Assalaamu'alaikum ,  Ahlan wa Sahlan  |  Facebook  |  Twitter  |  Pasang Iklan

Zionis Berencana Ubah Simbol-simbol Islam di Halaman Al-Barraq Al-Quds

Written By Admin BeDa on Jumat, 29 Oktober 2010 | 14:00


Sejumlah sumber mengungkap rencana Israel mengubah simbol-simbol di halaman Al-Barraq di Masjid Al-Aqsha dengan alasan mencari situs peninggalan yahudi yang mereka klaim dan mendirikan sinagog yahudi di tempat tersebut.

Di sela-sela pertemuan Komisi Tata Ruang Pemerintah Daerah Jerusalem, Kepala Dinas Peninggalan Israel Dursman menegaskan kemarin, pihaknya mendukung rencana tersebut yang sedang dikoordinasi dan setujui dinasnya.

Ia menegaskan bahwa rencana ini akan mencakup penggalian semua halaman Al-Barraq untuk mengungkap situs peninggalan yahudi yang dikenal dengan kuil II.

Sebelumnya, Komite Tata Ruang dan Pembangunsn Israel di Jerusalem kemarin menggelar petemuan selama 8 jam membahas rencana tersebut. Kepala Daerah Jerusalem dari pemerintah penjajah Israel Neir Barakat menjelaskan perannya dalam menggulirkan rencana itu dan meminta Komite menyetujuinya.

Rencana itu mencakup pembangunan markas yahudi yang disebut Bet Johar seluas 5 ribu m2 yang sebagian besar pembangunannya di bawah halaman Al-Barraq dan bersambung dengan terowongan langsung. Selain itu, juga ada rencana pembangunan lift menghubungkan antara halaman Al-Barraq dengan kampung yahudi.

Sementara itu, Lembaga Al-Aqsha menegaskan dalam keterangannya mengomentari rencana itu bahwa rencana itu merupakan niat Israel menggali sedikitnya tiga terowongan panjang dan besar; salah satunya menghubungkan antara terowongan tembok barat dan halaman Al-Barraq; kedua menghubungkan antara halaman Al-Barraq dan gerbang-gerbang utama yang direncanakan dibangun di pagar selatan kota tua di ujung wilayah Al-Barraqh dan kampong Magharibah.

Lembaga Al-Aqsha mengisyaratkan bahwa terowongan ini akan menghubungkan dengan terminal mobil yang akan dibangun di bawah tanah, di barat halaman Al-Barraq. Terowongan ketika menghubungkan antara bawah halaman Al-Barraq dan gerbang Silwan. Terowongan ini melintasi bawah pagar Selatan kota tua di Al-Quds.

Lawyer Al-Quds Qais Nashir yang menentang rencana ini menegaskan bahwa rencana ini akan menghapus istana-istana kerajaan Bani Umaiyah dan peninggalan penjajah Inggris di selatan Al-Barraq.

"Kami berbicara soal rencana yang mengusulkan penambahan 7730 m2 pada bangunan di Al-Barraq dan mengusulkan pembagian halaman menjadi dua lantai; lantai bawah Taman Peninggalan dan lantai atas untuk ritual yahudi." Tegas Qais.

Ia menambahkan bahwa rencan ini mengusulkan untuk mengungkap "koridor Romani" yang disebut "Arcado" yang diakui yahudi era kuil II. [bn-bsyr, InfoPalestina]
14:00 | 2 komentar

Taubat Kolektif, Taubat Jamaah

Written By Admin BeDa on Kamis, 28 Oktober 2010 | 19:07


Ketika membahas taubat personal pada tulisan sebelumnya, kita belajar dari Thalhah bin Ubaidillah dan Tsa'labah. Fakta bahwa jamaah dakwah ataupun harakah merupakan kumpulan manusia yang tak bisa luput dari segala salah dan khilaf membawa kita pada kesadaran bahwa jamaah dakwah ataupun harakah juga memiliki peluang untuk melakukan kesalahan. Kini kita akan belajar dari taubatnya sebuah harakah yang cukup populer di Mesir.

Namanya Jamaah Islamiyah. Setelah sekian lama mengalami dinamika pemikiran dan pengalaman di lapangan, jamaah yang semula mengambil "langkah-langkah kekerasan" sebagai jalurnya itu menyatakan berubah. 5 Juli 1997, di pengadilan militer wakil Jamaah Islamiyah Mesir mengumumkan perubahan haluan itu. Pernyataan itu disertai bukti tanda tangan para pemimpin kharismatik Jamaah Islamiyah Mesir; mengajak seluruh anggota Jamaah Islamiyah Mesir menghentikan seluruh aksi kekerasan dan pertumpahan darah. Pada saat yang sama, qiyadah jamaah Syaikh Umar Abdur Rahman berada dalam penjara Amerika Serikat.

Pengikut dan pemimpin Jama'ah Islamiyah Mesir yang lain semula ragu dengan pengumuman itu. Namun setelah melakukan konfirmasi, seluruh jamaah bergabung dalam barisan ulama perdamaian dan rekonsiliasi. Maka hari-hari berikutnya adalah pengumpulan tanda tangan perorangan anggota jamaah, hingga puncaknya pada deklarasi resmi 28 Maret 1999; dukungan penuh terhadap aksi-aksi damai dan menghentikan operasi kekerasan.

Tidak berhenti di situ. Taubat kolektif itu dikuatkan dengan penyebaran fikrah baru. Kader-kader terbaik jamaah menulis sejumlah buku yang dikompilasikan dengan nama "Silsilah Tashhih Al Mafahim". Buku-buku tersebut langsung berada di bawah koordinator dan editor yang terdiri dari para qiyadah kharismatik Jamaah Islamiyah Mesir: Karam Zuhdi, Najih Ibrahim, Usamah Hafidz, Fuad Dawalibi, Hamdi Abdurrahman, Ali Syarif, Ashim Abdul Majid, dan Isham Dirbalah.

Yang menarik, dalam buku-buku tersebut, mereka tidak malu-malu untuk menjadikan karya-karya kader Ikhwanul Muslimin sebagai referensi, khususnya buku-buku Yusuf Qardhawi.
***

Seperti pada paragraf awal tulisan ini, jamaah dakwah ataupun harakah adalah kumpulan manusia. Bukan kumpulan malaikat. Sebagaimana manusia secara personal bisa salah dan khilaf, jamaah juga demikian. Yang membedakan adalah, ketika secara personal seorang mukmin bisa terperosok dalam kesalahan tanpa disadari, jamaah memiliki perisai dan alat kontrol yang lebih peka. Ini berlaku jika tradisi suro berjalan. Artinya, selama di dalam jamaah itu ada sejumlah orang mukmin, maka sebagiannya akan merasakan kesalahan yang terjadi. Lalu ada dakwah internal jamaah. Mengingatkan. Dari sana biasanya akan muncul dinamika. Sebagian meyakini itu salah, sebagian lain mungkin merasa benar. Lalu terjadilah dialog. Na'udzubillah jika pada jamaah yang didalamnya berhimpun kaum mukminin lalu terjadi kesalahan yang tidak pernah terdeteksi oleh seorang pun.

Dalam dialog, dalam suro, di situlah dibutuhkan kearifan. Adalah sulit untuk menemukan kesalahan pada diri sendiri, tetapi dengan hidayah Allah, kemudian taujih sesama kader dakwah, kesalahan lebih mudah dirasa, kebenaran diterima, lalu taubat kolektif dilakukan.

Beruntunglah Jamaah Islamiyah Mesir dengan taubatnya sebagaimana ditulis Yusuf Qardhawi dalam Fiqih Jihad. Barangkali kesalahannya tidak begitu halus untuk disadari bersama lalu diperbaiki bersama pula. Dan biasanya, kesalahan jamaah dakwah itu salah satu dari dua hal: berlebihan dalam memandang dakwah hingga terlalu ketat, ghuluw, bahkan terperosok dalam kekerasan; atau terlalu meremehkan segala infiltrasi dari luar atau longgar terhadap dunia hingga terseret dalam arus materi dan cinta dunia. Jamaah Islamiyah Mesir barangkali telah diselamatkan Allah dari yang pertama, dan kita berdoa semoga dakwah kita dihindarkan Allah dari kedua-duanya. [Muchlisin]
19:07 | 2 komentar

Jihad Peduli Mentawai dan Merapi


Indonesia kembali berduka. Negeri berpenduduk masyoritas muslim yang pernah diharapkan Yusuf Qardhawi sebagai basis kebangkitan umat Islam ini kembali dilanda bencana.

Setelah tsunami menghantam Kepulauan Mentawai Senin (25/10) yang mengakibatkan 112 korban tewas ditemukan dan 502 hilang (hingga Rabu), Selasa petang (26/10), Gunung Merapi meletus. Puluhan jiwa melayang tersambar si wedhus gembel, awan panas Merapi. Lebih dari seratus orang menderita luka-luka. Tak kurang dari 10 ribu warga mengungsi di Kabupaten Sleman, Kabupaten Magelang, Kabupaten Boyolali dan Kabupaten Klaten yang mengelilingi gunung berapi paling aktif di bumi ini.

Bagi Anda yang terpanggil ber-"jihad maaliyah" untuk membantu korban Merapi maupun Mentawai, berikut ini beberapa rekening yang bisa digunakan untuk menyalurkan bantuan ke sana.

Aksi Cepat Tanggap (ACT)
Rekening Peduli Merapi: BCA No. 676 030 3133, Mandiri No. 128 000 4723 620, BNI Syariah No. 009 611 0239 a/n Aksi Cepat Tanggap.

Rekening Peduli Mentawai: BCA No. 676 030 2021, Mandiri No. 101 000 563 4264, BSM No. 101 000 5557 a/n Aksi Cepat Tanggap.

Pos Keadilan Peduli Umat (PKPU)
Rekening kemanusiaan Merapi, BCA No. 600.034.7777, Bank Mandiri No. 126.000.1005.114, BMI No. 301.00354.15 a.n PKPU

Persaudaraan Muslimah (Salimah) DIY
Rekening peduli Merapi BCA No 1260417009 a.n. Yahya Tazkiyah, BNI Syariah No 0175571893 a.n. Untari Miftahul Hasanah

Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI)
Rekening KAMMI REaksi Cepat (KRC), Bank Muamalat No 919.899.2999 a.n. Ershad

Partai Keadilan Sejahtera
Bank Mandiri Cabang Warung Buncit No Rek: 1270011111117 a.n. Partai Keadilan Sejahtera
BCA Cabang Jatinegara No rek: 7600318181 a.n. PKS P2B

Bagi ormas maupun LSM Islam lainnya yang ingin rekeningnya dicantumkan di sini dimohon menginformasikan pada kotak komentar di bawah ini, disertai web site resmi organisasi.

Semoga keterlibatan kita dalam membantu korban tsunami di Mentawai maupun korban Merapi mendapatkan ridha dan pahala dari Allah SWT. [AN/bsb]
14:00 | 7 komentar

Sadisme Tentara Zionis dalam Jepretan Kamera

Written By Admin BeDa on Rabu, 27 Oktober 2010 | 12:00


Serapat apapun bangkai ditutupi, baunya akan tercium juga. Pepatah ini tampaknya berlaku bagi kekejaman tentara Israel. Setelah di awal bulan wajah institusi militer zionis tercoreng oleh video anggotanya yang menistakan harkat wanita Palestina, kini sadisme terekam dalam foto-foto yang dipublikasikan oleh LSM Breaking the Silence.

