
Seperti ketika kita sedang mencari alamat tertentu, kita biasanya bertemu dengan berbagai orang di sepanjang jalan yang dapat kita tanyai. Kita tetap memerlukan orang-orang seperti itu sekalipun ada peta di tangan kita. Bahkan sekalipun peta sudah sangat jelas dan mudah.
Allah mengerti kebutuhan itu. dan orang-orang yang kita tanyai di sepanjang jalan itu adalah para ulama. Sebagai peta jalan kehidupan, Allah telah membuat semua petunjuk dalam Al-Qur’an begitu mudah dan jelas. Sebegitu mudah dan jelasnya, hingga Ibnu Taimiyah mengatakan bahwa sebagian besar isinya dapat dipahami oleh sebagian besar manusia dengan hanya menggunakan akal sehat. Hanya sedikit sekali yang tidak kita pahami. Dan itu adalah wilayah para ulama.
Begitulah Allah SWT memfasilitasi proses pembelajaran manusia. Ketika ia memutuskan nubuwwah, dan menyisakan teks serta mengabadikannya, membiarkan manusia bergelut dengannya, Ia tetap membuatnya tidak sampai pada batas kesulitan yang bisa menghempaskan manusia dalam keputusasaan. Di samping memudahkan isi dan bahasa dari teks tersebut, Allah SWT juga membangkitkan orang-orang tertentu yang mewarisi kerja-kerja kenabian walaupun tidak memberikan status nubuwwah: yaitu mengajar manusia.
Dalam makna pewarisan itulah Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya para nabi itu tidak mewarsikan dinar dan dirham. Mereka hanya mewariskan ilmu. Siapa saja yang mengambilnya, sungguh ia telah mendapatkan jatah (warisan) yang banyak”. Para pewaris nabi itu adalah kafilah panjang yang akan terus menerus mengisi ruang kehidupan manusia dan mempertahankan jejak kenabian dalam narasi zaman. Jumlah mereka tidak banyak. Tapi selalu tampak seperti tugu kehidupan yang tegak dengan kekar. Dalam rangkaian itulah Rasulullah SAW menyampaikan janji Allah SWT bahwa ia akan membangkitkan pada setiap rotasi seratus tahun para ulama yang akan memperbaharui ajaran agama ini.
Mewariskan kerja nubuwwah tanpa memberikan statusnya adalah salah satu rahasia Allah SWT dalam memudahkan manusia menemukan alamat kehidupannya. Dengan begitu Allah menutup semua pintu yang dapat dijadikan alasan oleh manusia untuk tidak menemukan alamat yang ditujunya.
Kehadiran para pewaris nabi itulah yang menjelaskan kepada kita sebuah rahhasia sejarah tentang mengapa Islam pasti akan memenangkan pertarungan dengan agama dan ideologi lain dalam merebut akal dan hati manusia. Maka keabadian teks itu bersanding harmoni dengan jumlah pemeluk agama ini yang terus bertambah dan memenuhi ruang bumi kita hingga kiamat kelak. [Anis Matta, sumber : Serial Pembelajaran Majalah Tarbawi edisi 230]
Allah mengerti kebutuhan itu. dan orang-orang yang kita tanyai di sepanjang jalan itu adalah para ulama. Sebagai peta jalan kehidupan, Allah telah membuat semua petunjuk dalam Al-Qur’an begitu mudah dan jelas. Sebegitu mudah dan jelasnya, hingga Ibnu Taimiyah mengatakan bahwa sebagian besar isinya dapat dipahami oleh sebagian besar manusia dengan hanya menggunakan akal sehat. Hanya sedikit sekali yang tidak kita pahami. Dan itu adalah wilayah para ulama.
Begitulah Allah SWT memfasilitasi proses pembelajaran manusia. Ketika ia memutuskan nubuwwah, dan menyisakan teks serta mengabadikannya, membiarkan manusia bergelut dengannya, Ia tetap membuatnya tidak sampai pada batas kesulitan yang bisa menghempaskan manusia dalam keputusasaan. Di samping memudahkan isi dan bahasa dari teks tersebut, Allah SWT juga membangkitkan orang-orang tertentu yang mewarisi kerja-kerja kenabian walaupun tidak memberikan status nubuwwah: yaitu mengajar manusia.
Dalam makna pewarisan itulah Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya para nabi itu tidak mewarsikan dinar dan dirham. Mereka hanya mewariskan ilmu. Siapa saja yang mengambilnya, sungguh ia telah mendapatkan jatah (warisan) yang banyak”. Para pewaris nabi itu adalah kafilah panjang yang akan terus menerus mengisi ruang kehidupan manusia dan mempertahankan jejak kenabian dalam narasi zaman. Jumlah mereka tidak banyak. Tapi selalu tampak seperti tugu kehidupan yang tegak dengan kekar. Dalam rangkaian itulah Rasulullah SAW menyampaikan janji Allah SWT bahwa ia akan membangkitkan pada setiap rotasi seratus tahun para ulama yang akan memperbaharui ajaran agama ini.
Mewariskan kerja nubuwwah tanpa memberikan statusnya adalah salah satu rahasia Allah SWT dalam memudahkan manusia menemukan alamat kehidupannya. Dengan begitu Allah menutup semua pintu yang dapat dijadikan alasan oleh manusia untuk tidak menemukan alamat yang ditujunya.
Kehadiran para pewaris nabi itulah yang menjelaskan kepada kita sebuah rahhasia sejarah tentang mengapa Islam pasti akan memenangkan pertarungan dengan agama dan ideologi lain dalam merebut akal dan hati manusia. Maka keabadian teks itu bersanding harmoni dengan jumlah pemeluk agama ini yang terus bertambah dan memenuhi ruang bumi kita hingga kiamat kelak. [Anis Matta, sumber : Serial Pembelajaran Majalah Tarbawi edisi 230]









13 komentar:
mantap PosTnya,,
jangan lupa mampir keblogQya???
berdakwah menjadi warisan dari para Rosul pendahulu kita & wajib kita sebagai seorang muslim kita wajib meneruskannya...
Salam kenal.
Follow sukses kawan...
wah.. luarr biasa... moga kita bisa mengambil pelajaran dari semuanya :)
nice infooo
Yang nabi wariskan adalah Al Quran . . .jadi kita peru menjaganya dg baik, jgn cuman njaga, baca + apalin . . . .(cita-citaku bisa apal Quran . . kira2 bisa ngga y) heheh
nice posting mas...
ulama meneruskan kerja nabi, namun kita sebagai umat biasa juga perlu menjaga kelangsungan agama ini, caranya? tentu dengan beramal sesuai yg diajarkan Allah
semoga kemurnian dari islam selalu terjaga
moga kita semua jadi bagian dari 'pewaris Nabi'..Amiin
Amin . . .
Hmm mohon sekianya anda bersedia bertukar link dengan saya
Link anda sudah saya taruh di http://www.mizzu.net/2010/06/tukar-link.html
Dengan nama : Muzchlisin
Mohon kerjasamanya
thank's b4 ^_^
ktika ulama dilupakan maka siap2lah bngsa ini mengalami khancuran
jazakallah post nya..mantebb
yg menarik ttg munculnya ulama tiap 100 thn ...bgmana mengidentifikasi ulama abad ini ya ??
Poskan Komentar