Assalaamu'alaikum ,  Ahlan wa Sahlan  |  Facebook  |  Twitter  |  Pasang Iklan

Materi Tarbiyah Shifatur Rasul | Download Powerpoint

Written By Admin BeDa on Jumat, 31 Desember 2010 | 16:00

Materi tarbiyah ini didedikasikan hanya untuk para murabbi. Dalam bentuk powerpoint, materi ini siap pakai untuk mengisi halaqah. Meminjam istilah Muhammad Rasyidi dalam Buku Menjadi Murabbi Itu Mudah, materi ini sangat cocok untuk dipakai para murabbi yang menggunakan gaya multimedia.

Password Khusus untuk Murabbi
Karena materi ini didesain untuk digunakan para murabbi, kami mohon maaf jika semua slide berbahasa Arab dan tidak ada penjelasan detail bagaimana mengkorelasikan rasmul bayan dengan dalil yang ada pada setiap slide. Insya Allah semua murabbi yang mengakses materi ini mampu menterjemahkan dan menjelaskannya sendiri kepada para mutarabbi dengan baik.

Cara Menggunakan Materi Ini
Materi ini disediakan dalam dua format. Yang pertama adalah powerpoint yang bisa didownload gratis pada link di bawah (recomended). Ia terdiri dari 12 slide. Slide pertama adalah judul materi. Slide kedua adalah rasmul bayan. Dari rasmul bayan ini, murabbi bisa mengklik tiap frase untuk masuk pada slide penjelasan. Di setiap slide penjelasan ada ikon "ke rasmul bayan" ketika itu diklik maka kita akan dibawa kembali ke slide rasmul bayan. Begitu seterusnya. Insya Allah dengan dicoba sendiri akan lebih mudah dipahami.

Yang kedua, materi ini disediakan dalam bentuk jpeg per slide sebagaimana gambar-gambar di bawah. Tujuan utama format jpeg ini sebenarnya adalah sebagai preview bagaimana isi materi. Kami khawatir jika tidak ada preview ini ada yang kecewa karena setelah lama mendownload (kapasitasnya 6 MB) ternyata tidak sesuai dengan yang dibayangkan. Tentu saja format jpeg ini lebih mudah dicopy (mohon maaf jika terganggu dengan iklan otomatis pada bagian bawah gambar, tidak perlu diklik karena itu iklan). Namun demikian, tentu kelemahan jpeg ini adalah rasmul bayannya tidak bisa dijalankan per klik dan me-link ke slide penjelasan. Berbeda dengan format pertama (powerpoint) yang telah dianimasikan.

Kelebihan dan Kekurangan Materi Powerpoint Ini
Materi powerpoint semacam ini meskipun semua dalilnya ditulis dalam bahasa Arab, demikian pula rasmul bayannya, namun ia bisa dibuka di semua komputer yang kompatibel dengan powerpoint 2003. Sebab materi ini telah dibuat sedemikian rupa hingga tidak perlu install font Arab maupun Windows Arabic. Tentu saja ada sisi lemahnya yaitu pada pembengkakan kapasitas. Jika dalam powerpoint yang simple materi 12 slide hanya berkapasitas < 1 MB, materi dengan format ini menjadi sekitar 6 MB.

Preview
Berikut preview slide powerpoint materi Shifatur Rasul ini:












Download Powerpoint
Untuk mendownload materi ini dalam format powerpoint silahkan KLIK DI SINI
16:00 | 10 komentar

Efek Ruang dan Waktu

Written By Admin BeDa on Rabu, 29 Desember 2010 | 08:00

Manusia hidup dalam ruang bumi dan waktu sejarah. Bumi dan sejarah adalah panggung kehidupan manusia. Dalam kerangka interaksi antara ketiga unsur itulah –bumi, sejarah, dan manusia- teks diturunkan. Jika bumi terus berputar, sejarah terus naik dan turun, manusia terus berubah, maka mengertilah kita dalam situasi seperti apakah teks itu bekerja.

Teks ‘bekerja’ dalam situasi yang lentur dan cair. Teks bekerja dalam situasi yang bergerak, berubah dan terus mengalir. Dan itu melahirkan ancaman eksistensial! Ancaman bagi eksistensi setiap teks atau narasi apapun bahwa ia tidak punya cukup nafas kebenaran yang memungkinkannya mengikuti gerak perubahan dari aliran kehidupan itu. Ancaman inilah yang sebenarnya menjelaskan mengapa banyak teks atau narasi yang memiliki life cycle atau umur yang pendek dan terbatas.

Seperti sejarah yang mengisi dua pertiga dari lembar-lembar teks Qur’an, begitu juga kata bumi bertebaran begitu banyak dalam ayat-ayatnya. Itu untuk menegaskan kepada kita bahwa ruang dan waktu tidak berada dalam kendali manusia sebagai pelaku kehidupan. Itu membatasi kemampuan gerak manusia. Itu menjelaskan apa atinya manusia sebagai makhluk yang terbatas.

Tapi masalah manusia tidak terletak pada keterbatasan itu. Sebab tidak ada pertanggungjawaban dalam ketidakmampuan. Jadi Qur’an memaklumi keterbatasan manusia dan karenanya ia tidak perlu mencemaskannya. Yang dilakukan Qur’an adalah memaklumi bagaimana ruang dan waktu berefek pada kemampuan pergerakan manusia tapi ia juga memastikan bahwa manusia bisa tetap bergerak dalam keterbatasannya. Biasanya kita akan menemukan pola Qur’an seperti ini: makin besar efek ruang dan waktu terhadap suatu masalah, makin umum penjelasannya dan makin sedikit detailnya. Begitu juga sebaliknya: makin kecil efek ruang dan waktu terhadap suatu masalah, makin detil penjelasan Qur’an terhadap masalah itu.

Shalat dan harta waris misalnya. Al-Qur’an menjelaskan perintah dasar shalat tapi tidak menjelaskan detilnya karena cara pelaksanaannya bisa berubah-ubah sesuai dengan kondisi manusia. Shalat waktu damai dam muqim berbeda dengan cara shalat waktu perang atau safar. Harta waris sebaliknya. Karena akar masalahnya pada struktur dasar keluarga manusia, maka Qur’an menjelaskan masalah ini sangat detil. Sebab ruang dan waktu tidak berpengaruh terhadap bangunan struktur keluarga manusia. Struktur vertikalnya selalu begitu: ke atas ada ayah dan ibu, ke bawah ada anak-anak. Struktur horisontalnya juga begitu: selalu ada saudara.

Jika ruang dan waktu punya efek pada cara kita menjalani hidup, maka kelenturan dan fleksibilitas adalah niscaya bagi manusia. Itu yang membuat mereka tetap eksis.[Anis Matta, sumber : Serial Pembelajaran Majalah Tarbawi edisi 241]
08:00 | 2 komentar

Kepada Allah, Su'udzan vs Husnudzan

Written By Admin BeDa on Kamis, 23 Desember 2010 | 10:00


Orang yang su'udzan mengatakan, "Ya Allah... mengapa selalu ada kebutuhan tak terduga setelah engkau memberikan rezeki padaku"

Orang yang husnudzan mengatakan, "Segala puji bagiMu ya Allah... setiap kali ada kebutuhan yang menghampiriku Engkau selalu memberi rezeki agar mampu memenuhi kebutuhan itu"

Orang yang su'udzan memandang lingkungan dan latar belakang sebagai nasib yang tak dapat diubah. Orang yang husnudzan memandang lingkungan sebagai tantangan yang harus diubah.

Orang yang su'udzan berfokus pada kesulitan dan kerugian pada setiap masalah. Orang yang husnudzan berfokus pada hikmah dari semua masalah.

Orang yang su'udzan mengatakan, "Ya Allah... sungguh tidak enak memiliki istri yang cerewet dan banyak bicara. Ubahlah ia atau gantilah dengan yang lebih baik"

Orang yang husnudzan mengatakan, "Ya Allah... terima kasih Engkau memberikan istri yang melatihku untuk bersabar. Jadikanlah aku termasuk golongan hamba-Mu yang bersabar"

Ketika doanya belum terkabul, orang yang su'udzan mulai berpikir buat apa banyak ibadah, orang yang husnudzan semakin mendekatkan dirinya kepada Allah.

Ketika terlambat karena kendaraan mogok, orang yang su'udzan menyalahkan mobilnya dan merasa Allah tidak berpihak padanya. Orang yang husnudzan meyakini Allah baru saja menyelamatkannya dari kecelakaan yang bisa saja terjadi jika Allah tak menghentikan kendaraannya.

Ketika hajat duniawinya tak terpenuhi, orang yang su'udzan beranggapan Allah tak sayang hamba-Nya. Orang yang husnudzan berpikir, "Allah akan memberi yang lebih baik agar aku tak semakin jauh dari-Nya".

