Assalaamu'alaikum ,  Ahlan wa Sahlan  |  Facebook  |  Twitter  |  Pasang Iklan

Alam Semesta dalam Al-Qur'an (2)

Written By Admin BeDa on Rabu, 31 Maret 2010 | 16:00


Bagian pertama Alam Semesta dalam Al-Qur'an sudah diposting 2 pekan lalu di BERSAMA DAKWAH. Kini Ceramah Hasan Al-Banna melanjutkan pembahasannya: Alam Semesta dalam Al-Qur'an (2) yang merupakan bagian akhir tema ini. Sebelum itu, Ceramah Hasan Al-Banna telah mengangkat tema Wasiatku Kepada Kalian, Wahai Ikhwan, Kewajiban Kita terhadap Al-Qur'an, Manusia dalam Al-Qur'an, dan Wanita dalam Al-Qur'an. Selamat membaca.
***

AL-QUR'AN DAN HAKIKAT-HAKIKAT ILMIAH
Ikhwan sekalian, meskipun Al-Qur'anul Karim diturunkan bukan sebagai sebuah buku ilmiah yang menjelaskan berbagai hakikat alam, sebagaimana yang diuraikan oleh buku-buku khusus untuk itu, namun ia juga mengemukakan hukum-hukum ilmiah yang dapat mengantarkan ketakjuban manusia ketika itu, apalagi ketika ia mendengar penjelasan itu dari seorang Nabi berkebangsaan Arab yang buta huruf. Bagaimana mungkin ada kitab ajaib seperti ini di zaman kebodohan dan kegelapan?

Al-Qur'an menjelaskannya kepada manusia sebagai cahaya, dengan gaya bahasa yang merakyat dan halus sehingga bisa dipahami dan dirasakan manfaatnya oleh orang awam. Ini merupakan keunikan yang tidak terdapat pada kitab sebelumnya dan tidak terdapat pula dalam kitab-kitab yang ada setelahnya.

Ketika membahas tentang alam semesta, Al-Qur'an mengemukakan awal penciptaannya, beberapa fenomena alam, dan keadaan akhirnya. Al-Qur'an menyinggung permulaan penciptaan langit dan bumi, fenomena matahari dan bulan, dan akhir dari alam semesta ini. Keterangan Al-Qur'an tentang berbagai masalah ini tidak ada yang bertentangan dengan hakikat-hakikat ilmiah yang telah banyak diketahui oleh akal manusia, yang telah disingkap oleh para ahli ilmu alam melalui berbagai eksperimen mereka dengan menggunakan sarana-sarana modern yang tidak berhubungan sama sekali dengan wahyu. Contoh lain adalah firman Allah SWT:

وَمِنْ كُلِّ شَيْءٍ خَلَقْنَا زَوْجَيْنِ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kalian mengingat akan kebesaran Allah. (QS. Adz-Diariyat: 49)

Dan firman-Nya yang lain,

ثُمَّ اسْتَوَى إِلَى السَّمَاءِ وَهِيَ دُخَانٌ فَقَالَ لَهَا وَلِلْأَرْضِ اِئْتِيَا طَوْعًا أَوْ كَرْهًا قَالَتَا أَتَيْنَا طَائِعِينَ

Kemudian Dia menuju langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi, "Datanglah kalian berdua menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa." Keduanya menjawab, "Kami datang dengan suka hati." (QS. Fushilat: 11)

Ini sesuai dengan teori positif-negatif, di mana segala sesuatu terdiri dari keduanya. Karena itu, dalam segala hal harus ada yang positif dan ada pula yang negatif. Proses pembentukan seluruh makhluk berdiri di atas teori ini. Demikianlah, kita melihat Al-Qur'an telah menjelaskan asas seluruh alam semesta. Allah SWT berfirman,

أَوَلَمْ يَرَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنَّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ كَانَتَا رَتْقًا فَفَتَقْنَاهُمَا

Dan apakah orang-orang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu, keduanya dahulu adalah sesuatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya? (QS. Al-Anbiya: 30)

Wahai Akhi, ini tidak bertentangan dengan teori ilmiah yang mengatakan bahwa langit dan bumi berasal dari satu bahan baku. Al-Qur'an hanya mengemukakan kaidah-kaidah umum yang bisa diterima akal dalam setiap perkembangannya. Allah berfirman,

وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ

Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. (QS. Al-Anbiya: 30)

Ini merupakan fakta ilmiah yang tidak ada seorang pun yang membantahnya. Allah berfirman mengenai awal penciptaan manusia,

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ مِنْ سُلَالَةٍ مِنْ طِينٍ * ثُمَّ جَعَلْنَاهُ نُطْفَةً فِي قَرَارٍ مَكِينٍ * ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظَامًا فَكَسَوْنَا الْعِظَامَ لَحْمًا ثُمَّ أَنْشَأْنَاهُ خَلْقًا آَخَرَ فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ

Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang-belulang, lalu tulang-belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Mahasucilah Allah, Pencipta yang paling baik. (QS. Al-Mukminun: 12-14)

Pembicaraan ini sudah memasuki bidang ilmu kedokteran, yang telah disaksikan oleh para ilmuwan dan tidak mungkin untuk ditentang oleh seorang pun.

Ada beberapa fenomena alam yang ditegaskan dan dikemukakan oleh Al-Qur'an. Contohnya adalah proses terjadinya hujan yang bermula dari uap yang terbentuk karena panas matahari, kemudian digiring oleh angin. Ini tidak bertentangan dengan keterangan Al-Qur'anul Karim.

أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يُزْجِي سَحَابًا ثُمَّ يُؤَلِّفُ بَيْنَهُ ثُمَّ يَجْعَلُهُ رُكَامًا فَتَرَى الْوَدْقَ يَخْرُجُ مِنْ خِلَالِهِ وَيُنَزِّلُ مِنَ السَّمَاءِ مِنْ جِبَالٍ فِيهَا مِنْ بَرَدٍ فَيُصِيبُ بِهِ مَنْ يَشَاءُ وَيَصْرِفُهُ عَنْ مَنْ يَشَاءُ يَكَادُ سَنَا بَرْقِهِ يَذْهَبُ بِالْأَبْصَارِ

Tidakkah kalian melihat bahwa Allah mengarak awan, kemudian mengumpulkan antara (bagian-bagian)nya, kemudian menjadikannya bertindih-tindih, maka kelihatanlah oleh kalian hujan keluar dari celah-celahnya dan Allah (juga) menurunkan (butiran-butiran) es dari langit, (yaitu) dari (gumpalan-gumpalan awan seperti) gunung-gunung, maka ditimpakan-Nya (butiran-butiran es) itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan dipalingkan-Nya dari siapa yang dikehendaki-Nya. Kilauan kilat awan itu hampir-hampir menghilangkan penglihatan. (QS. An-Nur: 43)

Contoh lain adalah firman Allah,

وَالْجِبَالَ أَوْتَادًا

Dan gunung-gunung sebagai pasak? (QS.An-Naba: 7)

وَأَلْقَى فِي الْأَرْضِ رَوَاسِيَ أَنْ تَمِيدَ بِكُمْ وَأَنْهَارًا وَسُبُلًا لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

Dan Dia menancapkan gunung-gunung di bumi supaya bumi itu tidak berguncang bersama kalian, (dan Dia menciptakan) sungai-sungai dan jalan-jalan agar kalian mendapat petunjuk. (QS. An-Nahl: 15)

Karena sesungguhnya, gunung-gunung adalah pasak-pasak bumi yang menjaga agar bumi tidak bergerak sehingga airnya tumpah ke daratan.

AKHIR ALAM SEMESTA
Ikhwan tercinta, Al-Qur'anul Karim berbicara tentang akhir kehidupan di alam semesta,

يَوْمَ تُبَدَّلُ الْأَرْضُ غَيْرَ الْأَرْضِ وَالسَّمَوَاتُ وَبَرَزُوا لِلَّهِ الْوَاحِدِ الْقَهَّارِ

(Yaitu) pada hari ketika bumi diganti dengan bumi yang lain dan (demikian pula) langit dan mereka semuanya (di padang mahsyar) berkumpul menghadap ke hadirat Allah Yang Maha Esa lagi Mahaperkasa. (QS. Ibrahim: 48)

Al-Qur'an juga mengatakan,

إِذَا وَقَعَتِ الْوَاقِعَةُ * لَيْسَ لِوَقْعَتِهَا كَاذِبَةٌ * خَافِضَةٌ رَافِعَةٌ * إِذَا رُجَّتِ الْأَرْضُ رَجًّا * وَبُسَّتِ الْجِبَالُ بَسًّا * فَكَانَتْ هَبَاءً مُنْبَثًّا

Apabila terjadi hari kiamat. Terjadinya kiamat itu tidak dapat didustakan. (Kejadian itu) menghinakan (satu golongan) dan meninggikan (golongan lain). Apabila bumi diguncangkan sedahsyat-dahsyatnya. Dan gunung-gunung dihancur-luluhkan sehancur-hancurnya. Maka jadilah dia debu yang beterbangan. (QS. Al-Waqi'ah: 1-6)

Al-Qur'an juga mengatakan,

إِذَا الشَّمْسُ كُوِّرَتْ * وَإِذَا النُّجُومُ انْكَدَرَتْ * وَإِذَا الْجِبَالُ سُيِّرَتْ * وَإِذَا الْعِشَارُ عُطِّلَتْ * وَإِذَا الْوُحُوشُ حُشِرَتْ * وَإِذَا الْبِحَارُ سُجِّرَتْ * وَإِذَا النُّفُوسُ زُوِّجَتْ

Apabila matahari digulung. Apabila bintang-bintang berjatuhan. Apabila gunung-gunung dihancurkan. Apabila unta-unta bunting ditinggalkan (tidak dipedulikan). Apabila binatang-binatang liar dikumpulkan. Apabila lautan dipanaskan. Apa- bila ruh-ruh dipertemukan.... (QS. At-Takwir: 1-7)

Wahai Akhi, ini berarti bahwa akhir kehidupan di alam semesta ini akan terjadi dengan suatu peristiwa yang mahadahsyat. Hari kiamat itu.

لَا تَأْتِيكُمْ إِلَّا بَغْتَةً

Tidak akan datang kepada kalian melainkan dengan tiba-tiba. (QS. Al-A'raf: 187)

Ia akan datang pada waktu yang dikehendaki dan ditetapkan oleh-Nya. Ketika itu benda-benda alam berbaur satu sama lain. Dan ternyata, ilmu pengetahuan juga mengatakan demikian. Ikhwan sekalian, semua ini berarti bahwa berita tentang alam semesta dalam AI-Qur'anul Karim tidak bertentangan dengan informasi ilmu pengetahuan dalam menyatakan suatu hakikat. Bahkan tidak hanya itu, Al-Qur'an tidak menghendaki akal manusia berhenti sampai di sini, tetapi memerintahkannya agar menjelajahi alam semesta ini.

