Assalaamu'alaikum ,  Ahlan wa Sahlan  |  Write for Us  |  Kontributor  |  Pasang Iklan

Penentuan 1 Ramadhan, NU – Muhammadiyah Berjuang Agar Serentak

Diposkan oleh Bersama Dakwah pada Kamis, 16 Mei 2013 | 08.00 WIB


Umat Islam terus mendambakan kebersamaan memulai puasa Ramadhan. Penentuan 1 Ramadhan yang serentak antara ormas-ormas Islam menjadi hal yang sangat diharapkan. Menanggapi hal itu, dua ormas Islam terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah terus berupaya mencapai kompromi agar penentuan awal bulan Islam, termasuk 1 Ramadhan, menjadi kesepakatan bersama.

"Kita berjuang keras agar tercapai kompromi (dengan NU)", Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah Syamsul Anwar.

Kendala belum adanya sistem waktu Islam, menurut Syamsul, menjadikan kesepakatan penentuan awal bulan masih belum berhasil.

"Tapi persoalannya bukan hanya kompromi. Persoalannya adalah umat Islamtidak mempunyai sistem waktu Islam sehingga Hari Raya tidak bisa dirayakan secara serentak," lanjut Syamsul.

NU juga mengharapkan hal yang sama agar kebersamaan seluruh umat Islam di Indonesia dalam memulai Ramadhan bisa tercapai.

Sekretaris Lajnah Falakiyah NU Nahari Muhlis menjelaskan bahwa NU juga memiliki kesamaan dengan Muhammadiyah, yakni menggunakan hisab (perhitungan). Hanya saja, NU memverifikasi benar tidaknya hitungan itu dengan cara melihat (rukyat).

"Kami juga melakukan hisab (perhitungan) dulu, lalu kita verifikasi benar tidaknya hitungan itu dengan cara melihat (rukyat). Kalau belum terlihat betul, kami belum menjatuhkan tanggal," kata Nahari dikutip dari Republika, Kamis (16/5).

Ia berpendapat, metode yang digunakan Muhammadiyah berhenti di wujudul hilal. Wujudul hilal adalah posisi bulan berada di atas 0 derajat.

Sedangkan berdasarkan kesepakatan di kawasan Asia, tinggi hilal adalah 2 derajat. Maka, kemungkinan bulan sudah bisa terlihat. Perbedaan kriteria inilah yang menyebabkan perbedaan penentuan awal Ramadhan atau Idul Fitri.

"Jika angka hilal itu dinaikkan menjadi 2 derajat, mungkin bisa terjadi kompromi," imbuh Nahari. [IK/Rpb/bsb]

Iklan Anda

8 komentar:

Anonim mengatakan...

kesepakatan untuk mufakat dalam penentuan 1 ramadhan maupun 1 syawal mutlak diperlukan, dan itu sesungguhnya bisa.persatuan/ukhuwah lebih didahulukan daripada perdebatan maslah khilafiayah

Anonim mengatakan...

Yang diperjuangkan seharusnya penentuan titik dimana dimulainya perhutungan waktu (hisab) dan melihat hilal (rukyat) selama itu tidak diperjuangkan akan amat sulit untuk sama. Karena Agama Islam lahir di Makah sebaiknya disanalah tempat dimulainya titik perhungan waktu dan melihat hilal bukan disembarang tempat.

Anonim mengatakan...

Yang diperjuangkan seharusnya penentuan titik dimana dimulainya perhitungan waktu (hisab) dan melihat hilal (rukyat) selama itu tidak diperjuangkan akan amat sulit untuk sama. Karena Agama Islam lahir di Makah sebaiknya disanalah tempat dimulainya titik perhitungan waktu dan melihat hilal bukan di sembarang tempat.

Anonim mengatakan...

selama masih ada yang keras kepala pada para pemimpinnya, rasanya hal tersebut akan sulit terwujud.

Anonim mengatakan...

Ya gak bisa ditetapkan awal Ramadhon itu dari titik awal yaitu di Makkah..sebab agama jadi kisruh..lha kalo sholat..?apa harus dari Makkah gak logika lah..yang jelas perbedaan waktu dan garis lintang negara aja sudah beda,,jelah waktupun berbeda,maka qaedah itu harus dilihat dari dasar dalil qu'an atau hadist yg menjadi rujukan didalam masalah khilafiyah itu..kita lihat dari Alqur'an kalau tidak ada ya kembali ke Hadist kalo tidak maka ke Ijma' Ulama atau kekias..jadi gak bisa sembarangan menetapkan awal ramadhan tsb kalo bukan ahlinya ya ikuti yg ahlinya..

ablikh siddiq mengatakan...

bila tahun ini tidak serentak ramadhan dan idul fitri di indonesia, saya mendoakan semoga pemuka-pemuka agama di indonesia ini di azab oleh allah swt, amin

ablikh siddiq mengatakan...

apagunanya pemimpin klu tidak bisa menyatukan

M. SUPRI ASSYAGILY M.Ag mengatakan...

kalau kita ingin selamat....
kenepa kita tidak mengikuti tuntunan Rosul, Puasa Ramadhan diwajibkan setelah kita melihat Hilal atau bulan "bukan wujudul Hilal (adanya bulan)"......hati-hati dengan fitnah zaman ini...............M. Supri Assyagily,
M.Ag

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...