Assalaamu'alaikum ,  Ahlan wa Sahlan  |  Facebook  |  Twitter  |  Pasang Iklan

Virus Stuxnet yang Menyerang Iran Dikirim oleh Amerika atau Israel

Written By Admin BeDa on Kamis, 30 September 2010 | 15:00


Virus canggih Stuxnet yang menyerang 30 ribu provider (penyedia layanan internet) Iran sejak Sabtu lalu (25/09) kemungkinan dikirim oleh Amerika atau Israel. Para pakar internet mengatakan virus yang juga dikenal dengan nama Winsta ini diduga sengaja diciptakan oleh sebuah organisasi yang disponsori Israel dan Amerika Serikat.

Akibat serangan virus ini, pengoperasian perdana reaktor nuklir Iran di Bushers ditunda dari awal 2010 menjadi 2011. Serangan virus ini semakin menguatkan spekulasi bahwa Israel dan AS sengaja menyabotase fasilitas nuklir tersebut. Sumber diplomat dan keamanan Iran juga mengatakan, negara-negara Barat dan Israel memandang sabotase seperti itu merupakan cara untuk memperlemah kerja nuklir Iran.

Sebagian pengamat memperkirakan, akibat serangan Stuxnet, terjadi kerusakan yang parah di sistem komputer reaktor nuklir Iran. Akibat serangan itu muncul masalah teknis, seperti terhentinya mesin sentrifugal yang berfungsi untuk mengatur pengayaan uranium di Reaktor Natanz. [AN/bsb]
15:00 | 6 komentar

Hadits 11: Bagaimanakah Islam yang Paling Baik?

Written By Admin BeDa on Selasa, 28 September 2010 | 15:00


Alhamdulillah, pembahasan hadits Shahih Bukhari kini memasuki hadits ke-11. Hadits ini masih termasuk dalam Kitab Iman (كتاب الايمان).

Pada hadits ke-11 Shahih Bukhari yang akan kita kaji ini, kita akan mendapatkan jawaban dari Rasulullah ketika ada seseorang yang bertanya kepada beliau tentang bagaimana Islam yang paling baik. Sebagaimana Imam Bukhari memberikan judul bab "Bagaimanakah Islam yang Paling Baik" untuk hadits ke-11 ini, Bersama Dakwah juga memberikan judul yang sama "Bagaimanakah Islam yang Paling Baik".

عَنْ أَبِى بُرْدَةَ عَنْ أَبِى مُوسَى - رضى الله عنه - قَالَ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ الإِسْلاَمِ أَفْضَلُ قَالَ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ

Dari Abi Musa radhiyallaahu anhu, "mereka bertanya, 'Ya Rasulullah, bagaimanakah Islam yang paling utama?' Rasulullah menjawab: 'Seorang muslim yang menyelamatkan kaum muslimin dari lisan dan tangannya.'

Penjelasan Hadits
Kata Islam (الإسلام) pada matan hadits di atas menggunakan bentuk tunggal (singular), sedangkan kata sesudah أي seharusnya berbentuk jamak (plural). Ini dikarenakan ada bagian kata yang dihapus, yaitu ذوي. Sehingga lengkapnya pertanyaan dalam hadits itu berbunyi: أي ذوي الإسلام.

Redaksi semakna akan didapatkan pada hadits shahih Muslim dengan lafadz أي المسلمين أفضل.

Dengan demikian, makna pertanyaan ini adalah bagaimanakah keislaman yang paling utama, atau orang Islam yang paling utama itu yang bagaimana?

Menjawab pertanyaan ini Rasulullah menjelaskan dengan sabda yang sama dengan hadits sebelumnya, yakni قَالَ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ 'Seorang muslim yang menyelamatkan kaum muslimin dari lisan dan tangannya.'

Mengenai penjelasan matan hadits yang menjadi jawaban Rasulullah ini, pembaca bisa membaca kembali hadits ke-10: Hakikat Muslim dan Muhajir (Orang yang Berhijrah). Yang intinya, sebagaimana salah satu makna Islam adalah "selamat" yang diambil dari asal kata salima, karakter muslim adalah menyelamatkan. Tidak mencelakakan orang lain, terlebih sesama muslim. Baik dengan tangan maupun lisannya.

Pelajaran Hadits
Pelajaran yang bisa diambil dari hadits ini diantaranya adalah:
1. Hadits juga menggunakan gaya bahasa Arab yang tinggi
2. Hendaklah seorang alim atau dai memberikan jawaban ketika ditanya oleh umat khususnya pertanyaan yang serius menyangkut keislaman dan kemanfaatan umat
3. Islam sangat memperhatikan kebaikan hubungan sesama (hablun minannas) sehingga ia dimasukkan dalam kategori keislaman yang paling utama
4. Orang yang hendak mencapai derajat utama di dalam Islam, haruslah menjaga tangan dan lisannya sehingga tidak menyakiti, melukai, dan mencelakakan muslim yang lain. Sebaliknya, ia harus menjamin keselamatan kaum muslimin dari bahaya akibat tangan dan lisannya.

Demikian hadits ke-11 Shahih Bukhari dan penjelasannya, semoga bermanfaat untuk menambah pemahaman Islam kita, memotivasi kita untuk memperbaiki kualitas keislaman kita, hingga menjadikan kita termasuk orang Islam yang utama. Wallaahu a'lam bish shawab. []

KEMBALI KE HADITS 10
15:00 | 10 komentar

Takut Rahasia Militer Terungkap, Pentagon Hancurkan 9.500 Buku tentang Kasus WTC dan Operasi Militer di Afghanistan


Takut rahasia militer akan terbongkar, markas besar Angkatan bersenjata AS, Pentagon memborong dan menghancurkan 9.500 buku "Operation Dark Heart" yang ditulis oleh seorang tentara.

Buku yang ditulis oleh Letnan Kolonel Anthony Shaffer itu kabarnya memuat berbagai detail tentang operasi rahasia AS di Afghanistan. Buku setebal 299 halaman itu diborong atas perintah pimpinan Pentagon seharga 250 ribu dollar sebelum sempat tiba di toko-toko buku.

Menurut Fox News, salah satu bab dalam buku berjudul "Operation Dark Heart" itu berisi kasus serangan 11 September 2001 yang menghancurkan dua gedung kembar WTC. Disebutkan oleh Letnan Kolonel Anthony Shaffer bahwa otoritas keamanan AS telah mengetahui rencana serangan itu berbulan-bulan sebelumnya. Namun demikian, pihak militer AS tidak bereaksi apapun.

Menurut Shaffer, penulisan buku itu telah disetujui oleh atasannya. Tetapi, ketika CIA dan badan-badan lain membaca naskahnya, mereka menolak. Kemudian, buku-buku itu diborong lalu dihancurkan pada 20 September sebelum berhasil masuk ke toko-toko buku di AS.

Sebagaimana buku lain yang dilarang, buku terbitan St. Martin's Press itu kontan menimbulkan rasa penasaran publik. Warga Amerika pun berusaha mendapatkan buku Operation Dark Heart itu. Menanggapi banyaknya permintaan itu, pihak percetakan telah merilis cetakan kedua. Sayangnya, buku itu mengalami beberapa perubahan dari aslinya karena desakan pemerintah AS terkait isi buku yang bersifat rahasia dan dapat mengganggu stabilitas keamanan. [AN/Ant]
13:00 | 2 komentar

Jika Kita yang Bertanya, Apa Jawaban Rasulullah?


Membaca kembali Fathul Bari hadits kesebelas dan kedua belas, membuat diri ini merenung lebih dalam.

Pada dua hadits shahih Bukhari itu, ada pertanyaan bernada sama tetapi dijawab berbeda oleh Rasulullah. Pertanyaannya berbunyi: "Ayyul Islaami afdhal?" dan "Ayyul Islaami khair?". Dalam bahasa Indonesia, keduanya bisa diartikan "Bagaimanakah Islam yang paling utama?"

Pada pertanyaan pertama Rasulullah menjawab: "Seorang muslim yang menyelamatkan muslim lainnya dari bencana akibat lisan dan tangannya" Sedangkan pada pertanyaan kedua, jawaban Rasulullah: "Memberi makan serta mengucap salam pada orang yang kau kenal dan tidak kau kenal".

Meskipun dalam bahasa Arab afdhal tidak sama persis dengan khair, kita pun akan mendapatkan pertanyaan lain yang sama dijawab berbeda oleh Rasulullah. Misalnya "Ayyul amali afdhal?" Amal apa yang paling utama. Sang Nabi dalam satu kesempatan menjawab "Al-Imaanu billah wa jihaad fii sabiilillah" Iman kepada Allah dan jihad fi sabilillah. Hadits yang lain merekam jawaban beliau: "Ash-Shalaatu 'alaa miiqaatihaa" Shalat di awal waktu. Ada pula: "Alaika bish shaum" Berpuasalah. Pertanyaannya sama: amal yang paling utama.

Penjelasan Ibnu Hajar Al-Asqalani memberikan jawaban yang paling tepat sekaligus mengingatkan kita untuk memperbaiki diri. "Jawaban berbeda itu", kata beliau dalam Fathul Baari, "disebabkan perbedaan kondisi penanya dan pendengarnya."

Dengan demikian disebutkannya jawaban yang berbeda tersebut adalah sesuai dengan kebutuhan si penanya pada waktu itu agar mereka melakukan perbaikan pada amal yang merupakan sisi lemah mereka. Bagi penanya yang keimanannya tak lagi diragukan, semangat jihad yang selalu membara, shalat jama'ahnya tak pernah ketinggalan, tetapi lisannya terkadang terpeleset dengan kata yang bisa menyakitkan sahabat atau tetangganya, jawaban Rasulullah "Seorang muslim yang menyelamatkan muslim lainnya dari bencana akibat lisan dan tangannya" adalah jawaban yang paling tepat. Lalu jadilah sahabat Nabi ini sempurna atau lebih dekat dengan kesempurnaan.

Untuk orang yang shalat malamnya istiqamah, puasa sunnahnya luar biasa, selalu berkontribusi dalam jihad tetapi kurang peka terhadap tetangga yang kekurangan atau kurang tanggap untuk mengucap salam terlebih dahulu, maka petuah sang Nabi "Memberi makan serta mengucap salam pada orang yang kau kenal dan tidak kau kenal" adalah solusi tepat baginya. Lalu jadilah mukmin ini sempurna atau lebih dekat dengan kesempurnaan.

Lalu orang yang amal sosialnya bagus, kedermawanannya luar biasa, tetapi masih ada keraguan khususnya ketika menghadapi seruan jihad, ia pun mendapatkan obat yang paling dibutuhkannya ketika menghadap Rasulullah dan bertanya apa yang paling utama. "Al-Imaanu billah wa jihaad fii sabiilillah" membuatnya menyadari bahwa yang terbaik bahkan belum ia miliki. Maka ia segera memenuhi. Lalu jadilah mukmin ini sempurna atau lebih dekat dengan kesempurnaan.

Pun mereka yang kokoh dalam jihad, sigap dalam berinfaq, semangat berdakwah, dan sibuk dalam amal-amal Islam, namun terpeleset dalam prioritas hingga ketinggalan shalat jama'ah, Rasulullah memberikan terapi terbaik "Ash-Shalaatu 'alaa miiqaatihaa". Shalatlah tepat pada waktunya, bersama jama'ah, jangan ketinggalan takbiratul ula imam. Lalu jadilah mukmin ini sempurna atau lebih dekat dengan kesempurnaan.

Jawaban paling berharga juga didapatkan oleh ia yang selalu turut berjihad, hadir dalam jamaah setiap shalat, bersemangat dalam infaq, tetapi kurang sabar dalam menghadapi permasalahan. Kepada orang seperti ini Rasul bersabda "Alaika bish shaum". Berpuasalah. Lalu jadilah mukmin ini sempurna atau lebih dekat dengan kesempurnaan.

Maka begitulah harusnya seorang dai. Ia memberikan jawaban paling tepat bagi orang yang membutuhkannya. Lebih dari itu, renungan yang pantas kita lakukan bukan saja memposisikan diri menjadi tinggi. Sadarilah kekurangan kita. Lalu cobalah membayangkan seandainya kita yang bertanya: "Wahai Rasulullah, amal apa yang paling utama?" Mungkin Rasulullah akan menjawab: Al-Imaanu billah, jihaad fii sabiilillah, shalaatu 'alaa miiqaatihaa, birrul walidain, alaika bish shaum,... dan sederet jawaban yang amat panjang. Sebab iman kita sering goyah, semangat jihad kita lemah, sering ketinggalan shalat jama'ah, kurang berbakti pada orang tua, tidak sabar berhadapan dengan masalah, tidak peka dengan problematika sosial, dan sebagainya.

Ya Allah... ampuni kami yang begitu banyak dosa dan amat jauh dari sempurna. Perbaikilah kami, mudahkanlah diri ini mengikuti jejak Rasul-Mu dan sahabat-sahabatnya yang tak pernah menyiakan waktu. [Muchlisin]
09:00 | 2 komentar

Al-Quds dan Penghianatan Kecil

Written By Admin BeDa on Senin, 27 September 2010 | 10:00


Oleh: Dr. Mahdi Qadhi

Al-hamdulillaahi Rabil Alamin
, segala puji bagi Allah yang mengurus sekalian alam, salawat dan salam tercurah pada penghulu para Nabi dan rasul.

