Assalaamu'alaikum ,  Ahlan wa Sahlan  |  Facebook  |  Twitter  |  Pasang Iklan

Kendala Keangkuhan

Written By Admin BeDa on Jumat, 27 Agustus 2010 | 13:00

Datang kepada teks dengan pikiran dan jiwa yang kosong. Itulah syarat untuk menyatu dengan teks. Tapi itu juga sumber masalah manusia dengan teks. Karena sebagian besar mereka datang untuk mendebat teks. Mereka mempertanyakan keabsahan teks, atau mempertanyakan kebenaran makna teks. Itulah perdebatan antara Rasulullah SAW dengan manusia di zamannya. Itu pula yang selamanya akan menjadi perdebatan antara manusia dengan Tuhan.

Mempertanyakan keabsahan teks adalah sumber permasalahan yang melahirkan kekufuran dan kemusyrikan. Sementara mempertanyakan kebenaran makna teks adalah akar problem kaum munafiqin. Manusia cenderung mendatangi teks dengan angkuh sembari mengajukan dua pertanyaan. Pertama, benarkah ini teks dari Tuhan? Kedua, atas dasar apa seseorang bisa mengklaim diri sebagai pembawa teks dari Tuhan? Kedua pertanyaan inilah yang selamanya merintangi sebagian besar manusia untuk melihat cahaya kebenaran. Mereka mengingkari keabsahan teks dan keabsahan pembawa teks.

Itulah, misalnya, yang kita saksikan dalam peristiwa Isra' Mi'raj. Pada tahun kesepuluh dari masa nubuwah itu, perdebatan dengan teks mencapai puncaknya. Pengingkaran pada keabsahan teks dan pembawa teks menemukan momentumnya pada peristiwa yang sama sekali tidak masuk akal dalam ukuran mereka. Keabsahan teks tidak dapat dipisahkan dari keabsahan pembawa teks. Itu sebabnya jawaban Abu Bakar menyatukan keduanya ketka mengatakan: "Saya percaya kepada Muhammad (sebagai pembawa teks), maka saya percaya kepada semua yang ia katakan. Saya percaya bahwa ia membawa teks dari langit, maka saya percaya pada peristiwa yang ia ceritakan".

Jika dengan rahmat Allah manusia berhasil melewati rintangan ini, lalu mereka bermigrasi dari kekufuran menuju keimanan, maka keangkuhan intelektual itu masih menyisakan satu rintangan besar bagi mereka. Yaitu kecenderungan untuk mempertanyakan makna teks. Ini terkait dengan otoritas intelektual untuk menafsirkan teks. Misalnya debat antara Nabi Musa dengan Bani Israel tentang sapi. Keangkuhan intelektual inilah yang kelak menjadi akar dari kemunafikan seseorang setalah ia beriman. Mempertanyakan keabsahan tafsir atas teks sebenarnya hanya merupakan tipuan jiwa untuk membenarkan mengapa mereka tidak harus melaksanakan teks itu.

Sikap jiwa yang begitu itulah yang dijelaskan dalam surat Al-Kahfi ayat 54: "Dan sesungguhnya Kami telah mengulang-ulangi bagi manusia dalam Al-Qur'an ini bermacam perumpamaan. Dan manusia adalah makhluk yang paling banyak membantah".[Anis Matta, sumber : Serial Pembelajaran Majalah Tarbawi edisi 234]
13:00 | 6 komentar

Zionis Khawatir Kemampuan Hamas di Tepi Barat Terus Meningkat

Written By Admin BeDa on Selasa, 24 Agustus 2010 | 16:00


Pejabat divisi intelijen wilayah tengah Israel, letjen Ronin mengungkapkan kekhatiranya atas kemungkinan gerakan Hamas di Tepi Barat meningkatkan kemampuan militernya dalam perlawanan di Tepi Barat.

Seorang pejabat tinggi militer Israel berbicara tentang hal ini di majalah Mahaneh. Ia mengatakan, para pemimpin Hamas terus meningkatkan usahanya agar tidak tersingkir dari wilayah konflik. Keahlian Hamas saat ini sangat menganggu kami. Walaupun kami telah meningkatkan usaha dan juga otoritas Abbas meningkatkan upayanya untuk memberangus Hamas di Tepi Barat. Namun ada kemungkinan Hamas akan berhasil keluar dari kesulitanya di Tepi Barat, bahkan tidak menutup kemungkinan ia juga akan berhasil dari kesulitanya di wilayah internal (jajahan 48) Israel.

Kolonel Ronen mengisyaratkan, pihaknya saat ini sedang merancang operasi yang melibatkan warga pemukim Zionis untuk memasuki semua wilayah Palestina di Tepi Barat, termasuk wilayah A. Ia akan memilih sejumlah kota yang berada di lingkungan otoritas Abbas, seperti Jenin, Ramallah dan Betlehem. Mereka akan memeriksa kesiapan aparat milisi Abbas, sejauh mana kesiapanya dalam menyambut warga Zionis dan tentaranya. Mereka juga akan membawa sejumlah tokoh agama Yahudi untuk mengunjungi sejumlah tempat suci agamanya yang tersebar di Tepi Barat, seperti Nablus, Jericho, bekerja sama denga milisi Abbas di sana.

Dalam pada itu, menurut majalah tersebut, sejumlah komandan militer Zionis masih mengkhawatirkan aksi-aksi pihak Palestina yang memanfaatkan kunjungan militer Israel bersama warga ke tempat tersebut untuk menggelar operasi penculikan. Aksi penculikan oleh kelompok perlawanan akan semakin meningkat, di saat tidak ada kemajuan sama sekali dalam hal pertukaran tawanan Giladh Shalit. [asy, infopalestina]
16:00 | 6 komentar

Nuzulul Qur'an Menurut Berbagai Madzhab


Nuzulul Qur'an (turunnya Al-Qur'an) adalah hal yang sangat istimewa bagi umat Islam. Sebagaimana Al-Qur'an merupakan rahmat agung bagi umat ini, nuzulul Qur'an juga merupakan rahmat besar bagi umat ini.

Mayoritas umat Islam di Indonesia berpendapat nuzulul Qur'an jatuh pada tanggal 17 Ramadhan. Bahkan banyak pula yang mengadakan acara khusus untuk memperingati nuzulul Qur'an setiap tahunnya.

Di dalam Al-Qur'an, nuzulul Qur'an difirmankan Allah SWT dalam tiga ayat berikut ini:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآَنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ

(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) al-Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). (QS. Al-Baqarah:185)

فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ

Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. (QS. Ad-Dukhan : 4)

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ

Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur'an) pada malam kemuliaan (lailatul qadar) (QS. Al-Qadr : 1)

Sebagaimana QS. Al-Baqarah ayat 185 di atas, sebagian ayat Al-Qur'an bersifat menjadi bayan (penjelas) bagi sebagian ayat yang lain. Tidak ada pertentangan antar ayat Al-Qur'an.

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآَنَ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا

Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran? Kalau kiranya Al Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya. (QS. An-Nisa' : 82)

Demikian juga tiga ayat (QS. Al-Baqarah : 185, QS. Ad-Dukhan : 4, dan QS. Al-Qadr : 1) yang menjelaskan nuzulul Qur'an di atas. Ketiganya tidak bertentangan. Namun, dzahir ayat bertentangan dengan realitas sejarah, dimana Al-Qur'an diturunkan kepada Rasulullah SAW selama 23 tahun. Dalam hal ini para ulama terbagi dalam dua madzhab pokok, dan dua madzhab lain sebagai berikut:

Madzhab Pertama tentang Nuzulul Qur'an
Madzhab pertama ini merupakan pendapat dari Ibnu Abbas dan sejumlah ulama, yang kemudian menjadi pendapat jumhur ulama'. Bahwa yang dimaksud nuzulul Qur'an dalam 3 ayat tersebut adalah turunnya Al-Qur'an sekaligus ke Baitul Izzah di langit dunia. Ini untuk menunjukkan kepada malaikat-Nya betapa besar masalah ini. Kemudian Al-Qur'an diturunkan secara bertahap selama 23 tahun. 10 tahun ketika periode Makkiyah, dan 13 tahun dalam periode Madaniyah.

Dalil yang dipakai untuk memperkuat madzhab ini adalah:
1. Perkataan Ibnu Abbas:
"Al-Qur'an diturunkan sekaligus ke langit dunia pada lailatul qadar. Kemudian ia diturunkan selama dua puluh tahun" (HR. Hakim, Baihaqi, dan Nasai). Kemudian Ibnu Abbas membaca firman-Nya:

وَلَا يَأْتُونَكَ بِمَثَلٍ إِلَّا جِئْنَاكَ بِالْحَقِّ وَأَحْسَنَ تَفْسِيرًا

Tidaklah orang-orang kafir itu datang kepadamu (membawa) sesuatu yang ganjil, melainkan Kami datangkan kepadamu suatu yang benar dan yang paling baik penjelasannya (QS. Al-Furqan : 33)

وَقُرْآَنًا فَرَقْنَاهُ لِتَقْرَأَهُ عَلَى النَّاسِ عَلَى مُكْثٍ وَنَزَّلْنَاهُ تَنْزِيلًا

Dan Al Quran itu telah Kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya bagian demi bagian. (QS. Al-Isra' : 106)

2. Perkataan Ibnu Abbas:
"Al-Qur'an itu dipisahkan dari Adz-Dzkir, lalu diletakkan di Baitul Izzah di langit dunia, maka Jibril mulai menurunkannya kepada Nabi SAW" (HR. Hakim)

3. Perkataan Ibnu Abbas:
"Allah menurunkan Al-Qur'an sekaligus ke langit dunia, pusat turunnya Al-Qur'an secara bertahap. Lalu, Allah menurunkannya kepada Rasul-Nya bagian demi bagian" (HR. Hakim dan Baihaqi)

4. Perkataan Ibnu Abbas:
"Al-Qur'an diturunkan pada lailatul qadar pada bulan Ramadhan ke langit dunia sekaligus, lalu ia diturunkan secara berangsur-angsur" (HR. Thabrani)

Madzhab Kedua tentang Nuzulul Qur'an
Madzhab kedua tentang nuzulul Qur'an yaitu yang diriwayatkan oleh Amr bin Syarahil Asy-Sya'bi, (seorang tabi'in besar, ahli hadits dan fikih, guru Imam Abu Hanifah, yang wafat tahun 109 H) bahwa yang dimaksud dengan nuzulul Qur'an dalam tiga ayat di atas adalah permulaan turunnya Al-Qur'an itu dimulai pada lailatul qadar di bulan Ramadhan. Lalu turun secara bertahap selama 23 tahun.

Dengan demikian, hanya ada satu macam cara turun menurut madzhab ini, yaitu secara bertahap kepada Rasulullah sebagaimana dinyatakan dalam ayat :

وَقُرْآَنًا فَرَقْنَاهُ لِتَقْرَأَهُ عَلَى النَّاسِ عَلَى مُكْثٍ وَنَزَّلْنَاهُ تَنْزِيلًا

Dan Al-Quran itu telah Kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya bagian demi bagian. (QS. Al-Isra' : 106)

Orang musyrik yang diberitahu bahwa kitab samawi terdahulu turun sekaligus, menginginkan al-qur'an juga turun sekaligus.

وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْلَا نُزِّلَ عَلَيْهِ الْقُرْآَنُ جُمْلَةً وَاحِدَةً كَذَلِكَ لِنُثَبِّتَ بِهِ فُؤَادَكَ وَرَتَّلْنَاهُ تَرْتِيلًا * وَلَا يَأْتُونَكَ بِمَثَلٍ إِلَّا جِئْنَاكَ بِالْحَقِّ وَأَحْسَنَ تَفْسِيرًا

Berkatalah orang-orang yang kafir: "Mengapa Al Quran itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja?"; demikianlah supaya Kami perkuat hatimu dengannya dan Kami membacanya secara tartil (teratur dan benar). Tidaklah orang-orang kafir itu datang kepadamu (membawa) sesuatu yang ganjil, melainkan Kami datangkan kepadamu suatu yang benar dan yang paling baik penjelasannya. (QS. Al-Furqan : 32-33)

Menurut Syaikh Manna Al-Qaththan, madzhab kedua yang diriwayatkan Asy-Sya'bi, dengan dalil shahih dan dapat diterima ini, tidak bertentangan dengan madzhab pertama. Selanjutnya Syaikh Manna Al-Qaththan mengatakan pendapat yang kuat adalah Al-Qur'an diturunkan dua kali : pertama, diturunkan sekaligus ke Baitul Izzah pada lailatul Qadar, dan kedua, diturunkan dari langit dunia ke bumi secara berangsur-angsur selama 23 tahun.