Dalam foto-foto itu tampak sadisme tentara Israel dalam beberapa "pose". Diantaranya tentara yang mengungkapkan kebencian dan menebar teroro lewat tulisan di dinding bangunan warga Palestina, tentara yang seenaknya menempati rumah warga Palestina seperti rumah warisan orangtua mereka sendiri, tentara yang berpose dengan senjatanya di dapur milik salah satu warga Palestina, dan ancaman maut mereka kepada seorang lelaki tua Palestina.

Untuk lebih jelasnya, berikut foto-foto yang dirilis tersebut:

12:00 | 3 komentar

Sehari Israel Keluarkan 231 Perintah Penghancuran di Al Quds

Written By Admin BeDa on Selasa, 26 Oktober 2010 | 08:00


Sumber-sumber di Al Quds menyebutkan bahwa otoritas penjajah Zionis Israel telah menyerahkan 231 perintah penghancuran di perkampungan al Quds, dalam sehari kemarin, Ahad (24/10). Ini merupakan rekor angka dalam satu hari yang membuktikan ekalasi kontinyu dalam penghancuran bangunan di kota suci Al Quds.

Beberapa sumber di komite kampung Silwan dan institusi-institusi di al Quds menyebutkan bahwa tim pemeriksa di pemerintah Zionis di al Quds, telah membagikan lebih dari 231 perintah penghancuran baru di Silwan, Bustan, perkampungan Shafat, Beit Hanina, Issawiya, Wadi Dam dan daerah al Ras di wilayah Wadi al Jauz dan desa-desa serta perkampungan di al Quds lainnya.

Disebutkan bahwa konfrontasi sengit meletus hari Ahad (24/10) kemarin saat pasukan kepolisian Zionis dan pemerintah kota Zionis di al Quds membagikan perintah penghancuran di Silwan dan Bustan, selatan masjid al Aqsha, setelah pasukan yang didukung dengan pasukan khusus, kepolisian dan personil yang menyamar sebagai orang Arab menyerbu daerah tersebut. [asw, InfoPalestina]
08:00 | 3 komentar

Masuk Islam, Ipar Tony Blair Berjilbab dan Langsung Tinggalkan Alkohol

Written By Admin BeDa on Senin, 25 Oktober 2010 | 08:00


Lauren Booth, adik ipar mantan Perdana Menteri Inggris Tony Blair, masuk Islam. Ia menjadi muslim setelah mendapatkan pengalaman spiritual di Iran. Keputusan ini diambil setelah adik Cherie itu mengunjungi masjid Fatima al Masumeh di kota Qom.

Setelah menjadi muslim sejak enam pekan yang lalu, kini jurnalis dan penyiar radio itu dikabarkan selalu mengenakan jilbab ketika keluar rumah. Perempuan berumur 43 tahun tersebut juga langsung meninggalkan alkohol dan tidak lagi mengkonsumsi babi.

"Saya merasakan suntikan spiritual dan kebahagiaan mutlak serta suka cita" katanya menceritakan "hijrah"nya ke dalam Islam.

"Sekarang Saya tidak makan babi dan saya membaca Al-Quran setiap hari. Saya sudah di halaman 60" lanjutnya.

Sebagai reporter Press TV, Lauren Booth pernah pergi ke Gaza pada tahun 2008 untuk menyoroti blokade Israel atas wilayah itu. Kini ia berharap dengan dirinya masuk Islam dapat membantu mengubah persepsi kakak iparnya Tony Blair tentang Islam. [AN/rpb]
08:00 | 11 komentar

Bertaubat Secepat Kilat

Written By Admin BeDa on Sabtu, 23 Oktober 2010 | 16:00


Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. (Qs. Ali Imran : 133).


Orang-orang mukmin menyadari bahwa kesalahan bisa datang tanpa disadari. Karenanya mereka membiasakan diri mengawali hari dengan taubat. Namun, rentang antara taubat di awal hari dengan hari berikutnya sangat memungkinkan ternodai kesalahan dan kemaksiatan yang baru. Di sinilah letak perbedaan orang-orang mukmin dengan golongan yang lainnya. Seketika, begitu sadar kesalahan atau kemaksiatan terkerja, orang-orang mukmin bersegera bertaubat.

Ibnu Katsir ketika menafsirkan surat Al-Ahzab ayat 53 menceritakan sebuah riwayat bahwa ayat ini berkenaan dengan Thalhah bin Ubaidillah. Sahabat yang dikatakan Sang Nabi sebagai syahid yang berjalan di muka bumi dan tetangga Nabi di surga ini pernah tersilap khilaf. Ia berkeinginan menikahi Aisyah, jika nanti Rasulullah wafat. Maka turunlah ayat ini. "Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (istri- istri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka. Dan tidak boleh kamu menyakiti (hati) Rasulullah dan tidak (pula) menikahi istri-istrinya selama-lamanya sesudah ia wafat. Sesungguhnya perbuatan itu adalah amat besar (dosanya) di sisi Allah."

Saat itu Thalhah memang datang ke rumah Aisyah, yang masih sepupunya. Belum ada tabir/hijab. Tabir hati Thalhah mungkin terkoyak saat itu. Namun begitu ayat ini sampai kepadanya, Thalhah menyadari kesalahannya. Ia bertaubat. Ia memerdekakan budak, menginfakkan seluruh untanya yang berjumlah sepuluh ekor, dan pergi umrah dengan berjalan kaki. Segera. Bertaubat secepat kilat.

Pada waktu yang lain seorang sahabat diutus Rasulullah untuk suatu keperluan. Ia pun bergegas berangkat. Di jalan, ketika ia menoleh ke sebuah rumah yang tidak tertutup pintunya, terlihat wanita yang sedang mandi. Wajahnya mendadak pucat, tubuhnya gemetar ketakutan. Ia segera berlari melewati rumah demi rumah, kampung demi kampung, hingga keluar Madinah. Ia tiba di sebuah padang pasir yang sepi. Di sana ia menangis sejadi-jadinya. Menyesali apa yang telah dilihatnya. Dengan derai air mata dan suara yang tersisa ia memohon ampunan Rabbnya.

Rasulullah kehilangan sahabat ini untuk satu hari. Beliau bertanya-tanya, tetapi sahabat yang lain tidak juga mengetahui keberadaannya. Hingga berlalulah empat puluh hari. Akhirnya malaikat datang mewahyukan di mana ia berada. Umar dan Salman ditugasi Sang Nabi untuk menjemputnya.

Dengan susah payah Umar berhasil menemukannya. Ia memeluk sahabat itu penuh rindu. “Wahai Umar, tahukah Rasulullah SAW tentang dosaku", tanyanya penuh kekhawatiran. “Aku tidak tahu permasalahan itu. Yang jelas, Rasulullah menugaskan kami untuk mencarimu.”

“Wahai Umar, satu permohonanku padamu. Jangan kau bawa aku menghadap Rasulullah, kecuali ketika beliau sedang shalat.”

Sesampainya di Madinah dan mendapati Rasulullah membaca Al-Qur'an dalam shalatnya, sahabat ini pingsan. Ia jatuh sakit hingga berhari-hari. Ketika Rasulullah tahu kondisinya dan menjenguk ke sana, ia masih saja khawatir akan dosanya. “Apa yang kau rasakan?” Rasulullah bertanya kepada sahabat yang kini telah berada dalam pangkuannya ini. “Seolah semut merayap di antara tulangku, dagingku dan kulitku”.

“Apa yang kau inginkan?” tanya beliau lagi. “Ampunan Rabbku”, jawabnya penuh harap. Tak lama kemudian Jibril menyampaikan wahyu, “Wahai Muhammad, Rabbmu mengirimkan salam untukmu. Dia berfirman padamu, ‘Seandainya hambaKu ini datang padaKu dengan kesalahan yang memenuhi bumi, tentulah Aku akan menemuinya dengan ampunan sebanyak itu pula.”

Ketika Rasulullah SAW memberitahu wahyu ini kepadanya, sahabat ini meninggal seketika. Namanya Tsa'labah. Dan ia mengajari kita untuk bertaubat segera. Bertaubat secepat kilat.

Lintasan hati seperti Thalhah dan tatapan tanpa sengaja seperti Tsa'labah barangkali hari ini tidak dianggap dosa oleh kebanyakan manusia. Bahkan dosa-dosa besar sudah dianggap biasa. Namun dua sahabat mulia ini berbeda. Ia mengajari orang-orang mukmin berikutnya untuk takut: bukan pada besarnya dosa tetapi kepada siapa ia telah bermaksiat. Takut kepada Allah melahirkan konsekuensi: bertaubat segera ketika menyadari kesalahan yang diperbuat. Bertaubat secepat kilat.

Ya Allah... jadikanlah kami ahli taubat, jadikanlah kami mampu meneladani mereka berdua dalam menyegerakan taubat. [Muchlisin]
16:00 | 6 komentar

Wahai Umat, Dengarkan 'Nasihat' Zionis di Al-Quds


Oleh: Ala' Rimawi

Dalam dialog jaringan berita Maan dengan anggota dewan daerah Al-Quds Meir Margalet dari partai Mirates, penulis yakin orang Arab yang mendengarnya akan menyatakan dia bicara soal pahitnya realitas di Al-Quds dan bahaya yang mengancamnya serta rencana Israel di sana. Di ujung dialog, zionis ini menyimpulkannya, "Saya nasihati Otoritas Palestina agar menggelontorkan dana kepada kota suci Jerusalem untuk membantu manusia di sana, mendukung lembaga-lembaga Arab. Saya tidak bicara 1 atau dua juta dolar, tapi sebanyak-banyaknya. Jika Otoritas Palestina tidak melakukan itu dalam waktu dekat, maka suatu hari ia akan terbangun dan sadar ia tidak menemukan apa-apa di Jerusalem (Al-Quds)."

Nasihat ini bisa jadi didengar Arab, bangsa-bangsa dan umat serta gerakan dan organisasi dan semua orang, tentu juga media. Sayangnya, pembicaraan berulang-ulang ini tidak menggerakkan nurani dan kesadaran Arab. Meski tergerak mereka tidak akan bisa memberikan banyak bagi Al-Quds.

Sebab bedanya Israel dan Arab adalah; jika Negara Israel sedikit bicara tapi banyak bekerja dan merealisasikan rencana-rencananya. Namun kita – Arab – membalas hanya dalam konferensi dan tuntutan, mencetak Kubah Shakrah di pakaian kita. Dan ketika sudah terjadi ledakan besar, kita membalasnya dengan kemurkaan dalam unjuk rasa.

Yang menyedihkan, kebanyakan elit politik dan mimbar media salah dalam menyikapi bahaya riil di Al-Quds. Mereka hanya mengulang-ulang slogan dan melupakan esensinya.

Tema bahaya di Al-Quds terangkum dalam poros berikut:

1. Poros tengah Al-Quds yang terdapat di sana Masjid Al-Aqsha dan Gereja Al-Kiyamah. Juga sejumlah besar masjid, mushala kuno, ratusan situs peninggalan masa lampau yang merepresentasikan kota Al-Quds sebagai kota Arab. Poros ini sudah berubah, tanda-tandanya sudah berubah karena aktivitas penggalian terowongan oleh Israel, penyitaan dan penggusuran tanah dan rumah serta pembangunan Israel.

