<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-4661011185558750656</id><updated>2012-06-04T21:30:02.095+07:00</updated><category term='Hadits'/><category term='Siyasah Syar&apos;iyyah'/><category term='Bedah Buku'/><category term='Muslimah'/><category term='Download'/><category term='Ramadhan'/><category term='Renungan'/><category term='Tazkiyatun Nafs'/><category term='Al-Qur&apos;an'/><category term='Petunjuk Nabi'/><category term='Sirah Sahabat'/><category term='Anis Matta'/><category term='Doa'/><category term='Dakwah Kampus'/><category term='Strategi Dakwah'/><category term='Materi Tarbiyah'/><category term='Fiqih'/><category term='Dunia Islam'/><category term='Keluarga'/><category term='Kaifa Ihtada'/><category term='Khutbah Jum&apos;at'/><category term='Renungan Harian'/><category term='Taujih Pekanan'/><category term='Hasan Al-Banna'/><category term='Berita'/><title type='text'>Bersama Dakwah</title><subtitle type='html'>Blog tentang dakwah, tarbiyah, materi keislaman, info dunia islam, dan lain-lain</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://www.bersamadakwah.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4661011185558750656/posts/default/-/Bedah+Buku'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.bersamadakwah.com/search/label/Bedah%20Buku'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4661011185558750656/posts/default/-/Bedah+Buku/-/Bedah+Buku?start-index=26&amp;max-results=25'/><author><name>Admin BeDa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17749093855368398730</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-hD4D5mC_vlc/T7Guubv4RiI/AAAAAAAAEic/xrY3eBivBCM/s220/Bersama%2BDakwah%2B-%2Blogo%2Bprofil%2BFB.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>47</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4661011185558750656.post-3036610434642400440</id><published>2012-05-28T10:00:00.000+07:00</published><updated>2012-05-28T12:40:58.332+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bedah Buku'/><title type='text'>Ketika Mas Gagah Pergi dan Kembali</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-UenLGdHMQVY/T8L9NN7DxSI/AAAAAAAAErw/4u05Sow-s8U/s1600/Ketika+Mas+Gagah+Pergi+dan+Kembali.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://4.bp.blogspot.com/-UenLGdHMQVY/T8L9NN7DxSI/AAAAAAAAErw/4u05Sow-s8U/s320/Ketika+Mas+Gagah+Pergi+dan+Kembali.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Judul   : &lt;b&gt;Ketika Mas Gagah Pergi dan Kembali&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Penulis  : &lt;b&gt;Helvy Tiana Rosa&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Penerbit  : Asma Nadia Publishing House – Depok&lt;br /&gt;Cetakan ke : 3 &lt;br /&gt;Tahun Terbit : Januari 2012&lt;br /&gt;Dimensi  : 14 x 20.5 cm ; xii + 344 Halaman&lt;br /&gt;ISBN  : 978-602-96725-3-4&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sederhana. Itulah ciri dari kefenomenalan seorang Helvy Tiana Rosa (HTR) dalam setiap karyanya. Setiap gubahannya -puisi, cerpen ataupun novel- selalu mempunyai tempat tersendiri dalam hati para pembacanya. Maka, benarlah sebuah ungkapan bahwa sesuatu yang berasal dari hati akan mudah diterima pula oleh hati.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Mas Gagah Pergi dan Kembali (KMGPdK) –salah satu kumpulan cerpen HTR- adalah salah satu buktinya. Per Januari 2012, buku tersebut sudah mengalami tiga kali cetak ulang sejak diterbitkan pertama pada bulan Juli 2011 . Buku tersebut merupakan edisi revisi dari Ketika Mas Gagah Pergi yang pertama kali dipulikasikan oleh majalah &lt;i&gt;Annida&lt;/i&gt;  tahun 1993. Cerpen &lt;i&gt;Mas Gagah&lt;/i&gt; gubahan HTR ini sangatlah menyejarah. Benar-benar fenomenal sehingga dikenang oleh para pembacanya. Wajar jika mantan ketua FLP Pusat, M. Irfan Hidayatullah, mengatakan demikian, “Cerpen ini adalah karya pembuka bagi fiksi islami kontemporer Indonesia.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KMGPdK merupakan kisah seorang Gagah yang ‘sempurna’. Pemuda parlente pakar karate yang juga mahasiswa teknik di Universitas Indonesia. Ia tampan, pandai, supel dan juga kaya. Gagah awalnya adalah penggemar music rock. Namun, peta karakternya berubah drastis  selepas pulang dari KKN di Madura. Di sana ia bertemu dengan seorang kiyai yang membuatnya insyaf. Dari kiyai tersebut, Gagah sadar bahwa hidup selayaknya harus bermanfaat bagi orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia pun mulai aktif dalam berbagai aksi kegiatan sosial. Dalam sebuah perjalanan kebaikan ke puncak-bogor, nasibnya berakhir. Peristiwa itu terjadi ketika ia dan kawan-kawannya hendak melerai sebuah aksi anarkis sekelompok oknum yang hendak merobohkan sebuah masjid yang disinyalir sesat. Alih-alih untung, mereka malah dijadikan sasaran. Mereka dihajar sampai habis hingga dilarikan ke rumah sakit. Kritis. Gagah pergi. Meninggal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah pun berlanjut dengan ditemukannya sosok ‘mirip’ Gagah oleh adiknya, Gita. Simalakama. Ketika Gita ingin melupakan Gagah, Yang maha Kuasa malah menghadirkan sosok ‘Gagah’ lain dalam kehidupan Gita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia adalah seorang direktur dari sebuah perusahaan yang gemar menyebarkan kebaikan. Ia ditemui oleh Gita di bus, stasiun, hingga warung makan. Dimanapun ia berada di situlah ia menebarkan kebaikan melalui ceramah dan aksi sosialnya, seorang diri. Bahkan, nasib sang direktur ini mirip dengan Gagah. Ia dihakimi masa lantaran melindungi bocah kecil korban tawuran pelajar di kawasan Pasar Minggu. Sungguh! Pembawa kebenaran memang tak pernah sepi dari cobaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam buku terbitan Asma Nadia Publishing House ini, terdapat 15 cerpen dengan berbagai latar yang berbeda. Sehingga buku ini sangat cocok untuk dibaca oleh siapapun. Mulai Pelajar SD, SMP, SMA, hingga Mahasiswa dan orang tua sekalipun. Pasalnya, Mba’ Helvy benar-benar piawai dalam mengemas sebuah sajian. Tema yang diangkat adalah tema faktual. Bahasa yang digunakan adalah kesederhaan, enak dinikmati sembari menyruput kopi di pagi hari. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebut saja cerpennya di halaman 81, &lt;i&gt;Jalinan Kasih di Gerbong Kereta Api&lt;/i&gt;. Di sana beliau menceritakan derita anak-anak jalanan di kawasan kumuh stasiun Senen-Jakarta. Mereka terpaksa putus sekolah. Bahkan, oleh pihak-pihak tak bertanggung jawab, mereka diperas keringatnya dengan menjadi pengamen dan pengemis. Miris! Mereka pun hidup di gerbong-gerbong bekas yang seringkali dijadikan tempat mesum oleh para preman setempat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Datanglah seorang mahasiswa yang peduli. Dengan keterbatasannya, ia mengajak kawan-kawannya untuk memberi pelajaran gratis kepada anak-anak terlantar itu. Meski banyak tantangan, sang mahasiswa pantang mundur. Kisah ditutup dengan adegan khas Pemerintah Indonesia : Penggusuran yang menelantarkan! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di samping kedua cerpen tersebut. Pembaca akan disuguhi berbagai cerpen yang akan membuat anda terkesima karena penyajiannya yang sangat menarik. Penuh konflik, tidak mudah ditebak ujung dan pangkalnya. Semuanya pun mengandung hikmah yang bisa digunakan dalam menghadapi kehidupan yang semakin ganas ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak heran jika novelis nasional sekelas Habiburrahman El Shirazy mengomentari buku ini dengan mengatakan, “Buku ini sangat saya rekomendasikan untuk dibaca siapa saja. Alangkah baiknya bila Depdikbud mengupayakan agar buku ini tersebar di seluruh Indonesia dan dibaca anak-anak sekolah untuk pengembangan karakter mereka sebagai pemuda Indonesia.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, kita patut berbahagia karena cerpen ini akan segera difilmkan oleh SinemArt. Semoga segera dirilis. Bravo Mba’ Helvy! Bravo Sastra Indonesia! Indonesia Gagah!&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-UfH8tccdxoA/T6DxjT4SfII/AAAAAAAAEXw/NZ2Lvnh0Mdw/s1600/Usman+Alfarisi.jpg"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5631635773177718898" src="http://4.bp.blogspot.com/-UfH8tccdxoA/T6DxjT4SfII/AAAAAAAAEXw/NZ2Lvnh0Mdw/s1600/Usman+Alfarisi.jpg" style="cursor: pointer; float: left; height: 86px; margin: 0pt 10px 10px 0pt; width: 70px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Penulis : &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Usman Alfarisi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Penikmat Sastra &lt;br /&gt;Tinggal di Depok, Jawa Barat&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4661011185558750656-3036610434642400440?l=www.bersamadakwah.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.bersamadakwah.com/feeds/3036610434642400440/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.bersamadakwah.com/2012/05/ketika-mas-gagah-pergi-dan-kembali.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4661011185558750656/posts/default/3036610434642400440'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4661011185558750656/posts/default/3036610434642400440'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.bersamadakwah.com/2012/05/ketika-mas-gagah-pergi-dan-kembali.html' title='Ketika Mas Gagah Pergi dan Kembali'/><author><name>Admin BeDa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17749093855368398730</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-hD4D5mC_vlc/T7Guubv4RiI/AAAAAAAAEic/xrY3eBivBCM/s220/Bersama%2BDakwah%2B-%2Blogo%2Bprofil%2BFB.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-UenLGdHMQVY/T8L9NN7DxSI/AAAAAAAAErw/4u05Sow-s8U/s72-c/Ketika+Mas+Gagah+Pergi+dan+Kembali.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4661011185558750656.post-8854331587924008781</id><published>2012-05-07T07:00:00.000+07:00</published><updated>2012-05-07T07:53:00.772+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bedah Buku'/><title type='text'>The International Jew</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-vNK_3xUorw4/T6ccxFmdMVI/AAAAAAAAEag/aiG5jgcECEg/s1600/The%2BInternational%2BJew.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://3.bp.blogspot.com/-vNK_3xUorw4/T6ccxFmdMVI/AAAAAAAAEag/aiG5jgcECEg/s320/The%2BInternational%2BJew.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Judul buku: &lt;b&gt;The International Jew&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Penulis: &lt;b&gt;Henry Ford&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Penerbit: Hikmah, Kelompok Mizan&lt;br /&gt;Cetakan ke: II,&lt;br /&gt;Tahun terbit: November 2006&lt;br /&gt;Dimensi: 294 hlm, 13x20 cm&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yahudi ternyata telah mencengkram segalanya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setidaknya, itulah kata-kata yang paling mewakili rangkuman dari buku “The International Jew” karya Henry Ford, pendiri perusahaan mobil Ford yang sekaligus salah satu tokoh terpenting sejarah Amerika modern.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukti-bukti dari pernyataan tersebut dapat digambarkan dengan jelas jika kita melihat kondisi dunia saat ini, yang di antaranya adalah carut-marutnya perekonomian di dunia yang dikuasai oleh Amerika Serikat, yang notabene amat dikendalikan oleh kaum Yahudi di balik layar dan juga ketidakmampuan bangsa-bangsa di dunia dalam meredam arus liberalisme yang kebablasan. Ini terlihat dalam Protokol-protokol berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;“Kita harus memaksa pemerintahan-pemerintahan non-Yahudi untuk mengambil langkah-langkah sesuai dengan rencana-rencana kita yang mulai mendekati keberhasilan, dengan membidikkan tekanan opini publik yang diorganisir secara rahasia oleh kita dengan bantuan ‘kekuatan besar’ pers. Dengan beberapa pengecualian yang tidak berarti, keberhasilan itu sudah ada di tangan kita.”&lt;/i&gt; (Protokol VII)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;“Kita telah menyesatkan, mempesona, dan mendemoralisasi kaum muda non-Yahudi dengan cara memberikan pendidikan dalam hal prinsip dan teori yang jelas-jelas salah bagi kita, namun kita tanamkan pada benak mereka.”&lt;/i&gt; (Protokol IX)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;“Kita akan menghancurkan dunia hingga pada akhirnya para non-Yahudi akan menawarkan kita kekuasaan internasional dari alam, dan dengan posisi  tersebut memungkinkan kita tanpa kekerasan apa pun menyerap semua kekuatan negara dunia dan untuk membentuk pemerintahan adikuasa. Sebagai pengganti dari penguasa saat ini kita harus membentuk lebih dari satu yang disebut sebagai Pemerintah adikuasa.”&lt;br /&gt;“Kita harus mengarahkan pendidikan masyarakat goyim (non-Yahudi-penulis) tersebut. Sehingga kapanpun mereka mencapai sebuah persoalan yang mensyaratkan inisiatif, mereka akan berpangku tangan dalam ketidakmampuan.”&lt;/i&gt; (Protokol V)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum kita melangkah lebih jauh, kita kenali terlebih dahulu atas apa yang dimaksud dengan Protokol di sini. Protokol adalah rancangan-rancangan hasil pertemuan para pemuka terpelajar agama Zion (Protocols of Learned Elders of Zion) yang di dalamnya tersimpan rencana-rencana yang amat jahat untuk meraih tujuan mereka (kaum Yahudi), yaitu menguasai dan memimpin dunia sepenuhnya. Lebih lanjut lagi, mari kita simak penjelasan dari Henry Ford mengenai Protokol tersebut pada tanggal 17 Februari 1921,” Satu-satunya pernyataan yang bisa saya keluarkan berkenaan dengan Protokol itu adalah semuanya sesuai dengan apa yang tengah terjadi saat ini. Protokol-protokol itu sesuai dengan situasi dunia sampai saat ini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas, situasi apakah yang ramalannya di Protokol terjadi pada saat ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah fakta yang digambarkan di dalam buku tersebut yang diterbitkan oleh Hikmah, salah satu kelompok penerbit Mizan, di halaman 5-6:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Industri film; industri gula; industri tembakau; lima puluh persen lebih dari industri pengemasan daging; enam puluh persen lebih industri pembuatan sepatu; sebagian besar industri musik di negara ini; bisnis minuman keras; perhiasan; padi; kapas; minyak; baja; magazine authorship; distribusi media massa; bisnis peminjaman; dan banyak industri lain. Baik berskala nasional maupun internasional. Semuanya berada di bawah kontrol Yahudi Amerika, baik dilakukan sendiri maupun bekerja sama dengan jaringan Yahudi di luar negeri.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka tidaklah heran jika pusat kekuatan dunia saat ini saja (Amerika Serikat) faktanya ditunggangi oleh kaum Yahudi, bagaimana dengan negara-negara lain yang “taringnya” tidak “setajam” Amerika Serikat? Tentu saja jauh lebih banyak cengkraman kaum Yahudi di sana, sebagaimana penjelasan Benjamin Disraeli, Earl of Beaconsfield dan Perdana Menteri Inggris pada satu masa tertentu,” Anda tak akan pernah meneliti gerakan besar intelektual di Eropa tanpa orang-orang Yahudi berpartisipasi besar di sana. Jesuit-jesuit pertama adalah orang-orang Yahudi. Diplomasi Rusia yang misterius yang begitu mencemaskan Eropa Barat diorganisasikan dan secara prinsipil dikendalikan oleh Yahudi. Revolusi besar yang pada saat ini dipersiapkan di Jerman, dan akan terjadi, sebuah Reformasi kedua yang lebih besar, dan darinya begitu sedikit diketahui di Inggris, seluruhnya berkembang di bawah bantuan orang-orang Yahudi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenai fakta akan suatu konsekuensi dari arus liberalisme – yang membebaskan segalanya hingga tak lagi mempunyai konsep yang jelas – dibeberkan dalam rencana mereka yang tertuang dalam Protokol X, &lt;i&gt;“Ketika kita mulai memperkenalkan racun liberalisme ke dalam organisme pemerintahan, saat itulah seluruh kulit politisnya berubah.”&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa konsep liberalisme mengakibatkan konsep yang tidak jelas lagi (kabur)? Karena dengan konsep “keterbukaan” liberalisme, segalanya akan dipandang “boleh” dan tidak ada yang salah karena tidak memiliki batasan yang jelas. Karenanya, kaum Yahudi akan mudah bercokol di mana-mana dan menanamkan suatu paham baru yang begitu meyakinkan dan terlihat mampu “menyatukan” (karena mereka menjadi kebingungan dengan begitu banyaknya paham yang diperbolehkan) yang telah mereka rancang sejak lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;“Membuat semua orang frustasi dengan pertikaian, kebencian, persengketaan, kelaparan, penyakit, hasrat, sampai kaum non-Yahudi tidak dapat menemukan jalan keluar lain, kecuali merasa tertarik dengan uang dan kekuasaan kita.”&lt;/i&gt; (Protokol X)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, “wajarlah” jika pusat kekuatan dunia saat ini berada di tangan Yahudi, bukan negara Amerika Serikat ataupun negara lainnya. Hal ini diperjelas dengan “impian” mereka yang memang terbukti pada saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;“Agar tidak secara prematur menghancurkan institusi-institusi non-Yahudi, kita telah meletakkan tangan efisien kita pada institusi-institusi tersebut. Mereka tadinya begitu kaku dan teratur, tapi kita telah menggantikannya dengan bentuk administrasi yang bebas dan tidak teratur. Kita telah mengotak-atik jurisprudensi, hak, pers, kebebasan seseorang, dan yang terpenting, pendidikan dan budaya, tonggak penting bagi eksistensi bebas.”&lt;br /&gt;“Kita telah menyesatkan, memabukkan dan memerosotkan moral generasi muda non-Yahudi lewat pendidikan dalam hal prinsip dan teori yang jelas-jelas salah bagi kita, tapi kita tanamkan dalam benak mereka.”&lt;br /&gt;“Di luar hukum yang berlaku, tanpa melakukan perubahan nyata namun dengan menggoyangkannya lewat interpretasi yang berlawanan, kita telah menciptakan hasil yang menakjubkan.”&lt;/i&gt; (Protokol IX)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih jelasnya, di buku ini akan terdapat begitu banyak fakta yang mencengangkan yang disajikan begitu lugas dan nyata dan membuat kita semakin geram dan gemas atas sepak terjang kaum Yahudi ini. Maka sebagai kaum muslim, tentu kita takkan tinggal diam menghadapi kenyataan dunia seperti ini. Hanya dengan kekuatan-Nya dan perjuangan yang hebatlah kita bisa memenangkan kebenaran di atas kesesatan-kesesatan yang telah merajalela di muka bumi ini. Allahuakbar!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-IRJ6dKHD_cM/T6MzVV4uZnI/AAAAAAAAEZQ/KRdnRGBovss/s1600/Shabrina%2BFarha%2BNisa%2B-%2Bilustrasi.jpg"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5631635773177718898" src="http://1.bp.blogspot.com/-IRJ6dKHD_cM/T6MzVV4uZnI/AAAAAAAAEZQ/KRdnRGBovss/s1600/Shabrina%2BFarha%2BNisa%2B-%2Bilustrasi.jpg" style="cursor: pointer; float: left; height: 86px; margin: 0pt 10px 10px 0pt; width: 70px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Penulis : &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Shabrina Farha Nisa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Mahasiswi Institut Teknologi Bandung (ITB)&lt;br /&gt;Program Studi Kimia - angkatan 2008&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4661011185558750656-8854331587924008781?l=www.bersamadakwah.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.bersamadakwah.com/feeds/8854331587924008781/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.bersamadakwah.com/2012/05/international-jew.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4661011185558750656/posts/default/8854331587924008781'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4661011185558750656/posts/default/8854331587924008781'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.bersamadakwah.com/2012/05/international-jew.html' title='The International Jew'/><author><name>Admin BeDa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17749093855368398730</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-hD4D5mC_vlc/T7Guubv4RiI/AAAAAAAAEic/xrY3eBivBCM/s220/Bersama%2BDakwah%2B-%2Blogo%2Bprofil%2BFB.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-vNK_3xUorw4/T6ccxFmdMVI/AAAAAAAAEag/aiG5jgcECEg/s72-c/The%2BInternational%2BJew.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4661011185558750656.post-7063208921272676670</id><published>2012-04-02T23:00:00.003+07:00</published><updated>2012-04-02T23:01:28.303+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bedah Buku'/><title type='text'>Dakwah dan Manajemen Isu</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-bCGyKzl9n58/TyZP3Lik63I/AAAAAAAADh4/34uWdyjcIq8/s1600/Dakwah%2Bdan%2BManajemen%2BIsu.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://1.bp.blogspot.com/-bCGyKzl9n58/TyZP3Lik63I/AAAAAAAADh4/34uWdyjcIq8/s320/Dakwah%2Bdan%2BManajemen%2BIsu.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Judul buku : &lt;b&gt;Dakwah dan Manajemen Isu&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Penulis : &lt;b&gt;Eko Novianto&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Penerbit : PT. Era Adicitra Intermedia&lt;br /&gt;Cetakan ke : 1&lt;br /&gt;Tahun terbit : Ramadhan 1432 H/Agustus 2011&lt;br /&gt;Dimensi : xviii + 214 hlm., 21 cm&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semakin tinggi sebuah pohon, semakin kuat angin menerpanya. Demikian pula perjalanan dakwah. Semakin ia meningkat dan bertambah luas jangkauannya, semakin kencang tantangan yang dihadapinya. Diantaranya adalah, semakin gencarnya isu-isu yang akan dihantamkan kepadanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apalagi ketika dakwah berada di medan siyasi. Satu langkah yang benar bisa diisukan sebagai sebuah hal yang keliru. Misalnya dakwah mengamanahkan pemimpin muda untuk memimpin sebuah kota; dikembangkanlah isu ia tak akan mampu. Sebaliknya, saat dakwah menerjunkan kader terbaik, isu lain diluncurkan; bukankah tak pantas level dia “turun kasta.” Demikian pula saat dakwah berpihak pada umat, isu lain lagi yang dihembuskan; cari muka, kaki dua, dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang lebih sering dan relatif berbahaya adalah, jika isu telah didesain dengan matang untuk diarahkan secara personal kepada qiyadah dakwah. Entah itu dalam hal kapasitas, meragukan komitmen dan keikhlasan, harta serta jabatan, dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita patut bersyukur bahwa tarbiyah telah membentuk kita menjadi pribadi yang tak mudah dipengaruhi oleh fitnah dan isu. Namun kita tak bisa menutup mata bahwa sebagian dari kita termakan oleh fitnah dan isu-isu itu. Hingga ada yang kini berpisah, futur, atau setidaknya ragu-ragu. Karenanya kita perlu membangun sikap yang tepat dalam menghadapi isu yang dihantamkan kepada gerakan sehingga ia tak mempengaruhi kebersamaan. Sekaligus, bagaimana mengelola isu itu agar semakin menguatkan dakwah serta menjadi berkah bagi soliditas jamaah. Buku &lt;b&gt;Dakwah dan Manajemen Isu&lt;/b&gt; yang ditulis Eko Novianto ini bisa menjadi teman belajar kita memupuk keduanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada prawacana, buku ini menyadarkan kita bahwa mihwar muasasi yang menekankan kerja di bidang politik membawa efek atau resiko merebaknya isu negatif. Semakin terbuka gerakan dakwah, semakin mudah musuh-musuhnya menembakkan panah. Tetapi itulah sunnah dakwah dan asholahnya, ia harus menjadi seruan terbuka untuk semua orang, untuk semua golongan. Ia harus meluas menjangkau segala lapisan. Ia harus terus bergerak mengakses segala bidang. Termasuk politik. Termasuk pemerintahan. Biar semua yang berhak menerima dakwah menerimanya. Biar tak ada hujjah bahwa seseorang tak pernah mendengar seruan. Dan biar rahmat Islam benar-benar tersebar ke seluruh alam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal paling krusial untuk dapat menghadapi isu adalah masalah ilmu. Sekokoh apa pemahaman dan pondasi ilmu, sekokoh itulah ia menghadapi guncangan isu. Perkembangan dan kebaruan dalam dakwah adalah keniscayaan. Namun bersamanya akan timbul isu; ada yang berangkat dari keragu-raguan dan ada yang memang dihembuskan dari luar barisan. Perkembangan dan kebaruan itu merupakan kemajuan yang disambut oleh mereka yang pondasi ilmunya telah terbangun sebelum amal, tetapi ia bisa menjadi menyulitkan dan menghebohkan bagi mereka yang termakan isu akibat miskin ilmu. Karenanya, ilmu harus menjadi prioritas kita sebelum amal. Ini mengharuskan kita lebih serius dan perhatian kepada proses tarbiyah; di mana pondasi-pondasi ilmu itu ditanam dalam-dalam dan pilar-pilar pemahaman dipancangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal kedua untuk menghadapi dan mengelola isu, yang bisa kita garis bawahi dari buku &lt;b&gt;Dakwah dan Manajemen Isu&lt;/b&gt; ini adalah syura. Bukan hanya menjadikannya sebagai mekanisme dalam mengambil keputusan, tetapi juga memposisikannya sebagai mata air pergerakan; di mana segala langkah struktur dan kader berangkat dari sana dan tak ada yang berlawanan arus dengannya. Ini membutuhkan kualitas yang terus harus ditingkatkan, baik kualitas peserta syura maupun syura itu sendiri. Proses syura harus benar dengan memberikan kebebasan kepada seluruh anggota syura untuk berpendapat dan mengemukakan gagasan. Tentu banyak ragam gagasan dan justru karena itu diperlukan syura yang memilih hal terbaik dan menyatukan kebaikan. Setelah hasil didapatkan, itulah yang harus dilakukan. Diskusi ada dalam proses syura, namun setelah disepakati hasilnya yang ada hanya sami’na wa atha’na. Lalu isu-isu yang direkayasa musuh terhadap dan setelahnya takkan berpengaruh apa-apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana jika isu datang sementara kita belum mengantisipasinya dengan syura? Setiap kader dakwah sebenarnya memiliki kemampuan menganalisis isu itu, meskipun kadar kemampuan seorang kader berbeda   dengan kader lainnya. Tergantung faktor kecerdasan dan kecepatan berpikir, intuisi, bakat personal dan lainnya. Menganalisis isu berarti menyelidiki isu itu, menguraikannya, menghubungkannya dengan ilmu dan fakta, hingga mengidentifikasi kebenarannya atau cara mensikapinya. Jika belum cukup kesempatan menganalisis sebuah isu, potonglah ia dengan pertanyaan cerdas untuk menghindari desakan mempercayainya. Terhadap isu seperti itu, kader dakwah perlu melakukan beberapa sikap utama: menyadari pihak yang kerap menyebar isu, husnudzan pada qiyadah dan saudara seperjuangan, tak ikut menyebarkan berita yang belum jelas kebenarannya, menghentikan lajunya dengan pertanyaan cerdas, dan mengembangkan sikap waspada agar tak ikut menyebarkannya tanpa sadar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini juga mengingatkan kembali agar kita membudayakan tabayun, khususnya terhadap isu yang menyasar qiyadah atau personal ikhwah. Melaui tabayun kita mendapatkan kejelasan sekaligus keselamatan; dari buruk sangka dan merenggangnya ukhuwah kita. Dan jika ternyata melalui tabayun kita mendapati kader dakwah bersalah, ingatkanlah. Jangan biarkan kesalahan kecil kader dakwah menjadi hal besar yang merusak jamaah akibat ulah musuh-musuh dakwah menjadikannya bahan untuk melontar fitnah; satu fakta kebenaran dibumbui seratus kebohongan agar umat hilang simpati atas dakwah ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu masih banyak hal menarik dalam buku &lt;b&gt;Dakwah dan Manajemen Isu&lt;/b&gt; ini, diantaranya tentang musyarakah, mengatasi kekecewaan di jalan dakwah, kepemimpinan kharismatik dalam transformasi gerakan tarbiyah, hingga tugas struktur dakwah. Selamat membaca. [Muchlisin] &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4661011185558750656-7063208921272676670?l=www.bersamadakwah.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.bersamadakwah.com/feeds/7063208921272676670/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.bersamadakwah.com/2012/04/dakwah-dan-manajemen-isu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4661011185558750656/posts/default/7063208921272676670'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4661011185558750656/posts/default/7063208921272676670'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.bersamadakwah.com/2012/04/dakwah-dan-manajemen-isu.html' title='Dakwah dan Manajemen Isu'/><author><name>Admin BeDa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17749093855368398730</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-hD4D5mC_vlc/T7Guubv4RiI/AAAAAAAAEic/xrY3eBivBCM/s220/Bersama%2BDakwah%2B-%2Blogo%2Bprofil%2BFB.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-bCGyKzl9n58/TyZP3Lik63I/AAAAAAAADh4/34uWdyjcIq8/s72-c/Dakwah%2Bdan%2BManajemen%2BIsu.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4661011185558750656.post-6103267463239596459</id><published>2012-03-12T17:00:00.001+07:00</published><updated>2012-03-12T17:47:01.973+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bedah Buku'/><title type='text'>Beginilah Seharusnya Aktivis Dakwah!</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-b4ukOh1yH70/T1RzR9L3h_I/AAAAAAAADzg/Z3vDkUrmuYU/s1600/Beginilah%2BSeharusnya%2BAktivis%2BDakwah.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://1.bp.blogspot.com/-b4ukOh1yH70/T1RzR9L3h_I/AAAAAAAADzg/Z3vDkUrmuYU/s320/Beginilah%2BSeharusnya%2BAktivis%2BDakwah.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Judul Buku : &lt;b&gt;Beginilah Seharusnya Aktivis Dakwah!&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Penulis : &lt;b&gt;Satria Hadi Lubis&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Penerbit : Pro U Media&lt;br /&gt;Cetakan Ke : 1&lt;br /&gt;Tahun Terbit : 2011 &lt;br /&gt;Dimensi : 112 hlm., 12 x 20 cm&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*** &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarah dakwah kita telah membuktikan bahwa Allah SWT telah menganugerahkan kemenangan demi kemenangan dalam tiap tahapnya. Ibarat sebuah drama, tiap babak berakhir dengan kemenangan, meskipun di awal atau pertengahannya ada "pertarungan" seru yang membuat kita memar, berdarah, atau bergores luka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peralihan satu mihwar ke mihwar yang lainnya juga menunjukkan kemenangan. Bahkan, dengan pola jihad siyasi yang siklus pertarungannya dua sampai tiga kali dalam lima tahun, kemenangan itu bisa lebih sering dituai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satria Hadi Lubis melalui buku &lt;b&gt;Beginilah Seharusnya Aktivis Dakwah!&lt;/b&gt; Ini mengajak kita memahami hakikat kemenangan dan kesuksesan dakwah serta berupaya meraih kemenangan berikutnya setelah kemenangan saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Hakikat Kemenangan Dakwah&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;"Sungguh tak ada celah sedikitpun bagi kita untuk sombong dengan menganggap kemenangan itu adalah hasil upaya kita," kata Sayyid Qutb yang dikutip penulis di halaman 23, "baik upaya individual maupun jamaah. Kemenangan yang kita peroleh pada hakikatnya adalah pertolongan dari Allah." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah hakikat kemenangan dakwah; pertolongan dari Allah. Karenanya Allah membimbing Rasulullah saat fathu Makkah, hingga beliaupun bertasbih, bertahmid, dan beristighfar. Tuntunan itu tetap abadi hingga kini, termaktub di surat An-Nasr dalam kitab suci.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Sikap dan Upaya Meraih Kemenangan Berikutnya&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Mulai halaman 35, Satria Hadi Lubis mengupas sikap dan upaya yang harus dilakukan oleh aktivis dakwah untuk selalu meraih kemenangan dan kesuksesan. Sikap itu dikelompokkan dalam tiga poin; agenda kaderisasi (tarbiyah), agenda pelayanan (khodimul ummah), dan penataan organisasi (tandzimiyah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Agenda Kaderisasi (Tarbiyah)&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Di awal pembahasan ini, Satria Hadi Lubis mengutip perkataan Syaikh Mustafa Masyhur: "Jangan sampai perhatian kita kepada politik (siyasah) mengalahkan perhatian kita kepada tarbiyah."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa? Karena tarbiyah adalah ruh gerakan kita. Tarbiyah adalah jiwa dalam amal dakwah kita. Sekali kita menggeser tarbiyah menjadi kegiatan sekunder, kita menjauhkan dakwah ini dari tujuannya sekaligus membuat dakwah rapuh dan jauh dari kemenangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agenda tarbiyah bertujuan mencetak kader berkualitas sebanyak-banyaknya. Dalam istilah Al-Qur’an ini disebut ribbiyuuna katsiir. Buku ini menjelaskan, ada lima hal yang perlu dilakukan dalam agenda besar tarbiyah: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, membudayakan tarbiyah dzatiyah. Tarbiyah dzatiyah di sini bukan sebatas membaca buku atau mengembangkan pemahaman dan ilmu secara mandiri, tetapi yang paling mendasar adalah meningkatkan ibadah yaumiyah. Tarbiyah dzatiyah berarti upaya personal kader dakwah untuk bermujahadah (upaya sungguh-sungguh) membiasakan ibadah-ibadah sunnah. Mulai dari tilawah, qiyamullail, shalat sunnah, dzikir, hingga puasa sunnah. Tarbiyah dzatiyah seperti itu akan membuat ikhwah lebih imun terhadap godaan, mencegahnya dari kemaksiatan dan membuatnya istiqamah di medan perjuangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, penyegaran halaqah/usrah. Yakni dengan terus memperbaiki dinamika halaqah/usrah, sekaligus produktifitasnya. Dinamis agar tidak jenuh dan jemu, tidak dikalahkan oleh dakwah ammah yang gegap gempita. Produktif maksudnya halaqah/usrah bukan sekedar “dinikmati” dan dirindukan tiap pekan, tetapi juga mampu mencapai tiga tujuan utamanya; membentuk muwashafat peserta, mencetak peserta menjadi murabbi dan mengembangkan potensi secara maksimal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, mencetak muwajih. Karena tidak semua mad’u dan simpatisan tertarik langsung dengan halaqah, majelis taklim adalah sarana dakwah yang masih cukup efektif. Minat terhadap taklim semakin meningkat seiring bertambahnya jumlah simpatisan dan meluasnya medan dakwah. Namun, ketersediaan muwajih taklim masih sangat terbatas sehingga agenda kaderisasi untuk mencetak muwajih menjadi sangat penting. Struktur dan halaqah perlu membuat sistem yang efektif untuk merealisasikan agenda ini. Dan dalam buku ini, dipaparkan beberapa saran aplikatif untuk itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat, mencetak murabbi/naqib. Sebagaimana halaqah/usrah merupakan sarana paling efektif dalam kaderisasi, ketersediaan murabbi/naqib juga sangat penting. Selain menyelenggarakan daurah atau program lain untuk menyiapkan murabbi, Satria Hadi Lubis juga menyarankan adanya sertifikasi murabbi untuk memacu ikhwah menjadi murabbi yang handal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelima, mengokohkan fikrah dakwah. Terutama pada era jamahiriyah yang tantangannya semakin beragam dan manuver siyasah terus berkembang. Agar asholah fikrah tidak tergerus dari kader dakwah. Salah satu cara yang bisa dilakukan secara personal aktivis dakwah adalah dengan mengkaji kembali buku-buku mufakir dakwah generasi awal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Agenda Melayani Umat (Khodimul Ummah)&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Melayani umat bukanlah strategi dakwah, tetapi ia adalah bagian dari amal sekaligus tujuan dakwah. Maka kemenangan dakwah juga harus diikuti dengan peningkatan pelayanan untuk umat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satria Hadi Lubis menjelaskan, ada 8 hal yang perlu dilakukan dalam agenda pelayanan umat, terutama ketika dakwah menuai kemenangan:&lt;br /&gt;1. Meningkatkan pemahaman politik&lt;br /&gt;2. Meningkatkan citra Islam yang damai&lt;br /&gt;3. Memberantas korupsi&lt;br /&gt;4. Menegakkan supremasi hokum dan disiplin&lt;br /&gt;5. Memprioritaskan pendidikan&lt;br /&gt;6. Membangun ekonomi Islam, meningkatkan kesejahteraan&lt;br /&gt;7. Mewarnai media massa&lt;br /&gt;8. Menjalin silaturahim dengan kelompok lain&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Agenda Penataan Organisasi&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Ini juga merupakan agenda penting agar organisasi semakin kokoh sehingga kerja-kerja dakwah lebih mudah dan pelayanan umat berjalan optimal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agar organisasi dakwah semakin kuat, Satria Hadi Lubis merekomendasikan 7 langkah utama:&lt;br /&gt;1. Meningkatkan kemampuan manajemen&lt;br /&gt;2. Meningkatkan karakter kepemimpinan&lt;br /&gt;3. Memberdayakan personil berbasis potensi&lt;br /&gt;4. Menyeimbangkan piramida dakwah&lt;br /&gt;5. Mengokohkan wilayah dakwah&lt;br /&gt;6. Memberdayakan perempuan&lt;br /&gt;7. Mengokohkan keluarga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja penjelasan masing-masing poin ini dan poin sebelumnya bisa dibaca secara lengkap dalam buku &lt;b&gt;Beginilah Seharusnya Aktivis Dakwah!