Assalaamu'alaikum ,  Ahlan wa Sahlan  |  Facebook  |  Twitter  |  Pasang Iklan

Analis Israel: Jika Pemilu Jurdil Digelar di Mesir, Ikhwanul Muslimin Menang Mayoritas

Written By Admin BeDa on Senin, 28 Februari 2011 | 15:00


Sebuah studi baru Israel dari Pusat Studi Strategi Begin Sadat milik Universitas Bar Eilan menilai bahwa masyarakat Mesir terkekang di era Hosni Mubarak dan kini mereka sudah terbebas dari belenggu baja itu.

Analis politik Israel Dr. Mardakhe Cedar yang pernah berkhidmat di unit intelijen militer mengatakan, situasi sekarang di Mesir seperti dalam "panci tertutup" yang dipanaskan dan kini tutupnya tiba-tiba terbuka. Dan tiba-tiba kesadaran publik Arab muncul untuk menggunakan sarana legal untuk mengendalikan konflik. Masyarakat Mesir memiliki banyak tuntutan dan kini siap memulai perjuangan bersenjata untuk mewujudkan cita-cita mereka.

Ia melanjutkan, kasus kekerasan terhadap markas-markas politik, penjarahan aset museum, perpustakaan pemerintahan, dan di pusat perbelanjaaan adalah karena warga keluar dari hukum. Bisa jadi ini akan terjadi dalam beberapa saat seperti yang pernah terjadi di Irak pasca jatuhnya Saddam Husain 2003. Kini juga ada kelompok Islam radikal di Mesir melakukan tindakan kekerasan.

Mengutip rekan di Mesir yang bekerja di kedubes Kairo di Tel Aviv, analis Israel ini mengatakan, di Mesir era Hosni Mubarak tidak ada kode etik dan hukum, tidak ada batasan dan tidak ada kediktatoran seseorang, semua orang berbuat semau dia, ia bebas memilih setiap saat apa yang dia pilih tanpa menahan diri atau menganggap orang lain. Lampu merah di jalan hanya nasihat, suap sudah menjadi standar ukuran, seseorang bisa membangun apapun yang ia inginkan, seorang direktur bebas memilih anaknya atau saudaranya terlepas dari keahlian mereka. Melakukan kekerasan terhadap pihak lemah adalah hal biasa dilakukan pejabat di Mesir. Inilah yang membuat rezim Mubarak lemah yang tidak berwibawa di mata masyarakat Mesir.

Menurutnya militer Mesir hanya diberi wewenang selama enam bulan untuk mengatur pemerintahan. Setelah itu Partai Nasional Demokrat, Partai Wafd, Nashiriyin, Sosialis Komunis dan kelompok agama radikal, termasuk Ikhwanul Muslimin akan berusaha mengatur urusan sesuai dengan kepentingan dan prinsipnya. Menurut studi Israel ini, situasi itu akan menyebabkan konflik di jalan-jalan sehingga akan terjadi kevacuman politik yang akan memberikan kesempatan kepada agenda asing bermain di sana.

Iran, Hizbullah Libanon dan Hamas Palestina sedang menunggu dengan sabar kekuatan Mesir itu meminta bantuan agar intervensi dengan persoalan internal Mesir. Hal ini persis terjadi di rezim Sadam Husain yang saat ini belum stabil secara politik.

Menurut Cedar, pengamat urusan dunia Arab dan Islam ini militer Mesir hingga kini tidak menunjukkan akan menguasai pemerintahan secara permanen. Namun bisa jadi akan berubah ketika militer merasakan enaknya berkuasa.

Ia menegaskan tuntutan Ikhwanul Muslimin adalah pemilu ulang yang pernah dimanipulasi di bulan November lalu dimana IM mendapat 30% kursi di parlemen.

Cedar menegaskan, jika militer menuruti tuntutan pemilu ulang dan digelar secara jurdil maka IM akan mendapat suara mayoritas seperti yang terjadi di Turki dimana pemerintah akan menjalankan agenda Islam dan bisa jadi IM akan mengubah konstitusi setelah menang pemilu untuk menghalangi kaum secular seperti yang terjadi dalam revolusi Islam Iran tahun 1979.

Masa mendatang bisa jadi akan terjadi chaos sosial dan politik di Mesir jika Majlis Rakyat menolak mengendalikan inisiatif selama kurun waktu lama. Namun pembunuhan berlatar belakang politik tidak aka nada. Situasi chaos itu bisa jadi akan menondorong warga Mesir untuk mendeklarasikan pengangkatan pemimpin yang berkepribadian kuat dan memiliki agenda jelas untuk dijadikan penopang.

Analis ini menyimpulkan bahwa dalam jangka waktu dekat, masyarakat Mesir akan menghadapi konspirasi politik yang tiada henti dan akan terjadi situasi chaos. Karenanya, dunia harus siap menghadapi situasi di Mesir. Situasi pergolakan ini akan mengancap terusan Suez dan perdamaian dengan Israel serta stabilitas di kawasan Timur Tengah. [bsyr, InfoPalestina]
15:00 | 15 komentar

Orang Tuaku Hobi Menghukum


Judul buku : Orang Tuaku Hobi Menghukum; Panduan Memberi Sanksi pada Anak Bagi Orang Tua dan Guru
Penulis : Miftahul Jinan
Penerbit : Filla Press, Sidoarjo
Tahun Terbit : Ramadhan 1431 H/September 2010 M
Tebal : xii + 174 hlm

Barangkali kita merasa aneh dengan judul buku ini. Bagaimana mungkin ada orang tua yang memiliki hobi menghukum anak? Namun jika dilihat dari karakteristik hobi lalu dibandingkan dengan hukuman yang diberikan orang tua kepada anak, nyatalah di sana ada sejumlah kesamaan. Dalam rangka memberikan rasionalisasi judul buku ini, penulis (Miftahul Jinan) mengemukakannya di awal-awal tulisan; pada pendahuluan.

Misalnya saja, seseorang yang mempunyai hobi tertentu akan melakukannya berkali-kali. Jika dalam waktu yang relatif lama ia tidak melakukannya, maka ada sesuatu yang “hilang”. Sebaliknya, jika ia berhasil menjalankan hobinya, ia mendapatkan kepuasan. Demikian pula orang tua yang sering menghukum anaknya. Ia melakukannya berkali-kali, tanpa mengenal jadwal. Jika dalam waktu tertentu ia belum menghukum anak ia merasa ada yang kurang; ia merasa belum mendidik anak. Begitu orang tua telah menghukum anak dan melihat perubahan sikap anak, ia merasa puas dengan perubahan itu.

Karakter hobi yang lain adalah rela berkorban demi menjalankan hobi itu. Entah itu materi ataupun waktu. Karakter keempat ini diragukan oleh Miftahul Jinan, apakah ada orang tua yang rela berkorban untuk menghukum anak.

Mengapa Orang Tua “Hobi” Menghukum Anak?
Pada bab pertama buku Orang Tuaku Hobi Menghukum ini, dijelaskan alasan mengapa orang tua “hobi” menghukum anak. Dalam pandangan Miftahul Jinan, setidaknya ada 5 hal yang melatarbelakangi atau menjadi alasan.

Pertama, karena dulunya ia dididik dengan hukuman. Semasa kecil, banyak orang tua yang dididik dengan hukuman oleh orangtuanya. Jika melakukan kesalahan dibentak, dijewer, atau dengan hukuman fisik lainnya. Nilai itu lalu terbawa sampai sekarang dan diberlakukan kepada anak-anak. Dalam bayangan orang tua seperti ini tidak ada salahnya menghukum anak sebagaimana ia dulu juga dihukum oleh orangtuanya dan nyatanya, pola pendidikan seperti itu “berhasil”.

Kedua, anggapan bahwa hukuman lebih “manjur”. Dicontohkan oleh Miftahul Jinan sebuah kasus anak yang mencoret-coret tembok. Orang tua punya –setidaknya- dua alternatif agar anak berhenti melakukannya. Pertama, memberitahukan kepada anak bahwa tempat mencoret itu di kertas atau papan tulis yang disediakan. Atau, kedua, membentak dan memukul tangannya agar berhenti mencoret di tembok.

Jika alternatif pertama yang kita lakukan, boleh jadi anak memahami kemudian beralih segera ke kertas atau papan tulis, boleh jadi anak memahami namun tidak segera beralih, boleh jadi pula anak tidak memahami sehingga tetap mencoret di tembok. Sedangkan alternatif kedua menjanjikan kepada orang tua, anak langsung berhenti mencoret di tembok. Kebanyakan orang tua lebih memilih alternatif kedua karena “keberhasilannya” yang instan itu. Padahal, bersamaan dengan hukuman itu sebenarnya kita telah menanamkan pola kekerasan yang membuat anak “hanya mau” menaati aturan setelah mendapatkan kekerasan, keputusan anak bersumber dari luar dirinya –khususnya oleh tekanan atau hal lain yang mengintimidasi, dan anak pun belajar menjadi emosional (tempramen); suka marah, membentak, kasar. Alternatif pertama akan membangun hal yang sebaliknya pada diri anak.

Ketiga, minimnya ilmu parenting. Orang tua hanya mengetahui bahwa hukuman itu adalah satu-satunya cara mendidik. Tidak ada yang lain. Jika demikian halnya, orang tua perlu mengembangkan dirinya dalam hal mendidik anak. Ia perlu membaca buku tentang parenting, mengikuti seminar, pelatihan, dan sebagainya. Kemudian ia mencoba teknik baru tersebut dan mengurangi sikap yang kurang baik pada anak.

Keempat, efek konflik orangtua. Artinya, kerap kali anak mendapatkan hukuman dari ibu sebagai ungkapan kejengkelan dan “pelampiasan” kemarahan pada suaminya yang telah menyakitinya. Maka didapatkan fakta bahwa anak yang hidup dalam keluarga konflik mendapatkan hukuman yang lebih banyak daripada anak yang hidup dalam keluarga harmonis.

Seharusnya, meskipun orang tua sedang konflik mereka tidak melibatkan anak pada konflik tersebut. Apalagi menjadikan anak sebagai sasaran kemarahan. Konflik harus dihindarkan terlihat langsung oleh anak. Tentu saja, yang terbaik adalah menghindari konflik, mengatasinya dan berusaha menjadi keluarga yang selalu harmonis. Sakinah mawaddah wa rahmah, dalam terminologi Islam.

Kelima, orang tua bisa “hobi” menghukum karena tidak ada aturan yang jelas di rumah. Mana yang boleh dilakukan anak, mana yang tidak boleh dilakukan. Mana yang benar, mana yang salah. Anak tidak pernah diberitahukan, tidak pernah ditunjukkan, tapi begitu anak melakukan sesuatu yang menurut orang tua tidak benar langsung dihukum. Anak pun menjadi bingung dan serba salah. Misalnya anak keluar rumah sambil menutup pintu dengan keras dimarahi. Besuknya, anak keluar rumah dengan membiarkan pintu terbuka juga dimarahi. Anak menjadi bingung tanpa mengetahui letak kesalahannya di mana.

Mempertimbangkan Jenis Hukuman
Kalaupun orang tua terpaksa menghukum anak, hendaklah ia mempertimbangkan jenis hukuman bagi anak. Baik dan buruknya bagi kita dan anak. Efektifitas dan juga dampaknya.

Banyak orang tua yang mengungkapkan rasa marahnya dengan membentak. Mathew meneliti bahwa 2/3 orang tua melakukan itu. Bahkan rata-rata orang tua membentak 5 kali dalam seminggu. Padahal, membentak adalah bentuk komunikasi yang tidak berguna, meningkatkan level adrenalin, membuat orang lain kesal, dan menyebabkan situasi semakin tak terkendali.

Dalam jangka panjang, anak yang sering dibentak orang tuanya akan mengalami masalah emosional, anak tumbuh tidak percaya diri khususnya jika selama dibentak orang tuanya ia hanya diam-menyerah, dan anak menjadi tertutup. Sedangkan bagi sebagian anak lainnya, khususnya yang tahan bentakan dan “berhasil” menganggapnya sebagai angin lalu, mereka tumbuh menjadi pribadi yang cuek dan masa bodoh. Namun jika ia tipe anak yang merasa dirinya memiliki kekuatan, ia tumbuh menjadi “pemberontak” dan “penentang.”

Jenis hukuman berikutnya yang sering dilakukan orang tua adalah memukul pantat anak. Biasanya pukulan ini dilakukan secara spontan, dengan nada marah dan tanpa penjelasan. Kebiasaan ini menjadikan anak terbentuk untuk juga memukul ketika ia marah. Anak bisa tumbuh menjadi orang yang cinta kekerasan. Variasi lain dari memukul pantat yang “lebih baik” adalah dengan pendekatan terencana. Yaitu orang tua mengatakan terlebih dahulu kepada anak tentang aturan bahwa jika ia melanggar kesalahan tertentu, orang tua akan memukul pantatnya. Menurut Miftahul Jinan, ini lebih manjur daripada yang pertama, namun tetap saja ia kurang baik. Hanya boleh dilakukan dalam kondisi darurat.

Bentuk hukuman lain adalah time out (penyetrapan). Dalam acara Nanny 911 sanksi ini cukup efektif. Anak diminta di tempat tertentu tanpa kegiatan apapun kecuali merenungi apa yang telah ia lakukan. Namun ketika orang tua menerapkan teknik ini, banyak yang hasilnya justru bertolak belakang. Dimungkinkan, karena orang tua mengabaikan beberapa aturan dalam teknik ini. Misalnya, paradigma awal bahwa time out bukan hanya hukuman namun sarana mendidik anak untuk mengontrol pikiran dan perasaannya dan keberhasilan time out tidak berbanding lurus dengan durasinya.

