Assalaamu'alaikum ,  Ahlan wa Sahlan  |  Facebook  |  Twitter  |  Pasang Iklan

Lebih Dari 1.000 Aktifis Ikhwan Ditangkap Menjelang Pemilu Mesir Hari Ini

Written By Admin BeDa on Minggu, 28 November 2010 | 16:00


Menjelang pemilihan umum parlemen yang jatuh pada hari ini (28/11), lebih dari 1.000 aktifis Ikhwan ditangkap aparat kemananan. Pihak pemerintah berdalih anggota Ikhwan mengganggu ketertiban umum.

Ditengarai, penangkapan itu tidak lain untuk menjegal kemenangan lebih besar yang bias dicapai Ikhwan pada pemilu kali ini.

Meskipun secara resmi Ikhwan tidak diperbolehkan ikut pemilu, tetapi pada pemilu sebelumnya kader-kader Ikhwan banyak yang mencalonkan diri lewat jalur independen dan terbukti efektif meraih suara. Ketokohan kader Ikhwan itu seakan menjadi magnet sehingga Ikhwan meraih lebih dari 40 kursi.

Pada pemilu hari ini Ikhwanul Muslimin dalam pemilu ini mengajukan sekitar 134 anggotanya sebagai calon independen. Mereka bersaing dengan 4.553 calon anggota legislatif lainnya dalam memperebutkan 508 kursi parlemen dari sekitar 41 juta pemilih tetap yang telah diumumkan.[AN/bsb]
16:00 | 1 komentar

Fenomena Takabur

Written By Admin BeDa on Sabtu, 27 November 2010 | 18:00

Setelah mengetahui definisi takabur dan faktor-faktor penyebabnya, ada baiknya kita memperhatikan fenomena takabur yang dapat diindikasikan dalam hal-hal berikut ini:

1. Bersikap angkuh ketika berjalan
Diantara fenomena takabur yang mudah dilihat adalah keangkuhan dalam berjalan. Biasanya ditandai dengan mendongakkan kepada atau memalingkan muka; pura-pura tidak melihat orang lain.

Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. (QS. Luqman : 18)

2. Gaya bicara yang dibuat-buat (sok)
Fenomena takabur yang lain terindikasi dari gaya bicara yang tidak alami. Dibuat-buat untuk mengesankan dirinya memiliki kelebihan dan keutamaan dibanding orang lain, atau dengan tujuan agar tampak kemuliaannya sehingga orang lain menghormati dan merasa lebih rendah dari dirinya.

Sesungguhnya Allah murka kepada orang yang keterlaluan menjulur-julurkan lidahnya dalam berbicara sebagaimana seekor sapi betina yang menjulurkan lidahnya. (HR. Ahmad)

Maukah kalian aku beritahukan seorang yang paling buruk diantara kalian? Yaitu orang yang banyak berbicara tanpa menggunakan pikirannya. (HR. Ahmad)

3. Menyukai penghormatan orang lain dan tidak suka jika mereka bersikap biasa-biasa saja
Orang yang takabur merasa dirinya besar; lebih tinggi dari pada orang lain. Konsekuensinya, jika orang lain menyatakan setuju dengan anggapannya itu, ia semakin berbangga. Sementara jika orang lain tidak memposisikannya sebagai orang yang lebih mulia, ia membenci orang itu.

Dalam kasus keseharian, ketika orang takabur datang ke sebuah majlis atau pertemuan dan orang-orang berdiri menyambutnya sebagai tanda hormat, ia akan suka dan merasa makin besar. Sedangkan jika orang lain biasa-biasa saja, ada ketidaksukaan yang mendongkol dalam hatinya.

Demikian pula jika ia lewat, lalu orang-orang menyapa atau berdiri memberi hormat, ia akan suka. Sebaliknya, jika orang lain tidak bereaksi ketika ia lewat, ia pun memendam kebencian atas sikap itu.

Rasulullah SAW bersabda tentang fenomena seperti ini:
Barangsiapa yang suka jika orang berdiri menyambut kedatangannya, maka bersiaplah untuk menempati tempatnya kelak di neraka. (HR. Abu Dawud)

4. Tidak mau mendengar nasihat orang lain meskipun benar
Orang yang takabur juga terindikasi dari sikapnya yang tidak mau mendengarkan pendapat orang lain. Ia merasa pendapatnya yang paling benar. Idenya yang paling baik. Usulnya yang paling cerdas. Rencananya yang paling akurat. Pemikirannya yang paling brilian.

Kita perlu berhati-hati sebab ini juga bisa terjadi ketika syura (musyawarah). Meskipun pendapat orang lain benar dan ia menyadarinya, tetapi ia tetap bertahan dengan pendapatkan dan memaksa hatinya untuk tetap meyakini pendapatnya yang paling baik serta memaksakan pendapat itu pada orang lain. Sebab bagi orang yang takabur, kekalahan dalam argumentasi berarti jatuhnya harga diri. Terlebih, jika pendapat itu berasal dari orang lain yang secara status sosial maupun pertimbangan dunia lainnya dianggap lebih rendah darinya. Usia, senioritas, bahkan pengetahuan keagamaan bisa masuk dalam kategori ini. Sehingga orang yang takabur tak mau pendapatnya dikalahkan oleh orang yang lebih muda, lebih junior, bahkan lebih sedikit pengetahuan agamanya (dalam aspek kognitif).

Dan jika dikatakan kepadanya, “Bertaqwalah kepada Allah”, bangkitlah kesombongannya yang mengakibatkannya berbuat dosa… (QS. Al Baqarah : 204)

5. Senang tampil mendahulu orang lain
Fenomena takabur kelima ini tidak sama dengan semangat fastabiqul khairat, meskipun kadang-kadang bedanya tipis dan tak ada yang dapat memastikannya karena ini urusan hati. Namun jika seseorang senang berjalan di depan orang lain, senang menyela pembicaraan orang lain, dan senang bicara maupun tampil terlebih dahulu yang dengan itu ia merasa lebih besar, lebih mulia, dan lebih tinggi maka itulah takabur.

6. Berbuat kerusakan ketika ada kesempatan
Pada akhirnya, orang yang takabur akan melakukan kerusakan ketika tiba suatu kesempatan. Entah kerusakan itu hanya berakibat pada satu orang, masyarakat, jamaah, maupun negara dan umat. Tergantung seberapa besar kapasitasnya merusak dan kesempatan yang bisa ia gunakan.

Dan diantara manusia ada orang yang ucapannya tentang kehidupan dunia menarik hatimu, dan dipersaksikannya kepada Allah (atas kebenaran) isi hatinya, padahal ia adalah penantang yang paling keras. Dan apabila ia berpaling (darimu), ia berjalan di muka bumi untuk mengadakan kerusakan padanya… (QS. Al-Baqarah : 204)

Demikian sebagian fenomena takabur. Semoga kita bisa bermuhasabah apakah enam hal itu ada pada diri kita. Jika iya, kita renungkan lebih dalam apa yang ada dalam hati kita. Insya Allah kita akan mampu menilai karena Allah membekali kita dengan fitrah-Nya, biidznillah. Jika ada sifat takabur, semoga itu adalah akhir dari penyakit kita dan awal dari masa kesembuhan. Kita beristighfar dan bertaubat kepada-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penerima Taubat. (Bersambung) []
18:00 | 2 komentar

Majalah Times: Erdogan Tokoh Dunia Tahun Ini Kalahkan Obama

Written By Admin BeDa on Rabu, 24 November 2010 | 15:00


Perdana menteri Turki, Recep Tayip Erdogan menempati peringkat pertama dalam jajak pendapat tentang siapa orang yang paling berpengaruh tahun 2010 yang diadakan majalah Times Amerika.

Sementara itu, presiden Amerika, Barak Obama berada pada peringkat ketujuh dalam percaturan politik setelah Erdogan. Polling jajak pendapat ini dilakukan melalui jejaring internet untuk memilih tokoh dunia tahun ini, diantara 25 tokoh yang diajukan. Diantara tokoh yang disebutkan paling berpengaruh tahun ini adalah Erdogan, Obama, David Cameron, Hamid Karzai dan para penambang dari Chili.

Sementara itu, majalah Foreign Affairs Amerika menyandangkan gelar untuk Erdogan dengan sebutan “Raja Dunia Islam”. Dalam laporanya dari Turki dalam edisi terakhir yang ditulis seorang peneliti masalah-masalah Timur Tengah yang kini tinggal di Washington menyebutkan, Kekhilafahan Utsmani jatuh akibat kegagalan Turki yang tak mampu mengendalikan pihak Islam dengan identitas dalam negerinya yang khas dengan pihak nasionalis sekuler yang diusung oleh pihak luar. Maka partai Keadilan dan Pertumbuhan berhasul menyeimbangkan berbagai kekuatan ini yang membuat Turki kembali berperan dalam kancah internasional.

Para pewarits Kemal Atatruk sebagai founding father Negara sekuler Turki mulai mencium bahwa partai Keadilan dan Pertumbuhan mempunyai akar Islam yang kuat hingga sampai ke tampuk pemerintahan tahun 2002. Partai ini kemudian bekerja untuk memulihkan harga diri Islam di Turki. Sementara yang lain melihat partai ini mungkin belum tersentuh dengan budaya Barat. Sebagian lain menilai Turki akan menjadi modil demokrasi Islam. [asy, InfoPalestina]
15:00 | 4 komentar

Hadits 14: Mencintai Rasul-Nya Melebihi Anak dan Orang Tua

Written By Admin BeDa on Selasa, 23 November 2010 | 17:00


Pembahasan hadits Shahih Bukhari kini memasuki hadits yang ke-14, biidznillah. Pembahasan hadits ke-14 ini kita beri judul “Mencintai Rasul-Nya Melebihi Anak dan Orang Tua”. Judul ini hanya untuk memudahkan saja. Imam Bukhari memberikan judul bab untuk hadits ini dan setelahnya dengan kalimat “Mencintai Rasulullah sebagian dari Iman”.

Tentu, maksud pemberian judul yang berbeda ini bukan untuk menyelisihi Imam Bukhari. Bahkan perbedaan dengan matan hadits ke-14 yang didahului dengan orang tua dulu baru anak, sedangkan pada judul pembahasan ini mendahulukan anak dulu baru orang tua juga tanpa maksud apa-apa selain memperindah bahasa agar lebih enak kita baca dalam bahasa Indonesia. Pada hadits yang lain nanti kita akan menjumpai lafazh anak didahulukan sebelum orang tua.

Langsung saja, berikut matan hadits ke-14 Shahih Bukhari:

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ - رضى الله عنه - أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - قَالَ فَوَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ

Dari Abu Hurairah r.a. ia berkata, “Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda, “Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidak sempurna keimanan seseorang dari kalian sampai ia mencintai aku melebihi kedua orang tuanya dan anaknya.”

Penjelasan Hadits

قَالَ فَوَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ

Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya

Rasulullah mengawali sabdanya dengan sumpah. Ini menunjukkan bahwa apa yang akan disampaikan beliau benar-benar sangat penting. Orang yang mendengar sumpah Rasulullah perlu memperhatikan dengan ekstra bahwa ada taklimat atau instruksi yang khusus dan istimewa. Termasuk dalam hadits ini. Ibnu Hajar berdalil dengan hadits ini untuk memperbolehkan sumpah terhadap sesuatu dengan niat menguatkannya.

Siapakah Dzat yang jiwa Rasulullah berada di tangan-Nya? Dzat itu tidak lain adalah Allah. Kadang kita jumpai terjemahan yang kurang tepat dalam bahwa Indonesia dengan mengartikannya menjadi “demi jiwaku yang berada dalam kekuasaan-Nya”. Padahal kita dilarang untuk bersumpah dengan selain Allah.

لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ

tidak sempurna keimanan seseorang dari kalian

Sebagaimana dijelaskan dalam hadits sebelumnya, arti kalimat ini adalah “tidak sempurnya keimanan seseorang”. Makna kesempurnaan iman lebih tepat dari pada sahnya iman. Sebab jika yang dimaksud hadits ini adalah sahnya iman, yang berarti hilangnya iman atau menjadi kafir ketika kecintaan kepada Rasulullah tidak sempurna maka sungguh sedikit orang yang beriman. Sebagian besar muslim dituduh kafir dengan kurangnya kecintaan kepada Rasulullah. Ini bisa menjadi sebab takfir yang berbahaya.

حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ

sampai ia mencintai aku melebihi kedua orang tuanya dan anaknya

Inilah cinta yang dituntut dari seorang mukmin agar keimanannya sempurna. Ia harus mencintai Rasulullah melebihi kecintaannya pada orang tua dan anak. Mengapa disebutkan orang tua dahulu baru anak? Ibnu Hajar Al-Asqalani berpendapat karena setiap orang pasti memiliki orang tua, namun tidak semua orang memiliki anak. Urutan penyebutan ini berbeda dengan hadit berikutnya. Pada hadits lainnya, anak didahulukan melebihi orang tua. “Karena,” kata Ibnu Hajar Al Asqalani melanjutkan, “umumnya orang lebih mencintai anak dari pada orang tua.”

Hadits ini singkat, tetapi sangat berat pengamalannya. Seorang mukmin harus mencintai Rasulullah melebihi orang tua dan anaknya. Jika cinta kepada orng tua melahirkan hormat serta bakti, dan cinta kepada anak berarti memenuhi permintaan-permintaannya, maka cinta kepada Rasulullah harus lebih hebat dari pada itu. Cinta kepada Rasulullah melebihi kecintaan kepada orang tua berarti mentaati Rasulullah melebihi kepatuhannya kepada orang tua. Pun demikian dengan cinta Rasulullah yang melebihi kecintaan kepada anak berarti menjalankan sunnah-sunnah Rasulullah melebihi bersegeranya ayah memenuhi permintaan anak-anaknya.

Pelajaran Hadits
Diantara pelajaran hadits yang bisa kita ambil dari hadits di atas adalah sebagai berikut:
1. Keimanan bukan hanya bisa hilang atau batal tetapi juga bisa sempurna atau sebaliknya, tidak sempurna;
2. Salah satu syarat sempurnanya iman adalah mencintai Rasulullah melebihi orang tua dan anak;
3. Boleh bersumpah terhadap sesuatu, terutama jika hal itu menyangkut permasalahan yang sangat penting atau perlu dikuatkan dan ditegaskan;
4. Untuk bersumpah harus tetap dengan nama Allah, tidak dengan selainnya.

Demikian penjelasan hadits ke-14 Shahih Bukhari ini, semoga bermanfaat untuk menambah pemahaman serta meningkatkan keimanan kita dengan mencintai Rasulullah SAW secara sempurna. Wallahu a’lam bish shawab.[]

KEMBALI KE HADITS 13
17:00 | 0 komentar

Memupuk Mimpi Buah Hati

Written By Admin BeDa on Senin, 22 November 2010 | 08:00


Merasa menjadi paling realistis, kita kerap membunuh impian anak-anak. Merasa telah banyak makan asam garam kehidupan, kita sering membonsai cita-cita buah hati kita. “Itu mustahil, Nak”, “Cita-citamu itu terlalu tinggi”, “Impianmu itu takkan pernah tercapai”, dan kalimat senada, mungkin pernah kita ucapkan.

Kita mungkin lupa, bahwa komentar-komentar negatif kita tentang cita-cita anak mencipta bekas yang sulit diobati. Kita mungkin tidak sadar, kata-kata meremehkan yang keluar dari lisan kita telah membuat jutaan sel otaknya mati. Jadilah anak tumbuh dalam suasana pesimis. Merasa rendah diri. Tidak pantas melakukan pekerjaan-pekerjaan besar.

Barangkali kita juga tidak ingat, bahwa impian-impian besar anak-anak kita bisa menjadi nyata ketika kita memupuk mimpi-mimpi itu. Mungkin bukan semuanya, tapi salah satunya.

Sewaktu kecil, Vettel mengidolakan “Trio Michael”; Michael Jordan, Michael Jackson, dan Michael Schumacher. Ia ingin menjadi ketiganya; pebasket dunia, penyanyi legendaris, dan pembalap hebat. Ayah Vettel, Norbert, dan ibunya, Heike, tidak ingin mematikan mimpi itu dengan menertawakannya. Mereka memberi ruang agar mimpi Vettel tumbuh dalam jiwanya; menjadi cita-cita, menggerakkan langkah demi langkah untuk mengubahnya menjadi nyata. Meskipun mereka tahu postur Vettel tidak mendukung untuk basket, suaranya juga tidak cukup menjadi modal sebagai penyanyi. Belakangan, Vettel juga menyadarinya. Dari sana impiannya lebih fokus: menjadi pembalap nomor satu!

Bukan sekedar membiarkan impian anaknya tidak mati, Norbert memupuk impian itu agar tumbuh besar. Diantara hal yang paling diingat Vettel kelak adalah hadiah gokar Bambini 60 cc yang diterimanya dari sang ayah saat usianya baru tiga tahun. Vettel bukan hanya mendapat ruang. Ia mendapat dukungan. Ia memperoleh motivasi. Keyakinannya menancap kuat. “Aku pasti bisa!”

Impian yang diucapkan anak kecil lebih dari dua dasawarsa sebelumnya itu menjadi kenyataan seminggu lalu. 14 November 2010, tepat pada usia 23 tahun 134 hari, Sebastian Vettel menjadi juara dunia F1 termuda sepanjang sejarah setelah memenangi balapan di Abu Dhabi. Kini ia juga dijuluki sebagai “Baby Schumi” atau “Michael Schumacher Baru”. Subhaanallah, betapa persis dengan impiannya.

Dunia Islam dewasa ini juga memiliki tokoh besar yang berangkat dari impian di masa kecil. Namanya Ahmad Zewail. Seorang doktor yang menjadi salah satu ilmuwan besar dunia. Pada tahun 1999, DR. Ahmad Zewail meraih penghargaan Nobel bidang kimia. Memaparkan prestasinya, Saudi Aramco World menulis executive summary begini: “Born in the Nile Delta, Ahmed Zewail became the first scientist to record molecules while they were undergoing chemical reactions that take place in a few millions of a billionth of a second. This established the field of femthochemistry and earned him the 1999 Nobel Prize in Chemistry. In November, he was appointed one of the first three us Science Envoys to Middle East.”

Satu hal yang perlu dicatat, sang ibu menumbuhkan dan memupuk impian Ahmad Zewail sejak dini. Yang paling berkesan, sejak masih anak-anak pintu kamar Zewail diberi papan bertuliskan: Kamar DR. Ahmad Zewail. Subhaanallah, betapa impian itu kini menjadi nyata.

Anak-anak kita mungkin memiliki impian yang setara dengan Sebastian Vettel atau Ahmad Zewail. Atau bahkan melebihi itu semua. Berbahagialah. Itu hal yang baik. Semestinya ada. Sangat tidak tepat jika kita justru mewariskan kerdil obsesi yang menjangkiti banyak orang dewasa. Bukankah manusia hanya akan mengusahakan hal-hal yang dianggap mungkin oleh pikirannya? Maka impian tinggi buah hati kita akan meninggikan kualitasnya, insya Allah. “Sesungguhnya,” kata M. Lili Nur Aulia dalam Mimpi-mimpi Besar, “mimpi dan obsesi seseorang yang besar, indikator ia akan menjadi orang yang besar.”

Selama impian itu tidak salah dalam standar keimanan, kita hanya perlu memupuknya. Memotivasinya, mendukungnya, dan memberikan kesempatan kepada anak untuk mencoba. “Ketika kita memberi anak kesempatan untuk mencoba,” M. Fauzil Adhim meyakinkan dalam Saat Berharga untuk Anak Kita, “hasilnya sangat menakjubkan.” Wallaahu a’lam bish shawab. [Muchlisin]

Artikel ini juga dimuat di www.alummahgresik.com]
08:00 | 8 komentar

Rahasia Parenting Nabi Ibrahim

Written By Admin BeDa on Jumat, 19 November 2010 | 10:00


Remaja itu masih berumur belasan tahun. Namun kepribadiannya telah matang. Dewasa. Jauh melampaui usia biologisnya.

Kedewasaan karakter itu tercermin dari logika keimanannya yang sempurna. Maka, begitu tahu bahwa penyembelihan dirinya adalah perintah Allah, ia menjawab dengan tenang: "Hai ayahku... kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar" (QS. Ash-Shaaffaat : 102)

Jika hari ini banyak orang tua yang mengeluhkan anaknya tidak berbakti pada mereka, Ibrahim bukan hanya mendapati Ismail berbakti. Lebih dari itu Ismail pada usia remaja telah membaktikan dirinya tanpa reserve kepada Dzat yang memerintahkan berbakti kepada orang tua. Meskipun nyawa sebagai taruhannya.

Kita mungkin beralasan, bahwa Ibrahim dan Ismail adalah nabi. Tak bisa disamakan dengan manusia biasa. Memang itu benar adanya. Akan tetapi, bukankah salah satu gelar yang dianugerahkan Allah kepada Ibrahim adalah uswatun hasanah? Maka, dalam dunia parenting pun Ibrahim mencatatkan keteladanan bagi umat manusia sesudahnya. Lalu, apa rahasia parenting nabi Ibrahim?

Menjadi Orang Tua yang Baik

Sebelum dianugerahi Ismail, Ibrahim telah menyiapkan diri menjadi orang tua yang baik. Perjuangan melawan penyembahan berhala di masa muda, hingga keteguhannya berdakwah di masa tua mencerminkan keshalihan yang luar biasa. Keimanan yang sempurna juga tampak dari keberaniannya menghadapi bahaya dan kesegeraannya menjalankan perintah Allah tanpa menunda-nunda.

Istrinya yang bernama Hajar juga menyiapkan diri menjadi ibu yang baik. Dengarlah kalimatnya ketika ia bersama Ismail –yang masih bayi- ditingalkan Ibrahim di pegunungan Faran yang kini kita kenal dengan Makkah Al-Mukarramah: “Apakah Allah yang memerintahkan hal ini?” Mendengar jawaban iya dari sang suami, ia menzahirkan keimanan yang kokoh: “Kalau begitu, Allah takkan menyia-nyiakan kami.”

Pendidikan anak yang sukses bukan dimulai setelah anak itu lahir. Apalagi menunggunya sampai usia masuk sekolah. Dalam Islam, pendidikan anak bahkan dimulai sebelum anak itu berada di dalam rahim sang ibu. Karenanya, Rasulullah memerintahkan memilih pasangan hidup karena pertimbangan agama.

"Dengan demikian," kata Abdullah Nasih Ulwan dalam Tarbiyatul Aulad, "pendidikan anak dalam Islam harus dimulai sejak dini. Yakni dengan pernikahan ideal yang berlandaskan prinsip-prinsip yang secara tetap mempunyai pengaruh terhadap pendidikan dan pembinaan generasi."

Lalu bagaimana jika keluarga itu telah terbentuk dengan permulaan yang tidak ideal? Alih-alih membubarkannya, kita hanya perlu memperbaikinya. Masih ada waktu. Jika kita menginginkan anak-anak yang baik, jadikanlah diri kita terlebih dahulu sebagai (calon) orang tua yang baik. Jika kita merindukan anak-anak yang berbakti, jadikanlah diri kita menjadi orang tua yang pantas dihormati dan mendapatkan bakti.

Kekuatan Doa
Jauh sebelum Ismail lahir, Ibrahim selalu berdoa kepada Allah; bukan hanya bermunajat agar dikaruniai anak karena kini ia telah berusia tua, tetapi bermunajat agar dikarunia anak yang shalih. "Ya Rabbi...," demikian doa Ibrahim sebagaimana dicantumkan dalam QS. Ash-Shaaffaat ayat 100, "anugerahkanlah kepadaku (anak) yang termasuk orang-orang yang shalih."

"Doa adalah senjata mukmin," sabda Rasulullah SAW ribuan tahun kemudian. Maka untuk mendapatkan anak yang shalih, senjata itu harus dipakai setiap orang tua muslim. Menjadikan anak menjadi shalih berarti mengubah hati. Sedangkan penguasa hati adalah Allah. Kalau bukan Allah yang mengubahnya, kepada siapa lagi kita menyerahkan urusan yang luar biasa besar ini?

"Banyak orang tua yang berhasil mendidik anaknya bukan karena kepandaiannya mendidik anak," tutur M. Fauzil Adhim dalam Saat Berharga untuk Anak Kita, "tetapi karena doa-doa mereka yang tulus. Banyak orang tua yang caranya mendidik salah jika ditinjau dari sudut pandang psikologi, tetapi anak-anaknya tumbuh menjadi penyejuk mata yang membawa kebaikan dikarenakan amat besarnya pengharapan orang tua."

