Assalaamu'alaikum ,  Ahlan wa Sahlan  |  Facebook  |  Twitter  |  Pasang Iklan

Foto-foto Armada Kebebasan Sebelum Tiba di Gaza Hari Ini

Written By Admin BeDa on Senin, 31 Mei 2010 | 10:00


Armada Kebebasan (Freedom Flotilla), insya Allah, akan tiba di Gaza hari ini (Senin, 31/05). Dengan membawa 10 ribu ton bantuan kemanusiaan dan mengangkut sekitar 700 aktifis, Armada Kebebasan membawa pesan "Free Gaza" Akhiri Blokade Israel atas Gaza, Biarkan Palestina Merdeka!.

Berikut ini foto-fotonya:


Foto 1: Prepare Kapal


Foto 2: Pelepasan Armada Kebebasan di Turki


Foto 3: Puluhan Ribu Massa Melepas Armada Kebebasan di Turki


Foto 4: Pelepasan Merpati saat Pemberangkatan Armada Kebebasan sebagai simbol kebebasan Gaza dari blokade Israel


Foto 5: Tim reporter siap mengambil gambar Armada Kebebasan dari udara


Foto 7: Armada Kebebasan berangkat menuju Gaza


Foto 7: Armada Kebebasan berlayar mengarungi lautan


Foto 8: Kapal-kapal Armada Kebebasan menuju Gaza


Foto 9: Nelayan Palestina menyambut gembira Armada Kebebasan


Foto 10: Kapal-kapal perang Israel mulai mendekati Armada Kebebasan
10:00 | 19 komentar

Petunjuk Rasulullah dalam Muamalah

Written By Admin BeDa on Sabtu, 29 Mei 2010 | 14:00


Rasulullah SAW adalah orang yang paling bagus dalam melakukan muamalah (hubungan sosial) dengan orang lain. Apabila meminjam sesuatu (berhutang), beliau membayarnya dengan yang lebih baik daripadanya. Apabila meminjam dari seseorang suatu pinjaman beliau membayarnya dan mendoakannya dengan ucapan,

بَارَكَ اللَّهُ لَكَ فِي أَهْلِكَ وَمَالِكَ إِنَّمَا جَزَاءُ السَّلَفِ الْحَمْدُ وَالْأَدَاءُ

Semoga Allah memberikan keberkahan padamu dalam keluargamu dan harta bendamu. Balasan dari pinjaman itu adalah pujian dan pelunasan. (HR. Ahmad, Ibnu Majah dan An-Nasa'i)

Beliau pernah meminjam empat puluh sha' gandum dari seseorang. Kebetulan pada waktu itu, tiba-tiba seorang Anshar tersebut sangat membutuhkan, maka ia pun datang kepada beliau. Beliau lalu berkata, "Belum ada sesuatu pun yang datang kepada kami."

Orang itu hendak berkata, tetapi belum sempat terucap, Rasulullah telah bersabda, "Jangan katakan kecuali kebaikan, aku adalah sebaik-baik orang yang meminjam." Maka beliau pun lalu memberinya empat puluh sha' sebagai pemberian dan empat puluh sha' sebagai pelunasan, sehingga secara keseluruhan beliau memberi delapan puluh sha'. Ini diceritakan oleh Al-bazzar.

Beliau juga pernah meminjam onta, lalu pemiliknya datang untuk menagih dan mengeluarkan kata-kata kasar kepada Nabi SAW. Kejadian itu diketahui oleh para sahabat, sehingga mereka ingin memukul orang tersebut. Tetapi beliau mengatakan, "Biarkan dia, karena si pemilik hak itu berhak untuk berbicara." (HR. Bukhari dan Muslim)

Suatu kali beliau membeli sesuatu, namun ternyata beliau tidak membawa uang sebagai harganya. Lalu, beliau mendapatkan keuntungan dari barang tersebut, dan kemudian menjualnya. Keuntungan dari barang tersebut lalu beliau shadaqahkan kepada para janda Bani Abdul Muthalib. Beliau bersabda, "Aku tidak akan membeli sesuatu sesudah itu kecuali aku membawa harganya." Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Dawud. Cara ini tidak bertentangan dengan pembelian sistem hutang sampai waktu tertentu. Keduanya merupakan dua masalah yang berbeda.

Suatu hari kreditornya menagih hutang pada beliau dan mengucapkan kata-kata kasar yang diketahui oleh Umar. Umar hendak memukulnya. Tetapi beliau menegurnya, "Tenang wahai Umar, aku lebih butuh untuk engkau suruh melunasi dan dia lebih butuh untuk engkau suruh bersabar." (HR. Hakim)

Suatu kali seorang Yahudi menjual barang kepada beliau secara tempo. Tetapi ia datang kepada beliau sebelum jatuh temponya untuk menagih. Beliau berkata, "belum jatuh temponya." Orang Yahudi itu berkata, "Kalian benar-benar suka menunda-nunda wahai Bani Abdul Muthalib!" Hal itu diketahui para sahabat, sehingga mereka hendak menyakitinya, tetapi beliau mencegah mereka. Ternyata hal itu tidaklah menambahkan kepada beliau kecuali sikap santun.

Maka orang Yahudi itu pun berkata, "Setiap hal telah aku ketahui darinya merupakan tanda-tanda kenabian, dan hanya ada satu yang tersisa yaitu tidaklah kekerasan orang-orang bodoh menambahkan kepadanya kecuali sikap santun, sehingga aku ingin mengetahuinya." Maka orang yahudi itu pun menyatakan memeluk Islam. Subhaanallah... [Sumber: Zaadul Ma'ad karya Ibnul Qayyim Al-Jauziyah]
14:00 | 8 komentar

Laa Yukallifullaahu Nafsan Illaa Wus’ahaa


Kita biasanya menggunakan ayat ini untuk melindungi diri dari ketidakmauan atas nama ketidakmampuan. Atau dari lemahnya ghirah atas nama keterbatasan. Dalam mukhayam ini juga bisa terjadi. Disuruh push up sekian kali, sudah tidak kuat. Disuruh sit up sekian kali, tidak mampu lagi.

Penggunaan ayat ini juga pernah menjadi cerita tersendiri dalam aktifitas jihad. Saat itu Syaikh Abdullah Azzam tengah melatih mujahidin Afghan. Para mujahidin disuruh berlari sekian kali mengelilingi lapangan. Belum selesai target itu tercapai, ada yang berhenti seraya mengatakan: ”Laa yukallifullaahu nafsan illaa wus’ahaa...”

Tidak berapa lama kemudian ada lagi yang berhenti dengan mengucapkan ayat yang sama: ”Laa yukallifullaahu nafsan illaa wus’ahaa...” Disusul peserta berikutnya ”Laa yukallifullaahu nafsan illaa wus’ahaa...”

Melihat kondisi itu, Syaikh Abdullah Azzam berlari mengelilingi lapangan. Sepuluh kali... dua puluh kali... para mujahidin heran. ”Mendapat energi dari mana syaikh kita ini?” begitu mungkin pikir mereka. Sampai pada putaran kesekian yang sudah di luar ambang pikiran mereka. Syaikh Abdullah Azzam terus berlari... sampai kemudian ia berhenti karena pingsan. Setelah sadar beliau mengatakan: ”Kalau sudah begini, barulah ’Laa yukallifullaahu nafsan illaa wus’ahaa...’

Subhaanallah... itulah seorang pembangkit jihad di abad modern. Ia tidak hanya alim dalam menafsirkan ayat-ayat jihad dan menggelorakan semangat melalui bukunya Tarbiyah Jihadiyah, tetapi juga membawa pemahaman ilmunya dalam dunia nyata.

Tentu pembatasan kemampuan dengan membawa ayat ini sebagai alasan tidak hanya terjadi di lapangan mukhayam dan medan jihad. Jika kita mau jujur, seringkali kita juga menggunakannya dalam berbagai kesempatan.

Seorang ADK pernah ketika forum bersama menjelaskan bahwa rekrutmen yang dilakukan sangat jauh dari target yang direncanakan. Mengakhiri laporannya, ia memakai alasan yang sama ”Laa yukallifullaahu nafsan illaa wus’ahaa...”

Mungkin juga terjadi, seorang karyawan tidak menyelesaikan pekerjaannya kemudian berdalih ”Laa yukallifullaahu nafsan illaa wus’ahaa...”

Atau seorang pemimpin yang gagal membawa kemajuan bagi organisasinya. Ia pun berujar ”Laa yukallifullaahu nafsan illaa wus’ahaa...”

Atau seorang suami yang bahkan tidak memenuhi kewajibannya sebagai pemimpin rumah tangga dan melupakan hak anaknya. Ia berargumen ”Laa yukallifullaahu nafsan illaa wus’ahaa...”

Ayat yang benar. Pemaknaannya yang perlu diluruskan. Memang berat bersikap seperti Syaikh Abdullah Azzam. Namun kita tetap perlu berusaha, setidaknya... mendekatinya. [Muchlisin]
08:00 | 2 komentar

Pengertian Najis

Written By Admin BeDa on Jumat, 28 Mei 2010 | 14:00


Setelah membahas Jenis-jenis Air dan As-Su'ar (Sisa Minuman), rubrik fiqih yang masih berada dalam Bab Thaharah ini membahas tentang Najis. Bahasan ini diawali dengan Pengertian Najis atau Definisi Najis.

Pengertian/Definisi Najis
Najis adalah kotoran yang setiap muslim wajib untuk menyucikan diri darinya dan menyucikan setiap sesuatu yang terkena kotoran najis tersebut. Sebagaimana firman Allah SWT :

وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ

Dan pakaianmu, bersihkanlah! (QS. Al-Muddatstsir : 4)

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ

...Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri. (QS. Al-Baqarah : 222)

Rasulullah SAW bersabda:

الطُّهُورُ شَطْرُ الإِيمَانِ

Bersuci itu sebagian dari iman (HR. Muslim dan Ahmad)

[Sumber: Fiqih Sunnah karya Sayyid Sabiq]
14:00 | 6 komentar

Tarbiyah Meniscayakan Keseimbangan


Pagi ini adalah pagi yang berbeda. Sangat berbeda. Jika biasanya.kami menghirup udara yang kotor oleh polusi, pagi ini kami merasakan nikmatnya udara yang benar-benar bersih; tanpa pencemaran, tanpa asap kendaraan.

Jika biasanya mata kami lelah oleh berbagai obyek dengan berbagai gerak dan beragam warna, pagi ini kami merasakan mata ini beristirahat damai dalam hijaunya pepohonan, rerumputan dan beberapa bunga. Jika biasanya pandangan kami terbatasi oleh atap dan dinding, pagi ini tidak ada yang membatasi antara pandangan mata kami dengan birunya langit, selain burung-burung yang sesekali terbang atau arak-arakan awan… Ya, kami kini sedang di hutan. Mukhayam.

Mukhayam adalah istilah yang tidak asing bagi kader dakwah. Ia memiliki kekhasan tersendiri dibandingkan dengan berbagai wasail tarbiyah yang lain. Karenanya, ia juga menjadi momen paling berkesan dan sulit untuk dilupakan.

Jika manusia terdiri atas tiga unsur –ruh, akal, dan jasad- maka tarbiyah yang paling ideal bagi manusia meniscayakan perhatian pada ketiganya. Tarbiyah meniscayakan keseimbangan. Sebagaimana Islam juga menaruh keseimbangan padanya. Bukankah tarbiyah memang bersumber dari Islam, maka dari mata air itu akan mengalir air yang sama.

Tentang ruh atau jiwa, lihatlah betapa Al-Qur’an memerintahkan sejak awal kenabian agar manusia membersihkan jiwanya. Bahwa manusia menjadi tidak berarti sama sekali kecuali dengan ruh yang suci. Manusia tidak lebih mulia dari makhluk lainnya kecuali jika memiliki hati yang bersih. Maka shalat malam, tilawah, dan berdzikir yang disebutkan dalam QS. Al-Muzammil merupakan bagian dari tarbiyah ruhiyah.