&lt;/b&gt; Karya Satria Hadi Lubis ini. Semoga kita termasuk aktivis dakwah yang berupaya mencapai kondisi ideal seperti di buku ini, hingga menjadi salah seorang yang ambil bagian dalam menanam saham kemenangan. [Muchlisin]&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4661011185558750656-6103267463239596459?l=www.bersamadakwah.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.bersamadakwah.com/feeds/6103267463239596459/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.bersamadakwah.com/2012/03/beginilah-seharusnya-aktivis-dakwah.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4661011185558750656/posts/default/6103267463239596459'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4661011185558750656/posts/default/6103267463239596459'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.bersamadakwah.com/2012/03/beginilah-seharusnya-aktivis-dakwah.html' title='Beginilah Seharusnya Aktivis Dakwah!'/><author><name>Admin BeDa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17749093855368398730</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-hD4D5mC_vlc/T7Guubv4RiI/AAAAAAAAEic/xrY3eBivBCM/s220/Bersama%2BDakwah%2B-%2Blogo%2Bprofil%2BFB.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-b4ukOh1yH70/T1RzR9L3h_I/AAAAAAAADzg/Z3vDkUrmuYU/s72-c/Beginilah%2BSeharusnya%2BAktivis%2BDakwah.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4661011185558750656.post-8212490033275516198</id><published>2012-02-28T08:00:00.000+07:00</published><updated>2012-02-28T08:28:27.360+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bedah Buku'/><title type='text'>Al-Ikhwan Al-Muslimun</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-PfVCjc04Cu8/T0s73ZHHJKI/AAAAAAAADvk/U5JJPxlYixI/s1600/Buku%2BAl-Ikhwan%2BAl-Muslimun.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://2.bp.blogspot.com/-PfVCjc04Cu8/T0s73ZHHJKI/AAAAAAAADvk/U5JJPxlYixI/s320/Buku%2BAl-Ikhwan%2BAl-Muslimun.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Judul Buku : &lt;b&gt;Al-Ikhwan Al-Muslimun&lt;/b&gt;; Siapa Kami dan Apa yang Kami Inginkan&lt;br /&gt;Judul Asli : &lt;b&gt;Al-Ikhwan Al-Muslimun&lt;/b&gt;, Man Nahnu wa Madza Nuridu&lt;br /&gt;Penulis : Amer Syamakh&lt;br /&gt;Penerjemah : M. Anas Aziz&lt;br /&gt;Penerbit : PT Era Adicitra Intermedia&lt;br /&gt;Cetakan Ke : 1&lt;br /&gt;Tahun Terbit : Ramadhan 1432 H/Agustus 2011 M&lt;br /&gt;Dimensi : xxiv + 136 hlm., 21 cm&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*** &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama &lt;i&gt;Ikhwanul Muslimin&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;Al-Ikhwan Al-Muslimun&lt;/i&gt;, atau biasa disingkat dengan &lt;i&gt;Ikhwan&lt;/i&gt;, tiba-tiba melejit belakangan ini, hingga di telinga orang-orang awam sekalipun. Pasalnya, musim semi Arab yang ditandai dengan bangkitnya umat di kawasan Timur Tengah, tumbangnya rezim diktator dan tumbuhnya politik Islam disebut-sebut sebagai bagian dari kerja-kerja Ikhwan. Partai Keadilan dan Pembangunan yang menang di Turki, Partai En-Nahda yang memenangi pemilu Tunisia, Partai Keadilan dan Pembangunan yang menang di Maroko, semuanya dinilai berafiliasi dengan Ikhwan. Apalagi Partai Kebebasan dan Keadilan (FJP) yang menang di Mesir; secara resmi sudah dipublikasikan bahwa ia adalah sayap politik Ikhwan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu siapa ikhwan dan apa yang diinginkannya? Buku &lt;b&gt;Al-Ikhwan Al-Muslimun; Siapa Kami dan Apa yang Kami Inginkan&lt;/b&gt; ini berusaha menjawab dua pertanyaan penting itu dengan jelas dan singkat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal mendasar yang disampaikan Amer Syamakh dalam buku ini, sehingga ia merasa perlu menuliskannya dalam mukadimah adalah, bahwa Al-Ikhwan Al-Muslimuin yang didirikan Hasan Al Banna pada tahun 1928 merupakan gerakan Islam yang bersifat integral, karena Islam bersifat syamil mutakamil dan umat Islam perlu bangkit dalam segala bidang. Maka gerakan Ikhwan adalah dakwah salafiyah, thariqah sunniyah, haqiqah shufiyah, hai'ah siyasiyah, jama'ah riyadhiyah, rabithah ilmiyah tsaqafiyah, syirkah iqtishadiyah, sekaligus fikrah ijtimaiyah. Integralitas Ikhwan inilah yang membedakan ia dengan gerakan Islam lainnya. Ikhwan tidak hanya concern di satu bidang, tetapi memberikan perhatian menyeluruh kepada seluruh bidang, baik pendidikan, politik, ekonomi, hukum, sosial, budaya dan lain sebagainya. Dalam tataran praktis, Ikhwan membentuk berbagai sayap organisasi untuk menangani masing-masing bidang, termasuk membentuk organisasi-organisasi profesi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amer Syamakh tak lupa menjelaskan karakteristik dakwah Ikhwanul Muslimin dalam buku ini. Mungkin ia mempertimbangkan karena tidak selamanya Ikhwan menggunakan nama aslinya. Namun sepanjang gerakan dakwah tertentu memiliki karakter yang sama, sangat dimungkinkan ia terinspirasi atau berafiliasi kepada Ikhwan. Karakter dakwah yang dimaksud terdiri dari tujuh poin: menjauhi titik-titik khilafiyah, jauh dari dominasi tokoh dan pembesar, menjauhi partai dan golongan yang bisa memicu atau memperparah ta'asub, bertahap dalam langkah, mengutamakan kerja di atas retorika, cepat didukung para pemuda, serta cepat berkembang di kota dan juga di desa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan Ikhwanul Muslimin diklasifikasikan menjadi dua oleh penulis; tujuan jangka pendek dan tujuan jangka panjang. Tujuan jangka pendek bisa dilihat ketika seseorang bergabung dengan Ikhwan dan apa yang dilakukan Ikhwan dalam amal-amal di medan umum. Sedangkan tujuan jangka panjang adalah melakukan perubahan secara total dan integral dengan melibatkan seluruh unsur kekuatan umat menuju Islam. Perjuangan Ikhwan menghendaki kebangkitan umat yang ideal; terbentuknya masyarakat dan peradaban yang menjadikan Al-Qur'an dan sunnah sebagai pedomannya, terbentuknya daulah Islam yang pemerintahnya muslim didukung umat Islam untuk mengatur seluruh aspek kehidupan dengan syariat Islam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara rinci, penulis (Amer Syamakh) menjelaskan "Wa Madza Nuridu", apa yang kami (Ikhwan) kehendaki dalam sembilan poin penjelasan dan langkah-langkahnya sejumlah lima tahapan yang dikenal sebagai maratibul amal pada halaman 21-26. Sembilan pon itu adalah hukum/pemerintahan dalam negeri, hubungan internasional/luar negeri, peradilan, sistem ekonomi, sistem pendidikan, sistem sosial (khususnya keluarga), akhlak dan moralitas, serta spirit umum individu dan kolektif, rakyat maupun pejabat. Sedangkan lima pon maratibul amal adalah pembentukan pribadi muslim, rumah tangga muslim, masyarakat muslim, pemerintahan Islam, dan negara Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada banyak hal yang diungkap dalam buku ini mengenai Ikhwan, mulai dari rahasia kekuatan Ikhwan dan kunci suksesnya sampai penjelasan mengenai pandangan-pandangan Ikhwan dalam hal pemerintahan, demokrasi, HAM, dan sebagainya. Tidak berlebihan jika di cover depan buku ini tertulis "Top Secret" karena banyak "rahasia" yang diungkap di buku ini, yang semestinya diketahui oleh aktifis dakwah, terutama yang terinspirasi atau berafiliasi kepada Ikhwan. &lt;i&gt;[Muchlisin]&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4661011185558750656-8212490033275516198?l=www.bersamadakwah.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.bersamadakwah.com/feeds/8212490033275516198/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.bersamadakwah.com/2012/02/al-ikhwan-al-muslimun.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4661011185558750656/posts/default/8212490033275516198'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4661011185558750656/posts/default/8212490033275516198'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.bersamadakwah.com/2012/02/al-ikhwan-al-muslimun.html' title='Al-Ikhwan Al-Muslimun'/><author><name>Admin BeDa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17749093855368398730</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-hD4D5mC_vlc/T7Guubv4RiI/AAAAAAAAEic/xrY3eBivBCM/s220/Bersama%2BDakwah%2B-%2Blogo%2Bprofil%2BFB.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-PfVCjc04Cu8/T0s73ZHHJKI/AAAAAAAADvk/U5JJPxlYixI/s72-c/Buku%2BAl-Ikhwan%2BAl-Muslimun.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4661011185558750656.post-732401508994444685</id><published>2012-01-17T11:00:00.002+07:00</published><updated>2012-01-17T11:10:49.422+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Al-Qur&apos;an'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bedah Buku'/><title type='text'>Khowathir Qur'aniyah</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/--cOAyLjXOX4/TxT0qrcEQNI/AAAAAAAADbU/tKLBgvJqjik/s1600/Khowatir%2BQuraniyah.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://1.bp.blogspot.com/--cOAyLjXOX4/TxT0qrcEQNI/AAAAAAAADbU/tKLBgvJqjik/s320/Khowatir%2BQuraniyah.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Judul Buku : &lt;b&gt;Khowathir Qur'aniyah&lt;/b&gt;, Kunci Memahami Tujuan Surat-surat Al-Qur'an&lt;br /&gt;Judul Asli : &lt;b&gt;Khowathir Qur'aniyah&lt;/b&gt;, Nazharat fi Ahdafi Suwaril Qur'an&lt;br /&gt;Penulis : &lt;b&gt;Amru Khalid&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Penerjemah : Khozin Abu Faqih, Lc. dkk&lt;br /&gt;Penerbit : Al-I'tishom Cahaya Umat, Jakarta&lt;br /&gt;Cetakan Ke : 1&lt;br /&gt;Tahun Terbit : Februari 2011 M&lt;br /&gt;Tebal Buku : 748 halaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*** &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada orang-orang yang membaca Al-Qur'an, namun sangat asing dengan maknanya. Ada orang-orang yang membaca Al-Qur'an, namun jiwanya gersang dan tidak mendapatkan apapun kecuali menganggap Al-Qur'an sebagai simbol yang susah dipahami. Ibarat seorang pengendara, ia melihat rambu-rambu lalu lintas namun tidak mengerti apa maksudnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fenomena itu mengusik Syaikh Amru Khalid selama sepuluh tahun, agar menulis sebuah kitab yang memudahkan umat, khususnya para pemuda dalam mendekatkan mereka dengan kitabullah. Agar ketika berinteraksi dengan kitab suci ini, mereka mengerti tujuan yang dikehendaki Allah dalam surat itu, dan misi apa yang harus dipahaminya hingga ia bukan hanya takjub dengan keindahan dan kehebatan Al-Qur'an tetapi juga mampu menjadikannya sebagai pedoman dan petunjuk hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Khowathir Qur'aniyah&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;. Demikian Syaikh Amru Khalid menamakan kitab yang berisi pokok pikiran dan tema mendasar yang terkandung dalam surat-surat Al-Qur'an ini. &lt;i&gt;Khowathir Qur'aniyah&lt;/i&gt;, seperti dikatakan sendiri oleh penulisnya, juga memberikan prinsip-prinsip dasar dalam memahami Al-Qur'an sehingga bisa dijadikan pegangan oleh pemuda dan umat Islam dewasa ini, yang karena kesibukan dan keterbatasannya, tidak mampu mengakses kitab-kitab tafsir induk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Amru Khalid –dengan tawadhu'- mengatakan bahwa &lt;i&gt;Khowathir Qur'aniyah&lt;/i&gt; bukanlah tafsir. Sehingga bagi pembaca yang ingin mendalami tafsir tetap harus mengacu pada kitab-kitab induk seperti Tafsir At-Thabari, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Al-Qurthubi, dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam memaparkan konsep Al-Qur'an di setiap surat, Syaikh Amru Khalid menggunakan metode sebagai berikut:&lt;br /&gt;1. Menentukan tujuan sebuah surat&lt;br /&gt;2. Menampilkan ayat-ayat yang menegaskan tujuan surat&lt;br /&gt;3. Menjelaskan korelasi nama surat dengan tujuannya&lt;br /&gt;4. Menjelaskan korelasi surat dengan surat sebelumnya dan surat sesudahnya&lt;br /&gt;5. Memilih beberapa ayat untuk memberikan komentar terhadap korelasi tersebut&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di samping lima metode yang sekaligus menjadi bahasan utama dalam setiap surat tersebut, pada surat-surat tertentu Syaikh Amru Khalid menjelaskan hal-hal penting yang perlu diketahui oleh pembaca. Misalnya urgensi surat Al-Fatihah pada pembahasan surat Al-Fatihah (hal 1-2), Rahasia huruf Alif-Lam-Miim pada pembahasan surat Ali Imran (hal 51), Keutamaan Surat pada pembahasan Surat Al-Kahfi (hal 351) dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, tidak berlebihan jika dikatakan bahwa &lt;i&gt;Khowathir Qur'aniyah&lt;/i&gt; adalah intisari tafsir Al-Qur'an yang perlu dibaca sebagai pengantar sebelum mendalami kitab-kitab tafsir. Ia bisa diibaratkan sebagai peta umum yang memberikan gambaran dasar mengenai isi dan kandungan Al-Qur'an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya, tidak semua surat dibahas dalam &lt;i&gt;Khawathir Qur'aniyah&lt;/i&gt;. Ada beberapa surat dalam juz 30 yang tidak dikupas oleh Syaikh Amru Khalid. Surat-surat itu adalah An-Naba', An-Nazi'at, At-Takwir, Al-Infithar, Al-Muthaffifin, Al-Insyiqaq, Al-Buruj, Al-A'la, Al-Ghatsiyah, Al-Fajr, Al-Balad, Al-lail, Alam Nasyrah, Al-Qadr, Al-Bayyinah, Al-Zalzalah, Al-Adiyat, Al-Qari'ah, Al-Humazah, Al-Ma'un, Al-Kautsar, Al-Kafirun, An-Nashr, Al-Lahab, Al-Ikhlash, Al-Falaq, dan An-Nas. Tidak ada penjelasan mengapa 27 surat itu tidak dibahas dalam &lt;i&gt;&lt;b&gt;Khowathir Qur'aniyah&lt;/b&gt;&lt;/i&gt; ini. &lt;i&gt;Wallaahu a'lam bish shawab&lt;/i&gt;. [Muchlisin]&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4661011185558750656-732401508994444685?l=www.bersamadakwah.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.bersamadakwah.com/feeds/732401508994444685/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.bersamadakwah.com/2012/01/khowathir-quraniyah.html#comment-form' title='6 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4661011185558750656/posts/default/732401508994444685'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4661011185558750656/posts/default/732401508994444685'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.bersamadakwah.com/2012/01/khowathir-quraniyah.html' title='Khowathir Qur&apos;aniyah'/><author><name>Admin BeDa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17749093855368398730</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-hD4D5mC_vlc/T7Guubv4RiI/AAAAAAAAEic/xrY3eBivBCM/s220/Bersama%2BDakwah%2B-%2Blogo%2Bprofil%2BFB.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/--cOAyLjXOX4/TxT0qrcEQNI/AAAAAAAADbU/tKLBgvJqjik/s72-c/Khowatir%2BQuraniyah.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4661011185558750656.post-5137573502640810355</id><published>2012-01-10T13:00:00.002+07:00</published><updated>2012-01-10T13:38:23.286+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bedah Buku'/><title type='text'>Merindukan Jalan Dakwah</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-Nj0IlqybHts/TwvcziNrbPI/AAAAAAAADXY/C8UmV2A2i6U/s1600/Merindukan%2BJalan%2BDakwah.jpg" imageanchor="1" style="clear:left; float:left;margin-right:1em; margin-bottom:1em"&gt;&lt;img border="0" height="240" width="320" src="http://3.bp.blogspot.com/-Nj0IlqybHts/TwvcziNrbPI/AAAAAAAADXY/C8UmV2A2i6U/s320/Merindukan%2BJalan%2BDakwah.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Judul Buku : &lt;b&gt;Merindukan Jalan Dakwah&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Penulis : Umar Hidayat&lt;br /&gt;Penerbit : Darul Uswah (Kelompok Penerbit Pro-U Media)&lt;br /&gt;Cetakan Ke : 1&lt;br /&gt;Tahun Terbit : 2011 M&lt;br /&gt;Tebal Buku : 264 halaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setidaknya, ada tiga kategori aktifis dakwah. Pertama, mereka yang telah lama berdakwah dan masih ada di jalan dakwah. Kedua, mereka yang ada di jalan dakwah tetapi semangatnya sedang melemah. Dan ketiga, mereka yang futur dari jalan dakwah. Antum masuk yang mana? Masuk kategori manapun, buku &lt;b&gt;Merindukan Jalan Dakwah&lt;/b&gt; ini dimaksudkan untuk ketiganya; untuk kita semua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini diawali dengan penyadaran kembali mengapa kita merindukan jalan dakwah. Bahwa dakwah "satu-satunya" adalah jalan yang disediakan Allah bagi hambaNya yang dibeliNya dengan harga surga. Maka dakwah memiliki sejumlah keutamaan yang sangat luar biasa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena merupakan pekerjaan besar yang mulia dan berujung surga, jalan dakwah akan selalu berhadapan dengan ujian. Bagaimana aktifis dakwah menghadapi ujian itu, demikianlah ia akan lulus sebagai dai yang istiqamah atau terjatuh di jalan dakwah. Mengutip Anthony Dio Martin, penulis (Umar Hidayat) membagi manusia ke dalam empat tipe ketika menghadapi ujian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada manusia yang bertipe lempeng besi. Seperti besi yang tahan panas lalu lama-lama memuai bahkan leleh, manusia tipe ini kuat bertahan pada awal ujian. Tetapi ketika ujian itu berlanjut, ia mulai melemah dan akhirnya kalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang tipenya kayu rapuh. Sedikit saja mendapatkan ujian ia akan putus asa. Bisa jadi dari luar kelihatan bagus, tetapi dalamnya rapuh. Dan itu terlihat nyata saat ujian datang kepadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada pula manusia yang bertipe kapas. Mendapat tekanan, ia kembali ke bentuk semula. Ia bisa kembali bersemangat dan giat, meskipun saat mendapatkan ujian ia tertekan.  Dan yang paling hebat adalah tipe bola pingpong. Seberapa besar ujian datang, sebesar itulah ia bersemangat, bekerja, berharakah, berkontribusi dalam dakwah. Ujian hanya membuatnya semakin kuat dan berpengalaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Ujian Dakwah Sebuah Keniscayaan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Setelah mengajak pembaca menyusuri deskripsi istilah merindukan jalan dakwah, penulis membagi buku ini ke dalam tiga bagian. Bagian pertama terdiri dari 5 sub bab yang mengarah pada sebuah konklusi bahwa ujian dakwah adalah keniscayaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan adanya ujian, sampailah seseorang kepada kedudukan mulia yang sebenarnya. Melalui jembatan itu ia diuji agar nyata sebagai orang yang terpuji. Melalui ujian, seseorang ditempa untuk mampu menghadapi godaan yang membinasakan. Baik itu hawa nafsu, nafsu jiwa, syaitan maupun dunia. Ujian yang dihadapi manusia pada hakikatnya berada dalam empat hal yang membinasakan itu, termasuk ujian dalam dakwah. Apakah dengan ujian itu ia mampu memenangkan imannya, atau ia terjatuh mengumbar hawa, menuruti nafsu, terbujuk syetan atau tertawan dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ujian –termasuk dalam dakwah- juga harus ada karena melalui ujian itulah seseorang mendapati derajatnya meninggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Bersiaplah Menghadapi Ujian Dakwah&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Tak cukup bagi seorang aktifis dakwah untuk meyakini bahwa ujian pasti datang. Lebih dari itu ia harus menyiapkan diri. Siap menghadapi ujian yang akan datang. Siap menghadapi badai yang akan menerpa. Bagian kedua buku ini menunjukkan bagaimana cara kita menyiapkan diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, mengokohkan keyakinan. Mengokohkan iman. Bahwa Allah SWT yang telah mewajibkan dakwah, maka Dia pula yang akan memberikan kekuatan kepada pengusungnya untuk kuat menanggung beban itu berikut segala ujian yang dihadapinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, menguatkan tekad dan semangat dengan terus menyadari bahwa balasan surga menanti bagi dai yang ikhlas menempuh jalan ini. Senantiasa mendekat kepada-Nya dan memperbaiki kualitas hubungan dengan-Nya menjadikan seprang aktifis dakwah memiliki kekuatan tekad dan harapan mendapatkan surga terpancar di hadapannya. Setiap kali ujian menerpa, aktifis dakwah bisa mengingatkan dirinya bahwa jika ia menyerah maka surga takkan pernah diraihnya. Namun jika ia istiqamah, kesulitan yang membuatnya lelah dan berdarah-darah pastilah tidak seberapa jika dibandingkan dengan balasan berupa surga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, terus bekerja keras. Terus beraktifitas dalam dakwah. Terus melangkah di jalan dakwah. Sebab dengan terus bekerja, keyakinan akan membuncah, keraguan terhapuskan dan ujian terasa lebih ringan. Kerja keras adalah ekspresi keteguhan, sekaligus bukti bahwa kita merindukan jalan dakwah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat, mengambil hikmah dari segala kejadian, termasuk kekalahan. Ketika dakwah berjalan sekian lama tetapi kemenangan belum kunjung tiba, sebagian orang menganggapnya sebagai kekalahan. Kalaupun itu dianggap kekalahan, seharusnya kita mampu mengambil hikmahnya dan memperbaiki diri serta jamaah untuk mendobrak kemenangan. Seperti perang Uhud yang tak pernah lagi terulang. Boleh kalah, tetapi sebab kekalahan tak boleh terulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelima, selalu berdoa. Sebab dakwah ini adalah tugas dari Allah dan Dia-lah yang kuasa memenangkannya. Dia pula yang telah menurunkan ujian dan kuasa untuk menguatkan hamba-Nya. Maka berdoa adalah senjata yang tak boleh tanggal dari jalan dakwah kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keenam, senada dengan poin pertama dan kelima, yakinlah bahwa Allah senantiasa akan menolong hamba-Nya yang tengah berdakwah, berjuang menolong agama-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Solusi Islam&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Bagian ketiga buku &lt;i&gt;Merindukan Jalan Dakwah&lt;/i&gt; mengajak pembacanya untuk menjadikan Islam sebagai solusi; dalam segala hal, khususnya menghadapi ujian. Bagaimana mungkin seseorang yang menyatakan memperjuangkan Islam tetapi ketika ada masalah mengambil sesuatu di luar Islam sebagai solusinya? Maka amal-amal islami harus ditingkatkan, jumlah aktifis dakwah diperbanyak sekaligus kualitasnya ditingkatkan, maksiat ditinggalkan tak boleh diteruskan, shalat malam dibiasakan dan terus menerus memperbarui iman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak ulasan bermanfaat dan sarat hikmah dalam buku &lt;b&gt;Merindukan Jalan Dakwah&lt;/b&gt;. Semoga review yang singkat ini menjadi motivasi tersendiri bagi kita untuk membaca sendiri buku itu. [Muchlisin]&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4661011185558750656-5137573502640810355?l=www.bersamadakwah.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.bersamadakwah.com/feeds/5137573502640810355/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.bersamadakwah.com/2012/01/merindukan-jalan-dakwah.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4661011185558750656/posts/default/5137573502640810355'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4661011185558750656/posts/default/5137573502640810355'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.bersamadakwah.com/2012/01/merindukan-jalan-dakwah.html' title='Merindukan Jalan Dakwah'/><author><name>Admin BeDa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17749093855368398730</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-hD4D5mC_vlc/T7Guubv4RiI/AAAAAAAAEic/xrY3eBivBCM/s220/Bersama%2BDakwah%2B-%2Blogo%2Bprofil%2BFB.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-Nj0IlqybHts/TwvcziNrbPI/AAAAAAAADXY/C8UmV2A2i6U/s72-c/Merindukan%2BJalan%2BDakwah.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4661011185558750656.post-4619168664729444922</id><published>2011-11-22T13:00:00.001+07:00</published><updated>2011-11-22T13:08:15.254+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bedah Buku'/><title type='text'>Tarbiyah Iqtishadiyah</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-T5Oo1oDNS5Q/Tss7zNyyusI/AAAAAAAAC6c/SZpYmQU2HlQ/s1600/Tarbiyah%2BIqtishadiyah%2B400px.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-T5Oo1oDNS5Q/Tss7zNyyusI/AAAAAAAAC6c/SZpYmQU2HlQ/s320/Tarbiyah%2BIqtishadiyah%2B400px.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5677697506292710082" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Judul Buku : &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Tarbiyah Iqtishadiyah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Penulis : &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Eko Novianto&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Penerbit : Era Adicitra Intermedia&lt;br /&gt;Cetakan Ke : 1&lt;br /&gt;Tahun Terbit : Sya'ban 1431 H / Juli 2010 M&lt;br /&gt;Tebal Buku : xviii + 254 halaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang ikhwan yang dulunya sangat aktif di dakwah kampus, kini jarang terlibat dalam aktifitas dakwah. Adik-adik angkatannya sangat terkesan dengan militansinya sewaktu ia memimpin aksi beberapa tahun yang lalu. Namun, kini tak pernah lagi ia dijumpai; tidak dalam forum dakwah, apalagi aksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika ditelusuri, ternyata ikhwan ini "gagal" dalam masalah iqtishadiyah. Sewaktu di kampus, ia sangat &lt;span style="font-style:italic;"&gt;concern &lt;/span&gt;dengan organisasi dakwahnya, beraksi ke sana kemari, setiap hari ia di kampus, bahkan menginap di sana. Yang disayangkan, ia tak memperhatikan kualitas kuliahnya. Prestasi akademis hampir tidak ada, skill tidak terasah. Demikianlah hingga ia lulus kuliah. Membuka usaha tidak kuasa, bekerja sesuai jurusannya juga tidak bisa. Kesulitan ekonomi yang membelitnya membuat intensitas kegiatan dakwahnya menurun drastis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada kasus yang berbeda dalam domain yang sama. Kali ini bukan masalah penghasilan yang didapatkan. Sebenarnya penghasilannya cukup. Pendapatan dari gajinya lumayan besar untuk ukuran masyarakat di sekitarnya. Namun karena boros, tidak bisa mengelola uang dengan baik, satu keluarga aktifis dakwah terlilit hutang. Masalah itu kemudian selesai setelah para ikhwah membantunya. Namun, ia kembali ke pola lama. Hutang pun kembali melilitnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah iqtishadiyah (ekonomi) tak bisa disepelekan. Tarbiyah iqtishadiyah, dengan demikian, menjadi keniscayaan. Sebagaimana Islam itu bersifat &lt;span style="font-style:italic;"&gt;syamil &lt;/span&gt;(menyeluruh), tarbiyah juga demikian. Jika selama ini kita akrab dengan istilah tarbiyah ruhiyah, tarbiyah fikriyah, dan tarbiyah jasadiyah, Eko Novianto –penulis buku ini- mengajak kita untuk mengokohkan tarbiyah iqtishadiyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu apa itu tujuan tarbiyah iqtishadiyah? Dalam halaman 6, kita mendapatkan penjelasan mengenai tujuan tarbiyah iqtishadiyah. "Tarbiyah iqtishadiyah," tulis Eko Novianto, "bertujuan memberi kesadaran akan peranan ekonomi di bidang pembangunan, produksi dan ivestasi; memberi pengetahuan problematika ekonomi umat; memberi keterampilan dalam memanfaatkan teknologi modern di bidang ekonomi; memberi pemahaman dasar-dasar ekonomi Islam dan kontemporer; seta memberi kemampuan mengombinasikan ekonomi Islam dan kontemporer."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan itu hendak dicapai oleh tarbiyah, diantaranya, melalui kurikulum tarbiyah yang di dalamnya mencakup materi-materi bidang studi ekonomi (iqtishadiyah). Pada kurikulum 1421 H, sebagaimana dituturkan penulis pada bab I, materi iqtishadiyah diberikan sejak jenjang anggota pemula, muda, madya dan seterusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, buku Tarbiyah Iqtishadiyah ini tidak dimaksudkan untuk membahas ekonomi Islam secara makro, perbankan Islam atau memenuhi semua tujuan tarbiyah iqtishadiyah yang telah disebutkan. Secara khusus, buku yang terdiri dari empat bab ini membahas permasalahan keuangan dalam entitas keluarga tarbiyah dan bagaimana mengatasinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bab 1 bisa disebut sebagai pendahuluan yang membicarakan apa itu tarbiyah iqtishadiyah dan muatan tarbiyah iqtishadiyah dalam kurikulum 1421 H di tiap jenjang, dari pemula hingga dewasa. Bab 2 berjudul "kokoh berpenghasilan", memotivasi pembaca untuk berpenghasilan serta mengungkap berbagai aspek dari berbagai jenis profesi dan pekerjaan. Bab 3 berjudul "cerdas berbelanja" menguraikan manhaj Islam dalam membelanjakan harta, membekali pembaca agar melawan konsumerisme hingga panduan berhemat. Bab 4 berjudul "perencanaan keuangan keluarga tarbiyah" membahas mulai dari teori hingga bagaimana mempraktikkannya perencanaan keluangan keluarga tarbiyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Tiga Masalah Iqtishadiyah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Jika kita perhatikan, masalah iqtishadiyah ikhwah umunya bermula dari minimnya penghasilan. Masalah kedua, borosnya pengeluaran. Seperti pada kisah kedua di atas, ada ikhwah yang sebenarnya penghasilannya cukup, namun karena pengeluarannya "boros", akhirnya ia mengalami peribahasa "besar pasak daripada tiang." Apatah lagi yang penghasilannya minim, lalu tidak bisa mengendalikan pengeluaran, tentu akibatknya menjadi lebih fatal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan masalah ketiga adalah lemahnya perencanaan keuangan. Tanpa perencanaan keuangan yang baik, bisa jadi kebutuhan sehari-hari terpenuhi dari penghasilan yang didapatkan. Namun, menabung tidak menjadi agenda, investasi tak pernah bisa, dan mendanai dakwah juga sangat berat terasa. Hal-hal semacam itu bisa diatasi jika ada perencanaan keuangan yang baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Tiga Solusi dalam Tiga Bab&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Bab 2 sampai dengan bab 4, masing-masing merupakan solusi dari tiga permasalahan di atas. Seperti sub judul yang tertulis dalam cover depan, Tarbiyah Iqtishadiyah mengajak pembaca –dengan berbagai pembahasan teoritis hingga tips- agar menjadi pribadi/keluarga yang kokoh berpenghasilan, akurat berbelanja dan cerdas mengelola.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kokoh Berpenghasilan&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ikhwah harus bekerja dan berpenghasilan. Bahkan harus kokoh penghasilannya. Bekerja di sini dalam arti luas; beragam profesi, termasuk –atau terutama?- menjadi enterpreneur. Hal pertama yang menjadi syaratnya adalah bahwa pekerjaan itu halal, tak bisa ditawar. Kedua, memilih pekerjaan sesuai dengan kecenderungan dan spesialisasinya, dengan memprioritaskan pekerjaan yang tidak terikat; misalnya menjadi enterpreneur. Ketika sudah bekerja, ikhwah harus bekerja dengan amanah, disiplin dan profesional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara khusus, di akhir bab 2 penulis mengupas plus minus menjadi PNS. Dikatakan oleh penulis ikhwah menjadi PNS adalah sebuah dilema. Dilema karena di satu sisi banyak hal negatif (mulai dari citra tidak profesional hingga tidak disiplin) dan keterbatasan (keterbatasan gaji dan beraktifitas), sedangkan di sisi lain berkembangnya mihwar semakin membutuhkan PNS/eksekutif yang baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang disebutkan penulis bukannya tanpa bukti. Di lapangan, ada ikhwah yang berhenti mengaji karena menjadi PNS. Ada pula ikhwah yang tak mau lagi terlibat aktifitas dakwah karena status plat merah. "Ada hambatan tarbawi. Ada kebutuhan mihwar." Simpul penulis di halaman 104.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Akurat Berbelanja&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Bab 3 buku Tarbiyah Iqtishadiyah ini benar-benar menarik. Setelah menjelaskan secara normatif pada bagian awal, pembahasan masuk ke ranah praksis hingga tips berhemat. Pada bab ini pula kita akan disuguhi sejumlah rumus hubungan konsumsi dan pendapatan. Mulai C = a + bY hingga Y = C + S. Untuk melihat penjelasannya, tentu saja pembaca harus membaca langsung bukunya, khususnya halaman 132-135.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain beberapa langkah umum menghemat pengeluaran, penulis juga menyuguhkan panduan menghemat dalam keseharian. Misalnya bagaimana memanfaatkan diskon, memilih eceran atau borongan, hingga tips menghemat penggunaan air, listrik dan telepon/pulsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Cerdas Mengelola&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana caranya agar keluarga tarbiyah bisa mengelola keuangan keluarga dengan baik? Jawaban yang kita dapatkan dari buku Tarbiyah Iqtishadiyah ini adalah dengan menerapkan perencanaan keuangan keluarga tarbiyah. Tentu hal pertama yang harus dipenuhi adalah membuat perencanaan keuangan keluarga. Panduannya dipaparkan penulis dalam bab 4.