Time out akan berjalan efektif jika dijalankan dengan sistem peringatan, konsisten dengan waktu time out (salah satunya dengan menghitung mundur awal time out) dengan total time out satu menit untuk satu tahun usia anak, ruangannya terpantau oleh orang tua dan tanpa pengalih perhatian, meletakkan pengatur waktu di tempat yang bisa dilihat anak, orang tua tidak menginterupsi time out meskipun anak merengek, dan harus ada pembicaraan setelah time out yang disampaikan dengan tenang untuk membersihkan suasana.

Bentuk hukuman berikutnya adalah mencabut fasilitas. Misalnya anak yang suka main komputer, ia diberi hukuman tidak boleh main komputer dalam waktu tertentu. Hukuman semacam ini bagi sebagian anak lebih ditakuti daripada hukuman fisik. Ia bisa menjadi efektif jika orang tua bisa dengan cermat menentukan jenis fasilitas yang dicabut, mengkomunikasikan aturannya dengan jelas kepada anak sehingga anak yang memilihnya, dan ketika melakukannya orang tua tetap mengontrol dirinya tetap tenang; tidak menyertanya dengan marah dan teriak-teriak.

Masih ada beberapa jenis hukuman lain yang dilakukan orang tua kepada anak. Bahkan, juga dilakukan sekolah kepada siswa. Disebutkan contohnya oleh Miftahul Jinan, ada sekolah yang tidak menghukum siswanya dengan hukuman fisik tetapi memberikan sanksi dengan membaca istighfar 500 kali. Jika secara psikologi timbul perasaan bersalah dan menyesalinya dengan bacaan istighfar tadi, Miftahul Jinan memberikan selamat sekaligus menyetujui jenis hukuman ini. Namun jika tidak, ia menjadi kurang baik.

Dari Hukuman Ke Konsekuensi Logis
Apa bedanya? Tentu saja bukan hanya berbeda secara istilah tetapi juga maknanya. Untuk memudahkannya Miftahul Jinan membuat sebuah contoh. Karena kertasnya telah penuh, Romi mencoret-coretkan krayonnya ke tembok. Mengetahui ini, mamanya membentak, “Romi, nakal sekali kamu ini!” Kemudian ia meraih tangan mungil Romi, memukulinya dan menyuruhnya berdiri di bawah dinding yang dicoret-coretnya. Romi hanya menangis dengan ketakutan.

Di rumah yang lain, Rino melakukan hal yang hampir sama. Ia mencoreti dinding dengan cat air. Mengetahui anaknya sudah beralih dari kertas ke dinding, mamanya berkata, “Mas Rino… tempat mengecat itu di kertas yang mama sediakan, bukan di dinding. Sekarang ayo kita bersihkan dinding itu.” Setelah membersihkan dinding berdua, mama berkata lagi, “Mas Rino… dinding itu baru saja dicat oleh papa. Sekarang masih ada sisa kotoran dari coretanmu, ayo minta maaf pada papa.”

Yang pertama adalah hukuman. Yang kedua adalah konsekuensi logis. Yang pertama hanya membuat Romi menangis ketakutan tanpa membuatnya sadar kesalahannya, yang kedua membuat Rino menyadari kesalahannya dan menjadikannya paham akan konsekuensi tindakannya; dinding jadi kotor, ia harus membersihkannya kembali, lalu meminta maaf pada papa yang telah mengecatnya.

Jadi apa yang membedakan konsekuensi logis dengan hukuman atau sanksi? Konsekeunsi logis adalah proses belajar. Dari sana anak mengerti dan mulai berubah. Dalam konsekuensi logis orang tua berperan sebagai pendidik, bukan hakim. Orang tua bersikap obyektif tanpa dikendalikan rasa marah dan emosi yang tinggi. Maka cara penyampaiannya pun dengan lembut; tidak meledak-ledak. Dan, konsekuensi logis lahir dari hubungan antara hati dan tindakan yang menyimpang, bukan balas dendam.

Konsekuensi logis juga memiliki karakter keterkaitan antara kesalahan anak dengan apa yang diterima atau harus dilakukannya. Tidak seperti sanksi yang bisa berubah-ubah. Misalnya pada kasus di atas. Karena mencoret di dinding maka konsekuensi logisnya adalah membersihkan dinding itu. Berbeda dengan hukuman yang bisa berbentuk pukulan, jeweran, dan sebagainya. Ini juga mengajarkan anak tentang hukum sebab akibat. Membuat anak tumbuh menjadi logis dan rasional.

Konsekuensi logis juga harus disosialisasikan kepada anak terlebih dahulu sehingga nantinya ketika ia melanggar atau melakukan kesalahan, maka apa yang diterima atau harus dilakukannya adalah pilihannya sendiri, bukan ketetapan orang tua. Ada pembiasaan musyawarah yang membentuk anak berani menyampaikan pendapat, sekaligus menanamkan pada diri anak bahwa segala pilihannya akan membawa konsekuensi tertentu. Dengan demikian diharapkan anak tumbuh dengan jiwa sportif dan bertanggung jawab.

Catatan Bagi Orang Tua
Sering kali orang tua ketika mendidik anak terlalu fokus pada kesalahan yang diberikan anak. Akhirnya yang lebih banyak diterima anak adalah hukuman. Sanksi. Padahal intensitas kebaikan dan sikap benar anak lebih besar. Inilah yang perlu diperhatikan. Bagaimana orang tua mendapati anaknya berbuat benar dan memberikan penghargaan atas sikap tersebut. Penghargaan tidak harus berupa materi. Bahkan jika penghargaan selalu berupa materi, itu justru tidak baik bagi anak karena ia bisa tumbuh menjadi materialis. Penghargaan bisa berupa pujian, ungkapan kasih sayang secara verbal, atau bentuk sikap lain yang menunjukkan bahwa anak dihargai karena telah melakukan sesuatu yang benar.

Lalu dalam menerapkan konsekuensi logis, orang tua juga perlu memperhatikan tahapannya. Mengubah kebiasaan lama anak membutuhkan rentang waktu yang panjang. Karenanya anak harus diberi kesempatan yang cukup untuk berlatih dengan kebiasaan baru, sambil dibimbing agar anak mampu membuat trigger (pemicu) untuk terlatih dengan kebiasaan baru itu. Direkomendasikan pula kepada orang tua untuk memilih prioritas kebiasaan lama yang dihapus untuk diganti dengan yang baru. Jadi tidak langsung semuanya. Perlu bertahap. Sedangkan aturan yang disepakati perlu ditulis. Kaidahnya, semakin sedikit aturan semakin baik. Sebagaimana dalam pemberian sanksi, semakin sedikit atau semakin jarang, semakin baik. Tentu, tanpa “mengkhianati” konsekuensi logis yang telah disepakati bersama.

Terakhir, penanaman konsekuensi logis tidak boleh berhenti hanya “ di sini”. Sambil berjalan anak perlu dipahamkan tentang konsekeunsi logis yang lebih bermakna. Bahwa ketika kita berbuat baik, Allah akan sayang dan mencintai kita. Sebaliknya, jika kita berbuat buruk, Allah akan membenci dan murka kepada kita. [Muchlisin]

==================================
DALAM BENTUK E-BOOK, ORANG TUAKU HOBI MENGHUKUM BISA DIDOWNLOAD DI SINI
08:00 | 5 komentar

Ujian Berat Ikhwanul Muslimin (Pasca Revolusi Mesir)

Written By Admin BeDa on Sabtu, 26 Februari 2011 | 08:00


Oleh : Jamal Abu Raidah

Pasca jatuhnya rezim Hosni Mubarak, Ikhwanul Muslimin menjadi blow up media dibanding masa-masa sebelumnya sebab ia dianggap sebagai kekuatan oposisi utama di negeri itu. Semua orang bertanya-tanya potensi IM dalam pemilu presiden dan legislatif dan pengaruhnya di masa depan Mesir. IM sudah bermain cantik ketika menyatakan tidak ikut dalam pemilu presiden mendatang dan tidak akan berusaha memperoleh mayoritas dalam pemilu legislatif mendatang. Sepengetahuan penulis, motivasi sikap yang tidak bisa diprediksi ini kemungkinan sebagai berikut:

1. Kekhawatiran akan terjadi blokade dunia internasional terhadap Mesir jika IM menang dalam pemilu presiden atau legislatif, seperti halnya yang dialami oleh Hamas setelah menang dalam pemilu 2006 sehingga gerakan perlawan Palestina itu mengalami kondisi yang mengkhawatirkan.

2. Ekspektasi harapan rakyat Mesir yang tinggi besar pasca jatuhnya rezim Mubarak yang hampir dipastikan tidak akan bisa diwujudkan oleh IM selama beberapa tahun ke depan.

3. Tantangan internal dan eksternal yang besar yang dihadapi Mesir.

4. Pengalaman IM yang tidak cukup dalam kekuasaan baik di level kepresidenan atau pemerintahan. Keberhasilan kerja IM selama beberapa tahun lalu tidak menjamin kesuksesan dalam kerja pemerintahan yang pelik.

Karenanya, penulis yakin faktor-faktor ini cukup membuat IM khawatir berpartisipasi dalam pemerintah mendatang. Pertanyaannya, jika IM tidak maju, padahal ia adalah gerakan terbesar di Mesir dalam pemerintahan yang sulit dan sensitif ini, apa yang mungkin terjadi dalam fase ini?

Menurut penulis, sikap IM ini sudah jelas diambil untuk keluar dari kepelikan ini; yakni menyerukan dibentuknya pemerintah koalisi nasional dari semua kelompok politik untuk menyatukan usaha semua elemen Mesir selama masa sulit ini dalam mengemban tanggungjawab nasional. Pilihan ini menjamin akan menyatukkan energi Mesir untuk keluar dari situasi tragis selama 30 tahun. Maka diprediksi pemerintah koalisi ini akan dibentuk setelah masa transisi yang tidak lebih dari 6 bulan sejak sekarang akan menyelesaikan urusan internal Mesir di urutan pertama. Ini akan memberikan harapan bisa menyelesaikan masalah yang dihadapi Mesir sekarang ini.

Harapan Arab dan dunia Islam terhadap sangat besar yakni bisa memimpin mereka di kancah internasional dan merancang masa depan dunia. Bisa diperkirakan musuh umat tidak akan membiarkan Mesir. Mereka akan melancarkan konspirasi yang sudah digalang sejak hari pertama Hosni Mubarak jatuh. Sebab jika Mesir bebas dari kungkungan mereka, maka ia akan bisa menghimpun unsur-unsur kekuatan di belakangnya untuk maju.

Adapun jaminan Mesir yang bisa menempuh jalan menghadapi tantangan dan konspirasi adalah dengan mencalonkan seorang pemimpin mereka sendiri dari kalangan Muslim Qibti, kemudian memulai proses pembangunan komperhensif bagi ekonomi Mesir. [bsyr, InfoPalestina]
08:00 | 4 komentar

Jenis-jenis Najis (2)

Written By Admin BeDa on Jumat, 25 Februari 2011 | 15:00


Setelah berlalu sekian lama, alhamdulillah, dengan izin Allah kini rubrik Fiqih kembali hadir untuk melanjutkan pembahasan reguler sebelumnya, yakni tentang Najis. Artikel terakhir Jenis-jenis Najis diposting pada Juni 2010. Setelah itu rubrik Fiqih justru memuat bahasan lain yang dirasa perlu karena bertepatan dengan momentumnya; idul adha, qurban, dan hal yang berkaitan dengan itu. Semoga ke depan rubruk fiqih yang diambil dari Fiqih Sunnah karya Sayyid Sabiq ini bisa hadir secara rutin dan sistematis.

Langsung saja, setelah Jenis-jenis Najis (1) membahas bangkai, kini di Jenis-jenis Najis (2) ini kita membahas Darah, Daging Babi, serta Muntah, Kencing, dan Kotoran Manusia.

b. Darah
Semua jenis darah adalah diharamkan, baik darah yang mengalir maupun tertumpah. Misalnya, darah yang mengalir dari hewan yang disembelih ataupun darah haid. Akan tetapi, darah yang sedikit dimaafkan.

Ketika Abu Mijlaz ditanya tentang darah yang terdapat pada bekas sembelihan domba atau darah yang dijumpai di permukaan periuk, beliau menjawab, "Tidak mengapa! Sebab yang dilarang hanyalah darah yang tertumpah." (HR. Abdu Hamid dan Abu Syaikh)

Aisyah r.a. berkata,

كنا نأكل اللحم والدم خطوط على القدر

"Kami makan daging, sedangkan darahnya masih tampak jelas bagaikan untaian benang di dalam periuk."

Hasan mengatakan,

مَا زَالَ الْمُسْلِمُونَ يُصَلُّونَ فِى جِرَاحَاتِهِمْ

"Kaum muslimin tetap melakukan shalat, meskipun mereka luka-luka yang mengalirkan darah." (HR. Bukhari)

Kemudian sebuah riwayat yang sahih dari Umar r.a. bahwa ia pernah shalat, sedangkan lukanya masih berdarah (Al-Hafizh dalam kitab Fathul Bari). Sementara Abu Hurairah r.a. berpendapat, tidak mengapa jika seseorang mengerjakan shalat sekiranya darah itu hanya setetes atau dua tetes.