قُلْ سِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَانْظُرُوا كَيْفَ بَدَأَ الْخَلْقَ

Katakanlah, "Berjalanlah di (muka) bumi, maka perhatikanlah bagaimana penciptaan (manusia) dari permulaannya." (QS. Al-Ankabut: 20)

وَمَا أُوتِيتُمْ مِنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا

Dan tidaklah kamu diberi pengetahuan kecuali sedikit. (QS. Al-Isra': 85)

وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا

Dan katakanlah, "Wahai Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan." (QS. Thaha: 114)

KESIMPULAN
Kesimpulannya, Ikhwan sekalian yang tercinta, hendaklah kita mengetahui bahwa kitab Allah menganjurkan kepada kita untuk memperhatikan alam semesta. Perhatian ini merupakan salah satu prinsip keimanan. Ada sebuah riwayat yang kuat dari Ibnu Umar ra. bahwa ia berkata, "Saya pernah berkata kepada 'Aisyah ra., 'Beritahulah aku tentang hal yang paling menakjubkan dari keadaan Rasulullah SAW yang pernah engkau lihat!' Ia pun menangis lama sekali. Kemudian berkata, 'Semua keadaannya mengagumkan. Suatu malam beliau mendatangiku dan masuk ke dalam selimutku, sehingga kulit beliau bersentuhan dengan kulitku. Lantas beliau bersabda, 'Aisyah, apakah kamu mengizinkanku pada malam ini untuk beribadah kepada Tuhanku?' Saya menjawab, Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku suka berada di dekatmu dan menyukai keinginanmu. Namun aku mengizinkanmu.' Beliau berdiri menuju sebuah geriba air yang ada di dalam rumah. Beliau berwudhu tanpa terlalu banyak menyiramkan air. Beliau berdiri melaksanakan shalat, lantas membaca Al-Qur'an. Beliau pun menangis, sehingga air mata membasahi pinggangnya. Kemudian beliau duduk membaca tahmid dan kembali menangis. Tak lama kemudian beliau mengangkat kedua tangannya dan kembali menangis, sehingga saya melihat air mata beliau membasahi tanah. Kemudian Bilal datang kepada beliau untuk memberitahukan bahwa waktu subuh telah tiba. Bilal melihat beliau sedang menangis, lalu bertanya, Wahai Rasulullah, mengapakah engkau menangis, sedangkan Allah telah mengampuni dosamu yang telah lalu maupun yang akan datang?' Beliau menjawab, Wahai Bilal, tidakkah selayaknya aku menjadi seorang hamba yang bersyukur?' Kemudian beliau bersabda, 'Bagaimana aku tidak menangis, sedangkan pada malam ini Allah telah menurunkan kepadaku,

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَالْفُلْكِ الَّتِي تَجْرِي فِي الْبَحْرِ بِمَا يَنْفَعُ النَّاسَ وَمَا أَنْزَلَ اللَّهُ مِنَ السَّمَاءِ مِنْ مَاءٍ فَأَحْيَا بِهِ الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَبَثَّ فِيهَا مِنْ كُلِّ دَابَّةٍ وَتَصْرِيفِ الرِّيَاحِ وَالسَّحَابِ الْمُسَخَّرِ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ لَآَيَاتٍ لِقَوْمٍ يَعْقِلُونَ

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan. (QS. Al-Baqarah: 164)'

Kemudian beliau bersabda, 'Celakalah siapa saja yang telah membacanya, namun tidak memikirkannya.'"

Wahai Akhi, kita diperintahkan untuk, pertama, merenungkan tanda-tanda kebesaran Allah di alam semesta yang disebutkan dalam kitab Allah SWT. Kedua, kita tidak berusaha memaksa Al-Qur'an mengikuti penafsiran-penafsiran ilmiah atau memaksanya agar tidak bertentangan dengan kesimpulan penelitian-penelitian ini. Kita harus mengetahui bahwa Al-Qur'an tidak akan bertentangan dengan fakta ilmiah yang sudah pasti. Ketiga, ilmu yang berhasil diketahui oleh para ilmuwan hanyalah sedikit dari sekian banyak ilmu. Di hadapan mereka masih terbentang fase-fase perkembangan ilmu pengetahuan yang luas sekali sebelum mereka mengetahui sebagian dari hakikat-hakikat ilmiah itu, bukan keseluruhannya. Karena itu, tidak dibenarkan bila kita menolak keterangan Al-Qur'an berdasarkan sebagian ilmu pengetahuan yang telah mereka ketahui. Keempat, Al-Qur'an memiliki perbedaan dibanding kitab-kitab sebelumnya, yang ia menjadikan perhatian kepada alam semesta sebagai salah satu dari sumber-sumber keimanan. Al-Qur'an memberikan kebebasan yang luas untuk melakukan penelitian, kajian, perhatian, dan observasi. Ini saja yang saya sampaikan. Saya memohon ampunan kepada Allah, untuk diri saya dan untuk Anda sekalian. Semoga shalawat dan salam dilimpahkan kepada Sayidina Muhammad, juga kepada segenap keluarga dan sahabatnya. [Sumber: Ceramah-ceramah Hasan Al-Banna]
16:00 | 0 komentar

Israel Tembak Mati Remaja 15 Tahun di Gaza


Baru beberapa hari pemerintah Israel mengancam Hamas akan membalas kematian tentaranya, Selasa kemarin (30/03) tentara Israel menembak mati remaja Palestina. Remaja Palestina itu bernama Muhammad Zaid Faramawi, masih berusia 15 tahun.

Penembakan di dekat bandara Internasional Gaza itu sontak mengejutkan warga Palestina. Yang lebih tragis, jasad korban belum bisa dibawa ke rumah sakit, karena pihak militer Zionis Israel menolak mengizinkan tim medis Palestina mengevakuasi korban untuk dibawa ke rumah sakit.

Pihak Israel berdalih bahwa penembakan dilakukan karena remaja itu berusaha menyusup. Namun para saksi warga Palestina menjelaskan bahwa itu hanya alasan yang dibuat-buat oleh Israel.

Inikah bukti dari ancaman Perdana Menteri dan Menteri Pertahanan Israel beberapa hari lalu? Seperti disiarkan televisi 10 Israel, Perdana Menteri Israel Netanyahu, saat menanggapi kematian tentarannya mengatakan, “Kami turut berbela sungkawa kepada keluarga tentara yang meninggal. Yang terjadi hari ini sangat menyakitkan. Tapi kami akan merespon dengan tegas kepada siapa pun yang mencoba untuk menyerang Israel."

Menteri Pertahanan Israel Ehud Barak juga memberikan ancaman yang sama, "Tidak ada kepentingan bagi militer Israel untuk menyulut situasi di perbatasan selatan, tapi kalau-kalau pihak lain – dengan menuding Hamas – ingin menyulutnya maka kami tahu bagaimana kami membela diri kami."

Jika benar penembakan mati Muhammad Zaid Faramawi adalah balasan Israel atas kematian 2 tentaranya dalam baku tembak dengan Hamas, bagaimana pandangan dunia?[AN]
10:00 | 4 komentar

Takut Kehilangan Cinta


Karena takut kehilangan orang yang dicintainya, seorang wanita asal China mengajukan operasi plastik pada 2007 silam. Ini memang syarat yang diberikan calon suaminya, Zhao Gang, untuk bisa menikah dengannya. Demi cinta, wanita itu nekat melakukan operasi plastik agar mirip dengan mantan istri Zaho Gang yang sudah meninggal.

Cinta memang memiliki logika sendiri. Demi cinta seseorang rela melakukan apapun. Dorongan itu sesungguhnya juga merupakan bukti; apakah cintanya cinta sejati atau cinta palsu.

Cinta kepada Allah adalah cinta yang sesungguhnya. Cinta hakiki yang akan membawa pemiliknya pada kebahagiaan abadi di akhirat nanti. Namun cinta ini bukan sekedar ungkapan lisan: aku mencintai-Mu ya Allah. Tidak. Tidak sesederhana itu.

Cinta kepada Allah membutuhkan pembuktian. Bukti bahwa cintanya adalah cinta sejati. Agar Allah mencintai kita, kita tidak perlu melakukan operasi plastik seperti wanita tadi. Bahkan itu justru mendatangkan kemurkaan-Nya. Allah tidak melihat fisik kita untuk melimpahkan cinta. Karena fisik adalah pemberian-Nya. Semua sama dalam pandangan-Nya. Allah akan menilai hati manusia.

إِنَّ اللَّهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى أَجْسَادِكُمْ وَلاَ إِلَى صُوَرِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ

Sesungguhnya Allah tidak melihat jasad dan penampilan kalian, tetapi Allah melihat hati kalian. (HR. Muslim)

Hati yang ikhlas, tidak menduakan cinta-Nya. Hati yang tunduk, tidak mendurhakai-Nya. Hati yang pemalu untuk melakukan hal-hal yang mendatangkan kecemburuan-Nya. Hati yang takut kehilangan cinta-Nya atau dan khawatir jika ditinggalkan-Nya. Hati yang demikian lalu mewujud dalam pendekatan kepada Allah. Dengan memenuhi ibadah wajib, dan menambah dengan ibadah nawafil (sunnah).

Jika itu bisa dipenuhi, Allah dalam hadits Qudsi-Nya menjamin cinta dengan segala konsekuensinya; termasuk kuasa doa dan perlindungan-Nya:

وَمَا يَزَالُ عَبْدِى يَتَقَرَّبُ إِلَىَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِى يَسْمَعُ بِهِ ، وَبَصَرَهُ الَّذِى يُبْصِرُ بِهِ ، وَيَدَهُ الَّتِى يَبْطُشُ بِهَا وَرِجْلَهُ الَّتِى يَمْشِى بِهَا ، وَإِنْ سَأَلَنِى لأُعْطِيَنَّهُ ، وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِى لأُعِيذَنَّهُ

Seorang hamba senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan yang paling Aku cintai, yaitu apa-apa yang aku wajibkan kepadanya. Juga hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan amal sunnah sampai Aku mencintainya. Jika Aku mencintainya, Aku adalah pendengarannya yang digunakan untuk mendengar, penglihatannya yang digunakan untuk melihat, tangan yang digunakan untuk berbuat dan kakinya yang digunakan untuk berjalan. Jika ia meminta kepada-Ku pasti Aku memberinya, dan jika ia berlindung kepada-Ku, pasti Aku melindunginya. (HR. Bukhari)

Cinta yang tiada bandingnya dengan segenap jaminan ini hanya akan diberikan pada hamba-Nya yang mampu membuktikan cinta-Nya. Cinta sejati, bukan cinta di bibir saja. [Muchlisin]
00:00 | 0 komentar

Hadits 2: Cara Turunnya Wahyu

Written By Admin BeDa on Selasa, 30 Maret 2010 | 16:00


عَنْ عَائِشَةَ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ - رضى الله عنها - أَنَّ الْحَارِثَ بْنَ هِشَامٍ - رضى الله عنه - سَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ كَيْفَ يَأْتِيكَ الْوَحْىُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - « أَحْيَانًا يَأْتِينِى مِثْلَ صَلْصَلَةِ الْجَرَسِ - وَهُوَ أَشَدُّهُ عَلَىَّ - فَيُفْصَمُ عَنِّى وَقَدْ وَعَيْتُ عَنْهُ مَا قَالَ ، وَأَحْيَانًا يَتَمَثَّلُ لِىَ الْمَلَكُ رَجُلاً فَيُكَلِّمُنِى فَأَعِى مَا يَقُولُ » . قَالَتْ عَائِشَةُ رضى الله عنها وَلَقَدْ رَأَيْتُهُ يَنْزِلُ عَلَيْهِ الْوَحْىُ فِى الْيَوْمِ الشَّدِيدِ الْبَرْدِ ، فَيَفْصِمُ عَنْهُ وَإِنَّ جَبِينَهُ لَيَتَفَصَّدُ عَرَقًا

Dari Aisyah Ummul Mukminin r.a. bahwa Harits bin Hisyam r.a. bertanya kepada Nabi Muhammad SAW, "Ya Rasulullah, bagaimana caranya wahyu turun kepada Anda?" Rasulullah menjawab, "kadang-kadang wahyu itu datang kepadaku seperti bunyi lonceng. Itulah yang sangat berat bagiku. Setelah bunyi itu berhenti, aku baru mengerti apa yang disampaikannya. Kadang-kadang malaikat menjelma seperti seorang laki-laki menyampaikan kepadaku dan aku mengerti apa yang disampaikannya," Aisyah berkata, "Aku pernah melihat Nabi ketika turunnya wahyu kepadanya pada suatu hari yang amat dingin. Setelah wahyu itu berhenti turun, kelihatan dahi Nabi bersimpah peluh."

Hadits di atas adalah hadits ke-2 dalam Shahih Bukhari (صحيح البخارى), di bawah Kitab Bad’il Wahyi (كتاب بدء الوحى) (Permulaan Turunnya Wahyu). Meskipun Imam Bukhari tidak memberikan bab pada hadits kedua ini, dari matannya terlihat jelas bahwa ia memuat cara turunnya wahyu kepada Rasulullah SAW.

أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ : Adalah gelar bagi istri-istri Nabi. Kata ini diambil dari firman Allah SWT, "istri-istri Nabi adalah ibu-ibu mereka (kaum muslimin)." Artinya dalam menghormati mereka dan larangan menikahinya.

