Assalaamu'alaikum ,  Ahlan wa Sahlan  |  Write for Us  |  Kontributor  |  Pasang Iklan

Hadits 15: Mencintai Rasul-Nya Melebihi Semua Manusia

Diposkan oleh Bersama Dakwah pada Selasa, 04 Januari 2011 | 14.00 WIB

Pembahasan hadits Shahih Bukhari kini memasuki hadits yang ke-15, biidznillah. Pembahasan hadits ke-15 ini kita beri judul “Mencintai Rasul-Nya Melebihi Semua Manusia”. Nanti kita akan melihat bahwa matan hadits ke-15 ini tidak jauh berbeda dari hadits ke-14, hanya terdapat tambahan وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ (dan manusia seluruhnya).

Berikut ini matan lengkap hadits Shahih Bukhari ke-15:
عَنْ أَنَسٍ قَالَ قَالَ النَّبِىُّ - صلى الله عليه وسلم - لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ
Dari Anas r.a. ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, "Tidak sempurna keimanan seseorang diantara kalian hingga ia lebih mencintai aku daripada kedua orangtuanya, anaknya, dan manusia semuanya."

Penjelasan Hadits
لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ
Tidak sempurna keimanan seseorang diantara kalian hingga ia lebih mencintai aku daripada kedua orangtua dan, anaknya

Penjelasan matan ini telah ditulis dalam pembahasan hadits ke-14. Lafadznya sama persis, kecuali adanya sumpah yang mendahului pada hadits ke-14. Pembaca bisa merujuknya kembali.
وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ
dan manusia semuanya

Jadi kesempuraan iman itu menuntut kecintaan yang sempurna pula. Kecintaan yang berpangkal pada pemahaman, cinta yang tumbuh dari kesadaran dan mujahadah. Bukan kecintaan sebagai tabiat semata.

Jika manusia mencintai orang tua karena keduanya telah melahirkan, mendidik, dan membesarkannya, sesungguhnya ketiga hal itu takkan pernah terjadi kalau bukan karena Rahmat Allah. Maka kecintaan kepada Allah sudah seharusnya menjadi cinta yang paling utama. Lalu Allah memerintahkan hamba-Nya untuk mencintai Rasulullah, atas dasar cinta seorang hamba akan memenuhi perintah untuk mencintai Rasul-Nya melebihi mereka. Dan, bukankah orang tua hanya memberikan nafkah lahir sementara Rasulullah telah menyampaikan petunjuk Allah kepada umatnya hingga manusia terselamatkan dari kesesatan? Argumentasi ini menjadi dasar logika kecintaan kepada Rasulullah melebihi mereka.

Demikian pula anak. Secara tabiat manusia memiliki cinta padanya. Sebab ia adalah buah hati, penyejuk mata, dan harapan bagi orang tua untuk meneruskan garis keluarga, nasab, dan menjadi saham yang akan berbuah ketika lanjut usia menyapa dan di alam barzakh yang ia nantikan doanya. Lalu bagaimana dengan Rasulullah yang memiliki hak syafaat? Bukankah harapan itu jauh lebih besar. Dan tanpa dakwah Rasulullah, apalah gunanya memiliki anak dengan bergelimang dalam kesesatan? Argumentasi ini juga menjadi pondasi logika kecintaan kepada Rasulullah melebihi mereka.

Ada sebagian orang yang mencintai orang lain melebihi orang tua dan anak-anaknya. Bisa jadi mereka yang dicintai itu pemimpin, guru, atau orang yang berjasa dalam hidupnya, atau orang-orang yang dikaguminya. Hadits ini kemudian memberi standar bahwa siapapun orang itu, kecintaan kepada Rasulullah harus melebihi kecintaan kepadanya.