Wahai umat Islam, penjajahan Al-Quds dan Al-Aqsha, masjid suci (al-haram) ketiga serta kiblat pertama ummat tidak akan terjadi, kalau kita tak pernah melalaikan hak-hak Allah atau berpegang teguh pada perintah-perintah-Nya. Tak diragukan lagi, kita telah banyak melalaikan hubungan kita dengan Allah serta lalai dalam berpegang teguh pada hak-hak agama ini. Inilah sebab utama bagi berbagaimaca kelemahan dan kehinaan. Disamping meraja lelanya kejahatan dan permusuhan serta jauhnya ummat dari pertolongan yang mengakibatkan hilangnya tempat suci kita. Darah para syuhada mengalir begitu murahnya di sejumlah tempat di muka bumi ini. Oleh karena sunnatullah menuntut bahwa kemenangan dan kejayaan ummat tidak akan terjadi, kecuali jika kita membenarkanNya dan berpegang teguh pada perintah-perintahNya.

Allah berfirman,
“Jika kalian menolong Allah, maka Allah akan menolong kalian” (Muhammad: 7)

Rasullullah Sallallahu Alaihi wa Sallam pernah bersabda yang diriwayatkan Ibnu Umar, “Jika kalian melakukan perdagangan Iinah memegang ekor-ekor sapi, lebih senang pada pertanian serta meninggalkan jihad, maka Allah akan meliputi kalian dengan kehinaan yang tidak akan diangkat dari diri kalian , hingga kalian kembali pada agama kalian” (Silsilah Hadits Shahih kar. Nashiddin Al-Albani)

Setiap umat akan mendapatkan balasanya dari sikap lalainya, sesuai dengan tingkat keparahanya. Baik melalaikan dalam hak-hak Allah secara utuh atau melalaikan dalam tugas dakwah, perbaikan dan reformasinya.

Diantara bentuk kelalaian adalah penghianatan umat dengan membantu musuh-musuh Allah dan menerima terhadap apa yang mereka inginkan yang jelas-jelas merugikan ummat Islam. Jenis pengkhianatan ini jelas sekali. Namun yang paling berbahaya adalah penghianatan yang tak tampak jelas. Ummat bahkan bekerja sama dalam masalah ini. Namun ia telah merugikan Islam tanpa merasa bahwa tindakanya tersebut merupakan bentuk pertolongan terhadap musuh-musuh agama dan membantu dalam mengalahkan kaum muslimin. Sebagaian umat bahkan melakukan transaksi kesepakatan dengan musuh dalam penghianatan ini. Mereka adalah sejahat-jahat pengkhianatan dan paling berbahaya daripada musuh-musuh Islam yang jelas-telas Nampak kejahatanya. Dengan penipuan mereka ini ummat Islam menuju pada kebinasaan, kehancuran dan kelemahan tanpa mereka sadari. Tindakan mereka nyata-nyata telah membantu kejayaan musuh-musuh Islam.

Diantara bentuk penghianatan yang paling besar, namun tampak samar di mata sangat banyak, diantaranya. Mencekoki ummat dengan berbagai acara di sejumlah stasiun televisi dan media hal-hal yang bertentangan dengan aturan agama dan kebenaran, penuh dengan segala sesuatu yang diharamkan Allah, baik kecil maupun besar. Dimulai dari keluarnya para wanita dengan “tabarruj” memperlihatkan auratnya. Mereka mempertontonkan semua ini, seolah-olah hal tersebut diperbolehkan secara agama. Akibatnya jutaan kaum muslimin terus meneruss hidup dalam kemaksiatan. Hal ini tentu akan memperlambat pertolongan Allah dan memperpanjang kejayaan musuh-musuh Allah.

Umat Islam tidak berhak mendapatkan pertolongan dari Allah, sebab kemungkaran yang tidak diridhainya terpampang siang dan malam, disaksikan ratusan juta kaum muslimin. Kenyataan ini, selain kerusakan moral yang terjadi di kalangan media, hingga banyak para pemuda yang tersesatkan. Terutama para pemuda harapan bangsa. Mereka tenggelam dalam berbagai kelakuan gila dan kebobrokan. Ini juga selain kondisi ummat yang tersibukkan dari kewajibannya menyelematkan ummat dari kondisi yang sangat menyedihkan. Terutama saat ini, masa yang paling gelap dan hina bagi ummat Islam sepanjang sejarahnya, sebagaimana disebutkan sejumlah pakar dan ulamanya. Suatu masa dimana Al-Aqsha masih terpenjara sejak puluhan tahun silam. Penghinaan, pembunuhan dan pembantaian yang belum pernah terjadi dalam sejarah penjajahan. Sebuah bangsa muslim mati terbunuh dengan sadisnya. Sementara ummat Islam hanya bisa melihat dan menyaksikan. Sejarah mencatat, media telah melenakan para pemudanya. Mereka dilalaikan oleh musik dan nyanyian, sementara ummat berada dalam kondisi menyedihkan dan sangat berbahaya.

Tak diragukan lagi musuh-musuh agama mempunyai tangan-tangan untuk menciptakan kondisi di atas. Tapi tentunya tidak secara langsung, maka tentu ummat akan berhati-hati. Media-media mereka terutama televise sangat berpengaruh dalam kehidupan manusia saat ini, bahkan seolah media menjadi agama baru manusia. Dengan kemampuanya, ia dapat menghidupkan manusia dan menuntunnya kepada kebaikan. Tetapi sebaliknya bisa mengarahkan manusia ke jalan kebinasaan dan menjauhkan mereka dari kebahagiaan serta kemuliaan.

Dan yang membuat kita harus semakin berhati-hati adalah bahwa penghianatan semacam ini serta para pejabatnya dimana mereka berada adalah sebab utama kehinaan ummat ini. Mereka adalah penolong musuh-musuh agama, dengan sadar atau tidak. Mereka datang dan berbicara tentang bagaimana menyelamatkan ummat Islam dan tempat sucinya. Tetapi pada saat yang sama, mereka sendiri yang merealisasikan pembunuhan dan berjalan-jalan di atas mayat-mayat ummat Islam. Kalaulah ummat Islam bisa selamat dari kejahatanya, tentu kondisinya tidak separah ini.

Saya akan mengutip pernyataan Syaikh Muhammad Gazali yang layak ditulis dengan tinta emas dan saya sering melansir ungkapanya diberbagai kesempatan, karena isinya sangat relevan dengan kondisi saat ini.

Syaikh Muhammad Gazali mengatakan, “sesungguhnya agama Islam bagi kita, bukan hanya jaminan bagi kita di akhirat kelak, akan tetapi merupakan pengorbanan dan benteng bagi kita didunia dan tempat berlindung kita di alam fana ini. Oleh karena itu, saya melihat orang-orang yang menyepelekan agama, telah melakukan penghianatan terbesar. Sadar atau tidak mereka telah membantu Zionis untuk menghilangkan negara kita, kemuliaan kita dan masa depan kita. Beda kita antara bangsa Arab dulu dengan sekarang adalah ketika mereka melakukan kesalahan mereka mengetahui cara bertaubatnya, kemudian mereka dapat memperbaikinya dan memulai kembali perjuangan serta dapat mengusir kembali musuh-musuhnya.

Kita berharap Allah dapat memberikan kekuatan pada bangsa ini dengan memberikan jalan terbaik untuk membetulkan kesalahanya dari pengkhianatan pada ummat serta apa yang merusaknya dari agamanya, serta mudah-mudahan kejayaan dan kemerdekaan bagi Al-Aqsha dapat dikembalikan, amin. [asy, sumber: InfoPalestina]
10:00 | 3 komentar

Masjid Mengubah Pemandangan Kota-kota di Jerman

Written By Admin BeDa on Jumat, 24 September 2010 | 13:00


Di bawah pimpinan Hitler, Jerman dikenal sebagai negara cinta perang. Masih sulit bagi sebagian orang untuk mengaitkan negara pencetus perang dunia kedua itu dengan Islam. Tapi kini, masjid mulai mengubah pemandangan kota-kota di Jerman.

Jerman merupakan negara federasi dengan posisi ekonomi dan politik yang sangat penting di Eropa maupun dunia. Negara dengan luas wilayah 357.021 km2 ini kini dihuni sekitar 82 juta jiwa. Lebih dari 4 juta diantaranya adalah umat Islam.

Meskipun tergolong minoritas, umat Islam di Jerman terus berkembang pesat dari tahun ke tahun. Selain adanya migrasi dari Turki dan Arab, angka kelahiran keluarga muslim yang tinggi menjadi penyebab terbesar pesatnya pertambahan jumlah penduduk muslim. Di samping itu, bertambahnya mualaf baru turut meningkatkan populasi muslim di negeri yang beribukota Berlin tersebut.

Pertumbuhan jumlah muslim di negeri yang dipimpin oleh presiden dan kanselir itu juga diikuti oleh pertumbuhan jumlah masjid di berbagai kota. Salah satu koran Jerman melaporkan Kanselir Jerman, Angela Merkel, mengatakan bahwa warga Jerman akan terbiasa dengan pemandangan lebih banyak masjid di kota-kota mereka.

"Selama bertahun-tahun kita menipu diri sendiri tentang ini. Masjid, misalnya, akan menjadi bagian yang lebih penting di kota-kota kita daripada sebelumnya," kata Merkel sebagaimana dikutip harian Frankfurter Allgemeine Zeitung. [AN/bsb]
13:00 | 5 komentar

Tak Kenal Maka Ta'aruf

Written By Admin BeDa on Kamis, 23 September 2010 | 16:00


Judul Buku : Tak Kenal Maka Ta'aruf
Penulis : Asri Widiarti
Penerbit : Era Adicitra Intermedia, Solo
Cetakan Ke : 1
Tahun Terbit : Jumadatas Tsaniyah 1431 H/Juni 2010
Tebal Buku : xxii + 162 halaman

Pernikahan adalah pertemuan dua jiwa. Setelah bertemu keduanya menyatu. Mengarungi kehidupan bersama. Mencipta harmoni dalam bahtera. Menebar cinta, menggapai cita. Berharap mencapai surga.

Disebabkan Islam tidak membenarkan pacaran dan interaksi non syar'i dengan lawan jenis yang bukan muhrimnya, bagaimana menjembatani agar dua jiwa yang hendak membangun rumah tangga saling mengenal? Pernikahan bukan sebuah uji coba yang dengan mudahnya dibatalkan karena ketidakcocokan yang bermula dari tidak-saling-kenal, bukan?

Allah sendiri menyatakan tiga hal yang hendak dituju oleh pernikahan: sakinah, mawaddah, rahmah.

وَمِنْ آَيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآَيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir. (QS. Ar-Rum : 21)

Dengan ketiga hal itu, sungguh dunia akan menjadi lebih indah. Seorang ikhwan yang tadinya berjuang sendirian, seorang akhwat yang sebelumnya hidup tanpa teman, tiba-tiba didampingi manusia yang paling menyemangati sekaligus mengasyikkan. Maka dakwah menemukan energinya yang baru, perjuangan menjadi berlipat kekuatannya. Bukankah itu adalah surga dunia?

Untuk menuju ke pernikahan yang demikian, dan menghindarkan dari peluang keretakan rumah tangga akibat tidak-saling-kenal, Islam memerintahkan nadhar "melihat" calon istri. Pun sebaliknya, akhwat memiliki hak serupa untuk mengetahui siapa calon suaminya.

Ta'aruf adalah nadhar yang dikembangkan dengan tetap memperhatikan prinsip-prinsip Islam dan tidak melanggar batas-batas yang telah ditetapkan oleh agama yang sempurna ini. Maka seperti disebut penulis pada pengantar, sebagai salah satu sarana untuk mencapai pernikahan, setidaknya taaruf menjadi pengantar untuk meniadakan efek-efek negatif pacaran.

Lima Urgensi Ta’aruf
Buku Tak Kenal Maka Ta’aruf ini diawali dengan penjelasan urgensi ta’aruf. Ada lima poin urgensi ta’aruf yang disebutkan di bab 1 ini. Pertama, agar terhindar dari “membeli kucing dalam karung”. Dengan ta’aruf, diharapkan seorang ikhwan bisa mengetahui calon istrinya, demikian pula akhwat mengetahui calon suaminya; dari sisi din/agama, akhlak, wajah/penampilan, dan latar belakangnya. Kedua, ta’aruf adalah jembatan yang memperdekat jarak untuk melihat apakah calon memang cocok atau tidak. Ketiga, mempersempit ruang penyesalan setelah menikah. Keempat, timbulnya penerimaan dan kesadaran penuh dalam mengarungi bahtera rumah tangga. Kelima, menyederhanakan masalah atau langkah menuju pernikahan yang memang sederhana agar tidak berbelit-belit.

Adab dan Tata Cara Ta’aruf
Ada 10 adab ta’aruf yang dijelaskan oleh penulis dalam buku Tak Kenal Maka Ta’aruf ini.
1. Membersihkan niat karena Allah
2. Berupaya menjaga kesucian acara ta’aruf
3. Kejujuran kedua belah pihak dalam ta’aruf
4. Nadhar (melihat) wajah
5. Menerima atau menolak dengan cara yang ahsan
6. Menetapi dan menjaga rambu-rambu syariah
7. Usahakan berpendamping (ada mediator, seyogyanya yang sudah menikah, amanah dan dapat dipercaya, adil terhadap kedua belah pihak, ikhlas, berakhlak baik, dan mengenal orang yang didampingi)
8. Memilih tempat yang tepat (bukan tempat mencurigakan seperti kamar kos yang sempit, dan lain-lain)
9. Menjaga rahasia ta’aruf (sebaiknya orang lain hanya tahu rencana pernikahan dari undangan)
10. Istikharah

Bagaimana Bila Ta’aruf Gagal?
Karena ta’aruf adalah sarana pertama menuju pernikahan, maka adakalanya ia berhasil lalu berlanjut ke khitbah dan akad nikah, ada kalanya pula ia tidak berlanjut ke pernikahan. Bagaimana bila ta’aruf gagal? Asri Widiarti memberikan empat tips dalam buku Tak Kenal Maka Ta’aruf ini. Pertama, Yakinilah bahwa ini yang terbaik dari Allah. Bukankah lebih baik ta’aruf tidak dilanjutkan daripada menikah tetapi tidak ada kecocokan lalu timbul perselisihan dan banyak permasalahan? Kedua, tetaplah memperbaiki diri. Kembali kepada QS. An-Nur : 26 bahwa perempuan yang baik hanya untuk lelaki yang baik, demikian sebaliknya. Ketiga, tak perlu malu dan trauma. Jangan takut untuk melakukan ta’aruf lagi. Keempat, lakukan muhasabah dan evaluasi diri. Bisa jadi ta’aruf yang gagal membuat kita tersadar ada kelemahan yang harus diperbaiki. Dengan demikian kita menjadi lebih baik dan sempurna.