Bermusyawarah
Inilah tradisi parenting Nabi Ibrahim. Ia mengajak anaknya bermusyawarah, meskipun dalam persoalan kewajiban yang diketahuinya perintah Tuhan. Kita pun kemudian terkenang dengan kalimat Ibrahim yang dikabarkan Al-Qur'an dalam bahasa yang menyentuh: "Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" (QS. Ash-Shaaffaat : 102).

"Ibrahim tidak mengambil anaknya dengan paksa untuk menjadikan isyarat Rabbnya itu hingga cepat selesai," tulis Sayyid Quthb dalam Fi Zhilalil Qur'an ketika menafsirkan ayat ini, "Tapi... menyampaikan hal itu kepada anaknya seperti menyampaikan sesuatu hal yang biasa."

Anak yang biasa dimintai pendapatnya, ia akan merasa dirinya penting dan berharga. Sebuah emosi positif yang sangat mendukung perkembangan kecerdasannya. Anak yang diajak bermusyawarah dan didengarkan apa keinginannya, -kalaupun kurang tepat kemudian diarahkan- akan tumbuh kepercayaan dirinya. Ia menjadi subyek, bukan obyek. Dan itulah yang dilakukan Ibrahim pada Ismail. Wallaahu a'lam bish shawab. [Muchlisin, artikel ini juga dimuat di alummahgresik.com]
10:00 | 8 komentar

Khutbah Idul Adha 1431 H Anis Matta: Jalan Kebangkitan Dan Kepemimpinan Itu Adalah Bekerja Dan Berkorban

Written By Admin BeDa on Senin, 15 November 2010 | 09:00


Alhamdulillah, menjelang Idul Adha 1431 H ini kita mendapatkan naskah Khutbah ustadz Anis Matta. Khutbah Idul Adha 1431 H ini berjudul Jalan Kebangkitan Dan Kepemimpinan Itu Adalah Bekerja Dan Berkorban.

Kita berharap, meskipun di Indonesia terjadi perbedaan waktu hari raya Idul Adha, kita tetap memiliki semangat yang sama. Yaitu semangat bekerja dan berkorban seperti nilai yang terkandung dalam Idul Adha dan kini diungkap dengan luar biasa oleh Ustadz Anis Matta dalam khutbah Idul Adha 1431 H ini. Langsung saja, semoga Khutbah Idul Adha 1431 H ini bermanfaat.

الحمد لله الذي فرض الجهاد على المسلمين.. و جعله مناط عزهم و رفعهم..

اشهد أن لا اله الا الله وحده لا شريك له.. و اشهد أن محمدا عبده و رسوله المبعوث رحمة للعالمين..

اللهم صل و سلم على هذا النبي الكريم.. الذي أدى الأمانة.. و بلغ الرسالة.. و نصح الأمة.. و جاهد فى الله حق جهاده.. و على آل بيته الأطهار.. وأصحابه الأبرار.. الذين آمنوا به.. و صدقوا بما جاء به.. و ساروا على نهجه.. و اقتدوا بسنته.. و على من جاء ممن بعد هم من التابعين و تابعيهم.. و على كل من سار على نهجهم إلى يوم الدين..

فيا معاشر المسلمين.. أوصيكم و اياى نفسى الخاطئة المذنبة بتقوى الله.. فقد فاز المتقون.. وإن العاقبة للمتقين..

ALLAHU AKBAR 3X

Pagi ini memori sejarah kita membuka dirinya kembali, membawa kita pada kenangan ribuan tahun lalu. Pagi ini kita kenang lagi manusia-manusia agung yang telah menciptakan arus terbesar dalam sejarah manusia, membentuk arah kehidupan kita, dan membuat kita semua berkumpul di lapangan besar ini untuk sholat dan berdoa bagi mereka. Pagi ini kita agungkan lagi nama-nama besar itu: Nabi Ibrahim dan istrinya Hajar, Nabi Ismail dan Nabi Muhammad saw.

Bayangkanlah bahwa lebih dari 4000 tahun lalu tiga manusia agung itu – Ibrahim, Hajar dan Ismail – berjalan kaki sejauh lebih dari 2000 km – atau sejauh Makassar Jakarta – dari negeri Syam – yang sekarang menjadi Syria, Palestina, Jordania dan Lebanon – menuju jazirah tandus – yang oleh Al Qur’an disebut sebagai lembah yang tak ditumbuhi tanaman apapun –.

Bayangkanlah bagaimana mereka memulai sebuah kehidupan baru tanpa siapa-siapa dan tanpa apa-apa.Bayangkanlah bagaimana mereka membangun ka’bah dan memulai peradaban baru. Bayangkanlah bagaimana 42 generasi dari anak cucu Ibrahim secara turun temurun hingga Nabi Muhammad saw. membawa agama Tauhid ini dan mengubah jazirah itu menjadi pusat dan pemimpin peradaban dunia.

Bayangkanlah bagaimana Ka’bah pada mulanya hanya ditawafi 3 manusia agung itu, kini setiap tahunnya ditawafi sekitar 5 juta manusia dari seluruh pelosok dunia yang melaksanakan ibadah haji – dan dalam beberapa tahun ke depan akan ditawafi sekitar 12 juta manusia setiap tahun, persis seperti doa Nabi Ibrahim:

رَبَّنَا إِنِّي أَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا الصَّلَاةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ ..

Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah membawa sebagian dari keturunanku untuk tinggal di sebuah lembah yang tak tertumbuhi tanaman apapun, di sisi rumahMu yang suci..Ya Tuhan kami, itu agar mereka mendirikan sholat.. maka penuhilah hati sebagian manusia dengan cinta pada mereka.. (QS. Ibrahim: 37).

Bayangkanlah bagaimana jazirah yang tandus tak berpohon itu dihuni oleh hanya mereka bertiga dan kini berubah menjadi salah satu kawasan paling kaya dan makmur di muka bumi, persis seperti doa Ibrahim:

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَذَا بَلَدًا آَمِنًا وَارْزُقْ أَهْلَهُ مِنَ الثَّمَرَاتِ

Dan ingatlah tatkala Ibrahim berkata: “Ya Tuhanku jadikanlah negeri ini negeri yang aman, dan berilah rezeki kepada penduduknya berupa buah-buahan yang banyak..(QS. Al Baqarah: 126)

Bayangkanlah bagaimana Nabi Ibrahim bermunajat agar lembah itu diberkahi dengan menurunkan seorang nabi yang melanjutkan pesan samawinya, dan kelak Nabi Muhammad saw menutup mata rantai kenabian di lembah itu, lalu kini – 1500 tahun kemudian – agama itu diikuti sekitar 1,6 sampai 1,9 milyar manusia muslim, persis seperti doa Ibrahim:

رَبَّنَا وَابْعَثْ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آَيَاتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُزَكِّيهِمْ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

Ya Tuhan Kami, utuslah untuk mereka sesorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al kitab (Al Quran) dan Al-Hikmah (As-Sunnah) serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana. (QS. Al Baqarah 129)

Bayangkanlah bagaimana – dari sebuah kampung kecil di Irak bernama Azar – Nabi Ibrahim datang seorang diri membawa agama samawi ini, melalui dua garis keturunan keluarga; satu garis dari istrinya Sarah yang menurunkan Ishak, Ya’kub hingga Isa, dan satu garis dari istrinya Hajar yang menurunkan Ismail hingga Muhammad, dan kini setelah lebih dari 4 millenium agama samawi itu – Islam, Kristen dan Yahudi – dipeluk oleh lebih dari 4 milyar manusia.

وَوَصَّى بِهَا إِبْرَاهِيمُ بَنِيهِ وَيَعْقُوبُ يَا بَنِيَّ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَى لَكُمُ الدِّينَ فَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

Dan Ibrahim telah Mewasiatkan Ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’qub. (Ibrahim berkata): “Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, Maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam” (QS. Al Baqarah: 132).

ALLAHU AKBAR 3X

Pagi ini kita kenang lagi perjuangan 4 milenium lalu itu. Dan akan terus kita kenang hingga riwayat kehidupan berakhir saat kiamat datang kelak. Begitulah agar kesadaran sajarah kita tetap terjaga, bahwa;

Pertama, pertumbuhan adalah ciri agama.

Berbagai kerajaan, dinasti, rezim dan imperium datang silih berganti dalam sejarah manusia. Ia lahir, tumbuh besar, berjaya, lalu menua, melemah dan akhirnya mati. Tapi agama yang dibawa Ibrahim datang dan terus bertumbuh tanpa henti hingga kini. Tak ada kekuasaan – sezalim dan setiran apapun ia – yang sanggup menghentikan laju pertumbuhannya. Agama ini membangun kerajaan dalam hati dan pikiran manusia, bukan bangunan megah di atas tanah yang akan segera punah oleh waktu. Agama terus bertumbuh karena memberi arah bagi kehidupan manusia, mengakhiri pencarian akalnya akan kebenaran, kebaikan dan keindahan, serta memenuhi dahaga jiwanya akan cinta, ketenangan dan kebahagiaan. Lihatlah bagaimana doa-doa Nabi Ibrahim menjadi kenyataan satu per satu dan terus menerus sepanjang waktu. Nabi Ibrahim mengajarkan kita sunnatullah yang menjadi hukum sejarah sebagaimana disebutkan dalam Al Qur’an:

فَأَمَّا الزَّبَدُ فَيَذْهَبُ جُفَاءً وَأَمَّا مَا يَنْفَعُ النَّاسَ فَيَمْكُثُ فِي الْأَرْضِ كَذَلِكَ يَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ

Adapun buih itu pasti akan pergi sia-sia. Sedang yang bermanfaat bagi manusia akan bertahan di muka bumi. Demikianlah Allah membuat perumpamaan-perumpamaan.(QS. Ar Ra’du: 17)

Kedua, agama adalah narasi terbesar dalam sejarah manusia.

Arus sejarah yang digerakkan oleh narasi Barat lahir dari ruh Kristiani. Sementara arus sejarah yang digerakkan narasi Timur lahir dari Islam. Jadi di Barat maupun di Timur agamalah yang membentuk semua peradaban besar yang pernah menghiasi lembar-lembar sejarah manusia. Dan selamanya akan terus begitu. Semua pemberontakan manusia untuk keluar dari jalan agama – seperti yang kita saksikan di abad yang lalu melalui gelombang sekularisme dan ateisme, baik atas nama ilmu pengetahuan atau atas nama yang lain – hanya akan berujung dengan kesia-siaan dan kesengsaraan. Lihatlah misalnya bagaimana perang dunia pertama dan kedua mengorbankan sekitar 94 juta nyawa manusia. Pemberontakan itu lahir dari keangkuhan manusia yang terlalu rapuh, disusun oleh akal yang terlalu sederhana untuk melawan kebenaran abadi yang dibawah oleh agama.

اللَّهُ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ..

Allah adalah cahaya langit dan bumi…(QS. An Nuur: 35 )

Ketiga, Islam adalah agama masa depan manusia.

Rasio pemeluk Islam adalah sekitar 1 orang Muslim untuk setiap 1000 penduduk bumi di zaman Nabi Muhammad saw. Kini angka itu berkembang menjadi 1 orang Muslim untuk setiap 5 orang penduduk bumi, termasuk sekitar 100 juta muslim yang menghuni benua Eropa dan sekitar 100 juta muslim yang menghuni China daratan.

Semua perang yang ditujukan untuk merusak citra agama ini – seperti label fundamentalisme dan terorisme – demi mencegah manusia memeluknya tidak akan sanggup mencegah pertumbuhan dan penyebarannya, bahkan di jantung sekularisme seperti Eropa dan Amerika.

Sementara itu semua sistem dan ideologi lain mulai bangkrut satu per satu seperti komunisme. Dan kini kapitalisme pun sedang menyusul secara perlahan dan pasti. Semua sistem dan ideologi itu tidak akan mampu memenuhi tuntutan dan dahaga manusia akan kebenaran, keadilan dan kebahagiaan. Dunia membutuhkan pencerahan baru, dan hanya Islamlah yang bisa membawa cahaya. Dunia membutuhkan sumber solusi, dan hanya Islamlah yang bisa menawarkan jalan keluar.

ليبلغن هذا الأمر ما بلغ الليل و النهار ..

