
"Kenapa antum jarang riyadhah, Akh?" tanya seorang murabbi setelah membaca form mutabaah. "Ana menyimpan energi untuk mukhayam bulan depan Ustadz" jawab al akh yang ditanya, dengan mimik yang cukup serius. Untungnya, di bulan berikutnya ia tidak menjawab, "Ana menyimpan energi untuk mukhayam tahun depan."
Dialog di atas barangkali hanya terjadi sekali itu. Tetapi substansinya mungkin sering terjadi, menghiasi perjalanan tarbiyah kita. Bahwa beberapa wasilah tarbiyah tidak membawa atsar (bekas, pengaruh) yang kokoh dalam keseharian kita. Mukhayam tampaknya menjadi contoh yang cukup tepat.
Wasilah tarbiyah yang satu ini memang berbeda dari wasail tarbiyah lainnya. Ia khas, karena memiliki perhatian pada aspek jasadiyah dengan porsi yang besar dan tidak ditemukan dalam wasail tarbiyah yang lain. Yang memprihatinkan adalah, jika kemudian ada pemahaman keliru. Bahwa mukhayam hanya untuk mukhayam. Bahwa tujuan mukhayam terhenti setelah mukhayam berakhir yang ditandai upacara penutupan. Tidak ada atsar sama sekali.
Mukhayam, sejatinya hanyalah sebuah charger. Atau stasiun pengisian energi tarbiyah jasadiyah. Selain melatih dan menguji daya tahan fisik, ia hanyalah stimulan agar aktifis dakwah memperhatikan hak jasadiyahnya; riyadhah, khususnya. Berakhirnya mukhayam hanyalah awal dari satu tahun riyadhah rutin. Yang dengannya aktifis dakwah memiliki kualitas fisik yang prima. Tidak mudah sakit, tidak rentan terhadap penyakit. Inilah upaya merealisasikan hadits Nabi: "Atas fisikmu, ada hak yang harus ditunaikan" Lalu dampaknya adalah kecintaan Allah. "Orang mukmin yang kuat lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah" demikian sabda Nabi dalam kesempatan yang berbeda.
Kita mungkin akan bertanya saat membaca Risalah Ta'alim, mengapa Hasan Al-Banna mendahulukan qawiyyul jism daripada aspek lain termasuk matinul khuluq dan salimul aqidah? Karena Hasan Al-Banna menekankan pentingnya tarbiyah jasadiyah ini agar diperhatikan aktifis dakwah yang dalam aspek aqidah, akhlak, dan lainnya insya Allah tidak ada masalah.
Maka patut kita merenung: sudahkah mukhayam memberikan atsar dalam hari-hari kita? Keberhasilan mukhayam tidak hanya ditentukan oleh terlewatinya semua agenda kita di sana. Tidak hanya sebatas kuatnya kita melalui long march yang panjang atau pendakian yang tinggi. Tidak juga diukur dari sertifikat kelulusan yang telah kita dapatkan. Tapi yang lebih penting dari itu: apakah riyadhah kita menjadi lebih teratur? Apakah riyadhah kita sekaligus meningkat baik kuantitas maupun kualitasnya?
Tentu, sesuai judul renungan ini, bukan hanya mukhayam yang perlu kita evaluasi. Ada mabit. Ada daurah. Ada wasail tarbiyah lain. Sudahkah semuanya memberikan atsar, atau hanya berlalu begitu saja?
O ya, meskipun al akh tadi salah dalam mempersiapkan diri dengan –justru- tidak melakukan riyadhah sebelum mukhayam, untungnya dia kuat menyelesaikan seluruh aktifitas mukhayam. Mungkin karenanya ia belajar untuk tidak mengatakan "Ana menyimpan energi untuk mukhayam tahun depan." [Muchlisin]
Dialog di atas barangkali hanya terjadi sekali itu. Tetapi substansinya mungkin sering terjadi, menghiasi perjalanan tarbiyah kita. Bahwa beberapa wasilah tarbiyah tidak membawa atsar (bekas, pengaruh) yang kokoh dalam keseharian kita. Mukhayam tampaknya menjadi contoh yang cukup tepat.