Tentang akal, bahkan sejak wahyu pertama telah mengandung perhatian besar pada aspek ini. Iqra’! Lalu lihatlah betapa banyak Al-Qur’an dalam ayat-ayat lainnya mengungkapkan ”afalaa ta’qiluun”, ”afalaa tatafakkaruun”, ”liqaumi yatafakkaruun”, li ulil albaab”, dan ”li ulin nuhaa”. Generasi sahabat selain memiliki jiwa yang bersih, mereka juga menjadi manusia-manusia pemikir yang luar biasa. Memaksimalkan potensi akalnya. Sejarah pun dipenuhi dengan maqalah-maqalah mereka. Sejarah juga dihiasi dengan berbagai karya mereka dalam banyak bidang; mulai dari pemimpin yang visoner dan bijaksana, diplomat ulung, pebisnis hebat, sampai ahli strategi perang. Yang disebut terakhir ini memiliki irisan yang besar dengan aspek ketiga, fisik. Sebab ahli strategi perang seperti Khalid bukan hanya merencanakan peperangan dari balik meja, namun sekaligus meminpin di medan tempur dengan hebatnya.

Lalu yang ketiga, fisik, juga demikian diperhatikan oleh Islam. Inilah mengapa Al-Qur’an mengisahkan pemimpin hebat bernama Jalut yang dipilih Allah karena memenuhi dua kriteria. Salah satunya adalah fisik yang kuat. Tentu ini bukan semata harus dimiliki pemimpin. Setiap orang, yang hakikatnya adalah pemimpin (kullukum raa’in), juga harus memperhatikan kekuatan fisiknya. Bukankah banyak ibadah dalam Islam yang membutuhkan fisik yang sehat. Mulai dari shalat sampai haji, semuanya perlu kekuatan fisik ini. Apalagi jika bicara amal puncak dalam Islam, jihad fi sabilillah, fisik menjadi syarat mutlak untuk bisa menunaikannya.

Jika tarbiyah ruhiyah kita di-up grade melalui mabit, halaqah, dan beberapa wasail tarbiyah yang lain. Lalu tarbiyah fikriyah kita di-up grade melalui tatsqif, daurah, dan wasail tarbiyah sejenis. Maka tarbiyah jasadiyah kita, selain dijaga dengan riyadhah rutin, ia juga di-up grade dengan mukhayam. Semoga Allah senantiasa menjaga kita untuk tetap menjaga keseimbangan yang menjadi keniscayaan dalam tarbiyah dan Islam itu sendiri. [Muchlisin]
08:00 | 1 komentar

Khutbah Jum'at: Kedudukan Shalat dalam Islam

Written By Admin BeDa on Kamis, 27 Mei 2010 | 14:00


Perhatikanlah rekan-rekan kita di kantor atau teman-teman di kampus. Ternyata ada sebagian muslim yang demikian mudah meninggalkan shalat. Tanpa merasa bersalah, mereka santai-santai saja saat adzan berkumandang, asyik dengan aktifitasnya hingga waktu shalat berikutnya tiba. Saat kita mengajaknya shalat kadang mereka menjawab "Silahkan duluan saja..." Lebih parahnya jika jawabannya: "Saya titip salam saja ya."

Bisa jadi itu karena mereka tidak memahami kedudukan shalat dalam Islam. Karenanya Khutbah Jum'at Terbaru ini berusaha membahas kedudukan shalat dalam Islam. Di samping untuk mengingatkan mereka yang sering meninggalkan shalat, tema ini juga dibutuhkan untuk menguatkan kita agar istiqamah. Dengan demikian, tema Khutbah Jum'at edisi 14 Jumadil Tsani 1431 H yang bertepatan dengan 28 Mei 2010 M ini adalah: Kedudukan Shalat dalam Islam.

KHUTBAH PERTAMA

إنَّ الحَمْدَ لله، نَحْمَدُه، ونستعينُه، ونستغفرُهُ، ونعوذُ به مِن شُرُورِ أنفُسِنَا، وَمِنْ سيئاتِ أعْمَالِنا، مَنْ يَهْدِه الله فَلا مُضِلَّ لَهُ، ومن يُضْلِلْ، فَلا هَادِي لَهُ.
وأَشْهَدُ أنْ لا إلَهَ إلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، وأشهدُ أنَّ مُحَمَّدًا عبْدُه ورَسُولُه.
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

Jamaah Jum’at yang dirahmati Allah,
Segala puji bagi Allah yang senantiasa melimpahkan karunianya kepada kita. Segala puji hanya milik-Nya yang telah menganugerahkan kenikmatan yang tak terhitung bagi kita semua. Dan diantara semua kenikmatan itu, nikmat Islam dan Iman adalah yang paling utama. Dengan nikmat itu, nikmat yang lain menjadi bernilai di hadapan Allah. Atas dasar nikmat itu, nikmat yang lain menjadi berharga di sisi Allah. Hanya dengan adanya nikmat itu, nikmat yang lain bermakna bagi kita, dalam pandangan Allah SWT.

Shalawat dan salam atas junjungan dan suri teladan kita, Muhammad Rasulullah SAW. Beliaulah yang dengan gigih dan tanpa takut resiko, mendakwahi umatnya kepada jalan keselamatan. Beliaulah yang dengan penuh kasih sayang, mengajarkan Al-Qur'an dan hikmah kepada umatnya. Beliaulah yang tidak pernah surut langkahnya dalam menghadapi berbagai bahaya, asalkan petunjuk Allah SWT bisa diikuti oleh umat manusia.

Jamaah Jum’at yang dirahmati Allah,
Shalat dalam Islam menempati kedudukan yang sangat tinggi. Ia merupakan tiang agama, di mana Islam tidak dapat berdiri kokoh melainkan dengannya. Rasulullah SAW bersabda:

رَأْسُ الأَمْرِ الإِسْلاَمُ وَعَمُودُهُ الصَّلاَةُ وَذِرْوَةُ سَنَامِهِ الْجِهَادُ

Kepala setiap urusan ialah Islam, sedangkan tiangnya adalah shalat dan puncaknya adalah jihad fi sabilillah. (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah, shahih menurut Al-Albani)

Ia adalah ibadah pertama yang diwajibkan oleh Allah Azza wa Jalla yang perintahnya secara langsung disampaikan Allah tanpa perantara, yaitu pada malam Mi'raj.

فُرِضَتْ عَلَى النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- لَيْلَةَ أُسْرِىَ بِهِ الصَّلَوَاتُ خَمْسِينَ ثُمَّ نُقِصَتْ حَتَّى جُعِلَتْ خَمْسًا ثُمَّ نُودِىَ يَا مُحَمَّدُ إِنَّهُ لاَ يُبَدَّلُ الْقَوْلُ لَدَىَّ وَإِنَّ لَكَ بِهَذِهِ الْخَمْسِ خَمْسِينَ

Shalat difardhukan atas Nabi SAW pada malam ia di-isra'-kan sebanyak lima puluh kali. Kemudian Allah memanggil Muhammad, 'hai Muhammad! Ia sudah tidak dapat diubah lagi. Dengan shalat lima waktu ini, engkau tetap mendapat pahala sebanyak lima puluh kali. (HR. Tirmidzi, Nasa'i dan Ahmad)

Ia juga merupakan amal hamba yang pertama kali dihisab. Rasulullah SAW bersabda:

إن أول ما يحاسب به العبد صلاته فإن صلحت صلح سائر عمله وإن فسدت فسد سائر عمله

Amal yang akan dihisab pertama kali dari seorang hamba pada hari kiamat adalah shalat. Jika baik shalatnya, baik pula seluruh amalnya. Jika buruk shalatnya, buruk pula seluruh amalnya. (HR. Tirmidzi)

Shalat adalah wasiat terakhir yang diamanahkan Rasulullah SAW kepada umatnya ketika beliau hendak wafat. Saat-saat beliau hendak menghembuskan nafas yang terakhir beliau berwasiat:

الصَّلاَةَ الصَّلاَةَ اتَّقُوا اللَّهَ فِيمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ

Jagalah shalat! Shalat……! Begitu pula hamba sahayamu (HR. Abu Dawud, shahih menurut Al-Albani)

Shalat juga merupakan pokok ajaran Islam. Jika ia hilang, maka hilanglah agama secara keseluruhannya. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW:

لَتُنْقَضَنَّ عُرَى الإِِسْلاَمِ عُرْوَةً عُرْوَةً ، فَكُلَّمَا انْتَقَضَتْ عُرْوَةٌ تَشَبَّثَ النَّاسُ بِالَّتِي تَلِيهَا ، وَأَوَّلُهُنَّ نَقْضًا الْحُكْمُ وَآخِرُهُنَّ الصَّلاَةُ

Sesungguhnya, ikatan Islam akan terurai satu demi satu. Setiap kali ikatan Islam terurai, orang-orang pun bergantung kepada ikatan berikutnya. Ikatan pertama adalah menegakkan hukum, sedangkan ikatan yang terakhir adalah shalat (HR. Ahmad, Hakim dan Ibnu Hibban)

Shalat juga merupakan batas yang memisahkan antara orang mukmin dan orang kafir. Rasulullah SAW bersabda:

الْعَهْدَ الَّذِي بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمْ الصَّلَاةُ فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ

Perbedaan antara kami dan mereka adalah shalat. Oleh sebab itu, barangsiapa meninggalkannya, berarti ia telah kafir. (HR. Ahmad dan Ashhabul Sunan)

بَيْنَ الْعَبْدِ وَبَيْنَ الْكُفْرِ تَرْكُ الصَّلاَةِ

Batas antara seseorang dan kekafiran itu adalah meninggalkan shalat. (HR. Tirmidzi, Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Ahmad)

Dengan kedudukan yang demikian tinggi, maka sungguh celaka jika kita meninggalkan shalat. Sungguh kerugian yang tiada taranya jika kita lalai dengan shalat. Sungguh akan menjadi penyesalan yang tiada bandingnya di akhirat nanti jika kita mengaku muslim tetapi masih suka melewatkan shalat.

وقل رب اغفر وارحم و انت خير الراحمين

KHUTBAH KEDUA

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ
أَشْهَدُ أنْ لا إلَهَ إلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، وأشهدُ أنَّ مُحَمَّدًا عبْدُه ورَسُولُه.
{ يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ } [آل عمران: 102]
{ يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلا سَدِيدًا * يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا } [الأحزاب: 70، 71].

Jama'ah jum'at yang dirahmati Allah,
Selain dua hadits terakhir dalam khutbah pertama tadi, banyak hadits lain yang mendukung bahwa hukum meninggalkan shalat adalah kafir. Apalagi jika mengingkari sama sekali kewajiban shalat itu.

Hadits lain yang mendukung itu adalah riwayat Tirmidzi dan Hakim yang menyatakan sahih dengan syarat Bukhari dan Muslim:

لاَ يَرَوْنَ شَيْئًا مِنَ الأَعْمَالِ تَرْكُهُ كُفْرٌ غَيْرَ الصَّلاَةِ

Tidak ada satu amalan pun yang dipandang oleh para sahabat Nabi Muhammad SAW bahwa jika meninggalkannya dapat membawa kepada kekafiran kecuali shalat.

Maka marilah kita berhati-hati untuk tidak pernah meninggalkan shalat, dan memohon kepada Allah agar kita dianugerahi istiqamah.

اللَّهُمَّ صَلِّ وسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ وسَلّمْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، فِي العَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنْ خُلَفَائِهِ الرَّاشِدِيْنَ، وَعَنْ أَزْوَاجِهِ أُمَّهَاتِ المُؤْمِنِيْنَ، وَعَنْ سَائِرِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعِيْنَ، وَعَنْ المُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِنَاتِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَعَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اللَّهُمَّ اجْعَلْ جَمْعَنَا هَذَا جَمْعًا مَرْحُوْمًا، وَاجْعَلْ تَفَرُّقَنَا مِنْ بَعْدِهِ تَفَرُّقًا مَعْصُوْمًا، وَلا تَدَعْ فِيْنَا وَلا مَعَنَا شَقِيًّا وَلا مَحْرُوْمًا.
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالعَفَافَ وَالغِنَى.