Urusan (agama) ini pasti akan menjangkau seluruh manusia, sepanjang siang dan malam menjangkau (seluruh pelosok bumi). (HR. Ahmad, Hakim, Baihaqi, dan Thabrani)

Keempat, bekerja dan berkorban adalah tradisi kebangkitan dan kepemimpinan.

Bekerja itu seperti menanam pohon. Berkorban itu adalah pupuk yang mempercepat pertumbuhannya. Kita mengenang Nabi Ibrahim hari ini karena ia hanya bekerja menabur kebajikan di ladang hati manusia. Tanpa henti. Kita mengenang Nabi Ibrahim hari ini karena pengorbanannya yang tidak terbatas.

Makna hidup kita – baik sebagai individu maupun sebagai umat dan bangsa – terletak pada kerja keras dan pengorbanan tanpa henti dalam menebar kebajikan bagi kemanusiaan. Bekerja adalah simbol keberdayaan dan kekuatan. Berkorban adalah simbol cinta dan kejujuran. Itu nilai yang menjelaskan mengapa bangsa-bangsa bisa bangkit dan para pemimpin bisa memimpin. Hanya mereka yang mau bekerja dalam diam yang panjang, dan terus menerus berkorban dengan cinta, yang akan bangkit dan memimpin. Itulah jalan kebangkitan. Itulah jalan kepemimpinan. Itu nilai yang menjelaskan mengapa Islam – di masa lalu – bangkit dan memimpin peradaban manusia selama lebih dari 1000 tahun. Dan itu jugalah jalan kebangkitan kita kembali: bekerja keras dan berkorban tanpa henti. Dengarlah firman Allah swt:

وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ وَسَتُرَدُّونَ إِلَى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

Dan katakanlah (hai Muhammad), bekerjalah kalian, nanti Allah yang akan menyaksikan amal kalian, beserta RasulNya dan orang-orang yang beriman. (QS. At Taubah:105)

ALLAHU AKBAR 3X

Hari ini – sebagaimana kita mengenang manusia-manusia agung itu; Nabi Ibrahim dan istrinya Hajar, Nabi Ismail dan Nabi Muhammad saw – kita juga mendengar rintihan hati umat manusia dari berbagai pelosok dunia. Di belahan dunia Islam ada rintihan anak-anak Palestina, Irak, Afganistan, Sudan, dan Khashmir yang membutuhkan solidaritas dan bantuan kita untuk membebaskan mereka dari kezaliman dan penjajahan. Bahkan bumi pertiwi sedang berduka. Hampir setiap saat, kita dikagetkan dengan berbagai macam bencana dan musibah, tak ada ujungnya. Bencana ada di sekitar kita, lebih-lebih di bulan ini, mulai dari banjir lumpur Warior, tsunami Mentawai dan gunung Merapi, bahkan gempa bumi setiap hari. Ratusan jiwa meninggal.

Sementara di belahan dunia lainnya, ada milyaran jiwa manusia yang hidup dalam kehampaan dan juga menanti para pembawa cahaya kebenaran untuk menyelematkan dan mengeluarkan mereka dari himpitan hidup yang pengap kedalam rengkuhan cahaya Islam yang penuh rahmat. Tangis hati para korban kezaliman di Dunia Islam dan rintihan jiwa para pencari kebenaran di Dunia Barat sama-sama menantikan kehadiran kepemimpinan baru yang datang membawa cahaya kebenaran, cinta bagi kemanusiaan, tekad untuk bekerja keras serta kemurahan hati untuk terus berkorban.

Marilah kita bangkit membebaskan diri kita dari keserakahan dan kebakhilan, kesedihan dan ketakutan, kelemahan dan ketidakberdayaan, egoisme dan perpecahan. Marilah kita bangkit dengan semangat kerja keras dan pengorbanan tanpa henti, melupakan masalah-masalah kecil dan memikirkan serta merebut peluang-peluang besar bagi kejayaan umat dan bangsa kita. Marilah kita bangkit dengan kepercayaan penuh bahwa Islam adalah masa depan manusia dan bahwa masa depan adalah milik Islam. Marilah kita bangkit dengan semangat dan keyakinan penuh bahwa kita bisa memimpin umat manusia kembali jika kita mau bekerja keras dan berkorban demi cita-cita besar kita.

ALLAHU AKBAR 3X

Demikian Khutbah Idul Adha 1431 H oleh Ustadz Anis Matta. [Sumber: Dakwatuna]
09:00 | 13 komentar

Latihan Militer Israel Persiapan Serang Hamas di Jalur Gaza

Written By Admin BeDa on Minggu, 14 November 2010 | 11:00


Militer Israel terus melakukan latihan militer dan persiapan pasukannya menyikapi berbagai macam kondisi yang mungkin mereka hadapi dalam agresi yang akan mereka gelar di Jalur Gaza. Sejumlah elit Israel menegaskan, agresi Israel yang akan mereka gelar ke Jalur Gaza akan sangat berdarah-darah.

Menurut harian Israel Haaretz latihan terakhir yang dilakukan Israel di kamp Lakhes merupakan cara pasukan Israel memperlakukan warga sipil di Gaza saat agresi untuk menghindari jatuhnya korban lebih banyak dari sipil.

Disamping itu, pasukan Israel juga dilatih untuk menyikapi berbagai kondisi dalam agresi; termasuk menyikapi perlintasan dan coordinator di Otoritas Palestina di sana serta bagaimana menyikapi warga ketika masuk desa-desa Palestina.

Pasukan Israel juga dilatih berbahasa Arab dan agama Islam serta tradisi warga Jalur Gaza sehingga bisa memperlakukan mereka dengan sesuai dengan kondisi.[bn-bsyr, InfoPalestina]
11:00 | 2 komentar

Pembagian Daging Qurban

Written By Admin BeDa on Sabtu, 13 November 2010 | 09:00

Alhamdulillah, hari ini bisa memposting edisi terakhir pembahasan Qurban dari Fiqih Sunnah untuk tahun 1431 H. Pada posting ini terdapat jawaban bagi banyak orang yang menanyakan apakah orang yang berqurban boleh memakan daging qurbannya atau tidak. Juga bagaimana doa menyembelih dan apa yang perlu dilakukan jika tidak bisa menyembelih sendiri. Serta tentang boleh tidaknya memberikan kulit hewan sebagai upah orang yang menyembelih hewan qurban.

Selain posting Pembagian Daging Qurban ini, pembaca juga bisa membaca 4 artikel sebelumnya, yaitu:
Definisi, Dalil dan Keutamaan Qurban
Hukum dan Hikmah Qurban
Hewan Qurban dan Syaratnya
Waktu Penyembelihan Qurban dan Berserikat (Patungan) dalam Berqurban

Pembagian Daging Qurban
Orang yang berqurban disunnahkan untuk memakan dagingnya, membagikannya kepada karib kerabat, serta menyedekahkannya kepada orang-orang fakir. Sebagaimana sabda Rasulullah,

كُلُوا وَأَطْعِمُوا وَادَّخِرُوا

Makanlah olehmu dan bagikanlah, serta simpanlah (HR. Bukhari)

Para ulama mengatakan bahwa yang paling afdhal adalah memakan sepertiga, bersedekah sepertiga, dan menyimpan sepertiga. Daging qurban itu boleh dibawa ke negara lain, tetapi tidak boleh dijual walaupun kulitnya. Tidak dibolehkan memberi daging kepada tukang potong sebagai upah karena mereka berhak menerima upah lain sebagai imbalan kerja. Orang yang berqurban boleh bersedekah dengan daging tersebut dan juga boleh mengambil dagingnya untuk dimanfaatkannya untuk dimanfaatkannya. Menurut Abu Hanifah, mereka boleh menjual kulitnya dan menyedekahkan hasilnya atau membelikan barang yang bermanfaat untuk keluarga di rumahnya.

Orang yang Berqurban Menyembelih Sendiri
Jika orang yang berqurban memiliki kepandaian dalam menyembelih hewan, maka disunnahkan untuk melakukan sendiri untuknya. Ia disunnahkan untuk membaca,

بِسْمِ اللَّهِ وَاللَّهُ أَكْبَرُ هَذَا عَنْ فُلاَنٍ

Dengan nama Allah, Allah Maha Besar. Ya Allah, hewan qurban ini dari si fulan (nama orang yang berqurban)

Hal itu dikarenakan Rasulullah menyembelih seekor kambing qibasy dan membaca,

بِسْمِ اللَّهِ وَاللَّهُ أَكْبَرُ هَذَا عَنِّى وَعَمَّنْ لَمْ يُضَحِّ مِنْ أُمَّتِى

Dengan nama Allah, Allah Maha Besar. Ya Allah, hewan qurban ini dariku dan dari umatku yang belum berqurban (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

Apabila orang yang berqurban tidak memiliki kepandaian dalam menyembelih hewan, maka hendaknya ia menghadiri dan menyaksikan pada saat penyembelihannya. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW,

يَا فَاطِمَةُ قَوْمِى فَاشْهَدِى أُضْحِيَتَكِ فَإِنَّهُ يُغْفَرُ لَكِ بِأَوَّلِ قَطْرَةٍ تَقْطُرُ مِنْ دَمِهَا كُلُّ ذَنْبٍ عَمِلْتِيهِ وَقُولِى إِنَّ صَلاَتِى وَنُسُكِى وَمَحْيَاىَ وَمَمَاتِى لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ لاَ شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا مِنَ الْمُسْلِمِينَ. قِيلَ : يَا رَسُولَ اللَّهِ هَذَا لَكَ وَلأَهْلِ بَيْتِكَ خَاصَّةً فَأَهْلُ ذَلِكَ أَنْتُمْ أَمْ لِلْمُسْلِمِينَ عَامَّةً قَالَ : بَلْ لِلْمُسْلِمِينَ عَامَّةً

Wahai Fatimah, bangun dan saksikanlah qurbanmu karena setiap tetes darah hewan qurban akan memohonkan ampunan dari setiap dosa yang telah kau lakukan. Dan bacalah, "Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tidak ada sekutu bagiNya. Dan untuk itu aku diperintahkan. Dan aku adalah orang yang pertama kali menyerahkan diri kepada Allah." Seorang sahabat bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah ini untukmu dan keluargamu, atau untuk kaum muslimin secara umum?" Rasulullah menjawab, "Tidak. Bahkan untuk kaum muslimin secara umum."

[Sumber: Fiqih Sunnah karya Sayyid Sabiq]
09:00 | 6 komentar

Angka Bunuh Diri Veteran Militer AS Makin Tinggi

Written By Admin BeDa on Jumat, 12 November 2010 | 14:19


Beberapa penelitian di Amerika Serikat menunjukkan angka bunuh diri veteran militer negeri paman sam itu semakin tinggi. Penelitian itu juga mengungkapkan bahwa penyebab peningkatan angka bunuh diri, selain resesi ekonomi, adalah trauma peperangan di Irak dan Afghanistan.

"Ini diperparah oleh depresi, trauma menyusul operasi militer saat ini, di mana kita memiliki militer jauh lebih kecil dan diminta untuk melakukan begitu banyak tugas dan kemudian mengulangi tugas militer setelah selesai bertugas," kata Menteri Urusan Veteran Eric Shinseki, "saya tahu angka bunuh diri semakin meningkat."

Pada Januari lalu, 20 persen dari sekitar 30.000 kasus bunuh diri di AS setiap tahun dilakukan oleh veteran perang. Ini berarti dalam sehari rata-rata terdapat 18 veteran yang bunuh diri.

Menurut Pentagon, peningkatan angka bunuh diri veteran militer AS pada tahun 2009 mencapai 15 % dibandingkan tahun sebelumnya. Pada tahun 2008 tercatat 'hanya' 267 kasus bunuh diri lalu meningkat menjadi 309 kasus pada tahun 2009.

Sementara jumlah bunuh diri antara tahun 2005 dan 2009, dilaporkan 1.100, melebihi jumlah anggota militer AS yang tewas dalam perang Afghanistan sejak perang itu dimulai pada tahun 2001 lalu. [AN/erm-prtv]
14:19 | 11 komentar

Waktu Penyembelihan Qurban dan Berserikat (Patungan) dalam Berqurban

Alhamdulillah, tiga pembahasan tentang Qurban telah kita lalui. Definisi, Dalil dan Keutamaan Qurban telah dibahas pada 2 Dzulhijjah 1431 H bertepatan dengan 8 Nopember 2010. Hukum dan Hikmah Qurban telah dibahas pada 3 Dzulhijjah 1431 H bertepatan dengan 9 Nopember 2010. Lalu Hewan Qurban dan Syaratnya dibahas pada 4 Dzulhijjah 1431 H bertepatan dengan 10 Nopember 2010.