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, ia pernah ditanya oleh Athiyah bin Aswad: "Dalam hatiku ada keraguan tentang firman Allah 'bulan Ramadhan itu bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur'an', dan firman Allah 'kami menurunkannya pada lailatul qadar'. Padahal Al-Qur'an itu ada yang diturunkan pada bulan Syawal, dzulqa'dah, Dzulhijjah, Muharam, Shafar, dan Rabiul Awal". Ibnu Abbas menjawab: "Al-Qur'an diturunkan pada lailatul qadar sekaligus. Kemudian diturunkan secara berangsur-angsur, sedikit demi sedikit dan terpisah-pisah serta perlahan-lahan sepanjang bulan dan hari"

Madzhab Ketiga tentang Nuzulul Qur'an

Yakni yang berpendapat Al-Qur'an diturunkan ke langit dunia pada 23 malam kemuliaan (lailatul qadar), yang pada setiap malam-malam kemuliaan itu ada yang ditentukan Allah untuk diturunkan setiap tahunnya. Dari jumlah untuk masa satu tahun penuh itu kemudian diturunkan secara berangsur-angsur kepada Rasul sepanjang tahun. Ini hasil ijtihad sebagian mufassir. Pendapat ini tidak mempunyai dalil.

Madzhab Keempat tentang Nuzulul Qur'an
Yaitu pendapat bahwa Al-Qur'an diturunkan pertama-tama berangsur-angsur ke Lauh Mahfudz, sebagaimana firman Allah:

بَلْ هُوَ قُرْآَنٌ مَجِيدٌ * فِي لَوْحٍ مَحْفُوظٍ

Bahkan yang didustakan mereka itu ialah Al Quran yang mulia, yang (tersimpan) dalam Lauh Mahfuzh. (QS. Al-Buruj : 22)

Kemudian ke Baitul Izzah serentak, lalu turun sedikit demi sedikit dalam 23 tahun. Jadi menurut madzhab ini Al-Qur'an diturunkan dalam tiga tahap.

Menurut Syaikh Manna Al-Qaththan, pendapat ini sebenarnya tidak bertentangan dengan kedua madzhab pokok, karena sebelum diturunkan ke Baitul Izzah, Al-Qur'an memang tersimpan di lauh mahfudz sebagaimana QS. Al-Buruj ayat 22 di atas.

Tanggal Pertama Kali Al-Qur'an diturunkan kepada Rasulullah
Al-Qur'an yang diturunkan pertama kali kepada Rasulullah adalah surat Al-'Alaq (Iqra') di gua hira yang terkenal itu. Mengenai tanggalnya, para ulama memiliki banyak pendapat yang satu sama lain ada juga yang berselish jauh. Sebagian mengatakan bulan Rajab dan sebagian lainnya mengatakan bulan Ramadhan. Namun yang benar adalah bulan Ramadhan sebagaimana QS. Al-Baqarah ayat 185.

Dari pendapat bulan Ramadhan ini, terpecah lagi ke dalam beberapa pendapat. Sebagian mengatakan tanggal 7, sebagian berpendapat tanggal 17, dan ada juga yang berpendapat tanggal 18. Syaikh Syafiyurrahman Al-Mubarakfury setelah melakukan penelitian mengatakan di dalam Rahiqul Makhtum bahwa wahyu pertama tersebut jatuh pada hari Senin, tanggal 10 Agustus 610 M, bertepatan dengan bulan Ramadhan. Pada bulan Ramadhan itu, hari Senin jatuh pada tanggal 7, 14, dan 21. Dengan mendasarkan kepada argumen bahwa Al-Qur'an pertama kali diturunkan pada lailatul qadar, dan lailatul qadar ada pada malam ganjil sepuluh hari terakhir Ramadhan, Syafiyurrahman Al-Mubarakfury menyimpulkan bahwa Al-Qur'an pertama kali diturunkan kepada rasulullah pada Tanggal 21 Ramadhan.

Demikian penjelasan mengenai Nuzulul Qur'an menurut berbagai madzhab, semoga bermanfaat. Wallaahu a'lam bish shawab. [Bersama Dakwah, Sumber: مابحث في علوم القران karya Syaikh Manna Al-Qaththan, رحيق المختوم karya Syaikh Syafiyurrahman Al-Mubarakfury, Tafsir Ibnu Katsir, dan Tafsir Fi Zhilalil Qur'an]


Bersambung ke Hikmah Nuzulul Qur'an
09:00 | 23 komentar

Antara Peran dan Popularitas

Written By Admin BeDa on Kamis, 19 Agustus 2010 | 16:00


Ketika mengisi acara motivasi kepada adik-adik pengurus SKI dan Remas SMA dua hari lalu, saya meminta semua peserta untuk mengangkat tangan. "Siapa yang tidak hafal nama ayahnya, silahkan tangannya diturunkan" Alhamdulillah, semua tangan masih terangkat. "Siapa yang tidak hafal nama kakeknya, silahkan tangannya diturunkan" Ternyata sudah ada dua orang yang menurunkan tangan.

"Siapa yang tidak hafal nama ayahnya kakek, silahkan tangannya diturunkan" Kini tinggal empat orang yang masih mengangkat tangan. "Siapa yang tidak hafal nama kakeknya kakek, silahkan tangannya diturunkan" Begitu selesai kalimat ini, tidak ada lagi tangan yang terangkat. Semua telah diturunkan.

Begitulah. Miliyaran orang pernah hidup di bumi ini, tetapi kebanyakan mereka akan langsung dilupakan setelah kematiannya. Namanya hanya bertahan beberapa tahun setelah kematian, itu pun dalam memori keluarga. Seperti adik-adik SMA tadi, kebanyakan kita bahkan tidak hafal nama ayah kakek kita. Jika kita saja tidak tahu, bagaimana orang lain?

Lalu, bagaimana dengan kita? Apakah kita juga akan segera hilang dalam pusaran zaman karena tidak berartinya peran kita, atau dunia mengenang kehadiran kita sebab karya dan kontribusi yang bermakna bagi mereka? Alangkah pendeknya sejarah kita jika hanya digoreskan dalam batu nisan. Seperti kata KH. Rahmat Abdullah "Apa artinya usia panjang namun tanpa isi, sehingga boleh jadi biografi kita kelak hanya berupa tiga baris kata yang dipahatkan di nisan kita : Si Fulan lahir tanggal sekian-sekian, wafat tanggal sekian-sekian"

Tentu tulisan ini tidak bermaksud untuk memotivasi kita mengejar popularitas atau melambungkan nama. Hingga akhirnya kita tersibukkan dengan kerja-kerja "penokohan", "pencitraan", dan sejenisnya. Kita lalu terlupa dengan peran utama dalam menanam kebaikan dan menabur kemanfaatan. Kita menjadi tidak ikhlas: bukan mengejar ridha-Nya tapi mengejar apresiasi dari makhluk-Nya.

Betapa sulitnya memenangkan ikhlas atas tendensi popularitas hingga Ibnul Mubarok merasa perlu menulis surat pada Sufyan Ats-Tsauri, “Hati-hatilah dengan popularitas”. Namun, toh keduanya adalah orang-orang yang terkenal hingga zaman kita kini.

Ibrahim bin Adham juga pernah mengatakan: “Tidaklah bertakwa pada Allah orang yang ingin kebaikannya disebut-sebut orang.” Namun siapa yang berani mengatakan Ibrahim bin Adham tidak bertaqwa? Toh namanya mewangi hingga kini. Ia tak mengejar popularitas, namun popularitas tak mau berpisah dengannya.

Ternyata popularitas hakiki memang akan mengikuti peran dan kontribusi seseorang. Di mana ada sumber mata air kemanfaatan, di sana ada arus popularitas. Siapa yang menyinarkan cahaya kebaikan, bayangan popularitas akan mengikutinya di balik setiap peran dan kontribusi yang dilakukannya.

Sedangkan popularitas yang diperoleh melalui rekayasa dan kebusukan, ia hanya sementara dan akan segera hilang. Seumpama lilin yang nyalanya akan membakar dirinya sendiri. "Aku tidak mengetahui ada seseorang yang menginginkan popularitas kecuali berangsur-angsur agamanya pun akan hilang", demikian kesaksian Basyr bin Al-Harits Al-Hafi. Sejarah pun mencatat, terlalu banyak mereka yang berdiri di atas popularitas, namun bukan berdampak pujian, melainkan dihujani hujatan.

Pada akhirnya, peran dan kontribusi seseorang akan menentukan makna kehidupannya sendiri. “Orang yang hanya memikirkan diri sendiri," kata Sayyid Qutb, "ia akan hidup sebagai orang kerdil dan mati sebagai orang kerdil." "Tetapi orang yang mau memikirkan orang lain," lanjutnya, "ia akan menjadi orang besar dan mati sebagai orang besar”.

Maka fokus kita adalah bagaimana menunaikan amanah sebaik-baiknya. Menanam kebaikan di segala ladang kehidupan yang dihamparkan Allah kepada kita. Menabur kemanfaatan pada semua hati dan jiwa yang ditakdirkan oleh berada di sekeliling kita. Kalaupun dunia tidak mengingat nama kita, Allah SWT mengabadikan segala amal kita di memori lauh mahfudz. Asalkan kita senantiasa berorientasi meraih ridha-Nya.[Muchlisin]
16:00 | 13 komentar

Ramadhan, Israel Malah Blokade Al-Aqsa dan Serang Gaza

Written By Admin BeDa on Rabu, 18 Agustus 2010 | 13:00


Di hari ketujuh Ramadhan, Israel melakukan dua kejahatan terhadap muslim Palestina. Kejahatan pertama melanggar hak kebebasan beribadah muslim Palestina, sedangkan kejahatan kedua melanggar hak untuk hidup.

Kejahatan pertama itu berupa blokade yang dilakukan tentara Israel sejak Selasa malam (17/08) di Masjid Al-Aqsa. Beberapa gerbang ditutup oleh tentara negara zionis itu sesaat sebelum pelaksanaan shalat tarawih usai. Kontan, tindakan ini sangat memberatkan jamaah shalat tarawih, khususnya yang telah berusia lanjut.

Mereka terpaksa menempuh jarak yang berkali lipat karena harus memutar. Tindakan ini sekaligus melanggar intruksi pejabat di Dinas Wakaf dan Tempat Suci Palestina yang meminta agar Israel membuka seluruh gerbang masjid Al-Aqsha bagi jamaah shalat terutama saat shalat tarawih.

Kejahatan kedua dilakukan Israel pada hari yang sama di jalur Gaza. Israel melancarkan serangan udara terhadap beberapa sasaran di Jalur Gaza. Warga Palestina yang menjadi saksi mata mengatakan intensitas serangan udara itu terjadi hingga lima kali dalam sehari.

Serangan-serangan udara itu terjadi di selatan Gaza City, di timur Rafah, dan pertengahan antara distrik Tengah dan distrik Khan Yunis. Setidaknya, dua orang terluka akibat serangan udara itu.[AN/bsb]
13:00 | 10 komentar

Ceramah Ramadhan 11: Qiyamul Lail, Keutamaan dan Pembiasaannya

Written By Admin BeDa on Senin, 16 Agustus 2010 | 14:00


Setelah membahas Ramadhan Momentum Tepat untuk Taubat pada malam ke-10, Ceramah Ramadhan ke-11 ini membahas Qiyamul Lail, Keutamaan dan Pembiasaannya. Selain bisa dibaca secara online, Ceramah Ramadhan ini juga bisa didownload DI SINI.

Jama'ah shalat tarawih yang dirahmati Allah,
Puasa yang telah kita lakukan selama sepuluh hari di bulan Ramadhan ini, tidak lain tujuannya adalah dalam rangka menjadikan orang-orang beriman menjadi muttaqin; meraih predikat taqwa. Sebagaimana firman Allah SWT :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertaqwa. (QS. Al-Baqarah : 183)

Bagaimanakah karakter muttaqin atau orang yang bertaqwa itu? Salah satunya adalah sedikit tidur di malam hari.

إِنَّ الْمُتَّقِينَ فِي جَنَّاتٍ وَعُيُونٍ * آَخِذِينَ مَا آَتَاهُمْ رَبُّهُمْ إِنَّهُمْ كَانُوا قَبْلَ ذَلِكَ مُحْسِنِينَ * كَانُوا قَلِيلًا مِنَ اللَّيْلِ مَا يَهْجَعُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa itu berada dalam taman-taman (syurga) dan mata air-mata air, sambil menerima segala pemberian Rabb mereka. Sesungguhnya mereka sebelum itu di dunia adalah orang-orang yang berbuat kebaikan. Di dunia mereka sedikit sekali tidur di waktu malam. (QS. Adz-Dzariyat : 15-17)

Ketika menjelaskan ayat ketujuh belas ini dalam Fii Zhilaalil Qur'an, Sayyid Qutb berkata: "Mereka itulah yang bangun di penghujung malam tatkala orang-orang terlelap. Mereka menghadapkan dirinya kepada Allah dengan memohon ampunan dan kasih sayang-Nya. Mereka tidak merasakan nikmatnya terlelap kecuali sejenak dan tidak tidur pada malam hari kecuali sebentar. Mereka asyik bersama Rabbnya di keheningan malam"

Jelaslah, bahwa sedikit tidur di waktu malam itu bukan untuk begadang, juga tidak sama dengan orang kerja shif tiga. Tetapi sedikit tidur malam karena mengerjakan shalat malam, qiyamul lail. Puasa yang hendak meraih derajat taqwa, juga berupaya mencapai karakternya. Sehingga kita lihat, ada pembiasaan qiyamul lail selama bulan Ramadhan, terutama melalui shalat tarawih.

