Assalaamu'alaikum ,  Ahlan wa Sahlan  |  Facebook  |  Twitter  |  Pasang Iklan

Rapat Syetan Merapatkan Barisan, Siap Kembali Menyerang

Written By Admin BeDa on Senin, 29 Agustus 2011 | 08:00


Konon, para syetan menggelar rapat di hari terakhir Ramadhan. Masih dalam kondisi terbelenggu, mereka melakukan konsolidasi menjelang dimulainya lagi operasi penyesatan yang akan berlangsung sebelas bulan.

“Ini adalah hari terakhir kita dibelenggu. Besuk kita akan terbebas untuk kembali menyerang orang-orang Islam. Selama satu bulan ini, mereka telah ditempa dengan tarbiyah Ilahiyah. Mungkin mereka akan menjadi lebih kuat. Mungkin mereka telah berubah laksana kepompong yang menjadi kupu-kupu indah. Namun kita tak boleh kalah. Kita tak boleh menyerah. Karena itu, kemukakan pendapat kalian,” Sang Jenderal syetan memulai rapat dan meminta pasukannya menyampaikan pendapat.

“Jenderal…,” pekik salah satu syetan, “kita semua di sini menjadi sangat kurus karena satu bulan dibelenggu. Kita tidak bisa makan bersama orang-orang yang makan tanpa berdoa, lalu kita menumpangi mereka.kita tak bisa ikut bersetubuh bersama orang yang berzina maupun suami istri yang melakukannya tanpa adab dan doa. Karenanya harus ada peningkatan semangat penyesatan. Sebagai manifestasi balas dendam dan ganti rugi kita selama sebulan.”

“Baik! Itu tambahan motivasi bagi kita. Adakah yang memiliki strategi baru atau usulan langkah teknis?” Sang Jenderal merespon usulan pasukannya itu.

“Saya, Jenderal!” kata syetan yang lain.
“Silahkan”
“Memang benar ada orang-orang yang nantinya berubah. Memang benar ada orang-orang yang berhasil bertahan dalam istiqamah. Ramadhan bagi mereka benar-benar menjadi barakah. Namun jumlahnya tidak banyak. Kita tak perlu khawatir, karena manusia yang tidak seperti itu jumlahnya jauh lebih banyak. Mereka hanya hebat di bulan Ramadhan. Hanya manusia ramadhani, bukan manusia rabbani. Karenanya, mereka akan mudah kita goda. Bahkan sejak hari pertama Ramadhan berlalu. Lihatlah nanti. Kata-kata saya pasti terbukti. Di hari pertama, akan saya giring orang-orang untuk berhari raya dengan pesta pora dan foya-foya. Akan saya bisikkan bahwa hari raya adalah hari kebebasan dari beban sebulan. Maka mereka akan merayakan Idul Fitri dengan musik, nyanyian dan bergoyang. Meskipun selama sebulan saya dan tim dibelenggu, hipnotis saya selama sebelas bulan telah mendarah daging. Dan saya mendengar manusia-manusia tipe ini hari ini telah menyiapkan tempat, menyebar publikasi, mendirikan panggung, mengundang artis, dan sebagainya. Hari pertama syawal mereka langsung akan bermaksiat. Artisnya bernyanyi dengan pakaian ketat. Musiknya berdendang dengan nada syahwat. Penontonnya akan terbius dalam imajinasi sesat. Ini bukan hanya kemenangan tim saya. Tapi kemenangan syetan seluruhnya!”

Tepuk tangan mengiringi pidato yang berapi-api ini. Wajah sang Jenderal tampak puas. Ia ingin mengomentari, tapi sebelum keluar sepatah kata. Syetan lain telah mendahuluinya.

“Saya juga telah menyiapkan rencana, Jenderal! Rencana ini tidak kalah destruktif dari rencana saudara kita tadi. Saya dan tim telah siap untuk menghidupkan kembali pos-pos kemaksiatan yang selama sebulan ini ditutup; lokalisasi, tempat-tempat judi, bar-bar, tempat karaoke, panti pijat plus, dan sejenisnya. Akan kita tanamkan kepada para pengelola agar mereka segera membuka tempat bisnisnya. Kalau tidak, tentu kerugian besar akan mereka alami dan itu berbahaya. Kalaupun pihak berwenang seakan-akan tidak mau mengizinkan, kita akan bisikkan kepada mereka untuk memberikan THR sebagai suap yang tidak kentara. Kita juga akan bisikkan pula kepada pihak berwenang agar membuka. Bukankah THR sudah diterima, dan kalau tetap ditutup dapat dari mana mereka tambahan penghasilan sebanyak itu? Tidak cukup itu. Dengan alasan yang sama, ekonomi, kita juga akan membisikkan pada para wanita yang menjajakan dirinya untuk kembali bekerja. Atau mereka hanya menjadi miskin di desa. Kalau perlu, kita bisikkan agar mereka menjadi agen kita. Turut merayu wanita lain melakukan pekerjaan yang sama. Lalu kepada para tamu, pelanggan, customer, atau apapun namanya, kita hembuskan hawa kerinduan kepada mereka. Kita bisikkan bahwa di bulan Syawal mereka telah bebas. Tentu ini juga kemenangan syetan seluruhnya!” syetan itu menutup pidatonya dengan kalimat yang hampir sama seperti pendahulunya. Tepuk tangan yang lebih meriah menggema.

“Dari tim kami, Jenderal,” lagi-lagi, sebelum sang jenderal menanggapi, syetan lain telah angkat bicara. Tampaknya mereka diliputi semangat baru dan antusiasme yang menggebu.

“Tim kami merencanakan sesuatu. Mungkin efeknya tidak sedestruktif tim I dan tim II. Tapi sasaran kami adalah orang-orang Islam yang kualitasnya di atas sebelumnya,” tampaknya intro syetan ini sangat menarik bagi sang jenderal.

“Bagaimana itu? Jelaskan! Jelaskan”
“Begini Jenderal. Kalau sasaran tim I dan tim II itu memang orang-orang yang sebelumnya ahli maksiat. Mereka berhenti bermaksiat di bulan Ramadhan terpaksa. Terpaksa oleh lingkungan. Terpaksa oleh suasana religi. Terpaksa oleh kesempatan. Mereka terkekang. Nafsu mereka terakumulasi dalam ruang kecil yang tekanannya makin hari makin besar. Begitu disulut di awal Syawal, mereka pun meledak. Sangat mudah menjadi bermaksiat dengan kemaksiatan yang lebih besar.”

“Penjelasanmu cukup ilmiah. Lanjutkan!”
“Bukan berarti kami menganggap kerja tim I dan tim II ringan. Tentu saja itu kerja bagus, Jenderal. Kami ikut mengapresiasi. Namun kami akan menyasar orang-orang yang bukan ahli maksiat. Bisa orang biasa. Bisa pula orang yang sangat shalih selama Ramadhan. Langkah kami begini. Pertama, pada waktu hari raya kami akan menggoda mereka agar berlebih-lebihan, terutama dalam hal makanan dan pengeluaran. Mereka akan banyak makan hingga kesabaran berpuasa selama satu bulan seakan tak lagi ada. Apalagi jika mereka berkeliling dari satu rumah ke rumah yang lain seperti orang Indonesia yang halal bi halal. Mereka jadi banyak makan, bisa-bisa sampai kekenyangan. Ini jadi jebakan pertama. Efeknya, mereka akan malas beribadah. Apalagi kalau kami menanamkan bahwa silaturahim itu penting, shalat bisa ditunda. Waktunya panjang. Jadilah mereka berbeda dengan diri mereka saat Ramadhan. Dalam pengeluaran, mereka akan kami bisikkan bahwa di hari raya memang perlu royal. Kalau sudah begitu, mereka bisa cepat kehilangan banyak uang. Bahkan kekurangan. Sebagiannya akan terpaksa terjerat hutang. Lalu berefek pada ekonomi haram.

Tidak hanya berhenti di situ, salah satu detasemen khusus dalam tim kami juga akan menggoda orang-orang agar menganggap bahwa ibadah yang sungguh-sungguh efektif dilakukan di bulan Ramadhan. Di bulan yang lain biasa-biasa saja. Sungguh-sungguh lagi di bulan Ramadhan tahun berikutnya. Tentu akan kami kerahkan seluruh rayuan dan alasan. Akan kita sibukkan mereka dengan pekerjaan, istri, anak, dan seterusnya.” Tepuk tangan lebih gempita lagi mengiringi selesainya orasi tim III ini.

“Tim IV akan bekerja dalam domain harta dan kekuasaan. Selama Ramadhan, banyak orang yang tidak mau korupsi atau berbohong karena khawatir puasanya batal. Kita akan bisikkan bahwa alasan mereka sudah berakhir. Mereka sudah tak puasa dan semestinya mereka tidak sungkan-sungkan lagi untuk korupsi. Masalah taubat akan kita hembuskan, bahwa itu dilakukan nanti saat Ramadhan lagi…

Demikian seterusnya, seluruh tim menjelaskan rencananya untuk menggoda manusia, dari ahli maksiat hingga orang-orang shalih yang hebat. Dari rakyat jelata hingga penguasa. Dari orang miskin hingga yang kaya raya.

Rapat itu ditutup dengan kesimpulan dari sang jenderal. “Segala rencana ini akan berhasil jika secepatnya kita melakukan 5 A: Action, Action, Action, Action, dan Action!”

***

Cerita di atas hanyalah ilustrasi. Namun, demikianlah esensinya. Syetan takkan berdiam diri setelah sebulan dibelenggu. Mereka akan segera merapatkan barisan. Kembali menggoda umat Islam.

Terserah kita mau memilih yang mana. Mengikuti ajakan syetan atau istiqamah dalam kebaikan. Tergoda rayuan syetan atau bertahan dalam kebajikan.

Syetan akan selalu menggoda manusia karena memang itulah misinya. Dedengkot para syetan, Iblis, telah berikrar di hadapan Allah untuk melakukan segala cara dalam menjerumuskan manusia. "Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus, kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat),” kata Iblis diabadikan dalam surat Al-A’raf ayat 16 dan 17.

Dari segi usia dan pengalaman, syetan tentu semakin pandai berstrategi dalam menjerumuskan anak Adam. Tim syetan bahkan mungkin saja telah memiliki data lengkap kelemahan masing-masing kita sejak generasi nenek moyang kita. Dari data itu bisa terlihat di sisi mana kelemahan “genetik" kita. Lalu syetan menggunakan celah itu untuk kembali menggoda kita sebagaimana mereka menggoda generasi sebelumnya. Termasuk paska Ramadhan.

Maka dalam konteks inilah kita dihadapka pada fenomena, ternyata kebaikan selama Ramadhan begitu mudah lenyap tergoda oleh rayuan syetan durjana. Bukan saja orang awam, bahkan orang-orang yang tadinya shalih juga.

Namun demikian, ternyata iblis sendiri telah membocorkan bahwa ada golongan manusia yang tak bisa disesatkannya. "Demi kekuasaan Engkau,” kata Iblis kepada Allah yang diabadikan dalam surat Shad ayat 82 dan 83, “aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba-Mu yang ikhlas di antara mereka.” Dalam surat Al-Hijr, iblis juga menyampaikan rahasia ini.

Terkait dengan Ramadhan, salah satu tanda hamba yang mukhlasin seperti dalam dua surat itu adalah sikap istiqamah. Seorang hamba barulah mencapai derajat ikhlas jika ia tetap berada pada jalan yang lurus dan amal kebajikan, tanpa mempedulikan apakah bulan itu Ramadhan atau bukan. Maka, ia pun mempertahankan nilai-nilai Ramadhan dalam bulan-bulan lainnya.