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada bab ini, setelah diawali secara teori, pembaca langsung disuguhi bagaimana membuat perencanaan keuangan keluarga tarbiyah secara praktik. Ada banyak tabel dan formula yang bisa kita dapatkan dalam bab ini, juga banyak tips praktis yang bisa kita manfaatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, buku &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Tarbiyah Iqtishadiyah&lt;/span&gt; ini perlu dibaca oleh insan dan keluarga tarbiyah. Semoga motivasi, inspirasi dan panduan praktis dalam buku ini membuat keluarga tarbiyah menjadi keluarga yang sehat finansial dan dapat mendukung dakwah dengan dukungan yang lebih besar. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;[Muchlisin]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;center&gt;Dalam bentuk E-Book, &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tarbiyah Iqtishadiyah&lt;/span&gt; ini bisa didownload &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;a href="http://www.bersamadakwah.com/2010/06/download-100-buku-pengokohan-tarbiyah.html"&gt;Di Sini&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/center&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4661011185558750656-4619168664729444922?l=www.bersamadakwah.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.bersamadakwah.com/feeds/4619168664729444922/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.bersamadakwah.com/2011/11/tarbiyah-iqtishadiyah.html#comment-form' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4661011185558750656/posts/default/4619168664729444922'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4661011185558750656/posts/default/4619168664729444922'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.bersamadakwah.com/2011/11/tarbiyah-iqtishadiyah.html' title='Tarbiyah Iqtishadiyah'/><author><name>Admin BeDa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17749093855368398730</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-hD4D5mC_vlc/T7Guubv4RiI/AAAAAAAAEic/xrY3eBivBCM/s220/Bersama%2BDakwah%2B-%2Blogo%2Bprofil%2BFB.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-T5Oo1oDNS5Q/Tss7zNyyusI/AAAAAAAAC6c/SZpYmQU2HlQ/s72-c/Tarbiyah%2BIqtishadiyah%2B400px.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4661011185558750656.post-6358098813069252059</id><published>2011-10-17T16:00:00.001+07:00</published><updated>2011-10-18T14:24:42.844+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bedah Buku'/><title type='text'>Sakinah Bersamamu</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-7s9Mkg8cNzY/Tp0pX01MMaI/AAAAAAAACuQ/YI2ad0_ZG8A/s1600/Sakinah%2BBersamamu%2B-%2BAsma%2BNadia.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-7s9Mkg8cNzY/Tp0pX01MMaI/AAAAAAAACuQ/YI2ad0_ZG8A/s320/Sakinah%2BBersamamu%2B-%2BAsma%2BNadia.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5664729395597423010" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Judul Buku : &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Sakinah Bersamamu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Penulis : &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Asma Nadia&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Penerbit : Asma Nadia Publishing House&lt;br /&gt;Cetakan Ke : 8&lt;br /&gt;Tahun Terbit : Agustus 2011&lt;br /&gt;Tebal Buku : xii + 344 halaman&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari semua buku yang telah dibahas &lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;a href="http://muchlisin.blogspot.com/"&gt;Bersama Dakwah&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;, &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Sakinah Bersamamu&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; termasuk jenis buku baru. Sebab buku ini adalah gabungan dari fiksi dan nonfiksi. Ada 17 cerpen di dalam buku ini. Setelah satu cerpen selesai, diikuti dengan hikmah cerita yang disebut Asma Nadia sebagai "Bijak Berumahtangga Melalui Cerita."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti penuturan Asma Nadia sendiri dalam pengantar, sebenarnya dari 17 cerpen dalam buku ini, hanya cerpen terakhir berjudul &lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Sakinah Bersamamu&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; yang benar-benar baru. Sedangkan 16 cerpen lainnya pernah dimuat dalam buku-buku Asma Nadia lainnya. Meskipun demikian, pembaca akan menemukan "rasa" yang berbeda dari sebelumnya, karena 17 cerpen pilihan ini telah disusun sedemikian rupa untuk menciptakan benang merah agar dari semua cerita dapat ditangkap makna dan nilai untuk lebih bijak berumah tangga. Kemudian di-&lt;span style="font-style:italic;"&gt;closing&lt;/span&gt; dengan catatan yang ingin dikomunikasikan Asma Nadia untuk menghadirkan "cermin utuh" dari tiap cerita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada cerita pertama "Rahasia Mas Danu", misalnya. Setelah cerpen selesai, kita disuguhi tiga halaman &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Bijak Berumahtangga Melalui Cerita&lt;/span&gt; di bawah judul &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Berbeda Itu Pelangi&lt;/span&gt;. Dengan gaya bahasa yang ringan dan santai, Asma Nadia mengajak kita bercermin dari cepren Mas Danu agar melihat perbedaan karakter sebagai sebuah kewajaran. Dan, sangat mungkin terjadi jika suami bertipe seperti Mas Danu yang pendiam dan tertutup, sedangkan sang istri bertipe seperti Eni yang ekspresif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Solusi menghadapi problem rumah tangga dihadirkan Asma Nadia dalam catatan-catatan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Bijak Berumahtangga Melalui Cerita&lt;/span&gt; itu. Misalnya untuk mempertahankan hubungan jika suami istri berbeda karakter layaknya Mas Danu dan Eni, Asma Nadia memberikan dua pilihan. Pertama, mendekatkan karakter mereka dengan pasangan. Kedua, saling menerima keadaan masing-masing. "Secara pribadi saya tertarik dengan pilihan pertama," demikian Asma Nadia secara halus memberikan rekomendasi tanpa menggurui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada cerpen kedua, kita akan bertemu dengan Nita yang sangat berbakti pada Her, suaminya. Semua pekerjaan rumah tangga dan anak-anak sukses dirampungkan Nita dengan sempurna. Hanya saja, sang suami merasa ada hal yang kurang dari istrinya yang salihah itu; penampilan. Sang suami sempat berpikir negatif untuk mencari apa yang ia sebut "kegilaan". Ini karena ia dihinggapi "kebosanan" terhadap istri yang tampil sederhana, bahkan dengan baju yang lusuh dan lama. Semacam kehilangan "gairah bercinta". Untungnya ia tak melangkah terlalu jauh untuk kemudian kembali kepada keluarga dengan kesadaran baru: cinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah cerpen sebelas halaman ini selesai, Asma Nadia mengajak pembaca –khususnya para istri- untuk bercermin bersama dari cerpen itu melalui catatannya bertajuk &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Cantik di Mata Suami&lt;/span&gt;. Belasan tips dihadirkan Asma Nadia untuk para istri agar tetap cantik di mata suami walau pernikahan telah berjalan lama dan anak-anak telah banyak jumlahnya. Diantaranya untuk mempensiunkan baju-baju lama apalagi yang robek, di hadapan suami. Ketika berduaan di rumah hanya dengan suami, istri bisa memakai pakaian minimalis alias seksi. Untuk perawatan wajah, bisa memakai resep-resep tradisional yang tak kalah khasiatnya daripada perawatan modern yang mahal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;15 cerpen berikutnya tak kalah menarik dari dua cerpen pertama. Semuanya mengajak kita untuk bercermin agar semakin bijak dalam berumah tangga. Bukan hanya untuk dikonsumsi para istri, &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Sakinah Bersamamu&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; juga perlu dibaca para suami agar lebih mengerti, seperti kalimat Asma Nadia di cover buku ini: "Cinta bukanlah mencari pasangan yang sempurna, tapi menerima pasangan kita dengan sempurna." &lt;span style="font-style:italic;"&gt;[Muchlisin]&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4661011185558750656-6358098813069252059?l=www.bersamadakwah.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.bersamadakwah.com/feeds/6358098813069252059/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.bersamadakwah.com/2011/10/sakinah-bersamamu.html#comment-form' title='9 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4661011185558750656/posts/default/6358098813069252059'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4661011185558750656/posts/default/6358098813069252059'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.bersamadakwah.com/2011/10/sakinah-bersamamu.html' title='Sakinah Bersamamu'/><author><name>Admin BeDa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17749093855368398730</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-hD4D5mC_vlc/T7Guubv4RiI/AAAAAAAAEic/xrY3eBivBCM/s220/Bersama%2BDakwah%2B-%2Blogo%2Bprofil%2BFB.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-7s9Mkg8cNzY/Tp0pX01MMaI/AAAAAAAACuQ/YI2ad0_ZG8A/s72-c/Sakinah%2BBersamamu%2B-%2BAsma%2BNadia.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>9</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4661011185558750656.post-4759540073798522842</id><published>2011-09-12T13:00:00.002+07:00</published><updated>2011-09-12T13:43:49.334+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bedah Buku'/><title type='text'>Bintang-Bintang Penerus Doktor Cilik</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-TD2LnXDnq0g/Tm2oCxE_3KI/AAAAAAAACoM/5oFCG2EwCxs/s1600/Bintang-bintang%2BPenerus%2BDoktor%2BCilik.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-TD2LnXDnq0g/Tm2oCxE_3KI/AAAAAAAACoM/5oFCG2EwCxs/s320/Bintang-bintang%2BPenerus%2BDoktor%2BCilik.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5651357872907345058" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align:justify;"&gt;Judul Buku : &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Bintang-Bintang Penerus Doktor Cilik&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Penulis : &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Dina Y. Sulaeman&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Penerbit : Pustaka IIMaN, Depok&lt;br /&gt;Cetakan Ke : 1&lt;br /&gt;Tahun Terbit : Juli 2011&lt;br /&gt;Tebal Buku : 241 halaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda yang telah membaca buku &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Doktor Cilik Hafal dan Paham Al-Qur'an&lt;/span&gt;, atau telah mengetahui cerita tentang Husein Tabataba'i mungkin tidak asing dengan siapa yang dimaksud sebagai "doktor cilik" dalam judul buku ini. Namun, karena tidak semua pembaca mengenalnya dengan baik, perlu kiranya dibahas terlebih dulu siapa dia. Dan seperti itulah buku "&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Bintang-Bintang Penerus Doktor Cilik&lt;/span&gt;" ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Siapakah Doktor Cilik Itu?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;2 bab awal pada buku ini membahas tentang doktor cilik yang tak lain adalah Sayyid Muhammad Husein Tabataba'i. Bab pertama diberi judul &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Mukjizat Abad 20 Doktor Honoris Causa 7 Tahun&lt;/span&gt;. Sedangkan bab kedua diberi judul &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Anak Kecil yang Berbicara dengan Al-Qur'an&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Husein Tabataba'i dilahirkan pada 16 Februari 1991 di kota Qom, sekitar 135 kilometer dari Teheran, ibu kota Iran. Kedua orangtuanya menikah pada usia 17 tahun dan keduanya berkomitmen menghafalkan Al-Qur'an. Enam tahun setelah berkeluarga keduanya hafal Al-Qur'an 30 juz sesuai dengan cita-citanya. Dan cita-cita seperti itu juga ingin diwujudkannya pada anak mereka, sejak usia dini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada usia 2 tahun 4 bulan, Husein Tabataba'i sudah hafal juz 30. lalu setelah itu juz 29. Kemudian juz pertama, kedua, dan seterusnya. Pada proses menghafalkan itulah, ayah Husein Tabataba'i, Sayyid Mahdi Tabataba'i, menemukan bahwa metode konvensional itu sangat terbatas. Ia pun mengembangkan metodenya sendiri, yaitu dengan menggunakan isyarat tangan untuk masing-masing kata dalam Al-Qur'an. Dengan metode ini Husein Tabataba'i menjadi lebih mudah menghafalkan Al-Qur'an dan memahami terjemahnya dalam bahasa Persi sekaligus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada Februari 1998, Husein Tabataba'i di usianya yang baru 7 tahun menerima gelar doktor (honoris causa) dari &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Hijaz Colledge Islamic University&lt;/span&gt; di Inggris setelah Husein Tabataba'i lulus ujian doktoral di sana dengan nilai 93 dalam bidang Science of The Retention of Holy Quran. Husein Tabataba'i bukan hanya hafal Al-Qur'an tetapi juga mampu menerjemahkannya ke dalam bahasa Persi, sekaligus memahami makna atau tafsirnya. Salah satu kemampuan istimewa Husein Tabataba'i adalah bisa tahu persis terusan lengkap penggalan ayat, letak ayat itu di surat apa, juz berapa, halaman ke berapa; seperti &lt;span style="font-style:italic;"&gt;search engine&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Rahasia Sukses Husein Tabataba'i&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Lalu apa rahasia sukses Husein Tabataba'i  dalam menghafalkan dan memahami Al-Qur'an secanggih itu? Kita bisa menemukannya pada bab pertama buku ini baik melalui ayah dan ibu Husein Tabataba'i maupun pemaparan langsung penulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Husein Tabataba'i hidup di tengah lantunan Al-Qur'an. Ayah dan ibunya hafal Al-Qur'an 6 tahun setelah menikah. Yang tak kalah penting, selama masa kehamilan, ibu Husein Tabataba'i selalu berdoa kepada Allah agar dikaruniai anak yang shalih dan pintar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat mengandung dan menyusui Husein Tabataba'i, sang ibunda teratur membacakan Al-Qur'an untuknya. Sehari minimal 1 juz. Ketika Husein Tabataba'i telah lahir, sang ibunda selalu berwudlu sebelum menyusuinya. Bersamaan dengan menyusui, ibunda Husein Tabataba'i tidak melewatkan kesempatan itu untuk memperdengarkan Al-Qur'an untuknya. Jadi, sang ibunda bertilawah sambil menyusui putranya itu. Tentu saja ini mudah karena ia telah hafal Al-Qur'an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak kecil, ayah dan ibunda  Husein Tabataba'i telah menjauhkannya dari musik dan lagu yang tidak islami, campur baur perempuan dan lelaki, serta hal lain yang tak sejalan dengan aturan syar'i.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Metode pembelajaran yang dikembangkan ayah sekaligus guru Husein Tabataba'i menjadi kunci utamanya; efektif untuk anak, sesuai tahap perkembangannya. Metode menghafal Husein Tabataba'i itu bertumpu pada : melalui bermain, menggunakan isyarat tangan, dikaitkan dengan percakapan keseharian, menyenangkan dan langsung diaplikasikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Para Penerus Doktor Cilik&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Menyusul sukses Husein Tabataba'i, sang ayah tidak berhenti. Ia mengembangkan sistem pembelajaran menghafal Al-Qur'an itu melalui lembaga pendidikan miliknya; Jami'atul Qur'an. Di sana ia mendidik Husein-Husein yang lain hingga jadilah mereka para penerus Husein Tabataba'i.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sistem pembelajaran itu terbukti efektif dengan keberhasilan anak-anak Iran menghafalkan dan memahami Al-Qur'an dengan cepat. Pada bab tiga, penulis lain yaitu Ismail Amin (buku  "Bintang-Bintang Penerus Doktor Cilik" ini memang ditulis oleh tiga orang; Dina Y. Sulaeman, Otong Sulaeman, dan Ismail Amin) mengengahkan hasil wawancara dengan empat orang. Selain Husein Tabataba'i, tiga yang lainnya adalah penerusnya; "doktor-doktor cilik" generasi berikutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Ali Amini&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ali Amini lahir pada 27 Juli 2003 di kota kecil Marageh, provinsi Azerbaijan Timur, Iran Barat. Sang ibunda, Zahra (28), biasa membacakan Al-Qur'an untuknya saat ia masih dalam kandungan. Dalam usia yang masih kanak-kanak itu, Ali Amini telah mulai menguasai tafsir dan asbabun nuzul ayat yang dihafalnya. Pada usia tiga tahun, profil Ali Amini sudah masuk surat kabar karena ia mengharapkan Imam Mahdi segera muncul. Dalam sehari, Ali Amini mampu menghafal satu sampai satu setengah hafalan, dengan muraja'ah 6-7 jam sehari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Sayyid Muhammad Husein Huseini&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dengan Husein Tabataba'i yang kedua orangtuanya hafidz, orang tua Husein Huseini bukan penghafal Al-Qur'an. Namun mereka memiliki kesamaan: sama-sama cinta Al-Qur'an dan rajin membacanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih muda 4 tahun dari Husein Tabataba'i, Husein Huseini lahir 8 Oktober 1995di kota Qom. Ia kini telah hafal 30 juz, paham tafsir, dan juga memiliki kemampuan '&lt;span style="font-style:italic;"&gt;search engine&lt;/span&gt;'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demi mendukung Husein Huseini mampu menghafalkan Al-Qur'an dan memahaminya dengan baik, sang ibunda, Sadiqah Ma'maari rela meninggalkan profesinya sebagai dokter dan menutup tempat praktiknya. Semata-mata agar ia bisa menemani putranya lebih intens dan "memastikannya" menjadi penghafal Al-Qur'an. Husein Huseini adalah salah satu murid ayah Husein Tabataba'i, Sayyid Mahdi Tabataba'i.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Mujataba Karshenash&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Mujataba Karshenash lahir pada 28 Juli 1996, di kota kecil Darab di Provinsi Fars. Saat diwawancarai penulis buku ini, Mujataba Karshenash telah hafal 30 juz. Ia juga telah memiliki kemampuan "&lt;span style="font-style:italic;"&gt;search engine&lt;/span&gt;" layaknya Husein Tabataba'i, namun belum begitu menguasai tafsir karena ia belum memulai tingkatan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demi anaknya hafal Al-Qur'an dan bisa seperti Husein Tabataba'i, keluarga Mujataba Karshenash hijrah ke Qom yang berjarak 444 mil dari kota mereka. Di Qom, Mujataba Karshenash disekolahkan di Jamiatul Qur'an milik ayah Husein Tabataba'i. Ibunya juga rela melepas kerja demi anak yang disayanginya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Jami'atul Qur'an di Iran dan Rumah Qur'ani di Indonesia&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pada bab keempat, buku "Bintang-Bintang Penerus Doktor Cilik" ini mengetengahkan profil Jami'atul Qur'an dan metodenya dalam mengajarkan anak-anak menghafal Al-Qur'an. Bab ini juga disertai contoh-contoh isyarat tangan untuk sejumlah kata dalam Al-Qur'an berikut dengan foto peragaannya. Sedangkan bab terakhir, bab 5, mengetengahkan penerapan metode ala Jamiatul Qur'an di Indonesia yang dalam hal ini adalah Rumah Qur'ani. Tiga langkah metode Rumah Qur'ani meliputi permainan yang sesuai makna ayat, dongeng/cerita yang merupakan kesimpulan permainan, serta penggunaan isyarat tangan ala Jami'atul Qur'an yang telah disesuaikan dengan budaya dan bahasa Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Bonus DVD Husein Tabataba'i&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Hal menarik dari buku ini selain wawancara langsung penulis dengan para "doktor cilik" adalah bonus DVD Husein Tabataba'i. DVD berdurasi hampir satu jam itu berisi wawancara dengan Husein Tabataba'i sepulang umrah, acara Husein Tabataba'i di Makkah bersama warga Isran, serta acara Husein Tabataba'i di Makkah bersama para ulama Lebanon. Bagi Anda para orangtua yang memerlukan inspirasi mendidik anak menjadi generasi Qur'ani sekaligus mengetahui metode "doktor cilik", buku "&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Bintang-Bintang Penerus Doktor Cilik&lt;/span&gt;" ini pantas Anda miliki. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;[Muchlisin]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;center&gt;Mau buku Anda direview di blog ini? Kirimkan ke alamat kami dengan terlebih dahulu menghubungi email &lt;span style="font-style:italic;"&gt;bersamadakwah[at]yahoo.com&lt;/span&gt;&lt;/center&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4661011185558750656-4759540073798522842?l=www.bersamadakwah.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.bersamadakwah.com/feeds/4759540073798522842/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.bersamadakwah.com/2011/09/bintang-bintang-penerus-doktor-cilik.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4661011185558750656/posts/default/4759540073798522842'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4661011185558750656/posts/default/4759540073798522842'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.bersamadakwah.com/2011/09/bintang-bintang-penerus-doktor-cilik.html' title='Bintang-Bintang Penerus Doktor Cilik'/><author><name>Admin BeDa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17749093855368398730</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-hD4D5mC_vlc/T7Guubv4RiI/AAAAAAAAEic/xrY3eBivBCM/s220/Bersama%2BDakwah%2B-%2Blogo%2Bprofil%2BFB.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-TD2LnXDnq0g/Tm2oCxE_3KI/AAAAAAAACoM/5oFCG2EwCxs/s72-c/Bintang-bintang%2BPenerus%2BDoktor%2BCilik.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4661011185558750656.post-3237440250867829505</id><published>2011-09-05T16:00:00.001+07:00</published><updated>2011-09-06T10:53:36.286+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bedah Buku'/><title type='text'>Tarbiyah Ruhiyah</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-Z5p96jdckN8/TmWY5MTPN8I/AAAAAAAACmk/UKFs5mKMqMo/s1600/Tarbiyah%2BRuhiyah.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-Z5p96jdckN8/TmWY5MTPN8I/AAAAAAAACmk/UKFs5mKMqMo/s320/Tarbiyah%2BRuhiyah.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5649089415928035266" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align:justify;"&gt;Judul Buku : &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Tarbiyah Ruhiyah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Penulis : &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Sa'id Hawwa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Penerbit : Era Adicitra Intermedia, Solo&lt;br /&gt;Cetakan Ke : 1&lt;br /&gt;Tahun Terbit : Rajab 1431 H/Juni 2010&lt;br /&gt;Tebal Buku : x + 238 halaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi aktifis dakwah, tarbiyah ruhiyah adalah sebuah keniscayaan. Jika dalam ranah individu seorang mukmin membutuhkan tiga aspek tarbiyah, maka tarbiyah ruhiyah menempati posisi yang sangat penting melebihi tarbiyah lainnya; fikriyah dan jasadiyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita pun menjumpai banyak ayat Al-Qur'an yang menekankan pentingnya tarbiyah ruhiyah. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;"Qad aflaha man zakkaahaa..."&lt;/span&gt;, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;"Qad aflaha man tazakkaa..."&lt;/span&gt;, dan seterusnya. Diutusnya Rasulullah Muhammad SAW pun dinyatakan oleh Allah dalam kitab-Nya dalam rangka men-tazkiyah umatnya. Tazkiyah memiliki korelasi yang sangat erat dengan tarbiyah ruhiyah, kalau tidak boleh disebut nama lainnya. Karenanya dalam buku tarbiyah ruhiyah ini, kita mendapatkan titik tekan pembahasan Sa'id Hawa juga bermuara pada tazkiyatun nafs.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku Tarbiyah Ruhiyah merupakan terjemahan dari Tarbiyatuna Ar-Ruhiyah. Ia merupakan salah satu buku dari trilogi Tarbiyah Ruhiyah Sa'id Hawwa. Didahului dengan pembahasan mengenai syumuliyatul Islam pada bab pertama. Pada bab itu, Sa'id Hawwa memaparkan posisi tarbiyah ruhiyah yang memiliki akar hujjah dalam Islam yang komprehensif serta penegasan istilah dalam ranah "tarbiyah ruhiyah" agar pembaca tidak salah menangkap makna sebuah istilah dalam pembahasan berikutnya. Penegasan istilah itu dipandang perlu karena adanya dua atau lebih makna pada satu istilah yang sama. Misalnya hati, ruh, nafsu, dan akal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Empat istilah itu kemudian dibahas secara mendetail di bab 2, dalam perspektif tasawuf. Sa'id Hawwa menegaskan bahwa ilmu tasawuf tidak membahas hakikat ruh, yang ditekankan adalah bagaimana agar ruh seorang manusia bisa mendapati kebersamaan Allah. Yaitu melalui penghambaan yang murni, belajar pada ahli makrifat dan mengikuti jejak mereka, serta berzikir dan mengingat akhirat. Pembahasan hati diawali dengan jenis-jenis hati dalam Al-Qur'an lalu diakhiri dengan bagaimana menyehatkan atau me"rehabilitasi" hati. Akal juga demikian; disebutkan pembagiannya lalu bagaimana memperlakukannya menuju perjalanan ruhani. Sedangkan pembahasan nafs, diarahkan pada tazkiyatun nafs dengan merekomendasikan ilmu apa yang diperlukan untuknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada bab 2 "Kajian Ilmu Tasawuf" ini, juga dilengkapi dengan penjelasan posisi ilmu tasawuf dalam kaitannya dengan aqidah, fiqih, serta sisi manifestasi Al-Qur'an dan Sunnah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada bab 3 dan 4 kita diajak Sa'id Hawwa untuk mendalami "Perjalanan Menuju Allah". Perjalanan menuju Allah dalam istilah Sa'id Hawwa tidaklah berbeda jauh dengan tazkiyatun nafs maupun "perjalanan ruhani" yang disebut pada bab-bab sebelumnya. Karenanya Sa'id Hawwa mengawali pembahasan bab ini dengan menyebutkan definisi "perjalanan menuju Allah" sebagai "proses beralihnya jiwa yang kotor dan tercemar menuju jiwa yang suci lagi tersucikan; peralihandari akan non-syar'i menuju akal syar'i, dari hati yang kafir menuju hati yang mukmin; atau dari hati yang fasik, sakit, dan keras menuju hati yang tenang, tenteram, dan sehat."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, perjalanan menuju Allah menurut Sa'id Hawwa haruslah melalui  dua rukun, yaitu ilmu dan dzikir. "Ilmu adalah penerang jalan, sedangkan zikir adalah bekal perjalanan dan sarana pendakian pada jenjang yang lebih tinggi," tulis Sa'id Hawwa pada halaman 107.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bab-bab berikutnya diarahkan pada kalbu sebagai pusat garapan tarbiyah islamiyah dengan wirid harian dan latihan ruhani sebagai langkah terapinya. Di sinilah, tarbiyah ruhiyah Sa'id Hawwa ini berbeda dengan pendekatan tasawuf yang sering kali memiliki jalan (thariqat) yang aneh-aneh. Sa'id Hawwa tetap berpijak pada dalil Al-Qur'an dan Sunnah dalam menjelaskan ilmu tasawuf dan tarbiyah ruhiyah ini, lalu pada latihan ruhani juga tetap dalam koridor ittiba' kepada Rasulullah SAW. Diantara latihan ruhani yang direkomendasikan Sa'id Hawwa untuk men-tarbiyah ruhiyah adalah:&lt;br /&gt;1. Shalat fardhu lima waktu dengan berjamaah&lt;br /&gt;2. Menegakkan shalat Dhuha, tahajud, dan shalat witir&lt;br /&gt;3. Melakukan sunah-sunah rawatib&lt;br /&gt;4. Melaksanakan shalat tasbih setiap hari, jika memungkinkan&lt;br /&gt;5. Mengatur dan menentukan saat pengkhataman Al-Qur'an secara khusus bagi dirinya selama latihan berlangsung&lt;br /&gt;6. Menyibukkan diri dengan wirid-wirid, dari istighfar sampai salawat Nabi&lt;br /&gt;7. Membaca wirid yang berkaitan dengan sesuatu. Seperti wirid shalat, doa dan wirid pagi dan petang, dan sebagainya&lt;br /&gt;8. Berpuasa pada hari-hari yang memungkinkan&lt;br /&gt;9. Membiasakan  sedikit makan, sedikit bicara dan sedikit bergaul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, buku ke-19 dari &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;a href="http://muchlisin.blogspot.com/2010/06/download-100-buku-pengokohan-tarbiyah.html"&gt;100 Buku Pengokohan Tarbiyah&lt;/a&gt;&lt;/span&gt; ini perlu untuk dibaca oleh aktifis dakwah. Beratnya pembahasan teori pada bab-bab awal akan membuahkan pemahaman yang sistematis jika terus diikuti hingga pada bab-bab akhir yang bersifat praktis aplikatif. Melalui wasilah buku &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Tarbiyah Ruhiyah&lt;/span&gt; ini, semoga kita menjadi aktifis dakwah yang terus &lt;span style="font-style:italic;"&gt;concern &lt;/span&gt;pada tarbiyah ruhiyah di manapun peran kita dan di mihwar apapun kita berada. Wallaahu a'lam bish shawab. [Muchlisin]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;center&gt;Dalam bentuk E-Book, &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tarbiyah Ruhiyah&lt;/span&gt; Bisa Didownload &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;a href="http://muchlisin.blogspot.com/2010/06/download-100-buku-pengokohan-tarbiyah.html"&gt;Di Sini&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/center&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4661011185558750656-3237440250867829505?l=www.bersamadakwah.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.bersamadakwah.com/feeds/3237440250867829505/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.bersamadakwah.com/2011/09/tarbiyah-ruhiyah.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4661011185558750656/posts/default/3237440250867829505'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4661011185558750656/posts/default/3237440250867829505'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.bersamadakwah.com/2011/09/tarbiyah-ruhiyah.html' title='Tarbiyah Ruhiyah'/><author><name>Admin BeDa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17749093855368398730</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-hD4D5mC_vlc/T7Guubv4RiI/AAAAAAAAEic/xrY3eBivBCM/s220/Bersama%2BDakwah%2B-%2Blogo%2Bprofil%2BFB.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-Z5p96jdckN8/TmWY5MTPN8I/AAAAAAAACmk/UKFs5mKMqMo/s72-c/Tarbiyah%2BRuhiyah.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4661011185558750656.post-889713987839154919</id><published>2011-03-14T16:00:00.000+07:00</published><updated>2011-03-14T16:24:51.134+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bedah Buku'/><title type='text'>Breaking The Time</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-QHGNgGFjqmo/TX3eMdIaY3I/AAAAAAAAB2s/m3DdO1AM0jE/s1600/Breaking%2BThe%2BTime%2B-%2BSatria%2BHadi%2BLubis%2B600px.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 120px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-QHGNgGFjqmo/TX3eMdIaY3I/AAAAAAAAB2s/m3DdO1AM0jE/s200/Breaking%2BThe%2BTime%2B-%2BSatria%2BHadi%2BLubis%2B600px.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5583863418568991602" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Judul buku  : &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Breaking The Time&lt;/span&gt;; Kiat Memaksimalkan Keterbatasan Waktu Agar Hidup Lebih Dahsyat&lt;br /&gt;Penulis  : &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Satria Hadi Lubis&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Penerbit  : Pro You (Kelompok Pro U Media) Yogyakarta&lt;br /&gt;Tahun Terbit  : November 2010&lt;br /&gt;Tebal  : 126 hlm&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adakah "hukum" yang sama bagi orang-orang sukses yang bisa dipelajari oleh orang lain secara mudah dan praktis? &lt;span class="fullpost"&gt;Satria Hadi Lubis memastikan bahwa "hukum" itu ada. Salah satunya –bahkan intinya- adalah pengaturan waktu yang efektif. Managemen waktu. Sayangnya, banyak orang yang tidak mampu melakukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian orang mungkin telah mempelajarinya melalui membaca buku tentang itu. Namun, banyak buku tentang managemen waktu yang terlalu teoretis. Karena itulah Satria Hadi Lubis menulis buku ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesuai dengan judulnya, setelah membaca &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Breaking The Time&lt;/span&gt;, diharapkan pembaca mampu mendobrak keterbatasan waktu dan memperoleh keberlimpahan waktu. Tampaknya, harapan ini sangat mungkin tercapai. Sebab, nyatanya, buku yang diterbitkan oleh &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Pro You&lt;/span&gt; (Kelompok Pro U Media) ini berisi panduan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;step by step&lt;/span&gt; tentang manajemen waktu. Mulai dari hal yang paling mendasar, yakni mendefinisikan misi hidup, lalu menentukan peran, visi peran sampai pada teknis pembuatan rencana pekanan dan rencana harian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Misi Hidup&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Konsep Manajemen Waktu &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Breaking The Time&lt;/span&gt; dimulai dari misi hidup. Dalam pandangan Satria Hadi Lubis, misi hidup sangat penting untuk, tidak hanya dibuat, tetapi juga dituliskan lalu dipasang di tempat strategis agar bisa dibaca setiap saat, lalu terinternalisasi dan menjadi pikiran bawah sadar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi Anda yang telah membaca buku Anis Matta, khususnya &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Delapan Mata Air Kecemerlangan&lt;/span&gt;, istilah "misi hidup" Satria Hadi Lubis tidak sama persis dengan yang dimaksudkan Anis Matta. Karenanya, ia juga berbeda secara mendasar pada bagaimana "memunculkan" misi hidup itu. Anis Matta mengatakan bahwa misi hidup –dalam Islam- bersifat &lt;span style="font-style: italic;"&gt;given&lt;/span&gt;. Manusia muslim hanya perlu menyadarinya, bukan memformulasikannya. Satria Hadi Lubis dalam &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Breaking The Time&lt;/span&gt; ini justru merekomendasikan pembaca untuk membuat misi hidup. Jika kita amati, perbedaan itu terletak pada keumuman "misi hidup" yang dimaksudkan Anis Matta. Sedangkan Satria Hadi Lubis telah memasukkan unsur peran dalam rumusan misi hidup. Artinya, peran apa yang akan diambil dalam menjalankan misi besarnya sebagai hamba Allah. Pada titik ini, meskipun istilahnya berbeda, sebenarnya Anis Matta dan Satria Hadi Lubis tidak berseberangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misi Hidup menurut &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Breaking The Time&lt;/span&gt; haruslah positif. Misi hidup Anda perlu mencakup jawaban dari enam pertanyaan; siapa Anda, mengapa Anda ada, Apa keunggulan Anda, untuk siapa Anda bekerja, apa produk/hasil kerja Anda, dan di mana Anda mengerjakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Menentukan Peran&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Setelah membuat dan menuliskan misi hidup, selanjutnya Anda perlu menentukan peran. Saat ini, tidak satupun manusia yang memiliki peran tunggal. Andapun pasti demikian. Untuk menentukan peran Anda perlu menginventarisir seluruh peran dan kemudian menyeleksinya. Misalnya sebagai karyawan, pengurus yayasan, anggota parpol, suami, ayah, anak (dari orang tua Anda yang masih hidup), anggota masyarakat, sekaligus penulis. Inventarisir semua peran itu. Kemudian seleksi. Jika ada yang tidak sesuai misi hidup, peran itu perlu dibuang. Jika ada yang memiliki kesamaan atau serumpun, peran-peran itu bisa disatukan. Misalnya peran sebagai suami, ayah, dan anak bisa disatukan menjadi peran keluarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Visi Peran&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Langkah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Breaking The Time&lt;/span&gt; berikutnya adalah menentukan visi peran. Visi peran ini perlu dibuat dengan sebuah –atau beberapa- kalimat yang terukur, fleksibel, dapat dicapai, jelas, dan singkat. Visi peran perlu dievaluasi dalam rentang waktu tertentu. Satria Hadi Lubis merekomendasikan tiga bulan atau enam bulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Rencana Pekanan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Setelah setiap peran Anda memiliki visi yang jelas, kini saatnya Anda memasukkannya dalam sasaran jangka menengah. Alatnya adaah rencana pekanan. Bagi Anda yang telah membaca buku &lt;span style="font-style: italic;"&gt;7 Habits of Highly Effective People&lt;/span&gt;, model rencana pekanan Breaking The Time tidak jauh dari itu. Pada lembar kerja itu ada kolom peran, prioritas pekanan, prioritas hari ini, dan jadwal kegiatan.