Darah nyamuk dan darah yang menetes dari bisul, maka ia dimaafkan berdasarkan atsar atau riwayat dari para sahabat, seperti yang disebutkan tadi. Abu Mijlaz pernah ditanya mengenai nanah bisul yang bercampur darah, lalu menimpa badan atau pakaian. Beliau menjawab, "Tidak mengapa karena yang disebut Allah hanyalah darah dan tidak ada menyebutkan tentang nanah." Ibnu Taimiyah mengatakan, "Wajib mencuci kain yang terkena nanah beku dan nanah yang bercampur darah. Sebab tidak ditemukan dalil mengenai hukum najisnya." Walaupun demikian, seseorang mesti menjaga diri, pakaian dan tempat tinggalnya agar tidak terkena benda-benda tersebut.

c. Daging Babi
Allah Ta'ala berfirman,

قُلْ لَا أَجِدُ فِي مَا أُوحِيَ إِلَيَّ مُحَرَّمًا عَلَى طَاعِمٍ يَطْعَمُهُ إِلَّا أَنْ يَكُونَ مَيْتَةً أَوْ دَمًا مَسْفُوحًا أَوْ لَحْمَ خِنْزِيرٍ فَإِنَّهُ رِجْسٌ أَوْ فِسْقًا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلَا عَادٍ فَإِنَّ رَبَّكَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Katakanlah: "Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir atau daging babi - karena sesungguhnya semua itu kotor - atau binatang yang disembelih atas nama selain Allah. Barangsiapa yang dalam keadaan terpaksa, sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka sesungguhnya Tuhanmu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang". (QS. Al-An'am : 145)

Maksudnya adalah karena semua menjijikkan dan tidak disenangi selera yang sehat, maka kata ganti "itu" kembali kepada ketiga jenis yang telah disebutkan dalam ayat di atas. Menengai bulu babi, menurut pendapat ulama yang rajih, ia dibolehkan untuk digunakan sebagai benang jahit.

d. Muntah, kencing, dan Kotoran Manusia
Semuanya adalah najis, seperti yang telah disepakati para ulama. Akan tetapi, jika muntah tu hanya sedikit maka ia masih dimaafkan. Begitu pula kencing bayi laki-laki yang hanya meminum air susu. Jadi, cara membersihkannya adalah cukup memercikkan air ke atasnya. Hal ini berdasarkan hadits Ummu Qais r.a.,

أَنَّهَا أَتَتْ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- بِابْنٍ لَهَا لَمْ يَبْلُغْ أَنْ يَأْكُلَ الطَّعَامَ - قَالَ عُبَيْدُ اللَّهِ - أَخْبَرَتْنِى أَنَّ ابْنَهَا ذَاكَ بَالَ فِى حِجْرِ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَدَعَا رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- بِمَاءٍ فَنَضَحَهُ عَلَى ثَوْبِهِ وَلَمْ يَغْسِلْهُ غَسْلاً.

Ia pernah mendatangi Nabi SAW sambil membawa bayi laki-lakinya yang belum mencapai usia makan. Dengan kata lain, bayi tersebut hanya meminum air susu ibunya. Lantas bayi itu kencing dalam pangkuan Nabi SAW pun meminta air, lalu memercikkannya. Maksudnya adalah, sebagaimana yang telah disebutkan pada riwayat-riwayat lainnya, menebarkan air dengan jari-jari ke atas obyek air kencing itu, tetapi tidak sampai air tersebut mengalir dan tidak perlu mencucinya." (Muttafaq alaih)

Ali r.a. berkata,

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم بول الغلام ينضح عليه، وبول الجارية يغسل

Rasulullah SW bersabda, "kencing bayi laki-laki cukup dipercikkan air ke atasnya, sedangkan kencing bayi perempuan hendaklah dicuci." (HR. Ahmad dengan lafaz atau susunan kata darinya dan Ashabus sunan kecuali Nasa'i. Al Hafizh mengatakan dalam kitab fathul Bari, "sanadnya sahih")

Qatadah berkata, "Ini selama kedua jenis bayi tersebut belum diberi makan. Akan tetapi jika sudah diberi makan sebagaimana layaknya orang dewasa, maka kencing mereka wajib dicuci."

Jadi, kencing bayi laki-laki cukup hanya dipercikkan air selama ia tidak memakan makanan selain dari menyusu. Jika ia sudah diberi makan maka para ulama sepakat bahwa air kencingnya mesti dicuci. Mungkin salah satu alasan, mengapa bayi laki-laki hanya cukup dipercikkan air untuk membersihkan kencingnya karena setiap orang ingin menggendongnya. Sehingga apabila diwajibkan mencuci di samping bayi suka kencing tanpa pemberitahuan akan mengakibatkan kesusahan dan kesulitan. Oleh karena itu, jika bayi laki-laki kencing maka cukuplah memercikkan air ke atasnya. [sumber: Fiqih Sunnah karya Sayyid Sabiq]
15:00 | 10 komentar

Target PKS, Satu Tahun Satu Juta Kader


Tidak biasanya, Musyawarah Kerja Nasional (Mukernas) Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dibuka dengan iringan musik beraliran hip-hop atau rap. Musik karya M Marzuki berjudul ‘Jogja Istimewa’ yang sudah tersohor di Yogya itu membuka Mukernas PKS.

Acara ini dibuka oleh Gubernur DIY Sri Sultan Hamengkubuwono X yang didampingi Presiden PKS Lutfi Hasan Ishaaq, di Hotel Sheraton Yogyakarta, Kamis 24 Februari 2011.

Para petinggi PKS hadir dalam pembukaan Mukernas ini. Mereka yang terlihat antara lain Ketua Dewan Syuro Ustadz Hilmi Amiluddin, mantan Presiden PKS Hidayat Nur Wahid, Ketua Fraksi PKS Mustafa Kamal, serta para Menteri dari PKS diantaranya Menkominfo Tifatul Sembiring, Menristek Suharna Surapranata dan Mensos Salim Segaf Al-Jufri.

Mukernas PKS 2011 ini dihadiri?? 2.500 utusan yang mewaliki DPP, DPW, DPC dan simpatisan aktif serta kader partai se-Indonesia. Dalam sambutannya Sultan mengatakan, slogan PKS yang mengusung HAM dan Kebebasan beragama sangat tepat dengan situasi saat ini. Sebab isu-isu kekerasan yang mengatas namakan agama mulai marak di Indonesia.

Selain itu, kata Sultan, perlu diperhatikan pula bahwa partai politik bukan hanya sebagai organisasi. Namun menurut Sultan, partai harus mampu eksis dan mengakar pada rakyat. Dalam situasi politik, parpol juga harus mendukung suara rakyat.

“Suara rakyat adalah suara Tuhan, tapi saat ini suara rakyat adalah suara uang,” sindir Sultan pada situasi saat ini. Dengan harapan itu pemerintah provinsi DIY menyampaikan agar PKS tetap jadi partner untuk berkontribusi pada masyarakat dalam aspek budaya, agama dan politik.

Sementara itu Presiden PKS Lutfi Hasan Ishaaq menyampaikan, ini adalah formula terhadap masyarakat kita telah diterima oleh masyarakat. PKS adalah partai pertama yang siap diverifikasi untuk maju 2014. “Kami targetkan tidak kurang dari 1 juta kader dalam 1 tahun,” ujar Luthfi.[]

Laporan: Erick Tanjung l Yoggyakarta

Sumber: Mukernas PKS dari VivaNews.Com
07:00 | 11 komentar

5 Rahasia Revolusi Mesir

Written By Admin BeDa on Kamis, 24 Februari 2011 | 17:00


Demonstrasi besar yang berujung jatuhnya Husni Mubarak (11/2) itu kemudian dikenal dengan Revolusi Mesir. Aksi selama 18 hari sejak 25 Januari itu juga disebut Revolusi 25 Januari. Namun tidak banyak kaumslimin yang mengetahui rahasia di balik revolusi itu dan langkah berikutnya. Inilah lima rahasia revolusi Mesir:

Revolusi Mesir Dimotori Para Pemuda
Seperti sejumlah revolusi di berbagai penjuru dunia lainnya, revolusi Mesir ini juga dimotori oleh para pemuda. Merekalah yang memiliki semangat perubahan sekaligus keberanian untuk bersuara. Meskipun generasi tua juga merindukan perubahan, namun mereka sangat memperhitungkan resiko untuk berteriak “runtuhkan rezim Mubarak”. Sedangkan para pemuda Mesir –sebagaimana pemuda lainnya- tidak terlalu peduli dengan resiko, meskipun itu adalah kematian.

Revolusi Mesir pada Mulanya Hanya Menuntut Mundur Mendagri
Mungkin seperti reformasi 1998 di Indonesia yang awalnya tidak berani menuntut Soeharto mundur, revolusi Mesir pada aksi besar pertama 25 Januari juga tidak menyerukan Mubarak lengser. Saat itu yang disiapkan hanyalah menurunkan Menteri Dalam Negeri, menyeretnya ke pengadilan dan mendendanya 1200 Junaih sebagai batas minimal upah. Ini terkait dengan meratanya angka kemiskinan di Mesir dan rendahnya upah tenaga kerja.

Revolusi Mesir adalah Kerja Bersama Seluruh Elemen
“Rakyat bersatu tak bisa dikalahkan.” Adagium ini menemukan kebenarannya kembali di Mesir. Seluruh elemen pemuda dan rakyat bahu membahu, bersatu padu di bawah misi yang sama: perubahan. Lapangan Tahrir menjadi saksi bersatunya seluruh elemen itu: Ikhwan, kaum muslimin, golongan kiri hingga warga Kristen. Jadi revolusi Mesir bukan hanya kerja Ikhwan seperti diopinikan sebagian orang. Meskipun pemuda Ikhwan terlibat masif, diantaranya dengan menjadi pengaman batas luar aksi dan pendirian rumah sakit lapangan, pemuda-pemuda Ikhwan sendiri mengakui revolusi adalah kerja bersama. Opini Ikhwan sebagai penggerak revolusi barangkali muncul karena sebagian foto yang dipublikasikan di dunia menampakkan warna-warna Islami revolusi. Seperti shalat jama’ah di lapangan tahrir dan sebagainya.

Turunnya Mubarak adalah Fase Tersulit, Namun Baru Permulaan
Menurunkan presiden Mubarak merupakan fase tersulit namun hal itu baru permulaan dan bukan yang terakhir. Itulah yang dikatakan para pemuda pemantik Revolusi Mesir. Mengapa demikian? Sebab para pemuda itu menyadari turunnya Mubarak bukanlah segala-galanya. Dengan jatuhnya diktator yang telah menguasai Mesir selama 30 tahun itu bukan berarti masalah selesai. Setelah ini mungkin ada demokrasi, kebebasan berpendapat dan kebebasan berserikat. Namun gurita birokrasi masih bergerak dengan karakter rezim lama. Dikhawatirkan pula bersamaan dengan itu muncul masalah baru: demokrasi yang tidak efektif dan kemiskinan yang tidak terselesaikan. Lalu datang kembali kerinduan pada sosok otoriter.

Lebih dari itu, pemuda pelopor revolusi juga merasakan tanggung jawab lebih besar untuk mengubah Mesir menjadi lebih baik, lebih berjati diri, dan karenanya harus berperan dalam kebebasan sesama negeri Islam.

Revolusi Mesir Menjadi Sarana Pembebasan Palestina
Inilah cita-cita para pemuda pemantik revolusi. Ahmad Mahir, jubir pemuda revolusi menyatakan, tidak mungkin mengabaikan persoalan Palestina dalam tuntutan revolusi. Mesir harus kembali mengambil peran di Palestina. Dan itu harus dimulai dengan pembebasan blokade Gaza sebagaimana seruan Syaikh Yusuf Qardhawi. Ia menyebutkan bahwa bangsa yang terblokade di Gaza adalah kezaliman rezim Mubarak, dan saat ini tiba untuk mengakhiri kezaliman itu.[AN/bsb]
17:00 | 11 komentar

Canangkan Tinggal Landas, Partai Islam Terbesar di Negeri Muslim Terbesar Gelar Mukernas


Partai Islam terbesar di Indonesia, Partai Keadilan Sejahtera (PKS), menggelar Musyawarah Kerja Nasional (Mukernas) di Yogyakarta hari ini (24/2). Mukernas partai politik peraih 57 kursi DPR itu bakal digelar hingga 26 Februari 2011.

Mukernas II partai berlambang dua bulan sabit mengapit padi emas itu merupakan puncak konsolidasi yang digelar sejak 2010. Sebelumnya, PKS telah menggelar Munas, Muswil, dan Musda.

"Musyawarah ini adalah puncak dari konsolidasi yang digarap sepanjang 2010 dan sudah kami selesaikan di awal 2011 ini,’’ kata Sekjen PKS, Anis Matta, Rabu (23/2).
"Semua persoanal internal sudah rampung," tandasnya.

"Setelah internal selesai, kami akan take off (lepas landas), siap bekerja lebih banyak untuk masyarakat," tegas Anis.

Selain mengoptimalkan pemberdayaan sosial, target politik tinggal landas PKS adalah mengajukan calon Presiden pada Pemilu 2014. Sebanyak 16 butir program rencana aksi PKS sudah disiapkan dan akan diluncurkan pada Mukernas yang dimulai hari ini.

