Assalaamu'alaikum ,  Ahlan wa Sahlan  |  Facebook  |  Twitter  |  Pasang Iklan

Muslim India Terpaksa Gunakan Nama Hindu

Written By Admin BeDa on Rabu, 30 Desember 2009 | 16:06


India menjadi negara ketiga di dunia yang paling besar jumlah populasi Muslimnya, setelah Indonesia dan Pakistan. Jumlah Muslimin di negara mayoritas penganut agama Hindu itu sekitar 140 juta orang. Meski jumlahnya signifikan, kaum Muslimin India sejak lama mengalami penindasan dan diskriminasi di sektor sosial dan ekonomi.

India hanya memberikan prosentase yang kecil bagi kaum Muslimin yang ingin bekerja misalnya di kepolisian, kemiliteran, departemen pemerintahan bahkan untuk menjadi mahasiswa di universitas-universitas negeri. Akibatnya, tingkat pendidikan dan pengangguran di kalangan komunitas Muslim India cukup tinggi dibandingkan kelompok minoritas lainnya seperti kaum Kristiani dan Sikhs.

Di India, bisnis berlian menjadi bisnis yang menguntungkan. Tapi tidak mudah bagi Muslim yang ingin mendapatkan pekerjaan di industri yang dimonopoli oleh mayoritas Hindu India. Banyak Muslim yang terpaksa menggunakan nama Hindu agar bisa mendapatkan pekerjaan dalam industri ini.

"Kami sudah melakukannya sejak lama sekali, kami sangat berhati-hati agar nama asli dan alamat kami tidak terbongkar di tempat kerja. Kami akan kehilangan pekerjaan jika mereka tahu bahwa kami Muslim," kata Allarakha, seorang pekerja muslim yang ikut menggunakan nama Hindu.

Keluarga Mehboob Pathan yang Muslim, juga melakukan hal yang sama. Ia, anak lelaki dan anak perempuannya menggunakan nama Hindu agar mendapatkan pekerjaan. "Seperti saya, ayah juga menyembunyikan identitas agamanya hanya agar bisa mendapatkan pekerjaan," kata anak lelaki Pathan, Mushtaq yang menggunakan nama Hindu "Mukesh".

Tapi keluarga itu mengalami peristiwa pahit karena menggunakan nama Hindu. Ayah Mushtaq yang menggunakan nama Hindu "Jayenti Bhatti" suatu hari menghilang dan mereka melaporkannya ke aparat berwenang. Tragisnya, ketika ditemukan, ayah Mushtaq sudah tewas dibunuh karena masalah uang dan jenazahnya dikremasi karena dikira penganut agama Hindu.

Kenyataan itu membuat keluarga Mushtaq syok dan menyesalkan pihak kepolisian yang menkremasi jenazah ayahnya. "Penyelidikan telah mengindentifikasi bahwa ayah saya seorang muslim. Kami terlalu miskin untuk melakukan apapun," keluh Mushtaq.

Tapi kepolisian berdalih ketika memutuskan dikremasi, mereka tidak tahu bahwa ayah Mushtaq seorang muslim. "Keluarganya datang terlambat, kami tidak bisa berharap lagi," ujar seorang pejabat polisi. (ln/iol, eramuslim)
16:06 | 24 komentar

Ashabul Ukhdud di Gaza

Written By Admin BeDa on Senin, 28 Desember 2009 | 17:20


Blokade dan pengembargoan terhadap saudara kita, kaum Muslimin di Jalur Gaza memiliki banyak kesamaan dengan apa yang diceritakan oleh Allah Swt dalam surat Al-Buruj, yaitu kisah pemblokadean terhadap kaum Muslimin di salah satu perkampungan di Yaman yang mana mereka diberangus dengan cara dibakar. Allah berfirman:

وَالسَّمَاء ذَاتِ الْبُرُوجِ ﴿١﴾ وَالْيَوْمِ الْمَوْعُودِ ﴿٢﴾ وَشَاهِدٍ وَمَشْهُودٍ ﴿٣﴾ قُتِلَ أَصْحَابُ الْأُخْدُودِ ﴿٤﴾ النَّارِ ذَاتِ الْوَقُودِ ﴿٥﴾ إِذْ هُمْ عَلَيْهَا قُعُودٌ ﴿٦﴾ وَهُمْ عَلَى مَا يَفْعَلُونَ بِالْمُؤْمِنِينَ شُهُودٌ ﴿٧﴾ وَمَا نَقَمُوا مِنْهُمْ إِلَّا أَن يُؤْمِنُوا بِاللَّهِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ ﴿٨﴾ الَّذِي لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ ﴿٩﴾

1. Demi langit yang mempunyai gugusan bintang, 2. Dan hari yang dijanjikan, 3. Dan yang menyaksikan dan yang disaksikan. 4. Binasa dan terlaknatlah orang-orang yang membuat parit [yaitu pembesar-pembesar Najran di Yaman] 5. Yang berapi (dinyalakan dengan) kayu bakar, 6. Ketika mereka duduk di sekitarnya, 7. Sedang mereka menyaksikan apa yang mereka perbuat terhadap orang-orang yang beriman. 8. Dan mereka tidak menyiksa orang-orang Mukmin itu melainkan Karena orang-orang Mukmin itu beriman kepada Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji, 9. Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu. (QS. Al-Buruj: 1-9)

Jika pembakaran Ashabul Ukhdud dilakukan dengan kayu bakar maka pemberangusan di zaman ini dilakukan dengan berbagai cara, mulai dari bom, rudal, granat sampai senjata-senjata terlarang di dunia internasional. Jika pemblokadean dan embargo terhadap kaum Mukmin pada kisah Ashabul Ukhdud didalangi oleh segerombolan orang Kafir yang zhalim, maka sekarang dipimpin oleh orang-orang terkeji dari kalangan manusia yang sangat memerangi kaum Mukminin. Mereka juga berkonspirasi dengan orang-orang Musyrik untuk memerangi kaum Muslimin, tetapi Allah Swt telah lebih dulu menunjukan kezaliman mereka dalam surat Al-Maidah. Allah berfirman:

لَتَجِدَنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَدَاوَةً لِّلَّذِينَ آمَنُواْ الْيَهُودَ وَالَّذِينَ أَشْرَكُواْ وَلَتَجِدَنَّ أَقْرَبَهُمْ مَّوَدَّةً لِّلَّذِينَ آمَنُواْ الَّذِينَ قَالُوَاْ إِنَّا نَصَارَى ذَلِكَ بِأَنَّ مِنْهُمْ قِسِّيسِينَ وَرُهْبَانًا وَأَنَّهُمْ لاَ يَسْتَكْبِرُونَ ﴿٨٢﴾

Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang Musyrik. Dan Sesungguhnya kamu dapati yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata: "Sesungguhnya kami ini orang Nasrani". Yang demikian itu disebabkan karena di antara mereka itu (orang-orang Nasrani) terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib. (juga) Karena Sesungguhnya mereka tidak menyombongkan diri. (QS. Al-Maidah: 82)

Satu-satunya yang disebutkan Allah sebagai penyebab kebencian kaum Musyrik terhadap kaum Mukmin adalah keimanan mereka kepada Allah Swt, sebagaimana firman-Nya:

وَمَا نَقَمُوا مِنْهُمْ إِلَّا أَن يُؤْمِنُوا بِاللَّهِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ ﴿٨﴾

Dan mereka tidak menyiksa orang-orang Mukmin itu melainkan Karena orang-orang Mukmin itu beriman kepada Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji. (QS. Al-Buruj: 8)

Dewasa ini, blokade dan embargo hanya terjadi kepada orang-orang yang menyatakan keimanan mereka secara terang-terangan. Sementara orang-orang yang membangun sistem sekuler, Timur, Barat, menjual hal-hal prinsipil secara total dan mengadaikan metode-metode agama justru hidup di rumah mereka dengan aman dan tentram!

Kendatipun blokade pada kisah Ashabul Ukhdud dan saudara-saudara kita di Jalur Gaza sangat mirip, namun dalam dua peristiwa itu terdapat juga banyak perbedaan yang cukup mencolok. Oleh karena itu, mari kita berhenti sejenak untuk merenunginya.

Ashabul Ukhdud merupakan sekelompok kaum Mukmin dari kalangan Nasrani yang diblokade di tengah kebisuan orang-orang Nasrani secara keseluruhan. Akan tetapi, kebisuan itu tidak dapat menyelematkan mereka sedikit pun dari kezhaliman. Sekte-sekte agama Nasrani juga mempunyai banyak perbedaan yang sangat mendasar di antara mereka. Perbedaan itulah yang menyebabkan hubungan emosional sesama mereka menjadi sirna. Akibatnya, berbagai perperangan kerap bergolak antara Katolik dan Ortodoks, Katolik dan Protestan dan Gereja Ortodoks dengan Armenia, bahkan antar sesama kalangan Ortodoks sendiri kerap terjadi pertikaian. Seperti itu yang Allah Swt sebutkan dalam firman-Nya:

وَمِنَ الَّذِينَ قَالُواْ إِنَّا نَصَارَى أَخَذْنَا مِيثَاقَهُمْ فَنَسُواْ حَظًّا مِّمَّا ذُكِّرُواْ بِهِ فَأَغْرَيْنَا بَيْنَهُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاء إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَسَوْفَ يُنَبِّئُهُمُ اللّهُ بِمَا كَانُواْ يَصْنَعُونَ ﴿١٤﴾

Dan diantara orang-orang yang mengatakan: "Sesungguhnya kami Ini orang-orang Nasrani", ada yang Telah kami ambil perjanjian mereka, tetapi mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka Telah diberi peringatan dengannya; Maka kami timbulkan di antara mereka permusuhan dan kebencian sampai hari kiamat. dan kelak Allah akan memberitakan kepada mereka apa yang mereka kerjakan. (QS. Al-Maidah: 14)

Allah Swt telah mengekalkan permusuhan di hati orang-orang Nasrani hingga Hari Kiamat kelak. Insiden-insiden pertikaian itu, telah membenarkan ketidaktolerannya orang-orang Nasrani sehingga mendorong mereka melakukan pembakaran terhadap saudara-sudara sendiri di Yaman sana. Akan tetapi, apa menjadi alasan kaum Muslimin hingga membisu menyaksikan peristiwa yang terjadi di Palestina? Allah telah mempersatukan hati-hati mereka, penyatuan ini merupakan nikmat termahal dari apa yang ada di permukaan bumi ini. Allah berfirman:

وَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ لَوْ أَنفَقْتَ مَا فِي الأَرْضِ جَمِيعاً مَّا أَلَّفَتْ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ وَلَكِنَّ اللّهَ أَلَّفَ بَيْنَهُمْ إِنَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ ﴿٦٣﴾

Dan yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman)[ penduduk Madinah yang terdiri dari suku Aus dan Khazraj selalu bermusuhan sebelum nabi Muhammad s.a.w hijrah ke Medinah dan mereka masuk islam, permusuhan itu hilang]. walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah Telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya dia Maha gagah lagi Maha Bijaksana. (QS. Al-Anfal: 63)

Allah juga menjadikan kasih sayang dan persatuan ini sebagai syarat untuk menapaki surga. Kita tidak akan masuk surga tanpa mencintai saudara-saudara kita. Rasulullah Saw bersabda:

وَاللَّهِ لاَ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا، وَلاَ تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا ….(رواه مسلم)

Demi Allah kalian tidak akan masuk surga sampai kalian beriman dan kalian tidak akan beriman sampai saling mencintai… (HR. Muslim)

Apa alasan kita membiarkan mereka di tengah pemblokadean itu? Sudah seharusnya sakit yang kita rasakan sama seperti sakit yang mereka rasakan, musibah menimpa kita layaknya musibah mereka, luka kita derita sama dengan luka yang mereka alami? Rasulullah Saw bersabda:

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ، إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى. (رواه مسلم)

Perumpaan kaum Mukminin dalam cinta dan kasih sayang, ibarat satu tubuh yang apabila satu anggotanya menderita sakit, maka seluruh tubuh akan turut merasakannya dengan tidak bisa tidur dan demam. (HR. Muslim)

Oleh karena itu, jika penduduk bumi mempunyai alasan saat terjadinya pemkaran terhadap Ashabul Ukhdud, maka tidak ada alasan bagi kaum Muslimin melengahkan saudara-saudara mereka di Jalur Gaza yang tengah diblokade, diembargo dan dibantai. Orang-orang di masa Ashabul Ukhdud tidak mendengar kisah itu kecuali setelah pemberangusan mereka. Hal itu, disebabkan oleh jarak yang sangat jauh dan tidak adanya prasarana komunikasi. Namun sekarang, kita menyaksikan langsung detik-detik pembakaran itu, bom saat diledakan, orang yang disembelih menjemput syahidnya dan saat-saat rumah dirobohkan, lantas apa alasan kita? Tidak diragukan lagi bahwa pertanyaan di hadapan Alalh mengenai embargo dan pembantaian ini akan sangat panjang! Tidak diragukan lagi itu akan susah untuk dijawab sehingga setiap Muslim harus menyiapkan jawabannya!

Setidaknya setiap Muslim menengadahkan tangannya untuk berdoa bagi saudara-saudara mereka di sana, semoga Allah mengokohkan pendirian mereka, dibebaskan dari embargo ini dan semoga Allah menolong mereka menghadapi musuh-musuh mereka. Paling tidak seorang Muslim berkontribusi meringankan musibah mereka melalui harta dan biaya hidup semampunya, karena itu adalah jihad yang sesungguhnya di jalan Allah swt.