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-3KIKfsn-hfo/TX3elS-wycI/AAAAAAAAB20/5yXvHD_JJFY/s1600/Lembar%2BKerja%2BPekanan.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 317px; height: 400px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-3KIKfsn-hfo/TX3elS-wycI/AAAAAAAAB20/5yXvHD_JJFY/s400/Lembar%2BKerja%2BPekanan.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5583863845340891586" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Setiap kegiatan atau agenda yang diisikan dalam rencana pekanan, semuanya harus mengacu kuadran II. Setidaknya kuadran IV. Pada matriks manajemen waktu, Satria Hadi Lubis membaginya menjadi enam kuadran. Jika pada 7 Habits of Highly Effective People Stephen R. Covey membagi menjadi empat kuadran: Penting - Mendesak, Penting - Tidak Mendesak, Tidak Penting – Mendesak, dan Tidak Penting – Tidak Mendesak, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Breaking The Time&lt;/span&gt; membaginya begini; Sesuai Misi Hidup dan Visi Peran – Mendesak, Sesuai Misi Hidup dan Visi Peran – Tidak Mendesak, Sesuai Misi Hidup Tidak Sesuai Visi Peran – Mendesak, Sesuai Misi Hidup Tidak Sesuai Visi Peran – Tidak Mendesak, Tidak Sesuai Misi Hidup dan Visi Peran – Mendesak, serta Tidak Sesuai Misi Hidup dan Visi Peran – Tidak Mendesak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Rencana Harian&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Langkah terakhir dari manajemen waktu dalam Breaking The Time adalah membuat rencana kerja harian. Ia lebih detail dari rencana pekanan, sekaligus tidak boleh diisi dengan hal yang umum. Misalnya: "bekerja". Namun harus pada detail pekerjaannya. Misalnya: "membuat surat kontrak", atau "menemui klien untuk kerja sama X".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika rencana pekanan direkomendasikan dibuat pada hari Ahad, maka rencana harian direkomendasikan dibuat sebelum tidur atau pagi hari sebelum berangkat kerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bukan Teori, Ini Buku Panduan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Meskipun tergolong tipis -126 halaman dengan ukuran 12 x 20 cm- buku &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Breaking The Time&lt;/span&gt; memuat banyak informasi penting seputar manajemen waktu sekaligus memberikan motivasi agar kita mampu memanfaatkan waktu dengan tepat. Nilai lebih buku ini tentu saja terletak pada muatannya yang bersifat panduan praktis. Dengan bahasa yang ringan disertai gambar-gambar ilustrasi menarik dan contoh tabel rencana pekanan dan rencana harian serta matriks, langkah-langkah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Breaking The Time&lt;/span&gt; menjadi sangat mudah untuk dimengerti. Selanjutnya, selamat membaca sendiri bukunya dan semoga menjadi pendobrak keterbatasan waktu. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;[Muchlisin]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4661011185558750656-889713987839154919?l=www.bersamadakwah.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.bersamadakwah.com/feeds/889713987839154919/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.bersamadakwah.com/2011/03/breaking-time.html#comment-form' title='10 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4661011185558750656/posts/default/889713987839154919'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4661011185558750656/posts/default/889713987839154919'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.bersamadakwah.com/2011/03/breaking-time.html' title='Breaking The Time'/><author><name>Admin BeDa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17749093855368398730</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-hD4D5mC_vlc/T7Guubv4RiI/AAAAAAAAEic/xrY3eBivBCM/s220/Bersama%2BDakwah%2B-%2Blogo%2Bprofil%2BFB.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-QHGNgGFjqmo/TX3eMdIaY3I/AAAAAAAAB2s/m3DdO1AM0jE/s72-c/Breaking%2BThe%2BTime%2B-%2BSatria%2BHadi%2BLubis%2B600px.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>10</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4661011185558750656.post-5716899560028155277</id><published>2011-02-28T08:00:00.003+07:00</published><updated>2011-02-28T08:41:11.764+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bedah Buku'/><title type='text'>Orang Tuaku Hobi Menghukum</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-EPgrf0_xkQ0/TWr5MKQUW3I/AAAAAAAAB08/oRfgpN1RE4I/s1600/Orang%2BTuaku%2BHobi%2BMenghukum.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 200px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-EPgrf0_xkQ0/TWr5MKQUW3I/AAAAAAAAB08/oRfgpN1RE4I/s200/Orang%2BTuaku%2BHobi%2BMenghukum.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5578545075758324594" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Judul buku  : &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Orang Tuaku Hobi Menghukum; Panduan Memberi Sanksi pada Anak Bagi Orang Tua dan Guru&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Penulis  : &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Miftahul Jinan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Penerbit  : Filla Press, Sidoarjo&lt;br /&gt;Tahun Terbit  : Ramadhan 1431 H/September 2010 M&lt;br /&gt;Tebal  : xii + 174 hlm&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangkali kita merasa aneh dengan judul buku ini. Bagaimana mungkin ada orang tua yang memiliki hobi menghukum anak? &lt;span class="fullpost"&gt;Namun jika dilihat dari karakteristik hobi lalu dibandingkan dengan hukuman yang diberikan orang tua kepada anak, nyatalah di sana ada sejumlah kesamaan. Dalam rangka memberikan rasionalisasi judul buku ini, penulis (Miftahul Jinan) mengemukakannya di awal-awal tulisan; pada pendahuluan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya saja, seseorang yang mempunyai hobi tertentu akan melakukannya berkali-kali. Jika dalam waktu yang relatif lama ia tidak melakukannya, maka ada sesuatu yang “hilang”. Sebaliknya, jika ia berhasil menjalankan hobinya, ia mendapatkan kepuasan. Demikian pula orang tua yang sering menghukum anaknya. Ia melakukannya berkali-kali, tanpa mengenal jadwal. Jika dalam waktu tertentu ia belum menghukum anak ia merasa ada yang kurang; ia merasa belum mendidik anak. Begitu orang tua telah menghukum anak dan melihat perubahan sikap anak, ia merasa puas dengan perubahan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karakter hobi yang lain adalah rela berkorban demi menjalankan hobi itu. Entah itu materi ataupun waktu. Karakter keempat ini diragukan oleh Miftahul Jinan, apakah ada orang tua yang rela berkorban untuk menghukum anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Mengapa Orang Tua “Hobi” Menghukum Anak?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pada bab pertama buku &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Orang Tuaku Hobi Menghukum&lt;/span&gt; ini, dijelaskan alasan mengapa orang tua “hobi” menghukum anak. Dalam pandangan Miftahul Jinan, setidaknya ada 5 hal yang melatarbelakangi atau menjadi alasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Pertama&lt;/span&gt;, karena dulunya ia dididik dengan hukuman. Semasa kecil, banyak orang tua yang dididik dengan hukuman oleh orangtuanya. Jika melakukan kesalahan dibentak, dijewer, atau dengan hukuman fisik lainnya. Nilai itu lalu terbawa sampai sekarang dan diberlakukan kepada anak-anak. Dalam bayangan orang tua seperti ini tidak ada salahnya menghukum anak sebagaimana ia dulu juga dihukum oleh orangtuanya dan nyatanya, pola pendidikan seperti itu “berhasil”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kedua&lt;/span&gt;, anggapan bahwa hukuman lebih “manjur”. Dicontohkan oleh Miftahul Jinan sebuah kasus anak yang mencoret-coret tembok. Orang tua punya –setidaknya- dua alternatif agar anak berhenti melakukannya. Pertama, memberitahukan kepada anak bahwa tempat mencoret itu di kertas atau papan tulis yang disediakan. Atau, kedua, membentak dan memukul tangannya agar berhenti mencoret di tembok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika alternatif pertama yang kita lakukan, boleh jadi anak memahami kemudian beralih segera ke kertas atau papan tulis, boleh jadi anak memahami namun tidak segera beralih, boleh jadi pula anak tidak memahami sehingga tetap mencoret di tembok.  Sedangkan alternatif kedua menjanjikan kepada orang tua, anak langsung berhenti mencoret di tembok. Kebanyakan orang tua lebih memilih alternatif kedua karena “keberhasilannya” yang instan itu. Padahal, bersamaan dengan hukuman itu sebenarnya kita telah menanamkan pola kekerasan yang membuat anak “hanya mau” menaati aturan setelah mendapatkan kekerasan, keputusan anak bersumber dari luar dirinya –khususnya oleh tekanan atau hal lain yang mengintimidasi, dan anak pun belajar menjadi emosional (tempramen); suka marah, membentak, kasar. Alternatif pertama akan membangun hal yang sebaliknya pada diri anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ketiga&lt;/span&gt;, minimnya ilmu parenting. Orang tua hanya mengetahui bahwa hukuman itu adalah satu-satunya cara mendidik. Tidak ada yang lain. Jika demikian halnya, orang tua perlu mengembangkan dirinya dalam hal mendidik anak. Ia perlu membaca buku tentang parenting, mengikuti seminar, pelatihan, dan sebagainya. Kemudian ia mencoba teknik baru tersebut dan mengurangi sikap yang kurang baik pada anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Keempat&lt;/span&gt;, efek konflik orangtua. Artinya, kerap kali anak mendapatkan hukuman dari ibu sebagai ungkapan kejengkelan dan “pelampiasan” kemarahan pada suaminya yang telah menyakitinya. Maka didapatkan fakta bahwa anak yang hidup dalam keluarga konflik mendapatkan hukuman yang lebih banyak daripada anak yang hidup dalam keluarga harmonis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seharusnya, meskipun orang tua sedang konflik mereka tidak melibatkan anak pada konflik tersebut. Apalagi menjadikan anak sebagai sasaran kemarahan. Konflik harus dihindarkan terlihat langsung oleh anak. Tentu saja, yang terbaik adalah menghindari konflik, mengatasinya dan berusaha menjadi keluarga yang selalu harmonis. Sakinah mawaddah wa rahmah, dalam terminologi Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kelima&lt;/span&gt;, orang tua bisa “hobi” menghukum karena tidak ada aturan yang jelas di rumah. Mana yang boleh dilakukan anak, mana yang tidak boleh dilakukan. Mana yang benar, mana yang salah. Anak tidak pernah diberitahukan, tidak pernah ditunjukkan, tapi begitu anak melakukan sesuatu yang menurut orang tua tidak benar langsung dihukum. Anak pun menjadi bingung dan serba salah. Misalnya anak keluar rumah sambil menutup pintu dengan keras dimarahi. Besuknya, anak keluar rumah dengan membiarkan pintu terbuka juga dimarahi. Anak menjadi bingung tanpa mengetahui letak kesalahannya di mana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Mempertimbangkan Jenis Hukuman&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kalaupun orang tua terpaksa menghukum anak, hendaklah ia mempertimbangkan jenis hukuman bagi anak. Baik dan buruknya bagi kita dan anak. Efektifitas dan juga dampaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak orang tua yang mengungkapkan rasa marahnya dengan membentak. Mathew meneliti bahwa 2/3 orang tua melakukan itu. Bahkan rata-rata orang tua membentak 5 kali dalam seminggu. Padahal, membentak adalah bentuk komunikasi yang tidak berguna, meningkatkan level adrenalin, membuat orang lain kesal, dan menyebabkan situasi semakin tak terkendali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam jangka panjang, anak yang sering dibentak orang tuanya akan mengalami masalah emosional, anak tumbuh tidak percaya diri khususnya jika selama dibentak orang tuanya ia hanya diam-menyerah, dan anak menjadi tertutup. Sedangkan bagi sebagian anak lainnya, khususnya yang tahan bentakan dan “berhasil” menganggapnya sebagai angin lalu, mereka tumbuh menjadi pribadi yang cuek dan masa bodoh. Namun jika ia tipe anak yang merasa dirinya memiliki kekuatan, ia tumbuh menjadi “pemberontak” dan “penentang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jenis hukuman berikutnya yang sering dilakukan orang tua adalah memukul pantat anak. Biasanya pukulan ini dilakukan secara spontan, dengan nada marah dan tanpa penjelasan. Kebiasaan ini menjadikan anak terbentuk untuk juga memukul ketika ia marah. Anak bisa tumbuh menjadi orang yang cinta kekerasan. Variasi lain dari memukul pantat yang “lebih baik” adalah dengan pendekatan terencana. Yaitu orang tua mengatakan terlebih dahulu kepada anak tentang aturan bahwa jika ia melanggar kesalahan tertentu, orang tua akan memukul pantatnya. Menurut Miftahul Jinan, ini lebih manjur daripada yang pertama, namun tetap saja ia kurang baik. Hanya boleh dilakukan dalam kondisi darurat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bentuk hukuman lain adalah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;time out&lt;/span&gt; (penyetrapan). Dalam acara &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Nanny 911&lt;/span&gt; sanksi ini cukup efektif. Anak diminta di tempat tertentu tanpa kegiatan apapun kecuali merenungi apa yang telah ia lakukan. Namun ketika orang tua menerapkan teknik ini, banyak yang hasilnya justru bertolak belakang. Dimungkinkan, karena orang tua mengabaikan beberapa aturan dalam teknik ini. Misalnya, paradigma awal bahwa &lt;span style="font-style: italic;"&gt;time out&lt;/span&gt; bukan hanya hukuman namun sarana mendidik anak untuk mengontrol pikiran dan perasaannya dan keberhasilan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;time out&lt;/span&gt; tidak berbanding lurus dengan durasinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Time out&lt;/span&gt; akan berjalan efektif jika dijalankan dengan sistem peringatan, konsisten dengan waktu &lt;span style="font-style: italic;"&gt;time out&lt;/span&gt; (salah satunya dengan menghitung mundur awal time out) dengan total &lt;span style="font-style: italic;"&gt;time out&lt;/span&gt; satu menit untuk satu tahun usia anak, ruangannya terpantau oleh orang tua dan tanpa pengalih perhatian, meletakkan pengatur waktu di tempat yang bisa dilihat anak, orang tua tidak menginterupsi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;time out&lt;/span&gt; meskipun anak merengek, dan harus ada pembicaraan setelah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;time out&lt;/span&gt; yang disampaikan dengan tenang untuk membersihkan suasana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bentuk hukuman berikutnya adalah mencabut fasilitas. Misalnya anak yang suka main komputer, ia diberi hukuman tidak boleh main komputer dalam waktu tertentu. Hukuman semacam ini bagi sebagian anak lebih ditakuti daripada hukuman fisik. Ia bisa menjadi efektif jika orang tua bisa dengan cermat menentukan jenis fasilitas yang dicabut, mengkomunikasikan aturannya dengan jelas kepada anak sehingga anak yang memilihnya, dan ketika melakukannya orang tua tetap mengontrol dirinya tetap tenang; tidak menyertanya dengan marah dan teriak-teriak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih ada beberapa jenis hukuman lain yang dilakukan orang tua kepada anak. Bahkan, juga dilakukan sekolah kepada siswa. Disebutkan contohnya oleh Miftahul Jinan, ada sekolah yang tidak menghukum siswanya dengan hukuman fisik tetapi memberikan sanksi dengan membaca istighfar 500 kali. Jika secara psikologi timbul perasaan bersalah dan menyesalinya dengan bacaan istighfar tadi, Miftahul Jinan memberikan selamat sekaligus menyetujui jenis hukuman ini. Namun jika tidak, ia menjadi kurang baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Dari Hukuman Ke Konsekuensi Logis&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Apa bedanya? Tentu saja bukan hanya berbeda secara istilah tetapi juga maknanya. Untuk memudahkannya Miftahul Jinan membuat sebuah contoh. Karena kertasnya telah penuh, Romi mencoret-coretkan krayonnya ke tembok. Mengetahui ini, mamanya membentak, “Romi, nakal sekali kamu ini!” Kemudian ia meraih tangan mungil Romi, memukulinya dan menyuruhnya berdiri di bawah dinding yang dicoret-coretnya. Romi hanya menangis dengan ketakutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di rumah yang lain, Rino melakukan hal yang hampir sama. Ia mencoreti dinding dengan cat air. Mengetahui anaknya sudah beralih dari kertas ke dinding, mamanya berkata, “Mas Rino… tempat mengecat itu di kertas yang mama sediakan, bukan di dinding. Sekarang ayo kita bersihkan dinding itu.” Setelah membersihkan dinding berdua, mama berkata lagi, “Mas Rino… dinding itu baru saja dicat oleh papa. Sekarang masih ada sisa kotoran dari coretanmu, ayo minta maaf pada papa.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang pertama adalah hukuman. Yang kedua adalah konsekuensi logis. Yang pertama hanya membuat Romi menangis ketakutan tanpa membuatnya sadar kesalahannya, yang kedua membuat Rino menyadari kesalahannya dan menjadikannya paham akan konsekuensi tindakannya; dinding jadi kotor, ia harus membersihkannya kembali, lalu meminta maaf pada papa yang telah mengecatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi apa yang membedakan konsekuensi logis dengan hukuman atau sanksi? Konsekeunsi logis adalah proses belajar. Dari sana anak mengerti dan mulai berubah. Dalam konsekuensi logis orang tua berperan sebagai pendidik, bukan hakim. Orang tua bersikap obyektif tanpa dikendalikan rasa marah dan emosi yang tinggi. Maka cara penyampaiannya pun dengan lembut; tidak meledak-ledak. Dan, konsekuensi logis lahir dari hubungan antara hati dan tindakan yang menyimpang, bukan balas dendam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsekuensi logis juga memiliki karakter keterkaitan antara kesalahan anak dengan apa yang diterima atau harus dilakukannya. Tidak seperti sanksi yang bisa berubah-ubah. Misalnya pada kasus di atas. Karena mencoret di dinding maka konsekuensi logisnya adalah membersihkan dinding itu. Berbeda dengan hukuman yang bisa berbentuk pukulan, jeweran, dan sebagainya. Ini juga mengajarkan anak tentang hukum sebab akibat. Membuat anak tumbuh menjadi logis dan rasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsekuensi logis juga harus disosialisasikan kepada anak terlebih dahulu sehingga nantinya ketika ia melanggar atau melakukan kesalahan, maka apa yang diterima atau harus dilakukannya adalah pilihannya sendiri, bukan ketetapan orang tua. Ada pembiasaan musyawarah yang membentuk anak berani menyampaikan pendapat, sekaligus menanamkan pada diri anak bahwa segala pilihannya akan membawa konsekuensi tertentu. Dengan demikian diharapkan anak tumbuh dengan jiwa sportif dan bertanggung jawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Catatan Bagi Orang Tua&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sering kali orang tua ketika mendidik anak terlalu fokus pada kesalahan yang diberikan anak. Akhirnya yang lebih banyak diterima anak adalah hukuman. Sanksi. Padahal intensitas kebaikan dan sikap benar anak lebih besar. Inilah yang perlu diperhatikan. Bagaimana orang tua mendapati anaknya berbuat benar dan memberikan penghargaan atas sikap tersebut. Penghargaan tidak harus berupa materi. Bahkan jika penghargaan selalu berupa materi, itu justru tidak baik bagi anak karena ia bisa tumbuh menjadi materialis. Penghargaan bisa berupa pujian, ungkapan kasih sayang secara verbal, atau bentuk sikap lain yang menunjukkan bahwa anak dihargai karena telah melakukan sesuatu yang benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu dalam menerapkan konsekuensi logis, orang tua juga perlu memperhatikan tahapannya. Mengubah kebiasaan lama anak membutuhkan rentang waktu yang panjang. Karenanya anak harus diberi kesempatan yang cukup untuk berlatih dengan kebiasaan baru, sambil dibimbing agar anak mampu membuat &lt;span style="font-style: italic;"&gt;trigger&lt;/span&gt; (pemicu) untuk terlatih dengan kebiasaan baru itu. Direkomendasikan pula kepada orang tua untuk memilih prioritas kebiasaan lama yang dihapus untuk diganti dengan yang baru. Jadi tidak langsung semuanya. Perlu bertahap. Sedangkan aturan yang disepakati perlu ditulis. Kaidahnya, semakin sedikit aturan semakin baik. Sebagaimana dalam pemberian sanksi, semakin sedikit atau semakin jarang, semakin baik. Tentu, tanpa “mengkhianati” konsekuensi logis yang telah disepakati bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terakhir, penanaman konsekuensi logis tidak boleh berhenti hanya “ di sini”. Sambil berjalan anak perlu dipahamkan tentang konsekeunsi logis yang lebih bermakna. Bahwa ketika kita berbuat baik, Allah akan sayang dan mencintai kita. Sebaliknya, jika kita berbuat buruk, Allah akan membenci dan murka kepada kita. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;[Muchlisin]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;center&gt;==================================&lt;br /&gt;DALAM BENTUK E-BOOK, &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;a href="http://muchlisin.blogspot.com/2011/02/orang-tuaku-hobi-menghukum.html"&gt;ORANG TUAKU HOBI MENGHUKUM&lt;/a&gt;&lt;/span&gt; BISA DIDOWNLOAD &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;a href="http://www.ziddu.com/download/13986874/OrangTuakuHobiMenghukum.pdf.html"&gt;DI SINI&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/center&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4661011185558750656-5716899560028155277?l=www.bersamadakwah.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.bersamadakwah.com/feeds/5716899560028155277/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.bersamadakwah.com/2011/02/orang-tuaku-hobi-menghukum.html#comment-form' title='5 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4661011185558750656/posts/default/5716899560028155277'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4661011185558750656/posts/default/5716899560028155277'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.bersamadakwah.com/2011/02/orang-tuaku-hobi-menghukum.html' title='Orang Tuaku Hobi Menghukum'/><author><name>Admin BeDa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17749093855368398730</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-hD4D5mC_vlc/T7Guubv4RiI/AAAAAAAAEic/xrY3eBivBCM/s220/Bersama%2BDakwah%2B-%2Blogo%2Bprofil%2BFB.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-EPgrf0_xkQ0/TWr5MKQUW3I/AAAAAAAAB08/oRfgpN1RE4I/s72-c/Orang%2BTuaku%2BHobi%2BMenghukum.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4661011185558750656.post-4017241347403184803</id><published>2011-01-03T07:00:00.002+07:00</published><updated>2011-09-06T10:49:50.380+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bedah Buku'/><title type='text'>Rumah Kita Penuh Berkah</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_lLTNuSLRkEU/TSEVorYLARI/AAAAAAAABvM/CKz-bVdF-Dw/s1600/Rumah%2BKita%2BPenuh%2BBerkah.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img src="http://1.bp.blogspot.com/_lLTNuSLRkEU/TSEVorYLARI/AAAAAAAABvM/CKz-bVdF-Dw/s200/Rumah%2BKita%2BPenuh%2BBerkah.jpg" height="200" border="0" width="138" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;Judul buku : &lt;b&gt;Rumah Kita Penuh Berkah&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Penulis : &lt;b&gt;Dwi Budiyanto&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Penerbit : Era Adicitra Intermedia, Solo&lt;br /&gt;Cetakan ke : 1&lt;br /&gt;Tahun Terbit : Jumadats Tsaniyah 1431/Juni 2010&lt;br /&gt;Tebal Buku : xvi + 192 hlm&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernahkah Anda mengoreksi doa orang yang datang di hari pernikahan Anda? Mungkin itu menjadi sangat aneh di zaman sekarang, tetapi Uqail bin Abu Thalib pernah melakukannya. &lt;span class="fullpost"&gt;Hari itu Uqail bin Abu Thalib tengah melangsungkan pernikahan. “&lt;i&gt;Bir rafa’i wal banin&lt;/i&gt;, semoga bahagia dan banyak anak!” kata tamu lelaki mendoakannya.&lt;br /&gt;“Jangan kalian mengatakan demikian, karena sesungguhnya Rasulullah SAW telah melarang hal tersebut.”&lt;br /&gt;“Kalau demikian, apa yang harus kami ucapkan, wahai Abu Zaid?”&lt;br /&gt;“Katakanlah oleh kalian,” jawab Uqail meluruskan doa mereka, “&lt;i&gt;Baarakallaahu laka wa baaraka ‘alaika, wa jama’a bainakuma fii khair&lt;/i&gt;. Semoga Allah mengkaruniakan barakah kepadamu, dan semoga Ia limpahkan barakah atasmu, dan semoga Ia menghimpun kalian berdua dalam kebaikan. Demikian yang diperintahkan kepada kita”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keluarga adalah tangga kedua dalam &lt;i&gt;maratibul amal&lt;/i&gt;. &lt;i&gt;Islahul Usrah&lt;/i&gt;, dalam istilah Hasan Al Banna. Sebagaimana hadits yang diriwayatkan Imam Ahmad, Nasa’i, Ibnu Majah dan lainnya di atas, keluarga muslim, terlebih keluarga dakwah diharapkan menjadi barakah, bukan sekedar bahagia. Berangkat dari hadits ini pula, &lt;b&gt;Rumah Kita Penuh Berkah&lt;/b&gt; dipilih menjadi judul buku ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Peran Keluarga Dakwah di Mihwar Daulah&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Ketika dakwah memasuki mihwar daulah, tidak berarti peran keluarga dakwah terabaikan. Bahkan, perannya akan menjadi lebih besar, mengikuti meluasnya orbit dakwah ini. &lt;b&gt;Rumah Kita Penuh Berkah&lt;/b&gt; menjelaskan enam peran keluarga dakwah di mihwar daulah sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Pendukung Utama Dakwah&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang besar yang sukses dalam dakwah,  hampir selalu memiliki keluarga yang menjadi pendukung utama dakwah. Tak terkecuali para Nabi. Jika Rasulullah di awal dakwahnya memiliki keluarga Khadijah, demikian pula Nabi dan Rasul sebelumnya. Hatta, Nabi Luth yang istrinya berada dalam kekafiran juga sangat menyadari peran besar keluarga sebagai pendukung utama dakwah. Dwi Budiyanto menjelaskan QS. Hud ayat 80 sebagai contoh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian pula tokoh dakwah dan ulama setelah para Nabi dan Rasul. Mohammad Natsir, misalnya. Gelang emas istrinya seringkali berpindah ke pegadaian ketika Pendis (sekolah Islam yang didirikan Mohammad Natsir) membutuhkan dana. Di samping itu, dengan visi bersama (&lt;i&gt;shared vision&lt;/i&gt;), istrinya juga mewaqafkan tenaganya untuk mendidik di Pendis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Memperkokoh Basis Sosial&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Peran kedua keluarga dakwah yang dijelaskan dalam buku Rumah Kita Penuh Berkah ini adalah memperkokoh basis sosial (al-qa’idah al-ijtima’iyah). Ini didasari bahwa keluarga adalah basis perubahan di masyarakat. Perannya dalam tajnid bukan hanya seseorang bergabung bersama dakwah melalui dakwah keluarga, tetapi keluarga dakwah juga mengarahkan masyarakat lebih dekat dengan kultur keislaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karenanya, keluarga dakwah perlu memiliki kredibilitas sosial (&lt;i&gt;mishdaaqiyyah ijtima’iyah&lt;/i&gt;) dengan mendasarkan kehidupannya pada nilai-nilai Islam serta menebar kemanfaatan pada masyarakatnya. Dari sana, lahirlah kontribusi balik dari masyarakat terhadap dakwah, baik langsung berupa keterlibatan dan afiliasi mereka dalam dakwah, atau tidak langsung dalam bentuk pembelaan.&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Pendidikan Politik Dakwah&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Inilah peran ketiga keluarga dakwah di mihwar daulah. Keluarga memiliki peran besar dalam pendidikan politik (tarbiyah siyasiyah). Setidaknya, ada dua arah pendidikan politik yang perlu dilakukan keluarga dakwah. Pertama, pendidikan politik yang diarahkan untuk anggota keluarga. Kedua, pendidikan politik yang dilakukan keluarga dakwah untuk masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Rumah Kita Penuh Berkah&lt;/b&gt; juga memberikan kiat dalam pendidikan politik ini. Yakni mendahuluinya dengan kredibilitas sosial, melakukan pendidikan politik secara kontinyu bukan hanya menjelang pemilu, dan pendidikan politik harus berada dalam bingkai pendidikan Islam. Sebab dakwah menghajatkan terbentuknya kepribadian islami masyarakat lebih dari sekedar kesadaran dan partisipasi politik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Menyiapkan Pelaku Mihwar&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Semakin memasuki wilayah-wilayah publik, dakwah semakin bersinggungan dengan banyak kepentingan, baik secara ideologis maupun pragmatis. Itu artinya, semakin banyak pula diperlukan pelaku mihwar, yang dalam konteks ini diistilahkan oleh Dwi Budiyanto sebagai muslim negarawan.&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Menggiatkan Kerja-kerja Pelayanan dan Advokasi&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Khairun nas anfa’uhum lin naas&lt;/i&gt;. Demikian pula keluarga dakwah. Sebaik-baik keluarga adalah yang paling bermanfaat bagi masyarakatnya. Terlebih ketika keluarga merupakan miniatur  dakwah. Maka ketika kerja-kerja pelayanan dan advokasi itu diberikan oleh keluarga dakwah, masyarakat akan memberikan penilaian yang positif terhadap dakwah. Setidaknya, ada pembelaan kepada keluarga dakwah itu atau anggotanya ketika suatu saat difitnah. Atau kesetiaan yang lebih besar akan didapatkan dari masyarakat. Seperti hadits Nabi yang lain: &lt;i&gt;an-naasu yuwalluuna ‘ala man khadamahum&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Penjaga Moralitas&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Peran keenam keluarga dakwah di mihwar daulah adalah sebagai penjaga moral. Mihwar daulah yang menghajatkan rijalud daulah dalam jumlah yang banyak harus didukung dengan keluarga sebagai penjaga moral. Yang memastikan bahwa seluruh anggota keluarga dakwah tetap berada dalam asholah dakwah dengan berpijak pada akhlak islami.&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;Yang Perlu Dilakukan Keluarga Dakwah &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Selain berusaha melakukan enam peran di atas, keluarga dakwah perlu memfokuskan diri dalam persiapan memasuki mihwar daulah dengan aktifitas yang dipaparkan &lt;b&gt;Rumah Kita Penuh Berkah&lt;/b&gt;, diantaranya sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Mendirikan Madrasah Politik di Rumah Kita&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Bagian kedua buku ini setelah pemaparan mengenai peran keluarga dakwah di mihwar daulah ini merupakan penjelasan atas peran ketiga: pendidikan politik. Keluarga dakwah perlu sejak dini menanamkan kesadaran akan makna kepemimpinan, membiasakan musyawarah, saling belajar, mencurahkan perhatian, pengkondisian keluarga yang positif, serta penggunaan bahasa dan simbol sewaktu-waktu untuk pendidikan politik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Menyemai Kesadaran Masyarakat&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Bagian ketiga buku &lt;b&gt;Rumah Kita Penuh Berkah&lt;/b&gt; ini bukan saja merupakan langkah membangun kredibilitas sosial, tetapi juga merupakan bagian dari pendidikan politik yang dilakukan keluarga dakwah terhadap masyarakat. Berperilaku baik terhadap tetangga, aktif dalam kegiatan kemasyarakatan, mengintensifkan dakwah amah di tengah-tengah masyarakat, menjaga komunikasi dan silaturahim, menyelenggarakan pelatihan-pelatihan politik, dan melakukan pemberdayaan masyarakat adalah langkah-langkah yang direkomendasikan buku &lt;b&gt;Rumah Kita Penuh Berkah&lt;/b&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Menabur Cinta, Menjaga Rumah Kita&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Dua bagian terkahir dari buku &lt;b&gt;Rumah Kita Penuh Berkah&lt;/b&gt; berisi kiat-kiat menjaga keluarga dari segala ancaman yang berpotensi merusaknya, serta bagaimana menabur cinta dalam keluarga. Hingga, seperti judul buku ini, &lt;b&gt;Rumah Kita Penuh Berkah&lt;/b&gt;. Tentu lebih indah dan jelasnya, pembaca perlu membaca sendiri seri 100 buku pengokohan tarbiyah ke-18 ini. &lt;i&gt;Wallaahu a’lam bish shawab&lt;/i&gt;. [Muchlisin]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;center&gt;DALAM BENTUK E-BOOK, &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;RUMAH KITA PENUH BERKAH&lt;/span&gt; BISA DIDOWNLOAD &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;a href="http://muchlisin.blogspot.com/2010/06/download-100-buku-pengokohan-tarbiyah.html"&gt;DI SINI&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/center&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4661011185558750656-4017241347403184803?l=www.bersamadakwah.