***

Silahkan tambahkan kalimat berikutnya untuk saling meneguhkan hati kita agar senantiasa husnudzan kepada Allah. Wallaahu a'lam bish shawab. [Muchlisin]
10:00 | 6 komentar

Human Right: Israel Sangat Diskriminatif Terhadap Warga Palestina

Written By Admin BeDa on Senin, 20 Desember 2010 | 11:00


Human Right Watch internasional dalam pernyataan persnya, Ahad (19/12) meminta Amerika agar mengurangi dukunganya finansialnya terhadap Zionis yang dialokasikan untuk perluasan permukiman Israel di wilayah Palestina.

Pada salah satu dokuman dari 166 dokumen yang tersebar dengan judul “Sparatisme dan hilangnya kesataraan” Israel memperlakukan warga Palestina dengan sangat diskriminatif. Politik Israel di Tepi Barat sangat keras. Warga Palestina tidak diperbolehkan mendapatkan hak-hak mendasarnya seperti pelayanan kesehatan, pendidikan dan yang lainya. Beda dengan penduduk Zionis yang mendapatka semua fasilitas yang disediakan pemerintah Zionis.

Wakil direktur HRW bidang hubungan luar negeri, Carol Bograt mengatakan, warga Palestina mendapatkan perlakukan tidak adil secara sistematis. Mereka tidak mendapatkan hak penerangan seperti listrik, air, sekolah dan jalan.

Sementara Israel mendapatkan semua bentuk pelayanan dari pemerintah. Penduduk Zionis hidup dalam kecukupan bahkan sejahtera, namun warga Palestina serba kekurangan, bukan penyinkiran dan ketidak setaraan, bahkan sebagian dari mereka tidak dapat beribadah, dusir dari rumah-rumah milik mereka sendiri.

Oleh karena itu, Amerika yang senantiasa memberikan bantuan pada Israel senilai 2,75 milyar dollar pertahun bertanggung jawab atas situasi ini. Ia harus menghentikan bantuannya selama pemerintah Zionis tidak mau memberikan pelayanan pada semua rakyatnya.

Jumlah ini berdasarkan hasil kajian HRW pada tahun 2003 mencapai 1,4 milyar, selain sejumlah persetujuan yang telah disepakati bersama dengan para pemimpinnya. Amerika membebbaskan Israel dari pajak, khususnya yang digunakan untuk permukiman Zionis.

HRW dengan ini menghimbau AS agar memastikan pembebasan pajak dari Israel harus diikuti dengan koordinasi dan ketentuan yang menghormati undang-undang internasional.

Sejak tahun 1967, Zionis telah membangun 130 permukiman di Tepi Barat yang dihuni 300.000 warga Zionis. [asy, InfoPalestina.com]
11:00 | 0 komentar

Memfirasati Zaman

Written By Admin BeDa on Jumat, 17 Desember 2010 | 07:00

Menemukan kadiah-kaidah yang mengatur jalannya sejarah akan mengantar kita pada temuan lain: memfirasati zaman. Kaidah-kaidah sejarah itu adalah sunnatullah fil hayat, hukum-hukum kehidupan yang permanen, berlaku sepanjang waktu. Dari situ kita bisa menilai apakah hidup kita sedang berjalan naik, atau sedang berjalan datar, atau sedang terjun bebas ke bawah.

Menafsir berbagai peristiwa kehidupan dengan teks seperti menemukan gambaran utuh dari wajah kita di depan sebuah cermin besar yang terang benderang. Di dalam kerangka teks semua peristiwa itu terangkai sebagai satu kesatuan yang berjalan pada sebuah alur sejarah yang jelas, bukan serpihan kisah yang tidak saling terhubung. Merangkai peristiwa-peristiwa itu seperti mengkonstruksi bangunan waktu untuk membaca apa yang disebut orang-orang bijak sebagai tanda-tanda zaman.

Ada zaman misalnya, dalam kehidupan manusia, yang disebut dalam teks Qur’an dan Sunnah sebagai zaman fitnah. Zaman itu hadir dengan ciri-ciri utama seperti: waktu terasa berlalu begitu cepat, merajalelanya kebodohan, matinya orang-orang berilmu, munculnya pemimpin yang kekanak-kanakan, berkurangnya minat orang berbuat kebaikan, kecenderungan orang menjadi semakin pelit, banyaknya pembunuhan dan seterusnya. Imam Bukhari dalam Shahihnya menyebut semua ciri itu dalam Kitab Fitnah.

Jika dalam suatu kurun waktu tertentu peristiwa-peristiwa itu bermuncul secara berturut-turut dan atau bersamaan, maka itu adalah tanda-tanda zaman fitnah. Dalam situasi seperti ini, kata Nabi SAW: “Yang duduk lebih baik dari yang berdiri, yang berdiri lebih baik dari yang berjalan, yang berjalan lebih baik dari yang berlari; siapapun yang menghampiri fitnah itu pasti akan dihancurkan oleh fitnah itu. Maka siapapun yang bisa menemukan tempat untuk bersembunyi atau berlindung, hendaklah ia segera melindungi dirinya daripadanya” (Imam Bukhari dari Abu Hurairah)

Cobalah membaca berbagai berita di media tentang berbagai peristiwa di sekeliling kita, lalu rangkai semua itu dalam sebuah rekonstruksi yang menyeluruh, kemudian cobalah bawa ke hadapan cermin teks yang terang benderang, lalu berpikirlah: Apakah isyarat Alloh dalam semua peritiwa itu? Ke manakah zaman sedang berjalan?

Setiap peristiwa kehidupan bukanlah serpihan yang tidak saling berhubungan. Peristiwa-peristiwa itu adalah rangkaian panjang yang digerakkan oleh kaidah-kaidah tertentu –berupa nilai-nilai, ide-ide, kebiasaan-kebiasaan, tradisi, budaya. Itu terjadi secara sangat dinamis, dan biasanya berlangsung dalam sebuah satuan waktu yang lebih besar.

Bisakah misalnya, Anda membaca bagaimana medan-medan perang yang bertebaran begitu banyak di abad yang lalu menentukan arah zaman kita di abad ini? [Anis Matta, sumber : Serial Pembelajaran Majalah Tarbawi edisi 240]
07:00 | 1 komentar

Puasa Tasyu’a dan Puasa Asyura

Written By Admin BeDa on Jumat, 10 Desember 2010 | 08:00


Di akhir pekan pertama Muharram 1432 H ini, cukup urgen bagi kita untuk membahas puasa tasyu’a dan puasa asyura. Dengan harapan, kita semakin memahami puasa yang disunnahkan pada bulan Muharram ini termasuk fadhilah-nya, kemudian kita termotivasi untuk mengerjakannya.

Apa yang dimaksud dengan puasa Tasyu’a dan Asyura?
Puasa tasyu’a adalah puasa sunnah yang dilaksanakan pada tanggal 9 Muharram. Sedangkan puasa asyura adalah puasa sunnah yang dilaksanakan pada tanggal 10 Muharram.

Hukum Puasa Tasyu’a dan Puasa Asyura
Hukum puasa tasyu’a dan puasa asyura adalah sunnah muakkad, yaitu sunnah yang sangat dianjurkan. Sunnah yang kuat.

Dalil sunnahnya puasa Asyura adalah sebagai berikut:

صَامَ النَّبِىُّ - صلى الله عليه وسلم - عَاشُورَاءَ ، وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ

Nabi SAW berpuasa Asyura dan memerintahkan supaya orang-orang berpuasa. (Muttafaq alaih)

Ketika menjelaskan hadits ini dalam Nuzhatul Muttaqin Syarh Riyadhus Shalihin, DR. Mustofa Said Al Khin, DR. Mustofa Al Bugho, Muhyidin Mistu, Ali Asy Syirbaji, dan Muhammad Amin Luthfi mengatakan: puasa asyura adalah sunah muakkad.