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ أَنْ تَرْزُقَ كُلاًّ مِنَّا لِسَانًا صَادِقًا ذَاكِرًا، وَقَلْبًا خَاشِعًا مُنِيْبًا، وَعَمَلاً صَالِحًا زَاكِيًا، وَعِلْمًا نَافِعًا رَافِعًا، وَإِيْمَانًا رَاسِخًا ثَابِتًا، وَيَقِيْنًا صَادِقًا خَالِصًا، وَرِزْقًا حَلاَلاًَ طَيِّبًا وَاسِعًا، يَا ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ.
اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَوَحِّدِ اللَّهُمَّ صُفُوْفَهُمْ، وَأَجْمِعْ كَلِمَتَهُمْ عَلَى الحَقِّ، وَاكْسِرْ شَوْكَةَ الظَّالِمِينَ، وَاكْتُبِ السَّلاَمَ وَالأَمْنَ لِعِبادِكَ أَجْمَعِينَ.

اللَّهُمَّ رَبَّنَا احْفَظْ أَوْطَانَنَا وَأَعِزَّ سُلْطَانَنَا وَأَيِّدْهُ بِالْحَقِّ وَأَيِّدْ بِهِ الْحَقَّ يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ.
اللَّهُمَّ رَبَّنَا اسْقِنَا مِنْ فَيْضِكَ الْمِدْرَارِ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الذَّاكِرِيْنَ لَكَ في اللَيْلِ وَالنَّهَارِ، الْمُسْتَغْفِرِيْنَ لَكَ بِالْعَشِيِّ وَالأَسْحَارِ.

اللَّهُمَّ أَنْزِلْ عَلَيْنَا مِنْ بَرَكَاتِ السَّمَاء وَأَخْرِجْ لَنَا مِنْ خَيْرَاتِ الأَرْضِ، وَبَارِكْ لَنَا في ثِمَارِنَا وَزُرُوْعِنَا وكُلِّ أَرزَاقِنَا يَا ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ.
رَبَّنَا آتِنَا في الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
رَبَّنَا لا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا، وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً، إِنَّكَ أَنْتَ الوَهَّابُ.
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الخَاسِرِيْنَ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدُّعَاءِ.

عِبَادَ اللهِ :إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي القُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ

[Khutbah Jum'at edisi 14 Jumadil Akhir 1431 H, 28 Mei 2010 M; Bersama Dakwah]
14:00 | 6 komentar

F-16 Israel Lukai 15 Warga Gaza, Liga Arab Mengecam


Belum lama setelah Israel berjanji menghadang Armada Kebebasan yang membawa bantuan ke Gaza, pesawat-pesawat F-16 Israel beraksi. Rabu (26/05) dini hari sejumlah pesawat F-16 itu meluncurkan rudal-rudalnya ke Gaza. Bandar udara Gaza dan pos pelatihan Al-Qassam di utara Jalur Gaza menjadi sasaran. Seorang personel Al-Qassam dan seorang polisi mengalami luka

Pesawat-pesawat itu juga memuntahkan peluru di Bethanon utara Jalur Gaza. Akibat serangan ini 15 warga sipil Gaza terluka. Tim evakuasi mengecam tindakan Israel membidik dan mentargetkan sipil Palestina. “Ini pelanggaran terhadap undang-undang internasional,” kata tim evakuasi.

Bahkan, pada pagi harinya pasukan Israel melepaskan tembakan ke arah beberapa petani Palestina yang sedang mengerjakan tanah mereka di bagian utara Jalur Gaza dan melukai dua orang.

Menyusul serangan ini, Liga Arab pun mengecam Israel. Menurut asisten Sekjen Liga Arab Ahmad bin Halli, serangan tersebut membuktikan bahwa pemerintah Israel tak ingin mengupayakan perdamaian. "Lembaga pan-Arab menyesalkan agresi Israel sehingga menewaskan dan melukai beberapa orang," kata Ahmad dalam pernyataannya.

"Tindakan Israel semacam itu mengakibatkan ketegangan di wilayah ini kendati ada upaya AS untuk menyelenggarakan pembicaraan tak langsung Palestina-Israel," tambahnya.[AN]
10:00 | 2 komentar

Risalah Umum dalam Kitab Allah (1)

Written By Admin BeDa on Rabu, 26 Mei 2010 | 11:00


Setelah selesai tema Hak-hak Uluhiyah dalam Al-Qur'an, Hasan Al-Banna melanjutkan Haditsu Tsulatsa dengan tema Risalah Umum dalam Kitab Allah. Sebelumnya, Ceramah Hasan Al-Banna telah membahas beberapa tema, yaitu:
1. Wasiatku Kepada Kalian, Wahai Ikhwan
2. Kewajiban Kita terhadap Al-Qur'an
3. Manusia dalam Al-Qur'an
4. Wanita dalam Al-Qur'an
5. Alam Semesta dalam Al-Qur'an
6. Alam Metafisik dalam Al-Qur'an
Selamat membaca.
***

Kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah SWT. Kita ucapkan shalawat dan salam untuk junjungan kita Nabi Muhammad, segenap keluarga dan sahabatnya, serta siapa saja yang menyerukan dakwahnya hingga hari kiamat.

Assalamu 'alaikum wa rahmatullah wa barakatuh.

Ikhwan yang mulia, tema pembicaraan kita pada malam hari ini adalah risalah-risalah umum dalam kitab Allah SWT. Tema ini merupakan serial yang memiliki beberapa rangkaian. Saya memohon kepada Allah SWT. agar kiranya bisa melakukan pembicaraan dan kajian mengenainya. Karena dalam kajian-kajian ini saya berprinsip untuk tidak bertele-tele dalam pembahasan, hanya membahas permasalahan- permasalahan pokok, dan memberikan pengarahan-pengarahan mendasar saja kepada para Ikhwan guna memahami kitab Rabb kita. Demikianlah, saya berharap semoga saya diberi taufiq oleh Allah SWT untuk membatasi gambaran mendasar mengenai risalah-risalah umum dalam kitab-Nya.

Ikhwan sekalian, Al-Qur'anul Karim adalah kitab yang membawa risalah. Bahkan, ia adalah risalah itu sendiri. Allah SWT berfirman,

Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayat dan supaya orang- orang yang mempunyai pikiran mendapatkan pelajaran.
(QS. Shad: 29)

Jelas, Al-Qur'an telah memaparkan contoh-contoh mengenai risalah para rasul terdahulu, karena ia datang untuk membenarkannya dan mengakui banyak di antara hukum-hukumnya. Bahkan dalam masalah- masalah Islam yang prinsipil dan mendasar, ia sama dengan risalah- risalah para nabi sebelumnya. Allah SWT berfirman,

Dan Kami telah menurunkan Al-Qur'an kepadamu dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. (QS. Al-Maidah: 48)

Di ayat lain Allah SWT berfirman,

Dia menurunkan Al-Kitab (Al- Qur'an) kepadamu dengan sebenarnya; membenarkan kitab yang telah diturunkan sebelumnya dan menurunkan Taurat dan Injil; sebelum (Al-Qur'an), menjadi petunjuk bagi manusia dan Dia menurunkan Al-Furqan. (QS. Ali Imran: 3-4)

Jadi, kitab Allah SWT membenarkan risalah-risalah yang turun sebelumnya. Tidak diragukan bahwa dikemukakannya risalah-risalah tersebut bertujuan untuk dijadikan sebagai pelajaran yang bermanfaat bagi manusia dan peringatan bagi mereka tentang prinsip-prinsip risalah mereka sendiri. Ikhwan sekalian, inilah salah satu faktor mengapa Al- Qur'anul Karim juga mengemukakan risalah-risalah terdahulu.

Dari sudut pandang lain, Ikhwan sekalian, kita bisa melihat bahwa misi-misi spiritual yang bersifat umum adalah misi yang menimbulkan pengaruh paling kuat pada kebangkitan bangsa-bangsa terdahulu. Tidak ada satu umat pun yang mengalami perubahan dari satu kehidupan ke kehidupan yang lain, dari satu keadaan ke keadaan lain, kecuali hal itu disebabkan oleh misi spiritual yang berhubungan dengan hati dan jiwa manusia yang mempengaruhi hati dan jiwa mereka. Jika demikian, sebenarnya jasmani, kekuatan, dan potensi yang dimiliki manusia tidak lain diarahkan untuk mewujudkan kekuatan-kekuatan spiritual yang mereka yakini. Hanya misi-misi spiritual inilah yang telah mengubah wajah sejarah dalam kehidupan berbagai macam bangsa, bukan perbaikian-perbaikan administratif, bukan teori-teori filsafat.

Hakikat-hakikat dan produk-produk ilmiah saja juga tidak mengubah kondisi bangsa-bangsa dan tidak menjadi sarana kebangkitannya, namun misi spirituallah sesungguhnya yang membawa suatu bangsa dari satu kondisi kepada kondisi yang lain, dari satu keadaan kepada keadaan yang lain, dan dari satu kehidupan kepada kehidupan yang lain. Karena itu, risalah ketuhanan adalah misi kemanusiaan yang paling nyata dalam membangun kebangkitan bangsa-bangsa. Ikhwan tercinta. Dalam kehidupannya, manusia berjalan dengan diterangi oleh cahaya akal dan ruh. Cahaya ini sendiri sangat terbatas dan lemah, tidak mengetahui semua hakikat. Jika ia bisa mengetahui sebagian dari hakikat-hakikat itu, ia tetap tidak bisa mengetahui seluruh spesifikasinya. Selain itu ia sangat terbatas, dalam artian tidak bisa menilai secara benar hakikat segala sesuatu, khususnya bila sesuatu itu jauh dari dirinya. Karena itu, merupakan rahmat Allah SWT bahwa Dia membantu akal ini dengan wahyu, nabi, dan risalah. Secara silih berganti wahyu turun dan para rasul membawa pelita kepada umat manusia untuk mengantarkan mereka dari satu fase ke fase yang lain dengan bimbingan, petunjuk, dan taufiq yang terjaga dari kesalahan. Selain itu, risalah ketuhanan memiliki keistimewaannya dengan dua hal,

Pertama, ia mempunyai pengaruh lebih mendalam pada jiwa manusia dan lainnya.
Kedua, ia terjaga dari kesalahan, karena wahyu dari Allah Yang Maha Mengetahui dan Mahaahli, bukan berasal dari karya akal manusia yang terbatas. Karena itu, ia merupakan rahmat dari Allah swt. kepada akal manusia.

Wahai Akhi, sekarang, setelah pengantar ini, kita melontarkan suatu pertanyaan, “Apakah risalah atau misi umum yang dibawa oleh Al-Qur'anul Karim itu?" Jika Anda ingin mengetahui risalah-risalah ini, maka Anda harus mengenal mereka yang telah mengembannya selama ini. Orang-orang yang mengemban risalah-risalah ini adalah para nabi dan rasul Allah SWT yang diutus kepada umat manusia. Dalam Al-Qur'anul Karim sering disebutkan 25 nama para rasul. Allah SWT telah berkisah tentang sebagian dari risalah ini dan menyimpan sebagian lainnya. Allah SWT berfirman,

Di antara mereka ada yang Kami ceritakan kepadamu dan di antara mereka ada (pula) yang tidak Kami ceritakan kepadamu.
(QS. Ghafir: 78)

Delapan belas rasul di antara mereka disebutkan oleh. Allah dalam surat Al-An'am, dalam firman-Nya berikut:

Dan itulah hujah Kami yang Kami berikan kepada Ibrahim untuk menghadapi kaumnya. Kami tinggikan siapa yang Kami kehendaki beberapa derajat. Sesungguhnya Tuhanmu Maha-bijaksana lagi Maha Mengetahui. Dan Kami telah menganugerahkan Ishaq dan Ya'qub kepadanya. Kepada keduanya masing-masing telah Kami beri petunjuk; dan kepada Nuh sebelum itu (juga) telah Kami beri petunjuk, dan ke- pada sebagian dari keturunannya, yaitu Daud, Sulaiman, Ayyub, Yusuf, Musa, dan Harun. Demikianlah Kami memberikan balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Dan Zakaria, Yahya, Isa, dan Ilyas, semuanya termasuk orang-orang yang shalih.Dan Ismail, Alyasa', Yunus, dan Luth, masing-masingnya Kami lebihkan derajatnya di atas umat (di masanya). (QS. Al-An'am: 83-86)

Dalam ayat lain, Al-Qur'anul Karim menyebutkan pula nama para nabi dan rasul lain seperti Hud, Shalih, Syu'aib, Dzulkifli, Idris, dan penutup para nabi, Muhammad SAW.