Buku yang Kaya Pengalaman
Lebih dari separuh buku ini berisi pengalaman yang dibagikan kepada kita. Pengalaman itu terbagi tiga. Pertama, tanya jawab seputar ta’aruf yang dikumpulkan penulis ketika penulis menjawab pertanyaan di pengajian, radio, telpon, dan sms. Ada 35 pertanyaan yang ditulis di sini berikut jawabannya. Mulai yang menanyakan sejauh mana pertanyaan saat ta’aruf sampai mengapa calon suami yang shaleh mundur dari ta’aruf.

Kedua, bab ke-12 yang diberi judul romantika ta’aruf. Ini berisi sepuluh pengalaman pelaku ta’aruf. Dan, ketiga, cerita hati para pendamping ta’aruf. Bagian ini barangkali paling yang menarik untuk disimak. Ternyata, ada ikhwan yang ada-ada saja. Maksudnya, banyak kriteria yang diminta ketika hendak ta’aruf. Mulai dari standar muwashofat yang tinggi, hingga fisik yang “sempurna”.

Bagi Anda yang belum menikah, buku Tak Kenal Maka Ta’aruf ini akan membantu Anda untuk mengetahui lebih jauh dan detail mengenai ta’aruf, termasuk form data yang perlu diisi saat ta’aruf. Pengalaman penulis (khususnya dalam tiga bab terakhir) akan membuat kita mengerti lebih banyak tentang praktik ta’aruf, dan insya Allah membuat kita lebih dewasa menyikapi problem yang terjadi sebelum, selama, dan sesudah ta’aruf. Wallaahu a’lam bish shawab. [Muchlisin]

DALAM BENTUK E-BOOK TAK KENAL MAKA TA'ARUF BISA DIDOWNLOAD DI SINI
16:00 | 4 komentar

Parade Militer Iran Dibom, 12 Tewas, Puluhan Luka-luka


Di tengah parade militer Iran yang memamerkan persenjataan Rabu kemarin (22/09), sebuah bom meledak menewaskan 12 orang serta puluhan orang lainnya luka-luka. Jumlah korban cukup banyak karena bom dipasang hanya 50 meter dari podium parade.

Korban tewas ledakan di kota Mahabad di Iran Barat laut tersebut terdiri dari sebelas wanita, termasuk istri dua panglima yang hadir dalam parade itu, dan seorang anak laki-laki berusia enam tahun. Sedangkan korban terluka segera ditangani tenaga medis dan dibawa ke rumah sakit. Dimungkinkan jumlah korban tewas akan bertambah akibat luka serius yang diderita korban lainnya.

"Jumlah syuhada dalam insiden itu mencapai 12," kata Ghulam Reza Massoumi, kepala pelayanan darurat medis Iran.

Sampai saat ini belum ada pihak yang mengaku bertanggungjawab atas ledakan yang terjadi pada pukul 10.20 waktu setempat tersebut.

"Sejauh ini belum ada kelompok atau orang yang mengklaim bertanggung jawab atas kejahatan ini," kata Issa Ghanbari, deputi gubernur provinsi.

Wilayah Iran Barat, yang ditempati parade militer ini, memiliki penduduk Kurdi dalam jumlah besar. Wilayah ini pernah dilanda bentrokan-bentrokan mematikan antara pasukan Iran dan kelompok-kelompok gerilya Kurdi, khususnya Partai Hidup Bebas Kurdistan (PJAK) yang beroperasi dari sejumlah pangkalan di negara tetangga, Irak. Sebagian sumber menuduh ledakan ini terkait dengan kelompok yang kontra revolusi Iran itu. [AN/Ant]
11:00 | 4 komentar

Merobek Al-Quran dan Mengoyak Umat

Written By Admin BeDa on Rabu, 22 September 2010 | 13:00


Oleh : Ahmad Abu Ratimah

Saat seorang pendeta yang tidak terkenal hendak membakar mushaf Al-Quran, umat merasa terbakar. Sebagian kita menyikapi dan menilai langkah ini akan mengancam dan meruntuhkan bangunan Islam. Seakan membakar mushaf akan mengapus Al-Qur’an dari eksitensinya.

Kebanyakan orang memperkirakan bahwa pendeta yang anak perempuannya menyebut ayahnya hilang akal, dimana gerejanya hanya berjamaah tidak lebih dari 50 orang mengumumkan langkah ini hanya mencari sensasi dan popularitas. Dan targetnya berhasil. Hal itu dibantu oleh media dan pejabat publik tanpa merasa bertanggungjawab. Padahal, jika kita keluar berdemo mengecam orang yang mengalami gangguan jiwa, ia tidak akan merasa terganggu. Justru demo itu akan menimbulkan kepuasan tersendiri dalam diri di penderita sakit jiwa. Ia akan merasa menjadi orang penting dan berpengaruh.

Pantas bagi si pendeta – penulis tak perlu sebut namanya karena memang tidak penting – mendirikan sebuah lembaga pendidikan dan pelatihan meraih popularitas internasional dalam waktu kurang dari sepekan.

Bayangkan jika dia melakukannya (membakarnya) jauh dari gegap gempita media dan teriakan pejabat, tak seorang pun peduli, apakah akan membahayakan Islam sedikitpun? Apa yang terjadi jika kita ikuti petunjuk Al-Quran dan kita berpaling dari aksi bodoh itu?

وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ

serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh (QS. Al-A’raf: 199)

Bumi ini dihuni oleh lebih dari 6 milyar manusia. Dari jumlah besar ini ada banyak orang yang dengki dan sakit jiwa. Kita tidak akan mampu menghimpun manusia dan orang yang melecehkan simbol-simbol kita di dunia ini. Maka solusi terbaik menyikapi mereka adalah “anggap mereka bodoh, masa bodoh dan menghindar”. Sebab jika merespon, hal itu akan merangsang orang-orang bodoh itu akan terkenal dan merasa penting. Dan inilah yang saat ini terjadi di dunia.

Kita terjatuh dalam kesalahan yang sama ketika terjadi krisis karton melecehkan Nabi Muhammad. Kita memposisikan orang-orang iseng itu menjadi pahlawan di mata bangsa mereka. Bayangkan, pada saat krisis kartun nabi Muhammad, kita sendiri yang mengubah sosok tidak dikenal di negeri yang tidak terkenal menjadi orang lebih terkenal dari pada “api di bendera”. Kita bakar foto-fotonya dalam aksi unjuk rasa. Kita sebarkan foto-fotonya di web-web. Ketika ia kita kecam, ia dipuja-puja oleh bangsanya dan mendapatkan nobel perngharagaan dari pemimpin barat. Terakhir senator Jerman menganuhgerahkan penghargaan kepada kartunis itu.

Penulis akhirnya merasa bahwa kali ini dan kali lain sebelumnya kita lebih banyak terperas. Penulis lebih memilih tidak peduli ketimbang kelompok umat Islam lainnya yang tidak mau belajar dari peristiwa.

Kita salah ketika memutar balikkan prioritas dan mengerahkan energi umat dalam “perang sampingan” sementara kita melupakan “perang inti”. Seakan problem kita dengan Amerika bermula dari si bodoh itu.

Masalah kita dengan Amerika bukan karena peristiwa itu. Namun karena daftar panjang hitam dan kejahatannya terhadap kemanusiaan.

Masalah kita dengan Amerika bukan karena perbuatan kekanak-kanakan ini. Namun karena politik AS yang mendukung entitas Israel menjajah tanah kita, merampas kekayaan alamnya, menjaga rezim diktator di tengah-tengah kita.

Bukan kebetulan ketika Menlu Amerika Hillary Clinton pada saat berkomentar di depan publik soal pembakaran mushaf Al-Qur’an, kemudian menyatakan bahwa Sudan sudah terbelah dan warga Sudan selatan sudah dipastikan melakukan referendum untuk disintregasi. Ya, kita pergi jauh terpancing dengan perang pembakaran mushaf Al-Qur’an, sementara Hillary mulai bagi-bagi harta rampasan perangnya sebelum perang dimulai bahkan dan membicarakan kekayaan alam di Sudan Selatan dan ladang minyaknya.

Inilah sikap Amerika resmi yang berusaha memecah belah kita dan negeri kita. Namun tak seorang pun terpancing. Ia terlewatkan tanpa sikap penolakan. Padahal itu jauh lebih berbahaya di banding ulah personal bodoh yang membakar Al-Quran.

Pemerintah Amerika resmi jauh lebih licik dan cerdik dibanding sebagian warganya seperti si pendeta itu. Karenanya ia hanya mendapatkan kecaman termasuk dari Hillary. Selama konspirasi penghancuran umat tidak diragukan lagi oleh umat Islam, tidak bergitu penting sikap seremonial Amerika agar menghormati agama dan tempat suci. Itu hanya di mulut. Amerika mengumumkan resmi mengecam tindakan si pendeta agar umat Islam tetap anteng dalam tidurnya. Membungkam suara ekstrim seperti pendeta ini lebih banyak bermanfaat bagi proyek hegemoni Amerika ketimbang kepentingan umat.

Pengoyakan umat jauh lebih berbahaya 1000 kali dibanding pengoyakan kertas mushaf. Kemenangan kita dengan dan bersama Al-Quran bukan dengan kita reaksioner emosional, namun dengan menghidupkan makna-makna Al-Quran dalam kehidupan sehari-hari, kita berpegang teguh dengannya, bersatu, berjihad melawan kezhaliman, dan berjalan di jalan yang lurus yang diserukan Al-Quran.

Jangan-jangan kita sendiri yang ‘mengoyak’ Al-Qur’an sebelum mereka mengoyaknya? Dengan cara kita tinggalkan nilai-nilai dan ajarannya, dengan cara kita sia-siakan energi besar peradaban kita. Kalau kita tegakkan kewajiban kita terhadap Al-Qur’an dengan sebenarnya, dunia tidak akan seperti ini dan sejarah pasti berubah….

Kapan kita sadar dan pintar mengatur prioritas kita dan kita lampaui reaksi emosional menuju upaya sistematis untuk membangkitkan realita kita? Kita arahkan kompas kita ke arah yang benar, tidak belok dari arah peperangan riil dan inti kepada peperangan sampingan sehingga kita tidak menjadi sosok-sosok yang reaksioner terhadap yang hal-hal sepele.

إِنَّ فِي ذَلِكَ لَذِكْرَى لِمَنْ كَانَ لَهُ قَلْبٌ أَوْ أَلْقَى السَّمْعَ وَهُوَ شَهِيدٌ

Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai akal atau yang menggunakan pendengarannya, sedang Dia menyaksikannya. (QS. Qaaf: 37)[bn-bsyr, InfoPalestina]
13:00 | 7 komentar

Hadits 10: Hakikat Muslim dan Muhajir (Orang yang Berhijrah)

Written By Admin BeDa on Selasa, 21 September 2010 | 14:00


Alhamdulillah, pembahasan hadits Shahih Bukhari kini memasuki hadits ke-10. Hadits ini masih termasuk dalam Kitab Iman (كتاب الايمان).

Hadits ke-10 Shahih Bukhari yang akan kita kaji ini akan memaparkan karakter muslim secara singkat. Di samping itu, ia juga menjelaskan hakikat muhajir (orang yang berhijrah) dalam maknanya yang luas. Karenanya Bersama Dakwah memberi judul untuk pembahasan hadits ke-10 ini "Hakikat Muslim dan Muhajir (Orang yang Berhijrah)".

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو - رضى الله عنهما - عَنِ النَّبِىِّ - صلى الله عليه وسلم - قَالَ الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ ، وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللَّهُ عَنْهُ

Dari Abdullah bin Umar r.a. Nabi SAW bersabda, "Muslim adalah orang yang menyelamatkan semua orang muslim dari lisan dan tangannya. Dan Muhajir adalah orang yang meninggalkan segala larangan Allah"

Penjelasan Hadits

الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ
Muslim adalah orang yang menyelamatkan semua orang muslim dari lisan dan tangannya

Matan hadits ini menjelaskan salah satu karakter muslim. Sebagaimana salah satu makna Islam adalah "selamat" yang diambil dari asal kata salima, seorang muslim adalah seorang yang menyelamatkan. Tidak mencelakakan orang lain, terlebih sesama muslim.

Maka itulah karakter muslim yang juga menjadi hakikat muslim sejati. Ia tidak membahayakan muslim yang lain, tidak pula mencelakakan mereka. Ia tidak membuat sesama muslim yang pada hakikatnya adalah saudaranya sendiri menjadi binasa karena lisan dan tangannya. Lisan berarti adalah ucapan dan perkataan. Sedangkan tangan adalah perbuatan, sikap, juga keputusan-keputusannya.

Seorang muslim sejati akan benar-benar menjaga lisan dan tangannya agar tidak sampai menyakiti sesama muslim. Lisannya ia jaga agar jangan sampai mengeluarkan perkataan yang menyakitkan, ucapan yang membuat hati terluka, kebohongan yang mendatangkan keburukan, ghibah yang menjatuhkan harga diri, umpatan yang memicu kemarahan, celaan yang mendatangkan penghinaan, apalagi fitnah yang mencelakakan.