Harits bin Hisyam adalah seorang dari bani Makhzumi, saudara kandung Abu Jahal bin Hisyam. Ia masuk Islam pada Fathu Makkah, termasuk tokoh dari kalangan sahabat. Ia meninggal pada waktu penaklukan negeri Syam.

كَيْفَ يَأْتِيكَ الْوَحْىُ

Pertanyaan ini dimaksudkan untuk menanyakan sifat wahyu, sifat pembawa wahyu, atau yang lebih umum dari itu. Sehingga Rasulullah menjawab pertanyaan ini dengan dua cara turunnya wahyu kepada beliau yang juga mengandung sifat wahyu dan sifat pembawanya.

أَحْيَانًا يَأْتِينِى مِثْلَ صَلْصَلَةِ الْجَرَسِ - وَهُوَ أَشَدُّهُ عَلَىَّ - فَيُفْصَمُ عَنِّى وَقَدْ وَعَيْتُ عَنْهُ مَا قَالَ

أَحْيَانًا : Bentuk jamak dari حين yang berarti waktu yang banyak atau sedikit. Seakan-akan Nabi berkata أَوْقَاتًا يَأْتِينِي (beberapa kali dia datang kepadaku).

مِثْلَ صَلْصَلَةِ الْجَرَسِ : Shalshalah adalah suara yang dihasilkan dari benturan antara besi, kemudian kata tersebut dinisbatkan kepada semua yang menimbulkan dengung. Sedangkan Jaras adalah lonceng kecil atau kerincingan yang digantungkan pada hewan.

وَهُوَ أَشَدُّهُ عَلَىَّ : Itulah yang sangat berat bagiku. Memahami perkataan dengan bunyi lonceng lebih sulit daripada memahami perkataan secara langsung. Sebagian ulama mengatakan bahwa berat atau sulitnya menerima wahyu bertujuan agar Nabi lebih konsentrasi. Ulama lain mengatakan biasanya cara seperti ini ketika wahyu yang turun membicarakan masalah adzab, namun pendapat ini diperselisihkan.

فَيُفْصَمُ عَنِّى وَقَدْ وَعَيْتُ عَنْهُ مَا قَالَ: (Setelah bunyi itu berhenti aku baru mengerti apa yang disampaikannya). Artinya, Rasulullah SAW mengerti perkataan yang disampaikan setelah bunyi itu berhenti. Inilah yang menguatkan bahwa turunnya wahyu melalui perantaraan malaikat.

وَأَحْيَانًا يَتَمَثَّلُ لِىَ الْمَلَكُ رَجُلاً فَيُكَلِّمُنِى فَأَعِى مَا يَقُولُ

يَتَمَثَّلُ لِىَ الْمَلَكُ رَجُلاً : Malaikat menjelma seperti seorang laki-laki. Hadits ini sekaligus menjadi dalil bahwa malaikat dapat menyerupai manusia. Ibnu Taimiyah menjelaskan bahwa perubahan ini hanyalah perubahan bentuk saja, bukan dzat malaikat. Contoh yang sangat terkenal dalam hal ini adalah ketika Jibril datang bertanya kepada Rasulullah tentang Islam, Iman, dan Ihsan. Yaitu hadits yang juga dicantumkan Imam Nawawi dalam Kitab Arbain nomor kedua.

فَيُكَلِّمُنِى : Lafazh inilah yang banyak digunakan oleh para perawi. Karena malaikat menyerupai manusia, maka perkatannya pun sebagaimana perkataan manusia umumnya sehingga mudah dipahami begitu saja.

يَنْزِلُ عَلَيْهِ الْوَحْىُ فِى الْيَوْمِ الشَّدِيدِ الْبَرْدِ ، فَيَفْصِمُ عَنْهُ وَإِنَّ جَبِينَهُ لَيَتَفَصَّدُ عَرَقًا
(ketika turun wahyu kepada Rasulullah pada suatu hari yang amat dingin, setelah wahyu itu berhenti turun, kelihatan dahi Nabi bersimpah peluh)

Inilah kesaksian Aisyah yang menyaksikan bertanya Rasulullah dalam menerima wahyu sehingga dahi beliau penuh keringat walaupun berada di musim dingin. Lelah, dan sangat serius menerima perkara besar yang menjadi petunjuk bagi manusia demi keselamatan mereka di dunia dan akhirat.

[Diringkas dari Fathul Baari karya Ibnu Hajar Al-Asqalani]

KEMBALI KE HADITS 1
16:00 | 2 komentar

Pakai Paspor Palsu (Lagi), Agen Mossad Ditangkap di Aljazair


Masih ingat kasus pembunuhan komandan Hamas Mahmud Mabhuh oleh Mossad dua bulan lalu? Dalam melakukan aksinya agen Mossad menggunakan paspor palsu. Inggris dan Australia yang dicatut dalam paspor palsu tersebut tentu saja saja tidak terima sehingga Pemerintah Australia memutuskan untuk mendeportase direktur perancang Mossad dari negaranya dan Inggris mengusir diplomat Israel.

Penggunaan paspor palsu oleh Mossad tampaknya sudah biasa. Kejadian terakhir ahad (28/03) menguatkan kesimpulan ini. Surat kabar Aljazair An-Nahar memberitakan pada hari Ahad lalu bahwa aparat keamanan di Aljazair telah menangkap seorang agen rahasia yang bekerja untuk Mossad, yang menggunakan paspor Spanyol palsu.

Agen Mossad yang ditangkap itu bernama Alberto (35 tahun). Agen yang fasih berbahasa Arab ini ditangkap di kota Hassi Messaoud dekat sebuah kantor Mesir yang memberikan pelayanan bagi perusahaan minyak. Untuk menyempurnakan penyamarannya selama operasi Alberto juga sering shalat di masjid dan mengobrol bersama warga terutama ketika berada di kafe Arab.[AN]
10:00 | 2 komentar

Renungan di Hari Film Nasional


Hari ini adalah Hari Film Nasional yang ketiga sejak ditetapkan pada 2008 lalu. Tanggal 30 Maret diambil menjadi hari film nasional berdasarkan hari pertama shooting film Darah dan Doa, yang merupakan film pertama karya anak bangsa.

Tulisan ini tidak hendak menilai film Darah dan Doa, apalagi mengajak untuk meramaikan hari film nasional. Sama sekali tidak. Tulisan ini hanya ingin mengajak kita merenung betapa film-film di negeri ini lebih banyak yang merusak alih-alih membawa nilai yang konstruktif bagi masyarakat.

Bagi Anda yang berlangganan surat kabar dan menyempatkan melihat iklan bioskop hari ini, Anda akan mendapati judul-judul Te[Rekam], The Sexy City, Dendam Pocong Mupeng, dan lain-lain. Perfilman nasional masih didominasi oleh dua genre seperti itu; horor dan porno. Sebuah perusahaan film bahkan pernah merencanakan mengundang bintang porno Jepang sebagai aktris dalam filmnya. Meskipun dibatalkan karena dikecam oleh banyak umat Islam dan para ulama, toh mereka tetap meluncurkan film Suster Keramas.

Tentu saja film-film demikian berdampak negatif bagi masa depan negeri ini. Negeri dengan penduduk muslim terbesar di dunia. Negeri yang diharapkan oleh ulama sekaliber Yusuf Qardhawi, menjadi basis kebangkitan Islam. Bukankah kebanyakan penonton bioskop adalah para pemuda dan para remaja? Jika mereka dibius dengan film-film seperti itu niscaya mental dan moralitasnya cenderung negatif.

Bukan berarti dakwah yang mencita-citakan tegaknya masyarakat Islami anti film dan bioskop. Seperti jawaban Anis Matta ketika ditanya oleh mahasiswa Kalimantan: kalau Negara dikelola dengan cara Islam, apakah bioskop-bioskop akan ditutup? “Oh, tidak”, jawab Anis Matta, “Kita bikin bioskop yang lebih besar dari sekarang” Bedanya: “Film yang Anda tonton berbeda.” Tambahnya lagi: “Pas waktu shalat semua tutup.”

Sesungguhnya, film yang “berbeda” itu sudah pernah dibuktikan. Ia juga memiliki nilai jual. Bahkan sampai membuat masyarakat antri untuk mendapatkan tiketnya. Ketika Cinta Bertasbih, misalnya. Film islami yang diangkat dari novel karya Habiburrahman El-Sirazy ini juga membuktikan bahwa masyarakat kita sebenarnya merindukan film-film berkualitas yang menyejukkan hati; selaras dengan fitrahnya. Meskipun tidak seislami novelnya, Ayat-ayat Cinta juga mencatatkan prestasi tersendiri. Pun dengan film-film inspiratif seperti Laskar Pelangi, Garuda di Dadaku, dan King. Ternyata, perfilman kita juga mampu –sebenarnya- membuat film-film laris tanpa aroma pornografi. Apalagi film Sang Murabbi yang sangat menyentuh dan memotivasi para aktifis dakwah di negeri ini.

Jika film-film tipe kedua ini yang terus dikembangkan bersamaan dengan minimalisasi film-film tipe pertama (syukur-syukur jika sampai tahap eliminasi), niscaya perfilman nasional bukan hanya berkualitas tetapi juga konstruktif membangun kemajuan negeri dan turut memperbaiki umat ini. Film bisa menjadi sarana dakwah modern karena efektifitas film dibanding sarana lain. Seperti dinyatakan pakar komunikasi bahwa satu jam film lebih berpengaruh daripada satu pekan ceramah. [Muchlisin]
00:00 | 1 komentar

Kemunduran Umat Islam, Siapa yang bertanggung Jawab?

Written By Admin BeDa on Senin, 29 Maret 2010 | 16:00


Judul Buku : Kemunduran Umat Islam: Siapa yang Bertanggung Jawab?
Judul Asli : Man al-Mas-uul 'an Takhallufil Muslimiina
Penulis : Dr. Muhammad Sa'id Ramadlan Al-Buthi
Penerjemah : M. Burhanuddin - Muallimin
Penerbit : Mashun, Kelompok Masmedia Buana Pustaka, Sidoarjo
Cetakan Ke : 1
Tahun Terbit : Maret 2009
Tebal Buku : 151 halaman


Buku Kemunduran Umat Islam: Siapa yang Bertanggung Jawab? adalah karya Dr. Muhammad Said Ramadhan Al-Buthi, menantu Hasan Al-Banna. Buku ini membahas kemunduran umat Islam dalam perspektif yang berbeda.

Kemunduran umat Islam, menurut banyak sejarawan dimulai saat jatuhnya kota Baghdad di tangan Hulagu Khan pada tahun 1250 M. Ini pertanda yang awal dari berakhirnya supremasi Khilafah Abbasyiyah dan titik awal kemunduran umat Islam di bidang politik dan peradaban Islam yang selama berabad-abad lamanya menjadi kebanggaan umat.

Pada masa kekhilafahan Islam dipegang Daulah Utsmaniyah, sesungguhnya usaha memajukan peradaban Islam dimulai kembali dan memang ada masa-masa kejayaan pada rentang waktu itu. Seperti kemenangan Muhammad Al-Fatih dalam memfutuhkan Konstantinopel dan lain-lain. Namun belum sampai pertengahan masa daulah Utsmaniyah bertahan, penurunan terjadi kembali dan semakin mundur.

Sejak abad 14 H, banyak ulama, pemikir Islam dan harakah Islamiyah yang mencangkannya sebagai masa kebangkitan. Namun Muhammad Said Ramadhan Al-Buthi –dengan menulis buku ini- justru mengisyaratkan bahwa sekarangpun umat Islam masih berada dalam masa kemunduran. Dan karenanya perlu dicari solusinya.