Diantara 16 program itu adalah pendirian 100-an LSM baru yang menangani pelayanan sosial dan program pembangunan bangsa yang menargetkan 1 juta usaha baru bermodal Rp. 5-20 juta yang akan tumbuh dari partai berazaskan Islam ini.

Lalu siapa calon presiden yang akan diusung PKS pada 2014? Pada pemilu 2009 PKS mendapatkan 8.206.955 suara. Untuk bisa mengusung calon presiden sendiri PKS perlu melipatgandakan perolehan suaranya. Lalu mungkinkah PKS memutuskan calonnya sementara pemilu baru akan digelar tiga tahun lagi? Tampaknya kita perlu melihat hasil mukernas ini.[AN/bsb]
09:00 | 18 komentar

Mengenal Ruang

Written By Admin BeDa on Rabu, 23 Februari 2011 | 15:00

Kapalnya tenggelam oleh hantaman badai dalam ekspedisinya ke China. Tapi Ibnu Batuta, sang pengembara asal Maroko itu, selamat. Ia terdampar di kepulauan Maldives. Ia pun menetap di tempat itu sampai lama. Kawin mawin dan beranak pinak. Kini Negara kepulauan yang bernama Republic of Maldives (Republik Maladewa) yang terdiri dari 26 atol seluruhnya beragama Islam. Musibah itu berujung berkah bagi warga kepulauan Maladewa.

Ibnu Batuta adalah nama besar dari abad ke 14 M dalam sejarah para pengembara. Ia juga sempat ke Indonesia, khususnya Jawa dan Sumatera, dan menceritakan detil sejarah dan budaya masyarakat ini dalam bukunya. Ia telah menempuh perjalanan 120.000 km di seluruh wilayah dunia Islam. Ia menjadi ikon dari semangat pengembaraan dan upaya pemetaan bumi ketika manusia mengenal transportasi darat dan laut.

Itu merupakan salah satu buah dari perintah Al-Qur’an untuk melakukan perjalanan di muka bumi (al sair fil ardh). Perintah itu adalah konsekuensi dari misi khilafah manusia. Jika teks harus diturunkan secara bijak ke dalam konteks ruang dan waktu, maka manusia perlu mengenal ruang kehidupannya secara komprehensif dan detil. Pengembaraan itu salah satu terapannya.

Perintah berjalan di muka bumi itu telah menjadi dasar motivasi pengembangan ilmu geografi dunia Muslim. Ilmu ini sebenarnya sudah berkembang pesat jauh sebelum era Ibnu Batuta. Dua abad sebelum Ibnu Batuta (1304-1369) melakukan pengembaraannya, Yakut Al Harmawy (1179-1229) –untuk sekedar memberi contoh- telah menulis sebuah ensiklopedi geografi Negara-negara dunia yang diberi judul Mu’jamul Buldan.

Geografi merupakan ilmu yang paling fundamental khususnya dalam dunia politik, militer dan ekonomi. Empat Khulafa Rasyidin dikenal di kalangan para sahabat sebagai ahli-ahli geografi. Abu Bakar dan Umar bin Khattab bahkan pernah memberi wasiat kepada pasukannya dengan menyebut nama-nama tempat yang sangat detil di wilayah Syam dan Irak, yang sebagiannya bahkan belum pernah mereka kunjungi. Dari sejak dahulu sekali ilmu ini melekat dalam struktur pengetahuan raja-raja.

Ilmu ini sebenarnya membangun kemampuan berpikir pemetaan (mapping mind). Dan kemampuan itu sangat fundamental dalam keseluruhan kemampuan berpikir strategis seseorang. Tapi kemampuan berpikir inilah yang justru hilang dari dunia Muslim saat ini. Itu sebabnya mengapa mereka tertatih-tatih dalam menurunkan teks dalam ruang dan waktu mereka. Mereka tidak mengerti bagaimana mereka membangun dunia mereka. Sebab mereka bahkan tidak mengenal belahan bumi yang mereka pijak sendiri.[Anis Matta, sumber : Serial Pembelajaran Majalah Tarbawi edisi 243]
15:00 | 10 komentar

Yusuf Qardhawi Fatwakan Boleh Bunuh Muamar Khadafi


Sudah lebih dari 1.000 demonstran di Libya yang tewas. Lebih dari enam ribu lainnya luka-luka dalam upaya revolusi negeri itu untuk menurunkan Muamar Khadafi yang telah berkuasa selama 42 tahun.

Pembantaian besar kembali dilakukan militer pada Selasa (22/2) dengan menggunakan pesawat dan helikopter. Saksi mata yang melihat langsung peristiwa tersebut di ibukota Tripoli mengatakan mayat-mayat berserakan di jalan-jalan dan darah di mana-mana. Pesawat-pesawat tempur menumpahkan peluru dan helikopter menjatuhkan tembakan dari udara ke kerumunan massa.

Menyikapi pembantaian berskala besar itu Syeikh Yusuf Qaradhawi, ketua Persatuan Ulama Muslim Internasional, memfatwakan boleh membunuh tiran Muamar Khadafi.

"Saya sekarang mengeluarkan fatwa untuk membunuh Muamar Khadafi. Siapapun, seorang perwira atau tentara atau orang bisa yang bisa menembaknya, biarkan dia melakukan, untuk meringankan warga Libya dan umat ini dari kejahatan orang gila ini dan kezalimannya." Katanya dalam siaran di Televisi Al-Jazeera. "Siapapun perwira atau tentata tidak diperbolehkan mematuhi orang ini dalam melakukan dosa, ketidakadilan dan penindasan pada rakyat," tambahnya.

Qardhawi juga mengarahkan pidatonya kepada militer Libya dengan mengatakan, "Anda tidak kurang patriotik dari militer Tunisia, yang menolak perintah presiden yang kini melarikan diri, Zein El Abidin Ben Ali, yang menembaki demonstran di sana. Dan Anda juga tidak kurang patriotik dari tentara Mesir yang melindungi revolusi di sana dan tidak menanggapi perintah presiden Mesir terguling Husni Mubarak, yang bertindak represif terhadap para demonstran pada hari Jum’at, yaumul amarah.”

Tidak lupa Qardhawi juga meminta kedua pemerintah Tunisia dan Mesir, Liga Arab, Organisasi Konferensi Islam, Uni Afrika dan PBB untuk tidak tinggal diam melihat apa yang terjadi di Libya. Qardhawi menyerukan kepada rakyat Libya untuk "kalahkan Muamar Khadafi dan antek-anteknya.” [AN/bsb]
08:00 | 27 komentar

Hadits 18: Klausul Baiat Aqabah I

Written By Admin BeDa on Selasa, 22 Februari 2011 | 15:00


Alhamdulillah, kini kita memasuki pembahasan hadits Shahih Bukhari ke-18. Hadits ini masih berada dalam kitab iman (كتاب الإيمان).

Matan (redaksi) hadits Shahih Bukhari ke-18 ini menjelaskan tentang klausul baiat (janji) Aqabah yang diperintahkan Rasulullah kepada sahabat-sahabat Anshar generasi awal yang hadir pada saat itu untuk diamalkan. Imam Bukhari tidak memberikan judul untuk hadits ini dalam Shahih-nya kecuali menuliskan "bab" yang menurut sebagian ulama itu dimaksudkan karena pembahasannya masih dalam domain bab sebelumnya. Namun, untuk memudahkan pembahasan kita berikan judul bab "Klausul Baiat Aqabah I" untuk hadits ke-18 ini.

Berikut ini matan hadits Shahih Bukhari ke-18:

أَنَّ عُبَادَةَ بْنَ الصَّامِتِ - رضى الله عنه - وَكَانَ شَهِدَ بَدْرًا ، وَهُوَ أَحَدُ النُّقَبَاءِ لَيْلَةَ الْعَقَبَةِ - أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - قَالَ وَحَوْلَهُ عِصَابَةٌ مِنْ أَصْحَابِهِ « بَايِعُونِى عَلَى أَنْ لاَ تُشْرِكُوا بِاللَّهِ شَيْئًا ، وَلاَ تَسْرِقُوا ، وَلاَ تَزْنُوا ، وَلاَ تَقْتُلُوا أَوْلاَدَكُمْ ، وَلاَ تَأْتُوا بِبُهْتَانٍ تَفْتَرُونَهُ بَيْنَ أَيْدِيكُمْ وَأَرْجُلِكُمْ ، وَلاَ تَعْصُوا فِى مَعْرُوفٍ ، فَمَنْ وَفَى مِنْكُمْ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ ، وَمَنْ أَصَابَ مِنْ ذَلِكَ شَيْئًا فَعُوقِبَ فِى الدُّنْيَا فَهُوَ كَفَّارَةٌ لَهُ ، وَمَنْ أَصَابَ مِنْ ذَلِكَ شَيْئًا ثُمَّ سَتَرَهُ اللَّهُ ، فَهُوَ إِلَى اللَّهِ إِنْ شَاءَ عَفَا عَنْهُ ، وَإِنْ شَاءَ عَاقَبَهُ » . فَبَايَعْنَاهُ عَلَى ذَلِكَ

Dari Ubadah bin Shamit radhiyallaahu anhu, salah seorang yang mengikuti perang Badar dan salah seorang utusan dalam pertemuan Aqabah, bahwa Rasulullah SAW sedang dikelilingi oleh para sahabatnya dan beliau bersabda, "Berbaiatlah (berjanji) kalian semua kepadaku untuk: (1) Tidak menyekutukan Allah dengan suatu apapun, (2) Tidak mencuri, (3) Tidak berzina, (4) Tidak membunuh anak-anakmu, (5) Tidak membuat fitnah di antara kalian, (6) Tidak durhaka terhadap perintah kebaikan. Barangsiapa yang menepati perjanjian itu maka ia akan diberi pahala oleh Allah dan barangsiapa yang melanggar salah satu dari perjanjian itu, maka ia akan dihukum di dunia ini. Hukuman itu menjadai kafarah (tebusan) baginya, dan barangsiapa yang melanggar salah satunya kemudian ditutup oleh Allah, maka perkaranya terserah kepada Allah. Jika Dia berkehendak untuk mengampuninya, maka akan diampuni dan jika Dia berkehendak untuk menghukumnya, maka Dia akan menghukumnya." Maka kami pun berbaiat kepada Rasulullah atas yang demikian itu.

Penjelasan Hadits

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم -
Ibnu Hajar Al Asqalani menjelaskan bahwa dalam kalimat ini ada kata yang dihilangkan (diringkas) namun maknanya bisa dipahami sebagaimana tata bahasa Arab yang sudah dimaklumi. Yaitu kata قال sebelum kalimat di atas. Maksudnya Ubadah bin Shamit berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda hadits ini.

Ubadah bin Shamit adalah salah seorang sahabat Nabi yang berasal dari Anshar. Ia termasuk salah seorang tokoh sahabat dan termasuk pertama masuk Islam dari kalangan Anshar. Ikut serta dalam baiat Aqabah I dan baiat Aqabah II serta perang badar. Pada hadits ini Ubadah bin Shamit meriwayatkan hadits Rasulullah ketika beliau mengambil janji (membaiat) para sahabat Ansar yang berjumlah 12 orang di Aqabah. Peristiwa ini kemudian dikenal sebagai baiat Aqabah I.

وَحَوْلَهُ عِصَابَةٌ مِنْ أَصْحَابِهِ
Dan di sisinya ada sekumpulan sahabatnya

Kata عِصَابَةٌ berarti kelompok yang berjumlah antara 10 sampai 40 orang. Dan seperti keterangan di atas, sahabat Anshar yang turut serta dalam baiat Aqabah I saat itu berjumlah 12 orang.

بَايِعُونِى عَلَى أَنْ لاَ تُشْرِكُوا بِاللَّهِ شَيْئًا
Berbaiatlah (berjanjilah) kepadaku untuk tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu pun

Penggunaan istilah مبابعة, dalam hadits di atas berbentuk fi'il amar بَايِعُونِى dari kata البيع (jual beli) yang berarti perjanjian adalah termasuk bentuk majaz yaitu diqiyaskan dengan transaksi jual beli. Jual beli antara Allah SWT dengan para hamba-Nya.

Inti dari aqidah Islam adalah tauhid, tidak menyekutukan Allah SWT. Karenanya ia menjadi klausul awal dalam baiat aqabah ini, sebelum perintah-perintah yang lain. Tauhid juga menjadi kunci bagi Islam dan segala amal menjadi sia-sia belaka tanpa tauhid yang benar.

Di awal dakwah Rasulullah, hal yang pertama dibangun adalah tauhid yang benar ini. Aqidah yang selamat. Salimul aqidah. Bagi sahabat Anshar, yang mereka baru pertama bertemu langsung dengan Rasulullah, tauhid ini ditegaskan kembali. Agar mereka tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun.

وَلاَ تَسْرِقُوا
Tidak mencuri

Setelah hubungan dengan Allah SWT. Klausul baiat Aqabah kedua ini terkait dengan hak Adam dalam hal bagaimana mendapatkan harta dengan cara yang baik. Dalam hubungan dengan Allah kita dilarang berbuat zalim dengan syirik, dalam hubungan dengan manusia pun kita dilarang berbuat zalim. Maka Allah mengharamkan mencuri. Rasulullah melarang mencuri.