Hadits lain yang menunjukkan bahwa puasa Asyura termasuk sunnah adalah sebagai berikut:

كَانَ عَاشُورَاءُ يَوْمًا تَصُومُهُ قُرَيْشٌ فِى الْجَاهِلِيَّةِ ، وَكَانَ النَّبِىُّ - صلى الله عليه وسلم - يَصُومُهُ ، فَلَمَّا قَدِمَ الْمَدِينَةَ صَامَهُ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ ، فَلَمَّا نَزَلَ رَمَضَانُ كَانَ مَنْ شَاءَ صَامَهُ ، وَمَنْ شَاءَ لاَ يَصُومُهُ

Hari asyura adalah hari yang dipuasakan oleh orang-orang Quraisy pada masa jahiliyah. Rasulullah juga biasa puasa pada saat itu. Ketika datang ke Madinah, beliau berpuasa pada hari itu dan menyuruh orang-orang untuk turut berpuasa. Maka ketika difardhukan puasa Ramadhan, beliau bersabda, “Siapa yang ingin berpuasa, ia berpuasa, dan siapa yang tidak, ia berbukalah.” (Muttafaq alaih)

Sedangkan tentang puasa tasu’a, para ulama’ biasanya memakai dalil hadits berikut ini:

لَئِنْ بَقِيتُ إِلَى قَابِلٍ لأَصُومَنَّ التَّاسِعَ

Seandainya aku masih hidup sampai tahun depan, niscaya aku benar-benar akan berpuasa pada hari kesembilan (HR. Muslim)

Rasulullah SAW memang belum sempat berpuasa tasu’a, tetapi hadits qauliyah di atas menjadi dalil bahwa puasa tasu’a juga disunnahkan. Dari sana kemudian para sahabat melakukan puasa tasu’a itu demikian juga tabi’in, tabi’ut tabiin, dan generasi sesudahnya.

Sejarah Puasa Tasu’a dan Asyura
Puasa asyura (10 Muharram) sebenarnya telah dilakukan Rasulullah SAW pada periode Makkiyah (sebelum hijrah). Bahkan, orang-orang Quraisy pada masa jahiliyah juga melakukannya.

Ketika Rasulullah hijrah dan tiba di Madinah, beliau mendapati orang-orang Yahudi melakukan hal serupa. Maka beliau bertanya pada mereka mengapa mereka berpuasa pada hari asyura itu. Setelah mendapatkan jawaban tentang kemuliaan hari itu bagi Nabi Musa a.s., maka Rasulullah SAW memberitahukan bahwa kaum muslimin lebih berhak atas hari itu. Kaum muslimin di Madinah pun mengerjakan puasa itu dengan sungguh-sungguh, hingga tiba kewajiban puasa Ramadhan pada tahun 2 H dan sejak saat itu Rasulullah menegaskan bahwa puasa Asyura adalah puasa sunnah.

كَانَ عَاشُورَاءُ يَوْمًا تَصُومُهُ قُرَيْشٌ فِى الْجَاهِلِيَّةِ ، وَكَانَ النَّبِىُّ - صلى الله عليه وسلم - يَصُومُهُ ، فَلَمَّا قَدِمَ الْمَدِينَةَ صَامَهُ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ ، فَلَمَّا نَزَلَ رَمَضَانُ كَانَ مَنْ شَاءَ صَامَهُ ، وَمَنْ شَاءَ لاَ يَصُومُهُ

Hari asyura adalah hari yang dipuasakan oleh orang-orang Quraisy pada masa jahiliyah. Rasulullah juga biasa puasa pada saat itu. Ketika datang ke Madinah, beliau berpuasa pada hari itu dan menyuruh orang-orang untuk turut berpuasa. Maka ketika difardhukan puasa Ramadhan, beliau bersabda, “Siapa yang ingin berpuasa, ia berpuasa, dan siapa yang tidak, ia berbukalah.” (Muttafaq alaih)

قَدِمَ النَّبِىُّ - صلى الله عليه وسلم - الْمَدِينَةَ ، فَرَأَى الْيَهُودَ تَصُومُ يَوْمَ عَاشُورَاءَ ، فَقَالَ مَا هَذَا . قَالُوا هَذَا يَوْمٌ صَالِحٌ ، هَذَا يَوْمٌ نَجَّى اللَّهُ بَنِى إِسْرَائِيلَ مِنْ عَدُوِّهِمْ ، فَصَامَهُ مُوسَى . قَالَ فَأَنَا أَحَقُّ بِمُوسَى مِنْكُمْ . فَصَامَهُ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ

Nabi SAW datang ke Madinah dan beliau melihat orang-orang Yahudi berpuasa pada hari asyura. Lalu Nabi SAW bertanya, “Ada apa ini?” Mereka menjawab, “Hari ini merupakan hari terbaik, yaitu saat Allah membebaskan Nabi Musa a.s dan Bani Israel dari kepungan musuh mereka, hingga hari itu dijadikan Nabi Musa a.s. sebagai hari puasa.” Lalu Nabi SAW bersabda, “Aku lebih berhak memuliakan hari ini dibandingkan kalian.” Kemudian beliau menyuruh kaum muslimin agar ikut berpuasa. (HR. Bukhari)

Pada tahun 9 H, tepatnya satu tahun sebelum Rasulullah SAW wafat, sebagian sahabat melapor kepada Rasulullah SAW bahwa hari asyura adalah hari yang dibesarkan Yahudi dan Nasrani. Sementara Islam memiliki semangat menghindari tasyabuh, sebagaimana sabda Rasulullah SAW:

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

Barangsiapa menyerupai orang-orang kafir, maka ia termasuk golongan mereka. (HR. Abu Dawud)

Maka Rasulullah SAW berazam di tahun yang akan datang beliau akan menjalankan puasa pada hari kesembilan juga, yang dikenal dengan puasa tasu’a. Namun, belum sampai tahun depan itu datang, Rasulullah SAW wafat.

حِينَ صَامَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهُ يَوْمٌ تُعَظِّمُهُ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ - إِنْ شَاءَ اللَّهُ - صُمْنَا الْيَوْمَ التَّاسِعَ

Ketika Rasulullah SAW berpuasa pada hari Asyura dan memetintahkan orang agar berpuasa padanya, mereka berkata, “Ya Rasulullah, ia adalah suatu hari yang dibesarkan oleh orang Yahudi dan Nasrani.” Maka Rasulullah bersabda, “Jika datang tahun depan, insya Allah kita berpuasa pada hari kesembilan.” Ibnu Abbas berkata, “Maka belum lagi datang tahun berikutnya itu, Rasulullah SAW pun wafat.” (HR. Muslim dan Abu Dawud).

Fadhilah (Keutamaan) Puasa Tasyu’a dan Asyura
Puasa Tasyu’a dan puasa Asyura termasuk puasa sunnah yang memiliki fadhilah yang luar biasa. Diantara fadhilan puasa Tasyu’a dan puasa Asyura itu adalah sebagai berikut:

Pertama, menjadi puasa yang paling utama setelah puasa Ramadhan

سُئِلَ أَىُّ الصَّلاَةِ أَفْضَلُ بَعْدَ الْمَكْتُوبَةِ وَأَىُّ الصِّيَامِ أَفْضَلُ بَعْدَ شَهْرِ رَمَضَانَ فَقَالَ أَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الصَّلاَةِ الْمَكْتُوبَةِ الصَّلاَةُ فِى جَوْفِ اللَّيْلِ وَأَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ شَهْرِ رَمَضَانَ صِيَامُ شَهْرِ اللَّهِ الْمُحَرَّمِ

Rasulullah SAW ditanya, “Shalat manakah yang lebih utama setelah shalat fardhu dan puasa manakah yang lebih utama setelah puasa Ramadhan?” Nabi SAW bersabda, “Shalat yang paling uatama setelah shalat fardhu adalah shalat di tengah malamdan puasa yang paling utama setelah puasa Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah (yang kamu namakan) Muharram.” (HR. Muslim, Abu Dawud, dan Ahmad)

Kedua, orang yang berpuasa asyura diampuni dosanya selama satu tahun sebelumnya

سُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَاشُورَاءَ فَقَالَ يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ

Rasulullah ditanya tentang puasa asyura, beliau menjawab, “dapat menghapus dosa setahun sebelumnya.” (HR. Muslim)

Wallahu a’lam bish shawab.[]
08:00 | 10 komentar

Perkembangan Palestina di Pekan Pertama 1432 H

Written By Admin BeDa on Kamis, 09 Desember 2010 | 19:00


Berbeda dengan negeri-negeri muslim lain yang bebas menggelar muhasabah pergeantian tahun hijriyah dengan tenang, Palestina masih diliputi serangan Israel dalam berbagai bentuknya. Blokade yang masih mengkotak Gaza juga membuat negeri itu menjadi penjara paling besar di dunia.

Berikut ini beberapa perkembangan Palestina di pekan pertama 1432 H:

Israel Mengoyak Rencana Perdamaian yang Dibuatnya
Israel yang diopinikan menggagas perdamaian dengan Palestina justru melakukan langkah-langkah yang menunjukkan keinginan sebaliknya. Israel yang menduduki dan mencaplok Yerusalem timur pada 1967 membuat kebijakan "ibukota kekal tak terpisahkan". Padahal masyarakat internasional mengecam hal itu dan menginginkan Yerusalem Timur sebagai ibukota Palestina Merdeka.

