنْ أَيَّامٍ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ أَنْ يُتَعَبَّدَ لَهُ فِيهَا مِنْ عَشْرِ ذِى الْحِجَّةِ يَعْدِلُ صِيَامُ كُلِّ يَوْمٍ مِنْهَا بِصِيَامِ سَنَةٍ وَقِيَامُ كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْهَا بِقِيَامِ لَيْلَةِ الْقَدْرِ
Tidak ada hari-hari yang lebih disukai Allah untuk digunakan beribadah sebagaimana halnya hari-hari sepuluh Dzulhijjah. Berpuasa pada siang harinya sama dengan berpuasa selama satu tahun dan shalat pada malam harinya sama nilainya dengan mengerjakan shalat pada malam lailatul qadar. (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Baihaqi)

Puasa Arafah
Ayyuhal muslimuun hafidzakumullah,
Puasa ini disunnahkan bagi kita yang tidak sedang mengerjakan haji. Adapun bagi mereka para jamaah haji, mereka tidak diperbolehkan berpuasa. Saat itu mereka harus wukuf di Arafah. Dengan demikian, keutamaan hari Arafah bisa dinikmati oleh orang yang sedang berhaji maupun yang tidak sedang berhaji.

Keutamaan puasa Arafah ini diriwayatkan oleh Abu Qatadah r.a. :

سُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَرَفَةَ فَقَالَ « يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ وَالْبَاقِيَةَ »
Rasulullah SAW pernah ditanya tentang puasa hari Arafah, beliau menjawab, “Puasa itu menghapus dosa satu tahun yang lalu dan satu tahun berikutnya.” (HR. Muslim)

Subhaanallah, luar biasa. Mendengar keutamaan puasa Arafah ini, pantaslah bila pada hari Arafah itu banyak orang yang dibebaskan Allah SWT dari siksa neraka.

مَا مِنْ يَوْمٍ أَكْثَرَ مِنْ أَنْ يُعْتِقَ اللَّهُ فِيهِ عَبْدًا مِنَ النَّارِ مِنْ يَوْمِ عَرَفَةَ
Tidak ada satu hari yang pada hari itu Allah membebaskan para hamba dari api neraka yang lebih banyak dibandingkan hari Arafah. (HR. Muslim)

Shalat Idul Adha
Ikhwatal iman yahdikumullah,
Amal khusus di bulan Dzulhijjah berikutnya adalah Shalat Idul Adha. Jumhur ulama’ menjelaskan bahwa hukumnya sunnah muakkad, dan ada beberapa ulama’ yang berpendapat hukumnya wajib. Jika pada shalat idul fitri disunnahkan makan terlebih dahulu sebelum berangkat shalat, maka shalat idul adha adalah kebalikannya: disunnahkan makan setelah shalat id.

Berqurban
Ayyuhal muslimuun rahimakumullah,
Amal lainnya yang sangat istimewa dan khusus di bulan Dzulhijjah ini adalah qurban. Ibadah qurban ini juga sarat dengan nilai tarbiyah. Bahkan sejarah disyariatkannya qurban pada masa Nabi Ibrahim adalah sejarah pengorbanan, ketaatan, serta proses taurits di dalam keluarga muslim. Kita sekarang tidak diperintahkan untuk menyembelih Ismail-ismail kita, tetapi menyembelih kambing, domba, sapi, atau unta sebagai bentuk ketaatan dan pengorbanan kita kepada Allah SWT.

Keutamaan qurban sebagaimana yang disebutkan dalam hadits:

مَا عَمِلَ آدَمِىٌّ مِنْ عَمَلٍ يَوْمَ النَّحْرِ أَحَبَّ إِلَى اللَّهِ مِنْ إِهْرَاقِ الدَّمِ إِنَّهَا لَتَأْتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِقُرُونِهَا وَأَشْعَارِهَا وَأَظْلاَفِهَا وَإِنَّ الدَّمَ لَيَقَعُ مِنَ اللَّهِ بِمَكَانٍ قَبْلَ أَنْ يَقَعَ مِنَ الأَرْضِ فَطِيبُوا بِهَا نَفْسًا
Tidak ada amalan yang diperbuat manusia pada Hari Raya Kurban yang lebih dicintai oleh Allah selain menyembelih hewan. Sesungguhnya hewan kurban itu kelak pada hari kiamat akan datang beserta tanduk-tanduknya, bulu-bulu, dan kuku kukunya. Sesungguhnya sebelum darah kurban itu mengalir ke tanah, pahalanya telah diterima Allah. Maka tenangkanlah jiwa dengan berkurban. (HR. Tirmidzi)