وَلاَ تَزْنُوا
Tidak berzina

Ini klausul baiat aqabah yang ketiga. Larangan berzina. Jika klausul pertama menjaga hak Allah, klausul kedua menjaga harta, maka klausul ketiga ini menjaga keturunan dan kehormatan.

وَلاَ تَقْتُلُوا أَوْلاَدَكُمْ
Tidak membunuh anak-anakmu

Diantara kebiasaan orang jahiliyah di waktu itu adalah membunuh anak, diantaranya yang paling populer adalah dengan modus mengubur anak perempuan. Maka kaum muslimin diperintahkan untuk berbaiat agar tidak membunuh anak-anaknya. Ini sekaligus larangan kepada seluruh kaum muslimin agar tidak membunuh anak-anak. Urusan jiwa adalah milik Allah, manusia tidak berhak membunuhnya tanpa alasan yang benar. Demikian pula rezeki juga urusan Allah. Maka orangtua tidak boleh takut lapar dan takut miskin dengan adanya anak-anak.

وَلاَ تَأْتُوا بِبُهْتَانٍ تَفْتَرُونَهُ بَيْنَ أَيْدِيكُمْ وَأَرْجُلِكُمْ
Tidak membuat fitnah di antara kalian

Kata بهتان (fitnah) berarti kebohongan yang dapat menjadikan pendengarnya tersentak. Kata افتراء (bohong) digunakan secara khusus bagi tangan dan kaki.

Banyak penjelasan mengenai kalimat بَيْنَ أَيْدِيكُمْ وَأَرْجُلِكُمْ dalam hadits ini. Sebagian ulama menjelaskan maksudnya adalah antara tangan dan kaki, yakni hati. Sebagian lain, seperti Abu Muhammad bin Abu Hamzah menjelaskan bahwa baina aidiikum berarti seketika, sedangkan arjulikum itu masa yang akan datang. Sedangkan Al Karmani menjelaskan bahwa kaki dipergunakan sebagai penguat tangan.

وَلاَ تَعْصُوا فِى مَعْرُوفٍ
Tidak durhaka terhadap perintah kebaikan

Maksudnya dari المعروف adalah kebaikan yang berasal dari Allah baik berupa perintah maupun larangan.

Imam Nawawi menyebutkan kemungkinan lain yang lebih luas: "Maksudnya adalah jangan kalian menentangku atau salah seorang pemimpin kalian dalam kebaikan."

فَمَنْ وَفَى مِنْكُمْ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ
Barangsiapa yang menepati perjanjian itu maka ia akan diberi pahala oleh Allah

Ini adalah konsekeunsi logis yang dikabarkan Rasulullah kepada para sahabat bahwa jika mereka mentaati isi baiat itu, maka mereka mendapatkan pahala dari Allah SWT, yang dalam riwayat yang lain disebutkan lafal jannah. Mendapatkan surga.

، وَمَنْ أَصَابَ مِنْ ذَلِكَ شَيْئًا فَعُوقِبَ فِى الدُّنْيَا فَهُوَ كَفَّارَةٌ لَهُ
barangsiapa yang melanggar salah satu dari perjanjian itu, maka ia akan dihukum di dunia ini

Ini menyangkut klausul yang kedua sampai keenam. Bukan tentang syirik. Karena hadits ini secara umum ditujukan kepada kaum muslimin.

Sebagian besar ulama berpendapat bahwa hudud (hukuman-hukuman dalam Islam) adalah sebagai kafarah (tebusan dosa) dengan mengambil dasar dari hadits ini. Akan tetapi sebagian lainnya bependapat hudud bukan berfungsi sebagai kafarah secara pasti. Pendapat terakhir didasarkan pada hadits lain dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah SAW bersabda: "Saya tidak tahu apakah hudud adalah sebagai kafarat bagi penderitanya atau tidak."

Menurut Ibnu Hajar Al Asqalani, pendapat yang kuat adalah pendapat pertama. Dengan taubat dan kerelaan menerima hudud, maka itu menjadi kafarah bagi dosa terkait yang dilakukan seorang mukmin. Adapun hadits Abu Hurairah itu disampaikan sebelum hadits Abu Ubadah, sehingga ia dinasakh dengan hadits ini.

وَمَنْ أَصَابَ مِنْ ذَلِكَ شَيْئًا ثُمَّ سَتَرَهُ اللَّهُ ، فَهُوَ إِلَى اللَّهِ إِنْ شَاءَ عَفَا عَنْهُ ، وَإِنْ شَاءَ عَاقَبَهُ
Dan barangsiapa yang melanggar salah satunya kemudian ditutup oleh Allah, maka perkaranya terserah kepada Allah. Jika Dia berkehendak untuk mengampuninya, maka akan diampuni dan jika Dia berkehendak untuk menghukumnya, maka Dia akan menghukumnya.

Ada kalanya seseorang melanggar hukum Islam tetapi tidak dikenai hudud karena pengadilan tidak tahu dan tidak ada yang melaporkannya. Maka bagi orang yang demikian, keputusannya sepenuhnya di tangan Allah. Ada kalanya diampuni, ada kalanya dihukum di akhirat nanti. Meskipun orang tersebut bertaubat kepada Allah SWT.

. فَبَايَعْنَاهُ عَلَى ذَلِكَ
Maka kami pun berbaiat kepada Rasulullah atas yang demikian itu.

Inilah para sahabat. Mereka tidak perlu melakukan tawar menawar atau keberatan atas segala klausul baiat yang telah disabdakan Rasulullah SAW. Maka pada malam itu, terjadilah peristiwa yang monumental: baiat aqabah I. Kelak ia, dilanjutkan baiat Aqabah II, menjadi pondasi bagi bangunan Madinah yang siap menerima dan melindungi Rasulullah. Siap menjadi basis sosial Islam. Lalu Rasulullah dan para sahabat dari Makkah pun hijrah dan Islam memulai babak baru dalam sejarahnya. Periode Madinah.

Pelajaran Hadits
Diantara pelajaran hadits yang bisa kita ambil dari hadits di atas adalah sebagai berikut:
1. Adanya baiat yang dilakukan para sahabat kepada Rasulullah di Aqabah dengan klausul sebagaimana di atas dan kemudian dikenal dengan nama Baiat Aqabah I;
2. Dilarang syirik, mencuri, berzina, membunuh anak, membuat fitnah, dan tidak mendurhakai kebaikan;
3. Dalam Islam ada hudud (hukuman-hukuman) yang dijatuhkan kepada pelanggar hukum Islam (tertentu, seperti mencuri dan berzina). Bagi orang yang rela menjalani hudud itu -disertai taubat- ia menjadi kafarah (tebusan) atas dosa itu;
4. Ada kalanya dalam Islam, seseorang lolos dari pengadilan agama atau hudud. Jika demikian halnya, maka ia akan berhadapan dengan pengadilan Allah di akhirat nanti. Bisa jadi ia diampuni, bisa jadi ia dijatuhi hukuman;
5. Karakter para sahabat yang dengan serta merta mentaati Rasulullah termasuk dalam klausul perjanjian ini;.

Demikian penjelasan singkat hadits Shahih Bukhari ke-18. Semoga Allah memberikan hidayah hingga kita lebih paham dengan agama ini dan menjadi hamba-Nya yang tunduk pada aturannya serta setia pada ajaran Rasulullah, termasuk klausul baiat aqabah ini. Wallaahu a'lam bish shawab. []

KEMBALI KE HADITS 17
15:00 | 6 komentar

Dilema Israel Pasca Revolusi Mesir


Oleh: Khalid Sarjani

Sudah pasti penegasan Majlis Tinggi Angkatan Bersenjata bahwa ia akan komitmen dengan semua perjanjian yang pernah ditandatangani Mesir melegakan Israel yang sebelumnya berasa khawatir jika revolusi Mesir mempengaruhi “perjanjian damai yang pernah ditandatangai sejak tahun 1978. Meski demikian, Israel tetap berada dalam dilematis setelah revolusi itu berhasil menggulingkan rezim Hosni Mubarak. Ini bukan saja karena sekutu strategi dan penting Israel sekelas Mesir akan “tiarap”, atau karena politik-politiknya selalu mewujudkan kepentingan Israel, seperti ikut dalam memblokade Jalur Gaza dan Hamas, atau kerjasama keamanan dan tukar informasi antara keamanan Mesir dan Israel, namun karena peristiwa Mesir dan Tunis bisa jadi akan mempengaruhi peran Israel dalam strategi barat.

Semua orang tahu bahwa dunia mengikuti dan empati dengan revolusi Mesir dan tercengang dengan kinerja pemuda Mesir yang turun ke jalan di tengah kondisi sulit bangsa Mesir. Sebagian besar pemuda yang menggalang massa melalui jejaring sosial seperti Facebook dan Twitter adalah dari kelas yang memiliki konflik dengan dunia barat. Hak ini tentu menghilangkan image barat bahwa dunia Arab itu dikuasai oleh kelompok fundamentalis ekstrim.

Image barat selama ini dipengaruhi oleh kampanye zionis yang intens di media barat. Dengan perubahan imej ini, maka Israel menghadapi demokrasi dan moderaslime di tengah gurun pasir otoritarianisme dan fundementalisme. Maka eksistensi Israel dengan imej seperti ini dan pelanggarannya atas HAM dengan mengatas namakan menjaga kepentingan barat.

Ini artinya, imej Arab di dunia barat berubah karena revolusi Mesir dan Tunis dan ini membuka ruang perubahan sikap dunia barat terhadap masalah di dunia Arab. Sangat mungkin akan terbuka sejumlah perkembangan yang mengarah kepada kontak kuat antara pelajar Arab yang memiliki pendidikan barat yang mampu berbicara dengan bahasa modern yang handal dalam berkomunikasi melalui jejaring sosial dan ada pemuda barat yang terpesona dengan pengalaman revolusi Mesir dan Tunisia. Perubahan barat inilah yang dikhawatirkan Israel.

Disamping pemerintah sementara Mesir tidak akan berani menganulir perjanjian yang ada namun mereka juga tidak akan memberikan langkah maju dalam urusan normalisasi dengan Israel. Namun yang pasti hubungan dengan Tunis dan Mesir akan mengalami kemunduran pasca tergulingkan Ben Ali dan Hosni Mubarak, ditambah masalah Suriah, Palestina dan Turki.

Sisi penting lain hubungan Mesir dan Israel selama diunggulkan. Kesepakatan penjualan gas alam Mesir untuk Israel misalnya, dengan harga jauh lebih murah dibanding harga standar dunia. Ini membuat pihak-pihak penting Mesir keberatan dan kecewa. Kadang pemerintah Mesir mendorong pebisnis dekat mereka untuk berinvestasi dana di Israel agar terlihat normalisasi hubungan kedua negara. Hampir dipastikan, pemerintah Mesir yang baru tidak akan menempuh cara ini, diperkirakan juga akan menganulir penjualan gas alam atau paling tidak dikaji ulang soal harganya. Ini pasti berdampak negatif bagi Israel. Israel juga khawatir Mesir akan masuk ke poros “oposisi Arab” meski bukan dalam waktu dekat.

Itu berarti Israel harus meralat politiknya di kawasan sesuai dengan situasi. Dulu Mesir adalah negara yang melawan proyek nuklir Iran, dan Israel adalah paling keras menentangnya. Politik ini bisa berubah sesuai dengan situasi dan perkembangan terbaru. [bsyr, InfoPalestina]
08:00 | 9 komentar

Revolusi Mesir dan Kebangkitan Arab

Written By Admin BeDa on Senin, 21 Februari 2011 | 10:00


Oleh: Prof. Dr. Sulaiman Shalih

Kekuasaan otoriter selama ini menjadi faktor paling utama dari keterbelakangan Arab dan kekalahan mereka menghadapi peradaban barat.

Barat menyadari hal itu dengan terang dan mereka mendorong penguasa Arab untuk represif terhadap rakyatnya dan membangun badan keamanan yang kuat untuk menebar intimidasi dan ketakutan di dalam diri rakyatnya sehingga tidk bisa berfikir untuk bebas atau mewujudkan cita-cita besarnya.

Akibat ketakutan, rakyat hanya berfikir tentang diri mereka dan terfokus dalam mencari rizki keluarga mereka. Untuk memperoleh rizki itu, mereka melupakan makna-makna kemanusiaan yang indah dan kebutuhan spesial manusia sebagai makhluk Allah.

Barat mengejek keterbelakangan kita dan sikap menyerah kita, sementara mereka menyatakan bangga karena telah mewujudkan demokrasi dan kebebasan di negeri mereka. Hak barat untuk bangga atas kebebasan bila itu diwujudkan berdasarkan kepada penghormatan kepada hak-hak manusia dan demokrasi yang didasarkan kepada pengekangan (pembatasan) penguasa dan pemaksaan mereka agar menjalankan tugasnya untuk kepentingan rakyat.

Sudah normal barat menjadi maju karena bangsa yang bebas adalah bangsa yang mampu menciptakan kemajuan.

Thomas Jeferson seorang nasionalis bijak pernah berkata, “Bangsa yang mengorbankan kebebasannya untuk mencari keamanan tidaklah layak mendapatkan keamanan dan kebebasan.”

Karenanya, barat mengekang institusi keamanan dan memaksanya agar bekerja melayani rakyat dan menghargai HAM.

Namun pada saat yang sama, Amerika mendorong penguasa Arab yang otoriter untuk menciptakan badan keamanan yang kuat dan digunakannya untuk mengekang rakyatnya, melemahkan, menintimidasi dan menakutinya.