Amerika Latin dan Dunia Internasional Dukung Palestina
Setelah Jum'at (3/12) Brazil mengakui negara Palestina dengan luas wilayah sama seperti sebelum Israel merebut Tepi Barat dan Gaza pada 1967, Argentina, Paraguay dan Uruguay juga melakukan hal yang sama beberapa hari setelahnya. Negara Amerika Latin lainnya yang telah mengambil langkah serupa adalah Kostarika, Kuba, Nikaragua, dan Venezuela.

Bahkan menurut duta Diplomatik Palestina, 104 negara telah mengakui negara Palestina. Komunitas internasional juga mendukung tuntutan Palestina kembali menjadi sebuah negara yang mencakup sebagian besar Jalur Gaza, Tepi Barat dan Jerusalem Timur, semua wilayah tersebut diduduki Israel lewat Perang Enam Hari pada 1967.

Ketika Israel membangun pemukiman Yahudi di Yerusalem Timur dengan persetujuan Amerika di hari-hari yang mestinya perjanjian dilakukan, Uni Eropa mengecam tindakan itu. Jelaslah, Palestina di awal tahun 1432 H ini mendapatkan kado besar berupa dukungan internasional.

Turki Upayakan Bebaskan Gaza dari Blokade
Tepat pada 1 Muharram 1432 H, Rajab Thayeb Erdogan, menyeru entitas Israel untuk mengakhiri blokade yang dipaksakannya terhadap Jalur Gaza. Tuntutan itu disampaikannya dalam pidato pekanannya di depan parlemen Turki. Di samping itu, Erdogan juga meminta Israel meminta maaf atas pembantaian yang dilakukannya terhadap Armada Kebebasan (Freedom Flotilla).

Tuntutan Erdogan dan upaya lain yang ditempuh Turki diapresiasi dengan hangat oleh pemerintah Palestina di Gaza sehari setelahnya.

Kapal Bantuan dari Asia Meluncur ke Gaza
Berita baik lainnya adalah konvoi bantuan kemanusiaan yang kini berlayar ke Gaza. Ikut serta dalam konvoi – yang membawa bantuan medis dan bantuan – ini sebanyak 125 lembaga kemanusiaan dari India, Pakistan, Indonesia, Malaysia, dan negara-negara lain di Asia.[AN/bsb]
19:00 | 12 komentar

Ketika Hidayah Membersamai Cinta


Aneh. Mereka menangis. Menangisi kepergian orang-orang yang sebelumnya datang sebagai musuh dan mengalahkan negerinya. Bulir-bulir air mata jatuh menyentuh tanah kelahiran yang kini mulai berubah. Tidak semuanya menangis, memang. Namun rona kesedihan menjadi wajah negeri Hims pada hari itu.

Sebelumnya, Hims berada di bawah kekuasaan Romawi. Penduduknya mayoritas beragama Nasrani dan Yahudi. Sampai Islam mengalahkan militer negeri itu, justru ketika mereka mengejar kaum muslimin. Militer itu mungkin terlalu berambisi untuk mengalahkan kaum muslimin. Mereka tidak sadar akan kecerdasan Khalid bin Walid yang telah merancang strategi jitu, sebagaimana mereka tidak juga sadar akan keberanian kaum muslimin menyongsong kematian.

Setelah militer Hims kalah, kaum muslimin memasuki negeri itu untuk menggantikan tirani Romawi. Kesepakatan yang disepakati kedua belah pihak, setiap penduduk Hims membayar jizyah 1 dinar dengan jaminan keselamatan dan keamanan mereka.

Waktu bergulir begitu cepat bersama berubahnya hati manusia. Hims merasakan cinta kaum muslimin kepada mereka. Mereka menikmati kebaikan, keadilan, perlindungan, dan kedamaian dari tentara Muslim di bawah kepemimpinan Abu Ubaidah dan Khalid bin Walid. Maka, tahun 13 H atau 636 M itu menjadi saksi tetesan air mata saat tentara muslim berpamitan kepada mereka menuju Yarmuk. "Kami telah melupakan kemenangan kalian dan mempertahankan kalian," kata Abu Ubaidah dalam sambutan perpisahannya, "karena itu kini kalian bebas menjalani urusan kalian masing-masing." Kata-kata pengundang air mata itu mengiringi sikap yang tidak pernah dilupakan Hims. Kaum muslimin mengembalikan semua jizyah penduduk Hims.

Mata yang berkaca-kaca kini berlinang air mata. Tetesannya menjadi saksi keharuman cinta kaum muslimin. Agha Ibrahim Akram mencatat perkataan sebagian Yahudi Hims dalam buku Khalid bin Walid, The Sword of Allah : "Sungguh, pemerintahan dan keadilan kalian lebih kami senangi dari kezaliman yang dahulu kami rasakan." Mereka juga berjanji takkan mengundang Romawi ke negeri itu. Namun yang lebih menggembirakan, kebaikan kaum muslimin itu membuat penduduk Hims berbondong-bondong memeluk Islam di belakang hari. Hidayah Allah turun membersamai cinta kaum muslimin yang dihadiahkan pada mereka.

Jihad Perang di dalam Islam memang bukan untuk motif ekonomi. Dr. Yusuf Qardhawi menjelaskan panjang lebar dalam Fiqih Jihad bahwa perang seperti itu dilarang dalam Islam. Demikian pula jihad perang bukan dimaksudkan untuk memaksa manusia masuk Islam. Bukan pula untuk melenyapkan seluruh kekufuran di penjuru dunia. Barangkali sebagian kita terkejur dengan larangan terakhir ini. Namun Dr. Yusuf Qardhawi telah mengambil kesimpulan ini dari dalil-dalil Al-Qur'an dan Sunnah.

Tujuan jihad perang yang dibenarkan dalam Islam adalah untuk melawan agresi musuh, mencegah terjadinya fitnah atau menjaga stabilisasi kebebasan dakwah, menyelamatkan orang-orang yang tertindas, dan memberi pelajaran kepada orang-orang yang mengingkari perjanjian. Selebihnya, ketika jihad perang selesai, biarlah orang-orang kafir berinteraksi dengan Islam, menerima dakwahnya, memahami hakikatnya, merasakan kebaikannya, dan membandingkannya dengan keyakinan lama mereka. Allah yang kuasa untuk menganugerahkan hidayah-Nya. Dan hidayah itu turun, biasanya membersamai cinta.

Jihad dalam bentuknya yang lain juga demikian. Jihad siyasi, misalnya. Ia tidak bertujuan meraih kekuasaan, seperti banyak dituduhkan oleh orang-orang yang belum memahami Islam dan dakwahnya. Kekuasaan hanyalah sasaran antara. Hanya anak tangga. Agar Islam bisa mengatur negeri dengan keadilannya. Agar Islam menampakkan keseluruhan wajahnya; yang indah dan mempesona. Agar kaum muslimin bisa menghadirkan cinta, tanpa dihalangi oleh tirani penguasa. Lalu biarlah... dengan cinta yang telah diterimanya umat memilih. Berbondong-bondong menyempurnakan agamanya. Sebab hidayah itu kuasa Allah Azza wa Jalla.

Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan,
dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong,
maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Penerima taubat.
(QS. An-Nashr: 1-3)

Wallaahu a'lam bish shawab. [Muchlisin]
09:00 | 11 komentar

Pintu-pintu Kebenaran

Written By Admin BeDa on Rabu, 08 Desember 2010 | 07:00

Apa bedanya menyembah patung dengan mencium batu seperti hajar aswad? Keduanya adalah benda mati yang disembah atau dicium sebagai bentuk ibadah. Mencium hajar aswad – dalam konteks ini – jelas tidak masuk akal. Tapi Umar bin Khattab yang sangat rasional akhirnya menciumnya juga. Telah hilangkah rasionalitasnya? Tidak! Akalnyalah yang telah mengantarnya kepada hakikat kebenaran yang lebih besar. Yaitu hakikat tentang Allah dan Muhammad. Ia menerima kebenaran itu. Ia meyakini kebenaran itu. Ia tunduk dan pasrah pada kebenaran itu. Maka mencium hajar aswad hanya penampakan kecil dari penerimaan, keyakinan, ketundukan dan kepasrahan kepada kedua hakikat besar itu.

Begitulah Umar bin Khattab menemukan hidayah dan jalan akalnya. Ia mendengarkan adik perempuannya membaca teks ini: “Thaha. Tiadalah Kami menurunkan Al-Qur’an ini kepadamu supaya kamu menderita.” Ayat itu menyentak akalnya. Lalu membuka hatinya. Maka ketika akhirnya ia harus mencium hajar aswad, ia hanya mengatakan: “Saya tahu wahai batu bahwa kamu tidak memberi manfaat tidak juga membawa bahaya. Kalau bukan karena melihat Muhammad menciummu niscaya aku tidak akan menciummu.”