Siapakah Muhammad Said Ramadlan Al-Buthi?
Said Ramadhan Al-Buthi adalah salah satu tokoh Ikhwanul Muslimin yang juga menjadi menantu Hasan Al-Banna. Beliau seorang ulama berpengaruh di Syria yang cukup produktif menulis buku. Karyanya yang paling fenomenal adalah Fiqhus Sirah. Selain Fiqhus Sirah dan buku ini, Man al-Mas-uul 'an Takhallufil Muslimiina, karya beliau antara lain :
1. Muhadharat Fil Fiqhil Muqharin Ma'a Muqaddimati Fi Bayani Asbabi Ikhtilafi al-Fuqaha' Wa Ahammiyyati Dirasatil Fiqhil Muqarin (Problematika Dalam Fiqh Muqarin, Sebab Terjadinya Perbedaan Fuqaha', dan Pentingnya Mempelajari Fiqh Muqarin)
2. Al-Islam Maladz Kulli Mujtama'at Insaniyyah; Limadza Wa Kaifa? (Islam Tempat Berlindung Seluruh Masyarakat Sosial; Mengapa dan Bagaimana?)
3. Al Jihad Fil Islam; Kaifa Nafhamuhu ? Wa Kaifa Numarisuhu? (Jihad dalam Islam; Bagaimana Kita Memahami dan Melaksanakannya?
4. Salafiyyah; Marhalah Zamaniyyah Mubarakah La Madzhab Islami
5. Al 'Uqhubat Islamiyyah; Wa 'Aqduhu al-Tanaqhudhu Bainaha Wa Baina Ma Yusamma Bithobi'ihal
6. Hurriyatul Insan Fi Dhilli 'Ubudiyyahatihi Lillah (Kebebasan Manusia Dalam Beribadah)
7. Difa' 'An Islam Wa Tarikh (Belaan Terhadap Islam dan sejarah)
8. Al Islam Wa 'Asru; Tahaddiyat Wa 'Afaq (Islam dan Modernisme; Sebuah Tantangan dan Harapan)

Apa Diferensiasi Buku Ini?
Banyak buku mengenai kemunduran umat Islam yang telah ditulis. Baik oleh penulis muslim maupun para orientalis. Buku-buku itu mencoba menganalisa mengapa terjadi kemunduran umat Islam dan mencoba menawarkan solusinya berupa upaya kebangkitan umat.

Buku-buku yang ditulis oleh orientalis –khususnya-, menghasilkan kesimpulan bahwa kemunduran umat Islam yang bersamaan dengan kemajuan Barat, adalah karena tradisi keagamaan yang cenderung membatasi umat Islam. Pendapat ini dipaparkan di awal buku, pada bab I, dan ditolak oleh Said Ramadhan Al-Buthi dengan menunjukkan argumentasi di mana letak kesalahannya.

Buku Kemunduran Umat Islam: Siapa yang Bertanggung Jawab? ini mencoba memadukan antara dalil naqli dengan argumentasi ilmiah dalam membahas kemunduran umat Islam, siapa yang bertanggungjawab, dan bagaimana solusinya. Akan kita temui dalam buku ini banyak catatan kaki yang berisi data pendukung argumentasi Said Ramadhan Al-Buthi. Dalam isi buku juga ditampilkan data-data modern seperti perkembangan pemakaian teknologi rumah tangga di Prancis (mewakili Eropa) dalam rentang 25 tahun dibandingkan dengan Arab yang tertinggal 5 tahun.

Mengapa Masa Sekarang Masih Disebut Masa Kemunduran?
Berangkat dari definisi "kemunduran" Said Ramadhan Al-Buthi berpendapat bahwa masa sekarang pun umat Islam masih mengalami kemunduran. Kemunduran dalam buku ini didefinisikan sebagai kata yang mencakup berbagai bentuk kelemahan, kebodohan atau kekurangan dalam kehidupan suatu umat. Kemunduran itu sendiri menjangkit ke dalam persatuan atau kepercayaan umat muslim sehingga kekuasaan Zionisme Yahudi, misalnya, dengan mudahnya merebut tanah Palestina. Bahkan, kemunduran bisa saka terjadi akibat adanya stagnasi ilmiah dan keengganan umat untuk mengeksploitasi kandungan bumi.

Di sisi lain, bangsa asing berupaya mencari berbagai cara untuk mencapai puncak kemajuan ilmu pengetahuan.

Sebab Kemunduran Umat Islam
Pada banyak tempat Said Ramadhan Al-Buthi menyebutkan bahwa kemunduran umat Islam bukan karena agamanya, bukan karena Islam. Kemajuan suatu bangsa terdahulu juga tidak serta merta meminggirkan agama, sejarah atau tradisinya.

Sebaliknya, Islam justru menjamin kemajuan umatnya, ketika Islam diaplikasikan dengan benar. Itu yang pernah terjadi pada Mit Ghorm Local Saving Bank, yang diambil Said Ramadhan Al-Buthi sebagai contoh. Mit Ghorm Local Saving Bank merupakan sebuah bank di Mesir yang mempraktikkan sistem Islam dengan meninggalkan bunga yang tidak lain adalah riba. Bank ini sukses dan mengalami kemajuan pesat dalam waktu singkat. Meskipun kemudian ia tidak didukung akibat kepentingan politik rezim penguasa.

Said Ramadhan Al-Buthi kemudian menjelaskan secara detail faktor-faktor kemunduran umat Islam dalam bab III. Pertama, Instabilitas mental dan rasional. Yaitu segala bentuk kekacauan dalam jiwa dan pemikiran. Kekacauan ini bermula dari pengalaman sejarah yang bertemu dengan infiltrasi pemikiran ekstern. Ketika daulah Utsmaniyah selama beberapa kurun mencapai puncak kekuasaan dan kejayaannya, lambat laun mengalami kemunduran akibat ketimpangan intern dan makar zionis. Umat yang terfragmen dalam beberapa kelompok saling bermusuhan sehingga semakin merapuhkan daulah. Sementara itu Eropa bangkit dengan pesat, sambil "membiuskan" pemikiran bahwa kemajuan mereka adalah karena meninggalkan tradisi lama, termasuk agama. Ini yang membuat umat Islam secara internal semakin kacau pola pikirnya dan kemunduran semakin tak terhindarkan.

Kedua, Tidak adanya rencana secara matang. Maksudnya adalah ketiadaan programisasi yang menjadi bagian terpenting dari sebuah metodologi yang bersifat kompleks. Ketiadaan ini menjadi sistemik, bukan saja karena kurangnya intelektual dan pemimpin umat yang memikirkan secara strategis bagaimana memajukan umat ini, tetapi juga kondisi pendidikan umat Islam yang pelulusannya bersifat despostis.

Ketiga, Hilangnya positivisme diantara sektor-sektor umat. Secara nyata kondisi ini bisa dipahami sebagai hilangnya solidaritas diantara semua level yang ada, yang seharusnya membudayakan nilai-nilai positif sebagai penopang utamanya.

Keempat, ketiadaan unsur-unsur pendidikan beserta nilai-nilai budaya demi memerangi keterbelakangan. Dan kelima, terpecahnya persatuan. Di mana fanatisme yang meracuni banyak kelompok dan melahirkan sikap merasa paling benar dan berhak eksis serta mendominasi lebih dari entitas yang lain.

Solusi yang Ditawarkan

Bab IV, bab terakhir, justru merupakan bab terpendek dalam buku ini. Sehingga solusi yang dimuat dalam buku ini pun bersifat umum dan tidak mendetail. Inilah barangkali yang menjadi kelemahan buku ini. Said Ramadhan Al-Buthi menyimpulkan bahwa solusi itu tidak lain adalah kembali kepada Islam. Bukan justru sebaliknya, mengaitkan kemunduran umat Islam dengan ajarannya. Dengan memahami Islam pula, kita bisa membedakan Islam dan sejarah umatnya. Islam yang merupakan rahmatan lil alamin, jalan yang dibentangkan Allah kepada hamba-Nya, adalah jalan pasti untuk mencapai kesejahteraan dunia dan akhirat. [Muchlisin]
16:00 | 4 komentar

Israel Kerahkan Tank Setelah 2 Tentaranya Tewas di Gaza


Serangan udara Israel di wilayah Gaza sejak Senin (22/03) dilanjutkan dengan baku tembak akhir pekan kemarin. Dua tentara Israel tewas dan dua lainnya cedera dalam baku tembak yang sangat sengit dengan mujahidin Hamas.

Menyusul terbunuhnya 2 tentaranya, Israel mulai mengerahkan kendaraan lapis baja termasuk buldoser-buldoser memasuki Gaza, Ahad kemarin (28/03). Menurut saksi mata, tampaknya mereka berusaha menghancurkan terowong-terowongan dekat lokasi bentrokan senjata yang menelan korban jiwa militer Israel akhir pekan itu.

Pasukan bergerak masuk sekitar 500 meter dalam wilayah Gaza, menggali parit-parit lebar dan melepaskan tembakan peringatan agar para petani menjauhi lokasi itu. Agaknya Israel ketakutan jika mujahidin Hamas tiba-tiba keluar dari terowongan-terowongan itu menyambut kedatangan mereka.

Hamas memang dikenal sebagai organisasi perlawanan yang memiliki strategi perang luar biasa. Selain keberanian mereka menghadapi perang karena cita-cita syahid, mereka juga sangat menguasai medan perang di wilayah mereka dan selalu berinovasi dengan strategi perang yang baru. Itulah yang membuat Hamas menang atas Israel pada perang Furqan akhir 2008 lalu.[AN]
10:00 | 0 komentar

Jangan Biarkan Anemia Menyerang Ruhiyah Kita


Ini kedua kalinya. Ia datang menyerang dan membuatku tidak bisa menjalankan aktifitas selama dua hari kemarin seperti biasanya. Jadwal memberikan training bersama tim Trustco kemarin pun tidak bisa aku hadiri. Demikian pula mengisi pelatihan komputer di sebuah SMA sore harinya, tidak bisa kupenuhi. Aku harus istirahat. Untunglah, Allah masih menguatkanku untuk tetap bisa belajar dan menulis di Bersama Dakwah ini.

Anemia. Itu istilah medisnya. Keadaan di mana jumlah sel darah merah atau jumlah hemoglobin dalam sel darah merah berada di bawah normal. Seperti yang kurasakan dua hari lalu, anemia bisa menyebabkan lemah, letih, lesu, pucat, dan berkunang-kunang. Kali pertama menyerangku pada Idul Fitri lalu, bahkan memaksaku menunda mudik hingga hari ketujuh.

Di samping istirahat, aku pun mengkonsumsi multivitamin yang disarankan dokter. Alhamdulillah, kini kondisiku lebih baik dari dua hari lalu.

Kita perlu menjaga kondisi fisik kita agar tidak terserang anemia. Qawiyyul jism harus diperhatikan. Karenanya Hasan Al-Banna menyebutkannya pertama kali sebelum sembilan muwashafat lainnya dalam Risalah Ta’alim. Namun yang tak kalah penting adalah menjaga ruhiyah kita agar tidak terkena anemia.

Jika anemia bisa menyebabkan lemah, letih, lesu, pucat, dan berkunang-kunang, anemia ruhiyah membuat kita tidak semangat, malas beribadah, jiwa tidak tenang, dan gelisah. Sayyid M. Nuh menyebut gejala ini sebagai futur.

Jika untuk mengatasi anemia kita membutuhkan multivitamin atau suplemen makanan, demikian pula kita memerlukan suplemen ruhiyah agar tidak terserang futur; atau untuk mengatasinya jika gejala-gejala futur mulai terasa.

Diantara suplemen yang kita perlukan, salah satunya adalah dzikrul maut; mengingat kematian. Dalam Afatun ‘ala Thariq, Sayyid Muhammad Nuh menjelaskan, “Dengan senantiasa mengingat kematian dan kejadian-kejadian yang akan dihadapi selanjutnya, seperti keharusan menjawab pertanyaan-pertanyaan malaikat di alam barzakh, suasana kubur yang gelap gulita dan sunyi sepi…, dan seterusnya, akan dapat membangunkan jiwa dari kelelapan, membangkitkannya dari kemalasan, mengingatkannya dari kelalaian, sehingga kita akan kembali bersemangat dan mulai meneruskan amaliyah.”