Diktator Mesir Hosni Mubarak adalah penguasa otoriter Arab terkuat dan paling banyak daftar kezhaliman dan represifnya terhadap rakyatnya.

Ia mewarisi badan keamanan yang kuat dari pendahulunya yang otoriter dan diperkuat lagi. Kemudian Amerika menyuplai kepadanya segala macam peralatan khusus untuk menyiksa dan memaksa rakyatnya.

Meski dengan semua itu, rakyat Mesir bangkit dengan revolusinya untuk menegaskan bawha kebebasan adalah bagian dari kehidupan yang paling mahal. Bangsa yang berjuang demi kebebasan adalah bangsa yang mulia dan agung yang mampu membangun peradaban agung pula.

Kini mata bangsa Arab dan hatinya mengharapkan kepada bangsa Mesir yang merepresentasikan sebagai umat perindu kebebasan.

Karenanya, keberhasilan revolusi Mesir adalah kemenangan setiap bangsa Arab yang ditindas oleh penguasa mereka yang otoriter.

Bangsa Arab akan bangkit dalam waktu dekat dari laut ke teluk untuk mengikuti bangsa Mesir untuk mengibarkan slogan “runtuhkan rezim penindas”. Kenapa?

Karena bangsa Mesir menyadari bahwa rezim kejam dan tertipu oleh dirinya serta otoriter adalah penyebab kemiskinan, keterbelakangan, latah, kekalahan peradaban. Jika berhasil meruntuhnya rezim dan mewujudkan kebebasan, maka mereka akan bisa membangun negara modern dan maju yang demokratis dan menghargai HAM dan harga diri warga negara.

Jika bisa menghargai kehormatan warga negara maka akan bisa berinovasi dan mengelolah tanah air dan membangun pabrik.

Sebuah bangsa yang mampu mengalahkan penguasan otoriter maka ia mampu mengalahkah kolonialisme dan sikap latah serta mewujudkan kemandirian.

Maka revolusi Mesir adalah awal mula kebangkitan Arab yang utuh dan awal mula pergiliran peradaban Arab yang pasti akan datang, meski AS, Israel dan semua kekuatan penindas tidak suka. [bsyr, InfoPalestina]
10:00 | 17 komentar

Paska Jatuhnya Mubarak, Ikhwanul Muslimin Tampil Lebih Berani

Written By Admin BeDa on Minggu, 20 Februari 2011 | 11:00


Setelah jatuhnya Mubarak (11/2), Ikhwanul Muslimin tampil lebih berani dalam menyuarakan pandangan mereka bagaimana Mesir dijalankan. Sabtu sore kemarin (19/2) misalnya, Ikhwanul Muslimin menyarankan penguasa militer Mesir yang pernah melarang pemogokan, untuk membuka dialog dengan para buruh dan menjamin nasib mereka meningkat segera.

"Kami percaya orang yang telah mengorbankan dirinya dan kaum muda mereka demi meningkatkan dan membangun negerinya mampu bersabar untuk sementara waktu dalam upaya memulihkan hak-hak mereka secara penuh, sehingga para pejabat harus menunjukan ketulusan, kejujuran, dan transparansi total," demikian pernyataan Ikhwan seperti dikutip Reuters.

Sebelumnya, Ikhwanul Muslimin dilarang oleh rezim Mubarak sehingga tidak bisa tampil secara resmi. Keikutsertaan Ikhwan dalam pemilu melalui jalur independen juga diendus oleh rezim yang berkuasa 30 tahun di Mesir itu. Puncaknya, menjelang pemilu beberapa bulan lalu, ribuan aktifis dan tokoh Ikhwan ditangkap menjelang dan selama pemilu sehingga Ikhwan tidak memperoleh satu kursi pun di parlemen.

Demonstrasi selama 18 hari di Mesir telah berhasil menggulingkan Mubarak. Paska jatuhnya Mubarak, dewan militer ditunjuk untuk mengendalikan negara.

Ikhwanul Muslimin menyarankan agar Dewan Militer terjun ke masyarakat untuk membangun dialog konstruktif dengan para pekerja. Ikhwan juga menyarankan dewan militer untuk mengakui ketidakadilan besar yang tercipta pada sejumlah kelas sosial tertentu di bawah rezim Mubarak dan melakukan langkah kongkret agar penghasilan para buruh meningkat serta kesenjangan semakin menipis.[AN/bsb]
11:00 | 11 komentar

Download Makalah Powerpoint "Menjadi Pemimpin Dambaan Umat"

Written By Admin BeDa on Sabtu, 19 Februari 2011 | 10:00


Makalah powerpoint, atau lebih tepatnya presentasi, berjudul "Menjadi Pemimpin Dambaan Umat" ini sebenarnya dibuat untuk bahan Kajian Sabtu Siang yang diselenggarakan di Masjid KH. Faqih Usman pada hari ini. Makalah powerpoint ini kemudian di-upload dan disediakan link downloadnya di sini untuk memudahkan peserta kajian untuk tidak hanya memiliki hard copy makalah (dalam bentuk foto copy), tetapi juga softcopy-nya. Namun demikian, file ini juga bebas di-download oleh siapa saja yang membutuhkan materi "Menjadi Pemimpin Dambaan Umat" ini.

Makalah powerpoint "Menjadi Pemimpin Dambaan Umat" ini terdiri dari 12 slide. Dimulai dari judul, ia kemudian berbicara tentang makna pemimpin serta istilah-istilah pemimpin yang digunakan dalam Al-Qur'an dan hadits disertai dalilnya. Pada pembahasan makna pemimpin ini juga dikemukakan definisi ilmuwan Barat, sebagai pembanding.

Berikutnya, makalah powerpoint ini mengemukakan definisi umat dalam sejumlah kamus dan penggunaan istilah umat dalam Al-Qur'an.

Setelah penegasan istilah "Pemimpin Dambaan Umat" selesai, maka slide berikutnya berisi profil umum pemimpin seperti itu dalam hadits, dan bagaimana penjelasannya dalam konteks kekinian, disertai syarat-syaratnya. Terakhir, karena makalah ini disiapkan untuk kajian yang peserta atau audiensnya adalah mahasiswa, maka di bagian akhir ia berbicara tentang bagaimana menyiapkan diri menjadi pemimpin.

Demikian penjelasan singkat tentang makalah powerpoint "Menjadi Pemimpin Dambaan Umat" ini, dan untuk mendownload gratis silahkan klik DI SINI.
10:00 | 12 komentar

Pasang Surut Sejarah

Written By Admin BeDa on Jumat, 18 Februari 2011 | 14:00

Kesadaran akan efek ruang dan waktu membawa kita pada cara pandang berbeda tentang interaksi manusia dan teks dalam sejarah manusia. Peristiwa sejarah adalah hasil dari interaksi antara manusia, ruang dan waktu. Jika kita memasukkan teks ke dalam struktur dimana manusia bertindak dalam konteks ruang dan waktunya sesuai dengan alur hidup yang tertera dalam teks.

Yang lahir dari interaksi antara manusia, teks, ruang dan waktu kita sebut peristiwa sejarah berbasis teks. Karena itu, banyak pemikir dan filosof sejarah muslim saat ini berusaha membaca bentangan fenomena sejarah Islam dengan merujuk pada makna itu. Mereka mengatakan, tidak semua peristiwa sejarah dalam dunia muslim itu bisa disebut sebagai sejarah Islam. Sejarah Islam per definisi adalah catatan peristiwa kehidupan yang dilakukan oleh manusia muslim yang dibimbing sepenuhnya oleh teks. Misalnya sejarah kehidupan era Nabi Muhammad SAW dan para Khulafa Rasyidin. Peristiwa-peristiwa sejarah yang terjadi tanpa bimbingan teks tidak bisa dicatat sebagai sejarah Islam. Sebab itu merupakan penyimpangan dari teks. Atas dasar itu mereka menuntut adanya penulisan ulang atas sejarah Islam agar dibingkai dalam pemaknaan yang benar.

Yang terjadi sebenarnya adalah fenomena rotasi peradaban dalam sejarah manusia secara keseluruhan. Ada pasang surut dalam sejarah setiap peradaban. Itu merupakan sunatullah yang menjadi hukum sejarah yang pasti. Kaum muslimin bukanlah pengecualian dalam hukum sejarah ini. Peradaban Islam mengalami pasang surut seperti semua peradaban lain. Teks ini memberikan penjelasan terhadap fenomena pasang surut itu. Bahwa ada korelasi yang kuat antara komitmen terhadap teks dan fenomena pasang surut peradaban kita. Saat di mana kita di puncak adalah saat di mana kita berkomitmen penuh pada teks. Begitu juga sebaliknya.

Jadi masalahnya memang terletak pada definisi peristiwa Islam dalam sejarah dunia muslim. Sebab hukum sejarah berlaku absolut pada semua manusia. Persoalan kita dalam sejarah adalah konsistensi menjalani teks dan konteks ruang dan waktu. Sebab konsistensi itulah yang menentukan pasang surut peradaban kita dalam sejarah.

Kesadaran terhadap efek ruang dan waktu -dengan begitu- seharusnya memunculkan kesadaran akan makna konsistensi terhadap teks. Konsistensi ini adalah jaring pengaman dari kemungkinan kita mengalami surut setelah pasang dalam sejarah. Perjuangan kita terletak di situ: pada upaya untuk konsisten sepanjang waktu seluas ruang. [Anis Matta, sumber : Serial Pembelajaran Majalah Tarbawi edisi 242]
14:00 | 8 komentar

Dari Kairo ke Al-Quds, Waktunya Revolusi Pembebasan


Oleh : Yaser Zaaterah

Rakyat Mesir yang menjadi pahlawan membebaskan Kairo dari kangkangan para kaum tiran yang korup dan perusak dan meletakkanya pada jadwal dekat dengan pembebasan Al-Quds. Mimpikah kita atau ada bukti dan indikasi riil?

Sebagai seorang pengungsi Palestina yang diaspora, di mana haknya dijual oleh Mahmud Abbas, sepanjang perjalanan hidup sebagai pengungsi yang tidak mendapat tempat yang sesuai untuk senang melebihi kegembiraan atas kemenangan Mesir saat ini. Ini bukan hasil keyakinan pribadi, namun perasaan keyakinan yang dimiliki oleh semua warga Palestina di dalam dan luar negeri.

Kali ini bukan kejatuhan rezim Cam David seperti kata sebagian orang karena perjanjian Cam David tidak menegaskan secara tekstual memberikan kepada rezim Mesir layanan-layanan (fasilitas) keamanan dan politik atau bahkan fasilitas ekonomi "perjanjian gas" misalnya kepada Israel, namun ini adalah kejatuhan "latah fanatic" yang diikuti oleh rezim agar bisa mewariskan kekuasaan dan budaya korupnya dan memberikan lampu hijau untuk melakukan represif terhadap oposisi.

Rezim Hosni Mubarak bukan saja korup dan merusak dalam negeri, bahkan rezim berlebihan dalam menerapkan keamanan nasional Mesir dan Arab juga. Di Sudan, keamanan nasional Mesir dan Arab menghinakan dirinya sehingga hasilnya rezim ini menjadi "zionis baru" yang mempermainkan air sungai Niil di Sudah Selatan. Di Irak, Mesir melakukan hal yang sama. Sementara di Palestina, kelakukan Mesir yang berlebihan membela Israel makin kentara.

Dalam kasus Palestina, rezim menjualnya kepada sekelompok orang Palestina yang rusak moralnya. Sebab tidak mungkin Mahmud Abbas mewarisi kekuasaan Yaser Arafat, otoritas Palestina, Fatah dan PLO tanpa dukungan Mesir. Tidak mungkin pula "poros Arab moderat" terbentuk tanpa kesepakatan Mesir; sebuah poros yang meletakkan di bawah ketiak tuntutan Israel di awali dari prakarsa politik yang menghapus hak kembali (pemulangan) pengungsi Palestina, dan tidak hanya berakhir pada keberanian otoritas Palestina melakukan konsesi-konsesi yang tidak pernah terbayangkan oleh seorang pun seperti yang dipublikasikan oleh dokumen Aljazeera, sebelum itu program kerja otoritas Palestina adalah melayani dan member fasilitas kepada penjajah Israel.

Sekarang… setelah revolusi Mesir, semua itu akan dihapus. Benar kata Tzepi Livni, pentolan oposisi Israel dan partai Kadema ketika menyatakan bahwa rakyatnya (Israel) kini hidup dalam ketakutan dan kehilangan keyakinan karena peristiwa di sekitar mereka.

Pasca revolusi Mesir, Arab akan memasuki era baru. Bahasa konsesi tidak akan lagi mampu dalam benak kesadaran umat. Tidak akan ada lagi rezim berani bermain-main dengan "kosa kata konsesus" bangsa Arab dan umat Islam.

Pasca revolusi Mesir, bangsa Arab akan terbebas, tidak akan ada lagi tempat bagi "penyelesaian damai" (soal hak-hak umat dijajah dan dirampas), Mahmud Abbas atau lainnya tidak lagi berani "tawar menawar" atas Al-Quds atau wilayah Palestina lainnya. Jika ia berani, ia akan "dikejar" oleh laknat dan menjadi pos Intifadhah baru yang sangat berbahaya.

Kini rezim Arab resmi akan berusaha sekuat tenaga tidak memeras bangsa Palestina agar tidak meletus Intifadhah baru di Tepi Barat karena jika ini terjadi bukan saja mengancam Otoritas "Oslo" Palestina, namun akan menyulut api di "jidat" kawasan Timur Tengah dan rezim Arab sisanya akan turut dilengserkan.