Ikhwan yang mulia, di antara kelebihan risalah rabbaniyah ini adalah, padanya terkandung unsur-unsur pilihan dari Allah SWT. Rasulullah adalah orang pilihan Allah SWT untuk mengemban risalah. Seorang rasul adalah pilihan dari sisi Allah, yang disumpah oleh Allah secara khusus, dibimbing dengan penglihatan-Nya, ditumbuhkan di bawah lindungan dan perhatian-Nya sejak sebelum dilahir-kan sampai ia diutus kepada seluruh umat manusia.

Allah memilih utusan-utusan-Nya dari malaikat dan dari manusia.(QS. Al-Hajj: 75)

Allah lebih mengetahui di mana Dia menempatkan tugas kerasulan. (QS. Al-An'am: 124)

Setelah itu, wahai Akhi, ia mendapat petunjuk, dan langkah- langkahnya dibimbing oleh Allah SWT. Untuk memahami hakikat risalah ini, Anda harus melihat empat persoalan pokok:
(1) karakter risalah, (2) kepribadian dan hakikat rasul, (3) sikap dan karakter kaum yang kepada mereka rasul tersebut diutus, (4) sarana yang digunakan oleh rasul ini untuk membela risalahnya.

Jika Anda melaksanakan hal ini, wahai Akhi, Anda akan bisa menghasilkan sebuah skema yang hampir mendekati kesempurnaan. Jika Anda menggunakan pandangan semacam ini dalam klasifikasi risa- lah yang disebutkan oleh Al-Qur'anul Karim, Anda akan mengetahui bahwa ada risalah-risalah yang dikemukakan oleh kitab Allah secara luas dan panjang lebar, tentang keempat aspek ini secara keseluruhan dengan banyak perincian, namun ada pula di antaranya yang disebutkan secara sepintas lalu saja. Dalam hal ini terlihat pula bahwa ada risalah- risalah abadi yang mempunyai pengaruh besar dan ada pula risalah- risalah yang pengaruhnya sudah berakhir, sehingga Al-Qur'an hanya menyebutkan beberapa aspek khusus mengenainya sebagai kenangan.

Di antara risalah-risalah yang besar, wahai Akhi, adalah risalah Nuh, Ibrahim, Musa, Isa
'alaihimus salam, dan risalah Sayidina Muhammad SAW yang merupakan risalah paling agung. Risalah-risalah besar ini telah dikemukakan oleh Al-Qur'an, terkadang dengan panjang lebar, di saat lain dengan singkat. Adapun risalah-risalah lain dikemukakan oleh Al-Qur'an dengan kadar yang berbeda-beda, ada yang secara ringkas dan ada yang secara luas, ada yang dijelaskan satu aspeknya saja, tetapi ada pula yang banyak aspeknya dijelaskan.

Disebutkannya risalah-risalah besar ini, dengan pembahasan yang jelas dan lengkap, mengandung hikmah: di antaranya bahwa risalah Sayidina Nuh as. adalah risalah pertama yang diikuti penempatan manusia setelah sebuah peristiwa alam yang besar; risalah Sayidina Ibrahim as. datang setelah kedatangan beberapa risalah lain pasca risalah Sayidina Nuh as. dan bahwa risalah ini menegaskan tauhid yang merupakan pokok lagi abadi dari pohon risalah yang memiliki cabang-cabang yang banyak. Kemudian datanglah risalah Sayidina Musa as. kepada sebuah bangsa pilihan yang Allah SWT telah mengetahui bahwa bangsa tersebut akan memainkan peran penting di alam ini dan peran tersebut mempunyai pengaruh besar dalam mengarahkan bangsa ini. Adapun risalah Sayidina Isa as. datang, sedangkan Allah SWT telah mengetahui bahwa risalah ini akan mempunyai pengaruh besar dalam pengkondisian bangsa-bangsa. Karena risalah penutup para nabi dan rasul, Sayidina Muhammad SAW, adalah risalah paling besar dan paling akhir, yang dikehendaki oleh Allah SWT agar menjadi penutup seluruh risalah, menjadi perpaduan dari keutamaan-keutamaannya dan dari kebaikan pengaruh-pengaruhnya; dan karena Al-Qur'anul Karim adalah kitab dari risalah abadi ini, maka wajar saja, wahai Akhi, jika ia dijelaskan dan diuraikan secara rinci, luas, dan memadai. Bersambung ke Risalah Umum dalam Kitab Allah (2) [Sumber: Ceramah-ceramah Hasan Al-Banna]
11:00 | 13 komentar

Menuju Kemenangan Dakwah Kampus

Written By Admin BeDa on Selasa, 25 Mei 2010 | 17:00


Judul Buku : Menuju Kemenangan Dakwah Kampus
Penulis : Ahmad Atian
Penerbit : Era Adicitra Intermedia, Solo
Cetakan Ke : 1
Tahun Terbit : Jumadil Ula 1431 H/Mei 2010
Tebal Buku : xxii + 202 halaman


Menjelang Pemilu Legislatif 2009 lalu, sebuah televisi swasta menggelar acara Uji Kandidat. Malam itu, hadir Tifatul Sembiring sebagai peserta. Pada sesi awal setiap peserta diuji dengan kata berkait. Presenter membacakan kata/istilah, dan peserta harus menjawabnya dengan kata/istilah yang terkait erat. Salah satu kata yang dibacakan presenter acara itu adalah: "Dakwah". Dengan cepat, hampir tanpa jeda waktu Tifatul langsung menjawab: "Kampus!".

Itu hanya sebuah contoh betapa dakwah dan kampus adalah hal yang sangat erat dalam dunia Islam modern, termasuk di Indonesia. Sama seperti Tifatul, banyak diantara kita yang juga akan mengucapkan "kampus" untuk meneruskan kata "dakwah".

Dakwah kampus memang memiliki kekhasannya sendiri dari dakwah-dakwah pada segmen lainnya. Ia identik dengan idealisme, semangat, dan jiwa muda. Dakwah kampus juga menjadi basis penyuplai kader. Dari dakwah kampus lahirlah kader-kader yang kemudian menjadi tulang punggung dakwah. Banyak qiyadah yang dihasilkan dari sana. Tidak salah jika kemudian dakwah kampus disebut sebagai primadona.

Kesuksesan mengelola dakwah kampus ini, dengan demikian, akan menjadi kontribusi sangat besar bagi kesuksesan dakwah secara makro. Kemenangan dakwah kampus ini, dengan demikian, adalah kemenangan awal bagi dakwah seluruhnya; di segala lini dan bidang kehidupan. Tentu saja, kemenangan dakwah kampus tidak hanya sekedar diukur dari keberhasilan mendudukkan kader dakwah sebagai presiden BEM. Tidak hanya diukur dengan maraknya masjid oleh kegiatan keislaman. Bukan hanya itu.

Buku Menuju Kemenangan Dakwah Kampus karya Ahmad Atian ini mengajak para Aktifis Dakwah Kampus (ADK) untuk menggapai kemenangan dakwah kampus dalam maknanya yang lebih luas. Yakni kemenangan dakwah kampus yang secara fisik terwujud dalam dua hal besar, yaitu terwujudnya masyarakat kampus madani sejahtera dan terciptanya pemerintahan kampus yang adil dan berdaulat. Masyarakat kampus madani yang dimaksud di sini adalah masyarakat kampus yang hidup dalam nilai-nilai Islam. Sementara pemerintahan kampus yang berdaulat berarti pemerintahan kampus yang menerapkan nilai-nilai Islam dengan identitas demokratis-aspiratif, kreatif dan berdaya, yang melekat padanya. Pemerintahan kampus di sini bukan sebatas pemerintahan mahasiswa, tetapi juga birokrasi kampusnya.

Untuk mencapai kemenangan dakwah kampus ini, diperlukan enam kerangka strategis yang merupakan format dakwah kampus masa depan: dakwah prestatif, creative majority, dakwah kaya, ketokohan sosial, kepemimpinan sejati, dan maskimalisasi peran mujahidah dakwah kampus.

Dakwah prestatif artinya dakwah kampus harus menjadi rahim bagi karya-karya besar. Dakwah kampus harus menjadi basis prestasi. Creative Majority berarti dakwah kampus harus memiliki kapabilitas dalam dua hal sekaligus; kualitas dan kuantitas. Kadernya banyak dan tangguh. Berawal dari kader-kader yang kreatif, inovatif, dan pandai berstrategi. Dengan demikian pos-pos strategis dalam kampus telah diisi oleh ADK dan berada dalam koordinasi DK.

Dakwah Kaya maksudnya dakwah kampus menjadi benar-benar kaya dalam 10 hal: kaya hati, kaya akhlak, kaya ilmu, kaya materi, kaya kader, kaya visi dan cita-cita, kaya ide dan gagasan, kaya strategi dan rekayasa, kaya hubungan dan jaringan, serta kaya amal.

Ketokohan sosial dalam konteks menuju kemenangan dakwah kampus berarti menabur kiprah terbaik (KT) di tengah-tengah umat sekaligus membangun kepercayaan atau pengakuan umat terhadap kapasitas DK (Kp). Ketokohan Sosial (KS) menjadi semakin besar saat KT dan Kp meningkat nilainya.

Kepemimpinan Sejati artinya DK harus melahirkan para pemimpin sejak di dunia kampus yang efektif dan kuat. Meskipun dalam Bab 3 buku ini hanya dibatasi dalam kepemimpinan di LDK, kepemimpinan tangguh juga diperlukan di BEM dan berbagai pos strategis lainnya, termasuk birokrasi kampus. Dalam kaitan ini (juga semua langkah menuju kemenangan dakwah kampus) terlihat begitu pentingnya peran ADK Permanen.

Maksimalisasi Kiprah Mujahidah DK. Hampir semua LDK telah memiliki departemen keputrian atau sejenisnya. Yang diperlukan adalah bagaimana memaksimalkan para mujahidah dakwah kampus ini sehingga dakwah kepada muslimah yang jumlahnya lebih besar menjadi efektif.

Enam kerangka strategis dakwah kampus ini bisa dicapai dengan terlebih dahulu melakukan perbaikan internal dakwah kampus melalui dua tahap. Tahap I bersifat umum yang harus dilaksanakan pada sluruh cakupan dan tataran. Yakni meliputi: kembali kepada ashalah dakwah kampus, menghapus trauma persepsi, dan berkomitmen dengan sikap terbaik. Lalu tahap II berada pada tataran kebijakan, bersifat khusus, dan dilaksanakan oleh qiyadah. Ia terdiri atas; membuka kran komunikasi dan informasi serta memunculkan kepemimpinan baru.

Lebih jelas dan lengkapnya tentu Antum, khususnya para aktifis dakwah kampus harus membaca sendiri buku Menuju Kemenangan Dakwah Kampus ini secara lengkap. Buku ketujuh dari 100 buku pengokohan tarbiyah ini memang spesial untuk para mujahid kampus, para ADK, agar seperti judulnya, dengan panduan ini dakwah kampus akan mencapai kemenangannya.[Muchlisin]

DALAM BENTUK E-BOOK, MENUJU KEMENANGAN DAKWAH KAMPUS BISA DI-DOWNLOAD DI DINI
17:00 | 13 komentar

Makin Luas Gerakmu, Makin Luas Medan Rezekimu

Written By Admin BeDa on Senin, 24 Mei 2010 | 15:00


Setelah mengetahui Ubullah adalah kota supplier tentara dan akomodasi Persia, Khalifah Umar bin Khattab mengirimkan pasukan ke sana. Utbah bin Ghazwan diamanahi memimpin 300 pasukan itu. Lima wanita bersama mereka, termasuk istri Utbah. Jumlah itu tergolong sangat kecil, sebab sebagian besar kaum muslimin berada di medan jihad yang lain.

Saat tiba di sebuah wilayah berbambu, mereka kehabisan bekal. Tidak ada yang bisa dimakan. Mereka sadar jalan jihad adalah jalan yang berat. Resiko seperti ini bukannya tak pernah terpikirkan. Namun jiwa juang mengalahkan segala kesulitan-kesulitan di segala medan. Tidak ada kamus putus asa dalam barisan kaum mukminin. Akhirnya Utbah memerintahkan beberapa pasukannya mencari sesuatu yang bisa dimakan.