Abu Bakar beda lagi. Ia menemukan kebenaran dari jalan lain. Ia menemukannya dari jalan hatinya. Sejak awal ia bersahabat dengan Muhammad. Sejak awal ia mengetahui kejujuran Muhammad. Maka sejak awal pula ia mempercayai Muhammad dan mencintainya sepenuh hati. Jadi ketika Muhammad datang kepadanya membawa berita dari langit, ia sama sekali tidak menemukan sedikitpun keraguan dalam dirinya. Ia segera mempercayainya dan menerima semua berita yang ia sampaikan. Bahkan dalam peristiwa Isra Mi’raj ia menunjukkan puncak kepercayaannya kepada Muhammad. Maka ia digelari Al-Shiddiq.

Jika kebenaran bisa menampakkan diri dalam banyak wajah, maka jalan menuju kebenaran dapat ditempuh dari pintu hati dan akal. Dari pintu hati ada cinta. Dari pintu akal ada logika. Cinta mengantar Abu Bakar kepada iman. Logika mengantar Umar kepada hidayah. Logika membuat Umar mencintai teks. Cinta memudahkan Abu Bakar memahami logika teks. Cinta membuka mata hati. Logika membuka mata akal. Logika menuntun cinta. Cinta mengayomi logika.

Jika kita datang kepada teks dari pintu-pintu itu, hampir dapat dipastikan bahwa kita akan bertemu dengan kebenaran dalam banyak ragam wajahnya. Sebab teks ini berbicara kepada manusia dengan menggunakan seluruh instrumen pembelajaran yang ada dalam diri manusia. Sekali waktu ia menyentuh akalnya. Lain waktu ia menggugah hatinya. Tapi ketika ia bercerita tentang panorama kehidupan beragam manusia di masa silam, lalu mengajak mereka membayangkan hari-hari yang akan datang, teks ini serta merta menggoda imajinasi kita. Maka kita mengembara dalam ruang waktu yang begitu luas, menyusun sebuah sketsa kehidupan baru, atau menemukan keyakinan-keyakinan baru. Pemahaman baru itu mencerahkan akal. Keyakinan baru itu menenangkan hati.

Di masa kecilnya Sayyid Quthub sering mendengarkan beberapa qori membaca Al-Qur’an di rumahnya. Lantunan suara sang qori menghadirkan teks dalam bunyi yang indah. Akalnya terhentak. Hatinya tergugah. Imajinasinya tergoda. Kelak pergumulan yang lama dengan teks itu ia narasikan kembali sebagai sebuah pengalaman batin tentang bagaimana ia hidup di bawah naungan Qur’an. “Itu karunia. Dan takkan ada yang tahu karunia itu kecuali mereka yang pernah merasakannya,” katanya.[Anis Matta, sumber : Serial Pembelajaran Majalah Tarbawi edisi 238]
07:00 | 2 komentar

Menjadi Murabbi Itu Mudah

Written By Admin BeDa on Senin, 06 Desember 2010 | 11:00


Judul Buku : Menjadi Murabbi Itu Mudah
Penulis : Muhammad Rosyidi
Penerbit : Era Adicitra Intermedia, Solo
Cetakan Ke : 1
Tahun Terbit : Jumadatas Tsaniyah 1431 H/Juni 2010
Tebal Buku : xiv + 154 halaman


Aga Sekamdo pernah mengkomparasikan pertumbuhan kader Ikhwanul Muslimin di Mesir dan Partai Keadilan di Indonesia. Keduanya memiliki sistem kaderisasi yang serupa; halaqah. Pada tahun 1954 (sekitar dua dasawarsa efektif kaderisasi) anggota Ikhwan telah mencapai 3 juta kader. Sedangkan pertumbuhan PK (kini PKS) jauh di bawah itu. Lalu, ia menyimpulkan: ada masalah dengan kaderisasi harakah di Indonesia ini.

Salah satu permasalahan serius kaderisasi dengan sistem halaqah adalah murabbi. Jika sebuah harakah hendak mencapai pertumbuhan kader yang tinggi dengan sistem ini, ia harus menyediakan murabbi dalam jumlah yang signifikan. Rekrutmen yang masif tidak akan berarti banyak jika setelahnya tidak di-follow up-i dengan halaqah karena kurangnya Murabbi. Tapi inilah permasalah yang menggejala hingga kini.

Usia tarbiyah yang lama bukan jaminan bahwa seorang kader siap menjadi murabbi. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa masih banyak kader lama yang tidak kunjung siap menjadi murabbi. Ada pula yang terpaksa dalam ketidaksiapan. Jika kemudian ia belajar tentu akan menjadi lain ceritanya. Namun keterpaksaan itu sering berujung pada "pembubaran halaqah".

Buku Menjadi Murabbi Itu Mudah yang ditulis oleh Muhammad Rosyidi berusaha menyajikan solusi untuk menjawab permasalahan di atas. Judulnya yang menarik, mengajak kita optimis bahwa menjadi murabbi itu tidak sesulit yang dibayangkan. Dengan persepsi awal yang mencerahkan ini, diharapkan kader dakwah siap diamanahi menjadi murabbi, siap memulai halaqah, dan sambil berjalan diharapkan terus meningkatkan kafaah-nya sebagai murabbi agar halaqahnya berjalan efektif.

Mengapa Tidak Menjadi Murabbi?
Ada enam alasan mengapa kader dakwah ragu untuk menjadi murabbi yang direkam dalam buku Menjadi Murabbi Itu Mudah. Alasan-alasan itu adalah merasa belum siap, merasa belum pantas, merasa tidak cocok, belum mendapatkan kelompok binaan, sibuk, atau trauma pengalaman.

Alasan yang pertama bisa dijawab dengan langsung menjadi murabbi, tanpa membayangkan hal yang belum terjadi. Action! Untuk ketidaksiapan teknis ketika mengisi halaqah, Muhammad Rosyidi memberikan tips: cermati murabbi mengisi halaqah dari awal sampai akhir, jiplak saja. Selebihnya konsultasikan ke murabbi.

Alasan kedua, merasa tidak pantas, harus segera diatasi. Pertama, pahamkan diri bahwa seorang yang berdakwah tidak harus menunggu sempurna. Sambil terus memperbaiki diri. Para sahabat Nabi langsung mendakwahkan apa yang mereka terima dari Rasulullah, tanpa menunggu semua surat Al-Qur'an turun lengkap. Kedua, buat target kapan pantas jadi murabbi. Kekurangan yang telah disadari harus dibenahi dalam tenggang waktu tertentu. Jika tak ada waktu yang bisa dijadikan batasan sampai pantas, barangkali alasan yang sebenarnya adalah ketidakmauan atas nama ketidakpantasan.

Merasa tidak cocok biasanya menimpa kader yang nervous bicara di depan orang banyak, atau kurang menguasai materi. Banyak juga keraguan ini menimpa mereka yang pernah gagal menjadi murabbi. Saran dalam buku Menjadi Murabbi itu Mudah adalah dengan memberanikan diri menjadi murabbi. Jangan pernah merasa tidak cocok kalau hanya pernah gagal satu atau dua kali. Sambil terus meng-up grade diri sebagai langkas antisipasi.

Alasan keempat bisa dijawab secara personal, kelompok tarbawi, atau struktur. Secara personal berarti meningkatkan kemampuan rekrutmen, berupaya melakukan dakwah fardiyah. Secara kelompok, ini bisa disikapi dengan menggelar rekrutmen yang difasilitasi murabbi. Tentu adanya peran struktur menjadi solusi yang lebih baik. Misalnya dengan adanya bursa murabbi dan mutarabbi di samping secara berkala menggelar acara-acara rekrutmen.

Untuk alasan sibuk, justru murabbi adalah tugas yang biasa dijalankan dengan baik oleh mereka yang terbiasa sibuk. Kesulitan waktu bisa diatasi dengan mengkomunikasikan kepada struktur sehingga murabbi yang bisa di satu waktu dipertemukan dengan mutarabbi yang bisanya juga di waktu itu.

Sedangkan trauma pengalaman biasanya dialami oleh mereka yang pernah "ditinggalkan" mutarabbi. Bisa jadi karena sikapnya yang berbeda dalam masalah khilafiyah. Seharusnya kegagalan tidak menjadikan kader trauma untuk memegang halaqah lagi. Justru dengan banyaknya pengalaman ia akan menjadi expert. Maka solusinya adalah, lakukan. Do it!

Karena Menjadi Murabbi itu Luar Biasa

Motivasi itu penting. Dan motivasi berangkat dari pemahaman yang benar. Menjadi murabbi itu luar biasa. Banyak keutamannya. Kesiapan kader untuk menjadi murabbi akan semakin kokoh jika ia memiliki motivasi tinggi di samping keberhasilannya menepis keraguan-keraguan di atas.

