Assalaamu'alaikum ,  Ahlan wa Sahlan  |  Facebook  |  Twitter  |  Pasang Iklan

Jenis-jenis Air (1)

Written By Admin BeDa on Jumat, 30 April 2010 | 11:00


Alhamdulillah, rubrik Fiqih akhirnya bisa hadir di Bersama Dakwah. Insya Allah rubrik fiqih ini akan mengikuti Fiqih Sunnah karya Sayyid Sabiq, baik konten maupun urutan pembahasannya. Kali ini akan dibahas Jenis-jenis Air bagian pertama, yaitu Air Mutlak dan Air Musta'mal.
Selamat membaca.

1. Air Mutlak

Air mutlak dihukumkan sebagai air suci lagi menyucikan. Artinya ia suci pada dirinya dan menyucikan bagi lainnya. Adapun yang termasuk macam-macam air mutlak itu adalah sebagai berikut:

a. Air hujan, salju atau es, dan air embun. Hal ini berdasarkan firman Allah

وَيُنَزِّلُ عَلَيْكُمْ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً لِيُطَهِّرَكُمْ بِهِ

…dan Allah menurunkan kepadamu hujan dari langit untuk mensucikan kamu dengan hujan itu... (QS. Al-Anfal : 11)

وَأَنْزَلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً طَهُورًا

dan Kami turunkan dari langit air yang amat bersih (QS. Al-Furqan : 48)

Juga berdasarkan dari hadits Abu Hurairah :

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا كَبَّرَ فِى الصَّلاَةِ سَكَتَ هُنَيَّةً قَبْلَ أَنْ يَقْرَأَ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ بِأَبِى أَنْتَ وَأُمِّى أَرَأَيْتَ سُكُوتَكَ بَيْنَ التَّكْبِيرِ وَالْقِرَاءَةِ مَا تَقُولُ قَالَ « أَقُولُ اللَّهُمَّ بَاعِدْ بَيْنِى وَبَيْنَ خَطَايَاىَ كَمَا بَاعَدْتَ بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ اللَّهُمَّ نَقِّنِى مِنْ خَطَايَاىَ كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الأَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ اللَّهُمَّ اغْسِلْنِى مِنْ خَطَايَاىَ بِالثَّلْجِ وَالْمَاءِ وَالْبَرَدِ

Jika Rasulullah SAW membaca takbir di dalam shalat, maka beliau diam sejenak sebelum membaca Al-Fatihah. Aku pun bertanya, "Demi kedua orangtuaku wahai Rasulullah! Apakah kiranya yang engkau baca ketika berdiam diri diantara takbir dengan membaca Al-Fatihah?" Rasulullah menjawab, "Aku membaca 'Ya Allah, jauhkanlah diriku dari dosa-dosaku sebagaimana Engkau menjauhkan Timur dari Barat. Ya Allah bersihkanlah diriku sebagimana dibesihkannya kain yang putih dari kotoran. Ya Allah, sucikanlah diriku dari kesalahan-kesalahanku dengan salju, air dan embun." (HR. Jamaah kecuali Tirmidzi)

b. Air laut.
Hal ini berdasarkan hadits Abu Hurairah r.a. :

سَأَلَ رَجُلٌ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّا نَرْكَبُ الْبَحْرَ وَنَحْمِلُ مَعَنَا الْقَلِيلَ مِنَ الْمَاءِ فَإِنْ تَوَضَّأْنَا بِهِ عَطِشْنَا أَفَنَتَوَضَّأُ بِمَاءِ الْبَحْرِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « هُوَ الطَّهُورُ مَاؤُهُ الْحِلُّ مَيْتَتُهُ

Seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah, "Kami biasa berlayar di lautan dan hanya membawa air sedikit. Jika kami pakai berwudhu, kami akan kehausan, maka apakah kami boleh berwudhu dengan air laut?" Rasulullah SAW bersabda, "laut itu airnya suci lagi menyucikan, dan bangkainya halal dimakan." (HR. Abu Dawud, Tirmidzi dan An-Nasa'i)

Imam Tirmidzi mengatakan, "Hadits ini dinilai hasan lagi shahih. Ketika kutanyakan kepada Muhammad bin Ismail al-Bukhari tentang hadits ini, jawabannya ialah, "hadits itu shahih"

c. Air telaga (zamzam). Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ali r.a.

أَفَاضَ رَسُو لُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَدَعَا بِسَجْلٍ مِنْ مَاءِ زَمْزَمَ فَشَرِبَ مِنْهُ وَتَوَضَّأَ

Rasulullah meminta seember penuh air zamzam, lalu diminumnya sedikit dan dipakainya untuk berwudhu. (HR. Ahmad)

d. Air yang berubah disebabkan lama tergenang atau tidak mengalir, atau disebabkab bercampur dengan apa yang menurut kebiasaannya tak terpisah dari air, seperti lumut dan daun-daun kayu, maka menurut ijma' ulama air itu tetap termasuk air yang mutlak. Alasannya adalah setiap air yang dapat disebut air secara mutlak tanpa kaitan dengan unsur-unsur lain, boleh dipakai untuk bersuci. Allah ta'ala berfirman:

فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا

...Jika kamu tidak memperoleh air, maka bertayamumlah... (QS. Al-Maidah : 6)

2. Air Musta'mal (Air yang Telah Terpakai)

Yaitu air yang telah terpisah (telah terpakai) dari anggota-anggota orang yang berwudhu atau mandi. Hukunya suci lag menyucikan, sebagaimana halnya air mutlak tanpa adanya perbedaan dari segi hukum sedikitpun . hal itu mengingat bahwa asalnya yang suci dan tiada satu alasan pun yang mengeluarkannya dari hal kesuciannya.

Juga karena hadits Rubaiyi' binti Mu'awwidz sewaktu menerangkan cara wudhu Rasulullah SAW. Katanya, "Dan disapunya kepalanya dengan sisa wudhu yang terdapat pada kedua tangannya."

Juga riwayat dari Abu Hurairah r.a. :

أَنَّ النَّبِىَّ - صلى الله عليه وسلم - لَقِيَهُ فِى بَعْضِ طَرِيقِ الْمَدِينَةِ وَهْوَ جُنُبٌ ، فَانْخَنَسْتُ مِنْهُ ، فَذَهَبَ فَاغْتَسَلَ ، ثُمَّ جَاءَ فَقَالَ أَيْنَ كُنْتَ يَا أَبَا هُرَيْرَةَ . قَالَ كُنْتُ جُنُبًا ، فَكَرِهْتُ أَنْ أُجَالِسَكَ وَأَنَا عَلَى غَيْرِ طَهَارَةٍ . فَقَالَ سُبْحَانَ اللَّهِ ، إِنَّ الْمُؤْمِنَ لاَ يَنْجُسُ

Nabi SAW berjumpa dengannya di salah satu jalan kota Madinah, sedangkan waktu itu ia dalam keadaan junub. Maka Abu Hurairah pun menyelinap pergi dari Rasulullah SAW lalu mandi, kemudian datang kembali. Lantas Nabi SAW bertanya, "Ke mana ia tadi?" Sahabat yang lain menjawab, "Ia datang sedang dalam keadaan junub dan tak hendak menemani Baginda dalam keadaan tidak suci itu." Maka bersabdalah Rasulullah SAW, "mahasuci Allah, orang mukmin itu tak mungkin najis." (HR. Jamaah)

Hadits ini menegaskan bahwa orang mukmin itu tidak mungkin najis. Dengan demikian, tidak ada alasan bagi seseorang yang menyatakan bahwa air itu kehilangan kesuciannya semata karena bersentuhan dengan benda yang suci. Oleh karena itu, bertemunya barang yang suci dengan yang suci pula tidaklah membawa pengaruh apa-apa.

Ibnu Mundzir mengatakan, "Diriwayatkan dari Hasan, Ali, Ibnu Umar, Abu Umamah, Atha', Makhul, dan Nakha'i bahwa mereka berpendapat tentang orang yang lupa menyapu kepalanya lalu mendapatkan air di janggutnya, "Cukuplah bila ia menyapu dengan air itu." Ini menununjukkan bahwa air musta'mal itu menyucikan, dan demikianlah pendapatku"

Mazhab ini adalah salah satu pendapat yang diriwayatkan dari malik dan Syafii. Dan, menurut Ibnu Hazm juga merupakan pendapat Sufyan Ats-Tsauri, Abu Tsaur, dan semua ahli zahir.

[Sumber: Fiqih Sunnah karya Sayyid Sabiq]
11:00 | 14 komentar

Khutbah Jum'at: Suap dan Korupsi dalam Perspektif Islam

Written By Admin BeDa on Kamis, 29 April 2010 | 17:00


Kasus Gayus dan kasus-kasus serupa yang mencuat akhir-akhir ini menguak dua hal yang masih kerap terjadi, yakni suap dan korupsi. Karenanya Khutbah Jum'at Terbaru ini berusaha membahas keduanya dalam pandangan Islam, untuk menguatkan keimanan kita agar dihindarkan Allah dari perilaku suap dan korupsi. Dengan demikian, tema Khutbah Jum'at edisi 15 Jumadil Awal 1431 H yang bertepatan dengan 30 April 2010 M ini adalah: Suap dan Korupsi dalam Perspektif Islam.

KHUTBAH PERTAMA

إنَّ الحَمْدَ لله، نَحْمَدُه، ونستعينُه، ونستغفرُهُ، ونعوذُ به مِن شُرُورِ أنفُسِنَا، وَمِنْ سيئاتِ أعْمَالِنا، مَنْ يَهْدِه الله فَلا مُضِلَّ لَهُ، ومن يُضْلِلْ، فَلا هَادِي لَهُ.
وأَشْهَدُ أنْ لا إلَهَ إلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، وأشهدُ أنَّ مُحَمَّدًا عبْدُه ورَسُولُه.
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

Jama'ah Jum'at yang dirahmati Allah SWT,
Seluruh satuan waktu yang kita lalui dalam dunia ini tidak pernah lepas dari nikmat Allah SWT. Sejak kita berada dalam rahim ibu kita, saat kita dilahirkan, masa kanak-kanak, remaja, sampai dengan hari ini. Semuanya tidak lepas dari nikmat Allah SWT. Karena itulah wajib bagi kita untuk bersyukur kepada Allah SWT. Dan bentuk syukur itu tidak lain adalah taqwa. Yakni berupaya menjalankan segala perintah Allah SWT dan menjauhi segala larangan-Nya. Saat kita sendiri maupun dalam kondisi bersama manusia.

Jama'ah Jum'at yang dirahmati Allah SWT,
Berita yang selama bulan-bulan terakhir ini mengemuka diantaranya adalah kasus mafia pajak. Karenanya dalam khutbah jum'at kali ini, khatib mengajak kita untuk mencermatinya dua hal penting di dalam kasus ini secara Islam. Khatib tidak hendak membahas pajak dalam perspektif Islam. Tetapi khatib hendak mengajak kita bersama membahas suap dan korupsi.

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah,
Suap yang dalam istilah fiqih dikenal dengan nama risywah (الرِشْوَةُ) adalah pemberian sesuatu kepada pihak yang berkuasa atas urusan tertentu agar pihak itu memutuskan urusan sesuai kehendak pemberi suap, menggagalkan kebenaran, maupun mewujudkan suatu kebathilan. Jika ada seorang hakim, misalnya. Ia hendak mengadili suatu perkara kita. Lalu kita memberinya sesuatu agar keputusannya memenangkankan kita padahal sebetulnya kita di pihak yang salah, itu termasuk suap.

Sama halnya jika seorang petugas pajak datang kepada kita untuk memeriksa pajak. Lalu kita memberinya sesuatu agar ia meringankan tagihan pajak kita, itu juga termasuk suap.

Contoh yang kedua ini tampaknya yang saat ini sedang mencuatkan banyak kasus ke permukaan. Ada ratusan mafia pajak yang bergentayangan. Mereka menerima suap dari sekian banyak wajib pajak. Dan kasus Gayus katanya masih kelas teri. Na'udzubillah. Kelas teri saja miliaran rupiah, lalu berapa angkanya untuk kelas kakap?