Puluhan gereja dan sekolah di area Al-Barrah dan sekitarnya menjadi permainan bagi pondasi Kuil yang akan dibangun Israel.

2. Kota Lama (kuno) yang hari ini sedang menjadi target, penggusuran, perubahan akibat proyek renovasi Israel, lintasan terowongan bawah tanah yang dibangun Israel dari semua sisi.

Yang menyentak, Kota Kono ini, rumah-rumanya menjadi milik yahudi karena upaya lembaga-lembaga Israel secara sistematis; baik dibeli, penghuninya diusir langsung, dikuasai paksa dan upaya Israel menciptakan kondisi yang tidak memungkinkan hidup layak di sana.

3. Perang demografi dan eksistensi yang dimulai Israel sejak tahun 1948. Israel menggelar aksi pembantaian demi pembantaian untuk mengusir warga Palestina, menjauhkan antar warga Palestina dengan tembok, menyita dokumen resmi warga, mempersempit gerak ekonomi warga. Lebih dari 100 ribu warga Palestina diisolasi tidak masuk ke kota Al-Quds karena Israel membedakan antara pemilik ID Biru dan ID dari Otoritas Palestina.

4. Perang geografi dan penguasaan terhadap kota Al-Quds dan sekitarnya dimana semakin haris Israel semakin kuat. Israel mengisolasi wilayah-wilayah berpenduduk Arab Palestina. Sementara di sisi lain, Israel menyambungkan secara kuat antara pemukiman yahudi di luar perbatasan Al-Quds.

Tema perang di Al-Quds sangat banyak dan tidak mungkin disebutkan dalam kolom pendek ini. Kita hanya ingin mencuri perhatian soal realitas Al-Quds yang disebut zionis Meir sebagai kota yang akan meleleh.

Teriakan berkali-kali dari Al-Quds tanpaknya tidak sampai di telinga bangsa Arab dan kaum Muslimin. Agaknya luka Al-Quds, imbasnya berupa gejala panas dan susah tidur tidak sampai kepada negeri-negeri Arab dan Islam.

Namun apakah sejarah akan berlalu begitu saja dan lupa fase ketersesatan dan kemurtadan sikap serta solidaritas yang mati ini dari bangsa Arab dan umat Islam? Saya yakin lembaran senjata akan mencatat sikap umat itu dalam daftar hitam yang tidak akan terulang dalam sejarah.

Adapun mereka yang tidak takut akan hukum sejarah, maka kabar gembira, bahwa negeri Arab akan mengumumkan hilangnya Al-Quds akan berakhir sebab mimpi Israel mencapai sungai Efrat dan gurun Sinai, tapi tidak kesampaian. [bn-bsyr, InfoPalestina]
15:00 | 4 komentar

Kisah Ukhuwah dari Akhwat Kepala Sekolah

Written By Admin BeDa on Kamis, 21 Oktober 2010 | 11:00


Ia seorang akhwat. Kepala Sekolah. Hari itu ia mendapatkan undangan pelatihan dari JSIT Provinsi. Tentu ia senang dengan undangan itu. Namun juga risau.

Senang karena ia tahu pelatihan itu bisa meng-up grade dirinya. Banyak materi, wawasan baru, dan pengalaman berharga yang akan ia dapatkan. Dari sana ia berharap sekolah Islam terpadu yang diamanahkan kepadanya bisa semakin meningkat kualitasnya. Mencetak generasi masa depan yang berkarakter dan membanggakan.

Yang membuatnya risau adalah, bisakah ia berangkat? Kini suaminya masih sakit. Campak yang menyerang membuat suaminya tidak bisa beraktifitas banyak. Bahkan ia perlu dirawat. Sedangkan anak-anaknya... mereka masih kecil untuk bisa mengurusi diri sendiri. Jika dirinya berangkat, siapa yang merawat suami dan menjaga anak-anak?

Hari-H pelatihan makin dekat. Akhwat kepala sekolah ini hampir memutuskan untuk tidak hadir. Namun sang suami justru mendesaknya agar menjalankan amanah dakwah ini. "Berangkatlah umi... ini demi masa depan generasi Islam di daerah ini", dengan senyum yang menguatkan ia memotivasi istrinya, "Percayalah... aku akan baik-baik saja. Begitu pula anak-anak."

Subhaanallah... ketegaran luar biasa ia dapatkan dari suaminya. Ia makin bangga dan sayang pada lelaki di depannya ini. Dalam kondisi sakit seperti ini, ia tetap memprioritaskan dakwah dibanding diri dan keluarganya. Namun demikian, kekuatan ini masih belum cukup untuk membuatnya memutuskan pergi ke ibukota provinsi selama tiga hari.

"Kita akan meminta bantuan ikhwah!" dengan berbinar-binar mata mereka saling pandang. Saling menguatkan.

Maka selama tiga hari, rumah cinta mereka didatangi para ikhwah bergantian. Ikhwan dan akhwat. Ikhwan-ikhwan datang merawat sang suami dan para akhwat datang untuk menjaga anak-anak. Dengan penuh semangat akhwat kepala sekolah ini mengikuti seluruh acara pelatihan. Di waktu-waktu istirahat ia menelepon ke rumah, memastikan segalanya berjalan dengan baik...

***

Ukhuwah itu indah. Ukhuwah itu menguatkan. Dengan ukhuwah, segalanya menjadi lebih mudah. Ada kebersamaan yang meringankan beban. Ada tempat untuk berbagi dan mencurahkan isi hati. Ada tempat yang tepat untuk mencari solusi.

Jika ukhuwah telah menjadi dasar dalam keluarga, sungguh bukan hanya romantisme yang tercipta. Ia bahkan menjelma surga. Taman yang nyaman untuk melepas penat-penat jiwa. Lalu menggemuruhkan semangat juang demi mencapai cita.

Ukhuwah antara akhwat kepala sekolah dan suaminya telah memberi kita pelajaran baru. Kondisi sesulit apapun jika dihadapi bersama akan ada jalan keluarnya. Ada manisnya cinta bersama kepahitan hidup. Ada hangatnya sayang yang menggerakkan kehidupan. Sebagaimana ukhuwah menjadi pondasi kokoh keluarga, cinta semakin kokoh seiring masalah yang berhasil diatasi bersama dalam ukhuwah. "Tidak terlihat diantara dua orang yang saling mencintai", sabda Sang Nabi sebagaimana diriwayatkan Ibnu Majah, "melebihi pernikahan".

Ukhuwah antar ikhwah di daerah akhwat kepala sekolah itu juga mengajari kita. Ukhuwah masih ada. Ia tetap kuat. Jika kita mengeluhkan renggangnya ukhuwah di mihwar muassasi ini, barangkali ukhuwah itu pelan-pelan tercabut dari hati kita sendiri. Jika kita kecewa ukhuwah memudar tidak seperti dulu lagi, barangkali kita yang tak pernah memupuknya dalam jiwa. Ukhuwah itu masih ada. Ia masih kokoh dalam dakwah kita. [Muchlisin]
11:00 | 10 komentar

Ribuan Orang Demo Tolak RUU "Fasis" Israel

Written By Admin BeDa on Minggu, 17 Oktober 2010 | 15:00


RUU "fasis" yang sudah disepakati kabinet Israel kembali mendapatkan penolakan. Ribuan orang Arab dan Yahudi di Israel mengadakan aksi Sabtu (16/10) untuk menentang RUU sumpah setia itu.

Demo besar-besaran ini diselenggarakan oleh organisasi hak asasi manusia dan partai oposisi sayap-kiri. Sebelumnya, oposisi telah menentang RUU yang disebut "fasis" ini di kabinet tetapi kalah suara.

RUU yang mengharuskan warga non Yahudi di wilayah Israel untuk bersumpah setia kepada Israel sebagai "negara Yahudi" itu dipandang rasis oleh banyak pihak, terutama warga keturunan Arab. Jika diterapkan, aturan ini jelas-jelas dinilai mengancam hak asasi manusia.

Aksi yang diikuti ribuan orang ini berjalan cukup damai. Dengan berbagai poster mereka menyuarakan protesnya. "Kami tidak mau dibuat saling membenci" demikian salah satu isi poster itu.[AN/Ant]
15:00 | 10 komentar

Mengawali Hari dengan Taubat

Written By Admin BeDa on Sabtu, 16 Oktober 2010 | 16:00


Ibarat kaca yang terbuka, selalu ada debu yang menempel dan mengotorinya. Meskipun itu adalah kaca jendela milik sebuah rumah di desa. Udaranya segar, minim polusi. Tetapi masih saja ada debu yang datang. Terlebih jika kaca itu berada di dekat jalan raya. Debu-debu beterbangan lebih banyak dan menutupi permukaan lebih cepat. Apalagi jika kaca itu bergerak di jalan raya. Kaca mobil, misalnya.

Demikian pula manusia. Tidak ada satupun yang bersih dari dosa. Ada diantara manusia yang terpeleset oleh dosa-dosa kecil dengan frekuensi yang jarang. Ada pula yang setiap hari, dosa datang mengotori dirinya. Lalu ada pula orang yang bergelimang dengan dosa. Bukan hanya dosa kecil, tetapi juga dosa-dosa besar. Golongan yang terakhir ini jumlahnya lebih banyak.

Mukmin juga manusia. Maka ia tak luput dari dosa. Kalau kita mengecualikan satu orang, maka itu adalah Al-Ma’shum Rasulullah; yang senantiasa dijaga Allah. Bedanya dengan manusia lainnya, mukmin tidak menenggelamkan diri berlama-lama dalam dosa. Tidak menikmati kemaksiatan. Segera ketika tersadar, ia hentikan dosa itu. Menyesal. Dan berkomitmen untuk tidak mengulanginya. Tiga langkah ini disebut para ulama sebagai syarat taubat.

Mengasah diri untuk menyadari dosa-dosa yang dilakukan, dengan demikian adalah keterampilan yang sangat penting bagi orang-orang mukmin. Mereka yang memiliki kepekaan sensitif akan lebih mudah menarik diri pada detik-detik pertama kekhilafan. Tingkatan yang lebih baik lagi adalah penarikan diri sebelum dosa itu dilakukan. Ini semacam alarm tanda bahaya yang berbunyi dan menuntut reaksi hati agar segera ingat kepada Allah, bertaubat. Dalam surat Al-Anfal kita mendapatkan istilah ”wajilat quluubuhum”.

Tetapi tidak semua dosa bisa disadari. Sebagaimana alarm yang tidak sempurna, ada beberapa ”obyek dosa” yang karena samarnya bentuk dan halusnya sifat dosa, ia lolos dari pendeteksian ini. Bahkan untuk dosa kelas kakap bernama syirik. Itulah mengapa kita melafalkan doa dalam Al-Ma’tsurat: Allaahumma innaa na’uudzu bika min an nusyrika bika syai’an na’lamuh. Wa nastaghfiruka limaa laa na’lamuh. Jika dosa syirik saja ada yang bisa tidak kita sadari, apalagi dalam hal keikhlasan, prasangka, dan sebagainya.

Dosa yang bisa datang kapan saja tanpa kita sadari, menuntut kita untuk melakukan taubat secara berkala. Maka Rasulullah pun memberikan contoh kepada umatnya. ”Demi Allah”, sabda beliau sebagaimana didengar langsung Abu Hurairah dan direkam Imam Bukhari, ”sesungguhnya aku membaca istighfar dan bertaubat kepada Allah dalam sehari lebih dari tujuh puluh kali.”