Karena sangat eratnya qiyamul lail dengan shalat tarawih, Imam Nawawi dalam Riyadhus Shalihin menyandingkan bab keutamaan shalat malam dengan bab shalat tarawih, tanpa ada bab lain yang memisahkan keduanya. Dalam bab shalat tarawih itu, ada dua hadits yang dicantumkan oleh Imam Nawawi. Keduanya menggunakan istilah yang sama: Qiyamu Ramadhan.

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Barangsiapa yang qiyam Ramadhan, karena iman dan mengharapkan pahala (dari Allah), niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu (Muttafaq 'alaih)

Sedangkan hadits kedua, sebelum lafadz itu ada tambahan dari Abu Hurairah:

يُرَغِّبُ فِى قِيَامِ رَمَضَانَ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَأْمُرَهُمْ فِيهِ بِعَزِيمَةٍ

Rasulullah sangat menganjurkan shalat tarawih, tetapi tidak mewajibkannya. (HR. Muslim)

Ketika menjelaskan hadits ini, Dr. Mushtofa Al-Bugho bersama empat ulama lainnya dalam kitab Nuzhatul Muttaqin mengatakan: "Hadits ini menekankan sunah shalat tarawih... shalat tarawih dilakukan secara berjamaah oleh Rasulullah hanya pada tiga hari pertama, lalu dihentikan Rasulullah karena beliau khawatir akan menjadi wajib. Lalu dilakukan secara berjamaah lagi pada masa pemerintahan Umar r.a. dengan mendapat persetujuan para ulama zaman itu.

Dengan demikian, shalat tarawih juga berfungsi sebagai upaya pembiasaan. Bukan berarti banyaknya shalat yang telah kita lakukan di bulan Ramadhan begitu saja kita tinggalkan selepas Ramadhan. Tidak berbekas. Jangan sampai ketika di bulan Ramadhan kita sudah menunaikan shalat tarawih setelah Isya' lalu shalat tahajud sebelum atau sesudah sahur, tiba-tiba di bulan Syawal dan bulan-bulan selanjutnya nanti kita terlelap dalam tidur panjang tanpa qiyamul lail sama sekali. Jika begitu halnya, bisa dikatakan puasa kita gagal. Sebab puasa hendak menjadikan pelakunya menjadi bertaqwa, dan salah satu karakter orang yang bertaqwa adalah sedikit tidur di waktu malam karena menunaikan qiyamul lail.

Saudara-saudaraku yang dirahmati Allah,
Begitu banyak keutamaan qiyamul lail yang telah dijelaskan oleh Rasulullah SAW dalam hadits-hadits beliau. Bahkan beliau adalah orang yang paling perhatian terhadap qiyamul lail. Semakin besar beban dakwah, semakin meningkat qiyamul lail. Semakin besar tantangan hidup, semakin meningkat qiyamul lail. Semakin tinggi derajat, semakin giat qiyamul lail. Itu yang hendak beliau sampaikan kepada umatnya, sehingga meskipun sudah diampuni dosa-dosanya, beliau tetap luar biasa dalam melaksanakan qiyamul lail sampai kaki beliau bengkak karenanya. Ketika Aisyah menanyakan itu, beliau menjawab:

يُرَغِّبُ فِى قِيَامِ رَمَضَانَ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَأْمُرَهُمْ فِيهِ بِعَزِيمَةٍ

Apakah aku tidak suka menjadi hamba yang bersyukur? (HR. Bukhari Muslim)

Adapun keutamaan qiyamul lail yang tersirat dalam hadits quliyah beliau adalah sebagai berikut:

1. Salah satu jalan menuju surga

Rasulullah SAW bersabda:

أَيُّهَا النَّاسُ أَفْشُوا السَّلاَمَ وَأَطْعِمُوا الطَّعَامَ وَصَلُّوا وَالنَّاسُ نِيَامٌ تَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ بِسَلاَمٍ

Wahai manusia, tebarkanlah salam, berikanlah makan, sambunglah silaturahim dan shalatlah kalian pada saat manusia tidur malam, maka kalian akan masuk surga dengan tenang. (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Hakim)

2. Menaikkan Derajat di Surga

Bukan hanya sekedar masuk surga, orang yang ahli qiyamul lail akan mendapatkan kamar-kamar yang istimewa. Derajat ini disediakan bagi orang yang melaksanakan qiyamul lail.

إن في الجنة غرفا يرى ظاهرها من باطنها وباطنها من ظاهرها أعدها الله لمن آلان الكلام وأطعم الطعام وتابع الصيام وصلى بالليل والناس نيام

Sesungguhnya di surga terdapat kamar-kamar yang luarnya terlihat dari dalamnya dan dalamnya terlihat dari luarnya, Allah sediakan untuk orang yang memberi makan, berkata lemah lembut, melanjutkan puasa, menebar salam, dan shalat malam pada saat orang lain sedang tidur. (HR. Baihaqi, dishahihkan Al-Albani)

3. Kebiasaan orang-orang pilihan dan penghapus dosa

Keutamaan qiyamul lail berikutnya adalah, bahwa amalan ini merupakan amal orang-orang pilihan, orang-orang shalih. Qiyamul lail mendekatkan pelakunya kepada Allah, penutup kesalahan dan dosa.

عَلَيْكُمْ بِقِيَامِ اللَّيْلِ فَإِنَّهُ دَأْبُ الصَّالِحِينَ قَبْلَكُمْ وَهُوَ قُرْبَةٌ إِلَى رَبِّكُمْ وَمَكْفَرَةٌ لِلسَّيِّئَاتِ وَمَنْهَاةٌ لِلإِثْمِ

Lakukanlah shalat malam karena ia adalah kebiasaan orang-orang shalih sebelum kalian, ia pendekat kepada Rabbmu, penutup kesalahan dan pencegah dosa. (HR. Tirmidzi, dihasankan oleh Al-Albani)

4. Shalat paling utama setelah shalat fardhu

Sebagaimana sabda Rasulullah SAW:

أَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الصَّلاَةِ الْمَكْتُوبَةِ الصَّلاَةُ فِى جَوْفِ اللَّيْلِ

Shalat yang paling utama setelah shalat fardhu adalah shalat malam (HR. Muslim)

5. Banyaknya ayat Al-Qur'an yang dibaca ketika qiyamul lail menjadi penentu derajat seseorang di sisi Allah

Semakin lama atau panjang shalat seseorang, yakni dengan memperlama berdiri karena panjangnya ayat yang dibaca, semakin tinggi derajat seseorang di sisi Allah. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW:

مَنْ قَامَ بِعَشْرِ آيَاتٍ لَمْ يُكْتَبْ مِنَ الْغَافِلِينَ وَمَنْ قَامَ بِمِائَةِ آيَةٍ كُتِبَ مِنَ الْقَانِتِينَ وَمَنْ قَامَ بِأَلْفِ آيَةٍ كُتِبَ مِنَ الْمُقَنْطَرِينَ

Barangsiapa yang shalat (malam) dengan membaca sepuluh ayat maka tidak dicatat sebagai orang yang lalai. Barangsiapa yang shalat dengan membaca seratus ayat maka dicatat sebagai orang yang taat. Barangsiapa yang shalat dengan membaca seribu ayat maka dicatat sebagai muqanthirin (orang yang dapat pahala sebesar satu qinthar). (HR. Abu Dawud, dishahihkan oleh Al-Albani)

Semoga keutamaan qiyamul lail di atas semakin memotivasi kita untuk melaksanakan qiyamul lail. Bermula dari pembiasaan di bulan Ramadhan, semoga kita istiqamah qiyamul lail di bulan-bulan berikutnya. Wallaahu a'lam bish shawab. [Muchlisin]

E-BOOK CERAMAH RAMADHAN INI BISA DIDOWNLOAD DI SINI
14:00 | 9 komentar

KC tanpa B

Written By Admin BeDa on Minggu, 15 Agustus 2010 | 13:00


Kita sudah akrab dengan KCB, Ketika Cinta Bertasbih. Ada KCB 1 dan KCB 2 yang telah diputar di bioskop. Ada pula KCB spesial Ramadhan berbentuk sinetron yang ditayangkan di TV. Sekarang, mari kita renungkan KC tanpa B.

Hari telah gelap
Dingin malam membelai kulit dan merasuk ke tulang
Mengantar dua bola mata lebih cepat terpejam

Datanglah sesosok makhluk rupawan.
Menghampiri perlahan
Dalam dekat ia melempar pandangan mempesona
Sebelum akhirnya menyapa,
“Katanya kau mencintaiku”
“Siapa kamu?”
“Ramadhan!”
“Subhaanallah… belum pernah kulihat keindahan sepertimu,
maka saksikan bahwa aku mencintaimu!”
“Bohong!
Bagaimana kau mencintaiku, sementara engkau tak mengindahkan
Ketika alam mengabarkan aku akan datang”
“Bukankah aku telah menyambutmu?
Aku gembira atas hadirmu, kusebar marhaban ya Ramadhan
Ke seluruh teman dan handai tolanku”
“Ya, kau gembira. Tetapi bukan karena aku.
Kau gembira karena rezekimu akan bertambah dengan kedatanganku
Kau gembira sebab setelah aku pergi Idul Fitri menggantikanku
Marhaban itupun bukan untukku
Kau hanya ingin sebuah citra mulia
Tertanam dalam benak sahabat dan orang-orang dekat
Bahkan kau telah memanipulasi cinta atas namaku
Marhaban kau tuliskan tapi cinta kau harapkan
Jika tidak, lalu mengapa kau pilih gadis-gadis untuk menerimanya”
“Tapi sungguh aku mencintaimu
jika tidak, mungkin aku telah bergabung dengan barisan orang-orang yang berbuka”
“Ya, kau puasa. Tetapi puasamu bukan puasa seorang pecinta
Cinta hanya memilih bunga terindah dari taman kehidupan
Dihadiahkan pada kekasih hingga berpadulah warna dan keharuman
Dalam romantisme pengorbanan
Sementara puasamu,
Kau tahan lapar dan dahaga
Namun lisan menganga menyemburkan bara
Hati liar mengumbar hawa
Pikiran melayang menjangkau nista.
Pertemuan cinta tak pernah terasa lama
Setiap detiknya dirindui jiwa
Lalu mengapa kau berharap surya tenggelam segera
Untuk kau penuhi perut yang kau sayangi
Dengan makanan dan minuman yang kau tabung sehari
Kau gembira saat itu
Dalam meja makan yang sesak makanan
Bukan cinta kepadaku, melainkan kemewahan yang tak pernah ada
Dalam diri sebelas saudaraku”
“Aku juga mencintai malam bersamamu,
maka ada tarawih, witir, dan tadarus menghias malamku”
“Cinta itu bersemayam dalam jiwa
Bukan dalam isyarat gerak dan kata-kata
Apalah artinya banyaknya rakaatmu
Jika jiwa kosong dan kekhusyukan telah berpisah denganmu
Ucapan bibir tanpa jiwa bukanlah cinta
Doa-doa bukanlah rapal mantra atau untaian sastra
Jika pencipta cinta tak pernah kau tuju
Tak lebih cintamu palsu
Jika ayat-ayat yang diturunkan pada waktuku
Hanya kau ucap cepat-cepat
Tak jelas tak bermakna
Bak komat-kamit dukun-dukun Persia
Itukah cinta?
Dan ketika malam pun belum larut
Kau telah menghempaskan diri dalam tidur panjang
Tak mau terbangun kecuali untuk kenyang saat fajar menjelang
Itukah cinta?
Ketika Cinta Tanpa Bukti
Apalah artinya…”
Tiba-tiba sosok putih itu makin berkilau
Bersinar, menjelma cahaya
“Jangan pergi!”
“Aku takkan segera pergi, dalam nyata aku masih ada
Tapi apalah arti 29 atau 30 hari
Jika sisanya kau jalani seperti hari-hari ini
Ketika Cinta Tanpa Bukti”

Hilang sudah. Kini dua bola mata itu kembali terbuka
Di hadapannya ia telah membaca kata-kata ini
Hingga huruf terakhirnya.[]
13:00 | 15 komentar

Khutbah Jum'at: Ramadhan dan Kemerdekaan Hakiki

Written By Admin BeDa on Kamis, 12 Agustus 2010 | 17:00


Ada keistimewaan Ramadhan 1431 H di Indonesia. Yakni bertepatannya Ramadhan dengan HUT Kemerdekaan RI ke-65, mengingatkan kita dengan kemerdekaan Republik Indonesia yang juga bertepatan dengan bulan Ramadhan. Karenanya Khutbah Jum'at Terbaru ini berusaha membahas Korelasi Ramadhan dengan Kemerdekaan Hakiki. Harapannya, semoga kaum muslimin menyadari bahwa kemerdekaan dari penjajahan Belanda bukanlah kemerdekaan yang final, dan Ramadhan merupakan momentum bagi perbaikan diri dan bangsa untuk meraih kemerdekaan yang sesungguhnya. Dengan demikian, tema Khutbah Jum'at edisi 3 Ramadhan 1431 H yang bertepatan dengan 13 Agustus 2010 M ini adalah: Ramadhan dan Kemerdekaan Hakiki.