"Maka istiqamahlah kamu, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah bertaubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan." (QS. Huud : 112)

Ketika menafsirkan ayat ini, Sayyid Quthb dalam Tafsir Fii Zhilalil Qur'an mengetengahkan hadits Nabi: "Sayyabathnii Huud" (Surat Hud telah membuat rambutku beruban). Sedangkan Ibnu Katsir meletakkan sabda Rasulullah tersebut di awal surat Huud ketika memberikan pengantar sebelum memulai tafsir surat tersebut. Itu karena istiqamah adalah hal yang sulit. Namun, bukankah tiada pilihan lain kecuali istiqamah. Atau, kita akan menjadi korban serangan syetan yang –bisa jadi- hari ini rapat untuk merapatkan barisan.

Allaahumma yaa muqallibal quluub, tsabbit quluubanaa ‘alaa diinik; Ya Allah, Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati, tetapkanlah hati kami pada agamaMu. [Muchlisin]
08:00 | 1 komentar

Khutbah Jum’at: Sebelum Ramadhan Pergi

Written By Admin BeDa on Jumat, 26 Agustus 2011 | 09:00


Khutbah Jum’at: Sebelum Ramadhan Pergi – Hari ini adalah jum'at terakhir di bulan Ramadhan 1432 H. Tinggal beberapa hari lagi Ramadhan akan pergi meninggalkan kita. Karenanya, Khutbah Jum'at edisi 26 Ramadhan 1432 H yang bertepatan dengan 26 Agustus 2011 ini, Bersama Dakwah memilih tema "Sebelum Ramadhan Pergi".

***

KHUTBAH PERTAMA

إنَّ الحَمْدَ لله، نَحْمَدُه، ونستعينُه، ونستغفرُهُ، ونعوذُ به مِن شُرُورِ أنفُسِنَا، وَمِنْ سيئاتِ أعْمَالِنا، مَنْ يَهْدِه الله فَلا مُضِلَّ لَهُ، ومن يُضْلِلْ، فَلا هَادِي لَهُ.
أَشْهَدُ أنْ لا إلَهَ إلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، وأشهدُ أنَّ مُحَمَّدًا عبْدُه ورَسُولُه.
اَللَّهُمَّ صَلِّى عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَ هُدًى
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلا سَدِيدًا * يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

Jamaah Jum’at yang dirahmati Allah,
Waktu seperti begitu cepat berlalu. Kita kini telah berada di penghujung Ramadhan. Shalat Jum'at kita kali ini adalah shalat Jum'at terakhir di bulan Ramadhan 1432 H. Sekarang kita telah berada pada hari ke-26 Ramadhan, yang artinya tinggal beberapa hari lagi bulan suci ini akan pergi. Kalau kita perhatikan masyarakat di sekeliling kita, sebagian mereka bahkan telah disibukkan dengan hiruk pikuk Idul Fitri. Luapan kegembiraan sudah terasa. Mall-mall menjadi padat. Lalu lintas lambat merayap. Banyak rumah berganti cat. Baju baru dan makanan enak juga telah siap.

Jika demikian gempitanya masyarakat kita berbahagia di penghujung akhir Ramadhan, tidak demikian dengan para sahabat dan salafus shalih. Semakin dekat dengan akhir Ramadhan, kesedihan justru menggelayuti generasi terbaik itu. Tentu saja kalau tiba hari raya Idul Fitri mereka juga bergembira karena Id adalah hari kegembiraan. Namun di akhir Ramadhan seperti ini, ada nuansa kesedihan yang sepertinya tidak kita miliki di masa modern ini.

Jamaah Jum’at yang dirahmati Allah,
Mengapa para sahabat dan orang-orang shalih bersedih ketika Ramadhan hampir berakhir? Kita bisa menangkap alasan kesedihan itu dalam berbagai konteks sebab.

Pertama, patutlah orang-orang beriman bersedih ketika menyadari Ramadhan akan pergi sebab dengan perginya bulan suci itu, pergi pula berbagai keutamaannya.

Bukankah Ramadhan bulan yang paling berkah, yang pintu-pintu surga dibuka dan pintu neraka ditutup? Bukankah hanya di bulan suci ini syetan dibelenggu? Maka kemudian ibadah terasa ringan dan kaum muslimin berada dalam puncak kebaikan?

قَدْ جَاءَكُمْ شَهْرُ رَمَضَانَ شَهْرٌ مُبَارَكٌ افْتَرَضَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ يُفْتَحُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَيُغْلَقُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَحِيمِ وَتُغَلُّ فِيهِ الشَّيَاطِينُ

Telah datang kepada kalian bulan yang penuh berkah, diwajibkan kepada kalian ibadah puasa, dibukakam pintu-pintu surga dan ditutuplah pintu-pintu neraka serta para syetan dibelenggu... (HR. Ahmad)

Bukankah hanya di bulan Ramadhan amal sunnah diganjar pahala amal wajib, dan seluruh pahala kebajikan dilipatgandakan hingga tiada batasan?

Semua keutamaan itu takkan bisa ditemui lagi ketika Ramadhan pergi. Ia hanya akan datang pada bulan Ramadhan setahun lagi. Padahal tiada yang dapat memastikan apakah seseorang masih hidup dan sehat pada Ramadhan yang akan datang. Maka pantaslah jika para sahabat dan orangorang shalih bersedih, bahkan menangis mendapati Ramadhan akan pergi.

Kedua, adalah peringatan dari Rasulullah SAW bahwa semestinya Ramadhan menjadikan seseorang diampuni dosanya. Jika seseorang sudah mendapati Ramadhan, sebulan bersama dengan peluang besar yang penuh keutamaan, namun masih saja belum mendapatkan ampunan, benar-benar orang itu sangat rugi. Bahkan celaka.

بَعُدَ مَنْ أَدْرَكَ رَمَضَانَ، فَلَمْ يُغْفَرْ لَهُ

Celakalah seorang yang memasuki bulan Ramadhan namun dia tidak diampuni (HR. Hakim dan Thabrani)

Masalahnya adalah, apakah seseorang bisa menjamin bahwa dirinya mendapatkan ampunan itu. Sementara jika ia tidak dapat ampunan, ia celaka. Betapa hal yang tidak dapat dipastikan ini menyentuh rasa khauf para sahabat dan orang-orang shalih. Mereka takut sekiranya menjadi orang yang celaka karena tidak mendapatkan ampunan, padahal Ramadhan akan segera pergi. Maka mereka pun menangis, meluapkan ketakutannya kepada Allah seraya bermunajat agar amal-amalnya diterima.

رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا صِيَامَنَا وَقِيَمَنَا وَرُكُوْعَنَا وَسُجُوْدَنَا وَتِلَا وَتَنَا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

Wahai Rabb kami... terimalah puasa kami, shalat kami, ruku' kami, sujud kami dan tilawah kami. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui

Para sahabat dan orang-orang shalih bukan hanya berdoa di akhir Ramadhan. Bahkan, konon, rasa khauf membuat mereka berdoa selama enam bulan agar amal-amal di bulan Ramadhan mereka diterima Allah SWT. Lalu enam bulan setelahnya mereka berdoa agar dipertemukan dengan Ramadhan berikutnya.

Jamaah Jum’at yang dirahmati Allah,
Perbedaan tashawur (paradigma, persepsi) dalam memandang akhir Ramadhan itulah yang kemudian membawa perbedaan sikap antara generasi sahabat dan gnerasi kita saat ini. Jika sebagian masyarakat, seperti dikemukakan di muka, asyik berbelanja menyambut Idul Fitri, para sahabat asyik beriktikaf di sepuluh hari terakhir. Maka bisa kita bayangkan bahwa Madinah di era Rasulullah di sepuluh hari terakhir Ramadhan layaknya seperti kota setengah mati. Sebab para lelaki beriktikaf di masjid-masjid. Bahkan begitu pula sebagian para wanitanya.

Perbedaan tashawur dalam memandang akhir Ramadhan itulah yang kemudian membawa perbedaan sikap antara generasi sahabat dan gnerasi kita saat ini. Jika kita sibuk menyiapkan kue lebaran, para sahabat dan salafus shalih sibuk memenuhi makanan ruhaninya dengan mengencangkan ikat pinggang, bersungguh-sungguh beribadah sepanjang siang, terlebih lagi di waktu malam.

Perbedaan tashawur dalam memandang akhir Ramadhan itulah yang kemudian membawa perbedaan sikap antara generasi sahabat dan gnerasi kita saat ini. Jika kita mengalokasikan banyak uang dan waktu untuk membeli pakaian baru, para sahabat dan salafus shalih menghabiskan waktu mereka dengan pakaian taqwa. Dengan pakaian taqwa itu mereka menghadap Allah di masjid-Nya, berduaan dan bermesraan dalam khusyu'nya shalat, tilawah, dzikir, dan munajat.

Jamaah Jum’at yang dirahmati Allah,
Masih ada waktu bagi kita sebelum Ramadhan pergi. Masih ada kesempatan bagi kita untuk mengubah tashawur tentang akhir Ramadhan. Maka tiga atau empat hari ke depan bisa kita perbaiki sikap kita.

Pertama, kita lihat lagi target Ramadhan yang telah kita tetapkan sebelumnya. Mungkin target tilawah kita. Masih ada waktu untuk mengejar, jika seandainya kita masih jauh dari target itu. Demikian pula kita evaluasi ibadah lainnya selama 26 hari ini. Lalu kita perbaiki.

Kedua, kita lebih bersungguh-sungguh memanfaatkan Ramadhan yang tersisa sedikit ini. Mungkin kita tak bisa beri'tikaf penuh waktu seperti para shahabat dan salafus shalih itu. Namun jangan sampai kita kehilangan malam-malam terakhir Ramadhan tanpa qiyamullail, tanpa beri'tikaf –lama atau sebentar- di masjid-Nya. Apalagi, dari semua hadits yang ada, hanya malam ke-27 yang disebutkan secara khusus sebagai malam lailatul qadar.

مَنْ كَانَ مُتَحَرِّيَهَا فَلْيَتَحَرَّهَا فِى لَيْلَةِ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ

Barangsiapa ingin mencarinya (lailatul qadar), hendaklah ia mencarinya pada malam kedua puluh tujuh. (HR. Ahmad, dishahihkan Al-Albani)

Hadits qauli Rasulullah SAW itu diperkuat juga dengan atsar dari Ubay bin Ka'ab yang bersumpah bahwa lailatul qadar terjadi pada malam kedua puluh tujuh.

قَالَ أُبَىٌّ وَاللَّهِ الَّذِى لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ إِنَّهَا لَفِى رَمَضَانَ - يَحْلِفُ مَا يَسْتَثْنِى - وَوَاللَّهِ إِنِّى لأَعْلَمُ أَىُّ لَيْلَةٍ هِىَ. هِىَ اللَّيْلَةُ الَّتِى أَمَرَنَا بِهَا رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- بِقِيَامِهَا هِىَ لَيْلَةُ صَبِيحَةِ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ وَأَمَارَتُهَا أَنْ تَطْلُعَ الشَّمْسُ فِى صَبِيحَةِ يَوْمِهَا بَيْضَاءَ لاَ شُعَاعَ لَهَا.