Al-Aghar bahkan pernah mendengar bilangan yang lebih banyak. ”Hai manusia, bertaubatlah kepada Allah dan mintalah ampunan kepada-Nya,” perintah Sang Nabi dalam riwayat Muslim, ”Sesungguhnya aku bertaubat seratus kali dalam sehari.”

Mari kita lanjutkan perumpamaan kaca di awal tulisan ini. Jika setiap hari kaca itu dilap, dibersihkan, maka ia akan kembali bening. Meskipun kita tak mampu mencegah debu untuk tak kembali menempel padanya.

Rasulullah biasa bangun disepertiga malam yang terakhir. Beliau mengawali harinya dengan bertaubat, meskipun telah mendapat jaminan ampunan atas segala dosa. Di keheningan malam seperti itu beliau mengarahkan pandangan ke langit. Melihat bintang sekaligus menyaksikan kebesaran Allah. ”Rabbanaa maa khalaqta haadzaa baathilaa. Subhaanakan faqinaa adzaabannar” Doa ini adalah ungkapan kekaguman pada kebesaran Allah. Namun ia juga ungkapan kesadaran dan bentuk taubat. Lalu setelah itu, selesai berwudhu beliau shalat tahajud. Lamanya shalat mengakibatkan kaki beliau bengkak. Maka, sempurnalah syukur beliau sebagaimana keinginannya yang disampaikan kepada Aisyah sebagai jawaban atas pertanyaannya: ”Tidakkah aku ingin menjadi hamba yang bersyukur?” Sekaligus lengkaplah beliau mengawali hari dengan taubat.

Kita yang tidak pernah mendapatkan jaminan ampunan dari Allah, semestinya pula belajar mengawali hari dengan taubat. Ya Allah... terimalah taubat kami yang jarang bertaubat kepadamu. Ampuni kami yang tidak memohon ampun sebanyak Rasul-Mu. [Muchlisin]
16:00 | 4 komentar

Remaja Palestina Taklukkan Dua Tentara Israel Hanya dengan Batu


Bentrokan terjadi antara remaja-remaja Palestina dan sepasukan militer Zionis di distrik Silwan, di Al-Quds (Jerusalem) yang dijajah, pada Rabu malam, 13 Oktober. Dua tentara dikabarkan luka-luka karena timpukan batu para remaja Palestina di kawasan itu, demikian PIC mengutip sebuah media Zionis Israel.

Militer Zionis membubarkan massa dengan menggunakan gas airmata dan peluru timah berlapis karet. Tak ada korban cedera dilaporkan dari pihak remaja Palestina. Bentrokan pecah sesudah diumumkannya keputusan Zionis Israel untuk menghancurkan 110 rumah warga Palestina di kawasan Silwan karena dianggap tak memiliki izin dan melanggar perencanaan tatakota.

Sementara itu, dikabarkan bahwa pagi tadi tentara Israel menangkap tiga orang Palestina, termasuk dua wartawan, dan membawa mereka ke pemukiman Karmi Tsur di utara Al-Khalil (Hebron) untuk diinterogasi. Mereka hendak meliput perusakan tanah dan properti warga Palestina di Beit Ummar untuk membangun permukiman baru Yahudi.

Ketiga orang yang ditawan itu adalah Mamoun Wazwaz dari Reuters, Hazem Badr dari AFP, dan aktivis Palestinian Solidarity Project Mohammed Ayyad Awad. Pada Kamis pagi ini pula, serdadu Zionis menangkap delapan warga Palestina di Tepi Barat yang, menurut pihak Zionis, termasuk dalam ‘daftar buronan.’ Mereka ditangkap di Qalqiliya, Ramallah, Bait Lahm (Betlehem), dan Al-Khalil. [Sumber: Republika]
08:00 | 2 komentar

Pemerintah Mesir Larang Sejumlah Pimpinan Hamas Tunaikan Ibadah Haji

Written By Admin BeDa on Jumat, 15 Oktober 2010 | 18:00


Sumber-sumber informasi menyebutkan pihak berwenang Mesir memberitahu pimpinan Hamas mengenai larangan bagi sejumlah pimpinannya beribadah haji melintasi wilayah Mesir.

Sumber menyatakan kepada koresponden Infopalestina, Jumat (15/10) bahwa daftar nama yang diungkap intelijen Mesir sangat panjang, mencakup sejumlah tokoh pimpinan Hamas, yang paling menonjol adalah anggota parlemen Dr. Shalah Al Bardawel dan Jubir Hamas, Sami Abu Zuhri dan Fauzi Barhum.

Sami Abu Zuhri, Jubir Hamas dalam pernyataan esklusif kepada Infopalestina menegaskan pimpinan Hamas menyampaikan informasi kepadanya tentang sambungan telephone dari salah satu pejabat intelijen Mesir, yang menyatakan ia tidak diijinkan bepergian selama musim haji bersama sejumlah nama lain yang tercantum dalam daftar.

Rencananya jemaah haji Jalur Gaza mulai berangkat ke Saudi Arabia melewati wilayah Mesir pada tanggal 4 bulan depan. [qm, InfoPalestina]
18:00 | 0 komentar

Teks dan Konteks

Ketika teks sebagai content diinsert ke dalam perangkat ruang dan waktu manusia, sebenarnya di situ terdapat sebuah aksioma yang melekat pada sifat teks itu. Yaitu kemampuannya untuk menembus sekat-sekat ruang dan waktu manusia. Teks ini adalah narasi yang abadi. Kemampuan itu tersimpan rapi pada fakta bahwa ia menggabungkan antara keteguhan dan kelenturan. Ia teguh pada kebenaran dasarnya, tapi lentur pada proses manusiawinya.

Ruang dari sistem kehidupan yang terangkai dalam teks ini adalah bumi. Sementara waktunya adalah waktu manusia sejak mereka menghuni bumi. Jadi sejarah adalah waktunya. Bumi adalah panggungnya. Manusia adalah aktornya. Teks ini adalah skenarionya. Dari situ sebuah cerita kehidupan dirakit. Itu sebabnya mengapa dua pertiga dari isi teks ini adalah ceirta kehidupan beragam manusia tentang bagaimana mereka melakoni hidup. Sisanya adalah hukum-hukum normatif yang jika diterapkan akan melahirkan sebuah cerita kehidupan yang indah.

Karena sebagian besar isi teks ini adalah sejarah, maka konteks menjadi sangat penting sebagai faktor penjelas. Sejarah kehidupan Rasulullah SAW adalah ruang dan waktu di mana teks ini diimplementasikan. Dengan begitu kita mendapatkan referensi hidup untuk memahami teks melalui kehidupan Rasulullah SAW. Jika kehidupan Rasulullah kita peroleh secara valid melalui narasi beliau atau narasi sahabat-sahabat beliau tentang beliau, maka sekarang kita mendapatkan dua teks. Dan kedua teks saling menafsirkan satu sama lain. Inilah yang dimaksud oleh para mufassirin dengan metode at tafsir bir riwayah (menafsir teks dengan teks). Misalnya tafsir Imam Ath-Thabari, Ibu Katsir dan lainnya.

Sebagian dari kehidupan Rasulullah SAW itu adalah riwayat atas kata. Sebagiannya lagi adalah riwayat atas tindakan dan sikap. Tapi keseluruhannya adalah riwayat kehidupan yang lengkap sekaligus kompleks. Jika riwayat-riwayat itu tidak dirangkai dalam suatu konstruksi yang komprehensif maka hasilnya wajah kehidupan yang boleh jadi bopeng. Misalnya, jika kita hanya mengangkat riwayat peperangan Rasulullah SAW, maka yang akan tampak adalah seorang komandan perang yang seluruh hidupnya hanya diabadikan untuk peperangan. Sisi lain tentang kehidupan keluarga dan kemasyarakatan serta ekonomi mungkin hilang. Lalu lahirlah pemahaman yang cacat atas teks, dan lahirlah selanjutnya penerapan atas teks yang juga pincang.

Tapi itu tantangan besarnya. Karena sebuah rekonstruksi sejarah yang komprehensif pada dasarnya adalah kerja intelektual dan spiritual yang disamping berbasis pada fakta-fakta sejarah yang akurat, juga bertumpu pada kemampuan imajinasi yang kompleks. Inilah yang menjelaskan mengapa Sayyd Quthb menggunakan imajinasi sebagai salah satu tools dalam menafsir teks.

Suatu saat di masa kecilnya Muhammad Iqbal, penyair abadi dari benua India, membaca Al-Qur'an. Ayahnya yang kebetulan melihatnya lantas berpesan: "Anakku, bacalah Al-Qur'an ini sebagaimana ia dulu diturunkan kepada Muhammad. Bacalah ia seakan-akan ia diturunkan hanya untukmu". [Anis Matta, sumber : Serial Pembelajaran Majalah Tarbawi edisi 236]
09:00 | 1 komentar

Selangkah Lagi UU "Fasis" Paksa Keturunan Arab Setia pada Israel

Written By Admin BeDa on Kamis, 14 Oktober 2010 | 13:00


Tinggal satu langkah lagi, atas nama hukum Israel bisa memaksa seluruh warga non-Yahudi di Israel dan wilayah pendudukan di Palestina untuk bersumpah setia kepada Israel sebagai "negara Yahudi". Warga Palestina yang terkena ancaman ini terutama adalah mereka yang tinggal di Tepi Barat.

Saat ini, Rancangan Undang-undang yang disebut oposisi di parlemen sebagai RUU "fasis" ini telah disetujui oleh kabinet. RUU ini untuk pertama kali diajukan oleh menteri luar negeri Israel.

Jika nanti disetujui oleh legislatif, RUU ini akan resmi menjadi Undang-undang. Belum ada rencana penolakan legislatif kecuali dari partai oposisi. Sementara warga keturunan Arab yang besarnya mencapai 20% populasi negara Israel sejak awal menentang keras RUU ini.

Para pengamat Palestina seperti Sa'd Muhyu dari El-Khaleej Emirat, menilai RUU ini merupakan bagian dari persiapan penerapan gagasan negara Yahudi "yang bersih" dari warga keturunan Arab. Sebab dengan adanya aturan itu, warga keturunan Arab akan meninggalkan wilayahnya alih-alih bersumpah setia kepada Israel.

Bukti lain yang menjadi argumen Sa'd Muhyu adalah digelarnya latihan militer Israel besar-besaran untuk persiapan menyerang Gaza dan pengusiran warga Palestina wilayah 48. Dua agenda ini dilaksanakan persis bersamaan dengan penggodokan RUU tersebut. "Perkembangan ini memberikan penegasan bahwa masalah yahudisme Israel bukan sekadar permainan taktik kata-kata, tapi merupakan arah strategi yang unsur-unsurnya mulai sempurna sekarang ini." katanya. [AN/bsb]
13:00 | 1 komentar

Mengatasi Suami Marah ala Aisyah

Written By Admin BeDa on Minggu, 10 Oktober 2010 | 17:00


Orang yang cerdas intelektual tidak selalu cerdas secara emosional. Kecepatan seseorang dalam belajar pengetahuan baru, menghafal teks, atau menemukan teori baru tidak selalu berbanding lurus dengan kepandaiannya menjalin hubungan dengan sesama. Termasuk dalam kehidupan keluarga.

