Software Quran terlengkap
Latest News
Jumat, 19 Agustus 2011

Lailatul Qadar, Tepatnya Malam 21 atau 27?


Lailatul Qadar, Tepatnya Malam 21 atau 27? - Lailatul Qadar adalah malam yang diharapkan oleh semua muslim untuk berjumpa dengannya. Harapan mendapatkan lailatul qadar itu sangatlah wajar mengingat keutamaannya, yaitu waktu paling utama yang nilainya lebih baik dari seribu bulan.

Allah SWT berfirman tentang lailatul qadar,

وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ * لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ

Tahukah kamu apa lailatul qadar itu? Lailatul qadar itu lebih baik daripada seribu bulan (QS. Al-Qadar : 2-3).

Sayyid Sabiq menjelaskan makna lailatul qadar lebih baik daripada seribu bulan itu dalam Fiqih Sunnah dengan mengatakan: "Maksudnya adalah, beramal pada malam itu dengan shalat, dzikir, dan membaca Al-Qur'an nilainya lebih utama daripada amalan yang sama selama seribu bulan yang tidak memiliki lailatul qadar."

Kapan Turunnya Lailatul Qadar
Inilah pertanyaannya. Kapankah turunnya lailatul qadar itu?

Dalam banyak riwayat kita akan mendapatkan jawaban yang umum bahwa lailatul qadar turun pada sepuluh hari terakhir. Lebih sempit lagi adalah pada malam-malam ganjil. Yaitu tanggal 21, 23, 25, 27, atau 29 Ramadhan.

Lalu, mengapa judul di atas lebih sempit lagi? Lailatul Qadar, Tepatnya Malam 21 atau 27? Ini dikarenakan adanya sejumlah argumentasi sebagai berikut.

Pertama, lailatul qadar yang difirmankan Allah SWT dalam surat Al-Qadar adalah juga malam nuzulul qur'an atau turunnya wahyu yang pertama, yakni surat Al-Alaq di gua hira. Setelah diteliti oleh Syaikh Shafiyurrahman Al-Mubarakfury, didapatkan kesimpulan bahwa malam itu adalah tanggal 21 Ramadhan. Sebab wahyu pertama "Iqra" itu turun pada hari senin. Sedangkan hari Senin pada Ramadhan itu jatuh pada tanggal 7, 14, 21 dan 28. Dari keempat tanggal itu, yang memenuhi syarat malam ganjil pada sepuluh hari terakhir adalah tanggal 21 Ramadhan tahun pertama kenabian, atau tepatnya 10 Agustus 610 M. Jadi, lailatul qadar pernah terjadi pada tanggal 21 Ramadhan. Jika setiap tahun, tanggal lailatul qadar itu tetap, fa insya Allah, lailatul Qadar jatuh pada malam 21 Ramadhan.

"Tanggal 21 ini khususnya diyakini oleh para ulama kelompok Syafi'i" kata Yusuf Qardhawi dalam Fiqih Shiam.

Kedua, lailatul qadar dimungkinkan pula jatuh persis pada malam ke-27. Hal ini disinggung dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad.

مَنْ كَانَ مُتَحَرِّيَهَا فَلْيَتَحَرَّهَا فِى لَيْلَةِ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ

Barangsiapa ingin mencarinya (lailatul qadar), hendaklah ia mencarinya pada malam kedua puluh tujuh. (HR. Ahmad, dishahihkan Al-Albani)

Hadits di atas diriwayatkan dari Ibnu Umar. Di samping itu, Ubay bin Ka'ab dan Ibnu Abbas juga memegang keyakinan bahwa lailatul qadar terjadi pada malam ke-27. bahkan, Ubay bin Ka'ab pernah bersumpah akan hal itu karena tanda-tanda lailatul qadar yang ia lihat pada malam ke-27 itu.

Jadi, Bagaimana Sebaiknya?
Tentu, bagi yang ingin bersungguh-sungguh mencari lailatul qadar tidak akan membatasi dirinya pada malam 21 atau 27 saja. Sebab, betapapun kuat dalil keduanya, ia bukan satu kepastian yang menjamin bahwa lailatul qadar pasti terjadi pada malam 21 atau 27. Mereka yang ingin lebih dekat kepada Allah, lebih mengikuti sunnah Rasulullah, serta ingin mendapati lailatul qadar hendaklah bersungguh-sungguh pada malam ganjil 10 hari terakhir.

Rasulullah SAW bersabda,

إِنِّى أُرِيتُ لَيْلَةَ الْقَدْرِ ، وَإِنِّى نُسِّيتُهَا ، وَإِنَّهَا فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ فِى وِتْرٍ

Sungguh aku diperlihatkan lailatul qadar, kemudian aku dilupakan –atau lupa- maka carilah ia di sepuluh malam terakhir, pada malam-malam yang ganjil. (Muttafaq alaih)

Bagaimana praktik yang dicontohkan Rasulullah? Ternyata beliau bukan hanya "serius" di malam ganjil. Namun di seluruh sepuluh hari terakhir, dengan menunaikan i'tikaf.