Tangannya juga ia jaga sebaik-baiknya. Agar jangan sampai tangannya memukul sesama muslim, memecah belah persatuan mereka, mendatangkan kerusakan dalam kehidupan mereka, menzhalimi hak-hak mereka, menindas mereka yang lemah, merongrong stabilitas umat, dan sebagainya. Disebutkannya tangan di sini bukan hanya terbatas pada tangan secara fisik yang merugikan orang lain. Lebih strategis dari itu adalah tangan dalam arti kekuasaan sebagaimana dalam hadits lain:

مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الإِيمَانِ

Barangsiapa diantara kalian melihat kemungkaran, hendaklah ia mengubahnya dengan tangan/kekuasaannya. Jika tidak mampu, hendaklah mengubah dengan lisannya. Jika tidak mampu hendaklah mengubah dengan hatinya. Dan itu adalah selemah-lemah iman. (HR. Muslim)

Maka jika seorang muslim memiliki kekuasaan, ia harus menjaganya agar jangan sampai kekuasaan itu menyakiti kaum muslimin, menzhalimi, menindas, atau merampas hak mereka.

Matan hadits di atas juga menunjukkan bahwa hakikat Islam bukan hanya baiknya hubungan manusia dengan Rabbnya (hablun minallah), tetapi juga harus baik hubungannya dengan sesama manusia (hablun minannas). Dan salah satu indikasi baiknya hubungan dengan sesama manusia, khususnya sesama muslim, adalah terjaganya kaum muslimin dari gangguan lisan dan tangannya.

وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللَّهُ عَنْهُ
Dan Muhajir adalah orang yang meninggalkan segala larangan Allah

Muhajir adalah orang yang berhijrah. Dalam bentuk jamak, kata muhajir akan berubah menjadi muhajirin, "orang-orang yang berhijrah."

Ketika istilah "hijrah" dan "muhajirin" disebutkan dalam Al-Qur'an, hampir bisa dipastikan maknanya adalah hijrah (berpindahnya) seorang muslim dari negeri kufur ke negeri Islam atau negeri yang aman untuk agamanya. Dalam sirah nabawiyah, dikenal dua hijrah. Yang pertama adalah hijrah ke Habasyah, dan yang kedua adalah hijrah ke Madinah. Hijrah pertama untuk menyelamatkan agama dari tribulasi dakwah yang dilancarkan kaum kafir Quraisy, sementara hijrah ke Madinah lebih besar lagi untuk membangun basis agama Islam sekaligus pendirian negara Islam di Madinah.

Setelah futuhnya Makkah, Rasulullah SAW bersabda tentang dihapuskannya hijrah, khususnya dari Makkah:

لاَ هِجْرَةَ بَعْدَ الْفَتْحِ

Tidak ada hijrah sesudah fathu Makkah (HR. Bukhari dan Muslim)

Dengan demikian, muhajir dalam matan hadits ini adalah muhajir dalam maknanya yang luas. Yakni orang yang berpindah dari kondisi mendurhakai Allah atau peluang bermaksiat kepada Allah menuju ketaatan yang lebih baik. Lebih tepatnya, meninggalkan larangan-larangan Allah SWT.

Ibnu Hajar Al-Asqalani menjelaskan bahwa ada dua bentuk hijrah. Pertama, hijrah zhahirah. Yaitu pergi meninggalkan tempat untuk menghindari fitnah demi mempertahankan agama. Kedua, hijrah bathinah. Yaitu meninggalkan perbuatan yang dibisikkan oleh nafsu amarah dan syetan. Seakan-akan orang yang berhijrah diperintahkan seperti itu, agar hijrah yang mereka lakukan tidak hanya berpindah tempat saja, tetapi lebih dari iru, mereka benar-benar melaksanakan perintah syariat dan meninggalkan larangannya. Orang yang meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah berarti ia telah melaksanakan hakikat hijrah.

Pelajaran Hadits
Pelajaran yang bisa diambil dari hadits ini diantaranya adalah:
1. Islam bukan hanya mengajarkan dan memerintah memperbaiki hubungan dengan Allah (hablun minallah), tetapi juga hubungan dengan manusia (hablun minannas)
2. Salah satu karakter muslim adalah menjaga lisan dan tangannya agar tidak menyakiti atau mencelakai sesama muslim
3. Dalam hadits, kadang satu istilah dipakai untuk makna yang berbeda, yakni makna secara sempit dan makna secara luas
4. Hakikat hijrah adalah meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah SWT.

Demikian hadits ke-10 Shahih Bukhari dan penjelasannya, semoga bermanfaat untuk menambah pemahaman Islam kita, memotivasi kita untuk memperbaiki kualitas keislaman kita, dan menjadikan kita sebagai muslim dan muhajir sejati. Wallaahu a'lam bish shawab. []

KEMBALI KE HADITS 9
14:00 | 3 komentar

Di Australia, Membeli Gereja Lebih Mudah Daripada Membangun Masjid Baru


Setiap tahun, jumlah muslim di Autralia mengalami peningkatan. Semakin banyaknya muslim di negeri kanguru itu secara otomatis menghajatkan adanya masjid-masjid baru. Namun demikian, mendirikan masjid baru bukanlah hal yang mudah. Maka membeli gereja untuk dialihfungsikan menjadi masjid menjadi salah satu solusi di negara persemakmuran itu.

Di Brisbane, misalnya, saat ini terdapat 10 masjid. Beberapa diantaranya adalah pengalihfungsian gereja menjadi masjid. Sebabnya tidak lain adalah, membeli gereja lebih mudah daripada membangun masjid baru.

Gereja-gereja yang tidak dipakai dan tidak dikunjungi lagi oleh pemeluk Nasrani itu dibeli kaum muslimin. Setelah itu atribut-atribut Kristen seperti salib, patung yesus, dan lain-lain dibersihkan. Juga dilakukan renovasi secukupnya, hingga bisa untuk shalat jamaah dan aktifitas ibadah lain oleh muslim Australia. Proses alih fungsi gereja menjadi masjid ini jauh lebih mudah dari pada pembangunan masjid baru. Terlebih, setelah terjadinya peristiwa 11 September 2001.

Ketua Program Pembangunan Masjid Algester Brisbane, Abdul Rahman Din menyatakan bahwa proses pembangunan masjid baru terkendala oleh keberatan sebagian masyarakat yang kurang memahami Islam sehingga perizinan pendiriannya mengalami kesulitan.

"Yang dikhawatirkan mereka biasanya soal parkir. Ada juga yang mengira pendirian masjid akan menimbulkan kebisingan karena setiap azan akan menghasilkan suara layaknya gereja membunyikan bel. Mereka takut masjid membunyikan bel atau azan 5 kali sehari secara nyaring, dan kami bilang kami tidak akan seperti itu," ujar Din.

Kenyataan ini membuat muslim Australia, khususnya panitia pembangunan masjid termotivasi untuk lebih mendakwahkan Islam agar warga Australia semakin paham tentang Islam. Diharapkan, tidak hanya mempersilakan membangun masjid, warga Australia juga akan semakin banyak yang masuk Islam. Kesempatan ini terbuka lebar karena, seperti penjelasan Din: "Sekitar sembilan dari 10 orang Australia tidak mempraktikkan agama yang mereka anut. Tapi mereka akan berkata kepada kita sebagai Muslim `Saya tidak mempraktikkan agama, kamu mempraktikkan ajaran agama kamu dan saya menghormati kamu atas itu`". [AN/ant]
13:00 | 1 komentar

Hari Ini Materi Tarbiyah Mulai Masuk Koran

Written By Admin BeDa on Senin, 20 September 2010 | 14:00


Perkembangan dakwah Islamiyah di Indonesia dewasa ini tidak bisa dilepaskan dari peran tarbiyah. Aktifitas tarbiyah sendiri mulai dikenal di kampus-kampus pada dekade 80-an. Melalui sistem halaqah-nya yang khas, tarbiyah berkembang cukup cepat dan telah menghasilkan banyak kader dakwah. Capaian-capaian dakwahnya juga terlihat mulai dari pemakaian jilbab yang membudaya, kembalinya (sebagian) umat kepada pemahaman Islam yang syamil, hingga masuknya dakwah ke ranah politik.

Keberhasilan tarbiyah di Indonesia tidak bisa dilepaskan dari kontribusi besar para murabbi yang ikhlas membina para mutarabbinya. Di samping itu, penyebaran materi tarbiyah melalui buku-buku yang dijual bebas juga semakin mengenalkan tarbiyah pada masyarakat.

Penyebaran materi tarbiyah pada periode berikutnya barangkali akan menggunakan media massa baik cetak maupun elektronik. Untuk koran atau surat kabar, hari ini sudah ditemukan penyebaran materi tarbiyah ini. Harian Bangsa, salah satu surat kabar harian yang terbit di Jawa Timur, mulai hari ini (20/09) memuat materi tarbiyah. Pembahasannya dimulai dari tema Pentingnya Syahadatain (Ahammiyatus Syahadatain).

Diletakkan di halaman 7 sebanyak tiga kolom, pembahasan Pentingnya Syahadatain hari ini baru sebatas tiga poin, yaitu pintu Pintu Gerbang Masuk Islam, Intisari Doktrin Islam, dan Dasar-dasar Perubahan. Tidak ketinggalan, ketiga poin itu dilengkapi dengan istilah Arabnya yang ditulis dengan huruf latin. Masing-masing adalah Al-Madkhalu Ilal Islam, Khulaashatu Ta'aalimil Islam, dan Asaasul Inqilab. Karena baru tiga dari lima poin yang seharusnya, maka tulisan itu diakhiri dengan kata "bersambung". Apakah nantinya setiap hari pembaca Harian Bangsa akan disuguhi materi tarbiyah? Kita tunggu saja.[AN]
14:00 | 9 komentar

Langkah Revolusioner Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) Turki

Written By Admin BeDa on Jumat, 17 September 2010 | 13:00


AKP memang fenomenal. Untuk pertama kalinya dalam sejarah Turki modern, pelindung negara sekuler - peradilan dan militer - ditantang oleh pemerintahan Islam yang tidak lain adalah pemerintahan AKP.

Tanggal 12 September 2010, ditetapkan sebagai hari referendum oleh pemerintah. Itu artinya, tepat tiga puluh tahun setelah kudeta militer 1980, rakyat Turki menentukan masa depan negaranya. Para pemilih pada hari itu pergi ke tempat pemungutan suara untuk memilih pada amandemen konstitusi terbesar sejak konstitusi saat ini diadopsi pada tahun 1982 lalu.

Apa yang Diamandemen?
Hal fundamental yang diamandemen adalah pasal 15 konstitusi yang sebelumnya memberikan hak istimewa militer Turki selaku pelindung sekulerisme. Dengan amandemen itu, terbuka jalan bagi pengadilan jenderal yang bertanggung jawab langsung atas kudeta militer 1980. Pada kudeta itu ribuan kaum kiri, nasionalis dan Kurdi ditangkap atau disiksa.

Melalui amandemen ini juga semakin terbuka lebar demokratisasi di Turki, setelah sebelumnya militer sangat berkuasa atas negara sehingga banyak pengekangan atas hak-hak sipil. Yang lebih penting, bagi mayoritas warga muslim Turki, amandemen ini merupakan peluang menerapkan nilai-nilai Islam yang sebelumnya dianggap sesuatu yang haram oleh militer dan peradilan.

Islamisasi atau Demokratisasi?
Lepas dari dukungan rakyat yang antusias berpartisipasi, referendum 12 September 2010 tetap tidak bisa lepas dari pro-kontra, khususnya oleh partai oposisi. Mereka mengkhawatirkan bahwa referendum ini merupakan jalan menuju islamisasi Turki. Para oposisi yang mempersoalkan ini memang berlatar belakang sekuler atau liberal.

Sementara AKP sendiri tetap berusaha meyakinkan mereka bahwa keputusan referendum yang telah ditetapkan adalah jalan bagi demokratisasi yang lebih progresif untuk Turki.

Sebagian kalangan menilai bahwa bahasa publik yang digunakan AKP menunjukkan cerdasnya strategi partai berhaluan Islam itu. Dengan kecerdasan dan kekuatan dukungan rakyat, pada tahun 2008 AKP berhasil lolos dari larangan Mahkamah Konstitusi atas tuduhan merusak negara sekuler. Pengadilan yang sama tahun itu dicabut melalui amandemen oleh parlemen yang didominasi AKP. Hasilnya, hukum secara resmi mengizinkan wanita muslimah untuk mengenakan jilbab di universitas negeri.

Israel Merespon Khawatir
Paska referendum, Israel yang sejak lama menjadikan Turki sebagai mitra menunjukkan kekhawatirannya. Referendum itu berpeluang menyeret tokoh militer yang bertanggungjawab atas kudeta 1980. Padahal petinggi militer itulah yang menjadi sekutu Israel. Tanpa mereka, Israel akan kehilangan banyak kepentingan di Turki. Terlebih jika Turki semakin mengarah ke Islamisasi.

Seringnya sikap Turki yang berani menentang Israel akhir-akhir ini, khususnya terkait masalah Palestina, dianggap sebagai awal penentangan yang tidak menggembirakan. Kekhawatiran ini juga diungkapkan langsung oleh Perdana Menteri Israel Benyamin Netanyahu.[AN/bsb]
13:00 | 3 komentar

Khutbah Jum'at: Amal di Bulan Syawal

Written By Admin BeDa on Kamis, 16 September 2010 | 14:00


Ramadhan pergi, datanglah Syawal menggantikannya. Jika "syawal" berarti peningkatan, maka sungguh tak pantas kita mengalami penurunan signifikan selepas Ramadhan ini. Apa saja dan bagaimana amal muslim di bulan Syawal? Khutbah Jum'at kali ini berusaha membahasnya.