Kecerdasan intelektual adalah anugerah bagi orang yang memilikinya. Namun pada saat yang sama ia akan menjadi ujian dalam menjaga keharmonisan rumah tangga. Itu bagi orang yang kecerdasan intelektual menjadikannya angkuh kepada pasangan hidup yang taraf kecerdasannya dianggap lebih rendah. Meskipun sebenarnya suami istri sama-sama cerdas. Fakta banyaknya pasangan keluarga yang berpisah dari kalangan terdidik membuktikannya.

Lain ceritanya jika kecerdasan intelektual itu justru “dimanfaatkan” untuk menjaga langgengnya hubungan.

Suatu hari pada giliran Aisyah, Rasulullah berbaring dengan membuka baju luarnya. Aisyah tampaknya juga sudah tidur. Tiba-tiba Rasulullah bangun dan mengenakan kembali baju luarnya. Keluar dengan pelan-pelan.

Melihat itu Aisyah bangkit. Ia memakai penutup kepala dan mengarungkan kain sarung. Menyamar. Membuntuti Rasulullah.

Ternyata Rasulullah pergi ke makam Baqi’. Di sana beliau berdiri lama, mengangkat tangannya tiga kali, kemudian membalikkan tubuhnya. Agar tidak ketahuan, Aisyah segera kembali. Rasulullah berusaha mengejar. Beliau mempercepat jalannya. Aisyah juga mempercepat jalannya. Rasulullah setengah berlari. Aisyah juga. Rasulullah berlari, Aisyah berlari lebih cepat hingga tiba di rumah lebih dulu. Pura-pura tidur.

“Ada apa denganmu wahai Aisy, mengapa nafasmu tersengal-sengal?” Tanya Rasulullah ketika sudah tiba di kamar.
“Tidak apa-apa wahai Rasul”, jawab Aisyah setenang mungkin.
“Engkau mau memberi tahu akau, atau Allah yang akan memberi tahu?”
“Wahai Rasulullah, biarlah ayah dan ibuku sebagai tebusanmu,….” Aisyah pun menceritakan semuanya.
“Jadi bayangan hitam itu adalah dirimu?” Tanya Rasulullah memastikan.
“Benar”
“Apakah engkau mengira Allah dan Rasul-Nya akan menzalimimu?” nada suara Rasulullah terdengar marah, “Sesungguhnya, saat engkau melihatku melakukan semua itu, Jibril datang padaku. Ia memanggilku dengan suara yang tidak engkau dengar, lalu aku menjawab tanpa terdengar olehmu. Jibril tidak mungkin masuk, karena engkau telah siap-siap tidur. Saat itu aku mengira engkau telah lelap. Aku khawatir mengganggu tidurmu dan mengagetkanmu. Jibril berkata padaku, ‘Sesungguhnya Tuhanmu menyuruh engkau dating ke pekuburan Baqi’ untuk memohonkan ampunan bagi orang-orang yang telah dikubur di sana.’”
“Lantas apa yang harus aku katakana jika dating ke kuburan?” Tanya Aisyah mengalihkan pembicaraan.
“Katakanlah, ‘Kesejahteraan bagimu wahai para penghuni kubur yang terdiri dari orang-orang mukmin dan muslim. Semoga Allah mengasihi semua yang telah mendahului dan yang akan menyusul di kemudian hari diantara kita. Dan sesungguhnya insya Allah kami akan menyusul kalian’.”

Betapa cerdasnya Aisyah! Dan betapa hebatnya ketika ummul mukminin ini menggunakan kecerdasannya untuk meredakan marah Rasulullah. Sang Rasul tidak jadi marah, karena beliau perlu menjawab pertanyaan agama yang diajukan Aisyah.

“Ketika Aisyah tahu bahwa Rasulullah marah kepadanya”, kata Mahmud Al-Misri ketika menjelaskan hadits riwayat Muslim ini, “maka ia berusaha mengalihkan pembicaraan tentang faktor yang memicu kemarahan beliau kepadanya.”

“Hendaknya,” nasehat beliau dalam buku yang sama: Shahaabiyyat Haular Rasul, “setiap wanita muslimah mengambil pelajaran dari kisah ini. Yakni jika ia mendapati suaminya marah karena suatu perkara, alihkanlah pokok bahasan ke hal lain untuk mengatasi amarahnya, dan agar kehidupan rumah tangga terus berlanjut dengan penuh kasih, keharmonisan, cinta, dan sayang.”[Muchlisin]
17:00 | 5 komentar

Terbukanya Jalan Kekayaan

Written By Admin BeDa on Sabtu, 09 Oktober 2010 | 15:00


Memberi adalah rahasia orang-orang kaya. Jalan kekayaan yang terbuka mudah baginya tidak hanya mengalir melalui doa orang yang menerima pemberian itu. Fakta empiris bahwa tidak semua orang yang diberi mendoakan pemberi menuntut logika lain efek memberi.

Di atas doa mereka yang menerima pemberian, ada doa lain. Doa makhluk lain. Doa ini tetap ada; tidak peduli orang yang diberi mendoakan ataupun tidak. Imam Bukhari dan Imam Muslim merekam hadits itu. “Tak ada suatu hari pun seorang hamba berada di dalamnya, kecuali ada dua orang malaikat akan turun”, sabda Rasulullah, “seorang diantaranya berdo’a, ‘Ya Allah berikanlah ganti bagi orang yang berinfaq’. Yang lainnya berdo’a, ‘Ya Allah, berikanlah kehancuran bagi orang yang menahan infaq’”.

Jika demikian halnya, jalan kekayaan itu lebih mudah terbuka bagi orang-orang yang membiasakan berinfak, mentradisikan memberi.

Logika lain efek memberi juga terjadi dalam diri. Efek internal. Jika doa orang lain dan doa malaikat tidak dirasakan langsung oleh orang-orang yang membiasakan memberi, efek yang satu ini justru dimulai dari dirinya. Sebagian orang menyebutnya pemikiran bawah sadar, sebagiannya lagi menyebut sugesti.

Prosesnya terjadi ketika seorang memberi. Itu adalah pekerjaan orang-orang kaya. Dengan memberi, manusia memposisikan dirinya sebagai orang kaya. Pembiasaan ini mensetting pikiran bawah sadarnya: “aku ini orang kaya”. Pikiran bawah sadar mempengaruhi tindakan-tindakannya: ia berpikir dengan cara orang kaya, lebih mudah menangkap peluang kekayaan.

“Keyakinan adalah ahli kimia pikiran yang utama”, kata Napoleon Hill dalam Think and Grow Rich, “Ketika keyakinan bercampur dengan pemikiran, pikiran bawah sadar seketika mengambil getarannya. Pikiran bawah sadar kemudian menerjemahkannya dan meneruskannya pada kecerdasan-tak-terbatas”

Stephen R. Covey percaya, bahwa kesuksesan dimulai dari paradigma. Dalam hal memperoleh kekayaan, memberi berarti membangun paradigma sebagai orang kaya. Paradigma ini membuat orang leih mudah melakukan pekerjaan-pekerjaan besar, sekaligus menjadi sugesti bagi dirinya untuk mendapatkan kekayaan dengan mudah.

Rhonda Byrne juga membawa rahasia utama dari segala rahasia yang dibukanya dalam The Secret. Kuncinya bermula dari: pikiran. "Pikirkanlah bahwa engkau ditakdirkan kaya, maka engkau akan kaya. Pikirkan engkau tercipta miskin, engkau pun miskin selamanya." begitu kira-kira pesan yang dibawanya. Dan untuk mengaktifkan pikiran orang kaya, jalannya adalah memberi. Berinfak. Shadaqah.

Mungkin bahasanya sederhana. Tetapi Hasan Al-Basri memberikan pernyataan yang lebih mudah dipahami sekaligus lebih menentramkan hati. “Barangsiapa yang yakin bahwa Allah akan mengganti shadaqah seseorang”, kata ulama besar ini, “tentu Ia akan segera mengganti.” [Muchlisin]
15:00 | 1 komentar

Kekayaan, Shadaqah, dan Doa yang Pasti Dikabulkan

Written By Admin BeDa on Jumat, 08 Oktober 2010 | 10:00


Jika Abu Bakar menginfakkan seluruh hartanya kemudian dalam waktu singkat memperoleh kekayaan yang tak kalah jumlahnya untuk dishadaqahkan kembali, itu menyisakan pertanyaan bagaimana siklus yang demikian hebat bisa terjadi? Infaq, kembali kaya, infaq lagi, kembali kaya lagi, tetap berinfaq, begitu seterusnya.

Siklus itu tidak hanya dialami Abu Bakar. Banyak orang kaya yang hartanya seakan tak pernah berkurang meskipun selalu diinfakkan. Bahkan menjadi bertambah. Oleh sejarah, mereka diabadikan sebagai orang-orang kaya. Bukan karena selalu banyak uang, tetapi rentang kondisi "uang terbatas" hanya "masa transisi" yang amat singkat dibandingkan masa-masa kemelimpahan.

Bagaimana mereka dengan cepat memperoleh kekayaan kembali, bahkan melebihi apa yang mereka infakkan? Selain variabel keterampilan investasi dan bisnis, ada variabel lain yang sering terlupakan.

Suatu hari Sa'ad bin Abi Waqas menceritakan kelebihannya dalam hal kekayaan. Dibandingkan sebagian orang di sekitarnya, Sa'ad lebih kaya dari mereka. Kekayaan memang memberikan banyak keutamaan bagi seorang mukmin. Bukankah ia bisa berzakat, memerdekakan budak, dan sebagainya. Patutlah jika kekayaan dipandang secara proporsional dan menjadi kebanggaan karena menjadi ladang amal. Tetapi bagaimana sikap Sang Nabi ketika mendengar perkataan Sa'ad? "Kalian tidaklah diberi pertolongan dan rezeki", sabda Sang Nabi sebagaimana direkam Imam Bukhari, " melainkan karena orang-orang yang lemah diantara kalian"

Rasulullah mengingatkan hakikat besar. Variabel pengundang kekayaan yang seringkali terabaikan. Ya, Sa'ad bin Abi Waqas dan orang-orang lainnya bisa menjadi kaya atau lebih kaya karena kaum dhua'fa. Dengan doa mereka.

Orang-orang kaya menshadaqahkan sebagian hartanya kepada kaum dhuafa' secara langsung. Namun kaum dhuafa' "mengembalikan" harta kepada mereka dalam jumlah yang lebih besar melalui doa. "Ya Allah, sungguh dermawan hamba-Mu yang telah Engkau kirim kepadaku ini. Maka luaskanlah rizkinya" Doa kaum dhuafa yang ikhlas seperti ini akan membukakan pintu rizki. Tiba-tiba orang yang kaya mendapati dirinya begitu mudah mendapatkan kekayaan, bahkan dari jalan yang berbeda-beda. Karena doa dhuafa'.

“Tidaklah seorang muslim berdoa untuk saudaranya yang tidak ada di hadapannya", sabda Sang Nabi dalam riwayat yang berbeda, "melainkan malaikat yang ditugaskan kepadanya berkata, ‘Amin....” Hadits yang diriwayatkan Imam Muslim dalam shahih-nya itu memperkuat alasan pasti dikabulkannya doa kaum dhuafa' pada orang yang bershadaqah padanya. Bukankah mereka biasa mendoakan tatkala si pemberi sudah pergi? Itu diamini malaikat!