KHUTBAH PERTAMA

إنَّ الحَمْدَ لله، نَحْمَدُه، ونستعينُه، ونستغفرُهُ، ونعوذُ به مِن شُرُورِ أنفُسِنَا، وَمِنْ سيئاتِ أعْمَالِنا، مَنْ يَهْدِه الله فَلا مُضِلَّ لَهُ، ومن يُضْلِلْ، فَلا هَادِي لَهُ.
وأَشْهَدُ أنْ لا إلَهَ إلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، وأشهدُ أنَّ مُحَمَّدًا عبْدُه ورَسُولُه.
اللَّهُمَّ صَلِّى عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

Jamaah Jum’at yang dirahmati Allah,
Merupakan nikmat yang sangat besar dan tiada tara, bahwa hari ini kita dipertemukan Allah Azza wa jalla dengan Ramadhan dalam keadaan Islam dan Iman. Dengan pertemuan ini kita mendapatkan kesempatan besar untuk mendapat ampunan dari Allah SWT, sebagaimana sabda Rasulullah SAW:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Barangsiapa yang berpuasa karena iman dan mengharap perhitungan (pahala) akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. (Muttafaq 'Alaih)

Juga dalam sabdanya yang lain, saat redaksi shama (puasa) diganti dengan qaama (qiyamullail):

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Barangsiapa yang qiyam (lail) Ramadhan karena iman dan mengharap perhitungan (pahala) akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. (Muttafaq 'Alaih)

Maka ini adalah kesempatan besar, sekaligus nikmat yang agung. Akan tetapi, peluang besar ini juga menjadi sebuah kecelakaan bagi orang-orang yang menyia-nyiakannya sehingga ia keluar dari Ramadhan tanpa ampunan dari Rabb-nya. Maka malaikat Jibril pun mendoakan dengan diamini Rasulullah:

بَعُدَ مَنْ أَدْرَكَ رَمَضَانَ، فَلَمْ يُغْفَرْ لَهُ

Celakalah seorang yang memasuki bulan Ramadhan namun dia tidak diampuni (HR. Hakim dan Thabrani)

Jamaah Jum’at yang dirahmati Allah,
Ramadhan kita kali ini bertepatan dengan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia ke-65. Kita pun perlu mensyukuri nikmat kemerdekaan itu. Bahwa kemerdekaan itu kita raih di bulan Ramadhan pada tanggal 17 Agustus 1945, para pendahulu kita pun telah menyatakan bahwa ia merupakan rahmat dari Allah SWT. Di samping itu, sungguh peristiwa ini menjadi penguat bagi salah satu nama bulan Ramadhan. Yakni syahrul jihad. Bahwa Ramadhan adalah bulan di saat kaum muslimin memiliki gairah besar untuk berjihad menegakkan agama Allah, bukan bulan yang memperlemah umat Islam dalam hari-hari yang penuh kelesuan.

Maka sejarah umat bicara. Perang Badar terjadi pada bulan Ramadhan dan kaum muslimin menuai kemenangan yang gemilang. 313 pasukan Islam berhasil mengalahkan 1000 pasukan kafir Quraisy yang bersenjatakan lengkap. Kemenangan gemilang pertama yang diraih umat Islam ini kemudian menjadi penguat eksistensi kaum muslimin di Madinah dan pembuka bagi kemenangan-kemenangan Islam berikutnya. Adakah pakar militer saat itu yang bisa memprediksi bahwa Rasulullah dan para sahabatnya bisa memenangkan peperangan? Dan kemenangan jihad ini terjadi di bulan Ramadhan!

Enam tahun kemudian terjadi peristiwa yang jauh lebih besar dan mempesona. Inilah penaklukan paling indah dalam sejarah umat manusia. Penaklukan tanpa korban jiwa. Kemenangan besar tanpa tetesan darah! Sepuluh ribu pasukan Islam yang dipimpin oleh Rasulullah memasuki Makkah dengan tenang, menang tanpa perlawanan. Bukan hanya kemenangan secara fisik yang membuat pasukan Makkah tidak berani memberontak, tetapi juga kemenangan jiwa sehingga keimanan masuk ke jiwa-jiwa mayoritas penduduk Makkah menggantikan seluruh kekufuran dan permusuhan mereka. Maka, tak ada satupun yang membela saat 360-an berhala di sekeliling ka’bah dihancurkan. Tak ada yang meratapi atau melakukan demontrasi saat berhala-berhala itu dilenyapkan. Sebab, sesaat sebelum dilenyapkan dari masjidil haram, Allah telah melenyapkan dari hati mereka. Inilah jihad dan kemenangan besar yang juga terjadi di bulan Ramadhan.

650 tahun kemudian juga terjadi peperangan yang dikenal dengan nama Ain Jaluth. Pasukan Islam melawan pasukan Tartar. Dua tahun sebelumnya Tartar di bawah pimpinan Hulako Khan telah menyerang Baghdad. Maka, bulan-bulan berikutnya adalah masa penderitaan dan kekalahan kaum muslimin, jatuhnya Baghdad, serta terbunuhnya khalifah. Hingga akhirnya jihad dikumandangkan yang terkenal dengan sebutan Perang Ain Jaluth. Kaum muslimin berhasil menuai kemenangan atas Tartar. Dan ini juga terjadi pada bulan Ramadhan.

Masih banyak sejarah jihad yang dimenangkan kaum muslimin di bulan Ramadhan.
Pada Ramadhan tahun 15 Hijrah, terjadi perang Qadisiyyah dimana orang-orang Majusi di Persia ditumbangkan. Pada Ramadhan tahun 53 H, umat Islam memasuki pulau Rhodes di Eropa. Pada bulan Ramadhan tahun 91 H, umat Islam memasuki selatan Andalusia. Pada Ramadhan tahun 92 H., umat Islam keluar dari Afrika dan membuka Andalusia dengan komandan Thariq bin Ziyad.

Jamaah Jum’at yang dirahmati Allah,
Jika Ramadhan telah menjadi bulan jihad, maka mari kita berdiri untuk memandangi wajah negeri ini. Sudahkah ia merdeka secara hakiki? Dan sudahkah kita mendapatkan kemerdekaan hakiki sebagai umat Islam Indonesia?

Kemerdekaan pertama yang harus dimiliki oleh manusia adalah kemerdekaan dari segala bentuk peribadatan kepada selain Allah. Jika seorang manusia masih dicekam ketakutan kepada sesama manusia, atau makhluk lain, lalu bisakah ia disebut merdeka? Padahal manusia sama derajatnya di sisi Allah. Yang membedakan hanyalah ketaqwaannya.

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa (QS. Al-Hujurat : 13)

Jika dengan sesama manusia saja tidak boleh menghamba, maka bagaimanakah kiranya orang yang menghamba kepada makhluk lain selain manusia yang kedudukannya lebih rendah. Baik itu makhluk hidup, makhluk ghaib, maupun materi seperti harta dan kekuasaan.

Kemerdekaan pertama adalah kemerdekaan aqidah. Bahwa kita hanya beribadah kepada Allah, takut kepada Allah, dan berharap hanya pada Allah. Bertauhid dengan benar. Sehingga seorang mukmin tidak lagi memiliki kekhawatiran dan ketakutan, ia merdeka!

وَلَا تَهِنُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَنْتُمُ الْأَعْلَوْنَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman. (QS. Ali Imran : 139)

Kemerdekaan beraqidah ini tentu saja berimplikasi pada kemerdekaan menjalankan syariat. Maka jika Islam hendak dilaksanakan secara kaffah tetapi justru dihalangi dan dibatasi, sesungguhnya kemerdekaan hakiki belum kita peroleh.

Jamaah Jum’at yang dirahmati Allah,
Kemerdekaan hakiki berikutnya mensyaratkan kemerdekaan ekonomi dari riba dan kemiskinan sistemik. Maka kita lihat, selain membangun masjid, Rasulullah di Madinah juga membangun pasar. Para pebisnis Islam seperti Abdurrahman bin Auf juga bergerak untuk memerdekakan ekonomi Madinah dari dominasi ribawi Yahudi. Akhirnya, kehidupan ekonomi membaik. Pelaksanaan zakat yang menjadi salah satu rukun Islam juga mendukung perekonomian umat, mengurangi kesenjangan dan menciptakan keharmonisan hubungan dalam bermasyarakat.

Ketika ekonomi terjajah, mudah sekali seseorang atau sebuah negara sekalipun didikte untuk mengikuti segala kemauan pihak yang berkuasa secara ekonomi. Jika keputusan-keputusan hidup kita atau kebijakan negara ini kemudian tidak mandiri melainkan diintervensi asing karena ketergantungan ekonomi, sudahkah kita merdeka? Pada hakikatnya belum. Karena merdeka berarti tidak dipengaruhi oleh siapapun dan bebas menentukan jalan hidup agar sesuai dengan kehendak Allah SWT.

Kita jadi merenung, kalau begitu ada benarnya ungkapan:

كاد الفقر أن يكون كفرا

Hampir saja kemiskinan menyebabkan kekufuran

Jamaah Jum’at yang dirahmati Allah,
Kemerdekaan hakiki juga berarti kita merdeka untuk memperbanyak kebaikan sekaligus merdeka dari anasir-anasir negatif atau kemaksiatan. Hari ini kita mendapatkan fakta bahwa, muslimah yang berjilbab sebagian masih kesulitan bekerja di tempat publik dengan alasan jilbabnya; entah itu rumah sakit atau yang lainnya. Masih ada instansi-instansi yang tidak memberikan kesempatan luas kepada kaum muslimin untuk melaksanakan shalat tetap pada waktunya. Sebaliknya, kita seakan dibanjiri dengan berbagai kemaksiatan yang sebagiannya tidak bisa kita hadang karena masuk dalam wilayah privasi dan menerobos dalam keluarga kita. Media elektronik yang kaya dengan kemaksiatan namun miskin pendidikan, lokalisasi dan perjudian yang dilindungi, serta pergaulan bebas yang bahkan difasilitasi dengan penjualan kondom secara legal benar-benar membuat kemerdekaan tidak mencapai hakikatnya.

Belum lagi ketika hak umat untuk hidup sejahtera harus terampas karena praktik korupsi yang meraja lela. Baru beberapa hari yang lalu, koran-koran nasional memberitakan bahwa korupsi di berbagai daerah demikian parah, hingga masuk kategori menggurita. Lalu yang dirugikan tentu saja adalah umat, rakyat kecil yang senantiasa taat membayar pajak. Tentu banyak hal yang menjadi catatan hingga kita sampai pada kesimpulan bahwa kemerdekaan sejati belum menjadi milik kita, umat Islam Indonesia.

Jamaah Jum’at yang dirahmati Allah,
Lalu apa yang bisa kita perbuat untuk meraih kemerdekaan hakiki? QS. An-Nisa ayat 97 memberikan ibrah kepada kita mengenai orang yang berdiam diri dalam keterjajahan.

إِنَّ الَّذِينَ تَوَفَّاهُمُ الْمَلَائِكَةُ ظَالِمِي أَنْفُسِهِمْ قَالُوا فِيمَ كُنْتُمْ قَالُوا كُنَّا مُسْتَضْعَفِينَ فِي الْأَرْضِ قَالُوا أَلَمْ تَكُنْ أَرْضُ اللَّهِ وَاسِعَةً فَتُهَاجِرُوا فِيهَا فَأُولَئِكَ مَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ وَسَاءَتْ مَصِيرًا

Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) malaikat bertanya : "Dalam keadaan bagaimana kamu ini?". Mereka menjawab: "Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri (Mekah)". Para malaikat berkata: "Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?". Orang-orang itu tempatnya neraka Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali, (QS. An-Nisa' : 97)

Ibnu Katsir dalam tafsirnya menyebutkan asbabun nuzul ayat ini. Bahwa ada sebagian orang makkah yang berislam secara sembunyi-sembunyi. Namun mereka tidak ikut hijrah ke Madinah. Maka saat perang Badar, mereka dipaksa oleh kafir Quraisy untuk ikut berperang di pihak mereka. Saat melihat orang dari kelompok ini terbunuh, sebagian sahabat yang tahu hendak mendoakan mereka, namun Allah SWT menurunkan ayat ini.

Artinya apa? Kita tidak boleh berdiam diri dalam kelemahan. Kita tidak boleh menyerah dalam kondisi yang tidak ideal. Maka bulan Ramadhan merupakan momentum yang sangat tepat bagi kita untuk bangkit. Bangkit dalam aqidah Islam yang benar, bangkit untuk menjalankan Islam. Bangkit untuk menunjukkan semua potensi kita. Bahwa kita bisa. Bahwa kita, dengan identitas keislaman kita, siap mencapai kemerdekaan hakiki. Mencapai hidup yang mulia dan berazam mendapatkan ridha dan surga-Nya.