Kini, Jum'at 12 Nopember 2010 yang bertepatan dengan 6 Dzulhijjah 1431 H kita membahas Waktu Penyembelihan Qurban dan Berserikat (Patungan) dalam Berqurban. Pembahasan ini juga diambilkan dari Fiqih Sunnah karya Sayyid Sabiq.

Waktu Penyembelihan Qurban
Disyaratkan bahwa hewan qurban tidak disembelih kecuali setelah terbit matahari pada hari Idul Adha hingga saat-saat pelaksanaan shalat Id. Setelah itu dibolehkan menyembelihnya kapan pun di hari yang tiga (hari tasyriq) baik malam maupun siang. Setelah tiga hari itu, maka tidak dibenarkan penyembelihan hewan qurban. Sebagaimana riwayat Al-Barra ra. dari Nabi SAW bahwa beliau bersabda :

إِنَّ أَوَّلَ مَا نَبْدَأُ فِى يَوْمِنَا هَذَا أَنْ نُصَلِّىَ ، ثُمَّ نَرْجِعَ فَنَنْحَرَ ، فَمَنْ فَعَلَ ذَلِكَ فَقَدْ أَصَابَ سُنَّتَنَا ، وَمَنْ نَحَرَ قَبْلَ الصَّلاَةِ فَإِنَّمَا هُوَ لَحْمٌ قَدَّمَهُ لأَهْلِهِ ، لَيْسَ مِنَ النُّسْكِ فِى شَىْءٍ

Sesungguhnya hal pertama yang kita lakukan pada hari ini (hari raya idul adha) adalah shalat, kemudian kembali dan memotong qurban. Barangsiapa yang melakukan itu, berarti ia mendapatkan sunnah kami. Dan barangsiapa yang menyembelih sebelum itu, maka daging sembelihannya untuk keluarganya dan tidak dinilai sebagai ibadah qirban sama sekali. (HR. Bukhari)

Abu Burdah berkata, "Pada hari Nahar (Idul Adha), Rasulullah SAW berkhutbah di hadapan kami. Beliau bersabda,

مَنْ صَلَّى صَلاَتَنَا وَوَجَّهَ قِبْلَتَنَا وَنَسَكَ نُسُكَنَا فَلاَ يَذْبَحْ حَتَّى يُصَلِّىَ

Barangsiapa shalat sesuai dengan shalat kami dan menghadap ke kiblat kami serta beribadah dengan cara ibadah kami, maka ia tidak menyembelih qurban sebelum shalat (Idul Adha). (HR. Muslim)

Juga riwayat Bukhari dan Muslim bahwa Rasulullah SAW bersabda,

مَنْ ذَبَحَ قَبْلَ الصَّلاَةِ فَإِنَّمَا ذَبَحَ لِنَفْسِهِ ، وَمَنْ ذَبَحَ بَعْدَ الصَّلاَةِ فَقَدْ تَمَّ نُسُكُهُ ، وَأَصَابَ سُنَّةَ الْمُسْلِمِينَ

Barangsiapa menyembelih qurban sebelum shalat, sesungguhnya ia menyembelih untuk dirinya sendiri. Dan barangsiapa yang menyembelih setelah shalat dan dua khubtah, sungguh ibadah Idul Adha-nya sempurna dan melaksanakan sunnah kaum muslimin.

Satu Hewan Qurban untuk Satu Keluarga

Mereka yang berqurban dengan satu kambing atau domba, berarti telah dianggap memadai untuk diri dan keluarganya. Dahulu para sahabat r.a. berqurban dengan seekor domba untuknya dan keluarganya karena merupakan fardhu kifayah.

Ibnu Majah dan Tirmidzi meriwayatkan bahwa Abu Ayyub berkata,

كَانَ الرَّجُلُ يُضَحِّى بِالشَّاةِ عَنْهُ وَعَنْ أَهْلِ بَيْتِهِ فَيَأْكُلُونَ وَيُطْعِمُونَ حَتَّى تَبَاهَى النَّاسُ فَصَارَتْ كَمَا تَرَى

Pada zaman Rasulullah, orang-orang berqurban dengan seekor domba untuknya dan untuk keluarga seisi rumahnya. Mereka memakan dan memberikan kepada orang lain agar manusia merasa senang, sehingga mereka menjadi sebagaimana yang engkau lihat.

Berserikat (Patungan) dalam Berqurban
Pelaksanaan qurban dibolehkan bergabung apabila hewan qurban itu berupa unta atau sapi. Sap dan unta berlaku untuk tujuh orang yang sama-sama bermaksud melaksanakan qurban dan taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah.

Sebuah riwayat dari Jabir,

نَحَرْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- بِالْحُدَيْبِيَةِ الْبَدَنَةَ عَنْ سَبْعَةٍ وَالْبَقَرَةَ عَنْ سَبْعَةٍ

Kami menyembelih qurban bersama rasulullah di Hudaibiyah, seekor untuk untuk tujuh orang, begitu juga dengan sapi. (HR. Abu Dawud, dan Tirmidzi)

Bersambung ke Pembagian Daging Qurban. [sumber: Fiqih Sunnah karya Sayyid Sabiq]
08:00 | 3 komentar

Pesawat Tempur Israel Meledak Di Padang Pasir Negeb

Written By Admin BeDa on Kamis, 11 November 2010 | 15:00


Sumber media Israel melaporkan bahwa pesawat tempur Israel jenis F16 milik angkatan udara Israel meledak pada Rabu sore (10/11) dalam latihan militer yang dilakukan di Selatan Palestina wilayah jajahan 1948.

Sumber menyebutkan bahwa pesawat yang sedang berlatih di padang pasir Negeb meledak di udara. Data menyebutkan penumpang pesawat tewas, sementara pasukan udara Israel mulai melakukan investigasi penyebab meledaknya pesawat.

Disebutkan bahwa pesawat-pesawat tempur Israel jenis F16, helikopter dan pengintai, akhir-akhir ini sering melakukan latihan militer secara intensif. [qm, InfoPalestina]
15:00 | 7 komentar

Serdadu Zionis Tembak Siapapun Yang Bawa HP Pada Perang Gaza

Written By Admin BeDa on Rabu, 10 November 2010 | 12:00


Situs Zionis menyebutkan, pasukan khusus Israel, Ghivati yang berada dibawah komando tentara Israel menggunakan jaringan GPRS untuk memperluas zona pembunuhan terhadap semua orang Palestina yang membawa Hand Phone (HP) dalam perang terakhirnya di Gaza.

Situs Walala Zionis menyebutkan, polisi militer Israel memeriksa sejumlah komandan dan tentara Zionis terkait kasus penembakan terhadap warga sipil Palestina yang sedang membawa HP, khawatir alat tersebut digunakan untuk memicu bom.

Situs Zionis dalam laporanya menyebutkan, serdadu Zionis mendapat sejumlah intruksi dalam operasinya di Gaza. Pertama, harus berhati-hati bila melihat warga Palestina yang membawa HP. Tindakan kedua memberikan tembakan peringatan ke udara. Atau bila perlu menembak langsung otang yang membawa HP tersebut, bila ia tidak mau menyerahkan HPnya ke pihak tentara.

Sesuai dengan laporan dari tim pengawas menyebutkan, penyelidikan terhadap serdadu Zionis yang terlibat pembunuhan terhadap warga sipil Palestina masih berada di tarap menuver opini untuk mengelabui anggapan umum, bahwa aparat Zionis moderat. [asy, InfoPalestina]
12:00 | 4 komentar

Hewan Qurban dan Syaratnya


Setelah sebelumnya kita membahas Definisi, Dalil dan Keutamaan Qurban dalam Fiqih Sunnah, lalu Hukum dan Hikmah Qurban, pada edisi ketiga ini kita membahas Hewan Qurban dan Syaratnya.

Hewan yang Boleh Diqurbankan
Adapun hewan yang boleh diqurbankan adalah unta, sapi, dan kambing (domba). Selain tiga jenis hewan itu, tidak dibenarkan. Sebagaimana firman Allah SWT,

لِيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَى مَا رَزَقَهُمْ مِنْ بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ

…agar mereka menyebut nama Allah atas rezeki yang dikaruniakan Allah kepada mereka berupa hewan ternak… (QS. Al-Hajj : 34)

Hewan qurban berupa domba yang dianggap layak adalah yang berumur setengah tahun, kambing berumur satu tahun, sapi berumur dua tahun, dan unta berumur lima tahun. Semua hewan itu tidak dibedakan apakah jantan atau betina, berdasarkan hal-hal sebagai berikut:

1. Riwayat Ahmad dan Tirmidzi dari Abu Hurairah, ia berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda,

نِعْمَتِ الأُضْحِيَةُ الْجَذَعُ مِنَ الضَّأْنِ

Hewan qurban yang paling baik adalah jadza kambing.

Menurut Imam Hanafi, jadza adalah kambing/domba yang telah berumur beberapa bulan, sedangkan menurut Imam Syafi’i jadza adalah kambing yang berumur satu tahun. Inilah yang paling shahih.

2. Riwayat dari Uqbah bin Amir, ia berkata,

قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهُ أَصَابَنِى جَذَعٌ. فَقَالَ ضَحِّ بِهِ

Aku bertanya: “Ya Rasulullah, aku memiliki jadza’.” Kemudian Rasulullah menjawab, “Berqurbanlah dengannya.” (HR. Muslim)

3. Riwayat Muslim dari Jabir bahwa Rasulullah bersabda,

لاَ تَذْبَحُوا إِلاَّ مُسِنَّةً إِلاَّ أَنْ يَعْسُرَ عَلَيْكُمْ فَتَذْبَحُوا جَذَعَةً مِنَ الضَّأْنِ

Janganlah kalian berqurban kecuali yang telah berumur satu tahun ke atas. Jika hal itu menyulitkanmu, maka sembelihlah yang jadza’ kambing.

Adapun hewan qurban berumur tua adalah unta yang telah berusia lima tahun, sapi yang berumur dua tahun, kambing yang berumur satu tahun, dan domba yang berumur satu tahun atau enam bulan. Hewan qurban yang tua disebut juga tsaniyyah.

Hewan Kambing Qurban yang Dikebiri
Diperbolehkan berqurban dengan kambing yang dikebiri. Sebagaimana riwayat Ahmad dari Abu Rafi’, Rasulullah telah berqurban dengan dua ekor kambing qibasy yang berwarna putih bercampur hitam dan telah dikebiri karena daging kambing itu lebih enak dan lezat.

Hewan yang Tidak Boleh Diqurbankan
Syarat hewan qurban adalah tidak cacat. Tidak dibolehkan berqurban dengan hewan cacat misalnya:
1. penyakit yang jelas terlihat
2. picak matanya
3. pincang sekali
4. sumsum tulangnya tidak kelihatan karena sangat kurus. Hal itu berdasarkan sabda Rasulullah SAW,

أربعة لا تجزئ في الاضاحي: العوراء البين عورها والمريضة البين مرضها والعرجاء البين ظلعها والعجفاء التي لا تنقي

Empat jenis penyakit pada hewan qurban yang tidak layak yaitu hewan yang picak dengan jelas, yang sakit dan penyakitnya terlihat jelas, yang pincang sekali, dan yang kurus sekali. (HR. Tirmidzi)

5. terdapat cacat; yaitu telinga atau tanduknya sebagian besar hilang.

Cacat tambahan selain lima hal di atas adalah hatma (rontok seluruh gigi depan), ashma (kulit tanduk mengelupas), umya (buta), taula (tidak digembalakan/liar), dan jarba (banyak kudis).

Hal-hal yang masih ditolerir adalah tak bersuara, ekornya putus, bunting, dan tidak memiliki sebagian telinga atau sebagian bokongnya. Menurut pendapat kalangan mazhab Syafi’i yang tershahih bahwa bokongnya terputus dan kantong susunya tidak ada, maka tidak memenuhi syarat, karena hilang sebagian organ tubuh yang dapat dikonsumsi. Begitu pula halnya dengan ekor yang terputus. Imam Syafi’i mengatakan, “Kami tidak menemukan hadits yang meyebutkan gigi sama sekali.”