Pasukan itu berangkat masuk ke hutan. Mencari-cari tanaman yang bisa dimakan. Mungkin seperti kita yang ditugaskan Mudarrib saat mukhayam. Tapi ini lebih rumit. Sebab Utbah tidak menjelaskan ciri-ciri tanaman yang aman dikonsumsi seperti para Mudarrib melakukannya. Toh, pasukan itu kembali dengan dua tanaman. Yang satu sangat dikenali mereka: kurma. Yang satu belum pernah mereka temui sebelumnya: biji-biji kecil yang terbungkus kulit berwarna coklat kekuning-kuningan.

Pasukan Islam mengkonsumsi kurma. Sementara biji-bijian itu, dipisahkan di tempat lain. Masih ada kekhawatiran jika ia beracun atau sejenisnya. Hingga tibalah saat kuda mereka yang terlepas memakannya. Hampir saja kuda itu disembelih karena khawatir ia mati setelah itu. Namun pemiliknya mencegah, "Biar kuamati, kalau ada tanda mau mati baru kita sembelih." Begitu katanya.

Sampai pagi, tak terjadi apa-apa. Kuda itu sehat-sehat saja. Berarti biji-bijian itu cukup aman. Tapi tunggu dulu! Lebih baik diantisipasi. Beberapa racun bisa ditawarkan dengan panas. Saat dipanaskan, biji-bijian itu berubah menjadi kemerah-merahan. Mengelupas kulitnya. Dan bulirnya yang putih pun tampak jelas. Dengan membaca basmalah mereka mengkonsumsi makanan baru yang kemudian dinamai al-Aruz (beras) itu.

Di negeri ini, beras dikenal jauh sebelum peristiwa itu. Di negeri ini, tanahnya subur jauh melebihi padang tandus tempat kelahiran mereka. Di negeri ini, demikian mudah mendapatkan ikan dari laut dan sungainya. Di negeri ini, bertumpah ruah kekayaan flora dan fauna. Namun yang lebih penting, saat ini di negeri inilah hidup kaum muslimin dengan jumlah terbesar di dunia!

Apa artinya? Seperti harapan Dr. Yusuf Qardhawi, negeri ini berpeluang besar menjadi poros kebangkitan Islam. Syaratnya, para kader dakwah yang telah menikmati hidayah harus bergerak. Harus berharakah!

Saat memilih diam, berarti laju dakwah akan terhenti. Ketika banyak kader dakwah memilih hanya menikmati hidayah-Nya bersama keluarga, membangun surga di rumah tangga lalu puas dengan itu saja, arus kebangkitan melemah lagi. Ketika banyak kader dakwah sibuk dengan permasalahannya sendiri dan meninggalkan peran dalam dakwah ini, gelombang kebangkitan surut kembali.

Kadang hal ketiga ini terjadi. Karena sibuk dengan masalah pribadi. Karena kekhawatiran terhambatnya rezeki. Karena ketakutan lesempitan dunia menghampiri. Lalu aktifitas berharakah tidak aktif lagi. Cuti. Atau lebih parah, terpuruk di jalan ini. Jika terjadi secara jama'i ia akan lebih berbahaya lagi. Tidak jalannya syura dan terhentinya beberapa aktifitas haraki adalah gejala awal bahaya ini.

Kaum mukiminin dalam berbagai generasi telah membuktikan. Ketika perjuangan Islam semakin bergerak luas, medan rezeki juga terbentang luas. Ini wajar. Bukankah Allah Ar-Razaq, Yang Maha Pemberi Rezeki? Tentu bukan semata ghanimah yang hadir paska kemenangan jhad Islam. Namun pengelolaan negeri yang amanah membuat kekayaan semakin melimpah dan bumi menjadi lebih berkah.

Karena tuntutan perjuangan Islam, kaum mukminin di Madinah mengasah strategi perangnya. Khandaq, yang merupakan hasil adopsi dari Persia adalah salah satunya. Namun kemudian, negeri asal strategi khandaq itu tak mampu menandingi gelombang jihad Islam. Di akhir era Rasulullah, kaum mukminin telah meningkatkan kemampuan manjaniq-nya. Di era Utsman, kapal perang dibuat. Dan dalam setiap periode kekhalifahan sejak zaman Abu Bakar, sistem ketatanegaraan dan pengelolaan keuangan diperbaiki. Kesejahteraan hadir, bersamaan dengan semakin membahananya takbir!

Temuan al-Aruz (beras) di masa Umar itu juga sebagian kecil bukti. Saat gerak dakwah dan jihad diperluas, medan rezeki pun meluas. Sangat mungkin jika pasukan Utbah itu putus asa lalu kembali ke Madinah, kaum muslimin baru mengkonsumsi beras beberapa dekade sesudahnya.

Dakwah di Indonesia tampaknya juga telah membuktikan sebagiannya. Betapa laju dakwah telah dibersamai dengan luasnya rezeki. Patut disyukuri jika pengalaman dakwah juga mendewasakan para kadernya, dan kini banyak pengusaha. Tuntutan dakwah telah membuat kreatif sebagian pelakunya untuk memanfaatkan potensi dan peluang yang ada. Tentu bisnis dan usaha yang halalan thayyibah. Sampai-sampai ada laqab baru untuk sebagian dai. Jika era sebelumnya mereka adalah ustadz kharimatik karena kendarannya Honda Karisma, kini mereka adalah ustadz inovatif karena kendarannya Kijang Inova.

Jadi, tidak perlu ketakutan kehilangan rezeki itu menghambat laju dakwah ini. Namun yang juga lebih penting, bukan karena itu kita tetap berada di atas jalan ini. Satu yang pasti, Allah Maha Pemberi Rezeki, dan Dia mewajibkan kita berada di jalan dakwah ini. [Muchlisin]
15:00 | 17 komentar

Dari Eropa untuk Palestina


Saat mata ini terbuka
Bukan hanya siluet kepedihan...
Angkara telah mencabik-cabik luka
Perih di atas perih, tersayat kulit yang tlah menganga...

Sebuah tragedi kemanusiaan begitu nyata
Seterang matahari yang melemparkan sinarnya
Ke setiap penjuru nurani dan sudut-sudut jiwa
Kami melihatnya dengan mata,
Namun hati kecil kami yang menangis...
Menangisi seonggok kemanusiaan
Diterkam anjing-anjing kezaliman...

Panggilan jiwa...
Saat terdengar dentuman amunisi
Melesat memburu anak-anak di pagi hari...
Saat terlihat panser-panser angkuh
Menindas manula-manula rapuh...
Tersaksikan dunia
Saat buldoser kesombongan
Melindas rumah-rumah kedamaian
Mengusir wanita-wanita menggandeng balita menggendong bayinya
Menyusuri terik surya dalam kebingungan di mana atap tersisa

Panggilan nurani...
Dalam titik-titik air mata mengenangmu
Tiga tahun mendekami penjara raksasa
Bernama Gaza...
Dalam rengkuh haru mengingatmu
Bertahan dalam blokade, sendiri
Tanpa kawan tanpa pembela
Dalam getar sedih menyembilu
Betapa laki-laki menapak terowongan gelap, pengap
Demi makan anak istri, hari ini...

Seruan kemanusiaan...
Jika akhirnya kami memberanikan diri
Menentang tiran bersenjata!
Maka inilah armada kami, Freedom Flotilla

Atas nama kebebasan...
Jika akhirnya kami menantang badai
Biarlah kematian mengancam kami!
Maka inilah kapal-kapal kami, Freedom Flotilla

Konfrontasi!
Kau mungkin sanggup menghadang armada ini
Kau mungkin sanggup menghentikan kapal-kapal kami
Tapi kau takkan sanggup membunuh nurani
Kau takkan sanggup membungkam suara hati
Pelurumu bisa menenggelamkan jasad kami
Senjatamu bisa mengkaramkan 500 aktifis ini
Tapi di belakang kami ada jutaan nurani
Yang kan gemakan suara sama
Yang kan proklamasikan tekad sama
Yang kan perjuangkan cita-cita sama
Kemerdekaan Palestina!

Hanya satu yang kami nanti
Di manakah saudara-saudara Palestina kini
Apakah negri-negri muslim itu takut
Hingga harus kami yang memulai

Hanya satu yang kami tunggu
Ribuan kapal membersamai kami
Mewarani lautan biru
Memecah samudra sepi
Mengumandangkan perlawanan!

Harusnya mereka ada di sini
Hingga warna bendera ini bukan hanya warna kemanusiaan
Namun warna yang lebih gagah; warna aqidah!
09:00 | 5 komentar

Saat-saat Mengokohkan Jiwa

Written By Admin BeDa on Minggu, 23 Mei 2010 | 10:00


Lelaki mulia itu telah dicambuk berkali lipat melebihi rencana semula. "Berapa cambukan yang kamu butuhkan untuk dapat membunuhnya?" demikian Al-Mu'tashim bertanya pada algojo. "Sepuluh kali" jawab algojo itu memastikan. "Lakukanlah!" perintah Al-Mu'tashim memberi isyarat eksekusi dimulai.

Tidak biasanya. Perkiraan itu meleset. Lelaki macam apa Imam Ahmad bin Hanbal itu? Ia bahkan menyambut cambukan yang mengenai tubuhnya dengan kalimat-kalimat thayibah. Meski lebih dari 20 kali, cambukan algojo itu tak juga membuatnya mati. Mestinya dengan berbekal sakitnya tubuh itu selama di penjara, ia tak lagi kuat berdiri. Namun ia tetap tegap dan kokoh dengan pendiriannya. "Al-Qur'an adalah kalamullah. Bukan makhluk. Datangkanlah dalil dari Al-Qur'an dan hadits jika engkau ingin aku berpendapat seperti kalian!" Al-Mu'tashim bungkam. Seperti bungkamnya para ulama mu'tazilah hari-hari sebelumnya.

"Perkeras cambukannya!" entah yang keberapa kali, sejarah tidak memastikan jumlah cambukan saat itu. Namun Imam Ahmad kemudian tak sadarkan diri. Ketika terbangun, ada yang membawakannya bubur. "Aku tidak akan membatalkan puasaku!" Subhaanallah, beliau menanggung kesakitan dan luka dalam kondisi berpuasa.

Melihat Imam Ahmad shalat sesudah itu, Ibnu Sama'ah bertanya: "Wahai Ahmad, engkau menunaikan shalat sedang darah mengalir membasahi bajumu?" Imam Ahmad menjawab, "Umar bin Khattab telah menunaikan shalat sedang lukanya tetap mengalirkan darah."

Jawaban Imam Ahmad ini bukan saja menjelaskan bolehnya shalat ketika terluka dan darah masih mengalir, dari perspektif fiqih. Lebih dari itu ia mencerminkan bahwa shalat adalah komunikasinya dengan Allah. Shalat sarana mengadu. Dan ia menguatkan. Maka, menghadapi siksaan dan penjara selama 3 periode kekhilafahan: Al-Makmun, Al-Mu'tashim serta Al-Watsiq kelak, Imam Ahmad tetap kokoh dan membaja.

Abu Dawud meriwayatkan hadits yang dinilai hasan oleh Al-Albani: "Ketika Nabi dirundung masalah beliau mengerjakan shalat." Itulah kebiasaan Nabi yang disaksikan para sahabat. Shalat adalah saat-saat menghadap Allah. Bukankah segala permasalahan dan ujian dalam kuasa Allah. Hanya Allah yang kuasa mengangkat masalah itu, atau membuat jiwa-jiwa kokoh menghadapinya.

Seperti halnya saat perjanjian hudaibiyah. Para sahabat tidak memahami kemenangan Islam dalam perjanjian itu sebagaimana Rasulullah mengetahuinya. Mereka tidak terima jika kaum muslimin harus mengalah, atau kalah; dalam persepsi mereka saat itu. Akibatnya perintah Rasulullah untuk mencukur rambut dan menyembelih hewan tidak mereka lakukan. Bukankah masalah bagi seorang qiyadah ketika intruksinya tidak ditaati dengan segera oleh jundiyah? Demikian pula ini masalah bagi Rasulullah. Maka beliau pun masuk tenda. Dialog beliau dengan istrinya, Ummu Salamah, dan usulan solusi dari salah seorang ummahatul mukminin ini mungkin sangat populer bagi kita. Namun tidak banyak yang tahu bahwa di tenda itu Rasulullah melakukan shalat. Dari sanalah beliau mendapatkan ketenangan. Dan dari Allah lah segala solusi datang.