Sebenarnya dalam diri semua manusia ada kecintaan kepada satu orang yang dalam kondisi umum manusia selalu mencintainya melebihi siapapun. Ia maafkan kesalahannya. Ia puji kebaikannya meskipun hanya sedikit. Ia kagumi ia. Ia tempatkan di tempat yang terhormat. Selalu dijaga dan selalu dibela. Orang itu adalah dirinya sendiri. Namun dalam kesempurnaan iman, kecintaan kepada Rasulullah juga harus melebihi kecintaan kepada dirinya sendiri. Bukankah diri sendiri juga termasuk dalam kalimat "manusia seluruhnya"? maka hadits ini tidak mengkecualikannya.

Alangkah indahnya hidup dan alangkah berbahagianya ketika manusia mampu mengubah cintanya menjadi iman yang sempurna dengan mencintai Rasulullah melebihi semua manusia termasuk dirinya sendiri. Dan Umar bin Khattab, mampu mengubah cintanya menjadi seperti itu hanya dalam beberapa saat.

Ibnu Hajar Al Asqalani ketika menjelaskan hadits ini menggunakan kasus hawa nafsu sebagai pengganti diri sendiri. Betapa banyak orang yang menjadikan hawa nafsunya paling dicintai, namun iman yang sempurna harus menundukkannya hingga menjadi nafsu muthmainnah, dengan menjadikan Rasulullah lebih dicintai dari siapapun juga.

Pelajaran Hadits
Diantara pelajaran hadits yang bisa kita ambil dari hadits di atas adalah sebagai berikut:
1. Salah satu syarat sekaligus tanda sempurnanya iman adalah mencintai Rasulullah melebihi orang tua, anak, dan seluruh manusia;
2. Kecintaan kepada Rasulullah yang melebihi kecintaan pada manusia seluruhnya itu juga berarti lebih mencintai Rasulullah daripada dirinya sendiri atau hawa nafsunya.

Wallahu a’lam bish shawab.[]

KEMBALI KE HADITS 14

Untuk membuka seluruh hadits dengan mudah melalui DAFTAR ISI, silahkan klik
KUMPULAN HADITS SHAHIH BUKHARI

Iklan Anda

10 komentar:

NURA mengatakan...

salam sobat
benar, mencintai Rasulullah melebihi orangtua,anak dan seluruh manusia syarat kesempurnaan iman.
saya tambah pengetahuan,karena artikel ini.
trims.

Admin mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.
Admin BeDa mengatakan...

@Nura: Sama-sama. Semoga kita mendapat taufiq untuk mencintai Rasulullah dengan sempurna
@Admin: Mohon maaf, komentarnya terpaksa kami hapus karena berisi iklan yang sangat panjang. Mohon maklum

Black Hunter mengatakan...

masa allah... info yang sangat bagus

Andhie mengatakan...

Assalamu Alaikum, cinta yg sesungguhnya adlh cinta kpd Allah dan rasulnya...kita berdoa mendapat syafaat Beliau...Amin

Andri Tholabul 'ilmi mengatakan...

Assalamu'alaikum

Subhanallah Rosul sangat sauri tauladan dan sudah semenstinya kita mengikuti jejak sholehnya dan juga khususnya kita hendak bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala

Admin BeDa mengatakan...

@Black Hunter: Semoga bermanfaat
@Andhie: Wa'alaikum salam. Allaahimma aamiin
@Andri Tholabul Ilmi: Wa'alaikum salam. Benar. Rasulullah memang seharusnya menjadi teladan karena beliaulah uswatun hasanah.

Dwiafifaah Aminah mengatakan...

Semoga Cinta ini selalu tertuang untuk Rasulullah SAW, Amiin tanpa mengesampingkan Cinta kepada keluarga :)

Admin BeDa mengatakan...

@Dwiafifah Aminah: Allaahumma aamiin. Cinta keluarga tetap perlu. Islam juga mengajarkan demikian. Tentunya sejalan dengan cinta kepada Allah dan Rasul-Nya.

visitor74 mengatakan...

Alhamdulillah, ada pertambahan ilmu saya dari penjelasan ini. Mohon baca juga http://visitor74.wordpress.com/2012/06/03/shahih-bukhari-kitab-iman-bab-cintakan-rasul-s-a-w-sebahagian-daripada-iman-bab-kemanisan-iman/

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...