وقل رب اغفر وارحم و انت خير الراحمين

KHUTBAH KEDUA

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ
أَشْهَدُ أنْ لا إلَهَ إلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، وأشهدُ أنَّ مُحَمَّدًا عبْدُه ورَسُولُه.
{ يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ } [آل عمران: 102]
{ يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلا سَدِيدًا * يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا } [الأحزاب: 70، 71].

Jama'ah jum'at yang dirahmati Allah,
Ramadhan menjadi momentum yang luar biasa bagi kita untuk menjadi pribadi yang merdeka dan bangsa yang merdeka pula. Di saat kita dimudahkan Allah melalui Ramadhan ini dengan segala kebaikan yang terbuka seluas-luasnya dan keburukan menjadi minimal, saatnya kita datang kepada Allah dengan jiwa yang bersih dan hati ikhlas. Kita buka Al-Qur'an, kita pelajari, kita aktif dalam taklim, kita mulai bergabung dengan dakwah. Dan bersamaan dengan tekad kita memperbaiki diri, kita pun turut berupaya memperbaiki umat. Kita bergerak menuju seruan Allah untuk berislam secara kaffah:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu. (QS. Al-Baqarah : 208)

اللَّهُمَّ صَلِّ وسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ وسَلّمْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، فِي العَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنْ خُلَفَائِهِ الرَّاشِدِيْنَ، وَعَنْ أَزْوَاجِهِ أُمَّهَاتِ المُؤْمِنِيْنَ، وَعَنْ سَائِرِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعِيْنَ، وَعَنْ المُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِنَاتِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَعَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اللَّهُمَّ اجْعَلْ جَمْعَنَا هَذَا جَمْعًا مَرْحُوْمًا، وَاجْعَلْ تَفَرُّقَنَا مِنْ بَعْدِهِ تَفَرُّقًا مَعْصُوْمًا، وَلا تَدَعْ فِيْنَا وَلا مَعَنَا شَقِيًّا وَلا مَحْرُوْمًا.
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالعَفَافَ وَالغِنَى.

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ أَنْ تَرْزُقَ كُلاًّ مِنَّا لِسَانًا صَادِقًا ذَاكِرًا، وَقَلْبًا خَاشِعًا مُنِيْبًا، وَعَمَلاً صَالِحًا زَاكِيًا، وَعِلْمًا نَافِعًا رَافِعًا، وَإِيْمَانًا رَاسِخًا ثَابِتًا، وَيَقِيْنًا صَادِقًا خَالِصًا، وَرِزْقًا حَلاَلاًَ طَيِّبًا وَاسِعًا، يَا ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ.
اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَوَحِّدِ اللَّهُمَّ صُفُوْفَهُمْ، وَأَجْمِعْ كَلِمَتَهُمْ عَلَى الحَقِّ، وَاكْسِرْ شَوْكَةَ الظَّالِمِينَ، وَاكْتُبِ السَّلاَمَ وَالأَمْنَ لِعِبادِكَ أَجْمَعِينَ.

اللَّهُمَّ رَبَّنَا احْفَظْ أَوْطَانَنَا وَأَعِزَّ سُلْطَانَنَا وَأَيِّدْهُ بِالْحَقِّ وَأَيِّدْ بِهِ الْحَقَّ يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ.
اللَّهُمَّ رَبَّنَا اسْقِنَا مِنْ فَيْضِكَ الْمِدْرَارِ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الذَّاكِرِيْنَ لَكَ في اللَيْلِ وَالنَّهَارِ، الْمُسْتَغْفِرِيْنَ لَكَ بِالْعَشِيِّ وَالأَسْحَارِ.

اللَّهُمَّ أَنْزِلْ عَلَيْنَا مِنْ بَرَكَاتِ السَّمَاء وَأَخْرِجْ لَنَا مِنْ خَيْرَاتِ الأَرْضِ، وَبَارِكْ لَنَا في ثِمَارِنَا وَزُرُوْعِنَا وكُلِّ أَرزَاقِنَا يَا ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ.
رَبَّنَا آتِنَا في الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
رَبَّنَا لا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا، وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً، إِنَّكَ أَنْتَ الوَهَّابُ.
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الخَاسِرِيْنَ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدُّعَاءِ.

عِبَادَ اللهِ :إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي القُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ

[Khutbah Jum'at edisi 3 Ramadhan 1431 H, 13 Agustus 2010 M; Bersama Dakwah]

======================================
KHUTBAH JUM'AT INI BISA DIDOWNLOAD DI SINI
17:00 | 16 komentar

Kiat Meningkatkan Tilawah di Bulan Ramadhan


Ramadhan yang dikenal sebagai syahrul Qur'an adalah kesempatan yang sangat berharga bagi kita untuk memperbanyak tilawah Al-Qur'an. Nama syahrul Qur'an yang melekat pada bulan Ramadhan adalah karena diturunkannya (permulaan) Al-Qur'an pada bulan ini. Sebagaimana firman-Nya:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآَنُ

Bulan Ramadhan, (yakni bulan) yang di dalam-Nya diturunkan Al-Qur'an (QS. Al-Baqarah : 185)

Rasulullah sendiri memiliki agenda rutin pada bulan Ramadhan bersama Jibril, yakni tadarus. Artinya, Rasulullah membacakan Al-Qur'an yang telah diwahyukan kepada beliau di hadapan malaikat Jibril untuk diverifikasi (secara talaqqi) oleh Jibril, hingga lebih bisa dipastikan tidak ada kekeliruan satu huruf pun di dalamnya.

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - أَجْوَدَ النَّاسِ ، وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِى رَمَضَانَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ ، وَكَانَ يَلْقَاهُ فِى كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ فَيُدَارِسُهُ

Dari Ibnu Abbas, ia berkata: "Rasulullah SAW adalah orang yang paling murah hati, lebih-lebih ketika bertemu Jibril di bulan Ramadhan. Beliau bertemu Jibril pada pada setiap malam bulan Ramadhan untuk tadarus Al-Qur'an" (HR. Bukhari)

Maka tilawah Al-Qur'an, yang di hari biasa saja memiliki keutamaan yang luar biasa, apatah lagi di bulan Ramadhan di mana semua pahala amal kebaikan dilipatgandakan.

Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا لاَ أَقُولُ الم َرْفٌ وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلاَمٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ

Barangsiapa yang membaca satu huruf dari kitab Allah (Al Qur’an) maka baginya satu kebaikan dan satu kebaikan itu dilipatgandakan dengan sepuluh (pahala). Aku tidak mengatakan Alif Laam Mim adalah satu huruf akan tetapi Alif satu huruf, Lam satu huruf dan Mim satu huruf (HR. Tirmidzi)

Beruntunglah jika kita memiliki sebuah komunitas atau jamaah yang memotivasi kita untuk memperbanyak tilawah Al-Qur'an di bulan Ramadhan, misalnya kesepakatan bersama yang menargetkan kita untuk khatam satu kali atau dua kali dalam bulan Ramadhan. Nah, bagaimana kiatnya agar kita bisa mencapai target itu atau bahkan lebih baik lagi? Berikut ini beberapa kiat yang bisa dicoba:

1. Membuat target pribadi yang lebih tinggi dari Ramadhan sebelumnya, atau target yang telah disepakati dalam komunitas atau jama'ah. Bagi yang sudah berkeluarga, mengadakan kompetisi dengan istri/suami dengan target yang lebih tinggi bisa menjadi alternatif yang menarik. Selain termotivasi untuk meningkatkan tilawah, kita juga telah berusaha membangun keharmonisan cinta dalam suasana Islami. Jadi, kalau kita semula menargetkan dua kali khatam, bersama istri kita membuat kesepakatan untuk dapat mencapai tiga kali khatam.

2. Menanamkan tekad (azzam) yang kuat bahwa target realistis yang telah kita tentukan pasti bisa kita capai. Berdoa kepada Allah, selain dapat memperkuat azam kita juga memperkokoh keikhlasan sehingga ketika nantinya kita mencapainya tidak menjadi ujub atau takabur karena kita yakin itu tercapai atas pertolongan Allah SWT.

3. Sediakan waktu khusus selama Ramadhan untuk tilawah Al-Qur'an. Waktu yang direkomendasikan bagi orang umum dengan jam kerja normal ada pada tiga kesempatan. Kesempatan pertama, selepas shalat tarawih. Upayakan membaca satu juz pada saat itu. Kedua, setelah sahur dan/atau sesudah shalat Subuh. Upayakan pula satu juz pada saat itu. Dan ketiga, saat istirahat kerja. Umumnya kita mendapatkan waktu istirahat selama 1 jam. Jika pada hari biasa waktu 1 jam itu kita manfaatkan untuk shalat Dzuhur dan makan siang, pada bulan Ramadhan ini makan siang otomatis tidak ada. Jadi ada waktu sekitar 40 sampai 45 menit untuk tilawah. Itu adalah waktu yang cukup untuk menyelesaikan 1 juz secara tartil. Sebab jika kita mengacu pada murattal gaya Syaikh Sudais, dibutuhkan sekitar 45 menit. Seringkali tartil kita lebih cepat dari itu kan? Sekitar 30 sampai 40 menit untuk satu juz.

4. Bawalah mushaf di setiap kesempatan, khususnya saat kerja. Mushaf ini nantinya dimanfaatkan untuk tilawah saat istirahat sebagaimana poin 3 di atas. Untuk lebih mudahnya, direkomendasikan membawa mushaf per juz. Jadi Anda bisa denagn mudah memasukkannya ke saku. Cukup bawa 2 juz ke tempat kerja, karena target kita hanya satu juz pada saat kerja. Jika ada kesempatan, misalnya menunggu kendaraan atau hal lain, kita bisa memanfaatkannya untuk menambah tilawah.

5. Tidak semua hari bisa kondusif sesuai keinginan kita. Kadang ada acara urgen atau mendadak yang memaksa kita kehilangan kesempatan tilawah. Misalnya adanya syura atau agenda dakwah ba'da tarawih. Maka kita perlu memanfaatkan hari libur, ketika ada kesempatan kita gunakan untuk tilawah, sebagai pengganti (badal) dari tilawah yang kita tinggalkan. Syukur-syukur kalau itu menjadi tabungan tilawah.

6. Evaluasi secara berkala. Insya Allah Anda sudah ahli masalah ini. Jika pada hari keempat anda baru mencapai 7 juz (padahal target 3 kali khatam), perlu ada solusi. Atau barangkali target Anda yang tidak realistis. Tetapi jangan pernah membuat target yang lebih rendah dari target umum atau Ramadhan sebelumnya. Jadi, meskipun Anda tidak mencapai target pribadi (atau kalah kompetisi dengan istri), target bersama (yang satu atau dua kali khatam tadi) tetap tercapai.

7. Tetap berupaya memenuhi adab-adab tilawah. Meskipun kita tilawah lebih cepat dari kaset murattal (sekitar 10 menit lebih cepat), kita harus tetap mempertahankan tartil dan menjaga tajwid serta adab-adab lain. Untuk lebih lengkap tentang adab tilawah bisa dibaca di sini.

Mungkin kiat ini cukup sederhana, tapi insya Allah akan membantu kita. Asalkan kita komitmen. Man jadda wajada. Anda tentu punya banyak kiat lain, tafadhol. Kalau berkenan tolong dibagi kepada pembaca lain lewat komentar di bawah ini. Jazaakumullah khairan katsiiraa. []
14:00 | 7 komentar

Ceramah Ramadhan 10: Ramadhan Momentum Tepat untuk Taubat

Written By Admin BeDa on Rabu, 11 Agustus 2010 | 13:00


Jama'ah shalat tarawih yang dirahmati Allah,
Selain dikenal sebagai syahrul shiyam, syahrul shabr, syahrut tarbiyah, dan syahrul jihad, Ramadhan juga dikenal sebagai syahrut taubah. Disebut sebagai syahrut taubah karena Ramadhan memang saat yang tepat untuk bertaubat. Dan sebaik-baik taubat adalah taubat yang segera, tanpa menunggu dan menunda-nunda. Dengan demikian, terkumpullah dua keutamaan jika kita bertaubat saat ini: keutamaan karena Ramadhannya, dan keutamaan karena menyegerakan taubat.

وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ

Dan bersegeralah menuju ampunan Tuhanmu (QS. Ali Imran : 133)

Allah Menyambut Gembira Hamba-Nya yang Bertaubat
Ikhwani wa akhwati fillah,
Allah SWT menyeru kita dengan ayat di atas untuk menyegerakan taubat. Juga dalam ayat yang lainnya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا

Wahai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat nasuha (QS. At-Tahrim : 8)

Sebab Allah menghendaki hamba-Nya memperoleh ampunan dan surga. Subhaanallah! Sungguh Dia maha penyayang kepada hamba-hamba yang beriman kepada-Nya.