Imam Ahmad yang kokoh dalam perjuangan Islam dan menegakkan sunnah, juga orang yang paling hebat dalam menjalankan sunnah. Mengadu pada Allah dan meminta pertolongan dengan shalat adalah sunnah Nabi. Dan itu yang dilakukannya. "Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat." (QS. Al-Baqarqah : 45).

Tinggallah kita sekarang di zaman yang penuh masalah. Semua muslim menghadapinya. Jangan ditanya kader dakwah. Semakin kuat keimanannya, semakin berat pula ujiannya. Semakin berkualitas seorang kader, semakin hebat pula masalah dan ujian yang dihadapinya. Lalu kembalikah kita kepada Allah dengan shalat? Belum terlambat. [Muchlisin]
10:00 | 12 komentar

Dampak Buruk Riya' dan Sum'ah Terhadap Pribadi dan Jama'ah

Written By Admin BeDa on Sabtu, 22 Mei 2010 | 11:00


Jika penyakit riya' dan sum'ah telah menggerogoti muslim, apalagi aktifis dakwah, maka dampak buruknya tidak hanya menimpa pribadi muslim dan aktifis dakwah itu, tetapi juga menimpa jama'ah. Berikut adalah beberapa dampak buruk riya' dan sum'ah itu:

1. Terhalang dari Hidayah dan Taufiq Allah
Hidayah Allah SWT adalah anugerah Allah yang dikaruniakan-Nya kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya. Ini hak prerogatif Allah. Ia tidak bisa dipaksa untuk menghampiri kita atau orang-orang tertentu. Kita bisa berdoa agar mendapat hidayah, namun terserah Allah apakah menurunkan hidayah-Nya atau tidak.

Namun demikian, Allah telah membuat ketetapan di dalam Al-Qur'an bahwa hidayah itu akan diberikan kepada orang-orang yang ikhlas.

... dan Ia memberi petunjuk kepada (agama)Nya orang yang kembali (kepada-Nya) (QS. As-Syura : 13)

...dan Ia menunjuki orang-orang yang bertaubat kepada-Nya (QS. Ar-Ra'd : 27)

Seseorang yang riya dan sum'ah pada dasarnya telah merobek keikhlasan dan menyimpang dari kebenaran. Karenanya prasyarat untuk mendapatkan hidayah dan taufiq dari Allah telah hilang darinya. Meskipun tahu banyak ilmu, orang seperti ini akan sulit mengamalkannya. Ini dampak buruk riya' dan sum'ah.

...Maka tatkala mereka berpaling (dari kebenaran), Allah memalingkan hati mereka; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik. (QS. As-Shaf : 5)

2. Batal Amalnya
Sesungguhnya salah satu dari syarat diterimanya amal adalah ikhlas. Seperti firman-Nya dalam QS. Al-Bayyinah ayat 5.

Jika seseorang melakukan ibadah atau amal shalih namun dilandasi dengan riya' atau sum'ah maka amal itu akan menjadi sia-sia. Tidak diterima Allah SWT.

Lalu Kami hadapkan amal yang mereka kerjakan, kemudian Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang beterbangan. (QS. Al-Furqan : 23)

Dalam hadits qudsi Allah berfirman:
Aku adalah yang paling tidak membutuhkan sekutu. Barangsiapa yang beramal untuk-Ku dengan menyekutukan selain-Ku, maka Aku bebas dari dia dan dia Aku serahkan kepada sekutunya itu. (HR. Ibnu Majah dan Ahmad)

3. Mendapat Azab di Akhirat
Amal-amal yang banyak, yang disangka membuat masuk surga, justru menyeret manusia ke neraka ketika amal-amal itu dibangun di atas riya' dan sum'ah. Seperti hadits shahih yang diriwayatkan Imam Muslim bahwa di pengadilan akhirat nanti ada 3 orang yang diadili pertama kali; orang yang mati syahid, orang alim yang mengajarkan ilmunya, dan orang kaya yang dermawan. Ketiganya menyangka akan masuk surga. Ini tercermin dari jawabannya saat ditanya tentang apa yang dilakukan dengan nikmat-nikmat itu. Tapi rupanya, Allah menilai berbeda dari persangkaan ketiga orang itu sebab mereka melakukannya karena riya' dan sum'ah. Lalu Allah memerintahkan malaikat untuk menyeret mereka ke neraka.

4. Aibnya akan terbuka baik di dunia maupun di akhirat
Orang yang riya' dan sum'ah ingin mendapatkan pujian, penghormatan, atau kedudukan dari orang lain. Namun seringkali Allah justru membuka aib orang seperti itu di dunia sehingga terbongkarlah kebusukannya.

Adapun di akhirat nanti, tidak ada rahasia yang bisa disembunyikan saat yaumul hisab, saat pengadilan Allah SWT. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW:

Barangsiapa yang berlaku sum'ah, maka ia akan dibalas Allah dengan sum'ah (dibuka aibnya) pula.

5. Menderita Kesempitan dan Kegelisahan
Orang yang riya' atau sum'ah akan dilanda kegelisahan dalam hidupnya. Ia berada dalam dua kesempitan. Merasa sempit karena khawatir niatnya terbongkar, dan merasa sempit saat niatnya tidak tercapai. Berbeda dengan orang ikhlas yang sejak awal melakukan amal telah mendapatkan ketenangan karena Allah-lah yang melihat dan akan membalas amalnya meskipun tidak ada orang lain yang tahu.

6. Tercabutnya kewibawaan dan pengaruh
Kewibawaan seorang muslim bisa hadir karena Allah yang menanamkan pada dirinya. Maka saat seorang hamba ikhlas dalam menjalankan agama-Nya, ibadah, dan dakwah, Allah memberikan kewibawaan itu. Namun jika Allah menghinakan seseorang, maka dengan cara bagaimanapun kewibawaan itu dipoles, ia tetap saja luntur dan tak berbekas.

Barangsiapa yang dihinakan Allah, niscaya tiada seorangpun yang akan memuliakannya. (QS. Al-Hajj : 18)

Pernah suatu ketika Ibnu Hubairah, gubernur Kufah dan Bashrah memanggil Hasan Al-Basri dan Amir bin Syarahbil untuk meminta nasihat berkenaan dengan intruksi Yazid yang zalim. Amir bin Syarahbil saat itu menjawab dengan jawaban yang moderat dan cenderung memaafkan Ibnu Hubairah seandainya ia melakukan intruksi itu karena pada dasarnya ia terpaksa. Namun saat Hasan Al-Basri dimintai nasihat, ia menjawab dengan tegas: "Wahai Ibnu Hubairah, takutlah kepada Allah dalam menghadapi Yazid, dan jangan takut kepada Yazid saat menghadapi Allah. Allah dapat melindungimu dari Yazid, tetapi Yazid tidak dapat melindungimu dari Allah..." Mendengar nasihat seperti itu Ibnu Hubairah menangis tersedu-sedu dan memakai pendapat Hasan Al-Basri serta menghormatinya. Ia tidak mengambil pendapat Amir bin Syarahbil.

Ketika keluar dan berhadapan dengan banyak orang, Amir bin Syarahbil mengakui kesalahannya karena ingin dekat dan mendapat persetujuan Ibnu Hubairah. Ia juga menyatakan kemuliaan Hasan Al-Basri. Amir bin Syarahbil insaf.

7. Tidak tekun dalam beramal
Karena berorientasi pandangan manusia dan materi, orang yang riya' dan sum'ah tidak akan bisa istiqamah dalam beramal. Saat manusia tidak lagi memperhatikannya, saat media tidak lagi meliputnya, saat keuntungan-keuntungan materi tidak didapatkannya, ia pun berhenti dari amal itu.

Jika aktifis dakwah terhinggapi riya' dan sum'ah maka dampak-dampak buruk itu selain menimpa pribadinya juga berefek pada jama'ahnya. Diantaranya adalah dengan semakin panjangnya jalan perjuangan, semakin lambatnya kemenangan, dan semakin beratnya beban. Wallaahu a'lam bishshawab. []
11:00 | 4 komentar

As-Su'ar (Sisa Minuman) 2

Written By Admin BeDa on Jumat, 21 Mei 2010 | 15:00


Rubrik Fiqih hari ini adalah bagian terakhir dari As-Su'ar (Sisa Minuman) yang merupakan kelanjutan bahasan pekan lalu. Kali ini yang dibahas adalah sisa minuman bagal, keledai dan binatang buas, kemudian sisa minuman kucing, serta yang terakhir sisa minuman anjing dan babi. Selamat membaca.

3. Sisa Minuman Bagal, Keledai, Binatang Buas dan Burung Buas

Ia juga suci karena berdasarkan hadits Jabir r.a.:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- سُئِلَ أَنَتَوَضَّأُ بِمَا أَفْضَلَتِ الْحُمُرُ؟ قَالَ : نَعَمْ وَبِمَا أَفْضَلَتِ السِّبَاعُ

Nabi SAW pernah ditanya, "Bolehkah kita berwudhu dengan sisa minuman keledai?" Jawab Nabi SAW, "Boleh! Demikian pula dengan sisa minuman semua binatang buas." (HR. Daruquthni, Baihaqi, dan Syafi'i. Baihaqi berkata "hadits ini mempunyai sanad yang bila dihimpun sebagan dengan lainnya maka akan menjadi kuat)

Umar r.a. berkata :

خَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فِى بَعْضِ أَسْفَارِهِ فَسَارَ لَيْلاً فَمَرُّوا عَلَى رَجُلٍ جَالِسٍ عِنْدَ مَقْرَاةٍ لَهُ فَقَالَ عُمَرُ يَا صَاحِبَ الْمَقْرَاةِ أَوَلَغَتِ السِّبَاعُ اللَّيْلَةَ فِى مَقْرَاتِكَ فَقَالَ لَهُ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- « يَا صَاحِبَ الْمَقْرَاةِ لاَ تُخْبِرْهُ هَذَا مُكَلَّفٌ لَهَا مَا حَمَلَتْ فِى بُطُونِهَا وَلَنَا مَا بَقِىَ شَرَابٌ وَطَهُورٌ

Dalam salah satu perjalanan, Nabi SAW berangkat pada waktu malam. Rombongan itu melewati seorang laki-laki yang sedang duduk dekat kolamnya. Umar pun bertanya padanya, "Apakah ada binatang buas yang minum di kolammu pada malam ini?" Nabi SAW bersabda, "Hai pemilik kolam, jangan hiraukan pertanyaannya itu. Itu keterlaluan! Yang masuk ke perut binatang, maka itu adalah rezekinya, sedangkan yang tersisa, maka ia menjadi minuman kita dan suci lagi menyucikan." (HR. Daruquthni)

عَنْ يَحْيَى بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ حَاطِبٍ أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ خَرَجَ فِى رَكْبٍ فِيهِمْ عَمْرُو بْنُ الْعَاصِ حَتَّى وَرَدُوا حَوْضًا فَقَالَ عَمْرُو بْنُ الْعَاصِ لِصَاحِبِ الْحَوْضِ يَا صَاحِبَ الْحَوْضِ هَلْ تَرِدُ حَوْضَكَ السِّبَاعُ فَقَالَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ يَا صَاحِبَ الْحَوْضِ لاَ تُخْبِرْنَا فَإِنَّا نَرِدُ عَلَى السِّبَاعِ وَتَرِدُ عَلَيْنَا

Dari Yahya bin Abdurrahman bin Haatib bahwa Umar pergi bersama rombongan yang di dalamnya terdapat Amr bin Ash, hingga sampailah mereka di sebuah kolam. Amr bertanya, "hai pemilik kolam, apakah kolam ini pernah didatangi binatang buas untuk minum?" Umar berkata, "Tidak usah dijawab pertanyaan itu, karena kita boleh minum di tempat minumnya binatang buas. Sebaliknya, binatang pun juga boleh minum di tempat kita." (HR. Malik dalam Al-muwaththa')

4. Sisa Minuman Kucing


Sisa minuman kucing adalah suci berdasarkan hadits Kabsyah binti ka'ab yang tinggal bersama Abu Qatadah bahwa pada suatu ketika Abu Qatadah masuk ke dalam rumah. Kemudian Kabsyah menyediakan air minum untuknya. Tiba-tiba datang seekor kucing yang meminum air itu dan Abu Qatadah pun memiringkan mangkok hingga binatang itu dapat meminumnya.