Setidaknya, setiap Muslim di mana pun berada membicarakan prolematika Palestina, topik itu sebagai ganti dari membicarakan pertandingan Piada Dunia Afrika atau bicarakan hal-hal yang sepele, dan tidak pantas bagi umat yang tengah disembelih membicarakan hal-hal semacam itu.

Setidaknya, setiap Muslim kembali menggencarkan boikot terhadap segala bentuk produk Yahudi, AS bahkan sangat tidak logis presiden AS mengeluarkan semua potensinya dan mengunjungi negara-negara Islam untuk mendukung Gerakan Zionis melalui bidang politik, militer dan ekonomi, sementara kita menemukan seorang Muslim tidak dapat menikmati segelas air, gas atau sepatu dari perusahaan-perusahaan AS!

Ini masalah serius, ini perkara agung. Hari Kiamat akan datang tanpa diragukan lagi dan semua kita akan kembali kepada-Nya. Para pemimpin Muslim yang melihat seakan-akan tidak berbuat apa-apa, maka sebenarnya merekalah melahirkan kehinaan dan penghinaan itu. Mereka ridhai pengehinaan terhadap agama dan kehormatan mereka. Tidak diragukan lagi bahwa perhitungan mereka di hadapan Allah Swt amatlah sulit, walaupun mereka memiliki umur yang panjang tapi mereka akan tetap berhenti di hadapan Zat yang tidak akan pernah lalai dan tertidur. Allah berfirman:

وَلاَ تَحْسَبَنَّ اللّهَ غَافِلاً عَمَّا يَعْمَلُ الظَّالِمُونَ إِنَّمَا يُؤَخِّرُهُمْ لِيَوْمٍ تَشْخَصُ فِيهِ الأَبْصَارُ ﴿٤٢﴾

Dan janganlah sekali-kali kamu (Muhammad) mengira, bahwa Allah lalai dari apa yang diperbuat oleh orang-orang yang zalim. Sesungguhnya Allah memberi tangguh kepada mereka sampai hari yang pada waktu itu mata (mereka) terbelalak. (QS. Ibrahim: 42) [DR. Raghib As-Sirjani, Eramuslim.com]
17:20 | 14 komentar

Perahu Nuh

Written By Admin BeDa on Sabtu, 26 Desember 2009 | 17:09


Mereka mengejeknya. Mereka bilang itu pekerjaan yang sia-sia belaka. Mereka bilang tak ada hajat sama sekali untuk membuat perahu. Lantas mengapa? Mengapa Nuh membuatnya? Tapi Nuh toh tak bergeming. Ia tetap saja melanjutkan pekerjaannya. Ia bekerja dengan keyakinan penuh.

Mereka yang pandangan matanya pendek, selalu hanya melihat hujan yang turun di depan mata mereka. Mereka takkan sanggup melihat awan. Apalagi melihat awan menyerap air dari bumi. Mereka juga tidak bisa melihat bagaimana hujan mengubah wajah bumi kita. Mereka yang pandangan matanya pendek, selalu memfokuskan tatapannya pada hilir dari sebuah sungai. Mereka tidak pernah bisa melihat hulu dari mana sungai itu mengalir. Apalagi menemukan mata air yang menyemburkan air itu.

Sebagian dari kuasa pengetahuan itu terletak pada fakta bahwa ia membuka mata kita untuk melihat lebih jauh dari apa yang dapat dilihat orang lain, melihat horizon yang lebih luas dari apa yang mungkin dilihat orang lain, dan karenanya membantu tangan kita menjangkau lebih banyak dari apa yang dijangkau tangan orang lain. Pengetahuan membuka mata kita untuk melihat fakta-fakta secara lebih apa adanya, menyeluruh dan jelas, terang, dan karenanya membantu kita merekonstruksi realitas dalam kerangka ruang dan waktu, serta menentukan sikap dan tindakan terhadap realitas tersebut.

Pengetahuan yang diperoleh Nuh dari sumber wahyu tentang akan datangnya sebuah banjir besar mengharuskan beliau menyiapkan perahu. Beliau tahu apa yang akan terjadi, maka ia tahu apa yang harus dilakukan. Itu sebabnya beliau bekerja dengan keyakinan penuh, menanggapi semua ejekan dengan tenang, santai dan dingin. Beliau melihat lebih jauh dari kaumnya. Beliau lebih antisipatif dari kaumnya. Karenanya beliau bisa menjangkau lebih dari mereka.

Pengetahuan membuat ruang masa depan, dengan segenap peristiwa-peristiwanya, tergambar jelas dalam benak Nuh. Bahwa ada ancaman yang akan membinasakan mereka. Dan itu pasti, karena sumbernya dari langit. Maka perahu itu adalah tindakan antisipasinya. Itulah sebagian dari kuasa pengetahuan itu: ia membantu kita bereaksi secara tepat, bersikap secara teratur dan bertindak lebih cepat.

Mereka yang memiliki pengetahuan, biasanya memiliki speed of life yang lebih cepat. Speed itulah yang sering tidak dapat dipahami orang ramai. Maka mereka bereaksi secara negative: mengejek atau menuduh, bukan bertanya dan mencari tahu. [Anis Matta, sumber : Serial Pembelajaran Majalah Tarbawi edisi 218]
17:09 | 23 komentar

Hamdan: Tembok Baja Mesir Blokade Tambahan untuk Rakyat Palestina

Written By Admin BeDa on Jumat, 25 Desember 2009 | 17:48


Wakil Gerakan Perlawanan Islam Hamas di Lebanon, Osama Hamdan menegaskan keputusan Mesir untuk membangun sebuah tembok baja di perbatasan dengan Gaza menyulut kekhawatiran di kalangan rakyat Palestina yang melihatnya sebagai blokade tambahan yang tidak diharapkan itu datang dari Mesir, tetapi dia membantah bahwa masalah ini sudah mencapai titik krisis antara Hamas dan Kairo.

Dalam pernyataan pers kemarin, Kamis (24/12), Hamdan menegaskan bahwa komunikasi antara Hamas dan para pejabat Mesir tidak berhenti. Dia menyatakan harapannya Mesir akan menjadi pintu gerbang untuk membebaskan blokade terhadap Gaza bukan untuk memperketatnya. Dia mengatakan, "Ada kekhawatiran di pihak Palestina mengenai masalah pembangunan tembok baja oleh Mesir di sepanjang perbatasan dengan Gaza. Tembok ini mengirim pesan negatif kepada rakyat Palestina yang menganggapnya sebagai blokade tambahan. Dan mungkin mengisyaratkan persiapan Israel untuk melancarkan agresi baru terhadap Jalur Gaza. Kami berharap Mesir menjadi faktor yang membantu pembebasakan blokade dan tidak memperketatnya. Komunikasi antara kami dan saudara-saudara kami di Mesir tidak berhenti. Kami memberitahu mereka tentang keprihatinan rakyat Palestina mengenai masalaha tembok baja ini. Kita sedang menunggu sikap positif (Mesir)."

Apakah mungkin Hamas meminta Arab Saudi atau Liga Arab menjadi penengah untuk menghentikan pembangunan tembok di perbatasan Mesir dan Jalur Gaza? Hamdan mengatakan, "Arab Saudi selalu memiliki peran di tingkat Arab secara umum dan di Palestina secara khusus. Kami berharap ada juga dukungan Saudi dan Arab secara umum dalam membebaskan blokade yang diberlakukan terhadap rakyat Palestina. Kami tidak menangani masalah ini atas dasar bahwa di sana ada krisis (antara Hamas) dengan Mesir. Kita berbicara kepada Saudi dan Arab atas dasar peran positif mereka dalam masalah Palestina bukan atas dasar krisis dengan Mesir." (seto, infopalestina.com)
17:48 | 6 komentar

Hijrah dan Pilar-Pilar Kebangkitan Umat

Written By Admin BeDa on Rabu, 23 Desember 2009 | 16:31


Segala puji bagi Allah, salawat dan salam kepada sebaik-baik ciptaan Allah pemimpin dan teladan seluruh umat manusia, Nabi Muhammad saw dan keluarganya serta para sahabatnya semuanya, setelah itu;

Kita sedang memperingati perjalanan hijrah Nabi saw yang penuh berkah, dan saat ini kita sedang berada dibawah naungannya yang setiap tahunnya selalu kita peringatkan; hal ini menegaskan bahwa hijrah merupakan inspirasi yang tiada habis-habisnya, bekal yang tidak akan pernah berhenti memberikan pelajaran dan ibrah yang selalu kita cari dan kita butuhkan, apalagi pada saat ini kita hidup dalam realita yang penuh dengan kenistaan, terutama yang dialami oleh umat karena kelemahan dan keterbelakangan.

Sebagaimana kita ketahui bahwa hijrah merupaka titik tolak dan merupakan perubahan besar bagi lahirnya negara Islam dan kebangkitannya; karena itu pada saat kita memperingatinya kita dapat menjadikannya sebagai prinsip-prinsip utama dan poros yang sangat penting sebagaimana yang telah diajarkan oleh Al- Mustafa saw dan dapat dijadikan panduan bagi kehidupan kita semua, dan hijrah juga dapat dijadikan sebagai titik tolak terbesar bagi umat Islam dalam rangka menuju kebangkitan dari keterpurukan yang sedang diderita umat saat ini, karena degnan poros dan prinsip-prinsip itulah mampu membina dan membimbing generasi awal dari para sahabat sebelumnya sehingga mampu meletakkan diatasnya dasar-dasar negara Islam pertama, dan mereka telah memberikan dampak besar pada pembangunan peradaban Islam selama berabad-abad.

Jika kita ingin melakukan kebangkitan yang sebenarnya untuk umat Islam ini, dan mengembalikan kemuliaannya serta posisinya sebagai pemimpin ditengah umat lainnya; maka kita harus banyak mengambil pelajaran dari perjalanan hijrah dan apa yang terdapat di dalamnya dari berbagai prinsip dan langkah-langkahnya, berusaha dengan sungguh-sungguh untuk mempelajari prinsip-prinsip ini baik untuk diri sendiri dan realitas kehidupan kita, dan diantara inti dari prinsip-prinsip tersebut adalah:

• Ikhlas yang sempurna kepada Allah,

• Tajarrud yang penuh kepada Allah,

• Merasakan adanya ma’iyyatullah,

• Menjalin hubungan baik dengan Allah,

• Memiliki rasa percaya diri dan yakin akan kemenangan bagi tantara Allah,

• Memliki keinginan yang kuat dan semangat yang tinggi,

• Semangat dalam jihad dan pengorbanan, usaha, kesabaran dan ketekunan,

• Cermat dalam melakukan persiapan, perencanaan, kerja yang baik,

• Merangkum semua hal di atas dengan landasan cinta dan ukhuwah yang tulus, kejujuran, amanah dan kesetiaan serta ikhlas dalam menjalin hubungan antara sesama anggota di semua tingkat.

Generasi terbaik

Sungguh para muhajirin masa awal telah mendapatkan ujiannya namun mereka berhasil dan sama sekali tidak pernah merasa lemah terhadap apa yang menimpa mereka di jalan Allah, bahkan tidak pernah ada diri mereka perasaan kalah dan tunduk, begitupun kaum anshar yang diuji dengan kesetiaan dan pembelaan terhadap kaum muhajirin; akhirnya mereka berhasil dengan gemilang seperti yang dicatat oleh Allah dalam kitab-Nya:

وَعَزَّرُوهُ وَنَصَرُوهُ وَاتَّبَعُوا النُّورَ الَّذِي أُنزِلَ مَعَهُ أُوْلَئِكَ هُمْ الْمُفْلِحُونَ

“Maka orang-orang yang beriman kepadanya. memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Quran), mereka Itulah orang-orang yang beruntung”. (Al-A’raf:157).

Mereka menganggap kehidupan sebagai kehinaan ketika iman sudah menghujam dalam jiwa mereka, bahkan dunia adalah kecil ketika ingin menggapai kemuliaan pada misi hidup mereka.

Demikianlah gambaran yang nyata yang tampak di dalamnya akan inti berbagai fenomena yang istimewa dari kalangan para muhajirin ..mereka yang telah diusir dari rumah mereka dan dirampas harta mereka, mereka dipaksa untuk keluar dari mereka dengan kejahatan, penganiayaan dan penolakan yang dilakukan oleh kerabat dan keluarga mereka di Mekkah, tidak karena ada kesalahan yang mereka lakukan namun hanya karena mereka beriman kepada Allah .. Mereka meninggalkan rumah dan harta mereka untuk mencari karunia dan ridha Allah, tidak ada tempat untuk belindung kecuali kepada-Nya, dan tidak ada tempat bernaung kecuali naungan-Nya .. namun sekalipun mereka terus dikejar dan diburu, dan jumlah mereka sedikit, mereka tetap berusaha mendukung dan membela Allah dan Rasul-Nya saw

وَاذْكُرُوا إِذْ أَنْتُمْ قَلِيلٌ مُسْتَضْعَفُونَ فِي الْأَرْضِ تَخَافُونَ أَنْ يَتَخَطَّفَكُمُ النَّاسُ فَآوَاكُمْ وَأَيَّدَكُمْ بِنَصْرِهِ وَرَزَقَكُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“Dan ingatlah (hai Para muhajirin) ketika kamu masih berjumlah sedikit, lagi tertindas di muka bumi (Mekah), kamu takut orang-orang (Mekah) akan menculik kamu, Maka Allah memberi kamu tempat menetap (Madinah) dan dijadikan-Nya kamu kuat dengan pertolongan-Nya dan diberi-Nya kamu rezeki dari yang baik-baik agar kamu bersyukur”. (Al-Anfal:26)

Merekalah orang-orang yang mengucapkan keimanan dalam lisan mereka, dan mempraktekkannya dalam kerja mereka sementara mereka juga tetap setia kepada Allah karena telah memilih-Nya, dan setia kepada Rasul-Nya kerena telah mengikutinya , serta setia kepada kebenaran, seakan mereka seperti sosok yang menginjakkan kakinya diatas bumi dan disaksikan oleh umat manusia

لِلْفُقَرَاءِ الْمُهَاجِرِينَ الَّذِينَ أُخْرِجُوا مِنْ دِيارِهِمْ وَأَمْوَالِهِمْ يَبْتَغُونَ فَضْلاً مِنْ اللَّهِ وَرِضْوَانًا وَيَنْصُرُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ أُوْلَئِكَ هُمْ الصَّادِقُونَ

“Bagi orang fakir yang berhijrah yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka (karena) mencari karunia dari Allah dan keridhaan-Nya dan mereka menolong Allah dan RasulNya. mereka Itulah orang-orang yang benar”. (Al-Hasyr: 8).