Kasus ini persis seperti kasus pada zaman nabi, meskipun yang dipungut berbeda. Saat itu Rasulullah SAW menugaskan Ibnu Luthbiyah, salah seorang dari suku Azdi untuk menghimpun zakat. Ketika menghadap Rasulullah ia menyerahkan sebagian harta itu, dan sebagian yang lain tidak diserahkan. Ia berkata: "(Harta) ini untuk engkau (zakat), dan yang ini dihadiahkan buatku." Lalu Rasulullah SAW bersabda:

فَهَلاَّ جَلَسَ فِى بَيْتِ أَبِيهِ أَوْ بَيْتِ أُمِّهِ ، فَيَنْظُرَ يُهْدَى لَهُ أَمْ لاَ وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ لاَ يَأْخُذُ أَحَدٌ مِنْهُ شَيْئًا إِلاَّ جَاءَ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَحْمِلُهُ عَلَى رَقَبَتِهِ ، إِنْ كَانَ بَعِيرًا لَهُ رُغَاءٌ أَوْ بَقَرَةً لَهَا خُوَارٌ أَوْ شَاةً تَيْعَرُ

Mengapa kamu tidak duduk di rumah ayahmu atau ibumu saja, lalu menunggu kamu diberi hadiah atau tidak. Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidaklah seorang darimu mengambil sedikitpun dari (hadiah) itu, kecuali akan dia pikul nanti pada hari kiamat di lehernya, jika (hadiah) itu unta, maka dia (memikul unta) yang bersuara, jika (hadiah) itu sapi, maka (dia memikul sapi) yang bersuara, jika (hadiah) itu kambing, maka dia (memikul kambing) yang mengembik. (HR. Bukhari)

Jama'ah Jum'at yang dirahmati Allah SWT,
Hukum suap atau risywah (الرِشْوَةُ) adalah haram. Baik bagi orang yang menyuap (الرَّاشِى) maupun orang yang menerima suap (الْمُرْتَشِى). Adapun dalil dari Al-Qur'an adalah firman Allah SWT:

وَلَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ وَتُدْلُوا بِهَا إِلَى الْحُكَّامِ لِتَأْكُلُوا فَرِيقًا مِنْ أَمْوَالِ النَّاسِ بِالْإِثْمِ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui. (QS. Al-Baqarah : 188)

Larangan Allah yang bersifat umum dalam ayat ini juga termasuk suap. Karena suap adalah cara yang bathil, memakan harta suap termasuk dilarang oleh Allah SWT.

Kedua, adalah hadits Rasulullah SAW yang secara tegas beliau melaknat baik orang yang menyuap (الرَّاشِى) maupun orang yang menerima suap (الْمُرْتَشِى).

لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- الرَّاشِىَ وَالْمُرْتَشِىَ

Rasulullah SAW melaknat orang yang menyuap dan penerima suap. (HR. Tirmidzi, Abu Dawud, dan Ahmad)

Ketiga, adalah ijma' para shahabat, tabi'in dan tabiut tabi'in, yang tidak ada seorang pun diantara mereka yang membolehkan suap atau risywah (الرِشْوَةُ) ini.

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah,
Seringkali orang-orang ragu-ragu dalam hal suap karena menyangka bahwa itu semacam hadiah saja. Sementara hadiah itu sendiri justru disunnahkan Rasulullah SAW dan bisa menimbulkan saling cinta. Beliau SAW bersabda :

تَهَادَوْا تَحَابُّوا

Saling memberi hadiahlah kalian, niscaya kalian saling mencintai. (HR. Baihaqi, Thabrani, dan Bukhari dalam Adabul Mufrad)

Sesungguhnya suap berbeda dengan hadiah. Untuk membedakannya, kita bisa melihatnya dari beberapa sisi:

Pertama, suap itu diberikan dengan tujuan tertentu yang berkaitan dengan kepentingan pemberi suap. Entah itu agar memberikan keputusan yang menguntungkan maupun memberikan keputusan yang merugikan pihak lain. Sedangkan hadiah itu ikhlas, tanpa niatan seperti itu. Sehingga, kalau pun namanya hadiah tapi ada motif seperti itu dibaliknya, ia telah berubah menjadi suap.

Kedua, suap itu membuat orang yang diberi menjadi tidak adil. Ia lebih condong kepada pemberi suap dan cenderung menguntungkannya. Pada aspek ini, sangat tipis perbedaan hadiah dan suap. Jika seorang guru mendapatkan pemberian dari muridnya, misalnya. Lalu dengan pemberian itu ia mengubah nilai dari semestinya, maka pemberian itu telah menjadi suap baginya.

Ketiga, suap itu akan merugikan salah satu pihak. Sedangkan hadiah tidak berpengaruh pada pihak manapun. Contoh yang mudah dalam hal ini adalah ketika memutuskan sesuatu atas dua orang atau lebih. Dengan adanya pemberian dari salah seorang diantaranya kemudian keputusan menjadi berubah dan merugikan orang lain yang tidak memberikan apa-apa, itu termasuk suap.

Keempat, biasanya suap itu dilakukan dengan sembunyi-sembunyi sementara hadiah diberikan secara terang-terangan.

Jama'ah Jum'at yang dirahmati Allah SWT,
Suap atau risywah (الرِشْوَةُ) ini selamanya haram kecuali untuk mengembalikan hak. Inipun bagi yang memberi suap (الرَّاشِى) karena alasan ini yang pasti dan jelas. Sedangkan bagi pihak yang menerimanya (الْمُرْتَشِى) tetap menjadi haram baginya. Contohnya, seseorang sudah diterima menjadi karyawan. Namun SK-nya tidak diberikan oleh seorang pejabat. Pejabat ini akan tetap menahan SK selama tidak mendapatkan pemberian tertentu. Di sini boleh bagi karyawan yang diterima tadi untuk memenuhi permintaan pejabat (karena terpaksa) namun bagi pejabat, pemberian itu tetap haram baginya.

Beberapa dalil yang menunjukkan ini adalah apa yang dilakukan Ibnu Mas'ud ketika beliau berada di Habasyah. Beliau tidak diperbolehkan lewat, padahal beliau berhak lewat jalan itu. Ternyata penjaganya meminta disuap. Maka Ibnu Mas'ud memberikan dua dinar supaya diperbolehkan lewat. Beliau berkata:

إِنَّماَ الْإِثْمُ عَلىَ القَابِضِ دُوْنَ الدّافِعِ

Dosanya hanya untuk yang mengambil, bukan yang memberi.

Kedua, Jabir bin Zaid, Sya'bi, Atha' dan Ibrahim An-Nakha'i, mereka berpendapat "Tidak mengapa seseorang memberikan suap untuk membela diri dan hartanya jika dia takut perbuatan zhalim menimpanya." Demikian pula banyak atsar para tabi'in yang memperbolehkan hal ini.

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah,
Adapun korupsi, yakni perilaku pejabat publik, baik politisi maupun pegawai negeri, yang secara tidak wajar dan tidak legal memperkaya diri atau memperkaya mereka yang dekat dengannya, dengan menyalahgunakan kekuasaan publik yang dipercayakan kepada mereka, merupakan hal yang juga diharamkan dalam Islam. Bahkan tergolong dosa besar. Karena hakikat korupsi adalah mencuri, bahkan dalam skala besar.

Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang bathil... (QS. An-Nisa : 29)

Sedangkan korupsi adalah memakan harta dengan cara yang paling bathil. Tentu tingkat keharamannya bahkan lebih besar dari mencuri.

Dalam ayat lain Allah SWT berfirman:

وَالسَّارِقُ وَالسَّارِقَةُ فَاقْطَعُوا أَيْدِيَهُمَا جَزَاءً بِمَا كَسَبَا نَكَالًا مِنَ اللَّهِ وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. Al-Maidah : 38)

Jika mencuri hukumannya adalah potong tangan, korupsi juga mendapatkan ancaman serupa, bahkan lebih berat. Ini karena betapa besar dosanya, yang mereka tidak hanya menzalimi jutaan rupiah tetapi sampai miliaran bahkan triliunan rupiah.

Jama'ah Jum'at yang dirahmati Allah SWT,
Dengan demikian jelaslah bagi kita bahwa suap dan korupsi adalah hal yang haram dalam Islam dan dosanya amat besar di sisi Allah SWT. Semoga kita mendapat hidayah dari Allah SWT sehingga bisa menghindar dari suap, baik menyuap maupun menerima suap, serta dari korupsi.

وقل رب اغفر وارحم و انت خير الراحمين

KHUTBAH KEDUA

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ
أَشْهَدُ أنْ لا إلَهَ إلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، وأشهدُ أنَّ مُحَمَّدًا عبْدُه ورَسُولُه.
{ يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ } [آل عمران: 102]
{ يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلا سَدِيدًا * يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا } [الأحزاب: 70، 71].

Jama'ah jum'at yang dirahmati Allah,
Lalu bagaimana untuk mengatasi dua problem besar tersebut. Suap dan Korupsi. Yang keduanya seakan telah berakar kuat dan menyebar ke berbagai bidang pekerjaan dan hampir semua daerah.

Pertama, tentu saja membentengi diri kita dan keluarga kita agar tidak terlibat dalam suap dan korupsi. Sebagaimana firman Allah SWT:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka (QS. At-Tahrim : 6)

Jika Anda seorang pegawai, pemimpin, atau pejabat hendaklah mengingat sabda Rasulullah SAW dan berhati-hati karenanya:

هَدَايَا الْعُمَّالِ غُلُولٌ

Hadiah-hadiah buat para pegawai/pejabat adalah termasuk ghulul (mencuri). (HR. Ahmad)

Kedua, berupaya memperbaiki sistem. Agar tidak ada kesempatan dan ruang bagi para pejabat publik untuk menerima suap maupun melakukan korupsi. Inilah pekerjaan penting bagi para dai politisi Islam yang berupaya melakukan perbaikan pemerintahan (islahuh hukumah).

Ketiga, bagi para dai, para murabbi, hendaklah lebih giat untuk membentuk masyarakat dan kaum muslimin sehingga mereka menjadi berkepribadian islami (shakhsiyah islamiyah) dan kemudian terwujud masyarakat islami (mujtama' muslim).

Insya Allah jika demikian yang bisa dilakukan, tidak lama kemudian negeri ini menjadi baldatun thayyibatun wa Rabbun ghafur. Setelah itu, hanya keberkahan Allah yang akan memenuhi kehidupan ini.

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آَمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. (QS. Al-A'raf : 96)

اللَّهُمَّ صَلِّ وسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ وسَلّمْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، فِي العَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنْ خُلَفَائِهِ الرَّاشِدِيْنَ، وَعَنْ أَزْوَاجِهِ أُمَّهَاتِ المُؤْمِنِيْنَ، وَعَنْ سَائِرِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعِيْنَ، وَعَنْ المُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِنَاتِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَعَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اللَّهُمَّ اجْعَلْ جَمْعَنَا هَذَا جَمْعًا مَرْحُوْمًا، وَاجْعَلْ تَفَرُّقَنَا مِنْ بَعْدِهِ تَفَرُّقًا مَعْصُوْمًا، وَلا تَدَعْ فِيْنَا وَلا مَعَنَا شَقِيًّا وَلا مَحْرُوْمًا.
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالعَفَافَ وَالغِنَى.

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ أَنْ تَرْزُقَ كُلاًّ مِنَّا لِسَانًا صَادِقًا ذَاكِرًا، وَقَلْبًا خَاشِعًا مُنِيْبًا، وَعَمَلاً صَالِحًا زَاكِيًا، وَعِلْمًا نَافِعًا رَافِعًا، وَإِيْمَانًا رَاسِخًا ثَابِتًا، وَيَقِيْنًا صَادِقًا خَالِصًا، وَرِزْقًا حَلاَلاًَ طَيِّبًا وَاسِعًا، يَا ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ.
اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَوَحِّدِ اللَّهُمَّ صُفُوْفَهُمْ، وَأَجْمِعْ كَلِمَتَهُمْ عَلَى الحَقِّ، وَاكْسِرْ شَوْكَةَ الظَّالِمِينَ، وَاكْتُبِ السَّلاَمَ وَالأَمْنَ لِعِبادِكَ أَجْمَعِينَ.

اللَّهُمَّ رَبَّنَا احْفَظْ أَوْطَانَنَا وَأَعِزَّ سُلْطَانَنَا وَأَيِّدْهُ بِالْحَقِّ وَأَيِّدْ بِهِ الْحَقَّ يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ.
اللَّهُمَّ رَبَّنَا اسْقِنَا مِنْ فَيْضِكَ الْمِدْرَارِ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الذَّاكِرِيْنَ لَكَ في اللَيْلِ وَالنَّهَارِ، الْمُسْتَغْفِرِيْنَ لَكَ بِالْعَشِيِّ وَالأَسْحَارِ.

اللَّهُمَّ أَنْزِلْ عَلَيْنَا مِنْ بَرَكَاتِ السَّمَاء وَأَخْرِجْ لَنَا مِنْ خَيْرَاتِ الأَرْضِ، وَبَارِكْ لَنَا في ثِمَارِنَا وَزُرُوْعِنَا وكُلِّ أَرزَاقِنَا يَا ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ.
رَبَّنَا آتِنَا في الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
رَبَّنَا لا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا، وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً، إِنَّكَ أَنْتَ الوَهَّابُ.
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الخَاسِرِيْنَ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدُّعَاءِ.