Ubay (bin Ka'ab) berkata, "Demi Allah yang tiada tuhan melainkan Dia. Sesungguhnya ia terjadi di bulan Ramadhan. Dan demi Allah sesungguhnya aku mengetahui malam itu. Ia adalah malam yang Rasulullah memerintahkan kami untuk qiyamullail, yaitu malam kedua puluh tujuh. Dan sebagai tandanya adalah pada pagi harinya matahari terbit dengan cahaya putih yang tidak bersinar-sinar menyilaukan." (HR. Muslim)

Dalam malam ke-27 maupun malam lain di sepuluh hari terakhir Rasulullah SAW mencontohkan kepada umatnya:

عَنْ عَائِشَةَ - رضى الله عنها - قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ أَحْيَا اللَّيْلَ وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ وَجَدَّ وَشَدَّ الْمِئْزَرَ

Dari Aisyah RA berkata : "Rasulullah SAW jika telah masuk sepuluh terakhir bulan Ramadhan menghidupkan malam, membangunkan keluarganya dan mengencangkan ikat pinggang". (Muttafaq 'alaih)

Kita mungkin tidak bisa bersedih dan menangis sehebat para sahabat, namun selayaknya kita pun takut sebab tak ada jaminan apakah amal kita selama 26 hari ini diterima, begitu pula tak ada jaminan apakah kita dipertemukan dengan Ramadhan tahun berikutnya. Lalu kita pun kemudian memperbaiki dan meningkatkan amal ibadah serta berdoa lebih sungguh-sungguh kepada-Nya.

وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِينَ

KHUTBAH KEDUA

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ
أَشْهَدُ أنْ لا إلَهَ إلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، وأشهدُ أنَّ مُحَمَّدًا عبْدُه ورَسُولُه.
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلا سَدِيدًا * يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا


اللَّهُمَّ صَلِّ وسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ وسَلّمْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، فِي العَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنْ خُلَفَائِهِ الرَّاشِدِيْنَ، وَعَنْ أَزْوَاجِهِ أُمَّهَاتِ المُؤْمِنِيْنَ، وَعَنْ سَائِرِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعِيْنَ، وَعَنْ المُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِنَاتِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَعَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اللَّهُمَّ اجْعَلْ جَمْعَنَا هَذَا جَمْعًا مَرْحُوْمًا، وَاجْعَلْ تَفَرُّقَنَا مِنْ بَعْدِهِ تَفَرُّقًا مَعْصُوْمًا، وَلا تَدَعْ فِيْنَا وَلا مَعَنَا شَقِيًّا وَلا مَحْرُوْمًا.
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالعَفَافَ وَالغِنَى.

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ أَنْ تَرْزُقَ كُلاًّ مِنَّا لِسَانًا صَادِقًا ذَاكِرًا، وَقَلْبًا خَاشِعًا مُنِيْبًا، وَعَمَلاً صَالِحًا زَاكِيًا، وَعِلْمًا نَافِعًا رَافِعًا، وَإِيْمَانًا رَاسِخًا ثَابِتًا، وَيَقِيْنًا صَادِقًا خَالِصًا، وَرِزْقًا حَلاَلاًَ طَيِّبًا وَاسِعًا، يَا ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ.
اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَوَحِّدِ اللَّهُمَّ صُفُوْفَهُمْ، وَأَجْمِعْ كَلِمَتَهُمْ عَلَى الحَقِّ، وَاكْسِرْ شَوْكَةَ الظَّالِمِينَ، وَاكْتُبِ السَّلاَمَ وَالأَمْنَ لِعِبادِكَ أَجْمَعِينَ.

اللَّهُمَّ رَبَّنَا احْفَظْ أَوْطَانَنَا وَأَعِزَّ سُلْطَانَنَا وَأَيِّدْهُ بِالْحَقِّ وَأَيِّدْ بِهِ الْحَقَّ يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ
اللَّهُمَّ رَبَّنَا اسْقِنَا مِنْ فَيْضِكَ الْمِدْرَارِ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الذَّاكِرِيْنَ لَكَ في اللَيْلِ وَالنَّهَارِ، الْمُسْتَغْفِرِيْنَ لَكَ بِالْعَشِيِّ وَالأَسْحَارِ
اللَّهُمَّ أَنْزِلْ عَلَيْنَا مِنْ بَرَكَاتِ السَّمَاء وَأَخْرِجْ لَنَا مِنْ خَيْرَاتِ الأَرْضِ، وَبَارِكْ لَنَا في ثِمَارِنَا وَزُرُوْعِنَا وكُلِّ أَرزَاقِنَا يَا ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ.
رَبَّنَا آتِنَا في الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
رَبَّنَا لا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا، وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً، إِنَّكَ أَنْتَ الوَهَّابُ.
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الخَاسِرِيْنَ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدُّعَاءِ.

عِبَادَ اللهِ :إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي القُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ

[Khutbah Jum'at Sebelum Ramadhan Pergi edisi 26 Ramadhan 1432 H bertepatan dengan 26 Agustus 2011 M; Bersama Dakwah]

======================================
KHUTBAH JUM'AT INI BISA DIDOWNLOAD DI SINI
09:00 | 3 komentar

Jeritan Al-Quds yang Tertahan

Written By Admin BeDa on Kamis, 25 Agustus 2011 | 15:00


Oleh : Dr. Muhsin Shalih
Direktur Pusat Studi Az-Zaitun

Hari-hari ini adalah saat mengenang 82 tahun revolusi Al-Barraq yang meletus dalam membela tembok pagar barat masjid Al-Aqsha dan juga peringatan 42 pembakaran masjid suci tersebut.

Membela Al-Quds dan Al-Aqsha selalu menjadi isu bersama umat Islam meski aliran dan madzhab berbeda. Menekan Al-Quds berarti menekan syaraf paling sensitif di tubuh umat yang bisa menyulut emosi dan harga dirinya.

Pasca revolusi Al-Barraq, perwakilan kaum muslimin dari 22 negara berkumpul di konferensi umum Islam di Al-Quds tahun 1931 untuk membahas cara menjaga dan mempertahankan Al-Aqsha, Al-Quds dan Palestina. Setelah pembakaran masjid Al-Aqsha, perwakilan negara-negara Islam berkumpul dan membentuk OKI yang mewakili hingga sekarang lingkup dunia Islam yang beranggotakan 56 negara.

Ketika Sharon menggelar kunjungan pelecehan ke Masjid Al-Aqsha 28 September 2000, meletusnya api Intifada Al-Aqsha yang berlangsung selama sekitar 5 tahun dan diikuti oleh dukungan dunia Islam dan Arab secara menggemparkan.

Konferenssi Umum Islam meredup dan Organisasi Konferensi Islam berubah hanya menjadi perayaan seremonial yang hanya mengeluarkan sikap kecaman dan pernyataan semata dan beberapa tindakan yang takut yang tidak layak bagi kedudukan Al-Quds dan tidak layak bagi peran dunia Islam. Intifada pun terhenti.

Penjajah Israel tetap bercokol. Aksi yahudisasi, ekspansi pemukiman, dan aksi perampasan wilayah Palestina terus berlanjut. Warga Al-Quds sendirian memegang bara api. Teriakan-teriakan Al-Quds dan rintihan Al-Aqsha pun semakin mendidih. Namun teriakan dan rintihan itu menjadi tertahan yang tidak didengar oleh siapapun. Seakan orang terbiasa dengan rintihan dan tidak menjadi berita penting, penyulut emosi, atau pendorong.

Mungkin setelah lebih dari 63 tahun penjajahan Al-Quds dan 44 tahun penjajahan Al-Quds timur, bangsa Arab dan umat Islam tertimpa pesimistis. Banyak orang mungkin terbiasa dengan berita-berita yang sama yang mengenaskan tentang Al-Quds untuk jangka panjang. Barangkali sebagian kita lainnya disibukkan oleh masalah-masalah lokal dan regional. Mungkin sebagian lagi mengecam perpecahan di Palestina. Atau sebagian besar orang kini disibukkan dengan revolusi Arab dan segala implikasinya.

Barangkali faktor ini atau sebagiannya yang menjadikan jeritan Al-Quds tertahan. Namun yang terpenting bahwa semua pihak harus menyadari bahwa proyek zionis untuk yahudisasi Al-Quds terus berjalan dengan sangat intens dan terorganisir. Mereka akan menciptakan status quo-status quo baru di lapangan dan berusaha membuat gambaran manipulatif baru terhadap Al-Quds yang bertentangan dengan identitas Al-Quds sebagai milik Arab dan Islam. Jeritan Al-Quds sesunguhnya sangat keras namun telinga umat Islam tertutup oleh tanah lumpur dan adonan.

Al-Quds Barat
Kebanyakan orang sudah tidak ingan dengan Al-Quds barat yang oleh PLO diakui sebagai bagian dari Israel sesuai kesepakatan Oslo dan tidak lagi menjadi bagian dari proses perundingan. Rintihan Al-Quds barat tertahan dan berulang-ulang sejak dijajah oleh Israel tahun 1948 dan diusirnya 60 ribu lebih warga Arab Palestina dari sana; dari perkampungan Makmanullah, Buqa’ Faoqa, Buqa’ Tahta, Qathmun, Thalibah, Misrata, kolonial Jerman, kampung Yunani, dan bagian dari Abu Thour dan kampung Tsauri.

Palestina memiliki hanya 88,7% dari total wilayah Al-Quds barat yang diyahudikan oleh Israel, dibangun pemukiman yahudi di atasnya, dan di atas desa-desa Arab yang disita Israel seperti desa Lafta yang dibangun di atasnya gedung parlemen Israel Knesset dan sejumlah gedung kementerian, serta desa-desa Ain Karem, Deer Yasen, Malihah dan lain-lain.

Al-Quds Timur
Tahun 1967 Israel melengkapi penjajahan kepada Al-Quds timur yang saat itu berada di bawah wewenang Jordania yang dianggap sebagai bagian dari wilayah Tepi Barat. Sejak saat itu, mulailah kampanye dan aksi yahudisasi yang begitu ganas terhadap Al-Quds timur. Maka diumumkanlah penyatuan dua batas Al-Quds di bawah pemerintahan Israel pada 27 Juni 1967 dan secara resmi pada 30 Juli 1980 diumumkan bahwa Al-Quds adalah ibukota satu abadi Israel.

Negara Israel meletakkan kekuasaannya pada 87,5% wilayah Al-Quds timur. Dibangunlah di sana permukiman yang meliputi Al-Quds timur dari seluruh penjuru dan menghalangi warga Palestina untuk membangunan di sebagian besar wilayah Al-Quds dan tidak tersisa kecuali 9 ribu acre saja (dari 72 ribu acre) untuk lahan bangunan atau 12,5% dari luas Al-Quds timur.

Israel langsung membangun pemukiman Israel pertama di Al-Quds timur, Ramat Eshkul sejak tahun 1968, kemudian diikuti secara cepat pemukiman penjajah lainnya. Akhirnya wilayah Al-Quds timur dikurung oleh 11 isolasi hidup yahudi. Di sekitar Al-Quds total ada 17 pemukiman yahudi untuk memutus kota suci ini dari wilayah sekelilingnya. Sehingga jalan menuju penyelesaian damai yang bisa mengembalikan wilayah Al-Quds ke tangan Palestina sudah diputus Israel.

Sementara tembok pemisah – yang sedang diselesaikan benar-benar mengurung dan mengelilingi Al-Quds – bertujuan untuk mengisolasi kota suci Al-Quds dari wilayah sekelilingnya dari Arab dan Islam. Tembok itu berkelok-kelok hingga sepanjang 167 km. Berdasarkan laporan, 231 ribu warga Palestina atau 56% dari warga Al-Quds terkena imbas buruk dan negatif dari pembangunan tembok rasial itu. Jika tembok rampung benar-benar maka ada 617 situs suci dan peninggalan peradaban Islam akan diisolasi Israel dari wilayah Arab dan Islam.

Tahun 2009, Israel melaunching kampanye yahudisasi nama-nama ribuan tanda dan simbol situs-situs peninggalan di Al-Quds. Kampanye aksi ini terus berlanjut untuk menciptakan status quo yahudi di kota suci ini dan mencabik simbol-simbol Arab dan Islam serta membuangnya.