Sebagaimana orang-orang Anshar telah membuktikan kesetiaan dan keimanan mereka, dengan memberikan dan membagikan kepada orang-orang muhajirin harta yang mereka miliki sekalipun mereka hidup miskin dan membutuhkan kepadanya, namun hati mereka lapang siap menerima terhadap setiap orang datang kepadanya, dengan demikian membuktikan hakikat kesatuan dan persatuan yang sebenarna, dari ma’rifah kepada persahabatan, dan dari persahabatan kepada cinta, dan dari cinta kepada itsar, sehingga tidak mengherankan jika Al-Qur’an mencatat sikap yang mulia mereka dalam firman-Nya:

وَالَّذِينَ تَبَوَّءُوا الدَّارَ وَالإِيمَانَ مِنْ قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِمَّا أُوتُوا وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُوْلَئِكَ هُمْ الْمُفْلِحُونَ

“Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshor) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshor) ‘mencintai’ orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). dan mereka (Anshor) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang muhajirin), atas diri mereka sendiri, Sekalipun mereka dalam kesusahan. dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka Itulah orang orang yang beruntung. (Al-Hasyr: 9).

Demikianlah gambaran yang penuh cahaya dan nyata yang tampak sebagai model yang sangat istimewa dari orang-orang Anshar, kumpulan ini memiliki karakter yang unik, bahkan merambah ke berbagai pelosok.. sekiranya hal tersebut nyata terjadi, mungkin banyak kalangan manusia sebagai contoh mulia seakan seperti khayalan, keimanan telah menjadi rumah, tempat naung dan negeri dalam jiwa mereka, memberikan ketenangan ruh mereka, mengharap pahala dan ketentraman padanya sebagaimana seseorang mendapatkan ketentraman ketika berada di rumahnya.

Demikianlah kaum muhajirin yang diuji akan kekuatan dan keteguhan iman mereka, orang-orang Anshar diuji dalam hal kecintaan yang sempurna dan mereka semua berhasil melewatinya. Semestinay masyarakat mendapatkan ketentraman dengan prinsip-prinsip yang luhur ini dan bahkan mendapatkan kemuliaan derajat dan kehormatan dalam nilai kehidupan setiap insan.

Bahwa Prinsip-prinsip yang dibawa oleh Nabi saw ini telah merasuk ke dalam jiwa para generasi yang setia terhadap apa yang telah mereka ikrarkan, dan jika kita ingin berhasil seperti yang mereka peroleh, maka kita harus mengkuti jejak langkah mereka, berjalan mengikuti jalan mereka, karena mereka telah menjual jiwa mereka kepada Allah, dan mengorbankan diri mereka di jalan Allah

إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَى مِنْ الْمُؤْمِنِينَ أَنفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ بِأَنَّ لَهُمْ الْجَنَّةَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَيَقْتُلُونَ وَيُقْتَلُونَ وَعْدًا عَلَيْهِ حَقًّا فِي التَّوْرَاةِ وَالإِنجِيلِ وَالْقُرْآنِ وَمَنْ أَوْفَى بِعَهْدِهِ مِنْ اللَّهِ فَاسْتَبْشِرُوا بِبَيْعِكُمْ الَّذِي بَايَعْتُمْ بِهِ وَذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan Itulah kemenangan yang besar”. (At-Taubah: 111)

Antara masa lalu dan masa kini

Lihatlah, bagaimana kerugian yang dialami dunia kita saat ini karena jauh dari mengambil pelajaran hijrah yang mulia seperti yang telah ditampilkan dan diajarkan oleh Rasulullah terutama dalam menanamkan rukun-rukun cinta, itsar dan pilar-pilar ukhuwah di antara anggota masyarakat?, Dan bagaimanakah agama yang mulia dan agung ini harus memiliki tekad yang kuat, kesabaran dan ketabahan?, Dan bagaimanakah negara Islam yang telah menjadikan hijrah sebagai inti kekuatan Negara yang besar diantara umat lainnya dan rujukan bagi negeri dan bangsa di dunia .. maka akan kita dapati bahwa kita sedang mengalami kerugian yang banyak karena telah kehilangan manhaj dari pembawa hidayah yang amin saw, jauh petunjuk dan sirahnya yang mulia. Apa yang dialami umat saat ini?!

* Demikianlah kondisi yang dialami oleh Negara Palestina dengan berbagai Agresi brutal dan pembantaian yang mengerikan dari entitas Zionis yang begitu benci kepada saudara dan keluarga kita di Gaza, dan diiringi dengan kehinaan dan kebancian sikap pemerintah dan penguasa Arab dan Negara-negara Islam untuk mendukung dan membela mereka, belum lagi tidak adanya usaha dan gerak mereka terhadap berbagai tindakan yang dilakukan oleh zionis yang mengancam masjid Al-Aqsa yang sedang tertawan, lupa terhadap pelajaran hijrah yang berisi pelajaran besar dalam jihad dan pengorbanan, yang sekiranya kita mau mengamalkan dan mempraktekkannya maka kita akan dapat menggapai kemuliaan dan kebesaran di dunia serta ganjaran yang berlimpah di akhirat, namun penyakit “ al-wahn” telah melanda umat ini sehingga lupa atau pura-pura lupa akan sejarah dan perjalanan hidup nabinya yang penuh dengan kemuliaan.

Bahwa kondisi yang terjadi dan dialami oleh suadara kita tercinta di Gaza sangat membutuhkan pembela dan pendukung yang hakiki yang bertaqwa kepada Allah, mau membela mereka dengan memberikan pertolongan yang hakiki bukan sekedar wacana dan klaim palsu.

* Begitu pula terhadap saudara di Afghanistan .. di Irak .. di Somalia .. di Sudan .. di Yaman .. Dan banyak lagi negara Islam lainnya; Ini adalah suatu kelemahan dan kehinaan yang memilukan dihadapan musuh bebuyutan umat; sehingga menjadikan musibah di tengah umat semakin bertambah dan kuat, dan hal tersebut adalah merupakan istidraj bagi umat agar mau memfungsikan kekuasaan, kemampuan, dan energinya dalam melakukan peperangan internal; sehingga umatpun sibuk dengan dirinya sendiri dan terjadilah pertumpahkan darah oleh tangan mereka sendiri, lalu setelah itu mereka bekerja dengan visi yang sempit dan agenda rancu yang jauh dari memberikan pelayanan yang bermanfaat bagi umat dan masa depannya.

Sekiranya para penguasa dan pemimpin mau mencontoh dan meneladani apa yang terjadi dalam hijrah seperti ukhuwah, persatuan, ikatan, keterpautan dan keinginan yang besar dalam menghadapi tantangan, bekerja sesuai dengan nilai-nilai Islam yang menakjubkan dan memposisikan diri pada tempat yang sesuai dengannya; niscaya mereka akan mampu menghindarkan umat dari berbagai peristiwa yang mengenaskan dan mampu menghadapi serangan yang beruntun atasnya.

Dalam pemilihan umum Amerika Serikat dan pemilihan Presiden Obama memberikan pelajaran yang nyata ketika mereka menggantungkan harapan kepadanya dan membawa pidatonya di Universitas Kairo lebih dari yang sewajarnya; namun harapan tersebut sirna karena perhatiannya terhadap hal-hal yang banyak terutama tekanan kepada musuh zionis atas umat Islam tidak menjadi kenyataan, dan kegagalan Bangsa Arab dan umat Islam dalam menuju satu kesatuan dan tekanan terhadap musuh pun kembali terjadi.

Beberapa bulan yang lalu telah menjadi saksi adanya semangat rasisme Barat terhadap semua yang berbau Islam dan jilbab, yang telah mencapai puncaknya adalah pembunuhan atas dasar agama; seperti yang terjadi terhadap peristiwa terbunuhnya seorang wanita farmasi Mesir karena berpegang teguh pada jilbab dan kepatuhannya terhadap ajaran-ajaran agamanya, peristiwa tersebut merupakan korban ketiga sebagai hasil dari referendum Swiss tentang pelarangan izin mendirikan menara-menara masjid di negara tersebut.

Hal ini semakin menegaskan akan tumbuhnya semangat permusuhan dan rasisme terhadap semua hal yang berbau Islam di Barat, unilah yang mengundang kita untuk menghadapinya dengan berpegang terguh pada Islam dan ajaran-ajarannya dan menyeru kepada mereka dengan dan nasihat yang baik, dan pentingnya memberikan gambaran yang sebenarnya kepada Barat tentang citra Islam dengan bentuk keteladanan yang baik, etika dan perilaku yang santun serta praktek-praktek normal lainnya.

Sebagaimana pernah kita saksikan akan peran Turki di wilayah tersebut dan efektivitasnya dalam menyelesaikan sejumlah isu, termasuk: Palestina, Irak dan Suriah, serta Armenia, dengan metode politik yang rasional dan mengadopsi isu-isu dan sikap bangsa Arab dan umat Islam. Muncul dengan jelas sikap Perdana Menteri Recep Tayyip Erdogan pada acara World Economic Forum di Davos setelah bertengkar dengan Presiden entitas Zionis karena serangan Zionis di Gaza.

Dan diantara peristiwa penting yang terjadi pada tahun lalu adalah terus terjadinya keruntuhan ekonomi akibat sistem keuangan berbasis ribawi, stabilitas yang mengalami kegagalan dan adanya pembantaian manusia sehingga menimbulkan banyak korban dan kerugian yang masih terus terjadi karena kegagalan yang konstan sehingga hal tersebut mengundang sebagian penulis Barat untuk mengadopsi prinsip-prinsip syariat Islam, seperti dalam sebuah artikel “Roland Xin” seorang editor surat kabar “Le Journal de Vinnis” dalam sesi pembukaan pada 25/9/2008 dengan Judul: “Apakah sudah waktunya untuk mengadopsi prinsip-prinsip hukum Islam di Wall Street?”; didalamnya dia berkata: “Jika para pemimpin kita ingin sungguh-sungguh membatasi spekulasi keuangan yang menyebabkan krisis, maka tidak ada yang lebih sederhana daripada itu kecuali menerapkan prinsip-prinsip Syariah Islam. “

Demikianlah para pemimpin pemikiran Barat yang menyerukan penerapan prinsip-prinsip Islam setelah kita meninggalkannya, kita telah menghinakan diri karena tidak pernah mau menerapkannya dan mendukungnya, dan lupa bahwa diantara inti dan utama dari perjalanan hijrah adalah Mendirikan negara Islam, memperkuat pilar-pilarnya, membangun perekonomian Islam, dan membangun pasar Islami guna menghadapi pasar Yahudi.

Sebagaimana pemerintah Mesir yang terus menerus- dan sayangnya – tetap menerapkan politik penahanan terhadap warga negaranya, meracik tuduhan palsu terhadap mereka, melemparkan mereka ke penjara-penjara tanpa mempertimbangkan hak-hak konstitusional yang paling mendasar dan hukum negara sekalipun, dan mengabaikan ketentuan-ketentuan peradilan yang berlaku; mengabaikan kebebasan, kehidupan, waktu, tenaga dan harta serta jiwa mereka dengan menolak segala bentuk dan cara untuk mengeluarkan dan memerdekakan mereka.

Bahkan permasalahan ini telah sampai pada pembongkaran fasilitas yang ada untuk melayani rakyat dan harta mereka, dengan mengabaikan kesucian harta tersebut, dengan beranggapan bahwa masyarakat tidak membutuhkan sarana vital dalam rumah sakit, sekolah, dan lain-lainnya, tanpa mempertimbangkan kehormatan seterunya dan tidak mau mengalah demi kemasalahan yang lebih tinggi daripada kepentingan partisan murahan.

Wahai umat Islam….

Jika kita ingin mengembalikan kemuliaan dan kewibawaan Islam serta kejayaannya seperti yang telah diraih pada masa sebelumnya maka sudah seharusnya kita menghiasi diri dengan pilar-pilar yang telah diterapkan oleh al-habib al-mustafa nabi Muahmmad saw, dan mengambil kesempatan pada Tahun Baru hijriah ini dengan lebih banyak bekerja keras dan sungguh-sungguh serta berjuang untuk membela Islam di semua level dan tingkatannya, meningkatkan perbuatan baik, taat dan ibadah kepada Allah SWT, bersegera kembali kepada Allah dan menghiasi diri dengan moral dan prilaku Nabi saw, serta menjadikannya sebagai lampu mercu suar yang dapat menerangi dan menyinari jalan hidup kita semua, sebagaimana kita harus menghijrahkan diri dari berbagai perbuatan dosa dan maksiat, dari ketidakadilan, kezhaliman dan kehinaan diri.