عِبَادَ اللهِ :إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي القُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ

[Khutbah Jum'at edisi 15 Jumadil Awal 1431 H, 30 April 2010 M; Bersama Dakwah]
17:00 | 12 komentar

Lagi, Israel Bunuh Pemuda Palestina


Rabu kemarin (28/04) pasukan Israel menembak mati seorang pemuda Palestina, Ahmad Deeb. Ahmad ditembak saat ikut demonstrasi menentang zona Israel yang diberlakukan di wilayah dekat perbatasan Jalur Gaza.

Saksi mata mengatakan, Ahmad yang berusia 20 tahun ini bersama puluhan pemuda lain memasang bendera Palestina di tanah dekat perbatasan, sebelah timur kota Gaza. Saat itulah tentara Israel menembaki mereka. Pihak Rumah Sakit Shifa yang menangani jenazah pemuda ini membenarkan keterangan itu.

Dr. Attar dari Rumah Saki Shifa mengatakan bahwa peluru yang dipakai tentara Israel adalah jenis "dum dum". Tergolong peluru yang mematikan.

Militer Israel belum memberikan pernyataan sesudah kematian Ahmad. Militer Israel memang bisa menembak siapa saja dan membuat kebijakan sepihak terkait zona terlarang. Orang-orang yang mendekati perbatasan dalam radius 300 meter bisa ditembak di tempat.

Aktifis asing pro-Palestina mengungkapkan ketidaksukaannya terhadap kebijakan dan pembunuhan ini. Kepada televisi Reuters ia mengatakan "Ini demontrasi tanpa kekerasan untuk menentang pemberlakuan zona penyangga oleh Israel".

"Orang-orang Israel menyatakan bisa menembak siapa pun di daerah ini. Namun, mereka mencaplok tanah pertanian Palestina. Mereka mencaplok tanah dimana orang Palestina hidup dan bekerja," tambah wanita aktifis asing itu.

Ahmad tercatat sebagai orang tak bersenjata ke-9 yang ditembak Israel pada satu bulan terakhir. Sebelumnya, pada tanggal 30 Maret lalu, Israel juga menembak mati Muhammad Zaid Faramawi yang masih berusia 15 tahun. [AN]
10:00 | 21 komentar

Hak-Hak Uluhiyah dalam Al-Qur'an

Written By Admin BeDa on Rabu, 28 April 2010 | 16:00


Setelah menjelaskan berbagai tema tentang manusia, alam fisik, dan metafisik dalam Al-Qur'an, Hasan Al-Banna dalam tema ini menjelaskan tentang Hak-Hak Uluhiyah serta Hubungan antara Allah SWT dengan Manusia dan antara Manusia dengan Allah. Selamat membaca.
***

Kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah SWT. Kita ucapkan shalawat dan salam untuk junjungan kita Nabi Muhammad dan segenap keluarga dan sahabatnya, serta siapa saja yang menyerukan dakwahnya hingga hari kiamat.

Ikhwan sekalian, saya sampaikan salam penghormatan Islam, salam penghormatan dari Allah, salam yang baik dan diberkahi: assalamu 'alaikum wa rahmatullah wa barakatuh.

Makna Uluhiyah dalam Fitrah Manusia
Dalam kajian-kajian kita terdahulu tentang kitab Allah SWT., kita telah mengerti beberapa sisi tentang manusia serta alam fisik dan metafisik di dalam Al-Qur'an. Pembicaraan kita pada malam ini menyangkut hak-hak uluhiyah dalam kitab Allah SWT.

Wahai Akhi, tema ini merupakan inti dan pilar paling penting dalam semua agama. Sesungguhnya semua agama merupakan karunia dan pengarahan dari Allah kepada hamba-hamba-Nya. Semua agama datang dengan tujuan utama mengenalkan manusia tentang Allah dan hak-hak Allah SWT terhadap mereka. Karena itu, tema kita, Penjelasan tentang Hak-Hak Uluhiyah serta Hubungan antara Allah SWT dengan Manusia dan antara Manusia dengan Allah, merupakan tema paling penting yang dikemukakan oleh kitab-kitab samawi dan selanjutnya merupakan tema paling penting pula yang dikemukakan oleh Al-Qur'anul Karim.

Ikhwan sekalian, tujuan utama dan mendasar agama-agama adalah menggariskan batas-batas hubungan antara manusia dengan Tuhan mereka, sehingga mereka berjalan di dalam batas-batas ini dan tidak melanggarnya, tidak berlebih-lebihan atau melalaikannya. Hampir-hampir tidak kita temukan satu surat pun dalam Al-Qur'anul Karim kecuali pasti memuat keterangan tentang tema ini secara panjang lebar dan jelas. Barangkali indikasi paling jelas yang menunjukkan adanya hubungan antara Allah SWT dengan manusia dan hubungan manusia dengan-Nya, serta hakikat paling jelas tentang uluhiyah adalah rasa ketuhanan sejati yang bersemayam dan bercokol kuat dalam diri manusia. Hakikat uluhiyah, wahai Akhi, sebenarnya terdapat dalam fitrah manusia. Jika Anda telah mengetahui bahwa ruh itu ada karena perintah Allah, maka Anda pasti memahami perasaan manusia terhadap Allah, hubungannya dengan Allah, dan ikatan kuat yang mengikatnya dengan Allah, yang merupakan perasaan fitrah dan tidak mungkin diingkari atau dihindarkannya. Meskipun demikian ia tidak kunjung mengetahui dari mana sumbernya.

Ini realita. Sejarah manusia sejak pertama kali menjadi saksi tentang hal ini. Berbagai bangsa telah melakukan upaya-upaya untuk mengenal Allah SWT. Upaya-upaya ini dilakukan sebagai akibat dari kesadaran mereka tentang fitrah ini. Salah seorang ilmuwan Barat pernah mengatakan, "Sesungguhnya jika saya ditanya, 'Mengapa Anda beriman kepada Tuhan?' saya tidak bisa menjawab pertanyaan ini kecuali dengan jawaban yang saya gunakan untuk menjawab apabila ditanya, 'Mengapa Anda makan? Mengapa Anda minum? Mengapa Anda tidur?' Sebab, jawaban pertanyaan ini akan berbunyi sebagai berikut: "Makan adalah salah satu undang-undang yang harus dipatuhi untuk mempertahankan eksistensi diri secara fisik, sehingga tidak mungkin saya menghindarkan diri darinya, sebagaimana saya juga tidak bisa menghindarkan diri dari kegiatan bernafas. Demikianlah. Perasaan saya mengenai keberadaan Tuhan merupakan salah satu tuntutan spiritual saya dan merupakan kebutuhannya yang vital, sehingga saya tidak mungkin menghindarinya, kecuali jika saya menghilangkan perasaan-perasaan spiritual saya atau bahkan kehidupan saya. Yang paling kuat di antara perasaan-perasaan yang merupakan pangkal kehidupan ini adalah bahwa saya mempunyai tuhan, dan saya terikat dengan tuhan ini."

Prinsip ini, wahai Akhi, sebagaimana telah saya katakan, dikuatkan oleh berbagai upaya spiritual yang terjadi sepanjang sejarah umat manusia. Al-Qur'anul Karim telah mengisyaratkan hakikat ini dengan jelas.

فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا فِطْرَةَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); sebagai fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. Itulah agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (QS. Ar-Rum: 30)

وَإِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فِي الْبَحْرِ ضَلَّ مَنْ تَدْعُونَ إِلَّا إِيَّاهُ

Dan apabila kalian ditimpa bahaya di lautan, niscaya lenyaplah siapa yang kamu seru kecuali Dia. (QS. Al-lsra': 67)

Jadi, kepasrahan manusia kepada Allah SWT ketika ditimpa bencana dan ketika berputus asa dari daya dan kekuatannya sendiri maupun orang lain, bukanlah sesuatu yang muncul begitu saja. Ia sebenarnya merupakan luapan fitrah manusia dari relung-relung jiwanya untuk menyandarkan diri kepada Allah.

إِذَا كُنْتُمْ فِي الْفُلْكِ وَجَرَيْنَ بِهِمْ بِرِيحٍ طَيِّبَةٍ وَفَرِحُوا بِهَا جَاءَتْهَا رِيحٌ عَاصِفٌ وَجَاءَهُمُ الْمَوْجُ مِنْ كُلِّ مَكَانٍ وَظَنُّوا أَنَّهُمْ أُحِيطَ بِهِمْ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ لَئِنْ أَنْجَيْتَنَا مِنْ هَذِهِ لَنَكُونَنَّ مِنَ الشَّاكِرِينَ

...Apabila kalian berada di dalam bahtera, ia meluncurlah membawa orang-orang yang ada di dalamnya dengan tiupan angin sepoi, dan mereka bergembira karenanya, lalu datanglah angin badai dan gelombang dari segenap penjuru menimpa- nya, lalu mereka yakin bahwa mereka telah terkepung (bahaya), mereka pun berdoa kepada Allah dengan tulus ikhlas penuh ketaatan kepada- Nya semata-mata. (Mereka berkata), 'Sesungguhnya jika Engkau menyelamatkan kami dari bahaya ini, pastilah kami akan termasuk orang-orang yang bersyukur.' (QS. Yunus: 22)

Pada saat itu, wahai Akhi, ketika manusia sudah putus harapannya dari semua faktor penyebab yang bersifat lahir, ketika itulah ia bersandar kepada Allah. Karena itu, iman kepada Allah dan perasaan mengenai adanya Sang Pencipta merupakan fitrah yang tertanam dan terpatri dalam diri manusia. Karena begitulah karakter ruhani. Ruh itu ada dengan perintah Allah. Ketika tertutup oleh hawa nafsu, ia lupa. Tetapi ketika sudah berputus asa dari berbagai faktor penyebab yang bersifat lahiriah, ia kembali bersandar kepada Allah SWT. Al-Qur'anul Karim telah mengisyaratkan hal itu. Ia mengisyaratkan adanya fitrah ini dan bagaimana fitrah ini menjalankan fungsinya. Wahai Akhi, Anda bisa membaca sejarah berbagai bangsa. Anda mendapati bahwa manusia telah menjalani kehidupan untuk mewujudkan hakikat ini. Dalam hal ini mereka terbagi menjadi berbagai macam aliran. Di antara mereka ada yang bertuhan satu (monoteis), ada yang bertuhan banyak (politeis), dan ada pula kelompok yang justru menisbatkan berbagai sifat yang tidak patut bagi Allah SWT. Di antara mereka ada penyembah berhala (paganis), penyembah dua tuhan, dan ada pula yang menyembah tiga tuhan. Ada di antara mereka yang mengatakan bahwa tuhan itu bersedih, letih, dan menyesal. Ada pula di antara mereka yang meyakini banyak sekali tuhan, yang masing-masing menguasai benda-benda alam tertentu. Semua ini terjadi berdasarkan kadar pemahaman bangsa-bangsa tersebut terhadap hakikat Allah demi mengikuti tuntutan fitrah ini, yaitu fitrah bahwa manusia memiliki hubungan dengan Allah SWT.

Misi Kenabian
Kemudian datanglah "kenabian" untuk mengembalikan manusia kepada kebenaran. Al-Qur'anul Karim datang dengan menjelaskan suatu hakikat yang nyata dan jelas. Ia menegaskan bahwa Tuhan itu hanya satu sekaligus menafikan keberagaman tuhan. Ia menegaskan bahwa tidak ada satu pun di antara makhluk ini yang menyerupai-Nya dan Dia swt. tidak menyerupai sesuatu apa pun. Ia mene-gaskan bahwa Allah menyandang segala sifat kesempurnaan dan bersih dari segala kekurangan. Ia juga menegaskan bahwa akal manusia tidak mampu untuk memahami hakikat dzat-Nya dan hakikat sifat-sifat-Nya SWT. Selain aspek-aspek positif yang dicakup ketika berbicara tentang Allah dan hakikat ketuhanan, Al-Qur'anul Karim juga berbicara tentang dua hakikat lain.

Pertama
, berkaitan dengan syubhat-syubhat yang mengotori hakikat makna ketuhanan, yang dilontarkan oleh masyarakat bangsa-bangsa terdahulu. Al-Qur'anul Karim membantah, menolak, dan menafikannya dengan argumen-argumen yang kuat.

Kedua
, berkaitan dengan hubungan manusia dengan Allah SWT. Yakni bagaimana manusia dipelihara oleh Allah SWT. dan bahwa Allah bersama manusia di mana pun mereka berada, adalah yang mengasihi, memberi petunjuk, dan memberi pertolongan kepada mereka, serta bahwa Dia adalah yang menghisab mereka setelah itu dan kepada-Nya mereka semua kembali. Inilah wahai Akhi, pokok-pokok gagasan yang dikemukakan oleh Al-Qur'anul Karim mengenai tema ini.

Seputar Beberapa Syubhat

Pertama, Al-Qur'anul Karim menegaskan bahwa Allah swt. adalah Esa. Keesaan Allah disebutkan dalam banyak ayat. Adapun satu surat yang mencakup seluruh makna uluhiyah ini adalah surat Al-Ikhlas. Ia sungguh merupakan surat yang ringkas namun indah, yang menjawab orang yang bertanya kepada Nabi saw, "Hai Muhammad sebutkan nasab Tuhanmu kepada kami!" Maka turunlah firman Allah SWT.