Sebagai contoh, nama jalan Wadi Halwah sebelah selatan Masjid Al-Aqsha diubah Israel menjadi jalan Maaleh David, Wadi Rababah menjadi Jay Hanom. Tahun 2009 menjadi perkembangan sangat berbahaya bagi proyek yahudisasi di Al-Quds timur. Nama-nama berbau Israel sudah menggantikan nama-nama Arab di peta online di Wikimapia dan Google, termasuk Masjid Al-Aqsha sudah berubah menjadi Bukti Sinagog dan bukan Masjid Al-Aqsha atau Al-Haram Asy-Syarif.

Baldah Lama (Kota Tua) di Al-Quds
Pada 11 Juni 1967, pasukan Israel mengusir warga Al-Magaribah di Kota Tua yang luasnya tidak lebih dari 1 KM2 setelah ada peringatan untuk keluar. Kemudian diikuti penggusuran 135 rumah di kampung yang berhadapan langsung dengan pagar barat Masjid Al-Aqsha (tembok Al-Barraq), yang sebagian besar adalah wilayah wakaf Islam. Dalam perundingan, wilayah itu disepakati diguanakan yahudi untuk tujuan ritual. Israel juga menguasai kampung Asy-Syaraf atau disebut kampung yahudi di kota lama di Al-Quds.

Tiba-tiba pada 18 April 1968, keluarga perintah penggusuran 116 acre yang mencakuo kampung tersebut, jalan raya di gerbang Silsilah, dan kampung Al-Magharibah. Di dalam wilayah itu ada lima masjid, dua sekolah sufi, dan empat sekolah biasa, satu pasar kuno, 700 bangunan (yahudi menguasai sebelum perang 1948 yang jumlahnya 105 bangunan sementara yang dimiliki Arab sebanyak 595 bangunan. Israel sendiri mampu membangun semakin banyak pemukiman di Kota Tua namun sebagian besar warga Arab Palestina di sana memilih memegang bara api untuk bertahan di rumah mereka dibanding meninggalkannya. Bersambung…[bsyr, InfoPalestina]
15:00 | 1 komentar

Brutal, Israel Gunakan Senjata Baru Serang Gaza

Written By Admin BeDa on Rabu, 24 Agustus 2011 | 10:00


Puluhan orang dilarikan ke rumah sakit akibat bombardir Israel ke Gaza. Sejumlah pasien menderita luka bakar yang sangat mengerikan, sedangkan korban tewas (baca: syahid) tak bisa lagi dikenali. Dengan bukti-bukti seperti itu, Kepala unit gawat darurat rumah sakit di Gaza mengatakan, Senin (22/8), bahwa Israel menggunakan persenjataan baru.

Seorang dokter di Rumah Sakit Syifa Ayman As-Sahbani juga memberikan kesaksian bahwa sejumlah pasien yang dilarikan ke unitnya tiba dengan luka bakar yang sangat mengerikan dan tubuh mayat yang terbakar sulit dikenali.

Israel membombardir Gaza sejak Kamis lalu (18/8). Negara zionis itu mengerahkan pesawat-pesawat tempurnya, termasuk pesawat tanpa awak. Setidaknya 14 warga Palestina telah menjadi korban dan puluhan lainnya luka-luka.

Serangan itu dinilai banyak pihak bukan hanya menodai ketenangan Ramadhan di Palestina tetapi juga menyakiti hati umat Islam di seluruh dunia yang tengah menjalankan ibadah puasa. Yang lebih menyakitkan, serangan Israel mengenai siapa saja termasuk wanita dan anak-anak.

Seorang anak berusia dua tahun dan remaja laki-laki 13 tahun menderita luka bakar yang mengerikan di sekujur tubuh mereka.

Pejabat Kementerian Kesehatan Gaza Adham Abu Salmiya juga mengatakan, Ahad (21/8), melihat luka-luka yang diderita korban maka muncul pertanyaan senjata apa yang sebenarnya dipakai oleh pasukan Israel.

Sebelumnya, pada perang selama 22 hari Desember 2008, Israel menggunakan senjata fosfor putih yang oleh hukum internasional dilarang digunakan di dekat warga sipil. [AN/Hdy]
10:00 | 16 komentar

Ramadhan, 680 Orang Bersyahadat di Kuwait

Written By Admin BeDa on Selasa, 23 Agustus 2011 | 10:00


Ramadhan bukan hanya bulan yang berkah bagi umat Islam. Ia juga menjadi "bulan hidayah" bagi banyak orang. Di Kuwait, Sekitar 680 orang dari berbagai negara telah menyatakan masuk Islam sepanjang bulan Ramadhan tahun ini. Demikian data yang ada di catatan Lajnah Al Ta'rif bi Al Islam, Kuwait.

Menurut Jamal Al Shatti (22/8), direktur jenderal lembaga itu, organisasinya yang didirikan pada tahun 1978 bekerja di bawah pengawasan Yayasan Wakaf Publik. Misi mereka adalah memberikan informasi dan pendidikan kepada Muslim dan non-Muslim tentang Islam.

Disamping memiliki agenda pembinaannya sendiri, Lajnah Al Ta'rif juga mendukung organisasi-organisasi lain yang punya misi yang sama dengan lembaga mereka.[AN/Hdy]

10:00 | 14 komentar

Kumpulan Hadits Lailatul Qadar

Written By Admin BeDa on Senin, 22 Agustus 2011 | 08:00

Kumpulan Hadits Lailatul Qadar - Lailatul Qadar merupakan malam yang dinanti-nantikan umat Islam untuk mendapatkannya. Tersebab malam itu lebih baik dari seribu bulan, menjadikan umat Muhammad berkesempatan melampaui umat sebelumnya dalam nilai ibadah, meskipun umurnya lebih singkat. Bagaimana keutamaan lain lailatul qadar, tanda-tanda lailatul qadar, kapan terjadinya, dan doa apa yang perlu diucapkan sewaktu mendapatkan lailatul qadar? Berikut ini kumpulan hadits lailatul qadar, semoga bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan itu.

Hadits Keutamaan Lailatul Qadar

مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Barangsiapa qiyamullail pada lailatul qadar karena iman dan mengharapkan perhitungan (pahala), diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. (HR. Bukhari dan Muslim)

مَنْ يَقُمْ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Barangsiapa qiyamullail pada lailatul qadar karena iman dan mengharapkan perhitungan (pahala), diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. (HR. Bukhari)

Hadits Kapan Terjadinya Lailatur Qadar

إِنِّى أُرِيتُ لَيْلَةَ الْقَدْرِ ، وَإِنِّى نُسِّيتُهَا ، وَإِنَّهَا فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ فِى وِتْرٍ

Sungguh aku diperlihatkan lailatul qadar, kemudian aku dilupakan –atau lupa- maka carilah ia di sepuluh malam terakhir, pada malam-malam yang ganjil. (Muttafaq alaih)

تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِى الْوِتْرِ مِنَ الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ

Carilah lailatul qadar pada malam-malam ganjil dari sepuluh hari terakhir Ramadhan (HR. Bukhari)

رَأَى رَجُلٌ أَنَّ لَيْلَةَ الْقَدْرِ لَيْلَةُ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ. فَقَالَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- أَرَى رُؤْيَاكُمْ فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ فَاطْلُبُوهَا فِى الْوِتْرِ مِنْهَا

Seseorang bermimpi bahwa lailatul qadar terjadi pada malam kedua puluh tujuh. Maka Nabi SAW bersabda, "Aku melihat mimpi kalian bertemu pada sepuluh hari terakhir, maka hendaklah ia mencarinya (lailatul Qadar) pada malam-malam ganjil." (HR. Muslim)

أَنَّ رِجَالاً مِنْ أَصْحَابِ النَّبِىِّ - صلى الله عليه وسلم - أُرُوا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِى الْمَنَامِ فِى السَّبْعِ الأَوَاخِرِ ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - أَرَى رُؤْيَاكُمْ قَدْ تَوَاطَأَتْ فِى السَّبْعِ الأَوَاخِرِ ، فَمَنْ كَانَ مُتَحَرِّيَهَا فَلْيَتَحَرَّهَا فِى السَّبْعِ الأَوَاخِرِ

Sesungguhnya sebagian sahabat Nabi SAW bermimpi lailatul qadar terjadi pada tujuh hari terakhir (Ramadhan). Maka Rasulullah SAW bersabda, "Aku melihat mimpi kalian bertemu pada tujuh malam terakhir, maka barangsiapa yang ingin mencarinya, hendaklah ia mencari pada tujuh malam terakhir." (HR. Bukhari)

تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِى السَّبْعِ الأَوَاخِرِ

Carilah lailatul qadar pada tujuh malam terakhir (HR. Muslim)

الْتَمِسُوهَا فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ - يَعْنِى لَيْلَةَ الْقَدْرِ - فَإِنْ ضَعُفَ أَحَدُكُمْ أَوْ عَجَزَ فَلاَ يُغْلَبَنَّ عَلَى السَّبْعِ الْبَوَاقِى

Carilah ia -lailatul qadar- di sepuluh malam terakhir. Jika salah seorang kalian lemah atau tidak mampu, maka janganlah ia kalah di tujuh malam terakhir. (HR. Muslim)

قَالَ أُبَىٌّ وَاللَّهِ الَّذِى لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ إِنَّهَا لَفِى رَمَضَانَ - يَحْلِفُ مَا يَسْتَثْنِى - وَوَاللَّهِ إِنِّى لأَعْلَمُ أَىُّ لَيْلَةٍ هِىَ. هِىَ اللَّيْلَةُ الَّتِى أَمَرَنَا بِهَا رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- بِقِيَامِهَا هِىَ لَيْلَةُ صَبِيحَةِ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ وَأَمَارَتُهَا أَنْ تَطْلُعَ الشَّمْسُ فِى صَبِيحَةِ يَوْمِهَا بَيْضَاءَ لاَ شُعَاعَ لَهَا.

Ubay (bin Ka'ab) berkata, "Demi Allah yang tiada tuhan melainkan Dia. Sesungguhnya ia terjadi di bulan Ramadhan. Dan demi Allah sesungguhnya aku mengetahui malam itu. Ia adalah malam yang Rasulullah memerintahkan kami untuk qiyamullail, yaitu malam kedua puluh tujuh. Dan sebagai tandanya adalah pada pagi harinya matahari terbit dengan cahaya putih yang tidak bersinar-sinar menyilaukan." (HR. Muslim)

قَالَ أُبَىٌّ فِى لَيْلَةِ الْقَدْرِ وَاللَّهِ إِنِّى لأَعْلَمُهَا وَأَكْثَرُ عِلْمِى هِىَ اللَّيْلَةُ الَّتِى أَمَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- بِقِيَامِهَا هِىَ لَيْلَةُ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ - وَإِنَّمَا شَكَّ شُعْبَةُ فِى هَذَا الْحَرْفِ - هِىَ اللَّيْلَةُ الَّتِى أَمَرَنَا بِهَا رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-.

