"Sudah aku bilang berkali-kali, jangan pergi-pergi ketika aku tidak ada di rumah," katanya dengan nada marah membuat orang di sebelahnya ikut mendengar jelas, "aku peringatkan lagi ya!"
Cukup lama orang yang tadinya satu pesawat denganku itu menelepon istrinya. Kepergiannya ke luar pulau ternyata "dimanfaatkan" oleh istrinya untuk pergi jalan-jalan.
Bukan hanya lelaki itu yang kepergiannya dibayang-bayangi kekhawatiran dan ketidaktenangan. Ada sekian banyak -ratusan ribu sampai jutaan- suami yang galau ketika meninggalkan rumah karena istrinya. Entah karena ia tidak terlalu percaya kepada istrinya atau istrinya yang tidak pantas dipercaya, atau karena kedua-duanya sekaligus. Entah karena ia meragukan kesetiaan istrinya atau istrinya memang terbukti tidak setia, atau karena keduanya sekaligus.
Ada banyak kasus yang bahkan lebih parah, terjadi di masyarakat. Kita mungkin sering mendapati kasus-kasus itu diberitakan di media massa. Beberapa bulan yang lalu misalnya, seorang istri memasukkan laki-laki lain ke rumahnya di tengah malam saat suaminya masuk kerja shift tiga. Suaminya yang saat itu pulang mendadak marah karena ada lelaki tanpa baju terbirit-birit keluar dari rumahnya. Kejadian yang terjadi di sebuah daerah di Jawa Timur itu menjadi terkenal karena para tetangga mendemo memprotes wanita itu.
Bulan berikutnya juga ada kejadian mirip di daerah lain. Bedanya, wanita yang berselingkuh ditinggal kerja suaminya ke luar kota.
Betapa runyamnya hidup seperti itu. Ketika istri tidak setia. Ketika istri tidak menenangkan. Kalaupun tidak sampai pada level selingkuh separah dua kasus terakhir di atas, istri yang tidak setia 100% akan cukup menguras emosi suami. Ketidaktenangan saat berada di luar rumah, terlebih saat bekerja, tentu sangat mengganggu kesuksesan suami. Ibadah terpengaruhi tidak tenang, shalat tidak khusyu', dan seterusnya.
Akhwat, adalah wanita istimewa. Insya Allah tidak berlebihan jika saya menyebutkan demikian. Celupan tarbiyah Islamiyah membentuknya menjadi pribadi muslimah yang menjadikan iman sebagai orientasinya. Jadilah kesetiaan kepada Allah dan rasul-Nya sebagai prinsip hidupnya. Dengan demikian, kesetiaan kepada suami, kesetiaan pada ikatan pernikahan adalah harga mati yang terus dijaga sebagai wujud kesetiaan kepada Allah dan rasul-Nya. Suami di rumah maupun pergi, bersamanya maupun keluar kota, travelling atau bekerja, istri tetap setia; menjaga kepercayaan suaminya, menjaga kehormatan diri, rumah dan keluarganya.
Menikah dengan akhwat, dengan demikian merupakan langkah membangun keluarga yang tenang; sakinah. Suami tenang ketika di rumah, tenang pula ketika keluar rumah. Suami 100% percaya kepada istri, istri 100% menjaga kepercayaan itu. Suami tidak terganggu dengan prasangka terhadap istri, sehingga emosinya stabil dan terjaga. Ia pun bisa lebih khusyu' dalam beribadah, fokus dalam bekerja, concern dalam meniti karir dan serius dalam berdakwah.
"Maukah kutunjukkan kepadamu sebaik-baik milik lelaki?," sabda Rasulullah suatu ketika kepada Umar bin Khatab, "yaitu istri salihah yang jika dipandang suaminya ia menyenangkan, jika diperintah ia mentaati, dan jika ditinggal pergi ia menjaga diri."
Karakter wanita shalihah dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud di atas insya Allah ada dalam diri akhwat. Karena itulah mengapa kita perlu -bahkan harus- menikah dengan akhwat. Bagaimana pendapat antum? [Muchlisin]
Cukup lama orang yang tadinya satu pesawat denganku itu menelepon istrinya. Kepergiannya ke luar pulau ternyata "dimanfaatkan" oleh istrinya untuk pergi jalan-jalan.