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ * اللَّهُ الصَّمَدُ * لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ * وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ

Katakanlah, 'Dia-lah Allah Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan. Dan tidak ada seorang pun yang setara dengan- Nya.' (QS. Al-Ikhlas: 1-4)

Wahai Akhi, surat ini menegaskan keesaan, ketidaksamaan, dan kesempurnaan Allah serta kebutuhan hamba kepada-Nya. Kemudian, kita juga membaca ayat-ayat berikut ini dalam kitab Allah, yang menegaskan keesaan-Nya:

وَمَا خَلَقْنَا السَّمَاءَ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا لَاعِبِينَ * لَوْ أَرَدْنَا أَنْ نَتَّخِذَ لَهْوًا لَاتَّخَذْنَاهُ مِنْ لَدُنَّا إِنْ كُنَّا فَاعِلِينَ * لْ نَقْذِفُ بِالْحَقِّ عَلَى الْبَاطِلِ فَيَدْمَغُهُ فَإِذَا هُوَ زَاهِقٌ وَلَكُمُ الْوَيْلُ مِمَّا تَصِفُونَ * وَلَهُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَنْ عِنْدَهُ لَا يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِهِ وَلَا يَسْتَحْسِرُونَ * يُسَبِّحُونَ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ لَا يَفْتُرُونَ * أَمِ اتَّخَذُوا آَلِهَةً مِنَ الْأَرْضِ هُمْ يُنْشِرُونَ * لَوْ كَانَ فِيهِمَا آَلِهَةٌ إِلَّا اللَّهُ لَفَسَدَتَا فَسُبْحَانَ اللَّهِ رَبِّ الْعَرْشِ عَمَّا يَصِفُونَ * لَا يُسْأَلُ عَمَّا يَفْعَلُ وَهُمْ يُسْأَلُونَ * أَمِ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ آَلِهَةً قُلْ هَاتُوا بُرْهَانَكُمْ هَذَا ذِكْرُ مَنْ مَعِيَ وَذِكْرُ مَنْ قَبْلِي بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ الْحَقَّ فَهُمْ مُعْرِضُونَ * وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ

Dan tidaklah Kami ciptakan langit dan bumi dan segala yang ada di antara keduanya dengan main-main. Sekiranya Kami hendak mem- buat sesuatu permainan (istri dan anak) tentulah Kami membuatnya. Jika Kami menghendaki berbuat demikian, (tentulah Kami telah melakukannya). Sebenarnya Kami melemparkan yang haq kepada yang batil lalu yang haq itu menghancurkannya, maka dengan serta merta yang batil itu lenyap. Dan kecelakaanlah bagimu disebabkan kamu menyifati (Allah dengan sifat-sifat yang tidak layak bagi-Nya). Dan kepunyaan-Nyalah segala yang di langit dan di bumi. Dan malaikat- malaikat yang di sisi-Nya, mereka tiada mempunyai rasa angkuh untuk menyembah-Nya dan tiada (pula) merasa letih. Mereka selalu bertasbih malam dan siang tiada henti. Apakah mereka mengambil tuhan-tuhan dari bumi, yang dapat menghidupkan (orang-orang mati)? Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu telah rusak binasa. Maka Mahasuci Allah yang mempunyai Arsy, dari apa-apa yang mereka sifatkan. Dia tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya, dan merekalah yang akan ditanyai. Apakah mereka mengambil tuhan-tuhan selain-Nya? Katakanlah, 'Tunjukkanlah hujah kalian! (Al-Qur'an) ini adalah peringatan bagi orang-orang yang ber- samaku, dan peringatan bagi orang-orang yang sebelumku.' Sebenarnya kebanyakan mereka tiada mengetahui yang haq, karena itu mereka berpaling. Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya, 'Bahwasanya ddak ada Tuhan (yang haq) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku.' (QS. Al-Anbiya': 16-25)

Kemudian wahai Akhi, Anda membaca firman Allah SWT.,

اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ

Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Hidup Kekal lagi terus-menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa'at di sisi Allah tanpa izin-Nya. Allah menge- tahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Mahatinggi lagi Mahabesar.
(QS. Al-Baqarah: 255)

Sekarang wahai Akhi, ada pertanyaan. Mengapa Al-Qur'anul Karim tidak mengemukakan pengertian-pengertian ini secara terperinci dalam bab-bab dan pasal-pasal khusus sebagaimana lazimnya pada buku-buku ilmiah?

Kenyataannya, metode penyampaian semacam ini justru merupakan salah satu bukti kemukjizatan Al-Qur'anul Karim. Sebab, Anda tidak menemukan satu ayat yang mempunyai satu tujuan saja, melainkan mengandung berbagai tujuan. Hal itu disebabkan oleh kenyataan bahwa Al-Qur'anul Karim berbicara dengan jiwa. Sedangkan ketika jiwa memahami sesuatu, ia tidak memahaminya berikut rincian dan variasinya, tetapi memahaminya sebagai sebuah hakikat utuh. Al-Qur'anul Karim mengemukakan, kepada jiwa, segala aspek yang berkaitan dengan suatu hakikat, sehingga bisa memuaskannya. Kadangkala jiwa manusia tidak menyukai klasifikasi, karena ia ingin mengetahui keseluruhan hakikat yang saling berkaitan. Ketika mengemukakan berbagai hakikat ini secara keseluruhan, sebenarnya Al-Qur'anul Karim ingin memuaskan jiwa. Misalkan, Anda hanya mengambil ayat,

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ

Katakanlah, 'Dialah Allah Yang Maha Esa... (QS. Al-Ikhlas : 1)

maka Anda dapati bahwa jiwa Anda hanya mem peroleh sebagian kecil keterangan yang tidak memuaskannya. Tetapi jika Anda mengambil surat Al-Ikhlas tersebut secara keseluruhan, maka Anda dapati jiwa Anda menjadi lebih tenteram dan puas. Penyebab yang lain, wahai Akhi, mengapa Al-Qur'anul Karim mengemukakan pengertian-pengertian umum ketika berbicara kepada jiwa manusia? Karena teori-teori ilmiah selalu berubah-ubah mengikuti perubahan masa. Akal manusia harus menata berbagai hakikat dengan cara yang sesuai. Hakikat-hakikat ilmiah itu bagi manusia ibarat mutiara yang bertebaran. Di setiap masa, manusia merangkainya berdasarkan ukuran "rantai kalung" yang pas dengan "leher" zamannya. Kemudian ada pengertian ketiga, yaitu bahwa pengulangan merupakan salah satu hukum yang berlaku untuk menguatkan pengertian ke dalam jiwa, di samping untuk menimbulkan keingintahuan. Perpindahan dari satu tema kepada tema lain akan mewujudkan adanya keingintahuan terhadap pengertian-pengertian itu. Baiklah wahai Akhi, kita kini kembali kepada tema kita yang pertama. Anda juga membaca dalam kitab Allah:

قُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ وَسَلَامٌ عَلَى عِبَادِهِ الَّذِينَ اصْطَفَى آَللَّهُ خَيْرٌ أَمَّا يُشْرِكُونَ * أَمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَأَنْزَلَ لَكُمْ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَنْبَتْنَا بِهِ حَدَائِقَ ذَاتَ بَهْجَةٍ مَا كَانَ لَكُمْ أَنْ تُنْبِتُوا شَجَرَهَا أَئِلَهٌ مَعَ اللَّهِ بَلْ هُمْ قَوْمٌ يَعْدِلُونَ * أَمْ مَنْ جَعَلَ الْأَرْضَ قَرَارًا وَجَعَلَ خِلَالَهَا أَنْهَارًا وَجَعَلَ لَهَا رَوَاسِيَ وَجَعَلَ بَيْنَ الْبَحْرَيْنِ حَاجِزًا أَئِلَهٌ مَعَ اللَّهِ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ * أَمْ مَنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَاءَ الْأَرْضِ أَئِلَهٌ مَعَ اللَّهِ قَلِيلًا مَا تَذَكَّرُونَ * أَمْ مَنْ يَهْدِيكُمْ فِي ظُلُمَاتِ الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَمَنْ يُرْسِلُ الرِّيَاحَ بُشْرًا بَيْنَ يَدَيْ رَحْمَتِهِ أَئِلَهٌ مَعَ اللَّهِ تَعَالَى اللَّهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ * أَمْ مَنْ يَبْدَأُ الْخَلْقَ ثُمَّ يُعِيدُهُ وَمَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أَئِلَهٌ مَعَ اللَّهِ قُلْ هَاتُوا بُرْهَانَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ * قُلْ لَا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ وَمَا يَشْعُرُونَ أَيَّانَ يُبْعَثُونَ

Katakanlah, 'Segala puji bagi Allah dan kesejahteraan atas hamba-hamba-Nya yang dipilih. Apakah Allah yang lebih baik, ataukah apa yang mereka persekutukan dengan Dia?' Atau siapakah yang telah menciptakan langit dan bumi dan yang menurunkan air untuk kalian dari langit, lalu Kami tumbuhkan dengan air itu kebun-kebun yang berpemandangan indah, yang kalian sekali-kali tidak mampu menumbuhkan pohon-pohonnya? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? Bahkan (sebenarnya) mereka adalah orang- orang yang menyimpang (dari kebenaran). Atau siapakah yang telah menjadikan bumi sebagai tempat berdiam dan yang menjadikan sungai-sungai di celah-celahnya, yang menjadikan gunung-gunung untuk (mengokohkan)nya dan menjadikan suatu pemisah antara dua laut? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? Bahkan (sebenarnya) kebanyakan dari mereka tidak mengetahui. Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apa bila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kalian sebagai khalifah di bumi? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? Amat sedikitlah kamu meng- ingati-(Nya). Atau siapakah yang memimpin kalian dalam kegelapan di daratan dan lautan dan siapa (pula)kah yang mendatangkan angin sebagai kabar gembira sebelum (kedatangan) rahmat-Nya? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? Mahatinggi Allah atas apa yang mereka persekutukan (dengan-Nya). Atau siapakah yang menciptakan (manusia dari permulaannya), kemudian mengulanginya (lagi), dan siapa (pula) yang memberikan rezeki kepada kalian dari langit dan bumi? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? Katakanlah, 'Tunjukkanlah bukti kebenaran kalian, jika kalian memang orang-orang yang benar.' Katakanlah, 'Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara ghaib, kecuali Allah', dan mereka tidak mengetahui bila mereka akan dibangkitkan. (QS. An-Naml: 59-65)

Allah SWT telah menjelaskan pengertian-pengertian indah ini dalam komparasi antara kekuatan Allah SWT dengan siapa saja di antara makhluk-Nya yang dianggap sebagai tuhan. Dalam dialog Sayidina Ibrahim, Al-Qur'anul Karim menyatakan,

إِذْ قَالَ لِأَبِيهِ وَقَوْمِهِ مَا تَعْبُدُونَ * قَالُوا نَعْبُدُ أَصْنَامًا فَنَظَلُّ لَهَا عَاكِفِينَ * قَالَ هَلْ يَسْمَعُونَكُمْ إِذْ تَدْعُونَ * أَوْ يَنْفَعُونَكُمْ أَوْ يَضُرُّونَ

Ketika ia berkata kepada bapak dan kepada kaumnya, 'Apakah yang kalian sembah?' Mereka menjawab, 'Kami menyembah berhala-berhala dan kami senantiasa tekun menyembahnya.' Ibrahim berkata, 'Apakah berhala-berhala itu mendengar (doa) kalian sewaktu kalian berdoa (kepada)nya? Atau (dapatkah) mereka memberi manfaat kepada kalian atau memberi mudharat?' (QS. Asy-Syu'ara': 70-73)

Di sini Al-Qur'an menegaskan bahwa mereka tidak mempunyai pendengaran, penglihatan, dan kesempurnaan. Kemudian ia membuat mereka terdiam.