Demikianlah amal-amal khusus selama bulan Dzulhijjah. Semoga Dzulhijjah 1430 ini semakin mendekatkan kita kepada Allah SWT sehingga kita memperoleh ridha, rahmat, dan ampuan-Nya. Dengan demikian, kita bisa berharap bertemu Allah kelak di surga.

KHUTBAH KEDUA

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ
أَشْهَدُ أنْ لا إلَهَ إلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، وأشهدُ أنَّ مُحَمَّدًا عبْدُه ورَسُولُه.
{ يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ } [آل عمران: 102]
{ يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلا سَدِيدًا * يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا } [الأحزاب: 70، 71].

اللَّهُمَّ صَلِّ وسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ وسَلّمْتَ عَلَى سَيِّدِنا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنا إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنا إِبْرَاهِيْمَ، فِي العَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنْ خُلَفَائِهِ الرَّاشِدِيْنَ، وَعَنْ أَزْوَاجِهِ أُمَّهَاتِ المُؤْمِنِيْنَ، وَعَنْ سَائِرِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعِيْنَ، وَعَنْ المُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِنَاتِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَعَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اللَّهُمَّ اجْعَلْ جَمْعَنَا هَذَا جَمْعًا مَرْحُوْمًا، وَاجْعَلْ تَفَرُّقَنَا مِنْ بَعْدِهِ تَفَرُّقًا مَعْصُوْمًا، وَلا تَدَعْ فِيْنَا وَلا مَعَنَا شَقِيًّا وَلا مَحْرُوْمًا.
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالعَفَافَ وَالغِنَى.

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ أَنْ تَرْزُقَ كُلاًّ مِنَّا لِسَانًا صَادِقًا ذَاكِرًا، وَقَلْبًا خَاشِعًا مُنِيْبًا، وَعَمَلاً صَالِحًا زَاكِيًا، وَعِلْمًا نَافِعًا رَافِعًا، وَإِيْمَانًا رَاسِخًا ثَابِتًا، وَيَقِيْنًا صَادِقًا خَالِصًا، وَرِزْقًا حَلاَلاًَ طَيِّبًا وَاسِعًا، يَا ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ.
اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَوَحِّدِ اللَّهُمَّ صُفُوْفَهُمْ، وَأَجْمِعْ كَلِمَتَهُمْ عَلَى الحَقِّ، وَاكْسِرْ شَوْكَةَ الظَّالِمِينَ، وَاكْتُبِ السَّلاَمَ وَالأَمْنَ لِعِبادِكَ أَجْمَعِينَ.

اللَّهُمَّ رَبَّنَا احْفَظْ أَوْطَانَنَا وَأَعِزَّ سُلْطَانَنَا وَأَيِّدْهُ بِالْحَقِّ وَأَيِّدْ بِهِ الْحَقَّ يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ.
اللَّهُمَّ رَبَّنَا اسْقِنَا مِنْ فَيْضِكَ الْمِدْرَارِ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الذَّاكِرِيْنَ لَكَ في اللَيْلِ وَالنَّهَارِ، الْمُسْتَغْفِرِيْنَ لَكَ بِالْعَشِيِّ وَالأَسْحَارِ.

اللَّهُمَّ أَنْزِلْ عَلَيْنَا مِنْ بَرَكَاتِ السَّمَاء وَأَخْرِجْ لَنَا مِنْ خَيْرَاتِ الأَرْضِ، وَبَارِكْ لَنَا في ثِمَارِنَا وَزُرُوْعِنَا وكُلِّ أَرزَاقِنَا يَا ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ.
رَبَّنَا آتِنَا في الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
رَبَّنَا لا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا، وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً، إِنَّكَ أَنْتَ الوَهَّابُ.
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الخَاسِرِيْنَ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدُّعَاءِ.