Itu shadaqah kepada perseorangan. Sedangkan bagi Abu Bakar yang berinfak dengan seluruh hartanya pada Perang Tabuk, ia mendapatkan doa lebih banyak lagi. Bayangkan mereka yang semula tidak bisa turut berjihad karena tidak mendapatkan kendaraan dan perbekalan. Mereka begitu gembira setelah menyadari bisa berangkat jihad berkat infak Abu Bakar. "Ya Allah, jika orang seperti Abu Bakar Engkau karuniai rezeki yang lebih banyak, kekayaan yang lebih melimpah, tentulah agama ini semakin terbantu dengan jihad maaliyahnya", begitu kira-kira doa mereka, "maka tambahkan kekayaannya, berkahilah hartanya, luaskanlah rizkinya..."

"Memberi adalah rahasia bagi kebanyakan keluarga yang sangat kaya," kata Robert T. Kiyosaki dalam Rich Dad Poor Dad, "itu sebabnya ada organisasi seperti Rockefeller Foundation dan Ford Foundation. Organisasi-organisasi itu dirancang untuk mengambil kekayaan mereka dan meningkatkannya, dan juga memberikannya untuk selama-lamanya."

Karena memberi adalah kebaikan universal, kita kini menemukannya dalam buku-buku tentang uang dan cara mendapatkan kekayaan, termasuk buku-buku Robert T. Kiyosaki itu. "Berikanlah dan kemudian Anda akan menerima." Katanya menyimpulkan.

Jika memberi, shadaqah, infaq, diyakini semua orang sukses sebagai penambah kekayaan, alih-alih menguranginya, beda mukmin dengan orang lain tetap ada: "Orang mukmin memberi karena Allah, bukan karena mengejar kekayaan yang lebih besar. Orang mukmin menyadari hartanya dari Allah, dan di jalan-Nya ia membelanjakan." [Muchlisin]
10:00 | 2 komentar

Wanita Palestina Adukan Penistaan Dirinya di Penjara Israel

Written By Admin BeDa on Kamis, 07 Oktober 2010 | 13:00


Penjara Israel bukan hanya memberikan siksaan dalam bentuk fisik, tetapi juga merendahkan martabat wanita. Ad-Dababsi (35) mengadukan penistaan yang dilakukan tentara Israel saat dirinya dipenjara.

Dalam penuturannya, ia yang ditangkap atas tuduhan menjadi anggota Jihad Islam disandarkan ke tembok dengan ditutup matanya. Di dekatnya, salah satu tentara israel menari perut diiringi musik Arab, tertawa-tawa, dan berkali-kali menggesekkan tubuhnya ke wanita Palestina ini.

Penistaan yang dialami oleh wanita dari desa Nuba ini ternyata direkam oleh tentara Israel dan disebarkannya ke internet, termasuk Youtube. Ketika menyaksikan video ini di Al-Jazeera, Ad-Dababsi depresi. "Saya melihat rekaman video tersebut di Al-Jazeera. Saya tak bisa tidur sepanjang malam sebab saya merasa dinistakan dan depresi," kata wanita yang menghuni penjara Israel selama 22 bulan itu.

Ad-Dababsi mengatakan dia juga menghubungi Klub Tahanan Palestina, kelompok pembela non-pemerintah, dan berencana mengajukan tuntutan hukum terhadap militer Israel.

Gerakan Perlawanan Islam (HAMAS), yang menguasai Jalur Gaza, mengutuk tayangan tersebut. Jurubicara HAMAS Sami Abu Zuhri mengatakan perilaku tentara Israel itu mencerminkan rasisme dan biadab.

Beberapa hari sebelumnya, dunia juga dikejutkan oleh "fatwa" rabbi Yahudi yang menghalalkan wanita Israel untuk tidur dengan musuh saat menjalankan tugas intelijen demi keamanan Israel.[AN/Ant]
13:00 | 3 komentar

Hamas dan Pengembangan SDM (1)

Written By Admin BeDa on Rabu, 06 Oktober 2010 | 09:00


Oleh : Sulaiman Abu Sittah

Hamas tidak memiliki pesawat tempur F16, tank buatan Rusia atau Amerika, tidak pula bom nuklir, roket jelajah benua, minyak, tambang baja atau tembaga, atau fosfat. Tidak memiliki sumber dana dari perdagangan batu mulia atau emas. Hamas tidak memiliki semua itu. Pada saat yang sama Hamas dihadapkan pada perang ganas dengan musuh yang memiliki dana, senjata, pasukan tempur, media, dan di atas itu semua, ditopang Amerika dan bantuan Negara-negara Arab resmi, dam ketidak berdayaan umat Islam.

Hamas memasuki pertempuran itu dengan tujuan jelas yakni melawan entitas Israel. Tujuan Hamas itulah yang memuaskan cita-cita kita. Karena alasan itulah, Hamas harus konsen pada sumber daya satu-satunya yang dimiliki yaitu sumber daya manusia. Dalam bayangan penulis, Hamas memiliki SDM luar biasa yang siap diledakkan dengan arahan yang benar sehingga menjadi revolusi peradaban yang mantap.

Seorang manusia tak akan maju, naik atau berhasil kecuali harus terikat dengan semua gagasan dan pemikiran atau tujuan yang ingin diraih. Karenanya, seorang dai harus merancang tujuan dakwah yang jelas dimensinya. Problem kebanyakan pemuda muslim adalah mereka ingin berkhidmat kepada dakwah ini namun tidak tahu bagaimana melakukannya. Jika kita mengamati para dai yang menonjol atau terkenal, ternyata mereka menyadari dengan baik apa yang mereka inginkan. Syekh Raid Shalah, misalnya, dia seorang ulama cemerlang dan menjadi bendera dakwah yang diberkahi ini. Faktornya karena tujuannya jelas dan sangat jelas. Tentu bukan beliau saja, tapi banyak dai seperti beliau, dimanapun mereka. Buktinya, ketika anda mendengar nama Syekh Raid Shalah, Anda akan ingat langsung masjid Al-Aqsha. Ketika Anda mendengar masjid Al-Aqsha dan pembelaannya, Anda teringat dengan nama beliau.

Seperti diketahui, manusia tidak akan berhasil menuju sebuah cita-cita atau pemberhentian kecuali jika ia tahu jalan menuju ke sana dan memutuskan untuk berjalan di jalan itu. Keputusan berbeda dengan khayalan atau angan-angan. Banyak orang berangan-angan tapi tidak menginginkan. Jika kita amati pemuda saat ini dengan kaca mata -terminologi kenabian– yang tumbuh dalam ketaatan kepada Allah, kita akan temukan kebanyakan mereka tidak memberikan kontribusi kepada dakwah kecuali sedikit. Penyebabnya bukan minimnya semangat, namun ketidaktahuan akan jalan yang harus ditempuh.

Seorang dai ketika sudah merasa "kenyang" dengan gagasan dan pemikiran dakwah, maka ia harus berpindah kepada tahap kerja amal islami berikutnya untuk kemudian menentukan tugasnya secara spesifik sebagai bentuk khidmat bagi agama ini. Dakwah harus mengajarkan kepada dai bahwa proses ini menjadi menjadi bagian mendasar dari "manhaj dawah ini". Sehingga seseorang tidak hanya menjadi tambahan dalam dakwah ini. Begitulah masing-masing pribadi harus memiliki spesifikasi untuk memajukan dakwah baik bidang pertanian, medis, sarana umum yang lebih spesifik lagi di masing-masing bidang itu. Karenanya, kita membutuhkan dai yang orator ulung, kolumnis tajam, wartawan mumpuni. Sebagian lagi membangun lembaga pencetak orator, lembaga mentoring anak-anak, lembaga pengusung sebuah nilai tertentu; seni komunikasi atau lainnya. Sebagai contoh, di Jalur Gaza pun sudah ada training pengembangan dan manajemen diri atau pengembangan bisnis. Dengan demikian secara bertahap kita mampu membebaskan Palestina, membangun Khilafah Rasyidah. Inilah yang disebut "tsaqafatul intaj" (kultur produktif) sehingga jangan sampai ada dai kecuali harus memiliki tujuan spesifik yang menjadi konsentrasinya.

Lantas apa pengaruh satu orang terhadap masyarakat? Semua agama, baik samawi seperti Islam atau non samawi seperti Budha dan Konfusius dimulai dari satu orang kemudian ia akan mempengaruhi dunia. Bahkan penyembahan berhala di Jazirah Arab dilakukan oleh seorang Amr bin Luhai. Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam, "Barangsiapa yang membuat sunnah hasanah dalam Islam maka dia akan mendapat pahala serupa pahala orang yang mengikutinya."

Para dai pantang cengeng. Berhentilah mengeluh dan carilah solusi. Banyak masalah di masyarakat kita, tapi berhentilah mengumpat dan mencela mereka. Berbuatlah apa yang bisa dilakukan untuk dakwah ini. Contoh kecil, jika seseorang mumpuni dalam olahraga karate dan memilih digunakan untuk dakwah kemudian melatih setiap sekian bulan 10 orang dalam olah raga ini, maka dalam puluhan tahun masing-masing murid akan memiliki kader ratusan orang.

Untuk mencapai tujuan, seseorang harus memiliki tekad dan kegigihan tanpa batas. Seorang kolumnis tersohor Amerika pernah ditanya soal kiatnya menjadi kolumnis sukses. Ia menjawab; jika kamu memiliki tekad bergelora dan menyala-nyala. Bagaimana? Ia menjawab; Anda makan, anda berfikir tentang "menulis", minum berfikir tentang "menulis", tidur berfikir tentang "menulis" dan Anda memimpikannya malam hari. Bangun pagi anda berfikir lagi dan begitu seterusnya. Jika sudah mengalir itu dalam darah, Anda akan jadi kolumnis yang memiliki popularitas.

Jadi, tentukan tujuan, miliki semangat dan tekad menyala untuk mewujudkannya, saat itulah Anda pasti akan berhasil mengubah realitas umat.

Inilah yang mesti dan sedang dilakukan Hamas. Melalui lembaganya, tugas Hamas adalah agar kadernya, laki-laki, wanita, bahkan anak-anak memiliki misi masing-masing, jangan mati hingga misi itu tercapai. (bersambung) [bn-bsyr, sumber: InfoPalestina, dengan perubahan redaksional seperlunya]
09:00 | 8 komentar

Hadits 12: Humanisme Islam

Written By Admin BeDa on Selasa, 05 Oktober 2010 | 17:00


Alhamdulillah, kini kita akan membahas Shahih Bukhari hadits ke-12. Hadits ini masih termasuk dalam Kitab Iman (كتاب الايمان).

Hadits ke-12 Shahih Bukhari yang akan kita bahas ini memiliki redaksi awal yang hampir sama dengan hadits ke-11 pekan lalu, yakni pertanyaan sahabat yang kemudian dijawab Rasulullah. Imam Bukhari memberikan judul bab "Memberi Makan adalah Perangai Islam" untuk hadits ke-12 ini. Dengan pertimbangan bahwa ada hal lain dalam hadits ini selain memberikan makan, Bersama Dakwah memberikan judul yang lebih luas: "Humanisme Islam".

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو - رضى الله عنهما - أَنَّ رَجُلاً سَأَلَ النَّبِىَّ - صلى الله عليه وسلم - أَىُّ الإِسْلاَمِ خَيْرٌ قَالَ تُطْعِمُ الطَّعَامَ ، وَتَقْرَأُ السَّلاَمَ عَلَى مَنْ عَرَفْتَ وَمَنْ لَمْ تَعْرِفْ

Dari Abdullah bin Umar, ia berkata, "Seorang laki-laki bertanya kepada Nabi SAW: 'Bagaimanakah Islam yang paling baik?' Nabi SAW menjawab: 'Memberi makan (orang-orang miskin), mengucapkan salam kepada orang yang engkau kenal dan orang yang tidak engkau kenal.'"

