728x90 AdSpace

Keajaiban Terowongan Gaza

Latest News

Senin, 24 Juni 2013

HTI Nasehati Muhammadiyah Soal Penetapan Awal Ramadhan

Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) memberikan nasehat kepada Muhammadiyah tentang penentuan awal bulan Hijriyah yang menggunakan hisab wujudul hilal. HTI sendiri dalam menetapkan awal dan akhir bulan suci Ramadhan berdasarkan melihat hilal (rukyatul hilal).

“Kalau HTI berdasarkan Hadits HR Muslim no.1810, dari Abu Hurairah RA, ‘Berpuasalah kalian karena melihatnya (hilal) dan berbukalah kalian karena melihatnya (hilal). Apabila pandangan kalian terhalang mendung, maka hitunglah tiga puluh hari’,” kata Ketua DPP HTI Farid Wajdi seperti dikutip Fimadani, Senin (24/06).

Farid menjelaskan, penetapan awal dan akhir Ramadhan dengan rukyatul hilal secara global. Jika hilal terlihat di sebuah daerah, maka berlaku bagi seluruh daerah lain.

“Kalau di suatu daerah melihat hilal, maka daerah lain melaksanakan ibadah puasa dan itu dilaksanakan secara global,” papar Farid.

Menurut Farid, perbedaan awal dan akhir puasa yang terjadi sekarang ini bukan perbedaan metodologi. Tapi diakibatkan oleh ego nasionalisme.

“Masing-masing negeri muslim menetapkan sendiri-sendiri awal dan akhir Ramadhan berdasar hasil perhitungan atau rukyah yang didapat di wilayah negara itu,” pungkas Farid.

Lebih jauh Farid menilai, jika ada khilafah Islamiyah, perbedaan penetapan awal dan akhir Ramadhan bisa diselesaikan.

“Maka perlu adanya Khilafah Islamiyah agar dapat mempersatukan penetapan awal dan akhir Ramadhan,” tandasnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, Pimpinan Pusat Muhammadiyah menetapkan 1 Ramadhan 1434 H jatuh pada Selasa, 9 Juli 2013. Sementara sejumlah ormas Islam lainnya, termasuk Nahdlatul Ulama (NU) menunggu hasil rukyatul hilal yang kemudian diumumkan pemerintah melalui sidang itsbat. [AM/Fmd]
Solusi dengkur
HTI Nasehati Muhammadiyah Soal Penetapan Awal Ramadhan
  • Title : HTI Nasehati Muhammadiyah Soal Penetapan Awal Ramadhan
  • Posted by :
  • Date : 19.30
  • Labels :
  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

13 komentar:

  1. Salah Judul t artikelnya...

    BalasHapus
  2. Kalau ada khilafah islamiyah, akan sama semuanya?

    BalasHapus
  3. Mana isi mengingatkan HTI terhadap Muhammadiyah,, sepertinya artikel ini seperti mencocok2 kan tanpa jelas isinya,,

    BalasHapus
  4. Walaupun ada khilafah tidak bisa menyatukan kebersamaan dalam menentukan Awal Bulan,termasuk awal Bulan Ramadlan,karena lain daerah memang tidak tentu sama (sama sama melihat Hilal) karena itu di kitab kitab fiqh dijelaskan secara lengkap.

    BalasHapus
  5. Muhammadiyah emang suka usdek (urusan dewek) alias gk Mau menyatu.

    BalasHapus
  6. perbedaan pendapat tdak jd masalah..yang terpenting adalah keyakinan kita dan perhtngan para organisasi menetpkn awal dan akhr ramadhan menurt dalil masing2 dan mnrt kayakinan msing2 jg...jd kita gak usah salinG mempojokkan. Yg lebh penting adalah kita semua dgn satu tujuan.

    BalasHapus
  7. Awal bulan Ramadhan ditentukan dengan dua cara:

    Pertama, terlihatnya hilal bulan Ramadhan. Walaupun yang melihatnya hanya satu orang yang adil. Berdasarkan hadits Abdullah bin Umar, dia berkata: “Orang-orang sedang mengamati hilal. Aku mengabari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bahwa aku melihatnya. Beliau kemudian berpuasa dan menyuruh orang-orang agar ikut berpuasa bersama beliau.” (HR. Abu Dawud no. 2342, Ibnu Hibban no. 3447, Hakim 1/423. Hadits ini shahih, lihat al-Irwa’ no. 908 karya al-Albani. Lihat “Panduan Lengkap Puasa Ramadhan” penerbit Pustaka al-Furqon).