Bukan hanya lelaki itu yang kepergiannya dibayang-bayangi kekhawatiran dan ketidaktenangan. Ada sekian banyak -ratusan ribu sampai jutaan- suami yang galau ketika meninggalkan rumah karena istrinya. Entah karena ia tidak terlalu percaya kepada istrinya atau istrinya yang tidak pantas dipercaya, atau karena kedua-duanya sekaligus. Entah karena ia meragukan kesetiaan istrinya atau istrinya memang terbukti tidak setia, atau karena keduanya sekaligus.
Ada banyak kasus yang bahkan lebih parah, terjadi di masyarakat. Kita mungkin sering mendapati kasus-kasus itu diberitakan di media massa. Beberapa bulan yang lalu misalnya, seorang istri memasukkan laki-laki lain ke rumahnya di tengah malam saat suaminya masuk kerja shift tiga. Suaminya yang saat itu pulang mendadak marah karena ada lelaki tanpa baju terbirit-birit keluar dari rumahnya. Kejadian yang terjadi di sebuah daerah di Jawa Timur itu menjadi terkenal karena para tetangga mendemo memprotes wanita itu.
Bulan berikutnya juga ada kejadian mirip di daerah lain. Bedanya, wanita yang berselingkuh ditinggal kerja suaminya ke luar kota.
Betapa runyamnya hidup seperti itu. Ketika istri tidak setia. Ketika istri tidak menenangkan. Kalaupun tidak sampai pada level selingkuh separah dua kasus terakhir di atas, istri yang tidak setia 100% akan cukup menguras emosi suami. Ketidaktenangan saat berada di luar rumah, terlebih saat bekerja, tentu sangat mengganggu kesuksesan suami. Ibadah terpengaruhi tidak tenang, shalat tidak khusyu', dan seterusnya.
Akhwat, adalah wanita istimewa. Insya Allah tidak berlebihan jika saya menyebutkan demikian. Celupan tarbiyah Islamiyah membentuknya menjadi pribadi muslimah yang menjadikan iman sebagai orientasinya. Jadilah kesetiaan kepada Allah dan rasul-Nya sebagai prinsip hidupnya. Dengan demikian, kesetiaan kepada suami, kesetiaan pada ikatan pernikahan adalah harga mati yang terus dijaga sebagai wujud kesetiaan kepada Allah dan rasul-Nya. Suami di rumah maupun pergi, bersamanya maupun keluar kota, travelling atau bekerja, istri tetap setia; menjaga kepercayaan suaminya, menjaga kehormatan diri, rumah dan keluarganya.
Menikah dengan akhwat, dengan demikian merupakan langkah membangun keluarga yang tenang; sakinah. Suami tenang ketika di rumah, tenang pula ketika keluar rumah. Suami 100% percaya kepada istri, istri 100% menjaga kepercayaan itu. Suami tidak terganggu dengan prasangka terhadap istri, sehingga emosinya stabil dan terjaga. Ia pun bisa lebih khusyu' dalam beribadah, fokus dalam bekerja, concern dalam meniti karir dan serius dalam berdakwah.
"Maukah kutunjukkan kepadamu sebaik-baik milik lelaki?," sabda Rasulullah suatu ketika kepada Umar bin Khatab, "yaitu istri salihah yang jika dipandang suaminya ia menyenangkan, jika diperintah ia mentaati, dan jika ditinggal pergi ia menjaga diri."
Karakter wanita shalihah dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud di atas insya Allah ada dalam diri akhwat. Karena itulah mengapa kita perlu -bahkan harus- menikah dengan akhwat. Bagaimana pendapat antum? [Muchlisin]





24 komentar:
Subhanallah,.Bidadari dunia akhwat yg salehah
TIDAK HARUS menikah dengan akhwat.
Menikah dengan BUKAN akhwat juga merupakan ladang pahala. Pahala untuk selalu berdakwah, menyampaikan nilai2 Islam,mentarbiyah dan melahirkan akhwat baru.