عِبَادَ اللهِ :إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي القُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ
07:24 | 9 komentar

Lukisan yang Tak Selesai

Written By Admin BeDa on Kamis, 12 November 2009 | 17:15


Setiap saat, dalam perjalanan hidup yang panjang, kita selalu menemukan satu per satu rahasia kehidupan. Setiap satu rahasia yang kita temukan, menambah pengetahuan kita tentang hidup. Setiap kali pengetahuan kita bertambah, kita menjadi lebih arif dan bijaksana.

Situasi itulah yang terekam dalam salah satu warisan hikmah orang Arab. Mereka mengatakan, sebodoh-bodohnya manusia, umur akan tetap membuatnya lebih bijaksana. Kebijaksanaan terbentuk dari akumulasi informasi yang membentuk pengetahuan kita tentang hidup. Karena seifatnya yang akumulatif, maka kesadaran hidup kita tidak akan pernah bisa terbentuk seketika. Karena tidak terbentuk seketika, maka sikap hidup kita juga berubah dari waktu ke waktu.

Tapi kapankah pengetahuan kita tentang hidup menjadi sempurna dan lengkap? Atau, jika pertanyaannya lebih mendasar lagi, bisakah pengetahuan kita tentang hidup menjadi sempurna dan lengkap? Jawabannya pasti. Tidak. Tidak akan pernah bisa pengetahuan kita tentang hidup ini menjadi sempurna dan lengkap. Salah satu sebabnya karena Allah setiap saat menciptakan makhluk-makhluk baru, baik manusia, hewan dan tumbuhan, atau benda-benda lain di alam raya ini, atau ciptaan-ciptaan yang tak terlihat seperti pikiran-pikiran dan ide-ide baru. “Dan Tuhanmu, menciptakan apa saja yang Dia kehendaki dan memilih dari ciptaan-ciptaan itu.” Setiap satu ciptaan baru tentu melahirkan fakta baru, yang kemudian terintegrasi ke dalam fakta-fakta yang ada sebelumnya, lalu terjadilah semacam rekonfigurasi keseluruhan fakta-fakta itu.

Itulah yang menjelaskan mengapa pengetahuan itu bersifat akumulatif, dan harus diwariskan secara turun temurun agar kita tidak setiap saat harus memulainya dari awal. Itu juga yang menjelaskan mengapa pengetahuan, seperti kata Ibnu Jauzi, harus diikat dengan tulisan; tulisan membuat proses pewarisannya menjadi lebih mudah. Warisan pengetahuan dari peradaban Yunani, Romawi dan Islam secara akumulatif diwarisi oleh Barat sekarang, dan lahirlah wajah peradaban baru seperti yang sekarang kita saksikan.

Karena pengetahuan kita tentang hidup ini tidak akan pernah sempurna dan lengkap, maka kesadaran hidup kita juga tidak akan pernah sempurna dan lengkap. Maka manusia kepada hidup, seperti tiga orang buta yang melukiskan gajah dari sudut yang mereka pegang. Ini adalah lukisan yang tak selesai. Dan takkan pernah selesai.

Sebab Allah sendiri yang mengatakan bahwa: “Tiadalah kamu diberi pengetahuan kecuali hanya sedikit saja.” Maka proses pembelajaran juga tak boleh selesai. Pepatah lama itu rasanya teramat bijak: “Tuntutlah ilmu dari buaian hingga liang lahat.” [Anis Matta, sumber : Serial Pembelajaran, Majalah Tarbawi edisi 214 hal.80]
17:15 | 2 komentar

Menyongsong Mihwar Daulah

Written By Admin BeDa on Rabu, 11 November 2009 | 15:36


Ada empat mihwar yang harus dilalui dakwah ini untuk mewujudkan visi yang dicita-citakannya; mihwar tandzimi, mihwar sya'bi, mihwar muassasi, dan mihwar daulah. Mihwar Daulah ditandai dengan penetrasi dakwah ke pemerintahan dan lembaga-lembaga negara. Dakwah pada mihwar ini, dengan demikian, mampu mempengaruhi dan mengelola negara sehingga kebijakan-kebijakannya sesuai dengan nilai-nilai Islam. Pada akhirnya, rakyatlah yang akan merasakan keadilan dan kesejahteraan dari negara yang kita cintai bersama.