Ubay (bin Ka'ab) berkata tentang lailatul qadar, "Demi Allah, sesungguhnya aku mengetahui bahwa ia adalah malam yang Rasulullah SAW memerintahkan untuk qiyamullail, yaitu malam dua puluh tujuh (Ramadhan) –Syu'bah (salah seorang perawi) ragu dengan kata "amarana" atau "amarana bihaa". (HR. Muslim)

مَنْ كَانَ مُتَحَرِّيَهَا فَلْيَتَحَرَّهَا فِى لَيْلَةِ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ

Barangsiapa ingin mencarinya (lailatul qadar), hendaklah ia mencarinya pada malam kedua puluh tujuh. (HR. Ahmad, dishahihkan Al-Albani)

Hadits Doa Lailatul Qadar

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرَأَيْتَ إِنْ عَلِمْتُ أَىُّ لَيْلَةٍ لَيْلَةُ الْقَدْرِ مَا أَقُولُ فِيهَا قَالَ قُولِى اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ كَرِيمٌ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّى

Dari Aisyah ia berkata, "Aku bertanya, 'Ya Rasulullah jika aku mengetahui bahwa malam itu adalah lailatul qadar, apa yang harus aku ucapkan waktu itu?' Rasulullah bersabda, 'Ucapkanlah: Allaahumma innaka 'afuwwun kariim tuhibbul 'afwa fa'fu 'annii (Ya Allah sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf lagi Maha Mulia, Engkau Mencintai Pemaafan, maka maafkanlah aku).' (HR. Tirmidzi, shahih menurut Al-Albani).

Demikian kumpulan hadits lailatul qadar, semoga bisa menjelaskan kepada kita keutamaan lailatul qadar, tanda-tanda lailatul qadar, kapan terjadinya, dan doa apa yang perlu diucapkan sewaktu mendapatkan lailatul qadar kemudian kita termotivasi untuk bersungguh-sungguh mencarinya. Wallaahu a'lam bish shawab. [Muchlisin]

Kapan terjadinya Lailatul Qadar dibahas lebih lengkap pada Lailatul Qadar, Tepatnya Malam 21 atau 27?
08:00 | 15 komentar

Lailatul Qadar, Tepatnya Malam 21 atau 27?

Written By Admin BeDa on Jumat, 19 Agustus 2011 | 16:00


Lailatul Qadar, Tepatnya Malam 21 atau 27? - Lailatul Qadar adalah malam yang diharapkan oleh semua muslim untuk berjumpa dengannya. Harapan mendapatkan lailatul qadar itu sangatlah wajar mengingat keutamaannya, yaitu waktu paling utama yang nilainya lebih baik dari seribu bulan.

Allah SWT berfirman tentang lailatul qadar,

وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ * لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ

Tahukah kamu apa lailatul qadar itu? Lailatul qadar itu lebih baik daripada seribu bulan (QS. Al-Qadar : 2-3).

Sayyid Sabiq menjelaskan makna lailatul qadar lebih baik daripada seribu bulan itu dalam Fiqih Sunnah dengan mengatakan: "Maksudnya adalah, beramal pada malam itu dengan shalat, dzikir, dan membaca Al-Qur'an nilainya lebih utama daripada amalan yang sama selama seribu bulan yang tidak memiliki lailatul qadar."

Kapan Turunnya Lailatul Qadar
Inilah pertanyaannya. Kapankah turunnya lailatul qadar itu?

Dalam banyak riwayat kita akan mendapatkan jawaban yang umum bahwa lailatul qadar turun pada sepuluh hari terakhir. Lebih sempit lagi adalah pada malam-malam ganjil. Yaitu tanggal 21, 23, 25, 27, atau 29 Ramadhan.

Lalu, mengapa judul di atas lebih sempit lagi? Lailatul Qadar, Tepatnya Malam 21 atau 27? Ini dikarenakan adanya sejumlah argumentasi sebagai berikut.

Pertama, lailatul qadar yang difirmankan Allah SWT dalam surat Al-Qadar adalah juga malam nuzulul qur'an atau turunnya wahyu yang pertama, yakni surat Al-Alaq di gua hira. Setelah diteliti oleh Syaikh Shafiyurrahman Al-Mubarakfury, didapatkan kesimpulan bahwa malam itu adalah tanggal 21 Ramadhan. Sebab wahyu pertama "Iqra" itu turun pada hari senin. Sedangkan hari Senin pada Ramadhan itu jatuh pada tanggal 7, 14, 21 dan 28. Dari keempat tanggal itu, yang memenuhi syarat malam ganjil pada sepuluh hari terakhir adalah tanggal 21 Ramadhan tahun pertama kenabian, atau tepatnya 10 Agustus 610 M. Jadi, lailatul qadar pernah terjadi pada tanggal 21 Ramadhan. Jika setiap tahun, tanggal lailatul qadar itu tetap, fa insya Allah, lailatul Qadar jatuh pada malam 21 Ramadhan.

"Tanggal 21 ini khususnya diyakini oleh para ulama kelompok Syafi'i" kata Yusuf Qardhawi dalam Fiqih Shiam.

Kedua, lailatul qadar dimungkinkan pula jatuh persis pada malam ke-27. Hal ini disinggung dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad.

مَنْ كَانَ مُتَحَرِّيَهَا فَلْيَتَحَرَّهَا فِى لَيْلَةِ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ

Barangsiapa ingin mencarinya (lailatul qadar), hendaklah ia mencarinya pada malam kedua puluh tujuh. (HR. Ahmad, dishahihkan Al-Albani)

Hadits di atas diriwayatkan dari Ibnu Umar. Di samping itu, Ubay bin Ka'ab dan Ibnu Abbas juga memegang keyakinan bahwa lailatul qadar terjadi pada malam ke-27. bahkan, Ubay bin Ka'ab pernah bersumpah akan hal itu karena tanda-tanda lailatul qadar yang ia lihat pada malam ke-27 itu.

Jadi, Bagaimana Sebaiknya?
Tentu, bagi yang ingin bersungguh-sungguh mencari lailatul qadar tidak akan membatasi dirinya pada malam 21 atau 27 saja. Sebab, betapapun kuat dalil keduanya, ia bukan satu kepastian yang menjamin bahwa lailatul qadar pasti terjadi pada malam 21 atau 27. Mereka yang ingin lebih dekat kepada Allah, lebih mengikuti sunnah Rasulullah, serta ingin mendapati lailatul qadar hendaklah bersungguh-sungguh pada malam ganjil 10 hari terakhir.

Rasulullah SAW bersabda,

إِنِّى أُرِيتُ لَيْلَةَ الْقَدْرِ ، وَإِنِّى نُسِّيتُهَا ، وَإِنَّهَا فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ فِى وِتْرٍ

Sungguh aku diperlihatkan lailatul qadar, kemudian aku dilupakan –atau lupa- maka carilah ia di sepuluh malam terakhir, pada malam-malam yang ganjil. (Muttafaq alaih)

Bagaimana praktik yang dicontohkan Rasulullah? Ternyata beliau bukan hanya "serius" di malam ganjil. Namun di seluruh sepuluh hari terakhir, dengan menunaikan i'tikaf.

Maka Yusuf Qardhawi pun menyarankan, "Malam-malam ganjil yang dimaksud dalam hadits di atas adalah malam ke-21, 23, 25, 27 dan 29. bila masuknya Ramadhan berbeda-beda dari berbagai negara, sebagaimana yang kita saksikan sekarang, maka malam-malam ganjil di sebagian wilayah adalah malam genap di wilayah lain. Sehingga untuk hati-hati, carilah lailatul qadar ini di seluruh malam sepuluh terkahir Ramadhan."

Wallaahu a'lam bish shawab. [Muchlisin. Dari berbagai sumber, utamanya Fiqih Sunnah dan Fiqih Shiam]

Baca tentang Lailatul Qadar lebih lengkap di Kumpulan Hadits Lailatul Qadar
16:00 | 12 komentar

Enam Tentaranya Tewas, Zionis Balas Bombardir Warga Gaza


Enam tentara Israel tewas dan empat puluh orang lainnya luka-luka dalam serangan di Israel Selatan, Kamis pagi (18/8). Kawanan pria bersenjata menyerang dua bis Israel dekat gerbang kota Um Rashrash “Ellat”. Setelah mendapatkan tembakan, bis pertama bisa lolos melanjutkan perjalanan. Sedangkan bis kedua yang juga ditumpangi mayoritas tentara dihantam roket hingga mengakibatkan enam tentara tewas.

Israel langsung menuduh Hamas terlibat dalam serangan itu. Dengan dalih melakukan pembalasan, Israel menyerbu Gaza dengan serangan udara, Kamis sore (18/8).

Seorang bocah syahid dan 17 lainya luka-luka akibat serangan angkatan udara Zionis ke sejumlah tempat di Gaza itu.

Saksi mata menyebutkan, korban terjadi setelah jet-jet tempur Zionis membombardir dermaga di sebelah utara Gaza dan satu rumah di sebelah baratnya. Ia menyebutkan, pesawat-pesawat tempur tersebut melessakan sejumlah rudal ke arah permukiman penduduk di utara dan selatan Gaza. Satu diantaranya adalah pangkalan latihan Al-Qossam. [AN/bsb]
15:00 | 0 komentar

Hikmah Nuzulul Qur'an

Written By Admin BeDa on Senin, 15 Agustus 2011 | 14:00


Hikmah Nuzulul Qur'an - Dalam pembahasan Nuzulul Qur'an menurut Berbagai Madzab kita telah mengetahui bahwa Al-Qur'an diturunkan ke Baitul Izzah secara langsung. Dari Baitul Izzah itulah, Al-Qur'an kemudian diturunkan secara berangsur-angsur kepada Rasulullah SAW.

Nuzulul Qur'an yang kemudian diperingati oleh sebagian kaum muslimin mengacu kepada tanggal pertama kali Al-Qur'an diturunkan kepada Rasulullah SAW di gua Hira. Jika sebagian besar umat Islam di Indonesia meyakini 17 Ramadhan sebagai tanggal Nuzulul Qur'an, Syaikh Syafiyurrahman Al-Mubarakfury menyimpulkan Nuzulul Qur'an jatuh pada tanggal 21 Ramadhan.

Lepas dari berapa tanggal sebenarnya, Nuzulul Qur'an dalam arti turunnya Al-Qur'an kepada Rasulullah SAW secara bertahap atau berangsur-angsur itu memiliki beberapa hikmah sebagai berikut:

1. Meneguhkan hati Rasulullah dan para sahabat
Dakwah Rasulullah pada era makkiyah penuh dengan tribulasi berupa celaan, cemoohan, siksaan, bahkan upaya pembunuhan. Wahyu yang turun secara bertahap dari waktu ke waktu menguatkan hati Rasulullah dalam menapaki jalan yang sulit dan terjal itu.

Ketika kekejaman Quraisy semakin menjadi, Al-Qur'an menyuruh mereka bersabar seraya menceritakan kisah para nabi sebelumnya yang pada akhirnya memperoleh kemenangan dakwah. Maka, seperti yang dijelaskan Syaikh Syafiyurrahman Al-Mubarakfury dalam Rakhiqul Makhtum, Al-Qur'an menjadi faktor peneguh mengapa kaum muslimin sangat kuat menghadapi cobaan dan tribulasi dakwah dalam periode Makkiyah.

Di era madaniyah, hikmah ini juga terus berlangsung. Ketika hendak menghadapi perang atau kesulitan, Al-Qur'an turun menguatkan Rasulullah dan kaum muslimin generasi pertama.

2. Tantangan dan Mukjizat
Orang-orang musyrik yang berada dalam kesesatan tidak henti-hentinya berupaya melemahkan kaum muslimin. Mereka sering mengajukan pertanyaan yang aneh-aneh dengan maksud melemahkan kaum muslimin. Pada saat itulah, kaum muslimin ditolong Allah dengan jawaban langsung dari-Nya melalui wahyu yang turun.

Selain itu, Al-Qur'an juga menantang langsung orang-orang kafir untuk membuat sesuatu yang semisal dengan Al-Qur'an. Nyanta, walaupun Al-Quran turun berangsur-angsur, tidak seluruhnya, toh mereka tidak mampu menjawab tantangan itu. Ini sekaligus menjadi bukti mukjizat Al-Qur'an yang tak tertandingi oleh siapapun.