Penjelasan Hadits
Kita lihat pertanyaan ini hampir sama dengan pertanyaan sahabat Nabi pada hadits ke-11. Bedanya, hadits ke-11 menggunakan kata "afdhal" dan pada hadits ini menggunakan kata "khair". Menurut Al-Karmani, afdhal (lebih utama) berarti yang paling banyak pahalanya, dan khair (baik) berarti banyak manfaatnya. Kata yang pertama berkenaan dengan kuantitas, kata kedua berkenaan dengan kualitas.

Akan tetapi, jawaban yang diambil oleh Ibnu Hajar Al-Asqalani tentang berbedanya jawaban pada dua hadits yang berurutan ini bukan pada perbedaan kata itu. Artinya, baik khair maupun afdhal, keduanya bisa bermakna sama. Yang membedakan perbedaan jawaban Rasulullah adalah berbedanya orang yang bertanya dan para pendengarnya. Rasulullah bermaksud memberikan jawaban yang paling tepat bagi orang yang bertanya. Yang tidak lain merupakan celah bagi orang itu untuk memperbaiki dirinya agar menjadi lebih sempurna.

تُطْعِمُ الطَّعَامَ
Memberi makan

Maksudnya adalah, memberi makan kepada fakir miskin dan orang-orang yang membutuhkan. Berarti pula menjamu tamu. Dalam pengertian yang lebih luas, keislaman yang baik itu adalah yang memiliki kepekaan terhadap problem sosial, khususnya kesejahteraan. Ini sangat diperhatikan oleh Islam. Sebab Islam adalah agama yang sempurna. Bukan hanya mengatur hubungan dengan Allah, melainkan juga memberikan kemanfaatan kepada sesama. Menolong kaum dhuafa', mereka yang lemah. Bentuk sederhananya adalah memberi makan, bentuk luasnya adalah meningkatkan kesejahteraan sesama. Subhaanallah, betapa tingginya nilai humanisme Islam.

تَقْرَأُ السَّلاَمَ عَلَى مَنْ عَرَفْتَ وَمَنْ لَمْ تَعْرِفْ
mengucapkan salam kepada orang yang engkau kenal dan orang yang tidak engkau kenal

Sebab Islam adalah agama kedamaian. Salam merupakan simbol perdamaian. Orang lain didoakan supaya selamat setiap bertemu dan berpisah. Saling mendoakan adalah bentuk merealisasikan perdamaian. Ia juga melahirkan kedamaian dan ketentraman, baik bagi yang mengucapkan maupun yang diucapkan salam padanya. Ini sisi humanisme Islam yang lain.

Hebatnya lagi, Rasulullah menganjurkan umatnya untuk mengucapkan salam pada siapa saja baik yang dikenal maupun yang tidak dikenal. Khususnya dalam masyarakat Islam. Jadi, bila tidak ada kekhawatiran yang signifikan bahwa orang yang dihadapi adalah non muslim, Rasulullah menganjurkan untuk mengucapkan salam. Kenal ataupun tidak kenal.


Pelajaran Hadits
Pelajaran yang bisa diambil dari hadits ini diantaranya adalah:
1. Islam memiliki nilai humanisme yang sangat tinggi. Sebab Islam bukan hanya mengatur hubungan kepada Allah, melainkan juga pada sesama.
2. Memberikan makan kepada fakir miskin dan upaya meningkatkan kesejahteraan mereka merupakan salah satu ajaran Islam yang sekaligus menunjukkan betapa tingginya humanisme Islam;
3. Muslim hendaknya menciptakan kedamaian di manapun ia berada. Menyebarkan salam kepada siapapun, baik yang dikenal maupun tidak adalah bagian dari upaya ini, sepanjang tidak dikhawatirkan mereka itu orang kafir;
4. Rasulullah adalah teladan terbaik yang sangat luar biasa. Beliau menjawab pertanyaan dengan jawaban yang paling tepat sesuai dengan kebutuhan penanya.


Demikian hadits ke-12 Shahih Bukhari dan penjelasannya, semoga bermanfaat untuk menambah pemahaman Islam kita, memotivasi kita untuk memperbaiki kualitas keislaman kita, hingga menjadikan kita termasuk muslim yang baik dan banyak manfaatnya. Wallaahu a'lam bish shawab. []

KEMBALI KE HADITS 11
17:00 | 2 komentar

Yang Paling Dicintai Nabi Ternyata Orang-orang yang Paling Cerdas


"Siapakah orang yang paling engkau cintai, wahai Rasulullah?" tanya seorang sahabat suatu ketika. "Aisyah", jawab Sang Nabi. "Kalau dari kalangan laki-laki?" tanyanya lagi. "Ayahnya"

Tentang ayah Aisyah, kita telah mengetahui betapa cerdasnya ia. Bukan hanya soal kecerdasan iman yang tidak pernah dihinggapi keraguan. Selalu membenarkan apapun yang disampaikan Sang Nabi. Bukankah kecerdasan tertinggi ketika sudah memahami Muhammad adalah Rasulullah, maka segala hal yang disampaikannya dari Allah dan dijamin kebenarannya?! Maka ash-shidiq pun menjadi gelarnya.

Abu Bakar juga memiliki kecerdasan finansial yang luar biasa. Memperoleh kekayaan dengan mudah, dan menginfakkannya di jalan Allah dengan mudah. Tidak sulit baginya menggenggam harta, tetapi tidak pernah mengizinkan harta berdiam dalam jiwanya. Ia telah sukses menceraikan dunia dari hatinya. Hidup pun bebas dari ketakutan dan ketamakan. Jadilah ia kaya hati kaya materi.

Jika Abu Bakar adalah potret ideal kecerdasan finansial, Aisyah menjadi ikon kecerdasan intelektual. Dan keduanya adalah teladan sempurna dalam kecerdasan iman.

Selama ini kita mungkin akrab dengan popularitas Aisyah sebagai penghafal hadits. Itu salah satu bukti kecerdasannya. Ummul mukminin yang sering dipanggil Sang Nabi dengan humaira ini meriwayatkan 2.210 hadits. Ia hanya kalah dari Abu Hurairah yang meriwayatkan 5.374 hadits, Ibnu Umar dengan 2.630 hadits, dan Anas bin Malik 2.286 hadits.

Ketiga sahabat itu menjadi lebih banyak haditsnya karena memiliki kesempatan yang tidak dimiliki Aisyah. Abu Hurairah, misalnya, ia selalu mendampingi Rasulullah ke mana pun beliau pergi. Mulazamah, istilahnya. Sedangkan Aisyah tidak banyak bepergian bersama Sang Nabi. Hanya beberapa kali ketika beliau diajak. Biasanya yang kita ingat adalah saat perang Bani Musthaliq, dengan haditsul ifki yang menduka namun berakhir mulia.

Menjadi periwayat hadits berarti memiliki kekuatan hafalan yang luar biasa. Namun menjadi fuqaha di kalangan sahabat berarti memiliki daya ijtihad; menggenapi kekuatan hafalan dengan analisa, pengetahuan problematika umat secara kolektif maupun personal, dan kebijaksanaan ketika memilih jawaban yang paling tepat. Menjadi keduanya adalah gambaran kecerdasan tingkat tinggi. Dan, Aisyah memilikinya. Maka Abu Musa Al-Asy'ari memberi kesaksian: "Ketika kami, sahabat-sahabat Rasulullah menghadapi kesulitan dalam memahami suatu hadits lalu bertanya kepada Aisyah, maka kami pasti mendapatkan pemecahannya." Senada dengan itu Atha' menegaskan: "Aisyah adalah wanita yang paling faqih dan paling baik pendapatnya dalam persoalan-persoalan yang menyangkut masyarakat umum."

Hafalan banyak, juga menjadi fuqaha. Para sahabat dan tabi'in tidak heran. Tetapi suatu ketika, saat membicarakan bidang ilmu berbeda, Urwah mewakili tabi'in lainnya. "Wahai ibunda, aku tidak heran dengan pemahamanmu yang mendalam tentang masalah-masalah agama. Bagaimana tidak, engkau adalah istri Nabi SAW dan putri Abu Bakar. Aku juga tidak heran dengan pengetahuanmu yang luas tentang puisi. Bagaimana tidak, engkau putri Abu Bakar yang dikenal menguasai pengetahuan sosial masyarakat Arab. Tapi..." kata Urwah melanjutkan dengan raut muka kekaguman, "aku heran dengan pengetahuanmu tentang ilmu kedokteran. Bagaimana hal ini bisa terjadi dan dari mana engkau mempelajarinya?"

"Wahai Urwah", jawab Aisyah sambil menepuk pundak Urwah, "Rasulullah sakit cukup lama di masa terakhir hidupnya. Saat itulah banyak delegasi dari berbagai kabilah Arab yang menemui beliau, lalu mereka menjelaskan beberapa obat untuk membantu kesembuhan Nabi. Dan, akulah yang mempraktikannya untuk mengobati beliau. Dari sana aku belajar ilmu kedokteran."

Metode belajar yang mirip ditempuhnya pula dalam bidang sastra. Ketika para pemimpin kabilah datang kepada Sang Nabi dengan kalimat-kalimat terbaik mereka, Aisyah menemukan polanya. Kaidah-kaidah sastra didapatkannya dari contoh-contoh syair dan pidato mereka.

Jika dalam sastra Aisyah sudah menerapkan metode induktif, dalam keseluruhan bidang ilmu ia memiliki kecepatan belajar yang luar biasa. Ia melampaui accelerated learning dan quantum learning, bahkan sebelum keduanya dikenalkan oleh Colin Rose dan Bobbi de Porter beberapa abad kemudian. Dengan kecerdasannya, jadilah Aisyah menyejarah. Sekaligus memberikan pondasi prinsip bagi generasi muslimah sesudahnya: Dalam keilmuan, tidak boleh menjadi nomor dua karena alasan "aku dilahirkan sebagai wanita". [Muchlisin]
13:00 | 6 komentar

Biadab, Pemukim Yahudi Bakar Masjid Lagi


Pemukim Yahudi kembali membakar masjid. Fajar waktu setempat, masjid Al-Anbiya' di desa Bait Fajr, di tepi Barat dibakar oleh sejumlah pemukim Yahudi. Masjid ini tercatat sebagai masjid kedelapan belas yang dibakar oleh Israel.

HAMAS dan sejumlah organisasi Islam di Palestina mengutuk aksi ini. Dan menyatakan pembakaran masjid merupakan serangan ganas pada kesucian Islam.

Sejumlah sumber melaporkan bahwa sejumlah pemukim Yahudi menyerbu Masjid Al-Anbiya' pada waktu Subuh. Mereka membakar karpet masjid dan sejumlah Al-Qur'an.

Kepala Desa Bait Fajr Ali Thawabth menyatakan bahwa enam pemukim yang datang dengan mengendarai mobil pada jam setengah tiga pagi hari, menyerbu masjid dan membakarnya. "Ini adalah pertama kalinya pemukim menyerang masjid desa ini," katanya.