Suplemen ini kita perlukan dalam jumlah yang banyak agar anemia ruhiyah tidak menyerang kita. Rasulullah SAW bersabda, “Perbanyaklah mengingat perusak kelezatan-kelezatan, yaitu mati.” (HR. Tirmidzi, An-Nasa’i, Ibnu Majah, dan Ibnu Hibban)

Dzikrul maut ini akan berbanding lurus dengan ketahanan dan kekuatan seseorang, termasuk dalam menghadapi anemia ruhiyah. Ibnu Umar meriwayatkan bahwa Nabi SAW pernah ditanya, “Siapakah orang yang paling kuat itu?” Beliau menjawab, “Seseorang yang paling banyak mengingat mati dan lebih keras persiapannya menghadapi kematian. Mereka yang seperti inilah orang-orang yang paling perkasa.” (HR. Ibnu Majah)

Untuk mengingat kematian, banyak cara yang bisa dipraktikkan. Salah satunya adalah mentradisikan jamaah, halaqah atau persahabatan untuk saling mengingatkan kematian. Seperti dituturkan Ibnu Qudamah ketika menceritakan kebiasaan salafush shalih “Setiap malam Ibnu Umar mengumpukan para fuqaha, lalu mereka saling mengingatkan kematian dan hari kiamat, lalu mereka semua menangis, seakan-akan di hadapan mereka ada mayat.”

Secara individu, mengingat kematian juga bisa ditempuh dengan jalan ziarah kubur. Dan inilah yang diajarkan Rasulullah di samping mengantarkan jenazah dan mengunjungi orang-orang yang tengah dilanda sakit keras.

Ada pula para ulama karena perhatiannya yang begitu besar pada dzikrul maut, mereka membuat sarana yang unik, yang mungkin tidak pernah terpikirkan oleh kita. Seperti Ibnu Sammak Al-Waiz yang menggali sebuah lubang yang bentuknya mirip dengan petak kuburan. Petak lubang kuburan tersebut ia gunakan untuk mengingatkannya kepada kematian dengan cara memasukinya dan membayangkan dirinya sudah berada di liang lahat. Ini menjadi semacam terapi saat dirinya dilanda anemia ruhiyah bernama futur ini.

Bagaimana kiat Anda? [Muchlisin]
00:00 | 0 komentar

Pengorbanan Luar Biasa Mereka yang Cinta Buku dan Ilmu

Written By Admin BeDa on Minggu, 28 Maret 2010 | 18:27


Ulama besar itu sedang jatuh sakit. Parah. Seluruh tubuhnya terasa payah. Persendiannya ngilu dan tulang-tulangnya kaku. Dia hanya bisa tergolek di atas tempat tidur, tak kuasa bergerak dan beranjak sedikit pun dari sana. Namun kondisinya yang sangat lemah itu, tak juga menyurutkan semangatnya untuk terus berbagi ilmu, membaca dan menelaah buku-buku, serta berdisukusi dengan murid-muridnya.

Dokter yang didatangkan untuk mengobatinya, pun begitu prihatin melihat keadaannya. Setelah memeriksanya, dokter itu berkata, “Aktifitas Anda yang banyak membaca dan berdisukusi tentang ilmu, telah membuat sakit Anda semakin berat.”

“Tapi, aku tidak bisa bersabar untuk melakukan itu. Akan aku buktikan sesuai dengan ilmu Anda. Bukankah jiwa itu jika bisa merasakan kebahagiaan, ketenangan dan kenyamanan, maka perasaan itu akan mampu menyembuhkannya dari penyakit?” kilahnya dengan nafas sedikit tersengal.
“Tentu,” jawab sang dokter singkat.
“Jiwaku akan merasa senang jika ia bisa berinteraksi dengan ilmu,” tambahnya memberi alasan.

Tak brp lama, dengan tetap menuruti kata hatinya untuk terus membaca, ulama besar itu pun kembali sehat seperti sedia kala. Dia mengobati sakitnya dengan membaca. Melihat keadaannya yang membaik, dokter yang pernah merawat dan menasehatinya, hanya bisa berkata, “Ini di luar terapi yang biasa kami berikan.”

Ulama besar tersebut tak lain adalah Ibnu Taimiyah; sosok yang semasa hidupnya sangat lekat dengan kesederhanaan, kemiskinan, dan penjara, tetapi tetap ceria dan selalu bersahaja. “Aku tidak pernah melihat orang yang lebih merasakan kenikmatan hidup dari pada Ibnu Taimiyah. Meskipun hidupnya dalam kesederhanaan, kemiskinan, tahanan dan di bawah ancaman, tetapi ia adalah orang yang paling lapang dadanya, sehingga wajahnya selalu terlihat berseri-seri,” tutur salah seorang muridnya, Ibnu Qayim Al-Jauziyah, menceritakan tentang pribadinya.

Sederhana dan bersahaja mungkin sebuah sikap yang memang sangat lekat pada diri seorang Ibnu Taimiyah. Tetapi yang lebih menarik dari sekadar itu, adalah semangat keilmuannya yang tinggi. Semangat telaah dan bacanya yang hebat, yang mampu meringankannya dari rasa sakit yang menimpanya. Sejak kecil semangat itu telah ada, dan tak pernah menyusut karena terpengaruh oleh kenikmatan-kenikmatan duniawi. Dia tak pernah merasakan makanan enak dan lezat, dan hanya memakan apa adanya baik di pagi hari maupun malam hari. Dia juga tak pernah surut meski harus bersua dengan beragam cobaan dan siksaan. Ia hanya sibuk membaca dan mendalami banyak macam ilmu. Ia rajin belajar, menulis dan meriwayatkan hadits sehingga ia mampu menghimpun hadits-hadits yang tak dimiliki orang lain. Selain belajar, ia juga menyebarkan ilmunya. Ia mengajarkan hadits di beberapa daerah seperti Damaskus, Mesir dan Iskandaria. Meski di daerah-daerah itu ia menghadapi bermacam siksaan dan cobaan. Bahkan ketika di Damaskus lah, ia sempat ditahan dua kali hingga akhirnya wafat di sana tahun 728 H, di dalam penjara.

Ibnu Taimiyah seolah tenggelam dalam ilmu. Karena ilmu ia kemudian tidak menikah. Dan karena ilmu; semangatnya menelaah dan menulis, ia mampu menghasilkan lebih dari 500 jilid buku dari sekitar 350 judul, yang menyebar di mana-mana. Cintanya pada ilmu dan buku, lebih kuat dari cinta kita pada apapun yang sangat kita sukai. Dan mungkin dialah contoh yang ingindigambarkan Ibnu Qayim dalam sebuah ungkapannya, “Adapun para pecinta ilmu, mereka lebih terpesona dengan ilmu melebihi terpesonanya seorang laki-laki kepada kekasihnya. Dan kebanyakan diantara mereka tidak pernah disibukkan oleh seseorang (yang dicintainya) seperti mereka disibukkan dengan imu.”

Ibnu Rajab pun memuji sikapnya yang memilih membujang dari pada menikah. Dia berkata, “Inilah dampak positif dari membujang, yang akan terus bermanfaat bagi para penuntut ilmu dan para ulama sepanjang masa. Betapa banyak hasil karyanya yang tersebar di seluruh dunia Islam sejak zamannya hingga hari kiamat nanti, Insya Allah.”

Kecintaan pada ilmu dan sarana-sarananya; membaca, menulis, dan membelanjakan harta demi buku, adalah tradisi ulama kita yang telah ada sejak dulu. Mereka adalah orang-orang yang tak pernah puas dengan ilmu, dan tak pernah bosan untuk menimbanya. Salah seorang murid Ibnu taimiyah, Al-Hafidz Ibnu Abdul Hadi, pernah berkata, “Jiwaku tidak pernah kenyang dengan ilmu, tidak pernah puas dengan membaca, tidak pernah bosan dengan kesibukan itu, dan tak penrah letih untuk terus menelaah dan mencari.”

Mereka, ketika bertemu dengan sebuah buku yang belum pernah mereka baca, seakan menemukan harta karun yang berharga. Ibnul Jauzi pernah bercerita tentang dirinya, “Aku menceritakan keadaanku, aku tidak pernah kenyang membaca buku. Jika aku mendapati sebuah buku yang belum kubaca, aku seakan menemukan sebuah harta karun yang sangat berharga.”

Suatu saat, dia juga pernah mengatakan, “Aku telah menyaksikan deretan kitab-kitab di Madrasah Nizhamiyah. Ternyata, kitab-kitab yang terpajang di sana mencapai 6 ribu jilid buku, diantaranya ada kitab-kitab Abu Hanifah, kitab-kitab Al-Humaidi, ada kitab-kitab dari guru kami Abdul Wahab bin Nashir, kitab-kitab Abu Muhammad Al Khasyib, dan banyak lagi yang lain, dan aku merasa bahwa sudah pernah membacanya. Kalau boleh aku katakan, sungguh aku telah membaca lebih dari 20 ribu jilid, tetapi aku masih terus mencari.”

Ulama kita adalah orang yang sangat mencintai buku, dan penuh semangat membacanya. Buku adalah barang mahal bagi mereka, yang selalu harus ada dan tersedia, dengan cara apapun mereka mendapatkannya. Muhammad bin Ya’kub Al-Fairuz Abadi, misalnya. Setiap kali bepergian ia selalu membawa bukunya. Ia selalu membaca dan berpikir. Terdorong oleh kecintaan yang begitu kuat, ia pernah membeli buku dengan emas seharga 50 dinar.

Sedang Al-Jahizh, salah seorang sastrawan ternama, setiap kali mendapatkan buku ia selalu membacanya dari awal hingga akhir. Ia sangat mencintai buku. Ia bahkan menyewa toko-toko buku dan menginap di sana untuk menelaah.

Ada lagi Abul ‘Ala Al-Hamadzani. Ketika kitab-kitab Ibnul Jawaliqi dilelang di kota Baghdad, saat itu ia turut hadir. Penjual menawarkan satu paket dengan harga 60 dinar. Abul ‘Ala pun membelinya dengan menangguhkan pembayaran hingga hari Kamis berikutnya. Tenyata, selang waktu itu dia gunakan untuk kembali ke kampung halamannya. Di sana ia jual rumah miliknya dengan harga 60 dinar untuk membayar harga buku tersebut. Kisah Abul ‘Ala sangat mirip dengan kisah Ibnu Najar yang menggadaikan rumahnya seharga 500 dinar untuk digunakan membeli buku.

Mereka melakukan itu, tentu karena mereka memandang bahwa buku dan ilmu itu jauh lebih berharga dari apa mereka keluarkan. Mereka lebih mencintai tumpukan buku dari pada tumpukan harta. Merekalah yang dikatakan Al-Jahiz dalam sebuah ungkapannya, “Orang yang kehabisan nafkah dan harta benda yang dia keluarkan untuk mendapatkan buku yang dia inginkan, lebih dia sukai dari pada membeli seorang budak perempuan yang cantik, memperturutkan syahwatnya membuat bangunan mewah, maka dia tak akan mendapatkan ilmu yang memberi kepuasan, dan harta yang diinfakkannya tak akan bermanfaat untuknya sampai dia mengutamakan membelanjakannya untuk buku-buku, seperti seorang badui yang lebih memprioritaskan susu kudanya untuk keluarganya, atau sampai mengharapkan sesuatu dari ilmunya seperti seorang badui yang mengharpkan sesuatu dari kudanya.”

Para pecinta ilmu selalu menemukan kepuasan dalam bacaan-bacaan mereka. Jiwa mereka terasa ringan dan dada mereka terasa lapang, manakala bertemu buku dan punya kesempatan untuk membacannya.

Salman Al-Hambali, salah seorang guru Ibnu Hajar Al-Asqalani, mengatakan, “Tidur siang yang engkau tinggalkan untuk bisa membaca buku, yang tidak mendatangkan harta untukmu, maka katakanlah, “Biarkan aku (melakukan ini), semoga ku dapat menemukan buku yang bisa menunjukkan kepadaku bagaimana aku mendapatkan buku (catatan amal)ku dengan aman dan dengan tangan kanan.”

Seorang syaikh pernah berkata, “Aku ingat, suatu kali aku membeli buku di kota Riyadh setelah itu aku berjalan ke arah timur. Tapi rasanya aku tak dapat meneruskan perjalananku karena ketertarikanku yang sangat pada buku itu. tidak ada yang bisa kulakukan kecuali berhenti di jalan lalu buku itu aku baca hingga selesai seluruhnya, setelah itu barulah perjalanan aku lanjutkan.”