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.bersamadakwah.com/feeds/4017241347403184803/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.bersamadakwah.com/2011/01/rumah-kita-penuh-berkah.html#comment-form' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4661011185558750656/posts/default/4017241347403184803'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4661011185558750656/posts/default/4017241347403184803'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.bersamadakwah.com/2011/01/rumah-kita-penuh-berkah.html' title='Rumah Kita Penuh Berkah'/><author><name>Admin BeDa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17749093855368398730</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-hD4D5mC_vlc/T7Guubv4RiI/AAAAAAAAEic/xrY3eBivBCM/s220/Bersama%2BDakwah%2B-%2Blogo%2Bprofil%2BFB.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_lLTNuSLRkEU/TSEVorYLARI/AAAAAAAABvM/CKz-bVdF-Dw/s72-c/Rumah%2BKita%2BPenuh%2BBerkah.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4661011185558750656.post-4545483676553628980</id><published>2010-12-06T11:00:00.003+07:00</published><updated>2010-12-06T12:05:09.397+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bedah Buku'/><title type='text'>Menjadi Murabbi Itu Mudah</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_lLTNuSLRkEU/TPxnFqtFcYI/AAAAAAAABtI/M9ApQB1fEOY/s1600/Menjadi%2BMurabbi%2Bitu%2BMudah.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 132px; height: 200px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_lLTNuSLRkEU/TPxnFqtFcYI/AAAAAAAABtI/M9ApQB1fEOY/s200/Menjadi%2BMurabbi%2Bitu%2BMudah.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5547422188074004866" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Judul Buku : &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Menjadi Murabbi Itu Mudah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Penulis : &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Muhammad Rosyidi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Penerbit : Era Adicitra Intermedia, Solo&lt;br /&gt;Cetakan Ke : 1&lt;br /&gt;Tahun Terbit : Jumadatas Tsaniyah 1431 H/Juni 2010&lt;br /&gt;Tebal Buku : xiv + 154 halaman&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aga Sekamdo pernah mengkomparasikan pertumbuhan kader Ikhwanul Muslimin di Mesir dan Partai Keadilan di Indonesia. Keduanya memiliki sistem kaderisasi yang serupa; halaqah. &lt;span class="fullpost"&gt;Pada tahun 1954 (sekitar dua dasawarsa efektif kaderisasi) anggota Ikhwan telah mencapai 3 juta kader. Sedangkan pertumbuhan PK (kini PKS) jauh di bawah itu. Lalu, ia menyimpulkan: ada masalah dengan kaderisasi harakah di Indonesia ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu permasalahan serius kaderisasi dengan sistem halaqah adalah murabbi. Jika sebuah harakah hendak mencapai pertumbuhan kader yang tinggi dengan sistem ini, ia harus menyediakan murabbi dalam jumlah yang signifikan. Rekrutmen yang masif tidak akan berarti banyak jika setelahnya tidak di-&lt;span style="font-style: italic;"&gt;follow up&lt;/span&gt;-i dengan halaqah karena kurangnya Murabbi. Tapi inilah permasalah yang menggejala hingga kini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usia tarbiyah yang lama bukan jaminan bahwa seorang kader siap menjadi murabbi. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa masih banyak kader lama yang tidak kunjung siap menjadi murabbi. Ada pula yang terpaksa dalam ketidaksiapan. Jika kemudian ia belajar tentu akan menjadi lain ceritanya. Namun keterpaksaan itu sering berujung pada "pembubaran halaqah".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Menjadi Murabbi Itu Mudah&lt;/span&gt; yang ditulis oleh Muhammad Rosyidi berusaha menyajikan solusi untuk menjawab permasalahan di atas. Judulnya yang menarik, mengajak kita optimis bahwa menjadi murabbi itu tidak sesulit yang dibayangkan. Dengan persepsi awal yang mencerahkan ini, diharapkan kader dakwah siap diamanahi menjadi murabbi, siap memulai halaqah, dan sambil berjalan diharapkan terus meningkatkan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;kafaah&lt;/span&gt;-nya sebagai murabbi agar halaqahnya berjalan efektif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Mengapa Tidak Menjadi Murabbi?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ada enam alasan mengapa kader dakwah ragu untuk menjadi murabbi yang direkam dalam buku &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Menjadi Murabbi Itu Mudah&lt;/span&gt;. Alasan-alasan itu adalah merasa belum siap, merasa belum pantas, merasa tidak cocok, belum mendapatkan kelompok binaan, sibuk, atau trauma pengalaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alasan yang pertama bisa dijawab dengan langsung menjadi murabbi, tanpa membayangkan hal yang belum terjadi. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Action!&lt;/span&gt; Untuk ketidaksiapan teknis ketika mengisi halaqah, Muhammad Rosyidi memberikan tips: cermati murabbi mengisi halaqah dari awal sampai akhir, jiplak saja. Selebihnya konsultasikan ke murabbi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alasan kedua, merasa tidak pantas, harus segera diatasi. Pertama, pahamkan diri bahwa seorang yang berdakwah tidak harus menunggu sempurna. Sambil terus memperbaiki diri. Para sahabat Nabi langsung mendakwahkan apa yang mereka terima dari Rasulullah, tanpa menunggu semua surat Al-Qur'an turun lengkap. Kedua, buat target kapan pantas jadi murabbi. Kekurangan yang telah disadari harus dibenahi dalam tenggang waktu tertentu. Jika tak ada waktu yang bisa  dijadikan batasan sampai pantas, barangkali alasan yang sebenarnya adalah ketidakmauan atas nama ketidakpantasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merasa tidak cocok biasanya menimpa kader yang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;nervous&lt;/span&gt; bicara di depan orang banyak, atau kurang menguasai materi. Banyak juga keraguan ini menimpa mereka yang pernah gagal menjadi murabbi. Saran dalam buku &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Menjadi Murabbi itu Mudah&lt;/span&gt; adalah dengan memberanikan diri menjadi murabbi. Jangan pernah merasa tidak cocok kalau hanya pernah gagal satu atau dua kali. Sambil terus meng-&lt;span style="font-style: italic;"&gt;up grade&lt;/span&gt; diri sebagai langkas antisipasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alasan keempat bisa dijawab secara personal, kelompok tarbawi, atau struktur. Secara personal berarti meningkatkan kemampuan rekrutmen, berupaya melakukan dakwah fardiyah. Secara kelompok, ini bisa disikapi dengan menggelar rekrutmen yang difasilitasi murabbi. Tentu adanya peran struktur  menjadi solusi yang lebih baik. Misalnya dengan adanya bursa murabbi dan mutarabbi di samping secara berkala menggelar acara-acara rekrutmen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk alasan sibuk, justru murabbi adalah tugas yang biasa dijalankan dengan baik oleh mereka yang terbiasa sibuk. Kesulitan waktu bisa diatasi dengan mengkomunikasikan kepada struktur sehingga murabbi yang bisa di satu waktu dipertemukan dengan mutarabbi yang bisanya juga di waktu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan trauma pengalaman biasanya dialami oleh mereka yang pernah "ditinggalkan" mutarabbi. Bisa jadi karena sikapnya yang berbeda dalam masalah khilafiyah. Seharusnya kegagalan tidak menjadikan kader trauma untuk memegang halaqah lagi. Justru dengan banyaknya pengalaman ia akan menjadi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;expert&lt;/span&gt;. Maka solusinya adalah, lakukan. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Do it!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;Karena Menjadi Murabbi itu Luar Biasa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Motivasi itu penting. Dan motivasi berangkat dari pemahaman yang benar. Menjadi murabbi itu luar biasa. Banyak keutamannya. Kesiapan kader untuk menjadi murabbi akan semakin kokoh jika ia memiliki motivasi tinggi di samping keberhasilannya menepis keraguan-keraguan di atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada bab 3 dan 5 &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Menjadi Murabbi Itu Mudah&lt;/span&gt;, Muhammad Rosyidi menguraikan bahan motivasi itu. Bahwa kita perlu memahami status murabbi dan untungnya menjadi murabbi. Keduanya bahkan diletakkan sebelum alasan tidak menjadi murabbi pada bab 6.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setidaknya, ada hal yang dijelaskan dalam buku &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Menjadi Murabbi Itu Mudah&lt;/span&gt; terkait status Murabbi. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Pertama&lt;/span&gt;, murabbi itu menyambung mata rantai dakwah. Tanpa murabbi dakwah akan terputus. Dan jangan sampai kita termasuk pemutus mata rantai itu. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kedua&lt;/span&gt;, menjadi murabbi  berarti berkontribusi bagi dakwah. Kontribusi yang teramat besar nilainya bagi seorang kader dakwah. Kontribusi spesial. Apapun amanah kader di dalam struktur atau wajihah, menjadi murabbi adalah amanah utama yang tidak boleh dikesampingkan. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ketiga&lt;/span&gt;, tidak adaoutsorcing dalam menjadi murabbi. Jadi seorang ikhwah tidak boleh berpikir; saya merekrut saja, biar orang lain yang membina. Saya di struktur saja, atau mengisi taklim saja, biar saya wakilkan halaqah kepada ikhwah lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan untungnya menjadi murabbi diuraikan dalam bab 5 sebagai berikut: memperoleh pahala sebagai dai, mendapatkan multi level pahala, menjadi lebih memahami tarbiyah, termotivasi untuk terus meningkatkan amal, menjadi sarana pendewasaan diri, dan aplikasi taawun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Segera Menjadi Murabbi, Siapkan Mental, Pilih Gaya Sendiri!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Cara terbaik menjadi murabbi adalah memulainya. Maka motivasi yang telah ada harus segera menemukan krannya. Action. Bisa jadi halaqah itu murni baru, bisa jadi ia lanjutan dari taklim rutin yang di-khas-kan, atau yang lainnya. Sambil jalan murabbi baru perlu mensetting mentalnya. Bahwa murabbi itu pantang menyerah, bersikap tenang, dan bijak menyikapi realitas binaan. Tidak menyerah meski hujan datang, tetap datang. Tidak menyerah meski lelah. Tetap tenang meskipun barangkali ada tetangga yang bertanya ada cara apa. Tetap tenang meskipun ada peserta yang di awal halaqah bertanya yang menyulitkan. Bijak menyikapi realitas binaan  yang berbeda latar belakang maupun sangat tidak ideal dalam Islam. Murabbi perlu bijak, karena mereka masih baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam menyampaikan materi, kita bisa memilih gaya kita sendiri. Bisa gaya tekstual dengan cara membacakan materi halaqah. Bisa gaya multimedia dengan membawa laptop dan menyajikan materi dalam bentuk powerpoint. Bisa gaya mengkaji kitab, dengan membaca kitab lalu menguraikan sendiri penjelasannya. Atau gaya paparan dengan cukup menuliskan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;rasmul bayan&lt;/span&gt; lalu menjelaskannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih banyak tips-tips berikutnya dalam mengelola halaqah dalam buku &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Menjadi Murabbi Itu Mudah&lt;/span&gt;. Membaca buku ini, insya Allah menjadi pencerahan dan penyemangat bagi calon murabbi bahwa &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Menjadi Murabbi Itu Mudah&lt;/span&gt;. Meski demikian, buku ini juga perlu dibaca para murabbi sebagai upaya &lt;span style="font-style: italic;"&gt;in'asy&lt;/span&gt;, pengembangan, peningkatan, dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;up-grade&lt;/span&gt; kualitas. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Wallaahu a'lam bish shawab&lt;/span&gt;. [Muchlisin]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;center&gt;DALAM BENTUK E-BOOK, &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;MENJADI MURABBI ITU MUDAH&lt;/span&gt; BISA DIDOWNLOAD &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;a href="http://muchlisin.blogspot.com/2010/06/download-100-buku-pengokohan-tarbiyah.html"&gt;DI SINI&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/center&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4661011185558750656-4545483676553628980?l=www.bersamadakwah.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.bersamadakwah.com/feeds/4545483676553628980/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.bersamadakwah.com/2010/12/menjadi-murabbi-itu-mudah.html#comment-form' title='11 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4661011185558750656/posts/default/4545483676553628980'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4661011185558750656/posts/default/4545483676553628980'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.bersamadakwah.com/2010/12/menjadi-murabbi-itu-mudah.html' title='Menjadi Murabbi Itu Mudah'/><author><name>Admin BeDa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17749093855368398730</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-hD4D5mC_vlc/T7Guubv4RiI/AAAAAAAAEic/xrY3eBivBCM/s220/Bersama%2BDakwah%2B-%2Blogo%2Bprofil%2BFB.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_lLTNuSLRkEU/TPxnFqtFcYI/AAAAAAAABtI/M9ApQB1fEOY/s72-c/Menjadi%2BMurabbi%2Bitu%2BMudah.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>11</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4661011185558750656.post-4093419509876688280</id><published>2010-09-23T16:00:00.001+07:00</published><updated>2010-10-06T14:18:21.041+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bedah Buku'/><title type='text'>Tak Kenal Maka Ta'aruf</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_lLTNuSLRkEU/TJscrOo6EJI/AAAAAAAABkw/sW_2l8YAZTk/s1600/Tak+Kenal+Maka+Ta%27aruf.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 136px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_lLTNuSLRkEU/TJscrOo6EJI/AAAAAAAABkw/sW_2l8YAZTk/s200/Tak+Kenal+Maka+Ta%27aruf.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5520037297262301330" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Judul Buku : &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tak Kenal Maka Ta'aruf&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Penulis : &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Asri Widiarti&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Penerbit : Era Adicitra Intermedia, Solo&lt;br /&gt;Cetakan Ke : 1&lt;br /&gt;Tahun Terbit : Jumadatas Tsaniyah 1431 H/Juni 2010&lt;br /&gt;Tebal Buku : xxii + 162 halaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernikahan adalah pertemuan dua jiwa. Setelah bertemu keduanya menyatu. Mengarungi kehidupan bersama. Mencipta harmoni dalam bahtera. Menebar cinta, menggapai cita. Berharap mencapai surga.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disebabkan Islam tidak membenarkan pacaran dan interaksi non syar'i dengan lawan jenis yang bukan muhrimnya, bagaimana menjembatani agar dua jiwa yang hendak membangun rumah tangga saling mengenal? Pernikahan bukan sebuah uji coba yang dengan mudahnya dibatalkan karena ketidakcocokan yang bermula dari tidak-saling-kenal, bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah sendiri menyatakan tiga hal yang hendak dituju oleh pernikahan: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;sakinah&lt;/span&gt;, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;mawaddah&lt;/span&gt;, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;rahmah&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;br /&gt;وَمِنْ آَيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآَيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.&lt;/span&gt; (QS. Ar-Rum : 21)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan ketiga hal itu, sungguh dunia akan menjadi lebih indah. Seorang ikhwan yang tadinya berjuang sendirian, seorang akhwat yang sebelumnya hidup tanpa teman, tiba-tiba didampingi manusia yang paling menyemangati sekaligus mengasyikkan. Maka dakwah menemukan energinya yang baru, perjuangan menjadi berlipat kekuatannya. Bukankah itu adalah surga dunia?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menuju ke pernikahan yang demikian, dan menghindarkan dari peluang keretakan rumah tangga akibat tidak-saling-kenal, Islam memerintahkan nadhar "melihat" calon istri. Pun sebaliknya, akhwat memiliki hak serupa untuk mengetahui siapa calon suaminya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ta'aruf adalah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;nadhar &lt;/span&gt;yang dikembangkan dengan tetap memperhatikan prinsip-prinsip Islam dan tidak melanggar batas-batas yang telah ditetapkan oleh agama yang sempurna ini. Maka seperti disebut penulis pada pengantar, sebagai salah satu sarana untuk mencapai pernikahan, setidaknya taaruf menjadi pengantar untuk meniadakan efek-efek negatif pacaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Lima Urgensi Ta’aruf&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Buku &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tak Kenal Maka Ta’aruf&lt;/span&gt; ini diawali dengan penjelasan urgensi ta’aruf. Ada lima poin urgensi ta’aruf yang disebutkan di bab 1 ini. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Pertama&lt;/span&gt;, agar terhindar dari “membeli kucing dalam karung”. Dengan ta’aruf, diharapkan seorang ikhwan bisa mengetahui calon istrinya, demikian pula akhwat mengetahui calon suaminya; dari sisi din/agama, akhlak, wajah/penampilan, dan latar belakangnya. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kedua&lt;/span&gt;, ta’aruf adalah jembatan yang memperdekat jarak untuk melihat apakah calon memang cocok atau tidak. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ketiga&lt;/span&gt;, mempersempit ruang penyesalan setelah menikah. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Keempat&lt;/span&gt;, timbulnya penerimaan dan kesadaran penuh dalam mengarungi bahtera rumah tangga. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kelima&lt;/span&gt;, menyederhanakan masalah atau langkah menuju pernikahan yang memang sederhana agar tidak berbelit-belit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Adab dan Tata Cara Ta’aruf&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ada 10 adab ta’aruf yang dijelaskan oleh penulis dalam buku Tak Kenal Maka Ta’aruf ini.&lt;br /&gt;1. Membersihkan niat karena Allah&lt;br /&gt;2. Berupaya menjaga kesucian acara ta’aruf&lt;br /&gt;3. Kejujuran kedua belah pihak dalam ta’aruf&lt;br /&gt;4. Nadhar (melihat) wajah&lt;br /&gt;5. Menerima atau menolak dengan cara yang ahsan&lt;br /&gt;6. Menetapi dan menjaga rambu-rambu syariah&lt;br /&gt;7. Usahakan berpendamping (ada mediator, seyogyanya yang sudah menikah, amanah dan dapat dipercaya, adil terhadap kedua belah pihak, ikhlas, berakhlak baik, dan mengenal orang yang didampingi)&lt;br /&gt;8. Memilih tempat yang tepat (bukan tempat mencurigakan seperti kamar kos yang sempit, dan lain-lain)&lt;br /&gt;9. Menjaga rahasia ta’aruf (sebaiknya orang lain hanya tahu rencana pernikahan dari undangan)&lt;br /&gt;10. Istikharah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bagaimana Bila Ta’aruf Gagal?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Karena ta’aruf adalah sarana pertama menuju pernikahan, maka adakalanya ia berhasil lalu berlanjut ke khitbah dan akad nikah, ada kalanya pula ia tidak berlanjut ke pernikahan. Bagaimana bila ta’aruf gagal? Asri Widiarti memberikan empat tips dalam buku &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tak Kenal Maka Ta’aruf&lt;/span&gt; ini. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Pertama&lt;/span&gt;, Yakinilah bahwa ini yang terbaik dari Allah. Bukankah lebih baik ta’aruf tidak dilanjutkan daripada menikah tetapi tidak ada kecocokan lalu timbul perselisihan dan banyak permasalahan? &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kedua&lt;/span&gt;, tetaplah memperbaiki diri. Kembali kepada QS. An-Nur : 26 bahwa perempuan yang baik hanya untuk lelaki yang baik, demikian sebaliknya. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ketiga&lt;/span&gt;, tak perlu malu dan trauma. Jangan takut untuk melakukan ta’aruf lagi. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Keempat&lt;/span&gt;, lakukan muhasabah dan evaluasi diri. Bisa jadi ta’aruf yang gagal membuat kita tersadar ada kelemahan yang harus diperbaiki. Dengan demikian kita menjadi lebih baik dan sempurna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Buku yang Kaya Pengalaman&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Lebih dari separuh buku ini berisi pengalaman yang dibagikan kepada kita. Pengalaman itu terbagi tiga. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Pertama&lt;/span&gt;, tanya jawab seputar ta’aruf yang dikumpulkan penulis ketika penulis menjawab pertanyaan di pengajian, radio, telpon, dan sms. Ada 35 pertanyaan yang ditulis di sini berikut jawabannya. Mulai yang menanyakan sejauh mana pertanyaan saat ta’aruf sampai mengapa calon suami yang shaleh mundur dari ta’aruf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kedua&lt;/span&gt;, bab ke-12 yang diberi judul romantika ta’aruf. Ini berisi sepuluh pengalaman pelaku ta’aruf. Dan, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ketiga&lt;/span&gt;, cerita hati para pendamping ta’aruf. Bagian ini barangkali paling yang menarik untuk disimak. Ternyata, ada ikhwan yang ada-ada saja. Maksudnya, banyak kriteria yang diminta ketika hendak ta’aruf. Mulai dari standar muwashofat yang tinggi, hingga fisik yang “sempurna”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi Anda yang belum menikah, buku &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tak Kenal Maka Ta’aruf&lt;/span&gt; ini akan membantu Anda untuk mengetahui lebih jauh dan detail mengenai ta’aruf, termasuk form data yang perlu diisi saat ta’aruf. Pengalaman penulis (khususnya dalam tiga bab terakhir) akan membuat kita mengerti lebih banyak tentang praktik ta’aruf, dan insya Allah membuat kita lebih dewasa menyikapi problem yang terjadi sebelum, selama, dan sesudah ta’aruf. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Wallaahu a’lam bish shawab&lt;/span&gt;. [Muchlisin]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;center&gt;DALAM BENTUK E-BOOK &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;TAK KENAL MAKA TA'ARUF&lt;/span&gt; BISA DIDOWNLOAD &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;a href="http://muchlisin.blogspot.com/2010/06/download-100-buku-pengokohan-tarbiyah.html"&gt;DI SINI&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/center&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4661011185558750656-4093419509876688280?l=www.bersamadakwah.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.bersamadakwah.com/feeds/4093419509876688280/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.bersamadakwah.com/2010/09/tak-kenal-maka-taaruf.html#comment-form' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4661011185558750656/posts/default/4093419509876688280'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4661011185558750656/posts/default/4093419509876688280'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.bersamadakwah.com/2010/09/tak-kenal-maka-taaruf.html' title='Tak Kenal Maka Ta&apos;aruf'/><author><name>Admin BeDa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17749093855368398730</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-hD4D5mC_vlc/T7Guubv4RiI/AAAAAAAAEic/xrY3eBivBCM/s220/Bersama%2BDakwah%2B-%2Blogo%2Bprofil%2BFB.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_lLTNuSLRkEU/TJscrOo6EJI/AAAAAAAABkw/sW_2l8YAZTk/s72-c/Tak+Kenal+Maka+Ta%27aruf.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4661011185558750656.post-2639209699744862931</id><published>2010-08-09T15:00:00.005+07:00</published><updated>2010-10-06T14:18:23.735+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bedah Buku'/><title type='text'>Semangkuk Cocktail Cinta</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_lLTNuSLRkEU/TF_CSJ0XbEI/AAAAAAAABhw/1F-4-kxA75E/s1600/Semangkuk+Cocktail+Cinta-400px.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 138px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_lLTNuSLRkEU/TF_CSJ0XbEI/AAAAAAAABhw/1F-4-kxA75E/s200/Semangkuk+Cocktail+Cinta-400px.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5503330886799027266" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Judul Buku : &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Semangkuk Cocktail Cinta; Seni Berkomunikasi dengan Bahasa Cinta&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Penulis : &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Rahayu Aningtyas&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Penerbit : Era Adicitra Intermedia, Solo&lt;br /&gt;Cetakan Ke : 1&lt;br /&gt;Tahun Terbit : Jumadatas Tsaniyah 1431 H/Juni 2010&lt;br /&gt;Tebal Buku : xxvi + 158 halaman&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahu cocktail? Tentu cocktail yang diambil sebagai judul dalam buku &lt;a href="http://muchlisin.blogspot.com/2010/06/download-100-buku-pengokohan-tarbiyah.html"&gt;pengokohan tarbiyah&lt;/a&gt; ke-13 ini bukan cocktail ala Amerika yang mulai dikenal pada 1930-an. Minuman beralkohol yang dicampur dengan minuman atau bahan-bahan lain beraroma itu tentu saja haram sehingga bukan itu yang dimaksudkan oleh penulis.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada bab 6, kita akan mendapati judul bab yang sama dengan judul buku ini: &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Semangkuk Cocktail Cinta&lt;/span&gt;. "Cinta seperti sebuah mangkuk berisi cocktail," tulis Rahayu Aningtyas di halaman 149, "di dalamnya ada beraneka ragam buah, bahkan sirupnya bisa beraneka rasa." Ya, cinta diibaratkan seperti koktail buah; nikmat, beraneka rasa, dan tentu saja halal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka pada bab pertama, &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Semangkuk Cocktail Cinta&lt;/span&gt; mulai mengajak pembacanya untuk memahami cinta yang benar. Cinta yang benar adalah cinta yang membangun, bukan merusak. Tiga diantara indikasi cinta merusak, dipotret melalui tiga kisah nyata. Kisah pertama adalah seorang mahasiswi yang telah menyadari bahwa pacaran tidak dibenarkan. Namun, ia sulit berpisah dari pacar yang telah memberi ciuman padanya. Nah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah kedua, teman penulis yang mengalami depresi dan menjadi kurang waras karena cinta. Maka berubahlah ia dari yang semula muslimah santun dengan aurat tertutup menjadi bermake-up tebal dan berkaca mata hitam. Sedangkan kisah ketiga, seorang ibu yang berkonsultasi kepada penulis tentang anak-anaknya. Ternyata si ibu ini tergolong obsesif. Cintanya kepada anak dan keinginan menjadikan mereka disiplin, menjadikannya menjalankan cara yang keras, sejalan dengan tempramennya. Yang terjadi kemudian bukan anak-anak berubah shalih, tetapi malah durhaka, hingga pernah meludahi dan menendang ibunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta yang sulit berpisah, gila cinta, dan ibu obsesif merupakan tiga potret cinta merusak. Berkebalikan dengan jenis cinta ini, &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Semangkuk Cocktail Cinta&lt;/span&gt; menggambarkan cinta yang membangun dalam tiga kisah juga. Kisah pertama adalah keislaman Khalid bin Walid. Perhatian dan cinta Rasulullah kepadanya, yang disampaikan dalam surat Walid bin Walid, menjadikan Khalid mengakhiri kebimbangannya dan memutuskan masuk Islam paska perjanjian Hudaibiyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ummu Salamah menempati kisah kedua potret cinta yang membangun. Setelah ditinggal suaminya syahid dalam perang melawan Bani As'ad, ia dinikahi Rasulullah. Namun sekuel cinta yang juga luar biasa adalah doa sang suami, Abu Salamah ketika ia meminta tidak menikah setelah wafatnya: "Tidak. Akulah yang akan meninggal lebih dulu dan kau kudoakan menikah lagi dengan orang yang lebih baik dariku". Sedangkan kisah ketiga adalah kecerdasan Ibnu Abbas saat berdialog dengan orang-orang khawarij yang menentang Ali bin Abu Thalib dengan alasan Ali bertahkim kepada manusia, tidak mengambil ghanimah dan tawanan saat perang dengan Aisyah dan Muawiyah, serta menanggalkan gelar Amirul Mukminin. Kecintaan Ibnu Abbas kepada Ali yang diwujudkan dalam dialog ini mampu memahamkan mayoritas orang-orang Khawarij itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga kisah ini memang berbeda. Tetapi ketiganya diikat oleh satu kesamaan: kebesaran jiwa berpengaruh besar pada cara seseorang mewujudkan cinta. Kebesaran jiwa lahir dari pemahaman yang benar tentang Dzat Yang Maha Besar. Maka kepada-Nyalah cinta ditujukan. Dengan petunjuk-Nya cinta diarahkan. Mencintai cinta yang dibenarkan dengan cara yang dibenarkan pula oleh-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara garis besar &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Semangkuk Cocktail Cinta&lt;/span&gt; menunjukkan enam jalan menjadikan Allah sebagai tujuan cinta. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Pertama&lt;/span&gt;, Beribadah hanya kepada Allah. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kedua&lt;/span&gt;, Mengikuti ajaran Rasulullah SAW. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ketiga&lt;/span&gt;, Meninggalkan kemaksiatan. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Keempat&lt;/span&gt;, Menunaikan Kewajiban dan Ibadah Sunah. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kelima&lt;/span&gt;, Bertaubat. Dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;keenam&lt;/span&gt;, Berakhlak mulia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jangan Malu Mengekspresikan Cinta&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Itu judul bab kedua. Jika cinta kepada Allah dilakukan dengan enam langkah di atas, cinta kepada manusia seyogyanya tidak membuat seseorang malu mengekekspresikannya. Asalkan cintanya benar, tidak ada masalah. Bahkan akan membuat cinta lebih merekah. "Ketika seseorang mencintai saudaranya," sabda Rasulullah sebagaimana diriwayatkan Abu Daud, "hendaklah ia memberitahukan kepadanya bahwa ia mencintainya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Semangkuk Cocktail Cinta&lt;/span&gt; memberikan 10 cara mengekspresikan cinta. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Pertama&lt;/span&gt;, ungkapkan kata-kata berkesan. Ini bentuk ekspresi secara verbal. "Aku mencintaimu karena Allah," bisa jadi pilihan ketika kita mencintai sesama ikhwah, sebagaimana dulu para sahabat Nabi mengatakan pada sesamanya. "Abi dan Umi sangat menyayangimu," adalah ungkapan berkesan bagi anak. Demikian pula memanggil istri dengan kata "sayang", adalah contoh lain dari cara pertama ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kedua&lt;/span&gt;, tersenyum manis dan tulus. Sebab senyum adalah bahasa universal yang bisa dipahami oleh siapa saja. Ia mendekatkan dua insan meskipun tanpa kata-kata. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ketiga&lt;/span&gt;, kurangi memberi kritikan. Seperti kita yang tak pernah mengkritik diri sendiri meskipun salah, begitu pula orang yang kita cintai menginginkan hal yang sama. Bukan berarti kita membiarkan orang yang kita cintai dalam kesalahan atau kekurangan. Cara yang direkomendasikan &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Semangkuk Cocktail Cinta&lt;/span&gt; adalah mengganti kritikan dengan nasihat dan saran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Keempat&lt;/span&gt;, beri perhatian dan pujian secukupnya. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kelima&lt;/span&gt;, terapi sentuhan. Sebagaimana seorang bayi yang digendong ibunya merasakan kehangatan dan rasa aman, seorang anak yang dipeluk orang tuanya akan merasakan cinta, kasih sayang, dan dukungan. Bersalaman dan mencium pipi sesama ikhwah juga mengeratkan ikatan persaudaraan. Pada suami istri, tentu terapi sentuhan lebih dalam maknanya dari itu semua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Keenam&lt;/span&gt;, mendoakan dan minta didoakan. Entah mendoakan tatkala bertatap muka maupun dalam keheningan malam dan kesendirian tanpa ada yang menyaksikan kecuali Dzat Yang Maha Mendengar Doa. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ketujuh&lt;/span&gt;, memberi hadiah. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kedelapan&lt;/span&gt;, memaafkan dan menyimpan aib. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kesembilan&lt;/span&gt;, meringankan beban. Dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;kesepuluh&lt;/span&gt;, mengajak meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Harmoni Cinta Suami Istri, Anak dan Orang Tua, dan Peran Lainnya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Di bawah judul harmoni Status dan Peran dalam Relasi Cinta, bab 3 menjelaskan peran suami, istri, anak dan orangtua agar dapat dijalankan sebaik mungkin hingga keluarga menjadi semanis cocktail cinta. Dalam bab yang sama dibahas pula peran sebagai tetangga, profesional, dan dai. Sebab, umumnya kita tidak lepas dari peran-peran itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjadi pendidik istri, memberi nafkah lahir batin, dan memberi kesempatan istri mengembangkan potensi adalah peran seorang suami. Pada peran pertama, &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Semangkuk Cocktail Cinta&lt;/span&gt; mengetengahkan hadits shahih yang diriwayatkan Bukhari Muslim : "nasihatilah para wanita itu baik-baik karena wanita itu diciptakan dari tulang rusuk dan tulang rusuk yang paling bengkok adalah yang teratas. Jika engkau berlaku keras di dalam meluruskannya, engkau akan mematahkannya. Tetapi jika engkau biarkan, tentu akan tetap bengkok. Karena itu, berilah nasihat kepada para wanita." Subhaanallah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan tentang nafkah, dicantumkan hadits riwayat Abu Daud dari Muawiyah bin Haidah: "Wahai Rasulullah, apakah kewajiban seorang suami kepada istrinya?" beliau menjawab, "Engkau memberinya makan sebagimana engkau makan. Engkau memberinya pakaian sebagaimana engkau berpakaian, jangan memukul mukanya, jangan mencelanya, dan jangan meninggalkan dirinya kecuali di dalam rumah sendiri."