Khutbah Jum'at Terbaru ini berusaha mengetengahkan pembahasan mengenai amal sunnah di bulan Syawal, juga bagaimana sirah nabawiyah mengajarkan kita perjuangan para sahabat mempertahankan eksistensi Islam di bulan ini. Dengan demikian, tema Khutbah Jum'at edisi 8 Syawal 1431 H yang bertepatan dengan 17 September 2010 M ini adalah: Amal di Bulan Syawal.

KHUTBAH PERTAMA

الحمد لله ربِّ العالمين والْعاقِبَةُ لِلْمُتَّقين ولا عُدْوانَ إلَّا عَلى الظَّالمِين وأشهد أنْ لا إله إلاالله وحده لا شريك له ربَّ الْعالمين وإلَهَ المُرْسلين وقَيُّوْمَ السَّمواتِ والأَرَضِين وأشهد أن محمدا عبده ورسوله المبعوثُ بالكتابِ المُبين الفارِقِ بَيْنَ الهُدى والضَّلالِ والْغَيِّ والرَّشادِ والشَّكِّ وَالْيَقِين والصَّلاةُ والسَّلامُ عَلى حَبِْيبِنا و شَفِيْعِنا مُحمَّدٍ سَيِّدِ المُرْسلين و إمامِ المهتَدين و قائِدِ المجاهدين وعلى آله وصحبه أجمعين

فياأيها المسلمون أوصيكم وإياي بتقوى الله عز وجل والتَّمَسُّكِ بهذا الدِّين تَمَسُّكًا قَوِيًّا. فقال الله تعالى في كتابه الكريم، أعوذ بالله من الشيطان الرجيم “يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ ،

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

Jamaah Jum’at yang dirahmati Allah,
Kini kita tengah berada di Jum'at kedua bulan Syawal 1431 H. Delapan hari sudah Ramadhan meninggalkan kita. Tanpa adanya kepastian apakah di tahun mendatang kita masih bisa berjumpa dengannya, menggapai keutamaan-keutamaannya, memenuhi nuansa ibadah yang dibawanya, ataukah justru Allah telah memanggil kita. Kita juga tidak pernah tahu dan tidak pernah mendapat kepastian apakah ibadah-ibadah kita selama bulan Ramadhan diterima oleh Allah SWT atau tidak. Dua ketidakpastian inilah yang membuat sebagian salafus shalih berdoa selama enam bulan sejak Syawal hingga Rabiul Awal agar ibadahnya selama bulan Ramadhan diterima, lalu dari Rabiul Awal hingga sya'ban berdoa agar dipertemukan dengan bulan Ramadhan berikutnya.

Jamaah Jum’at yang dirahmati Allah,
Arti syawal adalah peningkatan. Demikianlah seharusnya. Paska Ramadhan, diharapkan orang-orang yang beriman meraih derajat taqwa, menjadi muttaqin. Hingga mulai bulan Syawal kualitasnya meningkat. Kualitas ibadah, juga kualitas diri seseorang. Bukankah orang kemuliaan seseorang tergantung pada ketaqwaannya?

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

...Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu ialah orang yang paling bertaqwa… (QS. Al-Hujurat : 13)

Akan tetapi, yang kita lihat di masyarakat justru sebaliknya. Syawal menjadi bulan penurunan. Penurunan ibadah, juga penurunan kualitas diri. Diantara indikatornya yang sangat jelas adalah perayaan idul Fitri dengan musik dan tarian, dibukanya tempat-tempat hiburan yang sebulan sebelumnya ditutup. Kemaksiatan seperti itu justru langsung ramai sejak hari pertama bulan Syawal. Na'udzubillah! Lalu setelah itu, masjid-masjid akan kembali sepi dari jamaah shalat lima waktu. Umpatan, luapan emosional, dan kemarahan kembali "membudaya". Bukankah ini semua bertolak belakang dengan arti Syawal? Bukankah ini seperti mengotori kain putih yang tadinya telah dicuci dengan sebaik-baiknya? Jadilah ia kembali penuh noda. Jadilah ia kembali menghitam dan semakin memburam.

Jamaah Jum’at yang dirahmati Allah,
Fenomena itu sesungguhnya juga menunjukkan kepada kita, bahwa puasa orang yang demikian tidak berhasil. Tidak mampu mengantarkan seseorang meraih derajat taqwa, atau mendekatinya. Fenomena itu menjadi indikator yang mudah diketahui oleh siapa saja yang mau memperhatikan dengan seksama. Kita juga bisa menggunakan hadits Nabi sebagai kaidah yang seharusnya kita perhatikan sebaik-baiknya: "Barangsiapa yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin, maka celakalah ia."

Lalu bagaimana amal seorang muslim di bulan Syawal? Berangkat dari kaidah umum dari hadits Nabi tersebut, dan sekaligus sejalan dengan makna syawal, maka harus ada peningkatan di bulan ini. Dan peningkatan itu tidak lain adalah berangkat dari sikap istiqamah. Menetapi agama Allah, berjalan lurus di atas ajarannya.

فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَمَنْ تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطْغَوْا إِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

Maka istiqamahlah kamu, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah bertaubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (QS. Huud : 112)

Bentuk sikap istiqamah ini dalam amal adalah dengan mengerjakannya secara kontinyu, terus-menerus.

إِنَّ أَحَبَّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ مَا دَامَ وَإِنْ قَلَّ

Sesungguhnya amal yang paling dicintai Allah adalah yang terus menerus (kontinyu) meskipun sedikit (HR. Bukhari dan Muslim)

Maka amal-amal yang telah kita biasakan di bulan Ramadhan, hendaknya tetap dipertahankan selama bulan Syawal dan bulan-bulan berikutnya. Tilawah kita yang setiap hari. Shalat malam yang sebelumnya kita selalu melaksanakan tarawih, di bulan Syawal ini hendaknya kita tidak meninggalkan shalat tahajud dan witirnya. Infaq dan shadaqah yang telah kita lakukan juga kita pertahankan. Demikian pula nilai-nilai keimanan yang tumbuh kuat di bulan Ramadhan. kita tak takut lapar dan sakit karena kita bergantung pada Allah selama puasa Ramadhan. Kita tidak memerlukan pengawasan siapapun untuk memastikan puasa kita berlangsung tanpa adanya hal yang membatalkan sebab kita yakin akan pengawasan Allah (ma'iyatullah). Kita juga dibiasakan berlaku ikhlas dalam puasa tanpa perlu mengumumkan puasa kita pada siapapun. Nilai keimanan yang meliputi keyakinan, maiyatullah, keikhlasan, dan lainnya ini hendaknya tetap ada dalam bulan Syawal dan semakin meningkat. Bukan menipis tiba-tiba lalu hilang seketika!

Jamaah Jum’at yang dirahmati Allah,
Memang tidak banyak amal khusus di bulan Syawal dibandingkan bulan-bulan lainnya. Akan tetapi, Allah telah memberikan kesempatan berupa satu amal khusus di bulan ini berupa puasa Syawal. Ini juga bisa dimaknai sebagai tool dalam rangka meningkatkan ibadah dan kualitas diri kita di bulan Syawal ini. Dan keistimewaan puasa sunnah ini adalah, kita akan diganjar dengan pahala satu tahun jika kita mengerjakan puasa enam hari di bulan ini setelah sebulan penuh kita berpuasa Ramadhan.

Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

Barangsiapa berpuasa di bulan Ramadhan, kemudian mengikutinya dengan enam hari di bulan Syawal, maka ia seperti berpuasa setahun. (HR. Muslim)

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ بِسِتٍّ مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصَوْمِ الدَّهْرِ

Barangsiapa berpuasa Ramadhan, lalu mengikutinya dengan enam hari di bulan Syawal, ia seperti puasa setahun. (HR. Ibnu Majah, shahih)

Bagaimana pelaksanaannya? Apakah puasa Syawal harus dilakukan secara berurutan atau boleh tidak? Sayyid Sabiq di dalam Fiqih Sunnah menjelaskan bahwa menurut pendapat Imam Ahmad, puasa Syawal boleh dilakukan secara berurutan, boleh pula tidak berurutan. Dan tidak ada keutamaan cara pertama atas cara kedua. Sedangkan menurut madzhab Syafi'i dan Hanafi, puasa Syawal lebih utama dilaksanakan secara berurutan sejak tanggal 2 Syawal hingga 7 Syawal. Lebih utama. Jadi, tidak ada madzhab yang tidak membolehkan puasa Syawal di hari selain tanggal 2 sampai 7, selama masih di bulan Syawal. Ini artinya, bagi kita yang belum melaksanakan puasa Syawal, masih ada kesempatan mengerjakannya. Akan tetapi, hendaknya kita tidak berpuasa khusus di hari Jum'at tanpa mengiringinya di hari Kamis atau Sabtu karena adanya larangan Rasulullah yang juga diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan dinilai shahih oleh Al-Albani.

Jamaah Jum’at yang dirahmati Allah,
Penurunan amal di bulan Syawal sekali lagi adalah hal yang seharusnya kita hindarkan. Bulan Syawal justru pernah menjadi bulan perjuangan yang amat menentukan bagi kaum muslimin. Itu terjadi pada tahun 5 H. Bulan Syawal kali itu merupakan bulan yang mendebarkan. Kaum muslimin dikeroyok oleh pasukan multi nasional yang merupakan gabungan dari Quraisy, Ghatafan, dan lain-lain. Karena itulah perang ini dikenal sebagai perang ahzab (gabungan/sekutu), disamping juga terkenal dengan sebutan perang khandaq yang berarti parit, karena kaum muslimin menggunakan strategi membuat parit di sekeliling Madinah untuk bertahan dan terbukti efektif, hingga pasukan ahzab tidak bisa menyerang masuk Madinah.

Penggalian parit atau khandaq ini adalah kerja keras yang luar biasa. Persatuan kaum muslimin benar-benar terasa di sana. Begitupun keimanan mereka dan doa-doa yang khusyu' semakin mendekatkan mereka kepada Allah. Ditambah dengan catatan-catatan kepahlawanan mulai dari Nu'aim yang memecah belah pasukan Ahzab dan bani Quraidzah yang berkhianat di belakang kaum muslimin, sampai keberanian dan kecerdasan Hudzaifah Ibnul Yaman yang menerobos perkemahan pasukan Quraisy untuk mencari informasi. Benar-benar peningkatan yang luar biasa paska Ramadhan. Lalu Allah menolong kaum muslimin dengan menurunkan angin topas yang memporakporandakan perkemahan pasukan Qurasiy.

Itulah contoh betapa bulan Syawal tidak sepantasnya membuat ibadah dan kualitas diri kita turun. Justru seharusnya, sesuai dengan makna syawal, maka kita harus mengalami peningkatan dengan berupaya istiqamah serta meningkatkan kualitas ibadah dan diri, diantaranya dengan puasa Syawal.

وقل رب اغفر وارحم و انت خير الراحمين

KHUTBAH KEDUA

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ
أَشْهَدُ أنْ لا إلَهَ إلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، وأشهدُ أنَّ مُحَمَّدًا عبْدُه ورَسُولُه.
{ يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ } [آل عمران: 102]
{ يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلا سَدِيدًا * يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا } [الأحزاب: 70، 71].

Jama'ah jum'at yang dirahmati Allah,
Jika kita istiqamah, maka Allah SWT menjanjikan tiga keistimewaan yang akan kita dapatkan. Ketiganya difirmankan Allah dalam satu ayat yang sama, yaitu dalam firman-Nya:

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami adalah Allah" kemudian mereka istiqamah, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: "Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu". (QS. Fushilat : 30)

Ketika menafsirkan ayat ini, ulama salaf merujuk pada hadits bahwa malaikat itu datang ketika seorang mukmin dalam kondisi sakaratul maut. Sedangkan ulama muta'akhirin mengatakan bahwa ketiganya -asy-syaja'ah (keberanian), al-ithmi'nan (ketenangan), dan at-tafa'ul (optimis)- juga bisa dirasakan mukmin dalam kehidupan ini.

اللَّهُمَّ صَلِّ وسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ وسَلّمْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، فِي العَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنْ خُلَفَائِهِ الرَّاشِدِيْنَ، وَعَنْ أَزْوَاجِهِ أُمَّهَاتِ المُؤْمِنِيْنَ، وَعَنْ سَائِرِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعِيْنَ، وَعَنْ المُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِنَاتِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَعَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اللَّهُمَّ اجْعَلْ جَمْعَنَا هَذَا جَمْعًا مَرْحُوْمًا، وَاجْعَلْ تَفَرُّقَنَا مِنْ بَعْدِهِ تَفَرُّقًا مَعْصُوْمًا، وَلا تَدَعْ فِيْنَا وَلا مَعَنَا شَقِيًّا وَلا مَحْرُوْمًا.
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالعَفَافَ وَالغِنَى.

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ أَنْ تَرْزُقَ كُلاًّ مِنَّا لِسَانًا صَادِقًا ذَاكِرًا، وَقَلْبًا خَاشِعًا مُنِيْبًا، وَعَمَلاً صَالِحًا زَاكِيًا، وَعِلْمًا نَافِعًا رَافِعًا، وَإِيْمَانًا رَاسِخًا ثَابِتًا، وَيَقِيْنًا صَادِقًا خَالِصًا، وَرِزْقًا حَلاَلاًَ طَيِّبًا وَاسِعًا، يَا ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ.
اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَوَحِّدِ اللَّهُمَّ صُفُوْفَهُمْ، وَأَجْمِعْ كَلِمَتَهُمْ عَلَى الحَقِّ، وَاكْسِرْ شَوْكَةَ الظَّالِمِينَ، وَاكْتُبِ السَّلاَمَ وَالأَمْنَ لِعِبادِكَ أَجْمَعِينَ.