Jika mihwar tandzimi berkonsentrasi pada pencetakan dan pembentukan kader sebagai basis operasional dakwah; mihwar sya'bi mulai memunculkan kader-kader dakwah untuk berperan di ranah publik membentuk basis sosial, mengintensifkan kegiatan dakwah 'ammah dan membentuk wajihah-wajihah; lalu mihwar muassasi mempertemukan dakwah dengan kegiatan dan kelembagaan politik serta penetrasi dakwah parlemen; maka mihwar daulah mendapatkan pekerjaan baru untuk menyiapkan pemimpin-pemimpin negara, blue print pemerintahan, regulasi dan perundang-undangan, serta pengelolaan negara. Sebagai konsekuensinya, beban dakwah yang semakin berat dan ranah kerja dakwah yang semakin luas ini membutuhkan persiapan-persiapan yang lebih besar dari pada mihwar-mihwar sebelumnya.

Untuk mendukung persiapan-persiapan itulah buku Menyongsong Mihwar Daulah ini ditulis oleh Ust. Cahyadi Takariawan. Maka, selain mengupas empat mihwar di atas –dengan terlebih dahulu diawali tulisan tentang dakwah, kewajiban, tujuan, metode, sampai aspek pertumbuhannya- hampir separuh buku ini berisi persiapan-persiapan aktivis dakwah dalam menyongsong mihwar daulah.

Persiapan itu dikelompokkan penulis menjadi 6 bagian; persiapan ruhani (ruhiyah), persiapan karakter (muwashafat), persiapan intelektual (fikriyah), persiapan fisik (jasadiyah), persiapan kompetensi (kafa'ah), serta persiapan materi (maaliyah).

Persiapan ruhiyah bersumber dari aqidah Islam, dan ia menjadi rahasia kekuatan Islam! Dengan persiapan ruhiyah tumbuhlah keyakinan yang kokoh dan terbentuklah sifat rabbaniyah. Dengan mengambil metode dakwah fase Makkiyah, persiapan ruhiyah ini harus diawali dari pembinaan aqidah yang benar lalu diikuti dengan pembersihan jiwa (tazkiyatun nafs).

Diantara parameter persiapan ruhiyah yang benar dalam menyongsong mihwar daulah adalah terbebasnya kader dari gejala kekeringan ruhaniyah, yaitu mudah dilanda kejenuhan dan kemalasan, mudah emosi dan tersinggung, mudah kecewa dan putus asa, serta mudah mengeluh dan meratapi kondisi.

Persiapan muwashafat mengharuskan kita untuk lebih serius dalam aktifitas tarbiyah. Persiapan muwashafat tidak lain adalah penyiapan kader dakwah melalui tarbiyah agar memiliki 10 muwashafat yang telah banyak kita hafal bersama; salimul aqidah (aqidah yang selamat), shahihul ibadah (ibadah yang benar), matinul khuluq (akhlak yang mulia), qadirun alal kasbi (berdaya secara ekonomi), mutsaqqaful fikri (wawasan yang luas), qawiyyul jismi (fisik yang sehat), mujaahidun linafsihi (memerangi nafsunya sendiri), munazhzhamun fi syu'unihi (teratur dalam segala urusannya), hariitsun ala waqtihi (manajemen waktu yang baik), dan nafi'un li ghairihi (bermanfaat bagi sesama).

Sebenarnya 10 muwashafat ini sudah menyangkut persiapan-persiapan lainnya seperti persiapan fikriyah, jasaadiyah, dan maaliyah. Namun penulis (Ust. Cahyadi Takariawan) hendak membahasnya lebih detail dan memberikan penekanan yang lebih. Karenanya persiapan-persiapan itu dibahas lebih lanjut.