Insya Allah pahalanya minimal dunia dan seisinya jika sang "pemimpin" bisa menjadi perantara hidayah.
Bukankah Nabi juga menikahi perempuan2 yang "belum terbina"?
anonim #2
: tapi apakah akhlak kita sudah seperti nabi? bisa menyampaikan dakwah yang dapat mereka terima??? dan memberi hidayah kepada yang `bukan akhwat`, hidayah ada di tangan Allah saudara.
Insya Allah, nikah sama siapa saja..
Jika niatnya memang da'wah, insya Allah berkah.. :D
masa hrs menikah dgn ikhwan :) kl penggunaan kata akhwat sj, itu berlaku umum, saudari/wanita. Alangkah lbh baiknya menggunakan kata2 wanita sholehah. Bukankah Rosululloh menyarankan nikahilah wanita karena kesholehannya? apakah sholehah identik dgn akhwat? sejauh pengetahuan sy, akhwat bermakna saudara perempuan seakidah/muslimah. IMHO, prioritas utama memang wanita sholehah yg agamanya baik. Tp kalaupun tidak minimal mereka/wanita2 tsb memiliki karakter yg baik atau berkecendurangan kepada kebaikan. Sebagai suami/calon suamilah yg bertugas membimbing istri/calon istri.
Kejadian nyata yang menakutkan,..astagfirullah semoga Allah menghindarkan kita dari istri seperti pada cerita di awal. Mungkin istri adalah pencerminan kita, berusaha memperbaiki diri itu kunci mendapatkan wanita sholehah..
dakwah yang menggugahh, :)
Menikah dgn akhwat itu sangat bagus.dengan yg masih awam jg ndak masalah.yg pntang suami bisa mengarahkan kejalan yg di ridhoi oleh Alloh swt.ikhtiyar dan do'a itulah senjata kita.semoga Alloh swt memudahkan urusan kita semua amiin
gak bener tu, ada juga akhwat yg gak jelas! akhwat itu diluarnya aja bagus!! mending nikah dg y bukan akhwat tapi akhlaknya bagus! daripada dengan akhwat yg tiap hari marahin suami! saya nkah dg akhwat yg tingkat kaderisasinya bagus, tapi tiap hari dia memarahi saya dan dia tetap pergi keluar kota meski tanpa izin saya!
memangnya apakah semua orang tarbiyah baik?ana pernah menemui banyak pasangan ikhwah yang juga bermasalah...tulisan ini bagus, namun perlu diperdalam lagi, akhwat tarbiyah seperti apa...ana sendiri juga orang tarbiyah.
AKHWAT??? wanita sholehah tepatnya...jgn mengkotak2an berdasarkan penggunaan tata bahasa yg memiliki arti berbeda disetip org.
arti umum akhwat=saudara wanita. akhwat adalah semua wanita yg seiman...
Wanita sholehah or yg mo belajar u menjd sholehah akan menjaga diri, keluarga, harta suaminya,dll.
terima kasih.. tulisannya "membantu" para akhwat yg sampai saat ini masih menantikan dan mengharap datangnya ikhwan yg baik utk menjadi pemimpin rumah tangganya dan melahirkan jundi2 penerus dakwah ini.
akhwat jg manusia, ada khilaf ada salah. tp keberadaannya, kesediaannya, dan kecimpungnya dia di jalan dakwah ini merupakan nilai plus yg mungkin tdk dimiliki oleh perempuan sholihah lain. jalan dakwah yg terjal memungkinkan adanya distorsi akhlaq, distorsi kepribadian, dll, tp itu manusiawi dan ada murobbi dan para asatidz yg siap me"normal"kan kembali, insya Allah.
para ikhwan, tidakkah kalian ingin memiliki perempuan sholihah yg hidupnya didedikasikan jg utk Allah dan Rosulnya? paling tidak, ketika dia diberikan Allah kesemptan utk melahirkan anak2, dia visikan anak2nya sbg mujahid dakwah, penghafal Al-Quran, anak2 yg Robbaniyun.
wallahu'alam bishowwab.