أَلَهُمْ أَرْجُلٌ يَمْشُونَ بِهَا أَمْ لَهُمْ أَيْدٍ يَبْطِشُونَ بِهَا أَمْ لَهُمْ أَعْيُنٌ يُبْصِرُونَ بِهَا

Apakah berhala-berhala mempunyai kaki yang dengan itu ia dapat berjalan, atau mempunyai tangan yang dengan itu ia dapat memegang dengan keras, atau mempunyai mata yang dengan itu ia dapat melihat? (QS. Al-A'raf: 195)

Sebagai puncak penegasan yang sekaligus merupakan hakikat azali dan fitri, Al-Qur'an mengatakan,

إِنَّ وَلِيِّيَ اللَّهُ الَّذِي نَزَّلَ الْكِتَابَ وَهُوَ يَتَوَلَّى الصَّالِحِينَ

Sesungguhnya, pelindungku adalah Allah yang telah menurunkan Al-Kitab (Al-Qur'an) dan Dia melindungi orang-orang yang shalih. (QS. Al-A 'raf: 196)

Jika Al-Qur'an telah menegaskan bahwa mereka tidak mempunyai pendengaran, penglihatan, kemampuan menimpakan bahaya, dan ke mampuan memberi manfaat, lantas bagaimana mereka bisa menjadi tuhan? Karena itu, Al-Qur'an menegaskan bahwa Allah tidak bersekutu dengan mereka dalam ketuhanan. Kemudian Al-Qur'anul Karim juga menegaskan bahwa tidak ada keserupaan Allah dengan apa pun. Allah SWT berfirman,

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ

Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya. (QS. Asy-Syura: 11)

وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ

Dan tidak ada satu orang pun yang setara dengan-Nya. (QS. Al-Ikhlas: 4)

Di antara penganut kepercayaan lain, ada yang mengatakan bahwa Allah mempunyai anak. Wahai Akhi, Anda mendapati bahwa Al-Qur'an membantah hal ini secara tegas dan dengan argumen. Di antara mereka ada yang meyakini trinitas, dan Al-Qur'an pun membantahnya.

بَدِيعُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ أَنَّى يَكُونُ لَهُ وَلَدٌ وَلَمْ تَكُنْ لَهُ صَاحِبَةٌ وَخَلَقَ كُلَّ شَيْءٍ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

Dia Pencipta langit dan bumi. Bagaimana Dia mempunyai anak padahal Dia tidak mempunyai istri. Dia menciptakan segala sesuatu dan Dia mengetahui segala sesuatu. (QS. Al-An'am: 101)

Bersambung ke Hak-Hak Uluhiyah dalam Al-Qur'an (2) [Sumber: Ceramah-ceramah Hasan Al-Banna]
16:00 | 10 komentar

Israel Cemas Latihan Militer Turki – Suriah


Jika ancaman Israel menimbulkan kecemasan di Timur Tengah sehingga Perdana Menteri Lebanon menelepon Spanyol, latihan militer bersama Turki - Suriah yang digelar kemarin juga mencemaskan Israel.

Entah disengaja atau tidak, latihan bersama ini digelar dalam waktu yang berdekatan dengan ancaman perang dari Israel. Namun informasi dari Turki mengatakan bahwa latihan bersama di perbatasan Suriah ini dirancang untuk mengkonsolidasikan kerja sama antara pasukan darat kedua negara dan meningkatkan penjagaan perbatasan kedua negara.

Latihan militer ini pun sebetulnya bukan yang pertama kali. Latihan serupa pernah digelar pada bulan April tahun lalu. Latihan ini juga merupakan kelanjutan kerjasama ekonomi dan politik Turki – Suriah.

Menteri pertahanan Israel, Ehud Barak, sebagaimana diberitakan Al-Jazeera, merasa cemas dengan latihan bersama Turki-Suriah ini. Kecemasan yang paradoks dengan ancamannya untuk menyerang Lebanon, Suriah, dan Iran.[AN]
10:00 | 12 komentar

Hadits 3: Wahyu yang Turun Pertama Kali

Written By Admin BeDa on Selasa, 27 April 2010 | 17:00


Kali ini kita membahas hadits yang ke-3. Yakni hadits ke-3 dalam Shahih Bukhari (صحيح البخارى), di bawah Kitab Bad’il Wahyi (كتاب بدء الوحى) (Permulaan Turunnya Wahyu). Hadits ini cukup panjang. Meskipun Imam Bukhari tidak memberikan judul bab pada hadits ketiga ini, dari matan-nya terlihat jelas bahwa ia memuat wahyu yang turun pertama kali kepada Rasulullah SAW.

Berikut ini adalah matan hadits tersebut:

عَنْ عَائِشَةَ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ أَنَّهَا قَالَتْ أَوَّلُ مَا بُدِئَ بِهِ رَسُولُ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - مِنَ الْوَحْىِ الرُّؤْيَا الصَّالِحَةُ فِى النَّوْمِ ، فَكَانَ لاَ يَرَى رُؤْيَا إِلاَّ جَاءَتْ مِثْلَ فَلَقِ الصُّبْحِ ، ثُمَّ حُبِّبَ إِلَيْهِ الْخَلاَءُ ، وَكَانَ يَخْلُو بِغَارِ حِرَاءٍ فَيَتَحَنَّثُ فِيهِ - وَهُوَ التَّعَبُّدُ - اللَّيَالِىَ ذَوَاتِ الْعَدَدِ قَبْلَ أَنْ يَنْزِعَ إِلَى أَهْلِهِ ، وَيَتَزَوَّدُ لِذَلِكَ ، ثُمَّ يَرْجِعُ إِلَى خَدِيجَةَ ، فَيَتَزَوَّدُ لِمِثْلِهَا ، حَتَّى جَاءَهُ الْحَقُّ وَهُوَ فِى غَارِ حِرَاءٍ ، فَجَاءَهُ الْمَلَكُ فَقَالَ اقْرَأْ . قَالَ « مَا أَنَا بِقَارِئٍ » . قَالَ « فَأَخَذَنِى فَغَطَّنِى حَتَّى بَلَغَ مِنِّى الْجَهْدَ ، ثُمَّ أَرْسَلَنِى فَقَالَ اقْرَأْ . قُلْتُ مَا أَنَا بِقَارِئٍ . فَأَخَذَنِى فَغَطَّنِى الثَّانِيَةَ حَتَّى بَلَغَ مِنِّى الْجَهْدَ ، ثُمَّ أَرْسَلَنِى فَقَالَ اقْرَأْ . فَقُلْتُ مَا أَنَا بِقَارِئٍ . فَأَخَذَنِى فَغَطَّنِى الثَّالِثَةَ ، ثُمَّ أَرْسَلَنِى فَقَالَ ( اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِى خَلَقَ * خَلَقَ الإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ * اقْرَأْ وَرَبُّكَ الأَكْرَمُ ) » . فَرَجَعَ بِهَا رَسُولُ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - يَرْجُفُ فُؤَادُهُ ، فَدَخَلَ عَلَى خَدِيجَةَ بِنْتِ خُوَيْلِدٍ رضى الله عنها فَقَالَ « زَمِّلُونِى زَمِّلُونِى » . فَزَمَّلُوهُ حَتَّى ذَهَبَ عَنْهُ الرَّوْعُ ، فَقَالَ لِخَدِيجَةَ وَأَخْبَرَهَا الْخَبَرَ « لَقَدْ خَشِيتُ عَلَى نَفْسِى » . فَقَالَتْ خَدِيجَةُ كَلاَّ وَاللَّهِ مَا يُخْزِيكَ اللَّهُ أَبَدًا ، إِنَّكَ لَتَصِلُ الرَّحِمَ ، وَتَحْمِلُ الْكَلَّ ، وَتَكْسِبُ الْمَعْدُومَ ، وَتَقْرِى الضَّيْفَ ، وَتُعِينُ عَلَى نَوَائِبِ الْحَقِّ . فَانْطَلَقَتْ بِهِ خَدِيجَةُ حَتَّى أَتَتْ بِهِ وَرَقَةَ بْنَ نَوْفَلِ بْنِ أَسَدِ بْنِ عَبْدِ الْعُزَّى ابْنَ عَمِّ خَدِيجَةَ - وَكَانَ امْرَأً تَنَصَّرَ فِى الْجَاهِلِيَّةِ ، وَكَانَ يَكْتُبُ الْكِتَابَ الْعِبْرَانِىَّ ، فَيَكْتُبُ مِنَ الإِنْجِيلِ بِالْعِبْرَانِيَّةِ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَكْتُبَ ، وَكَانَ شَيْخًا كَبِيرًا قَدْ عَمِىَ - فَقَالَتْ لَهُ خَدِيجَةُ يَا ابْنَ عَمِّ اسْمَعْ مِنَ ابْنِ أَخِيكَ . فَقَالَ لَهُ وَرَقَةُ يَا ابْنَ أَخِى مَاذَا تَرَى فَأَخْبَرَهُ رَسُولُ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - خَبَرَ مَا رَأَى . فَقَالَ لَهُ وَرَقَةُ هَذَا النَّامُوسُ الَّذِى نَزَّلَ اللَّهُ عَلَى مُوسَى - صلى الله عليه وسلم - يَا لَيْتَنِى فِيهَا جَذَعًا ، لَيْتَنِى أَكُونُ حَيًّا إِذْ يُخْرِجُكَ قَوْمُكَ . فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - « أَوَمُخْرِجِىَّ هُمْ » . قَالَ نَعَمْ ، لَمْ يَأْتِ رَجُلٌ قَطُّ بِمِثْلِ مَا جِئْتَ بِهِ إِلاَّ عُودِىَ ، وَإِنْ يُدْرِكْنِى يَوْمُكَ أَنْصُرْكَ نَصْرًا مُؤَزَّرًا . ثُمَّ لَمْ يَنْشَبْ وَرَقَةُ أَنْ تُوُفِّىَ وَفَتَرَ الْوَحْىُ

Dari Aisyah Ummul Mukminin r.a. bahwa ia berkata, "Pertama turunnya wahyu kepada Rasulullah SAW secara mimpi yang benar waktu beliau tidur. Biasanya mimpi itu terlihat jelas oleh beliau, seperti jelasnya cuaca pagi. Semenjak itu hati beliau tertarik untuk mengasingkan diri ke Gua Hira. Di situ beliau beribadah beberapa malam, tidak pulang ke rumah istrinya. Untuk itu beliau membawa perbekalan secukupnya. Setelah perbekalan habis, beliau kembali kepada Khadijah, untuk mengambil lagi perbekalan secukupnya. Kemudian beliau kembali ke Gua Hra, hingga suatu ketika datang kepadanya kebenaran (wahyu), yaitu sewaktu beliau masih berada di Gua Hira. Malaikat datang kepadanya, lalu berkata, "Bacalah"Nabi menjawab, "Aku tidak bisa membaca". Nabi menceritakan, "Maka aku ditarik dan dipeluknya hingga aku kepayahan. Lalu aku dilepaskannya dan disuruh membaca. Malaikat berkata "bacalah" aku menjawab "aku tidak bisa membaca." Maka aku ditarik dan dipeluknya hingga aku kepayahan. Lalu aku dilepaskannya dan disuruh membaca. "Bacalah" kujawab menjawab "aku tidak bisa membaca." Maka aku ditarik dan dipeluknya untuk kali ketiga. Kemudian aku dilepaskan seraya ia berkata "Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menjadikan. Yang menjadikan manusia dari segumpal darah. Bacalah! Demi Tuhanmu yang Maha Mulia." Setelah itu Nabi pulang ke rumah Khadijah binti Khuwailid, lalu berkata, "Selimuti aku, selimuti aku!" Khadijah menyelimutinya hingga hilang rasa takutnya. Kata Nabi kepada Khadijah binti Khuwailid (setelah mennceritakan semua kejadian yang dialami Nabi), "Sesungguhnya aku cemas atas diriku."Khadijah menjawab, "Jangan takut, demi Allah, Tuhan tidak akan membinasakan engkau. Engkau selalu menyambung tali persaudaraan, membantu orang yang sengsara, mengusahakan barang keperluan yang belum ada, memuliakan tamu, menolong orang yang kesusahan karena menegakkan kebenaran." Setelah itu Khadijah pergi bersama Nabi menemui Waraqah bin naufal bin Asad bin Abdul Uzza, yaitu anak paman Khadijah, yang telah memeluk agama Nasrani pada masa jahiliyah itu. Ia pandai menulis buku dalam bahasa ibrani. Maka disalinnya Kitab Injil dari bahasa Ibrani seberapa yang dikehendaki Allah dapat disalin. Usianya kini telah lanjut dan matanya telah buta.

Khadijah berkata kepada Waraqah, "wahai anak pamanku. Dengarkan kabar dari anak saudaramu ini." Waraqah bertanya kepada Nabi, "Wahai anak saudaraku. Apa yang terjadi atas dirimu?" Nabi menceritakan kepadanya semua peristiwa yang telah dialaminya. Waraqah berkata, "Inilah Namus yang pernah diutus Allah kepada Nabi Musa. Duhai, semoga saya masih hidup ketika kamu diusir oleh kaummu." Nabi bertanya, "Apakah mereka akan mengusir aku?" Waraqah menjawab, "Ya, betul. Belum ada seorang pun yang diberi wahyu seperti engkau yang tidak dimusuhi orang. Jika aku masih mendapati hari itu niscaya aku akan menolongmu sekuat-kuatnya." Tidak berapa lama kemudian Waraqah meninggal dunia dan wahyu pun terputus untuk sementara.