Pada bab 3 dan 5 Menjadi Murabbi Itu Mudah, Muhammad Rosyidi menguraikan bahan motivasi itu. Bahwa kita perlu memahami status murabbi dan untungnya menjadi murabbi. Keduanya bahkan diletakkan sebelum alasan tidak menjadi murabbi pada bab 6.

Setidaknya, ada hal yang dijelaskan dalam buku Menjadi Murabbi Itu Mudah terkait status Murabbi. Pertama, murabbi itu menyambung mata rantai dakwah. Tanpa murabbi dakwah akan terputus. Dan jangan sampai kita termasuk pemutus mata rantai itu. Kedua, menjadi murabbi berarti berkontribusi bagi dakwah. Kontribusi yang teramat besar nilainya bagi seorang kader dakwah. Kontribusi spesial. Apapun amanah kader di dalam struktur atau wajihah, menjadi murabbi adalah amanah utama yang tidak boleh dikesampingkan. Ketiga, tidak adaoutsorcing dalam menjadi murabbi. Jadi seorang ikhwah tidak boleh berpikir; saya merekrut saja, biar orang lain yang membina. Saya di struktur saja, atau mengisi taklim saja, biar saya wakilkan halaqah kepada ikhwah lainnya.

Sedangkan untungnya menjadi murabbi diuraikan dalam bab 5 sebagai berikut: memperoleh pahala sebagai dai, mendapatkan multi level pahala, menjadi lebih memahami tarbiyah, termotivasi untuk terus meningkatkan amal, menjadi sarana pendewasaan diri, dan aplikasi taawun.

Segera Menjadi Murabbi, Siapkan Mental, Pilih Gaya Sendiri!
Cara terbaik menjadi murabbi adalah memulainya. Maka motivasi yang telah ada harus segera menemukan krannya. Action. Bisa jadi halaqah itu murni baru, bisa jadi ia lanjutan dari taklim rutin yang di-khas-kan, atau yang lainnya. Sambil jalan murabbi baru perlu mensetting mentalnya. Bahwa murabbi itu pantang menyerah, bersikap tenang, dan bijak menyikapi realitas binaan. Tidak menyerah meski hujan datang, tetap datang. Tidak menyerah meski lelah. Tetap tenang meskipun barangkali ada tetangga yang bertanya ada cara apa. Tetap tenang meskipun ada peserta yang di awal halaqah bertanya yang menyulitkan. Bijak menyikapi realitas binaan yang berbeda latar belakang maupun sangat tidak ideal dalam Islam. Murabbi perlu bijak, karena mereka masih baru.

Dalam menyampaikan materi, kita bisa memilih gaya kita sendiri. Bisa gaya tekstual dengan cara membacakan materi halaqah. Bisa gaya multimedia dengan membawa laptop dan menyajikan materi dalam bentuk powerpoint. Bisa gaya mengkaji kitab, dengan membaca kitab lalu menguraikan sendiri penjelasannya. Atau gaya paparan dengan cukup menuliskan rasmul bayan lalu menjelaskannya.

Masih banyak tips-tips berikutnya dalam mengelola halaqah dalam buku Menjadi Murabbi Itu Mudah. Membaca buku ini, insya Allah menjadi pencerahan dan penyemangat bagi calon murabbi bahwa Menjadi Murabbi Itu Mudah. Meski demikian, buku ini juga perlu dibaca para murabbi sebagai upaya in'asy, pengembangan, peningkatan, dan up-grade kualitas. Wallaahu a'lam bish shawab. [Muchlisin]

DALAM BENTUK E-BOOK, MENJADI MURABBI ITU MUDAH BISA DIDOWNLOAD DI SINI
11:00 | 11 komentar

Khutbah Jum'at: Internalisasi Nilai dan Semangat Hijrah

Written By Admin BeDa on Jumat, 03 Desember 2010 | 09:00


Kita kini berada di penghujung Dzulhijjah 1431 H. Akhir tahun. Beberapa hari lagi Muharram datang. Kita memasuki lembaran baru tahun 1432 H. Sungguh, satu hal yang luar biasa bahwa kalender atau penanggalan Islam dimulai dari peristiwa Hijrah ke Madinah. Bukan yang lain. Maka, memasuki tahun baru hijriyah mestinya kita pun memiliki semangat hijrah. Khutbah Jum'at kali ini berusaha mengingatkan kita agar mampu menginternalisasikan nilai dan semangat hijrah dalam kehidupan modern.

Dengan demikian, tema Khutbah Jum'at edisi 26 Dzulhijjah 1431 H yang bertepatan dengan 3 Desember 2010 M ini adalah: Internalisasi Nilai dan Semangat Hijrah.

KHUTBAH PERTAMA

الحمد لله ربِّ العالمين والْعاقِبَةُ لِلْمُتَّقين ولا عُدْوانَ إلَّا عَلى الظَّالمِين وأشهد أنْ لا إله إلاالله وحده لا شريك له ربَّ الْعالمين وإلَهَ المُرْسلين وقَيُّوْمَ السَّمواتِ والأَرَضِين وأشهد أن محمدا عبده ورسوله المبعوثُ بالكتابِ المُبين الفارِقِ بَيْنَ الهُدى والضَّلالِ والْغَيِّ والرَّشادِ والشَّكِّ وَالْيَقِين والصَّلاةُ والسَّلامُ عَلى حَبِْيبِنا و شَفِيْعِنا مُحمَّدٍ سَيِّدِ المُرْسلين و إمامِ المهتَدين و قائِدِ المجاهدين وعلى آله وصحبه أجمعين

فياأيها المسلمون أوصيكم وإياي بتقوى الله عز وجل والتَّمَسُّكِ بهذا الدِّين تَمَسُّكًا قَوِيًّا. فقال الله تعالى في كتابه الكريم، أعوذ بالله من الشيطان الرجيم “يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ ،

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

Jamaah Jum’at yang dirahmati Allah,
Waktu terus berputar tanpa pernah berhenti. Ia bahkan tak bisa diperlambat ataupun dipercepat meskipun kita menginginkannya. Dan kini, waktu membawa kita pada penghujung bulan Dzulhijjah 1431 H. Kita berada di hari-hari terakhir tahun 1431 H. Dalam hitungan hari, insya Allah 4 hari lagi, kita memasuki lembaran baru: tahun baru Islam 1432 H.

Kalender hijriyah adalah kalender Islam. Penanggalan yang juga dipakai standar dalam penentuan waktu-waktu ibadah dalam Islam. Puasa diwajibkan pada bulan Ramadhan, haji pada bulan Dzulhijjah, dan lain sebagainya.

Sebenarnya, nama-nama bulan ini telah dipakai di zaman Rasulullah SAW. Maka kita pun mendapati firman Allah SWT terkait dengan perhitungan waktu dalam hijriyah ini:

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِينَ كَافَّةً كَمَا يُقَاتِلُونَكُمْ كَافَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ

Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya; dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa. (QS : At-Taubah : 36)

Permasalahan muncul pada zaman kekhilafahan Umar bin Khatab. Saat itu Abu Musa Al-Asyári sebagai salah seorang gubernur menulis surat kepada Amirul Mukminin yang isinya menanyakan surat-surat dari khalifah yang tidak ada tahunnya, hanya tanggal dan bulan saja, sehingga membingungkan. Mendapatkan masukan ini, khalifah Umar bin Khatab menggelar syura (musyawarah). Maka dikumpulkanlah beberapa sahabat senior waktu itu. Diantaranya adalah Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Abdurrahman bin Auf, Sa’ad bin Abi Waqqas, Zubair bin Awwam, dan Thalhan bin Ubaidillah.

Dalam musyawarah itu muncullah beberapa usulan dimulainya tahun Islam. Ada yang mengusulkan berdasarkan milad (kelahiran) Rasulullah SAW. Ada juga yang mengusulkan berdasarkan pengangkatan Muhammad SAW menjadi Rasul. Dan ada pula yang mengusulkan berdasarkan hijrah Rasulullah SAW. Usul terkahir ini datang dari Ali bin Abi Thalib, dan usul inilah yang kemudian disepakati. Maka ditetapkanlah tahun pertama dalam kalender Islam adalah pada masa hijrahnya Rasulullah SAW. Sedangkan nama-nama bulan dalam kalender hijriyah ini diambil dari nama-nama bulan yang telah ada dan berlaku di masa itu di bangsa Arab selama ini.

Jama'ah Jum'at yang dirahmati Allah,
Betapa luar biasanya para pendahulu kita dari kalangan sahabat radhiyallaahu anhum. Mereka menyepakati bahwa kalender hijriyah dimulai dari masa hijrah ke Madinah. Bukan dari waktu kelahiran Rasulullah, bukan dari diangkatnya Muhammad sebagai Rasulullah, bukan pula dari peristiwa lainnya. Sesungguhnya, dalam penentuan awal kalender Islam ini terkandung narasi besar.