3. Memudahkan Hafalan dan Pemahamannya
Dengan turunnya Al-Qur'an secara berangsur-angsur, maka para kaum muslimin menjadi lebih mudah menghafalkan dan memahaminya. Terlebih, ketika ayat itu turun dengan latar belakang peristiwa tertentu atau yang diistilahkan dengan asbabun nuzul, maka semakin kuatlah pemahaman para sahabat.

4. Relevan dengan Pentahapan Hukum dan Aplikasinya
Sayyid Quthb menyebut para sahabat dengan "Jailul Qur'anil farid" (generasi qur'ani yang unik). Diantara hal yang membedakan mereka dari generasi lainnya adalah sikap mereka terhadap Al-Qur'an. Begitu ayat turun dan memerintahkan sesuatu, mereka langsung mengerjakannya. Interaksi mereka dengan Al-Qur'an bagaikan para prajurit yang mendengar intruksi komandannya; langsung dikerjakan segera.

Diantara hal yang memudahkan bersegeranya para sahabat dalam menjalankan perintah Al-Qur'an adalah karena Al-Qur'an turun secara bertahap. Perubahan terhadap kebiasaan atau budaya yang mengakar di masyarakat Arab pun dilakukan melalui pentahapan hukum yang memungkinkan dilakukan karena turunnya Al-Qur'an secara berangsur-angsur ini. Misalnya khamr. Ia tidak langsung diharamkan secara mutlak, tetapi melalui pentahapan. Pertama, Al-Qur'an menyebut mudharatnya lebih besar dari manfaatnya (QS. 2 : 219). Kedua, Al-Qur'an melarang orang yang mabuk karena khamr dari shalat (QS. 4 : 43). Dan yang ketiga baru diharamkan secara tegas (QS. 5 : 90-91).

5. Menguatkan bahwa Al-Qur'an benar-benar dari Allah yang Maha Bijaksana dan Maha Terpuji
Ketika Al-Qur'an turun berangsur-angsur dalam kurun lebih dari 22 tahun, kemudian menjadi rangkaian yang sangat cermat dan penuh makna, indah dan fasih gaya bahasanya, terjalin antara satu ayat dengan ayat lainnya bagaikan untaian mutiara, serta ketiadaan pertentangan di dalamnya, semakin menguatkan bahwa Al-Qur'an benar-benar kalam ilahi, Dzat yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji.

Demikianlah, sebagian hikmah Nuzulul Qur'an, diturunkannya Al-Qur'an secara berangsur-angsur kepada Rasulullah SAW. Wallahu a'lam bish shawab. [Muchlisin. Maraji: : مابحث في علوم القران karya Syaikh Manna Al-Qaththan, رحيق المختوم karya Syaikh Shafiyurrahman Al-Mubarakfury, dan معالم في الطريق karya Sayyid Quthb]
14:00 | 7 komentar

70 Ribu Demonstran (Kembali) Kepung Israel

Written By Admin BeDa on Minggu, 14 Agustus 2011 | 20:00


Israel kembali dikepung demonstran. Sekitar tujuh puluh ribu orang menggelar unjuk rasa di berbagai kota penting di Negara zionis itu, Sabtu kemarin (13/8). Perdana Menteri Israel Benyamin Netanyahu yang semula acuh tak acuh terhadap demonstran pun kini tampak melakukan langkah-langkah serius.

Arus demonstrasi terbesar terpusat di kota Haifa, wilayah pesisir Utara Israel. Sekitar tiga puluh ribu demonstran memenuhi bundaran-bundaran dan jalanan kota. Sedangkan puluhan ribu demonstran lainnya tersebar di berbagai kota Israel lainnya, seperti Tel Aviv, Birsabe, Galilea, Illat, dan Jerusalem.

Jumlah keseluruhan massa di sejumlah kota penting itu mencapai tujuh puluh ribu orang. Mereka turun ke jalan dengan tuntutan yang sama yaitu keadilan sosial.

Tuntutan itu berpaut pada perumahan (tempat tinggal) murah, kelayakan upah, perbaikan layanan pendidikan dan juga layanan kesehatan.

Demonstrasi Sabtu itu merupakan kelanjutan dari demonstrasi pekan sebelumnya yang diikuti sekitar 300 ribu orang. Melihat arus demontrasi yang terus berlanjut, Netanyahu menunjuk 14 orang untuk mengkaji tuntutan demonstran.

Tuntutan para demonstran dipicu oleh naiknya harga perumahan dan tempat tinggal. Akankah ini menjadi “awal dari akhir” riwayat Israel yang selama ini menjajah Palestina? [AN/EM]
20:00 | 0 komentar

Ramadhan; Al-Quds Berteriak, Sampai Kapan Kita Diam?

Written By Admin BeDa on Sabtu, 13 Agustus 2011 | 08:00


Oleh : Mustafa Shawwaf

Kota Al-Quds saat ini sekarang ibarat berteriak meminta tolong kepada umat Islam di seluruh penjuru dunia untuk bergerak membebaskannya dari tindakan penodaan yang dilakukan tangan-tangan zionis yang dijaga dilindungi oleh penjajah Israel. Saat ini warga dan kelompok zionis yahudi ekstrim menggerebek Masjid Al-Aqsha dan mengalangi warga untuk itikaf di dalamnya. Mereka memaksa dibawah ancaman senjata untuk keluar dari masjid. Ini menunjukkan ada tipu daya baru terhadap Masjid Al-Aqsha.

Agaknya “suara teriakan meminta tolong” yang keluar dari Masjid Al-Aqsha dan penduduk Palestina di sana tidak sampai di telinga kaum Muslimin di seluruh dunia. Atau mungkin mereka tidak ingin mendengar suara teriakan meminta tolong ini. Atau bahkan dipaksa untuk menutup telinga agar tidak mendengar karena bangsa Arab dan umat Islam sibuk dengan masalah kekuasaan dan mempertahannnya meski harus mengorbankan agama dan tempat suci yang dinodai zionis.

Di tengah kondisi diam Arab dan umat Islam, kami bangsa Palestina tidak pernah merasa lemah dan menyerah terhadap penjajah Israel dan warga pemukim yahudi yang ekstrim itu. Kami tidak akan meninggalkan Al-Quds untuk mereka. Kami berusaha menghadang aksi pemusuhan zionis itu terhadap Al-Quds dan tempat suci dan simbol-simbolnya. Sebab kami hidup di bulan Ramadhan, bulan jihad dan ladang mencari kesyahidan, bulan pengorbanan dan kemenangan. Kami sampaikan pesan dan panggilan pertolongan kepada kaum muslimin dan Arab. Kami berdiri di sini menunggu mereka melakukan sesuatu. Kami sadar bahwa bangsa Arab dan umat Islam di hati mereka ada gembok dan di mata mereka ada tutup dan mereka tidak berdaya apapun.

Kewajiban pasti kami adalah memberikan apa yang kami miliki dan minimal yang kami miliki adalah pergi ke Al-Quds dan berjaga di sana, meminta pertolongan kepada Allah dengan menggunakan segala cara yang bisa menyampaikan kami ke masjid suci itu, tidak menyerah mengadapi upaya-upaya zionis menghadang kami untuk sampai ke Masjid Al-Aqsha dan berjaga di sana secara intens sehingga zionis Israel tidak akan berdaya menguasainya. Kami akan menghadapi penjajah Israel meski harus mengorbankan dengan darah, harta, ruh, barang kali saja dengan cara seperti ini kita bisa menyentuh umat Islam dan penguasanya yang sedang terlelap tidur lalu karena khawatir kekuasaan mereka terusik.

Langkah menuju Masjid Al-Aqsha harus dilakukan segera dan bukan hanya warga Al-Quds yang melakukannnya. Warga Palestina di wilayah jajahan 1948 juga harus bertolak menuju Al-Aqsha dan berjaga sehingga pada 10 hari terakhir Masjid Al-Aqsha membludak dengan jamaah secara intens. Pada pemuda harus dikerahkan ke halaman Masjid Al-Aqsha untuk mengantisipasi tindakan penodaan yahudi ekstrim. Selain itu warga Palestina di Tepi Barat juga harus pergi ke Masjid Al-Aqsha dengan segala kemampuan yang dimiliki. Sebab masjid ini sekarang membutuhkan usaha semua pihak membelanya dan zionis Israel tidak akan gentar hanya dengan seruan dan panggilan pertolongan dan kecaman, tapi mereka akan gentar dengan tindakan nyata konfrontasi.

Bukan hanya dengan itikaf dan berjaga di masjid Al-Aqsha, namun juga dengan mengefektifkan perlawanan dengan berbagai bentuknya baik dengan batu, ketapel, pisau dan lain-lain sebagaimana zionis Israel mengunakan senjata-senjata yang lebih canggih dari itu.

Al-Quds memanggil kalian dan mengatakan, “Datanglah berdondong ke tempat Isra’ Rasulullah Sallallu Alaihi wa Sallam, buanglah penutup dari mata dan hari kalian, harta dan kekuasaan kalian tidak akan bermanfaat, lihatlah bagaimana Hosni Mubarak dan Zainal Abidin, juga nasib sedang menanti Asad dan Qadafi serta presiden Yaman.”

Al-Quds yang merupakan pengantian kebangsaan Arab kalian sedang dinodai, Al-Qusd jantung umat sedang sekarat, Al-Quds pandangannya tertunduk ke arah kalian, ia masih memiliki harapan agar kalian datang ke sana, sampai kapan kalian diam?? [bsyr, InfoPalestina]
08:00 | 2 komentar

Taujih Ramadhan Hasan Al Banna

Written By Admin BeDa on Kamis, 11 Agustus 2011 | 08:00


Ramadhan adalah bulan perasaan dan ruhani, serta saat untuk menghadapkan diri kepada Allah. Sejauh yang saya ingat, ketika bulan Ramadhan menjelang, sebagian Salafush Shalih mengucapkan selamat tinggal kepada sebagian lain sampai mereka berjumpa lagi dalam shalat 'Id. Yang mereka rasakan adalah ini bulan ibadah, bulan untuk melaksanakan shiyam (puasa) dan qiyam (shalat malam) dan kami ingin menyendiri hanya dengan Tuhan kami.

Ikhwan sekalian, sebenarnya saya berupaya untuk mencari kesempatan untuk mengadakan kajian Selasa pada bulan Ramadhan, tetapi saya tidak mendapatkan waktu yang sesuai. Jika sebagian besar waktu selama setahun telah digunakan untuk mengadakan kajian-kajian tentang Al-Qur'an, maka saya ingin agar waktu yang ada di bulan Ramadhan ini kita gunakan untuk melaksanakan hasil dari kajian-kajian tersebut. Apalagi, banyak di antara ikhwan yang melaksanakan shalat tarawih dan memanjangkannya, sampai mengkhatamkan Al-Qur'an satu kali di bulan Ramadhan. Ini merupakan cara mengkhatamkan yang indah. Jibril biasa membacakan dan mendengarkan bacaan Al-Qur'an dari Nabi SAW sekali dalam setahun. Nabi SAW mempunyai sifat dermawan, dan sifat dermawan beliau ini paling menonjol terlihat pada bulan Ramadhan ketika Jibril membacakan dan mendengarkan bacaan Al- Qur'an beliau. Beliau lebih dermawan dan pemurah dibandingkan dengan angin yang ditiupkan. Kebiasaan membacakan dan mendengarkan bacaan Al-Qur'an ini terus berlangsung sampai pada tahun ketika Rasulullah SAW diberi pilihan untuk menghadap kepada Ar-Rafiq Al-A'la, maka ketika itu Jibril membacakan dan mendengarkan bacaan Al-Qur'an beliau dua kali. Ini merupakan isyarat bagi Nabi SAW bahwa tahun ini merupakan tahun terakhir beliau hidup di dunia.