Penjelasan Hadits

أَوَّلُ مَا بُدِئَ بِهِ رَسُولُ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - مِنَ الْوَحْىِ الرُّؤْيَا الصَّالِحَةُ فِى النَّوْمِ

Pertama turunnya wahyu kepada Rasulullah SAW secara mimpi yang benar waktu beliau tidur

Lafazh min (من) di sini mengandung makna tab'idh, artinya sebagian wahyu. Turunnya wahyu berupa mimpi sebelum wahyu yang pertama di Gua Hira adalah dalam rangka latihan bagi Nabi. Ibnu Hajar juga mengatakan bahwa saat Nabi sadar, beliau dapat melihat cahaya serta mendengar suara batu-batu kerikil memberi salam kepadanya.

فَكَانَ لاَ يَرَى رُؤْيَا إِلاَّ جَاءَتْ مِثْلَ فَلَقِ الصُّبْحِ

Biasanya mimpi itu terlihat jelas oleh beliau, seperti jelasnya cuaca pagi.

Ibnu Hajar menjelaskan bahwa "seperti jelasnya cuaca pagi" (مِثْلَ فَلَقِ الصُّبْحِ) adalah malaikat yang turun membawa wahyu itu bagaikan cahaya di pagi hari.

Setelah itu Nabi gemar mengasingkan diri ke Gua Hira, yaitu salah satu gua yang ada di Makkah. Di sini dipakai istilah tahannuts (يَتَحَنَّثُ) yaitu mengikuti ajaran agama Nabi Ibrahim. Lamanya berapa hari tidak dapat ditentukan secara pasti karena masih diperselisihkan para ulama. Yang pasti, tahannuts saat menerima wahyu di Gua Hira terjadi di bulan Ramadhan.

Hingga malam itu, malaikat yang tidak lain adalah Jibril datang kepada beliau untuk menyampaikan wahyu. Setelah sebelumnya menampakkan diri kepada Nabi di Ajyad (paska fase mimpi yang benar) dalam wujud yang asli. Sebagaimana dijelaskan dalam shahih muslim, riwayat lain dari Aisyah, Nabi berkata "Aku belum pernah melihat Jibril dalam bentuknya yang asli kecuali hanya dua kali." Pertama di Ajyad dan kedua di Sidratul Muntaha saat Isra'.

Penyampaian wahyu pertama ini diawali dengan dialog 3 kali. Malaikat jibril menyuruh nabi membaca (اقْرَأْ) dan Nabi menjawab bahwa beliau tidak bisa membaca (مَا أَنَا بِقَارِئٍ). Begitu Nabi menjawab, Jibril mendekapnya hingga Nabi kepayahan. Setelah tiga kali Jibril baru menyampaikan wahyu pertama, QS. Al-Alaq ayat 1 – 3:

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ
خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ
اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ

Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menjadikan.
Yang menjadikan manusia dari segumpal darah.
Bacalah! Demi Tuhanmu yang Maha Mulia


Tentu saja ini adalah hal yang sangat berat bagi Nabi. Melihat Jibril dan mendapat wahyu adalah sesuatu yang belum biasa bagi beliau. Maka beliau pulang kepada Khadijah dalam kondisi ketakutan, disertai fisik yang lelah, payah, dan keringat dingin bercucuran. Karenanya beliau meminta diselimuti oleh Khadijah (زَمِّلُونِى زَمِّلُونِى).

Setelah cukup membaik, nabi menceritakan kepada Khadijah, sekaligus mengatakan kekhawatiran dan ketakutannya:

لَقَدْ خَشِيتُ عَلَى نَفْسِى

Sungguh aku cemas atas diriku sendiri.

Para ulama berbeda pendapat tentang lafazh khasyyah (خَشِيتُ). Ada 12 arti lafazh ini. (1) Gila, (2) kecemasan, (3) ketakutan, (4) sakit, (5) sakit terus-menerus, (6) ketidakmampuan memegang amanah kenabian, (7) ketidakmampuan melihat bentuk malaikat, (8) tidak memiliki kesabaran atas siksaan orang-orang kafir, (9) orang kafir akan membunuh nabi, (10) meninggalkan tanah airnya, (11) kedustaan orang kafir terhadap nabi, dan (12) cemoohan mereka atas nabi. Ibnu Hajar membenarkan 3 diantaranya, yakni bermakna (3) ketakutan, (4) sakit, dan (5) sakit terus-menerus.

Namun Khadijah adalah istri yang luar biasa. Ia mengerti apa yang harus dilakukannya. Pada saat seperti itu motivasi istri benar-benar sangat dibutuhkan. Karenanya Khadijah menampik ketakutan nabi dan mengingatkannya dengan kebaikan-kebaikan yang dilakukannya.

كَلاَّ وَاللَّهِ مَا يُخْزِيكَ اللَّهُ أَبَدًا ، إِنَّكَ لَتَصِلُ الرَّحِمَ ، وَتَحْمِلُ الْكَلَّ ، وَتَكْسِبُ الْمَعْدُومَ ، وَتَقْرِى الضَّيْفَ ، وَتُعِينُ عَلَى نَوَائِبِ الْحَقِّ

"Jangan takut, demi Allah, Tuhan tidak akan membinasakan engkau. Engkau selalu menyambung tali persaudaraan, membantu orang yang sengsara, mengusahakan barang keperluan yang belum ada, memuliakan tamu, menolong orang yang kesusahan karena menegakkan kebenaran."

Hal lain yang kemudian dilakukan Khadijah adalah mengajak Nabi kepada waraqah. Mengkonsultasikan peristwa itu pada Waraqah. Sebab waraqah adalah ahli kitab yang terpercaya, yang tidak hanya baik akhlaknya tetapi juga alim mengenai Injil.

Di sinilah Waraqah memberi kesaksian bahwa yang datang kepada Nabi adalah wahyu. Melalui Namus (malaikat), sebagaimana telah datang kepada Musa sebelumnya. Dalam kesempatan lain Waraqah juga mengatakan "Namus Isa" kepada Khadijah. Dan keduanya adalah benar. Ini juga menjadi bukti bahwa kerasulan Muhammad telah ada dalam kitab suci sebelumnya sehingga ahli kitab seperti Waraqah bisa mengetahui tanda-tandanya.

Lalu Waraqah menambahkan keterangan bahwa salah satu resiko kenabian adalah permusuhan dan pengusiran dari kaumnya. Kelak apa yang disampaikan waraqah ini benar-benar terbukti. Namun keinginan Waraqah untuk menolong Nabi tidak bisa dipenuhi sebab tidak berapa lama setelah itu ia meninggal dunia.

Pelajaran Hadits:
Pelajaran yang bisa diambil dari hadits ini diantaranya adalah:
1. Sebelum mendapatkan wahyu di Gua Hira, terlebih dulu Rasulullah mendapatkan wahyu dalam bentuk mimpi yang benar, sebagai latihan bagi beliau
2. Wahyu yang pertama turun kepada beliau adalah QS. Al-Alaq 1-3, melalui malaikat Jibril di Gua Hira pada malam bulan Ramadhan
3. Istri yang baik adalah yang bisa menenangkan suami saat ketakutan, memotivasinya saat sang suami membutuhkan motivasi, dan membantu mencarikan solusi saat suami menghadapi masalah
4. Kerasulan Muhammad telah disebutkan dalam kitab-kitab suci sebelum Al-Qur'an, termasuk injil. Juga sebagian tanda-tandanya.
5. Salah satu resiko kenabian adalah permusuhan dari orang-orang kafir, salah satunya dalam bentuk pengusiran. Resiko ini juga bisa menimpa amal-amal dakwah yang merupakan penerus misi kenabian.

Demikian hadits ke-3 Shahih Bukhari dan penjelasannya yang telah diringkas Bersama Dakwah dari Fathul Baari karya Ibnu Hajar Al-Asqalani disertai tambahan penjelasan seperlunya dan kesimpulan atau pelajaran hadits. Wallaahu a'lam bish shawab. []

KEMBALI KE HADITS 2

17:00 | 10 komentar

Akankah Perang Besar itu terjadi Musim Panas Ini?


Ancaman Israel menimbulkan kecemasan di Timur Tengah. Akankah perang meletus musim panas ini? Skenario yang paling memungkinkan terjadi adalah Israel akan menyerang Lebanon –dengan serangan yang lebih besar daripada tahun 2006- dan akan menyeret negara-negara lain dalam perang itu, seperti Suriah dan Iran.

Ancaman perang ini membuat Perdana Menteri Lebanon Saad al-Hariri, Senin (26/04), menelepon relasinya dari Spanyol Jose Luis Rodriguez Zapatero.

"Pembicaraan telepon tersebut dilakukan dalam kerangka kerja kontak yang dilakukan Saad dengan para pemimpin Eropa, guna menghadapi peningkatan ancaman Israel terhadap Lebanon dan Suriah," kata kantor Perdana Menteri itu dalam satu pernyataan di Beirut, sebagaimana dikutip dari Xinhua-OANA.

Raja Yordaninia Abdullah telah mengingatkan bahaya perang ini. Sedangkan salah satu pemimpin Lebanon menengarai Israel tengah menunggu saat yang tepat untuk menyerang Arab.

Presiden Israel Shimon Peres menuduh Suriah menyuplai rudal Scudd kepada Hizbullah. Meskipun tuduhan ini tidak pernah bisa dibuktikan, "mendukung teroris" ini adalah alasan kuat Israel untuk menyerang Suriah. Sedangkan seorang Menteri Israel yang tidak mau disebut namanya dalam Britain's Sunday Times siap menyerang Suriah jika Hizbullah berani meluncurkan rudal ke Israel. "Kami akan mengembalikan Suriah ke zaman batu dengan melumpuhkan stasiun, pelabuhan, cadangan bahan bakar, dan seluruh infrastruktur strategis." Ancamnya.

Dalam kesempatan lain, Perdana Menteri Israel Benyamin Netanyahu melontarkan ancaman senada dengan presidennya, kepada Iran. Ia berulangkali mengatakan bahwa Iran adalah ancaman mematikan. Dan jika Amerika Serikat tidak bisa menghentikan program nuklir Iran, Israel yang akan melakukannya sendiri.

Apa motif di balik gencarnya propaganda dan ancaman israel? Tampaknya, ada setidaknya tiga motif utama. Pertama, dengan mengancam negara tetangga dengan perang, pemerintah Israel ingin mengalihkan dunia dari hubungan Palestina – Israel. Motif kedua adalah untuk melakukan sabotase atas pulihnya hubungan AS-Suriah. Ketiga, Israel berniat mengganggu poros Teheran-Damaskus-Hizbullah yang dianggap sebagai tantangan terhadap hegemoninya di kawasan ini.[AN]
10:00 | 22 komentar

Retorika Haraki; Seni Berbicara Aktifis Dakwah

Written By Admin BeDa on Senin, 26 April 2010 | 16:00


Judul Buku : Retorika Haraki
Penulis : Amirudin Rahim
Penerbit : Era Adicitra Intermedia, Solo
Cetakan Ke : 1
Tahun Terbit : Jumadil Ula 1431 H/April 2010
Tebal Buku : xxviii + 236 halaman


Berbicara itu mudah. Namun berbicara dengan tepat memerlukan ilmu dan ketrampilan. Retorika Haraki, yang merupakan buku kelima 100 buku pengokohan tarbiyah ini berupaya membekali aktifis dakwah dengan seni berbicara yang tepat sehingga amanah dakwah dapat ditunaikan.

Sebagaimana kita ketahui bersama, aktifitas dakwah dan tarbiyah, banyak membutuhkan kemampuan bicara. Mulai dari tabligh, taklim, orasi, khutbah hingga halaqah, dan dakwah fardiyah. Seringkali dai dan mubaligh tidak menyampaikan dakwahnya dengan baik bahkan ngelantur, dan seringkali pula muwajjih atau murabbi yang sebenarnya luas ilmunya namun cara penyampaiannya tidak menarik. Seni berbicara yang dijelaskan Amirudin Rahim dalam buku Retorika Haraki ini diharapkan bisa mengeliminir kelemahan-kelemahan itu menuju dakwah Islam yang memikat; dengan retorika yang memukau, sikap yang santun, konten yang berkualitas, berbobot dan efektif.

Dimulai dari Hakikat dan Prinsip Umum Berbicara pada Bab I, Retorika Haraki menyadarkan kita bahwa berbicara adalah nikmat yang juga mengandung potensi fitnah. Sikap seorang muslim pada nikmat berbicara ini adalah mensyukurinya dengan memuji Allah, berbicara untuk menyebar kebaikan, menggunakannya untuk kemaslahatan umat manusia, dan tidak menyalahgunakannya untuk kezaliman, kerusakan, permusuhan, dan kemaksiatan.