اللَّهُمَّ رَبَّنَا احْفَظْ أَوْطَانَنَا وَأَعِزَّ سُلْطَانَنَا وَأَيِّدْهُ بِالْحَقِّ وَأَيِّدْ بِهِ الْحَقَّ يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ.
اللَّهُمَّ رَبَّنَا اسْقِنَا مِنْ فَيْضِكَ الْمِدْرَارِ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الذَّاكِرِيْنَ لَكَ في اللَيْلِ وَالنَّهَارِ، الْمُسْتَغْفِرِيْنَ لَكَ بِالْعَشِيِّ وَالأَسْحَارِ.

اللَّهُمَّ أَنْزِلْ عَلَيْنَا مِنْ بَرَكَاتِ السَّمَاء وَأَخْرِجْ لَنَا مِنْ خَيْرَاتِ الأَرْضِ، وَبَارِكْ لَنَا في ثِمَارِنَا وَزُرُوْعِنَا وكُلِّ أَرزَاقِنَا يَا ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ.
رَبَّنَا آتِنَا في الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
رَبَّنَا لا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا، وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً، إِنَّكَ أَنْتَ الوَهَّابُ.
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الخَاسِرِيْنَ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدُّعَاءِ.

عِبَادَ اللهِ :إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي القُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ

[Khutbah Jum'at edisi 8 Syawal 1431 H bertepatan dengan 17 September 2010 M; Bersama Dakwah]

============================================
E-BOOK KHUTBAH JUM'AT INI BISA DIDOWNLOAD DI SINI
14:00 | 20 komentar

Buatlah Syetan Kecele


Ramadhan telah meninggalkan kita. Tamu yang sangat istimewa itu pergi dan hanya akan kembali pada kita sebelas bulan lagi. Itupun kalau kita diberikan umur yang panjang oleh Allah SWT hingga setahun mendatang. Tidak heran jika para sahabat dan salafus shalih sangat kehilangan, bersedih, dan menangis karenanya.

Diantara keistimewaan bulan Ramadhan yang tidak bisa ditemui lagi di bulan Syawal ini adalah dibelenggunya syetan penggoda manusia. Maka kita pun mendapati kebaikan-kebaikan begitu mudah dilakukan, kemaksiatan-kemaksiatanlebih mudah dihindari, dan masyarakat kita menjadi lebih islami. Kedamaian hidup begitu terasa satu bulan yang lalu. Tanpa kemarahan, tanpa luapan emosi yang berarti.

Kini kita telah berada di bulan Syawal. Dan itu artinya, syetan-syetan dikembalikan untuk menggoda kita. Sebuah kabar buruk. Tetapi juga sebuah peluang yang bagus. Mengapa? Karena inilah saatnya melihat siapa kita sebenarnya. Apakah kita termasuk rabbani atau ramadhani. Rabbani jika kita tetap beribadah kepada Allah di bulan apapun. Ramadhani jika kita hanya beribadah dengan giat di bulan Ramadhan saja, lalu selepas Ramadhan kita malas mendekatkan diri pada-Nya. Tentu pilihan yang terbaik adalah menjadi hamba yang rabbani. Sebagaimana perintah Allah dalam QS. Ali Imran ayat 79. Kemudian sebagian ulama menasehatkan: "Kun rabbaaniyan wa laa takun ramadhaaniyan." Jadilah hamba yang rabbani, jangan jadi hamba yang ramadhani. Baik hanya di bulan Ramadhan. Beribadah hanya di bulan Ramadhan.

Peluang bagus yang kedua, selepas Ramadhan ini adalah justru saat yang tepat untuk membuat syetan kecele? Bagaimana caranya? Bukankah Allah telah membelenggu mereka selama Ramadhan? Itu berarti mereka tidak bertemu untuk menggoda kaum muslimin selama satu bulan penuh. Jika kita benar-benar bisa mempertahankan keimanan, ibadah, dan kebaikan-kebaikan kita seperti pada bulan Ramadhan, maka syetan akan kecele karena menjumpai kita dalam kondisi yang berbeda dengan saat ketika mereka meninggalkan kita satu bulan sebelumnya. Syetan akan kecele sekaligus kecewa karena mendapati kita berubah. Lebih susah digoda, lebih sulit dibujuk, lebih sukar dirayu.

Intinya adalah Istiqamah
Ketika kita berupaya menjadi hamba yang rabbani, sekaligus membuat syetan kecele, pada hakikatnya yang kita upayakan adalah sikap istiqamah. Kita berusaha menetapi Islam dan tetap lurus di atas jalan-Nya. Artinya pula, kita berusaha stabil dalam kebaikan; mempertahankan nilai-nilai Ramadhan yang telah berhasil kita gapai di bulan suci itu.

Persoalannya, istiqamah bukanlah hal yang mudah. Ini pekerjaan berat! Bahkan Rasulullah SAW merasakan betapa beratnya istiqamah sehingga ketika diturunkan ayat tentang perintah istiqamah, rambut beliau beruban. Ayat itu adalah firman Allah SWT yang artinya:

"Maka istiqamahlah kamu, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah bertaubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan." (QS. Huud : 112)

Ketika menafsirkan ayat ini, Sayyid Quthb dalam Tafsir Fii Zhilalil Qur'an mengetengahkan hadits Nabi: "Sayyabathnii Huud" (Surat Hud telah membuat rambutku beruban). Sedangkan Ibnu Katsir meletakkan sabda Rasulullah tersebut di awal surat Huud ketika memberikan pengantar sebelum memulai tafsir surat tersebut.

Apa yang Didapatkan dengan Istiqamah?
Meskipun berat, istiqamah adalah satu-satunya pilihan bagi mukmin. Tidak ada pilihan jalan lain, sebab demikianlah perintah Allah yang kemudian dilaksanakan oleh Rasulullah dan para sahabat beliau. Dengan istiqamah, seorang muslim akan mendapatkan hasil besar sebanding dengan beratnya istiqamah itu.

Pertama, istiqamah mendatangkan kecintaan Allah SWT. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW, yang artinya:
"Amal yang paling dicintai Allah adalah yang terus menerus (kontinyu) meskipun sedikit" (HR. Bukhari dan Muslim)
Tentu akan menjadi lebih utama lagi jika amalnya banyak dan dilakukan secara terus menerus. Membaca Al-Qur'an bukan hanya sebatas Ramadhan. Demikian pula qiyamullail, infaq/shadaqah, dan amal-amal lainnya.

Kedua, istiqamah adalah kunci kebahagiaan dunia dan akhirat. Cobalah amati, kita akan mendapati kenyataan bahwa mereka yang sukses adalah yang istiqamah. Yang ajeg dengan amal-amalnya. Seperti keberhasilan Ahmad Abdurrahman As-Sa'ati (ayah Hasan Al-Banna). Dalam keterbatasan ekonomi, ia terus mengorganisir hadits Musnad Imam Ahmad dan memberikan syarah/penjelasan. Ia cetak sendiri kitab-kitabnya, hingga terbitlah Fathur Rabbani sebanyak 24 jilid yang fenomenal itu. Atau Mutammimul Ula (anggota DPR dari PKS) dan Wirianingsih yang istiqamah mendidik putra-putrinya, khususnya memanfaatkan waktu ba'da Maghrib dan Subuh untuk mengajari dan menjaga hafalan putra-putrinya. Jadilah kesepuluh anak mereka menjadi penghafal Al-Qur'an.

Demikian pula kesuksesan di akhirat. Kita tak pernah tahu kapan malaikat maut datang mencabut nyawa kita. Namun dengan istiqamah, kita berusaha tetap berada dalam kebaikan sehingga kapan pun Malaikat Maut datang kita tetap dalam kondisi baik. Dengan demikian insya Allah kita termasuk husnul khatimah.

Ketiga, istiqamah akan membuat kita memiliki tiga keistimewaan: asy-syaja'ah (keberanian), al-ithmi'nan (ketenangan), dan at-tafa'ul (optimis). Ketiganya ini firimankan Allah SWT dalam QS. Fushilat ayat 30, yang artinya:
"Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: 'Tuhan kami adalah Allah' kemudian mereka istiqamah, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: 'Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu'." (QS. Fushilat : 30)

Ketika menafsirkan ayat ini, ulama salaf merujuk pada hadits bahwa malaikat itu datang ketika seorang mukmin dalam kondisi sakaratul maut. Sedangkan ulama muta'akhirin mengatakan bahwa ketiganya juga bisa dirasakan mukmin dalam kehidupan ini. Wallaahu a'lam bish shawab. [Muchlisin]

*Judul "Buatlah Syetan Kecele" ini diambil dari judul artikel Ustadz Ahmad Mudzoffar Jufri, MA pada buku Mutiara Ramadhan hal.13
*Tulisan ini juga dimuat di buletin Ukhuwah edisi Jum'at, 8 Syawal 1431 H / 17 September 2010
08:00 | 5 komentar

Pengosongan Jiwa

Written By Admin BeDa on Rabu, 15 September 2010 | 14:00

Datanglah kepada teks dengan pikiran dan jiwa yang kosong. Itulah jalannya. Jika keangkuhan adalah kendalanya, maka jauh sebelum manusia mendatangi teks mereka harus terlebih dahulu belajar tentang kerendahan hati. Hanya dengan begitu teks akan menemukan tempatnya yang terhormat dalam jiwa kita. Dan hanya ketika ia terhormat maka ia akan dipandang secara utuh dan apa adanya.

Kerendahan hati sejatinya merupakan penampakan akhir dari iman. Sebab iman melahirkan pengakuan. Pengakuan membuahkan kepasrahan. Kepasrahan menampak dalam ketundukan. Ketundukan mengejawantah dalam kerendahan hati. Jadi begitu kita menerima keabsahan teks dan keabsahan pembawa teks, kita menyiapkan jiwa kita untuk menerima semua makna yang mencerahkan kebenaran di balik teks tersebut.

Kerendahan hati itu dimanifestasikan dengan melepaskan teks berbicara apa adanya, membiarkan teks menampakkan diri dan maknanya tanpa berusaha membuat plot pada makna tertentu yang kita inginkan. Kita harus belajar melepaskan teks mengalir dalam akal dan jiwa kita seperti air mengaliri sungai, mengikuti arusnya, merasakan derasnya, mendengarkan bunyinya, menikmati gelombangnya, menatap beningnya, melepaskan pandang pada riaknya yang mungkin menyembunyikan gelora dari permukaan.

Kerendahan hati itu dimanifestasikan dengan membebaskan diri dari apa yang oleh Sayyid Quthb disebut sebagai muqarrarat fikriyah saabiqah atau pikiran-pikiran lama yang sebelumnya kita yakini secara aksiomatik. Karena pikiran-pikiran terlalu sering menjadi preferensi kita dalam memaknai teks. Padahal belum tentu teks tersebut terhubung ke sana. Itu membuat teks masuk dalam perangkap pemaknaan kita yang sempit dan menghilangkan begitu banyak kemungkinan makna yang terkandung dalam teks tersebut.

Walaupun makna teks yang kita pahami kemudian tetap merupakan kebenaran subjektif, adalah penting untuk menyadari sejak awal bahwa subjektif itu juga merupakan bagian dari proses penyatuan kita dengan teks yang tidak perlu dipertentangkan dengan keharusan menyisakan ruang bagi pemaknaan yang lain atas teks.

Masalahnya tidaklah terletak pada kemungkinan pemaknaan yang beragam. Sebab teksnya sendiri membuka ruang itu. Intinya adalah pada kerendahan hati yang membebaskan kita dar semua pretensi pemaknaan yang memungkinkan teks lebih bebas dan lepas menampakkan diri bersama makna-maknanya secara apa adanya. [Anis Matta, sumber : Serial Pembelajaran Majalah Tarbawi edisi 235]
14:00 | 5 komentar

Gaza Wisuda 24 Ribu Hafidz Al-Qur'an, Terkecil Pecahkan Rekor 9 Bulan


Jumlah penduduknya hanya 1,5 juta orang. Namun demikian, Gaza selalu melahirkan ribuan huffadz baru setiap bulan. Di tengah blokade dan intimidasi Zionis, remaja-remaja Palestina di Gaza telah menorehkan prestasi yang luar biasa dalam mempelajari dan menghafalkan Al-Qur'an.


24 Ribu Hafidz
Sebanyak 24 ribu hafidz Al-Qur'an diwisuda bersama pada Ahad lalu (12/9). Mereka diharapkan menjadi muslim pejuang Palestina yang selalu dekat dengan Al-Qur'an dan menjadikannya sebagai sumber nilai perjuangan.

”Daarul Quran telah mengeluarkan para huffazh dari berbagai tenda-tenda penghafalan Al Quran yang dinamakan Taajul Waqaar. Kelak para huffazh Al-Qur'an inilah yang akan memelihara dan melindungi Palestina dari penjajahan Israel selama ini. Palestina tidak dibebaskan melalui harta atau sogokan politik yang datang dari berbagai penjuru.... ” tegas Dr Ahmad Bahar, Wakil Ketua Dewan Legislatif Palestina dalam sambutan pada wisuda ini.

Semangat yang Membara
Semangat muslim Palestina, khususnya para remaja, dalam menghafalkan Al-Qur'an tergolong luar biasa. Selama musim panas ini tercatat 50 ribu orang yang mendaftarkan diri mengikuti program menghafal Al-Qur'an yang dinaungi oleh Departemen Wakaf dan Departemen Agama Palestina di Gaza ini.

"Para siswa tekun dan tanpa kenal lelah menghafal Al Quran dan Sunnah Nabi, dan mereka berkompetisi dalam hal itu meniru para sahabat radhiallahu anhum." jelas ketua Darul Quran dan Sunnah Abdul Rahman Jamal.