Bersambung ke Waktu Penyembelihan Qurban dan Berserikat Qurban. [sumber: Fiqih Sunnah karya Sayyid Sabiq]
09:00 | 4 komentar

Hukum dan Hikmah Qurban

Written By Admin BeDa on Selasa, 09 November 2010 | 07:00


Setelah kemarin kita membahas Definisi, dalil dan Keutamaan Qurban dalam Fiqih Sunnah, edisi kedua ini membahas Hukum dan Hikmah Qurban yang juga ditulis Sayyid Sabiq dalam kitab yang sama.

Hukum Qurban

Ibadah penyembelihan hewan qurban adalah sunnah muakkad bagi yang mampu melakukannya. Meninggalkan ibadah itu menjadi makruh. Berdasarkan riwayat Bukhari dan Muslim, Nabi SAW pernah mengurbankan dua kambing qibasy yang berwarna putih kehitam-hitaman dan bertanduk. Beliau sendiri yang menyembelih qurban tersebut dan membacakan nama Allah serta bertakbir pada saat memotongnya.

Juga sebuah riwayat dari Ummu Salamah bahwa Nabi SAW telah bersabda,

إِذَا رَأَيْتُمْ هِلاَلَ ذِى الْحِجَّةِ وَأَرَادَ أَحَدُكُمْ أَنْ يُضَحِّىَ فَلْيُمْسِكْ عَنْ شَعْرِهِ وَأَظْفَارِهِ

Jika kalian melihat hilal bulan Dzulhijjah, hendaknya salah seorang diantara kalian berqurban, dan melakukan manasik dengan memotong rambut dan kukunya. (HR. Muslim)

Riwayat dari Abu Bakar dan Umar bahwa mereka berdua belum pernah melaksanakan penyembelihan qurban untuk keluarganya karena takut dianggap sebagai suatu kewajiban.

Kapan Diwajibkan Menyembelih Qurban?

Penyembelihan hewan qurban tidak diwajibkan kecuali dalam dua hal.

Pertama, seseorang yang melakukan nazar. Berdasarkan sabda Rasulullah SAW,

مَنْ نَذَرَ أَنْ يُطِيعَ اللَّهَ فَلْيُطِعْهُ

Barangsiapa yang melakukan nazar dalam rangka taat kepada Allah, hendaklah dilakukan. (HR. Bukhari)

Bahkan apabila orang yang melakukan nazar itu meninggal dunia, maka untuk pelaksanaan nazar yang telah diucapkannya sebelum meninggal dunia boleh diwakilkan kepada orang lain.

Kedua, perkataan seseorang, “Ini (hewan qurban) milik Allah,” atau, “Ini hewan qurban.”

Imam Malik berpendapat bahwa apabila pada saat membeli hewan qurban ia berniat untuk berqurban, maka ia menjadi wajib melakukannya.

Hikmah Berqurban

Allah mensyariatkan qurban untuk mengenang Nabi Ibrahim a.s dan untuk memberikan kemudahan pada hari raya Idul Adha, sebagaimana sabda Rasulullah SAW,

إِنَّمَا هِىَ أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ وَذِكْرٍ

Hari ini (hari raya qurban) adalah hari makan dan minum serta zikir (HR. Ahmad dan Malik dalam Al Muwatha').

Bersambung ke Hewan Qurban dan Syaratnya.[]
07:00 | 9 komentar

Definisi, Dalil dan Keutamaan Qurban dalam Fiqih Sunnah

Written By Admin BeDa on Senin, 08 November 2010 | 08:00


Menjelang Idul Adha 1431 H ini, Bersama Dakwah berniat menampilkan tulisan-tulisan yang berkaitan dengan ibadah haji dan qurban. Diantaranya adalah pembahasan Qurban dalam Fiqih Sunnah yang dimulai pada edisi hari ini.

Insya Allah pembahasan Qurban dalam Fiqih Sunnah ini terbagi menjadi lima bagian:
1. Dalil dan Keutamaan Qurban dalam Fiqih Sunnah
2. Hukum dan Hikmah Qurban dalam Fiqih Sunnah
3. Hewan Qurban dan Syaratnya dalam Fiqih Sunnah
4. Waktu Penyembelihan Qurban dan Berserikat Qurban dalam Fiqih Sunnah
5. Pembagian Daging Qurban dalam Fiqih Sunnah

Definisi Qurban
Kata udhhiyah dan dhahiyah adalah nama hewan sembelihan seperti unta, sapi dan kambing yang dipotong pada hari raya nahar (qurban) dan tasyrik sebagai bentuk taqarrub (pendekatan diri) kepada Allah.

Dalil Qurban dalam Al-Qur’an
Allah telah mensyariatkan qurban sebagaimana firman-Nya:

إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ * فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ * إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ

Sesungguhnya, Kami telah memberimu (Muhammad) nikmat yang banyak. Maka laksanakanlah shalat karena Tuhanmu, dan berqurbanlah. Sungguh, orang-orang yang membencimu adalah orang-orang yang terputus. (QS. Al-Kautsar : 1-3)

وَالْبُدْنَ جَعَلْنَاهَا لَكُمْ مِنْ شَعَائِرِ اللَّهِ لَكُمْ فِيهَا خَيْرٌ فَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ

Dan unta-unta itu Kami jadikan untukmu bagian dari syiar agama Allah, kamu banyak memperoleh kebaikan padanya. Maka sebutlah nama Allah (ketika kamu akan menyembelihnya)… (QS. Al-Hajj : 36)

Maksud kata nahr adalah penyembelihan binatang qurban sebagaimana keterangan dalam sebuah hadits bahwa Nabi SAW melakukan ibadah qurban dan begitu juga kaum muslimin. Para ulama telah sepakat (ijma’) akan pensyariatannya.

Keutamaan Qurban
Sebuah riwayat dari Aisyah r.a., Nabi SAW telah bersabda,

مَا عَمِلَ آدَمِىٌّ مِنْ عَمَلٍ يَوْمَ النَّحْرِ أَحَبَّ إِلَى اللَّهِ مِنْ إِهْرَاقِ الدَّمِ إِنَّهَا لَتَأْتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِقُرُونِهَا وَأَشْعَارِهَا وَأَظْلاَفِهَا وَإِنَّ الدَّمَ لَيَقَعُ مِنَ اللَّهِ بِمَكَانٍ قَبْلَ أَنْ يَقَعَ مِنَ الأَرْضِ فَطِيبُوا بِهَا نَفْسًا

Tidak ada amalan yang diperbuat manusia pada hari raya qurban yang lebih dicintai oleh Allah selain menyembelih hewan. Sesungguhnya hewan qurban itu kelak pada hari kiamat akan datang beserta tanduk-tanduknya, bulu-bulu dan kuku-kukunya. Sesungguhnya sebelum darah qurban itu mengalir ke tanah, pahalanya telah diterima di sisi Allah. Maka tenangkanlah jiwa dengan berqurban. (HR. Tirmidzi)

Bersambung ke Hukum dan Hikmah Qurban dalam Fiqih Sunnah. []
08:00 | 10 komentar

Keluarga Dakwah Keluarga Cinta

Written By Admin BeDa on Minggu, 07 November 2010 | 15:59


Telah lama suami istri itu hidup berdua. Dalam cinta. Saling setia, saling menguatkan dalam perjuangan. Allah belum jua mengaruniai mereka putra. Maka, berdua mereka berdakwah. Berdua mereka hijrah.

Sesampainya di Mesir, raja yang semula memiliki niat buruk pada akhirnya justru memberikan budak wanita, yang kemudian menjadi orang ketiga dalam hidup mereka. Dengan latar usia yang telah mencapai 80-an tahun, sang suami diminta Sarah menikahi wanita itu. jadilah Hajar istri kedua Ibrahim.

Tak lama berselang, di saat usia Ibrahim menginjak 85 tahun, lahirlah Ismail dari rahim Hajar. 15 tahun berikutnya, lahirlah Ishaq dari rahim Sarah. Dari keduanya lahirlah para nabi. Bahkan seluruh nabi yang diutus setelah zaman Ibrahim adalah keturunannya. Yang terbesar tentu saja khatamul anbiya’ wal mursalin: Rasulullah Muhammad SAW. bersamaan dengan itu Allah juga menjanjikan 12 pemimpin besar dari keturunan Ismail. “Mereka adalah Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, dan Umar bin Abdul Aziz”, tegas Ibnu Katsir dalam Qashashul Anbiya’, “sisanya adalah khalifah dari Bani Abbas.”

Keluarga Ibrahim adalah keluarga dakwah dan keluarga cinta. Betapa hebatnya keluarga ini hingga setiap shalat umat Islam menyebut nama mereka. Dalam tasyahud akhir kaum muslimin di seluruh dunia berdoa agar Allah melimpahkan shalawat dan barakah kepada keluarga Muhammad Rasulullah sebagaimana Allah melimpahkan keduanya kepada keluarga Ibrahim ini.

Keluarga dakwah yang ideal ini bukan hanya karena dipimpin seorang suami yang notabene adalah seorang nabi. Istri-istri dan anak-anaknya juga teladan dalam dakwah.

“Wahai Ibrahim, ke mana engkau hendak pergi? Apakah engkau akan meninggalkan kami di lembah ini yang tidak ada seorangpun dan tak ada sesuatupun di sini?” Hajar memelas ketika sadar Ibrahim meninggalkannya berdua dengan Ismail yang masih bayi di pegunungan Faran.

Ibrahim tidak menoleh. Sebagai suami yang penuh cinta sebenarnya ia tak tega. Namun ia harus kuat. Digerakkannya kakinya untuk terus melangkah. Berkali-kali Hajar mengulang kalimatnya, Ibrahim tetap tak menoleh.

“Apakah Allah yang memerintahkan hal ini?” Hajar akhirnya sadar dengan pertanyaan kunci ini. “Ya”, jawab Ibrahim. “Kalau begitu, Allah takkan menyia-nyiakan kami.” Jika memang itu perintah Allah, memang tak perlu lagi bertanya mengapa. Logika keimanan Hajar sudah tahu apa yang harus dilakukannya; sami’na wa atha’na.

Dari ayah yang teguh dalam mengemban dakwah dan ibu yang memiliki keimanan sempurna ini, Ismail menjadi teladan putra keluarga dakwah. Maka ketika sang ayah mengajaknya bermusyawarah tentang mimpi menyembelihnya, ia dengan mantab menjawab sebagaimana dikisahkan Al-Qur’an dalam QS. Ash-Shafat ayat 103: “Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”

Sempurna! Ibrahim, Sarah, Hajar, dan putra-putra mereka menjadi contoh ayah, ibu, dan anak yang hidup dalam cinta dan dakwah.

Ketika keimanan menjadi landasan utama, lalu mengejawantah dalam amal nyata, Allah tidak membiarkan hamba-Nya berada dalam kesulitan. Ujian diangkat, pertolongan dilimpahkan. Jadilah usaha keras Hajar berlarian tujuh kali Shafa – Marwa mencari air untuk putranya berakhir dengan memancarnya zam-zam. Jadilah kesediaan Ismail mengorbankan dirinya berakhir dengan rahmat Allah yang menggantinya dengan domba. Lalu jadilah keluarga ini teladan sepanjang masa.

Ibadah haji yang kini puluhan jutaan kaum muslimin tengah berada di tanah suci untuk menunaikannya, dan ibadah qurban yang nanti ratusan juta kaum muslimin melakukannya membawa pesan kepada kita untuk meneladani keluarga Ibrahim; keluarga dakwah, keluarga cinta. [Muchlisin]
15:59 | 3 komentar

Moskow Luncurkan Tafsir Berbahasa Rusia

Written By Admin BeDa on Kamis, 04 November 2010 | 19:00


Dakwah Islam tak bisa dihalangi. Seperti apapun propaganda dan sikap protektif sebuah negara menghalangi Islam, toh semakin hari semakin banyak penduduknya yang masuk Islam. Demikian pula akses dan kemudahan untuk memperlajari Islam. Tak terkecuali Rusia.

Kini, Rusia memiliki satu lagi tafsir Al-Qur'an yang ditulis oleh ulama alumni Universitas Al-Azar, Ala Dinov. Tafsir ini diterbitkan dan dilaunching di Moskow baru-baru ini.