    Kedua, jika hilal tidak terlihat karena suatu sebab -misalnya mendung- maka bulan sya’ban digenapkan 30 hari. Dasarnya adalah hadits Abu Hurairah, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Berpuasalah kalian karena melihat hilal dan berhari rayalah karena melihat hilal. Jika awal bulan samar bagi kalian maka genapkanlah bulan sya’ban hingga tiga puluh hari.” (HR. Bukhari no. 1909, Muslim no. 1081. Lihat “Panduan Lengkap Puasa Ramadhan”).

    Dari penjelasan di atas dapat kita pahami bahwa metode dalam penentuan awal puasa Ramadhan adalah dengan terlihatnya hilal. Jika hilal tidak terlihat, maka dengan menyempurnakan bilangan bulan sya’ban menjadi 30 hari. Inilah cara mudah dalam penentuan awal bulan Ramadhan yang selayaknya diamalkan oleh seluruh kaum muslimin.

    Barang siapa yang menyangka bahwa dia mengetahui masuknya awal bulan Ramadhan dengan cara selain yang telah ditetapkan oleh agama, maka sungguh dia telah bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya. Contohnya adalah orang yang mengatakan wajibnya mengikuti metode hisab dalam penentuan awal bulan Ramadhan, atau wajib berpegang dengan kalender. Metode hisab ini tidak bisa diketahui oleh setiap orang, apalagi metode hisab mengandung kemungkinan salah. Cara dan metode semacam ini memberatkan umat padahal Allah berfirman: “Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan.” (QS. Al-Hajj [22]: 78).

    Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah telah menyampaikan kesepakatan para sahabat bahwa metode hisab tidak bisa dijadikan sandaran dalam penentuan bulan Ramadhan dan keluarnya. (Majmu’ Fatawa 25/207. Lihat Fathul Bari 4/127. Lihat “Panduan Lengkap Puasa Ramadhan”).

    Maka, yang wajib bagi seluruh kaum muslimin adalah mencukupkan diri dengan apa yang telah disyari’atkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Marilah kita tinggalkan segala fanatisme golongan karena itu semua hanya akan menjauhkan kita dari menerima kebenaran. Marilah kita munculkan dalam hati kita rasa ingin mencari kebenaran meskipun hal itu harus bertentangan dengan sesuatu yang selama ini kita yakini.

    BalasHapus
  8. “Maka perlu adanya Khilafah Islamiyah agar dapat mempersatukan penetapan awal dan akhir Ramadhan,” tandasnya.

    Memang negara kita belum islami yah? kumandang adzan tetep terdengar, sholat tidak susah, lembaga2 islam berdiri, masjid2 tidak jarang?

    Masihkah menuntut Khilafah Islamiyah..?? napa..??

    BalasHapus
  9. muhammadiyah tetep kalem dan cool menyambut 1 ramadhan besok 9 juli

    BalasHapus
  10. muhammadiyah menetapkan awal ramadhan murni berdasarkan kesungguhan tanpa dikendarai kepentingan politik...jd klo zulkarnaen ngomong usdek itu wajar krn dia hny budak fanatik yg buta ilmu

    BalasHapus
  11. HTI katanya harus ada khilafah, Pemerintah sekarang bukan ulil amri, tapi mereka ikut Pemerintah dalam menentukan awal ramadhan? kok bertolak belakang ya? Hmm..

    BalasHapus
  12. saling menghargai menghormati akan lebih indah, yang terpenting mari kita berpuasa dengan khusu' mudah-mudahan kita termasuk hamba hambaNya yang dimuliakan.

    BalasHapus
  13. perhatikan hadist ini:
    Dari Abdullah Ibnu Amr Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Waktu Dhuhur ialah jika matahari telah condong (ke barat) dan bayangan seseorang sama dengan tingginya selama waktu Ashar belum tiba, waktu Ashar masuk selama matahari belum menguning, waktu shalat Maghrib selama awan merah belum menghilang, waktu shalat Isya hingga tengah malam, dan waktu shalat Shubuh semenjak terbitnya fajar hingga matahari belum terbit." Riwayat Muslim\
    karena sekarang ada mesin penghitung waktu (JAM) maka metode itu tidak banyak di gunakan lagi semua sudah tertuju pada jam

    BalasHapus

Top