Assalaamu'alaikum ,  Ahlan wa Sahlan  |  Write for Us  |  Kontributor  |  Pasang Iklan

Makin Luas Gerakmu, Makin Luas Medan Rezekimu

Written By Admin BeDa on Senin, 24 Mei 2010 | 15:00


Setelah mengetahui Ubullah adalah kota supplier tentara dan akomodasi Persia, Khalifah Umar bin Khattab mengirimkan pasukan ke sana. Utbah bin Ghazwan diamanahi memimpin 300 pasukan itu. Lima wanita bersama mereka, termasuk istri Utbah. Jumlah itu tergolong sangat kecil, sebab sebagian besar kaum muslimin berada di medan jihad yang lain.

Saat tiba di sebuah wilayah berbambu, mereka kehabisan bekal. Tidak ada yang bisa dimakan. Mereka sadar jalan jihad adalah jalan yang berat. Resiko seperti ini bukannya tak pernah terpikirkan. Namun jiwa juang mengalahkan segala kesulitan-kesulitan di segala medan. Tidak ada kamus putus asa dalam barisan kaum mukminin. Akhirnya Utbah memerintahkan beberapa pasukannya mencari sesuatu yang bisa dimakan.

Pasukan itu berangkat masuk ke hutan. Mencari-cari tanaman yang bisa dimakan. Mungkin seperti kita yang ditugaskan Mudarrib saat mukhayam. Tapi ini lebih rumit. Sebab Utbah tidak menjelaskan ciri-ciri tanaman yang aman dikonsumsi seperti para Mudarrib melakukannya. Toh, pasukan itu kembali dengan dua tanaman. Yang satu sangat dikenali mereka: kurma. Yang satu belum pernah mereka temui sebelumnya: biji-biji kecil yang terbungkus kulit berwarna coklat kekuning-kuningan.

Pasukan Islam mengkonsumsi kurma. Sementara biji-bijian itu, dipisahkan di tempat lain. Masih ada kekhawatiran jika ia beracun atau sejenisnya. Hingga tibalah saat kuda mereka yang terlepas memakannya. Hampir saja kuda itu disembelih karena khawatir ia mati setelah itu. Namun pemiliknya mencegah, "Biar kuamati, kalau ada tanda mau mati baru kita sembelih." Begitu katanya.

Sampai pagi, tak terjadi apa-apa. Kuda itu sehat-sehat saja. Berarti biji-bijian itu cukup aman. Tapi tunggu dulu! Lebih baik diantisipasi. Beberapa racun bisa ditawarkan dengan panas. Saat dipanaskan, biji-bijian itu berubah menjadi kemerah-merahan. Mengelupas kulitnya. Dan bulirnya yang putih pun tampak jelas. Dengan membaca basmalah mereka mengkonsumsi makanan baru yang kemudian dinamai al-Aruz (beras) itu.

Di negeri ini, beras dikenal jauh sebelum peristiwa itu. Di negeri ini, tanahnya subur jauh melebihi padang tandus tempat kelahiran mereka. Di negeri ini, demikian mudah mendapatkan ikan dari laut dan sungainya. Di negeri ini, bertumpah ruah kekayaan flora dan fauna. Namun yang lebih penting, saat ini di negeri inilah hidup kaum muslimin dengan jumlah terbesar di dunia!

Apa artinya? Seperti harapan Dr. Yusuf Qardhawi, negeri ini berpeluang besar menjadi poros kebangkitan Islam. Syaratnya, para kader dakwah yang telah menikmati hidayah harus bergerak. Harus berharakah!

Saat memilih diam, berarti laju dakwah akan terhenti. Ketika banyak kader dakwah memilih hanya menikmati hidayah-Nya bersama keluarga, membangun surga di rumah tangga lalu puas dengan itu saja, arus kebangkitan melemah lagi. Ketika banyak kader dakwah sibuk dengan permasalahannya sendiri dan meninggalkan peran dalam dakwah ini, gelombang kebangkitan surut kembali.

Kadang hal ketiga ini terjadi. Karena sibuk dengan masalah pribadi. Karena kekhawatiran terhambatnya rezeki. Karena ketakutan lesempitan dunia menghampiri. Lalu aktifitas berharakah tidak aktif lagi. Cuti. Atau lebih parah, terpuruk di jalan ini. Jika terjadi secara jama'i ia akan lebih berbahaya lagi. Tidak jalannya syura dan terhentinya beberapa aktifitas haraki adalah gejala awal bahaya ini.

Kaum mukiminin dalam berbagai generasi telah membuktikan. Ketika perjuangan Islam semakin bergerak luas, medan rezeki juga terbentang luas. Ini wajar. Bukankah Allah Ar-Razaq, Yang Maha Pemberi Rezeki? Tentu bukan semata ghanimah yang hadir paska kemenangan jhad Islam. Namun pengelolaan negeri yang amanah membuat kekayaan semakin melimpah dan bumi menjadi lebih berkah.