وَاللَّهُ يَدْعُو إِلَى الْجَنَّةِ وَالْمَغْفِرَةِ بِإِذْنِهِ
< Dan Allah menyeru kalian kepada surga dan ampunan dengan izin-Nya (QS. Al-Baqarah : 221)

Maka tidakkah kita bergegas menuju ampunan-Nya dengan bertaubat di bulan Ramadhan ini. Jika kita penuhi seruan Allah, seruan kasih sayang agar kita bertaubat pada-Nya, sungguh, bukan saja kita akan bergembira dengan ampunan dan surga-Nya kelak, namun Allah juga gembira ketika kita mau bertaubat. Kegembiraan Allah bahkan lebih besar daripada seorang musafir yang menemukan kembali untanya setelah hilang di gurun sahara berikut segala perbekalan yang ada padanya.

Rasulullah SAW bersabda:

لَلَّهُ أَشَدُّ فَرَحًا بِتَوْبَةِ عَبْدِهِ حِينَ يَتُوبُ إِلَيْهِ مِنْ أَحَدِكُمْ كَانَ عَلَى رَاحِلَتِهِ بِأَرْضِ فَلاَةٍ فَانْفَلَتَتْ مِنْهُ وَعَلَيْهَا طَعَامُهُ وَشَرَابُهُ فَأَيِسَ مِنْهَا فَأَتَى شَجَرَةً فَاضْطَجَعَ فِى ظِلِّهَا قَدْ أَيِسَ مِنْ رَاحِلَتِهِ فَبَيْنَا هُوَ كَذَلِكَ إِذَا هُوَ بِهَا قَائِمَةً عِنْدَهُ فَأَخَذَ بِخِطَامِهَا ثُمَّ قَالَ مِنْ شِدَّةِ الْفَرَحِ اللَّهُمَّ أَنْتَ عَبْدِى وَأَنَا رَبُّكَ.
أَخْطَأَ مِنْ شِدَّةِ الْفَرَحِ

Sungguh Allah lebih gembira dengan taubat hamba-Nya ketika ia bertaubat kepada-Nya daripada (kegembiraan) seseorang yang menunggang untanya di tengah gurun sahara yang sangat tandus, lalu unta itu terlepas membawa lari bekal makanan dan minumannya. Ia putus harapan untuk mendapatkannya kembali. Kemudian dia menghampiri sebatang pohon lalu berbaring di bawah keteduhannya karena telah putus asa mendapatkan unta tunggangannya tersebut. Ketika dia dalam keadaan demikian, tiba-tiba ia mendapati untanya telah berdiri di hadapannya. Lalu segera ia menarik tali kekang unta itu sambil berucap dalam keadaan sangat gembira: Ya Allah, Engkau adalah hambaku dan aku adalah Tuhan-Mu." Dia salah mengucapkan karena sangat gembira. (HR. Muslim)

Apapun Dosa Kita, Bertaubatlah
Ada dua titik ekstrim bagi orang yang berdosa. Ekstrim pertama adalah mereka yang merasa dosanya terlalu besar hingga putus asa dari ampunan Allah. Maka, ia pun tidak kunjung bertaubat karena kekhawatiran taubatnya tidak diterima. Ekstrim kedua adalah mereka yang merasa dosa-dosanya mudah terhapus, hanya dosa-dosa kecil, sehingga membuatnya berlarut-larut dalam dosa demi dosa. Kalaupun bertaubat, ia hanya melakukan taubat sambal. Sekarang berhenti, nanti atau besok kembali mengulangi. Tidak pernah sungguh-sungguh melakukan taubat nasuha.

Untuk ekstrim pertama, lihatlah bagaimana seorang yang telah membunuh 99 nyawa. Saat ia bertanya kepada ahli agama apakah ada kesempatan bertaubat, ternyata dijawab tidak bisa. Lalu ia pun dibunuh sebagai orang ke-100 yang mati di tangannya. Niatnya bertaubat tidak berhenti. Ketika bertemu seorang alim, ia pun mengajukan pertanyaan yang sama. Oleh sang alim ini dijawab kalau dosanya bisa diampuni. Dan sebagai upaya taubat nasuha, ia dianjurkan hijrah ke suatu daerah yang kondusif bagi taubatnya. Di tengah jalan, ia meninggal. Hingga berdebatlah malaikat rahmat dan malaikat azab, orang ini menjadi urusan siapa. Keduanya lalu mengadukan perselisihan ini kepada Allah yang berkahir dengan ampunan bagi pembunuh yang benar-benar berniat bertaubat ini. Subhaanallah!

Contoh lain dialami oleh seorang wanita dari Juhanah. Ia yang tengah hamil datang kepada Rasulullah SAW. Ia mengaku telah berzina dan kini ia hamil. Wanita itu bertaubat dan meminta ditegakkan hudud (rajam) atasnya. Rasulullah menyuruh wanita itu kembali untuk menjaga kandungannya sampai bayinya lahir. Setelah berselang beberapa lama dan bayinya telah lahir, wanita itu datang lagi meminta dirajam. Akhirnya ia dirajam. Rasulullah menshalatkan jenazahnya. "Ya Rasulullah, engkau menshalatinya padahal ia telah berbuat zina?" tanya Umar bin Khatab meminta penjelasan. Maka Rasulullah SAW bersabda:

لَقَدْ تَابَتْ تَوْبَةً لَوْ قُسِمَتْ بَيْنَ سَبْعِينَ مِنْ أَهْلِ الْمَدِينَةِ لَوَسِعَتْهُمْ وَهَلْ وَجَدْتَ تَوْبَةً أَفْضَلَ مِنْ أَنْ جَادَتْ بِنَفْسِهَا لِلَّهِ تَعَالَى

Sungguh dia telah bertaubat. Seandainya taubatnya dibagikan kepada 70 penduduk Madinah, taubat itu pasti mencukupinya. Apakah kamu menjumpai seseorang yang lebih utama daripada seorang yang mengorbankan dirinya untuk Allah Ta'ala? (HR. Muslim)

Pembagian Dosa
Jama'ah shalat tarawih yang dirahmati Allah,
Imam Al-Ghazali di dalam Ihya' Ulumuddin menyebutkan sifat-sifat pembangkit dosa yang kemudian diringkas oleh Ibnu Qudamah dalam Mukhtashar Minhajul Qashidin. Menurut beliau, sifat pembangkit dosa dibagi menjadi empat:
1. Sifat rububiyah (ketuhanan). Dari sini muncul takabur, membanggakan diri, mencintai pujian dan sanjungan, mencari popularitas, dan lain sebagainya. Ini termasuk dosa-dosa yang merusak, sekalipun banyak orang yang melalaikannya dan menganggap bukan dosa
2. Sifat syaithaniyah (kesetanan). Dari sini muncul kedengkian, kesewenang-wenangan, mnipu, berdusta, makar, kemunafikan, menyuruh pada kerusakan, dan lain-lain.
3. Sifat-sifat bahamiyah (kebinatangan). Dari sini muncul kejahatan, memenuhi nafsu perut dan syahwat kemaluan, zina, homoseks, mencuri, dan lain-lain
4. Sifat sabu'iyah (kebuasan). Dari sini muncul amarah, dengki, menyerang orang lain, membunuh, merampas harta, dan lain-lain.

Diantara empat sifat itu, penjenjangannya bermula dari bahamiyah. Bahamiyah yang dominan lalu diikuti oleh sabu'iyah, kemudian syaithaniyah dan rububiyah.

Dari keempat jenis itu, menurut sasarannya, dosa dibagi menjadi dua, yakni dosa yang berkaitan dengan hak Allah dan dosa yang berkaitan dengan hak sesama manusia. Dosa yang berkaitan dengan hak Allah SWT ada yang diampuni dan ada yang tidak diampuni. Yang tidak diampuni adalah dosa syirik, sementara dosa yang lain akan diampuni oleh Allah SWT, jika Dia Menghendaki. Sedangkan dosa kepada sesama manusia akan diampuni oleh Allah jika hak itu telah dihalalkan atau ditegakkan qishah atasnya di akhirat nanti.

Rasulullah SAW bersabda:

الظلم ثلاثة فظلم لا يتركه الله وظلم يغفر وظلم لا يغفر فأما الظلم الذي لا يغفر فالشرك لا يغفره الله وأما الظلم الذي يغفر فظلم العبد فيما بينه وبين ربه وأما الظلم الذي لا يترك فظلم العباد فيقتص الله بعضهم من بعض

Kezaliman itu ada tiga: kezaliman yang Allah tidak meninggalkannya, kezaliman yang mendapat ampunan, dan kezaliman yang tidak mendapat ampunan. Kezaliman yang tidak mendapat ampunan adalah syirik, maka Allah takkan mengampuninya. Kezaliman yang mendapat ampunan adalah kezaliman antara hamba kepada Rabb-nya. Sedangkan kezaliman yang tidak akan ditinggalkan/dibiarkan Allah adalah kezaliman antar manusia, maka Allah akan memberi qashah sebagian atas sebagian lainnya. (HR. Thayalisi, dihasankan Al-Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah)

Yang paling umum, biasanya dosa dibagi menjadi dua: dosa besar dan dosa kecil. Jika kita telusuri hadits, dosa besar yang biasa disebutkan adalah syirik, sihir, riba, makan harta anak yatim, lari dari medan perang, dan menuduh wanita mukminah yang baik sebagai pezina. Tujuh jenis dosa besar ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim. Sedangkan dalam riwayat Imam Bukhari yang lain disebutkan durhaka kepada orang tua termasuk dosa besar, sedangkan dalam riwayat Imam Muslim yang lain disebutkan pula perkataan atau kesaksian palsu.

Ibnu Qudamah dalam Mukhtashar Minhajul Qashidin menyebutkan pendapat Abu Thalib Al-Makki yang merinci dosa besar menjadi 17 jenis. 4 jenis di hati: syirik, fasiq, putus asa dari rahmat Allah, dan merasa aman dari tipudaya-Nya. 4 jenis di lidah: kesaksian palsu, menuduh wanita mukminah, sumpah palsu, dan sihir. 3 di perut: minum khamr, memakan harta yatim, dan riba. 2 di kemaluan: zina dan homoseks. 1 di kaki: lari dari medan perang. Dan 1 di seluruh badan: durhaka pada orang tua.

Jangan Remehkan Dosa Kecil
Hadirin yang dirahmati Allah,
Seringkali kita terjebak pada sikap meremehkan dosa kecil. Saat kita ghibah, bercanda yang sudah masuk kategori rafats (porno), bahkan bergaul dengan lawan jenis yang tidak islami, kita beralasan "itu kan dosa kecil, tidak apa-apa". Padahal orang yang meremehkan dosa ia tidak sadar sedang berhadapan dengan siapa. Siapakah yang ia maksiati? Allah SWT yang Maha Besar dan Maha Keras adzab-Nya. Juga, tidak ada dosa kecil jika dilakukan terus menerus.

لا صغيرة مع الإصرار

Tidak ada dosa kecil selagi terus dikerjakan, (HR. Dailami)

Ibarat sebuah bintik noda, dosa kecil pun akan mengotori hati. Semakin banyak dosa semakin banyak pula noda di hati.

إِنَّ الْمُؤْمِنَ إِذَا أَذْنَبَ كَانَتْ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فِى قَلْبِهِ فَإِنْ تَابَ وَنَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ صُقِلَ قَلْبُهُ فَإِنْ زَادَ زَادَتْ

Sesungguhnya, apabila seorang mukmin berbuat dosa, maka muncul bintik hitam dalam kalbunya. Kemudian jika ia bertaubat, meninggalkan dosa dan memohon ampun, maka hatinya bersih. Dan jika dosa-dosanya bertambah, bintik hitam itupun bertambah (HR. Ibnu Majah dan Ahmad, "hasan")

Marilah Bertaubat Sebelum terlambat
Jama'ah shalat tarawih yang dirahmati Allah,
Marilah kita sambut seruan Allah untuk bertaubat sebelum kita terlambat. Kini Allah menganugerahkan momentum yang luar biasa kepada kita untuk menjalani taubatan nasuha. Ramadhan yang sangat kondusif dengan amal shalih dan minim pengaruh negatif dibandingkan bulan lainnya, adalah kesempatan berharga yang belum tentu datang lagi kepada kita. Bukankah kita tidak pernah bisa menjamin bahwa kita akan tetap hidup sampai Ramadhan berikutnya jika kita menunda taubat saat ini? Dan bukankah pintu taubat akan ditutup saat kita mengalami sakaratul maut?

إِنَّ اللَّهَ يَقْبَلُ تَوْبَةَ الْعَبْدِ مَا لَمْ يُغَرْغِرْ

Sesungguhnya Allah menerima taubat hamba selagi ia belum sekarat (HR. Tirmidzi, Ahmad, Thabrani, Ibnu Hibban, dan Abu Ya'la)

إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَبْسُطُ يَدَهُ بِاللَّيْلِ لِيَتُوبَ مُسِىءُ النَّهَارِ وَيَبْسُطُ يَدَهُ بِالنَّهَارِ لِيَتُوبَ مُسِىءُ اللَّيْلِ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا

Allah membentangkan tangan-Nya di malam hari agar orang yang berbuat maksiat di siang hari bertaubat, dan Allah membentangkan tangan-Nya di siang hari agar orang yang berbuat maksiat di malam hari bertaubat. (Demikian itu tetap terjadi) sampai matahari terbit dari barat. (HR. Muslim)

Terlalu banyak pengalaman yang menunjukkan kepada kita bahwa kematian datang tanpa memandang apakah seseorang masih muda atau sudah tua, miskin atau kaya, juga dalam kondisi sehat atau sakit-sakitan? Bukankah jalan kematian bukan hanya lewat sakit di usia tua? Kematian bisa datang lewat kecelakaan kerja, kecelakaan di jalan raya, sakit mendadak, dan juga bencana serta berjuta cara yang tidak pernah bisa kita tebak dengan cara apa ia datang kepada kita.

