Assalaamu'alaikum ,  Ahlan wa Sahlan  |  Write for Us  |  Kontributor  |  Pasang Iklan

Dalam Bingkai Iman, Warna-warni Menjelma Pelangi

Written By Admin BeDa on Jumat, 01 Oktober 2010 | 15:00


Insiden Tarakan masih menyisakan trauma. Meski tak sebesar konflik antaretnis di Sambas, Ambon, atau Sampit. Dan memang selayaknya kasus Tarakan tidak dikategorikan konflik antaretnis.

Kaca mata sosiologi memberikan kita sebuah persepsi. Bahwa ketika penduduk lokal atau penduduk asli “terkalahkan” secara ekonomi dan politik, yang terjadi adalah kecemburuan. Kecemburuan sosial membangkitkan konsolidasi. Konsolidasi yang dibangun di atas kesamaan status. Kesukuan. Dalam terminologi Islam, ashobiyah.

Berangkat dari ashobiyah, sedikit saja gesekan bisa memantik api permusuhan. Laksana korek api yang menyulut kebakaran. Mencipta kobaran yang sulit dipadamkan.

Jika yang menjadi nilai adalah materi, maka penduduk asli ataupun pendatang memiliki peluang yang sama dalam mengoyak persatuan dan kebersamaan. Jika yang dikedepankan emosi dan ambisi duniawi, penduduk asli punya satu tekad: menjadi tuan di tanah sendiri. Sementara pendatang juga punya semangat: menjadi raja di rantau. Tekad yang bisa dikelola menjadi pemicu prestasi dalam kompetisi yang sehat, tetapi lebih mudah menjelma benalu dalam pohon persatuan umat.

Namun kita memiliki warisan sejarah agung yang mengagumkan! Orang-orang Yatsrib adalah penduduk asli ketika kota itu berubah nama menjadi Madinah. Sedangkan orang-orang Makkah yang datang ke sana adalah pendatang. Yang pertama disebut anshar karena hakikatnya mereka adalah para penolong agama Ilahi, Nabi dan pengikut Sang Nabi. Yang kedua kita kenal dengan gelar muhajirin karena mereka meninggalkan negerinya demi agama tercinta; tanpa kejelasan masa depan.

Penduduk asli dan pendatang. Namun tiba-tiba keduanya menjadi saudara. Lebih dekat dari saudara kandung, lebih erat dari pertalian darah. Yang ada hanya ukhuwah. Kalaupun ada pertikaian kecil, itu hanya deburan ombak yang menjadikan perjalanan kapal di samudera semakin indah.

Muhajirin yang pendatang itu kelak –sebagiannya- menjadi orang-orang yang sejahtera. Bahkan melebihi anshar yang penduduk asli. Sebab orang Makkah memiliki keahlian bisnis, dan orang Madinah cakap dalam pertanian.

Bukan hanya aspek ekonomi. Dalam politik, muhajirin-lah yang kemudian menjadi khalifah. Semua khulafaur rasyidin: Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali; semuanya muhajirin. Namun mereka dipilih justru setelah disepakatinya muhajirin lebih mulia; karena keimanan dan perjuangan. Bukan pertimbangan penduduk asli atau pendatang. Maka sejak awal kecemburuan sosial itu hilang.

Apa kuncinya? Sebab iman yang menjadi dasar. Iman yang menjadi imam dalam pengambilan keputusan. Juga menyetir segala logika dan perasaan. Maka interaksi anshar dan muhajirin hanya persaudaraan. Dari iman, kokohlah ukhuwah. Sebaliknya, tanpa iman, ukhuwah hanyalah tali lapuk yang mudah patah. Itu maksud yang bisa kita tangkap dari adanya adatul hashr “innamaa” pada ayat “innamal mu’minuuna ikhwah”. Dan karena iman itulah, sambutan penduduk asli kepada pendatang takkan keluar dari kalimat: uhibbukum fillah. Demikian pula sebaliknya. [Muchlisin]

9 komentar:

AZ COMSOFT mengatakan...

informasinya sangat bermanfaat, kunci utama dari semua itu adalah memang iman dan taqwa agar selalu berpedoman pada Al - Qur'an...

Dukung saya dalam kontes SEO Menjadi Blogger yang Bahagia disini

Willyo Alsyah P. Isman mengatakan...

disinilah letak kesalahan cara pandang sebagian besar masyarakat kita, bahwa materi dijadikan tolak ukur, maka timbullah rasa iri tersebut...
*postingan ini memberi pelajaran yg berharga... terimakash.

menjadi blogger yang bahagia mengatakan...

ternyata demikian mungkin karena kurang iman dan kurangnya rasa persaudaraan...

enda fiVers mengatakan...

Tulisan yang sangat berharga kawan :)

"Semoga kita selalu dalam lindungan ALLAH.SWT"

sda mengatakan...

kalau semua bisa meneladani beliau, kita bisa hidup damai ya? miris denger berita akhir2 ini.

narti mengatakan...

penggunaan kata-katanya bagus...
makasih pencerahannya.

om canel mengatakan...

memang Damai itu adalah satu kata yang sulit terwujud,
padahal di dalam kata damai tersebut mempunyai makna keindahan,,

Muhammad Chandra mengatakan...

bagus sekalai tulisan sobat....
lanjutakn karya tulisan2nya ya...
pasti banyak yg akan mendukung...

Admin BeDa mengatakan...

@Muhammad chandra: Terima kasih suntikan semangatnya. Semoga bermanfaat.

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...