Kita sangat membutuhkan sistem moral Islam yang telah dipancangkan kaidah-kaidahnya oleh Islam yang hanif, dan berbagai peristiwa yang kita laluinya menunjukkan besarnya kebutuhan kita terhadap peradaban manusia terhadap sistem ini; untuk menyelamatkan mereka dari apa yang hadapi, dan membimbing mereka menuju jalan pembebasan dan keselamatan, yaitu jalan Allah yang lurus.

Wahai Ikhwanul Muslimin…

Kalian adalah jantung kehidupan umat ini, kalian adalah hati kehidupan umat, sesuai dengan kesadaran dan kebangkitan kalian maka umat akan bangkit; maka dari itu milikilah perasaan akan besarnya amanah dan tanggung jawab yang dipikulkan pada pundak kalian, dan jadilah orang dicintai sebagaimana yang dicintai dan diridhai oleh Tuhan kalian, dan jadikanlah hijrah dan apa yang ada didalamnya sebagai pelajaran dan nasihat, serta jadikanlah apa yang ada dihadapan kalian sebagai teladan, berusaha mengamalkan dan menerapkannya sebagaimana yang telah diterapakn oleh pemimpin dan teladan kita Nabi saw.

Dan ketahuilah bahwa diantara kewajiban utama kalian adalah membangkitkan umat dan berkontribusi pada kinerja yang efektif dalam menunaikan perannya melakukan perbaikan, menerapkan pilar-pilar perbaikan dan kewajiban-kewajiban dalam diri kalian sebelum berdakwah kepada selain kalian, hiasilah jiwa kalian dengan semangat inisiatif dan keberanian dalam berpikir dan bertindak, dan bergantunglah pada perencanaan yang baik dan kerja yang ihsan, pada pembaharuan dan pengemabangan pada program-program dan sarana kalian, dengan mendahulukan perbuatan daripada perkataan, tidak mudah menyerah dalam menghadapi berbagai rintangan dan hambatan, serta banyak mengambil manfaat dan pelajaran dari berbagai pilar yang sudah disebutkan untuk kalian sebelum yang lainnya.

Berjalanlah wahai Ikhwan dengan membawa berkah Allah, bekerja untuk menegakkan kebenaran, yang harus diarahkan ke hati dan indra kalian serta perbuatan kalian dengan penuh kekuatan

وَلا تَهِنُوا وَلا تَحْزَنُوا وَأَنْتُمْ الأَعْلَوْنَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, Padahal kamulah orang-orang yang paling Tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman”. (Ali Imran:139)

Allah Akbar dan segala puji hanya milik Allah. [Syaikh Mahdi Akif, Mursyid Amm Ikhwanul Muslimin. Sumber: Ikhwan-net]
16:31 | 9 komentar

Media Israel: Imperium Amerika Akan Segera Runtuh

Written By Admin BeDa on Minggu, 20 Desember 2009 | 16:10


Sumber media Israel menegaskan bahwa imperium Amerika akan jatuh dan segera runtuh, dan tanda-tanda tersebut telah muncul pada musim gugur pada dekade pertama abad duapuluh satu.

Surat kabar Israel - Yediot Aharonot dalam konteks laporannya tentang tanda-tanda utama dari dekade pertama abad 21 berkaitan dengan kehancuran imperium Amerika - dimulai dengan jatuhnya simbol kekuatan ekonomi, diwakili dengan hancurnya WTC dan jatuhnya simbol militer AS, diwakili oleh runtuhnya markas besar pertahanan AS Pentagon dalam serangan 11 September 2001 - melalui adanya akumulasi defisit fiskal dalam anggara belanja pemerintah AS sebagai akibat dari perang yang tidak henti-hentinya yang mereka lakukan di Irak dan Afghanistan dan adanya krisis ekonomi global yang melanda perekonomian AS selama setahun terakhir.

Yediot Aharonot menambahkan bahwa perang di Irak dan Afghanistan sangat merugikan anggaran belanja AS hampir satu triliun dollar, sementara kerugian tidak langsung sudah cukup membuat Washington bertekuk lutut meskipun terdapat surplus besar telah dicapai dalam anggaran selama tahun sembilan puluhan.

Surat kabar tersebut menjelaskan bahwa indikator runtuhnya imperium Amerika lewat ekonomi semakin jelas selama tahun 2009, dengan keseluruhan defisit dalam anggaran sebesar 1,4 triliun dollar dan akan mencapai hingga 9 triliun dollar selama dekade berikutnya.

Jatuhnya nilai dollar dan penurunan nilai mata uang AS terhadap mata uang dunia lain membuat AS harus menjual dollarnya dan membeli emas di banyak negara, terutama India, menurut surat kabar berbahasa Ibrani itu.

Salah satu tanda lain akan runtuhnya imperium AS adalah runtuhnya hegemoni militer AS - meskipun AS memiliki kekuatan militer dan peralatan militer terbaru dan paling canggih di dunia namun untuk keikutsertaannya dalam berbagai peperangan di berbagai belahan dunia dan ketidakmampuannya dalam menghadapi kelompok-kelompok pejuang seperti Al-Qaidah dan Taliban, menyebabkan militernya runtuh secara tidak langsung.

Masih menurut surat kabar Yediot Aharonot - tidak menutup kemungkinan krisis ekonomi berkepanjangan di AS akan mempercepat runtuh dan jatuhnya imperium besar AS terutama dalam kaitannya dengan akumulasi utang pemerintah AS.(fq/imo, eramuslim)
16:10 | 5 komentar

Gadis Palestina Diperas Israel untuk Peroleh Video Serdadu Tembak Pemuda Palestina

Written By Admin BeDa on Jumat, 18 Desember 2009 | 14:46


Seorang pemudi Palestina menyebut Israel mengancam dan menakutinya untuk memperoleh sebuah rekaman video asli yang menggambarkan seorang serdadu Israel menembaki seorang pemuda Palestina yang terikat. Bahkan Israel memeras gadis Palestina ini dan keluarganya.

Gadis bernama Salam Kanaan (18) ini sebelumnya merekam dengan handicam pribadinya kejadian seorang serdadu Israel bernama Amori menambaki kaki seorang pemuda Palestina Asyraf Abu Rahmah dalam keadaan terikat setelah ia ditahan di gerbang desa Naalen di Tepi Barat pada Juli 2008.

Kanaan menegaskan dalam pernyataan persnya hari ini Rabu (16/12) bahwa seorang serdadu Israel mengontaknya beberapa hari lalu dan meminta sejumlah uang sebagai ganti dari hasil rekaman video asli miliknya.

Dalam proses ini, Kanaan menegaskan, sejumlah pasukan Israel mengepung rumahnya di kota Ramallah dan menembaki dengan peluru suara dan memecahkan jendela rumah tanpa mengatakan apapun. Ia menegaskan, serdadu Israel selalu mendorongnya setiap menanyakan apa yang mereka inginkan. “Ayah saya (56) dan tiga saudaraku dibawa Israel keluar rumah dan memukulinya.” Tegas Kanaan.

Gadis Palestina ini menegaskan, Israel memerasnya dan memeras keluarganya untuk memperoleh rekaman asli video yang mereka rampas dengan cara menteror. “Namun saya bersikeras mengejar serdadu Israel yang menembaki pemuda Palestina. Saya sadar saya masuk ke dalam permaian politik namun saya yakin akan menang akhirnya” tegasnya.

Sementara itu, beberapa saat lalu, media massa memberitakan rekaman video yang berisi seorang pemukim Israel menabrak seorang pemuda Palestina beberapa kali di Hebron. Peristiwa itu direkam oleh seorang warga Israel dengan ponselnya. (bn-bsyr, infopalestina.com)
14:46 | 12 komentar

Menikah Bukan Unjuk Prestasi

Written By Admin BeDa on Rabu, 16 Desember 2009 | 15:50


Menikah Bukan Unjuk Prestasi merupakan postingan yang kedua tentang keluarga. Alhamdulillah tadi mendapatkan artikel ini dari seorang kawan di facebook. Saya sangat terkesan dengan tausiyah yang pernah diterbitkan di Majalah UMMI edisi Oktober 2002 ini. Menikah Bukan Unjuk Prestasi ditulis oleh Siti Wikaningtyas (Ketua PSDM FLP Bogor). Selamat Membaca.
***


Seorang muslimah dengan berkaca-kaca bercerita kepada saya bahwa ia ingin segera menikah. Masalah itu begitu berat membebani pikirannya bahkan mempengaruhi ibadahnya. Ia menjadi tidak tenang, shalat tidak khusyu’, juga sulit tidur. Kondisi fisiknya tentu jadi ikut terpengaruh.

Saya sedih mendengar curhatnya. Saya juga mencoba memahami perasaannya. Tapi wajarkah jika hal ini mengacaukan segalanya?

Ketika kuliah saya berharap bisa menikah maksimal usia 25 tahun. Namun Allah swt baru memberikan jodoh saat usia saya 27 tahun. Meski ‘hanya’ 2 tahun menanti, masa itu nyatanya tidaklah dapat dikatakan sebentar untuk menguji kesabaran jika tanpa ketegaran, rasa percaya diri, bebas dari prasangka dan perasaan tertekan. Satu hal yang membuat saya selalu merasa bersyukur saat itu adalah, Allah menolong saya tetap memiliki obsesi dan berkarya.

Seiring waktu, saya makin meyakini Allah bisa menjodohkan hamba-Nya kapan saja. Tapi, seringkali Dia mempunyai rencana lain yang mesti kita ambil hikmahnya sebanyak-banyaknya. Saya menyadari menikah bukan prestasi yang harus dibanggakan. Bahagia mungkin benar, karena ia adalah anugrah istimewa. Tapi merasa bangga dan lebih baik dibanding orang lain, jelas tidak tepat. Apalagi dianggap segala-galanya.

Saya gemas mendengar seorang ummahat berujar kepada muslimah yang usianya jauh lebih tua namun belum berkeluarga, ”Wah, kalau gitu saya dong yang harusnya dipanggil ‘Mbak’. Anak saya kan sudah tiga.” Saya saja tidak nyaman dengan ucapannya, apalagi yang bersangkutan? Saya tidak tahu, apakah ia sudah kehilangan kepekaan? Atau, memang begitu sifat manusia yang kerap di ‘uji’ dengan berbagai kemudahan dari Allah?

Seandainya tidak terlambat menemukan ungkapan indah dalam surat Al-Kahfi ayat 46: ”Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik di sisi Tuhanmu, serta lebih baik untuk menjadi harapan.” Tentu saat itu saya akan menyadarkannya untuk bersikap lebih dewasa.

Manusia boleh berharap banyak tapi tidak selalu bisa memilih. Seandainya bisa pasti ia akan memilih yang ‘enak-enak’ berdasarkan nafsunya. Inilah bagian dari mengimani takdir. Dalam masalah jodoh, perspektif iman harus senantiasa dikedepankan. Banyaknya muslimah yang belum menikah pada usia matang harus disikapi secara arif. Selain harus dicari solusinya, muslimah sebaiknya melakukan pembekalan diri. Semuanya tergantung kepadanya, apakah ia akan memandang sebagai ujian ataukah kelemahan? Jika ujian, maka mencari hikmah sebanyak-banyaknya akan lebih berkesan dan membahagiakan daripada mencemaskannya. Jika dianggap kelemahan, tidak akan ada yang didapat selain perasaan tertekan.

Sudah selayaknya pula seorang muslimah memandang makna pernikahan dari berbagai sisi. Saya mendengar sekarang ini banyak mahasiswi muslimah tingkat I yang minta dicarikan pasangan oleh ‘pembina’nya, karena saking seringnya ia mendengar keindahan pernikahan digelar lewat berbagai seminar di kampus.

Bukan melarang untuk memikirkan dunia pernikahan pada usia relatif muda, tetapi yang jadi masalah adalah ketika harapan itu tidak segera terwujud. Kondisi ini jika tidak diimbangi kematangan jiwa dapat melemahkan semangat beraktivitas dan beribadah.

Agaknya, lebih positif jika muslimah membekali diri dengan cara menggali potensi diri dan prestasi, agar ia memiliki kematangan berpikir dan bisa menghargai diri sendiri, daripada hanya membayangkan sesuatu yang ia sendiri tidak tahu kapan dapat terwujud.

Menikah adalah sunah Rasul dan ibadah, ia pun merupakan ladang jihad muslimah. Saya yakin prestasi dan kualitas seorang muslimah sebelum menikah berbanding lurus dengan kualitasnya sesudah menikah. Artinya, kualitas seseorang setelah berumah tangga baik secara ruhiyah, fikriyah maupun amaliah sangat dipengaruhi bagaimana sosoknya sebelum menikah. Fenomena futur setelah menikah sering terjadi, karena kurangnya pemahaman dan wawasan tentang pernikahan sejak masih lajang. Karena pernikahan dianggap presatsi tertinggi yang bisa diraih.