Karena tuntutan perjuangan Islam, kaum mukminin di Madinah mengasah strategi perangnya. Khandaq, yang merupakan hasil adopsi dari Persia adalah salah satunya. Namun kemudian, negeri asal strategi khandaq itu tak mampu menandingi gelombang jihad Islam. Di akhir era Rasulullah, kaum mukminin telah meningkatkan kemampuan manjaniq-nya. Di era Utsman, kapal perang dibuat. Dan dalam setiap periode kekhalifahan sejak zaman Abu Bakar, sistem ketatanegaraan dan pengelolaan keuangan diperbaiki. Kesejahteraan hadir, bersamaan dengan semakin membahananya takbir!

Temuan al-Aruz (beras) di masa Umar itu juga sebagian kecil bukti. Saat gerak dakwah dan jihad diperluas, medan rezeki pun meluas. Sangat mungkin jika pasukan Utbah itu putus asa lalu kembali ke Madinah, kaum muslimin baru mengkonsumsi beras beberapa dekade sesudahnya.

Dakwah di Indonesia tampaknya juga telah membuktikan sebagiannya. Betapa laju dakwah telah dibersamai dengan luasnya rezeki. Patut disyukuri jika pengalaman dakwah juga mendewasakan para kadernya, dan kini banyak pengusaha. Tuntutan dakwah telah membuat kreatif sebagian pelakunya untuk memanfaatkan potensi dan peluang yang ada. Tentu bisnis dan usaha yang halalan thayyibah. Sampai-sampai ada laqab baru untuk sebagian dai. Jika era sebelumnya mereka adalah ustadz kharimatik karena kendarannya Honda Karisma, kini mereka adalah ustadz inovatif karena kendarannya Kijang Inova.

Jadi, tidak perlu ketakutan kehilangan rezeki itu menghambat laju dakwah ini. Namun yang juga lebih penting, bukan karena itu kita tetap berada di atas jalan ini. Satu yang pasti, Allah Maha Pemberi Rezeki, dan Dia mewajibkan kita berada di jalan dakwah ini. [Muchlisin]

17 komentar:

katir mengatakan...

Masya Allah...
bagus banget nich gan,,,
bisa dijadikan untuk motifasi diri guna bertahan hidup......
da teruslah berkarya dan teruslah berdakwah guna mendapatkan limpahan Syafa'ah....
makasih gan motifasinya....

yhoga Deviant mengatakan...

Ass..
Wah wawasan agan luas banget yah, ane dulu sempet pengen bikin postingan kaya gini tapi kaga kesampeian..
sob follow ane dong, ane dah follow U tuh..

orang kampung belajar ngeblog mengatakan...

berarti kalau ustadz tunggangannya motor honda legenda, artinya julukannya "Ustadz yang Melegenda", he..he..he.. just kidding sob..
tengktu artikelnya... alhamdulillah dapet pencerahan malam ini..

angger mengatakan...

artikel yang membuka jalan fikiran saya,makasih sob

NURA mengatakan...

salam sobat
benar tidak usah takut,,semua sudah ada bagian rezeki .
tinggal bagaimana usahanya.

mas bayu mengatakan...

bener juga kang, nice post

blogais.com mengatakan...

selama kita terus berusah pasti rezeki itu akan datang menghampiri kita walaupun sekecil apapun porsinya

denadnan mengatakan...

ilmu yang barakah...

Akhmad syaiful mengatakan...

hati saya terjetuk rasanya membaca hikayat ini. seperti ada motivasi baru nich. terima kasih sobat. dakwah bil haq yach ^_^. salam kenal aja

Admin BeDa mengatakan...

@Akhmad Syaiful: Terima kasih. Kisah di atas bukan hikayat, tapi benar-benar terjadi.

Rumus Cepat Matematika mengatakan...

makasih mas....
saya merasa telah diingatkan...
salam kenal....

mas doyok mengatakan...

wah sangat membangun kang much
setuju aku
semoga saja aku bisa mendapatkan yg halal diantara yg haram

mas doyok mengatakan...

wah membangun banget mas much
semoga saja ya
aku bas dapetin yg halal diantara yg ahram haram

Mas Harri mengatakan...

Kalu begitu saya akan lebih Bergarak lebih luas

Adit Pratama mengatakan...

mangteff mangteff...jadi muslim harus kaya dan bermanfaat !!! insyaALLAH

IzaAzhari mengatakan...

moga rezekiq luas,,,amin

dimas_ady mengatakan...

syukron pencerahannya...

gambar ar-ruz ada link ke
>> (http://www.christianbulletin.com/)

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...