Yang istimewa, tafsir terbaru ini menitikberatkan kepada segmen pemuda dengan menggunakan bahasa Rusia yang lebih familiar bagi mereka. Tafsir ini diharapkan mampu menarik para pemuda Rusia kepada pesan keagamaan dan konsep spiritual Islam.

Ala Dinov selain dikenal sebagai ulama, juga dai yang ulung dalam menyebarkan Islam. Banyak buku-buku yang telah ditulisnya, selama 17 tahun ia mendalami Islam. [AN/Imo]
19:00 | 5 komentar

Melindungi, Mencintai…


Wanita tercipta dari tulang rusuk pria
Bukan dari kakinya untuk dihinakan
Bukan pula dari kepalanya untuk disembah
Tetapi dari tulang rusuk
Yang dekat dengan tangannya untuk dilindungi
Yang dekat dengan hatinya untuk dicintai


Dari seorang teman, saya hafal syair ini sejak SMP. Sampai sekarang saya tidak tahu persis siapa yang menggubah syair ini. Yang saya tahu, substansi syair ini tidak salah. Kata-katanya indah dan memiliki hikmah.

“Adam berjalan sendirian di surga”, kata Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wan Nihayah, “Kemudian ia tertidur sejenak. Setelah bangun, dilihatnya duduk seorang wanita di sampingnya. Ia diciptakan dari tulang rusuk Adam” Kita kini mengetahui bahwa wanita itulah nenek moyang segala umat. Namanya Hawa. Ketika Malaikat bertanya kepada Adam, mengapa namanya Hawa, Adam menjawab: “Karena ia diciptakan dari sesuatu yang hidup”.

Kita pun mendapatkan keterangan yang lebih pasti dalam shahihain. “Wanita diciptakan dari tulang rusuk”, sabda Sang Nabi yang didengar langsung oleh Abu Hurairah.

Sejarah pernah mencatat dua model perlakuan kepada wanita yang melampaui batas. Yang pertama adalah menghinakannya. Di masa Arab Jahiliyah, misalnya, wanita tidak begitu dianggap selain “mesin reproduksi”. Sebagian besar orang Arab bahkan merasa anak perempuan sebagai beban dan aib. Maka, muncullah tradisi mengubur anak perempuan hidup-hidup. Di masa Yunani, posisi wanita juga tidak lebih baik. Para filosof bahkan saling berdebat apakah wanita memiliki jiwa atau tidak.

Sekarang? Masih banyak penghinaan wanita dalam bentuknya yang berbeda. Dalam balutan “modernitas” wanita direndahkan dengan cara yang lain. Dieksploitasi, difungsikan sebagai “marketing tools” dan pemuas nafsu kapitalisme. Kecantikan, keindahan kulit, dan keelokan tubuh menjadi standar “nilai jual” mereka.

Ada pula catatan-catatan kecil sejarah yang mendudukkan wanita secara salah dalam memuliakannya. Catatan minor ini hendak dituntut kembali oleh sebagian kecil orang atas nama kesetaraan gender. Jika segala urusan keluarga beserta pengambilan keputusannya diambil alih oleh wanita, dan sang suami tak lebih dari prajurit setia buta, itu juga awal dari kehancuran dari arah yang berbeda.

Maka interaksi seorang suami kepada istrinya mensyaratkan dua hal: melindungi, mencintai. Melindungi bukanlah mengungkungnya dalam penjara jiwa. Bukan sikap protektif yang merampas hak-haknya. Allah pernah memperingatkan para shabat agar tidak melarang istri-istrinya ke masjid. Melindungi bukan berarti memasungnya dalam cinta. Apatah lagi dalam kungkungan tanpa cinta.

Melindungi wanita dengan demikian adalah membentenginya dari kesengsaraan jiwa. Dan tiada kesengsaraan jiwa yang lebih pedih daripada terperosok dalam neraka. Maka dalam melindungi, QS. At-Tahrim ayat 6 menjadi kaidahnya: “Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka”

Sebenarnya antara melindungi dan mencintai sulit untukdipisahkan agar berdiri sendiri-sendiri. Seorang suami yang mencintai istrinya, ia akan melindunginya dengan segenap kemampuannya. Seorang ayah yang mencintai anaknya juga akan mati-matian melindungi mereka dari segala bahaya.

Bahkan kata-kata dan ungkapan cinta pun, dengan sendirinya ia menjadi perlindungan bagi orang yang dicintai. Hingga Mary Carolyn Davies mempuisikan dengan indah:
Ada sebuah tembok yang kuat
Di sekelilingku yang melindungiku;
Dibangun dari kata-kata yang kau ucapkan padaku


Meski tak dapat dipisahkan, keduanya –melindungi dan mencintai- tetap dapat dibedakan. Melindungi adalah bagian dari mencintai. Melindungi hanyalah salah satu konsekuensi mencintai. Melindungi adalah memberikan rasa aman, sementara cinta bukan hanya memberikan keamanan. Pada saat yang bersamaan atau bahkan sebelum melindungi, pekerjaan pecinta adalah memberikan perhatian. “Kalau intinya cinta adalah memberi”, kata Anis Matta dalam Serial Cinta, “maka pemberian pertama seorang pecinta sejati adalah perhatian”.

Perhatian dalam pekerjaan mencintai membuat seorang suami berkata kepada istrinya: “Aku mencintaimu sebagaimana kamu adanya”. Namun pecinta sejati tidak boleh berhenti di sini. Ia harus melanjutkan dengan tahap berikutnya: penumbuhan. Pada mulanya ia menerima segala kondisi kekasihnya. Namun dalam cinta, ia memberikan sentuhan edukasi pada hubungan cinta. Jadilah istrinya lebih shalihah, lebih cerdas, lebih dewasa, dan seterusnya.

Mencintai bukan berarti membiarkan tulang rusuk kita tetap bengkok. Dengan semangat penumbuhan kita diajari Sang Nabi dalam Shahihain: “Berwasiatlah yang baik kepada kaum wanita. Sebab, wanita diciptakan dari tulang rusuk. Sesungguhnya tulang rusuk yang paling bengkok adalah tulang rusuk bagian atas. Bila engkau hendak meluruskannya, maka ia akan patah. Dan bila engkau biarkan, maka ia akan tetap bengkok. Maka berwasiatlah kebaikan kepada kaum wanita.”

Wallaahu a'lam bish shawab. [Muchlisin]
10:00 | 7 komentar

Pandangan Umum tentang Kitab Allah SWT

Written By Admin BeDa on Rabu, 03 November 2010 | 11:00

Kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah SWT. Kita ucapkan shalawat dan salam untuk junjungan kita Nabi Muhammad, juga untuk segenap keluarga dan sahabatnya, serta siapa saja yang menyerukan dakwahnya hingga hari kiamat. Kita membuka acara kita dengan pembukaan yang paling baik.

Ikhwan yang mulia, saya sampaikan salam penghormatan Islam, salam penghormatan dari Allah, yang baik dan diberkahi: Assalaamu'alaikum wa rahmatullah wa barakaatuh.

Demikianlah, semakin lama, hari dan malam ini semakin cemerlang dan jiwa menempati satu derajat di atas kedudukan sebelumnya. Kita memohon kepada Allah SWT agar mengaruniakan kepada kita kecintaan dan persatuan karena-Nya, serta menempatkan kita di jalan orang-orang yang dikatakan oleh Rasulullah SAW., "Sesungguhnya Allah berfirman pada hari kiamat, 'Di manakah orang-orang yang saling mencintai karena Aku? Pada hari ini Aku naungi mereka dengan keagungan-Ku, pada hari yang tiada naungan kecuali naungan-Ku.'"

Wa ba' du. Ikhwan sekalian, pada malam ini, saya tidak membatasi tema tertentu untuk saya sampaikan kepada Anda semua mengenai kitab Allah SWT. Namun seringkali terlintas dalam pikiran saya, khususnya dalam kajian, ceramah, dan pelajaran yang saya sampaikan kepada Ikhwan di segenap penjuru negeri, persoalan umum. Yakni pandangan umum mengenai kitab Allah SWT. Saya ingin menyampaikan pandangan umum tersebut pada malam ini, terlebih pada malam ini banyak utusan dari cabang-cabang Ikhwan Kairo bersama kita.

Saya ingin berbicara tentang pandangan umum ini, agar bisa menjadi cahaya yang menerangi dakwah kita. Dakwah kita adalah dakwah yang mengajak kepada Al-Qur'an, sehingga pembicaraan tersebut sekaligus merupakan pengarahan bagi para juru dakwah Ikhwan, di samping sebagai rangkuman berbagai pengarahan dalam kitab Allah. Jadi, apa yang saya bicarakan kepada Anda pada malam hari ini, Ikhwan sekalian, adalah gambaran global tentang dakwah Ikhwanul Muslimin.

Kita senantiasa membaca kitab Allah SWT, memahaminya, berpindah-pindah dalam taman-taman satu surat di antara bunga-bunga ayatnya yang menyenangkan dan indah, melambungkan pandangan di dalamnya, menyelesaikan bagian demi bagian dari sub pembahasan Al-Qur'an, surat demi surat.

Pada kesempatan ini saya akan menyampaikan kepada Anda semua kesimpulan dari makna hadits shahih berikut:

"Nabi SAW ditanya, 'Amal apa yang paling utama?' Beliau menjawab, Al-Hallul Murtahil (orang yang singgah dan pergi).' Ditanyakan, 'Apa Al-Hallul Murtahil itu?' Beliau menjawab, 'Ahli Al-Qur'an. la membaca dari awalnya hingga akhirnya; dari akhirnya kembali ke awalnya. Setiap ia singgah maka ia ak an segera pergi.' "

Sebagaimana perkataan Abdullah bin Mas'ud, "Jika saya membaca surat Alif Lam Haa Miim, saya seolah-olah singgah dan menjelajah di kebun-kebun yang buah-buahannya matang." Hal itu disebabkan dalam surat tersebut terdapat deskripsi yang indah, gaya bahasa yang elok, serta anjuran dan ancaman.

Berkaitan dengan "orang yang singgah dan pergi" mereka mengatakan, "Jika seseorang telah mengkhatamkan Al-Qur'an, dianjurkan agar ia tidak mengakhiri bacaannya di situ, tetapi hendaklah ia mulai membaca Al-Fatihah dan beberapa ayat dari surat Al-Baqarah sehingga terjadi hubungan antara permulaan dan penutupan, setelah itu hendaklah ia berdoa sekehendaknya.

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka jawablah bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang mendoa apabila ia berdoa kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi segala perintah-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. (QS. Al-Baqarah: 186)


Ikhwan sekalian, jika seseorang membaca ayat-ayat Allah dan kitab Allah, ia bisa merangkum empat unsur secara umum di dalamnya:

Pertama adalah aqidah salimah (keyakinan yang sehat)
Kitab Allah SWT mengupas masalah keyakinan umat manusia. Manusia memang tidak dapat hidup tanpa keyakinan. Keyakinan adalah fitrah dalam diri manusia. Mengenai masalah ini, salah seorang ilmuwan Barat berkata, "Jika saya ditanya, mengapa saya percaya kepada Tuhan, saya tidak bisa menjawab pertanyaan ini kecuali dengan jawaban yang sama ketika saya ditanya, mengapa saya makan, mengapa saya minum, dan mengapa saya tidur. Demikian itu karena makan, minum, dan tidur adalah kebutuhan pokok bagi eksistensi materi saya. Akan halnya iman, ia adalah kebutuhan pokok bagi eksistensi spiritual saya."

Al-Qur'anul Karim, Ikhwan sekalian, datang untuk mengatur kebutuhan dasar spiritual manusia ini secara mudah dan sederhana. Kita bisa merangkum keyakinan-keyakinan yang dikemukakan dalam kitab Allah, yaitu keimanan kepada Allah, hari pembalasan serta hal-hal yang berkaitan dengannya. Itu adalah keimanan yang mudah dan sederhana. Ia tidak mengandung pelik-pelik yang sulit untuk Anda pahami. Al- Qur'anul Karim menginginkan agar Anda benar-benar menyadari hakikat bahwa Anda mempunyai keterkaitan dengan kekuatan yang mengelola alam semesta ini, kekuatan yang mengatur segala sesuatu, dan kekuatan yang berkuasa atas segala sesuatu. Kekuatan tersebut dekat dengan Anda, bahkan lebih dekat daripada diri Anda sendiri.