Maka Yusuf Qardhawi pun menyarankan, "Malam-malam ganjil yang dimaksud dalam hadits di atas adalah malam ke-21, 23, 25, 27 dan 29. bila masuknya Ramadhan berbeda-beda dari berbagai negara, sebagaimana yang kita saksikan sekarang, maka malam-malam ganjil di sebagian wilayah adalah malam genap di wilayah lain. Sehingga untuk hati-hati, carilah lailatul qadar ini di seluruh malam sepuluh terkahir Ramadhan."

Wallaahu a'lam bish shawab. [Muchlisin. Dari berbagai sumber, utamanya Fiqih Sunnah dan Fiqih Shiam]

Baca tentang Lailatul Qadar lebih lengkap di Kumpulan Hadits Lailatul Qadar

Iklan Anda
  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

13 komentar:

  1. Semoga lailatul qadar jatuh malam 21 aliaa malam ini

    BalasHapus
  2. moga mendapatkan lailatul qadarmoga mendapatkan lailatul qadar

    BalasHapus
  3. sulit u/ mendapatkan malam lailatul qadar. terpenting, setelah bulan ramadhan selesai, ketakqwaan dan ibadah sy kepada Allah swt. jadi semakin meningkat. Amin...

    makasih share-nya sob... mantap!!! ^_^

    BalasHapus
  4. Tiada manusia yang bisa pastikan kapan lailatul qadar. setuju saran yusuf qardhawi

    BalasHapus
  5. Dengan lailatul qadar nilai pahala umat Islam jd lbh bwsar drpd umat sblummya meski umurnya lbj pendek

    BalasHapus
  6. malam lailatul qadar itu misterius ya.
    salam kenal. saya baru di dunia blogging. mohon bimbingannya.

    BalasHapus
  7. Semoga kita mendapatkan malam Lailatul Qadar..Amin

    BalasHapus
  8. Malam Lailatul Qadar adalah malam yang penuh Berkah segala dosa dihapus salam blogger indonesia kang sukses selalu \m/

    BalasHapus
  9. jackpotnya bulan Ramadhan ini sob...xixixixi
    kapan yak lailatul qodrnya...hohohohoho

    BalasHapus
  10. wah jelas banget peneranganny d atas
    membuat seseorang tersentuh hatiny untuk ibadah pada malam ini, anda suda dapet pahala mas

    visitback y

    BalasHapus
  11. @All: Jazakumullah khair atas komen dan atensinya.

    BalasHapus
  12. sayang sekali ana ga itikaf waktu itu

    BalasHapus
  13. Lailatul-Qadr adalah mathla’il-fajr.[1] Yaitu sebuah “titi mangsa” (momentum) terbitnya fajar peradaban baru, yang dalam sejarah kemudian disebut sebagai Peradaban Islam.

    Sebagai sebuah momentum – yakni momentum penujrunan Al-Qurãn , maka ia hanya terjadi satu kali dalam sejarah, dan tidak berulang di masa-masa setelahnya.

    Namun bila kita mengacu pada surat Al-Baqarah ayat 183 yang mengisyaratkan bahwa perintah shaum Ramadhan adalah perintah ulangan, dari perintah yang sama atas orang-orang (umat-umat para rasul sebelum Muhammad), dan surat Al-Baqarah ayat 185 yang menyebut bulan Ramadhan sebagai bulan penurunan Al-Qurãn, maka boleh jadi, lailatul-qadr itu adalah perulangan dari momen-momen sebelumnya, di masa lalu, seperti halnya perulangan munculnya rasul demi rasul, yang berhenti pada Nabi Muhammad, yang merupakan rasul terakhir.

    Berdasar logika (pertimbangan) di atas (butir 3), maka semakin tegas bahwa lailatul-qadr pada umat Muhammad hanya terjadi sekali, yaitu sebagai titi mangsa penurunan Al-Qurãn.

    Titi mangsa itu memiliki keunggulan dibanding ‘seribu bulan’.
    “Seribu” adalah ungkapan sastrawi untuk menyebut jumlah tak terhingga; sedangkan “bulan” mengacu pada sistem kalenderisasi berdasar peredaran bulan (lunar system).

    Pada titi mangsa yang disebut Lailatul-Qadr itulah terjadi pewahyuan Al-Qurãn (pertama kali), sebagai Ar-Rûh (ruh budaya), yang berisi perijinan (otorisasi) Rabbul-‘Alamin, bagi manusia (para mu’min, dengan pimpinan Rasulullah), untuk menata segala urusan kehidupan.

    Lailatul-Qadr, yang de facto (kenyataannya) merupakan saat penurunan Al-Qurãn, adalah sebuah titi mangsa dilakukannya proklamasi “keselamatan” atau “penyelamatan” (salãmun) umat manusia dari kegelapan ilmiah/budaya (zhulumãt); sehingga (hattã) resmilah Lailatul-Qadr itu menjadi mathla’il-fajr , alias titi mangsa terbitnya fajar peradaban baru. Yaitu peradaban yang bertumpu pada Al-Qurãn sebagai konsepnya.

    BalasHapus

Item Reviewed: Lailatul Qadar, Tepatnya Malam 21 atau 27? Rating: 5 Reviewed By: Bersama Dakwah