Syarat Bertaubat
Imam An-Nawawi di dalam Riyadhus Shalihin menyampaikan syarat bertaubat secara singkat dalam tiga langkah. Pertama, berhenti dari dosa yang dilakukan. Kedua, menyesali dosa yang telah dilakukan. Dan ketiga, bertekad untuk tidak mengulangi dosa itu. Itu jika bertaubat terhadap dosa yang berkaitan dengan hak Allah.

Sedangkan jika dosa berkaitan dengan hak manusia, maka syarat taubat ditambah satu lagi, yaitu membebaskan diri dari hak manusia tersebut. Pembebasan ini tentu dengan penghalalan dari yang terzalimi atau mendapat keikhlasan darinya.

Maka orang yang minum khamr dalam kesendirian misalnya, untuk bertaubat cukup ia berhenti minum khamr, menyesalinya, dan tidak mengulanginya. Namun jika seseorang mencuri harta orang lain, selain tiga langkah tersebut ia harus mendapat maaf dari orang yang dicuri dengan mengembalikan hartanya atau mendapatkan kehalalan darinya.

Semoga Ramadhan yang juga disebut syahrut taubah ini kita manfaatkan bersama sebagai momentum taubatan nasuha. Dan karenanya Allah menganugerahkan ampunan dan surga-Nya kepada kita. Allaahumma aamiin. Wallaahu a'lam bish shawab. [Muchlisin]

E-BOOK CERAMAH RAMADHAN INI BISA DIDOWNLOAD DI SINI
13:00 | 26 komentar

Hadits 8: Rukun Islam dengan Puasa Ramadhan Disebut Terakhir

Written By Admin BeDa on Selasa, 10 Agustus 2010 | 12:00


Alhamdulillah, hadits-hadits dalam Kitab Bad’il Wahyi (كتاب بدء الوحى) (Permulaan Turunnya Wahyu), telah kita selesaikan dengan diakhiri oleh hadits ke-7 yang sangat panjang pada pekan lalu.

Kini kita akan mulai membahas hadits-hadits Shahih Bukhari dalam Kitab Iman (كتاب الايمان). Hadits ke-8 yang akan kita kaji ini diberi bab doamu adalah imanmu (باب دُعَاؤُكُمْ إِيمَانُكُمْ) oleh Imam Bukhari. Namun untuk lebih memudahkan dan familiar dengan matan haditsnya, Bersama Dakwah memberikan judul Rukun Islam dengan Puasa Ramadhan Disebut Terakhir untuk hadits ini, sebagaimana judul bab yang disebutkan Imam Bukhari di awal kitab Iman, kemudian diikuti oleh ayat-ayat Al-Qur'an sebagai mukaddimahnya.

عَنِ ابْنِ عُمَرَ - رضى الله عنهما - قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - « بُنِىَ الإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ ، وَإِقَامِ الصَّلاَةِ ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ ، وَالْحَجِّ ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ » .

Dari Ibnu Umar r.a. berkata: Rasulullah SAW bersabda, "Islam dibangun di atas lima dasar: bersaksi bahwa tidak ada ilah kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, membayar zakat, menunaikan ibadah haji, dan puasa Ramadhan."

Penjelasan Hadits

بُنِىَ الإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ
Islam dibangun di atas lima (dasar)

Lima dasar yang disebutkan setelah hadits ini dikenal sebagai rukun Islam, sebagaimana Muslim memberikan judul untuk hadits serupa dengan ini dalam Shahih-nya. Diantaranya pada bab kelima dalam kitab Iman.

Ketika memberikan penjelasan hadits ini di Fathul Bari, Ibnu Hajar Al-Asqalani menjawab pertanyaan mengapa jihad tidak dimasukkan rukun Islam. Ini menggambarkan perbedaan yang cukup jauh antara umat Islam hari ini dengan para salafusshalih ataupun zaman Ibnu Hajar. Jika mereka dulu sangat antusias dengan jihad dan memahaminya sebagai perkara sangat besar hingga pantaslah kiranya dimasukkan sebagai rukun Islam, umat Islam di masa sekarang justru alergi terhadap istilah itu. Ghazwul fikri yang dilancarkan barat ternyata menampakkan hasilnya.

Bagaimana jawaban Ibnu Hajar? "Jihad tidak masuk dalam hadits ini," kata beliau, "karena hukum jihad adalah fardhu kifayah dan jihad tidak diwajibkan kecuali dalam waktu dan kondisi tertentu." Lalu beliau menegaskan bahwa jawaban ini merupakan jawaban Ibnu Umar juga. Sementara jawaban lain diberikan oleh Ibnu Bathal yang berargumen jihad tidak disebutkan karena hadits ini muncul pada periode awal Islam sebelum diwajibkannya jihad. Namun argumen ini dikritik karena sampai akhir hayat Rasulullah pun tidak ada hadits lain yang menasakh hadits di atas sehingga rukun Islam tetap lima.

أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ
bersaksi bahwa tidak ada ilah kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan Allah

Dasar Islam yang pertama adalah kesaksian bahwa tiada ilah kecuali Allah dan Muhammad utusan Allah. Syahadat. Jika ditanyakan mengapa tidak disebutkan iman kepada malaikat, hari kiamat, dan lainnya, Ibnu Hajar menjawab karena syahadat yang membenarkan Muhammad sebagai Rasulullah berarti juga membenarkan seluruh ajarannya, termasuk dalam hal aqidah atau keimanan terhadap berbagai hal yang disebutkan dalam rukun Iman.

وَإِقَامِ الصَّلاَةِ ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ
mendirikan shalat, membayar zakat

Shalat dan zakat adalah dua hal yang seiring dan sejalan. Baik dalam hadits maupun dalam Al-Qur'an. Shalat merupakan ibadah yang berdimensi hablun minallah, sementara zakat lebih dominan pada hablun minannas karena dengannya bisa terwujud keharmonisan dalam masyarakat antara si kaya dan si miskin, mengurangi kesenjangan antara keduanya, dan upaya pemerataan kesempatan yang ideal.

وَالْحَجِّ
menunaikan haji

Yakni bagi yang mampu

، وَصَوْمِ رَمَضَانَ
Dan puasa Ramadhan

Puasa Ramadhan disebutkan setelah haji dalam hadits, menurut Ibnu Hajar bukan karena Rasulullah melafadzkan hadits ini dalam dua bentuk yang berbeda dari lainnya (kadang puasa dulu, kadang haji disebutkan dulu). Akan tetapi hadits riwayat Handhalah, dari Abu Sufyan, dari Ikrimah bin Khalid, dari Ibnu Umar yang dikeluarkan Imam Bukhari ini merupakan hadits bil makna, yaitu hadits yang diriwayatkan berdasarkan maknanya, bukan berdasarkan lafazh yang diriwayatkan dari Rasulullah. Hadits yang sama dengan puasa Ramadhan disebutkan sebelum haji diriwayatkan oleh Imam Muslim dari riwayat Sa'ad bin Ubaidah dari Ibnu Umar. Di sana seseorang berkata "Haji dan puasa Ramadhan," lalu Ibnu Umar membetulkan, "Tidak, puasa Ramadhan dan haji."

Pelajaran Hadits:
Pelajaran yang bisa diambil dari hadits ini diantaranya adalah:
1. Dasar/rukun Islam ada 5, yaitu syahadat, shalat, zakat, puasa Ramadhan, dan haji. Barangsiapa meninggalkan atau melanggar 5 rukun ini Islamnya tidak sah. Misalnya seseorang yang tidak mau shalat, atau tidak mau zakat padahal hartanya sudah mencapai nishab dan haul.
2. Sesuai lafazh hadits di atas, "buniyal Islam", hadits ini tidak membatasi Islam hanya terdiri dari 5 hal itu. Sebagaimana kalimat "rumah itu dibangun di atas lima pilar", maka rumah bukan hanya terdiri dari lima pilar itu melainkan masih ada bagian atau unsur lainnya seperti dinding, atap, jendela, dan sebagainya.
3. Boleh meriwayatkan hadits bil makna. Ini berbeda dengan Al-Qur'an yang dalam periwayatannya harus bil lafdzi juga (lafadz sebagaimana yang difirmankan Allah).

Demikian hadits ke-8 Shahih Bukhari dan penjelasannya, semoga bermanfaat untuk menambah pemahaman Islam kita, dan mengingatkan kita untuk menetapi Islam dengan menjalankan rukun Islam dan seluruh ajaran Rasulullah SAW. Wallaahu a'lam bish shawab. []

KEMBALI KE HADITS 7
12:00 | 8 komentar

Semangkuk Cocktail Cinta

Written By Admin BeDa on Senin, 09 Agustus 2010 | 15:00


Judul Buku : Semangkuk Cocktail Cinta; Seni Berkomunikasi dengan Bahasa Cinta
Penulis : Rahayu Aningtyas
Penerbit : Era Adicitra Intermedia, Solo
Cetakan Ke : 1
Tahun Terbit : Jumadatas Tsaniyah 1431 H/Juni 2010
Tebal Buku : xxvi + 158 halaman


Tahu cocktail? Tentu cocktail yang diambil sebagai judul dalam buku pengokohan tarbiyah ke-13 ini bukan cocktail ala Amerika yang mulai dikenal pada 1930-an. Minuman beralkohol yang dicampur dengan minuman atau bahan-bahan lain beraroma itu tentu saja haram sehingga bukan itu yang dimaksudkan oleh penulis.

Pada bab 6, kita akan mendapati judul bab yang sama dengan judul buku ini: Semangkuk Cocktail Cinta. "Cinta seperti sebuah mangkuk berisi cocktail," tulis Rahayu Aningtyas di halaman 149, "di dalamnya ada beraneka ragam buah, bahkan sirupnya bisa beraneka rasa." Ya, cinta diibaratkan seperti koktail buah; nikmat, beraneka rasa, dan tentu saja halal.

Maka pada bab pertama, Semangkuk Cocktail Cinta mulai mengajak pembacanya untuk memahami cinta yang benar. Cinta yang benar adalah cinta yang membangun, bukan merusak. Tiga diantara indikasi cinta merusak, dipotret melalui tiga kisah nyata. Kisah pertama adalah seorang mahasiswi yang telah menyadari bahwa pacaran tidak dibenarkan. Namun, ia sulit berpisah dari pacar yang telah memberi ciuman padanya. Nah.

Kisah kedua, teman penulis yang mengalami depresi dan menjadi kurang waras karena cinta. Maka berubahlah ia dari yang semula muslimah santun dengan aurat tertutup menjadi bermake-up tebal dan berkaca mata hitam. Sedangkan kisah ketiga, seorang ibu yang berkonsultasi kepada penulis tentang anak-anaknya. Ternyata si ibu ini tergolong obsesif. Cintanya kepada anak dan keinginan menjadikan mereka disiplin, menjadikannya menjalankan cara yang keras, sejalan dengan tempramennya. Yang terjadi kemudian bukan anak-anak berubah shalih, tetapi malah durhaka, hingga pernah meludahi dan menendang ibunya.

Cinta yang sulit berpisah, gila cinta, dan ibu obsesif merupakan tiga potret cinta merusak. Berkebalikan dengan jenis cinta ini, Semangkuk Cocktail Cinta menggambarkan cinta yang membangun dalam tiga kisah juga. Kisah pertama adalah keislaman Khalid bin Walid. Perhatian dan cinta Rasulullah kepadanya, yang disampaikan dalam surat Walid bin Walid, menjadikan Khalid mengakhiri kebimbangannya dan memutuskan masuk Islam paska perjanjian Hudaibiyah.

Ummu Salamah menempati kisah kedua potret cinta yang membangun. Setelah ditinggal suaminya syahid dalam perang melawan Bani As'ad, ia dinikahi Rasulullah. Namun sekuel cinta yang juga luar biasa adalah doa sang suami, Abu Salamah ketika ia meminta tidak menikah setelah wafatnya: "Tidak. Akulah yang akan meninggal lebih dulu dan kau kudoakan menikah lagi dengan orang yang lebih baik dariku". Sedangkan kisah ketiga adalah kecerdasan Ibnu Abbas saat berdialog dengan orang-orang khawarij yang menentang Ali bin Abu Thalib dengan alasan Ali bertahkim kepada manusia, tidak mengambil ghanimah dan tawanan saat perang dengan Aisyah dan Muawiyah, serta menanggalkan gelar Amirul Mukminin. Kecintaan Ibnu Abbas kepada Ali yang diwujudkan dalam dialog ini mampu memahamkan mayoritas orang-orang Khawarij itu.