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, peran istri membawa tanggung jawab untuk taat kepada suami, bersyukur dan amanah terhadap pemberian suami, memenuhi ajakan suami, dan menjaga kehormatan diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peran orang tua memiliki empat kewajiban kepada anaknya: memberi nama yang baik kepada anak, mendidik anak taat beribadah dan berakhlak mulia, memberikan lingkungan yang baik, serta memberi nafkah dari rezeki yang halal. Sebaliknya, peran anak menghajatkan untuk memberikan cinta kepada orang tua setidaknya dalam tiga hal: merawat orang tua dengan kasih sayang, memberi nafkah, dan menyambung silaturahim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai tetangga, peran kita membawa pada kewajiban yang menjadi hak mereka: berbuat baik dan tidak mengganggu tetangga, bersedekah atau memberi hadiah, serta membantu kesulitan tetangga. Sedangkan peran profesional melahirkan tanggungjawab kita pada profesi yang kita geluti: bekerja pada bidang kerja yang halal, disiplin dengan jam kerja, membaguskan pekerjaan, dan amanah dalam mengelola uang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terakhir, tetapi yang justru menjadi peran pertama sesuai kaidah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;nahnu du'at qabla kulli syai'in&lt;/span&gt;, adalah peran kita sebagai dai. Yakni menuntut ilmu dan menyampaikannya, berusaha menjadi teladan, berdakwah dengan santun, cepat tanggap tapi tidak reaktif, berdoa untuk diri sendiri, keluarga, dan masyarakat, serta mengajak masyarakat memperbaiki sistem hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Mengatasi Konflik Peran&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada manusia dewasa ini yang memiliki satu peran saja. Sebagai dai, minimal kita akan memiliki 3 peran: dai, anak, dan tetangga. Ini bagi yang belum bekerja dan menikah. Bagi yang telah bekerja ditambah satu peran: peran profesi. Bagi yang sudah berkeluarga ditambah satu lagi: istri/suami. Dan bagi yang telah memiliki anak perannya ada lagi: sebagai orangtua. Belum lagi yang amanah dakwahnya banyak. Perannya bisa bertambah-tambah. Sebagai mas'ul organisasi A. Sebagai pengurus wajihah B, dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyaknya peran itu bukannya tidak mungkin akan melahirkan konflik peran. Misalnya seorang ikhwah yang sangat militan dan terkenal sukses dalam perannya sebagai dai, tetapi ia kurang perhatian kepada istri dan anak-anaknya. Atau orang sukses dalam menjalankan peran sebagai orang tua, dai, dan profesional, tetapi tidak saling mengenal dengan tetangganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bab 4 &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Semangkuk Cocktail Cinta&lt;/span&gt; menyuguhkan lima modal untuk mampu mengatasi konflik peran itu. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Pertama&lt;/span&gt;, kemampuan komunikasi. Dengan kemampuan komunikasi yang baik, konflik peran bisa diatasi. Sebab selain untuk menyampaikan pesan dan informasi, komunikasi juga berfungsi untuk mempererat jalinan relasi dan mengungkapkan isi hati. Pentingnya komunikasi sangat diperlukan, misalnya ketika ada dua atau lebih agenda bersama dalam peran berbeda. Dengan komunikasi yang baik pada pihak yang bersangkutan, kita bisa memahamkan mereka dan mengeliminir konflik peran. Demikian pula jika ada kepentingan yang seakan-akan bertolak belakang antar peran. Misal keluarga ingin A sementara peran dai mengharuskan B. Komunikasi yang baik bisa menjadi jalan keluar, yang bisa jadi A dan B bisa ditempuh dua-duanya karena pada hakikatnya tidak bertolak belakang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kedua&lt;/span&gt;, kemampuan intrapersonal. Yakni kemampuan untuk 'mengelola' diri sendiri, yang meliputi kemampuan refleksi diri, mawas diri, menghargai diri sendiri, belajar dari pengalaman dan memaknai cinta. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Semangkuk Cocktail Cinta&lt;/span&gt; juga menuliskan anjuran Donald Trump dalam buku &lt;span style="font-style: italic;"&gt;How to Get Rich&lt;/span&gt; untuk melakukan refleksi diri selama tiga jam per hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kemampuan intrapersonal yang baik, seseorang akan bisa mengevaluasi peran-perannya dengan jernih, mengenali kekurangannya dalam peran yang ada, dan menemukan jalan memperbaiki diri hingga setiap peran bisa dilakukan dengan optimal tanpa terjebak pada konflik peran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ketiga&lt;/span&gt;, kemampuan interpersonal. Yakni kemampuan membangun relasi dengan orang lain. Semua peran yang disebutkan dalam bab 3 &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Semangkuk Cocktail Cinta&lt;/span&gt; pasti menghajatkan relasi dengan orang lain. Kemampuan interpersonal yang baik membantu kita menjalankan segala peran dengan baik pula, tanpa konflik yang berarti dengan orang-orang yang terlibat dalam berbagai peran itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Keempat&lt;/span&gt;, kemampuan kontrol diri. Kemampuan ini sebenarnya merupakan bagian dari kemampuan intrapersonal, namun karena begitu pentingnya, &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Semangkuk Cocktail Cinta&lt;/span&gt; menempatkannya sebagai modal tersendiri. Dengan kemampuan ini, kita lebih mudah menghentikan segala aktifitas negatif yang tidak sejalan dengan peran kita, bahkan sebelum aktifitas negatif itu mulai dilakukan. Tanpa kontrol diri yang baik, bisa jadi kita mudah terdorong dalam perbuatan negatif yang merugikan salah satu atau beberapa peran kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kelima&lt;/span&gt;, kemampuan mengelola waktu. Fakta bahwa satu hari terdiri dari 24 jam dan berbagai peran membutuhkan waktu kita, membawa kita pada kesadaran bahwa kewajiban lebih banyak daripada waktu. Diperlukan kiat-kiat mengelola waktu agar konflik peran bisa diatasi. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Semangkuk Cocktail Cinta&lt;/span&gt; memberikan 7 kiat sebagai berikut:&lt;br /&gt;1. Tidak menunda pekerjaan&lt;br /&gt;2. Tidak berlebihan dalam bersosialisasi dan mengobrol&lt;br /&gt;3. Menghadiri forum undangan tepat waktu&lt;br /&gt;4. Membuat agenda kerja&lt;br /&gt;5. Mengkhususkan waktu untuk ibadah, istirahat, bersama keluarga, dan majelis iman&lt;br /&gt;6. Kemampuan mendelegasikan tugas&lt;br /&gt;7. Kemampuan menjaga keikhlasan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Cocktail Cinta dari Allah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Setiap kita tentu tidak hanya menginginkan cocktail cinta dari suami/istri, anak, orang tua, atau sahabat dan sesama ikhwah. Jauh lebih daripada itu, cinta yang kita inginkan adalah cinta Allah SWT. Bab 5 &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Semangkuk Cocktail Cinta&lt;/span&gt; membawa kita menelusuri cinta Allah. Tentu dengan harapan agar kita berusaha semaksimal mungkin untuk menyongsong cinta-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10 cara Allah SWT mencintai hamba-Nya adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;1. Allah menyatakan rasa cinta-Nya, baik dalamAl-Qur'an maupun hadits, hingga jelaslah siapa yang berhak mendapatkan cinta-Nya&lt;br /&gt;2. Cinta-Nya melebihi cinta ibu&lt;br /&gt;3. Memberi kenikmatan surga dan memperlihatkan Wajah-Nya&lt;br /&gt;4. Allah mengampuni dosa&lt;br /&gt;5. Allah memberi petunjuk&lt;br /&gt;6. Allah memberi rezeki&lt;br /&gt;7. Allah memberi rasa cinta diantara manusia&lt;br /&gt;8. Allah mengabulkan doa&lt;br /&gt;9. Allah menutup aib hamba-Nya&lt;br /&gt;10. Allah memberi cinta khusus kepada wali-Nya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, semoga dengan kehadiran buku &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Semangkuk Cocktail Cinta&lt;/span&gt; ini kita bisa menggapai cinta Allah dan cinta sesama manusia, khususnya dalam lingkaran peran kita. Hingga terciptalah pelangi indah kehidupan memayungi nikmatnya beraneka rasa cinta lalu berujung pada surga dan nikmat abadi memandang wajah-Nya. Wallaahu a'lam bish shawab. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;[Muchlisin]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;center&gt;DALAM BENTUK E-BOOK &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;SEMANGKUK COCKTAIL CINTA&lt;/span&gt; BISA DIDOWNLOAD &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;a href="http://muchlisin.blogspot.com/2010/06/download-100-buku-pengokohan-tarbiyah.html"&gt;DI SINI&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/center&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4661011185558750656-2639209699744862931?l=www.bersamadakwah.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.bersamadakwah.com/feeds/2639209699744862931/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.bersamadakwah.com/2010/08/semangkuk-cocktail-cinta.html#comment-form' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4661011185558750656/posts/default/2639209699744862931'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4661011185558750656/posts/default/2639209699744862931'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.bersamadakwah.com/2010/08/semangkuk-cocktail-cinta.html' title='Semangkuk Cocktail Cinta'/><author><name>Admin BeDa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17749093855368398730</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-hD4D5mC_vlc/T7Guubv4RiI/AAAAAAAAEic/xrY3eBivBCM/s220/Bersama%2BDakwah%2B-%2Blogo%2Bprofil%2BFB.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_lLTNuSLRkEU/TF_CSJ0XbEI/AAAAAAAABhw/1F-4-kxA75E/s72-c/Semangkuk+Cocktail+Cinta-400px.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4661011185558750656.post-4173157914544370019</id><published>2010-06-28T18:00:00.001+07:00</published><updated>2010-06-28T18:26:17.271+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bedah Buku'/><title type='text'>Kontribusi Muslimah dalam Mihwar Daulah</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_lLTNuSLRkEU/TCiGptHApII/AAAAAAAABa4/7AV4d-TeTf0/s1600/Kontribusi+Muslimah+dalam+Mihwar+Daulah.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 134px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_lLTNuSLRkEU/TCiGptHApII/AAAAAAAABa4/7AV4d-TeTf0/s200/Kontribusi+Muslimah+dalam+Mihwar+Daulah.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5487784196992705666" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Judul Buku : &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kontribusi Muslimah dalam Mihwar Daulah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Penulis : &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sumaryatin Zarkasyi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Penerbit : Era Adicitra Intermedia, Solo&lt;br /&gt;Cetakan Ke : 1&lt;br /&gt;Tahun Terbit : Jumadatas Tsaniyah 1431 H/Juni 2010&lt;br /&gt;Tebal Buku : xxiv + 176 halaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak dakwah Islam lahir pada tahun pertama kenabian, sejak saat itu pulalah peran muslimah dimulai. Maka kita pun mendapatkan hadits kedua Imam Bukhari menjadi bukti kontribusi pertama muslimah dalam dakwah. Saat Rasulullah tiba di rumah dari gua Hira dengan pengalaman spiritualnya yang luar biasa, &lt;span class="fullpost"&gt;beliau masih dalam ketakutan. Satu hal yang wajar sebab beliau baru saja bertemu dengan makhluk yang tidak biasa beliau lihat. Lebih dari itu beliau mendapatkan tanggungjawab besar sebagai nabi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kondisi seperti itulah beliau berkata: "Zammilunii... zammilunii..." (Selimuti aku, selimut aku..). Khadijah mengerti. Ia melakukan perannya. Ia wanita pertama yang telah berhasil menyemaikan dakwah yang saat itu baru mengecambah agar tetap bertumbuh. Maka Khadijah tidak hanya menyelimuti Rasulullah agar kondisi fisiknya membaik. Lebih dari itu Khadijah memotivasi sang suami agar yakin bahwa tidak ada hal yang salah pada dirinya. "Jangan takut, demi Allah, Tuhan tidak akan membinasakan engkau. Engkau selalu menyambung tali persaudaraan, membantu orang yang sengsara, mengusahakan barang keperluan yang belum ada, memuliakan tamu, menolong orang yang kesusahan karena menegakkan kebenaran." Begitu pandainya Khadijah meyakinkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak berhenti di situ. Khadijah juga membawa Rasulullah kepada pamannya. Waraqah sang ahli kitab. Dari sanalah keyakinan keduanya semakin mantab. Ya, Muhammad telah menjadi Nabi. Maka sejak saat itu sejarah dakwah ditulis. Namun ia telah ditulis dengan adanya peran muslimah. Khadijah yang pertama kali percaya dan menjadi muslimah. Khadijah ummul mukminin yang memberikan langkah awal dan teladan pertama bagi kiprah muslimah berikutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini kita hidup di era yang berbeda. Sejarah dakwah telah berusia lebih dari empat belas abad sejak muslimah pertama berperan menyokongnya. Kita kini hidup di abad modern yang memiliki karakteristik zamannya sendiri. Banyak hal yang telah berubah. Bahkan dakwah di masa modern ini pun telah disusun sedemikian rupa dalam berbagai orbit atau mihwar-nya. Sejak mihwar tandzimi, mihwar sya'bi, mihwar muassasi, dan mihwar daulah yang tengah disambut dengan berbagai persiapan dan strategi. Banyak hal yang berubah. Namun tetap ada yang harus "abadi". Diantaranya adalah &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;kontribusi muslimah&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, peran muslimah tidak boleh berhenti. Apapun mihwarnya, di sana ada dan butuh peran muslimah. Apapun zamannya, dakwah tetap menghajatkan &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;kontribusi muslimah&lt;/span&gt;. Pun dalam mihwar daulah nanti. Buku &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kontribusi Muslimah dalam Mihwar Daulah&lt;/span&gt; ini akan menjadi peta jalan (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;roadmap&lt;/span&gt;) bagi para aktifis dakwah muslimah dalam memberikan kontribusi terbaiknya di mihwar daulah.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;Memahami Realitas Muslimah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Hal pertama yang perlu dilakukan aktifis dakwah muslimah adalah introspeksi. Introspeksi nasib kaumnya. Memahami realitas muslimah. Realitas muslimah sebagai pribadi, dalam keluarga, dan realitas masyarakatnya. Secara jujur kita akan menemukan kata kunci untuk menggambarkan realitas muslimah masa kini: lemah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai pribadi, banyak muslimah di negeri ini yang masih mengalami kekeringan jiwa, tidak memahami tujuan penciptaannya, dan dilanda keputusasaan. Pendek kata, mereka masih jauh dari Islam. Disebutkan satu contoh dalam buku ini, ketika Yusuf Islam (Dulu Cat Steven) memberikan ceramah di Jakarta pada tahun 90-an, ia tidak menyangka kalau negeri ini adalah berpenduduk mayoritas muslim. Ini karena di jalan-jalan yang dilaluinya yang ia temukan justru wanita-wanita yang tidak menutup aurat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Realitas keluarga di Indonesia tidak jauh berbeda dari kondisi di atas. Secara ekonomi banyak keluarga yang miskin secara ekonomi dan bodoh secara pendidikan. Keduanya lalu dipertahankan oleh keluarga-keluarga baru yang terbentuk tanpa kesiapan yang memadai. Tidak siap membangun keluarga, juga tidak siap mendidik anak-anak yang lahir nantinya. Maka kemiskinan, kebodohan, ketidaksiapan itu seperti telah menjadi lingkaran setan yang sulit diputuskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu masyarakat. Ia juga tidak lebih baik dari keduanya. Karena pada dasarnya masyarakat adalah bangunan besar dari keluarga-keluarga yang tentu saja terdiri dari individu-individu. Diantaranya adalah muslimah, yang bahkan menjadi unsur terbesar pembentuk masyarakat. Realitasnya, masyarakat kita saat ini telah terserang berbagai penyakit. Mulai dari individualisme, hedonisme, sekuler, sampai pornografi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Realitas yang demikian, bagi aktifis dakwah muslimah, seharusnya menjadi pemicu dan tantangan tersendiri untuk meningkatkan kontribusinya dalam memperjuangkan Islam. Realitas ini -yang jika dipahami dengan baik- akan mendorong semakin kuatnya azzam untuk melakukan perubahan dan perbaikan. Akan menjadi landasan mengapa muslimah harus berkontribusi, terutama di mihwar daulah nanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Peran Muslimah di Semua Maratibul Amal&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Islam merupakan din yang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;syamil mutakamil&lt;/span&gt;. Ia melingkupi seluruh aspek kehidupan. Maka kita akan mendapatkan bahwa dalam setiap aspek kehidupan ini Islam telah menyediakan aturannya; ada yang bersifat umum ada yang detail. Pada saat Islam diaplikasikan dalam segala aspek kehidupan itulah maka peradaban Islam yang gemilang akan terwujud.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara kini, dakwah tengah berjalan menuju ke sana. Ada banyak konsep dalam tiap gerakan dakwah yang ditawarkan lalu menjadi manhaj perjuangannya masing-masing. Namun, kebertahapan adalah sebuah sunnatullah yang bisa didapatkan intisarinya dalam Al-Qur'an dan hadits. Mungkin pencapaiannya akan terasa lama. Tetapi inilah cara yang efektif dan ditemukan dari dua pusaka Islam tersebut. Formulasi tahapan perjuangan seperti ini disebut Hasan Al-Banna sebagai &lt;span style="font-style: italic;"&gt;maratibul amal&lt;/span&gt;. Seperti contoh yang diberikan Khadijah dalam permulaan dakwah, aktifis dakwah muslimah di era sekarang pun tidak boleh berdiam diri. Ia harus ambil bagian dalam semua &lt;span style="font-style: italic;"&gt;maratibul amal&lt;/span&gt;. Muslimah harus berperan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Islahun Nafsi&lt;/span&gt; atau perbaikan diri sendiri akhwat muslimah harus serius dalam melakukan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;siyasatun nafs&lt;/span&gt;. Yaitu bagaimana agar unsur dalam diri dapat mengendalikan unsur dalam diri lainnya. Potensi taqwa mengendalikan potensi fujur. Potensi kebaikan mengalahkan potensi keburukan. Lalu ia berkontribusi dalam upaya memperbanyak muslimah lain melakukan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ishlahun nafsi&lt;/span&gt; pula dengan cara : &lt;span style="font-style: italic;"&gt;pertama&lt;/span&gt;, menjadikan diri sebagai teladan. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kedua&lt;/span&gt;, menginspirasi orang-orang terdekat, baik keluarga, saudara, sahabat atau teman untuk melakukan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ishlahun nafsi&lt;/span&gt;. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ketiga&lt;/span&gt;, Berusaha tetap istiqamah dalam memperbaiki dirinya dan mengajak orang terdekat untuk melakukan hal yang sama. Proses ini harus terus dilakukan hingga kematian menghentikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Takwin Bait al-Muslim&lt;/span&gt;, muslimah juga memiliki kontribusi. Ada istilah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;siyasatul usrah&lt;/span&gt; yang dipakai &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sumaryatin Zarkasyi&lt;/span&gt; di sini. Bagaimana agar muslimah bisa mengatur rumah tangga, sementara suami tetap pemimpin dalam keluarga. Maka &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;kontribusi muslimah&lt;/span&gt; mewujud dalam bentuk menjadi istri yang shalihah, menjadi anak yang shalihah bagi orang tuanya, menjadi ummi madrasah bagi anak-anaknya, yang mampu menjadi teladan bagi mereka serta menjalankan peran taurits (pewarisan), baik pewarisan ideologi, cita-cita, dan kebaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Irsyad Al-Mujtama'&lt;/span&gt;, &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;kontribusi muslimah&lt;/span&gt; yang perlu dilakukan adalah menjadi daiyah dengan pemahaman metode dan fiqih dakwah yang baik, berkhidmah melalui profesi dan keilmuan di bidangnya untuk kemajuan masyarakat, dan peduli serta terlibat dalam upaya penyelesaian problem-problem pokok masyarakat terdekat. Mungkin tidak semua akhwat muslimah berkesempatan melakukan semua kontribusi itu. Misalnya khidmah keilmuan dan profesi. Ini terutama bagi muslimah yang diamanahi profesi tertentu. Bukan berarti lalu muslimah yang "profesi"-nya sebagai ibu rumah tangga kurang kontributif. Bukan. Semua sesuai dengan level dan kemampuan masing-masing. Namun, dalam level apapun, akhwat muslimah harus mengukir tinta emas dalam kehidupannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Tahrirul Wathan&lt;/span&gt;, akhwat muslimah bisa memberikan kontribusinya dalam bentuk pembelaan atas setiap jengkal tanah kaum muslimin yang terzalimi dan berkontribusi dalam mewujudkan kemerdekaan yang hakiki. Tentu dalam kontribusi ini tidak otomatis sama dengan peran ikhwan. Namun ia tetap memiliki komitmen dan kontribusi, sebagaimana muslimah Palestina yang menanamkan jiwa jihad dalam diri anak dan suaminya, bahkan ada sebagiannya yang turut langsung terjun ke medan jihad melawan penjajah Israel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Islahul Hukumah&lt;/span&gt;, akhwat muslimah pun perlu berkontribusi. Muslimah harus menggunakan hak-hak politiknya dalam memperbaiki pemerintahan. Apalagi fakta berbicara bahwa wanita adalah pemilih terbesar yang otomatis jumlah suaranya lebih menentukan siapa yang berhak menjadi pemerintah. Setingkat lebih tinggi dari itu adalah peran muslimah untuk turut melakukan tarbiyah siyasiyah dan advokasi kepada masyarakat agar sadar politik dan tergerak melakukan perbaikan. Lebih besar lagi tanggungjawabnya di bidang ini, adalah ketika muslimah berperan aktif dalam ranah publik dan politik. Tentu ini membutuhkan kesiapan yang lebih besar pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Siyasatu Ad-Daulah&lt;/span&gt;, ada dua kaidah penting yang dikemukakan Ikhwan. Pertama, prinsip umum emansipasi antara laki-laki dan perempuan, bahwa muslimah memiliki peran yang tidak bisa dilakukan laki-laki, baik itu dalam pengurusan rumah tangga maupun pendidikan anak. Sedangkan dalam politik, sebagaimana wanita bukanlah jenis kelamin di bawah laki-laki, ia pun memiliki hak politik yang setara, dan berhak menempati posisi sebagai legislatif dan jabatan-jabatan kepemimpinan tertentu. Maka dalam maratibul amal ini kontribusi muslimah bisa mewujud dalam kontribusi di berbagai organisasi dan lembaga profesi, birokrat, termasuk legislatif. Intinya, muslimah perlu berkontribusi semampunya, mengoptimalkan potensi-potensinya dengan tetap mengambil jalan keseimbangan dan keadilan bagi peran-perannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu pada &lt;span style="font-style: italic;"&gt;maratibul amal&lt;/span&gt; yang ketujuh, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ustadziyatu Al-Alam&lt;/span&gt;, muslimah pun tetap dituntut kontribusinya. Pada tahapan inilah ditegakkan kepemimpinan dunia dengan penyebaran dakwah Islam ke seluruh penjuru dunia sehingga tidak ada lagi fitnah dan agama ini hanya menjadi milik Allah.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;Karakter Muslimah di Mihwar Daulah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sumaryatin Zarkasyi&lt;/span&gt; dalam buku &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kontribusi Muslimah dalam Mihwar Daulah&lt;/span&gt; ini menjelaskan Karakter Muslimah di Mihwar Daulah pada bab 3.  Karakter itu ada 5: Pertama, Bertaqwa. Ini karakter umum yang mudah diuraikan karena memang harus ada dalam mihwar apapun, kapan pun, di manapun. Karakter kedua adalah sejahtera. Sejahtera di sini menyangkut aspek ekonomi, kemananan fisik dan kenyamanan psikologis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu cerdas. Karakter ketiga ini menuntut muslimah membekali akalnya dengan hakikat yang benar, makna hidup terbaik, dan pengetahuan yang benar. Akhwat muslimah juga harus membekali akal pikirannya dengan sejarah Islam dan berbagai pengetahuan modern.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karakter keempat adalah berdaya. Sehingga muslimah bisa memberikan kemanfaatan kepada diri, keluarga, masyarakat dan negaranya secara seimbang. Karakter kelima, berbudaya. Yakni dengan mewarnai budaya yang sudah ada agar menjadi islami dan mengembangkan iklim bidaya yang lebih kondusif bagi muslimah untuk memuliakan harkat dan martabatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Agenda-agenda yang Perlu Diperhatikan Gerakan Akhwat Muslimah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Pertama&lt;/span&gt;, agenda dakwah di kalangan muslimah yang harus terus ditingkatkan. Sarana-sarana diperluas, secara sistemik perlu upaya mengorganisir dakwah muslimah agar menjadi lebih produktif. Dakwah muslimah harus mampu menawarkan solusi dan tidak lagi bersifat monologis. Perlu ada upaya pemberdayaan muslimah untuk mencapai keadilan dan kesejehateraan dunia-akhirat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kedua&lt;/span&gt;, agenda perlindungan terhadap perempuan, anak, dan keluarga. Gerakan dakwah akhwat muslimah harus berupaya menghapuskan tingkat kemiskinan dan kelaparan, membawa seluruh anak-anak mencapai pendidikan dasar, memberdayakan perempuan, mengurangi tingkat kematian anak, meningkatkan kesehatan ibu, pemerataan kesejahteraan, pemerataan akses sumber daya, pemerataan penyadaran, dan pemerataan partisipasi aktif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, semoga buku &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kontribusi Muslimah dalam Mihwar Daulah&lt;/span&gt; karya &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sumaryatin Zarkasyi&lt;/span&gt; yang merupakan buku ke-12 dari &lt;a href="http://muchlisin.blogspot.com/2010/06/download-100-buku-pengokohan-tarbiyah.html"&gt;100 Buku Pengokohan Tarbiyah&lt;/a&gt; ini bisa menjadi peta jalan muslimah sehingga dapat turut berkontribusi secara signifikan dalam upaya pergerakan dakwah menyongsong mihwar daulah. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;[Muchlisin]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;center&gt;DALAM BENTUK E-BOOK, &lt;b&gt;KONTRIBUSI MUSLIMAH DALAM MIHWAR DAULAH&lt;/b&gt; BISA DI-DOWNLOAD &lt;b&gt;&lt;a href="http://muchlisin.blogspot.com/2010/06/download-100-buku-pengokohan-tarbiyah.html"&gt;DI DINI&lt;/a&gt;&lt;/b&gt;&lt;/center&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4661011185558750656-4173157914544370019?l=www.bersamadakwah.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.bersamadakwah.com/feeds/4173157914544370019/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.bersamadakwah.com/2010/06/kontribusi-muslimah-dalam-mihwar-daulah.html#comment-form' title='18 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4661011185558750656/posts/default/4173157914544370019'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4661011185558750656/posts/default/4173157914544370019'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.bersamadakwah.com/2010/06/kontribusi-muslimah-dalam-mihwar-daulah.html' title='Kontribusi Muslimah dalam Mihwar Daulah'/><author><name>Admin BeDa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17749093855368398730</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-hD4D5mC_vlc/T7Guubv4RiI/AAAAAAAAEic/xrY3eBivBCM/s220/Bersama%2BDakwah%2B-%2Blogo%2Bprofil%2BFB.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_lLTNuSLRkEU/TCiGptHApII/AAAAAAAABa4/7AV4d-TeTf0/s72-c/Kontribusi+Muslimah+dalam+Mihwar+Daulah.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>18</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4661011185558750656.post-9036588285963973163</id><published>2010-06-21T18:00:00.001+07:00</published><updated>2010-06-28T12:31:00.271+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bedah Buku'/><title type='text'>Tarbiyah Siyasiyah</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_lLTNuSLRkEU/TB9KyQcb06I/AAAAAAAABaI/sRD4L2SDogY/s1600/Tarbiyah+Siyasiyah.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 134px; height: 200px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_lLTNuSLRkEU/TB9KyQcb06I/AAAAAAAABaI/sRD4L2SDogY/s200/Tarbiyah+Siyasiyah.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5485185098428699554" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Judul Buku : &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tarbiyah Siyasiyah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Penulis : &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ahmad Dzakirin&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Penerbit : Era Adicitra Intermedia, Solo&lt;br /&gt;Cetakan Ke : 1&lt;br /&gt;Tahun Terbit : Jumadatas Tsaniyah 1431 H/Juni 2010&lt;br /&gt;Tebal Buku : xxiv + 152 halaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika dakwah memasuki wilayah politik, tarbiyah siyasiyah mutlak dibuthkan. Bahkan, berangkat dari karakteristik Islam yang syamil, yang mengatur segala bidang kehidupan, &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;tarbiyah siyasiyah&lt;/span&gt; pun menjadi  keniscayaan.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tarbiyah siyasiyah&lt;/span&gt; yang bermakna pendidikan politik sesungguhnya sangatlah luas. Ia bukan saja membahas teori-teori politik, tetapi sampai pada metode pengelolaan negara. Ia bukan saja terbatas pada pengetahuan politik, tetapi juga bagaimana memberdayakan umat untuk bisa berpartisipasi dalam perbaikan pemerintahan atau &lt;span style="font-style: italic;"&gt;islahul hukumah&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam buku ini, &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;tarbiyah siyasiyah&lt;/span&gt; didefinisikan sebagai: "Upaya membangun dan menumbuhkan keyakinan dan nilai dalam rangka membentuk kepribadian politik yang dikehendaki melalui terbentuknya orientasi dan sensivitas politik para anggota sehingga menjadi partisipan politik aktif dalam kehidupan politik keseharian mereka."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, sasaran yang hendak dicapai melalui tarbiyah siyasiyah adalah menculnya kesadaran politik (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;wa'yu siyasi&lt;/span&gt;), terbentuknya kepribadian politik (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;dzat siyasiyah&lt;/span&gt;), dan munculnya partisipasi politik yang aktif (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;musyarakah siyasiyah&lt;/span&gt;). Pada akhirnya, selain memiliki pemahaman epistemologis tentang politik dalam Islam dan keyakinan jalan Islam sebagai solusi (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;al-Islam huwal hallu&lt;/span&gt;), umat yang telah mendapatkan tarbiyah siyasiyah juga berafiliasi dalam amal jama'i sebagai upaya mengimplementasikan politik Islam yang telah mereka yakini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Politik; Antara Islam dan Barat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Hal pertama yang menjadi bahasan dalam buku ini, bahkan sebelum &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;definisi tarbiyah siyasiyah&lt;/span&gt;, adalah definisi politik itu sendiri. Agar relevan dengan kondisi sekarang serta bisa diketahui keunggulan politik Islam, maka perlu diperbandingkan politik dalam pandangan Barat dengan politik dalam pandangan Islam. Pandangan politik Barat bisa diketahui akarnya dari pemikiran politik Plato dan Aristoteles. Sehingga pokok-pokok pemikaran politik Barat terformulasikan ke dalam prinsip-prinsip pemisahan politik dengan etika, agama dengan hukum, pembedaan kedudukan antara masyarakat dan negara, kedaulatan politik dan personalitas negara dalam pembuatan hukum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan dalam Islam, politik harus bersumber dari agama. Sebagaimana karakter Islam yang syamil, mengatur segala segi kehidupan, maka politik pun harus sejalan dengan syariat. Bahkan definisi politik (baca: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;siyasah syar'iyah&lt;/span&gt;) itu sendiri berarti segala upaya untuk memperhatikan urusan kaum muslimin, dengan jalan menghilangkan kezaliman penguasa dan melenyapkan kejahatan musuh kafir dari mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka perbedaan pertama antara politik Islam dan politik Barat (sekuler) adalah landasannya. Politik Islam dibangun dari tauhid, sementara politik Barat justru memisahkan politik dari agama. Standart kebenaran dalam politik Islam jelas, yaitu Al-Qur'an dan hadits, sementara standar kebenaran dalam politik Barat bersifat relatif, sesuai dengan kesepakatan rakyat (atau atas nama rakyat).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbedaan lainnya adalah sumber kedaulatan, legitimasi kekuasaan, dan aplikasi. Pada politik Islam, sumber kedaulatan adalah Allah SWT. Maka segala hukum dan keputusan politik harus bersumber dari sana. Sedangkan politik Barat menjadikan rakyat sebagai pemilik kedaulatan, tidak peduli apa aturan Tuhan. Dalam politik Islam, legitimasi kekuasaannya adalah manusia dengan nilai, semetara politik Barat minus nilai. Lalu pada tataran aplikasi, politik Islam cenderung stabil karena berpedoman pada nilai-nilai Ilahiyah yang sudah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;given&lt;/span&gt;, sementara politik Barat bersifat spekulatif dan penuh konflik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Prinsip-prinsip Pemerintahan dalam Islam&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Negara dan pemerintahan memiliki kedudukan yang sangat penting dalam Islam. Ada enam alasan yang menunjukkan hal itu. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Pertama&lt;/span&gt;, Al-Qur'an memiliki seperangkat hukum –misalnya qishash, maliyah, dan jihad- yang pelaksanaannya membutuhkan negara dan pemerintahan. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kedua&lt;/span&gt;, pelaksanaan dan pengawasan aqidah, syariah, dan akhlak yang telah diatur dalam Al-Qur'an membutuhkan intervensi negara. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ketiga&lt;/span&gt;, adanya ucapan-ucapan nabi yang dapat menjadi istidlal bahwa negara dan pemerintahan menjadi elemen penting dalam ajaran Islam. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Keempat&lt;/span&gt;, perbuatan Nabi yang dapat dipandang sebagai bentuk pelaksanaan tugas-tugas negara dan kepemerintahan. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kelima&lt;/span&gt;, para sahabat lebih memprioritaskan memilih pemimpin pengganti Nabi daripada mengurus jenazah beliau. Dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;keenam&lt;/span&gt;, kepemimpinan (imarah) telah menjadi bahan kajian dan pembahasan para ulama dalam kitab mereka sepanjang sejarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam negara atau pemerintahan Islam, kepemimpinan tertinggi dikenal sebagai khilafah. Terminologi khilafah ini dipakai untuk menjelaskan tugas yang diemban para pemimpin pascakenabian. Kepemimpinan dalam perspektif khilafah –menurut Ahmad Dzakirin- lebih merefleksikan pemahaman terhadap nilai dan prinsip kepemimpinan yang benar menurut Islam ketimbang sebagai sebuah eksistensi maupun bentuk pemerintahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepemimpinan dalam Islam, yang pada tingkatan tertingginya merupakan implementasi tugas kekhilafahan, setidaknya harus memenuhi tiga syarat: integritas keilmuan, integritas moral (keshalehan individual), dan kemampuan profesional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kaitannya dengan mekanisme pengangkatan kepemimpinan, Al-Qur'an dan Sunnah tidak menetapkan mekanismenya. Yang kita dapati adalah ijma' (kesepakatan) sahabat. Mereka memilih Abu Bakar, Umar hingga Ali dengan cara yang berbeda. Abu Bakar dengan musyawarah mufakat, Umar ditunjuk oleh pemimpin sebelumnya, Ustman melalui tim formatur, dan Ali secara aklamasi dibaiat kaum muslimin Madinah dan Kufah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain kepemimpinan yang lebih condong sebagai eksekutif, dalam Islam juga dikenal ahlul hall wal aqdi yang menjalankan fungsi legislatif, dan adanya para qadhi atau hakim sebagai unsur yudikatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara dalam penyelenggaraan pemerintahannya, politik Islam memiliki prinsip syura, prinsip keadilan, prinsip kebebasan, dan prinsip persamaan yang meliputi persamaan umum, persamaan di depan hukum, dan persamaan hak-hak sosial.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;Islam dan Demokrasi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Demokrasi sebagai ide politik modern Barat merupakan hal yang tidak pernah berhenti untuk didiskusikan dalam perpolitikan Islam modern. Ini dikarenakan adanya hal-hal positif dalam demokrasi yang sejalan dengan nilai Islam dan bisa dimanfaatkan oleh Islam alih-alih pilihan-pilihan politik lain yang kemadharatannya jauh lebih besar. Namun demikian, ada banyak kelemahan sistemis dari demokrasi dalam praktiknya di negeri-negeri muslim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gerakan Islam dewasa ini sepatutnya untuk tidak keberatan dengan praktik demokrasi dan perlu secara tegas menepis kecurigaan dari kalangan sekuler bahwa demokrasi hanya dijadikan alat untuk mencapai kemenangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Belajar dari Gerakan Islam Turki&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pada bab terakhir, Ahmad Dzakirin mengajak gerakan Islam di Indonesia untuk belajar dari Gerakan Islam di Turki, khususnya AKP. AKP bisa memenangkan dua pemilu berturut-turut dengan suara mayoritas dan membawa rakyat Turki untuk mempercayai pemerintahan AKP dalam menyelesaikan berbagai problematika yang dihadapi Turki. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;[Muchlisin]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;center&gt;DALAM BENTUK E-BOOK, &lt;b&gt;TARBIYAH SIYASIYAH&lt;/b&gt; BISA DI-DOWNLOAD &lt;b&gt;&lt;a href="http://muchlisin.blogspot.com/2010/06/download-100-buku-pengokohan-tarbiyah.html"&gt;DI DINI&lt;/a&gt;&lt;/b&gt;&lt;/center&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4661011185558750656-9036588285963973163?l=www.bersamadakwah.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.bersamadakwah.com/feeds/9036588285963973163/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.bersamadakwah.com/2010/06/tarbiyah-siyasiyah.html#comment-form' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4661011185558750656/posts/default/9036588285963973163'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4661011185558750656/posts/default/9036588285963973163'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.bersamadakwah.com/2010/06/tarbiyah-siyasiyah.html' title='Tarbiyah Siyasiyah'/><author><name>Admin BeDa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17749093855368398730</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-hD4D5mC_vlc/T7Guubv4RiI/AAAAAAAAEic/xrY3eBivBCM/s220/Bersama%2BDakwah%2B-%2Blogo%2Bprofil%2BFB.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_lLTNuSLRkEU/TB9KyQcb06I/AAAAAAAABaI/sRD4L2SDogY/s72-c/Tarbiyah+Siyasiyah.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4661011185558750656.post-8836096713936954888</id><published>2010-06-14T16:00:00.001+07:00</published><updated>2010-06-14T16:20:17.304+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bedah Buku'/><title type='text'>Jalan Cinta Para Pejuang</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_lLTNuSLRkEU/TBX0Gg2RsgI/AAAAAAAABYw/A3Qd2GFcCZc/s1600/jalan-cinta-para-pejuang-salim-a-fillah.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 140px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_lLTNuSLRkEU/TBX0Gg2RsgI/AAAAAAAABYw/A3Qd2GFcCZc/s200/jalan-cinta-para-pejuang-salim-a-fillah.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5482556514127426050" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Judul Buku : &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jalan Cinta Para Pejuang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Penulis : &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Salim A. Fillah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Penerbit : Pro-U Media, Yogyakarta&lt;br /&gt;Cetakan Ke : 3&lt;br /&gt;Tahun Terbit : Mei 2009&lt;br /&gt;Tebal Buku : 344 halaman&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita menghijrahkan cinta; dari kata benda menjadi kata kerja&lt;br /&gt;Maka tersusunlah sebuah kalimat peradaban dalam paragraf sejarah&lt;br /&gt;Jika kita menghijrahkan cinta; dari jatuh cinta menuju bangun cinta&lt;br /&gt;Maka cinta menjadi sebuah istana; tinggi menggapai surga&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata-kata indah yang ditulis di cover depan &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jalan Cinta Para Pejuang&lt;/span&gt; menggambarkan betapa indahnya isi buku ini. Dan begitulah kenyatannya. Seperti tulisan &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Salim A. Fillah&lt;/span&gt; yang lain, &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jalan Cinta Para Pejuang&lt;/span&gt; mengalir, melompat lincah, sambil membelai hati pembacanya dengan lembut. Maka di saat-saat tertentu hati menjadi mencair dan rembesannya menembus mata. Basahlah pipi pembacanya. Ini menandai kita benar-benar tengah menapaki &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jalan Cinta Para Pejuang&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini sebenarnya cukup lama. Cetakan ketiga yang saya dapatkan, bahkan sudah diterbitkan sejak tahun lalu. Namun saya baru akrab dengan buku-buku &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Salim A. Fillah&lt;/span&gt; dalam beberapa bulan terakhir. Saya menjadi tertarik karena ada kawan yang sering mencari bukunya. Akhirnya saya memutuskan untuk ikut membeli juga. Buku pertama yang saya miliki adalah &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Saksikan Bahwa Aku Seorang Muslim&lt;/span&gt;. Luar biasa, saya begitu menikmatinya. Banyak hikmah dalam keindahan bahasa dan kekayaan pengetahuan di sana. Sejak saat itu saya mulai rajin membaca buku-buku &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Salim A. Fillah&lt;/span&gt;. Alhamdulillah, bersamaan dengan &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jalan Cinta Para Pejuang&lt;/span&gt;, saya juga mendapatkan buku &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Agar Bidadari Cemburu Padamu&lt;/span&gt;, lalu setelah itu &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bahagianya Merayakan Cinta&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jalan Cinta Para Pejuang&lt;/span&gt;. Buku ini dibagi menjadi tiga langkah. Langkah pertama adalah dari dulu beginilah cinta. Langkah kedua, dunia kita hari ini. Dan langkah ketiga, jalan cinta para pejuang. Langkah terakhir ini terdiri dari empat tapak. Tapak pertama adalah visi. Lalu disusul dengan tapak-tapak berikutnya: gairah, nurani, dan disiplin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Dari Dulu Beginilah Cinta&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Langkah pertama dalam buku &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jalan Cinta Para Pejuang&lt;/span&gt; ini membawa kita menelusuri akar sesat pikir dalam sejarah cinta yang menyengsarakan jiwa. Judul langkah ini sendiri diambil dari kata-kata si Patkai: tokoh buncit dalam kisah Kera Sakti. Lengkapnya: "Dari dulu beginilah cinta, penderitaannya tiada pernah berakhir"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta yang dipahami secara salah hanya berakhir penderitaan. Seperti kisah cinta Qais dan Laila yang berakhir kegilaan atau kisah cinta Romeo dan Juliet yang berakhir dengan kematian mengenaskan. Ketika cinta dituhankan, ketika cinta yang menguasai jiwa, ketika cinta yang menentukan kehidupan kita... yang terjadi adalah keburukan yang dibangun di atas keburukan. Tentu, bukan itu &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jalan Cinta Para Pejuang&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Dunia Kita Hari Ini&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pada langkah kedua &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jalan Cinta Para Pejuang&lt;/span&gt;, kita diajak untuk menelusuri kenyataan hari ini. Banyak hal yang telah berubah sejalan dengan ilmu pengetahuan yang semakin berkembang. Bahwa kajian cinta telah berubah. Dari yang terlalu simple hingga menimbulkan persoalan mendasar cinta ke arah kajian yang lebih kompleks dan lebih mendekati hakikatnya. Sebagaimana perkembangan kecerdasan dari yang semula hanya ditentukan oleh IQ, kemudian berkembang dengan adanya temuan EQ, dan selanjutnya SQ. Pun dengan model pria. Jika pernah berkembang bahwa pria ideal itu metroseksual, kini tren sudah berubah. Pria masa depan adalah uberseksual. Yakni pria yang menggunakan aspek positif maskulinitas untuk memberikan manfaat pada orang lain dengan menjadikan nilai dan prinsip sebagai dasar kesetiannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesadaran bahwa dunia terus berubah, menuntut peniti jalan cinta para pejuang harus berbenah. Juga harus dipahami bahwa pada dunia hari ini dan masa mendatang peniti jalan cinta para pejuang akan dihadapkan pada "pejuang-pejuang" lain yang juga memiliki prinsip dan keyakinan. Pertempuran prinsip, pertarungan iman!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jalan Cinta Para Pejuang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Tapak yang pertama dari langkah ini adalah visi. Di jalan cinta para pejuang, visi adalah hal yang mutlak dimiliki. Secara sederhana, &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Salim A. Fillah&lt;/span&gt; menyebutkan bahwa impian yang bertanggal adalah visi. Jadi jika ada sebuah impian dan target waktu tercapainya, mimpi telah berubah menjadi visi. Tanpa target waktu mimpi tetaplah mimpi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di atas iman, visi itu dibangun. Lalu rencana disusun untuk mencapai visi-visi besar dalam kehidupan. Sebagaimana takdir yang tidak pernah diketahui adalah rencana Ilahi, rencana-rencana kita pada hakikatnya adalah untuk menyesuaikan dengan rencana-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapak kedua adalah gairah. Di sini dimensi emosional sebagai bekal utama. Maka setelah merenda mimpi, merajut cita-cita, dan menyusun rencana pada tapak pertama. Tapak kedua ini mengharuskan kita untuk segera melangkah, bukan menunda-nunda. Gairah harus ada, harus nyata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap orang memiliki tingkat kegairahan yang berbeda dalam melangkah. Ada orang yang bergairah karena dihadapkan pada tantangan dan makna keberhasilan; bukan oleh harta atau koleksi materi. Kegairahan semacam ini lebih dahsyat dan menggerakkan. Dan kegairahan untuk menggapai cinta, cinta Ilahi, menjadi api yang tak pernah padam untuk menyelesaikan seluruh perjalanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah visi dan gairah, tapak berikutnya adalah nurani.  Dengannya kita bisa melihat meski jalan masaih gelap, atau pilihan masih buram. Maka visi yang ada di depan dan gairah yang menyemangati menemukan pelitanya di sini. Jalan cinta para pejuang menjadi lebih terang dan semakin indah untuk dilalui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapak terakhirnya adalah disiplin. Ini yang paling berat. Dan tapak inilah yang dikategorikan &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Salim A. Fillah&lt;/span&gt; sebagai dimensi spiritual. Berat memang. Agar tetap menuju visi, dengan gairah yang membuncah dan nurani yang menerangi. Tapi itulah jalan yang harus ditapaki. Disiplin adalah pekerjaan besar. Pekerjaan besar untuk bertahan di Jalan Cinta Para Pejuang. Jauh lebih besar daripada saat memulainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bonus CD Nasyid Fathul Jihad&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ini adalah kabar gembira bagi yang belum membeli buku &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jalan Cinta Para Pejuang&lt;/span&gt;. Mungkin karena tulisannya yang relatif kecil, ia tidak terlalu diperhatikan oleh para pembeli buku ini. Namun saat membukanya, Anda akan menemukan sekeping CD nasyid &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Fathul Jihad&lt;/span&gt; dalam buku ini. Ini bonus. Memanjakan Anda. Ada 9 lagu di dalamnya yang bisa Anda putar untuk menemani membaca &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jalan Cinta Para Pejuang&lt;/span&gt;. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;[Muchlisin]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4661011185558750656-8836096713936954888?l=www.bersamadakwah.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.bersamadakwah.com/feeds/8836096713936954888/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.bersamadakwah.com/2010/06/jalan-cinta-para-pejuang.html#comment-form' title='19 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4661011185558750656/posts/default/8836096713936954888'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4661011185558750656/posts/default/8836096713936954888'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.bersamadakwah.com/2010/06/jalan-cinta-para-pejuang.html' title='Jalan Cinta Para Pejuang'/><author><name>Admin BeDa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17749093855368398730</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-hD4D5mC_vlc/T7Guubv4RiI/AAAAAAAAEic/xrY3eBivBCM/s220/Bersama%2BDakwah%2B-%2Blogo%2Bprofil%2BFB.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_lLTNuSLRkEU/TBX0Gg2RsgI/AAAAAAAABYw/A3Qd2GFcCZc/s72-c/jalan-cinta-para-pejuang-salim-a-fillah.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>19</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4661011185558750656.post-7369565496487469569</id><published>2010-05-25T17:00:00.002+07:00</published><updated>2010-06-28T12:32:03.639+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dakwah Kampus'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bedah Buku'/><title type='text'>Menuju Kemenangan Dakwah Kampus</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_lLTNuSLRkEU/S_ulj7y0saI/AAAAAAAABTs/iYNqGFrJlDw/s1600/Menuju+Kemenangan+Dakwah+Kampus.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 136px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_lLTNuSLRkEU/S_ulj7y0saI/AAAAAAAABTs/iYNqGFrJlDw/s200/Menuju+Kemenangan+Dakwah+Kampus.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5475151808763834786" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Judul Buku : &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Menuju Kemenangan Dakwah Kampus&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Penulis : &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ahmad Atian&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Penerbit : Era Adicitra Intermedia, Solo&lt;br /&gt;Cetakan Ke : 1&lt;br /&gt;Tahun Terbit : Jumadil Ula 1431 H/Mei 2010&lt;br /&gt;Tebal Buku : xxii + 202 halaman&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjelang Pemilu Legislatif 2009 lalu, sebuah televisi swasta menggelar acara Uji Kandidat. Malam itu, hadir Tifatul Sembiring sebagai peserta. Pada sesi awal setiap peserta diuji dengan kata berkait. Presenter membacakan kata/istilah, dan peserta harus menjawabnya dengan kata/istilah yang terkait erat. Salah satu kata yang dibacakan presenter acara itu adalah: "Dakwah". Dengan cepat, hampir tanpa jeda waktu Tifatul langsung menjawab: "Kampus!".&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu hanya sebuah contoh betapa dakwah dan kampus adalah hal yang sangat erat dalam dunia Islam modern, termasuk di Indonesia. Sama seperti Tifatul, banyak diantara kita yang juga akan mengucapkan "kampus"  untuk meneruskan kata "dakwah".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dakwah kampus memang memiliki kekhasannya sendiri dari dakwah-dakwah pada segmen lainnya. Ia identik dengan idealisme, semangat, dan jiwa muda. Dakwah kampus juga menjadi basis penyuplai kader. Dari dakwah kampus lahirlah kader-kader yang kemudian menjadi tulang punggung dakwah. Banyak qiyadah yang dihasilkan dari sana. Tidak salah jika kemudian dakwah kampus disebut sebagai primadona.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesuksesan mengelola dakwah kampus ini, dengan demikian, akan menjadi kontribusi sangat besar bagi kesuksesan dakwah secara makro. Kemenangan dakwah kampus ini, dengan demikian, adalah kemenangan awal bagi dakwah seluruhnya; di segala lini dan bidang kehidupan. Tentu saja, kemenangan dakwah kampus tidak hanya sekedar diukur dari keberhasilan mendudukkan kader dakwah sebagai presiden BEM. Tidak hanya diukur dengan maraknya masjid oleh kegiatan keislaman. Bukan hanya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Menuju Kemenangan Dakwah Kampus&lt;/span&gt; karya &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ahmad Atian&lt;/span&gt; ini mengajak para Aktifis Dakwah Kampus (ADK) untuk menggapai kemenangan dakwah kampus dalam maknanya yang lebih luas. Yakni kemenangan dakwah kampus yang secara fisik terwujud dalam dua hal besar, yaitu terwujudnya masyarakat kampus madani sejahtera dan terciptanya pemerintahan kampus yang adil dan berdaulat. Masyarakat kampus madani yang dimaksud di sini adalah masyarakat kampus yang hidup dalam nilai-nilai Islam. Sementara pemerintahan kampus yang berdaulat berarti pemerintahan kampus yang menerapkan nilai-nilai Islam dengan identitas  demokratis-aspiratif, kreatif dan berdaya, yang melekat padanya. Pemerintahan kampus di sini bukan sebatas pemerintahan mahasiswa, tetapi juga birokrasi kampusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mencapai kemenangan dakwah kampus ini, diperlukan enam kerangka strategis yang merupakan format dakwah kampus masa depan: dakwah prestatif, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;creative majority&lt;/span&gt;, dakwah kaya, ketokohan sosial, kepemimpinan sejati, dan maskimalisasi peran mujahidah dakwah kampus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Dakwah prestatif&lt;/span&gt; artinya dakwah kampus harus menjadi rahim bagi karya-karya besar. Dakwah kampus harus menjadi basis prestasi. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Creative Majority&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; berarti dakwah kampus harus memiliki kapabilitas dalam dua hal sekaligus; kualitas dan kuantitas. Kadernya banyak dan tangguh. Berawal dari kader-kader yang kreatif, inovatif, dan pandai berstrategi. Dengan demikian pos-pos strategis dalam kampus telah diisi oleh ADK dan berada dalam koordinasi DK.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Dakwah Kaya&lt;/span&gt; maksudnya dakwah kampus menjadi benar-benar kaya dalam 10 hal: kaya hati, kaya akhlak, kaya ilmu, kaya materi, kaya kader, kaya visi dan cita-cita, kaya ide dan gagasan, kaya strategi dan rekayasa, kaya hubungan dan jaringan, serta kaya amal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ketokohan sosial&lt;/span&gt; dalam konteks menuju kemenangan dakwah kampus berarti menabur kiprah terbaik (KT) di tengah-tengah umat sekaligus membangun kepercayaan atau pengakuan umat terhadap kapasitas DK (Kp). Ketokohan Sosial (KS) menjadi semakin besar saat KT dan Kp meningkat nilainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kepemimpinan Sejati&lt;/span&gt; artinya DK harus melahirkan para pemimpin sejak di dunia kampus yang efektif dan kuat. Meskipun dalam Bab 3 buku ini hanya dibatasi dalam kepemimpinan di LDK, kepemimpinan tangguh juga diperlukan di BEM dan berbagai pos strategis lainnya, termasuk birokrasi kampus. Dalam kaitan ini (juga semua langkah menuju kemenangan dakwah kampus) terlihat begitu pentingnya peran ADK Permanen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Maksimalisasi Kiprah Mujahidah DK&lt;/span&gt;. Hampir semua LDK telah memiliki departemen keputrian atau sejenisnya. Yang diperlukan adalah bagaimana memaksimalkan para mujahidah dakwah kampus ini sehingga dakwah kepada muslimah yang jumlahnya lebih besar menjadi efektif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Enam kerangka strategis dakwah kampus ini bisa dicapai dengan terlebih dahulu melakukan perbaikan internal dakwah kampus melalui dua tahap. Tahap I bersifat umum yang harus dilaksanakan pada sluruh cakupan dan tataran. Yakni meliputi: kembali kepada ashalah dakwah kampus, menghapus trauma persepsi, dan berkomitmen dengan sikap terbaik. Lalu tahap II berada pada tataran kebijakan, bersifat khusus, dan dilaksanakan oleh qiyadah. Ia terdiri atas; membuka kran komunikasi dan informasi serta memunculkan kepemimpinan baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih jelas dan lengkapnya tentu Antum, khususnya para aktifis dakwah kampus harus membaca sendiri buku &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Menuju Kemenangan Dakwah Kampus&lt;/span&gt; ini secara lengkap. Buku ketujuh dari &lt;a href="http://www.google.co.id/url?sa=t&amp;amp;source=web&amp;amp;ct=res&amp;amp;cd=3&amp;amp;ved=0CBkQFjAC&amp;amp;url=http%3A%2F%2Fmuchlisin.blogspot.com%2F2010%2F04%2F100-buku-pengokohan-tarbiyah.html&amp;amp;rct=j&amp;amp;q=100+buku&amp;amp;ei=jKX7S4OjJcO_rAfNzY29Ag&amp;amp;usg=AFQjCNEwxGECPoB5b5jeq4DoO09BLvDUAg"&gt;100 buku pengokohan tarbiyah&lt;/a&gt; ini memang spesial untuk para mujahid kampus, para ADK, agar seperti judulnya, dengan panduan ini dakwah kampus akan mencapai kemenangannya.&lt;span style="font-style: italic;"&gt;[Muchlisin]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;center&gt;DALAM BENTUK E-BOOK, &lt;b&gt;MENUJU KEMENANGAN DAKWAH KAMPUS&lt;/b&gt; BISA DI-DOWNLOAD &lt;b&gt;&lt;a href="http://muchlisin.blogspot.com/2010/06/download-100-buku-pengokohan-tarbiyah.html"&gt;DI DINI&lt;/a&gt;&lt;/b&gt;&lt;/center&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4661011185558750656-7369565496487469569?l=www.bersamadakwah.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.bersamadakwah.com/feeds/7369565496487469569/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.bersamadakwah.com/2010/05/menuju-kemenangan-dakwah-kampus.html#comment-form' title='13 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4661011185558750656/posts/default/7369565496487469569'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4661011185558750656/posts/default/7369565496487469569'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.bersamadakwah.com/2010/05/menuju-kemenangan-dakwah-kampus.html' title='Menuju Kemenangan Dakwah Kampus'/><author><name>Admin BeDa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17749093855368398730</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-hD4D5mC_vlc/T7Guubv4RiI/AAAAAAAAEic/xrY3eBivBCM/s220/Bersama%2BDakwah%2B-%2Blogo%2Bprofil%2BFB.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_lLTNuSLRkEU/S_ulj7y0saI/AAAAAAAABTs/iYNqGFrJlDw/s72-c/Menuju+Kemenangan+Dakwah+Kampus.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>13</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4661011185558750656.post-972681963719948773</id><published>2010-05-17T14:00:00.002+07:00</published><updated>2010-06-28T12:32:35.057+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bedah Buku'/><title type='text'>Tarbiyah Madal Hayah</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_lLTNuSLRkEU/S_DzRDdQ4KI/AAAAAAAABRk/vQksP0xM46E/s1600/Tarbiyah+Madal+Hayah.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 134px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_lLTNuSLRkEU/S_DzRDdQ4KI/AAAAAAAABRk/vQksP0xM46E/s200/Tarbiyah+Madal+Hayah.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5472141021566525602" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Judul Buku : &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tarbiyah Madal Hayah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Penulis : &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Asri Widiarti&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Penerbit : Era Adicitra Intermedia, Solo&lt;br /&gt;Cetakan Ke : 1&lt;br /&gt;Tahun Terbit : Jumadil Ula 1431 H/April 2010&lt;br /&gt;Tebal Buku : xxii + 170 halaman&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau saja selingkuh itu ada obatnya, aku yakin, pasti akan laris manis di pasaran. Banyak yang membutuhkan dan mau membayar banyak untuk mendapatkannya. Sebagai seorang ibu, aku pun akan menyimpannya di rumah, kutaruh di dalam stoples, kujaga hati-hati. Kalau ada yang datang dan membutuhkannya aku akan membaginya secara gratis agar mereka mendapatkan ketenangan usai mereka bertemu dan masuk ke rumahku."&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian paragraf awal dari salah satu kisah dalam buku &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tarbiyah Madal Hayah&lt;/span&gt; yang diberi judul "Penyakit itu Bernama Selingkuh".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tarbiyah Madal Hayah&lt;/span&gt; ini adalah buku keenam dari &lt;a href="http://muchlisin.blogspot.com/2010/04/100-buku-pengokohan-tarbiyah.html"&gt;100 buku pengokohan tarbiyah&lt;/a&gt;. Berbeda dari kelima buku sebelumnya, buku ini berisi kisah-kisah tarbiyah tanpa diuraikan hikmahnya. Pembacalah yang harus memetik hikmahnya sendiri. Persis seperti &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Chicken Soup&lt;/span&gt;. Dan ia memang dinamakan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Chicken Soup for Tarbiyah&lt;/span&gt;. Demikian tertera di bawah judul pada cover buku ini. Hanya saja, di dalam buku ini dipakai beberapa nama samaran dan penulis (&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Asri Widiarti&lt;/span&gt;) berpesan dalam kata pengantar: "Naskah yang penulis tulis ini anggap saja sebuah kumpulan kisah imajinatif yang (semoga saja) bisa diambil 'ibrah (pelajaran). Tak usah dicari-cari siapa tokohnya, kapan kejadiannya, di mana tempat terjadinya..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada 18 kisah yang dibagi menjadi 3 bagian dalam buku ini. Bagian pertama bertajuk "Allah Sayang Kamu". Bagian kedua bertajuk "Bunda, Allah Mendengar Doamu". Dan terkahir "Allah tak Pernah Meninggalkanmu".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui kisah-kisah ini kita (tepatnya sebagian dari kita yang belum pernah mengalami atau menjumpai) akan disadarkan betapa fenomena di lapangan tarbiyah begitu rumit dengan beragam permasalahan yang manusiawi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada fenomena "ketidakcocokan" seorang bunda kepada calon menantunya. Dan ternyata keraguannya itu benar. Calon menantunya ternyata tidak jujur. Untung ia belum menyetujui pernikahan itu. Bagaimana strategi ibu memastikan ganjalan dalam hatinya terhadap calon menantunya itu secara lengkap bisa kita baca di kisah pertama: Ganjalan Hati yang Menjagai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita juga akan disadarkan bahwa masuk dalam lingkaran tarbiyah bukanlah jaminan keshalihan bagi seorang ikhwan. Ada ikhwan yang begitu susah kita bayangkan bisa melakukan KDRT bahkan mengancam murabbinya dengan senjata tajam. Tapi itulah yang ada dalam kisah kedua: Samudra Maaf Milik Sang Istri. Sang Istri di akhir cerita meminta doa kita. Ia tengah menunggui suaminya itu yang kini sakit...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Surat Cinta Muthi buat Ummu dan Abi" lain lagi. Ia adalah kisah yang mengingatkan kita betapapun sibuknya kita dalam dakwah ini, semoga tidak pernah melupakan buah hati. Harus ada keseimbangan. Harus ada waktu, perhatian, dan kasih sayang. Idealnya adalah taurits tarbawi "pewarisan tarbiyah". Bukan makin banyaknya kesimpulan anak: "Saya benci aktifitas seperti ini karena membuat anak-anak ditelantarkan orangtuanya". Akhirnya anak-anak aktifis dakwah justru menjadi "pemberontak" melalui kenakalannya, penyimpangannya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak semua kisah dalam buku ini membuat kita merasa "kecolongan". Kalaupun pada kisah pertama dan kedua kita belajar tentang ketidaksempurnaan yang harus diperbaiki dalam tarbiyah, dan itu tantangan bagi setiap murabbi dan aktifisnya, kita pun perlu dikuatkan dengan nilai-nilai kebaikan yang sudah mengakar. Agar ia tidak goyah, agar ia tidak berkurang. Siapapun kita, apapun peran kita...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah kedelapan mengajarkan salah satu nilai itu. Dalam judul Harta tak Ternilai yang Disebut Ukhuwah, Yayuk merasakan nikmatnya ukhuwah itu. Saat ia sakit, para ikhwah yang merawatnya, bergantian. Mulai membawanya ke rumah sakit, sampai mengurus segala hal yang dibutuhkannya. Di akhir cerita ia mengakhiri dengan ungkapan indah ini: "Adakah orang yang tak ingin menghabiskan sisa umur hidupnya untuk isiqamah di jalan dakwah? Bukankah Allah sudah menyediakan balasannya di dunia, dan kelak di akhirat ada lagi balasan yang tidak terkirakan indra. Masihkah engkau ragu-ragu?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keseluruhan kisah dalam buku ini akhirnya membawa kita pada kesimpulan bahwa kita perlu belajar dari segala hal yang kita alami, segala hal yang kita dengar, kita baca, kita lihat... dan itulah &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;tarbiyah madal hayah&lt;/span&gt;; tarbiyah sepanjang hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini hanyalah salah satu stimulan untuk memantik kembali kepekaan kita sekaligus membangkitkan kembali kesadaran kita akan beragam fenomena yang terjadi dalam kehidupan nyata, yang boleh jadi belum pernah kita bayangkan sebelumnya. Sesuai judulnya, &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tarbiyah Madal Hayah&lt;/span&gt;. Semoga kita pun menjadi pembelajar seumur hidup kita, termasuk dari buku ini. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;[Muchlisin]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;center&gt;DALAM BENTUK E-BOOK, &lt;b&gt;TARBIYAH MADAL HAYAH&lt;/b&gt; BISA DI-DOWNLOAD &lt;b&gt;&lt;a href="http://muchlisin.blogspot.com/2010/06/download-100-buku-pengokohan-tarbiyah.html"&gt;DI DINI&lt;/a&gt;&lt;/b&gt;&lt;/center&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4661011185558750656-972681963719948773?l=www.bersamadakwah.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.bersamadakwah.com/feeds/972681963719948773/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.bersamadakwah.com/2010/05/tarbiyah-madal-hayah.html#comment-form' title='13 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4661011185558750656/posts/default/972681963719948773'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4661011185558750656/posts/default/972681963719948773'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.bersamadakwah.com/2010/05/tarbiyah-madal-hayah.html' title='Tarbiyah Madal Hayah'/><author><name>Admin BeDa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17749093855368398730</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-hD4D5mC_vlc/T7Guubv4RiI/AAAAAAAAEic/xrY3eBivBCM/s220/Bersama%2BDakwah%2B-%2Blogo%2Bprofil%2BFB.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_lLTNuSLRkEU/S_DzRDdQ4KI/AAAAAAAABRk/vQksP0xM46E/s72-c/Tarbiyah+Madal+Hayah.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>13</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4661011185558750656.post-2919902969538174184</id><published>2010-05-10T19:00:00.000+07:00</published><updated>2010-05-10T19:38:36.940+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bedah Buku'/><title type='text'>Saat Berharga untuk Anak Kita</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_lLTNuSLRkEU/S-f92mfe_xI/AAAAAAAABQE/zyNJO96vaGE/s1600/SBUAK.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 135px; height: 200px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_lLTNuSLRkEU/S-f92mfe_xI/AAAAAAAABQE/zyNJO96vaGE/s200/SBUAK.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5469619386952122130" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Judul Buku : &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Saat Berharga untuk Anak Kita&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Penulis : &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Muhammad Fauzil Adhim&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Penerbit : Pro-U Media, Yogyakarta&lt;br /&gt;Bulan Terbit : Desember 2009&lt;br /&gt;Tebal Buku : 224 halaman&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Alangkah seringnya kita tergelincir. Kita ingin anak kita tumbuh dengan penuh percaya diri, namun justru kita yang membunuh kepercayan dirinya sejak ia masih kanak-kanak. Kita ingin anak kita menjadi cerdas dan membanggakan, namun justru kita mencetaknya menjadi suka memberontak dalam diam. Lalu lingkungan mulai menyebutnya ”anak nakal”.