Ketika Abu Qatadah melihat Kabsyah memperhatikan tindakannya, ia pun bertanya, "Apakah engkau tercengang wahai anak saudaraku?" "Benar," jawabnya. Abu Qatadah berkata, "Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda:

إِنَّهَا لَيْسَتْ بِنَجَسٍ إِنَّهَا مِنَ الطَّوَّافِينَ عَلَيْكُمْ وَالطَّوَّافَاتِ

Kucing itu tidak najis. Ia termasuk binatang yang berkeliling dalam lingkunganmu. (HR. Abu Dawud, Ahmad, Baihaqi, Daruquthni)

5. Sisa Minuman Anjing dan Babi


Air sisa minuman anjing dan babi adalah najis yang harus dijauhi. Mengenai hukum najis sisa air minum anjing ialah berdasarkan hadits yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim dari Abu Hurarirah r.a. bahwa Nabi SAW bersabda:

إِذَا شَرِبَ الْكَلْبُ فِى إِنَاءِ أَحَدِكُمْ فَلْيَغْسِلْهُ سَبْعًا

Bila anjing minum pada bejana salah seorang diantaramu, hendaklah tempat bekas minum itu dicuci sebanyak tujuh kali.

Dan menurut riwayat Ahmad dan Muslim,

طُهُورُ إِنَاءِ أَحَدِكُمْ إِذَا وَلَغَ فِيهِ الْكَلْبُ أَنْ يَغْسِلَهُ سَبْعَ مَرَّاتٍ أُولاَهُنَّ بِالتُّرَابِ

Membersihkan bejana salah seorang kamu bila dijilat anjing ialah dengan membasuhnya sebanyak tujuh kali; dan cucian yang pertama kali mestilah dengan tanah.

Demikian pula sisa minuman babi, yaitu dihukumkan najis karena kotor, menjijikkan, dan berdasarkan nash-nash Al-Qur'an yang sudah jelas. [Sumber: Fiqih Sunnah karya Sayyid Sabiq]
15:00 | 1 komentar

Israel VS Media Internasional


Arogansi Israel tampaknya akan berhadapan dengan media internasional. Menyusul ancaman Israel senin kemarin (17/05) yang akan menghadang kapal bantuan kemanusiaan Eropa untuk Palestina, puluhan media internasional bersiap meliput launchingnya dari Yunani dan Turki.

Armada yang dinamakan Freedom Flotilla (Armada Kebebasan) itu terdiri dari beberapa kapal. Ada tiga kapal besar yang bermuatan barang untuk bantuan kemanusiaan. Mereka membawa obat-obatan, bahan bangunan, dan bantuan kemanusiaan lain untuk Gaza yang diblokade Israel sejak tahun 2007. Selain itu ada beberapa kapal lain yang memuat 500 aktivis kemanusiaan. Di antara aktivis itu adalah aleg-aleg Eropa yang mewakili lebih dari 20 negara.

Ketua Kampanye Eropa Anti Blokade Jalur Gaza, Dr. Arafat Madli mengatakan dalam pernyataan pers Kamis (20/05) bahwa di tengah ancaman hadang Israel telah bersiap bersama tim 10 media besar baik TV maupun cetak yang akan meliput peristiwa tersebut. Mereka ikut dalam kapal 8000. Dinamakan demikian untuk menunjukkan solidaritas kepada 8000 tahanan Palestina di Israel.

Di antara media massa Eropa yang akan ikut meliput itu adalah TV Al Jazeera versi Inggris, Euro News, Anfoa Bill, Itali, TV Bulgaria, TV, sejumlah kolumnis, jurnalis dan sejumlah wartawan dari media dunia terkenal seperti Reuters, BBC Inggris, dan The Economist Europe.

Akankah Israel tetap menghadang kapal bantuan kemanusiaan itu nantinya meskipun harus mengambil resiko citra negatif di dunia? Belum bisa ditebak. Sebab Israel terlalu kerap tidak memperhatikan media, termasuk saat membunuh rakyat Palestina di depan kamera media internasional.[AN]
10:00 | 4 komentar

Khutbah Jum'at: Racun-racun Hati

Written By Admin BeDa on Kamis, 20 Mei 2010 | 19:00


Seorang muslim harus menjaga hatinya agar tetap bersih. Apalagi di akhirat nanti hanya dengan hati yang bersih manusia bisa selamat. Sementara harta dan anak-anak tidak memberi kemanfaatan. Menjaga hati adalah pekerjaan berat. Banyak racun-racun yang siap mengotorinya dan membuatnya sakit. Karenanya Khutbah Jum'at Terbaru ini berusaha membahas racun-racun hati agar kita semua bisa menghindarinya. Dengan demikian, tema Khutbah Jum'at edisi 7 Jumadil Tsani 1431 H yang bertepatan dengan 21 Mei 2010 M ini adalah: Racun-racun Hati.

KHUTBAH PERTAMA

إنَّ الحَمْدَ لله، نَحْمَدُه، ونستعينُه، ونستغفرُهُ، ونعوذُ به مِن شُرُورِ أنفُسِنَا، وَمِنْ سيئاتِ أعْمَالِنا، مَنْ يَهْدِه الله فَلا مُضِلَّ لَهُ، ومن يُضْلِلْ، فَلا هَادِي لَهُ.
وأَشْهَدُ أنْ لا إلَهَ إلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، وأشهدُ أنَّ مُحَمَّدًا عبْدُه ورَسُولُه.
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

Jama’ah Jum’at yang dirahmati Allah SWT,
Di awal khutbah ini khatib mengajak kita semua untuk memanjatkan puji dan syukur kepada Allah SWT. Tiada sedetik pun dalam hidup kita, kecuali nikmat Allah menyertai kita. Kita bisa beraktifitas, masih bisa bernafas, ini semua adalah nikmat Allah. Mungkin banyak orang yang mengeluh dan tidak menyadari nikmat-nikmat ini karena mereka sudah terlalu dipengaruhi budaya materialisme. Bahwa bicara nikmat selalu diasosiasikan dengan kekayaan, harta benda, dan parameter-parameter materi lainnya. Jika belum kaya, merasa belum mendapat nikmat. Jika belum memiliki jabatan, merasa belum mendapat nikmat. Padahal, pada hakikatnya nikmat yang paling besar adalah nikmat Islam dan iman. Tanpa keduanya, nikmat-nikmat lain di dunia ini justru tidak berharga.

Shalawat dan salam atas Rasulullah SAW. Suri tauladan terbaik, panutan yang mulia, dan contoh yang sempurna. Kedudukan beliau begitu tinggi. Dan kita semua berharap bisa meneladaninya serta mengikuti pentunjuknya yang tidak lain berupa As-Sunnah.

Jama'ah Jum'at yang dirahmati Alah SWT,
Allah menegaskan bahwa di akhirat nanti, tidak berguna apapun yang dimiliki oleh manusia, kecuali jika ia datang kepada Allah SWT dengan hati yang bersih.

يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ * إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ

(yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih, (QS. Asy-Syu'ara : 88-89)

Untuk menjaga agar hati kita tetap bersih, kita perlu menghindarkan diri dari 5 racun-racun hati.

Pertama, Bicara yang Berlebih-lebihan
Lidah adalah nikmat. Namun ia bisa berbuah adzab saat manusia tidak pandai menjaganya. Bahkan Rasulullah memperingatkan kebanyakan manusia disiksa di neraka karena tidak mampu menjaga lidah ini.

وَهَلْ يَكُبُّ النَّاسَ فِى النَّارِ عَلَى وُجُوهِهِمْ أَوْ عَلَى مَنَاخِرِهِمْ إِلاَّ حَصَائِدُ أَلْسِنَتِهِمْ

Tidaklah manusia itu wajahnya dipanaskan dengan api neraka melainkan karena akibat dari lidahnya. (HR. Tirmidzi, Ibnu Mjaha dan Hakim)

Itulah jika lidah telah membuahkan pembicaraan yang berlebihan. Pembicaraan yang berlebihan adalah pembicaraan yang membawa madharat, atau kadar madharatnya lebih banyak daripada kemanfaatannya. Apalagi jika tidak ada kemanfaatan sama sekali dalam pembicaraan itu.

Pembicaraan berlebihan juga bisa berwujud dusta, menghina orang lain, mengolok-olok orang lain, atau menyakiti orang lain. Terlebih jika pembicaraan berlebihan itu sudah tergolong fitnah. Na'udzubillah.

Sebaliknya, dengan lidah pula, manusia bisa selamat dan mendapatkan ridha dari Allah SWT. Dengan demikian, maka tempat akhirnya adalah surga. Di sana ia mendapatkan kebahagiaan abadi, kebahagiaan yang tiada putusnya. Karena lidah juga.

Uqbah pernah bertanya kepada Nabi SAW: "Wahai Rasulullah, apa yang bisa menyelamatkan diriku?" Rasulullah menjawab:

أَمْسِكْ عَلَيْكَ لِسَانَكَ

Jagalah lidahmu. (HR. Tirmidzi dan Ahmad)

Kedua, Memandang yang Berlebih-lebihan
Allah juga memberikan nikmat mata dan penglihatan kepada kita. Ini merupakan nikmat yang sangat besar dan orang-orang rela membayar mahal untuk mendapatkan penglihatan yang sempurna. Namun bersamanya, ada racun hati saat pandangan tidak terkendali.

Karenanya Allah SWT memberikan petunjuk mengenai hal ini, kepada orang beriman baik laki-laki maupun perempuan untuk ghadhul bashar:

قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ * وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ

Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat". Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya,... (QS. An-Nur : 30-31)

Memandang berlebihan merupakan racun hati. Itulah saat kita memandang lawan jenis tanpa kendali. Dengan disengaja. Bukan pada pandangan pertama yang secara kebetulan kita dapatkan. Pandangan berlebihan ini sudah tergolong zina mata. Dan ia adalah racun hati yang berbahaya.

كُتِبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ نَصِيبُهُ مِنَ الزِّنَا أَدْرَكَ ذَلِكَ لاَ مَحَالَةَ فَالْعَيْنُ زِنْيَتُهَا النَّظَرُ

Telah ditetapkan atas manusia bagiannya dari zina, ia pasti mendapatkan hal yang demikian itu. Zinanya kedua mata adalah memandang... (HR. Ahmad)

Ketiga, Bergaul/berinteraksi yang Berlebih-lebihan
Manusia memang membutuhkan pergaulan dan interaksi dengan sesamanya. Sebab manusia adalah makhluk sosial yang takkan mampu hidup sendiri tanpa campur tangan orang lain. Namun pergaulan dengan sesama inipun harus tetap dalam kerangka agama. Bukan pergaulan yang seenaknya. Tanpa batas dan tanpa aturan.

Memilih teman bergaul juga harus diperhatikan. Sebab interaksi dengan orang lain atau lingkungan selalu mengakibatkan salah satu dari dua hal: memepengaruhi atau dipengaruhi. Mewarnai atau terwarnai. Karenanya kita perlu menjaga dengan siapa kita bergaul dan bagaimana agar pergaulan kita tetap dalam batas-batas sya'ri, terutama jika pergaulan itu terhadap lawan jenis.

وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا

janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas. (QS. Al-Kahfi : 28)

Keempat, Makan yang Berlebih-lebihan
Makan yang berlebih-lebihan adalah racun hati berikutnya. Ia bisa menjadi sumber penyakit fisik, juga bisa mengotori dan mematikan hati. Selain porsinya yang wajar dan seimbang, makanan yang masuk ke perut kita hendaklah dijaga agar memenuhi dua kriteria: halal dan thayib.