Persiapan fikriyah dalam menyongsong mihwar daulah mengharuskan seorang kader untuk memiliki pengetahuan Islam secara lengkap dan pengetahuan modern sekaligus. Pengetahuan Islam yang dimaksud adalah penguasaan atas ilmu ushul ats-tsalatsah (tiga ma'rifat tentang Allah SWT, Ar-Rasul, dan Al-Islam), Al-Qur'an (kandungan dan ilmu-ilmu yang berhubungan dengannya), As-Sunnah (kandungan dan ilmu-ilmu yang berhubungan dengannya), ushul fiqih, aqidah, akhlak, dan fiqih, sirah nabawiyah dan tarikh umat Islam, ilmu bahasa Arab, sistem musuh dalam deislamisasi, studi Islam modern, serta fiqih dakwah.

Secara jamaah, pengetahuan modern harus dikuasai di semua bidangnya. Harus ada kader yang menguasai satu spesialisasi ilmu, sementara spesialisasi lain dikuasi oleh kader lainnya. Dengan demikian, ilmu yang dibutuhkan dalam pelayanan publik termasuk keahlian praktis dan keprofesian, pengelolaan negara dan teknologi, semuanya harus dimiliki. Sementara secara personal, kader dakwah harus menguasai ilmu yang menjadi profesinya serta memiliki pengetahuan umum di luar spesialisasinya.

Persiapan jasadiyah juga sangat diperlukan dalam mihwar daulah. Aktifitas yang semakin padat, baik amal tarbawi, amal mihani, maupun amal siyasi mutlak memerlukan kesiapan fisik yang prima. Maka, kebiasaan hidup sehat dan olahraga secara teratur menjadi kunci suksesnya persiapan jasadiyah ini.

Persiapan kompetensi mutlak diperlukan karena saat memasuki mihwar daulah, dakwah membutuhkan banyak SDM untuk memasuki posisi-posisi strategis dalam pemerintahan, baik eksekutif, legislatif, maupun yudikatif. Persiapan ini perlu dimulai dari pemetaan posisi strategis yang akan dikelola dan bagaimana kompetensi SDM yang diperlukannya. Selanjutnya, kader dengan kompetensi yang tepat-lah yang ditempatkan pada posisi strategis yang tepat.

Persiapan maliyah diperlukan dalam mihwar daulah, bahkan lebih besar dari mihwar sebelumnya. Ia diperlukan dalam skala individu dan kolektif. Maka kekuatan maaliyah ini harus dipupuk dengan aktifitas usaha sedini mungkin.

Mihwar daulah, selain membutuhkan enam persiapan di atas, juga membutuhkan keseimbangan peran antara ikhwan dan akhwat. Karenanya Ust. Cahyadi Takariawan membuat bab tersendiri yang membahas peran akhawat muslimah dalam dakwah. Selain mengemukakan penghargaan Islam kepada perempuan, peran akhawat muslimah di zaman keemasan Islam juga peran akhawat dalam gerakan dakwah modern. Mengakhiri bab terakhir ini, Ust. Cahyadi Takariawan menuliskan pedoman umum keterlibatan akhawat. Pertama, kesadaran dan partisipasi sosial politik. Kedua, fardhu kifayah dalam berperan di bidang sosial politik. Ketiga, peran dalam pendidikan sosial dan politik, utamanya di ranah tanggung jawabnya baik lingkungan keluarga atau pun lainnya.

Buku ini memang tidak membahas secara detail bagaimana metode dan langkah praktis persiapan-persiapan menyongsong mihwar daulah, karena ia memang menjadi urusan internal tarbiyah. Artinya, sasaran-sasaran yang dijelaskan dalam persiapan menyongsong mihwar daulah di buku ini akan dicapai dengan aktifitas tarbiyah dengan segala manhaj dan wasaail–nya. Sehingga jika pembaca menginginkan dirinya mampu memenuhi persiapan-persiapan itu tidak ada jalan lain kecuali bergabung dalam tarbiyah dan istiqamah di dalamnya. Satu harapan kita, semoga buku ini –sebagaimana promosinya di majalah tarbawi dan media lain- menjadikan kader lebih cerdas dan siap menyongsong mihwar daulah! Wallaahu a'lam bish shawab. [Muchlisin]

DALAM BENTUK E-BOOK, MENYONGSONG MIHWAR DAULAH BISA DI-DOWNLOAD DI DINI
15:36 | 45 komentar

Masukkan alamat e-mail untuk mendapatkan up date Bersama Dakwah