Dengan membaca buku mereka merasa memiliki semangat untuk terus hidup. Membaca adalah sarana menyambung nafas untuk mempertahankan eksistensi diri mereka. Sangat benar apa yang dikatakan seorang diantara mereka, “bacalah, agar engkau bisa hidup.”

Inilah potensi besar yang sebenarnya pernah ada dalam tubuh umat ini. Dulu, umat ini pernah berjaya oleh karena kecintaan mereka yang kuat terhadap ilmu. Budaya membaca dan menuntut ilmu di kalangan para ulama sangat menakjubkan. Mereka sudah bisa berdiri dengan tegak dengan segenap cahaya, saat umat lainnya masih diliputi kegelapan. Potret kehidupan mereka perlu menjadi teladan untuk kehidupan kita masa kini; mengorbankan harta u. ditukar dengan buku dan ilmu pengetahuan.

Membaca adalah kata yang menunjukkan permulaan wahyu, dan penanda lahirnya kenabian pada diri Rasulullah SAW yang menjadi penerang bagi manusia dan segenap alam. Membaca adalah titik balik paling fundamental pada perubahan sejarah kemanusiaan dari kekufuran dan kesesatan mereka, meunju cahaya iman, tauhid dan hidayah; juga dari tradisi suram kepada nilai-nilai moral, akhlak dan etika; dari kebutaan hati kepada penglihatan yang berdasarkan iman. Para pendahulu kita sangat memahami itu, dan karena itulah mereka terus membaca dan tak pernah bosan melakukannya. Mereka memiliki tradisi itu dalam kehidupan mereka dan berusaha mewariskannya kepada generasi setelah mereka.

Namun tampaknya, tradisi yang baik itu kini seakan tidak terlalu mendapatkan perhatian. Bukan hanya oleh orang-orang awam, tetapi kita dan mereka yang hidupnya sangat dekat sarana-sarana ilmu dan profesi-profesi keilmuan, juga tak terlalu mempedulikan buku, dan membacanya. Seorang syaikh berkata, “Kalau kita perhatikan para mahasiswa kita hari ini, mereka terlihat jarang membaca. Padahal sesungguhnya mereka baru memulai belajar. Aneh. Sungguh aneh. Mereka seperti merasa telah memiliki banyak ilmu. Padahal Ibnu Jauzi menasehatkan, ‘Hal yang paling baik adalah berbekal dengan ilmu. Siapa yang merasa cukup dengan ilmu yang dia miliki dan puas dengannya sehingga tidak mau mendengar pendapat orang lain, kemudian terlalu membesarkan dirinya, maka dia akan terhalang dari memperoleh manfaat. Dengan terus membaca dan belajar, akan tampaklah kesalahannya.’”

Seringkali, setelah kita menyelesaikan satu jenjang pendidikan, terkadang ada bisikan dalam hati yang mengatakan bahwa kita telah melewati fase belajar, dan karena itu tak perlu lagi membaca. Kita bahkan kerap merasa diri sudah cukup berilmu. Kita lupa, atau sengaja melupakan keadaan ulama kita dalam berinteraksi dengan ilmu, yang tidak pernah berhenti hingga ajal menjemputnya.

Ada kemalasan yang sering muncul karena kita tak menemukan kenikmatan dalam membaca. Membaca tidak menyentuh jiwa kita, sebagaimana dirasakan para ulama, di mana bagi mereka membaca adalah alat pemuas jiwa.

Secara umum, mungkin kita memang sangat jarang membaca. Tradisi keilmuan kita sangat jauh berbeda dengan para pendahulu kita; salafusshalih dan pengikut mereka. Tetapi tidak berarti bahwa semua kita benar-benar menjauhi buku. Di tengah-tengah kita, masih banyak orang-orang yang dengan kebersahajaan dan kesederhanaannya tak pernah lepas dari buku. Selalu rajin membaca, kapan pun dan dimana saja. [Sulthan Hadi, sumber: Majalah Tarbawi edisi 224]
18:27 | 4 komentar

Keislaman Obama Bukan Akhir Perjuangan Kita


Umat Islam bingung. Bahkan para ulama’nya. Jihad mereka selama puluhan tahun menemui jalan buntu. Pasalnya, negara yang menyerang dan membunuhi mereka, kini rajanya masuk Islam, diikuti sebagian besar rakyatnya. Negara itu adalah Tartar, dan rajanya adalah Qazan bin Arghun.

Jika keislaman mereka sekaligus menghentikan serangannya pada kaum muslimin, masalah selesai. Namun mereka terus melanjutkan peperangan ini; membunuhi kaum muslimin dan memperluas daerah jajahannya. Inilah masalahnya. Masalah yang juga membuat bingung para ulama’. Haruskah kaum muslimin berperang dengan Tartar yang sudah masuk Islam? Namun jika tidak, semakin banyak kaum muslimin yang terbunuh dan wilayah kekhilafahan Islam semakin menyempit. Bahkan ulama’ sekaliber Ibnu Katsir masih dalam tanda tanya yang tersirat dalam kalimatnya: ”Sebagian besar manusia bertanya-tanya dengan alasan apakah negara Tartar harus diperangi? Mereka telah masuk Islam..”

Namun kebingungan ini tidak berlangsung lama. Solusi datang dari seorang ulama besar yang segera mengakhiri kebuntuan ini. Dialah Ibnu Taimiyah. ”Orang-orang Tartar,” kata Ibnu Taimiyah dalam fatwanya, ”tiada lain seperti orang-orang Khawarij yang membangkang dari Ali bin Abu Thalib dan Muawiyah bin Abu Sufyan. Orang-orang Khawarij berpendapat bahwa mereka lebih berhak dalam masalah kekhalifahan daripada Ali bin Abu Thalib dan Muawiyah bin Abu Sufyan. Orang-orang Tartar juga berpendapat bahwa mereka lebih berhak menegakkan kebenaran daripada kaum muslimin lainnya. Mereka kecam kemaksiatan dan kezaliman kaum muslimin padahal mereka sendiri jauh lebih rusak beberapa kali lipat daripada kaum muslimin lainnya.”

Para ulama’ dan umat Islam puas dengan fatwa itu dan kembali melanjutkan jihadnya melawan Tartar. Mereka semakin termotivasi karena Ibnu Taimiyah juga menguatkan dengan perkataannya: ”Jika kalian lihat aku berada di pihak pasukan Tartar dan di kepalaku terdapat Mushaf, maka bunuhlah aku!”

Kita mungkin juga terkejut dengan berita keislaman Obama. Hasil survey yang dirilis di yahoo mengabarkan 57 persen pemilih Partai Republik Amerika Serikat menyatakan Presiden Amerika Serikat Barack Obama seorang muslim. Ini barulah hasil survey. Bukan sebuah kepastian yang benar adanya.

Kalaupun Obama masuk Islam, namun ia tetap memusuhi umat Islam dan membunuhi mereka baik di Afhganistan, Irak, dan negeri muslim yang lain. Juga masih mendukung zionis Israel menduduki Palestina dan membunuhi rakyatnya. Itu tidak akan mengubah sikap kita terhadap Amerika. Sebagaimana umat Islam dahulu tetap berjihad melawan Tartar. Bukankah begitu? [Muchlisin]
10:02 | 3 komentar

Berkahnya Dakwah

Written By Admin BeDa on Sabtu, 27 Maret 2010 | 08:00


“Dari Sby lagi?” Tanya seorang akhwat sepekan lalu ketika melihat suaminya datang dengan membawa bungkusan yang khas. Begitu melihat bungkusan itu, akhwat itu langsung menebak: pasti bungkusan dari Sby lag. “Ya, aku memang dari Sby. Ada yang perlu kubeli. Seharusnya Al-Bidayah wan Nihayah edisi lengkap, tapi stoknya habis. Dapatnya Qashashul Anbiya'.” Sang suami menjelaskan.

“Apa tidak capek? Bukannya tadi pagi kurang enak badan?”
“Ya. Tadi pagi memang capek. Bahkan sampai menjelang khutbah. Namun begitu aku naik mimbar dan kulihat mayoritas jama'ah shalat Jum'at itu adalah para pemuda yang wajahnya memancarkan harapan masa depan Islam, seketika itu semangatku telah menghilangkan rasa capek itu.” cerita sang suami dengan wajah berseri-seri.

Begitulah dakwah! Ia memiliki keutamaan yang begitu banyak dan luar biasa. Satu diantaranya, dakwah pada hakikatnya adalah motivasi dan perbaikan diri bagi dainya sendiri. Ya, bagi dainya sebelum bagi mad'unya. Ini akan membawa kesadaran baru bahwa dakwah sebenarnya adalah kebutuhan kita. Bukan dakwah yang membutuhkan kita.

Saat dakwah yang diserukan para dai hanya ditujukan kepada orang lain, dan bukan untuk dirinya, sesungguhnya Allah telah mengancam dai yang semacam ini dengan firman-Nya:

“Wahai orang-orang yang beriman, mengapa engkau mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan. Sungguh besar kemurkaan Allah kepadamu jika engkau mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS. Ash-Shaf : 2-3)

Penjelasan inilah yang melatari mengapa di dalam khutbah Jum'at sering kita dengar khatib menyampaikan nasihat taqwa: usikum wa nafsi bitaqwallah, aku menasehati kalian dan diriku sendiri agar bertaqwa kepada Allah.

Namun dakwah juga tidak harus menunggu dai menjadi sempurna. Karena dakwah adalah juga perbaikan diri, maka pada saat ia mendakwahkan Islam kepada orang lain sesungguhnya ia mentaujih dirinya sendiri untuk mengikuti dakwah itu dan istiqamah menjalankannya. Imam Hasan Al-Basri menjelaskan “Hai manusia, aku menasihati kalian, kendati aku bukan orang paling baik dan shalih di antara kalian. Buktinya, aku seringkali mendzalimi diriku, tidak bisa mengendalikannya, dan tidak membawanya untuk taat kepada Tuhannya. Namun, jika orang mukmin tidak menasehati saudaranya, kecuali setelah mampu mengendalikan diri, tentu tidak ada orang yang memberi nasehat kepada orang lain, da’i menjadi langka, tidak ada orang yang mengajak orang lain kepada Allah, menganjurkan mereka taat pada-Nya, dan melarang mereka melakukan kemaksiatan. Pertemuan sesama orang yang punya hati nurani dan nasehat sebagian orang mukmin kepada sebagian yang lain menghidupkan hati orang-orang yang bertaqwa, mengingatkan mereka dari lalai, dan melindungi dari lupa.”

Bentuk lain berkah dakwah bagi dai adalah motivasi itu; menyemangati. Karenanya kita dapatkan banyak dai yang selalu antusias, bersemangat, dan mampu melawan penyakit yang dideritanya. Apalagi sekedar rasa lelah. Saat ia mengajak orang lain untuk berjuang, saat ia memotivasi orang lain untuk beramal, pada saat yang sama ia memompakan semangat itu dalam dirinya. Jika kini ada temuan baru bahwa manusia -yang terdiri dari banyak air dalam tubuhnya- juga memiliki karakter seperti air yang mudah dipengaruhi oleh pesan yang diterimanya, itu mungkin penjelasan ilmiahnya. Atau dalam psikologi, barang kali dakwah yang disampaikannya telah menjadi hypnoteraphy baginya, sebelum ia berpengaruh bagi orang lain.

Kita pun menjadi tidak heran jika membaca kisah suami yang datang dari Sby di atas. Apalagi Sby, singkatan dari Surabaya yang banyak dipakai di daerah kami, tidak terlalu jauh dari tempat ikhwan tadi. Hanya sekitar 1 jam perjalanan.

Maka berikutnya adalah komitmen kita untuk tetap mengumandangkan dakwah ini sebagaimana perkataan Hasan Al-Basri: Tiada hari tanpa berdakwah![Muchlisin]
08:00 | 4 komentar

Kepada Saudariku, Para Muslimah: Kami Iri Pada Kalian

Written By Admin BeDa on Jumat, 26 Maret 2010 | 15:30


Joana Francis adalah seorang penulis dan wartawan asal AS. Dalam situs Crescent and the Cross, perempuan yang menganut agama Kristen itu menuliskan ungkapan hatinya tentang kekagumannya pada perempuan-perempuan Muslim di Libanon saat negara itu diserang oleh Israel dalam perang tahun 2006 lalu.