Makan yang ideal adalah sepertiga kapasitas perut kita. Sepertiganya lagi diisi air, dan sepertiganya lagi ruang untuk udara. Sebagaimana hadits Rasulullah SAW:

مَا مَلأَ آدَمِىٌّ وِعَاءً شَرًّا مِنْ بَطْنٍ بِحَسْبِ ابْنِ آدَمَ أُكُلاَتٌ يُقِمْنَ صُلْبَهُ فَإِنْ كَانَ لاَ مَحَالَةَ فَثُلُثٌ لِطَعَامِهِ وَثُلُثٌ لِشَرَابِهِ وَثُلُثٌ لِنَفَسِهِ

Tidaklah manusia memenuhi suatu bejana yang lebih jelek dari perutnya. Cukuplah ia memakan beberapa suap makanan yang dapat menegakkan tulang belulangnya. Jika ia harus mengisi perutnya, maka sepertiga untuk makannya, sepertiga untuk minumnya, dan sepertiga untuk nafasnya. (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Kelima, Tidur yang Berlebih-lebihan
Ini biasanya berhubungan erat dengan makanan. Makan yang berlebihan cenderung mengakibatkan tidur yang berlebihan. Jika dua paket ini sudah berkumpul, maka berikutnya adalah kejelekan dan kemaksiatan yang mendominasi. Kita perlu berhati-hati.

Jama'ah Jum'at yang dirahmati Allah SWT,
Semoga lima racun hati tersebut bisa kita hindari dan Allah senantiasa melimpahkan rahmat-Nya pada kita sehingga hati kita tetap terjaga.


وقل رب اغفر وارحم و انت خير الراحمين

KHUTBAH KEDUA

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ
أَشْهَدُ أنْ لا إلَهَ إلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، وأشهدُ أنَّ مُحَمَّدًا عبْدُه ورَسُولُه.
{ يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ } [آل عمران: 102]
{ يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلا سَدِيدًا * يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا } [الأحزاب: 70، 71].

Jama'ah jum'at yang dirahmati Allah,
Bicara berlebihan, memandang berlebihan, bergaul berlebihan, makan berlebihan, dan tidur berlebihan merupakan racun-racun hati yang tidak hanya bisa mengotori hati kita tetapi juga bisa mematikan hati kita. Jika demikian maka tidak ada pilihan lain kecuali kita harus menghidarinya, menjauhinya. Tanpa itu, apalah yang bisa menyelamatkan kita di hadapan Allah kelak.


يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ * إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ

(yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih, (QS. Asy-Syu'ara : 88-89)


اللَّهُمَّ صَلِّ وسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ وسَلّمْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، فِي العَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنْ خُلَفَائِهِ الرَّاشِدِيْنَ، وَعَنْ أَزْوَاجِهِ أُمَّهَاتِ المُؤْمِنِيْنَ، وَعَنْ سَائِرِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعِيْنَ، وَعَنْ المُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِنَاتِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَعَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اللَّهُمَّ اجْعَلْ جَمْعَنَا هَذَا جَمْعًا مَرْحُوْمًا، وَاجْعَلْ تَفَرُّقَنَا مِنْ بَعْدِهِ تَفَرُّقًا مَعْصُوْمًا، وَلا تَدَعْ فِيْنَا وَلا مَعَنَا شَقِيًّا وَلا مَحْرُوْمًا.
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالعَفَافَ وَالغِنَى.

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ أَنْ تَرْزُقَ كُلاًّ مِنَّا لِسَانًا صَادِقًا ذَاكِرًا، وَقَلْبًا خَاشِعًا مُنِيْبًا، وَعَمَلاً صَالِحًا زَاكِيًا، وَعِلْمًا نَافِعًا رَافِعًا، وَإِيْمَانًا رَاسِخًا ثَابِتًا، وَيَقِيْنًا صَادِقًا خَالِصًا، وَرِزْقًا حَلاَلاًَ طَيِّبًا وَاسِعًا، يَا ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ.
اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَوَحِّدِ اللَّهُمَّ صُفُوْفَهُمْ، وَأَجْمِعْ كَلِمَتَهُمْ عَلَى الحَقِّ، وَاكْسِرْ شَوْكَةَ الظَّالِمِينَ، وَاكْتُبِ السَّلاَمَ وَالأَمْنَ لِعِبادِكَ أَجْمَعِينَ.

اللَّهُمَّ رَبَّنَا احْفَظْ أَوْطَانَنَا وَأَعِزَّ سُلْطَانَنَا وَأَيِّدْهُ بِالْحَقِّ وَأَيِّدْ بِهِ الْحَقَّ يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ.
اللَّهُمَّ رَبَّنَا اسْقِنَا مِنْ فَيْضِكَ الْمِدْرَارِ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الذَّاكِرِيْنَ لَكَ في اللَيْلِ وَالنَّهَارِ، الْمُسْتَغْفِرِيْنَ لَكَ بِالْعَشِيِّ وَالأَسْحَارِ.

اللَّهُمَّ أَنْزِلْ عَلَيْنَا مِنْ بَرَكَاتِ السَّمَاء وَأَخْرِجْ لَنَا مِنْ خَيْرَاتِ الأَرْضِ، وَبَارِكْ لَنَا في ثِمَارِنَا وَزُرُوْعِنَا وكُلِّ أَرزَاقِنَا يَا ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ.
رَبَّنَا آتِنَا في الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
رَبَّنَا لا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا، وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً، إِنَّكَ أَنْتَ الوَهَّابُ.
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الخَاسِرِيْنَ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدُّعَاءِ.

عِبَادَ اللهِ :إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي القُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ

[Khutbah Jum'at edisi 7 Jumadil Akhir 1431 H, 21 Mei 2010 M; Bersama Dakwah]
19:00 | 18 komentar

Budaya Iqra' untuk Kebangkitan Nasional


Jika kebangkitan nasional dimaknai sebagai masa bangkitnya semangat persatuan, kesatuan, dan nasionalisme serta kesadaran untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, itu memang bisa ditandai dengan berdirinya Boedi Oetomo, 20 Mei 1908 lalu. Namun, jika kebangkitan nasional di masa kini hanya mewujud dalam upacara-upacara sebagai formalitas, sungguh ia tinggal menjadi kata tanpa makna.

Masih segar ingatan kita, betapa "prestasi" bangsa ini dalam bidang korupsi masih menjadi "rekor" tersendiri. Tahun 2008, Indonesia menempati peringkat 5 negara terkorup sedunia. Dari 146 negara, Indonesia hanya kalah korup dibandingkan Cameroon, Cambodia, Kosovo dan Pakistan. Bagaimana di tahun 2010 ini? Survei Political and Economic Risk Consultancy (PERC) Maret lalu, Indonesia menempati urutan teratas dalam daftar negara paling korup di antara 16 negara tujuan investasi di Asia Pasifik.

Korupsi ini kemudian menjadi penghambat pemerataan kesejahteraan. Ketimpanganlah yang akhirnya kita dapati di negeri ini. Ada orang-orang kaya yang sangat kaya. Namun terlalu banyak orang miskin yang terlalu miskin. Angka kemiskinan di tahun 2010 ini diperkirakan mencapai 32,7 juta orang. Kita tidak akan repot menemukan orang-orang seperti mereka. Tengok saja tetangga kita, atau bahkan kita sendiri. Sebab mereka tersebar di seluruh penjuru negeri ini. Termasuk di ibukota. Di pinggir-pinggir kota. Di seluruh desa ada yang termasuk bagian dari mereka. Mata kita tidak bisa menghindar, karena sebagian mereka menyebar. Ada yang mahrum memang. Orang-orang yang terhormat dalam kemiskinannya, tidak pernah meminta-minta. Namun banyak juga yang terjun ke jalan-jalan, lampu merah, atau dari rumah ke rumah.

Lalu apa yang kita banggakan dengan pendidikan kita yang untuk mencetak pelajar cerdas yang lulus UN dengan jujur saja sulit? Sedangkan di negara maju pendidikan sudah jauh meninggalkan persoalan seperti itu. Bukan lagi bicara lulus atau tidak lulus, tetapi bicara apa karya alumni tahun ini? Bukan lagi bicara nilai tapi bicara prestasi dan inovasi. Maka wisuda dari perguruan tinggi bagi mereka adalah simbol lahirnya enterprenuer baru atau para profesional muda. Hasilnya adalah kemajuan teknologi yang mereka pasarkan untuk kita konsumsi dengan begitu bangganya. Jepang adalah contohnya. Saat kita belum selesai mempelajari cara penggunaan produk baru mereka, mereka sudah me-launching produk lebih baru temuan mereka. Kita menjadi gagap. Menatap masa depan yang masih gelap.

Padahal negeri ini mayoritas muslim. Mengapa bisa terjadi demikian? Bukankah mayoritas penduduk negeri ini memiliki warisan iqra' sebagai wahyu pertama yang tetap dihafal hingga kini? Justru di sinilah titik terlemahnya.

Kita tidak membudayakan iqra' itu. Sementara Rasulullah saat mendapat wahyu itu menjawab tiga kali "maa ana biqari'" namun membaca alam dan fenomena sosial adalah keahlian beliau. Beliau yang paling ahli. Lalu para sahabat menjadi para pembelajar yang mengubah sejarah Arab. Generasi sesudah mereka, ketika teknik pembuatan kertas dikenalkan oleh orang-orang China, menjadi semakin akseleratif dalam pembelajaran. Buku-buku Islam segera cepat menyebar. Generasi Islam menjadi generasi iqra'. Yang demikian rakus terhadap ilmu. Tidak lebih dari dua abad setelah datangnya Islam, industri buku maju pesat sedemikian rupa. Perpustakaan-perpustakaan besar juga banyak berdiri dengan ribuan buku koleksi.

Lihatlah mereka yang menjadi cermin generasinya. Ibnu Katsir menceritakan tentang Imam Bukhari, "Pada suatu malam ia bangun dari tidurnya. Setelah menyalakan lampu, ia menulis apa saja yang terlintas dalam pikirannya. Kemudian beberapa saat setelah memadamkan lampu, ia bangun lagi untuk menulis. Begitu yang terjadi berulang-ulang hingga hampir dua puluh kali."

Imam Nawawi juga demikian giat mempelopori budaya iqra'. Ia menjadi penuntut ilmu yang sangat luar biasa. "Selama dua tahun," katanya menceritakan perjuangan keilmuannya, "aku tidak sempat meletakkan lambungku di lantai."

Bahkan Ibnu Taimiyah tak ingin kehilangan sedikit pun waktunya kecuali dalam budaya iqra'. Anaknya menceritakan kepada cucunya, "Kakekmu kalau masuk ke dalam jamban ia berkata kepadaku, 'Bacalah olehmu buku ini dengan suara keras agar aku bisa mendengarnya dari dalam'"

Budaya iqra', budaya membaca, jika dimiliki oleh umat Islam yang menjadi penduduk terbesar di Indonesia, akan menjadi saham kebangkitan nasional di era modern ini. Sebagaimana sejarah Islam yang mencapai kemajuannya bersamaan dengan majunya ilmu dan budaya membaca, Indonesia juga bisa melakukan hal yang sama. Budaya iqra' secara pasti akan meningkatkan pengetahuan umat. Kuasa pengetahuan ini akan membawa umat menjadi lebih kompeten dalam mengelola kekayaan alamnya, juga mengembangkan ekonominya dengan berbagai cara. Jadi, jaminan kemajuan ekonomi dan teknologi ada di sana.

Lalu bagaimana dengan korupsi yang disinggung di awal tulisan ini? Apa korelasinya dengan budaya iqra'? Sepintas memang tidak ada. Apalagi jika sejak awal kita telah mempersepsikan bahwa para koruptor adalah berasal dari kalangan terdidik. Namun, budaya iqra, budaya membaca yang menghasilkan pengetahuan juga akan berpengaruh pada kepribadian. Kepribadian positif juga lahir dari bacaan yang positif. Seperti tetes air yang lambat laun bisa melubangi batu, seringnya membaca petunjuk ilahiyah, nilai-nila kemanusiaan, dan ide-ide positif yang terkandung dalam berbagai buku akan juga mempengaruhi sikap dan cara pandang seseorang.

Pertanyaan akhirnya: sudahkah kita mulai membiasakan budaya iqra', membaca buku? Memulainya di hari kebangkitan nasional ini tampaknya akan menjadi sejarah tersendiri, kalaupun belum bagi bangsa ini, setidaknya bagi Anda. [Muchlisin]
09:00 | 9 komentar

Masukkan alamat e-mail untuk mendapatkan up date Bersama Dakwah