Namun semua itu tidak akan mengubah "rute peristiwa" sebab bangsa Palestina adalah "penghulu revolusi". Merekalah yang meniupkan dan menyebarkan ruh dan budaya perlawanan, pengorbanan dan "rindu kesyahidan" terutama selama abad millennium. Bangsa Palestina tidak akan pernah jauh dari "api revolusi". Mereka sudah memiliki "jadwal revolusi". Saat itulah para penjajah akan menghadapi revolusi yang bukan hanya Arab resmi namun didukung publiknya yang akan menumpahkan seluruh kekuatan dan pengorbanannya sehingga bisa mewujudkan kemenangan – dengan izin Allah.
Ini bukan mimpi, tapi lebih dekat kepada pengamatan politik. Ketika kita pernah bilang bahwa perlawanan akan meletus dan proyek agressor pimpinan AS akan gagal, atau hal yang sama kami katakan soal perlawanan Afhanistan, kami tidak sedang bermimpi itu menjadi kenyataan. Kini kami sekarang jauh lebih "beriman" bahwa revolusi Palestina pasti datang meski agak tertunda menunggu rezim-rezim otoririter lainnya menunggu berjatuhan. [bsyr, InfoPalestina]
08:00 | 6 komentar

Khutbah Jum'at: Kemenangan Islam

Written By Admin BeDa on Kamis, 17 Februari 2011 | 10:00


Di bulan Rabiul Awal 1432 H ini kita mendapatkan surprise yang menggembirakan. Saudara-saudara kita umat Islam di Mesir baru saja berhasil menggulingkan Husni Mubarak yang telah berkuasa selama 30 tahun. Sebelumnya, Tunisia juga melakukan hal yang sama pada Ben Ali. Fakta yang lebih menarik, dua "revolusi" itu menjadi "resonansi" bagi sejumlah negara di Timur Tengah. Perubahan di depan mata! Khutbah Jum'at ini berangkat dari kondisi aktual di atas untuk meneguhkan sikap istiqamah dalam dakwah dan perjuangan Islam melalui pemahaman bentuk-bentuk tamkin (kemenangan) Islam dalam Al-Qur'an.

Dengan demikian, tema Khutbah Jum'at edisi 14 Rabiul Awal 1432 H yang bertepatan dengan 18 Februari 2011 M ini adalah: Kemenangan Islam.

KHUTBAH PERTAMA

الحمد لله ربِّ العالمين والْعاقِبَةُ لِلْمُتَّقين ولا عُدْوانَ إلَّا عَلى الظَّالمِين وأشهد أنْ لا إله إلاالله وحده لا شريك له ربَّ الْعالمين وإلَهَ المُرْسلين وقَيُّوْمَ السَّمواتِ والأَرَضِين وأشهد أن محمدا عبده ورسوله المبعوثُ بالكتابِ المُبين الفارِقِ بَيْنَ الهُدى والضَّلالِ والْغَيِّ والرَّشادِ والشَّكِّ وَالْيَقِين والصَّلاةُ والسَّلامُ عَلى حَبِْيبِنا و شَفِيْعِنا مُحمَّدٍ سَيِّدِ المُرْسلين و إمامِ المهتَدين و قائِدِ المجاهدين وعلى آله وصحبه أجمعين

فياأيها المسلمون أوصيكم وإياي بتقوى الله عز وجل والتَّمَسُّكِ بهذا الدِّين تَمَسُّكًا قَوِيًّا. فقال الله تعالى في كتابه الكريم، أعوذ بالله من الشيطان الرجيم “يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ ،

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

Jama’ah jum’at rahimakumullah,
Hari-hari ini dunia dipenuhi dengan semangat revolusi negeri-negeri muslim. Semangat perubahan. Sebagiannya telah berhasil, sebagiannya dalam proses dan perjalanan. Tunisia dan Mesir adalah contoh pertama. Sedangkan Pakistan, Aljazair, dan sejumlah Negara timur tengah lainnya adalah contoh kedua.

Siapa yang pernah berpikir bahwa timur tengah yang selama ini terkungkung dalam tirani penguasa, cengkeraman diktator, tiba-tiba bangkit dan melakukan perlawanan. Melakukan perubahan. Tapi itulah yang terjadi. Maka rezim Ben Ali yang telah berkuasa selama 23 tahun tumbang. Rezim Mubarak yang telah memerintah selama 30 tahun juga tumbang.

Perubahan-perubahan itu oleh sebagian orang dipandang sebagai sesuatu yang selayaknya terjadi. Sebab perubahan adalah keniscayaan. Dan memang ada sunnah pergiliran. Demikian pula fase eksistensi sebuah rezim. Ada fase kebangkitan, lalu kejayaan, dan setelahnya kemunduran. Ketika kekuasaan telah terpusat di tangan satu orang, maka kehancuran sudah sedemikia dekatnya. Maka ibnu Khaldun membuat sebuah kaidah dalam Muqaddimahnya: “Sekali usaha pemusatan kekuasaan dalam tangan seorang telah tercapai dan kemewahan serta sifat malas telah merata, maka berarti negara telah mendekati kehancurannya.”

Sekali lagi, mungkin saja “revolusi” Tunisa dan Mesir dianggap hal biasa. Atau spontan terjadi begitu saja. Namun jika kita jeli, kita akan menemukan warna gerakan Islam di sana. Itulah yang tampak pada demonstrasi besar di Mesir. Jumlahnya ratusan ribu. Namun mereka mengistirahatkan aksi mereka. Sesaat meredam amarah dan kata-kata. Dan dalam barisan rapi, disiarkan berbagai media, dan disaksikan seluruh dunia mereka shalat berjamaah. Bukankah ini aneh? Bukankah ini luar biasa? Bukankah ini adalah bukti bahwa gerakan Islam berperan besar di sana?

Jama’ah jum’at rahimakumullah,
Lalu ada sebagian kita yang mempersoalkan, kalaupun perubahan-perubahan itu dimotori gerakan Islam toh nyatanya sampai saat ini belum terjadi kemenangan Islam. Kemenangan dakwah. Kemudian argument itu berlanjut pada logika berikutnya untuk menanamkan keraguan agar Islam menjadi gerakan ritual yang sempit, yang hanya mengurusi shalat, puasa, dan sejenisnya.

Barangkali pemikiran seperti ini lahir karena keterbatasan kita dalam memandang kemenangan. Bahwa kemenangan (tamkin) itu mestilah Islam yang berkuasa penuh, tanpa reserve, mengatur semuanya seketika dengan hukum Islam.

Sekarang, marilah kita lihat bersama bagaimana Al-Qur’an mengisyaratkan bentuk-bentuk kemenangan (tamkin).

Pertama, salah satu bentuk tamkin adalah pengokohan terhadap sikap para dai yang Allah berikan kepada mereka dalam menjalankan misi menyampaikan risalah dan menunaikan amanah. Lalu timbullah simpati manusia serta respon positif atas dakwah mereka.

Misalnya yang terjadi pada ashabul qaryah.

وَاضْرِبْ لَهُمْ مَثَلًا أَصْحَابَ الْقَرْيَةِ إِذْ جَاءَهَا الْمُرْسَلُونَ * إِذْ أَرْسَلْنَا إِلَيْهِمُ اثْنَيْنِ فَكَذَّبُوهُمَا فَعَزَّزْنَا بِثَالِثٍ فَقَالُوا إِنَّا إِلَيْكُمْ مُرْسَلُونَ * قَالُوا مَا أَنْتُمْ إِلَّا بَشَرٌ مِثْلُنَا وَمَا أَنْزَلَ الرَّحْمَنُ مِنْ شَيْءٍ إِنْ أَنْتُمْ إِلَّا تَكْذِبُونَ * قَالُوا رَبُّنَا يَعْلَمُ إِنَّا إِلَيْكُمْ لَمُرْسَلُونَ * وَمَا عَلَيْنَا إِلَّا الْبَلَاغُ الْمُبِينُ * قَالُوا إِنَّا تَطَيَّرْنَا بِكُمْ لَئِنْ لَمْ تَنْتَهُوا لَنَرْجُمَنَّكُمْ وَلَيَمَسَّنَّكُمْ مِنَّا عَذَابٌ أَلِيمٌ * قَالُوا طَائِرُكُمْ مَعَكُمْ أَئِنْ ذُكِّرْتُمْ بَلْ أَنْتُمْ قَوْمٌ مُسْرِفُونَ * وَجَاءَ مِنْ أَقْصَى الْمَدِينَةِ رَجُلٌ يَسْعَى قَالَ يَا قَوْمِ اتَّبِعُوا الْمُرْسَلِينَ * اتَّبِعُوا مَنْ لَا يَسْأَلُكُمْ أَجْرًا وَهُمْ مُهْتَدُونَ

Dan buatlah bagi mereka suatu perumpamaan, yaitu penduduk suatu negeri ketika utusan-utusan datang kepada mereka. (yaitu) ketika Kami mengutus kepada mereka dua orang utusan, lalu mereka mendustakan keduanya; kemudian Kami kuatkan dengan (utusan) yang ketiga, maka ketiga utusan itu berkata: "Sesungguhnya kami adalah orang-orang di utus kepadamu". Mereka menjawab: "Kamu tidak lain hanyalah manusia seperti kami dan Allah Yang Maha Pemurah tidak menurunkan sesuatupun, kamu tidak lain hanyalah pendusta belaka". Mereka berkata: "Tuhan kami mengetahui bahwa sesungguhnya kami adalah orang yang diutus kepada kamu". Dan kewajiban kami tidak lain hanyalah menyampaikan (perintah Allah) dengan jelas". Mereka menjawab: "Sesungguhnya kami bernasib malang karena kamu, sesungguhnya jika kamu tidak berhenti (menyeru kami), niscaya kami akan merajam kamu dan kamu pasti akan mendapat siksa yang pedih dari kami". Utusan-utusan itu berkata: "Kemalangan kamu adalah karena kamu sendiri. Apakah jika kamu diberi peringatan (kamu bernasib malang)? Sebenarnya kamu adalah kaum yang melampui batas". Dan datanglah dari ujung kota, seorang laki-laki dengan bergegas-gegas ia berkata: "Hai kaumku, ikutilah utusan-utusan itu". Ikutilah orang yang tiada minta balasan kepadamu; dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. Yasin : 13-21)

Dalam ayat ini, rasul Allah itu mampu menyampaikan risalah. Mereka tetap teguh meskipun berhadapan dengan ancaman dan intimidasi penduduk negeri itu. Apakah kita mengatakan rasul itu kalah hanya karena ia tidak berkuasa? Tidak. Dakwah menang. Malaazamul haq fii quluubinaa. Selama kebenaran itu masih kokoh dalam hati kita.

Kisah yang lain adalah seorang ghulam yang berhadapan dengan ashabul ukhdud. Pada akhirnya ghulam yang beriman itu wafat, syahid. Namun bersamaan dengan itu berbondong-bondong orang beriman. Lalu mereka semuanya dibakar di parit-parit. Kalahkah mereka? Tidak. Itu bagian dari kemenangan. Dan di akhirat, kemenangan besar telah menanti.

Allah menceritakan kekejaman ashabul ukhdud itu dalam firman-Nya:

قُتِلَ أَصْحَابُ الْأُخْدُودِ * النَّارِ ذَاتِ الْوَقُودِ * إِذْ هُمْ عَلَيْهَا قُعُودٌ * وَهُمْ عَلَى مَا يَفْعَلُونَ بِالْمُؤْمِنِينَ شُهُودٌ * وَمَا نَقَمُوا مِنْهُمْ إِلَّا أَنْ يُؤْمِنُوا بِاللَّهِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ

Binasa dan terlaknatlah orang-orang yang membuat parit, yang berapi (dinyalakan dengan) kayu bakar, ketika mereka duduk di sekitarnya, sedang mereka menyaksikan apa yang mereka perbuat terhadap orang-orang yang beriman. Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mukmin itu melainkan karena orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji, (QS. Al-Buruj : 4-8)

Kedua, bentuk tamkin (kemenangan) dalam Al-Qur’an adalah binasanya orang-orang kafir dan selamatnya orang-orang mukmin. Entah di hadapan azab yang diturunkan Allah atau dalam peperangan.

Misalnya adalah Nabi Nuh dan Nabi Musa. Al-Qur’an memberitakan kepada kita bahwa Nuh adalah rasul pertama yang berdakwah selama 950 tahun. Beliau termasuk ulul azmi. Namanya disebut dalam Al-Qur’an sebanyak 43 kali dalam 29 surat. Dakwahnya luar biasa, siang dan malam.