Tiga kisah ini memang berbeda. Tetapi ketiganya diikat oleh satu kesamaan: kebesaran jiwa berpengaruh besar pada cara seseorang mewujudkan cinta. Kebesaran jiwa lahir dari pemahaman yang benar tentang Dzat Yang Maha Besar. Maka kepada-Nyalah cinta ditujukan. Dengan petunjuk-Nya cinta diarahkan. Mencintai cinta yang dibenarkan dengan cara yang dibenarkan pula oleh-Nya.

Secara garis besar Semangkuk Cocktail Cinta menunjukkan enam jalan menjadikan Allah sebagai tujuan cinta. Pertama, Beribadah hanya kepada Allah. Kedua, Mengikuti ajaran Rasulullah SAW. Ketiga, Meninggalkan kemaksiatan. Keempat, Menunaikan Kewajiban dan Ibadah Sunah. Kelima, Bertaubat. Dan keenam, Berakhlak mulia.

Jangan Malu Mengekspresikan Cinta
Itu judul bab kedua. Jika cinta kepada Allah dilakukan dengan enam langkah di atas, cinta kepada manusia seyogyanya tidak membuat seseorang malu mengekekspresikannya. Asalkan cintanya benar, tidak ada masalah. Bahkan akan membuat cinta lebih merekah. "Ketika seseorang mencintai saudaranya," sabda Rasulullah sebagaimana diriwayatkan Abu Daud, "hendaklah ia memberitahukan kepadanya bahwa ia mencintainya."

Semangkuk Cocktail Cinta memberikan 10 cara mengekspresikan cinta. Pertama, ungkapkan kata-kata berkesan. Ini bentuk ekspresi secara verbal. "Aku mencintaimu karena Allah," bisa jadi pilihan ketika kita mencintai sesama ikhwah, sebagaimana dulu para sahabat Nabi mengatakan pada sesamanya. "Abi dan Umi sangat menyayangimu," adalah ungkapan berkesan bagi anak. Demikian pula memanggil istri dengan kata "sayang", adalah contoh lain dari cara pertama ini.

Kedua, tersenyum manis dan tulus. Sebab senyum adalah bahasa universal yang bisa dipahami oleh siapa saja. Ia mendekatkan dua insan meskipun tanpa kata-kata. Ketiga, kurangi memberi kritikan. Seperti kita yang tak pernah mengkritik diri sendiri meskipun salah, begitu pula orang yang kita cintai menginginkan hal yang sama. Bukan berarti kita membiarkan orang yang kita cintai dalam kesalahan atau kekurangan. Cara yang direkomendasikan Semangkuk Cocktail Cinta adalah mengganti kritikan dengan nasihat dan saran.

Keempat, beri perhatian dan pujian secukupnya. Kelima, terapi sentuhan. Sebagaimana seorang bayi yang digendong ibunya merasakan kehangatan dan rasa aman, seorang anak yang dipeluk orang tuanya akan merasakan cinta, kasih sayang, dan dukungan. Bersalaman dan mencium pipi sesama ikhwah juga mengeratkan ikatan persaudaraan. Pada suami istri, tentu terapi sentuhan lebih dalam maknanya dari itu semua.

Keenam, mendoakan dan minta didoakan. Entah mendoakan tatkala bertatap muka maupun dalam keheningan malam dan kesendirian tanpa ada yang menyaksikan kecuali Dzat Yang Maha Mendengar Doa. Ketujuh, memberi hadiah. Kedelapan, memaafkan dan menyimpan aib. Kesembilan, meringankan beban. Dan kesepuluh, mengajak meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadah.

Harmoni Cinta Suami Istri, Anak dan Orang Tua, dan Peran Lainnya
Di bawah judul harmoni Status dan Peran dalam Relasi Cinta, bab 3 menjelaskan peran suami, istri, anak dan orangtua agar dapat dijalankan sebaik mungkin hingga keluarga menjadi semanis cocktail cinta. Dalam bab yang sama dibahas pula peran sebagai tetangga, profesional, dan dai. Sebab, umumnya kita tidak lepas dari peran-peran itu.

Menjadi pendidik istri, memberi nafkah lahir batin, dan memberi kesempatan istri mengembangkan potensi adalah peran seorang suami. Pada peran pertama, Semangkuk Cocktail Cinta mengetengahkan hadits shahih yang diriwayatkan Bukhari Muslim : "nasihatilah para wanita itu baik-baik karena wanita itu diciptakan dari tulang rusuk dan tulang rusuk yang paling bengkok adalah yang teratas. Jika engkau berlaku keras di dalam meluruskannya, engkau akan mematahkannya. Tetapi jika engkau biarkan, tentu akan tetap bengkok. Karena itu, berilah nasihat kepada para wanita." Subhaanallah!

Sedangkan tentang nafkah, dicantumkan hadits riwayat Abu Daud dari Muawiyah bin Haidah: "Wahai Rasulullah, apakah kewajiban seorang suami kepada istrinya?" beliau menjawab, "Engkau memberinya makan sebagimana engkau makan. Engkau memberinya pakaian sebagaimana engkau berpakaian, jangan memukul mukanya, jangan mencelanya, dan jangan meninggalkan dirinya kecuali di dalam rumah sendiri."

Selanjutnya, peran istri membawa tanggung jawab untuk taat kepada suami, bersyukur dan amanah terhadap pemberian suami, memenuhi ajakan suami, dan menjaga kehormatan diri.

Peran orang tua memiliki empat kewajiban kepada anaknya: memberi nama yang baik kepada anak, mendidik anak taat beribadah dan berakhlak mulia, memberikan lingkungan yang baik, serta memberi nafkah dari rezeki yang halal. Sebaliknya, peran anak menghajatkan untuk memberikan cinta kepada orang tua setidaknya dalam tiga hal: merawat orang tua dengan kasih sayang, memberi nafkah, dan menyambung silaturahim.

Sebagai tetangga, peran kita membawa pada kewajiban yang menjadi hak mereka: berbuat baik dan tidak mengganggu tetangga, bersedekah atau memberi hadiah, serta membantu kesulitan tetangga. Sedangkan peran profesional melahirkan tanggungjawab kita pada profesi yang kita geluti: bekerja pada bidang kerja yang halal, disiplin dengan jam kerja, membaguskan pekerjaan, dan amanah dalam mengelola uang.

Terakhir, tetapi yang justru menjadi peran pertama sesuai kaidah nahnu du'at qabla kulli syai'in, adalah peran kita sebagai dai. Yakni menuntut ilmu dan menyampaikannya, berusaha menjadi teladan, berdakwah dengan santun, cepat tanggap tapi tidak reaktif, berdoa untuk diri sendiri, keluarga, dan masyarakat, serta mengajak masyarakat memperbaiki sistem hidupnya.

Mengatasi Konflik Peran
Tidak ada manusia dewasa ini yang memiliki satu peran saja. Sebagai dai, minimal kita akan memiliki 3 peran: dai, anak, dan tetangga. Ini bagi yang belum bekerja dan menikah. Bagi yang telah bekerja ditambah satu peran: peran profesi. Bagi yang sudah berkeluarga ditambah satu lagi: istri/suami. Dan bagi yang telah memiliki anak perannya ada lagi: sebagai orangtua. Belum lagi yang amanah dakwahnya banyak. Perannya bisa bertambah-tambah. Sebagai mas'ul organisasi A. Sebagai pengurus wajihah B, dan sebagainya.

Banyaknya peran itu bukannya tidak mungkin akan melahirkan konflik peran. Misalnya seorang ikhwah yang sangat militan dan terkenal sukses dalam perannya sebagai dai, tetapi ia kurang perhatian kepada istri dan anak-anaknya. Atau orang sukses dalam menjalankan peran sebagai orang tua, dai, dan profesional, tetapi tidak saling mengenal dengan tetangganya.

Bab 4 Semangkuk Cocktail Cinta menyuguhkan lima modal untuk mampu mengatasi konflik peran itu. Pertama, kemampuan komunikasi. Dengan kemampuan komunikasi yang baik, konflik peran bisa diatasi. Sebab selain untuk menyampaikan pesan dan informasi, komunikasi juga berfungsi untuk mempererat jalinan relasi dan mengungkapkan isi hati. Pentingnya komunikasi sangat diperlukan, misalnya ketika ada dua atau lebih agenda bersama dalam peran berbeda. Dengan komunikasi yang baik pada pihak yang bersangkutan, kita bisa memahamkan mereka dan mengeliminir konflik peran. Demikian pula jika ada kepentingan yang seakan-akan bertolak belakang antar peran. Misal keluarga ingin A sementara peran dai mengharuskan B. Komunikasi yang baik bisa menjadi jalan keluar, yang bisa jadi A dan B bisa ditempuh dua-duanya karena pada hakikatnya tidak bertolak belakang.

Kedua, kemampuan intrapersonal. Yakni kemampuan untuk 'mengelola' diri sendiri, yang meliputi kemampuan refleksi diri, mawas diri, menghargai diri sendiri, belajar dari pengalaman dan memaknai cinta. Semangkuk Cocktail Cinta juga menuliskan anjuran Donald Trump dalam buku How to Get Rich untuk melakukan refleksi diri selama tiga jam per hari.

Dengan kemampuan intrapersonal yang baik, seseorang akan bisa mengevaluasi peran-perannya dengan jernih, mengenali kekurangannya dalam peran yang ada, dan menemukan jalan memperbaiki diri hingga setiap peran bisa dilakukan dengan optimal tanpa terjebak pada konflik peran.

Ketiga, kemampuan interpersonal. Yakni kemampuan membangun relasi dengan orang lain. Semua peran yang disebutkan dalam bab 3 Semangkuk Cocktail Cinta pasti menghajatkan relasi dengan orang lain. Kemampuan interpersonal yang baik membantu kita menjalankan segala peran dengan baik pula, tanpa konflik yang berarti dengan orang-orang yang terlibat dalam berbagai peran itu.

Keempat, kemampuan kontrol diri. Kemampuan ini sebenarnya merupakan bagian dari kemampuan intrapersonal, namun karena begitu pentingnya, Semangkuk Cocktail Cinta menempatkannya sebagai modal tersendiri. Dengan kemampuan ini, kita lebih mudah menghentikan segala aktifitas negatif yang tidak sejalan dengan peran kita, bahkan sebelum aktifitas negatif itu mulai dilakukan. Tanpa kontrol diri yang baik, bisa jadi kita mudah terdorong dalam perbuatan negatif yang merugikan salah satu atau beberapa peran kita.

Kelima, kemampuan mengelola waktu. Fakta bahwa satu hari terdiri dari 24 jam dan berbagai peran membutuhkan waktu kita, membawa kita pada kesadaran bahwa kewajiban lebih banyak daripada waktu. Diperlukan kiat-kiat mengelola waktu agar konflik peran bisa diatasi. Semangkuk Cocktail Cinta memberikan 7 kiat sebagai berikut:
1. Tidak menunda pekerjaan
2. Tidak berlebihan dalam bersosialisasi dan mengobrol
3. Menghadiri forum undangan tepat waktu
4. Membuat agenda kerja
5. Mengkhususkan waktu untuk ibadah, istirahat, bersama keluarga, dan majelis iman
6. Kemampuan mendelegasikan tugas
7. Kemampuan menjaga keikhlasan

Cocktail Cinta dari Allah
Setiap kita tentu tidak hanya menginginkan cocktail cinta dari suami/istri, anak, orang tua, atau sahabat dan sesama ikhwah. Jauh lebih daripada itu, cinta yang kita inginkan adalah cinta Allah SWT. Bab 5 Semangkuk Cocktail Cinta membawa kita menelusuri cinta Allah. Tentu dengan harapan agar kita berusaha semaksimal mungkin untuk menyongsong cinta-Nya.

10 cara Allah SWT mencintai hamba-Nya adalah sebagai berikut:
1. Allah menyatakan rasa cinta-Nya, baik dalamAl-Qur'an maupun hadits, hingga jelaslah siapa yang berhak mendapatkan cinta-Nya
2. Cinta-Nya melebihi cinta ibu
3. Memberi kenikmatan surga dan memperlihatkan Wajah-Nya
4. Allah mengampuni dosa
5. Allah memberi petunjuk
6. Allah memberi rezeki
7. Allah memberi rasa cinta diantara manusia
8. Allah mengabulkan doa
9. Allah menutup aib hamba-Nya
10. Allah memberi cinta khusus kepada wali-Nya

Akhirnya, semoga dengan kehadiran buku Semangkuk Cocktail Cinta ini kita bisa menggapai cinta Allah dan cinta sesama manusia, khususnya dalam lingkaran peran kita. Hingga terciptalah pelangi indah kehidupan memayungi nikmatnya beraneka rasa cinta lalu berujung pada surga dan nikmat abadi memandang wajah-Nya. Wallaahu a'lam bish shawab. [Muchlisin]

DALAM BENTUK E-BOOK SEMANGKUK COCKTAIL CINTA BISA DIDOWNLOAD DI SINI
15:00 | 3 komentar

Masukkan alamat e-mail untuk mendapatkan up date Bersama Dakwah