Ibarat benih, akhwat adalah benih yang sudah diseleksi/punya kwalitas, namun ketika diperjalanan hasilnya tidak seperti yang ia inginkan berarti si empunya "benih" tadi bisa jadi yang bermasalah .
Afwan,,Memangnya wanita sholihah hanya "akhwat yang mendptkn sentuhan tarbiyah"??????????
Lalu apakah yg berada d jalan dakwah yg terjal itu jg hanya muslimah yg mndapatkn julukan "akhwat" tersebut??
Jika Allah sudah tetapkan jodoh seseorang manusia itu, akhawat atau enggak, tiada siapa yg bisa menghalang. Itukan sudah takdir, dan percaya pada takdir / qada' dan qdar Allah swt itu, adalah bagian dari aqidah seorang mukmin.
Jika dia belum akhawat atau sudah, maka, itu adalah tanggungjawab suami utk mendidiknya, supaya kedua2nya pebih hampir kpd Allah swt... Enggak begitu? Supaya rumah tangga itu, aman dan harmonis. Penuh sakinah.
Wallahu 'alam
masa nikah sama ikhwan..hehe
saya kira penggunaan kata akhwat gak perlu dikritisi, toh sebenarnya pembaca faham maksudnya wanita sholihah yang sudah terbina.
saya yakin artikel di atas bagian dari representasi hadits tentang kriteria wanita yang Rasul anjurkan untuk dinikahi. tidak perlu meributkan apa yang tidak perlu diributkan.
Jzklh wat penulis yang sudah mau berbagi pemahaman.
Pokoknya akhwat yang tarbiyah. Banyak perempuan yang baik akhlaqnya, tapi orientasi hidup sebatas dunia. Akhwat yang tarbiyyah, insya Alloh orientasi hidupnya mardhotillah. Akhlak dan perilaku bisa saja bertambah dan berkurang, tapi orientasi hiduplah yang utama. Orientasi hidup diperoleh dari proses tarbiyah yang panjang, pemahaman yang utuh, dan keyakinan yang mendalam.
Menggunakan kata2 akhwat kok kesannya gimana gitu? Sependapat dengan salah satu komentar di atas, penggunaan kalimat wanita sholehah, lebih sesuai
sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita sholihah.....sebaik-baik akhwat adalah yang sholihah......sebaik-baik ikhwan adalah yang sholih.....baik syariatnya..baik akhlaknya...baik lahir dan batinnya...indahnya tidak saja di dunia...tetapi hingga di akhirat kelak.....aamiin
lor..pasal istilah aja sudah dibikin ribut..
bagi sesuatu gerakan, selalu memanggil wanita yg ditarbiyah itu dengan panggilan akhwat.. inyallah, akhwat itu adalah wanita solehah atas asbab ditarbiyah..
mana mungkin orang yg gak pernah ditarbiyah menjadi solehah..
akhwat disini beerti wanita solehah.. engak gitu?
-shahniz-
Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezki yang mulia (surga) (QS An Nur:26)
kalau laki-laki islam ya menikahnya dengan akhwat.
kalau wanita islam ya menikahnya dengan ikhwan.
:)
wanita shalehah barangkali lebih pas ?!
Tampaknya kata 'Akhwat' di Indonesia mengalami penyempitan makna sebagaimana dikenal terhadap banyak kata-kata lainnya (lupa istilahnya apa), contoh kata 'Madrasa', yang sebenarnya artinya sekolah (secara umum) tapi dalam penggunaannya orang mengkhusukan kata 'madrasah' untuk sekolah Islam. Wallahu a'lam bissawab
Mungkin ada segelintir orang tidak familiar dgn istilah 'akhawat'
cuma di artikel ini..membawa maksud akhawat adalah saudari perempuan yang mendapat tarbiyyah
tarbiyyah yang diperolehi daripada usrah, mukhyam, katibah, dll (wasilah tarbiyyah)
hanya orang yang ditarbiyyah faham istilah ini..
tapi bukan membawa maksud orang yang tak ditarbiyyah tidak solehah..
sekadar pandangan..ayuh berlapang dada bukan salah menyalah.:)
Poskan Komentar