Assalaamu'alaikum ,  Ahlan wa Sahlan  |  Write for Us  |  Kontributor  |  Pasang Iklan

Kemunduran Umat Islam, Siapa yang bertanggung Jawab?

Diposkan oleh Bersama Dakwah pada Senin, 29 Maret 2010 | 16.00 WIB


Judul Buku : Kemunduran Umat Islam: Siapa yang Bertanggung Jawab?
Judul Asli : Man al-Mas-uul 'an Takhallufil Muslimiina
Penulis : Dr. Muhammad Sa'id Ramadlan Al-Buthi
Penerjemah : M. Burhanuddin - Muallimin
Penerbit : Mashun, Kelompok Masmedia Buana Pustaka, Sidoarjo
Cetakan Ke : 1
Tahun Terbit : Maret 2009
Tebal Buku : 151 halaman


Buku Kemunduran Umat Islam: Siapa yang Bertanggung Jawab? adalah karya Dr. Muhammad Said Ramadhan Al-Buthi, seorang ulama terkenal dari Syiria. Buku ini membahas kemunduran umat Islam dalam perspektif yang berbeda.

Kemunduran umat Islam, menurut banyak sejarawan dimulai saat jatuhnya kota Baghdad di tangan Hulagu Khan pada tahun 1250 M. Ini pertanda yang awal dari berakhirnya supremasi Khilafah Abbasyiyah dan titik awal kemunduran umat Islam di bidang politik dan peradaban Islam yang selama berabad-abad lamanya menjadi kebanggaan umat.

Pada masa kekhilafahan Islam dipegang Daulah Utsmaniyah, sesungguhnya usaha memajukan peradaban Islam dimulai kembali dan memang ada masa-masa kejayaan pada rentang waktu itu. Seperti kemenangan Muhammad Al-Fatih dalam memfutuhkan Konstantinopel dan lain-lain. Namun belum sampai pertengahan masa daulah Utsmaniyah bertahan, penurunan terjadi kembali dan semakin mundur.

Sejak abad 14 H, banyak ulama, pemikir Islam dan harakah Islamiyah yang mencangkannya sebagai masa kebangkitan. Namun Muhammad Said Ramadhan Al-Buthi –dengan menulis buku ini- justru mengisyaratkan bahwa sekarangpun umat Islam masih berada dalam masa kemunduran. Dan karenanya perlu dicari solusinya.


Siapakah Muhammad Said Ramadlan Al-Buthi?
Said Ramadhan Al-Buthi adalah seorang ulama berpengaruh di Syria yang cukup produktif menulis buku. Karyanya yang paling fenomenal adalah Fiqhus Sirah. Selain Fiqhus Sirah dan buku ini, Man al-Mas-uul 'an Takhallufil Muslimiina, karya beliau antara lain :
1. Muhadharat Fil Fiqhil Muqharin Ma'a Muqaddimati Fi Bayani Asbabi Ikhtilafi al-Fuqaha' Wa Ahammiyyati Dirasatil Fiqhil Muqarin (Problematika Dalam Fiqh Muqarin, Sebab Terjadinya Perbedaan Fuqaha', dan Pentingnya Mempelajari Fiqh Muqarin)
2. Al-Islam Maladz Kulli Mujtama'at Insaniyyah; Limadza Wa Kaifa? (Islam Tempat Berlindung Seluruh Masyarakat Sosial; Mengapa dan Bagaimana?)
3. Al Jihad Fil Islam; Kaifa Nafhamuhu ? Wa Kaifa Numarisuhu? (Jihad dalam Islam; Bagaimana Kita Memahami dan Melaksanakannya?
4. Salafiyyah; Marhalah Zamaniyyah Mubarakah La Madzhab Islami
5. Al 'Uqhubat Islamiyyah; Wa 'Aqduhu al-Tanaqhudhu Bainaha Wa Baina Ma Yusamma Bithobi'ihal
6. Hurriyatul Insan Fi Dhilli 'Ubudiyyahatihi Lillah (Kebebasan Manusia Dalam Beribadah)
7. Difa' 'An Islam Wa Tarikh (Belaan Terhadap Islam dan sejarah)
8. Al Islam Wa 'Asru; Tahaddiyat Wa 'Afaq (Islam dan Modernisme; Sebuah Tantangan dan Harapan)

Apa Diferensiasi Buku Ini?
Banyak buku mengenai kemunduran umat Islam yang telah ditulis. Baik oleh penulis muslim maupun para orientalis. Buku-buku itu mencoba menganalisa mengapa terjadi kemunduran umat Islam dan mencoba menawarkan solusinya berupa upaya kebangkitan umat.

Buku-buku yang ditulis oleh orientalis –khususnya-, menghasilkan kesimpulan bahwa kemunduran umat Islam yang bersamaan dengan kemajuan Barat, adalah karena tradisi keagamaan yang cenderung membatasi umat Islam. Pendapat ini dipaparkan di awal buku, pada bab I, dan ditolak oleh Said Ramadhan Al-Buthi dengan menunjukkan argumentasi di mana letak kesalahannya.

Buku Kemunduran Umat Islam: Siapa yang Bertanggung Jawab? ini mencoba memadukan antara dalil naqli dengan argumentasi ilmiah dalam membahas kemunduran umat Islam, siapa yang bertanggungjawab, dan bagaimana solusinya. Akan kita temui dalam buku ini banyak catatan kaki yang berisi data pendukung argumentasi Said Ramadhan Al-Buthi. Dalam isi buku juga ditampilkan data-data modern seperti perkembangan pemakaian teknologi rumah tangga di Prancis (mewakili Eropa) dalam rentang 25 tahun dibandingkan dengan Arab yang tertinggal 5 tahun.