Jika kelahiran Rasulullah, itu adalah skenario dari Allah. Demikian pula diangkatnya Muhammad sebagai Rasulullah, itu adalah kehendak Allah yang sulit bagi kita untuk mengambil keteladanan dari peristiwa itu. Itu karunia. Itu rahmat. Bukan pelibatan ikhtiar dalam kapasitas yang besar.

Namun hijrah. Subhaanallah... betapapun ia adalah skenario Allah, ia tetap saja sebuah proses manusiawi yang penuh dengan nilai perjuangan dan semangat untuk diteladani generasi berikutnya.

Kita tahu, bahwa dakwah Rasulullah selama 13 tahun di Makkah tidak membuat negeri itu menjadi negeri Islam. Bahkan yang terjadi, meskipun semakin banyak orang yang masuk Islam, orang-orang kafir Quraisy makin gencar menghalangi dakwah. Berbagai bentuk celaan dalam ribuan variannya telah dilancarkan. Siksaan kepada kaum muslimin yang lemah juga dilakukan. Berbagai negosiasi dan tawaran ditempuh agar dakwah berhenti. Sampai pemboikotan kaum muslimin hingga mereka terpaksa memakan daun-daunan. Semuanya tidak menghentikan dakwah. Hingga kafir Quraisy pun berencana membunuh Rasulullah.

Sementara itu, dari arah Yatsrib datang dukungan dakwah. Allah memberikan pertolongan dari jalan yang lain, ternyata. Setelah baiat Aqabah I, Rasulullah mengutus dai Islam Mush'ab bin Umair untuk mendakwahi penduduk Yatsrib, mengajarkan Islam kepada mereka. Hasilnya, penduduk Yatsrib berbondong-bondong masuk Islam. Mereka bahkan berbaiat melindungi Rasulullah melalui baiat Aqabah II. Mereka juga mengabarkan bahwa Yatsrib telah menjadi basis sosial yang siap ditempati kaum muslimin.

Maka, dua bulan lebih beberapa hari setelah Baiat Aqabah II itu, kaum muslimin Makkah yang kemudian dikenal dengan nama Muhajirin telah hijrah ke Yatsrib. Yang kemudian dinamanak Rasulullah sebagai Madinah. Kini tinggal Rasulullah dan Abu Bakar yang masih berada di Makkah. Sampai kemudian datang perintah Allah kepada keduanya untuk hijrah, tepat ketika mereka hendak membunuh Rasulullah dengan mengepung rumah beliau.

Jama'ah Jum'at yang dirahmati Allah,
Hijrah bukanlah perjuangan ringan. Bayangkanlah orang-orang yang telah disiksa di kampung halamannya harus berpindah ke negeri lain yang tidak dikenal. Yang belum jelas. Yang masih samar masa depan di sana. Di saat yang sama ia harus meninggalkan rumah dan harta benda yang tidak mungkin dibawa. Seakan-akan mereka terusir. Terusir dari kampung halaman tanpa bekal dan tanpa kejelasan masa depan. Namun karena iman, mereka menempuh perjuangan sulit dan melelahkan itu.

Terlalu banyak catatan luar biasa dari hijrah, dan betapa hebat perjuangan para muhajirin itu. Misalnya Suhaib. Ia orang yang kaya raya. Namun ketika hendak hijrah, orang-orang kafir Quraisy menghadangnya. Mereka tidak rela Shuhaib hijrah dan membawa sebagian hartanya. "Dulu engkau orang yang hina dan miskin," kata mereka ketika menghadang Shuhaib, "lalu setelah engkau kaya raya engkau akan membawa hartamu keluar Makkah. Kami tidak rela." Mendengar itu Shuhaib menawarkan pilihan, "Bagaimana jika kutunjukkan tempat penyimpanan hartaku dan kalian bebas memiliki semuanya. Tapi biarkan aku hijrah." Orang-orang kafir Quraisy itu pun setuju dan membiarkan Shuhaib hijrah tanpa bekal harta. Mendengar peristiwa ini Rasulullah bersabda:

ربح صهيب، ربح صهيب

Shuhaib beruntung, Shuhaib beruntung. (HR. Ibnu Hibban)

Demikianlah, para sahabat rela meninggalkan kampung halaman dan semua harta benda mereka. Bahkan rela mengambil resiko nyawa karena tidak ada jaminan bahwa hijrah itu berjalan mulus tanpa halangan kafir Quraisy hingga bisa dengan selamat di Madinah. Misalnya Ayash bin Abi Rabi'ah yang akhirnya ditangkap oleh orang Quraisy, diikat dan dibawa kembali ke Makkah.

Terlebih hijrahnya Rasulullah dan Abu Bakar yang langsung diburu oleh kafir Quraisy. Dan disayembarakan dengan hadiah besar bagi siapa yang bisa mendapatkan Rasulullah hidup atau mati.

Tidak heran jika kaum muhajirin dipuji oleh Allah SWT dalam Al-Qur'an dan dipersaksikan para shaadiquun:

لِلْفُقَرَاءِ الْمُهَاجِرِينَ الَّذِينَ أُخْرِجُوا مِنْ دِيارِهِمْ وَأَمْوَالِهِمْ يَبْتَغُونَ فَضْلاً مِنْ اللَّهِ وَرِضْوَانًا وَيَنْصُرُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ أُوْلَئِكَ هُمْ الصَّادِقُونَ

Bagi orang fakir yang berhijrah yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka (karena) mencari karunia dari Allah dan keridhaan-Nya dan mereka menolong Allah dan RasulNya. mereka Itulah orang-orang yang benar. (QS. Al-Hasyr: 8).

Jama'ah Jum'at yang dirahmati Allah,
Hijrah secara bahasa berarti "tarku" (meninggalkan). Dikatakan hijrah ila syai' berarti "intiqal ilaihi 'an ghairihi" (berpindah kepada sesuatu dari sesuatu). Sedangkan secara istilah hijrah berarti "tarku man nahallaahu 'anhu" : meninggalkan sesuatu yang dilarang oleh Allah SWT.

Rasulullah SAW bersabda:

الْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللَّهُ عَنْهُ

Muhajir adalah orang yang meninggalkan segala larangan Allah (HR. Bukhari)

Dengan demikian, hijrah secara maknawi terus relevan sampai kapan pun. Bahwa nilai dan smeangat hijrah harus kita bawa dalam kehidupan modern ini. Kita berhijrah dari kejahiliyahan menuju Islam. Hijrah dari kekufuran menuju Iman. Hijrah dari kesyirikan menuju tauhid. Hijrah dari kebathilan menuju al-haq. Hijrah dari nifaq menuju istiqamah. Hijrah dari maksiat menuju tha'at. Dan hijrah dari yang haram menuju yang halal.

وقل رب اغفر وارحم و انت خير الراحمين

KHUTBAH KEDUA

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ
أَشْهَدُ أنْ لا إلَهَ إلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، وأشهدُ أنَّ مُحَمَّدًا عبْدُه ورَسُولُه.
{ يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ } [آل عمران: 102]
{ يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلا سَدِيدًا * يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا } [الأحزاب: 70، 71].

Jama'ah jum'at yang dirahmati Allah,
Dalam hijrah terkandung pula 3 dimensi nilai untuk kita internalisasikan dalam kehidupan modern ini.

Pertama, dimensi personal, bahwa setiap mukmin harus selalu lebih baik kualitas keimanannya dari hari kemarin. Maka kita berhijrah dari kualitas saat ini menuju kualitas yang lebih baik. Kita terus memperbaiki diri. Islahul fardi. Hingga mencapai kualitas pribadi muslim (syakhshiyah Islamiyah). Kita terus berupaya agar bisa menjalankan Islam secara kaffah, secara komprehensif.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

Hai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara kaffah, dan jangalah kalian ikuti langkah-langkah syaitan karena syaitan itu musuh yang nyata bagimu. (QS. Al-Baqarah : 208)

Kedua, dimensi sosial, bahwa seorang mukmin harus memperbaiki lingkungan sosialnya. Ia perlu menghijrahkan keluarga dan tetangganya hingga mencapai karakteristik komunitas Islami (Sya'biyah Islamiyah). Mungkin dalam konteks sekarang kita tidak perlu berpindah ke kota lain, tetapi bagaimana menghijrahkan kota atau daerah kita menjadi lebih baik. Dimensi sosial juga berarti menata diri kita untuk menjadi bermanfaat secara sosial. Memiliki kesadaran berkontribusi (wa'yul intaji).

