Assalaamu'alaikum ,  Ahlan wa Sahlan  |  Write for Us  |  Kontributor  |  Pasang Iklan

Ingin Dikenang Seperti Apa oleh Anak Kita Nanti?

Written By Admin BeDa on Sabtu, 15 Mei 2010 | 13:00


Dalam acara tujuh hari wafatnya Gus Dur, Innayah Wahid membacakan puisi yang membuat terharu jamaah yang hadir. Puisi berjudul “Karena Ayahku” itu ditulis untuk ayahnya, Gus Dur. “Kalau aku jadi orang dermawan, itu karena Ayahku yang mengajarkan. Kalau aku jadi orang toleran, itu karena Ayahku yang menjadi panutan. Kalau aku jadi orang beriman, itu karena Ayahku yang menjadi imam. Kalau aku jadi orang rendah hati, itu karena ayahku yang menginspirasi. Kalau aku jadi orang cinta kasih, itu karena ayahku memberi tanpa pamrih. Kalau aku bikin puisi ini, itu karena ayahku yang rendah hati.”

Pada hari yang sama, ada berita lain yang sangat kontras. Seorang pria Italia meludahi jenazah ibunya yang dimakamkan di Swiss. Rupanya, sewaktu kecil ia sering dipukuli ibunya. Itu membuatnya dendam sampai ia dewasa kini.

Kita, para orang tua, ingin dikenang seperti apa oleh anak kita nanti? Saat kita telah tiada. Saat kita meninggalkan mereka. Apakah kita ingin dibacakan puisi indah, atau di-”hadiahi “ ludah? Menjadi kenangan indah atau memori pahit yang dibalas sumpah serapah? Kita perlu sejenak berpikir mengenai masa itu.

...dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang dilakukannya untuk hari esok (QS. Al-Hasyr : 18)

Apa yang kita lakukan hari ini untuk anak kita, apa yang kita perbuat hari ini terhadap anak kita, akan lebih tepat jika telah sejalan dengan hasil masa mendatang yang kita inginkan. Orientasi masa depan. Dengan perspektif kesadaran anak-anak kita, nanti. Bukan sekarang.

Saat kita menginginkannya menjadi anak yang pintar, kita lantas memaksanya untuk terus dan terus belajar. Saat kita menginginkan anak kita menjadi penurut, kita mengancamnya dan membuat dia takut. Saat kita menginginkan anak kita menjadi pemberani, kita justru merenggut hal yang paling dibutuhkannya nanti: rasa percaya diri. Kita memang bisa memaksanya sekarang. Ia takkan melawan. Namun perasaannya yang terpendam bisa menggelegak keluar ketika sudah tak bisa tertahan dan ada kesempatan. Banyak kasus ini akan diluapkan saat orangtua tiada. Seperti cerita kedua di atas.

Memulai dari tujuan akhir. Demikian salah satu kebiasaan efektif yang dikemukakan Stephen R. Covey dalam buku The Seven Habits of Highly Effective People. Bahwa apa yang kita perbuat harus menuju tujuan akhir. Bahwa apa yang kita lakukan pada anak kita, apa yang kita perbuat untuk anak kita, perlu kita bawa dalam bingkai: “Bagaimana menurutnya saat besar nanti, atau kita telah tiada?”

Ini akan mendorong kita memperlakukan anak-anak dengan penuh kasih sayang. Membuat kita mendidik mereka dengan penuh cinta. Mengarahkan kita untuk berbuat yang terbaik baginya; bukan bagi kita.

Namun, lebih dari itu, jika kita berbuat banyak terhadap anak kita hanya dalam kerangka “apa yang akan kita dapatkan dari mereka” “bagaimana mereka mengenang kita” kita akan merugi. Mengapa? Sebab ada masa yang jauh lebih panjang dari sekedar “menuai kenangan”. Dan, saat kita meninggal kita tidak lagi membutuhkan pujian. Iya, bukan? Yang kita butuhkan adalah pahala dari Allah atas kerja-kerja membesarkan dan mendidik anak-anak kita. Yang kita butuhkan adalah amal jariyah saat segala amal telah terputus bersamaan dengan putusnya hubungan kita dengan dunia. Ini hanya dapat kita raih jika kita membesarkan dan mendidik anak kita dengan orientasi yang benar. Niat yang benar. Lillaahi ta’ala. Bahwa mereka amanah Allah, dan karenanya kita menunaikan amanah itu dengan sebaik-baiknya.

Maka sikap terbaik kita akan berbuah hal terbaik juga: anak-anak mengenang kita dengan indah, sekaligus mereka menjadi pahala jariyah. [Muchlisin]

9 komentar:

Sebalai mengatakan...

Nice info dan sukses selalu... salam ukhuwah !

orang kampung mengatakan...

Memang benar pepatah barat mengatakan : "Like father like son". orang tua adalah panutan, apa-apa yang dilakukan seorang ayah, maka si anak akan meneladaninya. Tergantung kita, kalau kita ingin anak kita jadi anak yang baik, maka kita harus mencontohkan dengan perbuatan yang baik-baik dulu. Dan mencontohkan dengan perbuatan lebih gampang dicerna ketimbang mencontohkan dengan perkataan.. goof posting sahabat !

Ega-Priatma mengatakan...

Artikel yang bagus buat kita untuk masa depan

Meigi Rahman mengatakan...

semoga kelak saya bisa menjadi orang tua yang baik. amin

NURA mengatakan...

salam sobat
sip banget postingannya.
saya ingin dikenang anak saya nanti seperti ibu yang selalu memberikan kasih sayangnya dan nasehat serta doanya.

Adit Pratama mengatakan...

aamiin...menjadi pewaris generasi yang membanggakan yah bang !!!

denadnan mengatakan...

hal yang perlu kita lakukan dalam mendidik anak2 kita, antar lain : keteladanan (uswah), pembiasaan, memberikan nasehat, hukuman. 4 hal tersebut tidak boleh dibalik2, tidak boleh anak kita beri nasehat tentang sholat, sedang kita sendiri belum sholat dan selanjutnya. SALAM PERJUANGAN SAHABAT...

Fadel Muhammad mengatakan...

ini artikel yang bagus untuk kita di masa depan menuntun jalan yang benar..:)

boby mengatakan...

sakinah
mawadah
wa rohmah
hehehehehe

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...