Mensyukuri nikmat berbicara dengan demikian adalah mentaati prinsip-prinsip berbicara Islami. Prinsip berbicara yang islami ini ada 6 poin:
1. Berbicara yang baik atau diam
2. Berbicara sesuai kadar pemahaman akal pendengar
3. Berbicara yang sederhana dan tidak berbelit-belit
4. Tidak berbicara tentang hal yang tidak berguna (sia-sia)
5. Menghindari kata atau istilah yang berkonotasi negatif yang sengaja diciptakan musuh-musuh kebenaran
6. Berbicara dengan bahasa audensi

Dari enam prinsip itu, mungkin poin kelima dan keenam yang belum terlalu akrab bagi kita. Kata atau istilah yang berkonotasi negatif di sini merupakan "penerjemahan" dari QS. Al-Baqarah ayat 104. Bahwa Allah memerintahkan memakai kata unzhurna sebagai ganti raa'ina. Di zaman sekarang, raa'ina itu semakin banyak dengan adanya semantic game (permainan makna) yang diciptakan Barat, misalnya. Kata "fundamental", "teroris", "garis keras", dan "bom bunuh diri" adalah sedikit contoh semantic itu. Jika aktifis dakwah memakainya secara mentah, ia sudah terjebak pada bias makna. Sedangkan berbicara dengan bahasa audensi artinya berbicara dengan bahasa yang dimengerti audien, istilah yang dipahami audien, dan kaidah komunikasi yang mudah diserap audien. Intinya pembicaraan kita secara efektfi bisa ditangkap audien sesuai makna yang kita kehendaki.

Dalam berbicara, kita juga harus menghindari penyakit lisan. Ini dibahas dalam bab kedua; Penyakit-penyakit Lisan dalam Berbicara. Amirudin Rahim menjelaskan 10 penyakit lisan sebagai berikut:
1. Ucapan yang tidak berguna (Al-Kalam fima la ya'ni)
2. Berbicara yang berlebihan (Fudhulul kalam)
3. Ungkapan yang mendekati kebatilan dan maksiat (Al-Khaudh fil bathil)
4. Berbantahan, bertengkar, dan debat kusir (Al-Mira' wal jadal)
5. Banyak bercanda dan sendau gurau (Al-muzah)
6. Ungkapan yang menyakitkan, jorok dan caci maki (badza'atul lisan wal qaul al-fahisy was sabb)
7. Melaknat (Al-La'nu)
8. Berfasih-fasih dalam berbicara untuk menarik perhatian (At-Taqa'ur fil kalam)
9. Menyebutkan hal yang memalukan atau kejelekan untuk ditertawakan atau bahan olok-olok (As-Sukriyah wal istihza')
10. Berbohong dalam perkataan, janji dan sumpah (Al-kadzibu)

Karakteristik Retorika Haraki
Pada Bab 3: Retorika Haraki, dibahas karakteristik retorika haraki. Namun sebelum itu, dijelaskan dulu definisi retorika haraki. Bahwa retorika haraki adalah penjelasan ajaran dan nilai-nilai Islam oleh para aktifis harakah dakwah yang disampaikan atas nama Islam kepada sekalian manusia, muslim atau non muslim, untuk mengajak mereka kepada Islam atau mengajarkan keislaman dengan cara-cara yang islami, beramal makruf dengan cara yang makruf, dan bernahi mungkar bukan dengan cara yang mungkar. Lebih dari itu, retorika haraki memandu aktifis dakwah untuk memadukan akal, hati, dan amal demi meraih kesuksesan dakwah dan keridhaan Allah SWT.

Karakteristik retorika haraki meliputi 15 karakter yaitu:
1. Yakin kepada Pencipta dan tidak mengingkari keberadaan dan kreatifitas manusia
2. menjaga keseimbangan antara wahyu dan akal
3. Menyeru kepada spiritual dan tidak meremehkan materiil
4. memperhatikan ibadah dan tidak melupakan nilai-nilai moral
5. Mengagungkan akidah dan menebarkan toleransi dan kasih sayang
6. memikat dengan hal-hal ideal dan peduli terhadap realitas
7. Mengajak kepada keseriusan dan konsistensi dan tidak melupakan berhidur dan istirahat
8. Berorientasi global dan tidak melupakan aksi lokal
9. Semangat kepada modernitas dan berpegang teguh kepada orisinalitas
10. Bersifat futuristik dan tidak mengingkari masa lalu
11. Memudahkan urusan dan menggembirakan perasaan
12. Berpikir luas dan tidak melampaui batasan permanen
13. menolak kekerasan dan terorisme dan mendukung perjuangan suci (jihad fi sabilillah)
14. Mengukuhkan eksistensi wanita dan tidak mengikis martabat laki-laki
15. Melindungi hak-hak minoritas dan menolak arogansi mayoritas

Teknik Retorika Haraki
Pada bab 4 sampai bab 9 (terakhir) Amirudin Rahim membahas hal-hal penting seputar retorika haraki. Mulai seni mengorganisasi dan menyampaikan pesan ada bab 4, seni berbicara dalam pidato dan khutbah pada bab 5, seni berbicara dalam kampanye politik pada bab 6, seni bertanya pada bab 7, seni memberi nasihat pada bab 8, dan sampai seni berbicara dalam dialog, diskusi, dan debat pada bab terakhir (bab 9). Sangat banyak teknik yang disampaikan dalam buku ini dan perlu dikuasai oleh aktifis dakwah. Tidak mungkin semuanya bisa dijabarkan dalam halaman terbatas ini.

Karenanya, buku ini perlu dibaca oleh aktifis dakwah. Sehingga para aktifis dakwah menguasai retorika haraki dengan baik, dan dengannya ia menyebarluaskan dakwah Islam demi terwujudnya negeri yang baldatun thayyibatun wa Rabbun ghafur, tegaknya Islam rahmatan lil 'alamin, dan terealisasinya maratibul amal ustadziyatul alam. Amin. [Muchlisin]

DALAM BENTUK E-BOOK, RETORIKA HARAKI BISA DI-DOWNLOAD DI DINI
16:00 | 9 komentar

Efek Video 3D Izzuddin Al-Qassam bagi Israel


Sayap militer Hamas, Bigade Izzuddin Al-Qassam Ahad kemarin (25/04) merilis video 3 dimensi mengenai tentara israel yang kini menjadi tawanan Hamas. Hamas mengingatkan bahwa Ghilad Shalit yang sudah ditahan sejak 2006, bisa bernasib sama seperti Ron Arad, pilot Israel yang hilang saat menerbangkan misi ke Lebanon Selatan pada tahun 1986.

Hamas menegaskan tidak akan membebaskan Ghilad Shalit kecuali jika Israel mau membebaskan 1.000 tahanan Muslim di penjara Israel. Sebelumnya, Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu mendesak Hamas untuk segera melepaskan Shalit tanpa kesepakatan apapun.

Efek bagi Israel
Kemungkinan besar ancaman seperti itu tidak akan diindahkan oleh pemerintah Zionis Israel. Karenanya Izzuddin Al-Qassam juga mengirimkan video itu kepada tentara dan warga Israel Merekalah yang menjadi sasaran utama video itu.

Al-Qassam tampaknya berencana memperbesar tekanan psikologis warga dan tentara Israel. Sebelum video 3D ini, Al-Qassam pernah mengirimkan film berdurasi pendek tentang Shalit yang ternyata mempengaruhi kondisi psikologis warga Israel saat itu. Menurut analisa pakar zionis Shalih Naami, video kali ini akan berdampak sama atau lebih besar. Keluarga tentara dipaksa memikirkan anak-anaknya, apakah mereka rela anak mereka bernasib sama seperti Shalit.

Jika warga Israel sudah ketakutan, mereka setidaknya akan mendesak pemerintah Zionis membebaskan tahanan muslim sebagai "biaya" pembebasan Shalit. Meskipun keputusan terakhirnya ada pada pemerintah zionis yang keras kepala. [AN]
13:00 | 5 komentar

Bagaimana Mengungkapkan Cinta?

Written By Admin BeDa on Minggu, 25 April 2010 | 16:00


Dalam berumah tangga, mengungkapkan cinta kepada suami/istri adalah sesuatu yang sangat penting. Dengan mengungkapkan cinta, kita secara pribadi berarti memupuk cinta. Dan bagi suami/istri, ungkapan cinta itu bisa jadi sesuatu yang sangat ditunggu-tunggu.

Ungkapan cinta akan membuat kehidupan rumah tangga semakin harmonis. Sebab ia adalah pembangun jiwa. Pengungkapan cinta juga akan menegasikan sekat-sekat yang selama ini menjadikan hubungan suami istri dalam sebuah keluarga datar, atau bahkan kaku.

Lalu bagaimana cara mengungkapkan cinta itu? Berikut diantaranya:

1. Ungkapkan cinta dengan bahasa verbal
Bahasa verbal adalah bentuk komunikasi yang sangat biasa di lakukan dalam interaksi apapun di dunia ini. Tetapi anehnya, mengungkapkan cinta secara verbal menjadi sesuatu yang berat dan sulit dilakukan bagi sebagian orang. Termasuk keluarga Islam. Seakan-akan ia tabu. Padahal jika kita memulainya, ia akan menjadi pengungkap cinta yang indah rasanya.

Bagi istri, ungkapan verbal dari suaminya, “Aku mencintaimu, sayang...”, “Aku suka jika ummi memakai baju ini, cantik”, “Warna baju kamu sangat serasi, sayang”, “Makanan ini sangat lezat, bikin makin sayang nih” dan sejenisnya, amat disukai. Demikian juga ungkapan istri “Aku sayang kamu, Mas”, “Abi gagah sekali kalau pakai baju ini”, dan sejenisnya juga sangat disukai suami.

Rasulullah juga mencontohkan ungkapan-ungkapan cinta dengan bahasa verbal kepada istrinya. Beliau bahkan memanggil Aisyah dengan humaira “yang pipinya kemerah-merahan”.

2. Ungkapan cinta dengan ungkapan non verbal
Senyuman, wajah ceria, belaian kasih sayang, kemesraan hubungan, mimik muka yang cerah, dan sikap yang lembut adalah ungkapan cinta secara non verbal. Para suami yang biasanya kaku atau tegas, perlu melatih untuk bersikap demikian. Seperti Umar, meskipun ia gagah dan keras saat di luar rumah, ia menjadi lelaki lembut dan manja saat bersama istri di rumah.

Perhatikan hadits ini: “Dan sesungguhnya jika engkau memberikan nafkah, maka hal itu adalah sedekah, hingga suapan nasi yang engkau suapkan ke dalam mulut istrimu.” (HR. Bukhari Muslim)

Al-Hafidz Ibnu Hajar berkata, “Menurut hadits ini, sesuatu yang mubah itu apabila dilakukan dengan tujuan mencari ridha Allah, maka akan menjadi ketaatan. Hal ini telah diperingatkan dengan tradisi duniawi yang sangat kecil, yaitu menyuapkan makanan ke mulut istri, karena biasanya hal semacam itu hanya terjadi ketika bercanda atau bergurau. Namun demikian, pelakunya mendapatkan pahala apabila untuk tujuan yang benar, maka bagaimanakah lagi bila melebihi dari yang demikian?”

Menyuapkan makanan ke mulut istri adalah ungkapan kecintaan non verbal. Demikian pula menyuapi suami bagi istri. Pernahkah Anda melakukan selain saat suami/istri sakit? Sesekali Anda perlu mencobanya.

3. Ungkapkan cinta dengan kesetiaan
Kesetiaan adalah harta yang sangat mahal pada zaman ini. Sementara perselingkuhan menjadi demikian marak. Seakan penyakit menular yang cepat menyebar. Ungkapkanlah cinta Anda dengan kesetiaan. Setia bahwa dia adalah istri yang Anda cintai. Tidak ada wanita lain di luar pernikahan yang ada dalam hati Anda. Begitupun bagi istri, suami adalah satu-satunya lelaki yang ada dalam jiwa.

Ada bentuk pengkhianatan terselubung dalam pernikahan saat ini. Yaitu saat lelaki berumah tangga dengan istrinya, tetapi ia membayangkan orang lain sebagai cintanya. Pun istri yang mengidamkan lelaki lain dalam kehidupannya. Kondisi semacam ini jika sudah terbawa dalam alam bawah sadar, kadangkala terucap dalam igauan saat tidur atau perkataan secara tak sadar. Jika itu yang terjadi, maka perselisihan yang akan mendominasi. Lalu bagaimana keluarga bisa sakinah, mawaddah wa rahmah?

4. Ungkapkan cinta dengan kecemburuan proporsional
Cemburu itu penting dan perlu hadir dalam rumah tangga. Asalkan ia proporsional. Kecemburuan proporsional yang tertangkap oleh suami/istri juga menjadi sinyal kecintaan yang ia terima.

Dalam hadits disebutkan, “Di antara kecemburuan itu ada yang disuka Allah dan ada yang dibenci Allah. Yang disukai Allah adalah kecemburuan yang berisi keraguan sedangkan yang dibenci Allah adalah kecemburuan yang tidak ragu-ragu lagi.” (HR. Abu Dawud)

Bagi istri, kecemburuan proporsional ini hadir saat ada keikutsertaan wanita lain dalam sesuatu yang (seharusnya) khusus bagi dia dengan suaminya. Sedangkan kecemburuan yang tidak ada sebabnya adalah dilarang.