Namun apa tanggapan kaumnya? Surat Nuh menceritakan kepada kita,

قَالَ رَبِّ إِنِّي دَعَوْتُ قَوْمِي لَيْلًا وَنَهَارًا * فَلَمْ يَزِدْهُمْ دُعَائِي إِلَّا فِرَارًا * وَإِنِّي كُلَّمَا دَعَوْتُهُمْ لِتَغْفِرَ لَهُمْ جَعَلُوا أَصَابِعَهُمْ فِي آَذَانِهِمْ وَاسْتَغْشَوْا ثِيَابَهُمْ وَأَصَرُّوا وَاسْتَكْبَرُوا اسْتِكْبَارًا * ثُمَّ إِنِّي دَعَوْتُهُمْ جِهَارًا

Nuh berkata: "Ya Tuhanku sesungguhnya aku telah menyeru kaumku malam dan siang, maka seruanku itu hanyalah menambah mereka lari (dari kebenaran). Dan sesungguhnya setiap kali aku menyeru mereka (kepada iman) agar Engkau mengampuni mereka, mereka memasukkan anak jari mereka ke dalam telinganya dan menutupkan bajunya (kemukanya) dan mereka tetap (mengingkari) dan menyombongkan diri dengan sangat. Kemudian sesungguhnya aku telah menyeru mereka (kepada iman) dengan cara terang-terangan (QS. Nuh : 5-8)

Kaumnya tetap menolak, ingkar, durhaka, bahkan memusuhi dakwah ini. Karenanya di penghujung kisah, mereka dibinasakan oleh Allah dengan azab banjir.

فَدَعَا رَبَّهُ أَنِّي مَغْلُوبٌ فَانْتَصِرْ * فَفَتَحْنَا أَبْوَابَ السَّمَاءِ بِمَاءٍ مُنْهَمِرٍ * وَفَجَّرْنَا الْأَرْضَ عُيُونًا فَالْتَقَى الْمَاءُ عَلَى أَمْرٍ قَدْ قُدِرَ * وَحَمَلْنَاهُ عَلَى ذَاتِ أَلْوَاحٍ وَدُسُرٍ * تَجْرِي بِأَعْيُنِنَا جَزَاءً لِمَنْ كَانَ كُفِرَ

Maka dia mengadu kepada Tuhannya: "bahwasanya aku ini adalah orang yang dikalahkan, oleh sebab itu menangkanlah (aku)." Maka Kami bukakan pintu-pintu langit dengan (menurunkan) air yang tercurah. Dan Kami jadikan bumi memancarkan mata air-mata air, maka bertemu- lah air-air itu untuk suatu urusan yang sungguh telah ditetapkan. Dan Kami angkut Nuh ke atas (bahtera) yang terbuat dari papan dan paku, Yang berlayar dengan pemeliharaan Kami sebagai belasan bagi orang-orang yang diingkari (Nuh). (QS. Al-Qamar : 10-14)

Kisah Nabi Musa dan Fir’aun juga merupakan bentuk tamkin (kemenangan) yang sama. Kisah perlawanan kali ini terjadi di Mesir. Dan Allah menjadikannya sebagai anugerah bagi negeri ini.

وَنُرِيدُ أَنْ نَمُنَّ عَلَى الَّذِينَ اسْتُضْعِفُوا فِي الْأَرْضِ وَنَجْعَلَهُمْ أَئِمَّةً وَنَجْعَلَهُمُ الْوَارِثِينَ * وَنُمَكِّنَ لَهُمْ فِي الْأَرْضِ وَنُرِيَ فِرْعَوْنَ وَهَامَانَ وَجُنُودَهُمَا مِنْهُمْ مَا كَانُوا يَحْذَرُونَ

Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi (Mesir) itu dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi (bumi), dan akan Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi dan akan Kami perlihatkan kepada Fir'aun dan Haman beserta tentaranya apa yang se- lalu mereka khawatirkan dari mereka itu. (QS. Al-Qashash : 5-6)

Pada akhirnya Fir’aun dan seluruh bala tentaraya yang tengah mengejar Musa dan kaumnya ditenggelamkan Allah di laut merah.

فَأَتْبَعُوهُمْ مُشْرِقِينَ * فَلَمَّا تَرَاءَى الْجَمْعَانِ قَالَ أَصْحَابُ مُوسَى إِنَّا لَمُدْرَكُونَ * قَالَ كَلَّا إِنَّ مَعِيَ رَبِّي سَيَهْدِينِ * فَأَوْحَيْنَا إِلَى مُوسَى أَنِ اضْرِبْ بِعَصَاكَ الْبَحْرَ فَانْفَلَقَ فَكَانَ كُلُّ فِرْقٍ كَالطَّوْدِ الْعَظِيمِ * وَأَزْلَفْنَا ثَمَّ الْآَخَرِينَ * وَأَنْجَيْنَا مُوسَى وَمَنْ مَعَهُ أَجْمَعِينَ * ثُمَّ أَغْرَقْنَا الْآَخَرِينَ * إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآَيَةً وَمَا كَانَ أَكْثَرُهُمْ مُؤْمِنِينَ * وَإِنَّ رَبَّكَ لَهُوَ الْعَزِيزُ الرَّحِيمُ

Maka Fir'aun dan bala tentaranya dapat menyusuli mereka di waktu matahari terbit. Maka setelah kedua golongan itu saling melihat, berkatalah pengikut-pengikut Musa: "Sesungguhnya kita benar-benar akan tersusul". Musa menjawab: "Sekali-kali tidak akan tersusul; sesungguhnya Tuhanku besertaku, kelak Dia akan memberi petunjuk kepadaku". Lalu Kami wahyukan kepada Musa: "Pukullah lautan itu dengan tongkatmu". Maka terbelahlah lautan itu dan tiap-tiap belahan adalah seperti gunung yang besar. Dan di sanalah Kami dekatkan golongan yang lain. Dan Kami selamatkan Musa dan orang-orang yang besertanya semuanya. Dan Kami tenggelamkan golongan yang lain itu. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar merupakan suatu tanda yang besar (mukjizat) dan tetapi adalah kebanyakan mereka tidak beriman. Dan sesungguhnya Tuhanmu benar-benar Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang. (QS. Asy-Syu’ara : 60-68)

Ada pula kisah yang lain. Difirmankan dalam surat Al-Baqarah ayat 246-252. Yakni kemenangan orang-orang beriman di bawah kepemimpinan Thalut melawan tentara Jalut. Meskipun kalah jumlah, orang-orang beriman pada akhirnya memenangkan peperangan itu.

Ketiga, Bermusyarakah dalam pemerintahan non Islami. Mungkin banyak orang yang heran mengapa ini masuk dalam tamkin (kemenangan). Namun demikianlah nyatanya. Dengan musyarakah itu nilai-nilai Islam bisa diinternalisasikan, dakwah bisa dikumandangkan. Meskipun bukan kemenangan mutlak, namun orang beriman mampu mempertahankan yang haq, dan memperjuangkan hak, serta menghindari madharat yang lebih besar.

Dalam konteks ini, Al-Qur’an mencontohkan Nabi Yusuf.

قَالَ اجْعَلْنِي عَلَى خَزَائِنِ الْأَرْضِ إِنِّي حَفِيظٌ عَلِيمٌ

Berkata Yusuf: "Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir); sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi berpengetahuan". (QS. Yusuf : 55)

Meskipun Nabi Yusuf tahu negeri itu bukan Negara Islam, toh tidak menghalangi Nabi Yusuf untuk bermusyarakah. Demi kebaikan dakwah dan kebaikan umat pada masa itu. Dan itu adalah bagian dari tamkin (kemenangan).

Keempat, adalah pendirian pemerintahan. Islam yang memerintah. Islam yang berkuasa. Barangkali bentuk tamkin (kemenangan) yang terakhir ini yang paling banyak dicita-citakan oleh umat dan gerakan Islam. Dalam Al-Qur’an kita bisa mendapatkan setidaknya tiga kisah dalam konteks ini. Yakni Nabi Daud, Nabi Sulaiman, dan Rasulullah Muhammad SAW khususnya paska fathu Makkah.

Tentang Nabi Daud, Allah SWT berfirman :

يَا دَاوُودُ إِنَّا جَعَلْنَاكَ خَلِيفَةً فِي الْأَرْضِ فَاحْكُمْ بَيْنَ النَّاسِ بِالْحَقِّ وَلَا تَتَّبِعِ الْهَوَى فَيُضِلَّكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ إِنَّ الَّذِينَ يَضِلُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ لَهُمْ عَذَابٌ شَدِيدٌ بِمَا نَسُوا يَوْمَ الْحِسَابِ

Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat darin jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan. (QS. Shad : 26)

Tentang Nabi Sulaiman, Allah SWT berfirman :

وَلَقَدْ آَتَيْنَا دَاوُودَ وَسُلَيْمَانَ عِلْمًا وَقَالَا الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي فَضَّلَنَا عَلَى كَثِيرٍ مِنْ عِبَادِهِ الْمُؤْمِنِينَ * وَوَرِثَ سُلَيْمَانُ دَاوُودَ وَقَالَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ عُلِّمْنَا مَنْطِقَ الطَّيْرِ وَأُوتِينَا مِنْ كُلِّ شَيْءٍ إِنَّ هَذَا لَهُوَ الْفَضْلُ الْمُبِينُ

Dan sesungguhnya Kami telah memberi ilmu kepada Daud dan Sulaiman; dan keduanya mengucapkan: "Segala puji bagi Allah yang melebihkan kami dari kebanyakan hamba-hambanya yang beriman". Dan Sulaiman telah mewarisi Daud, dan dia berkata: "Hai Manusia, kami telah diberi pengertian tentang suara burung dan kami diberi segala sesuatu. Sesungguhnya (semua) ini benar-benar suatu kurnia yang nyata". (QS. An-Naml : 15-16)

وقل رب اغفر وارحم و انت خير الراحمين

KHUTBAH KEDUA

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ
أَشْهَدُ أنْ لا إلَهَ إلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، وأشهدُ أنَّ مُحَمَّدًا عبْدُه ورَسُولُه.
{ يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ } [آل عمران: 102]
{ يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلا سَدِيدًا * يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا } [الأحزاب: 70، 71].

Jama'ah jum'at yang dirahmati Allah,
Bentuk-bentuk tamkin (kemenangan) ini seyogyanya menjadikan umat Islam, khususnya kaum mukminin yang tengah berjuang dalam medan dakwah agar senantiasa termotivasi dan istiqamah. Karena yang akan mereka dapatkan adalah kemenangan. Hanya kemenanangan. Selama mereka ikhlas dan istiqamah di jalan-Nya.

Allah SWT menjanjikan dalam firman-Nya:

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: "Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu". (QS. Fushilat : 30)

اللَّهُمَّ صَلِّ وسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ وسَلّمْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، فِي العَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنْ خُلَفَائِهِ الرَّاشِدِيْنَ، وَعَنْ أَزْوَاجِهِ أُمَّهَاتِ المُؤْمِنِيْنَ، وَعَنْ سَائِرِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعِيْنَ، وَعَنْ المُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِنَاتِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَعَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اللَّهُمَّ اجْعَلْ جَمْعَنَا هَذَا جَمْعًا مَرْحُوْمًا، وَاجْعَلْ تَفَرُّقَنَا مِنْ بَعْدِهِ تَفَرُّقًا مَعْصُوْمًا، وَلا تَدَعْ فِيْنَا وَلا مَعَنَا شَقِيًّا وَلا مَحْرُوْمًا.
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالعَفَافَ وَالغِنَى.

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ أَنْ تَرْزُقَ كُلاًّ مِنَّا لِسَانًا صَادِقًا ذَاكِرًا، وَقَلْبًا خَاشِعًا مُنِيْبًا، وَعَمَلاً صَالِحًا زَاكِيًا، وَعِلْمًا نَافِعًا رَافِعًا، وَإِيْمَانًا رَاسِخًا ثَابِتًا، وَيَقِيْنًا صَادِقًا خَالِصًا، وَرِزْقًا حَلاَلاًَ طَيِّبًا وَاسِعًا، يَا ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ.
اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَوَحِّدِ اللَّهُمَّ صُفُوْفَهُمْ، وَأَجْمِعْ كَلِمَتَهُمْ عَلَى الحَقِّ، وَاكْسِرْ شَوْكَةَ الظَّالِمِينَ، وَاكْتُبِ السَّلاَمَ وَالأَمْنَ لِعِبادِكَ أَجْمَعِينَ.

اللَّهُمَّ رَبَّنَا احْفَظْ أَوْطَانَنَا وَأَعِزَّ سُلْطَانَنَا وَأَيِّدْهُ بِالْحَقِّ وَأَيِّدْ بِهِ الْحَقَّ يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ.
اللَّهُمَّ رَبَّنَا اسْقِنَا مِنْ فَيْضِكَ الْمِدْرَارِ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الذَّاكِرِيْنَ لَكَ في اللَيْلِ وَالنَّهَارِ، الْمُسْتَغْفِرِيْنَ لَكَ بِالْعَشِيِّ وَالأَسْحَارِ.

اللَّهُمَّ أَنْزِلْ عَلَيْنَا مِنْ بَرَكَاتِ السَّمَاء وَأَخْرِجْ لَنَا مِنْ خَيْرَاتِ الأَرْضِ، وَبَارِكْ لَنَا في ثِمَارِنَا وَزُرُوْعِنَا وكُلِّ أَرزَاقِنَا يَا ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ.
رَبَّنَا آتِنَا في الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
رَبَّنَا لا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا، وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً، إِنَّكَ أَنْتَ الوَهَّابُ.
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الخَاسِرِيْنَ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدُّعَاءِ.

عِبَادَ اللهِ :إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي القُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ

[Khutbah Jum'at edisi 14 Rabiul Awal 1432 H bertepatan dengan 18 Februari 2011 M; Bersama Dakwah]

======================================
KHUTBAH JUM'AT INI BISA DIDOWNLOAD DI SINI
10:00 | 10 komentar

Masukkan alamat e-mail untuk mendapatkan up date Bersama Dakwah