Assalaamu'alaikum ,  Ahlan wa Sahlan  |  Facebook  |  Twitter  |  Pasang Iklan

Hadits 1: Semua Amal Tergantung Niatnya

Written By Admin BeDa on Senin, 25 Januari 2010 | 10:58

عَنْ عَلْقَمَةَ بْنَ وَقَّاصٍ اللَّيْثِىَّ يَقُولُ سَمِعْتُ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ - رضى الله عنه - عَلَى الْمِنْبَرِ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - يَقُولُ « إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى ، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا أَوْ إِلَى امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ »
Dari ‘Alqamah bin Waqqash Al-Laitsi bahwa ia berkata, “Aku mendengar Umar bin Khattab RA berkata di atas mimbar, “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Semua amal perbuatan tergantung niatnya dan setiap orang akan mendapatkan sesuai yang ia niatkan. Barangsiapa yang berhijrah karena dunia yang ia cari atau wanita yang ingin ia nikahi, maka hijrahnya untuk apa yang ia tuju”

Hadits di atas adalah hadits ke-1 dalam Shahih Bukhari (صحيح البخارى), di bawah Kitab Bad’il Wahyi (كتاب بدء الوحى) (Permulaan Turunnya Wahyu), Bab Cara Permulaan Turunnya Wahyu Kepada Rasulullah (باب كَيْفَ كَانَ بَدْءُ الْوَحْىِ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ).

عَلَى الْمِنْبَرِ : Yakni mimbar masjid Nabawi, Madinah



إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ

إِنَّمَا adalah adatul-Hashr (untuk membatasi), yakni menetapkan sesuatu yang disebut setelahnya dan menafikan sesuatu yang tidak disebut. Dengan demikian, hadits ini menunjukkan bahwa tidak ada amal perbuatan yang sah atau sempurna hukumnya kecuali berdasarkan niat.

بِالنِّيَّاتِ : Huruf ba’ menunjukkan arti mushahabah (menyertai) dan ada juga yang mengartikan sababiyah (menunjukkan sebab). Niyyaat adalah bentuk jama’ dari kata niyat. Secara etimologi bermakna ‘kehendak’ dan secara terminologi bermakna ‘kehendak yang dibarengi dengan perbuatan nyata’.

Para ahli fikih berselisih pendapat untuk menentukan apakah niat itu termasuk rukun atau syarat? Dalam hal ini pendapat yang paling kuat adalah, bahwa niat di awal pekerjaan adalah rukun, sedangkan menyertakannya dalam pekerjaan adalah syarat.



وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

امْرِئٍ : Manusia, baik laki-laki maupun perempuan
Jika kalimat pertama di atas menunjukkan apa saja yang termasuk amal, maka kalimat kedua ini menunjukkan akibat atau hasil dari amal itu. Kalimat pertama menjelaskan bahwa perbuatan itu harus disertai niat, kalimat kedua ini menegaskan bahwa seseorang tidak mendapatkan dari perbuatannya kecuali apa yang ia niatkan.


فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا أَوْ إِلَى امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

Dalam hadits ini tidak terdapat kalimat فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ sebagaimana hadits-hadits lain yang lebih populer dan lebh banyak dihafal umat Islam. Ini dimungkinan karena riwayat Humaidi sampai kepada Imam Bukhari seperti lafadz hadits di atas. Imam Al-Karmani berkata: “Hadits ini terkadang diriwayatkan secara lengkap dan terkadang tidak, hal itu disebabkan perawi yang meriwayatkannya juga berbeda. Memang setiap perawi telah meriwayatkan hadits sesuai dengan apa yang dia dengar tanpa ada yang dihilangkan, sedang Bukhari menulis riawayt hadits ini sesuai dengan judul yang dibicarakan.”

Memang prinsip Imam Bukhari dalam menulis hadits adalah tidak menulis satu hadits yang berbeda periwayatannya dalam satu tempat. Apabila ada hadits yang mempunyai sanad lebih dari satu, maka ia menulisnya pada tempat yang berbeda pula, dan tidak pernah beliau menulis hadits dengan menghilangkan sebagiannya, sedang pada tempat yang lain beliau menulis secara lengkap. Juga tidak dijumpai satu hadits pun dengan sanad dan matan yang sama dan lengkap ditulis pada beberapa tempat, kecuali sebagian kecil saja, yakni kurang lebih dua puluh tempat.

هِجْرَتُهُ : Hijrah secara etimologi bermakna ‘meninggalkan’ dan secara terminologi bermakna ‘meninggalkan negeri kafir ke negeri Islam untuk menghindari hal-hal yang buruk.’ Adapun yang dimaksud dengan hijrah dalam hadits ini adalah perpindahan dari kota Makkah dan kota-kota lain ke kota Madinah, sebelum fathu Makkah.

هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا : Untuk mendapatkan keuntungan duniawi
Kata dunya berasal dari Ad-dunuw yang berarti dekat. Dinamakan demikian karena dunia lebih dahulu dari pada akhirat atau karena dunia sangat dekat dengan kehancuran/kebinasaan.

إِلَى امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا : Untuk mendapatkan wanita yang akan dinikahi
Disebutkannya kata wanita secara khusus setelah kata umum (dunia) adalah untuk menekankan bahwa bahaya dan fitnah yang ditimbulkan oleh wanita sangat besar. Ini juga berkaitan dengan sababul wurud hadits ini. Imam At-Thabrani meriwayatkan dalam Al-Mu’jam Al-Kabir dengan sanad yang bisa dipercaya, bahwa Ibnu Mas’ud berkata: “Diantara kami ada seorang laki-laki yang melamar seorang wanita bernama Ummu Qais. Namun, wanita itu menolak sehingga ia berhijrah ke Madinah. Maka laki-laki tersebut ikut hijrah dan menikahinya. Karena itu kami memberinya julukan Muhajir Ummu Qais.”

فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ : Maka hijrahnya sesuai dengan apa yang ia tuju
Seseorang yang melakukan amal ibadah tetapi niatnya bukan karena Allah, tetapi ingin mendapatkan dunia atau wanita maka ia tidak mendapatkan pahala dari Allah. Inilah yang termasuk syirik asghar. Namun dalam konteks hijrah pada hadits ini, jika diniatkan menjauhi kekufuran dan menikahi wanita, hijrahnya kurang sempurna dibandingkan dengan orang yang berhijrah dengan niat yang tulus. Meskipun, niat menikahi wanita –baik hijrah atau tidak- akan mendapatkan pahala jika pernikahannya untuk mendekatkan diri kepada Allah, karena pernikahan adalah anjuran agama Islam.

Hal ini seperti peristiwa masuk Islamnya Thalhah, sebagaimana diriwayatkan oleh Nasa’i dan Anas, ia berkata, “Abu Thalhah telah menikahi Ummu Sulaim dengan mahar masuk Islam, karena Ummu Sulaim telah masuk Islam lebih dahulu dari pada Abu Thalhah. Maka ketika melamarnya, Ummu Sulaim berkata, “Aku sudah masuk Islam, seandainya kamu masuk Islam, maka saya bersedia dinikahi.” Lalu Abu Thalhah masuk Islam dan menikahi Ummu Sulaim.

Imam Ghazali menggaris bawahi apabila keinginan untuk memperoleh dunia lebih besar dari keinginannya untuk mendekatkan diri kepada Allah, maka orang itu tidak mendapatkan pahala, begitu pula apabila terjadi keseimbangan antara keduanya, ia tetap tidak mendapatkan pahala. Akan tetapi apabila seseorang berniat untuk ibadah dan mencampurnya dengan keinginan selain ibadah yang dapat mengurangi keikhlasan, maka Abu Ja’far bin Jarir Ath-Thabari telah menukil perkataan ulama salaf, bahwa yang harus menjadi tolak ukur adalah niat awal, apabila ia memulai dengan niat untuk mendekatkan diri kepada Allah, maka perubahan niat tidak menggugurkan pahalanya. Wallaahu a’lam bish shawab.

[Muchlisin, diringkas dari Fathul Baari dan Al-Wafi]

<<< KEMBALI KE PENGANTAR

14 komentar:

Go Green mengatakan...

aq setuju, semua amal tergantung niat dari si pelakunya, apapun yang kita kerjakan, kalau niatnya baik hasilnya pun pasti akan baik juga bgt juga senaliknya, terima kasih atas pencerahannya, lama Rizky g main kesini

Seno mengatakan...

Yup, terima kasih pencerahannya.

Dari sisi lain, niat ternyata juga bisa menumbuhkan semangat dan motivasi untuk mencapai sesuatu ya Kang.

Rossy R mengatakan...

Assalamu'alaikum...syirik asghar itu bisa hilang lewat sholat ya?? memang pada jaman Rasulullah Mahar itu sangat mudah ada salah satu sahabat yang maharnya dengan ayat2 suci Al-Qur'an..Islam agama yang mudah

Ibnu Mas'ud mengatakan...

Innamal A'malu binniyah ....

♥ syifa ♥ aulia ♥ 'kakcipa' ♥ mengatakan...

wah dulu aku hapal waktu SD.....
tapi sekarang lupa...dulu di SDIT setiap hari menghapal hadits...:)
haditsnya benar!setuju lho!!!! must believe firman-firman Allah...!

Muchlisin mengatakan...