Jika Allah memang belum mengabulkan apa yang kita harapkan, hiburlah diri dengan prasangka tinggi bahwa semakin Allah menunda insya Allah semakin baik kualitas yang akan Allah berikan suatu saat nanti karena Allah tidak akan pernah menyia-nyiakan kesabaran hamba-Nya. Bagi yang sudah berkeluarga, selayaknya mensyukuri pernikahan dengan mengemban amanah sebaik-baiknya. Kalaupun belum mampu memberikan solusi, menjaga perasaan dan memiliki kepekaan kepada sesama adalah hal terbaik dalam ikatan ukhuwah kita. [Siti Wikaningtyas (Ketua PSDM FLP Bogor), dimuat di Majalah UMMI Oktober 2002]
15:50 | 16 komentar

Manusia dalam Al-Qur'an (2)

Written By Admin BeDa on Selasa, 15 Desember 2009 | 13:10


Berikut ini adalah kelanjutan Ceramah Hasan Al-Banna dalam Haditsu Tsalatsa yang berjudul Manusia dalam Al-Qur'an. Sebelumnya telah diposting Manusia dalam Al-Qur'an (1). Karena cukup panjang maka ceramah ini dipotong menjadi 3 bagian. Insya Allah Manusia dalam Al-Qur'an (2) ini akan segera disusul dengan Manusia dalam Al-Qur'an (3). Selamat membaca.
***

Manusia sebagai Salah Satu Makhluk Al-Mala' Al-A'la
Sekarang kita membahas komposisi ruhani manusia.

وَنَفَخْتُ فِيهِ مِنْ رُوحِي

Dan telah Aku tiupkan kepadanya ruh-Ku. (QS.Al-Hijr: 29)

Di sini jelas, Saudaraku, bahwa manusia tidaklah terdiri dari satu unsur, tidak hanya terdiri dari unsur materi saja, tetapi tanah yang telah ditiupkan ke dalamnya ruh Allah SWT. Akhi, Anda bukan semata-mata wadah dari tanah ini, tidak hanya sampul dari kulit ini, tetapi Anda diciptakan dari ruh Allah. Sebelumnya Anda hanya berupa segenggam tanah, tetapi setelah ditiup dengan ruh Allah itu, Anda menjadi seorang manusia sempurna. Dengan demikian, Anda termasuk salah satu makhluk surga, karena kemanusiaan Anda belum terbentuk kecuali setelah Allah meniupkan ruh-Nya kepada Anda. Adapun hakikat, substansi, esensi, dan rahasia ruh ini, maka tidak ada urusan Anda dengannya. Cukuplah Anda mengetahui, Saudaraku, bahwa ruh ini merupakan unsur ketuhanan dan bahwa apa saja yang berkaitan dengan Allah SWT terlalu besar untuk dapat dipikirkan oleh manusia, di luar jangkauan akalnya dan jauh dari kemampuan penalarannya.

Di sana ada hakikat yang dikemukakan oleh kisah tersebut. Hakikat ini, Saudaraku, berkaitan dengan perbandingan Anda sebagai manusia terhadap malaikat dan kedudukan Anda terhadap makhluk Tuhan yang tercipta dari unsur cahaya ini. Anda melihat bahwa Allah SWT telah memerintahkan kepada para malaikat untuk bersujud kepada Anda setelah memberi Anda ruh dari-Nya. Dengan demikian, Anda wahai manusia, lebih agung di sisi Allah daripada para malaikat. Bila Anda benar-benar mewujudkan kemanusiaan Anda, maka Anda lebih tinggi daripada para malaikat. Adapun jika Anda lalai, maka Anda termasuk golongan setan. Bila Anda menunaikan hak-hak kemanusiaan ini sebagaimana yang dikehendaki oleh Allah SWT niscaya para malaikat akan menjadi pelayan bagi Anda. Telah diriwayatkan oleh hadits shahih bahwa para malaikat menjenguk orang-orang shalih yang sedang sakit. Al-Qur'anul Karim juga menjelaskan bahwa mereka akan menjadi pelayan Anda pada hari kiamat. Jadi, para malaikat itu, Saudaraku, hanyalah hamba-hamba Allah dan sebagian dari makhluk-makhluk-Nya. Mereka tidak membangkang kepada perintah Allah, selalu melaksanakan apa yang diperintahkan kepada mereka. Ekspresi yang dimunculkan Allah pada mereka hanyalah satu, yaitu ketaatan. Adapun ekspresi yang dimunculkan Allah SWT pada diri Anda, wahai manusia, lebih agung daripada itu, yaitu ekspresi ikhtiar (menentukan berbagai pilihan). Hakikat keempat yang dipaparkan dalam kisah tersebut adalah berkenaan dengan hubungan Anda dengan setan. Saudaraku, kita menemukan bahwa paparan ini telah menjelaskan hubungan ini, yaitu bahwa ada permusuhan dan pertentangan yang keras serta berkesi-ambungan antara Anda dengan setan. Bahkan kehidupan ini pada hakikatnya hanyalah pertentangan antara Anda dengan setan itu. Allah SWT pernah memperingatkan Anda dari bahaya setan, di lebih dari satu tempat dalam Al-Qur'anul Karim.

اهْبِطُوا بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ

Turunlah kalian semua, sebagian kalian menjadi musuh bagi sebagian yang lain. (QS. Al-Baqarah: 36, Al- A'raf: 24)

أَلَمْ أَعْهَدْ إِلَيْكُمْ يَا بَنِي آَدَمَ أَنْ لَا تَعْبُدُوا الشَّيْطَانَ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ (60) وَأَنِ اعْبُدُونِي هَذَا صِرَاطٌ مُسْتَقِيمٌ (61)

Bukankah Aku telah memerintahkan kepadamu hai Bani Adam, supaya kamu tidak menyembah setan? Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu. Dan hendaklah kamu menyembah-Ku. Inilah jalan yang lurus. (QS.Yasin: 60-61)

Hakikat kelima yang terkandung dalam kisah tersebut adalah berkaitan dengan kedudukan Anda, wahai manusia, berkaitan dengan tempat Anda. Kisah itu menyebutkan bahwa Anda adalah makhluk yang termasuk dalam golongan makhluk mulia. Anda diciptakan di dunia malaikat. Kemudian Anda diturunkan ke bumi ini disebabkan oleh ikhtiar (pilihan) Anda. Anda akan kembali ke tempat tinggal yang tinggi itu jika Anda mengetahui jalan kembali ke sana. Semoga Allah merahmati orang yang mengatakan,
"Mari menuju taman-taman Adn."

Al-Qur'an dalam memaparkan kisah tersebut tidak berhenti pada hakikat ini. Ia mengemukakan hakikat keenam yang membahas tentang hubungan antara manusia dengan seluruh alam ini. Ternyata ia adalah makhluk yang mulia di tengah-tengah makhluk lain. Ia mempunyai tugas sebagai khalifah di muka bumi ini.

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً

Ingatlah ketika Tuhanmu berkata kepada para malaikat, 'Sesungguhnya Aku akan menjadikan seorang khalifah di bumi ini.' (QS. Al-Baqarah: 30)

Jadi, bumi ini telah diserahkan kepada manusia, untuk dimakmurkan, bukan untuk dihancurkan dan dimusnahkan. Ia berkuasa di bumi, sedangkan seluruh makhluk di sana ditundukkan kepadanya.

أَلَمْ تَرَوْا أَنَّ اللَّهَ سَخَّرَ لَكُمْ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَأَسْبَغَ عَلَيْكُمْ نِعَمَهُ ظَاهِرَةً وَبَاطِنَةً

Tidakkah kalian perhatikan bahwa sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan) kalian apa yang di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untuk kalian nikmat-Nya lahir dan batin. (QS. Luqman: 20)

Jadi, kedudukan manusia, terlihat dalam perkataan ini:
Mereka mengangkatmu untuk suatu urusan
Jika kau telah terima Hati-hatilah agar tiada telantar


Jadi, Anda, wahai manusia, adalah khalifah yang diutus untuk memakmurkan bumi. Allah telah menundukkan segala sesuatu di bumi kepada Anda, sehingga Anda dapat melaksanakan tugas Anda dengan ikhlas. Inilah, Saudaraku, kedudukan Anda di tengah-tengah seluruh makhluk lain.

Kemudian, kita bicarakan juga tentang hubungan antara manusia dengan sesama manusia, yaitu hakikat ketujuh,

بَعْضُكُمْ مِنْ بَعْضٍ

Sebagian dari kalian adalah bagian dari yang lain. (QS. An-Nisa': 25)

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا

Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kalian dari seorang lelaki dan seorang wanita, dan menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, agar kalian saling mengenal. (QS. Al-Hujurat: 13)

Allah SWT tidak menjadikan bangsa-bangsa dan suku-suku untuk saling membenci dan bermusuhan, tetapi sebaliknya untuk saling me- ngenal dan menolong. Hubungan manusia dengan sesama manusia adalah hubungan sebagai saudara. Seseorang adalah saudara bagi yang lain. Landasan hubungan antara manusia dengan Allah swt. secara global disebutkan oleh Al-Qur'an dalam firman-Nya,

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia, kecuali agar mereka beribadah kepada-Ku. (QS. Adz-Dzaariyat: 56)

[Sumber: Ceramah-ceramah Hasan Al-Banna] Bersambung ke >>> Manusia dalam Al-Qur'an (3)
13:10 | 2 komentar

Keniscayaan Taat dalam Harakah Islam

Written By Admin BeDa on Senin, 14 Desember 2009 | 18:19

We are sorry, starting from 13rd March 2010, Keniscayaan Taat dalam Harakah Islam cannot displayed. Sorry for this uncomfortable. This page, Keniscayaan Taat dalam Harakah Islam, deleted by blog owner because of some reason. Please to be understood.

Once more, we're sorry to visitors of BERSAMA DAKWAH blog. We hope you back to HOME. Thank you.
18:19 | 4 komentar

Faktor-faktor Pengubah Fatwa

Written By Admin BeDa on Sabtu, 12 Desember 2009 | 18:28


Judul buku : Faktor-faktor Pengubah fatwa
Judul Asli : Mujibat Taghayyur Al-Fatawa fi ‘Ashrina
Penulis : Dr. Yusuf Qardhawi
Penebit : Pustaka Al-Kautsar
Tebal : 130 hal

Islam merupakan agama yang syamil mutakamil. Sejalan dengan ayat Al-Qur’an yang terakhir turun, “…Hari ini telah Kusempurnakan agamamu bagimu,. Aku cukupkan nikmatku untukmu dan Aku Ridhai Islam sebagai agamamu…” (QS. Al-Maidah : 3), Islam didesain oleh Allah SWT untuk mampu menjawab segala problematika dan tantangan zaman. Al-Islam huwal Hallu; Islam adalah solusi.

Karena itulah sumber hukum Islam bukan hanya Al-Qur’an dan As-Sunnah. Ada sumber hukum lain di bawah keduanya, yakni ijtihad. Jika Al-Qur’an dan As-Sunnah sudah pasti dan berlaku kekal sampai akhir zaman, maka ijtihad cukup dinamis untuk merespon permasalahan-permasalahan kekinian. Al-Qur’an dan As-Sunnah merupakan wahyu yang dianugerahkan Allah sebagai petunjuk bagi orang beriman. Namun ijtihad mengambil dari keduanya untuk menjawab segala persoalan yang datang kemudian.

Di dalam syariat ada hal-hal yang bersifat tetap atau permanen (tsawabit) dan ada yang berubah atau fleksibel (mutaghayyirat). Diantara hal yang bersifat tsawabit adalah aqidah, pokok-pokok ibadah, pokok-pokok larangan, dan pokok-pokok akhlak. Pada ranah ini tidak ada ijtihad. Sedangkan hal-hal yang bersifat tsawabit misalnya masalah fiqih. Di sinilah letak keistimewaan Islam. Sekaligus di sinilah jawaban bagi orang-orang sekuler seperti Kemal Ataturk yang mengatakan: “Kehidupan senantiasa berubah sedangkan syariat tetap. Bagaimana mungkin kita bisa menghukumi kehidupan yang berubah dengan hukum-hukum syariat yang tetap?”

Diantara bentuk ijtihad adalah fatwa. Berbagai pertanyaan berkenaan dengan berbagai masalah kehidupan dilontarkan kepada ulama atau mufti, baik secara lisan maupun tertulis, dan ulama atau mufti harus menjawabnya. Terlebih lagi jika tidak ada orang lain yang mampu menjawabnya selain dia, untuk saat yang dibutuhkan waktu itu. Jawaban ini tentu saja berangkat dari ijtihad. Dengan demikian, fatwa muncul untuk merespon realita.

Para ulama’ telah menjelaskan bahwa fatwa bisa berubah. Karenanya kita dapati para ulama’ (bahkan Rasulullah) pernah memberikan fatwa yang berbeda untuk permasalahan yang sama. Lebih jauh bahkan Imam Syafi’I memiliki kumpulan fatwa baru (qaul jadid) yang berbeda dari fatwa-fatwa lama (qaul qadim). Faktor yang mempengaruhi perubahan fatwa itu adalah: perubahan tempat, perubahan waktu, perubahan kondisi, dan perubahan tradisi (‘urf).

Selain faktor hal di atas, melalui buku ini Dr. Yusuf Qardhawi menambahkan enam faktor lagi: perubahan informasi (maklumat), perubahan kebutuhan manusia, perubahan kemampuan manusia, perubahan kondisi sosial ekonomi politik, perubahan pendapat dan pemikiran, serta musibah (ujian dan cobaan). Jadilah semuanya 10 faktor pengubah fatwa.