Para pemukim Yahudi meninggalkan kata-kata "Masjid No 18, yang membakar" setelah membakar masjid Al-Anbiya'. Sebelumnya pemukim Yahudi telah membakar masjid-masjid di Desa Burin di Tepi Barat utara, juga di Hebron. [AN/Jzr]
08:00 | 7 komentar

Kaya Hati Kaya Materi

Written By Admin BeDa on Senin, 04 Oktober 2010 | 14:00


Hari itu Abu Bakar kembali mencatat prestasi yang tidak bisa dilampaui Umar, apalagi orang lain. Sahabat Nabi bergelar Ash-Shidiq ini menginfakkan seluruh hartanya untuk jihad kali ini; perang Tabuk.

Meski demikian, sejarah tidak pernah mencatat Abu Bakar jatuh miskin, pailit, apalagi dikejar-kejar utang. Abu Bakar tetap diabadikan sejarah sebagai orang kaya. Saudagar besar yang dermawan. Yang kekayaannya selalu membawa kemanfaatan bagi umat. Hartanya yang banyak menopang jihad, menguatkan perjuangan. Ia tidak bermewah-mewahan dengan hartanya. Ia tetap sederhana dalam kekayaannya.

"Dua perangkap terbesar dalam hidup itu adalah", kata ayah yang kaya saat mengajari Robert T. Kiyosaki dan Michael, " ketakutan dan ketamakan."

"Takut hidup tanpa uang memotivasi kita untuk bekerja keras dan kemudian setelah menerima slip gaji, ketamakan mengajak kita untuk mulai berpikir tentang semua hal indah yang bisa dibeli dengan uang."

Orang-orang seperti itu hidup dengan membentuk pola: bangun, bekerja, membayar tagihan. Bangun, bekerja, membayar tagihan. Ketika mendapatkan uang lebih banyak, mereka meneruskan siklus itu dengan meningkatkan pengeluaran. Dan mereka –selamanya- terjebak dalam lingkaran menyesakkan: takut tidak punya uang, sekaligus tamak untuk menggunakan ketika memilikinya. Hutang kemudian menghantui kehidupan mereka. Kalaupun dengan bekerja keras kemudian menjadi kaya, ia tetap dihantui rasa takut. Ketenangan jiwa terenggut. "Inilah yang saya sebut perlombaan tikus", kata ayah yang kaya, yang menjadi inspirator Robert T. Kiyosaki menjadi investor kaya dan pakar marketing dunia.

Apa yang dicontohkan Abu Bakar 1422 tahun yang lalu bukan saja jauh mendahului teori Rich Dad, Poor Dad. Namun itu juga teladan dan amal generasi Islam terbaik. Kecerdasan finansial yang sempurna telah dipraktikkan Abu Bakar. Mudah memperoleh kekayaan, dan mudah pula menginfakkannya. Tidak ada ketakutan tidak punya uang. Tidak ada ketakutan jatuh dalam kemiskinan. Juga tidak ada kata tamak dalam kamus Abu Bakar. Harta dalam genggaman tangan, bukan menghuni hati.

Kemampuan mendapatkan kekayaan dengan mudah dan kerelaan menginfakkannya adalah dua keterampilan utama dalam kecerdasan finansial. Keduanya sekaligus menjadikan seseorang kaya hati kaya materi.

Masalahnya adalah, keduanya sangat sulit dimiliki oleh sebagian muslim hari ini. Mungkin termasuk saya dan Anda. Entahlah, mengapa dulu para ulama tidak membukukan teori mendapatkan kekayaan dengan mudah ala Abu Bakar, atau Umar, Utsman, dan Abdurrahman bin Auf. Lalu kita tidak gagap dengan serbuat teori Barat yang disodorkan Napoleon Hill, Robert T. Kiyosaki, dan sebagainya. Namun menyalahkan generasi terdahulu karena keterputusan ilmu adalah masalah di atas masalah. Karena sesungguhnya, masalahnya ada pada diri kita, bukan pada orang lain. Dengan demikian, tidak ada kata terlambat untuk belajar mendapatkan kekayaan dengan mudah. Ikhtiar mendapatkan sebanyak-banyaknya harta yang halalan thayyibah bukan sesuatu yang dilarang.

Jika keterampilan pertama tidak kita miliki, tidak berarti itu jaminan keterampilan kedua ada pada kita. Ia sama sulitnya. Bahkan lebih sulit. Mungkin kita beralasan, andaikan kita kaya, kita infaq sebanyak-banyaknya. Andaikan kita investor atau pengusaha kaya raya, kita shadaqah dengan nilai yang luar biasa. Kita tidak sadar, bahwa kata "andaikan" telah menjadi senjata syetan dalam mengalahkan kita. Menggelincirkan kita dalam angan-angan, menjauhkan kita dari amal.

Sahabat yang lain memberi kita teladan pada keterampilan kedua ini. Ia sehari-hari bekerja membuat keranjang. Dari modal 1 dirham, ia jual keranjangnya 3 dirham. 1 dirham untuk nafkah keluarga. 1 dirham menjadi modal untuk esok hari. Dan 1 dirham lagi ia infakkan; hari ini juga. Nama sahabat itu Salman Al-Farisi.

Mungkin kita memandang kecil infaq Salman Al-Farisi yang hanya hitungan dirham. Tetapi jika diakumulasikan setahun, bahkan sepanjang usianya, betapa luar biasa infaq Salman Al-Farisi ini. Infaqnya setara dengan kebutuhannya. Kita jadi merenung, kalau satu bulan kita menghabiskan 1 juta untuk kebutuhan kita, apakah bisa kita infaq 1 juta pula setiap bulannya? Subhaanallah. Belum lagi, saat itu ia menjabat Gubernur dan tidak mau mengambil gajinya. Semuanya ia infakkan.

Jika Abu Bakar mengeluarkan infaq besar yang luar biasa dan Salman Al-Farisi mengeluarkan infaq rutin yang istiqamah setiap harinya, keduanya mengajarkan hal yang sama: kesuksesan finansial. Potret ideal umat ini. Bebas ketakutan. Bebas ketamakan. Kaya hati kaya materi. Lalu, maukah kita berupaya ke sana? Ya Allah, mudahkanlah... [Muchlisin]
14:00 | 6 komentar

Dalam Bingkai Iman, Warna-warni Menjelma Pelangi

Written By Admin BeDa on Jumat, 01 Oktober 2010 | 15:00


Insiden Tarakan masih menyisakan trauma. Meski tak sebesar konflik antaretnis di Sambas, Ambon, atau Sampit. Dan memang selayaknya kasus Tarakan tidak dikategorikan konflik antaretnis.

Kaca mata sosiologi memberikan kita sebuah persepsi. Bahwa ketika penduduk lokal atau penduduk asli “terkalahkan” secara ekonomi dan politik, yang terjadi adalah kecemburuan. Kecemburuan sosial membangkitkan konsolidasi. Konsolidasi yang dibangun di atas kesamaan status. Kesukuan. Dalam terminologi Islam, ashobiyah.

Berangkat dari ashobiyah, sedikit saja gesekan bisa memantik api permusuhan. Laksana korek api yang menyulut kebakaran. Mencipta kobaran yang sulit dipadamkan.

Jika yang menjadi nilai adalah materi, maka penduduk asli ataupun pendatang memiliki peluang yang sama dalam mengoyak persatuan dan kebersamaan. Jika yang dikedepankan emosi dan ambisi duniawi, penduduk asli punya satu tekad: menjadi tuan di tanah sendiri. Sementara pendatang juga punya semangat: menjadi raja di rantau. Tekad yang bisa dikelola menjadi pemicu prestasi dalam kompetisi yang sehat, tetapi lebih mudah menjelma benalu dalam pohon persatuan umat.

Namun kita memiliki warisan sejarah agung yang mengagumkan! Orang-orang Yatsrib adalah penduduk asli ketika kota itu berubah nama menjadi Madinah. Sedangkan orang-orang Makkah yang datang ke sana adalah pendatang. Yang pertama disebut anshar karena hakikatnya mereka adalah para penolong agama Ilahi, Nabi dan pengikut Sang Nabi. Yang kedua kita kenal dengan gelar muhajirin karena mereka meninggalkan negerinya demi agama tercinta; tanpa kejelasan masa depan.

Penduduk asli dan pendatang. Namun tiba-tiba keduanya menjadi saudara. Lebih dekat dari saudara kandung, lebih erat dari pertalian darah. Yang ada hanya ukhuwah. Kalaupun ada pertikaian kecil, itu hanya deburan ombak yang menjadikan perjalanan kapal di samudera semakin indah.

Muhajirin yang pendatang itu kelak –sebagiannya- menjadi orang-orang yang sejahtera. Bahkan melebihi anshar yang penduduk asli. Sebab orang Makkah memiliki keahlian bisnis, dan orang Madinah cakap dalam pertanian.

Bukan hanya aspek ekonomi. Dalam politik, muhajirin-lah yang kemudian menjadi khalifah. Semua khulafaur rasyidin: Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali; semuanya muhajirin. Namun mereka dipilih justru setelah disepakatinya muhajirin lebih mulia; karena keimanan dan perjuangan. Bukan pertimbangan penduduk asli atau pendatang. Maka sejak awal kecemburuan sosial itu hilang.

Apa kuncinya? Sebab iman yang menjadi dasar. Iman yang menjadi imam dalam pengambilan keputusan. Juga menyetir segala logika dan perasaan. Maka interaksi anshar dan muhajirin hanya persaudaraan. Dari iman, kokohlah ukhuwah. Sebaliknya, tanpa iman, ukhuwah hanyalah tali lapuk yang mudah patah. Itu maksud yang bisa kita tangkap dari adanya adatul hashr “innamaa” pada ayat “innamal mu’minuuna ikhwah”. Dan karena iman itulah, sambutan penduduk asli kepada pendatang takkan keluar dari kalimat: uhibbukum fillah. Demikian pula sebaliknya. [Muchlisin]
15:00 | 9 komentar

NATO Salah Tembak Lagi, 3 Tentara Pakistan Tewas


NATO salah tembak lagi. Sejumlah helikopter Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) Kamis kemarin (30/9) membombardir sebuah pos pemeriksaan paramiliter Pakistan. 3 tentara Pakistan tewas dan 3 lainnya terluka akibat serangan tersebut.

Insiden salah tembak akhir-akhir ini semakin sering terjadi di Afghanistan. Insiden Kamis ini merupakan salah tembak keempat dalam pekan ini. Insiden sebelumnya yang cukup populer terjadi pada tanggal 6 dan 7 Juli lalu. Saat itu, dua hari berturut-turut NATO salah tembak, menewaskan 11 orang tentara dan warga Pakistan.

Pemerintah Pakistan melayangkan protes resmi kepada NATO sebagai bentuk kemarahan atas insiden ini.

"Serangan Kamis pagi itu adalah serangan yang tak beralasan. Helikopter-helikopter NATO memasuki wilayah udara kami dan mentargetkan serangan pada satu pos pemeriksaan militer, menewaskan tiga tentara dan melukai tiga lainnya," kata seorang pejabat senior keamanan Pakistan.

Bentuk protes lain yang diambil Pakistan atas insiden salah tembak itu adalah menutup jalur Khyber -jalur utama pasokan bahan makanan dan bahan bakar bagi pasukan AS dan NATO di Afganistan- serta untuk pertama kalinya menghentikan konvoi pasokan NATO yang akan memasuki Afganistan melalui wilayah Pakistan.[AN/Skr]
09:00 | 1 komentar

Masukkan alamat e-mail untuk mendapatkan up date Bersama Dakwah