Apa yang ditulis Francis, meski ditujukan pada para Muslimah di Libanon, bisa menjadi cermin dan semangat bagi para Muslimah dimanapun untuk bangga akan identitasnya menjadi seorang perempuan Muslim, apalagi di tengah kehidupan modern dan derasnya pengaruh budaya Barat yang bisa melemahkan keyakinan dan keteguhan seorang Muslimah untuk tetap mengikuti cara-cara hidup yang diajarkan Islam.

Karena di luar sana, banyak kaum perempuan lain yang iri melihat kehidupan dan kepribadian para perempuan Muslim yang masih teguh memegang ajaran-ajaran agamanya. Inilah ungkapan kekaguman Francis sekaligus pesan yang disampaikannya untuk perempuan-perempuan Muslim dalam tulisannya bertajuk "Kepada Saudariku Para Muslimah";

Ditengah serangan Israel ke Libanon dan "perang melawan teror" yang dipropagandakan Zionis, dunia Islam kini menjadi pusat perhatian di setiap rumah di AS.

Aku menyaksikan pembantaian, kematian dan kehancuran yang menimpa rakyat Libanon, tapi aku juga melihat sesuatu yang lain; Aku melihat kalian (para muslimah). Aku menyaksikan perempuan-perempuan yang membawa bayi atau anak-anak yang mengelilingin mereka. Aku menyaksikan bahwa meski mereka mengenakan pakaian yang sederhana, kecantikan mereka tetap terpancar dan kecantikan itu bukan sekedar kecantikan fisik semata.

Aku merasakan sesuatu yang aneh dalam diriku; aku merasa iri. Aku merasa gundah melihat kengerian dan kejahatan perang yang dialami rakyat Libanon, mereka menjadi target musuh bersama kita. Tapi aku tidak bisa memungkiri kekagumanku melihat ketegaran, kecantikan, kesopanan dan yang paling penting kebahagian yang tetap terpancar dari wajah kalian.

Kelihatannya aneh, tapi itulah yang terjadi padaku, bahkan di tengah serangan bom yang terus menerus, kalian tetap terlihat lebih bahagia dari kami ( perempuan AS) di sini karena kalian menjalani kehidupan yang alamiah sebagai perempuan. Di Barat, kaum perempuan juga menjalami kehidupan seperti itu sampai era tahun 1960-an, lalu kami juga dibombardir dengan musuh yang sama. Hanya saja, kami tidak dibombardir dengan amunisi, tapi oleh tipu muslihat dan korupsi moral.

Perangkap Setan
Mereka membombardir kami, rakyat Amerika dari Hollywood dan bukan dari jet-jet tempur atau tank-tank buatan Amerika.

Mereka juga ingin membombardir kalian dengan cara yang sama, setelah mereka menghancurkan infrastruktur negara kalian. Aku tidak ingin ini terjadi pada kalian. Kalian akan direndahkan seperti yang kami alami. Kalian dapat menghinda dari bombardir semacam itu jika kalian mau mendengarkan sebagian dari kami yang telah menjadi korban serius dari pengaruh jahat mereka.

Apa yang kalian lihat dan keluar dari Hollywood adalah sebuah paket kebohongan dan penyimpangan realitas. Hollywood menampilkan seks bebas sebagai sebuah bentuk rekreasi yang tidak berbahaya karena tujuan mereka sebenarnya adalah menghancurkan nilai-nilai moral di masyarakat melalui program-program beracun mereka. Aku mohon kalian untuk tidak minum racun mereka.

Karena begitu kalian mengkonsumsi racun-racun itu, tidak ada obat penawarnya. Kalian mungkin bisa sembuh sebagian, tapi kalian tidak akan pernah menjadi orang yang sama. Jadi, lebih baik kalian menghindarinya sama sekali daripada nanti harus menyembuhkan kerusakan yang diakibatkan oleh racun-racun itu.

Mereka akan menggoda kalian dengan film dan video-video musik yang merangsang, memberi gambaran palsu bahwa kaum perempuan di AS senang, puas dan bangga berpakaian seperti pelacur serta nyaman hidup tanpa keluarga. Percayalah, sebagian besar dari kami tidak bahagia.

Jutaan kaum perempuan Barat bergantung pada obat-obatan anti-depresi, membenci pekerjaan mereka dan menangis sepanjang malam karena perilaku kaum lelaki yang mengungkapkan cinta, tapi kemudian dengan rakus memanfaatkan mereka lalu pergi begitu saja. Orang-orang seperti di Hollywood hanya ingin menghancurkan keluarga dan meyakinkan kaum perempuan agar mau tidak punya banyak anak.

Mereka mempengaruhi dengan cara menampilkan perkawinan sebagai bentuk perbudakan, menjadi seorang ibu adalah sebuah kutukan, menjalani kehidupan yang fitri dan sederhana adalah sesuatu yang usang. Orang-orang seperti itu menginginkan kalian merendahkan diri kalian sendiri dan kehilangan imam. Ibarat ular yang menggoda Adam dan Hawa agar memakan buah terlarang. Mereka tidak menggigit tapi mempengaruhi pikiran kalian.

Aku melihat para Muslimah seperti batu permata yang berharga, emas murni dan mutiara yang tak ternilai harganya. Alkitab juga sebenarnya mengajarkan agar kaum perempuan menjaga kesuciannya, tapi banyak kaum perempuan di Barat yang telah tertipu.

Model pakaian yang dibuat para perancang Barat dibuat untuk mencoba meyakinkan kalian bahwa asset kalian yang paling berharga adalah seksualitas. Tapi gaun dan kerudung yang dikenakan para perempuan Muslim lebih "seksi" daripada model pakaian Barat, karena busana itu menyelubungi kalian sehingga terlihat seperti sebuah "misteri" dan menunjukkan harga diri serta kepercayaan diri para muslimah.

Seksualiatas seorang perempuan harus dijaga dari mata orang-orang yang tidak layak, karena hal itu hanya akan diberikan pada laki-laki yang mencintai dan menghormati perempuan, dan cukup pantas untuk menikah dengan kalian. Dan karena lelaki di kalangan Muslim adalah lelaki yang bersikap jantan, mereka berhak mendapatkan yang terbaik dari kaum perempuannya.

Tidak seperti lelaki kami di Barat, mereka tidak kenal nilai sebuah mutiara yang berharga, mereka lebih memilih kilau berlian imitasi sebagai gantinya dan pada akhirnya bertujuan untuk membuangnya juga.

Modal yang paling berharga dari para muslimah adalah kecantikan batin kalian, keluguan dan segala sesuatu yang membentuk diri kalian. Tapi saya perhatikan banyak juga muslimah yang mencoba mendobrak batas dan berusaha menjadi seperti kaum perempuan di Barat, meski mereka mengenakan kerudung.

Mengapa kalian ingin meniru perempuan-perempuan yang telah menyesal atau akan menyesal, yang telah kehilangan hal-hal paling berharga dalam hidupnya? Tidak ada kompensasi atas kehilangan itu. Perempuan-perempuan Muslim adalah berlian tanpa cacat. Jangan biarkan hal demikian menipu kalian, untuk menjadi berlian imitasi. Karena semua yang kalian lihat di majalah mode dan televisi Barat adalah dusta, perangkap setan, emas palsu.

Kami Butuh Kalian, Wahai Para Muslimah !
Aku akan memberitahukan sebuah rahasia kecil, sekiranya kalian masih penasaran; bahwa seks sebelum menikah sama sekali tidak ada hebatnya.

Kami menyerahkan tubuh kami pada orang kami cintai, percaya bahwa itu adalah cara untuk membuat orang itu mencintai kami dan akan menikah dengan kami, seperti yang sering kalian lihat di televisi. Tapi sesungguhnya hal itu sangat tidak menyenangkan, karena tidak ada jaminan akan adanya perkawinan atau orang itu akan selalu bersama kita.

Itu adalah sebuah Ironi! Sampah dan hanya akan membuat kita menyesal. Karena hanya perempuan yang mampu memahami hati perempuan. Sesungguhnya perempuan dimana saja sama, tidak peduli apa latar belakang ras, kebangsaan atau agamanya.

Perasaan seorang perempuan dimana-mana sama. Ingin memiliki sebuah keluarga dan memberikan kenyamanan serta kekuatan pada orang-orang yang mereka cintai. Tapi kami, perempuan Amerika, sudah tertipu dan percaya bahwa kebahagiaan itu ketika kami memiliki karir dalam pekerjaan, memiliki rumah sendiri dan hidup sendirian, bebas bercinta dengan siapa saja yang disukai.

Sejatinya, itu bukanlah kebebasan, bukan cinta. Hanya dalam sebuah ikatan perkawinan yang bahagialah, hati dan tubuh seorang perempuan merasa aman untuk mencintai.

Dosa tidak akan memberikan kenikmatan, tapi akan selalu menipu kalian. Meski saya sudah memulihkan kehormatan saya, tetap tidak tergantikan seperti kehormatan saya semula.

Kami, perempuan di Barat telah dicuci otak dan masuk dalam pemikiran bahwa kalian, perempuan Muslim adalah kaum perempuan yang tertindas. Padahal kamilah yang benar-benar tertindas, menjadi budak mode yang merendahkan diri kami, terlalu resah dengan berat badan kami, mengemis cinta dari orang-orang yang tidak bersikap dewasa.

Jauh di dalam lubuk hati kami, kami sadar telah tertipu dan diam-diam kami mengagumi para perempuan Muslim meski sebagaian dari kami tidak mau mengakuinya. Tolong, jangan memandang rendah kami atau berpikir bahwa kami menyukai semua itu. Karena hal itu tidak sepenuhnya kesalahan kami.

Sebagian besar anak-anak di Barat, hidup tanpa orang tua atau hanya satu punya orang tua saja ketika mereka masih membutuhkan bimbingan dan kasih sayang. Keuarga-keluarga di Barat banyak yang hancur dan kalian tahu siapa dibalik semua kehancuran ini. Oleh sebab itu, jangan sampai tertipu saudari muslimahku, jangan biarkan budaya semacam itu mempengaruhi kalian.

Tetaplah menjaga kesucian dan kemurnian. Kami kaum perempuan Kristiani perlu melihat bagaimana kehidupan seorang perempuan seharusnya. Kami membutuhkan kalian, para Muslimah, sebagai contoh bagi kehidupan kami, karena kami telah tersesat. Berpegang teguhlah pada kemurnian kalian sebagai Muslimah dan berhati-hatilah !. [ln/iol, EraMuslim]
15:30 | 2 komentar

Warga Israel Mulai Usir Warga Palestina di Al-Quds


Setali tiga uang. Begitulah sikap warga Israel yang tidak berbeda dengan kebijakan-kebijakan pemerintah zionisnya. Jika pemerintah Zionis ngotot hendak membangun Haikal Sulaiman di atas puing Masjid Al-Aqsha (tentu setelah upaya mereka meruntuhkan Masjid Al-Aqsha berhasil), warga Israel kemarin sore (25/03) mulai mengusir warga asli Palestina di Al-Quds.

Warga pemukiman Yahudi membagikan selebaran sejak sore hari. Sontak, selebaran ini membuat kaget warga asli Palestina. Apalagi isinya sangat rasialis, bahwa yang berhak tinggal di Palestina hanya kaum Yahudi. Sedangkan bangsa lain harus angkat kaki dari tanah itu.

“Tertulis dalam kitab para nabi bahwa akibat kita tidak tinggal di tanah ini karena perintah tuhan, bangsa yahudi diusir dan tinggal di luar selama 2000 tahun. Sekarang setelah bangsa Israel kembali ke tanah Israel – seperti yang dijanjikan para nabi, sudah waktunya bangsa Israel menerapkan perintah itu. Karenanya kami meminta kalian pindah dari tahan Israel” demikian salah satu bunyi selebaran itu.

Israel Tidak Tahu Malu
Tindakan agresif Israel yang begitu terbuka kepada Palestina menuai kecaman dari banyak negara. Namun Israel sepertinya tidak mau tahu atau memang tidak tahu malu.