Menurutnya Jamal, sebagian peserta mampu menghafal 20 halaman Al-Qur'an dalam satu hari, sekaligus menguasai makna dan kandungan ayatnya.

Hafidz Terkecil Hafal dalam 9 Bulan

Satu diantara 24 ribu wisudawan penghafal Al-Qur'an yang cukup menonjol adalah Mahmud Ahmad Salamah. Usianya baru 11 tahun dan kini ia duduk di kelas 5 Sekolah Dasar. Di usianya yang masih sangat muda, Salamah masuk dalam daftar penghafal Al-Qur'an terkecil dengan waktu menghafal 9 bulan.

Atas prestasinya, Salamah mendapatkan pernghargaan dari Dinas Wakaf dan Urusan Agama dan PM Palestina Ismail Haniya pada wisuda Ahad (12/9) kemarin.[AN/bsb]
08:00 | 13 komentar

Hadits 9: Cabang-cabang Iman

Written By Admin BeDa on Selasa, 14 September 2010 | 12:00


Alhamdulillah, pada posting pertama bulan Syawal 1431 H ini bisa dihadirkan pembahasan hadits Shahih Bukhari kembali. Kini kita memasuki hadits yang ke-9, masih termasuk dalam Kitab Iman (كتاب الايمان).

Hadits ke-9 Shahih Bukhari yang akan kita kaji ini cukup singkat, tetapi menjelaskan hal yang sangat penting. Bahwa iman memiliki cabang-cabang yang banyak, yang jumlahnya disebutkan dalam hadits ini disertai penegasan bahwa malu adalah salah satu cabang iman. Karenanya Bersama Dakwah memberi judul untuk pembahasan hadits ke-9 ini "Cabang-cabang Iman".

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ - رضى الله عنه - عَنِ النَّبِىِّ - صلى الله عليه وسلم - قَالَ « الإِيمَانُ بِضْعٌ وَسِتُّونَ شُعْبَةً ، وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الإِيمَانِ » .

Dari Abu Hurairah r.a. Nabi SAW bersabda, "Iman mempunyai lebih dari enam puluh cabang. Dan malu adalah salah satu cabang dari iman."

Penjelasan Hadits

الإِيمَانُ بِضْعٌ وَسِتُّونَ شُعْبَةً
Iman mempunyai lebih dari enam puluh cabang

Banyak ulama yang menjelaskan definisi bidh'un (بِضْعٌ). Al-Qazzaz mengartikannya bilangan antara tiga sampai sembilan. Ibnu Saidah mengartikannya tiga sampai sepuluh. Ada pula yang mengatakan satu sampai sembilan, dua sampai sepuluh, atau empat sampai sembilan. Yang paling banyak dipakai oleh para mufassir adalah pendapat Al-Qazzaz sebagaimana mereka menafsirkan kata yang sama pada QS. Yusuf ayat 42.

Kata syu'bah (شُعْبَةً) artinya adalah potongan. Pada hadits ini arti yang lebih tepat adalah cabang atau bagian.

Jadi, iman itu memiliki banyak cabang, sejumlah 63 sampai 69 cabang. Menurut Ibnu Hajar Al-Asqalani, banyak orang yang telah mencoba merumuskan cabang-cabang iman itu, tetapi yang paling mendekati kebenaran adalah rumusan Ibnu Hibban. Ibnu Hibban merinci cabang iman menjadi 69 cabang sebagai berikut:
1. Perbuatan hati yang terdiri dari 24 cabang keimanan.
Yaitu iman kepada dzat, sifat, keesaan dan kekekalan Allah, iman kepada malaikat, kitab-kitab, Rasul, qafha dan qadar, hari Akhir, alam kubur, hari kebangkitan, dikumpulkannya semua orang di padang mahsyar, hari perhitungan, perhitungan pahala dan dosa, surga dan neraka. Kemudian kecintaan kepada Allah, kecintaan kepada sesama, kecintaan kepada Nabi, keyakinan akan kebesarannya, shalawat kepada Nabi dan melaksanakan sunnah. Keikhlasan yang mencakup meninggalkan riba dan kemunafikan, taubat, rasa takut, harapan, syukur, amanah, sabar, ridha terhadap qadha, tawakkal, rahmah, kerendahan hati, meninggalkan kesombongan, iri, dengki, dan amarah.

2. Perbuatan lisan yang terdiri dari 7 cabang keimanan.
Yaitu melafakan tauhid, membaca Al-Qur'an, mempelajari ilmu, mengajarkan ilmu, doa, dzikir, istighfar, dan menjauhi perkataan-perkataan yang tidak bermanfaat.

3. Perbuatan jasmani yang terdiri dari 38 cabang keimanan.
Terkait dengan badan, ada 15 cabang, yaitu bersuci dan menjauhi segala hal yang najis, menutup aurat, shalat wajib dan sunnah, zakat, membebaskan budak, dermawan, puasa wajib dan sunnah, haji dan umrah, thawaf, i'tikaf, mencari lailatul qadar, mempertahankan agama seperti hijrah dari daerah syirik, melaksanakan nadzar dan melaksanakan kafarat.

Terkait dengan orang lain, ada 6 cabang, yaitu iffah (menjaga kesucian diri) dengan menikah, menunaikan hak anak dan keluarga, berbakti kepada kedua orang tua, mendidik anak, silaturahim, taat kepada pemimpin dan berlemah lembut kepada pembantu.

Terkait dengan kemaslahatan umum, ada 17 cabang, yaitu berlaku adil dalam memimpin, mengikuti kelompok mayoritas, taat kepada pemimpin, mengadakan ishlah seperti memerangi para pembangkang agama, membantu dalam kebaikan seperti amar ma'ruf dan nahi munkar, melaksanakan hukum Allah, jihad, amanah dalam denda dan hutang serta melaksanakan kewajiban hidup bertetangga. Kemudian menjaga perangai dan budi pekerti yang baik dalam berinteraksi dengan sesama seperti mengumpulkan harta di jalan yang halal, menginfakkan sebagian hartanya, menjauhi foya-foya dan menghambur-hamburkan harta, menjawab salam, mendoakan orang yang bersin, tidak menyakiti orang lain, serius dan tidak suka main-main, serta menyingkirkan duri di jalanan.

وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الإِيمَانِ
Dan malu adalah salah satu cabang dari iman

Secara bahasa al-hayaa' (الْحَيَاءُ) adalah perubahan yang ada pada diri seseorang karena takut melakukan perbuatan yang dapat menimbulkan aib. Sedangkan secara terminologi, berarti perangai yang mendorong untuk menjauhi sesuatu yang buruk dan mencegah untuk tidak memberikan suatu hak kepada pemiliknya.

Disebutkannya malu secara khusus dalam hadits ini adalah karena sifat malu adalah motivator yang akan memunculkan cabang iman yang lain, sebab dengan malu seseorang merasa takut melakukan perbuatan yang buruk di dunia dan akhirat sehingga malu bisa berfungsi untuk memerintah dan menghindari atau mencegah. Demikian dijelaskan Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Baari.

Dalam hadits yang lain, yang diriwayatkan Imam Bukhari dan Muslim, bisa dilihat betapa sifat malu ini memang luar biasa sehingga ia tidak menghiasi siapapun kecuali dengan kebaikan.

الْحَيَاءُ لاَ يَأْتِى إِلاَّ بِخَيْرٍ


Pelajaran Hadits:
Pelajaran yang bisa diambil dari hadits ini diantaranya adalah:
1. Iman memiliki cabang yang banyak. Dalam hadits di atas disebutkan lebih dari 60 cabang. Ini menegaskan bahwa iman bukan hanya pernyataan secara lisan semata. Sekaligus mendorong kita untuk mengejar kesempurnaan iman dengan memenuhi cabang-cabangnya.
2. Salah satu cabang iman yang istimewa adalah malu. Karena dengan sifat malu, seseorang bisa terjaga dari perbuatan buruk dan hina yang bisa merendahkannya di hadapan Allah kemudian di hadapan manusia.

Demikian hadits ke-9 Shahih Bukhari dan penjelasannya, semoga bermanfaat untuk menambah pemahaman Islam kita, mengingatkan keimanan kita, serta memotivasi kita memenuhi cabang-cabangnya. Wallaahu a'lam bish shawab. []

KEMBALI KE HADITS 8
12:00 | 7 komentar

Khutbah Idul Fitri 1431 H: Agenda Perbaikan Masyarakat (Islahul Mujtama') paska Ramadhan

Written By Admin BeDa on Rabu, 08 September 2010 | 14:00


Kini kita berada di penghujung Ramadhan, tepatnya hari ke-29. Insya Allah nanti malam diadakan sidang penentuan Hari Raya Idul Fitri 1431 H / 2010 M yang akan memberikan keputusan apakah Hari Raya Idul Fitri 1431 H / 2010 M jatuh pada esok atau lusa. Berkenaan dengan itu, Bersama Dakwah menyediakan Khutbah Idul Fitri 1431 H / 2010 M.

Khutbhah Idul Fitri 1431 H / 2010 M ini, selain bisa dibaca secara online juga bisa didownload pada link di bawah. Dengan mengambil tema Agenda Perbaikan Masyarakat (Islahul Mujtama') paska Ramadhan, semoga Khutbah Idul Fitri 1431 H / 2010 M ini bermanfaat.

ألله أكبر 9× ألله أكبر كبيرا والحمد لله كثبرا وسبحان الله بكرة وأصيلا. لا إله إلا الله وحده صدق وعده ونصر عبده وأعز جنده وهزم الأحزاب وحده لا إله إلا الله و الله أكبر ألله أكبر و لله الحمد.

الحمد لله ربِّ العالمين والْعاقِبَةُ لِلْمُتَّقين ولا عُدْوانَ إلَّا عَلى الظَّالمِين وأشهد أنْ لا إله إلاالله وحده لا شريك له ربَّ الْعالمين وإلَهَ المُرْسلين وقَيُّوْمَ السَّمواتِ والأَرَضِين وأشهد أن محمدا عبده ورسوله المبعوثُ بالكتابِ المُبين الفارِقِ بَيْنَ الهُدى والضَّلالِ والْغَيِّ والرَّشادِ والشَّكِّ وَالْيَقِين والصَّلاةُ والسَّلامُ عَلى حَبِْيبِنا و شَفِيْعِنا مُحمَّدٍ سَيِّدِ المُرْسلين و إمامِ المهتَدين و قائِدِ المجاهدين وعلى آله وصحبه أجمعين.أما بعد،

فياأيها المسلمون أوصيكم وإياي بتقوى الله عز وجل والتَّمَسُّكِ بهذا الدِّين تَمَسُّكًا قَوِيًّا. فقال الله تعالى في كتابه الكريم، أعوذ بالله من الشيطان الرجيم “يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ ،

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آَمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آَمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

Allaahu Akbar.. Allaahu Akbar.. Allaahu Akbar.. Walillaahilhamd...
Sepanjang malam sampai dengan pagi ini, takbir menggema tiada henti. Bahkan takbir tanda kemenangan ini membelah angkasa sebab seluruh dunia dari belahan timur hingga barat, bersahut-sahutan mengumandangkannya.

Jika setiap hari lantunan adzan di dunia ini tidak pernah berhenti, maka sepanjang malam sampai dengan pagi ini, gemuruh takbir menciptakan gelombang suara yang jauh lebih menggetarkan. Menggetarkan hati. Menggetarkan semesta. Bahkan menggetarkan arsy dengan seizin-Nya.

Maka di hari bersujudnya 1,6 milyar atau 23% penduduk dunia yang telah memeluk Islam, kita berdoa kepada Allah Azza Wa Jalla, semoga puasa kita, shalat kita, tilawah kita, zakat infaq dan shadaqah kita, i'tikaf kita, serta berbagai ibadah kita di bulan Ramadhan diterima Allah dan mendapat ridha-Nya. Dengan diterimanya ibadah itulah kita bisa berharap bahwa dosa-dosa kita diampuni. Tanpa ampunan dari Allah, sungguh celakalah kita yang telah bertemu dengan Ramadhan.

رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

Ya Rabb kami... terimalah (amal) dari kami, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui (QS. Al-Baqarah : 127)

Allaahu Akbar.. Allaahu Akbar.. Allaahu Akbar.. Walillaahilhamd...
Secara pasti, kita memang tidak pernah mengetahui apakah amal-amal kita diterima Allah atau tidak. Termasuk ibadah sepanjang bulan Ramadhan 1431 H yang baru saja kita lalui. Namun yang pasti, ibadah Ramadhan telah membuat masyarakat kita mengalami peningkatan dalam empat hal.

Pertama, peningkatan nilai keimanan. Selama bulan Ramadhan keimanan masyarakat kita mengalami peningkatan yang melebihi hari-hari biasa. Dijalankannya ibadah puasa adalah bukti peningkatan itu. Tanpa ada pengawasan dan kontrol seorang pun, masyarakat kita menahan diri dari makan, minum dan hal-hal lain yang membatalkan puasa. Keyakinan terhadap pengawasan Allah (muraqabatullah) cukuplah menjadi indikasi peningkatan keimanan. Ini sekaligus menjadi bukti bahwa puasa memang ibadah yang lebih berpotensi terjaga keikhlasannya karena tiadanya saksi. Tidak seperti shalat yang gerakannya bisa dilihat orang lain. Tidak seperti zakat atau shadaqah yang diketahui minimal oleh penerimanya, apalagi jika diumumkan secara terbuka. Tidak juga seperti haji yang malah semua masyarakat bisa mengetahuinya.

Keikhlasan inilah yang menjadi salah satu faktor penentu ibadah puasa memiliki keistimewaan di sisi Allah Azza Wa Jalla.