Contohnya cemburu yang proporsional ini seperti apa yang diriwayatkan Imam Bukhari. Yakni ketika istri Umar menjalankan shalat Subuh dan Isya berjamaah. Orang bertanya kepadanya “mengapa engkau keluar padahal Umar pencemburu?” Ia menjawab “Umar tidak melarangku karena ia mendengar Rasulullah pernah bersabda “janganlah engkau melarang hamba-hamba perempuan Allah untuk datang ke masjid-masjid-Nya.”

5. Ungkapkan Cinta dengan Hadiah
Hadiah, khususnya di momen-momen tertentu adalah ungkapan cinta yang indah dan cepat ditangkap oleh suami/istri. Hadiah tidak harus selalu berupa materi yang mahal harganya. Bahkan ciuman kecil disertai kalimat yang indah merupakan hadiah. Apalagi jika ada bentuk materi yang menyertainya.

Saat istri berhasil menghafal surat atau juz baru, misalnya. Pemberian hadiah saat itu tepat sekali. Juga ketika ada prestasi atau hari-hari bersejarah dalam pernikahan.[]
16:00 | 15 komentar

Ternyata Dia Ikhwah


Ini pengalaman seorang pemilik counter pulsa pada pekan ini. Sesudah magrib, ada seorang pemuda yang datang untuk mengisi pulsa. Karena tidak ada voucher seperti yang ia inginkan, pemuda ini mengiyakan ketika pemilik counter menawarkan pulsa eletrik.

”Kok belum masuk ya Pak?” tanya pemuda ini pada pemilik counter setelah menunggu beberapa menit.
”Tunggu sebentar lagi, Mas.”
Benar. Kurang dari 5 menit kemudian HP pemuda tadi bergetar. Sebuah pesan masuk. ”Pulsa Anda bertambah Rp. 50.000” demikian isi SMS tersebut.

Malam harinya, pukul 23.00, pemilik counter dikejutkan oleh SMS baru. Ternyata pulsanya berkurang lagi. ”Berarti dobel tadi waktu aku melayani isi pulsa.” Bisa dibayangkan bagaimana perubahan raut wajah pemilik counter ini. Counternya kecil, sederhana. Keuntungan dari pulsa tidak seberapa jika harus dibandingkan dengan kerugiannya Rp. 50.000. ”Besuk pagi kutelepon pemuda itu.” begitu rencananya sebelum tidur.

Esoknya, ia telpon nomor pemuda yang dimaksud. ”Mas, ini dari counter X, Mas kemarin yang isi pulsa di counter saya ya?”
”Iya”
”Itu pulsanya kedobelan Mas”
”Oo... saya belum ngecek Pa. Coba saya cek pulsa dulu ya.”

Karena sibuk, pemilik counter tidak tahu bahwa pemuda tadi telah menelepon balik. Ia tahunya setelah membuka HP dan ada panggilan tak terjawab. Dari pemuda tadi. Ia pun menelepon langsung.
”Bagaimana Mas?”
”Iya, Pak. Pulsanya dobel. Terus bagaimana saya mengembalikannya, cara mentransfernya, atau saya ke counter Bapak nanti ya?” pemuda tadi berjanji datang.

Sekitar pukul 11 pemuda tadi benar-benar ke counter. Ia membawa Hpnya. ”Ini Pak. Bagaimana cara mentransfer kembali pulsanya Pak?”
”Tidak bisa ditransfer Mas.”
”Terus bagaimana Pak?”
”Ya, Mas bayar kapan-kapan saja nggak papa. Itu kesalahan saya”
”Tidak Pak. Saya bayar sekarang saja kalau begitu.”
”Alhamdulillah... untung pemuda itu jujur dan mau membayar” pemilik counter bersyukur dalam hati saat pemuda tadi sudah pergi. Ia perhatikan pemuda tadi, ternyata ia masuk ker rumah peduli. ”Oo.. ternyata dia aktifis dakwah. Ikhwah” Pemilik counter pun menjadi semakin percaya pada dakwah.

Kader dakwah adalah media utama dakwah (I’lam asasi). Ketika kader dakwah melakukan kebaikan-kebaikan dalam rangka memenuhi perintah Allah, tanpa diminta pun ia sudah memberikan pencitraan yang baik bagi dakwah. Saat kader dakwah berlaku jujur sebagai implementasi Islam yang ia yakini, tanpa dipublikasikan pun, itu sudah menjadi catatan positif masyarakat yang mengetahuinya. Ketika kader dakwah beramal, pada waktu yang sama sesungguhnya ia menebar aroma harum Islam di medan di mana ia berada.

Masyarakat juga tidak buta. Banyak dari mereka yang memiliki nurani bersih. Mereka adalah para penilai yang hebat. Saat mereka melihat kebaikan seseorang, ia segera mengaitkannya dengan institusi atau atribut yang dipakai orang itu. Maka kebaikan kader dakwah akan menjadi tabungan citra positif dalam benak masyarakat. Sementara kesalahan dan kejelekan kader dakwah menjadi semacam kredit yang mengurangi citra itu, menggerusnya, bahkan bisa mengubahnya menjadi stigma negatif. Jika demikian yang terjadi, sungguh masa depan dakwah akan suram.

Apa yang dilakukan pemuda tadi, yang ternyata adalah ikhwah, sebenarnya bukan hal yang aneh dalam komunitas dakwah. Tapi bagi orang umum seperti pemilik counter di atas, hal itu adalah sesuatu yang langka. Jarang orang jujur saat ini, dalam perspektifnya. Maka begitu tahu ia adalah ikhwah, kepercayaannya semakin besar pada dakwah. Kita, sudahkah berupaya selalu melakukan ibadah dan amal shalih? Jika itu kita lakukan tanpa menghiraukan orang lain, sesungguhnya kita telah menanam citra yang positif bagi dakwah. [Muchlisin]
12:00 | 6 komentar

Faktor-faktor Penyebab Riya dan Sum'ah

Written By Admin BeDa on Sabtu, 24 April 2010 | 15:00


Riya dan sum'ah yang telah kita ketahui definisinya, adalah penyakit hati yang bisa hinggap pada siapa saja, termasuk aktifis dakwah. Bahkan mujahid sekalipun. Kita juga telah mengetahui fenomena riya dan sum'ah yang jika itu ada pada diri kita, mengindikasikan kita telah terjangkit riya dan sum'ah. Karenanya kita perlu hati-hati.

Kini kita membahas faktor-faktor penyebab riya dan sum'ah. Semoga setelah kita tahu penyebab riya dan sum'ah kita bisa mengatasinya. Karena seperti kata Ibnu Qayyim, mengobati penyakit itu dilakukan dalam dua tahap. Pertama, menghilangkan rasa sakitnya. Kedua, menghentikan penyebabnya.


Faktor-faktor penyebab riya dan sum'ah adalah sebagai berikut:

1. Latar belakang kehidupan
Jika seorang anak tumbuh dalam asuhan keluarga yang memiliki suasana riya dan sum'ah, atau ia tumbuh dalam lingkungan dengan tradisi perilaku riya dan sum'ah yang kental, maka sangat besar kemungkinannya ia juga terjangkit penyakit hati itu. Jika penyakit tersebut telah lama hinggap padanya, sulit baginya untuk melepaskan diri dari riya dan sum'ah. Karenanya, Rasulullah berpesan agar umatnya memilih pasangan hidup yang islami.

Kepada para ikhwan, beliau berpesan “...Maka pilihlah wanita yang taat menjalankan agama, niscaya engkau akan beruntung.” (HR. Tirmidzi, Abu Dawud, dan Ibnu Majah)

Kepada orang tua atau wali dari akhwat beliau berpesan, “Jika didatangi oleh seseorang (untuk meminang putrimu) yang engkau ridha akhlak dan agamanya, maka nikahkanlah ia (dengan putrimu)”. (HR. tirmidzi)

2. Persahabatan yang buruk
Persahabatan yang buruk juga bisa mengakibatkan riya dan sum'ah. Terutama bagi orang yang lemah kepribadiannya sehingga mudah terpengaruh. Bahkan bagi orang yang tidak terlalu lemah sekalipun, jika ia biasa bergaul dan berinteraksi dengan teman-teman yang suka riya dan sum'ah serta cenderung mencela “cacat” dan “kekurangan” pada temannya, ia pun akan terpengaruh. Sangat pentingnya persahabatan ini sehingga Rasulullah mengumpamakan dengan penjual minyak wangi dan pandai besi. Kita bisa mendapat “bau harum” dari pertemanan, kita juga bisa terkena “asap” dan “bau tidak sedap” dari pertemanan. Maka memilih teman yang baik, persahabatan dengan orang-orang shalih, memperkuat ukhuwah imaniyah, adalah hal penting yang harus dilakukan sejak dini sebagai solusi.

3. Tidak memiliki ma'rifatullah
Tidak memiliki ma'rifatullah menjadikan manusia bersikap riya dan sum'ah. Sebab orang yang tidak mengenal Allah tidak dapat bersikap benar terhadap-Nya. Jika seseorang memiliki ma'rifatullah yang baik, ia akan beribadah ikhlas kepada Allah dan yakin ibadah itu dilihat oleh Allah dan dinilai-Nya. Ia juga sadar jika niatnya sudah beralih kepada pandangan manusia, Allah justru tidak memberinya apa-apa.


4. Ambisi mendapatkan kedudukan atau kepemimpinan
Ini faktor penyebab yang kerap terjadi. Seseorang karena ingin memiliki kedudukan tinggi dalam pandangan manusia atau supaya orang lain menilai ia layak mendapatkan amanah kepemimpinan menjadikannya bersikap riya dan sum'ah. Ia ingin segala amal kebaikannya terekspos dan secara langsung mempengaruhi pencitraannya. Ia dianggap baik, shalih, dihormati, dikagumi, dan diangkat atau dipilih menjadi pemimpin.

5. Tamak terhadap milik orang lain
sikap rakus terhadap harta atau kepemilikan orang lain juga bisa mengakibatkan riya dan sum'ah. Seperti orang yang berperang tetapi niatnya mendapatkan ghanimah, atau popularitas. Sebagaimana diriwayatkan Abu Musa bahwa Rasulullah pernah ditanya, “Ya Rasulullah, ada seorang yang berperang untuk memperoleh ghanimah, ada yang ingin disebut-sebut, dan ada yang ingin posisinya dilihat manusia. Manakah diantara mereka yang berperang di jalan Allah?” Rasulullah SAW menjawab, “Barangsiapa berperang dengan tujuan meninggikan kalimat Allah, dialah mujahid fi sabilillah.” (HR. Bukhari)

6. Suka dipuji dan disanjung
perangai suka dipuji dan disanjung akan mendorong seseorang berlaku riya dan sum'ah. Berupaya menjadi buah bibir. Berusaha menjadi news maker. Sikap ini harus dilawan dengan menyadari bahwa pujian makhluk kerap mencelakakan, sementara kritik justru akan membuatnya maju menjadi lebih baik.

7. Terlalu ketat penilaian pemimpin/qiyadah
Dalam sebuah organisasi atau jamaah, jika pemipin atau qiyadah terlalu ketat dalam menilai seseorang, bisa mengakibatkan timbulnya riya dan sum'ah pada orang tersebut, khususnya yang tidak memiliki jiwa besar. Rasulullah SAW bersabda:
“Barangsiapa yang baik itu tidak mengerjakan sesuatu kecuali ia menilainya baik dan tidak meninggalkan sesuatu kecuali jika ia menilainya buruk.” (HR. Muslim dan Abu Dawud)

8. Terlalu dikagumi orang lain
Terlalu dikagumi orang lain juga bisa bisa menjadi sebab timbulnya riya dan sum'ah. Kekaguman bisa menjadi semacam candu. Semakin dikagumi seseorang akan semakin berusaha agar kekaguman orang lain bertahan atau meningkat. Karenanya Rasulullah mengingatkan agar tidak memuji orang di depannya secara langsung.

9. Takut menjadi omongan orang lain
Ini juga bisa menyebabkan timbulnya riya dan sum'ah. Karena takut dinilai jelek orang lain, atau menjadi bahan perbincangan, menjadi obyek ghibah, maka seseorang kemudian berbuat yang baik dan berupaya mengeksposnya, atau mendemonstrasikan kebaikan dan amal shalihnya.

10. Lalai terhadap dampak buruk riya dan sum'ah
Ketidaktahuan dan kelalaian seseorang terhadap dampak buruk dan bahaya riya dan sum'ah menjadikannya tidak merasa salah atau menyesal berlaku riya dan sum'ah, bahkan larut dalam sikap itu. Sebaliknya, jika seseorang memahami dengan baik dampak riya dan sum'ah, yang sangat merugikan dirinya di akhirat kelak, ia akan berusaha menjaga diri agar terhindar dari riya dan sum'ah itu.
15:00 | 5 komentar

Masukkan alamat e-mail untuk mendapatkan up date Bersama Dakwah