Ikhwan sekalian, Ramadhan adalah bulan Al-Qur'an. Rasulullah SAW pernah bersabda mengenainya,

الصِّيَامُ وَالْقُرْآنُ يَشْفَعَانِ لِلْعَبْدِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَقُولُ الصِّيَامُ أَىْ رَبِّ مَنَعْتُهُ الطَّعَامَ وَالشَّهَوَاتِ بِالنَّهَارِ فَشَفِّعْنِى فِيهِ.
وَيَقُولُ الْقُرْآنُ مَنَعْتُهُ النَّوْمَ بِاللَّيْلِ فَشَفِّعْنِى فِيهِ. قَالَ فَيُشَفَّعَانِ

Puasa dan Al-Qur'an itu akan memberikan syafaat kepada hamba di hari kiamat. Puasa akan berkata, "Ya Rabbi, aku telah menghalanginya dari makan dan syahwat, maka perkenankanlah aku memberikan syafa'at untuknya." Sedangkan Al-Qur'an akan berkata, "Ya Rabbi, aku telah menghalanginya dari tidur di malam hari, maka perkenankan aku memberikan syafaat untuknya." Maka Allah memperkenankan keduanya memberikan syafaat. (HR. Ahmad dan Daruquthni)

Wahai Ikhwan, dalam diri saya terbetik satu pemikiran yang ingin saya bicarakan. Karena kita berada di pintu masuk bulan Puasa, maka hendaklah pembicaraan dan renungan kita berkaitan dengan tema bulan Ramadhan. Ikhwan sekalian, kita telah berbicara panjang lebar tentang sentuhan perasaan cinta dan persaudaraan yang dengannya Allah telah menyatukan hati kita, yang salah satu dampaknya yang paling terasa adalah terwujudnya pertemuan ini karena Allah. Bila kita tidak akan berjumpa dalam masa empat pekan atau lebih, maka bukan berarti bara perasaan ini harus padam atau hilang. Kita tidak mesti melupakan prinsip-prinsip luhur tentang kemuliaan dan persaudaraan karena Allah, yang telah dibangun oleh hati dan perasaan kita dalam majelis yang baik ini. Sebaliknya, saya yakin bahwa ia akan tetap menyala dalam jiwa sampai kita bisa berjumpa kembali setelah masa liburan ini, insya Allah. Jika ada salah seorang dari Anda melaksanakan shalat pada malam Rabu, maka saya berharap agar ia mendoakan kebaikan untuk ikhwannya. Jangan Anda lupakan ini! Kemudian saya ingin Anda selalu ingat bahwa jika hati kita merasa dahaga akan perjumpaan ini selama pekan-pekan tersebut, maka saya ingin Anda semua tahu bahwa dahaganya itu akan dipuaskan oleh mata air yang lebih utama, lebih lengkap, dan lebih tinggi, yaitu hubungan dengan Allah SWT, yang merupakan cita-cita terbaik seorang mukmin bagi dirinya, di dunia maupun akhirat.

Karena itu, Ikhwan sekalian, hendaklah Anda semua berusaha agar hati Anda menyatu dengan Allah SWT pada malam-malam bulan mulia ini. Sesungguhnya puasa adalah ibadah yang dikhususkan oleh Allah SWT bagi diri-Nya sendiri.

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلاَّ الصِّيَامَ ، فَإِنَّهُ لِى ، وَأَنَا أَجْزِى بِهِ

Semua amalan anak Adam adalah untuknya, kecuali puasa, la adalah untuk-Ku dan Aku akan memberikan balasannya. (HR. Bukhari-Muslim)

Ini, wahai Akhi, mengisyaratkan bahwa setiap amal yang dilaksanakan oleh manusia mengandung manfaat lahiriah yang bisa dilihat, dan di dalamnya terkandung semacam bagian untuk diri kita. Kadang-kadang jiwa seseorang terbiasa dengan shalat, sehingga ia ingin melaksanakan banyak shalat sebagai bagian bagi dirinya. Kadang-kadang ia terbiasa dengan dzikir, sehingga ia ingin banyak berdzikir kepada Allah sebagai bagian bagi dirinya. Kadang-kadang ia terbiasa dengan menangis karena takut kepada Allah, maka ia ingin banyak menangis karena Allah sebagai bagian bagi dirinya. Adapun puasa, wahai Akhi, di dalamnya tidak terkandung apa pun selain larangan. Ia harus melepaskan diri dari bermacam keinginan terhadap apa yang menjadi bagian dirinya. Bila kita terhalang untuk berjumpa satu sama lain, maka kita akan banyak berbahagia karena bermunajat kepada Allah SWT dan berdiri di hadapan-Nya, khususnya ketika melaksanakan shalat tarawih. Ikhwan sekalian, hendaklah senantiasa ingat bahwa Anda semua berpuasa karena melaksanakan perintah Allah SWT. Maka berusahalah sungguh-sungguh untuk beserta dengan Tuhan Anda dengan hati Anda pada bulan mulia ini. Ikhwan sekalian, Ramadhan adalah bulan keutamaan. Ia mempunyai kedudukan yang agung di sisi Allah SWT. Hal ini telah dinyatakan dalam kitab-Nya,

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآَنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ

(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang haq dan yang batil). (QS. Al-Baqarah: 185)

Wahai Akhi, pada akhir ayat ini Anda mendapati:

يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ

Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. (QS. Al-Baqarah: 185)

Puasa adalah kemanfaatan yang tidak mengandung bahaya. Dengan penyempurnaan puasa ini, Allah SWT akan memberikan hidayah kepada hamba-Nya. Jika Allah memberikan taufiq kepada Anda untuk menyempurnakan ibadah puasa ini dalam rangka menaati Allah, maka ia adalah hidayah dan hadiah yang patut disyukuri dan selayaknya Allah dimahabesarkan atas karunia hidayah tersebut.

وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Dan hendaklah kalian mencukupkan bilangannya dan hendaklah kalian mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepada kalian, supaya kalian bersyukur. (QS. Al-Baqarah: 185)

Kemudian, lihadah wahai Akhi, dampak dari semua ini.

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah) bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang mendoa apabila ia berdoa kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. (QS. Al-Baqarah: 186)

Wahai Akhi, di sini Anda melihat bahwa Allah Yang Mahabenar meletakkan ayat ini di tempat ini untuk menunjukkan bahwa Dia SWT paling dekat kepada hamba-Nya adalah pada bulan mulia ini.

Allah SWT telah mengistimewakan bulan Ramadhan. Mengenai hal itu terdapat beberapa ayat dan hadits. Nabi SAW bersabda,

إِذَا جَاءَ شَهْرُ رَمَضَانَ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ، وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ، وَصُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ، وَنَادَى مُنَادٍ يَا طَالِبَ الْخَيْرِ هَلُمَّ، وَيَا طَالِبَ الشَّرِّ اقْتَصِرْ

Jika bulan Ramadhan datang, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, setan-setan dibelenggu, kemudian seorang penyeru berseru, "Wahai pencari kebaikan, kemarilah! Wahai pencari kejahatan, berhentilah!" (HR. Thabrani)

Wahai Akhi, pintu-pintu surga dibuka, karena manusia berbondong-bondong melaksanakan ketaatan, ibadah, dan taubat, sehingga jumlah pelakunya banyak. Setan-setan dibelenggu, karena manusia akan beralih kepada kebaikan, sehingga setan tidak mampu berbuat apa-apa. Hari-hari dan malam-malam Ramadhan, merupakan masa-masa kemuliaan yang diberikan oleh Al-Haq SWT., agar orang-orang yang berbuat baik menambah kebaikannya dan orang-orang yang berbuat jahat mencari karunia Allah SWT sehingga Allah mengampuni mereka dan menjadikan mereka hamba-hamba yang dicintai dan didekatkan kepada Allah. Keutamaan dan keistimewaan paling besar bulan ini adalah bahwa Allah SWT telah memilihnya menjadi waktu turunnya Al-Qur'an. Inilah keistimewaan yang dimiliki oleh bulan Ramadhan. Karena itu, Allah SWT mengistimewakan dengan menyebutkannya dalam kitab-Nya.

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآَنُ

(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur'an. (QS. Al-Baqarah: 185)

Ada ikatan hakikat dan fisik antara turunnya Al-Qur'an dengan bulan Ramadhan. Ikatan ini adalah selain bahwa Allah telah menurunkan Al-Qur'an di bulan Ramadhan, maka di bulan ini pula Dia mewajibkan puasa. Karena puasa artinya menahan diri dari hawa nafsu dan syahwat. Ini merupakan kemenangan hakikat spiritual atas hakikat materi dalam diri manusia. Ini berarti, wahai Akhi, bahwa jiwa, ruh, dan pemikiran manusia pada bulan Ramadhan akan menghindari tuntutan-tuntutan jasmani. Dalam kondisi seperti ini, ruh manusia berada di puncak kejernihannya, karena ia tidak disibukkan oleh syahwat dan hawa nafsu. Ketika itu ia dalam keadaan paling siap untuk memahami dan menerima ilmu dari Allah SWT. Karena itu, bagi Allah, membaca Al-Qur'an merupakan ibadah paling utama pada bulan Ramadhan yang mulia. Pada kesempatan ini, Ikhwan sekalian, saya akan meringkaskan untuk Anda semua pandangan-pandangan saya tentang kitab Allah SWT, dalam kalimat-kalimat ringkas. Wahai Ikhwan yang mulia, tujuan-tujuan asasi dalam kitab Allah SWT. dan prinsip-prinsip utama yang menjadi landasan bagi petunjuk Al-Qur'an ada tiga

1. Perbaikan Aqidah
Anda mendapad bahwa Al-Qur'anul Karim banyak menjelaskan masalah aqidah dan menarik perhatian kepada apa yang seharusnya tertanam sungguh-sungguh di dalam jiwa seorang mukmin, agar ia bisa mengambil manfaatnya di dunia dan di akhirat. Keyakinan bahwa Allah SWT adalah Yang Maha Esa, Yang Mahakuasa, Yang menyandang seluruh sifat kesempurnaan dan bersih dari seluruh kekurangan. Kemudian keyakinan kepada hari akhir, agar setiap jiwa dihisab tentang apa saja yang telah dikerjakan dan ditinggalkannya. Wahai Akhi, jika Anda mengumpulkan ayat-ayat mengenai aqidah dalam Al-Qur'an, niscaya Anda mendapati bahwa keseluruhannya mencapai lebih dari sepertiga Al-Qur'an. Allah SWT berfirman dalam surat Al-Baqarah,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ * الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ فِرَاشًا وَالسَّمَاءَ بِنَاءً وَأَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقًا لَكُمْ فَلَا تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَنْدَادًا وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

Hai manusia, beribadahlah kepada Rabb kalian Yang telah menciptakan kalian dan orang-orang yang sebelum kalian, agar kalian bertaqwa. Dialah Yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagi kalian dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki untuk kalian; karena itu janganlah kalian mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah padahal kalian mengetahui. (QS. Al-Baqarah: 21-22)

Wahai Akhi, setiap kali membaca surat ini, Anda mendapati kandungannya ini melintang di hadapan Anda. Allah SWT juga berfirman dalam surat Al-Mukminun,