Ketiga, dimensi dakwah. Sebagaimana dakwah ke Madinah adalah dalam rangka pemenangan dakwah dari satu marhalah ke marhalah berikutnya. Pembentukan basis sosial dan pendirian kepemimpinan Islam, maka semangat hijrah di masa kini harus juga berdimensi dakwah. Kita terpanggil untuk menebarkan Islam, menguatkan nilai-nilai kebaikan, dan mendukung dakwah Islam agar terwujud masyarakat yang islami dan negeri yang baldatun thayyibatun wa Rabbun ghafur, hingga Islam menjadi ustadziyatul alam (soko guru peradaban).

اللَّهُمَّ صَلِّ وسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ وسَلّمْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، فِي العَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنْ خُلَفَائِهِ الرَّاشِدِيْنَ، وَعَنْ أَزْوَاجِهِ أُمَّهَاتِ المُؤْمِنِيْنَ، وَعَنْ سَائِرِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعِيْنَ، وَعَنْ المُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِنَاتِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَعَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اللَّهُمَّ اجْعَلْ جَمْعَنَا هَذَا جَمْعًا مَرْحُوْمًا، وَاجْعَلْ تَفَرُّقَنَا مِنْ بَعْدِهِ تَفَرُّقًا مَعْصُوْمًا، وَلا تَدَعْ فِيْنَا وَلا مَعَنَا شَقِيًّا وَلا مَحْرُوْمًا.
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالعَفَافَ وَالغِنَى.

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ أَنْ تَرْزُقَ كُلاًّ مِنَّا لِسَانًا صَادِقًا ذَاكِرًا، وَقَلْبًا خَاشِعًا مُنِيْبًا، وَعَمَلاً صَالِحًا زَاكِيًا، وَعِلْمًا نَافِعًا رَافِعًا، وَإِيْمَانًا رَاسِخًا ثَابِتًا، وَيَقِيْنًا صَادِقًا خَالِصًا، وَرِزْقًا حَلاَلاًَ طَيِّبًا وَاسِعًا، يَا ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ.
اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَوَحِّدِ اللَّهُمَّ صُفُوْفَهُمْ، وَأَجْمِعْ كَلِمَتَهُمْ عَلَى الحَقِّ، وَاكْسِرْ شَوْكَةَ الظَّالِمِينَ، وَاكْتُبِ السَّلاَمَ وَالأَمْنَ لِعِبادِكَ أَجْمَعِينَ.

اللَّهُمَّ رَبَّنَا احْفَظْ أَوْطَانَنَا وَأَعِزَّ سُلْطَانَنَا وَأَيِّدْهُ بِالْحَقِّ وَأَيِّدْ بِهِ الْحَقَّ يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ.
اللَّهُمَّ رَبَّنَا اسْقِنَا مِنْ فَيْضِكَ الْمِدْرَارِ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الذَّاكِرِيْنَ لَكَ في اللَيْلِ وَالنَّهَارِ، الْمُسْتَغْفِرِيْنَ لَكَ بِالْعَشِيِّ وَالأَسْحَارِ.

اللَّهُمَّ أَنْزِلْ عَلَيْنَا مِنْ بَرَكَاتِ السَّمَاء وَأَخْرِجْ لَنَا مِنْ خَيْرَاتِ الأَرْضِ، وَبَارِكْ لَنَا في ثِمَارِنَا وَزُرُوْعِنَا وكُلِّ أَرزَاقِنَا يَا ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ.
رَبَّنَا آتِنَا في الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
رَبَّنَا لا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا، وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً، إِنَّكَ أَنْتَ الوَهَّابُ.
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الخَاسِرِيْنَ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدُّعَاءِ.

عِبَادَ اللهِ :إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي القُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ

[Khutbah Jum'at edisi 26 Dzulhijjah 1431 H bertepatan dengan 3 Desember 2010 M; Bersama Dakwah]

============================================
E-BOOK KHUTBAH JUM'AT INI BISA DIDOWNLOAD DI SINI
09:00 | 5 komentar

Al Aqsa Rencana Diserang Massal Mulai Hari Ini

Written By Admin BeDa on Kamis, 02 Desember 2010 | 12:45


Masjid yang menjadi kiblat pertama umat Islam kembali menjadi sasaran zionis. The Aqsa Foundation for Endowment and Heritage (AFEH) memperingatkan adanya serangan yang telah dirancang beberapa hari lalu oleh ekstimis Yahudi.

Diingatkan oleh AFEH bahwa kelompok-kelompok fanatik Yahudi mulai mendistribusikan undangan beberapa hari lalu untuk mendesak orang Yahudi agar menyerang Al Aqsa secara massal mulai hari ini (2/12). Direncanakan penyerangan massal akan dilakukan selama sepekan penuh.

Penyerangan ini dilakukan bertepatan dengan hari raya Ibrani “Hanoka”, yang oleh sebagian mereka dinamakan pula dengan hari raya “Penyucian Sinagog”, yang menurut klaim mereka berkaitan dengan syiar-syiar “penyucian sinagog”.

Selain undangan secara langsung, kelompok ekstrimis Yahudi juga menggunakan situs-situs Israel untuk memobilisasi massa. Disebutkan bahwa mereka yang ikut serta dalam penyerangan disediakan makanan, minuman, dan ceramah Talmud.
Di samping kampanye pelajaran dan ceramah tentang isi Talmud bagi siapa saja yang ikut menyerang Masjid Al Aqsha mendapatkan 50 shekel per peserta.

Disinyalir penyerangan pada hari raya Ibrani "Hanoka" ini dilakukan sebagai upaya mempercepat pembangunan haikal di reruntuhan Al Aqsa yang sampai kini masih menjadi cita-cita Israel. [AN/bsb]
12:45 | 0 komentar

Wajah-Wajah Kebenaran

Written By Admin BeDa on Rabu, 01 Desember 2010 | 07:00

Menggunakan konteks untuk memaknai teks melalui proses rekonstruksi imajiner merupakan pintu yang membuka peluang pemaknaan yang luas. Dari sini lahir unsur analogi ketika teks akan dimaknai kembali pada konteks yang lain. Yaitu upaya menurunkan teks ke dalam dua atau tiga atau lebih konteks yang berbeda. Sebab walaupun sejarah kehidupan Rasulullah SAW merupakan konteks yang legitimate untuk memaknai teks secara akurat, tetap saja teks itu independen dan berdiri sendiri serta harus bisa menembus semua sekat ruang dan waktu.

Independensi teks itu perlu ditegaskan kembali. Karena itu terkait dengan doktrin tentang keabadian teks yang mengharuskannya terbebas dari kekhususan masa tertentu atau ruang tertentu atau apa yang kita sebut sebagai konteks. Jadi dalam kerangka pemaknaan itu konteks adalah salah satu alat bantu yang dapat mengikat makna tertentu pada teks tapi tidak membatasinya sampai di situ. Itu yang menjelaskan mengapa ruang pemaknaan menjadi lebih luas dan memungkinkan munculnya kebenaran dalam banyak wajah.

Ruang pemaknaan yang luas bukan saja lahir dari fakta bahwa konteks bukanlah alat bantu tunggal dalam memaknai teks, tapi juga lahir dari fakta bahwa teks itu sendiri mempunyai kemampuan menampung beragam makna atas dirinya sendiri. Dan semua makna itu menjadi benar karena berada dalam lingkaran ruang pemaknaan yang telah disediakan oleh teksnya sendiri. Ini juga ikut membenarkan mengapa kebenaran itu bisa muncul dalam wajah yang banyak dan beragam.

Dalam wajah kebenaran yang beragam itu kita dapat memahami kecenderungan sebagian ulama untuk memaknai teks dengan menggunakan akal murni sebagai salah satu alat bantu atau apa yang mereka sebut sebagai at tafsir bid diroyah. Inilah misalnya yang dilakukan oleh Al Zamakhsyari atau Abu Hayyan Al Tauhidi.

Di sini kita menemukan fakta bagaimana teks dan rasio bertemu secara harmonis. Pertemuan itulah yang menjelaskan mengapa orang-orang yang memiliki kedalaman ilmu (al rosikhuun fil 'ilm), selalu memiliki kelapangan dada yang luar biasa pada waktu yang sama. Teks, rasio dan imajinasi semuanya menjadi alat bantu yang efektif untuk menemukan kebenaran dalam berbagai wajahnya. Itu menjadi mungkin karena ia dikelola dalam bingkai sikap jiwa yang rendah hati menerima kebenaran dan kesiapan melaksanakannya dalam kenyataan. Dengan sikap jiwa begitu mereka berburu makna-makna kebenaran tanpa dihantui oleh keharusan memenangkan satu makna atas makna yang lain. [Anis Matta, sumber : Serial Pembelajaran Majalah Tarbawi edisi 237]
07:00 | 1 komentar

Masukkan alamat e-mail untuk mendapatkan up date Bersama Dakwah