@Go Green: Terima kasih juga. Sering-sering saja mampir ke sini :-)
@Seno: Betul betul betul. Kalau gak ada niat bagaimana ada motivasi?
@Rossy: Wa'alaikum salam warahmatullah. Syirik asghar (syirik kecil) itu menghilangkan pahala amal yang terkontaminasi syirik asghar itu. Untuk menghilangkan, ya kita harus bermujahadah (berupaya sungguh-sungguh) untuk meluruskan niat dan ikhlas dalam beramal. Diantaranya dengan mengingat bahwa kalau kita tidak ikhlas, amal kita akan sia-sia.
@Ibnu Mas'ud: Dihafalkan memang lebih baik dari sekedar dibaca ^_^
@♥ syifa ♥ aulia ♥ 'kakcipa' ♥: Dihafalkan lagi kakcipa, dimuroja'ah hafalannya ^_^

Anonim mengatakan...

Alhamdullillah mudah2an ilmu yang didapatkan bisa ku laksanakan dalam kehidupan sehari2ku...!!!

Belajar Bahasa Arab mengatakan...

assalamu'alaikum....wr....wb....
wah hebat terima kasih atas sharing ilnmunya. jazakallah...
btw, ma'af kalau tidak oot. mengapa setiap kali saya menulis huruf arab dengan harkatnya, selalu saja hasilnya harkat fathah ada dibawah harkat syiddah? padahal waktu penulisannya di kolom postingan terlihat sudah benar, tapi setelah di terbitkan tampilannya berubah menjadi harkat fathah terletak dibawah harkat syiddah. sudah saya coba di blogger dan wordpress. hasilnya sama!
Apa yang harus saya buat? padahal saya sering melihat blog orang lain baik yang blogspot atau yang wordpress yang ada tulisan arab berharkatnya, penempatan harkatnya betul semua. saya jadi bingung.
saya berikan contoh tulisan berharkat dibawah ini, saya ketik di kolom post new comment ini :
اِنَّمَا اْلاَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ

tulisan harkat di atas saya ketik dengan benar, entah nanti setelah disubmit.

nb. saya menggunakan browser google chrome, os windows xp sp2 yang disupportkan busa nulis huruf Arab.

wassalam.............

BeDa mengatakan...

@Belajar Bahasa Arab: Wa'alaikum salam warahmatullah. Waiyyakum.
Untuk font Arabnya, tadi ana sudah coba mengcopy tulisan Antum ke word dan ana bandingkan ternyata memang ada yang error. Bentuk harakat di bawah syiddah tidak sama dengan kasrah. Berarti fathah di atas syiddah dibaca salah. Kemungkinan google chrome yang tidak compatible dengan font Arab yang Antum postingkan. Coba saja memakai mozilla firefox. Kalau OS, kita memakai sama: Windows XP. Semoga berhasil. Afwan.

Belajar Bahasa Arab mengatakan...

اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ
terima kasih atas solusi yang Akhi cerahkan kepada saya. saya coba menggunakan firefox ternya bisa!!!.
Rupanya Google Chromenya yang merubah harakat yang saya terbitkan, sekarang saya mulai percaya diri nulis Arab di Internet tanpa Google Chrome. ternyata percuma kalau google bisa memberi harakat tulisan Arab. dengan diluncurnya situs google Tashkeelhttp://tashkeel.googlelabs.com/. nyatanya malah terbalik, merubah harakat yang betul menjadi salah.:)
Jazaakallah ya akhi......

Anonim mengatakan...

عَنْ عَلْقَمَةَ بْنَ وَقَّاصٍ اللَّيْثِىَّ يَقُولُ سَمِعْتُ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ - رضى الله عنه - عَلَى الْمِنْبَرِ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - يَقُولُ « إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى ، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا أَوْ إِلَى امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

Dari google translate:
ʻAn ʻAlqamata Bna Waqqāşiⁿ al-Laythiáa Yaqūlu Samiʻtu ʻUmara Bna al-Khaţţābi - Rḑá al-Lh ʻNh - ʻAlá al-Minbari Qāla Samiʻtu Rasūla al-Lahi - Şlá al-Lh ʻLyh Wslm - Yaqūlu « ʼInnamā al-ʼAʻmālu Biālnnīyāti ، Waʼinnamā Likulli Āmriʼiiⁿ Mā Nawá ، Faman Kānat Hijratuhu ʼIlá Dunyā Yuşībuhā ʼAw ʼIlá Āmraʼahiⁿ Yankiḩuhā Fahijratuhu ʼIlá Mā Hājara ʼIlayhi

Apakah benar demikian.

Saya lagi mencari hadis asli bahasa arab tapi yang sudah ditulis dalam alphabet latin (seperti contoh dari google translate di atas),
ada yang bisa membantu ?
Terimakasih saya ucapkan.
wassalam.............

Anonim mengatakan...

Salam, minta tolong terjemahkan hadis ini:
وأدوا زكاة أموالكم طيبة بها أنفسكم
Apa maksud طيبة di situ? Terima kasih.

Anonim mengatakan...

Assalamualaikum tuan, mohon di copy ya ke website saya, www.malaysiaria.com.my

aryo sunaryo mengatakan...

Assalamu 'alaikum
IZin copas semu hadits'y
sembari mengamalkan
semoga bermanfa'at

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...