Selain aksi demonstrasi di berbagai belahan dunia mengecam pendirian sinagog di kompleks Masjidil Aqsha dan penggusuran warga Palestina, pekan ini hubungan Israel dengan banyak negara juga memburuk akibat tindakan-tindakan Israel sendiri.

Mauritania resmi menutup hubungan dengan Zionis Israel menyusul protes presiden Ould Abdel Aziz memprotes perang yang dilancarkan Israel di Jalur Gaza.

Pemerintah Australia juga telah memutuskan untuk mendeportase direktur perancang Mossad dari negaranya, terkait penggunaan paspor Australia dalam pembunuhan pemimpin Hamas, Mabhuh.

Sedangkan koran Inggris The Guardian edisi Rabu (24/3) menilai tindakan entitas Zionis yang memalsukan paspor Inggris dalam melakukan aksi pembunuhan pemimpin militer Gerakan Hamas Mahmud Mabhuh, sebagai sikap arogan. Apalagi, dalam menjalankan aksinya Israel (Mossad) memakai paspor palsu Inggris. Sebelumnya, Inggris bahkan sudah mengusir diplomat Israel. [AN]
09:53 | 2 komentar

10 Bersaudara Bintang Al-Qur'an

Written By Admin BeDa on Kamis, 25 Maret 2010 | 18:21


Judul Buku : 10 Bersaudara Bintang Al-Qur'an
Penulis : Izzatul Jannah – Irfan Hidayatullah
Penerbit : Sygma Publishing, Bandung
Cetakan Ke : 2
Tahun Terbit : Januari 2010
Tebal Buku : xiv + 150 halaman


Setiap orang tua muslim pasti ingin memiliki anak-anak yang hafal Al-Qur'an dan berprestasi. Apalagi para kader dakwah yang sangat menyadari bahwa keluarga merupakan sasaran dakwah yang kedua; ishlahul usrah, setelah ishlahul fardi. Buku 10 Bersaudara Bintang Al-Qur'an ini merupakan sebuah karya yang –seperti kata Ustadz Yusuf Mansur- akan menginspirasi banyak keluarga di tanah air. Ternyata membesarkan anak di masa sekarang untuk menjadi hafiz Al-Qur'an bukan sesuatu yang mustahil.

Buku ini adalah kisah nyata sebuah keluarga muslim di Indonesia. Keluarga dakwah. Keluarga yang mampu menjadikan 10 orang buah hati mereka sebagai anak-anak yang shalih, hafal Al-Qur'an dan berprestasi. Keluarga luar biasa itu adalah pasangan suami istri Mutammimul Ula dan Wirianingsih beserta 10 putra-putri mereka. Yang lebih luar biasa lagi adalah, kedua orang tua ini tergolong super sibuk dengan berbagai aktifitas dakwahnya. Mutammimul Ula adalah anggota DPR RI dari fraksi PKS. Sedangkan Wirianingsih adalah Staf Departemen Kaderisasi DPP PKS sekaligus Ketua Aliansi Selamatkan Anak (ASA) Indonesia dan Ketua Umum PP Salimah (Persaudaraan Muslimah) yang cabangnya sudah tersebar di 29 propinsi dan lebih dari 400 daerah di Indonesia.

10 bersaudara bintang Al-Qur'an itu adalah :


1. Afzalurahman Assalam
2. Faris Jihady Hanifa
3. Maryam Qonitat
4. Scientia Afifah Taibah
5. Ahmad Rasikh 'Ilmi
6. Ismail Ghulam Halim
7. Yusuf Zaim Hakim
8. Muhammad Syaihul Basyir
9. Hadi Sabila Rosyad
10. Himmaty Muyassarah


Afzalurahman Assalam

Putra pertama. Hafal Al-Qur'an pada usia 13 tahun. Saat buku ini ditulis usianya 23 tahun, semester akhir Teknik Geofisika ITB. Juara I MTQ Putra Pelajar SMU se-Solo, Ketua Pembinaan Majelis Taklim Salman ITB dan terpilih sebagai peserta Pertamina Youth Programme 2007.


Faris Jihady Hanifa

Putra kedua. Hafal Al-Qur'an pada usia 10 tahun dengan predikat mumtaz. Saat buku ini ditulis usianya 21 tahun dan duduk di semester 7 Fakultas Syariat LIPIA. Peraih juara I lomba tahfiz Al-Qur'an yang diselenggarakan oleh kerajaan Saudi di Jakarta tahun 2003, juara olimpiade IPS tingkat SMA yang diselenggarakan UNJ tahun 2004, dan sekarang menjadi Sekretaris Umum KAMMI Jakarta.


Maryam Qonitat

Putri ketiga. Hafal Al-Qur'an sejak usia 16 tahun. Saat buku ini ditulis usianya 19 tahun dan duduk di semester V Fakultas Ushuluddin Universitas Al-Azhar Kairo. Pelajar teladan dan lulusan terbaik Pesantren Husnul Khatimah 2006. Sekarang juga menghafal hadits dan mendapatkan sanad Rasulullah dari Syaikh Al-Azhar.


Scientia Afifah Taibah

Putri keempat. Hafal 29 juz sejak SMA. Kini usianya 19 tahun dan duduk di Fakultas Hukum Universitas Indonesia (UI). Saat SMP menjadi pelajar teladan dan saat SMA memperoleh juara III lomba Murottal Al-Qur'an tingkat SMA se-Jakarta Selatan.


Ahmad Rasikh 'Ilmi

Putra kelima. Saat buku ini ditulis hafal 15 juz Al-Qur'an, dan duduk di MA Husnul Khatimah, Kuningan. Ia lulusan terbaik SMPIT Al-Kahfi, juara I Kompetisi English Club Al-Kahfi dan menjadi musyrif bahasa Arab MA Husnul Khatimah.


Ismail Ghulam Halim

Putra keenam. Saat buku ini ditulis hafal 13 juz Al-Qur'an, dan duduk di SMAIT Al-Kahfi Bogor. Ia lulusan terbaik SMPIT Al-Kahfi, juara lomba pidato bahasa Arab SMP se-Jawa Barat, serta santri teladan, santri favorit, juara umum dan tahfiz terbaik tiga tahun berturut-turut di SMPIT Al-Kahfi.


Yusuf Zaim Hakim

Putra ketujuh. Saat buku ini ditulis ia hafal 9 juz Al-Qur'an dan duduk di SMPIT Al-Kahfi, Bogor. Prestasinya antara lain: peringkat I di SDIT, peringkat I SMP, juara harapan I Olimpiade Fisika tingkat Kabupaten Bogor, dan finalis Kompetisi tingkat Kabupaten Bogor.


Muhammad Syaihul Basyir

Putra kedelapan. Saat buku ini ia duduk di MTs Darul Qur'an, Bogor. Yang sangat istimewa adalah, ia sudah hafal Al-Qur'an 30 juz pada saat kelas 6 SD.


Hadi Sabila Rosyad

Putra kesembilan. Saat buku ini ditulis ia bersekolah di SDIT Al-Hikmah, Mampang, Jakarta Selatan dan hafal 2 juz Al-Qur'an. Diantara prestasinya dalah juara I lomba membaca puisi.


Himmaty Muyassarah

Putri kesepuluh. Saat buku ini ditulis ia bersekolah di SDIT Al-Hikmah, Mampang, Jakarta Selatan dan hafal 2 juz Al-Qur'an.

Dilengkapi Fakta Kemahaagungan Allah Menjaga Kemurnian Al-Qur'an sampai Akhir Zaman dan Fadhilah Menghafal Al-Qur'an
Buku 10 Bersaudara Bintang Al-Qur'an ini tidak hanya berisi bagaimana putra-putri Mutammimul Ula dan Wirianingsih menjadi penghafal Al-Qur'an. Di bagian pendahuluan terlebih dahulu dibahas Fakta Kemahaagungan Allah Menjaga Kemurnian Al-Qur'an sampai Akhir Zaman. Meliputi pembagian Al-Qur'an, Al-Qur'an sebagai Mukjizat, Sejarah Turunnya Al-Qur'an Kodifikasi Al-Qur'an, sampai Sejarah Pemeliharaan Kemurnian Al-Qur'an.

Pada bab 5 juga dibahas mengapa menjadi hafiz Al-Qur'an begitu penting. Penulis mengklasifikasikannya menjadi 2 bagian: fadhail dunia dan fadhail akhirat. Fadhail dunia antara lain: hifdzul Qur'an merupakan nikmat rabbani, mendatangkan kebaikan, berkah dan rahmat bagi penghafalnya, hafiz Qur'an mendapat penghargaan khusus dari Nabi (tasyrif nabawi), keluarga Allah di muka bumi. Sedangkan fadhail akhirat meliputi: Al-Qur'an menjadi penolong (syafaat) penghafalnya, meninggikan derajat di surga, penghafal Al-Qur'an bersama para malaikat yang mulia dan taat, diberi tajul karamah (mahkota kemuliaan), kedua orangtuanya diberi kemuliaan, dan pahala yang melimpah.

Apa Kuncinya?
Apa kunci sukses keluarga Mutammimul Ula dan Wirianingsih mendidik 10 bersaudara bintang Al-Qur'an itu? Keseimbangan proses. Walapun mereka berdua sibuk, mereka telah menetapkan pola hubungan keluarga yang saling bertanggungjawab dan konsisten satu sama lain. Selepas Maghrib adalah jadwal mereka berinteraksi dengan Al-Qur'an.

Beberapa hal yang mendukung kesuksesan ini adalah upaya mereka menjaga kondisi ruhiyah dalam keluarga:
1. Tidak ada televisi di dalam rumah
2. Tidak ada gambar syubhat
3. Tidak ada musik-musik laghwi yang menyebabkan lalai kepada Allah dan diganti dengan nasyid
4. Tidak ada perkataan yang fashiyah (kotor)

Hal yang cukup mendasar yang dimiliki keluarga ini sehingga mampu mendidik 10 bersaudara bintang Al-Qur'an adalah visi dan konsep yang jelas, yakni menjadikan putra-putrinya seluruhnya hafal Al-Qur'an. Kedua, pembiasaan dan manajemen waktu. Setelah Shubuh dan setelah Maghrib adalah waktu khusus untuk Al-Qur'an yang tidak boleh dilanggar dalam keluarga ini. Sewaktu masih batita, Wirianingsih konsisten membaca Al-Qur'an di dekat mereka, mengajarkannya, bahkan mendirikan TPQ di rumahnya. Ketiga, mengkomunikasikan tujuan dan memberikan hadiah. Meskipun kebanyakan di waktu kecil mereka merasa terpaksan, namun saat sudah besar mereka memahami menghafal Al-Qur'an sebagai hal yang sangat perlu, penting, bahkan kebutuhan. Komunikasi yang baik sangat mendukung hal ini. Dan saat anak-anak mampu menghafal Al-Qur'an, mereka diberi hadiah.

Metode Menghafal Al-Qur'an 10 bersaudara bintang Al-Qur'an
Pada bab penutup penulis memaparkan metode yang dipilih keluarga Mutammimul Ula dalam mendidik 10 bersaudara bintang Al-Qur'an: pertama, mengajarkan membaca. Kedua, repetisi (pengulangan). Ketiga, memilihkan mereka sekolah yang memiliki program utama menghafal Al-Qur'an. Secara khusus kedua orang tua juga senantiasa menjaga orientasi hafalan mereka. Keempat, saat menginjak usia remaja mereka dipahamkan tentang fadhilah membaca Al-Qur'an. Kelima, kedua orang tua menjadi teladan yang nyaris sempurna dalam dakwah, pemikiran Islam, orientasi tentang keluarga Al-Qur'an, dan senantiasa mendoakan mereka sepanjang waktu hidupnya.

Akhirnya, bagi keluarga muslim, terutama keluarga dakwah, kiranya buku 10 bersaudara bintang Al-Qur'an ini sangat penting untuk menginspirasi berikut menjadi referensi lahirnya bintang-bintang Al-Qur'an yang baru. [Muchlisin]

==================================
DOWNLOAD DALAM BENTUK E-BOOK DI SINI
18:21 | 27 komentar

Masukkan alamat e-mail untuk mendapatkan up date Bersama Dakwah