Wasilah tarbiyah yang satu ini memang berbeda dari wasail tarbiyah lainnya. Ia khas, karena memiliki perhatian pada aspek jasadiyah dengan porsi yang besar dan tidak ditemukan dalam wasail tarbiyah yang lain. Yang memprihatinkan adalah, jika kemudian ada pemahaman keliru. Bahwa mukhayam hanya untuk mukhayam. Bahwa tujuan mukhayam terhenti setelah mukhayam berakhir yang ditandai upacara penutupan. Tidak ada atsar sama sekali.
Mukhayam, sejatinya hanyalah sebuah charger. Atau stasiun pengisian energi tarbiyah jasadiyah. Selain melatih dan menguji daya tahan fisik, ia hanyalah stimulan agar aktifis dakwah memperhatikan hak jasadiyahnya; riyadhah, khususnya. Berakhirnya mukhayam hanyalah awal dari satu tahun riyadhah rutin. Yang dengannya aktifis dakwah memiliki kualitas fisik yang prima. Tidak mudah sakit, tidak rentan terhadap penyakit. Inilah upaya merealisasikan hadits Nabi: "Atas fisikmu, ada hak yang harus ditunaikan" Lalu dampaknya adalah kecintaan Allah. "Orang mukmin yang kuat lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah" demikian sabda Nabi dalam kesempatan yang berbeda.
Kita mungkin akan bertanya saat membaca Risalah Ta'alim, mengapa Hasan Al-Banna mendahulukan qawiyyul jism daripada aspek lain termasuk matinul khuluq dan salimul aqidah? Karena Hasan Al-Banna menekankan pentingnya tarbiyah jasadiyah ini agar diperhatikan aktifis dakwah yang dalam aspek aqidah, akhlak, dan lainnya insya Allah tidak ada masalah.
Maka patut kita merenung: sudahkah mukhayam memberikan atsar dalam hari-hari kita? Keberhasilan mukhayam tidak hanya ditentukan oleh terlewatinya semua agenda kita di sana. Tidak hanya sebatas kuatnya kita melalui long march yang panjang atau pendakian yang tinggi. Tidak juga diukur dari sertifikat kelulusan yang telah kita dapatkan. Tapi yang lebih penting dari itu: apakah riyadhah kita menjadi lebih teratur? Apakah riyadhah kita sekaligus meningkat baik kuantitas maupun kualitasnya?
Tentu, sesuai judul renungan ini, bukan hanya mukhayam yang perlu kita evaluasi. Ada mabit. Ada daurah. Ada wasail tarbiyah lain. Sudahkah semuanya memberikan atsar, atau hanya berlalu begitu saja?
O ya, meskipun al akh tadi salah dalam mempersiapkan diri dengan –justru- tidak melakukan riyadhah sebelum mukhayam, untungnya dia kuat menyelesaikan seluruh aktifitas mukhayam. Mungkin karenanya ia belajar untuk tidak mengatakan "Ana menyimpan energi untuk mukhayam tahun depan." [Muchlisin]







10 komentar:
Pagi-pagi mendapat siraman rohani dari sini :)
Alhamdulillah... bisa jadi renungan agar tidak berhenti hanya di sini. Syukran.
Selalu ada nuansa ruhiyah di blog ini. Mengingatkan kita semua.
Mas Beda, Antum kan jamak, kok jawabnya Ana .. ?
Jadi dialog yg sering wktu Trbiyah ky gtu to ..okelah ^_^
@Damar: "Antum" memang jamak, untuk penghormatan. Seperti waktu kita mengucap salam pada teman, meskipun satu orang kita memakai: "Assalaamu'alaikum" (jamak). Jarang kita memakai: "Assalaamu'alaika" (tunggal).
Dialog di atas hanya terjadi sekali. Bukan sering ^_^
bismillah... sukses selalu!!!
assalamualaikum... :)
@secangkir teh dan sekerat roti: Wa'alaikum salam
postingan yang sangat bermanfaat sob..
Assalamualaykum wr wb, jazaakumuLLAH khayr sudah berbagi pencerahan yang luar biasa...
Poskan Komentar