الصَّوْمُ لِى وَأَنَا أَجْزِى بِهِ

Puasa itu untuk-Ku, dan Aku yang membalasnya (Hadits qudsi riwayat Bukhari dan Muslim)

Kedua, peningkatan nilai ibadah. Selama bulan Ramadhan, nuansa ibadah di masyarakat kita begitu terasa. Masjid yang semula sepi menjadi ramai, bahkan penuh sesak oleh jamaah. Selain shalat fardhu berjamaah dan shalat tarawih, masyarakat kita juga aktif dalam tadarus, banyak taklim, dan sebagainya.

Ketiga, peningkatan nilai akhlak. Selama bulan Ramadhan, masyarakat kita juga mengalami peningkatan akhlak. Sejalan dengan puasa yang dijalankan, kaum muslimin lebih berhati-hati dalam bertutur kata. Menjaga setiap suara yang keluar dari lisannya. Sehingga kita dapati penurunan intensitas umpatan, emosi, kemarahan, celaan, dan hinaan di masyarakat. Begitu pun dalam sikap dan perbuatan. Kehati-hatian telah meminimalisir buruknya sikap dan perilaku dalam bulan Ramadhan lalu.

Keempat, peningkatan nilai sosial. Itulah yang bisa kita baca dari maraknya infaq dan shadaqah, juga zakat dan ibadah maaliyah lainnya selama bulan Ramadhan. Semua itu tidak bisa dimaknai lain kecuali meningkatnya kepedulian sosial. Kepedulian kepada kaum dhuafa' fakir miskin, anak yatim, dan para mustahik.

Peningkatan nilai dalam keempat hal tersebut memberikan bukti kepada kita bahwa masyarakat kita adalah masyarakat yang memiliki potensi untuk menjadi masyarakat yang baik, masyarakat Islami, mujtama'ul muslim.

Allaahu Akbar.. Allaahu Akbar.. Allaahu Akbar.. Walillaahilhamd...
Kesadaran bahwa masyarakat kita memiliki potensi kebaikan yang luar biasa ini akan memberikan kita rasa optimis (tafa'ul) dalam melakukan kerja-kerja kebaikan (amal shahil) dalam rangka perbaikan masyarakat (islahul mujtama').

Islahul mujtama' sudah seharusnya menjadi agenda kita bersama paska Ramadhan! Setelah sebulan kita ditarbiyah oleh Allah SWT untuk menjadi pribadi muslim (syakhshiyah Islamiyah) sekaligus pribadi Rabbani (syakhshiyah Rabbaniyah), saatnya kita membawa kebaikan-kebaikan itu dan menebarkannya kepada masyarakat hingga masyarakat kita pun berubah menjadi masyarakat Islami (mujtama'ul muslim). Tanpa ada upaya kaum muslimin yang sejatinya adalah penduduk mayoritas negeri ini, tidaklah mungkin perubahan kebaikan yang kita inginkan bersama akan terwujud. Allah SWT berfirman :

إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ

Sesungguhnya Allah tidak mengubah nasib suatu kaum, sampai kaum itu mengubah diri mereka... (QS. Ar-Ra'du : 11)

Agenda perbaikan masyarakat (islahul mujtama') inilah yang merupakan tangga sebelum perbaikan negara sebagai institusi besar sehingga cita-cita baldatun thayyibatun wa Rabbun ghafur bisa terealisir.

Allaahu Akbar.. Allaahu Akbar.. Allaahu Akbar.. Walillaahilhamd...
Lalu bagaimana caranya? Perbaikan masyarakat (islahul mujtama') haruslah dimulai dari diri kita. Ibda' bi nafsik. Mulailah dari dirimu! Dan Ramadhan telah memberi kita bekal untuk itu. Ungkapan nasehat para ulama adalah sikap awal yang harus kita lakukan: Kun rabbaniyan wa laa takun ramadhaniyyan. Jadilah orang-orang yang rabbani, jangan jadi orang-orang ramadhani. Beribadah hanya Ramadhan saja. Baik hanya Ramadhan saja. Itulah bekal kita. Untuk bertahan dengan kebaikan kita selama Ramadhan bahkan berusaha meningkatkannya di bulan syawal dan bulan-bulan berikutnya.

Dalam waktu bersamaan dengan upaya perbaikan diri, kita harus menebarkan dakwah ke masyarakat kita. Tentu saja dimulai dari orang-orang yang terdekat dengan kita, para tentangga di samping kiri kanan dan depan rumah kita. Bisa satu ayat, sampaikan satu ayat.

بَلِّغُوا عَنِّى وَلَوْ آيَةً

Sampaikan dariku meskipun hanya satu ayat (HR. Bukhari)

Dakwah juga berarti memberikan keteladanan, bukan sekedar kata-kata. Maka tugas kita dalam agenda perbaikan masyarakat (islahul mujtama') bukan hanya soal kata, tetapi yang lebih penting adalah memberikan keteladanan. Ini akan lebih efektif dalam menggulirkan perubahan. Jika kita tengok perjalanan hidup Rasulullah dan para sahabatnya, jelaslah bahwa keteladanan telah mendahului kata-kata mereka. Jadilah orang-orang percaya. Jadilah orang-orang membenarkan. Jadilah mereka tersentuh dan menerima perubahan. Hingga akhirnya perubahan besar terjadi, masyarakat berbondong-bondong melakukan perubahan:

إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ * وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُونَ فِي دِينِ اللَّهِ أَفْوَاجًا * فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًا

Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat. (QS. An-Nashr : 3)

Dakwah untuk agenda perubahan masyarakat (islahul mujtama') juga bukan hanya mengajak kepada kebaikan, tetapi berarti pula mencegah kemungkaran. Meminimalisir keburukan dan hal-hal negatif di masyarakat.

مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الإِيمَانِ

Barangsiapa diantara kalian melihat kemungkaran, hendaklah ia mengubah dengan tangannya. Jika tidak mampu, hendaklah dengan lisannya. Jika tidak mampu, hendaklah dengan hatinya. Dan itu adalah selemah-lemah iman. (HR. Muslim)

Allaahu Akbar.. Allaahu Akbar.. Allaahu Akbar.. Walillaahilhamd...
Yang tidak kalah penting, dakwah untuk agenda perbaikan masyarakat (islahul mujtama') membutuhkan amal jamai. Memang bisa saja dakwah dikerjakan secara pribadi, namun efektifitasnya tidak besar. Apalagi jika kita sadar bahwa kejahatan dan keburukan ternyata juga dikelola dan sebagiannya terorganisir.

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung. (QS. Ali Imran : 104)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ

Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar. (QS. At-Taubah : 119)

Berikutnya, jika dakwah bergulir dan masyarakat menjadi masyarakat islami, bertaqwa kepada Allah, maka kita akan mendapatkan janji Allah SWT sebagaimana firman-Nya:

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آَمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ

Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi (QS. Al-A'raf : 96)

Karenanya, mari kita gunakan segenap energi Ramadhan kita untuk agenda perbaikan masyarakat. Mari kita benahi masyarakat kita setelah kita selesai membenahi diri kita sendiri selama bulan Ramadhan. Mari kita bawa ruh Ramadhan ke dalam pergulatan hidup sehari-hari yang nyata.

DOA (Dari Anis Matta)


Ya Allah, untuk-Mulah segala pujian dan syukur kami, dari-Mulah semua kebaikan dan keutamaan dunia dan akhirat berasal, kami persembahkan seluruh pujian ini keharibaan-Mu sesuai dengan keagungan wajah-Mu yang mulia…

Ya Allah, sungguh kami telah menzalimi diri-diri kami, jika tidak karena rahmat dan ampunan-Mu niscaya kami pasti tergolong orang-orang yang merugi…

Ya Allah, Engkaulah yang mengetahui seluruh rahasia, melihat semua denyut nurani… Ya Allah, janganlah Engkau menyiksa kami karena dosa-dosa kami, janganlah Engkau pupuskan harapan kami pada-Mu karena dosa-dosa kami, janganlah Engkau mengusir kami dari lingkaran rahmat-Mu karena dosa-dosa kami…Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami dan dosa-dosa kedua orang tua kami serta dosa-dosa saudara-saudara kami yang telah mendahului kami dalam keimanan, dan janganlah Engkau menyimpan secuil pun rasa iri dan dendam kepada orang-orang yang beriman..Ya Allah, sungguh Engkau maha Lembut lagi Maha Penyayang…Ya Allah ampunilah dosa-dosa kaum muslimin dan muslimat, baik yang masih hidup dari meeka maupun yang telah meninggal, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Dekat dan (senantiasa) Mengabulkan semua doa-doa serta Memenuhi segala hajat manusia…

Ya Allah, perbaikilah agama kami yang menjadi perisai kebaikan bagi segenap urusan kami…perbaikilah akhirat kami yang menjadi tempat kami kelak kembali…perbaikilah dunia kami yang menjadi tempat penghidupan kami…Ya Allah, jadikanlah sisa hidup kami sebagai tambahan kebaikan bagi kami, dan jadikanlah kematian kami sebagai perpisahan yang menenangkan kami dari semua kejahatan…

Ya Allah, berikanlah rasa takut yang akan menjauhkan kami dari kemaksiatan, ketaatan yang akan mengantar kami ke surga-Mu, keyakinan hati yang meringankan semua bencana dunia, karunialah kami dengan semua pendengaran, penglihatan dan kekuatan kami sepanjang hidup kami, jadikanlah pewaris itu dari kami, dan balaslah orang-orang yang telah menzalimi kami, dan tolonglah kami menghadapi musuh-musuh kami, janganlah Engkau letakkan musibah kami dari sisi agama kami, dan janglah Engkau jadikan dunia sebagai mimpi terbesar kami dan batas akhir dari segenap pengetahuan kami…

Ya Allah, hanya pada-Mulah kami mengadukan seluruh duka lara dan kesedihan kami, hanya pada-Mulah kami mengadukan segenap kelemahan tekad kami dan sedikitnya sarana dan daya kami…Ya Allah, Engkaulah Tuhan tempat mengadu orang-orang yang tidak berdaya dan terzalimi, maka gantilah rasa takut kami dengan rasa aman, gantilah kepengecutan kami dengan keberanian, gantilah kesedihan kami dengan harapan yang luas, angkatlah kami dari ketidakberdayaan dan bebaskanlah kami dari belenggu kezaliman seta tegarkanlah hati kami dalan menjalankan agama-Mu…

Ya Allah, sekarang mush-musuh kebenaran dan kemanusiaan serta orang-orang durjana itu telah menguasai kami, menggenggam semua simpul urusan kami, mereka berlaku tiran dan menzalimi kami, mereka membanggakan kekuatan mereka terhadap kami, sedang saudara-saudara dan pendukung-pendukung kami begitu sedikit, maka sekarang kami hanya berlari kembali pada-Mu karena kami percaya pada kekuatan dan daya seta pertolongan-Mu…maka kepada-Mulah kami mengadukan semua kezaliman ini…maka dengarkanlah pengaduan ini Ya Allah, maka dengarkanlah pengaduan ini Ya Allah, maka dengarkanlah pengaduan ini Ya Allah…

Ya Allah, satukanlah hati kaum Muslimin seluruhnya dan jadikanlah mereka sebagai saudara-saudara yang saling mencintai dan mengasihi, janganlah ada dendan diantara mereka, janganlah ada perang diantara mereka, jadikanlah kekuatan mereka untuk menghadapi musuh-musuh mereka dan bukan untuk menghancurkan sesama mereka, jadikanlah kecerdasan, akal dan pengetahuan mereka untuk membangun diri-diri mereka dan bukan untuk saling menipu dan menghancurkan sesama mereka…

Ya Allah, turunkanlah pertolongan-Mu kepada saudara-saudara kami yang sedang berjihad di jalan-Mu di seluruh belahan bumi-Mu

Ya Allah, satukanlah langkah-langkah mereka, tepatkanlah sasaran dari peluru-peluru mereka, dan ceraiberaikanlah musuh-musuh mereka, serta turunkanlah bala tentara-Mu untuk menghancurkan mereka, jangan biarkan ada yang tersisa dari mereka tanpa Engkau hancurkan…Ya Allah, jadikanlah jihad saudara-saudara kami itu sebagai kesaksian kami atas seluruh manusia pada hari dimana kelak Engkau akan mengumpulkan kami…

Ya Allah, kini telah tiba saatnya untuk memetik buah kebatilan ini, maka kirimlah dari langit kebenaran tangan-tangan yang akan memetiknya…Ya Allah, hapuskanlah dari mata umat manusia hijab yang menghalangi pandangan mereka menemukan kebenaran-Mu, sesungguhnya Engkau Maha Sanggup melakakukan itu.

Ya Allah, kumpulkanlah kami bersama hamba-hamba-Mu dalam surga-Mu, bersama para Nabi, kaum shiddiqin, para syuhada dan orang-orang shaleh…Ya Allah kumpulkanlah kami bersama Nabi-Mu Muhammad saw, Abu Bakar, Umar Bin Khattab, Utsman bin Affan, Ali Bin Abi Thalib serta seluruh sahabat Rasulullah saw, dalam surga-Mu dan berilah kami kesempatan melihat wajah-Mu di akhirat.

Ya Allah, terimalah seluruh amal kami, ampunilah seluruh dosa kami, dan berilah kami kebaikan dunia dan akhiat serta lindungilah kami dari siksa neraka. Ya Allah, kepada-Mulah seluruh doa ini kami tengadahkan, dan hanya Engkaulah yang akan mengabulkan-Nya.

[Demikian Khutbah Idul Fitri 1431 H / 2010 M ini, semoga bermanfaat]

KHUTBAH IDUL FITRI 1431 H / 2010 M INI BISA DIDOWNLOAD DI SINI
14:00 | 5 komentar

Masukkan alamat e-mail untuk mendapatkan up date Bersama Dakwah