Mengapa Masa Sekarang Masih Disebut Masa Kemunduran?
Berangkat dari definisi "kemunduran" Said Ramadhan Al-Buthi berpendapat bahwa masa sekarang pun umat Islam masih mengalami kemunduran. Kemunduran dalam buku ini didefinisikan sebagai kata yang mencakup berbagai bentuk kelemahan, kebodohan atau kekurangan dalam kehidupan suatu umat. Kemunduran itu sendiri menjangkit ke dalam persatuan atau kepercayaan umat muslim sehingga kekuasaan Zionisme Yahudi, misalnya, dengan mudahnya merebut tanah Palestina. Bahkan, kemunduran bisa saka terjadi akibat adanya stagnasi ilmiah dan keengganan umat untuk mengeksploitasi kandungan bumi.

Di sisi lain, bangsa asing berupaya mencari berbagai cara untuk mencapai puncak kemajuan ilmu pengetahuan.

Sebab Kemunduran Umat Islam
Pada banyak tempat Said Ramadhan Al-Buthi menyebutkan bahwa kemunduran umat Islam bukan karena agamanya, bukan karena Islam. Kemajuan suatu bangsa terdahulu juga tidak serta merta meminggirkan agama, sejarah atau tradisinya.

Sebaliknya, Islam justru menjamin kemajuan umatnya, ketika Islam diaplikasikan dengan benar. Itu yang pernah terjadi pada Mit Ghorm Local Saving Bank, yang diambil Said Ramadhan Al-Buthi sebagai contoh. Mit Ghorm Local Saving Bank merupakan sebuah bank di Mesir yang mempraktikkan sistem Islam dengan meninggalkan bunga yang tidak lain adalah riba. Bank ini sukses dan mengalami kemajuan pesat dalam waktu singkat. Meskipun kemudian ia tidak didukung akibat kepentingan politik rezim penguasa.

Said Ramadhan Al-Buthi kemudian menjelaskan secara detail faktor-faktor kemunduran umat Islam dalam bab III. Pertama, Instabilitas mental dan rasional. Yaitu segala bentuk kekacauan dalam jiwa dan pemikiran. Kekacauan ini bermula dari pengalaman sejarah yang bertemu dengan infiltrasi pemikiran ekstern. Ketika daulah Utsmaniyah selama beberapa kurun mencapai puncak kekuasaan dan kejayaannya, lambat laun mengalami kemunduran akibat ketimpangan intern dan makar zionis. Umat yang terfragmen dalam beberapa kelompok saling bermusuhan sehingga semakin merapuhkan daulah. Sementara itu Eropa bangkit dengan pesat, sambil "membiuskan" pemikiran bahwa kemajuan mereka adalah karena meninggalkan tradisi lama, termasuk agama. Ini yang membuat umat Islam secara internal semakin kacau pola pikirnya dan kemunduran semakin tak terhindarkan.

Kedua, Tidak adanya rencana secara matang. Maksudnya adalah ketiadaan programisasi yang menjadi bagian terpenting dari sebuah metodologi yang bersifat kompleks. Ketiadaan ini menjadi sistemik, bukan saja karena kurangnya intelektual dan pemimpin umat yang memikirkan secara strategis bagaimana memajukan umat ini, tetapi juga kondisi pendidikan umat Islam yang pelulusannya bersifat despostis.

Ketiga, Hilangnya positivisme diantara sektor-sektor umat. Secara nyata kondisi ini bisa dipahami sebagai hilangnya solidaritas diantara semua level yang ada, yang seharusnya membudayakan nilai-nilai positif sebagai penopang utamanya.

Keempat, ketiadaan unsur-unsur pendidikan beserta nilai-nilai budaya demi memerangi keterbelakangan. Dan kelima, terpecahnya persatuan. Di mana fanatisme yang meracuni banyak kelompok dan melahirkan sikap merasa paling benar dan berhak eksis serta mendominasi lebih dari entitas yang lain.

Solusi yang Ditawarkan

Bab IV, bab terakhir, justru merupakan bab terpendek dalam buku ini. Sehingga solusi yang dimuat dalam buku ini pun bersifat umum dan tidak mendetail. Inilah barangkali yang menjadi kelemahan buku ini. Said Ramadhan Al-Buthi menyimpulkan bahwa solusi itu tidak lain adalah kembali kepada Islam. Bukan justru sebaliknya, mengaitkan kemunduran umat Islam dengan ajarannya. Dengan memahami Islam pula, kita bisa membedakan Islam dan sejarah umatnya. Islam yang merupakan rahmatan lil alamin, jalan yang dibentangkan Allah kepada hamba-Nya, adalah jalan pasti untuk mencapai kesejahteraan dunia dan akhirat. [Muchlisin]

Iklan Anda

4 komentar:

Abi Sabila mengatakan...

buku ini belum ada format ebooknya ya Khi?

Fi mengatakan...

buku ini bagus untuk referensi jamaah' muda islam. biar lebih giat lagi berdakwah.

Bersama Dakwah mengatakan...

@Abi Sabila: Belum ada Pak
@Fi: Semoga tulisan singkat di atas mendorong pemuda untuk membaca buku tersebut.

Anonim mengatakan...

Asalkan bukan politik di kemas dalam dakwah aja..itu yang bikin umat ini mundur..

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...