Perubahan Tempat
Lingkungan bisa mempengaruhi pemikiran dan tingkah laku. Karenanya para ulama’ menjadikan perubahan tempat sebagai salah satu faktor perubahan fatwa. Artinya, dalam satu masalah yang sama bisa berbeda fatwa karena subyeknya berbeda tempat/lingkungan. Diantaranya :

Antara badui dan kota
Orang badui yang masuk Islam diharuskan hijrah ke kota untuk mencari ilmu dan mengenal peradaban. Fatwa hijrah ini tidak untuk orang kota. Sebagian ahli fikih melarang kesaksian badui atas orang kota karena ketidaktahuan mereka bisa berdampak negatif.

Negara bersuhu panas dan negara bersuhu dingin
Karena ini menentukan perbedaan kebutuhan hidup dan tingkat emosi. Penduduk negeri bersuhu panas biasanya lebih kasar dan cepat marah dibandingkan penduduk negeri bersuhu dingin.

Perubahan tempat oleh perubahan iklim
Ini berkaitan dengan curah hujan yang bisa menghalangi keluar rumah dan terkait dengan banyak ibadah seperti shalat jamaah, wudhu, tayamum, dan sebagainya.

Perubahan tempat bagi negeri Islam dan lainnya
Fatwa bisa berbeda karena status negeri itu; apakah negeri perang (darul harb), negeri yang terikat perjanjian (darul ‘ahd), atau negeri kafir (dar kufr). Orang Islam yang tinggal di negeri lain, tuntutan ilmu syar’I-nya lebih ringan dari kaum muslimin di negeri Islam karena hambatan yang ada tidak memungkinkannya mempelajari itu semua.

Perubahan Waktu
Yang dimaksudkan di sini bukan berubahnya fatwa karena perubahan tahun. Tetapi konteks pada waktu tersebut.

Pada zaman Rasulullah, hukuman bagi orang yang minum khamr tidak memiliki batasan tertentu, tetapi diterapkan dengan ta’zir. Pada masa Abu Bakar hukuman ditetapkan menjadi 40 kali cambukan. Karena banyak orang yang berani mabuk, Umar menetapkan 80 kali cambukan, disetarakan dengan pencemaran nama baik. Dan ini yang paling ringan.

Untuk kejahatan perkosaan Yusuf Qardhawi mendukung fatwa ulama Saudi yang memutuskan hukuman mati. Karena, ia bisa mencegah orang yang selalu menodai kehormatan.

Begitupun melihat perubahan waktu yang semakin buruk saja akhlak manusia. Yusuf Qardhawi memfatwakan hukuman bagi pengedar narkoba sama dengan hukuman membegal (al-harabah), yakni pada susat Al-Maidah ayat 33.

Perubahan Kondisi
Kondisi sempit tidak sama dengan kondisi lapang, kondisi sakit tidak sama dengan kondisi sehat, kondisi bepergian tidak sama dengan kondisi mukim, kondisi perang tidak sama dengan kondisi damai, kondisi takut tidak sama dengan kondisi aman, kondisi kuat tidak sama dengan kondisi lemah, kondisi tua tidak sama dengan kondisi muda, kondisi buta huruf tidak sama dengan kondisi bisa baca-tulis. Mufti yang bijak memperhatikan kondisi-kondisi seperti ini.

Karenanya fatwa izin perang Rasulullah berbeda antara sebelum dan sesudah hijrah. Demikian pula fatwa Ibnu Abbas tentang taubatnya orang yang membunuh. Sebelumnya ia mengatakan taubatnya bisa diterima. Tetapi hari itu saat ada orang bertanya ia menjawab tidak diterima taubatnya. Ketika murid-muridnya bertanya ia menjelaskan: “Karena orang tadi hendak membunuh orang muslim.” Jika saja ia diberi fatwa taubatnya bisa diterima ia tentu akan melaksanakan niat di balik kemarahannya itu.

Perubahan Tradisi
Diantara faktor perubahan fatwa adalah perubahan tradisi yang menjadi pijakan fatwa sebelumnya. Contohnya dalam tradisi perdagangan dan ekonomi. Jika kita membayangkan “menggenggam” (al-qabdh) sebagaimana dijelaskan oleh para ahli fikih, yaitu dari tangan ke tangan, kita pasti akan mengharamkan cek. Begitupun bolehnya akad melaui telepon, internet, faksimil, dan lain-lain yang sebelumnya tidak pernah terbayangkan. Akad sebelumnya terbatasi dengan pertemuan langsung antara penjual dan pembeli.

Perubahan Pengetahuan
Perubahan ini bisa terjadi pada pengetahuan syar’i maupun non syar’i. Pengetahuan syar’i misalnya seorang mufti yang mengetahui derajat hadits yang berbeda dari sebelumnya. Sementara pengetahuan non syar’i misalnya seorang ulama telah mengetahui bahaya rokok yang sebelumnya belum ia ketahui, karenanya ia mengubah fatwanya dari makruh menjadi haram.

Perubahan Kebutuhan Manusia
Misalnya di zaman sekarang, di daerah-daerah panas, AC menjadi kebutuhan primer. Karenanya ia otomatis menjadi pengurang nishab zakat seperti kebutuhan primer lainnya. Sebab nishab zakat merupakan hal lebih dari kebutuhan pokok. Begitupun laptop bagi guru tidak sama tingkat kebutuhannya dengan laptop bagi petani seperti traktor yang menjadi kebalikannya. Ini terkait dengan zakat.

Begitupun hukum memelihara anjing, kurikulum pendidikan, membeli rumah melalui bank, dan sebagainya. Fatwa tentang itu bisa berubah seiring perubahan kebutuhan manusia.

Perubahan Kemampuan Manusia
Sekarang ilmu kedokteran telah mampu mencangkok organ tubuh manusia. Dulu tidak pernah terbayangkan. Perubahan kemampuan menyebabkan perubahan dalam hukum. Begitupun dengan pulang bepergian pada waktu malam. Dulu dilarang oleh hadits karena bisa mengagetkan, istri butuh persiapan, dan lain-lain. Sekarang dengan teknologi HP dan sejenisnya, kita bisa memberi kabar kepulangan kita sehingga tidak masalah jika pulang waktu malam.

Perubahan Situasi Sosial, Ekonomi, dan Politik
Ini juga bisa mengubah fatwa. Misalnya sekarang banyak masyarakat non muslim dalam lingkungan masyarakat Islam. Kita harus melihat permasalahan non-muslim dan wanita dengan pandangan baru. Kita harus mengambil fikih yang taisir (memudahkan), fikih yang tadarruj (gradualitas) dalam segala hal, untuk kemudian memperhatikan perubahan-perubahan kondisi.

Seperti juga ketika kondisi politik tidak menguntungkan kaum muslimin dengan berkuasanya rezim otoriter yang memusuhi Islam. Pada kondisi saat itu jika seorang ulama diminta fatwa secara terbuka ia perlu memikirkan akibat fatwa itu bagi umat Islam. Jangan sampai karena fatwanya kondisi umat Islam justru terancam dan gerakan dakwah Islam diberangus.

Perubahan Pendapat dan Pemikiran
Terkadang, ilmu pengetahuan tidak berubah tetapi pemikiran seorang mujtahid bisa berubah. Hal tersebut berdasarkan penelitiannya, perenungan, evaluasi terhadap hal yang sedang dipelajari atau fatwa sebelumnya, sehingga bisa menguak hal yang tersembunyi dan menampakkan hal yang samar.

Ujian dan Cobaan
Maksudnya adalah ujian dan cobaan umum/publik. Para ahli fikih menjadikan ujian dan cobaan sebagai hal yang dapat memberi keringanan. Seperti televisi, misalnya. Ada yang mengharamkannya karena televisi memuat gambar. Tapi jika tidak melihat televisi umat justru kehilangan banyak informasi dan tertinggal. Begitupun dengan wanita yang keluar rumah karena bekerja, beraktifitas sosial dan sebagainya. Perlu untuk tidak lagi berkutat pada ungkapan lama bahwa wanita diciptakan untuk di rumah dan menjadi permaisuri di dalamnya. Ini karena kondisi umum, ujian dan cobaan yang menimpa umat Islam. [Muchlisin]
18:28 | 9 komentar

Serial Pembelajaran

Written By Admin BeDa on Selasa, 08 Desember 2009 | 15:51


Serial pembelajaran adalah tulisan Anis Matta terbaru. Tulisan ini dimuat di majalah Tarbawi. Ia sempat berhenti beberapa edisi, mungkin karena kesibukan pemilu, dan kemudian -alhamdulillah- kini bisa kita dapatkan rutin di setiap edisi Majalah Tarbawi sejak edisi 212 (Para Pencipta Kemakmuran).

Serial pembelajaran merupakan serial tulisan Anis Matta yang ketiga di Majalah Tarbawi. Sebelumnya sudah ada serial kepahlawanan yang kemudian dibukukan menjadi Mencari Pahlawan Indonesia dan serial cinta yang dibukukan dengan judul Serial Cinta. Insya Allah, nantinya Serial Pembelajaran ini juga akan dibukukan. Entah diberi judul apa, yang pasti ia akan dinantikan banyak pembaca setianya.

Sambil menunggu serial pembelajaran ini selesai dan berwujud buku, pembaca bisa menikmati membacanya di blog ini yang isya Allah akan diposting per tema. Alhamdulillah sampai saat ini sudah ada 13 seri sebagai berikut (dengan mengklik judul tulisan, pembaca akan diarahkan pada tulisan detailnya) :

SERIAL PEMBELAJARAN
1. Pahlawan, Pecinta dan Pembelajar
2. Mendaki Sejarah
3. Awalnya Pembelajaran, Ujungnya Kesempurnaan
4. Peradaban Para Pembelajar
5. Kepemimpinan Para Pembelajar
6. Mujahid Badui Penakluk Imperium
7. Teknologi Jihad untuk Narasi Peradaban
8. Para Pencipta Kemakmuran
9. Dunia Kita Hidup Kita
10. Lukisan yang Tak Selesai
11. Keangkuhan yang Rapuh
12. Antara Embun dan Laut
13. Saat Embun Menembus Batu
14. Perahu Nuh
15. Lembah Ibrahim
16. Tongkat Musa
17. Tangan Isa
18. Narasi Muhammad
19. Penutup Nubuwwah
20. Bangsa Petualang Penutur
21. Pengajaran Langit
22. Yang Tersisa adalah Teks
23. Para Pewaris Nabi
25. Sikap Jiwa pada Teks
26. Kendala Kengkuhan
27. Pengosongan Jiwa
28. Teks dan Konteks
29. Wajah-wajah Kebenaran
30. Pintu-pintu Kebenaran
32. Memfirasati Zaman
33. Efek Ruang dan Waktu
34. Pasang Surut Sejarah
35. Mengenal Ruang
36. Peta Para Pembebas
37. Mengenang Masa
38. Akumulasi Waktu Kebajikan
39. Pertumbuhan Berkesinambungan
15:51 | 20 komentar

Saat Embun Menembus Batu

Written By Admin BeDa on Senin, 07 Desember 2009 | 16:14


Pengetahuan kita memang sedikit. Teramat sedikit. Hanya seperti setetes embun di lautan pengetahuan Allah. Itupun tidak bisa dengan sendirinya menciptakan peristiwa-peristiwa kehidupan kita. Kesalahan kita, dengan begitu, selalu ada di situ; saat di mana kita menafsirkan seluruh proses kehidupan kita dengan pengetahuan sebagai tafsir tunggal. Tapi setetes embun itu yang sebenarnya memberikan sedikit kuasa bagi manusia atas peserta alam raya lainnya, dan karenanya membedakan dari mereka.

Walaupun bukan dalam kerangka hubungan kausalitas mutlak, Allah tetap saja menyebutnya sultan; kekuasaan, kekuatan. Pengetahuan menjadi kekuasaan dan kekuatan karena Allah dengan kehendak-Nya meniupkan kuasa dan kekuatan itu ke dalamnya kapan saja Ia menghendakinya. Dan karena pengetahuan itu adalah input Allah yang diberikannya kepada akal sebagai infrastruktur komunikasi manusia dengan-Nya, maka ia menjadi penting sebagai penuntun bagi kehidupan manusia. Dalam kerangka itulah Allah mengulangi kata ilmu, dengan seluruh perubahan morfologisnya, lebih dari 700 kali dalam Al-Qur'an. Di jalur makna seperti itu pula Rasulullah SAW mengatakan: "Siapa yang menginginkan dunia hendaklah ia berilmu. Siapa yang menginginkan akhirat hendaklah ia berilmu. Siapa yang menginginkan kedua-duanya hendaklah ia berilmu."

Ada sesuatu yang tampak tidak bertemu di sini; antara ilmu yang sedikit, dan kuasa yang diberikan Allah pada ilmu yang sedikit itu. Yang pertama menyadarkan kita akan ketidakberdayaan kita. Tapi yang kedua menggoda kita dengan kekuasaan besar atas dunia kita. Kisah Fir'aun, Haman dan Qarun, adalah kisah orang-orang yang gagal menemukan titik temu antara keduanya. Sebaliknya ada kisah Yusuf dan Sulaiman yang menemukan simpul perekat antara kedua situasi itu.

Yusuf menguasai perbendaharaan negara karena ia, seperti yang beliau lukiskan sendiri. Hafiz 'aliim; penjaga harta yang tahu bagaimana cara menjaganya. Ilmu tentang bagaimana menjaga harta kekayaan negara telah memberinya posisi tawar politik yang kuat dalam kerajaan. Bergitu juga dengan kerajaan Sulaiman yang disangga oleh para ilmuwan yang bahkan melampaui kedalaman ilmu pasukan jinnya. Sebab pasukan Jin hanya mampu memindahkan singgasana Balqis dari Yaman ke Palestina dalam waktu antara duduk dan berdirinya Sulaiman. Sementara para ilmuwannya mampu memindahkan singgasana itu dalam satu kedipan mata. Itu bukan pengiriman data dan suara seperti dalam sms dan hubungan telepon. Tapi pengiriman barang atau cargo.