Al-Qur'an menghendaki agar Anda percaya kepada kehidupan spiritual. Yang saya maksud kehidupan spiritual adalah kehidupan yang baru. Hendaklah Anda percaya bahwa kehidupan itu tidak berakhir dengan perpisahan nyawa dari jasad Anda. Akan tetapi, ada kehidupan lain di mana Anda akan dihisab. Jika Anda telah berbuat kebajikan, maka Anda akan mendapatkan kebajikan pula, tetapi jika perbuatan yang Anda lakukan tidak demikian, maka Anda juga akan mendapatkan balasan sesuai dengan perbuatan Anda itu. Landasan dari semua itu adalah hendaknya Anda beriman kepada Allah dan hari akhir.

Ketika Anda membaca Al-Qur'an, pada ayat pertama, Anda akan menemukan untaian firman:

ذَلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ * الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ * وَالَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ وَبِالْآَخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ

Kitab (Al-Qur'an) ini tidak ada keraguan padanya. Sebagai petunjuk bagi mereka yang bertaqwa. (Yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menaf- kahkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka. Dan mereka beriman kepada kitab (Al-Qur'an) yang telah diturunkan kepadamu dan kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat. (QS. A l-Baqarah: 2-4)

Setelah beberapa ayat kemudian, Anda bisa membaca keterangan yang menjelaskan tentang Allah SWT.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ * الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ فِرَاشًا وَالسَّمَاءَ بِنَاءً وَأَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقًا لَكُمْ فَلَا تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَنْدَادًا وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

Wahai manusia, sembahlah Tuhan kalian yang telah menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian, agar kalian bertaqwa. Dialah Yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagi kalian dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah- buahan sebagai rezeki bagi kalian; karena itu janganlah kalian mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kalian mengetahui. (QS. A l-Baqarah: 21-22)

Setelah itu ada keterangan yang menjelaskan tentang pembalasan,

فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا وَلَنْ تَفْعَلُوا فَاتَّقُوا النَّارَ الَّتِي وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ أُعِدَّتْ لِلْكَافِرِينَ

Maka jika kalian tidak dapat membuatnya dan pasti kalian tidak akan dapat membuatnya, peliharalah diri kalian dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang kafir. (QS. A l-Baqarah: 24)

Al-Qur'anul Karim menggunakan gaya yang unik yang belum pernah digunakan oleh kitab-kitab aqidah. Anda bisa menemukan dalam Al-Qur'an makna sederhana yang impresif, yang dibangun di atas landasan fitrah manusia tanpa ada hal yang memberat-beratkan atau berlebihan. Al-Qur'anul Karim berbicara kepada fitrah manusia, bersih dari segala warna tindakan yang dibuat-buat. Ia tidak berbicara kepadanya berdasarkan f ilsafat, logika, atau pandangan-pandangan teologis, karena semua ini karya yang dibuat manusia untuk manusia. Anda cukup memahami ketika membaca kitab Allah:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنْ كُنْتُمْ فِي رَيْبٍ مِنَ الْبَعْثِ فَإِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ مِنْ نُطْفَةٍ ثُمَّ مِنْ عَلَقَةٍ ثُمَّ مِنْ مُضْغَةٍ مُخَلَّقَةٍ وَغَيْرِ مُخَلَّقَةٍ لِنُبَيِّنَ لَكُمْ وَنُقِرُّ فِي الْأَرْحَامِ مَا نَشَاءُ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى ثُمَّ نُخْرِجُكُمْ طِفْلًا ثُمَّ لِتَبْلُغُوا أَشُدَّكُمْ وَمِنْكُمْ مَنْ يُتَوَفَّى وَمِنْكُمْ مَنْ يُرَدُّ إِلَى أَرْذَلِ الْعُمُرِ لِكَيْلَا يَعْلَمَ مِنْ بَعْدِ عِلْمٍ شَيْئًا وَتَرَى الْأَرْضَ هَامِدَةً فَإِذَا أَنْزَلْنَا عَلَيْهَا الْمَاءَ اهْتَزَّتْ وَرَبَتْ وَأَنْبَتَتْ مِنْ كُلِّ زَوْجٍ بَهِيجٍ * ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّهُ يُحْيِي الْمَوْتَى وَأَنَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ * وَأَنَّ السَّاعَةَ آَتِيَةٌ لَا رَيْبَ فِيهَا وَأَنَّ اللَّهَ يَبْعَثُ مَنْ فِي الْقُبُورِ

Wahai manusia, jika kalian dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), maka ketahuilah sesungguhnya Kami telah menjadikan kalian dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kalian dan Kami tetapkan dalam rahim apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kalian sebagai bayi, kemudian dengan berangsur-angsur kalian sampai kepada kedewasaan, dan di antara kalian ada yang diwafatkan dan (ada pula) di antara kalian yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatu pun yang dahulunya telah diketahuinya. Dan kalian lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah, lalu menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah. Yang demikian itu, karena sesungguhnya Allah, Dialah Yang Haq, dan sesungguhnya Dialah yang menghidupkan segala yang mati dan sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. Dan sesungguhnya hari kiamat itu pastilah datang, tak ada keraguan padanya, dan bahwasanya Dia membangkitkan semua orang di dalam kubur. (QS. Al-Hajj: 5-7)

قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاءُ بِيَدِكَ الْخَيْرُ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ * تُولِجُ اللَّيْلَ فِي النَّهَارِ وَتُولِجُ النَّهَارَ فِي اللَّيْلِ وَتُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَتُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَتَرْزُقُ مَنْ تَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ

Katakanlah, Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkau-lah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu. Engkau masuk- kan malam ke dalam siang dan Engkau masukkan siang ke dalam malam, Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup. Dan Engkau memberi rezeki siapa yang Engkau kehendaki tanpa hisab. (QS. Ali Imran: 26-27)

Kemudian, wahai Akhi, lihatlah cara penyampaian bukti tentang kelemahan manusia di hadapan kekuasaan Allah SWT:

هُوَ الَّذِي يُسَيِّرُكُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ حَتَّى إِذَا كُنْتُمْ فِي الْفُلْكِ وَجَرَيْنَ بِهِمْ بِرِيحٍ طَيِّبَةٍ وَفَرِحُوا بِهَا جَاءَتْهَا رِيحٌ عَاصِفٌ وَجَاءَهُمُ الْمَوْجُ مِنْ كُلِّ مَكَانٍ وَظَنُّوا أَنَّهُمْ أُحِيطَ بِهِمْ

Dialah Tuhan yang menjadikan kalian dapat berjalan di daratan, dan (berlayar) di lautan. Sehingga apabila kalian berada di dalam bahtera, dan meluncurlah bahtera itu membawa orang-orang yang ada di dalamnya dengan tiupan angin sepoi, lalu mereka bergembira karenanya, datanglah angin badai dan gelombang dari segenap penjuru menimpanya, lalu mereka yakin bahwa mereka telah terkepung (bahaya)..

sampai di sini fitrah manusia muncul dalam kesadaran iman yang paling dalam

دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ لَئِنْ أَنْجَيْتَنَا مِنْ هَذِهِ لَنَكُونَنَّ مِنَ الشَّاكِرِينَ

...maka mereka berdoa kepada Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya semata-mata. (Mereka berkata), 'Sesungguhnya jika Engkau menyelamatkan kami dari bahaya ini, pastilah kami akan termasuk orang-orang yang bersyukur.' (QS. Yunus: 22)

Kitab Allah SWT membangkitkan hati untuk percaya kepada apa yang seharusnya dipercayai oleh hati. Keimanan ini tidak berhenti sampai di sini saja, karena bila berhenti sampai di sini, ia hanya merupakan keimanan ilmiah teoritis. Lebih dari itu, Al-Qur'an menyadarkan Anda bahwa kehidupan di akhirat menanti Anda dan pengawasan Allah senatiasa mengikuti Anda.

وَمَا تَكُونُ فِي شَأْنٍ وَمَا تَتْلُو مِنْهُ مِنْ قُرْآَنٍ وَلَا تَعْمَلُونَ مِنْ عَمَلٍ إِلَّا كُنَّا عَلَيْكُمْ شُهُودًا إِذْ تُفِيضُونَ فِيهِ وَمَا يَعْزُبُ عَنْ رَبِّكَ مِنْ مِثْقَالِ ذَرَّةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ وَلَا أَصْغَرَ مِنْ ذَلِكَ وَلَا أَكْبَرَ إِلَّا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ

Tidaklah kalian tengah berada dalam suatu urusan, tidaklah kalian tengah membaca suatu ayat dari Al-Qur'an, atau tidaklah kalian tengah mengerjakan suatu pekerjaan, melainkan Kami menjadi saksi atas kalian di waktu kalian melakukannya. Tidaklah luput dari pengetahuan Tuhanmu biarpun sebesar dzarrah (atom) di bumi ataupun di langit. Tidak ada yang lebih kecil dan tidak ada (pula) yang lebih besar dari itu, melainkan (semua tercatat) dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh) (QS. Yunus: 61)

يَعْلَمُ خَائِنَةَ الْأَعْيُنِ وَمَا تُخْفِي الصُّدُورُ

Dia mengetahui pandangan mata yang berkhianat dan apa yang disembunyikan oleh hati. (QS. Ghafir : 19)

Jadi, ke mana pun Anda menghadap, wahai Akhi, Anda mengerti bahwa mata Allah melihat Anda dan bahwa pengawasan Allah meng- ikuti Anda. Kesimpulan ilmiah darinya adalah bahwa Anda seharusnya senantiasa merasa diawasi oleh Allah. "Jika kamu tidak bisa (seolah-olah) melihat-Nya, maka (sadarilah) sesungguhnya Dia melihatmu."

Selain itu Anda juga melihat akhirat senantiasa berada di hadapan Anda.

وَوُضِعَ الْكِتَابُ فَتَرَى الْمُجْرِمِينَ مُشْفِقِينَ مِمَّا فِيهِ وَيَقُولُونَ يَا وَيْلَتَنَا مَالِ هَذَا الْكِتَابِ لَا يُغَادِرُ صَغِيرَةً وَلَا كَبِيرَةً إِلَّا أَحْصَاهَا وَوَجَدُوا مَا عَمِلُوا حَاضِرًا وَلَا يَظْلِمُ رَبُّكَ أَحَدًا

Dan diletakkanlah kitab, lalu kalian akan melihat orang-orang yang bersalah ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata, 'Aduhai celaka kami, kitab apakah ini yang tidak me- ninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya; dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis).' Dan Tuhanmu tidak menganiaya seorang pun. (QS. Al-Kahfi: 49)

وَتَرَى كُلَّ أُمَّةٍ جَاثِيَةً كُلُّ أُمَّةٍ تُدْعَى إِلَى كِتَابِهَا الْيَوْمَ تُجْزَوْنَ مَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

Dan pada hari itu kalian lihat tiap-tiap umat berlutut. Tiap-tiap umat dipanggil untuk (melihat) buku catatan amalnya. Pada hari itu kalian diberi balasan atas apa yang telah kalian kerjakan. (QS. Al-Jaatsiyah: 28)

وَنَضَعُ الْمَوَازِينَ الْقِسْطَ لِيَوْمِ الْقِيَامَةِ فَلَا تُظْلَمُ نَفْسٌ شَيْئًا وَإِنْ كَانَ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ أَتَيْنَا بِهَا وَكَفَى بِنَا حَاسِبِينَ

Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, maka tidak seorang pun dirugikan seseorang barang sedikit pun. Dan jika (amalan itu) hanya seberat biji sawi pun pasti Kami mendatangkan (pahala) nya. Dan cukuplah Kami menjadi orang-orang yang membuat perhitungan. (QS. Al-Anbiya': 47)

Jadi, keyakinan ini bersifat fitri dan praktis, berlandaskan kepada fitrah dan mengarahkan fitrah itu kepada amal dan kebaikan. Ia adalah aqidah salimah (keyakinan yang sehat), yang memadukan antara kesederhanaan dan kedalaman. Inilah unsur pertama. Bersambung ke Pandangan Umum tentang Kitab Allah SWT(2)[Sumber: Ceramah-ceramah Hasan Al-Banna]
11:00 | 2 komentar

Masukkan alamat e-mail untuk mendapatkan up date Bersama Dakwah