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak adalah anugerah. Lebih dari itu, anak adalah amanah. Sebagaimana seluruh amanah yang lain, kita pun akan dimintai pertanggungjawaban dalam membesarkan dan mendidik anak kita. Dengan pendidikan yang tepat, Allah akan memberikan pahala dan kebaikan pada kita. Bahkan, sebelum kita memasuki alam barzakh, seringkali kita sebagian dari yang kita tanam itu bisa kita petik hasilnya. Sebaliknya, saat kita menyia-nyiakan amanah, bukan saja dosa yang menanti kita. Sering kali pula –kalau tidak boleh disebut selalu- kita pun menuai kesalahan kita. Dengan hari-hari tua yang kesepian, misalnya. Atau tidak pernah merasa memiliki buah hati kita kecuali mereka menjadi fitnah dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tampaknya, itulah konsep yang melatari buku &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Saat Berharga untuk Anak Kita&lt;/span&gt;. Karenanya &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Muhammad Fauzil Adhim&lt;/span&gt; memberikan judul bagian I buku ini dengan kalimat: Semuanya Bermula dari Niat. Dengan mengingatkan bahwa kita akan ditanya. Ditanya tentang tanggung jawab kita. Ditanya tentang apa yang kita lakukan terhadap anak kita. Maka bagi suami yang selama ini merasa semua bab dalam mendidik anak adalah tanggungjawab istri, hendaklah ia mengingat bahwa ia akan ditanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sini niat menjadi amat penting dan menentukan. Saat kita mendidik anak hanya sekedar untuk menjadi kebanggaan: ”Anak saya pintar”, ”Anak saya hebat”, ”Anak saya berprestasi”, ”Penurut”, dan sebagainya. Jika hanya karena kebanggaan, alangkah sia-sianya dihadapan Allah Azza wa Jalla. Atau kita menyayangi anak-anak kita supaya mereka nanti menyayangi kita, di hari tua. Hanya itu. Tidak ada orientasi akhirat. Tidak ada kesadaran bahwa ia adalah amanah Allah dan karenanya kita tunaikan amanah itu sebaik-baiknya. Jika hanya dunia begitu orientasi kita, hari tua atau semacamnya, kita pun akan merugi di akhirat nanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Membangun Jiwa Anak&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kepercayaan orangtua mempengaruhi pertumbuhan mental dan kepribadian anak. Banyak keunggulan intelektual dan sosial yang sangat dipengaruhi oleh kepercayaan yang diterima anak. Dan ini ditentukan oleh orangtua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karenanya sejak dalam kandungan seorang ibu harus memiliki ikatan yang kuat terhadap bayinya. Lalu saat lahir, dengan menyuarakan kalimat thayyibah atau talqin adalah bentuk penguatan, pembentukan kepercayaan, serta rasa aman yang positif buat bayi. Dengan digendong penuh kasih, disusi penuh cinta, dan dirawat dengan rasa sayang, si kecil akan tumbuh dengan kepercayaan diri yang baik. Berawal dari rasa aman yang dimilikinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemesraan hubungan orangtua dengan anak, akan menumbuhkan keberanian anak untuk mencoba hal-hal baru. Mengeksplorasi keingintahuannya, mengasah kecerdasannya, dan mengembangkan kemampuannya. Ia akan lebih mudah menghadapi hal-hal baru, mengungkapkan gagasan dan perasaannya, serta menghadapi masalah dengan caranya yang baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penerimaan terhadap anak juga sangat mempengaruhi pembentukan mental anak. Dengan melihat dan mensyukuri kelebihan anak, meskipun sedikit, anak akan tumbuh menjadi lebih istimewa. Maafkanlah kekurangannya, atau yang menyulitkannya. Dan jangan membebani anak baik dengan menyampaikan keluhan padanya, atau membandingkannya dengan anak-anak lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inti dari membangun jiwa anak sebenarnya adalah menata hati orangtua. Bukan anak yang harus memahami orangtua tetapi orangtualah yang perlu memahami anaknya. Maka, menghadirkan keikhlasan, mencurahkan kasih sayang, dan mendoakannya setiap malam akan lebih berpengaruh kepada jiwa anak dari sekedar mempraktekkan teknik-teknik parenting di sisi ”luar”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Mendidik dengan Kasih Sayang, Menghukum dengan Kasih Sayang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kita telah sering mendengar dan mencoba mempraktikkan mendidik dengan kasih sayang. Namun mungkin kita belum akrab dengan istilah ”menghukum dengan kasih sayang”. Di sela-sela praktik kita mendidik anak dengan kasih sayang, kadang tanpa sadar kita memarahi mereka. Dengan serangan bertubi-tubi, keras, penuh ancaman dan reaktif. Ini justru akan membuat anak belajar mengenali bagaimana cara membuat orantua marah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dicontohkan oleh Fauzil Adhim, bagaimana ketika harus menghukum anak, cara Nabi. Husein, cucu Nabi yang masih kecil ketika itu, mengambil sebiji kurma sedekah. Ia masukkan ke dalam mulutnya. Begitu mengetahui, Nabi SAW segera mengeluarkan kurma itu sendiri dari mulut cucunya. Haram bagi keluarga Nabi makan sedekah. Karenanya, Nabi SAW segera bertindak agar tak ada harta haram yang tertelan oleh cucunya. Begitulah, kasih sayang tidak menghalangi ketegasan. Namun menghukum anak pun tetap dengan kasih sayang. Tidak perlu memarahinya secara agresif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menghukum dengan kasih sayang mengharuskan kita memperhatikan beberapa hal: pertama, ajarkan anak konsekuensi, bukan ancaman; kedua, jangan buat harga dirinya jatuh, namun buat ia menyadari kesalahannya; ketiga, jangan sela dirinya, cukup perilakunya saja; keempat, jangan katakan ”jangan”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Mempersiapkan Masa Depan Anak&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Orang tua perlu memiliki kesadaran akan ”hari-hari mendatang anak kita”. Zaman berkembang begitu pesat. Lebih banyak hal tak terduga yang akan terjadi. Maka, tantangan zaman akan semakin menjadi. Bukan pada aspek materi semata. Lebih dari itu degradasi moral yang bersumber dari merosotnya keimanan adalah jauh lebih lebih berbahaya. Ini harus disiapkan. Maka orangtua sejak dini harus membekali anak-anaknya dengan keimanan dan ketaqwaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini membutuhkan iman yang kuat dari para orantua. Serta perbaikan amal-amalnya. Bagaimana mungkin kita mengharapkan anak terbekali dengan keimanan seperti Ismail sementara kita sama sekali tidak memiliki karakter Ibrahim. Orangtua adalah teladan. Ia yang harus mencontohkan. Dan doa orangtua sesungguhnya sangat menentukan anak. Kesuksesan kita hari ini, keimanan kita hari ini, boleh jadi bukan karena usaha kita namun karena doa orangtua kita. Dan hal yang sama harus kita berikan pada anak-anak kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Buku yang Perlu Dibaca dan Dipraktikkan Orangtua&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Tidak berlebihan kiranya jika saya katakan demikian. Sebab, selain bahasanya yang cair, mengalir, dan akrab sebagaimana karya &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Muhammad Fauzil Adhim&lt;/span&gt; lainnya, buku &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Saat Berharga untuk Anak Kita&lt;/span&gt; ini sarat hikmah dan berbagai renungan yang mencerahkan orang tua serta saran-saran beserta contoh dalam kehidupan keseharian kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penekanan masa kecil sebagai saat untuk membangun kedekatan kita dengan anak dan masa terpenting pendidikannya, menjadikan buku &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Saat Berharga untuk Anak Kita&lt;/span&gt; karya &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Muhammad Fauzil Adhim&lt;/span&gt; ini lebih penting lagi untuk dibaca pasangan muda keluarga muslim, atau para orangtua yang baru saja dikaruniai putra, maupun yang berencana atau menginginkan buah hati lagi. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;[Muchlisin]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4661011185558750656-2919902969538174184?l=www.bersamadakwah.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.bersamadakwah.com/feeds/2919902969538174184/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.bersamadakwah.com/2010/05/saat-berharga-untuk-anak-kita.html#comment-form' title='13 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4661011185558750656/posts/default/2919902969538174184'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4661011185558750656/posts/default/2919902969538174184'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.bersamadakwah.com/2010/05/saat-berharga-untuk-anak-kita.html' title='Saat Berharga untuk Anak Kita'/><author><name>Admin BeDa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17749093855368398730</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-hD4D5mC_vlc/T7Guubv4RiI/AAAAAAAAEic/xrY3eBivBCM/s220/Bersama%2BDakwah%2B-%2Blogo%2Bprofil%2BFB.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_lLTNuSLRkEU/S-f92mfe_xI/AAAAAAAABQE/zyNJO96vaGE/s72-c/SBUAK.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>13</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4661011185558750656.post-5251082512312268125</id><published>2010-05-03T17:00:00.000+07:00</published><updated>2010-05-03T17:12:45.740+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bedah Buku'/><title type='text'>Menggairahkan Perjalanan Halaqah</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_lLTNuSLRkEU/S96he2ur1yI/AAAAAAAABOU/-Y3ojgXYQTk/s1600/Menggairahkan+Perjalanan+Halaqah.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 140px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_lLTNuSLRkEU/S96he2ur1yI/AAAAAAAABOU/-Y3ojgXYQTk/s200/Menggairahkan+Perjalanan+Halaqah.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5466984549133834018" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Judul Buku : &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Menggairahkan Perjalanan Halaqah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Penulis : Satria Hadi Lubis&lt;br /&gt;Penerbit : Pro-U Media, Yogyakarta&lt;br /&gt;Cetakan Ke : 2&lt;br /&gt;Tahun Terbit : Maret 2010&lt;br /&gt;Tebal Buku : 148 halaman&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah halaqah Anda saat ini terasa kaku, monoton, atau membosankan? Apakah sebagian peserta halaqah Anda kadang tidak datang tanpa udzur yang jelas? Apakah halaqah Anda tidak juga meningkatkan kualitas ruhiyah dan tsaqafah Islam? Dan halaqah Anda tidak dapat melahirkan halaqah baru? Jika hal pertama dan kedua yang terjadi, itu berarti halaqah Anda tidak dinamis. Namun jika yang terjadi persis dengan pertanyaan ketiga dan keempat, berarti halaqah Anda tidak produktif.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Halaqah (kadang disebut usrah, kadang disebut liqa' tarbawi, mentoring dan lain-lain), yang saat ini marak di mana-mana -baik di kampus, sekolah, kantor, maupun perumahan- merupakan hal yang patut kita syukuri. Karena itu mengindikasikan ghirah keislaman umat yang semakin menguat, serta jumlah masyarakat yang memiliki kesadaran berislam semakin meningkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun jika dalam perjalanan halaqah terjadi hal-hal seperti pertanyaan awal pada tulisan ini, itu merupakan problem yang tidak saja mengganggu perjalanan halaqah tetapi juga bisa mengancam keberlangsungannya. Karenanya perlu ada solusi yang tepat agar halaqah sukses (muntijah). Halaqah muntijah baru terpenuhi jika halaqah itu dinamis sekaligus produktif. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Satria Hadi Lubis&lt;/span&gt; melalui buku &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Menggairahkan Perjalanan Halaqah&lt;/span&gt; ini berupaya memberikan solusi itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Urgensi Halaqah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Buku &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Menggairahkan Perjalanan Halaqah&lt;/span&gt; ini diawali terlebih dulu dengan menjelaskan &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;urgensi halaqah&lt;/span&gt;. Jika &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;definisi halaqah&lt;/span&gt; adalah kelompok kecil muslim (3-12 orang) yang secara rutin mengkaji ajaran Islam dengan kurikulum (manhaj) tertentu, maka &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;urgensi halaqah&lt;/span&gt; terdiri dari 5 hal berikut:&lt;br /&gt;1. Melaksanakan perintah Allah SWT untuk belajar seumur hidup (tarbiyah madal hayah)&lt;br /&gt;2. Mengikuti sunnah Rasul dalam membina para sahabat dengan sistem halaqah&lt;br /&gt;3. Sarana efektif untuk mengembangkan kepribadian islami (syakhsiyah islamiyah)&lt;br /&gt;4. Melatih amal jama'i demi mempertahankan eksistensi jamaah Islam&lt;br /&gt;5. Jalan yang handal untuk membentuk umat (takwinul ummah) yang islami&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Halaqah Muntijah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Seperti dikemukakan di atas, &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;halaqah muntijah&lt;/span&gt; adalah halaqah yang memiliki 2 kriteria; tercapainya dinamisasi sehingga halaqah berjalan dengan menggairahkan (tidak menjemukan) dan tercapainya produktifitas sehingga tujuan halaqah terwujud dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sini halaqah bisa diklasifikasikan menjadi 5 kelompok; (1) halaqah muntijah, yakni halaqah yang faktor dinamisasinya tinggi sekaligus produktifitasnya juga tinggi, (2) halaqah tipe paguyuban, yakni halaqah yang faktor dinamisasinya tinggi namun produktifitasnya rendah; (3) halaqah tipe sedang, yakni jika halaqah tersebut memiliki faktor dinamisasi dan produktifitas sedang, (4) halaqah tipe jenuh, yakni halaqah yang produktifitasnya tinggi namun faktor dinamisasinya rendah, dan (5) halaqah tipe rendah, yakni halaqah yang faktor dinamisasinya rendah sekaligus faktor produktifitasnya rendah pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadang-kadang dua faktor penentu ini tidak diperhatikan. Padahal kesuksesan halaqah ditentukan dari sana; dinamis sebagai prosesnya dan produktif sebagai tujuannya. Dalam dunia manajemen hal ini disebut sebagai &lt;span style="font-style: italic;"&gt;management by process&lt;/span&gt; dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;management by objective&lt;/span&gt;. Istilah terkahir ini dalam bahasa dakwah lebih dikenal dengan sebutan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;at-tarbiyah bil ahdaf&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak terperhatikannya kedua faktor itu sehingga berujung halaqah tidak muntijah seringkali disebabkan oleh murabbi karena:&lt;br /&gt;1. Terjebak rutinitas, bahwa halaqah adalah kegiatan rutin pekanan saja&lt;br /&gt;2. Sibuk dengan aktifitas dakwah ammah yang lebih "gegap gempita"&lt;br /&gt;3. Kesibukan urusan duniawi&lt;br /&gt;4. Terpesona dengan jumlah (kuantitas)&lt;br /&gt;5. Merasa bahwa halaqahnya tidak ada masalah&lt;br /&gt;6. Kurangnya motivasi dan pengingatan dari jamaah atau ikhwah di sekelilingnya&lt;br /&gt;7. terlena dengan nostalgia masa lalu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Halaqah Dinamis&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Halaqah dinamis&lt;/span&gt; adalah halaqah yang selalu berproses dan bergerak secara berubah-ubah (tidak monoton) sehingga menimbulkan kegairahan dan menghilangkan kejenuhan. Karena halaqah dilakukan sepanjang hayat, maka dinamisasi ini sangat perlu sekaligus menjadi sesuatu hal yang cukup sulit dilakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;halaqah dinamis&lt;/span&gt; maka manfaat yang bisa didapatkan adalah: (1) kepuasan beraktifitas (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;job satisfaction&lt;/span&gt;), seluruh peserta halaqah menikmati halaqah itu, (2) kehadiran yang rutin, (3) semangat yang tinggi, (4) tanggung jawab besar, (5) mempercepat pencapaian tujuan, (6) meningkatkan kreatifitas, (7) menghindari kemaksiatan karena kegairahan halaqah membawa kegairahan beribadah, (8) memperkecil munculnya konflik/masalah, dan (9) merasakan manisnya ukhuwah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejenuhan dalam halaqah sebagai lawan dari &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;halaqah dinamis&lt;/span&gt; bisa disebabkan oleh dua faktor: intern dan ekstern. Faktor intern adalah kurangnya keikhlasan, maksiat, dan kurangnya pemahaman. Sedangkan faktor ekstern bisa disebabkan karena suasana yang monoton, ketiadaan keteladanan, kurangnya upaya saling memotivasi, dan konflik berkepanjangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan ciri &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;halaqah dinamis&lt;/span&gt; adalah halaqah yang suasananya inovatif, ada komentar-komentar "kerinduan", ingin berlama-lama dalam halaqah, kehadiran dan yang rutin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Halaqah Produktif&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Halaqah produktif&lt;/span&gt; adalah halaqah yang mampu mencapai tujuan-tujuan yang telah direncanakan. Semakin banyak tujuan yang tercapai, semakin produktif sebuah halaqah. Produktifitas di sini bisa dilihat dari dua sisi: kuantitas dan kualitas. Tujuan (sasaran) halaqah dalam konteks produktifitas ini setidaknya ada tiga: tercapainya &lt;span style="font-style: italic;"&gt;muwashafat&lt;/span&gt;/kenaikan jenjang, tercapainya pembentukan murabbi baru, dan tercapainya pengembangan potensi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;halaqah produktif&lt;/span&gt; maka manfaat yang bisa didapatkan adalah: (1) munculnya perasaan "berhasil" yang menumbuhkan kepercayaan diri dalam membina bagi murabbi, (2) peserta/mutarabbi menjadi kader-kader Islami yang tangguh, (3) akselerasi peningkatan kualitas jamaah dan umat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak tercapainya &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;halaqah produktif&lt;/span&gt; juga disebabkan dua faktor: internal dan eksternal. Faktor internal meliputi murabbi yang tidak memahami tujuan halaqah, terlena dengan proses, kurangnya semangat bersaing, dan salah dalam memahami takdir. Sedangkan faktor eksternal meliputi kurangnya motivasi baik murabbi maupun mutarabbi, dan kurangnya penjelasan tentang tujuan halaqah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Rumus Meningkatkan Dinamisasi Halaqah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Satria Hadi Lubis dalam buku Menggairahkan Perjalanan Halqah ini telah memformulasikan rumus dinamisasi halaqah sehingga lebih mudah dipahami dan "dikuantitatifkan".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;D = n(Pb) (I + K + T)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D = Dinamisasi&lt;br /&gt;n (Pb) = Jumlah variasi perubahan&lt;br /&gt;I = Keikhlasan&lt;br /&gt;K = Keteladanan&lt;br /&gt;T = Semangat mencapai tujuan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan kejenuhuan halaqah dirumuskan sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;J = n (Pt) / n (Pb) – (I + K + T)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;J = Kejenuhan&lt;br /&gt;n (Pt) = Jumlah pertemuan&lt;br /&gt;n (Pb) = Jumlah variasi perubahan&lt;br /&gt;I = Keikhlasan&lt;br /&gt;K = Keteladanan&lt;br /&gt;T = Semangat mencapai tujuan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Variasi perubahan bisa terjadi dalam sistem belajar, metode penyampaian, media belajar, materi, agenda acara, waktu pertemuan, tempat pertemuan, dan komposisi peserta halaqah.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;Rumus Meningkatkan Produktifitas Halaqah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Rumus peningkatan produktifitas halaqah dalam buku Menggairahkan Perjalanan Halaqah tidak dibuat sama seperti dinamisasi halaqah. Satria Hadi Lubis membuatnya dalam bentuk piramida sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_lLTNuSLRkEU/S96hQ-c-ytI/AAAAAAAABOM/59x0yA46GPo/s1600/Rumus+produktifitas+halaqah.png"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 252px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_lLTNuSLRkEU/S96hQ-c-ytI/AAAAAAAABOM/59x0yA46GPo/s320/Rumus+produktifitas+halaqah.png" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5466984310688893650" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada dasar piramida, ada tujuan yang porsinya paling besar. Tiga tujuan halaqah (tercapainya &lt;span style="font-style: italic;"&gt;muwashafat&lt;/span&gt;/kenaikan jenjang, tercapainya pembentukan murabbi baru, dan tercapainya pengembangan potensi) menjadi dasar dari pencapaian halaqah. Tujuan ini berfungsi untuk melakukan langkah berikutnya, yaitu membuat "kemenangan-kemenangan kecil" dan melakukan evaluasi. Kemenangan kecil adalah tujuan/sasaran antara yang perlu dicapai secara bertahap untuk mencapai tujuan halaqah yang sebenarnya. Sedangkan evaluasi adalah membandingkan antara tujuan yang ditetapkan dengan realita yang ada. Jika tercapai berarti halaqah berhasil, jika belum harus ada analisa sebab kegagalan dan solusinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Banyak Tips yang Harus Dibaca dalam Buku ini&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ya. Banyak sekali tips dan kiat-kiat yang dikemukakan &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Satria Hadi Lubis&lt;/span&gt; dalam buku &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Menggairahkan Perjalanan Halaqah&lt;/span&gt; ini. Mulai dari kiat meningkatkan variasi perubahan yang dilakukan dalam halaqah, kiat meningkatkan nilai keikhlasan, keteladanan, semangat mencapai tujuan, dan lain-lain. Dalam buku ini juga ada tes halaqah muntijah untuk mendeteksi halaqah Anda melalui pengisian kuisioner, tabel contoh penerapan tiga langkah produktifitas halaqah dan lampiran contoh aktifitas untuk mendinamiskan halaqah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka buku &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Menggairahkan Perjalanan Halaqah&lt;/span&gt; ini perlu dimiliki dan dibaca para kader dakwah, terutama para murabbi sehingga mampu meningkatkan dinamisasi dan produktiftas halaqah. Dengan demikian terwujudlah halaqah-halaqah muntijah yang segera akan diikuti dengan kemenangan dakwah. Insya Allah. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;[Muchlisin]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4661011185558750656-5251082512312268125?l=www.bersamadakwah.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.bersamadakwah.com/feeds/5251082512312268125/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.bersamadakwah.com/2010/05/menggairahkan-perjalanan-halaqah.html#comment-form' title='9 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4661011185558750656/posts/default/5251082512312268125'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4661011185558750656/posts/default/5251082512312268125'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.bersamadakwah.com/2010/05/menggairahkan-perjalanan-halaqah.html' title='Menggairahkan Perjalanan Halaqah'/><author><name>Admin BeDa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17749093855368398730</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-hD4D5mC_vlc/T7Guubv4RiI/AAAAAAAAEic/xrY3eBivBCM/s220/Bersama%2BDakwah%2B-%2Blogo%2Bprofil%2BFB.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_lLTNuSLRkEU/S96he2ur1yI/AAAAAAAABOU/-Y3ojgXYQTk/s72-c/Menggairahkan+Perjalanan+Halaqah.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>9</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4661011185558750656.post-1603150077688849257</id><published>2010-04-26T16:00:00.002+07:00</published><updated>2010-06-28T12:33:18.177+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bedah Buku'/><title type='text'>Retorika Haraki; Seni Berbicara Aktifis Dakwah</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_lLTNuSLRkEU/S9VkSlsxnLI/AAAAAAAABM0/wuzsezbq_xg/s1600/Retorika+Haraki.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 138px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_lLTNuSLRkEU/S9VkSlsxnLI/AAAAAAAABM0/wuzsezbq_xg/s200/Retorika+Haraki.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5464383993404300466" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Judul Buku : &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Retorika Haraki&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Penulis : &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Amirudin Rahim&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Penerbit : Era Adicitra Intermedia, Solo&lt;br /&gt;Cetakan Ke : 1&lt;br /&gt;Tahun Terbit : Jumadil Ula 1431 H/April 2010&lt;br /&gt;Tebal Buku : xxviii + 236 halaman&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbicara itu mudah. Namun berbicara dengan tepat memerlukan ilmu dan ketrampilan. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Retorika Haraki&lt;/span&gt;, yang merupakan buku kelima &lt;a href="http://muchlisin.blogspot.com/2010/04/100-buku-pengokohan-tarbiyah.html"&gt;100 buku pengokohan tarbiyah&lt;/a&gt; ini berupaya membekali aktifis dakwah dengan seni berbicara yang tepat sehingga amanah dakwah dapat ditunaikan. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana kita ketahui bersama, aktifitas dakwah dan tarbiyah, banyak membutuhkan kemampuan bicara. Mulai dari tabligh, taklim, orasi, khutbah hingga halaqah, dan dakwah fardiyah. Seringkali dai dan mubaligh tidak menyampaikan dakwahnya dengan baik bahkan ngelantur, dan seringkali pula muwajjih atau murabbi yang sebenarnya luas ilmunya namun cara penyampaiannya tidak menarik. Seni berbicara yang dijelaskan &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Amirudin Rahim&lt;/span&gt; dalam buku &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Retorika Haraki&lt;/span&gt; ini diharapkan bisa mengeliminir kelemahan-kelemahan itu menuju dakwah Islam yang memikat; dengan retorika yang memukau, sikap yang santun, konten yang berkualitas, berbobot dan efektif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimulai dari &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Hakikat dan Prinsip Umum Berbicara&lt;/span&gt; pada Bab I, &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Retorika Haraki&lt;/span&gt; menyadarkan kita bahwa berbicara adalah nikmat yang juga mengandung potensi fitnah. Sikap seorang muslim pada nikmat berbicara ini adalah mensyukurinya dengan memuji Allah, berbicara untuk menyebar kebaikan, menggunakannya untuk kemaslahatan umat manusia, dan tidak menyalahgunakannya untuk kezaliman, kerusakan, permusuhan, dan kemaksiatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mensyukuri nikmat berbicara dengan demikian adalah mentaati prinsip-prinsip berbicara Islami. Prinsip berbicara yang islami ini ada 6 poin:&lt;br /&gt;1. Berbicara yang baik atau diam&lt;br /&gt;2. Berbicara sesuai kadar pemahaman akal pendengar&lt;br /&gt;3. Berbicara yang sederhana dan tidak berbelit-belit&lt;br /&gt;4. Tidak berbicara tentang hal yang tidak berguna (sia-sia)&lt;br /&gt;5. Menghindari kata atau istilah yang berkonotasi negatif yang sengaja diciptakan musuh-musuh kebenaran&lt;br /&gt;6. Berbicara dengan bahasa audensi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari enam prinsip itu, mungkin poin kelima dan keenam yang belum terlalu akrab bagi kita. Kata atau istilah yang berkonotasi negatif di sini merupakan "penerjemahan" dari QS. Al-Baqarah ayat 104. Bahwa Allah memerintahkan memakai kata &lt;span style="font-style: italic;"&gt;unzhurna&lt;/span&gt; sebagai ganti &lt;span style="font-style:italic;"&gt;raa'ina&lt;/span&gt;. Di zaman sekarang, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;raa'ina&lt;/span&gt; itu semakin banyak dengan adanya &lt;span style="font-style: italic;"&gt;semantic game&lt;/span&gt; (permainan makna) yang diciptakan Barat, misalnya. Kata "fundamental", "teroris", "garis keras", dan "bom bunuh diri" adalah sedikit contoh &lt;span style="font-style: italic;"&gt;semantic&lt;/span&gt; itu. Jika aktifis dakwah memakainya secara mentah, ia sudah terjebak pada bias makna. Sedangkan berbicara dengan bahasa audensi artinya berbicara dengan bahasa yang dimengerti audien, istilah yang dipahami audien, dan kaidah komunikasi yang mudah diserap audien. Intinya pembicaraan kita secara efektfi bisa ditangkap audien sesuai makna yang kita kehendaki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam berbicara, kita juga harus menghindari penyakit lisan. Ini dibahas dalam bab kedua; &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Penyakit-penyakit Lisan dalam Berbicara&lt;/span&gt;. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Amirudin Rahim&lt;/span&gt; menjelaskan 10 penyakit lisan sebagai berikut:&lt;br /&gt;1. Ucapan yang tidak berguna (Al-Kalam fima la ya'ni)&lt;br /&gt;2. Berbicara yang berlebihan (Fudhulul kalam)&lt;br /&gt;3. Ungkapan yang mendekati kebatilan dan maksiat (Al-Khaudh fil bathil)&lt;br /&gt;4. Berbantahan, bertengkar, dan debat kusir (Al-Mira' wal jadal)&lt;br /&gt;5. Banyak bercanda dan sendau gurau (Al-muzah)&lt;br /&gt;6. Ungkapan yang menyakitkan, jorok dan caci maki (badza'atul lisan wal qaul al-fahisy was sabb)&lt;br /&gt;7. Melaknat (Al-La'nu)&lt;br /&gt;8. Berfasih-fasih dalam berbicara untuk menarik perhatian (At-Taqa'ur fil kalam)&lt;br /&gt;9. Menyebutkan hal yang memalukan atau kejelekan untuk ditertawakan atau bahan olok-olok (As-Sukriyah wal istihza')&lt;br /&gt;10. Berbohong dalam perkataan, janji dan sumpah (Al-kadzibu)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Karakteristik Retorika Haraki&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pada Bab 3: &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Retorika Haraki&lt;/span&gt;, dibahas karakteristik &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;retorika haraki&lt;/span&gt;. Namun sebelum itu, dijelaskan dulu definisi retorika haraki. Bahwa &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;retorika haraki&lt;/span&gt; adalah penjelasan ajaran dan nilai-nilai Islam oleh para aktifis harakah dakwah yang disampaikan atas nama Islam kepada sekalian manusia, muslim atau non muslim, untuk mengajak mereka kepada Islam atau mengajarkan keislaman dengan cara-cara yang islami, beramal makruf dengan cara yang makruf, dan bernahi mungkar bukan dengan cara yang mungkar. Lebih dari itu, &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;retorika haraki&lt;/span&gt; memandu aktifis dakwah untuk memadukan akal, hati, dan amal demi meraih kesuksesan dakwah dan keridhaan Allah SWT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karakteristik &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;retorika haraki&lt;/span&gt; meliputi 15 karakter yaitu:&lt;br /&gt;1. Yakin kepada Pencipta dan tidak mengingkari keberadaan dan kreatifitas manusia&lt;br /&gt;2. menjaga keseimbangan antara wahyu dan akal&lt;br /&gt;3. Menyeru kepada spiritual dan tidak meremehkan materiil&lt;br /&gt;4. memperhatikan ibadah dan tidak melupakan nilai-nilai moral&lt;br /&gt;5. Mengagungkan akidah dan menebarkan toleransi dan kasih sayang&lt;br /&gt;6. memikat dengan hal-hal ideal dan peduli terhadap realitas&lt;br /&gt;7. Mengajak kepada keseriusan dan konsistensi dan tidak melupakan berhidur dan istirahat&lt;br /&gt;8. Berorientasi global dan tidak melupakan aksi lokal&lt;br /&gt;9. Semangat kepada modernitas dan berpegang teguh kepada orisinalitas&lt;br /&gt;10. Bersifat futuristik dan tidak mengingkari masa lalu&lt;br /&gt;11. Memudahkan urusan dan menggembirakan perasaan&lt;br /&gt;12. Berpikir luas dan tidak melampaui batasan permanen&lt;br /&gt;13. menolak kekerasan dan terorisme dan mendukung perjuangan suci (jihad fi sabilillah)&lt;br /&gt;14. Mengukuhkan eksistensi wanita dan tidak mengikis martabat laki-laki&lt;br /&gt;15. Melindungi hak-hak minoritas dan menolak arogansi mayoritas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Teknik Retorika Haraki&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pada bab 4 sampai bab 9 (terakhir) &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Amirudin Rahim&lt;/span&gt; membahas hal-hal penting seputar retorika haraki. Mulai seni mengorganisasi dan menyampaikan pesan ada bab 4, seni berbicara dalam pidato dan khutbah pada bab 5, seni berbicara dalam kampanye politik pada bab 6, seni bertanya pada bab 7, seni memberi nasihat pada bab 8, dan sampai seni berbicara dalam dialog, diskusi, dan debat pada bab terakhir (bab 9). Sangat banyak teknik yang disampaikan dalam buku ini dan perlu dikuasai oleh aktifis dakwah. Tidak mungkin semuanya bisa dijabarkan dalam halaman terbatas ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karenanya, buku ini perlu dibaca oleh aktifis dakwah. Sehingga para aktifis dakwah menguasai retorika haraki dengan baik, dan dengannya ia menyebarluaskan dakwah Islam demi terwujudnya negeri yang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;baldatun thayyibatun wa Rabbun ghafur&lt;/span&gt;, tegaknya Islam &lt;span style="font-style: italic;"&gt;rahmatan lil 'alamin&lt;/span&gt;, dan terealisasinya &lt;span style="font-style: italic;"&gt;maratibul amal ustadziyatul alam&lt;/span&gt;. Amin. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;[Muchlisin]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;center&gt;DALAM BENTUK E-BOOK, &lt;b&gt;RETORIKA HARAKI&lt;/b&gt; BISA DI-DOWNLOAD &lt;b&gt;&lt;a href="http://muchlisin.blogspot.com/2010/06/download-100-buku-pengokohan-tarbiyah.html"&gt;DI DINI&lt;/a&gt;&lt;/b&gt;&lt;/center&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4661011185558750656-1603150077688849257?l=www.bersamadakwah.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.bersamadakwah.com/feeds/1603150077688849257/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.bersamadakwah.com/2010/04/retorika-haraki-seni-berbicara-aktifis.html#comment-form' title='9 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4661011185558750656/posts/default/1603150077688849257'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4661011185558750656/posts/default/1603150077688849257'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.bersamadakwah.com/2010/04/retorika-haraki-seni-berbicara-aktifis.html' title='Retorika Haraki; Seni Berbicara Aktifis Dakwah'/><author><name>Admin BeDa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17749093855368398730</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-hD4D5mC_vlc/T7Guubv4RiI/AAAAAAAAEic/xrY3eBivBCM/s220/Bersama%2BDakwah%2B-%2Blogo%2Bprofil%2BFB.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_lLTNuSLRkEU/S9VkSlsxnLI/AAAAAAAABM0/wuzsezbq_xg/s72-c/Retorika+Haraki.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>9</thr:total></entry></feed>