Luar biasa. Bukan terutama pengetahuannya yang luar biasa. Tapi tafsir Sulaiman atas itu semua: "Ini adalah keutamaan dari Tuhanku, yang dengan itu Ia hendak mengjui aku, apakah aku akan bersyukur atau mengingkari (kufur) nikmat itu." Sulaiman memahami bahwa Allahlah yang meniupkan sedikit kuasa pada pengetahuan itu. Sedikit kuasa itu membuatnya percaya diri di depan Balqis dengan menggunakan diplomasi teknologi dalam menyampaikan risalah, tapi juga membuatnya rendah hati dan bersyukur di depan Allah.

Itulah kata kuncinya: kerendahan hati dan kepercayaan diri. Persis seperti embun; sejuk karena kerendahan hati, tapi tak pernah berhenti menetes karena percaya bahwa dengan kelembutannya ia bisa menembus batu. [Anis Matta, sumber : Serial Pembelajaran Majalah Tarbawi edisi 217]
16:14 | 16 komentar

Antara Embun dan Laut

Written By Admin BeDa on Minggu, 06 Desember 2009 | 13:08


Cerita Muda dan Khidir adalah cara Allah mendidik Nabi-Nya, Musa a.s., untuk tidak merasa terlalu tahu, untuk tidak merasa hebat. Dengan cara itu Allah hendak memangkas keangkuhannya, sekaligus menanamkan kepadanya sebuah kesadaran baru bahwa apa yang tidak kita ketahui jauh lebih banyak daripada apa yang kita ketahui. Semua yang kita ketahui dan yang tidak kita ketahui terangkum lengkap dalam ilmu Allah. Yang kita ketahui itu terbatas. Sementara yang tidak kita ketahui itu tidak terbatas. Pengetahuan kita adalah gambaran keterbatasan kita sebagai manusia. Sementara ketidaktahuan kita adalah gambaran ketidakterbatasan Allah, sekaligus ketergantungan kita kepada-Nya.

Bisakah embun mengalahkan laut? Tidak! Tapi itu juga bukan perbandingan yang setara. Ilmu kita memang hanya ibarat setetes embun di tengah lautan. Tapi lautan sendiri takkan pernah cukup untuk menulis ilmu Allah itu. Itu sebabnya di penghujung surat Al-Kahfi di mana Allah mengisahkan cerita Musa dan Khidir, Allah mengatakan: “Andaikan laut dijadikan tinta untuk menulis kalimat-kalimat Allah, niscaya habislah laut itu sebelum kalimat-kalimat Allah itu habis, walaupun Kami mendatangkan laut lain sebanyak itu lagi”. Laut itu akan kering sebelum semua ilmu-Nya, segenap kebijaksanaan-Nya, tercatat!

Semakin dalam kita menyadari betapa luasnya ketidatahuan kita, semakin cepat kita sampai pada sebuah kesadaran baru, bahwa adalah salah besar untuk menafsirkan keberhasilan-keberhasilan kita dengan pengetahuan. Tentu saja pengetahuan kita berhubungan dengan kesuksesan kita. Katakanlah misalnya antara pengetahuan dan kekayaan. Tapi hubungan itu tidaklah bersifat kausalitas mutlak. Pengetahuan hanyalah salah satu faktor yang bisa menjelaskan kekayaan seseorang atau sebuah bangsa. Tapi apa yang menjelaskan fakta bahwa banyak orang pintar yang miskin, dan sebaliknya, banyak juga orang bodoh yang kaya raya? Pengetahuan mungkin menjelaskan kekayaan Bill Gates dan Amerika. Tapi mungkinkah Bill Gates sekaya itu seandainya dia lahir dua ratus tahun yang lalu? Sebaliknya, apa yang menjelaskan kekayaan negara-negara Teluk? Pengetahuan? Atau keberuntungan?

Selain itu, apa yang terjadi seandainya Allah memberikan semua pengetahuan dan sumber daya alam kepada bangsa-bangsa Barat, dan membiarkan bangsa-bangsa Teluk hidup tanpa pengetahuan dan sumber daya alam? Pengetahuan adalah karunia Allah. Sumber daya alam adalah juga karunia Allah. Dengan membelahnya ke Barat dan Timur, Allah menciptakan interdependensi dalam kehidupan manusia. Dalam makna ini pula Allah menghadirkan kisah Qarun, Haman dan Fir'aun dalam keseluruhan riwayat hidup Nabi Musa. Qarun adalah simbol kekayaan. Haman adalah simbol pengetahuan. Fir'aun adalah simbol kekuasaan. Ketiganya tenggelam ditelan laut dan bumi. Karena Qarun, misalnya, menafsirkan kekayaannya dengan tafsir tunggal “sesungguhnya aku diberi kekayaan ini karena pengetahuan yang kumiliki”.

Ketiga tokoh simbol itu adalah cerita tentang keangkuhan yang rapuh. Dan dihadirkan untuk mengajari kita makna perbedaan antara embun dan laut. [Anis Matta, sumber : Serial Pembelajaran, Majalah Tarbawi edisi 216]
13:08 | 8 komentar

Manusia dalam Al-Qur'an (1)

Written By Admin BeDa on Jumat, 04 Desember 2009 | 13:53


Postingan berikut merupakan Ceramah Hasan Al-Banna ke-3 dalam buku Hadits Tsulatsa (Ceramah-ceramah Hasan Al-Banna). Mengingat ceramah-ceramah ini dan berikutnya cukup panjang, kami bermaksud memotongnya menjadi beberapa bagian agar tidak terlalu berat/lama loadingnya. Ceramah Hasan Al-Banna yang sudah diposting dalam blog ini sebelumnya adalah :
1. Wasiatku Kepada Kalian, Wahai Ikhwan
2. Kewajiban Kita terhadap Al-Qur'an
Selamat membaca!

Kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah SWT. Kita ucapkan shalawat dan salam untuk junjungan kita Nabi Muhammad, segenap keluarga dan sahabatnya, serta siapa saja yang menyerukan dakwahnya hingga hari kiamat.

Ikhwan tercinta, saya sampaikan salam penghormatan Islam, salam penghormatan dari Allah SWT, yang baik dan diberkahi: Assalamu 'alaikum wa rahmatullah wa barakatuh.

Anda semua tentu ingat. Saya pernah berjanji bahwa tema pembicaraan kita pada kajian malam ini adalah kitab Allah SWT. Saya tidak bermaksud agar kajian-kajian ini mengupas semua hakikat ilmiah, perbedaan-perbedaan pendapat, atau kemungkinan beragamnya penafsiran. Saya tidak bermaksud demikian. Hanya satu tujuan saya: saya ingin memudahkan jalan untuk memahami Kitabullah, bagi siapa yang membacanya. Saya ingin memaparkan kandungan isinya secara umum dan membukakan pintu pemahaman terhadapnya.

Barangkali Anda sekalian, wahai Ikhwan, ingat sebuah pepatah yang mengatakan,

من عرف نفسه فقد عرف ربه

Barangsiapa mengenal dirinya, ia mengenal tuhannya.

Jadi, jika Anda mengenal diri Anda dengan sebenar-benarnya dan mengerti kedudukan yang diberikan oleh Tuhan kepada Anda, Anda dapat menunaikan hak diri Anda dan hak Tuhan Anda. Dengan demi- kian Anda akan sampai kepada ma'rifatullah.

وَفِي أَنْفُسِكُمْ أَفَلَا تُبْصِرُونَ

Dan di dalam diri kalian, tidakkah kalian melihat? (QS. Adz-Dzaariyat: 21)

Akhi, saya ingin agar kita berusaha supaya dapat melihat, di manakah kedudukan kita sebagai manusia? Apakah kewajiban kita ketika berada dalam kedudukan ini? Kita ingin mengetahui kedudukan yang diberikan oleh Allah kepada kita, agar kita dapat menunaikan hak diri kita dan setelah itu kita juga mengetahui hak Allah terhadap kita. Akhi, ketika kita mengupas tema ini dari sudut pandang ini, maka kita mendapati bahwa ia berkisar pada satu pokok persoalan, yaitu kisah Adam as. Saya ingat, kisah ini terdapat dalam beberapa tempat dalam Al-Qur'an: di surat Al-Baqarah, Al-A'raf, Al-Hijr, Al-Isra', Thaha, Shad, dan Ar-Rahman. Dalam surat-surat ini, terdapat informasi yang benar mengenai penciptaan manusia. Saudaraku, Anda melihat bahwa Allah SWT menyebut manusia di dalam banyak surat dalam Al-Qur'an.

Dalam surat Al-Baqarah,

كَيْفَ تَكْفُرُونَ بِاللَّهِ وَكُنْتُمْ أَمْوَاتًا فَأَحْيَاكُمْ ثُمَّ يُمِيتُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيكُمْ ثُمَّ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ

Bagaimana kalian kufur kepada Allah, padahal kalian tadinya mati, lantas Allah menghidupkan kalian, kemudian kalian dimatikan dan dihidupkan kembali, kemudian kepada Allah-lah kalian dikembalikan. (QS. Al-Baqarah: 28)

Dalam surat yang sama juga disebutkan,

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ

(Ingatlah) ketika Tuhanmu berkata kepada para malaikat, 'Sesungguhnya Aku akan menjadikan seorang khalifah di bumi.' Mereka berkata, 'Apakah Engkau akan menjadikan di bumi orang yang akan berbuat kerusakan di dalamnya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan mernuji-Mu dan memahasucikan-Mu?' Allah berfirman, 'Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.' (QS. Al-Baqarah: 30)

Inilah kisah manusia dalam Al-Qur'an, sebagaimana yang digambarkan oleh surat Al-Baqarah. Dalam surat Al-A'raf, pemaparan mengenai hal ini lebih mendetail,

وَلَقَدْ خَلَقْنَاكُمْ ثُمَّ صَوَّرْنَاكُمْ ثُمَّ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآَدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ لَمْ يَكُنْ مِنَ السَّاجِدِينَ (11) قَالَ مَا مَنَعَكَ أَلَّا تَسْجُدَ إِذْ أَمَرْتُكَ قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍ (12) قَالَ فَاهْبِطْ مِنْهَا فَمَا يَكُونُ لَكَ أَنْ تَتَكَبَّرَ فِيهَا فَاخْرُجْ إِنَّكَ مِنَ الصَّاغِرِينَ (13) قَالَ أَنْظِرْنِي إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ (14) قَالَ إِنَّكَ مِنَ الْمُنْظَرِينَ (15) قَالَ فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ (16) ثُمَّ لَآَتِيَنَّهُمْ مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَائِلِهِمْ وَلَا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ (17) قَالَ اخْرُجْ مِنْهَا مَذْءُومًا مَدْحُورًا لَمَنْ تَبِعَكَ مِنْهُمْ لَأَمْلَأَنَّ جَهَنَّمَ مِنْكُمْ أَجْمَعِينَ (18) وَيَا آَدَمُ اسْكُنْ أَنْتَ وَزَوْجُكَ الْجَنَّةَ فَكُلَا مِنْ حَيْثُ شِئْتُمَا وَلَا تَقْرَبَا هَذِهِ الشَّجَرَةَ فَتَكُونَا مِنَ الظَّالِمِينَ (19) فَوَسْوَسَ لَهُمَا الشَّيْطَانُ لِيُبْدِيَ لَهُمَا مَا وُورِيَ عَنْهُمَا مِنْ سَوْآَتِهِمَا وَقَالَ مَا نَهَاكُمَا رَبُّكُمَا عَنْ هَذِهِ الشَّجَرَةِ إِلَّا أَنْ تَكُونَا مَلَكَيْنِ أَوْ تَكُونَا مِنَ الْخَالِدِينَ (20) وَقَاسَمَهُمَا إِنِّي لَكُمَا لَمِنَ النَّاصِحِينَ (21) فَدَلَّاهُمَا بِغُرُورٍ فَلَمَّا ذَاقَا الشَّجَرَةَ بَدَتْ لَهُمَا سَوْآَتُهُمَا وَطَفِقَا يَخْصِفَانِ عَلَيْهِمَا مِنْ وَرَقِ الْجَنَّةِ وَنَادَاهُمَا رَبُّهُمَا أَلَمْ أَنْهَكُمَا عَنْ تِلْكُمَا الشَّجَرَةِ وَأَقُلْ لَكُمَا إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمَا عَدُوٌّ مُبِينٌ (22) قَالَا رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ (23) قَالَ اهْبِطُوا بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ وَلَكُمْ فِي الْأَرْضِ مُسْتَقَرٌّ وَمَتَاعٌ إِلَى حِينٍ (24) قَالَ فِيهَا تَحْيَوْنَ وَفِيهَا تَمُوتُونَ وَمِنْهَا تُخْرَجُونَ (25)

Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu (Adam), lalu Kami bentuk tubuhmu, kemudian Kami katakan kepada para malaikat, 'Bersujudlah kamu kepada Adam!', maka mereka pun bersujud kecuali Iblis. Dia tidak termasuk mereka yang bersujud. Allah berfirman, 'Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?' Iblis menjawab, 'Saya lebih baik daripadanya; Engkau menciptakanku dan api sedangkan ia Engkau ciptakan dari tanah.' Allah berfirman, 'Turunlah kamu dari surga itu; karena kamu tidak sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya, maka keluarlah, sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang hina.' Iblis menjawab, 'Beri tangguhlah saya sampai waktu mereka dibangkitkan.' Allah berfirman, 'Sesungguhnya kamu termasuk mereka yang diberi tangguh.' Iblis menjawab, 'Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan menghalangi mereka dari jalan Engkau yang lurus. Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).' Allah berfirman, 'Keluarlah kamu dari surga itu sebagai orang terhina lagi terusir. Sesungguhnya barangsiapa di antara mereka mengikuti kamu, benar-benar Aku akan mengisi neraka Jahanam dengan kamu semuanya. Dan engkau, wahai Adam, bertempat tinggallah kamu dan istrimu di surga serta makanlah olehmu berdua (buah-buahan) di mana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu berdua mendekati pohon ini, lalu menjadilah kamu berdua termasuk orang-orang yang zhalim.' Maka setan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya untuk menampakkan kepada keduanya apa yang tertutup dari mereka yaitu auratnya, dan setan berkata, 'Tuhan kamu tidak melarangmu mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang yang kekal (di dalam surga).' Dan setan bersumpah kepada keduanya, 'Sesungguhnya saya adalah termasuk orang yang memberi nasihat kepada kamu berdua.' Maka setan membujuk keduanya (untuk memakan buah itu) dengan tipu daya. Tatkala keduanya telah merasakan buah pohon itu, tampaklah bagi keduanya aurat-auratnya, dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun surga. Kemudian Tuhan mereka menyeru, 'Bukankah Aku telah melarang kamu berdua dari pohon itu dan Aku katakan kepadamu, "Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagi kamu berdua?'" Keduanya berkata, Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang merugi.' Allah berfirman, 'Turunlah kalian, sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Dan kamu mempunyai tempat kediaman dan kesenangan di muka bumi sampai waktu yang telah ditentukan.' Allah berfirman, 'Di bumi itu kamu hidup dan di bumi itu kamu mati, dan dari bumi itu (pula) kamu akan dibangkitkan.' (QS. Al-A'raf: 11-25)

Mahabenar Allah Yang Mahaagung. Ayat-ayat ini memaparkan kisah Adam as. dengan sedikit terperinci. Ia memaparkan dialog antara Allah SWT dengan setan. Ia mengupas sebab yang menjadikan setan tersesat, yaitu kesombongan serta sebab yang menjadikan Adam tergelincir dalam kesalahan, yaitu terperdaya oleh setan. Akhi, Anda juga bisa mendapatkan deskripsi semacam ini di dalam surat Al-Hijr dengan sedikit terperinci. Ayat-ayat tersebut memaparkan penciptaan manusia yang dilakukan oleh Allah SWT dari tanah kering yang berasal dari lumpur hitam yang dibentuk. Kemudian bagaimana Allah menyempurnakannya dan meniupkan ruh ke dalamnya? Kemudian Allah memerintahkan kepada para malaikat agar bersujud kepadanya, kepada suatu rahasia Ilahi yang lembut dan bernuansa ketuhanan ini. Maka para malaikat pun bersujud, kecuali iblis yang menyatakan bahwa dirinya tidak pantas bersujud kepada manusia yang diciptakan dari tanah kering yang berasal dari lumpur hitam yang dibentuk. Iblis hanya ingat kepada bahan bakunya saja, tetapi ia melupakan bahwa bahan baku itu tidak bernilai apa-apa kecuali setelah ditiupkan ruh- Nya ke dalamnya. Iblis adalah makhluk yang sombong, karena itu Allah Yang Maha-besar membutakannya dari pengetahuan tentang rahasia yang karenanya ia diwajibkan bersujud. Karena itu, ia pasti tertimpa laknat.

قَالَ فَاخْرُجْ مِنْهَا فَإِنَّكَ رَجِيمٌ (34) وَإِنَّ عَلَيْكَ اللَّعْنَةَ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ (35) قَالَ رَبِّ فَأَنْظِرْنِي إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ (36) قَالَ فَإِنَّكَ مِنَ الْمُنْظَرِينَ (37) إِلَى يَوْمِ الْوَقْتِ الْمَعْلُومِ (38) قَالَ رَبِّ بِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأُزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِي الْأَرْضِ وَلَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ (39) إِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ (40) قَالَ هَذَا صِرَاطٌ عَلَيَّ مُسْتَقِيمٌ (41) إِنَّ عِبَادِي لَيْسَ لَكَ عَلَيْهِمْ سُلْطَانٌ إِلَّا مَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْغَاوِينَ (42)

Allah berfirman, 'Keluarlah dari surga, karena sesungguhnya kamu terkutuk. Dan sesungguhnya kutukan itu tetap menimpamu sampai hari kiamat.' Iblis berkata, Ya Tuhanku, (kalau begitu) maka beri tangguhlah aku sampai hari (manusia) dibangkitkan.' Allah ber- firman, '(kalau begitu) maka sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang diberi tangguh. Sampai hari (suatu) waktu yang telah ditentukan.' Iblis berkata, 'Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasd aku akan menyesatkan mereka semuanya. Kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis di antara mereka.' Allah berfirman, Tni adalah jalan yang lurus, kewajiban- Ku-lah (menjaganya). Sesungguhnya hamba-hamba-Ku tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka, kecuali orang-orang yang meng- ikutimu, yaitu orang-orang yang sesat.' (QS. Al-Hijr: 34-42)

Ikhwanku, di sini Anda menemukan bahwa kisah tersebut dipa- parkan bersamaan dengan pemaparan makna ayat secara umum dan penjelasan pada bagian-bagian tertentu. Di sini dijelaskan bahwa Iblis telah mengakui ketuhanan Allah SWT. Di sini Allah SWT menjelaskan bahwa ada sebagian manusia yang tidak dapat dikuasai oleh Iblis.

Dalam surat Al-Isra' Anda mendapatkan informasi ringkas mengenai kisah Adam. Kisah tersebut sedikit menyinggung tentang metode iblis untuk menguasai manusia dan penjelasan mengenai kedustaan janji-janji iblis kepada manusia.

قَالَ أَرَأَيْتَكَ هَذَا الَّذِي كَرَّمْتَ عَلَيَّ لَئِنْ أَخَّرْتَنِ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ لَأَحْتَنِكَنَّ ذُرِّيَّتَهُ إِلَّا قَلِيلًا (62) قَالَ اذْهَبْ فَمَنْ تَبِعَكَ مِنْهُمْ فَإِنَّ جَهَنَّمَ جَزَاؤُكُمْ جَزَاءً مَوْفُورًا (63) وَاسْتَفْزِزْ مَنِ اسْتَطَعْتَ مِنْهُمْ بِصَوْتِكَ وَأَجْلِبْ عَلَيْهِمْ بِخَيْلِكَ وَرَجِلِكَ وَشَارِكْهُمْ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ وَعِدْهُمْ وَمَا يَعِدُهُمُ الشَّيْطَانُ إِلَّا غُرُورًا (64) إِنَّ عِبَادِي لَيْسَ لَكَ عَلَيْهِمْ سُلْطَانٌ وَكَفَى بِرَبِّكَ وَكِيلًا (65)

Iblis berkata, 'Terangkanlah kepadaku, inikah orang yang Engkau muliakan atas diriku itu? Sesungguhnya jika Engkau memberi tangguh kepadaku sampai hari kiamat, niscaya benar- benar akan aku sesatkan keturunannya, kecuali sebagian kecil saja.' Allah berfirman, 'Pergilah, barangsiapa di antara mereka yang meng- ikutimu, maka sesungguhnya neraka Jahanam adalah balasanmu semua, sebagai pembalasan yang cukup. Dan hasunglah siapa yang kamu sanggupi di antara mereka dengan ajakanmu, dan kerahkanlah terhadap mereka pasukan berkuda dan pasukanmu yang berjalan kaki dan berserikadah dengan mereka pada harta dan anak-anak, dan beri janjilah mereka. Dan tidak ada yang dijanjikan setan kepada mereka melainkan tipuan belaka. Sesungguhnya hamba-hamba-Ku, kamu tidak dapat berkuasa atas mereka. Dan cukuplah Tuhanmu sebagai Penjaga.' (QS. Al- Isra': 62-65)

Ikhwanku, dalam surat Thaha, Anda menemukan informasi mengenai gambaran umum kisah ini serta perpaduan antara berbagai peristiwa ini dan maknanya secara umum. Tetapi Anda menemukan isyarat bahwa manusia itu lemah selama tidak dikaruniai kekuatan oleh Allah. Allah juga menyampaikan bahwa salah satu karakter manusia adalah lupa. Ia punya watak pelupa dan rakus.

فَوَسْوَسَ إِلَيْهِ الشَّيْطَانُ قَالَ يَا آَدَمُ هَلْ أَدُلُّكَ عَلَى شَجَرَةِ الْخُلْدِ وَمُلْكٍ لَا يَبْلَى (120) فَأَكَلَا مِنْهَا فَبَدَتْ لَهُمَا سَوْآَتُهُمَا وَطَفِقَا يَخْصِفَانِ عَلَيْهِمَا مِنْ وَرَقِ الْجَنَّةِ وَعَصَى آَدَمُ رَبَّهُ فَغَوَى (121) ثُمَّ اجْتَبَاهُ رَبُّهُ فَتَابَ عَلَيْهِ وَهَدَى (122)

Kemudian setan membisikkan pikiran jahat kepadanya, dengan berkata, 'Hai Adam, maukah saya tunjukkan kepadamu pohon khuldi (pohon keabadian) dan kerajaan yang tidak akan binasa?' Maka keduanya memakan buah pohon itu, lalu tampaklah bagi keduanya aurat-auratnya dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun (yang ada di) surga, dan durhakalah Adam kepada Tuhan dan sesatlah ia. Kemudian Tuhannya memilihnya maka Dia menerima taubatnya dan memberinya petunjuk. (QS. Thaha: 120-122)

Ini terjadi setelah Allah berpesan kepada Adam, namun ia lupa dan lengah. Ia tidak mempunyai kemauan kuat yang dapat menolak godaan- godaan setan.

Dalam surat Shad terdapat penafsiran bahwa tanah kering dan lumpur hitam sebagai bahan baku penciptaan manusia itu berupa tanah liat. Di situ tampak kemuliaan yang diberikan oleh Allah swt. kepada manusia.

قَالَ يَا إِبْلِيسُ مَا مَنَعَكَ أَنْ تَسْجُدَ لِمَا خَلَقْتُ بِيَدَيَّ أَسْتَكْبَرْتَ أَمْ كُنْتَ مِنَ الْعَالِينَ (75)

Allah berfirman, 'Hai Iblis, apakah yang menghalangi kamu bersujud kepada yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku. Apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu (merasa) termasuk orang-orang yang (lebih) tinggi?' (Shad: 75)

Di dalamnya terdapat pengakuan Iblis mengenai kemuliaan Allah SWT dan bahwa laknat yang menimpanya merupakan laknat Tuhan. Ketika mengupas kajian tentang surat Ar-Rahman, kita menemukan bahwa kisah tersebut telah menginformasikan unsur bahan baku manusia.

خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ صَلْصَالٍ كَالْفَخَّارِ (14)

Dia menciptakan manusia dari tanah kering seperti tembikar. (QS. Ar-Kahman: 14)

Di dalamnya terdapat isyarat bahwa unsur-unsur yang ada dalam tubuh kita adalah berasal dari tanah yang ada di bumi ini, dari kandungan dan bahan mentahnya. Jika kita memperhatikan kisah tersebut secara lahirnya, sebagaimana yang disebutkan dalam ayat-ayat Al-Qur'anul Karim ini, kita menemukan bahwa ia memberikan petunjuk tentang sesuatu yang jelas, gamblang, dan tidak memerlukan penafsiran, yaitu bahwa manusia itu dalam bentuk materinya telah diciptakan tanpa contoh terlebih dahulu. Ia bukan merupakan rangkaian dari makhluk lain sebagaimana yang dikatakan oleh sebagian pakar biologi.

Namun, ada beberapa aliran materialis yang ngotot meyakini pendapat yang dikatakan oleh mereka yang meyakini evolusi manusia dari hewan lain, padahal Darwin sendiri mengakui bahwa ia tidak dapat mengetahui rahasia kehidupan. Ia mengakui bahwa setiap kali mencoba memperdalam penelitiannya ini, ia makin tahu bahwa sumber kehidupan adalah Allah SWT. Adapun bagaimana penciptaan tersebut, maka Al- Qur'anul Karim tidak merincinya. As-Sunah juga tidak memaparkannya secara mendetail. Tetapi yang kita yakini adalah bahwa manusia, dengan unsur materi semata tanpa ruh, merupakan bagian dari unsur tanah yang manusia injak; manusia bukanlah salah satu jenis binatang yang mengalami evolusi setelah beradaptasi dengan lingkungannya, dan bahwa alasan-alasan yang dikemukakan oleh para tokoh dan ilmuwan materialisme mengenai berbagai syubhat dalam masalah ini hanyalah dugaan-dugaan yang dilontarkan oleh para ilmuwan biologi.

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak memiliki pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semua itu akan dimintai pertanggungjawabannya. (QS. Al-lsra: 36)

Ini dipandang dari segi komposisi materi manusia, komposisi tanah sebagaimana yang disebutkan oleh Al-Qur'an. Bersambung ke >>> Manusia dalam Al-Qur'an (2)
13:53 | 8 komentar

Masukkan alamat e-mail untuk mendapatkan up date Bersama Dakwah