قُلْ لِمَنِ الْأَرْضُ وَمَنْ فِيهَا إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ * سَيَقُولُونَ لِلَّهِ قُلْ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ * قُلْ مَنْ رَبُّ السَّمَاوَاتِ السَّبْعِ وَرَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ * سَيَقُولُونَ لِلَّهِ قُلْ أَفَلَا تَتَّقُونَ * قُلْ مَنْ بِيَدِهِ مَلَكُوتُ كُلِّ شَيْءٍ وَهُوَ يُجِيرُ وَلَا يُجَارُ عَلَيْهِ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ * سَيَقُولُونَ لِلَّهِ قُلْ فَأَنَّى تُسْحَرُونَ * بَلْ أَتَيْنَاهُمْ بِالْحَقِّ وَإِنَّهُمْ لَكَاذِبُونَ

Katakanlah, 'Kepunyaan siapakah bumi ini, dan semua yang ada padanya, jika kalian mengetahui?' Mereka akan menjawab, 'Kepunyaan Allah.' Katakanlah, 'Maka apakah kalian tidak ingat?' Katakanlah, 'Siapakah Yang Empunya langit yang tujuh dan Yang Empunya 'Arsy yang besar?' Mereka akan menjawab, 'Ke- punyaan Allah.' Katakanlah, 'Maka apakah kalian tidak bertaqwa?' Katakanlah, 'Siapakah yang di tangan-Nya berada kekuasaan atas segala sesuatu sedang Dia melindungi, tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari (adzab)-Nya, jika kalian mengetahui?' Mereka akan menjawab, 'Kepunyaan Allah.' Katakanlah, '(Kalau demikian), maka dari jalan manakah kalian ditipu?' Sebenarnya Kami telah membawa kebenaran kepada mereka, dan sesungguhnya mereka benar-benar orang yang berdusta. (QS. Al-Mukminun: 84-90)

Allah SWT juga berfirman di surat yang sama,

فَإِذَا نُفِخَ فِي الصُّورِ فَلَا أَنْسَابَ بَيْنَهُمْ يَوْمَئِذٍ وَلَا يَتَسَاءَلُونَ * فَمَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ * وَمَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَئِكَ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنْفُسَهُمْ فِي جَهَنَّمَ خَالِدُونَ

Apabila sangkakala ditiup maka tidaklah ada lagi pertalian nasab di antara mereka pada hari itu dan tidak pula mereka saling bertanya. Barangsiapa yang berat timbangan (kebaikannya) maka mereka itulah orang-orang yang dapat keberuntungan. Dan barangsiapa yang ringan timbangan (kebaikannya), maka mereka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, mereka kekal di dalam neraka Jahanam. (QS. Al-Mukminun: 101-103)

Allah SWT juga berfirman,

إِذَا زُلْزِلَتِ الْأَرْضُ زِلْزَالَهَا (1) وَأَخْرَجَتِ الْأَرْضُ أَثْقَالَهَا (2) وَقَالَ الْإِنْسَانُ مَا لَهَا (3) يَوْمَئِذٍ تُحَدِّثُ أَخْبَارَهَا (4) بِأَنَّ رَبَّكَ أَوْحَى لَهَا (5) يَوْمَئِذٍ يَصْدُرُ النَّاسُ أَشْتَاتًا لِيُرَوْا أَعْمَالَهُمْ (6) فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ (7) وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ

Apabila bumi diguncangkan dengan guncangan yang dahsyat. Dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung)nya. Dan manusia bertanya, 'Mengapa bumi (jadi begini)?' Pada hari itu bumi menceritakan beritanya. Karena sesungguhnya Tuhanmu telah memerintahkan (yang demikian itu) kepadanya. Pada hari itu manusia keluar dari kuburnya dalam keadaan yang bermacam-macam, supaya diperlihatkan kepada mereka (balasan) pekerjaan mereka. Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya pula. (QS. Ay-Zalzalah: 1-8)

Allah SWT berfirman,

الْقَارِعَةُ * مَا الْقَارِعَةُ

Hari Kiamat. Apakah hari Kiamat itu? Tahukah kalian apakah hari Kiamat itu? (QS. Al-Qari'ah: 1-3)

Dalam surat lain Allah berfirman,

أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ * حَتَّى زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ * كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُونَ * ثُمَّ كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُونَ

Bermegah-megahan telah melalaikan kalian. Sampai kalian masuk ke dalam kubur. Janganlah begitu, kelak kalian akan mengetahui (akibat perbuatan kalian itu). Dan janganlah begitu, kelak kalian akan mengetahui. (QS. At-Takatsur: 1-4)

Wahai Akhi, ayat-ayat ini menjelaskan hari akhirat dengan penjelasan gamblang yang bisa melunakkan hati yang keras.

2. Pengaturan Ibadah
Anda juga membaca firman Allah SWT mengenai ibadah.

وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآَتُوا الزَّكَاةَ

Dan dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat (QS. Al-Baqarah: 43)

كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ

...diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian. (QS. Al-Baqarah: 183)

وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا

...mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. (QS. Ali Imran: 97)

فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا

Maka aku katakan kepada mereka, 'Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun.' (QS. Nuh: 10)

Dan banyak lagi ayat-ayat lain mengenai ibadah.

3. Pengaturan Akhlak
Mengenai pengaturan akhlak, wahai Akhi, Anda bisa membaca firman Allah SWT.

وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا * فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا

Dan demi jiwa serta penyempurnaan (ciptaan)nya. Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketaqwaannya. (QS. Asy-Syams: 7-8)

إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ

...Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum, sehingga mereka mengubah keadaan yang ada dalam diri mereka sendiri. (QS. Ar-Ra'd:11)

أَفَمَنْ يَعْلَمُ أَنَّمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ الْحَقُّ كَمَنْ هُوَ أَعْمَى إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ * الَّذِينَ يُوفُونَ بِعَهْدِ اللَّهِ وَلَا يَنْقُضُونَ الْمِيثَاقَ * وَالَّذِينَ يَصِلُونَ مَا أَمَرَ اللَّهُ بِهِ أَنْ يُوصَلَ وَيَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ وَيَخَافُونَ سُوءَ الْحِسَابِ * وَالَّذِينَ صَبَرُوا ابْتِغَاءَ وَجْهِ رَبِّهِمْ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً وَيَدْرَءُونَ بِالْحَسَنَةِ السَّيِّئَةَ أُولَئِكَ لَهُمْ عُقْبَى الدَّارِ * جَنَّاتُ عَدْنٍ يَدْخُلُونَهَا وَمَنْ صَلَحَ مِنْ آَبَائِهِمْ وَأَزْوَاجِهِمْ وَذُرِّيَّاتِهِمْ وَالْمَلَائِكَةُ يَدْخُلُونَ عَلَيْهِمْ مِنْ كُلِّ بَابٍ * سَلَامٌ عَلَيْكُمْ بِمَا صَبَرْتُمْ فَنِعْمَ عُقْبَى الدَّارِ

Adakah orang yang mengetahui bahwasanya apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itu benar sama dengan orang yang buta? Hanyalah orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran. (Yaitu) orang-orang yang meme- nuhi janji Allah dan tidak merusak perjanjian. Dan orang-orang yang sabar karena mencari ridha Tuhannya, mendirikan shalat, dan menaf- kahkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan ke- baikan; orang-orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik). (Yaitu) surga 'Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang shalih dari bapak-bapaknya, istri-istrinya dan anak cucunya, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu. (Sambil mengucapkan), 'Salamun 'alaikum bima shabartum (keselamatan atasmu berkat kesabaranmu),' maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu. (QS. Ar-Ra'd: 19-24)

Wahai Akhi, Anda mendapati bahwa akhlak-akhlak mulia bertebaran dalam kitab Allah SWT dan bahwa ancaman bagi akhlak-akhlak tercela sangadah keras.

وَالَّذِينَ يَنْقُضُونَ عَهْدَ اللَّهِ مِنْ بَعْدِ مِيثَاقِهِ وَيَقْطَعُونَ مَا أَمَرَ اللَّهُ بِهِ أَنْ يُوصَلَ وَيُفْسِدُونَ فِي الْأَرْضِ أُولَئِكَ لَهُمُ اللَّعْنَةُ وَلَهُمْ سُوءُ الدَّارِ

Dan orang-orang yang memutuskan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan dan mengadakan kerusakan di bumi, orang-orang itulah yang memperoleh kutukan dan bagi mereka tempat kediaman yang buruk (Jahanam). (QS. Ar-Rad: 25)

Inilah peraturan-peraturan tersebut, Ikhwan sekalian, sebenarnya, peraturan-peraturan itu lebih tinggi daripada yang dikenal oleh manusia, karena di dalamnya terkandung semua yang dikehendaki manusia untuk mengatur urusan masyarakat. Ketika mengupas sekelompok ayat, maka Anda mendapati makna-makna ini jelas dan gamblang. "Seperempat Juz Khamr" yang diawali dengan

يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ

Mereka bertanya kepadamu tentang khamr dan judi (QS. Al-Baqarah: 219),

mengandung lebih dari dua puluh lima hukum praktis: tentang khamr, judi, anak-anak yatim, pernikahan laki-laki dan wanita-wanita musyrik, haid, sumpah, ila', talak, rujuk, khuluk, nafkah, dan hukum-hukum lainnya yang banyak sekali Anda dapatkan dalam seperempat juz saja. Hal ini karena surat Al-Baqarah datang untuk mengatur masyarakat Islam di Madinah. Ikhwan tercinta, hendaklah Anda semua menjalin hubungan dengan kitab Allah. Bermunajadlah kepada Tuhan dengan kitab Allah. Hendaklah masing-masing dari kita memperhatikan prinsip-prinsip dasar yang telah saya sebutkan ini, karena itu akan memberikan manfaat yang banyak kepada Anda, wahai Akhi. Insya Allah Anda akan mendapatkan manfaat darinya.

Semoga shalawat dan salam dilimpahkan kepada Sayidina Muhammad dan kepada segenap keluarga dan sahabatnya.[Sumber: Ceramah-ceramah Hasan Al-Banna berjudul "Renungan tentang Bulan Ramadhan"]
08:00 | 5 komentar

Rahasia Sukses Ramadhan | Download Powerpoint

Written By Admin BeDa on Senin, 08 Agustus 2011 | 13:38


Rahasia Sukses Ramadhan | Download Powerpoint – Presentasi ini didedikasikan kepada para pembaca, terutama para dai dan aktifis dakwah yang memerlukan materi Rahasia Sukses Ramadhan dalam bentuk powerpoint. Terdiri dari 16 slide dengan kapasitas 4,7 MB, presentasi ini bisa didownload gratis dan dimanfaatkan untuk dakwah.

Slide pertama adalah judul presentasi, kemudian slide ke-2, 8, 9, 13, 15 dan 16 adalah langkah besar dalam meraih sukses Ramadhan. Slide-slide lainnya berisi penjelasan tentang poin langkah terkait.

Setiap poin "Rahasia Sukses Ramadhan" berangkat dari nama bulan Ramadhan. Di sana ada dalil (Ayat Al-Qur'an, hadits, atau fakta sejarah) yang melatari nama Ramadhan sekaligus bisa dijelaskan bagaimana kiat berinteraksinya.

Seperti file powerpoint Bersama Dakwah sebelumnya, "Rahasia Sukses Ramadhan" ini telah didesain sedemikian rupa sehingga tulisan Arabnya tetap bisa dibaca di komputer jenis apapun, sepanjang mendukung untuk file powerpoint (.ppt).

Untuk lebih jelasnya berikut preview sebagian slide "Rahasia Sukses Ramadhan" :




Untuk mendownload materi "Rahasia Sukses Ramadhan" ini, silahkan KLIK DI SINI
13:38 | 5 komentar

Masukkan alamat e-mail untuk mendapatkan up date Bersama Dakwah