Assalaamu'alaikum ,  Ahlan wa Sahlan  |  Write for Us  |  Kontributor  |  Pasang Iklan

Puasa 27 Rajab atau Puasa Isra’ Mi’raj

Diposkan oleh Admin BeDa pada Sabtu, 16 Juni 2012 | 12.00 WIB

27 Rajab dipercaya sebagai tanggal terjadinya Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW. Ternyata, ada sebagian orang yang berpuasa khusus di hari itu dengan alasan bahwa hari itu adalah hari Islam, di mana Allah SWT memberi anugerah besar kepada Rasulullah dengan Isra’ Mi’raj yang terjadi pada hari itu.

Bagaimana sesungguhnya puasa 27 Rajab itu, adakah dalilnya? Berikut jawaban Syaikh Dr Yusuf Qardhawi yang beliau tulis dalam Fiqih Puasa:

Semua ini tidak ada dalilnya dalam syariat puasa. Allah SWT telah memerintahkan kaum muslimin untuk mengingat nikmat besar yang dianugerahkan kepada mereka, sebagaimana nikmat dalam Perang Ahzab.

Ingatlah nikmat Allah kepada kalian, ketika datang pasukan-pasukan kepada kalian, maka Kami utus angin dan pasukan tak terlihat untuk menghancurkan mereka” (QS. Al Ahzab : 9)

Meskipun demikian, mereka tidak pernah mengingat hari-hari ini. Semua melupakan nikmat ini, tenggelam oleh nikmat syawal dan lain-lain.

Dalam Zaadul Ma’ad, Ibnu Qayyim Al Jauziyah berkata, “Para sahabat dan tabiin tak pernah mengkhususkan malam isra’ dengan amalan tertentu, tidak pula memperingatinya dengan acara tertentu. Oleh karena itu, tidaklah malam isra’ dianggap sebagai malam yang paling utama bagi Rasulullah.”

“Tak ada dalil yang diketahui tentang bulannya (terjadi isra’ mi’raj), tentang sepuluh harinya, apalagi hari H nya. Bahkan nukilan tentang itu semua terputus riwayatnya dan saling berselisih. Tak ada yang qath’i tentangnya dan tak ada syariat bagi umat Islam untuk mengistimewakan malam (27 Rajab) itu dengan shalat atau lainnya.”

Dengan demikian, meskipun malam 27 Rajab telah termasyhur sebagai malam Isra’ dan Mi’raj, sesungguhnya tak ada dalil tentang itu.

Jadi, demikianlah puasa 27 Rajab atau puasa Isra’ Mi’raj. Syaikh Dr Yusuf Qardhawi telah menerangkan bahwa puasa itu tak ada dalilnya. []


10 komentar:

Ittiba Sunnah mengatakan...

Memang begitulah sbagian muslim tertipu syubhat. Amal sunnah tdk disukai, amal bid'ah dijalankan. sepwrti puasa 27 rajab ini

Anonim mengatakan...

tulisan seperti ini perlu untuk diperbanyak, agar umat mengerti mana yang sunnah dan mana yang bid'ah

Muslimah mengatakan...

Alhamdulillah, akhirnya dapat referensi puasa 27 Rajab dari ulama terpercaya sekelas Syaikh Qardhawi. Syukran

Anonim mengatakan...

Rasulullah bersabda puasalah pada bulan-bulan haram(dzulqaidah,zulhijjah,muharram dan rajab)riwayat Abu dawud,Ibnu Majah dan Ahmad

danil setiawan mengatakan...

jazakumullah khairn atas sharingnya

Anonim mengatakan...

dsr muahamdiyah....


-cah surip-

Rumah Al Banna mengatakan...

Alangkah bagusnya kalau amaliyah ibadah kita disertai dengan Ilmu

ALAT BEKAM mengatakan...

Puasa masih terasa berat...mungkin lingkungan tidak mendukung..! atau hati yg masih lemah..!

Aki Adnani mengatakan...

Kisah Isra-Mi’raj yg sampai kepada kita berasal dari penuturan sahabat Anas bin Malik, dari Abu Dzar Giffari dan Malik bin Sha’sha’ah. Penulisan seperti ini kita sebut Alhadits. Pada umumnya terdapat dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim. Alquran sendiri dalam QS17:1 menyebutkan bahwa Rasulullah diperjalankan (kalimat muta’adiy/transitif) oleh Dzat Mahasuci (Subhana) dari masjidil Haram ke Masjidil Aqsha saja. Destinasinya adalah hanya sampai Masjidil Aqsha saja. Disebutkan perjalanan malam karena ada kata “laylan” yg berarti malam. Dan ini adalah penggalan pertama dari satu ayat surat Al Isra atau Bani Israil ayat 1. Penggalan (anak kalimat) ke II adalah : Yang telah (pernah) Kami berkahi sekelilingnya. Dari anak kalimat ini semestinya ditelusuri : siapa, apa atau dimana yg telah Allah berkahi itu?. Apakah yang diisra-kannya (Rasulullah SAW)?, apakah perjalanannya (Isra-nya)? atau Masjidil Haram atau Masjidil Aqshanya?. Sedangkan anak kalimat ke III adalah: Dalam rangka Kami (Allah) akan memperlihatkan ayat-ayat Nya kepada Rasulullah. Pertanyaannya, ayat-ayat mana saja yang akan diperlihatkan kepada Rasulullah itu? apakah ayat-ayat setelah QS17:1 hingga ayat ke 8 atau hingga ayat seratussebelas, sesau dg jumlah ayat-ayat surah Al Isra ini? Atau memperlihatkan penghuni langit dunia hingga langit ketujuh, sidratul muntaha, baytul Ma’mur atau seluruh isi Alquran yg belum turun setelah peritiwa Isra? Kalau penggalan ke IV: Sesungguhnya Dia Mahamendengar, sudah berulang kali disebut di berbagai ayat. Kemudian Anas bin Malik menyertakan peristiwa MI’RAJ yang samasekali tidak pernah disinggung oleh Alquran, tiba-tiba para ulama menyodorkan surah An Najm ayat 1 hingga ayat 18 sebagai justifikasi peristiwa Mi’raj, terkait dg sebutan SIDRATUL MUNTAHA, Para ulama terseret (terlalu mempercayai secara instant, tanpa analisis) kepada pemikiran Anas bin Malik, dari mana tahunya sidratul muntaha itu terletak di langit?. Yg dipaparkan Alquran adalah ketika penyampai wahyu itu berada diufuk yang tinggi kemudian mendekat kepada Rasulullah. Setelah berjarak dua busur panah atau bahkan lebih dekat lagi, barulah wahyu itu disampaikan. NAZLATAN UKHRA; berarti: pemunculan atau turunnya pada kesempatan yg lain. Boleh jadi, waktu malaikat turun pertamakali di gua Hira. Demikian juga sebutan BAITUL MA’MUR (QS52:4) yg kedua nama tersebut masing-masing hanya disebut sekali saja dlm Alquran.
Kalau mau berpegang kepada Alquran, seperti inilah seharus kisah Isra-Mi’raj itu dibedah.
Tegasnya kisah Isra mi’raj yang kita junjung tinggi, sama sekali tidak seirama dengan ayat-ayat Alquran. Mau bukti? Kontak 08158863049 atau mustafaadnani@gmail.com.

Anonim mengatakan...

makasih atas infonya.Tp infonya tolong diperbanyak lg donk :)

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...